Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Obat analgesik antipiretik serta obat anti inflamasi nonsteroid (AINS)
merupakan salah satu kelompok obat yang banyak diresepkan dan juga digunakan
tanpa resep dokter. Obat-obat ini merupakan suatu kelompok obat yang heterogen,
secara kimia. Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak
persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototip obat golongan ini
adalah aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip
aspirin (aspirin-like drugs).
Kemajuan penelitian dalam dasawarsa terakhir ini memberi penjelasan
mengapa kelompok heterogen tersebut memiliki kesamaan efek terapi dan efek
samping. Ternyata sebagian besar efek terapi dan efek sampingnya berdasarkan
atas penghambatan biosintesis prostaglandin (PG).

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan AINS ?
2. Apa saja macam-macam penggolongan obat AINS?
3. Bagaimana mekanisme kerja obat golongan AINS?
4. Apa yang dimaksud dengan terapi propilaksis gout?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian AINS.
2. Untuk mengetahui mekanisme kerja obat golongan AINS.
3. Untuk mengetahui efek samping dari obat golongan AINS.
4. Untuk mengetahui tentang terapi propilaksis gout.
2

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Inflamasi adalah respon dari suatu organism terhadap pathogen dan
alterasi mekanis dalamj aringan, berupa rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat
jaringan yang mengalami cedera, seperti karena terbakar, atau terinfeksi.
Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang
disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat
disertai dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya
terganggu.
Obat anti inflamasi non steroid (AINS) merupakan obat yang paling
banyak diresepkan dan juga digunakan tanpa resep dari dokter. Obat-obat
golongan ini merupakan suatu obat yang heterogen secara kimia. Klasifikasi
kimiawi AINS, tidak banyak manfaat kliniknya karena ada AINS dari
subgolongan yang sama memiliki sifat yang berbeda, sebaliknya ada obat AINS
yang berbeda subgolongan tetapi memiliki sifat yang serupa. Ternyata sebagian
besar efek terapi dan efek sampingnya berdasarkan atas penghambatan biosintesis
prostaglandin (PG).
Beberapa AINS umumnya bersifat anti-inflamasi, analgesika dan
antipiretik. Efek antipiretiknya bari terlihat pada dosis yang lebih besar dari pada
efek analgesiknya, dan AINS relatif lebih toksis dari pada antipiretika klasik,
maka obat-obat ini hanya digunakan untuk terapi penyakit inflamasi sendi seperti
artritis reumatoid, osteo-artritis, spondilitis ankliosa dan penyakit pirai. Respon
individual terhadap AINS bisa sangat bervariasi walaupun obatnya tergolong
dalam kelas atau derivat kimiawi yang sama. Sehingga kegagalan dengan satu
obat bisa dicoba dengan obat sejenis dari derivat kimiawi yang sama. Semua
AINS merupakan iritan mukosa lambung walaupun ada perbedaan gradasi antar
obat-obat ini.

B. MEKANISME KERJA
3

Semua obat AINS bersifat antipiretik, analgesik, dan anti-inflamasi. Ada


perbedaan aktivitas diantara obat-obat tersebut, misalnya: parasetamol bersifat
antipiretik dan analgesik tetapi sifat anti-inflamasinya lemah sekali.
Sebagai analgesik, obat AINS hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas
rendah sampai sedang misalnya sakit kepala, mialgia, artralgia dan nyeri lain yang
berasal dari integument, juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan
inflamasi. Efek analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek analgesik opiat.
Sebagai antipiretik, obat AINS akan menurunkan suhu badan hanya pada
keadaan demam. Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek anti
piretik in vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik
bila digunakan secara rutin atau terlalu lama.

Kebanyakan obat AINS terutama yang baru, lebih dimanfaatkan sebagai


anti-inflamasi pada pengobatan kelainan musculoskeletal, seperti arthritis
rheumatoid, osteoarthritis dan spondilitas ankilosa. Tetapi harus diingat bahwa
obat NSAID ini hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan
dengan penyakitnya secara simtomatik, tidak menghentikan, memperbaiki atau
mencegah kerusakan jaringan pada kelainan musculoskeletal.

Mekanisme kerja AINS


4

Radang atau inflamasi adalah satu dari respon utama sistem


kekebalan terhadap infeksi dan iritasi. Radang terjadi saat suatu mediator
inflamasi (misal terdapat luka) terdeteksi oleh tubuh kita. Lalu permeabilitas sel di
tempat tersebut meningkat diikuti keluarnya cairan ke tempat inflamasi. Terjadilah
pembengkakan. Kemudian terjadi vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah perifer
sehingga aliran darah dipacu ke tempat tersebut. Akibatnya timbul warna merah
dan terjadi migrasi sel-sel darah putih sebagai pasukan pertahanan tubuh kita.
Inflamasi distimulasi oleh factor kimia (histamin, bradikinin,serotonin, leukotrien,
dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang berperan sebagai mediator
radang di dalam system kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari
penyebaran infeksi.

Radang sendiri dibagi menjadi 2, yaitu:

Inflamasi non imunologis : tidak melibatkan system imun (tidak ada reaksi
alergi) misalnya karena luka, cederafisik, dsb.
Inflamasi imunologis : Melibatkan system imun, terjadi reaksi antigen-
antibodi. Misalnya pada asma.
Prostaglandin merupakan mediator pada inflamasi yang menyebabkan kita
merasa perih, nyeri, dan panas. Prostaglandin dapat menjadi salah
satu donator penyebab nyeri kepala primer.

Di membran sel terdapat phosphatidylcholine dan phosphatidylinositol. Saat


terjadi luka, membrane tersebut akan terkena dampaknya juga.
Phosphatidylcholine dan phosphatidylinositol diubah menjadi asam arakidonat.
Asam arakidonat nantinya bercabang menjadi dua: jalur siklooksigenasi (COX)
dan jalur lipooksigenase.

Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2 isoform yang disebut COX-1 dan


COX-2. Kedua isoform tersebut dikode oleh gen yang berbeda. Secara garis besar
COX-1 esensial dalam pemeliharaan berbagai fungsi dalam keadaan normal di
berbagai jaringan khususnya ginjal, saluran cerna, dan trombosit. Di mukosa
lambung aktivitas COX-1 menghasilkan prostasiklin yang bersifat protektif.
5

Siklooksigenase 2 diinduksi berbagi stimulus inflamatoar, termasuk sitokin, .


Teromboksan A2 yang di sintesis trombosit oleh COX-1 menyebabkan agregasi
trombosit vasokontriksi dan proliferasi otot polos. Sebaliknya prostasiklin
PGL2 yang disintesis oleh COX-2 di endotel malro vasikuler melawan efek
tersebut dan menyebabkan penghambatan agregasi trombosit.

C. CONTOH OBAT-OBAT ANTI INFLAMASI NON STEROID (AINS)


ASPIRIN

Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan


dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawaanalgesik (penahan rasa sakit
atau nyeri minor), antipiretik (penurun demam), dan anti-inflamasi (peradangan).
Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah
dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung.

Aspirin ini dibuat dengan cara esterifikasi, dimana bahan aktif dari aspirin
yaitu asam salisitat direaksikan dengan asam asetat anhidrad atau dapat juga
direaksikan dengan asam asetat glacial bila asam asetat anhidrad sulit untuk
ditemukan. Asam asetat anhidrad ini dapat digantikan dengan asam asetat glacial
karena asam asetat glacial ini bersifat murni dan tidak mengandung air selain itu
asam asetat anhidrad juga terbuat dari dua asan asetat galsial sehingga pada
pereaksian volumenya semua digandakan. Pada proses pembuatan reaksi
esterifikasi ini dibantu oleh suatu katalis asam untuk mempercepat reaksi. Tetapi
pada penambahan katalis ini tidak terlalu berefek maka dilakukan lah pemanasan
untuk mempercepat reaksinya. Pada pembuatan aspirin juga ditambahkan air
untuk melakukan rekristalisasi berlangsung cepat dan akan terbentuk endapan.
Endapan inilah yang merupakan aspirin.
6

Gambar Struktur Aspirin (2-(acetyloxy)benzoate)

Pada dasarnya, aspirin bekerja menghambat enzim yang memproduksi dan


mengatur kerja prostaglandin, sebuah senyawa dalam tubuh yang diproduksi saat
terjadi peradangan. Jadi, semua hal yang melibatkan prostaglandin dapat dicegah
oleh aspirin.

Obat Aspirin sebaiknya diminum setelah makan, bersamaan dengan


makanan, atau bersamaan dengan obat antasida untuk meminimalkan iritasi
lambung. Obat ini sebaiknya tidak diminum bersama alkohol karena berhubungan
dengan peningkatan risiko terjadinya pendarahan.

Beberapa efek yang dihasilkan aspirin antara lain:

Efek antipiretik berfungsi menurunkan suhu tubuh saat demam.

Efek anti-inflamasi berfungsi meredakan peradangan.

Efek analgetik peredam rasa nyeri.

Efek anti-platelet mencegah sel darah (trombosit) menempel pada


dinding pembuluh darah, sehingga pembekuan darah dapat dihambat.

Manfaat aspirin untuk kesehatan


7

1. Mengatasi demam

Ketika Anda mengalami demam dan gejala penyerta seperti sakit seluruh tubuh,
tablet aspirin dosis tunggal dapat membuat Anda merasa jauh lebih baik. Senyawa
anti-piretik dalam obat aspirin dapat mengirimkan sinyal ke otak untuk mengatur
suhu tubuh, sehingga demam dapat diatasi.

2. Obat sakit kepala

Prostaglandin adalah senyawa yang bertugas mengirim sinyal sakit ke otak,


sedangkan aspirin bekerja memblok senyawa ini, sehingga bermanfaat untuk
pengobatan sakit kepala. Nyeri kepala sebelah atau migrain pun dapat diatasi oleh
aspirin dalam waktu yang relatif cepat.

3. Baik untuk kesehatan kulit

Tidak hanya bagi kesehatan organ dalam, aspirin juga bermanfaat sebagai obat
luar akibat efek anti-peradangan yang dimilikinya. Aspirin dapat
menghilangkan jerawat dan bekas gigitan serangga pada kulit. Untuk kebutuhan
ini, penggunaan aspirin bukan diminum, melainkan dibuat bentuk adonan/pasta.

4. Menurunkan angka kematian akibat kanker dan perlemakan hati

Liver dapat mengalami perlemakan pada orang-orang yang mengonsumsi


alkohol dalam jangka panjang. Aspirin dapat menghambat proses perlemakan hati
ini, sehingga tidak terjerumus pada komplikasi yang lebih lanjut yaitu kanker hati.

Angka kematian turun 34% untuk semua kanker dan 54% bagi kanker
pencernaan. Setelah 20 tahun, risiko kematian kanker 20% lebih rendah pada
kelompok yang diberi aspirin dibandingkan kelompok tanpa aspirin.

5. Sebagai pengencer darah

Efek anti penggumpalan yang dimiliki aspirin membuat obat ini dapat
mengencerkan darah. Ada beberapa penyakit yang dapat dicegah, antara
lain penyakit jantung koroner dan deep vein traveller (penyumbatan vena akibat
duduk terlalu lama). Walaupun aspirin dapat membantu mencegah serangan
8

jantung, tetap saja pasien tidak boleh meminum obat aspirin setiap hari tanpa
anjuran dokter. Biasanya dokter akan memberikan aspirin sebagai pengencer
darah pada:

Pasien yang sudah pernah mengalami serangan jantung atau stroke

Pasien dengan cincin/stent jantung, atau pernah menjalani operasi bypass

Pasien yang berisiko mengalami serangan jantung dan mengalami diabetes

Efek samping aspirin


1. Mulas Atau Iritasi perut : Aspirin dapat menyebabkan mulas dan iritasi
perut, seperti mual, muntah dan gangguan pencernaan. Ini adalah efek
samping aspirin yang umum, tetapi bisa menyebabkan masalah kesehatan
yang serius. Jadi, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda
menghadapi masalah tersebut.
2. Reaksi alergi: Beberapa orang mengalami sensitivitas aspirin atau alergi.
Reaksi alergi bisa seperti pembengkakan bibir, lidah, hidung, hidung gatal,
masalah pernapasan, pusing dan gatal-gatal. Jika Anda melihat salah satu
gejala di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter.
3. Kehamilan : Aspirin berbahaya bagi janin yang belum lahir, yaitu bisa
menyebabkan masalah jantung, mengurangi berat badan lahir, atau
menyebabkan efek serius pada bayi yang belum lahir. Oleh karena itu, ibu
hamil harus berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakannya.
Wanita menyusui juga harus menghindari minum aspirin, karena bisa
masuk ke dalam ASI dan membahayakan kesehatan anak yang disusuinya.
4. Membahayakan saat Operasi: Penggunaan aspirin sebelum menjalani
semua jenis operasi harus dihindari, karena mencegah penggumpalan
darah atau anti koagulan. Mengambil aspirin sebelum operasi bisa
menyebabkan perdarahan yang lama.
5. Masalah Hati: Penggunaan aspirin secara berlebihan dan dalam jangka
lama dapat membahayakan hati Anda. Hati bekerja sebagai penyaring
racun. Jadi, dosis aspirin yang tinggi bisas menyebabkan disfungsi hati,
yang dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan yang serius.
6. Gagal Ginjal: Terbiasa menggunakan aspirin dapat menyebabkan
nefropati analgesik. Ini adalah cedera ginjal yang disebabkan oleh obat
9

analgesik. Kadang-kadang penyakit ginjal terjadi tanpa gejala dan dapat


menyebabkan gagal ginjal.
7. Sindrom reye Pada Anak Dan Remaja: Sindrom Reye adalah kondisi
serius yang bisa menyebabkan kematian, yaitu dengan cara merusak
organ-organ vital, terutama hati dan otak. Yang terutama menjadi masalah
mengenai sindrom ini adalah bahwa penyebabnya belum diketahui.
8. Stroke: Kita semua tahu bahwa aspirin digunakan untuk mencegah
serangan jantung dan stroke, karena bekerja sebagai pengencer darah
dalam tubuh. Tapi, penggunaannya juga bisa menyebabkan beberapa
masalah kesehatan yang serius. Beberapa adalah stroke yang disebabkan
karena perdarahan otak. Efek pengencer darah pada aspirin bisa
memperburuk kondisi yang menyebabkan kerusakan otak dan pendarahan.
9. Tinnitus Dan Kerusakan Pendengaran : Kata Tinnitus berarti denging.
Ini adalah kondisi yang ditandai dengan suara seperti mendenging di
telinga. Ini mungkin disebabkan karena asupan aspirin secara rutin. Harus
berkonsultasi dengan dokter jika terjadi masalah seperti itu, karena bisa
menyebabkan kerusakan pendengaran secara permanen.
10. Asma: Orang yang menderita asma harus menghindari penggunaan
aspirin, karena obat ini bisa bertindak sebagai faktor pemicu. Serangan
asma yang disebabkan oleh aspirin bisa menjadi berat dan fatal. Jadi,
gunakan aspirin dengan hati-hat, serta berada di bawah pengawasan ketat
dari dokter.
11. Serangan Gout: Aspirin digunakan untuk mencegah serangan jantung dan
stroke dalam dosis rendah, tetapi bisa memperburuk kondisi jika Anda
menderita gout. Bahkan dalam dosis rendah, aspirin bisa meningkatkan
risiko serangan gout.
12. Luka Perut , usus Kecil, dan Luka lambung: Seperti yang dinyatakan
sebelumnya, perdarahan merupakan salah satu efek samping aspirin yang
serius. Hal ini bisa menyebabkan cedera perut atau usus kecil, yang dapat
menimbulkan bisul. Kadang-kadang perdarahan yang disebabkan oleh
borok bisa serius.
13. Tekanan Darah Tinggi : Obat anti inflamasi non-steroid (NSAID) atau
aspirin bisa meningkatkan tingkat tekanan darah Anda. Orang dengan
tekanan darah tinggi harus berkonsultasi dengan dokter sebelum
menggunakannya.
10

PARACETAMOL

Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik


yang populer dan digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan
sakit ringan, serta demam. Digunakan dalam sebagian besar resep
obat analgesik selesma dan flu. Aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah
didapat, pemakaian obat ini terlalu sering diharapkan tidak terjadi.

Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut


atau mengganggu gumpalan darah, ginjal, atau duktus arteriosus pada janin.

Obat Parasetamol memiliki nama lain acetaminophen ,obat ini termasuk


sebagai analgesik (antinyeri) dan antipiretik (penurun panas). Mekanisme kerja
paracetamol yaitu sebagai inhibitor prostaglandin yang lemah. Jadi mekanisme
kerjanya dengan menghalangi produksi prostaglandin, yang merupakan bahan
kimia yang terlibat dalam transmisi pesan rasa sakit ke otak. Dengan mengurangi
produksi prostaglandin, parasetamol membantu meredakan rasa sakit, seperti sakit
kepala, sakit/nyeri pada anggota tubuh lainnya dan demam atau panas.

Struktur Kimia Paracetamol (C8H9NO2)

Efek Samping Paracetamol


11

Walaupun efek samping paracetamol jarang, namun jika itu terjadi maka ditandai
dengan:
1. Ruam atau pembengkakan ini bisa menjadi tanda dari reaksi alergi.
2. Hipotensi (tekanan darah rendah) ketika diberikan di rumah sakit dengan
infus.
3. Kerusakan hati dan ginjal, ketika mengalami overdosis
4. Trombosit dan sel darah putih menurun

ASAM ARILASETAT/ASAM PROPIONAT

Kelompok ini lebih relatif baru. Obat-obat ini seperti aspirin, tetapi
mempunyai efek yang lebih kuat dan lebih sedikit timbul iritasi gastrointestinal
tidak seperti pada aspirin, indometacin, dan fenilbutazon. Obat-obatan ini
mempunyai waktu paruh singkat tetapi tinggi berikatan dengan protein. Jika
dipakai bersama-sama obat lain yang tinggi juga berikatan dengan protein, dapat
terjadi efek samping berat. Obat ini dimetabolisme dan dieksresi sebagai metabolit
inaktif di urin.
1. Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan pertama kali
dibanyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya efek anti-inflamasi yang
tidak terlalu kuat.
12

Efek analgesiknya sama seperti aspirin, sedangkan efek anti-inflamasinya terlihat


pada dosis 1200-2400 mg sehari.

Struktur Kimia Ibuprofen

Farmakokinetik Ibuprofen
Senyawa ini bekerja melalui penghambatan enzim siklo-oksigenase pada
biosintesis prostaglandin, sehingga konversi asam arakidonat menjadi PG-G2
terganggu. Prostaglandin berperan pada patogenesis inflamasi, analgesia dan
demam. Dengan demikian maka ibuprofen mempunyai efek antiinflamasi dan
analgetik-antipiretik. Khasiat ibuprofen sebanding, bahkan lebih besar dari pada
asetosal (aspirin) dengan efek samping yang lebih ringan terhadap lambung.
Pada pemberian oral ibuprofen diabsorbsi dengan cepat, berikatan dengan protein
plasma dan kadar puncak dalam plasma tercapai 1-2 jam setelah pemberian.
Adanya makanan akan memperlambat absorbsi, tetapi tidak mengurangi jumlah
yang diabsorbsi. Metabolisme terjadi di hati dengan waktu paruh 1,8-2 jam.
Ekskresi bersama urin dalam bentuk utuh dan metabolik inaktif, sempurna dalam
24 jam.
Pemberian bersama warfarin harus waspada dan pada obat anti hipertensi
karena dapat mengurangi efek antihipertensi, efek ini mungkin akibat hambatan
biosintesis prostaglandin ginjal. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan
dibandingkan dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum wanita hamil
dan menyusui. Ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas dibeberapa negara
yaitu inggris dan amerika karena tidak menimbulkan efek samping serius pada
dosis analgesik dan relatif lama dikenal.

2. Ketoprofen
13

Ketoprofen adalah obat yang digunakan untuk meredakan rasa sakit dan
peradangan akibat penyakit rematik, serta masalah pada otot dan persendian
lainnya. Contohnya adalah penyakit rematik asam urat atau gout, otot tegang atau
keseleo, dan artritis. Selain itu, ketoprofen juga dapat digunakan untuk meredakan
rasa sakit setelah operasi dan bagi wanita untuk meringankan rasa sakit akibat
menstruasi.

Struktur Kimia Ketoprofen

Farmakokinetik Ketoprofen
ABSORBSI

Bioavailabilitas

Diabsorpsi dengan baik setelah pemberian oral; bioavailabilitas sekitar 90% . Peak
konsentrasi plasma biasanya dicapai dalam waktu 0,5-2 jam (kapsul
konvensional) atau 6-7 jam (extended-release kapsul) .

Makanan
14

Makanan menunda waktu puncak konsentrasi plasma oleh <1 jam atau sekitar 2
jam setelah pemberian kapsul konvensional atau kapsul extended-release, secara
berurutan.

DISTRIBUSI

Didistribusikan ke cairan synovial dan CNS.

Protein Plasma Binding

> 99% (terutama albumin) .

METABOLISME

Cepat dan ekstensif dimetabolisme di hati; metabolit aktif tidak identifikasi.

Rute Eliminasi

Diekskresikan terutama di urine.

Waktu Paruh

Kapsul konvensional: 2-4 jam. Extended-release kapsul: 5.4 jam.

Populasi khusus

Ginjal Penurunan: waktu paruh (ketika diberikan sebagai kapsul konvensional)


berkepanjangan sampai sekitar 3 jam pada pasien dengan gangguan ginjal ringan
dan sekitar 5-9 jam pada pasien dengan moderat untuk gangguan ginjal berat.

Efek Samping Ketoprofen


Sama seperti obat-obat lain, ketoprofen juga berpotensi menyebabkan efek
samping. Efek samping yang bisa terjadi setelah menggunakan obat ini:
Mual
Gangguan perut
Nyeri ulu hati
Gangguan pencernaan
Diare
15

3. Naproxen adalah salah satu obat anti inflamasi non-steroid atau disingkat
OAINS. Obat ini digunakan untuk meredakan rasa sakit dan inflamasi.

Ada berbagai gejala penyakit atau kondisi yang bisa ditangani dengan
naproxen, contohnya rheumatoid arthritis, osteoartritis, ankylosing spondylitis,
serangan penyakit asam urat,nyeri menstruasi serta nyeri sendi.

Struktur Kimia Naproxen

Sama seperti obat pereda sakit lainnya, naproxen juga bekerja dengan
menghambat produksi prostaglandin (senyawa yang dilepas tubuh dan
menyebabkan rasa sakit serta inflamasi). Dengan begitu, rasa sakit dan inflamasi
pun akan berkurang.
Meski bisa meredakan gejala-gejala nyeri dan inflamasi, naproxen tidak bisa
menyembuhkan penyakit.

Farmakokinetik
16

Naproxen sodium memiliki daya serap yang cepat dan lengkap dari saluran
pencernaan, asupan makanan tidak mempengaruhi tingkat penyerapan.
Bioavailabilitas 95%, konsentrasi plasma maksimum dalam 1-2 jam. Konsentrasi
obat meningkat 12-14 jam secara proporsional dengan dosis. Obat ini
dimetabolisme di hati. Ekskresi terutama dalam urin (98%) dan di empedu
(2,5%).Dalam metabolit gagal ginjal dapat terakumulasi.

Efek Samping Naproxen


Naproxen berpotensi menyebabkan efek samping, sama seperti OAINS yang lain.
Beberapa efek samping yang mungkin terjadi saat mengonsumsi obat ini adalah:
Pusing.
Mengantuk.
Pandangan kabur.
Diare atau konstipasi.
Nyeri ulu hati.

PIROXICAM

Piroksikam adalah anti-inflamasi non steroid yang mempunyai aktifitas


anti inflamasi, analgetik, dan antipiretik. Piroxicam berguna untuk terapi
17

simptomatik reumatoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, gangguan


muskuloskeletal akut dan gout akut.

Struktur Piroxicam

Aktifitas kerja piroksikam belum sepenuhnya diketahui, diperkirakan


melalui interaksi beberapa tahap respon imun dan inflamasi, antara lain :
penghambatan enzim siklo-oksigenase pada biosintesa prostaglandin,
penghambatan agregasi netrofil dalam pembuluh darah, penghambatan migrasi
polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke daerah inflamasi.

Farmakokinetik Piroxicam (Piroksikam)

o ABSORBSI

Bioavailabilitas

Diserap setelah pemberian oral, konsentrasi plasma 3 peak biasanya dicapai dalam
waktu 3 sampai 5 jam.

Makanan

Mengurangi kecepatan tapi tidak tingkat absorption.

o DISTRIBUSI
Didistribusikan ke dalam cairan sinovial
Didistribusikan ke dalam susu manusia (ASI),
Mungkin menumpuk perlahan-lahan di kartilago.
18

Ikatan Protein Plasma (Protein Plasma Binding)

99,3% .

o METABOLISME

Dimetabolisme secara Ekstensif, terutama oleh hidroksilasi dan glukuronida


konjugasi dari hidroksi metabolite.

o ELIMINASI

Rute Eliminasi

Diekskresikan terutama di urin dan feses, dengan ekskresi urin sekitar dua kali
ekskresi tinja diekskresikan terutama sebagai metabolit; <5% tidak berubah
(utuh).

Waktu Paruh

50 jam. (kisaran: 14-158 jam)

Efek Samping

Dapat mengakibatkan gangguan berupa nausea, gangguan abdominal, atau


nyeri, konstipasi, diare, dan flatulen. Kadang-kadang terjadi edma, pusing, sakit
kepala, ruam kulit, pruritus, somnelen (mengantuk disertai turunnya kesadaran),
penurunan hemoglobin dan hematokrit.

INDOMETASIN
19

Merupakan derivat indol-asam asetat. Obat ini sudah dikenal sejak 1963
untuk pengobatan artritis reumatoid dan sejenisnya. Walaupun obat ini efektif
tetapi karena toksik maka penggunaan obat ini dibatasi.

Struktur Indometasin

Indometasin memiliki efek anti-inflamasi sebanding dengan aspirin, serta


memiliki efek analgesik perifer maupun sentral. In vitro indometasin menghambat
enzim siklooksigenase, seperti kolkisin.

Farmakokinetika Indometasin
Indometasin cepat dan hampir sempurna diabsorbsi dari saluran cerna
bagian atas setelah pemberian per oral. Di metabolisme oleh hati. Diekskresikan
kedalam empedu dan urin dalm bentuk tidak berubah dan dalam bentuk metabolit.
20

Reabsorpsi Indometasin dari usus cepat dan lengkap; lewat rektum


tergantung basis suppositorianya dan dapat menurun sampai 60% (sebaiknya
digunakan basis carbowax).
Indometasin merupakan penghambat prostagladin yang terkuat, ia di
absorpsi dengan baik setelah pemberian per oral dan sebgian besar terikat oleh
protein plasma. Metabolisme yang terjadi di hati, dalam bentuk yang tak berubah
dan metabolit tak aktif. Obat ini di eksresikan ke dalam empedu dan urin.
Indometasin menghambat prostagladin dengan cara membentuk ikatan
dengan enzim siklooksigenase sehingga asam arachidonat tidak dapat berikatan
dengan enzim dan prostagladin tidak dapat terbentuk. Kompleks enzim-
indometasin ini sifatnya reversible, artinya, indometasin dapat lepas dari enzim.
Bersifat time dependent karenaketika kompleks enzim-indometzsin bertaha dalam
selang waktu tertentu, dapat terjadi konformasi pada enzim yang akan
menghasilkan ikatan yang lebih kuat dengan indometasin.

Efek Samping
Efek samping pada dosis terapi yaitu pada saluran cerna berupa nyeri
abdomen, diare, perdarahan lambung dan pankreatis. Sakit kepala hebat dialami
oleh kira-kira 20-25% pasien dan disertai pusing. Hiperkalemia dapat terjadi
akibat penghambatan yang kuat terhadap biosintesis prostaglandin di ginjal.
Karena toksisitasnya tidak dianjurka pada anak, wanita hamil, gangguan
psikiatrik dan pada gangguan lambung. Penggunaanya hanya bila AINS lain
kurang berhasil. Dosis lazim indometasin yaitu 2-4 kali 25 mg sehari, untuk
mengurangi reumatik di malam hari 50-100 mg sebelum tidur.

FENILBUTAZON DAN OKSIFENBUTAZON


21

Fenilbitazon dan oksifenbutazon merupakan derivat pirazolon. Dengan


adanya AINS yang lebih aman, fenilbutazon dan oksifenbutazon tidak lagi
dianjurkan digunakan sebagai anti-inflamasi kecuali obat lain tidak efektif.

Struktur Kimia Fenilbutazon

Derivat pirazolon ini memiliki khasiat antiflogistik yang lebih kuat dari
pada kerja analgetiknya jadi golongan ini hanya digunakan sebagai obat rematik.
Fenilbutazon dimasukan secara diam-diam dengan maksud untuk mengobati
keadaan lesu dan letih, otot-otot lemah dan nyeri.
Farmakokinetik Fenilbutazon
Bila diberikan per oral,absorpsinya akan cepat dan sempurna. Konsentrasi
tertinggi dicapai dalam waktu 2 jam. Dengan dosis terapi 98 % fenilbutazon
dalam plasma terikat pada protein plasma,sedangkan bila konsentrasi lebih tinggi
pengikatan dengan plasma protein mungkin hanya 90 %. Masa paruh fenilbutazon
lama yaitu 50-100 %. Biotransformasi terjadi di hati oleh sistem mikrosom hati.
Ekskresi melalui ginjal dan berlangsung lambat.
Efek samping derivat pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis,
anemia aplastik, dan trombositopenia.
22

CONTOH OBAT AINS DI PASARAN

No Nama Obat Nama di Nama Indikasi


Pasaran Produsen
1. Hidrokortison Hidrokortison Kalbe Farma Dermatitis (alergi, atopik),
neurodermatitis
2. Deksametason Dexamethasone Sampharindo Mengatasi gejala inflamasi
akut, penyakit alergi, edema
serebral, arthritis rematoid.
3. Prednisone Prednison Berlico Demam rematik akut, asma
Berlico Mulia Farma bronkial, obat anti-
inflamasi.
4. Parasetamol Paracetamol Errita Mengurangi rasa sakit
kepala, sakit gigi dan
menurunkan panas.
5. Asam salisit Aspirin Bayer Demam, sakit kepala, sakit
gigi, pusing, nyeri otot
6. Antalgin Antalgin Untukmenghilangkan rasa
Generik INF sakit, terutama kolik dan
sakit setelah operasi.
7. Asam Allogon Konimex Nyeriringan, sedang sampai
Mefenamat berat seperti sakit kepala,
nyeri otot, artralgia
(nyerisendi), sakit gigi,
osteoartitis rematoid, gout,
nyeri saat haid, nyeri
setelah operasi.
8. Ibuprofen Profenal Yarindo Meredakan nyeri misalnya
Farmatama pada sakit gigi, sakit kepala,
nyeri otot dan dismenore
primer

D. TERAPI PROPILAKSIS GOUT

Penyakit artritis gout adalah salah satu penyakit inflamasi sendi yang
paling sering ditemukan, ditandai dengan penumpukan kristal monosodium urat di
dalam ataupun di sekitar persendian. Asam urat merupakan kristal putih tidak
23

berbau dan tidak berasa lalu mengalami dekomposisi dengan pemanasan menjadi
asam sianida (HCN) sehing cairan ekstraselular yang disebut sodium urat. Jumlah
asam urat dalam darah dipengaruhi oleh intake purin, biosintesis asam urat dalam
tubuh, dan banyaknya ekskresi asam urat. Diagnosis pasti dari artritis gout
ditentukan hanya dengan membuktikan adanya kristal asam urat dalam cairan
sinovia/bursa atau tophus. Diagnosis dapat dikonfirmasi melalui aspirasi
persendian yang mengalami inflamasi akut atau dicurigai topus.

Terapi pada gout biasanya dilakukan secara medik (menggunakan obat-obatan).


Medikamentosa pada gout termasuk:
1. Obat Anti Inflamasi Nonsteroid (OAINS).
OAINS dapat mengontrol inflamasi dan rasa sakit pada penderita gout
secara efektif. Efek samping yang sering terjadi karena OAINS adalah iritasi pada
sistem gastroinstestinal, ulserasi pada perut dan usus, dan bahkan pendarahan
pada usus. Penderita yang memiliki riwayat menderita alergi terhadap aspirin atau
polip tidak dianjurkan menggunakan obat ini. Contoh dari OAINS adalah
indometasin. Dosis obat ini adalah 150- 200 mg/hari selama 2-3 hari dan
dilanjutkan 75-100 mg/hari sampai minggu berikutnya.
2. Kolkisin
Kolkisin efektif digunakan pada gout akut, menghilangkan nyeri dalam
waktu 48 jam pada sebagian besar pasien.10 Kolkisin mengontrol gout secara
efektif dan mencegah fagositosis kristal urat oleh neutrofil, tetapi seringkali
membawa efek samping, seperti nausea dan diare.
Dosis efektif kolkisin pada pasien dengan gout akut berhubungan dengan
penyebab keluhan gastrointestinal. Obat ini biasanya diberikan secara oral pada
awal dengan dosis 1 mg, diikuti dengan 0,5 mg setiap dua jam atau dosis total 6,0
mg atau 8,0 mg telah diberikan. Kebanyakan pasien, rasa sakit hilang 18 jam dan
diare 24 jam; peradangan sendi reda secara bertahap pada 75-80% pasien dalam
waktu 48 jam.10 Pemberian kolkisin dosis rendah dapat menurunkan efek
samping gastro-intestinal ataupun efek toksisitas dari kolkisin itu sendiri. AGREE
(Acute Gout Flare Receiving Kolkisine Evaluation) membandingkan efektivitas
pemberian kolkisin dalam dosis tinggi (4,8 mg dalam 6 jam) dan dalam dosis
rendah (1,8 mg dalam 1 jam) dalam sebuah studi acak. Penelitian tersebut
24

menunjukkan bahwa kolkisin dosis rendah lebih superior dalam hal efikasi
maupun tingkat keamanannya dibandingkan kolkisin dosis tinggi. Pemberian
kolkisin lebih dari 1,8 mg dalam 1 jam (AUC0 43.8 nanograms x jam/ml) akan
meningkatkan efek sampingnya tanpa meningkatkan efek klinisnya.
3. Kortikosteroid
Kortikosteroid biasanya berbentuk pil atau dapat pula berupa suntikan
yang lansung disuntikkan ke sendi penderita. Efek samping dari steroid antara lain
penipisan tulang, susah menyembuhkan luka dan juga penurunan pertahanan
tubuh terhadap infeksi. Steroids digunakan pada penderita gout yang tidak bisa
menggunakan OAINS maupun kolkisin.1 Prednison 20-40 mg per hari diberikan
selama tiga sampai empat hari. Dosis kemudian diturunkan secara bertahap
selama 1-2 minggu. ACTH diberikan sebagai injeksi intramuskular 40-80 IU, dan
beberapa dokter merekomendasikan dosis awal dengan 40 IU setiap 6 sampai 12
jam untuk beberapa hari, jika diperlukan. Seseorang dengan gout di satu atau dua
sendi besar dapat mengambil manfaat dari drainase sendi diikuti dengan injeksi
intraartikular dengan 10-40 mg triamsinolon atau 2-10 mg deksametason,
kombinasi dengan lidokain.
Profilaksis dengan kolkisin mengurangi tingkat serangan akut berulang,
konsentrasi asam urat serum adalah normal. Dalam suatu penelitian terhadap 540
pasien, kolkisin benar-benar efektif 82% dari pasien, memuaskan 12% dari pasien,
dan efektif hanya pada 6% pasien. Meskipun diperlukan durasi profilaksis, belum
ditetapkan kelanjutan terapi untuk setidaknya satu tahun setelah konsentrasi urat
serum telah kembali ke normal. Myoneuropati kadang-kadang dilaporkan selama
profilaksis dengan kolkisin pada pasien yang memiliki kreatinin clearence 50 ml
per menit.10 Kolkisin yang dikombinasikan dengan probenesid telah disetuji oleh
FDA (Food and Drug Administration) sejak tahun 1982.4
Gout dapat dicegah dengan mengurangi konsentrasi asam urat serum < 6,0
mg/dL. Penurunan kurang dari 5,0 mg/dL mungkin diperlukan untuk resorpsi dari
tofi. Terapi dengan obat yang menurunkan konsentrasi asam urat serum harus
dipertimbangkan, ketika semua kriteria sebagai berikut: penyebab hiperurisemia
tidak dapat dikoreksi atau, jika diperbaiki, tidak menurunkan konsentrasi serum
asam urat kurang dari 7,0 mg/dL; pasien memiliki dua atau tiga serangan pasti
25

gout atau memiliki tofi; dan pasien dengan kebutuhan untuk minum obat secara
teratur dan permanen. Dua kelas obat yang tersedia: obat urikosurik (misalnya
probenesid) dan xanthine oxidase inhibitor (misalnya Allopurinol).
26

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Obat anti inflamasi non steroid (AINS) adalah suatu kelompok obat yang
berfungsi sebagai anti inflamasi, analgetik dan antipiretik. AINS merupakan obat
yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimiawi.
Antiinflamasi adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan
peradangan.

Penyakit artritis gout adalah salah satu penyakit inflamasi sendi yang
paling sering ditemukan, ditandai dengan penumpukan kristal monosodium urat di
dalam ataupun di sekitar persendian. Tujuan dari pengobatan asam urat adalah
membatasi serangan akut, mencegah kekambuhan (khususnya serangan gout
artritis), dan mencegah komplikasi yang terkait dengan pengendapan kristal urat
di jaringan. Edukasi pasien dan pemahaman mengenai dasar terapi diperlukan
untuk menjamin keberhasilan terapi gout.
27

DAFTAR PUSTAKA

Alodokter. 2016. Naproxen. http://www.alodokter.com/naproxen.


Alodokter. 2016. Paracetamol. http://www.alodokter.com/paracetamol.
Fajriani. 2008. Pemberian Obat-Obatan Anti Inflamasi Non Steroid ( AINS ) Pada
Anak. Indonesian Journal of Dentistry. Volume 15 (3). Universitas
Hasanuddin.
Haryati, Annisa. 2013 . Makalah Farmakologi
https://www.academia.edu/16435482/MAKALAH_FARMAKOLOGI_1_
AINS.
Juniar, Anna. 2014. Kimia Farmasi. Medan : Unimed Press.
Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik buku 2. Jakarta : Salemba
Medika.
Mardiyah, Radhiyatam. Achmad Fauzi. dan Ari Fahrial Syam. Diagnosis dan
Tata Laksana Enteropati akibat Obat Anti Inflamasi Non Steroid
(OAINS). Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2 No. 3.

Mediskus. 2016. Aspirin. http://mediskus.com/aspirin


Mediskus. 2016. Paracetamol. http://mediskus.com/paracetamol.
Mansjoer, Soewarni. 2003. Mekanisme Kerja Obat Antiradang.
Medan :Universitas Sumatera Utara.
Saepudin dan Wulan Wiranti, 2008. Kualitas Peresepan Obat Golongan
Antiinflamasi Nonsteroid Di Salah Satu Rumah Sakit Swasta Di
Yogyakarta. Jurnal Farmasi Indonesia. Vol. 4 No. 1. Universitas Islam
Indonesia Yogyakarta.
Sholihah. Fatwa Maratus . 2014. Diagnosis And Treatment Gout Arthritis. Jurnal
Majorty. Vol. 3 No. 7.Universitas Lampung.
Wikipedia. 2017. Aspirin. https://id.wikipedia.org/wiki/Aspirin