Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

1) KOLITIS

Kolitis adalah suatu peradangan akut atau kronik pada kolon

Kolon memiliki berbagai fungsi, yang terpenting adalah absorbsi air dan

elektrolit. Ciri khas dari gerakan usus besar adalah pengadukan haustral.

Gerakan meremas dan tidak progresif ini menyebabkan isi usus bergerak

bolak balik, sehingga memberikan waktu untuk terjadinya absorbsi.

Peristaltik mendorong feses ke rectum dan menyebabkan peregangan

dinding rectum dan aktivasi refleks defekasi. Banyaknya bakteri yang

terdapat di dalam kolon berfungsi mencerna beberapa bahan dan

membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam kolon juga berfungsi

membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk

fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa

menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar.

Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan

air sehingga terjadilah diare.

1
2) GASTROENTERITIS

Penyakit diare (Gastroenteritis) hingga saat ini masih menjadi

masalah di Indonesia. Padahal berbagai upaya penanganan, baik secara

medik maupun upaya perubahan tingkah laku dengan melakukan

pendidikan kesehatan terus dilakukan. Namun upaya-upaya tersebut belum

memberikan hasil yang menggembirakan. Setiap tahun penyakit ini

menduduki peringkat atas,khususnya di daerah-daerah miskin (Astuti

MSA, 2005). Diare menyerang siapa raja tanpa kenal usia. Diare yang

disertai gejala buang air terus-menerus, muntah dan kejang perut kerap

dianggap bisa sembuh dengan sendirinya, tanpa perlu pertolongan media.

Memang diare jarang sekali yang berakibat kematian, tapi bukan berarti

bisa dianggap remeh. Penyakit yang juga populer dengan nama muntah

berak, alias muntaber ini bisa dikatakan sebagai penyakit endemis di

Indonesia, artinya terjadi secara terusmenerusdi semua daerah, baik di

perkotaan maupun di pedesaan, khususnya di daerah-daerah miskin. Di

kawasan miskin tersebut umumya penyakit diare dipahami bukan sebagai

penyakit klinis, sehingga cara penyembuhannya tmelalui pengobatan

medik (Sonata, 2000). Kesenjangan pemahaman semacam ini merupakan

salah satu penyebab penting yang berakibat pada lambatnya penurunan

angka kematian akibat diare.

2
1.2 RUMUSAN MASALAH

2. Apa pengertian gastroenteritis dan kolitis?

3. Apa penyebab gastroenteritis dan kolitis?

4. Apa tanda dan gejala gastroenteritis dan kolitis?

5. Apa saja klasifikasi gastroenteritis dan kolitis?

6. Apa pemeriksaan diagnostik gastroenteritis dan kolitis?

7. Apa komplikasi gastroenteritis dan kolitis?

8. Apa penatalaksanaan medik gastroenteritis dan kolitis?

9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada gastroenteritis dan kolitis?

10. Bagaimana cara menghitung skala dehidrasi?

1.3 TUJUAN

2. Mengetahui pengertian gastroenteritis dan kolitis

3. Mengetahui penyebab gastroenteritis dan kolitis

4. Mengetahui tanda dan gejala gastroenteritis dan kolitis

5. Mengetahui saja klasifikasi gastroenteritis dan kolitis

6. Mengetahui pemeriksaan diagnostik gastroenteritis dan kolitis

7. Mengetahui komplikasi gastroenteritis dan kolitis

8. Mengetahui penatalaksanaan medik gastroenteritis dan kolitis

9. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada gastroenteritis dan kolitis

3
10. Mengetahui cara menghitung skala dehidrasi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Gastroenteritis adalah buang air besar (defekasi dengan tinja berbentuk

cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari

biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai criteria

frekuensi,yaitu buang air encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar tersebut

dapat/tanpa disretai lender dan darah (Sudoyo, 2007)

Kolitis adalah radang pada kolon. Radang ini disebabkan akumulasi

cytokine yang mengganggu ikatan antar sel epitel sehingga menstimulasi sekresi

kolon, stimulasi sel goblet untuk mensekresi mucus dan mengganggu motilitas

kolon. Mekanisme ini menurunkan kemampuan kolon untuk mengabsorbsi air dan

menahan feses ( Tilley et al, 1997).

2.2 ETIOLOGI

Gastroenteritis

Bakteri
Bakteri noninvansif (enterotoksigenik)
Bakteri enteroinvansif
Virus
Parasit
Kolitis

4
Infeksi

Faktor familial/genetik

Trauma : benda asing, material yang bersifat abrasif.

Alergi : protein dari pakan atau bisa juga protein bakteri.

Inflamasi : Lymphoplasmacytic, eoshinophilic, granulopmatous,

histiocytic

2.3 MANIFESTASI KLINIS

Gastroenteritis

Haus

Lidah kering

Turgor kulit menurun

Nadi meningkatb

Keringat dingin

Muka pucat

Mual, muntah

Demam

Nyeri perut/kejang perut

Kolitis

Anemia
Fatigue/ Kelelahan

5
Berat badan menurun
Hilangnya nafsu makan
Hilangnya cairan tubuh dan nutrisi
Buang air besar beberapa kali dalam sehari (10-20 kali sehari)
Rasa tidak enak di bagian perut.
Mendadak perut terasa mulas.
Kram perut.
Rasa sakit yang hilang timbul pada rectum
Anoreksia
Dorongan untuk defekasi

2.4 KLASIFIKASI

Gastroenteritis

a. Lama waktu diare:

Akut : Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15

hari.sedangkan menurut World Gastroenterologi Organisation global

guidelines 2005, diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang

cair/ lemak dengan lebih banyak dari normal,berlangsung kurang dari

14 hari. (Sudoyo,2007:408)
Kronik : Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15

hari. Sebenarnya para pakar di dunia telah mengajukan beberapa

kreteria mengenai batasankronik pada khasus diare tersebut,ada yang

15 hari, 3 minggu 1 bulan dan 3 bulan,tetapi di Indonesia dipilih

waktu lebih15 hari agar dokter tidak lengah, dapat lebih cepat

menginvestigasi penyebab diare dengan lebih tepat.

(Sudoyo,2007:408)

6
b. Mekanisme patofisilogik:

Osmotik : diindikasikan dengan adanya faktor malabsorpsi akibat

adanya gangguan absorpsi karbohidrat, lemak, atau protein, dan

tersering adalah malabsopsi lemak. (Mansjoer,2001:502)

Sekretorik : terdapat gangguan transport akibat adanya perbedaan

osmotik intralumen dengan mukosa yang besar sehingga terjadi

penarikan cairan dan elektrolit ke dalam lumen usus dalam jumlah

besar. (Mansjoer,2001:502)

Kolitis

a. Kolitis infeksi, misalnya : shigelosis, kolitis tuberkulosa, kolitis amebik,

kolitis pseudomembran, kolitis karena virus/bakteri/parasit.


b. Kolitis non-infeksi, misalnya : kolitis ulseratif, penyakit Crohns kolitis

radiasi, kolitis iskemik, kolitis mikroskopik, kolitis non-spesifik (simple

colitis).

7
8
2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Gastroenteritis

pemeriksaan darah lengkap

pemeriksaan urine lengkap

pemeriksaan tinja lengkap

pemeriksaan sediaan darah malaria serta serologi Helicobacter Jejuni

sangat dianjurkan

Pemeriksaan darah 5 darah perifer lengkap, analisis gas darah (GDA) &

elektrolit (Na, K, Ca, dan P serum yang diare disertai kejang)

Kolitis

feses (pemeriksaan digunakan dalam diagnosa awal dan selama penyakit):

terutama mengandung mukosa, darah, pus dan organisme usus khususnya

entomoeba histolytica.
Protosigmoidoskopi: memperlihatkan ulkus, edema, hiperermia,

dan inflamasi (akibat infeksi sekunder mukosa dan submukosa). Area

yang menurun fungsinya dan perdarahan karena nekrosis dan ulkus terjadi

pada 35 % bagian ini.


Sitologi dan biopsy rectal membedakan antara pasien infeksi

dan karsinoma. Perubahan neoplastik dapat dideteksi, juga karakter

infiltrat inflamasi yang disebut abses lapisan bawah.


Enema bartum, dapat dilakukan setelah pemeriksaan visualisasi

dilakukan, meskipun jarang dilakukan selama akut, tahap kambuh, karena

dapat membuat kondisi eksasorbasi.

9
Kolonoskopi: mengidentigikasi adosi, perubahan lumen dinding,

menunjukkan obstruksi usus.


Kadar besi serum: rendah karena kehilangan darah. Masa protromlain:

memanjang pada kasus berat karena gangguan faktor VII dan X

disebabkan oleh kekurangan vitamin K.


ESR: meningkat karena beratnya penyakit Trombosis: dapat terjadi karena

proses penyakit inflamasi.


Elektrolit: penurunan kalium dan magnesium umum pada penyakit berat.

2.6 KOMPLIKASI

Gastroenteritis

1. Disritmia jantung akibat deplesi elektrolit yang berlebih. (Smetlzer, 2001).

2. Syok akibat terjadinya dehidrasi yang berlanjut hingga gangguan serius

pada status serkulasi (Wong, 2008).

Kolitis

Tukak. Apabila peradangan yang terjadi dalam jangka waktu yang cukup

lama atau kronis, bisa mengakibatkan munculnya tukak pada sistem

pencernaan Anda, seperti pada mulut, usus halus dan juga anus.

Fistula. Tukak yang sudah dalam hingga membentuk lubang pada dinding

saluran pencernaan akan menyebabkan fistula. Fistula adalah koneksi

abnormal antara beberapa bagian tubuh misalnya usus dengan organ lain

menjadi terhubung. Fistula akan mengganggu pencernaan dan penyerapan

makanan. Fistula bisa terinfeksi dan bisa membahayakan jika tidak

ditangani dengan benar.

10
Obstruksi usus. Penyakit Crohn bisa memengaruhi ketebalan dinding

usus. Akibatnya, penyaluran hasil pencernaan makanan bisa tertutup.

Untuk mengangkat bagian yang bermasalah, akan diperlukan prosedur

operasi.

Kanker kolon (usus besar). Risiko Anda terkena kanker kolon akan

meningkat ketika penyakit Crohn memengaruhi usus besar. Bagi penderita

penyakit Crohn, disarankan melakukan prosedur kolonoskopi secara

teratur.

Fisura ani. Munculnya luka robek pada jaringan di sekitar dinding anus

atau pada kulit di sekitar anus. Luka ini bisa menjadi lokasi munculnya

infeksi. Anda akan merasakan sakit dan pendarahan saat buang air besar.

Malanutrisi. Tubuh akan kesulitan menyerap nutrisi karena munculnya

peradangan yang terjadi dan gejala seperti mual dan diare. Kondisi yang

sering terjadi pada penderita radang usus adalah defisiensi zat besi dan

vitamin B12.

Efek samping obat-obatan. Obat-obatan untuk penyakit Crohn yang

berfungsi menghalangi kinerja sistem kekebalan tubuh berisiko

menyebabkan kanker limfoma dan kanker kulit. Kortikosteroid juga

berisiko menyebabkan kerapuhan tulang, katarak, glaukoma, dan kadar

gula tinggi.

11
2.7 PENATALAKSANAAN MEDIS

Penggantian cairan intra vena

Pemberian suplemen nutrisi harus diberikan segera pada pasien mual muntah.

Antibiotik yang diberikan pada pasien dewasa adalah cifrofloksasin 500mg.

Pemberian metronidazole 250-750mg selama 5-14 kali.

Pemberian obat anti diare yang dikomendasikan antibiotic

Obat antiemetic yang digunakan pada pasien yang muntah dengan dehidrasi

2.8 SKALA DEHIDRASI

Derajat Dehidrasi Metode Pierce :

Gejala Derajat Dehidrasi


Minimal ( <3% dari Ringan Sedang ( < 3-
Berat ( > 9% dari berat badan )
berat badan ) 9% dari berat badan )
Normal, lemas,atau
Status Mental Baik, sadarpenuh Apatis, letargi,tidak sadar
gelisah,iritabel
Minum normal mungkin Sangat haus, sangat ingin
Rasa haus Tidak dapat minum
menolak minum minum
Denyut Jantung Normal Normal Meningkat Takikardi, pada kasus berat bradikardi
Kualitas denyut nadi Normal Normal Menurun Lemah atau tidak teraba
Pernapasan Normal Normal Cepat Dalam
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Mulut dan Lidah Basah Kering Pecah pecah
Air mata Ada Menurun Tidak ada
Turgor kulit Baik < 2 detik > 2 detik
Isian Kapiler Normal Memanjang Memanjang Minimal
Ektermitas Hangat Dingin Dingin
Output Urin Normal Menurun Menurun Minimal

Metode Pierce :

1. Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan = 5% x Berat badan (kg)

2. Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan = 8% x Berat badan (kg)

3. Dehidrasi berat, Kebutuhan cairan = 10% x Berat badan (kg)

12
Metode Daldiyono Berdasarkan Skor Klinis

Tabel Skor Penilaian Klinis Dehidrasi Skor Klinis


Rasa hasus/ muntah 1
Tekanan Darah sistolik 60 -90 mmHg 1
Tekanan darah sistolik <60 mmHg 2
Frekuensi nadi > 120 x/menit 1
Kesadaran apati 1
Kesadaran somnolen, spoor atau koma 2
Frekuensi napas > 30x/ menit 1
Facies Cholerica 2
Vox Cholerica 2
Turgor kulit menurun 1
Washer womans hand 1
Ekstremitas dingin 1
Sianosis 2
Umur 50 60 tahun -1
Umur > 60 tahun -2

BAB III

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN
a. Identitas klien
b. Riwayat keperawatan
Awal serangan : gelisah, suhu tubuh meningkat, anoreksia kemudian

timbul diare.
Keluhan utama : feses semakin cair, muntah, bila kehilangan banyak air

dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi, berat badan menurun. Pada bayi

ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir

mulut dan bibir kering, frekuensi BAB lebih dari 4 kali dengan

konsistensi encer.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

13
d. Riwayat psikososial keluarga
e. Kebutuhan dasar
Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali

sehari, BAK sedikit atau jarang.


Pola Nutrisi : diawali dengan muntah, mual, anoreksia, menyebutkan

penurunan berat pada pasien.


Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen

yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.


Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya

nyeri akibat distensi abdomen.


f. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran

composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah,

pernafasan agak cepat.


Pemeriksaan sistematik :
1) Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan

bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.


2) Perkusi : adanya distensi abdomen
3) Palpasi : turgor kulit kurang elastis
4) Auskultasi : terdengarnya bising usus
5) Pemeriksaan tumbuh kembang
6) Pemeriksaan penunjang

3.2 ANALISA DATA

No. DATA ETIOLOGI PROBLEM


1. DS : klien mengatakan BAB Peningkatan Diare

10x/hari peristaltik
DO:

14
Badan klien terlihat

lemas
BAB cair
Wajah klien tampak

pucat
Terdapat bakteri pada

fesesnya
2. DS: klien mengatakan lemas Kehilangan Kekurangan volume
DO:
Penurunan turgor cairan & cairan

kulit elektrolit
Penurunan pengisian

kapiler
Kulit dan membran

mukosa kering
BAB cair 8x/hari
3. DS: klien mengatakan nafsu Pengeluaran Ketidakseimbangan

makan menurun substansi nutrisi kurang dari


DO:
KU lemah nutrien brsama kebutuhan
BB turun 2 kg
1 porsi makan hanya feses

habis porsi
Klien tampak kurus
Mual dan muntah

3.3 Diagnosa Keperawatan


Diare b/d peningkatan peristaltik
Kekurangan volume cairan b/d Kehilangan cairan & elektrolit
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d Pengeluaran

substansi nutrien bersama feses

3.4 Intervensi
1) Diare b/d peningkatan peristaltik

15
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x 24 jam

diharapkan diare pasien terkontol


Kriteria Hasil :
penurunan frekuensi defekasi,
konsistensi kembali normal,
wajah tampak segar
badan klien tidak lemas

Intervensi :
1. Observasi dan catat frekuensi defekasi, karakteristik, jumlah, dan

faktor pencetus.
R/ Membantu membedakan penyakit individu dan mengkaji

beratnya episode
2. Identifikasi makanan dan cairan yang mencetuskan diare
R/ menghindari iritan dan mengistirahatkan usus
3. Tingkatkan tirah baring
R/ Istirahat menurunkan motilitas usus juga menurunkan laju

metabolisme bila infeksi atau perdarahan sebagai komplikasi.


4. Mulai lagi pemasukan cairan per oral secara bertahap
R/ Memberikan istirahat kolon dengan menghilangkan atau

menurunkan rangsang makanan/ cairan

2) Kekurangan volume cairan b/d Kehilangan cairan & elektrolit


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan ... x 24 jam terjadi

peningkatan keseimbangan cairan


Kriteria Hasil :
Turgor kulit baik
Pengisian kapiler baik
Kulit dan membran mukosa lembab
Klien tidak lemas

Intervensi :
1. Observasi intake dan output cairan
R/ mengetahui adanya dehidrasi pada klien
2. Monitor tanda-tanda vital
R/ mengetahui perkembangan klien lebih lanjut
3. Bantu dalam melakukan oral hygiene
R/ menurunkan membran mukosa
4. Ajarkan banyak minum
R/ menambah intake cairan

16
5. Ajarkan pasien tentang penyebab dan cara mengatasi kekurangan

volume cairan, yaitu:


Penyebab : berhubungan dengan penyakit, kekurangan volume

cairan bisa disebabkan karena terjadinya kehilangan cairan dan

elektrolit secara berlebih. Akhirnya mengakibatkan kekurangan

volume cairan.
Cara mengatasi : banyak minum dan menjaga oral hygiene

agar kekeringan membran mukosa menurun.


6. Kolaborasi pemberian cairan IV dan anti diare
R/ menggantikan cairan yang terbuang

3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d Pengeluaran

substansi nutrien brsama feses


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan . . . x 24 jam

tidak terjadi
kekurangan nutrisi
Kriteria Hasil :
Nafsu makan klien meningkat
Porsi makan habis
Mampu mempertahankan BB
Klien tidak lemas
Intervensi :
1. Kaji intake asupan makan dan minum klien
R/ mengetahui data awal intake dan tindak lanjutnya
2. Kaji penyebab tidak nafsu makan
R/ mengetahui penyebab klien tidak nafsu makan
3. Kaji adanya mual dan muntah
R/ mual muntah sebagai penyebab nutrisi yang kurang
4. Kaji porsi makan yang klien makan
R/ mengetahui intake asupan makan klien
5. Beri makanan dalam porsi sedikit tapi sering
R/ memenuhi kebutuhan nutrisi klien
6. Anjurkan klien untuk makan selagi hangat
R/ meningkatkan nafsu makan klien
7. Motivasi klien untuk meningkatkan asupan makan, dengan cara :
Memotivasi klien untuk menghindari stress. Stress terbukti

merupakan salah satu penyebab utama menurunnya nafsu makan

17
Perbanyak makan buah dan sayuran untuk menimbulkan nafsu

makan
8. Bantu menyuapi pasien
R/ meningkatkan nafsu makan pasien
9. Ciptakan lingkungan bersih
R/ meningkatkan nafsu makan pasien
10. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diit
R/ diit yang tepat dapat mempercepat penyembuhan klien

BAB IV

18
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Gastroenteritis adalah buang air besar (defekasi dengan tinja berbentuk

cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari

biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai

criteria frekuensi,yaitu buang air encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air

besar tersebut dapat/tanpa disretai lender dan darah (Sudoyo, 2007)

Kolitis adalah radang pada kolon. Radang ini disebabkan akumulasi

cytokine yang mengganggu ikatan antar sel epitel sehingga menstimulasi

sekresi kolon, stimulasi sel goblet untuk mensekresi mucus dan mengganggu

motilitas kolon. Mekanisme ini menurunkan kemampuan kolon untuk

mengabsorbsi air dan menahan feses ( Tilley et al, 1997).

4.2 Saran

Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan

saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

19
BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol

2.Jakarta:EGC

Ester, Monica.2002.Keperawatan Medikal-Bedah.Jakarta:EGC

Marliynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta. EGC.

Moorhouse,Dongoes.2000.Rencana Asuhan Keperawatan.Edisi 3.Jakarta:EGC 2.

Smeltzer,Suzanne.2002.keperawatan Medikal Bedah. Volume 2.Edisi 8 .Jakarta

EGC

20