Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRATIKUM

KONTRAKSI OTOT JANTUNG


untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi Hewan dan Tumbuhan
yang dibimbing oleh Ibu Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si

Kelompok 5, Oferring I:
Elvi Nuraini (150342607435)
Etis Prasila Utami (150342605416)
Farhana Halimah Rusyda (150342607533)
Lely Rindianti F. T. P (150342607238)
Made Dewi Saraningsih (150342607055)
M. Kresnha Pangabdi (150342606538)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2016
A. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk :
1. Melihat sifat otomatis dan ritmis dari tiap tiap bagian jantung
2. Memahami peran sinus venosus pada kontraksi otot jantung
3. Mengamati pengaruh beberapa faktor ektrinsik terhadap aktivitas jantung

B. Dasar Teori
Pada amfibia, irama ditentukan oleh sinus venosus. Atrium iramanya kurang cepat
dan ventrikel paling rendah tingkat otomasinya. Otot jantung peka terhadap perubahan-
perubahan metabolik, kimia dan suhu. Kenaikan suhu meningkatkan metabolisme dan
frekuensi jantung.
Jantung merupakan suatu organ yang berdenyut dengan irama tertentu (kontraksi
ritmik). Fungsi utama jantung adalah memompa darah ke arah sirkulasi sistemik maupun
pulmoner. Lapisan yang mengitari jantung (pericardium) terdiri dari dua bagian : lapisan
sebelah dalam atau pericardium visceral dan lapisan sebelah luar atau pericardium
parietal. Kedua lapisan pericardium ini dipisahkan oleh sedikit cairan pelumas, yang
berfungsi mengurangi gesekan pada gerakan memompa dari jantung itu sendiri. Bagian
depan dari pericardium itu melekat pada tulang dada (sternum) bagian bawahnya melekat
pada tulang punggung, sedang bagian bawah pada diafragma. Perikardium visceral
mempunyai hubungan langsung dengan permukaan jantung.
Sel-sel otot jantung tidak akan berkontraksi kecuali dipicu oleh input neuron motoris
yang mengontrolnya. Akan tetapi, sel-sel otot jantung dapat membangkitkan potensial
aksinya sendiri, tanpa suatu input apapun dari sistem saraf. Membran plasma otot jantung
mempunyai ciri pacu jantung yang menyebabkan depolarisasi berirama, yang memicu
potensial aksi dan menyebabkan sel otot jantung tunggal untuk berdenyut bahkan ketika
diisolasi dari jantung dan ditempatkan dalam biakan sel. Potensial aksi sel otot jantung
berbeda dari potensial aksi sel otot rangka, yang bertahan sampai dua puluh kali lebih
lama. Potensial aksi sel otot rangka hanya berfungsi sebagai pemicu kontraksi dan tidak
mengontrol durasi kontraksi tersebut. Pada sel jantung durasi potensial aksi memainkan
peranan penting dalam pengontrolan durasi kontraksi (Campbell, 2004:262).
Katak dan amfibia lainnya mempunyai jantung berbilik tiga, dengan dua atrium dan
satu ventrikel. Ventrikel akan memompakan darah ke dalam sebuah arteri bercabang yang
mengarahkan darah melalui dua sirkuit : pulmokutaneuscircuit mengarah ke jaringan
pertukaran gas (dalam paru-paru dan kulit pada katak), dimana darah akan mengambil
oksigen sembari mengalir melalui kapiler. Darah yang kaya oksigen kembali ke atrium kiri
jantung, dan kemudian sebagian besar di antaranya dipompakan ke dalam sirkuit
sistematik. Sirkuit sistemik (systemiccircuit) membawa darah yang kaya oksigen ke
seluruh organ tubuh dan kemudian mengembalikan darah yang miskin oksigen ke atrium
kanan melalui vena. Skema ini,yang disebut sirkulasi ganda (doublecirculation), menjamin
aliran darah yang keluar ke otak, otot, dan organ-organ lain, karena darah itu dipompa
untuk kedua kalinya setelah kehilangan tekanan dalam hamparan kapiler pada paru-paru
atau kulit (Campbell, 2004:45).
Kontraksi jantung terdiri dari kontraksi atrium dan kontraksi ventrikel. Kedua
macam kontraksi jantung menunjukkan bahwa siklus jantung terdiri dari systole dan
diastole. Systole merupakan periode kontraksi ventrikel saat jantung memompakan
darahnya dari ventrikel ke sirkulasi pulmonal ( A pulmonalis) dan ke sirkulasi sistemik
(aorta). Pada saat systole katub-katub atrioventrikularis (mitralis dan bikuspidalis)
menutup sedangkan katub-katub semilunaris (katub aorta dan katub pilmonal) membuka
sehingga ventrikel yang berkontraksi (tekanannya meningkat) memompakan darahnya ke
aorta dan A pulmonalis. Sedangkan diastole menunjukkan periode relaksasi ventrikel
(kontraksi atrium) saat ventrikel menerima darah dari atrium yang sebelumnya telah
menerima darah dari paru-paru (V Pulmonalis) dan dari seluruh tubuh (vena cava). Pada
saat distole katub-katub semilunaris (katub aorta dan katub pulmonal) menutup sedangkan
katub-katub atrioventrikularis (mitralis dan bikuspidalis) membuka sehingga atrium yang
berkontraksi (tekanannya meningkat) memompakan darahnya ke ventrikel
(Supripto,1998).
Jantung mempunyai kemampuan untuk self excitation sehingga dapat berkontraksi
secara otomatis walaupun telah di lepas dari tubuh dan semua syaraf menuju jantung telah
di potong. Meskipun jantung berkontraksi dengan sendirinya, namun kuat kontraksi,
frekuensi denyut jantung, dan perambatan impuls pada jantung dipengaruhi oleh saraf
otonom, yaitu saraf simpatik dan saraf parasimpatik. Pasangan kedua saraf ini kerjanya
adalah saling berlawanan yaitu saraf simpatik bekerja meningkatkan baik kuat kontraksi
maupun frekuensi denyut jantung dan mempercepat perambatan impuls pada jantung,
sedangkan saraf parasimpatik bekerja menurunkan naik kuat kontraksi maupun frekuensi
denyut jantung dan melambatkan perambatan impuls pada jantung (Supripto ,1998)

C. Alat dan Bahan


Alat Bahan
Papan bedah Katak
Alat seksi Larutan Ringer
Cawan petri Asetilkolin (1/5000) 2%
Pipet tetes Adrenalin 1 %
Lup KCl 0,9 %
Kait logam/Peniti CaCl2 1%
Benang NaCl 0,7 %
Jarum Pentul ,

D. Cara Kerja
1. Sifat Otomatis dan Ritmis Jantung

Seekor katak Disingel pith, dengan cepat membuka rongga dadanya dan dihitung
denyut jantung permenit

Dipisahkan jantung dari tubuh dan meletakkan dalam cawan petri yang
berisi larutan ringer. Dihitung denyutnya per menit dan diamati apakah
denyutnya berirama atau tidak.
Dipisahkan sinus venosus dari jantung, diamati dan dihitung denyut per
menit. Bila tidak berdenyut, disentuh pelan-pelan dengan batang gelas.

Dipisahkan atrium kanan, atrium kiri dan ventrikel. Diamati apakah masing-masing
bagian tersebut masih berdenyut dan dihitung denyutnya per menit.

2. Pengaruh Faktor Fisik dan Kimia terhadap Aktifita Jantung

Seekor katak Disingel pith, dibuka rongga sehingga jantung terlihat jelas terlihat.
Dibuka pericardium sehinggajantung Nampak jelas terlihat.dihitung denyut jantung
per menit

Ditetesi jantung dengan larutan Ringer 5C, dihitung denyut jantung per menit

Dibuang dengan pipet larutan Ringer dingin dan diganti dengan larutan Ringer
Normal. Diamati sampai terlihat denyut jantung mendekati normal
Ditetesi jantung dengan larutan Ringer 40C, dihitung denyut jantung per menit

Dibuang dengan pipet larutan Ringer panas dan diganti dengan larutan Ringer
Normal. Diamati sampai terlihat denyut jantung mendekati normal

Ditetesi jantung dengan asetikolin, dihitung denyut jantung per menit

Dibuang dengan pipet asetikolin dan diganti dengan larutan Ringer Normal. Diamati
sampai terlihat denyut jantung mendekati normal

Ditetesi jantung dengan adrenalin, dihitung denyut jantung per menit

Dibuang dengan pipet adrenalin dan diganti dengan larutan Ringer Normal. Diamati
sampai terlihat denyut jantung mendekati normal

3. Pengaruh Ion Terhadap Aktifitas Jantung

Seekor katak Disingel pith, dengan cepat dibuka rongga dadanya. Dihitung denyut
jantung per menit

Dibukalah peniti kecil atau menggunakan kait logam kecit yang diikiat dengan
benang

Dipisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan dalam cawan petri yang berisi larutan
Ringer. Dihitung denyutnya per menit, dan diamati apakah denyutnya berirama atau
tidak

Dengan cara yang sama, diberi perlakuan jantung dengan CaCl 2 1%, NaCl 0,7 %
dan KCl 0,9%

E. Data Pengamatan
1 Sifat otot dan ritmis
Kondisi Jantung Jumlah denyut /menit
Normal ( sebelum perlakuan ) 70
Jantung dipotong dan ditambah ringer 63
Sinus venosus 5
Jantung 67
Atrium 62
Ventrikel 22

2 Pengaruh faktor fisik dan kimia terhadap aktivitas jantung


Kondisi jantung Jumlah denyut/menit
Normal (sebelum perlakuan ) 66
Ringer 5C 39
Ringer normal 30
Ringer 40C 49
Ringer normal 54
Asetilkolin -
Ringer normal -
Adrenalin -
Ringer normal -

3 Pengaruh ion terhadap aktivitas jantung


Kondisi jantung Jumlah denyut jantung /menit
Normal (sebelum perlakuan ) 79
Ringer 71
CaCl2 1% 69
NaCl 0,7 % 63
KCl 0,9% 56

F. Analisis Data
1. Sifat Otot dan Ritmis Jantung
Katak disingle pith, kemudian dibuka rongga dadanya dengan cepat dan serta
dibuka bagian pericardium, lalu dihitung denyut jantung yang berdenyut selama 70 kali
per menit. Jantung dipisahkan dari tubuh katak dan diletakkan didalam cawan petri
yang berisi ringer. Pada saat tersebut jantung masih berdetak secara berirama selama 63
kali per menit. Bagian sinus venosus dipisahkan dari jantung dan dihitung denyutnya
yang hasilnya masih berdenyut selama 5 kali per menit. Tetapi bagian jantungnya
berdenyut selama 67 kali per menit.
Bagian atrium dipisahkan dari ventrikel kemudian menghitung denyut jantungnya.
Pada atrium masih berdenyut selama 62 kali per menit, sedangkan bagian ventrikel
berdenyut selama 22 kali per menit.

2. Pengaruh Faktor Fisik dan Kimia Terhadap Aktivitas Jantung


Katak disingle pith, kemudian dibuka rongga dadanya dengan cepat dan serta
dibuka bagian pericardium, lalu dihitung denyut jantung yang berdenyut selama 66 kali
per menit. Jantung ditetesi dengan larutan Ringer 5 0C. Jantung berdenyut selama 39
kali per menit. Kemudian larutan Ringer dingin dibuang dengat pipet dan diganti
dengan larutan Ringer normal. Pada saat itu jantung berdenyut selama 30 kali per
menit.
Berikutnya jantung ditetesi dengan larutan Ringer 400C. Jantung berdenyut selama
49 kali per menit. Kemudian Ringer panas dibuang dengan pipet tetes dan diganti
dengan larutan normal. Pada saat itu jantung berdenyut selama 54 kali per menit.
Setelah itu jantung ditetesi dengan larutan asetilkolin, pada saat itu jantung sudah tidak
berdenyut. Kemudian ditetesi lagi dengan Riger normal jantung juga tidak berdenyut.
Berikutnya jantung ditetesi dengan larutan adrenalin tidak berdenyut dan terakhir
jantung ditetsi dengan Ringer normal jantung juga tidak berdenyut.

3. Pengaruh Ion terhadap Aktivitas Jantung


Katak disingle pith, kemudian dibuka rongga dadanya, lalu dihitung denyut jantung
yang berdenyut selama 79 kali per menit. Kemudian dengan menggunakan peniti kecil
yang diikat dengan benang jantung dipisahkan dari tubuh dan diletakkan di cawan petri
yang berisi larutan Ringer. Pada saat itu jantung berdenyut dengan berirama selama 71
kali per menit.
Jantung ditetesi dengan larutan CaCl 1% dan pada saat itu jantung berdenyut
selama 69 kali per menit. Berikutnya jantung dibersihkan dari larutan CaCl. Kemudian
ditetesi lagi dengan larutan NaCl 0,7%, pada saat itu jantung berdenyut selama 63 kali
per menit. Setelah itu jantung dibersihkan dari larutan NaCl. Terakhir jantung ditetesi
dengan larutan KCl 0,9% dan denyut jantung jantung semakin lambat yaitu 56 kali per
menit.

G. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah di laksanakan, maka dapat di bahas secara
terperinci sebagai berikut :
Jantung katak berbeda dengan jantung manusia. Jantung katak maupun mamalia
mempunyai centrum automasi sendiri artinya tetap berdenyut meskipun telah diputuskan
hubungannya dengan susunan syaraf atau di keluarkan dari tubuh. Secara anatomis
jantung katakter bagi menjadi tiga ruang yaitu sinus venosus, dua atrium dan satu
ventrikel. Sinus venosus adalah ruang disekitar jantung. Sistem sirkulasi pada katak adalah
system peredaran darah tertutup dan system peredaran darah ganda.
Darah mengalir melalui sinus venosus kemudian darah mengalir ke atrium dan
mengisi ruang ventrikel sebelum darah dipompa kembali olehotot-otot di ventrikel
keseluruh tubuh. Darah vena dari seluruh tubuh mengalir masuk kesinus venosus dan
kemudian mengalir menujuke atrium. Dari atrium darah mengalir keventrikel yang
kemudian dipompa keluar melalui arteri pulmonalis untuk di bawa keparu paru dan
mengalami proses pertukanaran udara di alveolus paru paru,dan siklus akan berjalan
terus dan berkelanjutan. Dari aliran ini, maka dapat terlihat jelas bahwa bagian bagian
jantung berkontraksi bergantian. Di sini siklus jantung akan terjadi 2 urutan peristiwa yang
akan terjadi selama satu denyut lengkap. 2 peristiwa itu terdiri atas systole dan diastole.
Bentuk kontraksi otot jantung di sebut systole, yang mana bagian ventrikel akan
memompa darah keparu paru danventrikel kiri ke aorta. Keadaan saat kontraksi otot
jantung atau systole di tandai oleh warnapucat. Sedangkan bentuk relaksasi otot jantung di
sebut diastole, yang mana darah dari sirkulasi sistemik dibawa kembalike atrium kanan,
dan dari paru paruke atrium kiri. Keadaan saat relaksasi otot jantung di tandai dengan
warna jantung merah kecoklatan

Sifat Otomatis dan Ritmis


Pada pengamatan mengenai sifat otomatis dan ritmis jantung. Setelah melakukan
double pithing terhadap katak, frekuensi denyut jantung pada menit pertama sebelum
diberi perlakuan 70 denyut/menit. Setelah si copot dan diberi ringer 63 denyut/menit
.kemudian sinus venosus dipisahkan dari jantung dan dihitung denyut jantung permenit
dan didapatkan hasil 67 denyut/menit . Sedangkan pada sinus venosus didapatkan hasil 5
denyut/menit. Kemudian jantung di potong bagian atrium dan ventrikelnya.
Pada bagian ventrikel didapatkan hasil 22 denyut/menit . Pada bagian atrium
didapatkan hasil 62 denyut/menit. Dalam percobaan pertama ini ketika sinus venosus di
hitung setelah dipisahkan dari jantung seharusnya tetap berdetak sama halnya dengan
jantung. Adapun hasil yang diperoleh dari percobaan kami hanya berdetak 5 kali .jantung
yang telah di ambil sinus venosusnya seharunya memiliki denyut jantung yang sedikit
daripada denyut saat jantung normal. Selanjutnya, pada atrium dan ventrikel setelah sinus
venosus dipotong tidak akan berdenyut , namun pada percobaan ini dihasilkan atrium dan
ventrikel berdenyut. Semua kesalahan ini di karenakan kesalahan dalam memotong sinus
venosus saat praktikum. Menurut Stanius dalam percobaannya, sebuah tali diikatkan pada
siniosatrial, ternyata atrium dan ventrikel berhenti sedangkan sinus venosus tetap
berdenyut. Sinus venosus adalah tempat dari sumber jantung. (Dukes,1955).

Faktor Fisik dan Zat Kimia Terhadap Denyut Jantung


Pada pengamatan tentang faktor fisik dan zat kimia terhadap denyut jantung , di
temukan hasil yang berbeda mengenai denyut jantung permenit. Pada percobaan pertama
ketika jantung di tetesi cairan ringer (suhukamar) fekuensi denyut jantung di peroleh 66
denyut permenit. Larutan ringer berfungsi untuk mempercepatdenyut jantung. Hal ini
disebabkan karena larutan ringer laktat bersifat hipertonis, sehingga konsentrasi cairan di
dalam sel-sel otot jantung meningkat yang menyebabkan otot jantung akan lebih cepat
berkontraksi dari frekuensi denyutj antung normal.
Pada perlakuan kedua, jantung katak di tetesi dengan larutan ringer dingin dengan
suhu50C,mengalami perlambatan denyut jantung, hal ini menunjukan bahwa jantung
bersifat termolabil dimana Jantung dapa tberubah denyutnya karena pengaruh suhu
lingkungan. Sebagai contoh kita berpindah dari daerah suhu panas ke daerah bersuhu
dingin, maka denyut jantung menurun.
Pada perlakuan ketiga jantung katak di beri ringer dalam suhu normal , selanjutnya
pada percobaan keempat katak di beri ringer dengan suhu 400C. Pemberian ringer suhu
normal dan pemberian ringer suhu 400C dapat meningkatkan kembali denyut jantung
yang sebelumnya mengalami perlambatan akibat perlakuan kedua. Namun dari praktikum
ini di dapatkan hasil yang menunjukan penurunan denyut jantung.
Pada perlakuan kelima diberikan ringer suhu normal kembali dan denyut jantung
meningkat. Pada perlakuan keenam jantung diberikan larutan aseltakolin.pemberian
aseltakolin akan akan membuat penurunan pada denyut jantung. Namun, pada percobaan
yang dilakukan pemberian aseltakolin , jantung menjadi sama sekali tidak berdenyut.
larutan asetil kolin berperan sebagai neuro transmitter yang dilepaskan oleh saraf
saraf para simpatis dan juga saraf saraf preganglionik. Penurunan yang terjadi karena
asetil kolin meningkatkan permeabilitas membrane sel terhadap ion K sehingg
amenyebabkan hiper polarisasi, yaitu meningkatnya permeabilitas negativitas dalam
selotot jantung yang membuat jaringan kurang peka terhadap rangsang. Di dalam AV
node, hiperpolarisasi menyebabkan penghambatan junctional yang berukuran kecil untuk
merangsang AV node sehingga terjadi perlambatan kontraksi impuls yang akhirnya
menyebabkan terjadinya penurunan kontraksi. Asetikolin berfungsi sebagai
neurotransmitter. Asetilkolin adalah satu dari berbagai neurotransmitter pada system saraf
otomatis, dan satu-satunya neuron transmitter pada system saraf sadar.
Pada perlakuan tujuh sampai sembilan jantung sudah tidak menunjukan respon
apapun . padahal pada percobaan kedelapan , jantung katak di tetesi dengan larutan
Adrenalin yang seharusnya akan mengalami kenaikan denyut jantung. Karena , adrenalin
dapat meningkatkan permeabilitas membran terhadap Na dan Ca. Di dalam SA node,
peningkatan permeabilitas membrane terhadap Na menyebabkan penurunan potensial
membrane sampai nilai ambang. Sementara di dalam AV node peningkatan permeabilitas
membrane terhadap Na akan mempermudah sabut otot jantung untuk mengkonduks
iimplus sabut otot berikutnya sehingga mengurangi waktupeng konduksi animplus dari
atrium ke ventrikel. Sedangkan peningkatan permeabilitas terhadap Ca akan meningkatkan
kontraksi otot semakin cepat.
Semua kesalahan hasil di atas dikarenakan kesalahan dalam memahami prosedur .
jantung katak seharusnya di pisahkan dengan tubuhnya. Namun pada saat melakukan
percobaan jantung katak tidak di pisahkan dengan organ tubuh . sehingga pada saat di beri
larutan aseltakolin sel-sel yang terdapat di sekitar jantung mati dan menyebabkan jantung
tidak dapat berfungsi.

Pengaruh Ion Terhadap Aktivitas Jantung


Pada pengamatan pengaruh ion terhadap aktivitas jantung. Pertama,jantung katak
dicelupkan kedalam larutan ringer untuk menetralkan denyut jantungsang katak. Lalu
jantung katak tersebut dicelupkan ke dalam larutan Dan kemudian diberikan larutan
CaCl2denyut jantung menjadi lemah .selanjutnya Ketika jantung dicelupkan ke
dalam larutan NaCl 0,7%, detak jantung bertambahcepat. Hal ini mungkin
disebabkan perbedaan jumlah kandungan ion sodium ekstraseluler dengan
intraseluler sehingga membuat perbedaan potensial yang besardan membuat kerja jantung
meningkat.
Larutan NaCl berfungsi untuk memacu jantung untuk melakukan potensial aksi.
selanjutnya diberikan KCL 0,7% danjantung katak melemah atau detak jantungnya
melambat dari sebelumnya. Inidisebabkan dengan bertambahnya ion K+ pada
jantung, menyebabkan terjadinyarepolarisasi pada membrane Paralisis atrium dan
pemanjangan komplek QRS terjadijika kadar K+ bertambah. Setelah saluran K+ terbuka,
miokardium terjadi infark. Dengan begitu, serat otot jantung akan melemah dan tidak
peka rangsang yang mengakibatkan menurunnya detak jantung. Terjadinya eksitasi
pada otot jantung berhubungan dengan pergerakan kalsium ekstrasel melalui membrane
sel ke dalamsel miosit melalui saluran kalsium L-type dan pertukaran Na/Ca.Lalu
ditambahkan larutan KCl dan denyut jantungnya semakin melemah, bahkanyang berdetak
hanya bagian atriumnya saja, dan hanya bagian atrium yang berdetak.Karena saat
diberikan larutan KCl dan CaCl2, jantung sedang mengalami potensiistirahat.
Larutan Ringer merupakan salah satu larutan laboratorium dari garam dalamair yang
digunakan untuk memperpanjang waktu kelangsungan hidup jaringan yangdipotong.
Larutan ini akan menetralkan atau mengembalikan denyut jantung kedenyut
awal. Larutannya mengandung natrium klorida, kalium klorida, kalsium klorida,
dan sodium bikarbonat dengan konsentrasi tertentu di mana mereka terdapat dalam cairan
tubuh. Jika natrium laktat digunakan sebagai pengganti natrium bikarbonat,
campuran ini disebut solusi laktat Ringer (Spealman, 1940).Pada cara kerja pengaruh
garam anorganik terhadap denyut jantung ini larutanNaCl berfungsi sebagai
penetralisir. Hal ini karena Semua larutan garam sementara menghapuskan aktivitas
ritmis jantung (Buridge, 1912).
H. Kesimpulan
1. Ion Ca2+ dalam larutan CaCl2 akan menimbulkan kontraksi pada otot jantung sehingga
denyut jantung meningkat.

2. Ion Na+ dalam larutan NaCl akan mengembalikan kerja jantung ke kondisi normal
sehingga denyut jantung berlagsung stabil.

3. Ion K+ dalam larutan KCl akan menurunkan potensial aksi jantung sehingga kekuatan
kontraksi juga menurun. Oleh karena itu, frekuensi denyut jantung setiap menitnya
akan berkurang.

I. DAFTAR PUSTAKA
Buridge. 1912. Researches on the perfused Heart: The effect of Inorganic
Salt.Experimental Physiology (5)347-371.
Campbell, N. A., Reece, J. B., & Mitchell, L.G Junqueira, Luiz Carlos and Jos Carneiro.
2007. Histologi Dasar. Jakarta: EGC.
Dukes, H. 1955. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Pub. Associated.New
York.
Campbell, Neil A. Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell.2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid
3. Jakarta: Erlangga 2004 .
Supripto. 1998. Fisiologi Hewan. Penerbit ITB. Bandung
LAMPIRAN