Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Presentasi bokong merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di
fundus uteri dan bokong di bawah kavum uteri (Prawirohardjo, 2010).
Klasifikasi presentasi bokong yaitu : letak bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas,
letak sungsang sempurna, di mana letak kaki ada di samping bokong, letak sungsang tidak
sempurna yaitu letak sungsang di mana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau
lutut (Purwaningsih, 2010).
Kematian perinatal langsung yang disebabkan karena persalinan presentasi bokong sebesar 4-
5 kali dibanding presentasi kepala. Sebab kematian perinatal pada persalinan presentasi
bokong yang terpenting adalah prematuritas dan penanganan persalinan yang kurang
sempurna, dengan akibat hipoksia atau perdarahan di dalam tengkorak. Trauma lahir pada
presentasi bokong banyak dihubungkan dengan usaha untuk mempercepat persalinan dengan
tindakan-tindakan untuk mengatasi macetnya persalinan (Manuaba, 2010).
Kehamilan dengan presentasi bokong merupakan kehamilan yang memiliki risiko. Hal ini
dikaitkan dengan abnormalitas janin dan ibu. Faktor yang dapat menyebabkan kelainan letak
presentasi bokong, diantaranya paritas ibu dan bentuk panggul ibu. Angka kejadian presentasi
bokong jika dihubungkan dengan paritas ibu maka kejadian terbanyak adalah pada ibu
dengan multigravida dibanding pada primigravida, sedangkan jika dihubungkan dengan
panggul ibu maka angka kejadian presentasi bokong terbanyak adalah pada panggul sempit,
dikarenakan fiksasi kepala janin yang tidak baik pada Pintu Atas Panggul (Syaifuddin, 2010).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dirumuskan
masalahnya sebagai berikut: bagaimana pelaksanaan asuhan keperawatan pada
klien gravida 37 mgg dengan presentasi bokong dan bayi besar diruang VK di RSUD Ciamis.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk melakukan deteksi dini terhadap kelainan penyulit dan komplikasi selama kehamilan
dan persalina.
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien
partum spontan dengan indikasi letak sungsang yang meliputi:
a. Pengkajian pada klien gravida 37 minggu dengan presentasi bokong dan bayi besar.
b. Menegakkan diagnosa keperawatan pada klien gravida 37 minggu dengan presentasi
bokong dan bayi besar.
c. Intervensi keperawatan pada klien klien gravida 37 minggu dengan presentasi bokong
dan bayi besar.
d. Implementasi keperawatan pada klien klien gravida 37 minggu dengan presentasi
bokong dan bayi besar.
e. Evaluasi keperawatan pada klien klien gravida 37 minggu dengan presentasi bokong dan
bayi besar.

D. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan dan menambah referensi dalam mengaplikasikan tindakan
keperawatan yang telah dijalankan.
2. Bagi Perawat
Membantu menambah referensi dalam hal pemahaman perkembangan pengetahuan
dan penatalaksanaan dapat digunakan untuk menetapkan strategi yang tepat sehingga
dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas meliputi bio- psiko- sosial-
spritual. Yang berhubungan dengan asuhan keperawatan gravida dengan letak sungsang.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai wacana bagi institusi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan dimasa
yang akan datang.

5. Bagi Pembaca
Dapat memberikan informasi mengenai masalah keperawatan khususnya asuhan
keperawatan pada pasien gravida dengan letak sungsang.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Teori
1. Letak sungsang
a. Pengertian
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak
memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian
bawah kavum uteri (Prawirohardjo, 2008).
b. Klasifikasi letak sungsang
1) Presentasi bokong murni (frank breech)
Yaitu letak sungsang dimana kedua kaki terangkat ke atas sehingga
ujung kaki setinggi bahu atau kepala janin.
2) Presentasi bokong kaki sempurna (complete breech)
Yaitu letak sungsang dimana kedua kaki dan tangan menyilang
sempurna dan di samping bokong dapat diraba kedua kaki.
3) Presentasi bokong kaki tidak sempurna (incomplete breech)
Yaitu letak sungsang dimana hanya satu kaki di samping bokong,
sedangkan kaki yang lain terangkat ke atas.
(Kasdu, 2005)

c. Diagnosis

Diagnosis letak sungsang yaitu pada pemeriksaan luar kepala tidak teraba di bagian
bawah uterus melainkan teraba di fundus uteri. Kadang-kadang bokong janin teraba
bulat dan dapat memberi kesan seolah-olah kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan
semudah kepala. Seringkali wanita tersebut menyatakan bahwa kehamilannya terasa lain
dari pada yang terdahulu, karena terasa penuh di bagian atas dan gerakan terasa
lebih banyak di bagian bawah. Denyut jantung janin pada umumnya ditemukan setinggi
atau sedikit lebih tinggi daripada umbilicus. Apabila diagnosis letak sungsang dengan
pemeriksaan luar tidak dapat dibuat, karena misalnya dinding perut tebal, uterus mudah
berkontraksi atau banyaknya air ketuban, maka diagnosis ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan dalam. Apabila masih ada keragu-raguan, harus dipertimbangkan untuk
melakukan pemeriksaan ultrasonografik. Setelah ketuban pecah, dapat diraba lebih jelas
adanya bokong yang ditandai dengan adanya sacrum, kedua tuber ossis iskii, dan anus.
Bila dapat diraba kaki, maka harus dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit,
sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari
lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan. Pada persalinan
lama, bokong janin mengalami edema, sehingga kadang-kadang sulit untuk
membedakan bokong dengan muka. Pemeriksaan yang teliti dapat membedakan antara
bokong dengan muka karena jari yang akan dimasukkan ke dalam anus mengalami
rintangan otot, sedangkan jari yang dimasukkan ke dalam mulut akan meraba tulang
rahang dan alveola tanpa ada hambatan. Pada presentasi bokong kaki sempurna, kedua
kaki dapat diraba di samping bokong, sedangkan pada presentasi bokong kaki tidak
sempurna, hanya teraba satu kaki di samping bokong (Prawirohardjo, 2008).

d. Etiologi
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan
didalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban
relative lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan
demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang,
ataupun letak lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan
jumlah air ketuban relative berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai yang
terlipat lebih besar dari pada kepala, maka bokong dipaksa menempati ruang yang lebih
luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada dalam ruangan yang lebih kecil di segmen
bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum
cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup
bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala. Faktor-faktor lain yang
memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya adalah multiparitas,
hamil kembar, hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa, dan panggul sempit.
Kadang-kadang letak sungsang disebabkan karena kelainan uterus dan kelainan bentuk
uterus. Plasenta yang terletak di daerah kornu fundus uteri dapat pula menyebabkan
letak sungsang karena plasenta mengurangi luas ruangan di daerah fundus
(Prawirohardjo, 2008).

e. Cara persalinan letak sungsang :


1) Pervaginam
Persalinan letak sungsang dengan pervaginam mempunyai syarat yang harus dipenuhi
yaitu pembukaan benar-benar lengkap, kulit ketuban sudah pecah, his adekuat dan
tafsiran berat badan janin < 3600 gram. Terdapat situasi-situasi tertentu yang
membuat persalinan pervaginam tidak dapat dihindarkan yaitu ibu memilih persalinan
pervaginam, direncanakan bedah sesar tetapi terjadi proses persalinan yang
sedemikian cepat, persalinan terjadi di fasilitas yang tidak memungkinkan dilakukan
bedah sesar, presentasi bokong yang tidak terdiagnosis hingga kala II dan kelahiran
janin kedua pada kehamilan kembar. Persalinan pervaginam tidak dilakukan apabila
didapatkan kontra indikasi persalinan pervaginam bagi ibu dan janin, presentasi kaki,
hiperekstensi kepala janin dan berat bayi > 3600 gram, tidak adanya informed
consent, dan tidak adanya petugas yang berpengalaman dalam melakukan
pertolongan persalinan (Prawirohardjo, 2008).
a) Persalinan spontan (spontaneous breech)
Yaitu janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri (cara bracht). Pada
persalinan spontan bracht ada 3 tahapan yaitu tahapan pertama yaitu fase lambat,
fase cepat, dan fase lambat.
Berikut ini prosedur melahirkan secara bracht :
1) Ibu dalam posisi litotomi, sedang penolong berdiri di depan vulva.
2) Saat bokong membuka vulva, dilakukan episiotomi segera setelah bokong
lahir, bokong dicengkeram secara bracht t yaitu kedua ibu jari penolong
asejajar sumbu panjang paha sedangkan jari-jari lain memegang panggul.
3) Pada waktu tali pusat lahir dan tampak teregang, segera kendorkan tali pusat
tersebut.
4) Penolong melakukan hiperlordosis pada badan janin dengan cara punggung
janin didekatkan ke perut ibu. penolong hanya mengikuti gerakan ini tanpa
melakukan tarikan.
5) Dengan gerakan hiperlordosis ini berturut-turut lahir pusar, perut, bahu, dan
lengan, dagu, mulut, dan akhirnya seluruh kepala

b) Manual aid

Yaitu janin dilahirkan sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi
dengan tenaga penolong. Pada persalinan dengan cara manual aid ada 3 tahapan
yaitu : tahap pertama lahirkan bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan
kekuatan ibu sendiri, tahap kedua lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga
penolong dengan cara klasik, mueller, lovset; tahap ketiga lahirnya kepala dengan
memakai cara mauriceau dan forceps piper.
Berikut ini cara melahirkan bahu dan lengan pada letak sungsang dengan cara
klasik :
(1) Kedua kaki janin dipegang dengan tangan kanan penolong pada pergelangan
kakinya dan dielevasi ke atas sejauh mungkin sehingga perut janin mendekati
perut ibu.
(2) Bersamaan dengan itu tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir
dengan jari telunjuk menelusuri bahu janin sampai pada fossa cubiti kemudian
lengan bawah dilahirkan dengan gerakan seolah-olah lengan bawah mengusap
muka janin.
(3) Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada pergelangan kaki janin diganti
dengan tangan kanan penolong dan ditarik curam ke bawah sehingga punggung
janin mendekati punggung ibu. Dengan cara yang sama lengan dapat dilahirkan.
(Prawirohardjo, 2008)

Berikut ini melahirkan bahu dan lengan pada letak sungsang dengan cara mueller :
1. Badan janin dipegang secara femuro-pelvis dan sambil dilakukan traksi curam ke
bawah sejauh mungkin sampai bahu depan di bawah simfisis dan lengan depan
dilahirkan dengan mengait lengan di bawahnya.
2. Setelah bahu dan lengan depan lahir, maka badan janin yang masih dipegang secara
femuro-pelvis ditarik ke atas sampai bahu belakang lahir.
(Prawirohardjo, 2008)

Berikut ini melahirkan bahu dan lengan dengan cara lovset :


1) Badan janin dipegang secara femuro-pelvis dan sambil dilakukan traksi curam
ke bawah badan janin diputar setengah lingkaran, sehingga bahu belakang menjadi
bahu depan.
2) Sambil melakukan traksi, badan janin diputar kembali ke arah yang berlawanan
setengah lingkaran demikian seterusnya bolak-balik sehingga bahu belakang tampak
di bawah simfisis dan lengan dapat dilahirkan.
(Prawirohardjo, 2008)

Berikut ini melahirkan kepala dengan cara mauriceau :


1) Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan ke dalam jalan lahir.
2) Jari tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk serta jari ke empat
mencengkeram fossa canina sedangkan jari yang lain mencengkeram leher
3) Badan anak diletakkan di atas lengan bawah penolong seolah-olah janin menunggang
kuda. Jari telunjuk dan jari ke tiga penolong mencengkeram leher janin dari arah
punggung.
4) Kedua tangan penolong menarik kepala janin curam ke bawah sambil seorang asisten
melakukan fundal pressure.
5) Saat suboksiput tampak di bawah simfisis, kepala janin dielevasi ke atas dengan
suboksiput sebagai hipomoklion sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung,
mata, dahi, ubun-ubun besar dan akhirnya seluruh kepala.
(Prawirohardjo, 2008)

c) Ekstraksi sungsang
Yaitu janin dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga penolong.
Ekstraksi sungsang dilakukan jika ada indikasi dan memenuhi syarat untuk
mengakhiri persalinan serta tidak ada kontra indikasi. Indikasi ekstraksi
sungsang yaitu gawat janin, tali pusat menumbung, persalinan macet.
Cara ekstraksi kaki :
1) Bila kaki masih terdapat di dalam vagina, tangan operator yang berada pada
posisi yang sama dengan os sacrum dimasukkan dalam vagina untuk menelusuri
bokong, paha sampai lutut guna mengadakan abduksi paha janin sehingga kaki
janin keluar. Selama melakukan tindakan ini, fundus uteri ditahan oleh tangan
operator yang lain.
2) Bila satu atau dua kaki sudah berada di luar vulva, maka dipegang dengan dua
tangan operator pada betis dengan kedua ibu jari berada punggung betis.
Lakukan traksi ke bawah. Setelah lutut dan sebagian paha keluar, pegangan
dialihkan pada paha dengan kedua ibu jari pada punggung paha.
3) Dilakukan traksi ke bawah lagi (operator jongkok) dengan tujuan menyesuaikan
arah traksi dengan sumbu panggul ibu.
Cara ekstraksi bokong
(1) Lakukan periksa dalam vagina untuk memastikan titik penunjuk (os sacrum).
(2) Jari telunjuk tangan operator yang berhadapan dengan os sacrum dikaitkan pada
lipat paha depan janin. Kemudian dilakukan ekstraksi curam ke bawah
(3) Bila trokanter depan sudah berada di bawah simfisis, jari telunjuk tangan
operator yang lain dipasang pada lipat paha belakang untuk membantu traksi
sehingga bokong berada di luar vulva.
(4) Arah ekstraksi berubah ke atas untuk mengeluarkan trokanter belakang.
(5) Ekstraksi kemudian mengikuti putaran paksi dalam.
(6) Bila pusat sudah berada di luar vulva, dikendorkan.
(7) Ekstraksi diteruskan dengan cara menempatkan kedua tangan pada bokong janin
dengan kedua ibu jari berada di atas sacrum dan jari-jari kedua tangan berada di
atas lipat paha janin.
(8) Ekstraksi dilakukan dengan punggung janin di depan, kemudian mengikuti
putaran paksi dalam bahu, salah satu bahu akan ke depan.
(9) Setelah ujung tulang belikat terlihat dilakukan periksa dalam vagina untuk
menentukan letak lengan janin, apakah tetap berada di depan dada, menjungkit
atau di belakang tengkuk. Pada ekstraksi bokong sampai tulang belikat sering
diperlukan bantuan dorongan kristeller.

2) Sectio Caesarea
Indikasi untuk sectio antaranya panggul sempit, anak yang besar terutama pada
primigravida dan talin pusat yang menumbung.
3) Perabdominam
Memperhatikan komplikasi persalinan letak sungsang melalui pervaginam, maka
sebagian besar pertolongan persalinan letak sungsang dilakukan dengan seksio sesarea.
Pada saat ini seksio sesarea menduduki tempat yang sangat penting dalam menghadapi
persalinan letak sungsang. Seksio sesarea direkomendasikan pada presentasi kaki
ganda dan panggul sempit (Prawirohardjo, 2008).
Seksio sesarea bisa dipertimbangkan pada keadaan ibu yang primi tua, riwayat
persalinan yang jelek, riwayat kematian perinatal, curiga panggul sempit, ada indikasi
janin untuk mengakhiri persalinan (hipertensi, KPD >12 jam, fetal distress), kontraksi
uterus tidak adekuat, ingin steril, dan bekas SC.Sedangkan seksio sesarea bisa
dipertimbangkan pada bayi yang prematuritas >26 minggu dalam fase aktif atau perlu
dilahirkan, IUGR berat, nilai social
janin tinggi, hiperekstensi kepala, presentasi kaki, dan janin >3500 gram
(janin besar) (Cunningham, 2005).

f. Komplikasi persalinan letak sungsang


1) Komplikasi pada ibu
a) Perdarahan
b) Robekan jalan lahir
c) Infeksi

2) Komplikasi pada bayi


a) Asfiksia bayi, dapat disebabkan oleh :
(1) Kemacetan persalinan kepala (aspirasi air ketuban-lendir)
(2) Perdarahan atau edema jaringan otak
(3) Kerusakan medula oblongata
(4) Kerusakan persendian tulang leher
(5) kematian bayi karena asfiksia berat.
b) Trauma persalinan
(1) Dislokasi-fraktur persendian, tulang ekstremitas
(2) Kerusakan alat vital : limpa, hati, paru-paru atau jantung
(3) Dislokasi fraktur persendian tulang leher : fraktur tulang dasar
kepala ; fraktur tulang kepala ; kerusakan pada mata, hidung atau
telinga ; kerusakan pada jaringan otak.
c) Infeksi, dapat terjadi karena :
(1) Persalinan berlangsung lama
(2) Ketuban pecah pada pembukaan kecil
(3) Manipulasi dengan pemeriksaan dalam

BAB III

TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL CARE PADA NY. I 39 TAHUN G3P2A0 GRAVIDA

37 MINGGU DENGAN PRESENTASI BOKONG DAN BAYI BESAR

Tanggal Pengkajian : 03 Desember 2015

Waktu Pengkajian : 10.45 WIB

Tempat Pengkajian : RSUD Ciamis

Pengkaji : Herwan Koswara

I DATA SUBJEKTIF
A Identitas
Nama : Ny.I Nama Suami : Tn. U
Umur : 39 tahun Umur : 48 tahun
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam Agama : Islam
Gol.darah : o+ Gol.darah :-

Alamat : Nukarjati Rt/Rw 06/04 Kecamatan Sadananya Kab Ciamis

Keluhan Utama

Ibu ingin memeriksakan kehamilannya ke poli Kandungan RSUD Tasikmalaya

B Riwayat Obstetri
1 Riwayat Menstruasi
Ibu mengatakan pertama kali menstruasi pada saat usia 13 tahun, lama haid 7-8 hari

dengan siklus 28 hari, tidak ada keluhan. Ibu biasa mengganti pembalut 2-3 x sehari.

Ibu mengatakan hari pertama haid terakhir tanggal, dan sudah mengetahui dari bidan

bahwa taksiran persalinannya tanggal .


2 Riwayat Kehamilan Sekarang
Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke tiga, pernah melahirkan 2 kali dan tidak

pernah abortus. Ibu rutin memeriksakan kehamilan ke bidan sebulan sekali, sudah

mendapat imunisasi TT 2x , TT1 pada usia kehamilan 12 minggu dan TT2 pada usia

kehamilan 21 minggu (10-11-2014). Ibu selalu minum tablet Fe 1x sehari. Gerakan

janin pertama kali dirasakan ketika usia kehamilan 4 bulan


3 Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas terdahulu

N Kehamilan Persalinan Nifas Anak

o
Usia Penyuli Jenis Penolon Tempat Penyuli Penyuli J BB P Keadaa Umur

t g t t K B n
1 9 bln - Spt Bidan BPM - - P 3500 49 Hidup 20 thn
2 9 blm - Spt Bidan BPM - - L 3800 50 Hidup 10 thn
Hamil Ini

C Riwayat Ginekologi
Ibu tidak pernah dan tidak sedang menderita penyakit yang berhubungan dengan alat

kandungan seperti tumor dan kanker. Ibu tidak pernah di operasi yang berhubungan

dengan alat kandungan.


D Riwayat Kesehatan
Ibu tidak mempunyai riwayat penyakit atau sedang menderita penyakit jantung, tekanan

darah tinggi, diabetes, malaria, penyakit ginjal, penyakit asma, penyakit menular seksual

seperti HIV/AIDS.
E Riwayat Perkawinan
ini merupakan pernikahan yang ke pertama bagi ibu dan suami, lamanya pernikahan

tahun. Usia ibu saat menikah adalah tahun, sedangkan suaminya berusia tahun.
F Riwayat KB
Dari anak pertama ke anak ke 2 ibu memakai KB suntik 3 bulan sekali selama 9 tahun,

dari anak ke 2 ke anak ke 3 ibu tidak menggunakan KB apapun.


G Riwayat Psikososial
Ibu sangat senang dan menerima terhadap kehamilan ini, begitupun suami dan keluarga.
H Pola Kebiasaan Sehari-hari
1 Nutrisi
Ibu biasa makan dalam sehari sebanyak 2-3x dengan menu makanan bervariasi dan

tidak ada pantangan atau alergi makanan. Minum sebanyak 7-8 gelas perhari.

2 Eliminasi

Ibu sering buang air kecil 7-8 kali sehari dengan warna kuning jernih tidak keruh, ibu

mengatakan tidak ada kesulitan dalam buang air kecil. Buang air besar sehari satu

kali, warna kecoklat-coklatan, konsistensi lembek dan tidak ada kesulitan.

3 Istirahat dan tidur


Ibu biasanya tidur malam kurang lebih 8 jam, Ibu mengeluh suka terbangun karena

ingin buang air kecil. Ibu biasa tidur siang kurang lebih 1 jam.
4 Personal Hygine
Mandi sehari 2x, keramas 3x dalam seminggu dan ganti pakaian dalam setiap habis

mandi.
5 Aktifitas
Ibu mengatakan sehari-hari mengerjakan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga.
6 Hubungan Seksual
Akhir-akhir minggu ini ibu sudah tidak melakukan hubungan seksual.

I Rencana Persalinan dan Penolong

Ibu ingin bersalin ditolong oleh bidan di rumah BPM.

II DATA OBJEKTIF
A Keadaan Umum
1 Keadaan umum : baik
2 Kesadaran : composmentis
3 Keadaan Emosional : stabil
B Tanda-tanda Vital
1 Tekanan Darah : 120/80 mmHg
2 Nadi : 78x /menit
3 Respirasi : 21x /menit
4 Suhu : 36o C
C Antropometri
1 Tinggi Badan : 150 cm
2 LILA : 26 cm
3 BB sekarang : 65 kg
4 BB sebelum hamil : 54 kg
5 Kenaikan BB : 11 kg
D Pemeriksaan Fisik
1 Kepala : bentuk simetris, bersih, tidak ada benjolan
2 Muka : tidak pucat, tidak oedema, ada cloasma gravidarum.
3 Mata : bentuk simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih,
penglihatan jelas
4 Hidung : bentuk simetris, tidak ada polip, tidak sedang influenza
5 Mulut : bersih,tidak ada stomatitis, tidak ada caries dan gusi merah
muda
6 Telinga : bentuk simetris, bersih, pendengaran baik
7 Leher : bentuk simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada pembesaran KGB, tidak ada

pembesaran vena jugularis


8 Dada : bentuk simetris, bunyi jantung reguler
9 Payudara : bentuk simetris, puting susu menonjol, tidak ada
retraksi/dimpling, tidak ada benjolan, kolostrum ada.
10 Abdomen
1 Inspeksi
Tidak ada bekas luka operasi, ada striae gravidarum, ada linea alba
2 Palpasi
TFU 3 jari dibawah px (Mc.Donald 35 cm), pembesaran perut sesuai dengan usia

kehamilan.
Leopold I : Di fundus teraba bulat, keras, melenting,
Leopold II : Di bagian sebelah kiri teraba bagian-bagian
kecil janin, sebelah kanan teraba bagian keras
memanjang seperti ada tahanan
Leopold III : Di bagian terendah teraba bagian lunak, bundar, kurang
Melenting. Belum masuk pintu atas panggul

Leopold IV : convergen 5/5 PAP

TBBJ : 35-11 x 155 = 3,720 gram

3 Auskultasi
DJJ terdengar jelas, 154x / menit, regular
11 Ekstermitas atas : tidak ada oedema, kuku bersih, tidak ada

kekakuan sendi, kuku tidak anemis,kuku tidak cekung.


12 Ekstermitas bawah : tidak ada oedema dan varises,

reflex

patella (+), kuku tidak anemis, kuku tidak cekung.

E Pemeriksaan Penunjang
1 Hb : 13,4 gr%
2 Protein urine : Negatif
3 Glukosa urine : Negatif

III ANALISA DATA


G3P2A0 gravida 37 minggu dengan presentasi bokong dan bayi besar.

IV PENATALAKSANAAN
1 Menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa usia kehamilan ibu saat ini

adalah 37 minggu, pemeriksaan laboratorium (Hb 13,4) normal.


(ibu memahami hasil pemeriksaan bahwa kehamilannya dalam keadaan sehat).
2 Memberitahukan persiapan apabila terjdi kegawatdaruratan.
(ibu mengerti)
3 Observasi His dan DJJ
4 Kolaborasi dengan Dr. S.pog.
5 Rencana SC elektif.