Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sampai saat ini penyakit kanker masih menjadi salah satu penyakit

yang paling ditakuti masyarakat. Kasus kanker di Indonesia dari tahun ke

tahun terus meningkat dan kanker merupakan salah satu penyebab utama

kematian. Tingginya jumlah penderita kanker pada beberapa tahun ini

kemungkinan disebabkan oleh pola makan yang kurang tepat atau tidak

sehat serta kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan

kesehatan secara kontinyu sehingga kasus kanker sering terlambat

diketahui dan diobati. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara

menghindari faktor pencetus kanker dan memperbaiki pola makan.

Masyarakat yang telah menderita kanker, banyak yang enggan melakukan

pengobatan secara medis karena berbagai alasan seperti alasan

ekonomis, psikis, adanya efek samping serta tidak adanya jaminan

kesembuhan. Penemuan tanaman-tanaman obat yang menunjukkan efek

farmakologis terhadap penyakit kanker terutama yang telah mengalami uji

secara ilmiah telah memberikan alternatif dalam mengatasi dan mengobati

penyakit kanker.

Diperkirakan 25% penduduk AS dalam perjalanan hidupnya akan

memperoleh diagnosis kanker, dan setiap harinya ditemukan satu juta

pasien kanker baru. Kurang dari seperempat dapat disembuhkan hanya

dengan pembedahan atau radiasi loka. Sisanya memerlukan kemoterapi


sistemik selama sakitnya. Sebagian kecil (kira-kira 10%) menderita

neoplasmakhusus, kemoterapi dapat menyembuhkan atau memberikan r

emisi yang lama. Namun, pada banyak kasus, terapi dengan obat itu

hanya akan memberikan regresi penyakit, dan komplikasi dan/atau relaps

akhirnya akan mengakhirinya dengan kematian. Jadi, kemungkinan hidup

5 tahun hanya kira-kira 40% saja, sehingga kanker merupakan penyebab

kematian nomor dua setelah penyakit kardiovaskular.

Salah satu metode untuk menguji bahan-bahan yang bersifat

sitotoksik adalah dengan uji toksisitas terhadap larva udang dari Artemia

Salina Leach (Brine Shrimp Lethalaty Test). Metode ini sering digunakan

untuk praskrining terhadap senyawa aktif yang terkandung di dalam

ekstrak tanaman karena murah, cepat, mudah (tidak perlu kondisi aseptis)

dan dapat dipercaya. Lebih dari itu uji larva udang ini juga digunakan

untuk praskrining terhadap senyawa-senyawa yang diduga berkhasiat

sebagai antitumor. Dengan kata lain, uji ini mempunyai korelasi yang

positif dengan potensinya sebagai antikanker. Hasil uji toksisitas ini dapat

diketahui dari jumlah kematian anak udang Artemia salina Leach, karena

pengaruh ekstrak atau senyawa bahan alam tumbuhan tertentu dari dosis

yang telah ditentukan.

Dari pernyataan di atas kita menyamakan pertumbuhan sel kanker ini

dengan pembelahan larva udang (Artemia Salina Leach) dimana akan

dilihat tingkat kematian larva udang (Artemia Salina Leach) dengan

menggunakan ekstrak etanol herba krokot (Portulaca oleracea L.).


B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini adalah yaitu apakah

ekstrak etanol herba krokot dapat digunakan sebagai obat antikanker.


C. Maksud dan Tujuan
1. Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan

memahami toksisitas Ekstrak etanol herba krokot pada hewan uji larva

udang (Artemia Salina Leach) dengan menggunakan metode BSLT.


2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan

toksisitas dari Ekstrak etanol herba krokot pada hewan uji larva

udang (Artemia Salina Leach) dengan menggunakan metode BSLT.


D. Manfaat

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan toksisitas dari

Ekstrak etanol etanol herba krokot pada hewan uji larva udang (Artemia

Salina Leach) dengan menggunakan metode BSLT.

E. Prinsip Percobaan

Uji toksisitas dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

terhadap larva udang (Artemia salina) dengan menggunakan Ekstrak

etanol herba krokot. Dimana setelah 24 jam diamati jumlah larva udang

yang mati.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori
Kebanyakan obat dapat diukur aktivitasnya secara cepat dan teliti

dengan metode kimiawi atau fisika, dengan mnggunakan alat modern,

misalnya dengan spektrofotometer ultraviolet/infrared dan polarograf (Tjay,

2002).

Toksikologi merupakan ilmu yang lebih tua dari Farmakologi. Disiplin

ini mempelajari sifat-sifat racun zat kimia terhadap makhluk hidup dan

lingkungan. Sedikitnya 50.000 zat kimia kini digunakan oleh manusia dan

karena tidak dapat dihindarkan, maka kita harus sadar tentang bahayanya

(Ganiswara, 1995).

Ada beberapa kemungkinan untuk menggolongkan toksikologi

diantaranya : (Mustchler, 1991)

1. Efek toksis akut, yang langsung berhubungan dengan pengambilan

zat toksik.
2. Efek toksik kronik, yang pada umumnya zat dalam jumlah sedikit

diterima tubuh dalam jangka waktu yang lama sehingga akan

terakumulasi mencapai konsentrasi toksik dan dengan demikian

menyebabkan terjadinya gejala keracunan.


3. Efek samping toksik bergantung pada dosis dan spesifik bagi obat.

Sepanjang diberikan dosis yang cukup tinggi, efek samping toksik

terjadi pada setiap orang (Mustchler, 1991).

Setiap zat kimia pada dasarnya bersifat racun dan terjadinya

keracunan ditentukan oleh dosis dan cara pemberian. Paracelsus pada

tahun 1564 telah meletakkan dasar penilaian toksikologis dengan

mengatakan, bahwa dosis menetukan apakah suatu zat kimia adalah


racun (dosis sola facit venenum). Sekarang dikenal banyak faktor yang

menentukan apakah suatu zat kimia bersifat racun, namun dosis tetap

merupakan faktor utama yang terpenting. Untuk setiap zat kimia, termasuk

air, dapat ditentukan dosis kecil yang tidak berefek sama sekali, atau

suatu dosis besar sekali yang dapat menimbulkan keracunan dan

kematian. Untuk zat kimia dengan efek terapi, maka dosis yang adekuat

dapat menimbulkan efek farmakoterapeutik (Ganiswara, 1995).

Untuk obat yang struktur kimianya belum diketahui dan untuk sediaan

tak murni atau campuran dari beberapa zat aktif, metode ini tidak dapat

dilakukan. Obat-obat ini diukur dengan metode biologis, yaitu dengan bio-

assay, dimana aktivitas ditentukan oleh organisme hidup (hewan, kuman)

dengan membandingkan efek obat tersebut dengan efek suatu standar

internasional (Tjay, 2002).

Kanker merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit

kardiovaskular. Kuran dari dapat disembuhkan hanya dengan

pembedahan atau radiasi lokal, sisanya memerlukan kemoterapi sistemik

selama sakitnya. Sebagian kecil (kira-kira 10%) menderita neoplasma

khusus, kemoterapi dapat menyembuhkan atau memberikan remisi yang

lama (Mycek, 2001).

Kemoterapeutik yang digunakan saat ini untuk kanker ialah

sitostatika, hanya menyebabkan pemusnahan atau perusakan sel tumor.

Umumnya kerja obat-obat ini kurang spesifik sehingga pada saat yang

sama akan menimbulkan kerusakan yang parah pada sel sehat. Yang
terutama diserang adalah jaringan yang mempunyai laju pembelahan sel

yang tinggi (sum-sum tulang, kelenjar testes, mukosa usus, dan rambut)

(Mutschler, 1991).

Idealnya, obat-obat ini mengganggu proses-proses selular sel-sel

maligna. Obat-obat antikanker yang ada sekarang justru tidak mengenal

sel-sel neoplasma itu secara khusus, tetapi juga mempengaruhi semua

sel yang tumbuh normal ataupun abnormal. Karena itu, hampir semua

obat-obat anti tumor mempunyai kurva respon dosis yang kurang baik

untuk efek toksik maupun terapi (Mycek, 2001).

Prosedur pemeriksaan toksisitas obat dan zat kimia menjadi sangat

rumit dan semuanya dilakukan untuk mencegah kejadian yang dapat

merugikan konsumen/pasien seperti pada kasus talidomid. Tetapi perlu

disadari bahwa uji keamanan yang ketat. Sekalipun tidak dapat menjamin

keamanan konsumen seratus persen. Penggunaan obat, terutama yang

baru selalu akan disertai resiko, walaupun resiko ini telah diusahakan

sekecil mungkin. Hal ini terjadi karena beberapa reaksi toksik atau efek

samping timbul dengan frekuensi kejadian yang amat kecil (Ganiswara,

1995).

Lebih dari itu uji larva udang ini juga digunakan untuk praskrining

terhadap senyawasenyawa yang diduga berkhasiat sebagai antitumor.

Hasil uji toksisitas ini dapat diketahui dari jumlah kematian anak udang

Artemia salina Leach, karena pengaruh ekstrak atau senyawa bahan alam

tumbuhan tertentu dari dosis yang telah ditentukan. Metode ini dilakukan
dengan menentukan besarnya LC50 selama 24 jam. Data tersebut

dianalisis dengan komputer, menggunakan Probit Analysis untuk

menentukan harga LC50. Bila masing-masing ekstrak yang diuji kurang

dari 1000 g/ml maka dianggap menunjukkan aktivitas biologik (Anderson,

1991).

Artemia dapat hidup di perairan yang bersalinitas tinggi antara 60 -

300 ppt dan mempunyai toleransi tinggi terhadap oksigen dalam air. Oleh

karena itu artemia ini sangat potensial untuk dibudidayakan di tambak-

tambak tambak yang bersalinitas tinggi di Indonesia. Budidaya artemia

mempunyai prospek yang sangat cerah untuk dikembangkan. Baik kista

maupun biomasanya dapat diolah menjadi produk kering yang memiliki

ekonomis tinggi guna mendukung usaha budidaya udang dan ikan.

Budidaya artemia relatif sederhana serta murah, sehingga tidak menuntut

ketrampilan khusus dan modal besar bagi pembudidayanya (Anderson,

1991).

Pengertian tentang LC50 adalah konsentrasi dari suatu senyawa kimia

di udara maupun di dalam air yand dapat menyebabkan 50 % kematian

pada suatu populasi hewan uji atau mahluk hidup tertentu. Sedangkan

LD50 adalah dosis dari suatu senyawa kimia yang dapat menyebabkan 50

% kematian hewan uji yang diberikan pada setiap individu yang telah

ditentukan atau yang lebih tepat adalah dosis tunggal yang diperoleh

secara statistik dari suatu bahan yang dapat menyebabkan 50 % kematian

hewan uji. Penggunaan LC50 dimaksudkan untuk pengujian ketoksikan


dengan perlakuan terhadap hewan uji secara berkelompok yaitu pada

saat hewan uji dipaparkan suatu bahan kimia melalui udara maka hewan

uji tersebut akan menghirupnya. Sedangkan LD 50 digunakan untuk

menguji ketoksikan suatu bahan kimia dengan rute pemberian secara oral

atau intraperitonial pada hewan uji. Artemia (Artemia salina Leach)

merupakan pakan bagi Larva udan dan ikan yang banyak digunakan oleh

perusahaan-perusahaan pembenihan udang dan ikan (hatchery). Artemia

merupakan jenis crustaceae tingkat rendah dari phylum arthropoda yang

memiliki kandungan nutrisi cukup tinggi seperti karbohidrat, lemak, protein

dan asam-asam amino. Benih ikan dan udang pada stadium awal

mempunyai saluran pencernaan yang masih sangat sederhana sehingga

memerlukan nutrisi pakan jasad renik yang mengandung nilai gizi tinggi.

Nauplius artemia mempunyai kandungan protein hingga 63% dari berat

keringnya. Selain itu artemia sangat baik untuk pakan ikan hias karena

banyak mengandung pigmen warna yang diperlukan untuk variasi dan

kecerahan warna pada ikan hias agar lebih menarik (Anderson, 1991).

Tingginya kasus kanker pada beberapa dekade ini tidak terlepas dari

pola makan yang tidak tepat dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk

memeriksa kesehatan secara kontinu sehingga keberadaan kanker sering

terlambat diketahui dan diobati. Menurut para ahli kanker bahwa 80-85%

penyakit kanker berasal dari luar tubuh (teksogen) dan selebihnya berasal

dari dalam dan berupa faktor keturunan dan kesalahan replikasi sel. Dari

faktor luar dapat berupa makanan yang mengandung karsinogen, radiasi,


infeksi virus dan populasi udara. Berdasarkan pendapat tersebut

mencegah terhadap kanker dapat dilakukan gaya hidup sehat dan

menjauhi faktor yang beresiko kanker (Mangan, 2003).

Apapun penyebabnya, pada dasarnya kanker merupakan penyakit sel

yang dicirikan dengan perubahan mekanisme kontrol yang mengatur

proliferasi dan deferensiasi sel. Sel-sel yang mengalami transformasi

neoplastik umumnya mengekspresi antigen-antigen permukaan sel yang

tampak seperti tipe janin (fetal) normal, memiliki tanda-tanda nyata lainnya

seperti tidak terjadi maturitas dan mungkin memperlihatkan abnormalitas

kromosom baik kualitas maupun kuantitasnya, termasuk berbagai

translokasi dan penampilan sekuens-sekuens gen teramplifikasi. Sel-sel

demikian ini, mengalami proliferasi secara berlebihan dan membentuk

tumor lokal yang dapat menekan atau menginvasi struktur-struktur normal

disekitarnya (Katzung, 2004).

Kanker atau karsinoma adalah pembentukan jaringan baru yang

abnormal dan bersifat ganas (maligne). Suatu kelompok sel dengan

mendadak menjadi liar dan memperbanyak diri secara pesat dan terus-

menerus. Akibatnya adalah pembengkakan atau benjolan yang disebut

tumor atau neoplasma. Jenis-jenis kanker yang dikenal banyak sekali dan

hampir semua organ dapat dihinggapi penyakit ganas ini, termasuk limfe,

darah, sumsum dan otak. Kanker merupakan penyebab kematian kedua

di dunia setelah penyakit jantung dan pembuluh (Tjay, 2002).


Bentuk-bentuk tumor dinamakan menurut jaringan tempat neoplasma

yaitu (Tjay, 2002) :

1. Adenoma : benjolan maligne pada kelenjar, misalnya pada prostat

dan mamma.

2. Limfoma : kanker pada kelenjar limfe, misalnya penyakit (non)

hodgkin p. Burkit yang berciri benjolan rahang.

3. Sarkoma : neoplasma ganas yang berasal pembuluh darah,

jaringan ikat, otot atau tulang, misalnya sindroma kaposi, suatu tumor

pembuluh di bawah kulit tungkai bawah dengan bercak-bercak merah.

4. Myeloma : Kanker pada sumsum tulang misalnya penyakit kahler

(multipel, myeloma) dengan pertumbuhan liar sel-sel plasma di

sumsum. Sel plasma termasuk leukosit dan membentuk antibodies.

5. Melanoma : neoplasma kulit yang luar biasa ganasnya, terdiri dari

sel-sel pigmen, yang dapat menyebar dengan pesat.

Tanda keganasan dari suatu tumor adalah pertumbuhan yang

mengvitrasi, merusak dan membentuk metastatis. Ini berarti bahwa tumor

ganas tidak akan membatasi diri sampai batas jaringan melainkan akan

masuk kedalam organ dan pembuluh darah. Pada pertumbuhan ini

jaringan sel akan rusak (destruksi) dan pada bagian tubuh lainnya akan

membentuk (metastatis) (Mutschler, 1991).

Antikanker diharapkan memiliki toksisitas selektif artinya

menghancurkan sel kanker tanpa merusak sel jaringan normal. Pada

umumnya antineoplastik menekan pertumbuhan atau proliferasi sel dan


menimbulkan toksisitas, karena menghambat pembelahan sel normal

yang proliferasinya cepat misalnya sumsum tulang, epitel germinativum,

mukosa saluran cerna, folikel rambut dan jaringan limfosit. Terapi hanya

dapat dikatakan baik, bila dosis yang digunakan dapat mematikan tumor

yang ganas dan tidak terlalu mengganggu sel normal yang berploriferasi

(Ganiswara, 1995).

Kemoterapi kanker merusak dan mematikan sel sehingga

menghentikan perkembangan tumor. Umumnya, serangan bersifat

langsung terhadap tempat-tempat terjadinya metabolisme sel dalam

replikasi sel, misalnya tersedianya prekursor purin dan pirimidin untuk

proses sintesis DNA dan RNA. Idealnya obat-obat ini khususnya

menggangu proses-proses selular sel-sel maligna. Obat-obat antikanker

yang ada sekarang justru tidak mengenal sel-sel neoplasma itu secara

khusus, tetapi juga mempengaruhi semua sel yang tumbuh normal

ataupun abnormal. Karena itu, hampir semua obat-obat antitumor

mempunyai kurva respon-dosis yang curam baik untuk efek toksik

maupun terapi, karena itu, amatlah penting memberikan dosis obat

disesuaikan dengan status fisik pasien (Mycek, 2001).

B. Uraian Bahan dan Obat

1. Uraian Bahan

a. Air Suling (Ditjen POM,1979)

Nama resmi : Aqua destillata


Sinonim : Air suling, aquadest

RM/BM : H2O / 18,02

Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau;

tidak mempunyai rasa.

Penyimpanan : Dalam wadah tertrutup baik.

Kegunaan : Sebagai pelarut

b. Ekstrak ragi (Ditjen POM,1979)

Nama resmi : Ekstrak ragi

Sinonim : Sari ragi

Pemerian : Kuning kemerahan sampai coklat, bau khas

tidak busuk

Kelarutan : Larut dalam air, membentuk larutan kuning

sampai coklat, bereaksi asam lemah

Penyimpanan : Dalam wadah tertrutup baik.

Kegunaan : Sebagai sumber makanan Artemia salina

Leach

2. Uraian Tanaman (Tjitrosoepomo, 2001)


a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdome : Tracheobionta
Divisio : Spermatophyta
Classis : Magnoliopsida
Subclassis : Caryophyllidae
Ordo : Caryophyllales
Family : Portulacaceae
Genus : Portulaca L.
Species : Portulaca oleracea L.
b. Morfologi (Tjitrosoepomo, 2001)
Krokot merupakan tanaman yang hanya ditemukan di daerah

yang beriklim tropis dan mempunyai empat musim, seperti

Indonesia. Jenis krokot mencapai 40 sampai 100 spesies.


Tanaman krokot ini mempunyai manfaat bagi kesehatan

manusia, batang, daun, dan bunganya dapat dijadikan obat untuk

berbagai penyakit. Salah satunya adalah obat untuk wanita yang

mengalami pendarahan saat haid yang terlalu banyak.


Selain dapat mengurangi pendarahan saat haid, tanaman

krokot ini juga bisa sebagai obat alternatif untuk mengobati penyakit

kulit, gangguan pencernaan, diabetes melitus, menurunkan

demam, dan masih banyal lagi khasiat lainnya.

3. Uraian Hewan Coba

Klasifikasi Artemia salina Luch (Mudjiman, 1998):

Kingdom : Animalia

Phyllum : Arthropoda

Class : Crustacea

Ordo : Arostracia

Familia : Artemiidae

Genus : Artemia

Species : Artemia salina Leach

4. Karakteristik
a. Siklus Hidup Larva Udang (Artemia salina) (Mudjiman, 1998)
Telur-telur yang kering direndam dalam air laut yang bersuhu

25oC akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Dari dalam

cangkangnya keluarlah burayak (larva) yang juga dikenal dengan

istilah nauplius. Dalam perkembangan selanjutnya, burayak akan

mengalami 15 kali perubahan bentuk (metamorfosis). Burayak

tingkat I dinamakan instar, tingkat II instar II, tingkat III Instar III,

demikian seterusnya sampai Instar XV. Setelah itu berubahlah

mereka menjadi artemia dewasa.


Burayak yang baru saja menetas masih dalam tingkat Instar I

bentuknya bulat lonjong dengan panjang sekitar 400 mikron (0,4

mm) dan beratnya 15 mikrogram. Warnanya kemerah-merahan

karena masih banyak mengandung makanan cadangan. Oleh karena

itu, mereka masih belum perlu makanan.


Anggota badannya terdiri dari sungut kecil (antenula atau

antena I dan sepasang sungut besar (antenna II). Dibagian depan

diantara kedua sungut kecilnya terdapat bintik merah yang tidak lain

adalah mata naupliusnya (oselus). Dibelakang sungut besar terdapat

sepasang mandibula (rahang) dan rudimenter kecil. Sedangkan

dibagian perur (ventral) sebelah depan terdapatlah labrum.


Pada pangkal sungut besar (antena II) terdapat bangunan

seperti duri yang menghadap ke belakang (gnotobasen seta)

bangunan ini merupakan cirri khusus untuk membedakan burayak

instar I, instar II dan instar III. Pada burayak instar I (baru menetas)
gnotobasen setanya masih belum berbulu dan juga belum

bercabang.
Sekitar 24 jam setelah menetas, burayak akan berubah menjadi

instar II. Lebih lama lagi akan berubah menjadi instar III.Pada

tingkatan II, gnotobasen setanya sudah berbulu tapi masih belum

bercabang. Sedangkan pada instar III, selain berbulu gnotobasen

seta tersebut sudah bercabang II.


Pada tingkatan instar II, burayak mulai mempunyai mulut,

saluran pencernaan dan dubur. Oleh karena itu, mereka mulai

mencari makan, bersamaan dengan itu, cadangan makanannya juga

sudah mulai habis. Pengumpulan makanannya dengan cara

menggerak-gerakkan antena II-nya. Selain itu untuk mengumpulkan

makanan antena II juga berfungsi untuk bergerak. Tubuh instar II dan

instar III sudah lebih panjang dari instar I.


Pada tingkatan selanjutnya, disebelah kanan dan kiri mata

nauplius mulai terbentuk sepasang mata majemuk. Mula-mula masih

belum bertangkai. Kemudian secara berangsur-angsur berubah

menjadi bertangkai. Selain itu, dibagian samping badannya (kanan

dan kiri) juga berangsur-angsur tumbuh tunas kakinya (torakopada).

Mula-mula tumbuh dibagian depan kemudian berturut-turut disusul

oleh bagian-bagian yang lebih ke belakang. Setelah menjadi instar

XV, kakinya sudah lengkap sebanyak 11 pasang, maka berakhirlah

masa burayak, dan berubah menjadi artemia dewasa.


BAB III

METODE KERJA

A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum BSLT adalah Aerator,

Aluminium foil, batang pengaduk, gelas kimia, karet gelang, kertas pH,

lampu, pipet tetes, plastik, sendok tanduk, tissue, toples kaca, dan vial.
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum BSLT adalah Air laut,

ekstrak etanol sawo manila (Manilkara Zapota L.P) (Royen), ragi.


C. Hewan Coba
Hewan coba yang digunakan dalam praktikum BSLT adalah

Larva udang (Artemia salina Leach).


D. Cara kerja

1. Pemilihan dan Pemeliharaan Hewan Coba

a. Direndam sebanyak 50 mg telur Artemia salina Leach ke dalam

250 ml air laut pada kondisi pH 7-8 dibawah cahaya lampu dan

suhu 25oC yang dilengkapi aerator.


b. Setelah 24 jam telur akan menetas dan menjadi larva. Larva yang

telah berumur 48 jam akan digunakan sebagai hewan uji untuk

diuji aktivitas toksisitasnya.

2. Penyiapan bahan

a. Pembuatan suspensi ragi


Disiapkan alat dan bahan lalu ditimbang ragi 0,01 gr.

Kemudian, ditambahkan dengan 10 ml air suling lalu diaduk lagi

hingga homogen.
b. Pembuatan Ekstrak Etanol Herba Krokot (Portulaca

oleracea L.)

Disiapkan alat dan bahan lalu ditimbang 100 mg ekstrak

Ekstrak Etanol herba krokot (Portulaca oleracea L.). Kemudian,

dilarutkan dengan etanol hingga 10 mL. Setelah itu,

dihomogenkan dan dimasukkan kedalam vial dan ditutup dengan

aluminium foil.

c. Pra-perlakuan hewan coba


Disiapkan alat dan bahan lalu diletakkan toples dibawah

statif. Setelah itu dimasukkan plastik bening kedalam toples dan

dijepit dengan karet sebagai penahan. Setelah itu, diisi dengan

250 mL air laut yang telah disaring. Lalu, ditimbang 10 mg larva

udang dan dimasukkan kedalam air laut yang tadi. Lalu, dipasang

airator. Kemudian, diberikan suspensi ragi lalu plastik ditutup dan


dibuat lubang udara diatasnya dan dipasang lampu pijar

diatasnya. Setelah 48 jam telur akan menetas.


d. Perlakuan hewan coba
Dimasukkan sampel uji ekstrak etanol herba krokot dengan

konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 1, 10, 100, dan 1000

g/mL, serta air laut sebagai kontrol ke dalam vial. Masing-masing

konsentrasi dilakukan 3 replikasi. Lalu, ekstrak etanol herba krokot

yang berada didalam vial dikeringkan menggunakan dengan

hairdryer dan ditambahkan 5 ml air laut. Setelah itu, dimasukkan

10 ekor larva udang (Artemia salina Leach) ke dalam masing-

masing vial dan dicukupkan volumenya sampai 10 ml dengan air

laut. Kemudian, ditambahkan 3 tetes ekstrak ragi dan disimpan

vial-vial tersebut dibawah sinar lampu. Dilakukan pengamatan

setelah 24 jam terhadap larva yang mati.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tabel Pengamatan

Tabel 1. Pengamatan

Jumlah Larva Yang Mati Tiap


Jenis
Replikasi Konsentrasi (g/mL) Kontrol
Sampel
1 10 100 1000
Ekstrak
1 2 0 2 8 0
Etanol
Herba
2 5 0 6 8 5
Krokot
(Portulaca
3 5 0 6 7 1
oleracea L.)
Total kematian 12 0 14 23 6
% kematian 40% 0% 46,67% 76,67% 20%

Tabel 2. Faktor Koreksi

Log Konsentrasi Probit


xy
x x2 Y y2
0 0 4,75 22,56 0
1 1 0 0 0
2 4 4,92 24,20 9,84
3 9 5,74 32,94 17,22
2
x = 6 x = 14 y = 15,41 y2 = 79,7 xy = 27,06
Tabel 3

X N Y W NW
0 30 4,75 0,616 18,48
1 30 0 0 0
2 30 4,92 0,634 19,02
3 30 5,74 0,503 15,09
NW =52,59

B. Pembahasan

Kanker merupakan mutasi genetik karena DNA sel normal mengalami

kerusakan. Perbanyakan sel yang rusak akan berpotensi menghasilkan

sel kanker. Kerusakan DNA sel dapat terjadi karena radikal bebas dan zat

pemicu kanker (karsinogen). Radikal bebas merupakan molekul yang

kehilangan pasangan elektron dan berusaha mencuri elektron dari sel

tubuh. Radikal bebass sebetulnya hasil sampingan metabolisme tubuh

atau berasal dari lingkungan sekitar kita, misalnya asap rokok, gas

kendaraan, atau zat-zat kimia seperti insektisida. Sedangkan zat

karsinogen berasal dari makanan. Zat yang semula prokarsinogen diubah

oleh enzim jahat dalam tubuh menjadi zat pemicu kanker.

Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dalah uji pendahuluan suatu

senyawa yang memiliki keuntungan yaitu hasil yang diperoleh lebih cepat

(24 jam), tidak mahal, mudah pengerjaannya dari pengujian lainnya

karena tidak membutuhkan peralatan dan latihan khusus/ sampel yang

digunakan relatif sedikit. Efek toksik dapat diketahui atau diukur dari

kematian larva karena pengaruh bahan uji.


LC50 adalah konsentrasi dari suatu senyawa kimia di udara atau dalam

air yang dapat menyebabkan 50% kematian pada suatu populasi hewan

uji atau makhluk hidup tertentu. Penggunaan LC 50 dimaksudkan untuk

pengujian ketoksikan dengan perlakuan terhadap hewan uji secara

berkelompok yaitu pada saat hewan uji dipaparkan suatu bahan kimia

melalui udara maka hewan uji tersebut akan menghirupnya atau

percobaan toksisitas dengan media air. Nilai LC 50 dapat digunakan untuk

menentukan tingkat efek toksik suatu senyawa sehingga dapat juga untuk

memprediksi potensinya sebagai antikanker.

Adapun siklus hidup dari Artemia salina Leach, dimulai dari kista atau

telur, kemudian menjadi embrio, embrio ini masih akan melekat pada kulit

kista, setelah menjadi embrio dia akan menjadi nauplii, nauplii inilah yang

berenang bebas dan memulai hidupnya, dan dalam fase ini mulai mencari

makanan untuk dirinya sendiri. Setelah itu menjadi Artemia dewasa,

setelah dewasa Artemia jantan dan Artemia betina bertemu dan

mengalami perkembang biakan, dan lahirlah kembali kista ataupun telur.

Adapun maksud dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui dan

memahami toksisitas Ekstrak etanol herba krokot pada hewan uji larva

udang (Artemia Salina Leach) dengan menggunakan metode BSLT.

Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu untuk menentukan

toksisitas dari Ekstrak etanol herba krokot pada hewan uji larva udang

(Artemia Salina Leach) dengan menggunakan metode BSLT.


Alasan digunakannya larva udang dalam percobaan ini yaitu karena

larva udang mempunyai siklus hidup yang lebih cepat dan mudah

dikembang biakkan.

Pada percobaan ini, dilakukan dengan cara disiapkan alat dan bahan

yang akan digunakan. Hewan coba yang akan digunakan yaitu Larva

Udang (Artemia salina Leach). Alasan digunakannya Larva Udang yaitu

karena Larva Udang memiliki daur hidup yang mirip dengan pertumbuhan

sel kanker atau beberapa pertumbuhan sel baru yang tidak sama sekali

dipengaruhi oleh sel dalam tubuh manusia.

Selanjutnya, dimasukkan sampel uji Ekstrak etanol herba krokot

(Portulaca oleracea L.) dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 1,

10, 100 dan 1000 g/mL, serta sebagai larutan kontrol yaitu air laut.

Digunakan 4 variasi konsentrasi yang berbeda masing-masing konsentrasi

1, 10, 100 dan 1000 g/ml untuk membandingkan toksisitas dan efek

toksik yang ditimbulkan masing-masing konsentrasi tersebut sehingga

dapat ditentukan konsentrasi berapa yang lebih efektif dalam percobaan

ini.

Alasan penggunaan ekstrak etanol herba krokot (Portulaca oleracea

L.) adalah untuk melihat sejauh mana pengaruhnya terhadap potensi

terjadinya kanker. Digunakan air laut sebagai kontrol, untuk mencegah air

laut akan memberikan efek.


Adapun hasil pengamatan yang diperoleh yaitu pada konsentrasi 1

replikasi I yang mati 2, pada replikasi II larva yang mati 5, pada replikasi

III larva yang mati 5 dengan total kematian 12. Pada konsentrasi 10,

replikasi I yang mati 0, pada replikasi II larva yang mati 0, pada replikasi III

larva yang mati 0 dengan total kematian 0. Pada konsentrasi 100, replikasi

I yang mati 2, pada replikasi II larva yang mati 6, pada replikasi III larva

yang mati 6 dengan total kematian 14. Pada konsentrasi 1000, replikasi I

yang mati 8, pada replikasi II larva yang mati 8, pada replikasi III larva

yang mati 7 dengan total kematian 23. Dimana % kematian dari

konsentrasi 1 adalah 40%. Pada konsentrasi 10 adalah 0%. Pada

konsentrasi 100 adalah 46,67% dan pada konsentrasi 1000 adalah

76,67%.

Adapun nilai probit dari persen kematian adalah pada konsentrasi 1

nilai probitnya yaitu 4,75. Pada konsentrasi 10 nilai probitnya yaitu 0. Pada

konsentrasi 100 nilai probitnya yaitu 4,92. Pada konsentrasi 1000 nilai

probitnya yaitu 5,76.

Tingkat toksisitas ekstrak suatu bahan dapat ditentukan dengan

melihat nilai LC50 nya, apabila nilai LC50nya kurang dari 1000 ppm maka

bahan tersebut dikatakan bersifat toksik dan sebaliknya jika nilai LC 50nya

lebih besar dari 1000 ppm maka bahan tersebut dikatakan bersifat tidak

toksik.
Dari pengamatan didapatkan hasil yaitu Lc50 5,011 g/mL

2,008 g/mL, yang berarti ekstrak etanol herba krokot yang digunakan

bersifat amat sangat beracun.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil, praktikum ini dilakukan untuk menentukan

toksisitas ekstrak etanol herba krokot (Portulaca oleracea L.) pada hewan

uji larva udang (Artemia Salina Leach) dengan metode BSLT dan dengan

menggunakan analisis data dan analisis probit, maka didapatkan hasil

yaitu Lc50 5,011 g/mL 2,008 g/mL, yang berarti ekstrak etanol herba

krokot (Portulaca oleracea L.) yang digunakan bersifat amat sangat

beracun.

B. Saran
Sebaiknya asisten lebih memperhatikan praktikan agar lebih berhati-

hati menggunakan alat laboratorium.


DAFTAR PUSTAKA

Anderson, J.E. Goetc, C.M., dan Laughlin, J.L., (1991), A. Blind


Comparison of simple Benzch Top Bioassay and Human Tumor
Cell Cytotoxicities as Antitumor Prescreens, Phytochem Anal.,
Volume 2.

Anonim, 2017, Penuntun Praktikum Farmakologi dan Toksikologi III,


Universitas Muslim Indonesia: Makassar

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI: Jakarta.

Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Gaya Baru: Jakarta.

Jawetz, Ernest., 1991, Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan, EGC


Penerbi Buku Kedokteran: Jakarta.

Jasin. M., 1989, Sistematika Hewan (Vertebrata dan Invertebrata), Sinar


Wijaya: Surabaya.

Katzung, Bertram., 2002, Farmakologi Dasar dan Klinik buku kedua edisi
8. PT Salemba Medika: Jakarta.

Malole. M. B., dan Utami P., 1989, Penggunaan Hewan-Hewan


Percobaan di Laboratorium, Depdikbud: IPB.

Mangan, Y., 2003, Cara Bijak Menaklukkan Kanker. Agromedia


Pustaka: Jakarta.

Mutschler. E., 1991, Dinamika Obat. ITB: Bandung.

Mycek, Mary., 2001, Farmakologi Ulasan Bergambar, Widya medika:


Jakarta.

Tjay, 2002, Obat Obat Penting, PT. Elex media komputindo: Jakarta.
LAMPIRAN

SKEMA KERJA

A. Pembuatan ekstrak etanol herba krokot


Disiapkan alat dan bahan

Siapkan ekstrak etanol herba

Buat ekstrak etanol herba krokot 100 mg/10 mL larutan persediaan

Buat ekstrak etanol herba krokot menjadi 4 konsentrasi 1, 10, 100,

dan 100 g/mL dan 1 uji kontrol


B. Pra perlakuan

Direndam 50 mg telur Artemia salina Leach kedalam 250 ml air laut

pada pH 7-8 dibawah cahaya lampu dan suhu 25 C

Diiamkan selama 48 jam sampai menetas

C. Perlakuan

Masukkan ekstrak etanol sawo manila dengan konsentrasi 1, 10, 100,

dan 100 g/ml, serta air laut sebagi pengontrol dalam vial
masing- masing konsentrasi dibuat 3 replikasi

ekstrak etanol herba krokot dikeringkan dengan menggunakan

hairdrayer

Dimasukkan dalam vial dan dicukupkan 5 ml air laut

Masukkan 10 ekor larva udang (Artemia salina Leach)

Dicukupkan volumenya sampai 10 mL dengan air laut

Tambahkan 3 tetes suspensi ragi kedalam tiap vial

Diinkubasi 1x24 jam

Dihitung LC50

GAMBAR
PROSES SEBELUM SEBELUM PEMIJARAN
PENGERINGAN PENAMBAHAN LARVA

PERHITUNGAN

Tabel 2. Faktor Koreksi


x 2 x 2
n . x 2 n . x 2
a= x 2 . yx . xy b= n. xyx . y

14 x 51,416 x 27,06 4 x 27,066 x 15,41


a= 4 x 1436 b= 4 x 1436

719,74162,36 108,2492,46
a= 5636 b= 5636

557,38 15,78
a= 20 b= 20

a = 27,869 b = 0,789

y = a + bx

a = 27,869

b = 0,789

Lc50 = y = 5

y = a+bx

5 = 27,869 + 0,789X

5 27,869 = 0,789X

X = 22,869

0,789

X = 28,984

Lc 50 = X

Log LC50 = antilog 28,984

= 5,011 g/mL
Tabel. 3

1
= b

1
= 0,789

= 1,267
Standar Error (SE)

SE Log LC50 = nW SE LC50 = Lc50 x log e10 x SE log Lc50
1,267 = 5,011 x 2,303 x 0,174
= 52,59
= 2,008 g/mL
1,267
= 7,251

= 0,174

Jadi, nilai LC50 dari ekstrak etanol herba krokot adalah 5,011 g/mL

2,008 g/mL.