Anda di halaman 1dari 8

Intususepsi Kolokolik Pediatrik Dengan Penyebab Patologis: Sebuah

Laporan Kasus

ABSTRAK
Intususepsi merupakan salah satu penyebab tersering nyeri perut akut yang terjadi
pada populasi anak-anak. Kasus mayor biasanya idiopatik dan berlokasi di ileokolik.
Intususepsi kolokolik merupakan tipe yang jarang pada intususepsi pada anak yang
biasanya berhubungan dengan penyebab patologis. Pada artikel ini, kasus intususepsi
kolokolik terjadi pada seorang anak laki-laki berusia empat tahun karena kelainan
sekunder polip juvenile, disajikan dengan diskusi intususepsi dan modalitas gambaran
yang tersedia yang digunakan untuk diagnosis dan terapi.

Kata kunci: intususepsi; kolokolik; polip; juvenil

PENDAHULUAN
Intususepsi kolokolik merupakan tipe intususepsi yang jarang terjadi pada anak yang
biasanya berhubungan dengan penyebab patologis. Kami menyajikan sebuah kasus
dari intususepsi kolokolik rekuren pada anak laki-laki berusia empat tahun, yang
dengan keliru dianggap sebagai tipe tersering yaitu ileokolik. Pada pembedahan,
sebuah keadaan yang menyebabkan intususepsi telah ditemukan, yaitu polip juvenil
pada kolon transversal.

LAPORAN KASUS
Seorang anak laki-laki berusia empat tahun dibawa ke klinik oleh orang tuanya
dengan gejala muntah yang semakin parah dan diare selama tiga hari. Orang tuanya
melihat anak tersebut sebentar-sebentar meringkuk dan melengkungkan badannya
dan akhir-akhir ini mengalami sebuah episode BAB berdarah. Riwayat medisnya
dalam batas normal kecuali telah dilakukan sirkumsisi pada usia dua tahun. Pasien
dikirim ke institusi kami untuk dilakukan pemeriksaan USG abdomen untuk
mengevaluasi adanya intususepsi. USG memperlihatkan massa dengan ukuran
7,3x2,7x3,7cm pada kuadran kiri bawah dengan gambaran seperti target (target-like
6
appearance) yang khas pada intususepsi (Gambar 1). Diagnosis dikonfirmasi dengan
enema udara dan intususepsi terreduksi dengan berhasil (Gambar 2). Pasien dirawat
untuk diobservasi dan boleh pulang pada pagi hari berikutnya dengan kondisi baik.
Lima hari kemudian, orang tua pasien melihat pasien meringkuk lagi dan
membawanya kembali ke rumah sakit. Pasien dirawat dan dilakukan pemeriksaan
USG kembali yang memperlihatkan lagi adanya massa abdomen dengan target sign.
Intususepsi berhasil direduksi dengan kontras barium enema (Gambar 3) dan
dilakukan laparoskopi eksplorasi untuk mencari adanya divertikulum meckel atau
massa lesi. Pada saat pembedahan, tidak ditemukan adanya divertikulum meckel atau
penyebab lain pada permukaan serosa dari usus halus atau kolon.

Gambar 1. Gambaran USG transversal kuadran kiri bawah menggambarkan sebuah


massa dengan target sign.

Pasien dipulangkan dengan kondisi baik, tetapi tiga hari sebelum jadwal control yang
telah dijadwalkan, pasien mengalami nyeri perut dan BAB berdarah. Pasien tersebut
dirawat kembali lalu diperiksa USG dan dilakukan lagi kontras enema udara yang
memperlihatkan adanya intususepsi kuadran kiri bawah dengan questionable colonic
filling defect. Intususepsi kembali tereduksi dan pasien dibawa ke ruang operasi untuk
dilakukan laparotomi diagnostik terbuka. Dua buah polip intraluminal pedunkulata
berukuran besar (ukuran 3,3x2,5x2,0cm dan 2,2x2,0x1,0cm) dan satu buah polip
berukuran kecil ditemukan pada bagian mesenterika usus (gambar 4). Hasil
pemeriksaan patologi menunjukkan polip tersebut adalah polip juvenil tanpa atypia.

7
Pasien pulih dengan baik setelah operasi dan selanjutnya tidak mengalami intususepsi
kembali.

Gambar 2. Enema udara menggambarkan filling defect pada kolon desendens yang
dikelilingi dengan udara berbentuk sabit yang merupakan gambaran bagian
intususeptum. Gambaran real time menunjukkan pergerakan retrograd dari filling
defect sebagai gambaran dari intususepsi yang terreduksi.

Gambar 3. Kontras enema tunggal kembali memperlihatkan adanya filling defect pada
kolon, menggambarkan intususeptum.

8
Gambar 4. Polip juvenil pedunkulata dipisahkan dari sisi mesenterika dari mukosa
kolon transversal untuk dilakukan eksisi bedah.

DISKUSI
Intususepsi merupakan salah satu penyebab tersering dari akut abdomen pada
masa bayi1-3. Intususepsi terjadi karena adanya invaginasi segmen dinding usus yang
tertarik ke bagian lumen dan menjadi masuk kedalam segmen usus yang berdekatan
(Gambar 5). Kondisi ini biasanya terjadi pada usia antara 6 bulan dan 2 tahun 1.
Sebagian besar dari intususepsi pada anak-anak adalah ileokolik, yang artinya ileum
masuk ke dalam kolon. Bila didiagnosis dan diobati dengan tepat, sebagian besar
pasien memiliki prognosis yang sangat baik.

9
Gambar 5. Ilustrasi menggambarkan gambaran koronal kolon dengan menunjukkan
intususepsi sekunder karena polip pedunkulata. Peristaltik menarik polip yang
berukuran besar ke arah distal, menyeret dinding usus melekat ke intususipien.

Trias gejala nya adalah nyeri abdomen (kolik), BAB lendir (currant-jelly stools)
atau hematoschezia, dan teraba massa abdomen yang terjadi pada kurang dari 50%
anak-anak yang mengalami intususepsi4. Timbulnya gejala perut nonspesifik seperti
muntah yang dominan, tidak adanya BAB berdarah (biasanya terjadi pada kasus
dengan durasi kurang dari 48 jam), dan sulitnya memperoleh riwayat penyakit dari
anak-anak yang belum bisa berbicara menjadi sebab terhentinya diagnosis intususepsi
pada hampir 50% kasus6.
Sebagian besar intususepsi pediatrik adalah idiopatik tanpa penyebab
patologis1.7. Intususepsi yang disebabkan divertikulum meckel, kista duplikasi, polip,
atau tumor (misalnya, limfoma) jarang terjadi pada bayi. Kejadian diatas lebih sering
terjadi pada neonatus (usia<30 hari), anak yang lebih besar (>5 tahun), dan kasus
yang terbatas pada usus halus. Intususepsi kolokolik pada orang dewasa hampir selalu
terjadi karena komplikasi dari penyakit pada kolon yang sudah ada, biasanya
karsinoma atau tumor polipoid8. Pasien anak-anak dengan intususepsi kolokolik harus
dipikirkan adanya kemungkinan polip kolonik atau massa lesi lainnya 9. RotaShield,
vaksin generasi pertama rotavirus, terbukti menyebabkan risiko intususepsi transien
dan karena hal tersebut ditarik dari pasaran10.
Penelitian mengenai prevalensi pasti dari intususepsi di Amerika Serikat saat ini
belum tersedia. Rata-rata angka kejadian diperkirakan terjadi 1 kasus pada setiap
2000 kelahiran. Di Inggris, angka kejadian bervariasi dari 1,6-4 kasus per 1000
kelahiran. Secara keseluruhan, rasio laki-laki dan perempuan rata-rata 3:1. Dengan
bertambahnya usia, perbedaan jenis kelamin menjadi lebih nyata; pada pasien dengan
usia lebih dari 4 tahun, rasio laki-laki perempuan menjadi 8:1. Penelitian mengenai
penyakit ini, mengacu pada intususepsi ileosekal, yang merupakan tipe tersering.
Intususepsi kolokolik sangat jarang terjadi pada populasi anak-anak dan tidak ada
penelitian yang mendokumentasikan prevalensi nya dengan tepat.

10
Dilaporkan terjadi sebuah kejadian langka intususepsi kolokolik pada neonatus
dengan malrotasi usus, yang dipercaya sebagai kasus pertama yang dilaporkan terjadi
pada periode neonatus dimana penyebabnya adalah limfangioma usus 12. Polip kolonik
remaja telah dilaporkan menyebabkan intususepsi kolokolik 13. Intususepsi kolokolik
juga telah dilaporkan tanpa adanya kelainan anatomik 9,14. Dalam sebuah penelitian
yang membandingkan intususepsi ileokolik dan kolokolik menemukan bahwa pada
kelompok kolokolik ditemukan lebih sedikit terjadinya syok dan demam, dan rasio
keberhasilan reduksi nonoperatif nya lebih tinggi15. Kedua kelompok memiliki
insidensi bedah serupa. Pada kelompok ileokolik terdapat tingkat kematian lebih
tinggi dan lebih banyak komplikasi, tetapi hanya tingkat reseksi yang signifikan
secara statistik. Rontgen abdomen adalah pemeriksaan awal yang paling umum
digunakan untuk memeriksa nyeri abdomen dan dugaan intususepsi. Rontgen
abdomen meniliki sensitivitas dan spesifisitas rendah untuk mendiagnosis
intususepsi, walaupun rontgen abdomen berguna untuk menunjukkan penyebab lain
dari nyeri abdomen dan menyingkirkan udara bebas intraperitoneal ketika
merencanakan melakukan enema16. Penambahan posisi dekubitus meningkatkan
kemampuan untuk mendiagnosa atau menyingkirkan intususepsi dan udara bebas 17.
Namun, seperempat kasus intususepsi akan menunjukkan rontgen abdomen yang
normal18. Tanda meniskus merupakan tanda spesifik pada rontgen abdomen polos
untuk mendiagnosis intususepsi. Tanda meniskus dibentuk oleh antarmuka dari
densitas jaringan lunak intususeptum dan udara yang berdekatan dengan konveksitas
intususepien tersebut. Meskipun tanda ini sangat spesifik, tetapi tidak selalu terlihat.
Ketika terlihat tanda meniskus, dapat langsung dilakukan fluoroskopik enema pada
pasien baik dengan udara atau kontras larut air untuk konfirmasi diagnosis dan
reduksi. Opasitas pada kuadran kanan bawah abdomen tanpa adanya gas usus pada
posisi rontgen frontal dan left lateral meningkatkan dugaan diagnosis intususepsi.
Pada kasus lain, rontgen abdomen tidak spesifik. Jika udara bebas ditemukan pada
rontgen awal, langkah berikutnya adalah manajemen bedah dan enema merupakan
kontraindikasi.

11
Ultrasonografi adalah modalitas pencitraan yang paling menjanjikan untuk
mendiagnosis intususepsi19. USG tidak hanya sensitif dan spesifik dalam
mendiagnosis intususepsi, juga tidak mengekspos pasien dengan radiasi terionisasi.
Penyebab intususepsi juga dapat diidentifikasi20. Secara sonografi, bulls eye atau
target-like lesion pada posisi transversal merupakan gambaran intususepsi.yang
paling sering terlihat (Gambar 6). Gambaran ini terbentuk oleh lingkaran usus
(intususeptum) didalam lingkaran usus lainnya (intususepien). Target sign juga
terlihat pada rontgen ketika usus yang terlibat terlihat en face21. Pada USG, dinding
dari intususeptum dan intususepien memiliki karakteristik sonografi dinding beberapa
lapis dinding usus bagian mukosa dan serosa. Lapisan ekogenik mengelilingi
intususeptum yang sesuai dengan lemak mesenterika. Pandangan longitudinal dari
segmen usus yang terkena memperlihatkan gambaran menyerupai ginjal yang disebut
pseudo-kidney. USG memiliki sensitifitas dan spesifisitas tinggi untuk intususepsi
dan telah terbukti menjadi modalitas pencitraan yang handal dan murah di negara-
negara berkembang22.

Gambar 6.Gambaran longitudinal (a) dan transversal (b) intususepsi.Gambar sebelah


kiri secara grafis menunjukkan kompleks intususepsi dimana gambaran USG yang
sesuai digambarkan di sebelah kanan.Lapisan luar menunjukkan intususipien dimana
lapisan dalam menunjukkan intususeptum.Dinding usus (1) dan lumen (2) dari

12
intususipien membentuk cincin bagian luar. Cincin bagian dalam terdiri dari dinding
usus (3 dan 5) dan lumen (6) dari intususeptum yang dikelilingi lemak mesenterika (4).
In vivo, lumen yang kolaps dan cincin ekogenik pada USG menunjukkan antarmuka
antara mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa.

Langkah pertama dari manajemen intususepsi adalah kontras enema yang


dipandu baik dengan fluorosokopi maupun USG. Reduksi dengan panduan USG
biasanya dilakukan dengan saline, walaupun dengan kontras udara juga telah
digunakan. Reduksibilitas intususepsi, tingkat kekambuhan intususepsi, pola
kekambuhan intususepsi, dan hasil jangka panjang telah terbukti sama antara kontras
udara dan kontras enema23. Terdapat bukti yang bertentangan mengenai tingkat
komplikasi antara kontras udara dan enema dengan risiko perforasi berikaitan lebih
erat dengan tekanan yang diberikan dan derajat fluktuasi tekanan 1,24. Jika dilakukan
fluoroskopi kontras enema, sebaiknya lebih pilih kontras larut air daripada barium
karena risiko peritonitis barium1.

13