Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Inovasi teknologi dalam Industri perminyakan selalu berkembang pesat
seiring dengan peningkatan iptek, penelitian terus dilakukan dengan tujuan agar
diperoleh teknologi baru yang mendukung operasi dilapangan yang layak secara
teknis, ekonomis dan ramah lingkungan.
Pada umumnya, harapan dari mayoritas drilling engineer terhadap
perkembangan teknologi pemboran adalah tersedianya berbagai macam alat dan
service yang dapat mendukung teknologi rotary drilling conventional, tetapi
perkembangan peralatan tersebut harus dalam bentuk yang lebih kecil dan kuat.
Namun realitanya, akan lebih mudah membuat alat-alat yang lebih kuat tapi
berukuran besar dibandingkan dengan membangun suatu alat yang kuat tapi
dengan ukuran lebih kecil.
Perkembangan teknologi pemboran terus dilakukan untuk memaksimalkan
perolehan minyak dan gas dari suatu sumur. Untuk itu program pemboran yang
efisien dan efektif harus dirancang sebaik mungkin, hingga diharapkan bisa
memenuhi kriteria:
(Low Cost & Low Risk) + High Tech SUCCESS
Salah satu metode baru dalam bidang pemboran yang relatif mampu
memenuhi kriteria tersebut adalah teknologi Coiled Tubing (CT), yaitu suatu
teknologi pemboran yang tidak lagi memerlukan rig dan rangkaian drillpipe,
kemampuan mobilisasi lebih cepat, kebutuhan crew dan peralatan lebih sedikit,
area kerja yang lebih kecil, efektif pada slimhole & re-entry drilling, serta
memberikan kemampuan continuous telemetry jika dibandingkan pada operasi
pemboran rotary konvensional. Dan teknologi ini secara efisien dapat mengurangi
waktu kerja dan biaya, hal yang sangat vital dalam pemboran.
Dorongan untuk melakukan operasi pemboran dengan menggunakan
coiled tubing diantaranya adalah:
2

1. Pressure integrity pada coiled tubing menyebabkan bisa


dilakukannya entry ke sumur yang masih berproduksi, dan efektif
untuk underbalanced drilling.
2. Slimhole capability pada coiled tubing yang memungkinkan untuk
melakukan pemboran re-entry pada sumur dengan diameter kecil <
7 inch.
3. Continuous telemetry, hal ini memungkinkan dilakukannya MWD,
LWD serta monitoring tekanan dan temperatur secara kontinu dan
realtime karena didalam coiled tubing terdapat jaringan electric
wireline yang terhubung langsung dari peralatan permukaan ke
BHA
Dalam pengoperasiannya coiled tubing juga mempunyai limitasi atau
batasan sebagai akibat dari gaya-gaya yang bekerja padanya. Batasan tersebut
meliputi batasan tekanan dan tension, diameter dan keovalan, kelelahan dan
korosi serta batasan lifetime (masa pakai).

1.2 TUJUAN PENULISAN


Tujuan penulisan studi literatur ini untuk mengetahui gambaran terhadap
teknologi pemboran di darat menggunakan teknologi coiled tubing dan aspek-
aspek yang perlu diperhatikan pada proses pengeboran eksplorasi suatu reservoir
menggunakan teknologi coiled tubing tersebut.

1.3 BATASAN MASALAH


Pembahasan materi pada tulisan ini dibatasi pada bahasan operasi dan
penerapan coiled tubing pada pemboran, yang meliputi:
1. Dasar teknologi coiled tubing
Latar belakang, komponen, batasan teknis dan mekanis, serta gaya
yang bekerja pada coiled tubing.
2. Aplikasi coiled tubing pada pemboran
Peralatan, batasan operasi, persiapan dan penerapan coiled tubing
drilling
3

BAB II
TEKNOLOGI COILED TUBING

2.1. LATAR BELAKANG PENGGUNAAN COILED TUBING


Teknologi di dunia industri perminyakan selalu berkembang pesat dengan
berjalannya waktu. Penelitian-penelitian untuk mendapatkan teknologi baru terus
dilakukan, sehingga pada akhirnya akan diperoleh suatu metode dan teknologi
baru yang dapat meningkatkan dukungan terhadap operasi dilapangan. Hal ini
diharapkan mampu memenuhi kriteria low cost karena industri perminyakan tidak
lepas dari kegiatan yang memerlukan investasi dan biaya yang sangat besar, serta
kriteria low risk yang aman dan bersahabat dengan lingkungan.
Coiled tubing merupakan salah satu penemuan baru dan terus mengalami
perkembangan. Pengertian coiled tubing itu sendiri adalah: suatu tubing yang
dapat digulung dan bersifat plastis, terbuat dari bahan baja yang kontinu (tidak
bersambung). Dan teknologi ini sendiri tidak lagi memerlukan rig dan rangkaian
drillpipe, bisa dimobilisasi lebih cepat, membutuhkan crew dan peralatan lebih
sedikit, area kerja yang lebih kecil, sangat efektif pada slimhole & through tubing
re-entry drilling, serta memberikan kemampuan continuous telemetry jika
dibandingkan pada operasi pemboran rotary konvensional. Kelebihan-kelebihan
dari coiled tubing tersebut dapat menjadi pilihan teknologi yang diharapkan dalam
aplikasi terhadap operasi pemboran dilapangan.
Walaupun sebenarnya teknologi coiled tubing drilling ini belum mampu
sepenuhnya menggantikan keberadaan teknologi conventional rotary drilling
namun dalam beberapa hal terbukti penggunaan coiled tubing drilling lebih efektif
untuk digunakan.
2.1.1. SEJARAH COILED TUBING
Coiled Tubing pertama kali di pergunakan dalam perang dunia ke II
didalam operasi PLUTO (Pipe Lines Under The Ocean) sebelum invasi sekutu ke
Normandy pada bulan Juni 1944. Beberapa pipa dengan ID 3 disiapkan untuk
menyeberangi Selat Inggris yang dibuat dari 4000 ft bagian. Pipa tersebut
kemudian dihubungkan satu sama lain dan digulung menjadi gulungan dengan
4

diameter 40 ft. Gulungan ini kemudian diapungkan diair dan ditarik dibelakang
kabel kapal-kapal. Dengan menggunakan drum-drum yang mengapung diair
sebagai pendukung, 23 pipa menghubungkan selat dan digunakan untuk
mensuplai minyak pada serangan sekutu untuk membebaskan Eropa. Dari 23 pipa
yang digunakan, 17 pipa dengan panjang kira-kira 30 mil, dan 6 pipa yang
panjangnya kira-kira 70 mil. Selama 20 tahun kemudian beberapa penemuan yang
dirancang khusus untuk menginjeksikan tubing dengan diameter kecil kedalam
sumur. Injector Head pertama kali dirancang diawal tahun 1960 dengan unit
workover yang pertama kali menggunakan continuous-string light. Injector
Head yang pertama dirancang untuk memasukkan coiled kedalam sumur dan
menariknya setelah operasi selesai. Injector Head ini terdiri dari sistim rantai yang
menjalankan rangkaian Tubing dengan ID 1,315 dan beban permukaan 30.000
lbs.
Coiled tubing injector head dengan sistim baru pertama kali diperkenalkan
pada tahun 1964 yang mempunyai kemampuan menjalankan coiled yang dapat
berlekuk-lekuk. Unit ini dibuat dengan diameter . Unit ini dipergunakan untuk
pembersihan lubang bor baik didarat maupun dilaut. Pada tahun 1967 sebuah versi
yang lebih kecil injector head dengan diameter dikeluarkan oleh NOWSCO.
Pada tahun 1968 coiled tubing sistim dengan diameter dan 8000 lbs
dikeluarkan. Dari tahun 1968-1975 ukuran coiled tubing meningkat jadi 1 dan
dengan menggunakan sistim hidrolik. Dari tahun 1975-1979 banyak peralatan
coiled tubing diperkenalkan dalam industri perminyakan termasuk Uni-Flex,
Hydra Rig dan Otis. Yang mempunyai kualitas dan kemampuan yang lebih baik.
Pengembangan coiled tubing injector head yang mampu mencapai kedalaman
8.500 ft dengan diameter dibuat pada tahun 1985, dan pada tahun ini juga
ditemukan aplikasi coiled tubing untuk logging. Dan sekarang ini, perkembangan
coiled tubing telah mempunyai variasi diameter antara 1 - 7 .
2.1.2. PENGANTAR COILED TUBING
Banyak variasi tipe coiled tubing unit telah dioperasikan di industri migas
sejak tahun 1963. Karena banyaknya kelelahan mekanik pada peralatan ini
menyebabkan teknologi ini tidak populer. Tapi belakangan ini ledakan
5

pengembangan dan teknologi baru terus dilakukan pada setiap area lapangan
minyak, dan itu menjadi awal dari sebuah pengembangan.
Industri coiled tubing terus berkembang seiring investasi dan inovasi yang
terus dilakukan untuk memahami kelakuan coiled tubing. Hasilnya teknologi
coiled tubing telah mengalami kemajuan di beberapa bidang, meliputi
kemampuan motor, peralatan pada BHA, pengembangan drilling fluid serta
peralatan pendukung di permukaan. Coiled tubing drilling sendiri mulai populer
digunakan sejak tahun 1991, diawali dengan project di area Paris Basin, dan
Alaska North Slope yang terbukti berhasil.
Konsep operasi dari coiled tubing sistem adalah suatu sistem continous
string dengan diameter kecil yang dimasukkan kedalam sumur. Pada proses trip
out (dimana kecepatan trip coiled tubing mencapai 70 120 ft/mnt), diameter
tubing yang kecil dan tanpa sambungan ini dapat diangkat dari sumur dan
digulung dalam reel dengan cepat, kemudian bisa dipindahkan ke lokasi lain
dalam waktu yang relatif singkat pula.
Coiled tubing menawarkan beberapa keuntungan lebih daripada
conventional jointed tubing, diantaranya penghematan waktu dan biaya, pressure
integrity yang lebih baik pada sumur yang masih berproduksi, slimhole capability,
continuous telemetry, meminimalkan kerusakan formasi dan aman terhadap
lingkungan disekitar.
2.1. PERALATAN COILED TUBING
Komponen pada sistem coiled tubing meliputi surface equipments dan
subsurface equipments. Berikut akan dibahas lebih lanjut mengenai peralatan
diatas permukaan dan peralatan dibawah permukaan yang digunakan pada operasi
coiled tubing.
2.2.1. PERALATAN DIATAS PERMUKAAN
6

Gambar 2.1
Peralatan Coiled Tubing di Atas Permukaan

Peralatan di atas permukaan yang terdapat dalam operasi pemboran


menggunakan teknologi coiled tubing, meliputi :
a. Tubing Injector Heads
Tubing injector heads didesain untuk tiga fungsi dasar, yaitu :
1. Memberikan daya dorong dan tarikan untuk memasukkan dan
mengeluarkan tubing dari dan kedalam sumur.
2. Menanggulangi gesekan coiled tubing dengan dinding sumur.
3. Untuk mengontrol kecepatan masuk dan keluar coiled tubing, serta
menahan seluruh berat rangkaian coiled tubing.
Tubing dapat diangkat untuk mengetahui kondisi BHA dan keadaan dasar
sumur. Tubing injector head digerakkan rantai menggunakan tenaga contra
rotating hydraulic motor.
7

Gambar 2.2
Tubing Injector Head

Tubing injector heads terdiri dari beberapa komponen, yaitu:


1. Hydraulic motors
Memberikan daya tarik yang diperlukan untuk menggerakkan tubing
keluar maupun masuk ke dalam sumur. Dengan cara mengontrol
tekanan dan flowrate dari fluida hidrolik untuk mengontrol motor,
kecepatan dan energi potensial yang digunakan oleh injector head.
2. Drive chains (rantai)
Terdiri dari mata rantai, gripper blocks dan roller bearings. Pada waktu
terjadi beban pada rangkaian tubing yang disebabkan oleh adanya
gesekan, maka kinerja block ini sangat penting untuk menjamin
effisiensi operasi dari tubing injector head dan menghindari terjadinya
kerusakan mekanik pada tubing.
3. Chain tensioners
Pada waktu tubing dimasukkan ke dalam sumur, beban pada injector
chain bertambah sehingga diperlukan tenaga pada gripper block untuk
mempertahankan daya tarik. Untuk mengatasi hal ini digunakan
tekanan hidrolik pada bagian samping dari sistem chain tensioner.
4. Gooseneck
Gooseneck berbentuk lengkungan yang mempunyai radius
kelengkungan tertentu berfungsi untuk mengarahkan CT string yang
8

berasal dari reel masuk ke injector head melalui bagian atas dari
injector head chains.
5. Weight indicator
Berfungsi untuk menunjukkan besarnya tegangan yang terjadi pada
tubing yang tergantung dalam sumur, termasuk efek yang terjadi
karena tekanan di kepala sumur maupun efek buoyancy. Weight
indicator dapat dijalankan dengan cara hidrolik, elektronik maupun
kombinasi diantara keduanya.
Tabel II. 1
Spesifikasi Injector Head

b. Stripper
Terletak diantara injector dan BOP, berfungsi untuk memberikan tekanan
kecil untuk menutup dan mengerakkan coiled tubing masuk atau keluar
dari sumur sehingga tidak terjadi hubungan antara tekanan sumur dengan
tekanan permukaan. Ketika melakukan pemboran ataupun trip proses,
stripper akan menyegel anulus. Tekanan pada stripper dapat diatur oleh
operator didalam kontrol kabin, dengan minimum working pressure 5000
psi.
c. Coiled Tubing Reel
Coiled tubing reel berfungsi sebagai tempat (wadah) bagi coiled tubing.
Reel terbuat dari baja yang mempunyai diameter tertentu sesuai dengan
ukuran dari coiled tubing. Reel dikendalikan oleh sistem hidrolik yang
dilengkapi dengan peralatan untuk menjaga reel bilamana terjadi
kesalahan mekanik ataupun kesalahan operator. Motor hidrolik
menggerakkan rangkaian reel dengan cara memutar rantai yang
dihubungkan dengan gigi-gigi yang terdapat pada reel. Pada beberapa
9

desain reel terbaru antara motor dan gearbox dibentuk pada satu
rangkaian reel.
Coiled tubing reel juga dilengkapi dengan breaking system untuk menjaga
putaran reel dan control valve dari injector head ketika berada pada posisi
netral. Agar tubing dapat tersusun rapi di reel, maka digunakan mekanisme
levelwind assembly yang membentuk gulungan lebar dan dapat diangkat
untuk ketinggian yang diinginkan pada jalur antara injector tubing guide
dan reel. Levelwind dilengkapi dengan tubing integrity monitor untuk
mengamati kondisi luar coiled tubing.

Gambar 2.3
CT Reel

d. Power Pack
Berfungsi memberikan tenaga untuk operasi dan mengontrol unit coiled
tubing. Umumnya power pack terdiri dari diesel engine sebagai penggerak
untuk mengatur system dan sirkulasi suplai pompa hydraulic dengan
tekanan dan laju aliran yang dikehendaki. Diesel engine dilengkapi dengan
sistem protection untuk menjaga tingkat kebisingan dalam operasi.
Pressure control valve berfungsi untuk membatasi pengaturan dan sistem
tekanan maksimum pada bagian sirkulasi. Fluida dalam sistem hidrolik
harus dijaga agar tetap bersih dengan menggunakan filter disetiap bagian.
e. Control Cabin
Ruangan control console yang berfungsi untuk mengontrol pengoperasian
dan memonitor komponen coiled tubing unit.
f. BOP (Blow Out Preventer)
10

Adalah alat yang mengisolasi tekanan dalam lubang sumur, melindungi


coiled tubing serta mengatasi pada saat terjadi situasi darurat (blow out).
Pemilihan BOP yang digunakan pada sistem coiled tubing ini
mempertimbangkan faktor diameter lubang sumur, biasanya digunakan
Quad BOP ataupun Dual BOP.

Gambar 2.4
BOP
Untuk melakukan pengontrolan sumur pada operasi coiled tubing,
dibutuhkan komponen berikut untuk menghubungkan, memonitor, dan
mengoperasikan pressure-controlled equipments, yaitu:
Kill line, untuk jalur memasukkan killing fluid ke annulus
Choke line, menyalurkan tekanan ke choke manifold
Choke manifold, mengontrol tekanan sumur selama fasa kritis pemboran
(sep: menjaga tekanan pemboran ketika underbalance)
Mud return line, jalur keluarnya fluida pemboran
Mud spool/ riser, penghubung/ penyambung antara BOP dengan injector
head dan menyediakan jalur outlet lumpur ke pit.
11

Gambar 2.5
CT Unit BBP Well Service

2.2.2. PERALATAN DIBAWAH PERMUKAAN

Gambar 2.6
Wireline BHA dan MWD BHA

Spesifikasi peralatan di bawah permukaan yang digunakan dalam suatu


operasi coiled tubing memiliki perbedaan khusus tergantung dengan jenis
pekerjaan atau aplikasi yang dilakukan menggunakan coiled tubing tersebut.
12

Peralatan di bawah permukaan yang harus tersedia dalam operasi coiled


tubing adalah :

a. Connector
Berfungsi untuk menghubungkan bermacam-macam peralatan bawah
permukaan dengan ujung dari coiled tubing.
b. Check Valve
Dihubungkan dengan connector yang berada pada ujung dari coiled tubing
yang berfungsi untuk mencegah masuknya aliran balik fluida sumur ke dalam
coiled tubing.
c. Swivel Joint
Digunakan untuk menyusun agar peralatan peralatan bawah permukaan
dapat dirangkaikan secara berurutan dan dapat digerakkan atau diputar. Dapat
dilihat pada.
d. Release Joint
Berfungsi untuk melepas string kerja coiled tubing string, metoda yang
digunakan adalah:
Tension-Active Release Joint
Dengan menganggap sebagian sebuah titik lemah di dalam tool string sebelum
mengakibatkan beberapa kerusakan dalam tool string retrieve atau coiled
tubing, menggunakan shear pin atau screw.
Pressure-Active Release Joint
Digerakkan dengan menggunakan tekanan yang melewati coiled tubing,
kemudian berbalik dengan menggunakan perbedaan tekanan didalam dan
diluar coiled tubing, ini menggunakan semacam bola didalamnya.
e. Debris filter
Digunakan bersama dengan peralatan peralatan Coiled Tubing di bawah
permukaan yang lain dan sangat peka sebagai penyaring material-material tertentu
yang berukuran kecil.
f. Nozzle dan Jetting Subs
Salah satu bagian sirkulasi yang pada ujungnya memiliki ukuran yang
relatif kecil dibanding pada bagian lain. Dengan demikian pada bagian yang lebih
13

kecil pancaran fluidanya akan lebih keras. Biasanya digunakan untuk


membersihkan scale yang lunak.
g. Centralizer
Adalah suatu peralatan bawah permukaan yang berfungsi untuk :
Menjaga agar peralatan coiled tubing tetap ditengah-tengah lubang bor.
Mencegah rintangan dalam lubang bor.
Meminimalkan distorsi
Memeberikan stabilitas ketika operasi pemboran
Memeberikan tempat untuk aliran fluida.
h. Jars
Suatu alat yang menghasilkan sebuah efek kejut (sentakan) ke atas
terhadap pipa di bawah jars bila terjadi stuck (jepitan), dapat dilihat pada.
Tipe Jars :
Tenaga mekanik
Tenaga hidrolik
Fluida (imopact drill)
i. Accelerator
Alat ini digunakan bersama-sama dengan jars dalam operasi pemancingan.
Masing-masing aplikasi diatas memiliki susunan BHA yang sangat
spesifik disesuaikan dengan jenis dan objektif dari pekerjaan yang dilakukan
tersebut.
2.3. FAKTOR FAKTOR PENTING PADA COILED TUBING
Pada sumur vertikal, berat coiled tubing yang dimasukkan atau
dikeluarkan dari sumur dapat ditentukan dengan mengetahui berat coiled tubing
persatuan panjang untuk selanjutnya dihitung berat coiled tubing yang
menggantung didalam sumur, kemudian dilakukan koreksi dari berat terapung
(buoyancy effect) yang dialami coiled tubing string terhadap berat string yang
tergantung. Dan berat coiled tubing string ini dapat diamati pada weight indicator,
dengan menganalisa berat string dapat diketahui indikasi gaya yang bekerja pada
string tersebut.
14

Pada sumur miring atau horizontal, gaya yang diperlukan untuk


mendorong coiled tubing sepanjang lubang bor tidak dapat ditentukan secara
akurat jika hanya menggunakan weight indicator, dimana mesti diperhitungkan
sudut kemiringan rata-rata dari lubang yang dibor untuk mengetahui berat string
pada sudut inklinasi tertentu. Sejumlah gaya lain yang bekerja pada coiled tubing
juga harus diperhatikan dalam menentukan beban.
2.3.1. BERAT TERAPUNG (BUOYANCY)
Berat terapung adalah berat coiled tubing dengan mengkalkulasi efek dari
fluida internal dan eksternal, serta densitas fluida pemboran (lumpur) yang
digunakan pada pemboran dengan coiled tubing tersebut. Berat terapung untuk
suatu elemen string mempunyai efek perubahan tensile terhadap elemen yang lain.
Berat terapung coiled tubing string mempunyai hubungan dengan berat
string di permukaan, hal itu dapat dilihat pada persamaat berikut:
Dw = 2.67 /(OD2 ID2) .......................................... (2.1)
Bw = Dw (1 (Mw/65450) ..................................... (2.2)
2.3.2. RESIDUAL BEND
Residual bend adalah kelengkungan yang dihasilkan saat coiled tubing
dimasukkan sampai ke stripper, sehingga melengkung dengan jari-jari sekitar 24
ft. Saat tension yang dialami coiled tubing meningkat, coiled tubing akan berada
dalam keadaan lurus. Jika tensionnya berkurang, tubing akan membentuk
lengkungan (residual bend) kembali.

Gambar 2.7
Pelengkungan yang Terjadi Pada Reel dan Gooseneck

2.3.3. BENTUK SUMUR


15

Bentuk sumur dapat mempengaruhi beban atau gaya yang diberikan pada
coiled tubing string. Berat terapung tubing string akan bervariasi dengan
kemiringan sumur. Jika kemiringan sumur berubah, jumlah gesekan yang
disebabkan oleh berat terapung juga akan berubah.
Saat coiled tubing berada dalam keadaan tension dalam lubang yang
melengkung maka coiled tubing akan mengalami gaya terhadap sisi dalam kurva.
Hal ini menyebabkan penambahan gesekan. Hal ini disebut dengan efek sabuk
(belt effect) yang dapat disebabkan oleh perubahan kemiringan dan azzimuth.
2.3.4. TEKUKAN (BUCKLING)
Gaya kompresif yang bekerja pada coiled tubing dapat mengakibatkan
tertekuknya tubing (buckling). Saat gaya ini melebihi sinusoidal buckling load,
coiled tubing akan tertekuk dengan pola sinusoidal. Jika gaya ini bertambah, suatu
saat akan melebihi helical buckling load yang mengakibatkan tubing tertekuk
dengan pola helical. Pola ini mengakibatkan bertambahnya gaya akibat banyaknya
kontak antara tubing dengan dinding lubang bor.
2.3.5. TURBULENSI FLUIDA
Pada waktu fluida mengalir dengan kecepatan yang tinggi melalui coiled
tubing atau melalui annulus sekitar coiled tubing akan menyebabkan coiled tubing
bergetar. Getaran ini akan meningkatkan gesekan antara coiled tubing dengan
dinding lubang bor.
2.3.6. GESEKAN PADA STRIPPER
Saat tekanan operasi stripper atau tekanan wellhead meningkat, maka gaya
gesekan pada daerah yang disekat stripper juga meningkat. Gaya gesek menjadi
faktor penting saat beroperasi pada tekanan kepala sumur yang tinggi. Untuk
kasus ekstrim, gesekan yang ditimbulkan dapat mempersulit penginjeksian coiled
tubing melalui stripper.
Gesekan yang terjadi pada stripper diakibatkan oleh adanya buckling load
yang terjadi ketika dua gaya yang berlawanan digunakan secara longitudinal pada
ujung pipa yang tidak bersandar, beban compressive strength yang dihasilkan
dapat menyebabkan tubing string gagal masuk dan mengalami buckling. Ada dua
tipe gaya buckling yang dihubungkan dengan beban compressive yang dialami
coiled tubing pada saat operasi hidrolika pada kerja ulang yaitu major axis
16

buckling dan local buckling. Lokasi yang memungkinkan untuk terjadinya


buckling ini adalah pada stripper rubber dan rantai block yang menggerakkan pipa
pada injector head. Jika beban dorongan yang tinggi diberikan pada coiled tubing
pada saat memasukkannya ke dalam sumur ditambah dengan tekanan permukaan
yang tinggi maka pada daerah atau kolom yang tidak bersandar pada stripper
rubber akan mengalami buckling loads. Penyebab gaya pada dua tipe buckling
tersebut adalah: mayor axis buckling terjadi akibat gaya yang diberikan pada saat
pipa tidak bersandar (kerusakan lebih panjang dan buckling bersifat elastis)
sedangkan local buckling terjadi akibat gaya compressive load yang tinggi yang
diberikan pada pipa dan (bucklingnya tidak elastis).
Besarnya buckling yang terjadi dapat ditentukan secara matematis, jika
nilai yang dihitung dari effective slenderness ratio (SR) lebih besar dari column
slinderness ratio (Cc) maka buckling yang terjadi adalah mayor axis buckling dan
dihitung dengan persamaan:
Buckling load = As (286 x 106 SR2) . (2-3)
Dimana:
(OD ) 2 ( ID) 2 L
As = ; SR =
4 r
I (OD) 2 ( ID) 2
r = ; I =
As 64
Sedangkan jika effective slenderness ratio lebih kecil dari column
slenderness ratio maka buckling yang terjadi adalah local buckling dan besarnya
buckling ditentukan dengan persamaan :
SR 2
Buckling load
= Fy . As 1 2
(2-4)
2.Cc

2.E
Cc = Fy

2.3.7. TEKANAN KEPALA SUMUR


Tekanan kepala sumur memberikan gaya keatas pada coiled tubing dimana
daya dorong dari dalam sumur ini mengakibatkan terjadinya tendensi tubing untuk
keluar dari sumur.
2.3.8. TENSION DI REEL
17

Tension yang terjadi antara reel dan injector akan mempengaruhi nilai
yang ditunjukkan pada weight indicator. Hal ini disebabkan karena desain dari
injektor head dan tempat load cell. Meskipun tension dari reel tidak
mempengaruhi tegangan pada tubing dibawah injector, namun perlu
diperhitungkan untuk memprediksikan pembacaan weight indicator.
2.4. BATASAN-BATASAN OPERASI COILED TUBING
Coiled tubing mempunyai batasan-batasan yang harus diperhatikan dalam
pengoperasiannya. Dalam hal ini, batasan itu antara lain :
2.4.1. TEKANAN, TEGANGAN DAN REGANGAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi batasan operasional coiled tubing string
seringkali saling berhubungan. Kapasitas tekanan coiled tubing string dipengaruhi
oleh tension ditentukan dengan menggunakan Von Mises Incipent Yield. Hal-hal
yang diperhitungkan adalah: pengaruh keovalan dalam perhitungan tekanan
collapse, pengaruh helical buckling dalam lubang bor. Namun Kriteria diatas tidak
berlaku jika coiled tubing digunakan untuk memompakan asam atau fluida korosif
hingga terjadi korosi yang hebat di coiled tubing.
Tegangan adalah reaksi internal suatu benda terhadap gaya luar. Seringkali
tegangan didefinisikan sebagai gaya internal yang bekerja sepanjang luas daerah
material padat untuk menahan gaya luar. Satuan tegangan dinyatakan sebagai
gaya tiap satuan luas.
Saat diberikan tegangan, akan terjadi perubahan dimensi material.
Perubahan ini dikenal sebagai regangan (strain). Strain didefinisikan sebagai
perubahan dimensi material terhadap dimensi asalnya. Satuan regangan
dinyatakan dalam persen. Setiap tegangan pada material akan selalu menyebabkan
regangan.
Pada coiled tubing dikenal beberapa macam tegangan, antara lain:
hoop stress yang merupakan tegangan yang disebabkan oleh tekanan internal yang
bekerja sepanjang tubing, bending stress yaitu tegangan yang dihasilkan saat
coiled tubing dibengkokkan melalui geooseneck atau digulung dalam reel, dan
radial stress sebagai tegangan yang dipengaruhi oleh ketebalan dinding coiled
tubing yang berkurang sebagai akibat kombinasi dari regangan hoop dan regangan
bending. Tensile stress pada coiled tubing yang berada di bawah lubang
18

mengakibatkan adanya tension yang berakhir pada blok rantai di injector head.
Tension yang terjadi di permukaan biasanya diabaikan pada kondisi operasi
normal.
Hubungan antara tegangan dengan regangan yaitu ketika regangan yang
dihasilkan masih proporsional terhadap tegangan yang diberikan, material akan
selalu kembali ke dimensi asalnya. Hal ini berlangsung sampai yield point. Dan
tegangan yang diberikan pada yield point disebut yield strength.
Perubahan sedikit tegangan menyebabkan perubahan besar pada regangan.
Hal ini terjadi jika material ditarik melebihi yield pointnya dan jika terus
berlangsung maka material akan putus. Tegangan yang terjadi pada titik putusnya
disebut ultimate strength. Dan regangan yang dihasilkan disebut ultimate strain.
Perbedaan kelakukan material pada daerah elastik dan plastik. Deformasi
elastik menunjukkan perubahan jarak antar atom pada material saat diberikan
tegangan dan struktur atom kembali kebentuk asalnya jika tegangan dihilangkan.
Dalam range ini tidak terjadi kerusakan yang permanen pada material.
Deformasi plastik menunjukkan perubahan permanen pada struktur atom
suatu material saat tegangan dihilangkan. Setiap kali diberikan tegangan pada
material melebihi yield pointnya, maka akan terjadi kerusakan permanen.
Hal yang harus diperhatikan adalah, pada coiled tubing teori tegangan dan
regangan berlaku untuk setiap jenis tegangan (bending stress, hoop stress, dan
radial stress). Tegangan-tegangan ini terdapat saat coiled tubing berada di dalam
lubang dan saat berada dipermukaan. Tegangan pada coiled tubing didalam lubang
adalah tension karena coiled tubing diluruskan melalui injector head. Faktor yang
mempengaruhi tension adalah bouyancy, geometri lubang dan tubing yang
tersangkut (stuck). Jika tubing stuck dan terus ditarik, maka tension akan
meningkat. Jika peningkatan ini melebihi yield strength, maka coiled tubing akan
mengalami deformasi plastik. Jika penarikan ini diteruskan maka akan melebihi
ultimate strength dan tubing akan putus di bawah injector head.
Dengan menggunakan teori tegangan atau regangan, maka pada coiled
tubing biasanya digunakan material dengan spesifikasi: 70000 psi minimum yield
strength, 75000 psi minimum ultimate strength (tensile strength), dan 30 %
19

ultimate strain. Nilai ini hanya tergantung pada keadaan campuran material, dan
tidak berhubungan dengan ukuran pipa atau ketebalan dinding.
2.4.2. DIAMETER DAN KEOVALAN
Batasan diameter dan keovalan didasarkan pada kemampuan peralatan
kontrol tekanan yang digunakan untuk mengoperasikan tubing yang tidak bulat
secara efisien. Tubing oval menyebabkan penurunan ketahanan terhadap collapse.
Presentase keovalan diperoleh dengan membagi diameter sumbu terbesar dengan
diameter sumbu terkecil. Disamping keovalan, ballooning (penggelembungan)
dan necking (penciutan) dari CT string juga perlu diperhatikan.

Gambar 2.8
Kondisi Coiled Tubing

2.4.3. KELELAHAN COILED TUBING (FATIGUE)


Kelelahan coiled tubing disebabkan oleh kombinasi tekanan dan siklus
pelengkungan yang terjadi pada coiled tubing serta komposisi kimia fluida
pemboran yang melewati coiled tubing. Hal ini sulit untuk diukur karena
berhubungan dengan karakteristik material yang khusus. Berdasarkan program
pengujian yang ekstensif barulah dapat ditentukan model matematika yang
kompleks. Model ini menghitung kerusakan yang terjadi pada coiled tubing yang
disebabkan oleh pemberian tekanan dan pelengkungan yang berulang-ulang. Hal-
hal yang perlu diperhatikan adalah diameter coiled tubing dan lingkungan kimia
disekitarnya. Dengan parameter masukan dari model dapat dibuat plot untuk
menunjukkan presentasi umur coiled tubing berdasarkan panjang coiled tubing.
20

Gambar 2.9
Coiled Tubing Fatigue Model

Dalam penggunaan coiled tubing harus benar-benar terjamin agar tidak


lebih dari tekanan maksimum (Pmax) dan tegangan maksimum (Tmax) yang
direkomendasikan melalui uji yang sebelumnya diperhitungkan. Uji ini
ditampilkan pada reel dengan parameter aksial force (positif pada tension dan
negatif pada compression) dan tekanan luar coiled tubing yang bernilai mula-mula
nol pada keduanya. Dengan makin besarnya diameter maka makin rendah pula
yield pressurenya.
Ketebalan minimum coiled tubing untuk setiap bagian adalah ketebalan
spesifik dikurangi 0.005 in untuk semua ukuran dan ketebalan
tmin = t 0.005 ... (2-5)
Diameter dalam (ID) coiled tubing sama dengan diameter luar dikurangi
dua kali ketebalan spesifikasi tubing
ID = OD (2 x t) . (2-6)
Dari data diameter tersebut maka maka besarnya pipe metal cross section
(Aw) dalam in2 dihitung dengan persamaan :
Aw = x t x (ID-t) .. (2-7)
21

Untuk berat akhir (w) secara teoritis didasarkan pada dimensi coiled
tubing dan dihitung dengan persamaan berikut :
w = 10.68 (OD t) x t ... (2-8)
Pipe body yield load (Ly) merupakan gaya axial tension load yang mana
menghasilkan stress pada tubing ditentukan berdasarkan batas minimum yield
strength (SMYS) dalam tension .
Ly = x (OD-t) x SMYS . (2-9)
Internal yield pressure (psi), yang terjadi pada coiled tubing dapat
ditentukan berdasarkan harga minimum yield strength coiled tubing.
2 x( SMYS ) xtmin
P . (2-10)
OD
Tekanan tes pada coiled tubing ditentukan berdasarkan tekanan fluida yang
terjadi dalam coiled tubing dan perlu diperhitungkan berdasarkan safety factor
yang diizinkan.
Pt = 0.8 x P ......... (2-11)
Batasan tension maksimum pada coiled tubing digunakan besaran safety
factor 20% untuk persamaan :
Tmax = 80% A (y + Po) . (2-12)
Sedangkan tekanan collapse yang terjadi akibat dari tekanan external
fluida dan dapat dites sebelum coiled tubing dimasukkan ke sumur dengan safety
faktor sebesar 50 %.
y
Pcol 50% .................. (2-13)
2 1

Internal Capacity merupakan unit volume yang dikandung fluida dalam


coiled tubing sedangkan External Displacement sama dengan unit volume fluida
yang ditempatkan pada luas bagian coiled tubing atau secara persamaan :
Untuk Internal Capacity
Vi = 40.8 x ID2 (2-14)
Dan External Displacement
Vd = 40.8 x OD2 .. (2-15)
Umur atau masa kerja coiled tubing dipengaruhi oleh beban dan tegangan-
tegangan yang bekerja pada coiled tubing itu sendiri. Standard industri untuk
22

mengukur umur coiled tubing adalah running feet atau tubing movement, yang
merupakan cerminan dari apa yang terjadi pada coiled tubing disumur. Umur
coiled tubing hampir seluruhnya ditentukan oleh fatigue yang disebabkan oleh
metoda penanganan coiled tubing diluar lubang bor.
Kelelahan coiled tubing disebabkan oleh pelengkungan dan pelurusan
berulang yang terjadi pada gooseneck dan reel. Pelengkungan yang berulang
menyebabkan kerusakan struktur kristal dari material pembentuk coiled tubing.
Kelelahan ini akan semakin bertambah jika pelengkungan dilakukan sambil
memberikan tekanan di dalam coiled tubing (internal pressure).
Sifat fisik dan metalurgi coiled tubing string terus meningkat seiring
peningkatan teknik pembuatan dan prosedur kontrol kualitas.
Proses pembuatan coiled tubing pertama kali dilakukan dengan
menggabungkan beberapa tubing string yang pendek dengan pengelasan sistem
butt welding. Hal ini akan mengakibatkan kelemahan pada bagian material yang
dekat dengan pengelasan. Kegagalan hampir selalu terjadi pada daerah
dipengaruhi panas (heat-affected zone).
Coiled tubing pada saat ini kebanyakan dibuat dari material lempengan
panjang dan kontinyu yang dilas dengan sistem bias welding. Pada sistem bias
welding dilakukan pemotongan secara diagonal pada akhir lempengan baja dan
merapatkannya sebelum dilas. Bias welding meningkatkan kekuatan coiled tubing
dengan menyebarkan zona yang dipengaruhi panas secara spiral disekeliling
tubing.
2.4.4. PEMOMPAAN
Pemompaan gas hidrokarbon atau kondensat sangat dilarang karena belum
ada metoda yang dapat memprediksikan akibat adanya lubang di coiled tubing
(pinhole). Pemompaan minyak mentah (crude oil) melalui coiled tubing
diperbolehkan, asalkan tidak mengandung gas. Sirkulasi balik (reverse
circulation) melalui coiled tubing dapat dilakukan jika ukuran coiled tubing 1-
in atau lebih dan sumur dalam keadaan mati atau penuh dengan fluida untuk
mematikan sumur. Jika hanya menggunakan peralatan kontrol tekanan, produksi
fluida reservoir melalui coiled tubing dilarang. Fluida reservoir dapat
23

diproduksikan dengan menggunakan teknik komplesi coiled tubing dengan


peralatan yang didesain khusus.
2.5 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN COILED TUBING DRILLING
Kelebihan pemboran dengan menggunakan coiled tubing adalah:
1. Kemampuan through tubing re-entry drilling
Sumur yang ada dapat di-deepening dan di-sidetrack dengan melakukan
re-entry pada sumur tersebut. Hal ini dimungkinkan karena diameter CT
yang kecil efektif untuk slimhole drilling.
2. Pemboran Underbalance
Teknologi CTD efektif digunakan dalam pemboran underbalance dengan
fluida pemborannya Nitrogen (air drilling) sehingga dapat meningkatkan
ROP dan mengurangi kerusakan pada formasi.
3. Tingkat keamanan tinggi
Karena tidak membutuhkan penyambungan seperti pada jointed tubing,
maka sistem ini dapat mengurangi kecelakaan yang terjadi di drill floor,
meminimalisir kick, serta stuck pipe yang sering terjadi ketika
penyambungan dan trip. Serta dukungan stripper yang terletak diatas BOP
yang menutup annulus selama pemboran.
4. Mengurangi dampak lingkungan
Unit Coiled tubing drilling berukuran lebih kecil dibandingkan unit
pemboran konvensional. Serta cutting yang dihasilkan lebih sedikit dan
tingkat kebisingannya rendah.
5. Lebih ekonomis dalam operasional
CTD lebih ekonomis dan efisien dibandingkan cara konvensional. Hal ini
menyangkut efisiensi waktu dan biaya pemboran yang antara lain;
mengurangi trip time, kebutuhan fluida pemboran dan pengangkutannya
yang lebih murah, mobilisasi serta rig-up yang lebih cepat, crew yang
lebih sedikit dan komplesi bisa dilakukan langsung menggunakan CTU
tersebut. Peralatan pengendali tekanan sumur (BOP) pada coiled tubing
dapat digunakan pada operasi underbalance karena lebih aman dan
effisien. Dimana, keuntungan yang sangat prinsip dalam underbalance
24

drilling adalah dapat mengurangi kerusakan formasi yang disebabkan oleh


invasi fluida pemboran ke formasi.

Grafik 2.10
Perbandingan biaya ($/m) antara proyek CTD dan CRD pada operasi pemboran
horizontal di Alberta Field Canada (1996)

Namun CTD juga memiliki kekurangan, yang antara lain adalah:


1. Hingga saat ini kemampuannya terbatas pada sumur < 8 inch untuk re-
entry, dan 12 inch untuk pemboran sumur baru.
2. CT string tidak bisa berputar, hanya bergerak sliding. Hal ini mengurangi
kemampuan pembersihan lubang bor yang meningkatkan resiko terjadinya
pipe stuck.
3. Pada beberapa aplikasi masih memerlukan bantuan rig konvensional untuk
persiapan sumur dan pemasangan casing/ liner yang panjang dengan berat
> 100 ton.
4. Kedalaman yang bisa dicapai masih terbatas karena keterbatasan ukuran
dan mekanis dari CT serta peralatan pendukung lainnya.
5. Umur coiled tubing lebih pendek dan jangkauan horizontal terbatas.
25

BAB IV
PEMBAHASAN

Eksploitasi merupakan suatu kegiatan pengerjaan atau pengusahaan suatu


sumber hidrokarbon untuk diproduksikan secara maksimal. Usaha untuk
pengerjaan ini memerlukan keteknikan yang, makin lama makin berkembang,
salah satu diantaranya adalah teknologi coiled tubing. Coiled Tubing (CT) adalah
suatu tubing yang dapat digulung dan bersifat plastik, terbuat dari bahan baja yang
tak tersambung, dengan diameter berkisar antara 1-5 in, tebal 0,067 - 0,25 in.
Komponen-komponen Coiled Tubing Unit (CTU) telah dikembangkan untuk
dapat menggantikan atau menutupi kelemahan teknologi konvensional yang sudah
ada.
Dalam operasinya, CT juga mempunyai batasan-batasan operasi
penggunaannya serta mengalami pembebanan akibat gaya-gaya yang bekerja
padanya, yang dapat meminimalkan kerusakan atau bahkan patah. Adapun
batasan-batasan operasinya meliputi batasan tekanan dan tegangan (pressure and
tension), diameter dan keovalan, kelelahan dan korosi serta batasan pemompaan
dan pengaliran. Yang terpenting adalah batasan tekanan dan tegangan, berhubung
dengan kemungkinan adanya kerusakan permanen. Batasan tekanan dan tegangan
pada CT ditentukan berdasar material pembentuk, yield strength, dan tensile
strength, diameter dan ketebalan, serta berat nominal CT. Apabila
tekanan/tegangan yang dikenakan pada CT melebihi minimum yield strength-nya,
maka CT akan mengalami kerusakan permanen akibat deformasi plastik.
Dengan mengacu pada batasan-batasan operasi CT, penerapan teknologi
coiled tubing untuk mengeksploitasi suatu reservoir akan dapat dilakukan dengan
baik. Penerapan-penerapan ini meliputi kegiatan pemboran, produksi atau
komplesi sumur dan operasi kerja ulang. Pertimbangan-pertimbangan penggunaan
CT meliputi pertimbangan teknis, pertimbangan mekanis, dan pertimbangan
waktu dan biaya. Secara teknis, CT lebih mudah pengoperasiannya karena
didukung dengan alat-alat penunjang yang telah dimodifikasi sedemikian rupa
sehingga aman dalam operasinya, serta adanya peralatan pengontrol/monitor
26

operasi yang baik. Pertimbangan mekanik didasari pada kemampuan, CT dan


keunggulan masing-masing komponen. Dan pertimbangan waktu yang lebih cepat
sehingga memungkinkan untuk memperkecil biaya operasional.
4.1. Penerapan CT Pada Operasi Pemboran
Penggunaan CT untuk operasi pemboran menggantikan drill pipe
konvensional didasari/didorong oleh tersedianya ukuran CT yang lebih besar (>1
in.), sehingga memungkinkan untuk meneruskan hydraulic horsepower ke
downhole motor melalui fluida pernboran untuk memutar pahat dan sekaligus
membersihkan lubang bor. Peralatan yang digunakan adalah CTU ditambah
dengan peralatan penunjang seperti peralatan sirkulasi, BOP sebagai peralatan
utama kontrol sumur, dan peralatan pcngangkatan. BOP untuk operasi pemboran
dengan CT didesain secara khusus untuk melindungi peralatan-peralatan di atas
permukaan dan peralatan di bawah permukaan, disamping fungsi utamanya
menjalankan kontrol sumur. Oleh karena itu, umumnya BOP dipasang dua
/setingkat.
Bottom Hole Assembly (BHA) merupakan satu kesatuan rangkaian
peralatan bawah permukaan yang disusun untuk mencapai laju penetrasi yang
optimum, pencapaian target yang tepat dan lubang bor yang halus. Perencanaan
BHA ini akan sangat menentukan keberhasilan dari proyek pemboran, oleh karena
itu perlu dipertimbangkan faktor-faktor penting seperti perencanaan pemboran,
formasi dan Pemilihan komponen-komponen BHA
4.2. Penerapan CT Pada Penyelesaian Sumur
Penggunaan CT untuk komplesi sumur masih terbatas untuk perforasi dan
komplesi tubing yang sederhana, dimana untuk komplesi yang rumit seperti dual
completion atau ESP completion, CT masih belum dapat digunakan secara
optimal.
Untuk perforasi sumur, CT dapat digunakan untuk menggantikan wireline
atau tubing, terutama untuk sumur-sumur deviasi tinggi atau sumur horizontal.
Coiled Tubing Throught-Tubing Type atau Coiled Tubing Conveyed Perforation
dapat digunakan. TCP ini dapat digunakan untuk melubangi melalui casing
produksi, tubing maupun liner. Peralatan penembakan dipasang pada CT,
diaktifkan menggunakan tenaga elektr-ik melalui wireline atau hidrolik.
27

Umumnya dipakai nitrogen untuk menggantikan fluida komplesi, dengan maksud


penembakan pada kondisi underbalance agar runtuhan hasil perforasi dapat
dibersihkan dengan sendirinya oleh fluida formasi. Untuk sumur horiril,
umumnya densitas perforasi 8 - 12 SPF dan mekanisme penembakan dengan
mengutamakan Shapper Actualed Firing Equipment atau dapat juga dengan
mekanisme hidrolik
Penggunaan CT untuk tubing completion, saat ini telah dikembangkan tiga
teknik penyelesaian sumur, masing-masing adalah Velocity String Completion,
Externally Upset Completion, dan Spoolable Non Upset Completion. Prinsip
dasar teknik komplesi velocity string adalah memasukkan pipa dengan diameter
lebih kecil ke dalam pipa komplesi yang sudah ada, yang diharapkan mampu
untuk mempercepat aliran fluida dari sumur ke permukaan. Velocity string
completion dapat diterapkan pada sumur-sumur yang mengalami penurunan
produksi karena penurunan tekanan formasi, sumur ber-GOR tinggi, atau sumur-
sumur gas dengan tingkat produksi minimal dan tekanan alir bawah permukaan
masih mampu menanggulangi kehilangan tekanan di tubing. Yang harus
diperhatikan adalah bahwa tekanan alir bawah permukaan harus melebihi atau
lebih besar dari friction loss fluida produksi di tubing, tekanan hidrostatik dan
semua tekanan permukaan.
Externally Upset Completion merupakan metode penyelesaian sumur
dengan penggabungan CT dengan peralatan-peralatan komplesi yang biasa
digunakan pada penyelesaian konvensional seperti gas lift mandrell, sub surface
safety valve, SSD, dan lainnya. CT hanya digunakan untuk menggantikan
keberadaan tubing produksi. Komplesi ini dapat dilakukan pada sumur-sumur
baru yang diproduksikan maupun operasi kerja ulang.
Spoolable Non Upset Completion adalah penyelesaian sumur dengan CT
yang telah didesain bersama dengan alat-alat komplesi yang akan dipasang. Alat-
alat komplesi dipasang sekaligus pada CT di pabrik dengan cara pengelasan,
kemudian digulung dengan CT reel. CT reel dan peralatan CT lainnya kemudian
dimobilisasikan ke lokasi sumur dan siap untuk dipasang. Metode penyelesaian
ini menawarkan banyak keuntungan waktu dan biaya, serta operasi pemasangan
yang mudah.
28

4.3. Penerapan CT Pada Operasi Kerja Ulang


Pekerjaan-pekerjaan kerja ulang yang dapat dilakukan dengan CT yang
akan dibahas disini meliputi pekerjaan fill removal matrik stimulation squeeze
cementing, logging, dan operasi fishing
4.3.1. Operasi Fill Removal
Operasi fill removal merupakan operasi pemindahan atau pengangkatan
material fill yang berupa pasir maupun padatan-padatan lain ke permukaan. CT
digunakan untuk peralatan sirkulasi fluida pembersih dengan keunggulan tanpa
adanya sambungan, disamping dapat ditambahkannya drill motor dan bit untuk
pengendapan material fill yang kompak. Material fill ini perlu diketahui
karakteristiknya, seperti ukuran dan densitas, kelarutan maupun compressive
strength-nya, selain itu juga tempat pengendapan material tersebut. Untuk
selanjutnya ditentukan fluida pembersih yang akan digunakan pendesainan
operasi. Fluida yang digunakan dapat berupa air, biopolymer, nitrogen kering,
atau mist.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pendesainan operasi fill removal
meliputi profil sumur dan komplesi, parameter reservoir, produksi dan
peralatannya serta karakteristik dari material fill itu sendiri. Untuk sumur
horisontal, material fill cenderung terendapkan pada bagian bawah lubang dan di
bagian buildup, sehingga diperlukan penanganan yang baik terhadap fluida
pembersih tertentu, yang berhubungan dengan potensial kerusakan formasi.
Keberhasilan operasi ditentukan berdasar kemampuan fluida pembawa/pembersih
mengangkat material fill ke permukaan tanpa menimbulkan terjadinya problem
kerusakan pada formasi maupun tempat-tempat lain.
4.3.2. Operasi Matrix Stimulation
Merupakan suatu operasi injeksi asam atau fluida treatment lain ke dalam
formasi produktif untuk memperbaiki permeabilitas alami formasi. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan sebagai pertimbangan dalam matrix stimulation dengan
CT adalah identifikasi kerusakan, komposisi dan sumber dari kerusakan, sistem
komplesi, parameter reservoir dan pertimbangan peralatan serta fluida treatment.
Pemilihan fluida treatment yang sesuai ditentukan dengan jenis kerusakan, lokasi
dan kemungkinan-kemungkinan adanya substrate lain seperti karat, scale dan
29

lainnya. Pertimbangan yang diperlukan berupa karakteristik kerusakan, reaksi


fluida treatment dengan formasi dan pencegahan karat terhadap peralatan maupun
personel. Volume treatment umumnya ditentukan berdasar pengalaman di
lapangan.
Keberhasilan pekerjaan treatment ini bergantung pada keseragaman
distribusi fluida treatment yang masuk ke dalam interval produksi. Fluida
treatment cenderung masuk ke daerah yang permeabilitasnya tinggi atau
kerusakannya sedikit daripada daerah berpermeabilitas rendah. Dengan pengaliran
aliran fluida melalui pemompaan yang kontinyu dan menggerak-gerakkan CT dan
nozzle akan memungkinkan fluida treatment juga masuk ke daerah yang
permeabilitasnya rendah, sehingga keefektifan treatment tercapai.
4.3.3. Operasi Logging
Logging dengan CT dapat dilakukan dengan aman, cepat dan target bisa
tercapai. Kecepatan penurunan dapat melebihi 100 fpm pada sumur-sumur
vertikal maupun horizontal. Adanya kabel wireline dalam CT dapat digunakan
sebagai alat bantu dan kontrol di permukaan, dan sebagai penanggulangan
terhadap tekanan dipakai sistem Conductor Deployment.
Penggunaan CT untuk logging dapat dilakukan pada sumur-sumur open
hole maupun cased hole, dapat juga ditambah dengan peralatan perforasi. Dewasa
ini juga dikembangkan peralatan logging yang digunakan kontinyu selama operasi
pemboran, atau lebih dikenal dengan Logging While Drilling (LWD), dengan
penggunaan CT pada operasi pemborannya.
4.3.4. Operasi Pemancingan
Pemakaian CT untuk operasi fishing (pemancingan) disarankan untuk
mendesain dan memilih konfigurasi peralatan yang cermat agar operasinya dapat
berjalan dengan efisien dan efektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi
perencanaan meliputi biaya versus kemungkinan keberhasilan, kondisi sumur,
panjang lubricator dan penarikan fishnya. Penarikan fish oleh CT harus
memperhatikan tensile strength CT, kedalaman, deviasi sumur dan beban fish itu
sendiri. Peralatan bawah permukaan yang digunakan dapat berupa overshot dan
spears, hydraulic jar, knuckle joint atau dapat menggunakan fishing motor untuk
memutar overshot.
30

4.4. Penggunaan CTU oleh Bukitapit Bumi Persada


PT. Bukit Apit Bumi Persada menggunakan CTU hanya digunakan sebagai
sistem penunjang untuk hydraulic fracturing, acidizing dan melakukan clean sand
atau oporasi fill removal

Gambar tersebut diambil ketika sedang malakukan rig up untuk


melakukan clean sand di Lokasi JTB 134. Clean sand dilakukan setelah PT.
Elnusa Melakukan perforasi kemudian di lanjutkan oleh Schlumberger melakukan
fracturing.

Setelah pihak Schlumberger melakukan fracturing, pihak BBP melakukan


clean sand untuk mengangkat sisa-sisa pasir akibat dilakukannya perforasi dan
fracturing agar laju produksi bisa optimal.

BAB V
31

KESIMPULAN

1. Coiled Tubing merupakan suatu tubing yang dapat digulung dan bersifat
plastis terbuat dari bahan baja yang tak bersambung. Dalam operasionalnya
coiled tubing unit relatif tidak memerlukan lahan yang luas serta lebih
ekonomis dan efisien dalam hal biaya dan waktu.
2. Penggunaan coiled tubing bisa digunakan untuk operasi pemboran, komplesi
sumur, dan juga kerja ulang
3. Hingga saat ini teknologi coiled tubing drilling belum akan mampu
menggantikan teknologi rotary drilling conventional dalam hal aplikasi
pemboran secara keseluruhan.
32

Daftar Simbol

Mw = Densitas lumpur, ppg


Dw = Berat string di permukaan, lb
Bw = Berat terapung string, lb
As = luas penampang pipa, in2
L = panjang coiled tubing, in
r = radius gerakan putar, in
I = moment inersia, in4
OD = diameter luar coiled tubing, in
ID = diameter dalam coiled tubing, in
Fy = gaya kritis pada CT, lb
Cc = Column slinderness ratio
E = modulus young, lb/in2
t min = ketebalan minimum, in
t = ketebalan spesifikasi tubing, in
w = berat akhir coiled tubing, lb/ft
Ly = Pipe body yield load, lb
SMYS = Minimum yield strength , psi
Pt = Tekanan tes, psi
P = Internal yield pressure, psi
Po = tekanan luar coiled tubing, psi
A = luas section dari coiled tubing, A= (r o2 ri2)
Pcol = tekanan collapse, psi
y = yield stress dari coiled tubing material, psi
Vi = Capacity per 1000 ft (gal/1000 ft)
Vd = Tube body displacement per 1000 ft (gal/1000ft)
Wdf = Berat jenis fluida pemboran, lbm/gal
Q = laju pemompaan fluida, bpm.
Db = outer tubular (ID), in.
Dc = coil tubing (OD), in.
V = laju aliran fluida, fps
33

p = berat Fluida, lb/ft3


u = viskositas fluida, cp
D = kedalaman vertikal, ft
E = konstanta 2,71828
F = beban aksial, lbf
Fb,max = beban kompresiv aksial max yang dibagian bawah, lbf
Fcr = beban buckling kritis (sinusoidal), lbf
Fcrb = beban buckling kritis pada bagian bawah, lbf
FEOC = beban aksial pada titik EOC, lbf
Fhel = beban helical buckling, lbf
Fhel,b = beban helical buckling pada bagian bawah, lbf
Fhel,t = beban aksial pada helical buckling top lubang vertikal,lbf
FKOP = beban aksial pada titik KOP, lbf
Fo = beban aksial pada titik nol (x=0), lbf
Fs = slack-off berat di permukaan, lbf
LH = panjang bagian horizontal, ft
Lp,hel = panjang puncak helical, in
r = radial clearance antara dinding lubang dengan tubular, in
R = radius of curvature,ft
x = koordinat untuk perhitungan, in
We = berat tubular dalam lumpur, lb/in
= inklinasi lubang bor, derajat
= faktor gesekan