Anda di halaman 1dari 28

EKSISTENSI PERADILAN ADAT DI ACEH

Mahdi
STAIN Malikussaleh Lhokseumawe
Email: syihab_69@yahoo.co.id

Abstrak: Artikel ini ingin mendiskusikan eksistensi Peradilan


Adat di Aceh dalam sistem Peradilan Nasional. Secara yuridis-
formal, keberadaan Peradilan Adat tidak dinyatakan secara tegas,
tetapi praktik masyarakat menunjukkan banyak sengketa perdata
maupun sengketa pidana diselesaikan pada tingkat Peradilan
Adat Aceh tersebut. Pertanyaannya bagaimana sistem
pelaksanaan Peradilan Adat di Aceh; dan bagaimana fungsionaris
Peradilan Adat di Aceh; serta bagaimana kedudukan Peradilan
Adat Aceh dalam sistem Peradilan Nasional. Argumen dalam
artikel ini bahwa walaupun secara yuridis, Pemerintah Aceh tidak
memasukkan Peradilan Adat sebagai salah satu peradilan resmi
negara, secara sosiologis Peradilan Adat diakui oleh masyarakat
dalam penyelesaian sengketa yang terjadi di tengah masyarakat
Aceh, bahkan lebih jauh lagi, Pemerintah Aceh telah
mengkodifikasikannya secara baku dalam bentuk qanun (aturan
daerah).
Abstract: This paper deals with the existence of customary courts
in Aceh in the national judicial system. From formal-juridical
perspective, the existence of customary courts is not clearly
stated; however, the practices of community have indicated that
most of civil disputes and criminal offenses were resolved by the
customary courts in Aceh. The question relates to such issues as
administration of Aceh customary courts, duties of functionaries
in this customary courts, and its existence within the national
judicial system. This paper shows that, although the local
government of Aceh does not legally include customary court as
one of the state official justices, this kind of court has been
sociologically recognized in resolving disputes that occur in the
society. Furthermore, the local government of Aceh has codified
it in the form of qnn (legal code).
Kata Kunci: Peradilan Adat, Peradilan Nasional, pluralisme hukum, hukum
adat, qanun
Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

PENDAHULUAN
Secara yuridis, dikenal ada dua macam penyelesaian
perkara dalam masalah hukum, yang pertama dikenal dengan
penyelesaian litigasi, dan kedua yang dikenal dengan non litigasi.
Maksud yang pertama adalah penyelesaian di depan pengadilan1,
seperti penyelesaian perkara di Peradilan Umum, Peradilan
Agama atau Mahkamah Syariyah, Peradilan Militer, dan
Peradilan Tata Usaha Negara. Peradilan bentuk tersebut dikelola
oleh negara, dan sering disebut dengan nama governement
judicial system2. Kemudian maksud yang kedua yaitu
penyelesaian perkara di luar pengadilan seperti arbitrase,
mediasi.3 Pengadilan seperti ini dikenal dengan sebutan native
administration of justice, village administration of justice,
indigenous system of justice, religious tribunals dan village
tribunal.4
Tahun 1935 merupakan titik awal bagi pengadilan non
litigasi yang diakui oleh koloni Belanda lewat Statblaad 1935 No.
102. Pengakuan ini didorong oleh bentuk politik balas budi yang
diperankan oleh Belanda terhadap wilayah jajahannya. Kebijakan
politik demikian ternyata juga memberi peluang positif terhadap
bentuk peradilan yang tidak dikelola oleh negara. Dengan
demikian, melalui kebijakan tersebut dapat ditegaskan bahwa
Belanda telah mengakui keberadaan Peradilan Adat dan Peradilan
Agama saat itu, meskipun pengakuan tersebut masih bersifat
terbatas, seperti hakim-hakim adat tidak diperbolehkan
menjatuhkan hukuman. Bukan hanya Peradilan Desa yang diakui,

1
Abdurrahaman, Peradilan Adat di Aceh sebagai Sarana Kerukunan
Masyarakat (Banda Aceh: Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh, 2009), h. 1.
2
Anonimos, Sistem Peradilan Adat dan Lokal di Indonesia; Peluang dan
Tantangan, (t.tp.: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dengan
Dukungan dari Patnership for Governance Reform, 2003), h. 5.
3
Abdurrahaman, Peradilan Adat ..., h. 1.
4
Anonimos, Sistem Peradilan ..., h. 5.

190 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

tetapi juga Peradilan Adat dan Peradilan Swapraja juga turut


diakui.5
Istilah Peradilan Adat atau Pengadilan Adat tidak begitu
lazim dipakai oleh masyarakat adat maupun masyarakat lokal
lainnya. Istilah yang sering digunakan adalah sidang adat atau
rapat adat dalam ungkapan khas masing-masing komunitas.
Menariknya, dalam adat tidak dikenal istilah adil, sebab kata
adil itu sendiri berasal dari bahasa Arab. Oleh karena itu,
pengadilan adat tidak mengenal keadilan, yang ada hanya ketika
dilakukan penyelesaiaan suatu sengketa dalam masyarakat adat
tidak ditujukan untuk menemukan keadilan, tetapi untuk
memulihkan keseimbangan dan keselarasan hubungan
kekeluargaan.6
Perdamaian dan keseimbangan merupakan muara akhir
dari Peradilan Adat. Musyawarah menjadi metode untuk
menemukan perdamaian. Pelaksanaan ritual tertentu, seperti
makan bersama, upacara saling memaafkan atau mengucapkan
ikrar serta pelaksanaan hukuman denda, dimaksudkan untuk
mengembalikan keseimbangan alam fisik dan sosial. Musyawarah
dilakukan pada setiap tingkatan peradilan atau sidang adat.
Perdamaian selalu diupayakan ketika sengketa dimulai
diselesaikan di tingkat keluarga. Setiap keluarga dari pihak yang
bersengketa selalu berusaha agar penyelesaian sengketa berakhir
pada musyawarah keluarga. Jika tidak bisa diselesaikan dan
akhirnya harus dibawa ke tingkat kampung, ini akan membuat
malu para pihak keluarga, sebab perkaranya sudah diketahui oleh
umum.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Peradilan Adat ini
sangat dekat dengan tradisi musyawarah. Ini dibuktikan oleh
banyaknya konsep yang digunakan oleh sejumlah suku bangsa
dengan cara yang beragam, misalnya di Kalimantan Barat,

5
Ibid.
6
Ibid., h. 9.

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 191


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

Pengadilan Adat dikenal dengan istilah beduduk, di Sumatara


Utara, khususnya Kabupaten Karo dikenal dengan harungguan,
di Sasak dikenal dengan sebutan bagundem atau paras paros
sagilik saguluk sabayan taka di Bali.7 Di Aceh sendiri, disebut
dengan peradilan atau pengadilan adat8.
Penggunaan istilah tersebut untuk menunjukkan fenomena
yang terjadi dalam masyarakat khususnya masyarakat Aceh
tentang suatu pranata sosial yang sangat berperan dalam
menyelesaikan berbagai persoalan hukum yang dialami oleh
masyarakat. Penggunaan istilah Peradilan Adat itu sendiri juga
bukan karena dilihat dari kelembagaan, mekanisme dan
fungsinya dalam menyelesaikan sengketa, melainkan karena
secara lembaga adat, lembaga ini sama seperti dengan lembaga
peradilan formal lainnya, hanya saja ada beberapa aspek yang
berbeda seperti pada konsekuensi dan efek hasil.9
Di Aceh, penyelesaian kasus dalam kehidupan masyarakat
juga banyak diselesaikan melalui Peradilan Adat. Dasar hukum
pembentukan dan pemberdayaan Peradilan Adat di Aceh
didukung oleh sejumlah peraturan perundang-undangan sebagai
payung hukum10. Peraturan dan perundang-undangan tersebut
tidak dinyatakan secara tegas dengan kalimat Pengadilan Adat,
tetapi hanya menggunakan kalimat Lembaga Adat. Lembaga
adat ini bisa diwujudkan melalui pengejawantahan pranata sosial
sebagai pageu gampong (pagar kampung). Oleh karena itu,

7
Ibid.
8
Abdurrahaman, Peradilan Adat..., h. 2.
9
Ibid., h. 2.
10
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan
Keistimewaan Aceh; Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 4
Tahun 2003 tentang Pemerintahan Mukim dalam Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam; Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 5 Tahun 2003
tentang Pemerintahan Gampong dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; Qanun
Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat
Istiadat; dan Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2008 tentang Lembaga Adat.

192 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

pelaksanaan Peradilan Adat ini melekat secara ex officio pada


lembaga adat.
Pertanyaan menarik yang penting diajukan di sini berkaitan
dengan keberadaan Peradilan Adat Aceh selama ini dalam
menyelesaikan sejumlah kasus yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat Aceh adalah: bagaimana sistem pelaksanaan
peradilan adat di Aceh; bagaimana fungsionaris Peradilan Adat di
Aceh; serta bagaimana kedudukan Peradilan Adat Aceh dalam
sistem Peradilan Nasional.
Artikel ini menggunakan kajian terhadap sejumlah literatur
yang relevan untuk mengungkapkan sejumlah pertanyaan
penelitian di atas. Selain menggunakan sumber data sekunder
bahan primer seperti peraturan-peraturan perundang-undangan,
dan qanun yang telah ditetapkan di Aceh. Bahan tersier lainnya
yang relevan dengan bahan tersebut juga dijadikan sebagai bahan
pendukung untuk menjelaskan keberadaan Peradilan Adat Aceh
dalam sistem Peradilan Nasional.
Kerangka teori untuk menjelaskan gejala baru dalam sistem
peradilan, khususnya Peradilan Adat di Aceh, digunakan teori
hukum pluralisme yang dikembangkan oleh Griffith. Menurut
Griffith, pluralisme hukum itu ialah adanya lebih dari satu
tatanan hukum dalam suatu arena sosial.11 Munculnya pemikiran
tentang adanya pluralisme hukum merupakan bentuk nyata
anggapan bahwa hukum itu hanya sentralistik, yaitu suatu paham
yang menyatakan, sistem hukum itu tunggal yang berlaku untuk
seluruh wilayah dan mengikat semua anggota masyarakat tanpa
kecuali. 12

11
Imam Syaukani, Karakteristik Politik Hukum Nasional dalam
HARMONI: Jurnal Multikultural dan Multireligius, Volume VII, No. 28,
(Oktober-Desember 2008), h. 7.
12
Arskal Salim, Pluralisme Hukum di Indonesia; Keberadaan Hukum
Islam dalam Peraturan Perundang-Undangan Nasional dalam HARMONI
Jurnal Multikultural dan Multireligius, Volume VII, No. 28, (Oktober-Desember
2008), h. 15.

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 193


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

Ada dua jenis pluralisme hukum, pertama dikenal dengan


weak legal pluralism (pluralisme hukum lemah), dan kedua kenal
dengan strong legal pluralism (pluralisme hukum kuat). Konsep
yang pertama, terdapat suatu otoritas politik yang mengakui
lebih dari satu sistem hukum untuk diberlakukan secara resmi
bagi kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Jadi, pluralisme
hukum lemah adalah suatu regulasi terpisah yang diciptakan
oleh negara bagi kelompok masyarakat yang berbeda-beda, baik
karena berdasarkan etnis dan agama maupun wilayah tempat
tinggal. Ini merupakan suatu teknik pragmatik yang diterapkan
oleh Pemerintah untuk mengatur masyarakat yang majemuk.13
Dengan penjelasan ini, terlihat bahwa pluralisme hukum
lemah itu adalah bentuk lain dari sentralisme hukum, karena
hukum negara tetap dipandang sebagai superior, sementara
sistem hukum-sistem hukum lain di luar sistem hukum negara
diakomodasi dalam hierarki di bawah posisi hukum negara dan
dipandang sebagai inferior, dan tunduk pada hukum negara.
Konsep yang kedua, mengacu kepada keberadaan lebih dari
satu sistem hukum yang masing-masing bersifat independen dan
keberlakuannya di dalam masyarakat tidak tergantung pada
pengakuan atau pengesahan oleh suatu entitas politik. Dalam
konsepsi ini, antara tiap-tiap sistem hukum dan lainnya tidak
harus saling menafikan satu saa lain, dan semua sistem hukum
itu, sama kedudukannya dan tidak ada hierarki lebih tinggi atau
lebih rendah dari satu dan lainnya.14 Dengan demikian, dari dua
bentuk pluralisme hukum di atas, yang sering terlihat dalam
praktek banyak negara, termasuk juga Indonesia adalah
pluralisme hukum lemah (weak legal pluralism).

13
Ibid., h. 16.
14
Ibid.

194 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

SISTEM PERADILAN ADAT ACEH


Dasar Hukum
Secara yuridis, penyelesaian sengketa melalui Peradilan
Adat, sudah pernah dibakukan dalam peraturan daerah provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam, seperti Peraturan Daerah Nomor 7
Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Kehidupan Adat yang
menginginkan agar segala sengketa yang terjadi dalam
masyarakat, lebih dahulu diselesaikan secara adat pada tingkat
gampong dan mukim. Namun belakangan, peraturan daerah
tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi oleh Pemerintah Aceh.
Sebagai tindak lanjut untuk menfungsikan peradilan adat
dalam menyelesaikan sengketa di tengah-tengah masyarakat
Aceh, maka Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh menetapkan
sejumlah peraturan perundang-undangan mengenai hal itu untuk
memperkuat dan diakuinya secara hukum dalam penyelesaian
sengketa tersebut. Adapun peraturan perundang-undangan
dimaksud sebagai dasar hukum pelaksanaan Peradilan Adat di
Aceh sebabagai berikut:
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa
Aceh. Undang-undang ini memang tidak menegaskan secara
langsung mengatur tentang Peradilan Adat di Aceh, namun
mengatur hak-hak istimewa yang dimiliki oleh Provinsi Aceh,
seperti mengenai keistimewaan bidang agama; bidang
pendidikan; bidang adat istiadat; dan peran ulama dalam
setiap kebijakan Pemerintah Daerah. Dari penegasan undang-
undang tersebut dapat diambil suatu pemahaman bahwa
Aceh dapat menetapkan berbagai kebijakan untuk
memberdayakan pelestarian dan pengembagan adat serta
lembaga adat yang dijiwai oleh nilai syariat Islam. Selain itu,
Aceh dapat pula membentuk lembaga adat dan mengakui
lembaga adat yang ada sesuai dengan kedudukannya masing-
masing.

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 195


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 4 Tahun


2003 tentang Pemerintahan Mukim dalam Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam. Kaitannya dengan Peradilan Adat, Qanun
ini mengatur tentang fungsi mukim dalam menyelesaikan
persoalan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Mukim
diberikan wewenang untuk menyelesaikan dan meberikan
keputusan-keputusan adat terhadap perselisihan dan
pelanggaran adat.
Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 5 Tahun
2003 tentang Pemerintahan Gampong dalam Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam. Meskipun tidak secara tegas
mengatur tentang Peradilan Adat, secara substansil, dijumpai
sejumlah pasal yang mengaitkan peran dan eksistensi
lembaga adat dalam penyelesaian sengketa masyarakat, dan
lembaga Keuchik itu sendiri juga merupakan salah satu
lembaga adat yang memiliki otoritas sebagai hakim dalam
menyelesaikan sengketa serta dibantu oleh Tuha Peut dan
Imeum Meunasah.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh. Undang-undang ini mengatur secara
tersendiri tentang lembaga adat dan kewenangannya,
termasuk menyelesaikan persoalan sosial yang termuat
dalam BAB XIII tentang Lembaga Adat. Bab ini dapat
dikaitkan sebagai landasan eksistensial dan kewenangan
Peradilan Adat di Aceh, karena dalam bab tersebut mengatur
bahwa lembaga adat diberi kewenangan berpartisipasi dalam
penyelenggaraan Pemerintah Aceh dalam mewujudkan dan
menjaga keamanan, kerukunan dan ketertiban masyarakat.
Selanjutnya lembaga adat tersebut dapat dijadikan sebagai
pageu gampong dan untuk mewujudkan itu, maka dapat
dilaksanakan Peradilan Adat di tingkat gampong dan mukim .
Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan
Kehidupan Adat dan Adat Istiadat. Seperti halnya dengan

196 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006, Qanun ini juga


menempatkan tentang eksistensi peradilan adat dan
pewenangannya dalam bab khusus, yaitu BAB VI tentang
penyelesaian sengketa/perselesihan, dan BAB VII tentang
Bentuk-bentuk Sanksi Adat. Pasal-pasal yang relevan dengan
peradilan adat adalah Pasal 13, 14, 15, dan 16. Inti dari pasal-
pasal tersebut ditegaskan bahwa aparat penegak hukum
memberikan kesempatan agar sengketa diselesaikan terlebih
dahulu secara adat gampong.
Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2008 tentang Lembaga Adat.
Qanun ini juga memuat beberapa kaedah yang dapat
dijadikan sebagai dasar hukum pelaksanaan Peradilan Adat,
karena dapat berfungsi sebagai wahana partisipasi
masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan,
pembangunan, pembinaan masyarakat dan penyelesaian
masalah-masalah sosial kemasyarakatan lainnya.
Peraturan perundang-undangan tersebut di atas, sangat
jelas memberi kewenangan pelaksanaan Peradilan Adat di Aceh,
walaupun bukan dalam bentuk menjalankan fungsi yudikatif
dalam kehidupan bernegara. Namun demikian, sebagai suatu
bentuk pranata sosial dan sebagai pranata adat, Peradilan Adat
berpotensi untuk menyelesaikan berbagai sengketa persoalan
sosial kemasyarakatan, dan diakui eksistensinya secara formal
dan mempunyai hak dan kewenangan untuk dilaksanakan.
Kewenangan Peradilan Adat Aceh
Kewenangan atau kompetensi yang dimiliki oleh peradilan
adat di Aceh tentu saja tidak setara dengan kompetensi yang
dimiliki oleh peradilan negara. Sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, kompetensi Peradilan Adat di Aceh lebih
kepada aspek umum dan tidak membedakan jenis perkara perdata
dan pidana. Kompetensi yang berada di bawah Peradilan Adat
antara lain mencakup persoalan: (1) batas tanah; (2) pelanggaran
ketentuan adat dalam bersawah dan pertanian lainnya; (3)

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 197


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

kekerasan dalam rumah tangga yang bukan katagori


penganiayaan berat; (4) perselisihan antar dan dalam keluarga; (5)
Pembagian harta warisan; (6) wasiat; (7) pertunangan dan
perkawinan; (8) pencurian; (9) ternak makan tanaman atau
mengganggu lalu lintas; (10) kecelakaan lalu lintas (kecelakaan
ringan); (11) ketidakseragaman turun ke sawah.15
Kompetensi tersebut, kemudian diperluas lagi dalam
persoalan: (1) perselisihan dalam rumah tangga; (2) sengketa
antara keluarga yang berkaitan dengan fari; (3) perselisihan
antar warga; (4) khalwat/mesum; (5) perselisihan tentang hak
milik; (6) pencurian dalam keluarga (pencurian ringan); (7)
perselisihan harta sehareukat; (8) pencurian ringan; (9) pencurian
ternak peliharan; (10) pelanggaran adat tentang anak, pertanian,
dan hutan; (11) persengketaan di laut; (12) persengketaan di
pasar; (13) penganiayaan ringan; (14) pembakaran hutan (dalam
skala kecil yang dapat merugikan komunitas adat); (15)
pelecehan, fitnah, hasut, dan pencemaran nama baik; (16)
pencemaran lingkungan (skala ringan); (17) ancam mengancam;
(18) perselisihan-perselisihan lain yang melanggar adat dan adat
istiadat.16
Ketentuan peraturan perundang-undangan di atas terdapat
kalimat seperti kecelakaan ringan, pencemaran skala ringan,
pembakaran hutan skala ringan, dan penganiayaan ringan.
Penegasan tersebut semata untuk membedakan sengketa yang
skala ringan dan skala berat. Sengketa skala berat, biasanya
langsung ditangani oleh pihak aparat penegak hukum seperti
polisi, namun untuk sengketa ringan, dimungkinkan diselesaikan
di tingkat komunitas menjadi kewenagangan peradilan adat.
Walaupun demikian, terkadang suatu sengketa, awalnya

15
Amrena Rasyada, Kedudukan Peradilan Adat Aceh dalam Sistem
Peradilan Nasional, Skripsi tidak diterbitkan (Lhokseumawe: STAIN
Malikussaleh Lhokseumawe, 2010), h. 30
16
Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan
Adat Istiadat, Pasal 13.

198 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

merupakan masalah ringan, namun kemudian bisa berubah


menjadi berat karena muncul sengketa baru, seperti masalah
sengketa batas tanah, walaupun dapat diselesaikan melalui
Peradilan Adat, bisa saja berkembang menjadi sengketa pidana,
karena terjadi tindak kekerasan pada salah satunya.
Meskipun demikian, jika ada para pihak yang bersengketa
ingin melimpahkan sengketanya dari Pengadilan Adat ke
pengadilan formal, hal ini dapat dilakukan, sejauh sengketa
tersebut terjadi karena bukan jurisdiksi suatu peradilan, para
pihak tidak mau menyelesaikannya melalui Peradilan Adat dan
hukum adat itu sendiri tidak mampu menyelesaikan sengketa
tersebut.17
Prinsip-prinsip Peradilan Adat Aceh
Prinsip umum yang dianut oleh peradilan adat di Aceh
adalah tidak boleh membuka aib orang dan harus menjaga
kewibawaan orang/keluarga, rasa malu terhadap sesuatu yang
cemar dalam pandangan umum, yaitu toep aieb (tutup aib).
Kaedah tersebut menitikberatkan agar dalam proses peradilan
adat, jangan sampai muncul kedua hal tersebut, dan diusahakan
harus dilokalisir. Dengan demikian, para pihak yang melakukan
pelanggaran dapat ditutupi aibnya, seperti masalah
khalwat/mesum.
Prinsip lain yang juga harus dipraktekkan oleh pihak-pihak
yang menjalankan Peradilan Adat adalah yang lemah dibimbing,
yang pincang dipapah, yang kurang ditambah, yang ganjil
digenapkan, yang salah dibetulkan, yang lupa diingatkan, yang
menangis didiamkan, yang bertengkar diredakan, dan yang keliru
diingatkan.18

17
Anonimus, Pedoman Peradilan Adat Aceh (Banda Aceh: Majelis Adat
Aceh (MAA) Provinsi Aceh, 2008), h. 30.
18
Badruzzaman Ismail, Masjid dan Adat Meunasah sebagai Sumber
Energi Budaya Aceh (Banda Aceh: Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam, 2007), h. 164.

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 199


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

Prinsip lain yang juga tidak dapat diabaikan begitu saja


dalam proses penegakan Peradilan Adat di Aceh antara lain:
amanah, tanggungjawab, kesetaraan dalam hukum, penyelesaian
secara damai/rukun, cepat, mudah, dan murah, jujur, ikhlas dan
sukarela, musyawarah/mufakat, keterbukaan untuk umum,
keberagamaan, praduga tidak bersalah, dan berkeadilan.19
Sistem Peradilan Adat Aceh
Pada umumnya, Peradilan Adat di Aceh diselenggarakan
oleh Lembaga Gampong dan Mukim, dan ini berlaku untuk
seluruh wilayah Aceh, walaupun ada perbedaan penyebutan
istilah terhadapnya. Namun demikian. dari aspek fungsi, lembaga
tersebut tetap sama yaitu sebagai lembaga penyelesaian sengketa
adat. Penyelenggara peradilan adat di tingkat Gampong atau
Mukim terdiri atas: Keuchik (pemimpin masyarakat yang dipilih
secara demokratis oleh rakyat), dalam hal ini bertindak sebagai
ketua sidang; Tuha Peut (dikenal juga Dewan Empat yang
bertanggungjawab dan mendampingi tugas-tugas pemerintahan)
bertindak sebagai anggota sidang; Imoem Meunasah, bertindak
sebagai anggota; Ulama, bertindak sebagai pengayom dan
penyuluh juga sekaligus sebagai anggota sidang; Sekretaris,
bertindak sebagai panitera sidang; dan Ulee Jurong bertindak
sebagai penerima laporan awal.20
Para penyelenggara Peradilan Adat tersebut tidak diangkat
secara resmi, tetapi secara otomatis melekat secara jabatan adat
yang diembannya. Hanya saja sejauh penelitian yang sudah
dilakukan, keanggotaan Peradilan Adat masih terbatas pada kaum
lelaki saja, sementara perwakilan di kalangan perempuan hingga
saat ini belum dijumpai. Kondisi ini tentu saja akan menempatkan
posisi Peradilan Adat di Aceh akan dinilai bias gender dalam
masalah peradilan.

19
Abdurrahaman, Peradilan Adat ..., h. 18.
20
Ismail, Masjid dan Adat..., h. 149.

200 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

Proses penyelenggaraan Peradilan Adat ini lazimnya


dilaksanakan di Meunasah (langgar/musala). Selain itu, Meunasah
juga digunakan untuk bermusyawarah dan tempat ibadah shalat
berjamaah lima waktu. Di Meunasah tersebut, para penyelenggara
Peradilan Adat menjalankan keputusan hukum adat atas
keputusan damai yang telah ditetapkan. Keputusan tersebut
ditetapkan di hadapan umum dan dihadiri oleh seluruh
masyarakat gampong, para pihak yang berperkara serta keluarga
dan orang-orang tua gampong. Tanggung jawab eksekutor berada
di tangan Keuchik, dan keputusan Keuchik adalah kehormatan
masyarakat. Untuk menghindari kekeliruan dalam keputusan
peradilan adat maka Keuchik terlebih dahulu melakukan
musyawarah/mufakat untuk menjaga masyarakatnya agar tidak
malu.
Sanksi Peradilan Adat Aceh
Pemberian sanksi yang ditetapkan oleh Peradilan Adat di
aceh kepada sipelanggar, baik pelanggaran perdata ataupun
pidana sangat variatif. Lazimnya, jenis sanksi yang dijatuhkan
kepada sipelanggar hukum adat dan penyelesaian sengketa adat
bisa berbentuk: nasihat, teguran, pernyataan maaf, sayam, diyat,
ganti kerugian, dikeluarkan dari masyarakat gampong,
pencabutan gelar adat, dan bentuk sanksi lainnya sesuai dengan
adat setempat. Keseluruhan bentuk sanksi adat yang ditetapkan
Pengadilan Adat, terdapat pada Qanun Aceh Nomor. 9 Tahun 2008
tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat, Bab VIII,
Pasal 16 ayat (1).
Sementara itu, untuk pelanggaran Qanun Aceh Nomor. 14
Tahun 2003 tentang Khalwat/Mesum, juga menjadi kompetensi
pengadilan adat untuk diselesaikan secara adat, pertimbangannya
bahwa di Aceh, adat itu merupakan suatu tata nilai yang hidup
dan berkembang di dalam masyarakat. Oleh karena itu, jika
pelanggaran qanun khalwat dapat diselesaikan secara adat
setempat, merupakan suatu hal yang sangat berharga. Namun

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 201


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

demikian, secara sosiologis, adanya satu ketentuan aturan dengan


dua lembaga yang sama-sama berkompetensi menanganinya,
akan menimbulkan dualisme hukum. Pada satu sisi, Mahkamah
Syariyah sebagai Badan Peradilan Negara memiliki kekuatan
hukum untuk memeroses kasus khalwat, sementara itu, pada sisi
lain Peradilan Adat juga mempunyai kewenangan untuk
menyelesaikan kasus tersebut. Berdasarkan hasil penelitian,
masalah tersebut hingga saat ini masih membingungkan di
kalangan masyarakat, terutama berkaitan dengan prinsip
kepastian hukum.
Selain sanksi yang sudah dijelaskan di atas, ada sanksi lain
yang bukan bagian dari sanksi adat, seperti dimandikan dengan
air comberan bagi pelaku khalwat, atau ditenggelamkan ke dalam
sungai, atau dikeroyok, atau dianiaya, atau dipukul. Semua sanksi
tersebut lebih merupakan bentuk ekspresi emosi dari sebagian
masyarakat Aceh yang merasa jengkel terhadap pelaku pelanggar
qanun syariat Islam.21
Pelaksanaan sanksi adat itu segera dilaksanakan setelah
putusan ditetapkan oleh Keuchik, kecuali untuk sanksi
pengusiran dari masyarakat gampong. Untuk persoalan ini,
kepada sipelanggar norma adat tersebut diberi kesempatan waktu
secukupnya untuk bersiap-siap meninggalkan kampung di mana
biasanya menetap. Pengusiran warga dari masyarakat gampong,
selama dalam pengamatan peneliti, biasanya dalam kasus zina,
judi, khalwat, dan mabuk. Sementara itu, pembinaan, nasihat, dan
teguran terhadap sipelanggar sudah diberikan, namun tidak
memberikan pengaruh kuat dan tidak adanya perubahan
sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya.
Tindakan pengusiran ini merupakan sanksi akhir sekaligus pula
sebagai bentuk pembersihan gampong dari kotoran.

21
Badruzzaman Ismail, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh,
Wawancara, Rabu, 13 April 2011 di Kantor MAA Provinsi.

202 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

PERAN FUNGSIONARIS PERADILAN ADAT ACEH


Fungsionaris Peradilan Adat Aceh
Pemberdayaan kembali Peradilan Adat di Aceh merupakan
salah satu wujud dari upaya pembentukan karakter bangsa yang
berperadaban sebagaimana zaman dahulu. Semangat ini dapat
dicermati dari bait peribahasa Aceh udeep tan adat, lagee kapai
tan nakhoda22 (hidup tanpa adat, bagaikan kapal tanpa nakhoda).
Secara historis, fungsi Peradilan Adat di Aceh banyak mengalami
fluktuasi (pasang surut) dalam menjalankan fungsi peradilan.
Para fungsionaris seperti tokoh-tokoh adat banyak kehilangan
kesempatannya dalam mengembangkan adat bagi kesejahteraan
masyarakat Aceh.
Refungsionaris Peradilan Adat di Aceh, kembali
ditingkatkan pemberdayaannya sejak tahun 2003. Upaya yang
dilakukan adalah dengan membekali kembali kemampuan tokoh
adat untuk melaksanakan Peradilan Adat, baik dalam bentuk
pelatihan khusus maupun dalam bentuk memberikan dorongan
dan melakukan koordinasi dengan berbagai instansi yang terkait
dengan penegakan hukum.
Namun demikian, sejauh ini belum dijumpai data kuantitatif
sudah seberapa banyak upaya yang dilakukan oleh lembaga MAA
berkaitan dengan penyelesaian kasus sengketa ataupun
pelanggaran hukum adat yang telah diselesaikan oleh Pengadilan
Adat di Aceh. Demikian pula dengan bentuk dan mekanisme
sistem pelaporan yang dapat diakses tentang pelaksanaan
Peradilan Adat di Aceh, juga belum dapat diketahui secara baik,
mudah-mudahan, di masa yang akan datang segera dapat
dilaksanakan dengan baik.

22
Ismail, Masjid dan Adat..., h. 149.

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 203


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

Kode Etik dalam Penyelesaian Sengketa dan Perkara perkara


Lain
Para pemangku adat di Aceh juga merupakan pelaksana
Peradilan Adat yang bertanggungjawab terhadap hak-hak dari
setiap tahapan proses hukum adat, mulai dari menerima laporan,
memeriksa persoalan sampai pada tahap persiapan sidang akhir,
serta sampai pada pemberian putusan Peradilan Adat. Para
fungsionaris Peradilan Adat, juga harus memastikan bahwa setiap
keputusan yang diambil dari proses Peradilan Adat sedapat
mungkin memenuhi rasa keadilan para pihak yang bersengketa,
keputusan yang diambil berdasarkan hasil proses pembuktian dan
musyawarah, bukan berdasarkan kepentingan salah satu pihak
yang bersengketa.
Dalam hubungan tersebut, agar dalam kehidupan bersama,
masyarakat selalu menopang kebersamaan, saling mengerti dan
menerima, memaafkan kesalahan dan kekurangan di antara
sesama masyarakat, menjauhkan diri dari perselisihan dan diikuti
sikap saling memberi dan menerima, menjauhi untuk
menyinggung sesama, maka sikap pelaksana Peradilan Adat
sangat menentukan. Salah satu sikap penting yang harus dimiliki
oleh para palaksana Peradilan Adat adalah sikap etika, akhlak, dan
sopan santun.
Paling tidak terdapat tujuh sikap yang harus dimiliki oleh
para pelaksana Peradilan Adat, yaitu (1) berakhlak karimah dan
taat beribadah; (2) menjaga dan memelihara kewibawaan, harkat
dan martabat; (3) setiap dan bekerja keras untuk membangun
keamanan, kerukunan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan
bersama masyarakat; (4) proaktif dalam setiap masalah untuk
menemukan solusinya; (5) suka bergotong royong dan
bermusyawarah dalam membangun identitas kebersamaan demi
terwujudnya kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan
masyarakat; (6) membangun kerjasama antar sesama perangkat
gampong, dengan cara mengetahui tugas dan perannya masing-

204 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

masing; (7) menjaga dan memelihara kehormatan


gampong/mukim dan masyarakatnya.23

PERADILAN ADAT ACEH DALAM SISTEM PERADILAN NASIONAL


Prosedur Pelaksanaan Peradilan Adat di Aceh
Secara umum, prosedur penyelesian sengketa atau
pelanggaran hukum adat melalui Peradilan Adat dilakukan
dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :
Penyelesaian sengketa Perdata
Seperti yang telah dikemukan sebelumnya, Peradilan Adat
di Aceh tidak membedakan antara kasus perdata atau kasus
pidana secara spesifik dalam penyelesaiannya. Meskipun
demikian, selama ini dapat diamati bahwa yang tergolong
sengketa pidana yang sering terjadi dan diselesaikan pada
Peradilan Adat adalah pencurian dan kekerasan. Sementara itu,
mengenai kasus sengketa perdata, biasanya yang berkaitan
dengan sengketa keluarga.
Prosedur pelaksanaan peradilan adat di Aceh untuk kasus
sengketa perdata dapat dijelaskan berikut ini secara sistematis:
Proses awalnya bermula dari pelaporan yang dilakukan oleh
pihak korban atau kedua belah pihak kepada Kepala Dusun atau
Kepala Lorong ata Kepala Jurong tempat suatu peristiwa terjadi
(asas teritorialitas) untuk segera menyelesaikan suatu sengketa.
Jika kasus tersebut ternyata sangat serius dan rumit serta
melibatkan kepentingan umum, maka Keplor dapat segera
melapor kepada Keuchik. Setelah Keuchik menerima laporan,
langkah selanjutnya Keuchik mengadakan rapat internal dengan
Sekretaris Keuchik, Kepala Lorong atau Kepala dusun atau Kepala
Jurong, Imuem Meunasah, Tuha Peut untuk menentukan jadwal
sidang; ketiga: sebelum persidangan dilaksanakan, Keuchik,
Sekretaris Keuchik, Kepala Lorong, Imuem Meunasah, dan Tuha

23
Abdurrahman, Peradilan Adat di Aceh ..., h. 20.

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 205


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

Peut terlebih dahulu melakukan pendekatan terhadap kedua


belah pihak. Pendekatan tersebut bertujuan untuk mengetahui
duduk perkara yang sebenarnya dan sekaligus menawarkan
mediasi dan negosiasi sebagai jalan penyelesaian perkara.
Pendekatan tersebut bukan hanya dapat dilakukan Keuchik
an sich, tetapi dapat juga dilakukan oleh tokoh-tokoh kampung,
orang tua yang bijak lainnya. Jika sengketa tersebut tergolong
sensitif, misalnya korbannya tertimpa pada pihak perempuan,
maka pendekatan dilakukan oleh istri Keuchik. Namun demikian,
jika langkah pendekatan tersebut tidak menghasilkan tanda-
tanda damai di antara kedua belah pihak, maka Sektretaris
Keuchik akan mengundang secara resmi kedua belah pihak untuk
menghadiri persidangan pada hari dan tanggal yang telah
ditetapkan. Pada saat persidangan, para pihak dapat diwakili oleh
walinya atau saudaranya yang lain sebaga juru bicara.
Persidangan bersifat resmi dan terbuka yang biasanya dilakukan
di Meunasah atau tempat lain yang dinilai netral.
Selanjutnya, forum persidangan, terurama posisi atau tata
letak duduk para pihak dan pelaksana Peradilan Adat disusun
sedemikian rupa sehingga kelihatan formal secara adat.
Penetapan tempat duduk dapat diilustrasikan berikut ini: Keuchik
selaku ketua sidang duduk dalam satu deretan dengan Tuha Peut,
Imuem Meunasah, Cendikiawan, Ulama, dan tokoh Adat Gampong
lainnya. Di sebelah kiri Keuchik agat sedikit ke belakang, duduk
Sekretaris Keuchik (posisinya sebagai pencatat segala kejadian
dalam persidangan, sama seperti panitia pada Mahkamah
Syariyah atau Peradilan Umum). Di hadapan Keuchik, duduk para
saksi dan para pihak yang berperkara, sementara di belakangnya
adalah peserta atau pengunjung sidang yang berasal dari
masyarakat.
Persidangan berlangsung dengan penuh khidmat dan
Keuchik mempersilahkan para pihak atau yang mewakilinya
untuk menyampaikan persoalannya yang kemudian dicatat oleh

206 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

Sekretaris Keuchik; Selanjutnya, Keuchik mempersilahkan para


saksi untuk menyampaikan kesaksiannya dan biasanya jika dirasa
perlu, para saksi sebelum menyampaikan kesaksiannya diambil
sumpah terlebih dahulu. Kemudian Keuchik memberikan
kesempatan kepada Tuha Peut atau Tuha Lapan menanggapi
sekaligus menyampaikan alternatif penyelesaiannya. Keuchik
mempersilahkan kepada Ulama Kampong, cendikiawan, dan
tokoh adat lainnya untuk menanggapi dan menyampaikan jalan
keluar terhadap sengketa tersebut.
Langkah berikutnya lagi, Keuchik beserta seluruh anggota
sidang melakukan musyawarah, putusan damai apa yang akan
diberikan. Jika telah disepakati kepada para pihak mengenai
kesiapan mereka menerima putusan tersebut. Jika jawaban
mereka siap menerima putusan, maka sekretaris Keuchik menulis
diktum putusan tersebut sebagai bukti surat perjanjian damai.
Meskipun demikian, jika salah satu pihak atau kedua belah pihak
tidak setuju terhadap putusan perdamaian, para pihak dapat
mengajukan ke persidangan Mukim. Ketidaksetujuan para pihak
yang berperkara mengenai hasil putusan damai tersebut, juga
harus dinyatakan dalam surat penetapan putusan. Kemudian,
berdasarkan surat penetapan tersebut, kasus itu apat diajukan ke
persidangan Mukim. Setuju atau tidak, putusan perdamaian tetap
dibacakan oleh Keuchik dan diminta kepada para pihak untuk
menandatangani akta perdamaian serta melaksanakan isi putusan
itu dengan sungguh-sungguh.
Salinan putusan damai tersebut, selain disimpan sebagai
arsip di kantor Keuchik atau di kantor Mukim, juga diberikan
kepada masing-masing pihak yang berselisih. Setelah salinan
tersebut disepakati dan diterima oleh para pihak yang berselisih,
maka pada pertemuan berikutnya, putusan tersebut akan
dieksekusikan melalui suatu upacara perdamaian. Kepada salah
satu pihak, atau kedua belah pihak akan dikenakan sanksi yang
berat atau yang ringan bergantung pada jenis pelanggaran atau
pidana adat yang dilakukan. Pelaksanaan eksekusi tersebut

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 207


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

dilakukan melalui upacara perdamaian dengan membebankan


sesuatu kepada para pihak yang berselisih yang bergantung pada
keputusan. Terhadap sengketa yang telah diputuskan dan telah
diterima, pelaksanaan eksekusinya dilakukan di Meunasah di
depan umum, atau di tempat lain seperti di mesjid atau di rumah
dan atas persetujuan bersama. Putusan damai yang telah
ditetapkan selanjutnya dicatat dalam buku induk registrasi
sengketa yang memuat: Nomor, tanggal pelaporan dan nama
pelapor, jenis pelanggaran, uraian singkat pokok pelanggaran,
tanggal penyelesaiannya, dan uraian singkat putusan perdamaian.
Penyelesaian kasus yang bersifat pidana
Prosedur pelaksanaan persidangan adat terhadap
pelanggaran pidana adat, sebenarnya hampir sama dengan
prosedur penyelesaian sengketa perdata. Perbedaannya terletak
pada awal tindakan guna menghindari sengketa yang lebih berat.
Tindakan awal dimaksud adalah memberi pengamanan
secepatnya melalui pemberian perlindungan kepada para pihak
seperti: mengamankan pihak pelaku di suatu tempat yang
dirahasiakan; jika korbannya perempuan dan anak, maka
diamankan di rumah salah seorang pemangku adat; jika kasusnya
kekerasan terhadap perempuan dan anak, istri pemangku adat
untuk melakukan penanganan awal, mengkondisikan para pihak
yang bersengketa untuk berdamai, dan secara proaktif
menghubungi berbagai pihak.
Kodifikasi Qanun Lembaga Adat
Kodifikasi atau pembukuan bahan-bahan hukum, biasanya
dilakukan pada sejumlah aturan yang berkaitan dengan aspek
kepastian hak atas dasar hukum. Kodifikasi lebih dilihat sebagai
upaya untuk menghimpun materi hukum tertentu seperti hukum
perdata, pidana, dagang, hukum acara perdata, pidana, dan
hukum acara perdata internaional, yang masing-masing harus
terhimpun dan tersusun secara sistematis dalam kitab undang-

208 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

undang24. Relevansi dengan pemahaman ini, sejak tahun 2000


hingga 2008, pemerintah Aceh, telah menetapkan suatu aturan
yang berkaitan dengan adat sebanyak tiga kali. Adapun aturan
yang telah ditetapkan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel 1: Peraturan Daerah/Qanun Aceh
Nomor dan Tahun Peraturan Isi Aturan
Daerah/Qanun
Peraturan Daerah Nomor. 7 Penyelenggaraan Kehidupan Adat
Tahun 2000 (Peraturan Daerah ini kemudian sudah
dihapus dan diganti dengan Qanun Nomor
9 Tahun 2008
Qanun Aceh Nomor. 9 Tahun Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat
2008 Istiadat
Qanun Aceh Nomor 10 Tahun Lembaga Adat.
2008

Kodifikasi aturan yang berkaitan dengan adat, lazimnya


secara teori tidak pernah dibukukan secara sistematis, apalagi
disahkan oleh penguasa secara resmi. Hukum adat atau Peradilan
Adat umumnya dibiarkan hidup dan berkembang sesuai dengan
kondisi masyarakat setempat dan diakui sebagai bagian dari
sistem hukum nasional. Pengkodifikasian aturan adat secara
sistematis, berdasarkan penjelasan dari kedua qanun tersebut
adalah sebagai upaya pelestarian adat yang dilaksanakan oleh
setiap generasi sehingga dapat memahami nilai-nilai adat dan
budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Peradilan Adat dalam Sistem Peradilan Nasional
Secara yuridis, lembaga peradilan di Indonesia dikenal ada
empat, Peradilan Umum, Peradilan Agama atau Mahkamah
Syariyah, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara.
Suatu hal yang menarik di Aceh, bahwa lembaga peradilan di
Aceh dijumpai tidak hanya ada empat, justru berdasarkan
pengamatan penulis sejak tahun 2009 hingga 2011, paling tidak

24
Imam Syaukani, Karateristik Politik Hukum, h. 13.

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 209


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

bertambah dua lagi lembaga peradilan yang bukan lembaga resmi


pemerintah berdasarkan Undang-Undang Nomor. 4 Tahun 2004,
Pasal 10. Kedua lembaga pradilan dimaksud adalah Peradilan
Adat, dan Peradilan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU)
terhadap pembawa aliran sesat.
Munculnya Peradilan Adat di Aceh, hampir bersamaan
dengan munculnya sejumlah aturan yang mengatur tentang
pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Setidaknya ada lima aturan
yang berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sebagaimana
tabel berikut ini:
Tabel 2: Qanun Aceh tentang Pelaksanaan Syariat Islam
Nomor dan Tahun Qanun Isi Qanun
Qanun Aceh Nomor 11 Tahun Pelaksanaan Syariat Islam bidang
2002 Aqidah, Ibadah dan Syiar Islam
Qanun Aceh Nomor 12 Tahun Larangan Minuman Keras
2003
Qanun Aceh Nomor 13 Tahun Larangan Perjudian
2003
Qanun Aceh Nomor 14 Tahun Larangan Khalwat atau Mesum.
2003
Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2004 Pengelolaan Zakat

Sejak awal penegakan qanun tersebut sekitar tahun 2006


hingga 2008, Mahkamah Syariyah paling disibukkan dengan
proses persidangan dan penyelesaian serta penetapan terhadap
para pelanggar Qanun Nomor 12, 13, dan 14. belakangan, sejak
tahun 2009 hingga sekarang, frekuensi penyelesaian melalui
Mahkamah Syariyah terhadap pelanggaran qanun tersebut
mengalami penurunan drastis. Salah satunya berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan banyak kasus pelanggaran diselesaikan
melalui Peradilan Adat pada masing-masing tempat terjadinya
pelanggaran tersebut (locus delicti).

210 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

Tabel 3: Perkara Jinayah di Mahkamah Syariyah se-Aceh Tahun


2005-2009
Jenis Tahun
No Jumlah
Kasus 2005 2006 2007 2008 2009
1 Khamar 20 21 13 10 10 74
2 Maisir 79 31 18 35 43 206
3 Khalwat 8 23 27 5 5 68
Jumlah 107 75 58 50 58 348
Sumber Data : Dokumen Mahkamah Syariyah Provinsi Aceh Tahun 2010

Tabel 4: Putusan Mahkamah Syariyah yang belum dieksekusi Jaksa


Tahun 2006-2009
Wilayah Tahun
Hukum Jenis Jenis
No
Mahkamah Pelanggaran 2006 2007 2008 2009 Uqubat
Syariyah
Maisir 3 6 14 6 Cambuk
1 Bireuen Khamar
Khalwat
Maisir
Kuala
2 Khamar
Simpang
Khalwat 1 Cambuk
Cambuk/
Maisir 7 6
Lhokseuma denda
3
we Khamar
Khalwat 1 cambuk
Maisir
Khamar
4 Sabang
Cambuk/
Khalwat 1
denda
5 Meulaboh Maisir 3 Cambuk/

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 211


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

denda
Khamar
Khalwat
Maisir
6 Banda Aceh Khamar
Khalwat 1 Cambuk
Maisir 4 Cambuk
7 Tapaktuan Khamar
Khalwat 1 Cambuk
Maisir 2 Cambuk
8 Kutacane Khamar
Khalwat
Sumber Data : Dokumen Mahkamah Syariyah Provinsi Aceh Tahun 2010

Saat ini, pengakuan atas keberadaan Peradilan Adat secara


keseluruhan daerah atau wilayah belum jelas pengakuannya oleh
negara. Di satu pihak, masih ditemukan tidak adanya pengakuan
atas keberadaannya, tetapi di pihak yang lain masih ditemukan
adanya pengakuan atas keberadaannya25. Meskipun demikian, jika
dianalisis sistem politik hukum unifikasi yang dipraktikkan di
Indonesia bahwa menata sistem hukum nasional yang
menyeluruh dan terpadu dengan mengakui dan menghormati
hukum agama dan hukum adat, dan bahan baku pembentukan
hukum nasional, tidak dapat lagi dipahami demikian, melainkan
lebih dari itu, kedua sistem hukum itu diakui keberadaannya dan
dapat saja diberlakuka secara positif bila masyarakat
menghendakinya.
Selain itu, meskipun bidang peradilan merupakan
kewenangan pusat, realitas menunjukkan sebaliknya.
Pemahaman tentang peradilan hanya sebatas hierarki proses
peradilannya bukan materi hukumnya, namun di sisi lain
Pemerintah Pusat mengisyaratkan dan memberi wewenang
kepada daerah untuk mencari penyelesaian-penyelesaian
25
Anonimos, Sistem Peradilan Adat dan Lokal , h. 50.

212 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

sengketa hukum alternatif yang diharapkan lebih sesuai dengan


rasa keadilan masyarakat. Dari argumen tersebut dapat dijelaskan
bahwa meskipun keberadaan Peradilan Adat Aceh tidak diakui
secara formal, kedudukannya dalam menyelesaikan sengketa di
tengah masyarakat diakui oleh Pemerintah.

MASA DEPAN PERADILAN ADAT DI ACEH


Peradilan Adat di Aceh merupakan peradilan yang
menyelesaikan berbagai sengketa yang terjadi di kalangan
masyarakat Aceh, baik sengketa perdata maupun sengketa pidana
adat yang dilakukan dengan pendekatan musyawarah dan
bertujuan damai. Secara yuridis, keberadaan Peradilan Adat ini
sangat jelas dasar hukumnya untuk memberikan pelayanan
penyelesaian sengketa hukum dengan tidak mencari siapa yang
menang atau kalah; Tidak mencari siapa yang salah dan siapa
yang benar, tetapi justru melalui peradilan ini diupayakan untuk
menutup potensi negatif dari kedua belah pihak.
Walaupun secara teknis, penyelenggaraan Peradilan Adat
ini sangat sederhana, keberadaan para tokoh kampung akan
memberikan dorongan bagi tegaknya keadilan yang dapat
diterima oleh para pihak yang berselisih yang disertai dengan
menghapuskan rasa dendam dari masing-masing pihak keluarga
dan masyarakat Aceh. Demikian juga pelaksanaan proses
persidangannya terihat sangat praktis dengan mengambil tempat
di musalah dan dapat diikuti oleh masyarakat umum.
Pengkodifikasian Peradilan Adat dalam suatu aturan yang
mengikat sebenarnya akan memberikan ruang gerak yang kaku
bagi Peradilan Adat itu sendiri, apalagi jika dalam aturan tersebut
terjadi benturan, baik dari segi substansi maupun dari segi
hierarki perundang-undangan.
Secara formal keberadaan Peradilan Adat di Aceh, termasuk
juga diwilayah lainnya di NKRI ini, tidak diakui secara tegas dalam
suatu peraturan perundang-undangan, namun pada praktiknya,

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 213


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

keberadaan peradilan tersebut tidak dinyatakan tidak sah


terhadap berbagai putusan yang telah dilakukan oleh para
fungsionaris Peradilan Adat di Aceh. Dengan demikian, Peradilan
Adat di Aceh, walaupn tidak diakui sebagai lembaga peradilan
resmi pemerintah, secara defacto diakui dan bahkan secara
perlahan dan pasti, di beberapa daerah praktik Peradilan Adat
terus saja memberikan kenyamanan bagi penduduk setempat
dalam menyelesaikan sengketa sesuai dengan kebiasaan masing-
masing masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahaman, Peradilan Adat di Aceh sebagai Sarana Kerukunan
Masyarakat, Banda Aceh: Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh,
2009.
Anonimos, Sistem Peradilan Adat dan Lokal di Indonesia; Peluang dan
Tantangan, diterbitkan oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
(AMAN) dengan Dukungan dari Patnership for Governance
Reform, 2003.
Anonimos, Pedoman Peradilan Adat Aceh, Banda Aceh: Majelis Adat
Aceh (MAA) Provinsi Aceh, 2008.
Ismail, Badruzzaman, Masjid dan Adat Meunasah Sebagai Sumber Energi
Budaya Aceh, Banda Aceh: Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam, 2007.
Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan
Adat Istiadat, disahkan di Banda Aceh, pada tanggal 31 Desember
2008, bertepatan 3 Muharram 1430 H. Lembaran Daerah Nanggroe
Aceh Darussalam Tahun 2008, Nomor 09.
Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 4 Tahun 2003
tentang Pemerintahan Mukim dalam Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam.
Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 5 Tahun 2003
tentang Pemerintahan Gampong dalam Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam;

214 Hunafa: Jurnal Studia Islamika


Mahdi, Eksistensi Peradilan Adat

Rasyada, Amrena, Kedudukan Peradilan Adat Aceh dalam Sistem


Peradilan Nasional, Skripsi tidak diterbitkan, Lhokseumawe:
STAIN Malikussaleh, 2010.
Salim, Arskal, Pluralisme Hukum di Indonesia: Keberadaan Hukum
Islam dalam Peraturan Perundang-Undangan Nasional dalam
HARMONI Jurnal Multikultural dan Multireligius, Vol. VII, No. 28,
(Oktober-Desember, 2008).
Syaukani, Imam, Karakteristik Politik Hukum Nasional dalam
HARMONI Jurnal Multikultural dan Multireligius, Volume VII,
Nomor 28, Oktober-Desember 2008.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan
Keistimewaan Aceh.

Hunafa: Jurnal Studia Islamika 215


Vol. 8, No.2, Desember 2011: 189-215

216 Hunafa: Jurnal Studia Islamika