Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

ILEUS OBSTRUKSI

disusun untuk menyelesaikan tugas sebagai Dokter Internsip

di RS Perkebunan Jember Klinik Jember

Oleh

dr. Maria Nindya Prawita

Pembimbing:

dr. Anita Fadhilah

dr. Ricky Septafianty

2017`

1
Identitas Pasien
Nama : ST
Jenis kelamin : Laki-Laki
Usia : 29 tahun
Alamat : Tawang Mangu
Pekerjaan : Pegawai
Suku : Jawa
Agama : Islam
Tanggal Pemeriksaan : 29 Juni 2016

Anamnesis
Keluhan Utama : Nyeri perut
RPS : Paien mengeluh nyeri perut di ulu hati sejak tadi pagi disertai mual
dan muntah 4x pagi ini. Pasien juga merasa badan meriang. Batuk (-), Pilek(-) , diare (-).
Makan menurun dikarenakan munntah setelah makan. Minum normal. Buang air besar tadi
pagi 1x, buang air kecil normal seperti biasanya.
Riwayat Pengobatan : Pasien belum melakukan pengobatan sama sekali
Riwayat Penyakit Dahulu : riwayat sakit seperti sekarang disangkal, gasstritis disangkal, HT
disangkal, DM disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami hal serupa
seperti keluhan pasien. Riwayat penyakit lainnya dalam keluarga juga disangkal.
Riwayat Sosial : Penderita saat ini bekerja,merokok dan riwayat minum alkohol disangkal.

3. 1. Pemeriksaan Fisik
T : 110/70 mmHg
N : 88 kali/menit
R : 20 kali/menit
tax : 36,5 oC

Status General
Kepala : Normocephali
Mata : Anemia -/-, Ikterus -/-

2
THT : dbn
Thorax : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur -
Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/-
Abdomen : Distensi (-), Bising usus (+)
Ekstremitas : Hangat + + , edema - -
+ + + +
Status lokalis :
Regio Abdomen : Inspeksi : Distensi (-)
Auskultas I: Bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (+) di regio epigastrium, defans
muskuler (-)
Perkusi : tympani
Pemeriksaan Laboratorium :
HB 12
Leukosit 9600
Trombosit 12500
Urin : leukosit : 10-15
Epitel : 15-18

Diagnosis : Colic Abdomen + ISK

Terapi : inf RL 20tpm


Inj Buscopan 3x1
Inj Vometras 8mg 3x1
Inj Gastrofer 2x1
Po: Cefilla 200mg 2x1
Profennid supp k/p

3
30 JUNI 2016
S : Nyeri perut semakin bertambah. Mual+ Muntah +. Bab sedikit tadi pagi.demam +
O : T:110/70 N :80x t:37,8 oC
Status General
Kepala : Normocephali
Mata : Anemia -/-, Ikterus -/-
THT : dbn
Thorax : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur -
Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/-
Abdomen : Distensi (-), Bising usus (+)
Ekstremitas : Hangat + + , edema - -
+ + + +
Status lokalis :
Regio Abdomen : Inspeksi : Distensi (-)
Auskultas I: Bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (+) di regio epigastrium dan lumbal dan
iliaca dekstra, defans muskuler (-)
Perkusi : tympani
Diagnosis :Colic Abdomen
Terapi : inf RL 20tpm
Inj Buscopan 3x1 kp
Inj Vometras 8mg 3x1 kp
Inj Lapirom 2X1
Dri Tamoliv 3x1
Inj Gastrofer 2x1
Po: Cefilla 200mg 2x1 stop
Profennid supp k/p

4
01 JULI 2016
S : Nyeri perut semakin bertambah. Nyeri di daerah kanan bawah. Hanya berkurang
sebentar setelah diberi obat anti nyeri .Mual+ Muntah -. Bab -, Bak normal .Demam +.
O : T:120/70 N :90x t:38,5 oC
Status General
Kepala : Normocephali
Mata : Anemia -/-, Ikterus -/-
THT : dbn
Thorax : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur -
Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/-
Abdomen : Ditensi (-), Bising usus (+), Nyeri tekan di Mc burney
Ekstremitas : Hangat + + , edema - -
+ + - -
Status lokalis :
Regio Abdomen : Inspeksi : Ditensi (-)
Auskultas I: Bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (+) di Mc Burney
Rovsing sign +
Psoas sign +
Obturator sign +
Perkusi : tympani
Laboratorium 01/07/2016

5
USG 01/07/2016

Diagnosis : Colic Abdomen ec Apendicitis + Peritonitis


Terapi : inf RL 20tpm
Inj Buscopan 3x1 kp
Inj Vometras 8mg 3x1 kp
Inj Lapirom 2X1
Dri Tamoliv 3x1
Inj Gastrofer 2x1
Profennid supp k/p

Konsul Sp.B
Keluhan nyeri perut kanan bawah.

6
Regio Abdomen : Inspeksi : Ditensi (-) Flat
Auskultas I: Bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (+) di Mc Burney

Rovsing sign +
Psoas sign +
Obturator sign +
Perkusi : tympani
*tidak didapatkan tanda-tanda peritonotis
*saran appendicogram

02/07/2016

S : Nyeri perut + demam BAB kentut

O : T:120/70 N :94x t:37 oC

Status General

Kepala : Normocephali
Mata : Anemia -/-, Ikterus -/-
THT : dbn
Thorax : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur -
Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/-
Abdomen : Ditensi (-), Bising usus (+), Nyeri tekan di Mc burney
Ekstremitas : Hangat + + , edema - -
+ + - -

7
Laboratorium :

2/07/2016

Kontras belum turun, rencana foto ulang

A : Colic Abdomen s Appendicitis


P : inf RL 20tpm
Inj Buscopan 3x1 kp
Inj Vometras 8mg 3x1 kp
Inj Ceftriaxon 2X1
Dri Tamoliv 3x1
Inj Pantoprazole 2x1
8
Profennid supp k/p
Po`: episan syr 3xc1

03/06/2016
S : Nyeri perut +. Mual+ Muntah +. Bab Kentut -
O : T:120/80 N :88x t:36,5 oC
Status General
Kepala : Normocephali
Mata : Anemia -/-, Ikterus -/-
THT : dbn
Thorax : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur -
Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/-
Abdomen : Distensi (-), Bising usus (+)
Ekstremitas : Hangat + + , edema - -
+ + - -
Status lokalis :
Regio Abdomen : Inspeksi : Distensi (-)
Auskultas I: Bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (+),mc burney +, defans muskuler +
Perkusi : tympani
Lab 03/06/2017

9
Appendicogram

Diagnosis :Illeus Obstruksi


Terapi : inf RL 20tpm
Inj Buscopan 3x1 kp
Inj Vometras 8mg 3x1 kp
Inj Lapirom 2X1
Dri Tamoliv 3x1
Inj Pantoprazole 2x1
Profennid supp k/p
Po: Episan syr 3xc1
Salofalk 3x1
Konsul Sp.B

10
04/07/2016
S : nyeri +, Mual +, Muntah +, demam-, Bab -
O: O : T:120/80 N :84x t:37 oC
Status General
Kepala : Normocephali
Mata : Anemia -/-, Ikterus -/-
THT : dbn
Thorax : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur -
Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/-
Abdomen : Distensi (+), Bising usus (+)
Ekstremitas : Hangat + + , edema - -
+ + - -
Status lokalis :
Regio Abdomen : Inspeksi : Distensi (+)
Auskultas I: Bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (+),mc burney +, defans muskuler +,
Perkusi : hipertympani
Diagnosis :Illeus Obstruksi
Terapi : Motivasi operasi laparotomy, keluarga menolak
inf RL 20tpm
Inj Vometras 8mg 3x1 kp
Inj Pantoprazole 2x1
Inj ceftriaxon 2X1
Profennid supp k/p
Po: Episan syr 3xc1
Salofalk 3x1
Inj Buscopan 3x1 stop
Dri Tamoliv 3x1 stop

05/07/2017

S : nyeri + hilang tibul , Mual + menurun , Muntah -, demam- bab 1x sedikit

11
O: O : T:130/90 N :88x t:36.4 oC
Status General
Kepala : Normocephali
Mata : Anemia -/-, Ikterus -/-
THT : dbn
Thorax : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur -
Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/-
Abdomen : Distensi (+), Bising usus (+)
Ekstremitas : Hangat + + , edema - -
+ + - -
Status lokalis :
Regio Abdomen : Inspeksi : Distensi (+)
Auskultas I: Bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (+),mc burney +, defans muskuler +,
Perkusi : hipertympani
Diagnosis :Illeus Obstruksi
Terapi : keluarga pasien menolak operasi
infus stop, tx ganti per os
Cefixim 3x100
Metronidazole 3x1
Donperidone 3x1
Spasmomen 3x1
Pronalges 3x1
episan syr 3xc1

06/07/2017
S : nyeri + hiang timbul , Mual menurun , Muntah -, demam-, bab-
O: O : T:120/70 N :88x t:36 oC
Status General
Kepala : Normocephali
Mata : Anemia -/-, Ikterus -/-
THT : dbn
Thorax : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur -

12
Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/-
Abdomen : Distensi (), Bising usus (+)
Ekstremitas : Hangat + + , edema - -
+ + - -
Status lokalis :
Regio Abdomen : Inspeksi : Distensi ()
Auskultas I: Bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (+),mc burney +, defans muskuler -,
Perkusi : hipertympani
Diagnosis :Illeus Obstruksi
Terapi : keluarga pasien menolak operasi
Cefixim 3x100
Salofalk 3x1
Metronidazole 3x1
Donperidone 3x1
Spasmomen 3x1
Pronalges 3x1
Profenid supp 2x1
Po: episan syr 3xc1

07/07/2016
S : nyeri berkurang , Mual menurun , Muntah -, demam-, bab-
O: O : T:120/70 N :88x t:36 oC
Status General
Kepala : Normocephali
Mata : Anemia -/-, Ikterus -/-
THT : dbn
Thorax : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur -
Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/-
Abdomen : Distensi (), Bising usus (+)
Ekstremitas : Hangat + + , edema - -
+ + - -
Status lokalis :

13
Regio Abdomen : Inspeksi : Distensi ()
Auskultas I: Bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (+),mc burney +, defans muskuler -,
Perkusi : hipertympani

Laboratorium 07/07/2016

Diagnosis :Illeus Obstruksi


Terapi : keluarga pasien menolak operasi
Cefixim 3x100

14
Salofalk 3x1
Metronidazole 3x1
Donperidone 3x1
Spasmomen 3x1
Pronalges 3x1
Profenid supp 2x1
Po: episan syr 3xc1
*pasien pulang paksa

TINJAUAN PUSTAKA
ILEUS OBSTRUKTIF

2.1 Definisi
Ileus obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh
sumbatan mekanik. Rintangan pada jalan isi usus akan menyebabkan isi usus terhalang dan
tertimbun di bagian proksimal dari sumbatan, sehingga pada daerah proksimal tersebut akan
terjadi distensi atau dilatasi usus.2
Obstruksi usus juga disebut obstruksi mekanik misalnya oleh strangulasi, invaginasi, atau
sumbatan di dalam lumen usus. Pada obstruksi harus dibedakan lagi obstruksi sederhana
dari obstruksi strangulasi. Obstruksi sederhana ialah obstruksi yang tidak disertai terjepitnya
pembuluh darah. Pada strangulasi ada pembuluh darah yang terjepit sehingga terjadi
iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren yang ditandai dengan gejala
umum berat, yang disebabkan oleh toksin dari jaringan gangren. Jadi strangulasi
memperlihatkan kombinasi gejala obstruksi dengan gejala sistemik akibat adanya toksin dan
sepsis. Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi, dan volvulus
mungkin sekali disertai strangulasi. Sedangkan obstruksi oleh tumor atau obstruksi oleh
cacing askaris adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi.2
2.2 Etiologi
Beberapa kelainan penyebab obstruksi antara lain:

15
1. Adhesi intestinal : adanya jaringan fibrosa pada usus yang ditemukan saat lahir
(kongenital). Namun jaringan fibrosa ini paling sering terjadi setelah operasi
abdominal. Usus halus yang mengalami perlengketan akibat jaringan fibrosa ini akan
menghalangi jalannya makanan dan cairan.
2. Hernia inkarserata : bila sudah terjadi penjepitan usus, maka dapat menyebabkan
obstruksi usus.
3. Tumor (primer, metastasis) : dapat menyebabkan sumbatan terhadap jalannya
makanan dan cairan.
4. Divertikulum Meckel
5. Intussusception (masuknya usus proximal ke bagian distal)
6. Volvulus (terpuntirnya usus)
7. Striktur yang menyebabkan penyempitan lumen usus
8. Askariasis
9. Impaksi faeces (faecolith)
10. Benda asing. 1,3,4
Adhesi, hernia, dan tumor mencakup 90% etiologi kasus obstruksi mekanik usus halus.
Adhesi dan hernia jarang menyebabkan obstruksi pada colon. Penyebab tersering obstruksi
pada colon adalah kanker, diverticulitis, dan volvulus.1,3
2.3 Patogenesis
Obstruksi ileus merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya
daya mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga menyebabkan
penyempitan/penyumbatan lumen usus. Hal tersebut menyebabkan pasase lumen usus
terganggu. Akibat gangguan pasase tersebut terjadi pengumpulan isi lumen usus yang
berupa gas dan cairan pada bagian proximal tempat penyumbatan. Hal ini menyebabkan
pelebaran dinding usus (distensi) di bagian proximal dari sumbatan. Sumbatan usus dan
distensi usus menyebabkan rangsangan terjadinya hipersekresi kelenjar pencernaan. Dengan
demikian akumulasi cairan dan gas makin bertambah yang menyebabkan distensi usus tidak
hanya pada tempat sumbatan tetapi juga dapat mengenai seluruh usus di bagian proximal
sumbatan. Sumbatan ini menyebabkan gerakan usus yang meningkat (hiperperistaltik)
sebagai usaha alamiah. Sebaliknya juga terjadi gerakan antiperistaltik. Hal ini menyebabkan
terjadi serangan kolik abdomen dan muntah-muntah. Pada obstruksi usus yang lanjut,
peristaltik sudah hilang oleh karena dinding usus kehilangan daya kontraksinya.3
2.4 Gambaran Klinik

16
Dengan melihat patogenesis yang terjadi, maka gambaran klinik yang dapat ditimbulkan
sebagai akibat obstruksi usus dapat bersifat sistemik dan serangan yang bersifat kolik.
Gambaran klinik yang bersifat sistemik meliputi :1
1. Dehidrasi berat
2. Hipovolemia
3. Syok
4. Oliguria
5. Gangguan keseimbangan elektrolit
6. Perut gembung
7. Kelebihan cairan usus
8. Kelebihan gas dalam usus

Gambaran klinik serangan kolik meliputi :


1. Nyeri perut berkala
2. Distensi berat
3. Mual / muntah
4. Gelisah / menggeliat
5. Bunyi usus nada tinggi
6. Halangan pasase
7. Obstipasi
8. Tidak ada flatus
Pada obstruksi usus dengan strangulasi, terjadi nekrosis atau gangguan dinding usus yang
menyebabkan timbulnya perdarahan pada dinding usus. Bahaya umum dari keadaan ini
adalah sepsis, toxinemia, bahkan shock.3
2.5 Diagnosis
Obstruksi usus halus sering menimbulkan nyeri kolik dengan muntah hebat. Juga
didapatkan distensi perut dan bising usus meningkat. Pada anamnesis intususepsi,
didapatkan bayi tampak gelisah dan tidak dapat ditenangkan, sedangkan diantara serangan
biasanya anak tidur tenang karena sudah capai sekali. Serangan klasik terdiri atas nyeri
perut, gelisah sewaktu kolik, biasanya keluar lendir campur darah (red currant jelly) per
anum, yang berasal dari intususeptum yang tertekan, terbendung, atau mungkin sudah
mengalami strangulasi. Anak biasanya muntah sewaktu serangan dan pada pemeriksaan

17
perut dapat diraba massa yang biasanya memanjang dengan batas jelas seperti sosis. Bila
invaginasi disertai strangulasi, harus diingat kemungkinan terjadinya peritonitis setelah
perforasi. Pada volvulus didapatkan nyeri yang bermula akut, tidak berlangsung lama,
menetap, disertai muntah hebat. Biasanya penderita jatuh dalam keadaan syok.3
Ileus obstruksi usus besar agak sering menyebabkan serangan kolik yang intensitasnya
sedang. Muntah tidak menonjol, tetapi distensi tampak jelas. Penderita tidak dapat
melakukan defekasi atau flatus. Bila penyebabnya adalah volvulus sigmoid maka perut
dapat besar sekali.3
Strangulasi ditandai dengan adanya lokal peritonitis seperti takikardia, pireksia (demam),
lokal tenderness dan guarding, rebound tenderness, nyeri lokal, hilangnya suara usus lokal,
untuk mengetahui secara pasti adanya strangulasi hanya dengan laparotomi.4
Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
Perut distensi, dapat ditemukan darm kontur dan darm steifung. Benjolan pada regio
inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada Intussusepsi
dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada
bekas luka operasi sebelumnya.
2. Perkusi
Hipertimpani
3. Auskultasi
Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase lanjut bising usus
dan peristaltik melemah sampai hilang.
4. Palpasi
Kadang teraba massa seperti pada tumor (pada colok dubur teraba massa di rektum atau
terdapat darah dan lendir), invaginasi atau hernia. Adanya darah pada pemeriksaan colok
dubur dapat menyokong strangulasi atau neoplasma. Pada volvulus teraba massa yang
nyeri dan bertambah besar. Bila didapatkan feses yang mengeras kemungkinan adanya
skibala, bila feses negatif maka obstruksi usus diduga letaknya lebih tinggi. Ampula
rekti yang kolaps juga harus dicurigai adanya obstruksi. Bila ditemukan nyeri tekan
lokal atau general pada pemeriksaan palpasi dinding abdomen maka pikirkan adanya
peritonitis.
Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi

18
Pada foto polos pasien dengan obstruksi yang komplit akan tampak terjadi dilatasi dari
usus bagian proksimal sampai ke tempat obstruksi dalam 35 jam Usus yang
diameternya lebih dari 3 cm sering dikaitkan dengan obstruksi. Usus bagian proksimal
yang terdistensi oleh gas dan cairan, akan tampak berdilatasi oleh timbunan udara
intraluminer. Sebaliknya, pada usus bagian distal dari obstruksi tidak tampak bayangan
gas, atau bila sumbatannya terjadi belum lama maka tampak bayangan gas yang sangat
sedikit di bagian distal obstruksi. Pada daerah rektum tidak tampak bayangan gas atau
udara.3
Pada foto posisi tegak akan tampak bayangan air fluid level yang banyak dibeberapa
tempat (multiple fluid levels) yang tampak terdistribusi dalam susunan tangga (step
ladder appearance), sedangkan usus sebelah distal dari obstruksi akan tampak kosong.
Jumlah loop dari usus halus yang berdilatasi secara umum menunjukkan tingkat
obstruksi. Bila jumlah loop sedikit berarti obstruksi usus halus letaknya tinggi,
sedangkan bila jumlah loop lebih banyak maka obstruksi usus halus letaknya rendah.
Semakin distal letak obstruksi, jumlah air fluid level akan semakin banyak, dengan
tinggi yang berbeda-beda sehingga berbentuk step ladder appearance.1,4
Jarak valvula conniventes satu sama lain yang normal adalah 14 mm. Jarak ini akan
melebar pada keadaan distensi usus halus. Akibat distensi usus halus, maka valvula
conniventes agak teregang dan bersama-sama dengan valvula conniventes dari loop
yang bertetangga, akan tampak di foto sebagai gambaran sirip ikan yang disebut
herringbone appearance.4
Bayangan udara di dalam kolon biasanya terletak lebih ke perifer dan biasanya
berbentuk huruf U terbalik. Obstruksi kolon ditandai dengan dilatasi proksimal kolon
sampai ke tempat obstruksi, dengan dekompresi dari kolon bagian distal. Kolon bagian
proksimal sampai letak obstruksi akan lebih banyak berisi cairan daripada feses. Usus
halus bagian proksimal mungkin berdilatasi, mungkin juga tidak.3

19
Gambar 1. Gambaran radiografi ileus obstruksi
Untuk mengetahui ada tidaknya strangulasi usus, beberapa gambaran klinik dapat
membantu :
Rasa nyeri abdomen yang hebat, bersifat menetap, makin lama makin hebat, pada
pemeriksaan abdomen didapatkan ascites, terdapatnya abdominal tenderness, adanya tanda-
tanda yang bersifat umum, demam, dehidrasi berat, takikardia, hipotensi atau shock.3
Namun dari semua gejala klinik di atas, kita mempunyai pedoman Essential of Diagnosis
yaitu: 4
1. Complete Proximal Obstruction:
Vomiting
Abdominal discomfort
Abnormal oral contrast x-rays

2. Complete Mid or Distal Obstruction:


Nyeri kolik abdomen
Vomiting
Abdominal distention
Constipation-obstipation
Peristaltic rushes
Usus yang berdilatasi pada pemeriksaan rontgen.
2.2.6 Diagnosis Banding
Ileus obstruktif dapat dikacaukan dengan gangguan saluran cerna lain dengan gambaran
klinis yang serupa seperti pseudo-obstruksi (Sindroma Ogilvie) dan ileus paralitik.1,4
Obstruksi Mekanis Ileus Paralitik Pseudo-obstruksi
Sederhana (Ileus
Obstruktif)
Keluhan Nyeri keram Nyeri abdominal Nyeri keram
abdominal, ringan, perut abdominal,
konstipasi, obstipasi, kembung, mual, konstipasi, obstipasi,
mual, muntah, dan muntah, obstipasi, mual, muntah, dan
anoreksia dan konstipasi anoreksia
Hasil Pemeriksaan Borborygmi, bunyi Bising usus senyap, Borborygmi,
Fisik peristaltic meningkat distensi, dan timpani timpani, terdapat
dengan bising usus gelombang
20
nada tinggi, distensi, peristaltik dengan
nyeri terlokalisir bising usus hipo atau
hiperaktif, distensi
dan nyeri terlokalisir
Gambaran Foto Bow-shaped loops in Dilatasi usus kecil Dilatasi usus besar
Polos BOF ladder patern, dan usus besar terisolasi dengan
terdapat gambaran dengan peningkatan peningkatan
gas kolon yang diafragma diafragma
terperangkap di
bagian distal dari
lesi,

2.2.7 Penatalaksanaan
Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan,
menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok
bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus
kembali normal.3

2.2.8.1 Persiapan penderita


Persiapan penderita berjalan bersama dengan usaha menegakkan diagnosis obstruksi usus
secara lengkap dan tepat. Sering dengan persiapan penderita yang baik, obstruksinya
berkurang atau hilang sama sekali. Persiapan penderita meliputi 3:
1. Dekompressi usus dengan suction, menggunakan NGT yang dimasukkan dalam
perut atau usus
2. Pemasangan kateter untuk mengukur urine output
3. Koreksi elektrolit dan keseimbangan asam basa
4. Atasi dehidrasi
5. Mengatur peristaltik usus yang efisien berlangsung selama 4 sampai 24 jam sampai
saatnya penderita siap untuk operasi.
2.2.8.2 Operatif
Tindakan operatif untuk membebaskan obstruksi dibutuhkan bila dekompresi dengan NGT
tidak memberikan perbaikan atau diduga adanya kematian jaringan. Pada umumnya dikenal
4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus 3:
1. Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana
untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-
strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
2. Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus
yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.
21
3. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi,
misalnya pada Ca stadium lanjut.
4. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus
untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,
invaginasi, strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-
kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik oleh karena penyakitnya sendiri
maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca sigmoid obstruktif, mula-
mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan
anastomosis.
2.2.9 Prognosis
Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi dapat segera
dilakukan. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi strangulasi atau
komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar 35% atau 40%. 3
Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat.3

DAFTAR PUSTAKA

1. Mukherjee S. Ileus. [Online]. 2008 January 29 [cited 2012 March 26];[7 screens].
Available from: URL:http://www.emedicine.com/med/topic1154.htm

2. Beauchamp, Evers, Mattox, Sabiston, Textbook of Surgery, 16th edition, W.B.Saunders,


Philadelphia, 2001, hal 887-888

3. Brunicardi, F.C., et all, Schwartzs Principles of Surgery, volume II, 8th edition, McGraw-
Hill, New York, 2005, hal 1031-1032

4. Nobie BA. Obstruction, small bowel. [Online] 2007 Sept 17 [cited 2012 March 26];[6
screens]. Available from: URL:http://www.emedicine.com

22