Anda di halaman 1dari 20

DEFINISI EKOLOGI DAN KONSEP EKOLOGI HEWAN

1. Ekologi dan Konsep Ekologi Hewan


Ekologi berasal dari bahasa Yunani; Oikos = rumah , Logos = ilmu. Beberapa ahli
ekologi mendefinisikan Ekologi sebagai berikut:
Odum (1963), Ekologi diartikan sebagai totalitas atau pola hubungan antara makhluk
dengan lingkungannya.
Secara umum Ekologi sebagai salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari
interaksi atau hubungan pengaruh mempengaruhi dan saling ketergantungan antara
organisme dengan lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap
kehidupan makhluk hidup itu. Lingkungan tersebut artinya segala sesuatu yang ada di
sekitar makhluk hidup yaitu lingkungan biotik maupun abiotik.
Hal-hal yang dihadapi dalam ekologi sebagai suatu ilmu adalah organisme,
kehadirannya dan tingkat kelimpahannya di suatu tempat serta faktor-faktor dan proses-
proses penyebabnya. Dengan demikian, definisi-definisi tersebut jika dihubungkan dengan
ekologi hewan dapat disimpulkan bahwa Ekologi Hewan adalah suatu cabang biologi yang
khusus mempelajari interaksi-interaksi antara hewan dengan lingkungan biotic dan abiotik
secara langsung maupun tidak langsung meliputi sebaran (distribusi) maupun tingkat
kelimpahan hewan tersebut.
Sasaran utama ekologi hewan adalah pemahaman mengenai aspek-aspek dasar yang
melandasi kinerja hewan-hewan sebagai individu, populasi, komunitas dan ekosistem yang
ditempatinya, meliputi pengenalan pola proses interaksi serta faktor-faktor penting yang
menyebabkan keberhasilan maupun ketidakberhasilan organisme-organisme dan
ekosistem-ekosistem itu dalam mempertahankan keberadaannya. Berbagai faktor dan
proses ini merupakan informasi yang dapat dijadikan dasar dalam menyusun permodelan,
peramalan dan penerapannya bagi kepentingan manusia, seperti; habitat, distribusi dan
kelimpahannya, makanannya, perilaku (behavior) dan lain-lain.
Setelah mempelajari dan memahami hal-hal tersebut, maka pengetahuan ini dapat kita
manfaatkan untuk misalnya, memprediksi kelimpahannya dan menganalisis keadaannya
serta peranannya dalam ekosistem, menjaga kelestariannya serta kegiatan lainnya yang
menyangkut keberadaan hewan tersebut. Sebagai contoh, kita mempelajari salah satu jenis
hewan mulai dari habitatnya di alam, distribusi dan kelimpahannya, makanannya,
prilakunya, dan lain-lain. Setelah semua dipahami dengan pengamatan dan penelitian yang
cermat dan teliti, maka pengetahuan itu dapat kita manfaatkan misalnya dalam menjaga
kelestariannya di alam dengan menjaga keutuhan lingkungan, habitat
alaminya,memprediksi kelimpahan populasinya kelak, menganalisis perannya dalam
ekosistem, membudidayakannya serta kegiatan lainnya dengan mengoptimalkan kondisi
lingkungannya menyerupai habitat aslinya.
Adapun ruang lingkup ekologi hewan dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu;
Synekologidan Autekologi. Synekologi adalah materi bahasan dalam kajian atau
penelitiannya ialah komunitas dengan berbagai interaksi antar populasi yang terjadi dalam
komunitas tersebut. Contohnya; mempelajari atau meneliti tentang distribusi dan
kelimpahan jenis ikan tertentu di daerah pasang surut. Autekologi adalah kajian atau
penelitian tentang species, yaitu mengenai aspek-aspek ekologi dari individu-individu atau
populasi suatu species hewan. Contohnya adalah meneliti atau mempelajari tentang seluk
beluk kehidupan lalat buah (Drosophila sp.), mulai dari habitat, makanan, fekunditas,
reproduksi, perilaku, respond an lain-lain.
Menurut Ibkar-Kramadibrata (1992) dan Sucipta (1993), secara garis besar pokok
bahasan dalam ekologi hewan mencakup hal berikut ini;
a. Masalah distribusi dan kelimpahan populasi hewan secara local dan regional, mulai
tingkat relung ekologi, microhabitat dan habitat, komunitas sampai biogeografi atau
penyebaran hewan di muka bumi.
b. Masalah pengaturan fisiologis, respon serta adaptasi structural maupun perilaku
terhadap perubahan lingkungan.
c. Perilaku dan aktivitas hewan dalam habitatnya.
d. Perubahan-perubahan secara berkala (harian, musiman, tahunan dsb) dari kehadiran,
aktivitas dan kelimpahan populasi hewan.
e. Dinamika pop[ulasi dan komunitas serta pola interaksi-interaksi hewan dalam populasi
dan komunitas.
f. Pemisahan-pemisahan relung ekologi, species dan ekologi evolusioner.
g. Masalah produktivitas sekunder dan ekoenergetika.
h. Ekologi sistem dan permodelan.

Dengan demikian ruang lingkup Ekologi Hewan meliputi obyek kajian


individu/organisme, populasi, komunitas sampai ekosistem tentang distribusi dan
kelimpahan, adaptasi dan perilaku, habitat dan relung, produktivitas sekunder, sistem dan
permodelan ekologi.

2. Peranan Ekologi Bagi Manusia


Manusia adalah organisme heterotrof di bumi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang
semakin maju menyebabkan manusia mengeksplorasi, mengolah dan memanfaatkan
segala sesuatu yang ada di lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga
dengan mudah mengubah kondisi lingkungannya sesuai keinginannya. Dengan
keberhasilannya ini dengan mudah menyebabkan laju peningkatan populasi manusia yang
relative tinggi (2%) pertahun.
Makin meningkatnya pemanfaatan sumberdaya yang diperlukan manusia telah
menyebabkan makin menciutnya luas lingkungan alami dan makin bertambahnya
lingkungan buatan. Akibat kegiatan manusia tersebut adalah pencemaran lingkungan oleh
limbah buangan industri, kelangkan dan kepunahan species berbagaim organisme,
terjadinya perubahan pola cuaca maupun iklim, semakin lebarnya lubang ozon, timbulnya
berbagai jenis penyakit yang berbahaya dan lain-lain. Manusia kini dihadapkan pada 2
tantangan, yaitu; 1) menjaga kelestarian ketersediaan sumberdaya, 2) memelihara kondisi
lingkungannya.
Menghadapi kedua tantangan tersebut, ekologi sangat berperan, misalnya penelitian-
penelitian yang menghasilkan pemahaman mengenai berbagai aspek ekologi dari suatu
populasi, komunitas ataupun ekosistem sehingga faktor-faktor penting dapat diketahui
dengan tepat serta menghasilkan peramalan yang lebih akkurat. Hal ini dapat mendukung
upaya-upaya yang akan dilakukan manusia, karena adanya acuan yang lebih baik untuk
mencegah terjadinya perubahan-perubahan maupun kerusakan yang dapat merugikan
kondisi lingkungan serta menjaga kesinambungan ketersediaan sumberdaya agar lestari
dan pemanfaatannya dapat berkelanjutan.
Ekologi hewan bagi manusia cukup penting artinya dalam memberi nilai-nilai terapan
dalam kehidupan manusia. Manfaat tersebut terutama menyangkut masalah-masalah
pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehatan, serta pengolahan dan konservasi
satwa liar. Kisaran toleransi dan faktor-faktor pembatas telah banyak diterapkan dalam
bidang-bidang tersebut. Konsep-konsep tersebut juga telah melandasi penanganan
berbagai masalah seperti pengendalian hama dan penyakit, penggunaan berbagai species
hewan tertentu sebagai indicator menunjukkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan,
hubungan predator mangsa dan parasitoid inang, vector penyebar penyakit, pengelolaan
dan upaya-upaya konservasi satwa liar yang bersifat insitu (pemeliharaan di habitat
aslinya) maupun exsitu ( pemeliharaan di lingkungan buatan yang menyerupai habitat
aslinya) dan lain-lain. Banyak masalah-masalah yang terpecahkan dengan mempelajari
ekologi hewan yang senantiasa berlandaskan pada konsep efisiensi ekologi.

3. Permodelan dan Pendekatan dalam Ekologi


Permodelan ekologi disusun dalam menghadapi berbagai kondisi alam atau
lingkungan yang terus menerus berubah atau dinamis. Dalam hal ini manusia dituntut
dapat membuat penjelasan terhadap fenomena-fenomena alam untuk memperoleh manfaat
bagi kepentingan hidupnya maupun meramalkan kejadian yang mungkin akan terjadi guna
menghindari efek buruknya bagi manusia.Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut
diperlukan acuan dan peramalan yang lebih baik dan tepat. Hasil studi tersebut dibuat
dalam bentuk permodelan ekologi. Penyusunannya didukung oleh hasil-hasil penelitian
ekologi yang memberikan informasi kuantitatif dan pengelolaan datanya banyak dibantu
oleh teknik-teknik computer.
Model Ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk
penerjemahan fenomena ekologi yang sebenarnya dan telah disederhanakan. Jumlah
variable dalam suatu model lebih rendah dari yang sebenarnya, karena yang ditampilkan
hanya faktor-faktor dan proses kuncinya saja, yaitu yang paling penting serta paling
menentukan. Informasi ini didapatkan dari hasil sejumlah penelitian kuantitatif yang
bersifat deskriptif maupunh eksperimental di lapangan maupun di laboratorium.
Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk
penerjemahan fenomena ekologp yang sebenarnya dan telah disempurnakan.
Pendekatan dalam ekologi dapat secara laboratories, lapangan dan matematik. Dalam
ekologi hewan salah satu kendala yang sulit adalah pengukuran, metode dan teknik
pengamatan. Hal ini disebabkan oleh sifat hewan yang senantiasa bergerak dan berpindah-
pindah baik secara liar maupun jinak. Misalnya menyangkut penentuan kelimpahan dan
perilaku hewan yang diteliti, ukuran tubuh mulai dari milimikron sampai yang besar dan
tinggi, stadia perkembangan, kecepatan dan daya gerak yang berbeda-beda, lingkungan
yang ditempati juga berbeda-beda seperti; habitat daratan, perairan tawar ataupun laut
serta keunikan dan kespecifikan perilaku hidupnya termasuk aktivitasnya dalam sehari.
Metode dan teknik penelitian bukan saja ditentukan oleh hal-hal tersebut di atas,
tetapi hal lain yang sangat penting adalah tujuan, sasaran dan manfaat dari penelitian itu.
Penelitian ekologi hewan yang bersifat deskriptif ataupun eksperimental dengan data
kuantitatif memerlukan desain (rancangan), prosedur kerja serta pengolahan data secara
statistic.
Penelitian eksperimen, pada dasarnya melibatkan 2 komponen atau perangkat obyek
yang diteliti, yakni; perangkat eksperimen (perlakuan) dan control. Perangkat control
merupakan suatu perangkat obyek yang diamati dan kondisinya serupa benar dengan
perangkat eksperimen, kecuali ada hal-hal tertentu merupakan faktor atau proses yang
diteliti atau yang diberikan sebagai perlakuan.
Pada umumnya penelitian eksperimen dilakukan di dalam laboratorium yang
kondisinya sangat berbeda dengan kondisi di lingkungan alami atau kondisi habitat alami
yang ditempati hewan yang diteliti. Kondisi lingkungan dalam suatu penelitian
laboratorium merupakan kondisi yang dapat dikendalikan oleh peneliti, misalnya dibuat
sangat berbeda dalam satu atau lebih faktor lingkungan dibandingkan dengan kondisi
lingkungan alami atau dibuat sedemikian rupa yang sangat mirip dengan kondisi
lingkungan alami.

4. Aplikasi Konsep Ekologi Hewan


Dalam perkembangannya ekologi telah mengalami diversivikasi dengan lahirnya
cabang-cabang ilmu ekologi lainnya yang lebih spesifik, dengan materi yang terbatas,
khusus dan mendalam yang didasarkan atas kelompok organisme, misalnya; Ekologi
Tumbuhan, Ekologi hewan, Ekologi Parasit, Ekologi Gulma, Ekologi Serangga, ekologi
Burung dan lainnya.
Ekologi Hewan, bahasannya memerlukan pemahaman mengenai aspek-aspek biologi
lainnya juga menyangkut matematika dan statistika. Sebenarnya konsep, asas ataupun
generalisasi dalam ekologi hewan telah banyak memberikan nilai-nilai terapan yang cukup
dalam kehidupan manusia sehari-hari, terutama dalam bidang-bidang pertanian,
perkebunan, peternakan, perikanan, kesehata dan pengolahan maupun konservasi satwa
liar. Penerapan ekologi makin penting dengan semakin diperlukannya upaya-upaya
manusia dalam memelihara ketersediaan sumberdaya serta kualitas lingkungan hidup yang
berkesinambungan.
Dalam bidang pertanian, perkebunan dan peternakan, konsep kisaran toleransi dan
faktor pembatas serta dalam masalah pengendalian populasi hama dan penyakit
(Biological Control). Dengan konsep ekologi hewan juga telah melandasi penggunaan
berbagai species hewan tertentu sebagai species indicator yang menunjukkan terjadinya
perubahan kondisi lingkungan, sudah tercemar atau belum. Konsep lain dalam bidang
pertanian dan kesehatan adalah hubungan predator mangsa dan parasitoid inang. Dalam
upaya meningkatkan hasil produk ikan maupun ternak, pengelolaan satwa liar baik yang
bersifat insitu (pemeliharaan di habitat aslinya) maupun exsitu (pemeliharaan di
lingkungan buatan) seluruhnya berazaskan dan berlandaskan efisiensi ekologi dan azas-
azas ekologi.

HEWAN DAN LINGKUNGANNYA

Lingkungan hewan adalah semua faktor biotic dan abiotik yang ada di sekitarnya dan
dapat mempengaruhinya. Hewan hanya dapat hidup, tumbuh dan berkembang biak dalam
suatu lingkungan yang menyediakan kondisi dan sumberdaya serta terhindar dari faktor-
faktor yang membahayakan.
Begon (1996), membedakan faktor lingkungan bagi hewan ada 2 kategori, yaitu;
Kondisi dan Sumberdaya. Kondisi adalah faktor-faktor lingkungan abiotik yang keadaannya
berbeda dan berubah sesuai dengan perbedaan tempat dan waktu.

Hewan bereaksi terhadap kondisi lingkungan, yang berupa perubahan-perubahan


morfologi, fisiologi dan tingkah laku. Kondisi lingkungan antara lain berupa.; temperature,
kelembaban, Ph, salinitas, arus air, angina, tekanan, zat-zat organic dan anorganik.

Sumberdaya adalah segala sesuatu yang dikonsumsi oleh organisme, yang dapat
dibedakan atas materi, energi dan ruang. Sumberdaya digunakan untuk menunjukkan suatu
faktor abiotik maupun biotikyang diperlukan oleh hewan, karena tersedianya di lingkungan
berkurang apabila telah dimanfaatkan oleh hewan. Setiap hewan akan bervariasi menurut
ruang (tempat) dan waktu. Oleh karena itu setiap hewan senantiasa berusaha untuk selalu
dapat beradaptasi terhadap setiap perubahan lingkungan tersebut. Dalam penyesuaian diri
tersebut hanya hewan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang dapat bertahan
hidup, sementtara yang tidak mampu beradaptasi akan mati atau beremigrasi bahkan akan
punah.

Perubahan lingkungan terhadap waktu, secara garis besarnya terdiri atas 3, yaitu;

1. Perubahan Siklik, perubahan yang terjadinya berulang-ulang secara berirama, seperti


malam dan siang, laut pasang dan surut, kemarau dan penghujan, dll. Perubahan siklik
dapat berskala harian, bulanan, musiman, tahunan.
2. Perubahan Terarah, suatu perubahan yang terjadi berangsur-angsur, terus menerus
dan progresif dan menuju ke suatu arah tertentu. Prosesnya bisa lama. Contohnya
mendangkalnya danau Limboto di Gorontalo.
3. Perubahan Eratik, suatu perubahan yang tidak berpola dan tidak menunjukkan arah
perubahannya. Contohnya; pengendapan Lumpur Lapindo di Jawa Timur (Ponorogo),
kebakaran hutan, letusan gunung berapi dan lain-lain.

Setiap organisme di muka bumi menempati habitatnya masing-masing. Dalam suatu


habitat terdapat lebih dari satu jenis organisme dan semuanya berada dalam satu komunitas.
Komunitas menyatu dengan lingkungan abiotik dan membentuk suatu ekosistem. Dalam
ekosistem hewan berinteraksi dengan lingkungan biotic , yaitu hewan lain, tumbuhan serta
mikroorganisme lainnya. Interaksi tersebut dapat terjadi antar individu, antar populasi dan
antar komunitas. Interaksi tersebut merupakan fungsi ekologis dari suatu ekosistem.
Interaksi antara individu dapat terjadi antar individu dalam suatu populasi atau
berbeda populasi. Misalnya interaksi ayam jantan dengan pejantan lainnya untuk
memperebutkan territorial, antarseekor kucing dengan tikus. Interaksi populasi terjadi antar
kelompok hewan dari suatu jenis organisme dengan kelompok lain yang berbeda jenis
organisme. Misalnya sekelompok harimau berburu sekelompok rusa di padang rumput.
Interaksi antar komunitas terjadi antar kelompok-kelompo singa, kerbau, bison dan banteng
di satu pihak dengan rumput dan semak-semak di pihak lain ketika hewan itu merumput di
padang rumput. Hubungan antar hewan dengan lingkungan biotiknya terjadi antar organisme
yang hidup terpisah dengan organisme yang hidup bersama.

Faktor-faktor biotic yang mempengaruhi kehidupan hewan adalah sebagai berikut:

1. Komunitas
Komunitas (biocenose) adalah beberapa jenis organisme yang merupakan bagian dari
jenis ekologis tertentu yang disebut ekosistem unit ekologis, yaitu suatu satuan lingkungan
hidup yang di dalamnya terdapat bermacam-macam makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan
mikroorganisme) dan antar sesamanya dan lingkungan di sekitarnya (abiotik) membntuk
hubungan timbale balik yang salingmempengaruhi.
2. Ekosistem
Ekosistem adalah suatu unit lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat hubungan
yangfungsional antar sesame makhluk hidup dan antar makhluk hidup dengan komponen
lingkungan abiotik. Hubungan fungsional dalam ekosistem adalah proses-proses yang
melibatkan seluruh komponen biotic dan abiotik untukm mengelola sumberdaya yang
masuk dalam ekosistem. Sumberdaya tersebut adalah sesuatu yang digunakan oleh
organisme untuk kehidupannya, yaitu energi, cahaya dan unsure-unsur nutrisi.
Interaksi antar komponen di dalam ekosistem menentukan pertumbuhan populasi
setiap organisme dan berpengaruh terhadap perubahan serta perkembangan struktur
komunitas biotic.
3. Produsen
Produsen terdiri dari organisme autotrof, yaitu organisme yang dapat menyusun bahan
organic dari bahan organic sebagai bahan makanannya. Penyusunan bahan organic itu
berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan energi yang diperlukan untuk aktivitas
metabolisme dan aktivitas hidup lainnya. Organisme autotrof adalah; sebagian besar
adalah organisme berklorofil, yang sebagian besar terdiri dari tumbuhan hijau dan
sebagian kecil berupa bakteri.
4. Konsumen
Konsumen adalh komponen biotic yang terdiri dari organisme heterotrof, yaitu
organisme yang tidak dapat memanfaatkan energi secara langsung untuk memenhuhi
kebutuhan energinya. Organisme heterotrof sebagai organisme yang tidak dapat menyusun
bahan organic dari bahan anorganik. Energi kimia dan bahan organic yang diperlukan
dipenuhi dengan cara mengkonsumsi energi kimia dan bahan organic yang diproduksi oleh
tumbuhan hijau (produsen).
Organisme yang tergolong konsumen adalah; Herbivore, yaitu memakan tumbuhan.
Misalnya sapi, kuda, kambing, kerbau, kupu-kupu, belalang dan siput. Karnivor, adalah
hewan pemakan hewan lain baik herbivore maupn sesame karnivor. Karnivor pada
umumnya adalah hewan buas (harimau, singa, ular), dan hewan pemakan bangkai
(komodo, burung hantu, dll). Predator juga termasuk sebagai karnivor. Omnivor, adalah
hewan pemakan segalanya baik tumbuhan maupun hewan yang sudah mati, misalnya
kucing, ayam, musang , tikus dan lain-lain. Detritivor, adalah organisme yang berperan
sebagai pengurai (mikroorganisme) seperti bakteri.
5. Predator
Predator adalah hewan yang makan hewan lain dengan cara berburu dan membunuh.
Hewan yang dimangsanya adalah hewan yang masih hidup. Contohnya adalah kucing
makan tikus, capung makan serangga.

6. Parasit
Parasit, adalah hewan yang hidup pada hewan lain. Hidupnya sangat mempengaruhi
inangnya karena semua zat makanan dari inang diserapnya untuk memenuhi
kebutuhannya. Parasit berupa hewan kecil dan organisme kecil yanmg termasuk jamur dan
bakteri pathogen.
7. Parasitoid
Parasitoid adalah serangga yang pada fase dewasanya hidup bebas, tetapi pada fase
larva berkembang di dalam tubuh (telur, larva dan pupa) serangga lain yang merupakan
inangnya. Serangga parasitoid pada umumnya termasuk pada ordo Hymenoptera dan
Diptera. Hewan dewasa parasitoid meletakkan telurnya di dekat atau pada tubuh serangga
lain (telur, larva dan pupa). Ketika telur parasitoid yang diletakkan pada tubuh inangnya
menetas, selam fase larva itu belum dewasa akan hidup terus dalam tubuh inang. Larva
tersebut akan makan sebagian atau seluruh tubuh dari inang sehingga menyebakan
kematian bagi inangnya.
8. Pengurai
Pengurai, adalah organisme yang berperan sebagai pengurai. Cara mengkonsumsi
makanan tidak dapat menelan dan mencerna makanan di dalam sel tubuhnya, melainkan
harus mengeluarkan enzim pencerna keluar sel untuk dapat menguraikan makanannya
yang berupa organic mati menjadi zat-zat yang molekulnya kecil sehingga dapat diserap
oleh sel.
9. Mikrobivor
Mikrobivor adalah hewan-hewan kecil yang makan mikroflora (bakteri dan fungi).
Hewan ini berupa protozoa dan nematoda.
10. Detritivor
Detritivor adalah hewan yang makan detritus, yaitu bahan-bahan organic mati yang
berasal dari tubuh tumbuhan dan hewan. Hewan yang tergolong detritus antara lain;
rayap, anjing tanah dan cacing tanah.
11. Intraspesifik dan interspesifik
Hubungan timbal balik antara dua individu dalam suatu jenis organisme (intraspsifik)
dan hubungan antara dua individu yang berbeda jenis (interspesifik). Hubungan-
hubungan ini meliputi:
a. Kompetisi
Kompetisi adalah hubungan antara dua individu untuk memperebutkan satu
macam sumberdaya, sehingga hubungan itu bersifat merugikan bagi salah satu pihak.
Sumberdaya berupa; makanan, energi dan tempat tinggal. Persaingan ini terjadi pada
saat populasi meledak sehingga hewan akan berdesak-desakan di suatu tempat
tertentu. Dalam kondisi demikian biasanya hewan yang kuat akan mengusir yang
lemah dan akan menguasai tempat itu sedangkan yang lemah akan beremigrasi atau
mati bahkan punah.
b. Simbiosis
Hubungan interspesifik ada yang berifat simbiosis ada yang non simbiosis.
Hubungan simbiosis adalah hubungan antara dua individu dari dua jenis organisme
yang keduanya selalu bersama-sama. Contoh dari simbiosis adalah Flagellata yang
hidup dalam usus rayap. Flagellata itu mencerna selulosa kayu yang dimakan rayap.
Dengan demikian rayap dapat menyerap karbohidrat yang berasal dari selulosa itu.
Hubungan nonsimbiosis adalah hubungan antara dua individu yang hidup secara
terpisah, dan hubungan terjadi jika keduanya bertematau berdekatan. Contohnya
adalah kupu-kupu dengan tanaman bunga. Bunga akan terbantu dalam penyerbukan
yang disebabkan terbawanya serbuk sari bunga oleh kaki kupu-kupu dengan tidak
sengaja ke bunga yang lain pada saat kupu-kupu mengisap nectar dari bunga tersebut.
Simbiosis sebagai hidup bersama antara dua individu dari dua jenis organisme, baik
yang menguntungkan maupun yang merugikan.
c. Pemisahan Kegiatan Hidup
Peristiwa ini adalah hubungan kompetitif antara satu hewan dengan hewan
yang lain dapat berkembang menjadi kegiatan pemisahan hidup (partition). Dalam
hubungan ini hewan-hewan yang hidup di suatu habitat mengadakan spesialisasi
dalam hal jenis makanan atau dalam metode dan tempat memperoleh makanannya.
Misalnya burung Flaminggo mempunyai kaki dan leher yang panjang yang berfungsi
dalam hal pengambilan makanannya berupa organisme kecil dan di tempat berlumpur
sehingga burung tersebut mudah meraihnya.
d. Kanibalisme
Kanibalisme adalah sifat suatu hewan untuk menyakiti dan membunuh bahkan
memakannya terhadap individu lain yang masih sejenis. Contoh belalang sembah
betina membunuh belalang jantan setelah melakukan perkawinan, ayam dalam satu
kandang yang berdesak-desakan sehingga ruangan dan makananya terbatas
menyebabkan persaingan yang hebat.

e. Amensalisme
Hubungan antara dua jenis organisme yang satu menghambat atau merugikan
yang lain, tetapi dirinya tidak berpengaruh apa-apa dari organisme yang dihambat
atau dirugikan.
f. Komansalisme
Hubungan antara dua jenis organisme yang satu memberi kondisi yang
menguntungkan bagi yang lain sedangkan dirinya tidak terpengaruh oleh kehadiran
organisme yang lain itu.
g. Mutualisme
Hubungan antara dua jenis organisme atau individu yang saling
menguntungkan tanpa ada yang dirugikan.

Hewan adalah organisme yang bersifat motil, yaitu dapat bergerak dan berpndah
tempat. Gerakannya disebabkan oleh rangsangan tertentu yang berasal dari lingkungannya.
Faktor-faktor yang merangsang hewan untuk bergerak adalah makanan, air, cahaya, suhu,
kelembaban,dan lain-lain.

Faktor lingkungan yang berpengaruh pada kehidupan hewan dibedakan atas kondisi
dan sumberdaya. Sumberdaya terdiri atas:

1. Materi adalah bahan-bahan atau zat yang diperlukan oleh organisme untuk membangun
tubuh. Materi terdiri atas; zat-zat anorganik (air, garam-garam mineral) dan zat-zat organic
(tubuh organisme lain atau sisa-sisa tubuh organisme yang sudah mati).
2. Energi adalah daya yang diperlukan oleh organisme untuk melakukan aktivitas hidup.
3. Ruang adalah tempat yang digunakan organisme untuk menjalankan siklus hidupnya.
Hewan dan organisme lain mempunyai hubungan yang saling ketergantungan dengan
lingkungannya, sehingga timbullah hubungan timbal balik antara keduanya. Hubungan
timbal balik tersebut meliputi; Aksi, Reaksi dan Koasi. Lingkungan abiotik hewan
meliputi faktor-faktor Medium dan Substrat. Medium adalah bahan yang secara langsung
melingkupi organisme dan organisme tersebut berinteraksi dengan medium, seperti; Ikan
menerima zat-zat mineral dari air, sebaliknya air menerima kotoran ikan dalam air. Bagi
beberapa jenis hewan, medium merupakan habitatnya. Setiap medium berbeda komposisi
merambatkan panas, sifat perubahnya sebagai akibat perubahan suhu, tegangan permukaan
kekentalan, massa jenis dan tekanan. Substrat adalah permukaan tempat organisme hidup,
terutama untuk menetap atau bergerak, atau benda-benda padat tempat organisme
menjalankan seluruh atau sebagian hidupnya. Setiap organisme memerlukan medium,
tetapi tidak semua mempunyai substrat. Hewan air yang bersifat pelagic (berenang) tidak
mempunyai substrat. Medium juga tidak berubah sebagai akibat adanya aktifitas
organisme. Substrat mengalami modifikasi oleh aktivitas organisme, misalnya tanah
padang rumput yang gembur menjadi padat jika digunakan untuk gembala kambing atau
kerbau terus menerus. Substrat sebagai tempat berpijak, membangun rumah atau kandang
dan tempat makanan. Beberapa hewan menggunakan substrat sebagai tempat berlindung,
karena warna substrat sama dengan warna tubuhnya, misalnya; bunglon dan belalang
kayu.

Beberapa fungsi medium bagi hewan;

1. Tempat tinggal misalnya; ikan hidup di air, cacing hidup di dalam tanah
2. Sumber materi yang diperlukan untuk metabolisme tubuh, misalnya; hewan darat
memperolh Oksigen dari udara.
3. Tempat membuang sisa metabolisme, seperti Karbondioksida dan feces.
4. Tempat berepeoduksi, misalnya, katak pergi ke air untuk kawin dan bertelur.
5. Menyebarkan keturunan, misalnya; Larva ketam air tawar (Megalopa), menyebar di
perairan sungai setelah berimigrasi dari laut ke arah hulu sungai.

Beberapa faktor fisik yang berpengaruh pada kehidupan hewan adalah

1. Tanah
Tanah merupakan substrat bagi tumbuhan untuk tumbuh, merupakan medium untuk
pertumbuhan akar dan untuk menyerap air dan unsure-unsur hara makanan. Bagi hewan
tanah adalah substrat sebagai tempat berpijak dan tempat tinggal, kecuali hewan yang
hidup di dalam tanah. Kondisi tanah yang berpengaruh terhadap hewan tersebut adalah
kekerasannya.
Faktor dalam tanah yang mempengaruhi kehidupan hewan tanah antara lain
kandungan air (drainase), kandungan udara (aerase), suhu, kelembaban serta sisa-sisa
tubuh tumbuhan yang telah lapuk. Jika tanah banyak mengandung air maka oksigen di
dalam tanah akan berkurang dan karbondioksidanya akan meningkat. Air juga
menyebabkan tanah menjadi cepat asam, karena eir mempercepat pembusukan.
Kurangnya oksigen menyebabkan gangguan pernapasan , dan zat-zat yang bersifat asam
dapat meracuni hewan. Tanah yang terlalu kering menyebabkan hewan dalam tanah tidak
dapat mengekstrak air secara normal. Kandungan karbondioksida dalam tanah lebih
banyak daripada di atmosfir. Jika tanah banyak mengandung rongga pertukaran udara
antar tanah dengan atmosfir menjadi lancar, karbondioksida dapat keluar sementara
oksigen masuk.Rongga-rongga tanah dapat diperbanyak jika dalam tanah tersebut banyak
hewan penggali tanahseperti cacing tanah dan anjing tanah.
2. Air
Air sangat menentukan kondisi lingkungan fisik dan biologis hewan. Perwujudan air
dapat berpengaruh terahadap hewan. Misalnya jika air dalam tubuh hewan akan berubah
menjadi dingin atau membeku karena penurunan suhu lingkungan, menyebabkan sel dan
jaringan tubuh akan rusak dan metabolosme tidak akan bejalan noremal, sebaliknya
penguapan air yangb berlebihan dari dalam tubuh hewan menyebabkan tubuh kekeurangan
air.Hewan dapat dibedakan atas 3 kelompok ditinjau dari pengaruh air, yaitu; Hidrosol
( Hydrosoles) atau hewan air, Mesosol (Mesocoles), hewan yang hidup di tempat yang
tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering dan Xeroso ( Xerosole), hewan yang hidup di
tempat yang kering karena tingginya penguapan.
Penyebaran dan kepadatan hewan air di lingkungan air ditentukan oleh
kemampuannya mempertahankan osmotic dalam tubuhnya dan berhubungan dengan
kemampuannya untuk bertoleransi dengan salinitas air.
3. Temperatur
Temperatur merupakan faktor lingkungan yang dapt menembus dan menyebar ke
berbagai tempat. Temperatur dapat berpengaruh terhadap hewan dalam proses reproduksi,
metabolisme serta aktivitas hidup lainnya. Suhu optimum adalah batas suhu yang dapat
ditolerir oleh hewan, lewat atau kurang dari suhu tersebut menyebabkan hewan terganggu
bahkan menuju kematian karena tidk tahan terhadap suhu.
4. Cahaya
Cahaya dapat mempengaruhi hewan, misalnya warna tubuh, gerakan hewan dan
tingkah laku.
5. Gravitasi
Pengaruh gravitasi dirasakan oleh hewan jika hewan sedang berpijak pada substrat
yang horizontal. Hewan yang berdiri di suatu bidang yang miring atau tegak, berenang di
air dan terbang di udara merasakan adanya pengaruh gravitasi bumi. Gravitasi juga
berpengaruh pada perbedaan tekanan air dan udara.

6. Gelombang Arus dan Angin


Kehidupan hewan juga dipengaruhi oleh arus dan angina. Hewan yang hidup di
lingkungan air mengalir menghadapi resiko hanyut karena adanya aliran dan arus air.
Demikian dengan hewan yang hidup di darat dan udara menghadapi arus angina. Namun
demikian arus air dan angina yang normal sangat berpengaruh positif terhadap hewann,
karena air dan angina dapat membantu sebagian aktivitas hewan.
7. pH
Pengaruh pH terhadap organisme terjadi melalui 3 cara, yaitu; 1) secara langsung,
mengganggu osmoregulasi, kerja enzim dan pertukaran gas di respirasi, 2) tidak langsung,
mengurangi kualitas makanan yang tersedia bagi organisme, 3) meningkatkan konsentarasi
racun logam berat terutama ion AI.
Di lingkungan daratan dan perairan, pH menjadi faktor yang sangat berpengaruh
terhadap kehidupan dan penyebaran organisme. Toleransi hewan yang hidup di lingkungan
air umumnya pHnya bervartiasi.
8. Salinitas
Salinitas adalah kondisi lingkungan yang menyangkut konsentrasi garam di
lingkungan perairan dan air yang terkandung di dalam tanah. Di lingkungan perairan
tawar, air cenderung meresap ke dalam tubuh hewan karena salinitasi air lebih renadah
daripada cairan tubuh. Hewan yang bhidup di phabitat laut umumnya bersifat isotonic
terhadap salinitas air laut sehingga tidak ada peresapan air ke dalam tubuh hewan.
Setiap organisme harus mampu beradaptasi untuk menghadapi kondisi faktor
lingkungan abiotik. Hewan tidak mungkin hidup pada kisaran faktor abiotik yang seluas-
luasnya. Pada prinsipnya masing-masing hewan memiliki kisaran toleransi tertentu
terhadap semua semua faktor lingkungan.
9. Hukum Toleransi Shelford
Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang
merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadap
kondisi faktor lingkungan
Apabila organisme terdedah pada suatu kondisi faktor lingkungan yang mendekati
batas kisaran tolrensinya, maka organisme tersebut akan mengalami cekaman (stress).
Fisiologis. Organisme berada dalam kondisi kritis. Contohnya, hewan yang didedahkan
pada suhu ekstrim rendah akan menunjukkan kondisi kritis Hipotermia dan pada suhu
ekstirm tinggi akan mengakibatkan gejala Hipertemia. Apabila kondisi lingkungan suhu
yang demikian tidak segera berubah maka hewan akan mati.
Dalam menentukan batas-batas kisaran toleransi suatu hewan tidaklah mudah. Setiap
organisme terdedah sekaligus pada sejumlah faktor lingkungan, oleh adanya suatu
interaksi faktor maka suatu faktor lingkungan dapat mengubah efek faktor lingkungan
lainnya. Misalnya suatu individu hewan akan merusak efek suhu tinggi yang lebih
kerasapabila kelembaban udara yang relative rendah. Dengan demikian hewan akan lebih
tahan terhadap suhu tinggi apabila udara kering disbanding dengan pada kondisi udara
yang lembab.
Dalam laboratorium juga sangat sulit untuk menentukan batas-batas kisaran toleransi
hewan terhadap sesuatu faktor lingkungan. Penyebabnya ialah sulit untuk menentukan
secara tepat kapan hewan tersebut akan mati. Cara yang biasa dilakukan ialah dengan
memperhitungkan adanya variasi individual batas-batas kisaran toleransi itu ditentukan
atas dasar terjadinya kematian pada 50% dari jumlah individu setelah dideadahkan pada
suatu kondisi faktor lingkungan selama rentang waktu tertentu. Untuk kondisi suhu,
misalnya ditentukan LT50 24 jam atau LT50 48 jam (LT= Lethal Temperatur). Untuk
konsentrasi suatu zat dalam lingkungan biasanya ditentukan dengan LC 50 X jam ( LC=
Lethal Concentration; X dapat 24, 48, 72 atau 96 jam) dan untuk sesuatu dosis ditentukan
LD50 X Jam.
Kisaran toleransi terhadap suatu faktor lingkungan tertentu pada berbagai jenis hewan
berbeda-beda. Ada hewan yang kisarannya lebar (euri) dan ada hewan yang sempit
(steno). Kisaran toleransi ditentukan secara herediter, namun demikian dapat mengalami
perubahan oleh terjadinya proses aklimatisasi (di alam) atau aklimasi (di lab).
Aklimatisasi adalah usaha manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap kondisi
faktor lingkungan di habitat buatan yang baru. Aklimasi adalah usaha yang dilakukan
manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap kondisi suatu faktor lingkungan tertentu
dalam laboratorium.
Konsep kisaran toleransi, faktor pembatas maupun preferendum diterapkan di bidang-
bidang pertanian, peternakan, kesehatan, konservasi dan lain-lain. Hal ini dilakukan
dengan harapan kinerja biologi hewan, pertumbuhan dan reproduksi dapat maksimum dan
untuk kondisi hewan yang merugikan kondisi lingkungan biasanya dibuat yang
sebaliknya.
Setiap hewan memiliki kisaran toleransi yang bervariasi, maka kehadiran di suatu
habitat sangat ditentukan oleh kondisi dari faktor lingkungan di tempat tersebut.
Kehadiran dan kinerja populasi hewan di suatu tempat menggambarkan tentang kondisi
faktor-faktor lingkungan di tempat tersebut. Oleh karena itu ada istilah spesies indicator
ekologi, baik kajian ekologi hewan maupun ekologi tumbuhan. Species indikatoe ekologi
adalah suatu species organisme yang kehadirannya ataupun kelimpahannya dapat memberi
petunjuk mengenai bagaimana kondisi faktor-faktor fisiko kimia di suatu tempat.
Beberapa species hewan sebagai spcies indicator antara lain adalah Capitella capitata
(Polychaeta) sebagai indicator untuk pencemaran bahan organic. Cacing Tubifex
(Olygochaeta) dan lain-lain.
Kriteria-kriteria species indicator adalah;
Komunitas disebut juga Biocenuse, adalah beberapa jenis organisme yang merupakan
bagian dari suatu jenis ekologis tertentu yang disebut ekosistem unit. Ekologis yang
dimaksud adalah suatu satuan lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat
bermacam0macam makhluk hidup (tumbuhan dan hewan). Antar sesamanya dan
lingkungan sekitarnya membentuk hubungan timbale balik yang saling mempengaruhi.
Komunitas berupa hewan yang terdiri dari berbagai macam hewan, komunitas tumbuhan
dalam satu ekosistem atau seluruh hewan dan tumbuhan yang disebut komunitas biotic.
Komunitas suatu ekosistem tertentu mempunyai ciri-ciri tertentu. Salah satu
karakternya adalah keragaman jenis organisme penyusunnya. Keragaman komunitas
biasanya ditentukan dengan menghitung indeks keragaman.

RESPON DAN ADAPTASI

1. Konsep Adaptasi
Perubahan kondisi lingkungan berpengaruh terhadap hewan. Hewan mengadakan
respon terhadap perubahan kondisi lingkungannya tersebut. Respon hewan terhadap
kondisi dan perubahan lingkungannya denyatakan sebagai respon hewan terhadap
lingkungannya. Respon tersebut berupa perubahan fisik, fisiologis, dan tingkah laku.
Respon hewan tersebut ada yang bersifat reaktif dan ada yang bersifat terpola, artinya
berasala dari nenek moyangnya.
Adaptasi umumnya diartikan sebagai penyesuaian makhluk hidup terhadap
lingkungannya. Adaptasi menunjukkan kesesuaian organisme dengan lingkungannya yang
merupakan produk masa lalu. Organisme yang ada kini dapat hidup pada lingkungannya
karena kondisi lingkungan itu secara kebetulan sama dengan kondisi lingkungan nenek
moyangnya.

2. Mekanisme Adaptasi
Sifat yang dimiliki oleh suatu populasi yang ada sekarang merupakan sifat yang
diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan kata lain populasi yang ada sekarang
merupakan populasi yang lolos dari seleksi alam sebagaimana yang dinyatakan oleh
Darwin.
Di alam organisme terkumpul dalam kelompok-kelompok populasi yang diantara
anggotanya terjadi hubungan kawin. Setiap kelompok disebut Deme. Kelompok besar
yang terbentuk dari banyak deme disebut jenis organisme. Deme-deme tersebut ada yang
menempati daerah-daerah geografis yang berbeda, misalnya Kanguru yang hidup hanya di
Australia dan di Irian. Daerah-daerah geografis tersebut merupakan lingkungan hidup
yang sempit dan bersifat khas dibanding dengan daerah penyebaran jenis organismenya.
Deme yang menempati daerah geoegrafis khusus itu bisa mempunyai sifat genetik yang
berbeda dengan deme yang menempati daerah lain, jika di antara deme-deme itu terjadi
isolasi geografis sehingga antar deme tidak dapat terjadi pertukaran informasi genetik.
Kelompok yang terisolasi itu disebut klin (Cline) yang merupakan sub jenis organisme
atau sub populasi.
Perbedaan sifat genetik dari suatu klin dengan klin lainterbentuk dari perbedaan
perubahan lingkungan dalam suatu rentangan tertentu, yang disebut gradien ekologik.
Variasi sifat individu pada landaian ekologis yang berbeda disebut ekotip. Perbedaan sifat
itu dalam hal bentuk, warna dan lain-lain. Contohnya adalah kupu-kupu Biston bitularia
yang hidup di hutan jauh dari industri berwarna abu-abu keputihan sesuai dengan warna
batang pohon substratnya, tetapi kupu-kupu yang sama hisup di daerah industri di Inggris
berwarna gelap karena tertutup oleh asap dan jelaga pabrik.
3. Prinsip-prinsip Adaptasi
Bagi hewan dan organisme lain sifat adptif sangat penting untuk bertahan hidup pada
lingkungan baru atau jika ada perubahan lingkungan habitatnya. Kemampuan hewan
dalam beradaptasi dengan lingkungannya berbeda-beda yang dipengaruhi oleh:
4. Bentuk-bentuk Adaptasi
a. Adaptasi Struktural
Adaptasi struktural adalah sifat adaptasi yang muncul dalam wujud sifat-sifat
morfologi tubuh, meliputi bentuk dan susunan alat-alat tubuh, ukuran tubuh, serta
warna tubuh (kulit dan bulu).

b. Adaptasi Fisologis
Adaptasi fisiologis adalah adaptasi yang menyangkut kesesuaian proses-proses
fisiologis hewan dengan kondisi lingkungan dan sumberdaya yang ada di habitatnya.
Diantaranya ada yang berhubungan dengan adaptasi struktural, terutama pada bagian
dalam tubuh. Misalnya pada proses respirasi, pencernan makanan dan lain-lain yang
menggambarkan adanya adaptasi terstruktur.
c. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah respon hewan terhadap kondisi lingkungan dalam
bentuk perubahan tingkah laku. Perubahan tersebut biasanya muncul dalam bentuk
gerakan untuk menanggapi rangsangan yang mengenai dirinya. Baik rangsangan dari
luar maupun dari dalam lingkungan tubuhnya.
Adaptasi tingkah laku tersebut adalah; Hibernasi, Aestivasi, Diurnal dan
Nocturnal, Orientasi terhadap lingkungan, Ototomi, Adaptasi Mutual, Tingkah laku
sosial, tingkah laku perkembangbiakan, berkelahi, refleks, insting dan tingkah laku
belajar.

HABITAT DAN RELUNG

1. Pengertian Habitat
Habitat adalah tempat tinggal berbagai jenis organisme hidup melaksanakan
kehidupannya. Dalam ekosistem yang menjadi habitatnya ada bermacam-macam, seperti
perairan, daratan, hutan atau sawah. Istilah habitat dapat berarti juga sebagai tempat
tinggal atau tempat menghuni seluruh populasi atau komunitas makhluk hidup dalam
ekosistem.
2. Macam Habitat
Habitat adalah tempat tinggal berbagai jenis organism hidup melaksanakan
kehidupannya. Dalam ekosistem yang menjadi habitatnya ada bermacam-macam, seperti
perairan, daratan, hutan atau sawah. Istilah habitat dapat berarti juga sebgai tempat tinggal
atau tempat menghuni seluruh populasi atau komunitas makhluk hidup dalam ekosistem.
Secara garis besar, dikenal empat tipe habitat utama yaitu daratan, perairan tawar,
perairan payau, dan estuaria serta perairan bahari/laut. Masing-masing kategori utama itu
dapat dipilah-pilahkan lagi tergantung corak kepentingannya mengenai aspek yang ingin
diketahui. Berdasarkan variasi habitat menurut waktu dapat dikenal 4 macam habitat yaitu:
a. Habitat yang konstan, yaitu habitat yang kondisinya terus-mnerus relatif baik atau
kurang baik.
b. Habitat yang bersifat memusim, yaitu habitat yang kondisinya secara relative teratur
secara berganti-ganti antara baik dan kurang baik.
c. Habitat yang tidak menentu, yaitu habitat yang mengalami suatu periode dengan
kondisi yang lamanya juga bervariasi sehingga kondisinya tidak dapat diramalkan.
d. Habitat yang ephemeral, yaitu suatu habitat yang mengalami perioda kondisi baik yang
berlangsung relative singkat, diikuti oleh suatu perioda dengan kondisi yang
berlangsung relative lama sekali.
Berdasarkan variasi kondisi habitat menurut ruang, habitat dapat diklasifikasikan
menjadi 3 macam :
a. Habitat yang bersinambung, yaitu apabila suatu habitat mengandung area dengan
kondisi baik yang luas sekali yang dapat dijelajahi populasi penghuninya.
b. Habitat yang terputus-putus, yaitu suatu habitat yang mengandung area dengan kondisi
baik, letaknya berselang-seling dengan area berkondisi kurang baik.
c. Habitat yang terisolasi, yaitu suatu habitat yang mengandung area berkondisi baik yang
terbatas luasnya dan letaknya terpisah jauh dari area berkondisi baik.

Berdasarkan ukuran dan bentuknya, menggunakan skala geografi, menurut Hugget


(2003) habitat dibagi menjadi :
a. Microhabitat : mengacu pada kondisi habitat terkecil dimana masih terjadi interaksi
antar organism dengan lingkungannya. Luas microhabitat beberapa cm persegi hingga
beberapa meter suatu area.
b. Mesohabitat : suatu kondisi habitat yang ukurannya lebih besar daripada microhabitat
dan lebih kecil dari makrohabitat. Ukuran mesohabitat sekitar 10.000 km
c. Macrohabitat : lebih cenderung mengarah pada kondisi luasan yang sangat besar
(seperti habitat perairan dan lainnya), dimana luas areanya sekitar 1.000.000 km
d. Megahabitat : terdiri dari benua

Habitat organisme bisa lebih dari satu tempat. Misalnya burung pipit mempunyai
habitat di sawah untuk aktivitas mencari makan, juga mempunyai habitat di atas
pepohonan untuk bertelur. Habitat ikan salem ketika dewasa adalah di laut, waktu akan
bertelur pindah habitatnya di sungai, bahkan sampai ke hulu sungai. Ikan salem bertelur di
hulu sungai dan anak yang telah ditetaskan akan tinggal bertahun-tahun di sungai,
kemudian ketika memasuki fase dewasa ikan salem itu pindah habitat lagi ke laut.
Contoh lainnya adalah ikan arwana mempunyai habitat di air tawar dan ada pula
yang di air payau. Habitat katak ketika dewasa adalah di darat, sedangkan ketika fase telur
dan berudu berada di air tawar. Pohon ramin (Gonystylus bancanus) mempunyai habitat di
hutan gambut juga di hutan-hutan daratan dengan tanah berpasir, ketinggian tempat 2-100
m dari permukaan laut. Pohon Matoa (Pometia pinnata) mempunyai habitat di pinggir
sungai, juga di daerah yang bertanah liat, tanah pasir atau lempung di hutan daratan
dataran rendah hingga di hutan pegunungan (ketinggian tempat kurang dari 1.700 m dpl.).
Pohon kempas (Koompassia malaccensis) mempunyai habitat di hutan rawa, juga di hutan
daratan dengan tanah liat atau pasir yang ketinggian tempatnya adalah 0-600 m dpl.
Habitat suatu organisme itu pada umumnya mengandung faktor ekologi yang sesuai
dengan persyaratan hidup organisme yang menghuninya. Persyaratan hidup setiap
organisme merupakan kisaran faktor-faktor ekologi yang ada dalam habitat dan diperlukan
oleh setiap organisme untuk mempertahankan hidupnya. Kisaran faktor-faktor ekologi
bagi sefiap organisme memiliki lebar berbeda yang pada batas bawah disebut titik
minimum, batas atas disebut titik maksimum, di antara titik minimum dan tifik maksimum
disebut titik optimum. Ketiga titik tersebut dinamakan titik kardinal.
3. Relung
Relung (niche) dalam ekologi merujuk pada posisi unik yang ditempati oleh suatu
spesies tertentu berdasarkan rentang fisik yang ditempati dan peranan yang dilakukan di
dalam komunitasnya. Konsep ini menjelaskan suatu cara yang tepat dari suatu organisme
untuk menyelaraskan diri dengan lingkungannya. Habitat adalah pemaparan tempat suatu
organisme dapat ditemukan, sedangkan relung adalah pertelaan lengkap bagaimana suatu
organisme berhubungan dengan lingkungan fisik dan biologisnya. Ekologi dari suatu
individu mencakup variabel biotik (makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, manusia,
baik yg mikro maupun yang makro) dan abiotik (benda tidak hidup). Relung menentukan
bagaimana spesies memberi tanggapan terhadap ketersediaan sumberdaya hidup dan
keberadaan pesaing dan pemangsa dalam suatu ekosistem. Kata "relung" mulai mendapat
arti ilmiah pada tahun 1933 oleh tulisan Charles Sutherland Elton, seorang ahli ekologi
yang mempelajari ekologi komunitas dan populasi, lewat pernyataannya, "relung suatu
organisme adalah mode dari kehidupan organisme tersebut dalam hal peran atau
profesinya dalam suatu komunitas manusia."
Istilah relung (niche) pertama kali dikemukakan oleh Joseph Grinnell pada tahun
1917. Menurut Grinner, relung merupakan bagian dari habitat yang disebut dengan
mikrohabitat. Dengan pandangan seperti ini, Grinnell mengatakan bahwa setiap relung
hanya dihuni oleh satu spesies. Pandangan relung yang dikemukakan oleh Grinnell inilah
yang disebut dengan relung habitat. Contoh, jika kita mengatakan relung habitat dari
kalajengking, maka kita akan menjelaskan mikrohabitat kalajengking tersebut. Dengan
demikian kita harus menjelaskan pada suhu dan kelembaban berapa kalajengking hidup,
apakah dia tahan terhadap cahaya atau tidak, apakah dia hidup di tanah dalam lubang, atau
di pohon, dan sebagainya.
4. Asas Eksklusi Persaingan Dan Pemisahan Relung
Suatu relung ekologi tidak dapat ditempati secara simultan dan sempurna oleh
populasi stabil lebih dari satu spesies. Pernyataan ini dikenal sebagai Asas Eksklusi
Persaingan atau Aturan Gause.
Sehubungan dengan asas tersebut di atas, menurut asas koeksistensi, beberapa
spesies yang dapat hidup secara langgeng dalam habitat yang sama ialah spesies-spesies
yang relung ekologinya berbeda-beda. Dari uraian tersebut terjadilah pemisahan
relungdari beberapa spesies harus berbeda (terpisah) agar dapat berkoeksistensi dalam
habitat yang sama.Contoh dari kasus pemisahan relung antara berbagai spesies yang
berkohabitasi dapat dilihat dari contoh berikut ini. Serumpun padi dapat menjadi
sumberdaya berbagai jenis spesies hewan. Orong-orong (Gryllotalpa africana) memekan
akarnya, walang sangit (Leptocorisa acuta) memakan buahnya, ulat tentara kelabu
(Spodoptera maurita) yang memakan daunnya, ulat penggerek batang (Chilo supressalis)
yang menyerang batangnya, hama ganjur (Pachydiplosis oryzae) menyerang pucuknya,
wereng coklat (Nilaparvata lugens) dan wereng hijau (Nephotettix apicalis) yang
menghisap cairan batangnya. Tiap jenis hama tersebut masing-masing telah teradaptasi
khusus untuk memanfaatkan tanaman padi sebagai sumberdaya makanan pada bagian-
bagian yang berbeda-beda.
5. Ekivalen Ekologi
Jenis-jenis hewan yang menempati relung ekologi yang sama (ekivalen) dalam habitat
yang serupa di daerah zoogeografi yang berbeda disebut Ekivalen Ekologi.contohnyaJika
memperhatikan tentang kehidupan berbagai jenis hewan di berbagai tempat sering
ditemukan spesies-spesies hewan serupa yang hidup di daerah geografi yang berbeda. Kita
dapat menemukan cacing tanah di mana saja, misal di Indonesia, di Amerika, di Eropa, di
Australia dan tempat lainnya. Cacing-cacing tanah tersebut secara morfologi serupa,
namun sebenarnya mereka berbeda spesies. Cacing tanah di jawa (Pheretimajavanica)
serupa dengan cacing tanah di Amerika (Lumbricusterestris).Kedua jenis cacing tanah
tersebut menempati habitat tanah lembab dengan relung ekologi yang serupa.
6. Pergeseran Ciri
Fenomena perubahan spesies-spesies hewan yang berkerabat dekat, satu marga atau
genus misalnya, dapatditemukanpada habitat ataudaerahpenyebaran yang sama (simpatrik)
atau ditemukan pada daerah penyebaran yang berbeda (alopitrik) disebut pergeseran ciri
Evolusi yang menghasilkan pergeseran ciri pada spesies-spesies hewan dalam keadaan
simpatrik ini akan menyebabkan terjadinya pemisahan relung ekologi.