Anda di halaman 1dari 13

BAB I

LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien
a. Nama/ Jenis Kelamin/ Umur : Ny. S / Perempuan / 34 Tahun
a. Pekerjaan : IRT
b. Pendidikan : SMA
c. Alamat : RT. 02 Ulu Gedong

2. Latar belakang sosio-ekonomi-demografi-lingkungan-keluarga


a. Status Perkawinan : Menikah
b. Jumlah Anak/ Saudara : Anak 2 orang
c. Status Ekonomi Keluarga : Cukup
d. Kondisi Rumah :
Rumah pasien merupakan rumah dengan luas 10 x 8 m 2 yang dihuni
oleh 4 orang yaitu pasien, suami pasien dan 2 orang anak pasien.
Rumah pasien disertai ventilasi di bagian depan dan samping rumah.
Lantai rumah terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari papan
kayu. Pintu dan jendela rumah terdapat di depan dan samping rumah.
Terdapat 2 buah kamar dan terdapat jendela pada kamar dengan
pencahayaan yang cukup. Air yang digunakan untuk minum, masak
dan mandi dari PAM, terdapat 1 buah wc/jamban di dalam rumah.

e. Kondisi Lingkungan Keluarga : Pasien tinggal di tempat yang padat


penduduk

3. Aspek Psikologis Dalam Keluarga : Pasien merupakan seorang ibu


rumah tangga mempunyai 1 orang suami yang bekerja sebagai buruh dan 2
orang anak.

4. Riwayat Penyakit Dahulu/Keluarga :


Pasien tidak pernah mengalami gejala seperti ini sebelumnya.
Riwayat alergi obat dan makanan disangkal.
Riwayat bersin-bersin pagi hari disangkal.
Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal

5. Riwayat Penyakit Sekarang

1
Keluhan utama : Gatal-gatal pada pinggir kuku tangan kanan dan
sekitar ibu jari kaki kiri sejak 3 minggu yang lalu.

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang dengan keluhan gatal-gatal pada pinggir kuku tangan
kanan dan sekitar ibu jari kaki kiri awalnya muncul bercak merah dan kulit
mengelupas di pinggir kuku tangan kanan dan sekitar ibu jari kaki kiri.
Keluhan dirasakan sejak 3 minggu yang lalu. Keluhan bertambah luas dari
pertama kali muncul. Pasien mengatakan keluhan muncul setelah ia sering
mencuci pakaian dan piring menggunakan sabun deterjen, awalnya pasien
mencuci piring dan pakaian menggunakan sabun batangan. Pertama kali
muncul berupa merah berair yang terasa gatal Pasien mengatakan sering
menggaruk kedua tangannya tersebut. Lama-kelamaan menjadi bercak-
bercak merah disertai kulit mengelupas.
Selama 1 minggu ini pasien mengganti kembali sabun cuci deterjen
dengan sabun cuci batangan. Pasien mengatakan merah sedikit berkurang,
tetapi masih terasa gatal . gatal- gatal dirasakan pada pinggir jari kaki dan
tangan.
6. Pemeriksaan Fisik
Kesadaran : compos mentis
Vital sign : TD : 110/80 mmHg
N : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36,5 C
Tinggi badan : 155 cm
Berat Badan : 57 kg
IMT : 23,75

Kepala : normochepal
Mata : Conjugtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor,
Diameter 3mm/3mm, Udem palpebra -/-, mata merah -/-
Telinga : normotia, sekret -/-, tidak ada tanda perdarahan
Hidung : lapang, deviasi septum (-), konka hiperemis (-), sekret bening (-),
pernafasan cuping hidung (-)

2
Mulut : Bibir basah, selaput lendir basah, palatum utuh, lidah kotor (-)
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada
pembesaran getah bening,
Dada
Inspeksi : bekas luka (-), retraksi (-)
Perkusi : sonor +/+
Palpasi : pengembangan dada simetris +/+
Fremitus (+) normal
Auskultasi :
Cor : S1 S2 reguler, bising jantung (-)
Pulmo : vesikuler +/+, suara tambahan ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen : Abdomen :bekas operasi (-),bising usus (+) , nyeri tekan
epigastrium (-)
Genitalia : tidak dilakukan
Anggota Gerak : akral hangat, RCT <2 detik, oedem (-)

Status Dermatologik :
Lokasi : Pinggir kuku kaki kiri dan tangan tangan kanan
Efloresensi : eritema, skuama

7. Laboratorium Dan Usulan pemeriksaan :


Usulan pemeriksaan penunjang: Tes alergi pacths test

8. Diagnosa Kerja : Dermatitis Kontak Alergen

9. Manajemen:
1. Promotif :
- Menjelaskan kepada pasien tentang penyebab penyakitnya
- Menjelaskan kepada pasien cara menghindari dan mengurangi
gejala tersebut
2. Preventif :
Menggunakan alat pelindung (sarung tangan, kantong plastik
dan sepatu boat) saat kontak dengan sabun
Mencegah atau menghindari bahan yang mengiritasi (deterjen).
Menggunakan pelembab kulit untuk mengatasi kulit kering.
Jangan menggaruk luka karena bisa menjadi tempat infeksi
baru dan dapat meninggalkan bekas garukan yang permanen.
Kontrol bila obat habis.

3
3. Kuratif :

- Non Farmakologik

Menggunakan alat pelindung (sarung tangan) saat


kontak dengan sabun

- Farmakologik

Chlorpheniramin maleas tab 4mg 3x1


Dexamethason tab 0,5 mg 3x1
krim hidrokortison 1%

- Tradisional
Rebusan daun sirih yang bersifat antiseptik bisa
digunakan sebagai pembersih daerah yang gatal
sebelum diobati dengan obat oles
Rebus 15 lembar daun sirih dengan 2 liter air.
Jika sudah mendidih dan warnanya berubah, air rebusan
daun srih yang masih ruam-ruam kuku bisa digunakan
untuk membersihkan daerah yang terkena dermatitis
kontak alergi
4. Rehabilitatif :
- Minum obat sesuai anjuran dan jangan menggaruk agar tidak
terjadi infeksi.
- Menghindari kontak dengan penyebab alergi
- Jika semakin bertambah berat dan tidak sembuh, maka segera
periksa ke RS

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi

Dermatitis kontak alergi adalah suatu dermatitis (peradangan kulit) yang


timbul setelah kontak dengan alergen melalui proses sensitisasi. 1

2. Etiologi
Penyebab dermatitis kontak alergik adalah alergen, paling sering berupa
bahan kimia dengan berat molekul kurang dari 500-1000 Da, yang juga disebut
bahan kimia sederhana. Dermatitis yang timbul dipengaruhi oleh potensi
sensitisasi alergen, derajat pajanan, dan luasnya penetrasi di kulit. 2
Penyebab utama kontak alergen di Amerika Serikat yaitu dari tumbuh-
tumbuhan. Sembilan puluh persen dari populasi mengalami sensitisasi terhadap
tanaman dari genus Toxicodendron, misalnya poison ivy, poison oak dan poison
sumac. Toxicodendron mengandung urushiol yaitu suatu campuran dari highly
antigenic 3- enta decyl cathecols. Bahan lainnya adalah nikel sulfat (bahan-bahan
logam), potassium dichromat (semen, pembersih alat -alat rumah tangga),
formaldehid, etilendiamin (cat rambut, obat-obatan), mercaptobenzotiazol (karet),
tiuram (fungisida) dan parafenilendiamin (cat rambut, bahan kimia fotografi). 3

3. Predisposisi
Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya dermatitis kontak alergi.
Misalnya antara lain:2
Faktor eksternal
1 Potesi sensitisasi allergen
2 Dosis per unit area
3 Luas daerah yang terkena
4 Lama pajanan

5
5 Oklusi
6 Suhu dan kelembaban lingkungan
7 Vehikulum
8 pH
b. Faktor Internal/ Faktor Individu
1 Keadaan kulit pada lokasi kontak :Contohnya ialah
ketebalan epidermis dan keadaan stratum korneum.
2 Status imunologik: Misal orang tersebut sedang menderita
sakit, atau terpajan sinar matahari.
3 Genetik :Faktor predisposisi genetic berperan kecil,
meskipun misalnya mutasi null pada kompleks gen fillagrin
lebih berperan karena alergi nickel.
4 status higinie dan gizi

4. Patofisiologi
Dermatitis kontak alergi atau DKA disebabkan oleh pajanan secara
berulang oleh suatu alergen tertentu secara berulang, seperti zat kimia yang
sangat reaktif dan seringkali mempunyai struktur kimia yang sangat sederhana.
Struktur kimia tersebut bila terkena kulit dapat menembus lapisan epidermis yang
lebih dalam menembus stratum corneum dan membentuk kompleks sebagai
hapten dengan protein kulit. Konjugat yang terbentuk diperkenalkan oleh sel
dendrit ke sel-sel kelenjar getah bening yang mengalir dan limfosit-limfosit secara
khusus dapat mengenali konjugat hapten dan terbentuk bagian protein karier yang
berdekatan. Kojugasi hapten-hapten diulang pada kontak selanjutnya dan limfosit
yang sudah disensitisasikan memberikan respons, menyebabkan timbulnya
sitotoksisitas langsung dan terjadinya radang yang ditimbulkan oleh limfokin. 4
Sebenarnya, DKA ini memiliki 2 fase yaitu fase sensitisasi dan fase
elisitasi yang akhirnya dapat menyebabkan DKA. Pada kedua fase ini akan
melepaskan mediator-mediator inflamasi seperti IL-2, TNF, leukotrien, IFN,
dan sebagainya, sebagai respon terhadap pajanan yang mengenai kulit tersebut.
Pelepasan mediator-mediator tersebut akan menimbulkan manifestasi klinis khas
khas yang hampir sama seperti dermatitis lainnya. DKA ini akan terlihat jelas
setelah terpajan oleh alergen selama beberapa waktu yang lama sekitar berbulan-
bulan bahkan beberapa tahun.4

6
Secara khas, DKA bermanifestasi klinis sebagai pruritus, kemerahan dan
penebalan kulit yang seringkali memperlihatkan adanya vesikel-vesikel yang
relatif rapuh. Edema pada daerah yang terserang mula-mula tampak nyata dan jika
mengenai wajah, genitalia atau ekstrimitas distal dapat menyerupai eksema.
Edema memisahkan sel-sel lapisan epidermis yang lebih dalam (spongiosus) dan
dermis yang berdekatan. Lebih sering mengenai bagian kulit yang tidak memiliki
rambut terutama kelopak mata. 4

5. Penegakan Diagnosis
1. Anamnesa
Pertanyaan mengenai kontaktan yang dicurigai didasarkan
kelainan kulit berukuran numular di sekitar umbilikus berupa
hiperpigmentasi, likenifikasi, dengan papul dan erosi, maka perlu
ditanyakan apakah penderita memakai kancing celana atau kepala ikat
pinggang yang terbuat dari logam (nikel). Data yang berasal dari
anamnesis juga meliputi riwayat pekerjaan, hobi, obat topikal yang pernah
digunakan, obat sistemik, kosmetika, bahan-bahan yang diketahui
menimbulkan alergi, penyakit kulit yang pernah dialami, riwayat atopi,
baik dari yang bersangkutan maupun keluarganya.2

Tabel 2.1 Penelusuran riwayat pada DKA

7
Demografi dan riwayat Umur, jenis kelamin, ras, suku, agama, status
pekerjaan pernikahan, pekerjaan, deskripsi dari pekerjaan,
paparan berulang dari alergen yang didapat saat
kerja, tempat bekerja, pekerjaan sebelumnya.
Riwayat penyakit dalam Faktor genetik, predisposisi
keluarga
Riwayat penyakit Alergi obat, penyakit yang sedang diderita, obat-
sebelumnya obat yang digunakan, tindakan bedah
Riwayat dermatitis yang Onset, lokasi, pengobatan
spesifik

6. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik sangat penting, karena dengan melihat lokasi dan pola
kelainan kulit seringkali dapat diketahui kemungkinan penyebabnya. Berbagai
lokasi terjadinya DKA dapat dilihat pada tabel 2.2. Misalnya, di ketiak oleh
deodoran; di pergelangan tangan oleh jam tangan; di kedua kaki oleh
sepatu/sandal. Pemeriksaan hendaknya dilakukan di tempat yang cukup terang,
pada seluruh kulit untuk melihat kemungkinan kelainan kulit lain karena sebab-
sebab endogen.2

Tabel 2.2 Berbagai Lokasi Terjadinya DKA


Lokasi Kemungkinan Penyebab
Tangan Pekerjaan yang basah (Wet Work) misalnya
memasak makanan (getah sayuran, pestisida)
dan mencuci pakaian menggunakan deterjen.
Lengan Jam tangan (nikel), sarung tangan karet, debu
semen, dan tanaman.
Ketiak Deodoran, anti-perspiran, formaldehid yang ada
di pakaian.
Wajah Bahan kosmetik, spons (karet), obat topikal,
alergen di udara (aero-alergen), nikel (tangkai
kacamata).
Bibir Lipstik, pasta gigi, getah buah-buahan.

8
Kelopak mata Maskara, eye shadow, obat tetes mata, salep
mata.
Telinga Anting yang terbuat dari nikel, tangkai
kacamata, obat topikal, gagang telepon.
Leher Kalung dari nikel, parfum, alergen di udara, zat
warna pakaian.
Badan Tekstil, zat warna, kancing logam, karet
(elastis, busa), plastik, deterjen, bahan pelembut
atau pewangi pakaian.
Genitalia Antiseptik, obat topikal, nilon, kondom,
pembalut wanita, alergen yang berada di
tangan, parfum, kontrasepsi.
Paha dan tungkai bawah Tekstil, kaus kaki nilon, obat topikal,
sepatu/sandal.

Pada pemeriksaan fisik dermatitis kontak alergi secara umum dapat


diamati beberapa ujud kelainan kulit antara lain edema, papulovesikel, vesikel
atau bula. Ujud kelainan kulit dapat dilihat pada beberapa gambar berikut :

a Dermatitis kontak alergi pada di lengan tempat tali jam tangan karena alergi
terhadap nikel menyebabkan eritema. Lesi yang timbul pada lokasi kontak
langsung dengan nikel (lesi eksematosa dan terkadang popular). Lesi
eksematosa berupa papul-papul, vesikel-vesikel yang dijumpai pada lokasi
kontak langsung.

b Dermatitis kontak alergi akut pada bibir yang terjadi karena lipstick. Pasien
hipersensitif terhadap eosin mengakibatkan eritema pada bibir.

c. Telinga. Anting atau jepit telinga terbuat dari nikel, penyebab dermatitis
kontak pada telinga. Penyebab lain misalnya obat topikal, tangkai kaca
mata, cat rambut, alat bantu dengar, gagang telepon. Alat bantu dengar
dapat mengandung akrilak, bahan plastik, serta bahan kimia lainnya.

9
Anting-anting yang menyebabkan dermatitis pada telinga umumnya yang
terbuat dari nikel dan jarang pada emas. Tindikan pada telinga mungkin
menjadi fase sensitisasi pada dermatitis karena nikel yang bisa mengarah
pada dermatitis kontak kronik. Dermatitis kontak alergi subakut pada
telinga dan sebagian leher. Akhirnya diketahui bahwa pasien alergi terhadap
bahan plastik

d. Badan. Dermatitis kontak di badandapatdisebabkanolehtekstil,


zatwarnakancinglogam, karet (elastis, busa), plastik, deterjen bahan
pelembutatau pewangi pakaian. Dermatitis kontak pada perut karena pasien
alergip ada karet dari celananya. Terlihata dan yaeritema yang berbatas tegas
sesuai dengan daerah yang terkenaalergen.

e. Genitalia.Penyebabnya data antiseptik, obat topikal, nilon, kondom,pembalut


wanita alergen yang berada di tangan, parfum, kontrasepsi, deterjen.
Dermatitis kontak yang terjadi pada daerah vulva karena alergi pada cream
yang mengandung neomisin, terlihat eritema

f. Paha dan tungkai bawah. Dermatitis di tempat ini dapat disebabkan oleh
tekstil, dompet, kunci (nikel), kaos kaki nilon, obat topikal, semen,
sepatu/sandal. Pada gambar dermatitis kontakalergi yang terjadi karena
Quaternium-15,bahan pengawet pada pelembab.Kaki mengalami skuama,
krusta.
7. Penatalaksanaan2, 5
1. Non medikamentosa
a. Memotong kuku kuku jari tangan dan jaga tetap bersih dan
pendek serta tidak menggaruk lesi karena akan menimbulkan
infeksi
b. Memberi edukasi mengenai kegiatan yang berisiko untuk terkena
dermatitis kontak alergi
c. Gunakan perlengkapan/pakaian pelindung saat melakukan aktivitas
yang bersentuhan dengan alergen

10
d. Memberi edukasi kepada pasien untuk tidak mengenakan
perhiasan, aksesoris, pakaian atau sandal yang merupakan
penyebab alergi
2. Medikamentosa
a. Simptomatis
Diberi antihistamin yaitu Chlorpheniramine Maleat (CTM)
sebanyak 3-4 mg/dosis, sehari 2-3 kali untuk dewasa dan 0,09
mg/dosis, sehari 3 kali untuk anak anak untuk menghilangkan
rasa gatal
b. Sistemik
1) Kortikosteroid yaitu prednison sebanyak 5 mg, sehari 3 kali
2) Cetirizine tablet 1x10mg/hari

3) Bila terdapat infeksi sekunder diberikan antibiotika


(amoksisilin atau eritromisin) dengan dosis
3x500mg/hari, selama 5 hingga 7 hari
c. Topikal
1) Krim desoksimetason 0,25%, 2 kali sehari

BAB III
ANALISA KASUS

Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar


Tidak terdapat hubungan antara penyakit pasien dengan keadaan rumah
dan lingkungan sekitar karena jendela ruangan selalu dibuka setiap pagi hari dan
rumah selalu dibersihkan.

Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga


Apabila ada salah satu anggota keluarga yang terkena penyakit tersebut
secara etiologi bisa dipengaruhi oleh faktor alergen, baik alergi terhadap

11
makanan, obat obatan, sabun, detergen maupun bahan bahan tertentu yang
berada di rumah. Pada pasien ini tidak ada dalam anggota keluarga yang
memiliki riwayat keluhan yang sama dengan pasien, sehingga tidak ada
hubungan antara diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga.

Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan


lingkungan sekitar
Tidak terdapat hubungan antara penyakit pasien dengan perilaku
kesehatan dalam keluarga dan lingkungan sekitar.

Analisis kemungkinan faktor risiko atau etiologi penyakit pada pasien


Pada pasien ini dari anamnesis yang dilakukan terhadap berbagai faktor
yang bisa menyebabkan terjadinya penyakit ini didapatkan kesimpulan
kemungkinan penyakit yang diderita pasien mempunyai hubungan dengan
pasien yang mengganti kebiasaan mencuci pakaian dan piringnya menggunakan
deterjen, yang awalnya menggunakan sabun batangan tidak pernah timbul
keluhan seperti saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

1 Siregar, R.S,. 2004. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi 2. Jakarta:
EGC
2 Sularsito, Sri Adi dan Suria Djuanda. 2010. Dermatitis dalam Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin Edisi 6. Jakarta : FKUI
3 Trihapsoro, Iwan. 2003. Dermatitis Kontak Alergik pada Pasien Rawat Jalan
di RSUP Haji Adam Malik Medan. Universitas Sumatra Utara, Medan.
Tersedia dalam : http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6372

12
4 Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses- Proses
Penyakit. Jakarta : EGC.
5 Morgan, Geri, Hamilton, Carole. 2009. Obstetri & Ginekologi: Panduan
Praktik Edisi 2. Jakarta : EGC
6 Sumantri, M.A., Febriani, H.T., Musa, S.T. 2005. Dermatitis Kontak.
Yogyakarta : Fakultas Farmasi UGM

13