Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dan ciri negara hukum?
2. Bagaimana negara hukum Indonesia?
3. Apa hakikat hak asasi manusia?
4. Bagaimana sejarah perkembangan hak asasi manusia?
5. Bagaimana hak asasi manusia di Indonesia?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dan ciri negara hukum.
2. Untuk mengetahui negara hukum Indonesia.
3. Untuk mengetahui hakikat hak asasi manusia.
4. Untuk mengetahui sejarah perkembangan hak asasi manusia.
5. Untuk mengetahui hak asasi manusia di Indonesia.

D. Manfaat

BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dan Ciri Negara Hukum
1. Pengertian Negara Hukum
Negara Hukum bersandar pada keyakinan bahwa kekuasaan negara
harus dijalankan atas dasar hukum yang adil dan baik. Ada dua unsur dalam
negara hukum, yaitu pertama: hubungan antara yang memerintah dan yang
diperintah tidak berdasarkan kekuasaan melainkan berdasarkan suatu norma
objektif, yang juga mengikat pihak yang memerintah; kedua: norma objektif
itu harus memenuhi syarat bahwa tidak hanya secara formal, melainkan dapat
dipertahankan berhadapan dengan idea hukum. Hukum menjadi landasan
tindakan setiap negara. Ada empat alasan mengapa negara menyelenggarakan
dan menjalankan tugasnya berdasarkan hukum yaitu:
1. Demi kepastian hukum.
2. Tuntutan perlakuan yang sama.
3. Legitimasi demokrasi.
4. Tuntutan akal budi.
Negara hukum berarti alat-alat negara mempergunakan kekuasaannya
hanya sejauh berdasarkan hukum yang berlaku dan dengan cara yang
ditentukan dalam hukum itu. Dalam negara hukum, tujuan suatu perkara
adalah agar dijatuhi putusan sesuai dengan kebenaran. Tujuan suatu perkara
adalah untuk memastikan kebenaran, maka semua pihak berhak atas
pembelaan atau bantuan hukum.
Ditinjau dari sudut sejarah, pengertian Negara Hukum berbeda-beda,
berdasarkan sisitemnya diantaranya yaitu Negara Hukum Eropa Kontinental
dan Negara Hukum Anglo Saxon (Rule of Law).
a. Negara Hukum Eropa Kontinental
Negara Hukum Eropa Kontinental ini dipelopori oleh Immanuel Kant.
Tujuan negara hukum menurut Kant adalah menjamin kedudukan hukum
dari individu-individu dalam masyarakat. Konsep negara hukum ini
dikenal dengan negara hukum liberal atau negara hukum dalam arti sempit
atau nachtwakerstaat. Dikatakan negara hukum liberal karena Kant
dipengaruhi oleh paham liberal yang menentang kekuasaan absolute raja
pada waktu itu. Dikatakan negara hukum dalam arti sempit karena
pemerintah hanya bertugas dan mempertahankan hukum dengan maksud
menjamin serta melindungi kaum Boujuis (tuan tanah) artinya hanya
ditujukan pada kelompok tertentu saja. Dikatakan Nechtwakerstaat
(Negara Penjaga Malam) karena negara hanya berfungsi menjamin dan
menjaga keamanan sebagaimana pendapat John Locke mengenai fungsi
negara yaitu:
1) Legislatif
2) Eksekutif
3) Federatif (Pertahanan Keamanan)
4) Negara Hukum Anglo Saxon (Rule of Law)
b. Negara Anglo Saxon (Rule of Law)
Negara Anglo Saxon tidak mengenal negara hukum atau rechtstaat,
tetapi mengenal atau menganut apa yang disebut dengan The Rule of
Law atau Pemerintahan oleh Hukum atau Goverment of Judiciary.
Rule of Law (Rol) adalah sebuah konsep hukum yang
sesungguhnya lahir dari sebuah bentuk protes terhadap sebuah kekuasaan
yang absolute disebuah negara. Dalam rangka membatasi kekuasaan yang
absolute tersebut maka diperlukan pembatasan-pembatasan terhadap
kekuasaan itu, sehingga kekuasaan tersebut ditata agar tidak melanggar
kepentingan asasi dari masyarakat, dengan demikian masyarakat terhindar
dari tindakan-tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh penguasa.
Rule of Law pada hakekatnya adalah memposisikan hukum
sebagai landasan bertindak dari seluruh elemen bangsa dalam sebuah
negara. Rule of Law dapat dilakasanakan dengan menjunjung tinggi Hak
Asasi Manusia karena salah satu ciri dari Rule of Law (negara hukum)
adalah terlindunginya Hak Asasi Manusia di negara yang bersangkutan.
Asal usul Rule of Law merupakan satu doktrin dalam hukum yang
muncul pada abad 19, bersamaan dengan kelahiran negara konstitusi dan
demokrasi. Kehadirannya dapat dikatakan sebagai reaksi dan koreksi
terhadap negara absolute yang telah berkembang sebelumnya. Negara
absolute sebagai perkembangan keadaan di Eropa yaitu negara yang terdiri
atas wilayah-wilayah otonom. Negara absolute (sebagai negara modern)
menyerap kekuasaan menyerap kekuasaan yang semula ada pada wilayah-
wilayah ke dalam satu tangan yaitu tangan raja.
Rule of Law lahir dengan semangat yang tinggi bersama-sama
dengan demokrasi, parlemen dan sebagainya, kemudian Rule of Law
mengambil alih akomodasi yang dimiliki ancient regime yang terdiri dari
golongan-golongan ningrat, prajurit dan kerajaan. Munculnya keinginan
untuk melakukan pembatasan yuridis (mennurut hukum/secara hukum)
terhadap kekuasaan, pada dasarnya disebabkan oleh politik kekuasaan
yang cenderung korup. Hal ini dikhawatirkan akan menjauhkan fungsi dan
peran negara bagi kehidupan dan masyarakat. Atas dasar pengertian
tersebut maka terdapat keinginan yang sangat besar untuk melakukan
pembatasan terhadap kekuasaan secara normatif, untuk menghindari
kekuasaan yang dispotik.
Dalam hubungan inilah maka kedudukan konstitusi sangat penting
bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu lahirlah negara konstitusi
yang melahirkan doktrin Rule of Law, inilah awal dari kelahiran Doktrin
Egalitarian dalam hukum yang menjadi ciri utama Rule of Law. Disinilah
kemudian Rule of Law merupakan doktrin dengan semangat dan idealisme
keadilan yang tinggi seperti supremasi hukum dan kesamaan setiap orang
di depan hukum.
2. Ciri Negara Hukum
a. Ciri Negara hukum Eropa Kontinental
Menurut Kant untuk dapat disebut sebagai Negara hukum harus
memiliki dua unsur pokok, yaitu:
1) Adanya perlindungan HAM.
2) Adanya pemisahan kekuasaan.
Dalam perkembangan selanjutnya, ternyata model Negara hukum
ini belum memuaskan dan belum dapat mencapai tujuan kalau hanya dua
unsur tersebut tidaklah cukup. Maka Negara hukum sebagai paham liberal
berubah ke paham Negara kemakmuran (Welvaarstaat atau Social Service
Staat) yang dipelopori oleh Friedrich Julius Stahl. Menurut Stahl Negara
hukum harus memenuhi empat unsur pokok, yaitu:
1) Adanya perlindungan HAM.
2) Adanya pemisahan kekuasaan.
3) Pemerintah haruslah berdasarkan peraturan-peraturan hukum.
4) Adanya peradilan administrasi
Pada suatu Welvaarstaat tugas pemerintah adalah mengutamakan
seluruh kepentingan rakyat. Dalam mencampuri urusan kepentingan
rakyat pemerintah harus dibatasi oleh undang-undang. Apabila timbul
perselisihan antara pemerintah dengan rakyat akan diselesaikan oleh
peradilan administrasi yang berdiri sendiri. Peradilan ini memenuhi dua
persyaratan yaitu yang pertama, tidak memihak ke pihak manapun dan
yang kedua, petugas-petugas peradilan harus terdiri dari orang-orang yang
ahli dalam bidang-bidang tersebut.
b. Ciri Negara Anglo Saxon (Rule of Law)
Menurut A.V. Dicey, Negara hukum harus memiliki 3 (tiga) unsur pokok,
yaitu:
1) Supremacy of Law (Supremasi Hukum).
Dalam suatu Negara hukum, maka kedudukan hukum merupakan
posisi tertinggi. Kekuasaan harus tunduk pada hukum, bukan
sebaliknya hukum tunduk pada kekuasaan, maka kekuasaan dapat
membatalkan hukum, dengan kata lain hukum hanya dijadikan alat
untuk membenarkan kekuasaan. Hukum harus menjadi tujuan untuk
melindungi kepentingan rakyat.
2) Equality Before The Law (Kedudukan Sama/Sederajat
dimata Hukum).
Dalam Negara hukum kedudukan penguasa dengan rakyat dimata
hukum adalah sama (sederajat), yang membedakan hanyalah
fungsinya, yakni pemerintah berfungsi mengatur dan rakyat yang
diatur. Baik yang mengatur maupun yang diatur berpedoman satu,
yaitu undang-undang. Bila tidak mempunyai persamaan hukum maka
orang yang mempunyai kekuasaan akan merasa kebal hukum. Pada
prinsipnya Equality Before The Law adalah tidak ada tempat bagi
backing yang salah, melainkan undang-undang merupakan backing
(bantuan/dorongan) terhadap yang benar.
3) Human Right (Hak-hak Manusia dalam UU).
Human Right meliputi 3 hal pokok, yaitu:
a) The Right to Personal Freedom (Kemerdekaan Pribadi)
Yaitu hak untuk melakukan sesuatu yang dianggap baik bagi
dirinya tanpa merugikan orang lain.
b) The Right of Discussion (Kemerdekaan Berdiskusi)
Yaitu hak untuk mengemukakan pendapat dan mengkritik dengan
ketentuan yang bersangkutan, juga harus bersedia mendengarkan
pendapat dan menerima kritik dari orang lain.
c) The Right of Public Meeting (Kemerdekaan Mengadakan Rapat)
Kebebasan ini harus dibatasi jangan sampai menimbulkan
kekacauan atau memprovokasi. Paham Dicey ini adalah
merupakan kelanjutan dari ajaran John Locke yang berpendapat
bahwa manusia sejak lahir sudah mempunyai hak-hak azasi &
tidak seluruh hak-hak azasi diserahkan kepada Negara dalam
kontrak sosial.
Persamaan Negara hukum Eropa Kontinental dengan Negara hukum
Anglo Saxon adalah keduanya mengikuti adanya Supremasi Hukum.
Perbedaannya adalah pada Negara Anglo Saxon tidak terdapat peradilan
administrasi yang berdiri sendiri sehingga siapa saja yang melakukan
pelanggaran akan diadili pada peradilan yang sama, sedangkan Negara hukum
Eropa Kontinental terdapat peradilam administrasi yang berdiri sendiri.
Selanjutnya konsep Rule of Law dikembangkan dari ahli hukum
(International Comunition of Jurits) Asia Tenggara & Asia Pasifik yang
berpendapat bahwa Rule of Law harus mempunyai syarat/ciri sebagai berikut:
a. Perlindungan Konstitusional.
b. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak.
c. Kebebasan untuk menyatakan pendapat.
d. Pemilihan umum yang bebas.
e. Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi.
f. Pendidikan civics (kewarganegaraan/politik)
Adapun ciri Negara hukum menurut Montesquieu, yaitu:
a. Perlindungan HAM.
b. Ditetapkan suatu ketatanegaraan suatu negara.
c. Membatasi kekuasaan & wewenang organ-organ negara.
3. Ciri Negara Hukum
Ada 3 tipe Negara hukum, yaitu:
a. Tipe Negara Hukum Liberal.
Tipe Negara hukum Liberal ini menghandaki supaya Negara berstatus
pasif artinya bahwa warga Negara harus tunduk pada peraturan-peraturan
Negara. Penguasa dalam bertindak sesuai dengan hukum. Disini kaum
Liberal menghendaki agar penguasa dan yang dikuasai ada suatu
persetujuan dalam bentuk hukum, serta persetujuan yang menjadi
penguasa.
b. Tipe Negara Hukum Formil atau Division of Power.
Negara hukum Formil yaitu Negara hukum yang mendapatkan
pengesahan dari rakyat, segala tindakan penguasa memerlukan bentuk
hukum tertentu, harus berdasarkan undang-undang. Negara Hukum formil
ini disebut juga dengan Negara demokratis yang berlandaskan Negara
hukum.
c. Tipe Negara Hukum Materiil atau Sparation of Power.
Negara Hukum Materiil sebenarnya merupakan perkembangan lebih lanjut
dari Negara Hukum Formil; tindakan penguasa harus berdasarkan undang-
undang atau berlaku asas legalitas yaitu dalam negara hukum Materiil
tindakan dari penguasa dalam hal mendesak demi kepentingan warga
Negara dibenarkan bertindak menyimpang dari undang-undang atau
berlaku asas Opportunitas.
B. Negara Hukum Indonesia
1. Landasan Yuridis Negara Hukum Indonesia

Dari pijakan bahwa Negara indonesia adalah Negara hukum sekarang ini
tertuang dengan jelas pada pasal 1 ayat 3 UUD 1945 perubahan ketiga yang
berbunyi Negara Indonesia adalah Negara hukum. Dengan dimasukkannya
landasan ini kedalam bagian pasal pasal UUD 1945 menunjukkan semakin
kuatnya dasar hukum serta menjadi amanat Negara bahwa Negara Indonesia
adalah dan harus merupakan Negara hukum.
Sebelumnya, landasan Negara hukum Indonesia kita temukan dalam
bagian Penjelasan Umum UUD 1945 tentang Sistem Pemerintahan Negara
sebagai berikut.
a. Indonesia ialah Negara yang berdasarkan atas hukum ( Rechtstaat ). Negara
Indonesia berdasar atas hukum (Rechtstaat ), tidak berdasar atas kekuasaan
belaka (machtsstaat ), tidak berdasar kekuasaan belaka (machtsstaat).
b. Sistem Konstitusional, Pemerintah berdasarkan system konstitusi ( hukum
dasar), tidak bersifat absolutism ( kekuasaan yang tidak terbatas).
Berdasarkan perumusan di atas, oleh para pendiri Negara, untuk Negara
hukum Indonesia digunakan istilah Rechtstaat yang dipengaruhi oleh konsep
hukum Belanda yang termasuk dalam wilayah Eropa continental. Bagian
penjelasan ini sekarang tidak lagi menjadi bagian dari UUD 1945. Akan tetapi,
dengan diangkat dan dimuatkan ke dalam pasal 1 ayat 3 UUD 1945 tersebut,
memperteguh paham bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum baik
dalam penyelenggaraan bernegara maupun dalam kehidupan berbangsa dan
bermasyarakat. Masuknya rumusan tersebut juga merupakan salah satu contoh
pelaksanaan kesepakatan dasar dalam melakukan perubahan UUD 1945, yakni
memasukkan hal-hal normatif yang ada dalam penjelasan kedalam pasal-pasal .
Negara hukum yang dimaksud adalah Negara yang menegakkan
supremasi hukum, untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dan tidak ada
kekuasaan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Negara hukum akan
terlihat dengan cirri-ciri adanya:
a. Jaminan perlindungan Hak Asasi Manusia
b. Kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka
c. Legalitas dalam arti hukum, yaitu baik penyelenggara negara maupun warga
negara dalam bertindak berdasar atas dan melalui hukum (MPR RI, 2012).
Landasan Yuridis Negara hukum Indonesia adalah:
a. Pasal 1 ayat 3 UUD 1945.
b. Pasal 28 D Ayat 1 UUD 1945 ( Setiap orang berhak atas penggakuan,
jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan sama
di hadapan hukum).
c. Pasal 33 UUD 1945
d. Pasal 34 UUD 1945
2. Perwujudan Negara Hukum Indonesia
Hukum di Indonesia juga membentuk sistem hukum. Sistem hukum
Indonesia tersusun berdasarkan hukum tertinggi negara, yaitu UUD Negara
Republik Indonesia 1945 kemudian dijabarkan ke dalam peraturan hukum yang
lebih rendah sehingga bersifat hierarkis piramidal. Sistem hukum Indonesia itu
sekarang ini sebagaimana tergambar dalam undang-undang No. 12 Tahun 2011
tentang pembentukan peraturan perundang-undangan.
Jenis dan hierarki peraturan perundangan, menurut pasal 7 Undang-
Undang No. 12 Tahun 2011 sebagai berikut.
a. UUD 1945
b. Ketetapan MPR.
c. UU/ Peraturan pemerintah pengganti undang-undang.
d. Peraturan pemerintah
e. Peraturan presiden
f. Peraturan daerah provinsi
g. Peraturan daerah kabupaten/ kota.
Negara Hukum Indonesia menurut UUD 1945 mengandung prinsip-
prinsip sebagai berikut.
a. Norma hukumnya bersumber pada pancasila sebagai dasar negara dan
adanya hierarki jenjang norma ( stufenbau theorie oleh Hans Kelsen).
b. Sistemnya yaitu system konstitusional.
c. Kedaulatan rakyat atau prinsip demokrasi.
d. Prinsip persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan ( Pasal 27
Ayat 1 UUD 1945).
e. Adanya organ pembentuk undang-undang (DPR).
f. Sistem pemerintahannya adalah presidensial.
g. Kekuasaan kehakiman yang merdeka bebas dari kekuasaan lain ( eksekutif ).
h. Hukum bertujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruhh
tumpahh darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
i. Adanya jaminan akan hak asasi dan kewajiban dasar manusia ( Pasal 28 A-J
UUD 1945).
C. Hakikat Hak Asasi Manusia
1. Pengertian Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang melekat dan memiliki
setiap manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak Asasi
Manusia merupakan hak dasar yang melekat dan dimiliki setiap manusia
sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.Musthafa Kemal Pasha (2002)
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Hak Asasi Manusia adalah hak-hak
dasar yang dibawa manusia sejak lahir yang melekat pada esensinya sebagai
anugerah Allah SWT. Pendapat lain yang sependapat menyatakan bahwa Hak
Asasi Manusia adalah hak-hak dasar yang dibawa sejak lahir dan melekat
dengan potensinya sebagai mahluk dan wakil Tuhan (Gazalli,2004).
Kesadaran akan hak asasi manusia didasarkan pada pengakuan bahwa
semua manusia sebagai makhluk Tuhan memiliki derajat dan martabat yang
sama. Dengan pengakuan akan prinsip-prinsip dasar tersebut maka setiap
manusia memiliki hak dasar yang disebut hak asasi manusia. Jadi adanya hak
asasi manusia tumbuh dari pengakuan manusia sendiri bahwa mereka adalah
sama dan sederajat.
Pengakuan terhadap HAM memiliki dua landasan, yaitu :
a. Landasan yang langsung dan pertama, yakni kodrat manusia, bahwa
kodrat manusia adalah sama derajat dan martabatya. Semua manusia
adalah sederajat tanpa membedakan ras, agama, suku, bahasa, dan
sebagainya, dan
b. Landasan kedua dan yang lebih dalam, yakniTuhan menciptakan manusia.
Bahwa semua manusia adalah makhluk dari pencipta yang sama, yaitu
Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu di hadapan Tuhan manusia adalah sama
kecuali nanti pada amalnya.
Dengan demikian, kesadaran manusia akan hak asasi manusia itu ada karena
pengakuan atas harkat dan martabat yang sama sebagai manusai. Selama
manusia belum mengakui adanya persamaan harkat dan martabat manusia
maka hak asasi manusia belum bisa ditegaskan maka akan terus terjadi
pelanggaran dan penindasan atas hak asasi manusia , baik oleh masyarakat,
bangsa dan pemerintah suatu Negara.
2. Macam Hak Asasi Manusia
Berdasarkan pada undang undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia, dinyatakan bahwa hak asasi manusia adalah seperangkat hak
yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan
Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung
tinggi, dan dilindungi oleh negara hukum, pemerintahan, dan setiap orang demi
demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Berdasarkan pengertian hak asasi manusia, ciri pokok pada hakikat hak
asasi manusia adalah (Tim ICCE UIN, 2003):
a. Hak asasi manusia tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. Hak asasi
manusia adalah bagian dari manusia secara otomatis.
b. Hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis
kelamin, asal usul, ras, agama, etnik, dan pandangan politik.
c. Hak asasi manusia tidak boleh dilanggar. Tidak seorang pun mempunyai hak
untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap memiliki hak
asasi manusia meskipun sebuah negara membuat hukum yang tidak
melindungi bahkan melanggar hak asasi manusia.
Hak asasi manusia merupakan hak dasar dari manusia. Apa saja yang
termasuk hak dasar manusia itu senantiasa berubah menurut ukuran zaman dan
perumusannya. Beberapa contoh hak dasar tersebut sebagai berikut.
Hak asasi manusia menurut Piagam PBB tentang Deklarasi Universal of
Human Right 1948, meliputi:
a.Hak berfikir dan mengeluarkan pendapat,
b. Hak memiliki sesuatu,
c.Hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran,
d. Hak menganut aliran kepercayaan atau agama,
e.Hak untuk hidup,
f. Hak untuk kemerdekaan hidup,
g. Hak untuk memperoleh nama baik,
h. Hak untuk memperoleh pekerjaan, dan
i. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.
Hak asasi manusia menurut Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia, meliputi:
a.Hak untuk hidup,
b. Hak berkeluarga,
c.Hak mengembangkan diri,
d. Hak keadilan,
e.Hak kemerdekaan,
f. Hak berkomunikasi,
g. Hak keamanan,
h. Hak kesejahtraan, dan
i. Hak perlindungan.
Hak asasi manusia meliputi berbagai bidang, sebagai berikut.
a.Hak asasi pribadi (Personal Right), misal, hak kemerdekaan, hak menyatakan
pendapat, hak memeluk agama.
b. Hak asasi politik (Political Right), yaitu hak untuk diakui sebagai warga
negara. Misalnya, memilih dan dipilih, hak berserikat, hak berkumpul.
c.Hak asasi ekonomi (Property Right), misal, hak memiliki sesuatu, hak
mengadakan perjanjian, hak bekerja, hak mendapatkan hidup layak.
d. Hak asasi sosial dan kebudayaan (Social and Cultural Right), misal,
mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan santunan, hak pensiaun, hak
mengembangkan kebudayaan, hak berekspresi.
e.Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan
pemerintahan (Right of Legal Equality).
f. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam tata cara peradilan dan
perlindungan (Procedural Right).
3. Jenis Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Kasus pelanggaran HAM dapat di kategorikan ke dalam dua jenis, yaitu
kasus pelanggaran HAM biasa dan kasus pelanggaran HAM berat. Kasus
pelanggaran HAM biasa di antaranya pemukulan, penganiayaan, pencemaran
nama baik, dan menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya.
Adapun yang termasuk kasus pelanggaran HAM berat menurut UU no 26 tahun
2000 tentang pengadilan HAM meliputi sebagai berikut.
a. Kejahatan genosida, yaitu setiap perbuatan yang di lakukan dengan maksud
untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok
bangsa, ras, kelompok etnis, dan kelompok agama dengan cara sebagai
berikut.
1) Membunuh anggota kelompok.
2) Mengakibatkan penderitaan fisik/mental yang berat terhadap anggota-
anggota kelompok.
3) Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan
kemusnahan secara fisik baik sebagian maupun seluruhnya.
4) Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di
dalam kelompok.
5) Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke
kelompok lain.
b. Kejahatan terhadap kemanusiaan, yaitu salah satu perbuatan yang di lakukan
sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang di ketahui
bahwa serangan tersebut di tunjukkan secara langsung terhadap penduduk
sipil, berupa tindakan sebagai berikut.
1) Pembunuhan, pemusnahan dan perbudakan.
2) Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa.
3) Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara
sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hokum
internasional.
4) Penyiksaan.
5) Pemerkosaan, perbuatan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan
kehamilan, pemandulanatau sterilisasi paksa, atau bentuk-bentuk
kekerasan seksual lain yang setara.
6) Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau sekumpulan yang
di dasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya,
agama, jenis kelamin, atau alasan lain yang telah di akui secara universal
sebagai hal yang di larang menurut hokum internasional.
7) Penghilangan orang secara paksa.
8) Kejahatan apartheid.
c. Kejahatan perang adalah tindakkan kejahatan atau pelanggaran hukum
perang yang dilakukan oleh pihak pribadi yang sedang berperang.
Adapun yang termasuk kejahatan perang antara lain penggunaan
senjata kimia, senjata pemusnah, senjata biologi, dan perlakuan secara brutal
atau sadis. Agresi adalah penyerangan atau serangan dari suatu Negara ke
Negara lain. Sedangkan pembajakan kapal laut atau pesawat udara
terorisme.
Contoh pelanggaran HAM di Indonesia yaitu peristiwa Trisakti dan
Semanggi (1998), kasus marsinah (1993), aksi bom bali (2002), Peristiwa
Tanjung Priok (1984), Kasus Pembunuhan Munir (2004), Pembantaian Santa
Cruz (1991) dan lain sebagainya.
D. Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia
1. Perkembangan Hak Asasi Manusia pada Masa Sejarah
a. Perjuangan Nabi Musa dalam membebaskan Umat Yahudi dari perbudakan
(tahun 6000 sebelum Masehi).
b. Hukum Hammurabi di Babylonia yang memberi jaminan keadilan bagi
warga Negara (tahun 2000 sebelum masehi).
c. Socrates (469-399 SM),Plato (429-347 SM),Aristoteles (384-322 SM)
sebagai filsuf Yunani,peletak dasar diakuinya hak asasi manusia.Mereka
mengajarkan untuk mengkritik pemerintah yang tidak berdasarkan
keadilan,cita-cita,dan kebijaksanaan.
d. Perjuangan Nabi Muhammad saw.Untuk membebaskan para bayi manusia
dan wanita dari penindasan bangsa Quraisy (tahun 600 Masehi).
2. Perkembangan Hak Asasi Manusia di Inggris
Inggris merupakan Negara pertama yang memperjuangkan hak asasi
manusia. Perjuangan tersebut tampak dari beberapa dokumen sebagai berikut:
a. Tahun 1215,munculnya piagam Magno Charta.
b. Tahun 1628,keluarnya Petition of Right.
c. Tahun 1679,munculnya,harbeas copus Act.
d. Tahun 1689,keluar,Bill of Right.
Yaitu merupakan undang-undang yang diterima parlemen inggris sebagai
bentuk perlawanan terhadap Raja James II yaitu tentang :
1) Kebebasan dalam pemilihan
anggota parlemen.
2) Kebebasan dalam berbicara dan
mengeluarkan pendapat.
3) Pajak,undang-undang,dan
pembentukan tentara harus seizin
parlemen.
4) Parlemen berhak untuk mengubah
keputusa raja.
3. Perkembangan Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat
Perjuangan penegakan hak asasi manusia di Amerika di dasari
pemikiran john Locke,yaitu tentang hak-hak alam seperti,hak hidup(life),hak
kebebasan(liberty),dan hak milik(property). Dasar inilah yang kemudian
dijadikan landasan bagi pengakuan hak-hak asasi manusia yang terlihat dalam
United State Declaration of Independence.
4. Hak Asasi Manusia di Perancis
Perjuangan hak asasi manusia di prancis dirumuskan dalam suatu
naskah pada awal revolusi Prancis pada tahun 1789,sebagai pernyataan tidak
puas dari kaum borjuis dan rakyat terhadap kesewenang-wenangan taja Louis
XVI.Naskah tersebut di kenal dengan Declaration des Droits de Ihomme et
Du Citoyenl(pernyataan mengenai hak-hak asasi manusia dan warga negara).
Deklarasi ini menyatakan bahwa hak asasi manusia ialah hak-hak alamiah
yang dimiliki manusia menurut kodratnya, yang tidak dapat dipisahkan
daripada hakikatnya, dank arena itu bersifat suci
Revolusi Perancis ini terkenal sebagai perjuangan penegakkan HAM di
Eropa. Dalam revolusi ini muncul semboyan Lyberty, Egality, da Franity
(Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan). Pada tahun 1971 deklarasi ini
dimasukkan dalam konstitusi Perancis.
5. Atlantic Charter Tahun 1941
Atlatic Charter, muncul pada saat terjadinya perang dunia II yang
dipelopori oleh F.D.Roselvelt, yang menyebutkan The Four Freedom (empat
macam kebebasan
a. Kebebasan beragama (freedom of religion)
b. Kebebasan untuk berbicara dan berpendapat.
c. Kebebasan dari rasa takut.
d. Kebebasan dari kemelaratan.
Empat kebebasan tersebut dianggap sebagai tiang penjaga hak-hak asasi
manusia yang mendasar.
6. Pengakuan Hak Asasi Manusia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa
Pada tanggal 10 Desember 1948,PBB telah berhasil merumuskan naskah
yang dikenal dengan Universal Declaration of Human Right.Isi pokok
deklarasi itu tertuang dalam pasal 1 yang menyatakan: Sekalian orang
dilahirkan meredakan dan mempunyai martabat dan hak-hak yang
sama.Mereka dikaruniai akal dan budi dan hendaknya bergaul satu sama lain
dalam persaudaraan.
Deklarasi tersebut melambangkan komitmen moral dunia internasional
pada hak asasi manusia. Deklarasi universal ini menjadi pedoman sekaligus
standar minimum yang dicita-citakan umat manusia di dunia untuk
menciptakan dunia yang lebih baik dan damai.
7. Hasil Sidang Majelis Umum PBB Tahun 1966
Tahun 1966,dalam sidang majelis umum PBB telah diakui convenants on
Human Right dalam hukum International dan retifikasi oleh Negara-negara
anggota PBB,antara lain:
a. The International on Civil and Political Right,yaitu tentang hak sipil dan
hak politik.
b. The International convent on Economic,Social,and Cultural Right (konvensi
tentang hak ekonomi,sosial,dan budaya)
c. Optional Protocol,adanya kemungkinan seorang warga Negara yang
mengadukan pelanggaran hak asasi manusia kepada The Human Right
Committee PBB setelah melalui pengadilan.
Berdasarkan sejarah perkembangannya, ada 3 (tiga) generasi hak asasi
manusia, yaitu :
1. Generasi pertama adalah hak sipil dan politik yang bermula di dunia barat
(Eropa), contohnya ha katas hidup, ha katas kebebasan dan keamanan, ha
katas kesamaan di muka peradilan, hak kebebasan berpikir, dan berpendapat,
hak beragama, hak berkumpul, dan hak untuk berserikat.
2. Generasi kedua adalah hak ekonomi, sosial, dan budaya yang diperjuangkan
oleh Negara sosialis di Eropa Timur, misalnya hak atas perkerjaan, ha katas
penghasilan yang layak, hak membentuk serikat pekerja, ha katas pangan, hak
ats perumahan, ha katas pendidikan, dan hak atas jaminan sosial.
3. Generasi ketiga adalah hak perdamaian dan pembangunan yang diperjuangkan
oleh negara-negara berkembang (Asia-Afrika), misalnya hak bebas ancaman
musuh, hak setiap bangsa untuk merdeka, hak sederajat dengan bangsa lain,
dan hak mendapatkan kedamaian.
E. Hak Asasi Manusia Di Indonesia
1. Pengakuan Bangsa Indonesia Akan Hak Asasi Manusia
Pengakuan akan Hak Asasa Manusia di Indonesia telah tercantum dalam UUD
1945 yang sebenarnya lebih dahulu ada dibanding dengan Deklarasi Universal
PBB yang lahir pada 10 Desember 1945.Pengakuan hak asasi manusia dalam
UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan,sebagai berikut:
a. Pembukaan UUD 1945 Alenia pertama.
b. Pembukaan UUD 1945 Alenia keempat.
c. Batang tubuh UUD 1945 ( pasal 27 34 UUD 1945).
d. Ketetapan MPR.
e. Peraturan Perundang-Undangan.
Undang-undang yang menjamin HAM di Indonesia adalah Undang-undang
No 39 Tahun 1999 tentang HAM. beriku ini hak-hak yang terdapat dalam
UU No. 39 Tahun 1999.
1) Hak untuk hidup ( Pasal 4).
2) Hak untuk berkeluarga ( Pasal 10 ) .
3) Hak untuk mengembangkan diri ( Pasal 11, 12, 13, 14, 15, 16).
4) Hak untuk memperoleh keadilan ( Pasal 17, 18, 19 ).
5) Hak atas kebebasan pribadi ( Pasal 20-27 ).
6) Hak atas rasa aman ( Pasal 28- 35).
7) Hak atas kesejahteraan ( Pasal 36-42).
8) Hak turut serta dalam pemerintahan ( Pasal 43-44).
9) Hak wanita ( Pasal 45-51).
10) Hak anak ( Pasal 52-66).
2. Penegakan Hak Asasi Manusia
Dalam rangka memberikan jaminan perlindungan terhadap hak asasi
manusia,disamping dibentuk aturan-aturan hukum,juga dibentuk lembaga yang
menangani masalah yang berkaitan dengan penegakan hak asasi manusia antara
lain:
a. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)dibentuk berdasarkan
kepres No 5 Tahun 1993 pada tanggal 7 Juni 1993 yang kemudian
dikukuhkan lagi melalui UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.
Komnas HAM adalah lembaga yang mandiri yang kedudukannya setingkat
dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian,
penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia. Tujuan
komnas HAM antara lain:
1) Pengembangan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi
manusia sesuai dengan pancasila, UUD 1945, piagam PBB, serta
deklarasi HAM, dan
2) Meningkatkan perlindungan dan penegakkan HAM guna perkembangan
pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya berpartisipasi
dalam berbagai bidang kehidupan.
b. Pengadilan Hak Asasi Manusiam dibentuk berdasarkan UU Nomor 26
Tahun 2000 tentang pengadilan HAM. Pengadilan HAM merupakan
pengadilan khusus yang berada di lingkungan peradilan umum dan
berkedudukan di daerah kabupaten atau kota. Peengadilan HAM adalah
pengadilan khusus terhadap pelanggaran HAM berat. Pengadilan HAM
bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran
HAM yang berat. Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan
memutus perkara pelanggaran HAM yang berat yang dilakukan di luar batas
territorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia.
c. Pengadialan HAM Ad Hoc dibentuk atas usul dari DPR berdasarkan
peristiwa tertentu dengan Keputusan Presiden untuk memeriksa dan
memutuskan perkara pelanggaraan HAM yang berat terjadi sebelum
diundangkanya UU Nomor 29 Tahun 2000 Tentang pengadilan HAM.
d. Komisi kebenaran dan Rekonsilasi di bentuk berdasarkan UU No.27 Tahun
2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi .

BAB III
SIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Winarno. (2016). Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi
Aksara.

Anda mungkin juga menyukai