Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara umum, ilmu-ilmu dapat dibedakan antara ilmu-ilmu dasar dan ilmu-ilmu terapan.
Termasuk kelompok ilmu dasar, antara lain ilmu-ilmu yang dikembangkan di fakultas-
fakultas MIPA, Biologi, dan Geografi. Kelompok ilmu terapan meliputi antara lain: ilmu-
ilmu teknik, ilmu kedokteran, ilmu teknologi pertanian. Ilmu-ilmu dasar dikembangkan lewat
penelitian yang biasa disebut sebagai penelitian dasar (basic research), sedangkan
penelitian terapan (applied research) menghasilkan ilmu-ilmu terapan.
Penelitian terapan (misalnya di bidang fisika bangunan) dilakukan dengan memanfaatkan
ilmu dasar (misal: fisika). Oleh para perancang teknik, misalnya, ilmu terapan dan ilmu dasar
dimanfaatkan untuk membuat rancangan keteknikan (misal: rancangan bangunan). Tentu
saja, dalam merancang, para ahli teknik bangunan tersebut juga mempertimbangkan hal-hal
lain, misalnya: keindahan, biaya, dan sentuhan budaya. Catatan: Suriasumantri (1978: 29)
menamakan penelitian dasar tersebut di atas sebagai penelitian murni (penelitian yang
berkaitan dengan ilmu murni, contohnya: Fisika teori).
Pada perkembangan keilmuan terbaru, sering sulit mengkatagorikan dan mengertikan apa
itu ilmu secara luas, oleh karena itu disini penulis akan membahas tentang lebih lanjut
mengenai ilmu pengetahuan, batasan ilmu pengetahuan, ciri-ciri ilmu pengetahuan, metode
keilmuan, dan konsep dalam kegiatan keilmuan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan ?
2. Bagaimanakah batasan ilmu pengetahuan ?
3. Apakah ciri-ciri dari ilmu pengetahuan ?
4. Apakah metode keilmuan tersebut ?
5. Bagaimanakah konsep dalam kegiatan keilmuan ?
1.3 Tujuan
1. Agar dapat mengetahui apa itu ilmu pengetahuan.
2. Agar dapat mengetahui batasan ilmu pengetahuan.
3. Agar dapat mengetahui bagaimana ciri-ciri dari ilmu pengetahuan.
4. Agar mengetahui metode dari keilmuan.
5. Agar mengetahui bagaimana konsep dalam kegiatan keilmuan.
II. PEMBAHASAN

2.1 Definisi Ilmu Pengetahuan


Ilmu pengetahuan diambil dari kata bahasa Inggris sciene, yang berasal dari bahasa latin
scientia dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, mengetahui. Pertumbuhan

1 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti sehingga menunjuk pada segenap
pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Pengertian ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta yang
diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk
mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. dalam kata lain dapat kita ketahui definisi arti ilmu
yaitu sesuatu yang didapat dari kegiatan membaca dan memahami benda-benda maupun
peristiwa.
Ilmu (Knowledge) merujuk kepada kefahaman manusia terhadap sesuatu perkara, dimana
ilmu merupakan kefahaman yang sistematik dan diusahakan secara sedar. Pada umumnya, ilmu
mempunyai potensi untuk dimanfaatkan demi kebaikan manusia. Ilmu adalah sesuatu yang
membedakan kita dengan makluk tuhan lainya seperti tumbuhan dan hewan. Dengan ilmu kita
dapat melakukan, membuat, menciptakan sesuatu yang membawa perbedaan yang lebih baik
bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dimengerti sebagai pengetahuan yang diatur secara
sistematis dan langkah-langkah pencapaianya dipertanggungjawabkan secara teoretis.
The Liang Gie (1987) (dalam Surajiyo, 2010) memberikan pengertian ilmu adalah rangkaian
aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman
secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan
pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Adapun menurut Bahm (dalam Koento Wibisono,1997) definisi ilmu pengetahuan
melibatkan paling tidak enam macam komponen, yaitu masalah (problem), sikap (attitude),
metode (method) ,aktivitas (activity), kesimpulan (conclution), dan pengaruh (effects).
Sumber ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan dari akal (ratio).
Sehingga timbul faham atau aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme. Aliran empirisme
yaitu faham yang menyusun teorinya berdasarkan pada empiris atau pengalaman. Tokoh-tokoh
aliran ini misalnya David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704), Berkley. Sedang
rasionalisme menyusun teorinya berdasarkan ratio. Tokoh-tokoh aliran ini misalya Spinoza, Rene
Descartes. Metode yang digunakan aliran emperisme adalah induksi, sedang rasionalisme
menggunakan metode deduksi. Immanuel Kant adalah tokoh yang mensintesakan faham
empirisme dan rasionalisme.

2 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
Gambar 1. David Hume, John Locke , dan George Berkeley

Gambar 2. Immanuel Kant

2.3 Batasan Ilmu Pengetahuan


Menurut Immanuel Kant apa yang dapat kita tangkap dengan panca indera itu hanya terbatas
pada gejala atau fenomena, sedang substansi yang ada di dalamnya tidak dapat kita tangkap
dengan panca indera disebut nomenon. Apa yang dapat kita tangkap dengan panca indera itu
adalah penting, pengetahuan tidak sampai disitu saja tetapi harus lebih dari sekedar yang dapat
ditangkap panca indera.
Yang dapat kita ketahui atau dengan kata lain dapat kita tangkap dengan panca indera adalah
hal-hal yang berada di dalam ruang dan waktu. Yang berada di luar ruang dan waktu adalah di

3 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
luar jangkauan panca indera kita, itu terdiri dari 3 (tiga) ide regulatif: 1) ide kosmologis yaitu
tentang semesta alam (kosmos), yang tidak dapat kita jangkau dengan panca indera, 2) ide
psikologis yaitu tentang psiche atau jiwa manusia, yang tidak dapat kita tangkap dengan panca
indera, yang dapat kita tangkap dengan panca indera kita adalah manifestasinya misalnya
perilakunya, emosinya, kemampuan berpikirnya, dan lain-lain, 3) ide teologis yaitu tentang
Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam.

2.3 Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan


Ada beberapa pandangan mengenai ciri-ciri ilmu pengetahuan, diantaranya menurut The
Liang Gie menyatakan bahwa ciri-ciri ilmu pengetahuan antara lain :
1. Empiris; pengetahuan diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
2. Sistematis; data yang tersusun dan memiliki hubungan ketergantungan dan teratur.
3. Objektif; benar-benar bukan dari individu atau prasangka seseorang.
4. Analitis, dan
5. Verifikatif.
Sementara itu, mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
1. obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan
pada emosional subyektif.
2. Koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan.
3. Reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan
tingkat kerendahan (reabilitas) tinggi.
4. Valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan
tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal.
5. Memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum.
6. Akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi, dan
7. Dapat melakukan prediksi; ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-
kemungkinan suatu hal.

Filsafat Ilmu Pengetahuan merupakan cabang filsafat yang menelaah baik ciri-ciri ilmu
pengetahuan ilmiah maupun cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan ilmiah. Ciri-ciri Ilmu
Pengetahuan Ilmiah adalah sebagai berikut :

1 Sistematis.
Ilmu pengetahuan ilmiah bersifat sistematis artinya ilmu pengetahuan ilmiah dalam
upaya menjelaskan setiap gejala selalu berlandaskan suatu teori. Atau dapat dikatakan

4 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
bahwa teori dipergunakan sebagai sarana untuk menjelaskan gejala dari kehidupan
sehari-hari. Tetapi teori itu sendiri bersifat abstrak dan merupakan puncak piramida dari
susunan tahap-tahap proses mulai dari persepsi sehari-hari/ bahasa sehari-hari,
observasi/konsep ilmiah, hipotesis, hukum dan puncaknya adalah teori.

Ciri-ciri yang sistematis dari ilmu pengetahuan ilmiah tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut:

Teori

Hukum

Hipotesa deduktif - nomologis


induktif - statistik

Hasil observasi (konsep ilmiah)

Persepsi sehari-hari (bahasa sehari-hari)

Gambar 3. Piramida Ilmu Pengetahuan Ilmiah


Sumber: Noerhadi T. H. (1998) Diktat Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan.
Pascasarjana Universitas Indonesia.

a Persepsi sehari-hari (bahasa sehari-hari).


Dari persepsi sehari-hari terhadap fenomena atau fakta yang biasanya
disampaikan dalam bahasa sehari-hari diobservasi agar dihasilkan makna. Dari
observasi ini akan dihasilkan konsep ilmiah.

b Observasi (konsep ilmiah).


Untuk memperoleh konsep ilmiah atau menyusun konsep ilmiah perlu ada
definisi. Dalam menyusun definisi perlu diperhatikan bahwa dalam definisi tidak
boleh terdapat kata yang didefinisikan. Terdapat 2 (dua) jenis definisi, yaitu: 1)
definisi sejati, 2) definisi nir-sejati.

5 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
Definisi sejati dapat diklasifikasikan dalam :
1 Definisi Leksikal.
Definisi ini dapat ditemukan dalam kamus, yang biasanya bersifat deskriptif.

2 Definisi Stipulatif.
Definisi ini disusun berkaitan dengan tujuan tertentu. Dengan demikian tidak
dapat dinyatakan apakah definisi tersebut benar atau salah. Benar atau salah
tidak menjadi masalah, tetapi yang penting adalah konsisten (taat asas).
Contoh adalah pernyataan dalam Akta Notaris: Dalam Perjanjian ini si A
disebut sebagai Pihak Pertama, si B disebut sebagai Pihak Kedua.

3 Definisi Operasional.
Definisi ini biasanya berkaitan dengan pengukuran (assessment) yang banyak
dipergunakan oleh ilmu pengetahuan ilmiah. Definisi ini memiliki kekurangan
karena seringkali apa yang didefinisikan terdapat atau disebut dalam definisi,
sehingga terjadi pengulangan. Contoh: Yang dimaksud inteligensi dalam
penelitian ini adalah kemampuan seseorang yang dinyatakan dengan skor tes
inteligensi.

4 Definisi Teoritis.
Definisi ini menjelaskan sesuatu fakta atau fenomena atau istilah berdasarkan
teori tertentu. Contoh: Untuk mendefinisikan Superego, lalu menggunakan
teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud.

Definisi nir-sejati dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :


1 Definisi Ostensif.
Definisi ini menjelaskan sesuatu dengan menunjuk barangnya. Contoh: Ini
gunting.

2 Definisi Persuasif.
Definisi yang mengandung pada anjuran (persuasif). Dalam definisi ini
terkandung anjuran agar orang melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Contoh: Membunuh adalah tindakan menghabisi nyawa secara tidak terpuji.

6 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
Dalam definisi tersebut secara implisit terkandung anjuran agar orang tidak
membunuh, karena tidak baik (berdosa menurut Agama apapun).

c Hipotesis
Dari konsep ilmiah yang merupakan pernyataan-pernyataan yang mengandung
informasi, 2 (dua) pernyataan digabung menjadi proposisi. Proposisi yang perlu diuji
kebenarannya disebut hipotesis.

d Hukum
Hipotesis yang sudah diuji kebenarannya disebut dalil atau hukum.

e Teori
Keseluruhan dalil-dalil atau hukum-hukum yang tidak bertentangan satu sama lain
serta dapat menjelaskan fenomena disebut teori.

2 Dapat dipertanggungjawabkan.
Ilmu pengetahuan ilmiah dapat dipertanggungjawabkan melalui 3 (tiga) macam
sistem, yaitu :
a Sistem axiomatis
Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu fenomena atau gejala
sehari-hari mulai dari kaidah atau rumus umum menuju rumus khusus atau
konkret. Atau mulai teori umum menuju fenomena/gejala konkret. Cara ini
disebut deduktif-nomologis. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah
ilmu-ilmu formal, misalnya matematika.

b Sistem empiris
Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu teori mulai dari gejala/
fenomena khusus menuju rumus umum atau teori. Jadi bersifat induktif dan untuk
menghasilkan rumus umum digunakan alat bantu statistik. Umumnya yang
menggunakan metode ini adalah ilmu pengetahuan alam dan sosial.

c Sistem semantik/linguistik

7 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
Dalam sistem ini kebenaran didapatkan dengan cara menyusun proposisi-
proposisi secara ketat. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu
bahasa (linguistik).

3 Objektif atau intersubjektif


Ilmu pengetahuan ilmiah itu harus ditopang oleh komunitas ilmiah. Ilmu pengetahuan
ilmiah itu bersifat mandiri atau milik orang banyak (intersubjektif). Ilmu pengetahuan
ilmiah itu bersifat otonom dan mandiri, bukan milik perorangan (subjektif) tetapi
merupakan konsensus antar subjek (pelaku) kegiatan ilmiah. Dengan kata lain ilmu
pengetahuan ilmiah itu harus ditopang oleh komunitas ilmiah.

2.4 Metoda Keilmuan


Kata metode berasal dari kata Yunani methodos, sambungan kata depan meta (menuju,
melalui, mengikuti) dan kata benda hodos (jalan, cara, arah). Kata methodos berarti: penelitian,
metode ilmiah, uraian ilmiah, yaitu cara bertindak menurut sistem aturan tertentu. Metode ilmiah
atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis
berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam
usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut
diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut
dapat menjadi suatu teori ilmiah.
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa metode keilmuan adalah satu cara dalam
memperoleh pengetahuan. Metode ini merupakan kombinasi antara rasionalisme dan empirisme.
Dalam metode ini, para ilmuwan memulai dari kerangka dasar yakni, perumusan masalah,
penyusunan atau klasifikasi data , perumusan hipotesis, penarikan deduksi dari hipotesis, tes dan
pengujian kebenaran (verifikasi) dari hipotesa.
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu,
dimana ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh lewat metode ilmiah. Metode ilmiah
merupakan ekspresi tentang cara bekerja pikiran yang diharapkan mempunyai karakteristik
tertentu berupa sifat rasional dan teruji sehingga ilmu yang dihasilkan bisa diandalkan. Dalam
hal ini metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif dalam
membangun pengetahuan.

8 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
Teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasionil yang berkesuaian dengan objek yang
dijelaskannya, dengan didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Secara
sederhana maka, hal ini berarti bahwa semua teori ilmiah harus memenuhi 2 syarat utama yaitu :
1. Harus konsisten, dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya
kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan.
2. Harus cocok dengan fakta-fakta empiris, sebab teori yang bagaimana pun konsistennya
sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya
secara ilmiah.

2.4.1 Langkah-langkah Metode Ilmiah


Pendekatan rasional yang digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah menuju
dan dapat menghasilkan pengetahuan inilah yang disebut metode ilmiah. Alur berpikir yang
tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan
tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-
hypothetico-verifikasi ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah berikut:
a. Perumusan masalah
Merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batasannya dan faktor yang
terkait dapat diidentifikasi.

b. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis.


Merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara
berbagai faktor yang saling terkait dan membentuk konstelasi permasalahan, yang
disusun secara rasionil berdasarkan premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya.

c. Perumusan hipotesis
Merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya
merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan.

d. Pengujian hipotesis
Merupakan pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk
memperlihatkan adanya fakta pendukung hipotesis.

9 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
e. Penarikan kesimpulan
Merupakan penilaian diterima atau tidaknya sebuah hipotesis. Hipotesis yang diterima
kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah karena telah memenuhi
persyaratan keilmuan, yaitu mempunyai kerangka kejelasan yang konsisten dengan
pengetahuan ilmiah sebelumnya dan telah teruji kebenarannya. Keseluruhan langkah
tersebut harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Hubungan antara
langkah yang satu dengan lainnya tidak terikat secara statis melainkan bersifat dinamis
dengan proses pengkajian ilmiah yang tidak semata mengandalkan penalaran melainkan
juga imajinasi dan kreativitas. Pentingnya metode ilmiah bukan saja dalam proses
penemuah ilmu pengetahuan, namun terlebih lagi dalam mengkomunikasikan
penemuan ilmiah tersebut kepada masyarakat ilmuwan.

2.5 Konsep dalam Kegiatan Keilmuan


Sasaran ilmu adalah pembentukan konsep (pengertian), baik untuk kepentingan
pengembangan ilmu secara murni (misalnya; untuk menyusun teori dan dan menghasilkan dalil-
dalil, atau azas), maupun untuk kepentingan praktis bagi tindakan penerapan nyata. Konsep
merupakan ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang biasanya dibedakan dari
pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus. Konsep merupakan alat penting untuk
pemikiran terutama dalam hal penelitian ilmiah atau penelitian keilmuan.
Konsep ilmu adalah bagan, rencana, atau pengertian, baik yang bersifat abstrak maupun
operasional, yang merupakan alat penting untuk kepentingan pemikiran dalam ilmu atau
pengetahuan ilmiah. Setiap ilmu harus memiliki suatu atau beberapa konsep kunci atau konsep
tambahan yang bertalian. Beberapa contoh konsep ilmiah, misalnya; konsep bilangan di dalam
matematika, konsep gaya di dalam fisika, konsep evolusi di dalam biologi, stimulus di dalam
psikologi, kekuasaan atau strata sosial di dalam ilmu-ilmu sosial, simbol di dalam linguistik,
keadilan dalam ilmu hukum, keselamatan dalam ilmu teologi, atau lingkungan di dalam ilmu-
ilmu interdisipliner.
Konsep-konsep ilmu atau konsep ilmiah tersebut sangat dibutuhkan agar suatu ilmu dapat
menyusun berbagai azas, teori, sampai dalil-dalil. Sesuatu konsep ilmiah dapat merupakan
semacam sarana untuk ilmuwan melakukan pemikiran dalam mengembangkan pengetahuan
ilmiah. Misalnya; dengan konsep evolusi, Charles Darwin lalu dapat menyusun dan
mengembangkan suatu teori tentang asalusul manusia, yang mulai dari tahap perkembangan

10 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
binatang menyusui yang cerdas kemudian makin berkembangan menjadi manusia. Inti konsep
evolusi yang membentuk teori evolusi itu demikian: bahwa bentuk-bentuk organisme yang lebih
rumit berasal dari sejumlah kecil bentuk-bentuk yang lebih sederhana dan primitif dalam
perkembangannya secara berangsur-angsur sepanjang zaman.
Konsep evolusi, kemudian diterapkan pula dalam memahami perkembangan ilmu dengan
menunjukkan bahwa cabang-cabang ilmu khusus terlahir dalam jalinan umum dari pemikiran
reflektif filsafat dan setelah itu berkembangan mencapai suatu taraf kematangan sehingga
dipandang berbeda dan kemudian dipisahkan dari filsafat. Hal demikian berlaku pula terhadap
upaya penelaan terhadap gejala-gejala alam dan kehidupan maupun gajala-gejala mental dan
kemasyarakatan, yang dewasa ini, semuanya secara pasti telah berkembang menjadi ilmu-ilmu
fisis, biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu sosial yang berdiri sendiri-sendiri. Ciri umum daripada
ilmu-ilmu tersebut yang membuatnya berbeda dari filsafat adalah ciri empirisnya. Jelasnya, bila
filsafat masih tetap merupakan pemikiran reflektif yang coraknya sangat umum, kebalikannya
ilmu-ilmu fisis, biologis, psikologis, dan ilmu-ilmu sosial telah merupakan rangkaian aktivitas
intelektual yang bersifat empiris. Sifat tersebut lah yang selalu merupakan ciri umum dari ilmu.
Jelasnya, konsep ilmu, agar dapat berguna secara ilmiah maka ia harus memiliki dua sifat
dasar, yaitu sifat operasional untuk kepentingan pengamatan (observasi), dan sifat abstrak untuk
kepentingan penyimpulan dan generalisasi. Bersifat operasional, maksudnya, setiap konsep ilmu
mengandung pengertian-pengertian yang berkesesuaian dengan fakta atau situasi yang dapat
diamati secara empiris. Ciri empiris dari ilmu mengandung pengertian bahwa pengetahuan yang
diperoleh tersebut adalah berdasarkan pengamatan (observation) atau eksperimentasi
(experimentation). Konsep ilmu, di sisi lain, bersifat abstrak untuk kepentingan melakukan
penyimpulan atau membuat keterangan-keterangan ilmiah yang berlaku secara umum. Konsep-
konsep ilmu tersebut kadang-kadang begitu abstrak sehingga hampir berupa khayalan. Misalnya;
konsep ketakterhinggaan matematika (mathematical infinity), manusia ekonomis (the economic
man), atau negara ideal (the ideal state).
Konsep ilmu sebagai sasaran ilmu, tidak boleh dikacaukan, seolah-olah sama atau
menyerupai inti atau pokok soal pengetahuan. Alasannya, pokok soal pengetahuan tersebut
belum dapat mengembangakan suatu ilmu ke taraf yang lebih tinggi seperti konsep ilmu
dimaksud. Ilmu yang telah cukup berkembang harus memiliki satu atau beberapa konsep kunci,
juga beberapa konsep tambahan yang bertalian dengannya.

11 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
III.KESIMPULAN

Adapun beberapa kesimpulan dari pokok bahasan diatas tentang ilmu pengetahuan, yaitu :

1. Pengertian ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta
yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha
untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. Dengan ilmu kita dapat melakukan,
membuat, menciptakan sesuatu yang membawa perbedaan yang lebih baik bagi
kehidupan manusia. Sumber ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan
dari akal (ratio). Tokoh-tokoh aliran empiris atau pengalaman yaitu (David Hume, John
Locke, Berkley), tokoh rasionalisme berdasarkan ratio yaitu : (Spinoza dan Rene
Descartes), dan tokoh yang mensintesakan faham empirisme dan rasionalisme yaitu :
(Immanuel Kant)
2. Adapun batasan dari ilmu pengetahuan Menurut Immanuel Kant yaitu, apa yang dapat
kita tangkap dengan panca indera itu hanya terbatas pada gejala atau fenomena, sedang
substansi yang ada di dalamnya tidak dapat kita tangkap dengan panca indera disebut
nomenon. Yang berada di luar ruang dan waktu adalah di luar jangkauan panca indera
kita, itu terdiri dari 3 (tiga) ide regulatif: 1) ide kosmologis yaitu tentang semesta alam
(kosmos), yang tidak dapat kita jangkau dengan panca indera, 2) ide psikologis yaitu
tentang psiche atau jiwa manusia, yang tidak dapat kita tangkap dengan panca indera,
yang dapat kita tangkap dengan panca indera kita adalah manifestasinya misalnya
perilakunya, emosinya, kemampuan berpikirnya, dan lain-lain, 3) ide teologis yaitu
tentang Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam.
3. Ciri-ciri ilmu pengetahuan menurut The Liang Gie menyatakan bahwa ciri-ciri ilmu
pengetahuan antara lain :
a. Empiris; pengetahuan diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
b. Sistematis; data yang tersusun dan memiliki hubungan ketergantungan dan teratur.
c. Objektif; benar-benar bukan dari individu atau prasangka seseorang.
d. Analitis, dan
e. Verifikatif.
Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan Ilmiah yaitu :
a. Sistematis
b. Dapat dipertanggungjawabkan
c. Objektif dan intersubjektif

12 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
4. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa metode keilmuan adalah satu cara dalam
memperoleh pengetahuan. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan
pengetahuan yang disebut ilmu, dimana ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh
lewat metode ilmiah.
Langkah-langkah metode ilmiah antara lain :
a. Perumusan masalah
b. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis.
c. Perumusan hipotesis
d. Pengujian hipotesis
e. Penarikan kesimpulan
5. Konsep ilmu adalah bagan, rencana, atau pengertian, baik yang bersifat abstrak maupun
operasional, yang merupakan alat penting untuk kepentingan pemikiran dalam ilmu atau
pengetahuan ilmiah. Konsep-konsep ilmu atau konsep ilmiah tersebut sangat dibutuhkan
agar suatu ilmu dapat menyusun berbagai azas, teori, sampai dalil-dalil. konsep ilmu,
agar dapat berguna secara ilmiah maka ia harus memiliki dua sifat dasar, yaitu sifat
operasional untuk kepentingan pengamatan (observasi), dan sifat abstrak untuk
kepentingan penyimpulan dan generalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

13 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i
Psikologi, 2007, Beda Ilmu Pengetahuan dan Pengetahuan, tersedia :
http://amheru.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/14738/BAB+I+Buku+%28Baru
%29.doc (diakses tanggal 13 April 2017)
Andri Dwi Handoko, 2012, Ilmu Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran, tersedia :
https://afidburhanuddin.files.wordpress.com/2012/11/pengetahuan-dan-ukuran-
kebenaran.pdf (diakses tanggal 13 April 2017)
Nasri Kurnialloh, 2013, Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan, tersedia :
http://nasrikurnialloh.blogspot.co.id/2013/12/ciri-ciri-ilmu-pengetahuan.html (diakses
tanggal 13 April 2017)
Karyadi Hidayat, 2009, Epistemoligi : Pengetahuan, Metode Ilmiah, Struktur Pengetahuan
Ilmiah , tersedia : http://hidayatkaryadi.blogspot.co.id/2013/10/epistemologi-
pengetahuan-metode-ilmiah.html (diakses tanggal 13 April 2017)
Ahmad Syaeful, 2014, Hakekat Ilmu dalam Filsafat Ilmu, tersedia :
http://asyaeful18.blogspot.co.id/2014/10/foto.html (diakses tanggal 13 April 2017)
Prof. Dr. A. Watloly, S.Pak, M.Hum, 2012, Filsafat Ilmu, tersedia :
http://kuliah.unpatti.ac.id/mod/page/view.php?id=13 (diakses tanggal 13 April 2017)

14 | M e t o d e R i s e t d a n Te k n i k P r e s e n t a s i