Anda di halaman 1dari 107

HAK MEWARIS ANAK ANGKAT DALAM PERSPEKTIF

HUKUM WARIS ADAT SASAK


(Studi di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat)

TESIS
Untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Magister Kenotariatan
(M.Kn)

Oleh:

HAERUL ANWAR
NIM: 146010200111004

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

i
LEMBAR PERSETUJUAN TESIS

HAK MEWARIS ANAK ANGKAT DALAM PERSPEKTIF


HUKUM WARIS ADAT SASAK
(Studi di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara
Barat)

Oleh:
HAERUL ANWAR
NIM: 146010200111004

Menyetujui:

Pembimbing Utama Pembimbing Kedua

Prof. Dr. Suhariningsih, S.H. S.U. Dr. Diah Aju Wisnuwardhani, S.H. M.Hum.
NIP. 19500526 198002 2 001

Malang, Agustus 2016


Fakultas Hukum Ketua Program Studi
Universitas Brawijaya Magister Kenotariatan
Dekan,

Dr. Rachmad Syafaat SH., Msi Dr. Nurini Aprilianda, SH. M.Hum
NIP: 195912161985031001 NIP. 19760429 200212 2 001

ii
PERNYATAAN ORISINALITAS PENELITIAN

Saya bertanda tangan dibawah ini :

Nama : HAERUL ANWAR. SH

Nim : 146010200111004

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa penulisan tesis yang saya

susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan merupakan hasil

karya saya sendiri. Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya

kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas dalam

kutipan atau dalam daftar pustaka sesuai dengan norma, kaedah dan etika penulisan

ilmiah.

Apabila ternyata didalam naskah tesis ini dapat dibuktikan unsur-unsur

plagiasisaya bersedia tesis ini digugurkan dan gelar akademik yang telah saya

peroleh (Magister) dibatalkan, serta diproses sesuai dengan Peraturan Perundang-

undangan yang berlaku. (Undang-undang No 20 Tahun 2003, pasal 25 ayat 2 dan

pasal 70).

Malang, Agustus 2016

Mahasiswa

Haerul Anwar. SH.

NIM. 1460102001

PS. Magister Kenotariatan FH UB

iii
RINGKASAN

Haerul Anwar, Program Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas


Brawijaya. Malang, 16 Agustus 2016, Hak Mewaris Anak Angkat Dalam
Perspektif Hukum Waris Adat Sasak (Studi di Kecamatan Sembalun Kabupaten
Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat). Komisi Pembimbing Utama: Prof.
Dr. Suhariningsih, S.H. S.U,. Pembimbing Kedua: Dr. Diah Aju Wisnuwardhani,
S.H. M.Hum.

Penulisan jurnal ini membahas mengenai pewarisan anak angkat yang


dilakukan secara adat yang dalam hal ini yakni adat sasak, di Kecamatan
Sembalun Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tujuan
penelitian ini, untuk memahami, menganalisis serta menemukan faktor-faktor
yang melatarbelakangi masyarakat adat sasak melakukan pengangkatan anak dan
hak mewaris anak angkat dalam persfektif hukum waris adat sasak yang
khususnya di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa
Tenggara Barat.
Hasil dari penelitian tesis ini mengemukakan bahwa, pengangkatan anak
pada masyarakat adat Sasak dilakukan terhadap anak yang berasal dari kalangan
keluarga atau kerabat dan dari kalangan bukan warga keluarga. Hal ini disebabkan
alasan pengangkatan anak selain untuk mendapatkan keturunan juga dilandasi
oleh rasa kemanusiaan dan untuk kesejahteraan si anak. Proses pengangkatan anak
dilakukan oleh masyarakat Adat Sasak dengan upacara adat yaitu upacara begawe
atau roah. Hubungan kekeluargaan anak angkat dengan orang tua kandungnya
tidak terputus meski ia memasuki kekerabatan orang tua angkatnya. Kedudukan
anak angkat dalam keluarga orang tua angkatnya adalah disejajarkan dengan anak
kandung, sehingga berfungsi sebagai pelanjut keturunan dan berkedudukan
sebagai pewaris. Dengan ketentuan anak angkat mewarisi harta warisan orang tua
angkatnya dan orang tua kandungnya termasuk harta pusaka. Sebaliknya anak
angkat tidak berhak mewarisi harta orang tua angkatnya yang bersifat harta doe
tengaq yaitu harta warisan dari orang tua pewaris yang belum terbagi kepada
saudara-saudaranya pewaris.
Kata kunci: Pengangkatan Anak, Pewarisan, Hukum Waris Adat Sasak.

iv
SUMMARY

Haerul Anwar, Program Master Of Notary Public, Faculty og law, University Of


Brawijaya. Malang, 16 Agust 2016, The Inherit Rights Of Adopted Children In
Perpective of Sasaknese Customary Law (Studies in The District Sembalun East
Lombok Regency Of West Nusa Tenggara). Primary Supervisor Commision: Prof.
Dr. Suhariningsih, S.H. S.U,. Second Supervisor: Dr. Diah Aju Wisnuwardhani,
S.H. M.Hum.

This Journal written to discuss the inheritance of adopted children is being by


custom, in this case is the Sasak indigenous, in District Sembalun East Lombok
regency, West Nusa Tenggara province. The purpose of this study, to understand,
analyze and find the factors behind Sasak indigenous do adoptions and the child
adopted inherit rights in perspective of Sasaknese customary law particularly in
Sub Sembalun East Lombok West Nusa Tenggara province.
The results showed that the adoption of children in Sasak indigenous being to
children who come from families or relatives and are not members of the family.
This is due to reasons other than the removal of a child to get a descent is also
guided by a sense of humanity and child's welfare. The process of adoption was
done by Sasak indigenous people with ceremonies that name was begawe or
roah ceremony. Kinship of the adopted child to his biological parents is not
interrupted even though he entered to adopted parents. The Position of adopted
child in a family of adoptive parents is a biological child, thereby functioning as a
continuer descent and serves as the heir and aligned his position with biological
children. Thus the provisions adopted children inherit the heirloom adoptive
parents including inheritance. Instead, the adopted child is not entitled to inherit
from parents who are treasure doe tengaq is inheritance from parents who was not
divided heir to the brother. And adopted children entitled to inherit the legacy of
his biological parents.

Keywords: Adoption, Inheritance, Sasak Law Customary

v
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah S.W.T dan Rasullah

Muhammad SAW, karena dengan rahmat dan karunia-Nya yang tiada henti hingga

penulis akhirnya dapat sampai pada tahap ini, khususnya dalam menyelesaikan

penulisan tesis ini. Penulisan tesis ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagi

pihak yang memberikan semangat, motivasi dan bantuan baik secara lansung

maupun tidak lansung. Penulis ingin ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada:

1. Bapak Dr. Rachmad Safaat SH, Msi selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Brawijaya Malang.


2. Ibu Dr. Nurini Aprilianda, S.H., M.Hum selaku Ketua Program Studi

Magister Kenotariatan.
3. Ibu Prof. Dr. Suhariningsih, S.H. S.U., selaku Dosen Pembimbing Pertama,

terima kasih atas bimbingan dan kesabarannya dalam membimbing dan

melancarkan penulisan tesis ini sehingga penulis dapat menyusun dan

menyelesaikan Tesis ini.


4. Ibu Dr. Diah Aju Wisnuwardhani, S.H. M.Hum., selaku Dosen Pembimbing

Kedua, terima kasih atas bimbingan dan kesabarannya dalam membimbing

dan melancarkan penulisan tesis ini sehingga penulis dapat menyusun dan

menyelesaikan Tesis ini dengan baik.


5. Para Dosen Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya,

terima kasih kepada Bapak/Ibu yang telah memberikan ilmunya kepada

penulis selama penulis belajar di Magister Kenotariatan Universitas

Brawijaya.
6. Keluargaku tercinta, Papa Mama Dr. H. Sahar. S.H., SE., MM., dan Hj.

Sahrul Aini. S.Adm. Adik-adikku tersayang Dwi Indrawan. S.E., Wahyu

vi
Taofani. S.Ked., Febrima Vegalira, dan calon istriku tercinta dr. Aini Pusva

Dewi, terima kasih atas segala support yang telah kalian berikan dan semua

pencapaian saya selama ini akan saya persembahkan untuk kalian.


7. Saudara-saudara seperantauan di kontrakan sejahtera M. Riadussyah. S.H.,

M.H., Johan Rahmatulloh, S.H., M.H., Zulkifli Sani. S.T., Imannudien

Baskoro, S.T., M. Syamsul Arifin. S.T. yang slalu memberikan masukan,

dukungan, mengingatkan selama masa perkuliahan ini sehingga penulis dapat

menyelesaikan Tesis ini tepat pada waktunya.


8. Teman-temanku Ina Zakina. S.H., M.Kn., Adhie Musjahranie Swastya P.

S.H., M.Kn., kalian yang pada akhirnya menjadi sahabat yang luar biasa

saling membantu dan mengingatkan selama masa perkuliahan sehingga

penulis dapat menyelesaikan Tesis ini tepat pada waktunya.

Penulis yakin Tesis ini masih sangat jauh dari kata sempurna, sehingga

masukan dan kritik yang membangun akan selalu penulis harapkan untuk

memperbaiki Tesis ini.

Akhir kata penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam proses pembuatan

Tesis ini penulis melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa mengampuni kesalahan kita dan berkenan

menunjukkan jalan yang benar. Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.

Malang, Agustus 2016

Penulis

vii
DAFTAR ISI

Pernyataan Orisinalitas Penelitian 1

Ringkasan 2

Kata Pengantar 4

Bab I 10

Pendahuluan 10

1.1 Latar Belakang 10

1.2 Rumusan Masalah 16

1.3 Tujuan Penelitian 17

1.4 Manfaat Penelitian 17

1.5 Orisinalitas Penelitian 18

1.6 Kerangka Teoritik 21

1.7 Desain Penelitian 26

1.8 Metode Penelitian 27

1.8.1 Jenis Penelitian 27

1.8.2 Metode Pendekatan 28

1.8.3 Lokasi Penelitian 28

1.8.4 Jenis Dan Sumber Data 28

1.8.5 Teknik Pengumpulan Data 30

1.8.6 Teknik Populasi Dan Sampling 31

1.8.7 Teknik Analisis Data 32

viii
1.9 Sistematika Penulisan 32

Bab Ii 35

Kajian Pustaka 35

2.1 Kajian Umum Tentang Pengertian Hukum Adat Di Indonesia 35

2.2 Sistem Kekeluargaan Dalam Hukum Adat 37

2.3 Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat 40

2.3.1 Pengertian Pengangkatan Anak 40

2.3.2 Macam-Macam Pengangkatan Anak 42

2.4 Pewarisan Dalam Sistem Hukum Waris Adat 43

2.4.1 Pengertian Hukum Waris Adat 43

2.4.2 Sistem Pewarisan Dalam Hukum Waris Adat 45

2.4.3 Harta Warisan Dalam Hukum Waris Adat 48

2.4.4 Ahli Waris Dalam Hukum Waris Adat 56

Bab Iii 66

Hasil Dan Pembahasan 66

3.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 66

3.1.1 Keadaan Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi

Nusa Tenggara Barat 66

3.1.2 Asal Usul Penduduk 69

3.1.3 Pendidikan 73

3.1.4 Mata Pencaharian74

ix
3.1.5 Agama 76

3.1.6 Jenis Responden 79

3.1.7 Keadaan Responden 79

3.2 Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Masyarakat Adat Sasak Melakukan

Pengangkatan Anak Di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur

Provinsi Nusa Tenggara Barat 83

3.2.1 Pengertian Pengangkatan Anak Menurut Adat Sasak 83

3.2.2 Sistem Pengangkatan Anak Dalam Hukum Adat Sasak 87

3.2.3 Faktor Faktor Yang Melatarbelakangi Pengangkatan Anak Menurut

Hukum Adat Sasak 90

3.3 Hak Mewaris Anak Angkat Bersama Ahli Waris Lainnya Dalam Persfektif

Hukum Waris Adat Sasak Di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok

Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. 97

Penutup 107

4.1 Kesimpulan 107

4.2 Saran 108

x
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

Tabel 1 Identifikasi Hasil Penelitian Terdahulu ...............19

Tabel 2 Jumlah Penduduk Kecamatan Sembalun Berdasarkan Jenis

Kelamin ...66

Tabel 3 Jumlah Data Satuan Pendidikan (Sekolah) Per Desa Di

Kecamatan Sembalun . 74

Tabel 4 Umur Responden 80

Tabel 5 Responden Dari Setiap Desa di Kecamatan Sembalun ...... 81

Tabel 6 Pendidikan Responden ... 82

Tabel 7 Pekerjaan Responden . 83

Tabel 8 Umur Anak Saat Pengangkatan . 96

Gambar Bagan Harta Doe Tengaq..... 102

xi
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengangkat anak pada hakikatnya adalah suatu perbuatan

pengangkatan anak orang lain yang dimasukkan ke dalam keluarganya

sendiri, sehingga dalam hal ini antara anak angkat dengan orangtua angkat

akan timbul suatu hubungan kekeluargaan yang sama layaknya seperti

orangtua dengan anak kandungnya. Hal tersebut selanjutnya berdampak

terhadap akibat dari pengangkatan anak tersebut, yaitu memutuskan

hubungan kekeluargaan antara anak angkat dengan orangtua kandungnya

dan ada pula yang tidak memutus hubungan kekeluargaan anak angkat

dengan orangtua kandungnya. Masalah pengangkatan anak atau adopsi

bukanlah masalah baru. Istilah dalam pengangkatan anak telah dilakukan

dengan cara dan motivasi yang berbeda-beda sejalan terarah dengan sistem

hukum yang hidup dan berkembang pada masyarakat adat. Tentu saja,

pengangkatan anak baik yang dilakukan secara hukum islam dan hukum

adat yang dikategorikan sebagai perbuatan hukum, sehingga antara orangtua

angkat dan anak angkat akan menimbulkan suatu hubungan hukum.


Pengertian pengangkatan anak secara umum adalah suatu tindakan

mengambil anak orang lain berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum yang

berlaku di masyarakat bersangkutan. Sedangkan menurut Soepomo

perbuatan mengangkat anak adalah Perbuatan hukum yang melepaskan anak

itu dari pertalian kekeluargaan dengan orangtua sendiri yang memasukkan


2

anak itu ke dalam keluarga bapak angkatnya sehingga anak itu sendiri

seperti anak kandung.1


Dalam hal pengangkatan anak, kepentingan orang yang mengangkat

anak dengan sejumlah motif yang ada di belakangnya akan dapat terpenuhi

dengan baik di satu pihak, sedangkan di pihak lain kepentingan anak yang

diangkat atas masa depannya yang lebih baik harus lebih terjamin

kepastiannya. Bahkan tidak hanya itu, kehormatan orangtua kandungnya

sendiri dengan tujuan-tujuan tertentu dari penyerahan anaknya harus

dipenuhi.2
Alasan pengangkatan anak pada hakikatnya adalah untuk meniru alam

dengan menciptakan keturunan secara buatan (artificial), adoption naturam

imitatur, dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan mengenai keturunan,

jika dipandang dari sudut kepentingan orang yang melakukan pengangkatan

anak. Motivasi yang sama terdapat pada masyarakat Indonesia dalam

melakukan pengangkatan anak.3


Jika dilihat dari sudut pandang anak angkat, maka dapat

diklasifikasikan jenis-jenis pengangkatan anak sebagai berikut:4


1. Mengangkat Anak Bukan Warga Keluarga
Dalam hal ini yang dimaksud dengan mengangkat anak yang bukan

warga keluarga artinya anak yang diangkat atau calon anak itu diambil

dari kalangan asalnya (tidak ada hubungan sanak keluarga atau family

dengan calon orangtua angkat), dan dimasukkan kedalam keluarga orang

yang mengangkatnya menjadi anak angkat. Lazimnya tindakan ini

disertai dengan penyerahan barang-barang magis atau sejumlah uang


1
R. Soepomo, Bab-bab Tentang Hukum Adat, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2000), hlm,
103.
2
Muderis Zaini, Adopsi Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika,
1995), hlm. 19.
3
Rusli Pandika, Hukum Pengangkatan Anak, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), hlm. 40.
4
C. Dewi Wulansari, Hukum Adat Indonesia Suatu Pengantar, (Bandung: Reflika
Aditama, 2010), hlm. 44.
3

kepada keluarga anak tersebut. Alasan adopsi anak pada umumnya adalah

takut tidak memiliki keturunan. Kedudukan anak yang demikian adalah

sama dengan kedudukan anak kandung, sedangkan hubungan

kekeluargaan dengan orangtua si anak sendirinya putus secara adat.

Adopsi yang demikian harus terang (jelas), yang artinya dalam

pengangkatan anak tersebut wajib dilakukan dengan upacara-upacara

adat yang sesuai dengan ketentuan adat masing-masing daerah yang

dikukuhkan oleh para kepala adat dan di hadiri oleh anggota masyarakat

dan krabat keluarga guna terpenuhinya asas publisitas dalam

pengangkatan anak tersebut. Adopsi yang demikian terdapat di daerah

Gayo, Lampung, Pulau Nias, dan Kalimantan.


2. Mengangkat Anak Dari Kalangan Keluarga
Pada masyarakat adat Bali perbuatan yang mengangkat anak dari

kalangan keluarganya demikian disebut nyentanayang. Calon anak

angkat biasanya (lazimnya) diambil dari salah satu klan/kelompok atau

banjar (banjar adalah pembagian wilayah administratif masyarakat adat

di bali) yang ada hubungannya secara tradisional dengan calon ayah

angkatnya yang disebut purusa, tetapi akhir-akhir ini dapat pula anak

diambil dari luar klannya. Bahkan di beberapa desa anak dapat pula

diambil dari lingkungan keluarga istri yang disebut pradana. Dapat pula

terjadi jika dalam suatu perkawinan si istri tidak mempunyai anak,

sementara suaminya mempunyai gundik-gundik atau selir, keadaan ini

terjadi pada masa lalu, maka bisaanya anak dari selir-selir ini diangkat

menjadi anak dari isterinya yang resmi (sah). Prosedur pengangkatan

anak seperti ini sebagai contoh di Bali dilakukan hal-hal sebagai berikut:
4

a. Laki-laki dari suatu keluarga wajib terlebih dahulu membicarakan

keinginannya itu dengan keluarganya secara matang.


b. Anak yang akan diangkat atau calon anak angkat harus memutuskan

hubungan kekeluargaan dengan ibu kandung dan keluarganya secara

adat, yaitu dengan cara melakukan prosesi pembakaran benang (yang

artinya benang merupakan bahan pembuat pakaian dimana pakaian

berguna menutup tubuh atau badan seseorang dan dengan simbol ini

maka hubungan anak dengan keluarganya putus), selain itu pihak

yang melakukan pengangkatan anak tersebut (orangtua angkat)

secara adat harus menyerahkan atau membayar sejumlah seribu

kepeng (kepeng merupakan alat pembayaran atau yang lebih di kenal

dengan uang bolong yang mempunyai nilai yang tinggi) yang

disertai dengan pakaian wanita lengkap (yang menandakan

hubungan anak dengan ibunya putus).


c. Setelah proses diatas dilakukan, maka anak angkat kemudian

dimasukkan kedalam hubungan kekeluargaan dari keluarga yang

mengangkatnya dan diperkenalkan di banjar (kesatuan masyarakat

hukum yang berwenang menggurus dan mengatur kepentingan

masyarakat setempat) dimana istilah ini disebut dengan diperas.


d. Pengumuman kepada warga desa yang dalam istilah masyarakat adat

Bali disebut sebagai siar dilakukan oleh orangtua angkat. Sebelum

melakukan siar terlebih dahulu orangtua angkat harus mendapatkan

persetujuan atau izin dari raja, dari surat persetujuan raja tersebut

maka pegawai kerajaan dalam hal ini bertindak atas nama raja untuk

keperluan adopsi membuat surat keterangan atas pengangkatan anak

tersebut yang disebut dengan surat peras yang pada masa ini disebut
5

sebagai akta. Alasan adopsi yang demikian biasanya terjadi kepada

pasangan yang suaminya mengalami kemandulan dan tidak bisa

memiliki keturunan.5
Masyarakat adat Sasak yang khususnya di daerah kecamatan

sembalun mengangkat anak dari kalangan keluarga, biasanya anak yang di

angkat dari kalangan keluarga ialah dari keluarga bapak karena masyarakat

adat Sasak menganut sistem kekeluargaan patrilineal atau kebapakan.

Sebelum melakukan pengangkatan anak, calon orangtua angkat terlebih

dahulu meminta persetujuan dari orangtua kandung si anak dan para

keluarga, bentuk dari persetujuan itu sendiri adalah sebatas kata-kata yang

dihadiri dalam sebuah pertemuan keluarga.


Daerah Kecamatan sembalun merupakan daerah yang terdekat dengan

kaki gunung rinjani yang akan menjadi salah satu GEOPARK DUNIA

sebagaimana yang akan ditetapkan oleh UNESCO pada bulan September

2016, 6 oleh karena itu tepatnya pada hari Selasa tanggal 25 November 2015

Bappeda Provinsi NTB selaku sekertariat sekaligus dewan pelaksana harian

Geopark Rinjani melakukan sosialisai ke SKPD terkait dan tokoh

Masyarakat yang di adakan di Hotel Lombok Raya. Tujuan dari sosialisasi

ini melindungi keragaman bumi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi

lokal, pendidikan, dan melestarikan alam warisan bumi, sehingga penting

bagi kita semua untuk memberikan dukungan penuh untuk menjadikan

Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai Geopark Global Network

(GGN). 7
5
I Ketut Artadi, Hukum Adat Bali dan Aneka Masalahnya, (Bali: Offset Grafika, 2002),
hlm. 46.
6
OkeZone Travel http://lifestyle.okezone.com/read/2016/05/25/406/1397341/september-
rinjani-ditetapkan-geopark-dunia-oleh-unesco diakses pada tanggal 28 mei 2016.
7
Bappeda NTB http://bappeda.ntbprov.go.id/geopark-rinjani-sebagi-geopark-dunia/
diakses pada tanggal 11 Mei 2016.
6

Dengan meningkatnya status Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai

Geopark Dunia ini yang nantinya akan memancing minat para wisatawan

dalam negri maupun mancanegara, dan para investor, sehingga pertumbuhan

perkembangan dalam bidang ekonomi masyarakat sekitar yang dalam hal ini

masyarakat di Kecamatan Sembalun itu sendiri menjadi meningkat.


Dengan demikian, akan terjadi pergeseran-pergeseran didalam

kehidupan masyarakat seiring dengan berkembangnya pertumbuhan

ekonomi. Dalam hal anak angkat yang dilakukan secara adat Sasak pada

masyarakat Kecamatan Sembalun, dalam pengertian mengenai anak angkat

pada masyarakat adat Sasak adalah pengambilan anak dari kalangan

keluarga yang diangkat atau diambil menjadi anaknya sendiri, dipelihara

dan diperlakukan sebagai anaknya sendiri, bahkan setiap orang yang

mengangkat anak biasanya secara otomatis akan di panggil sesuai dengan

nama anaknya tersebut, sebagai contoh nama anak angkatnya Rozak maka

secara otomatis nama panggilan dari orangtua angkatnya adalah Amaq

Rozak (Bapak Adhi) dan Inaq Rozak (Ibu Adhi).8 Adapun akibat dari

pengangkatan anak akan berakibat pula pada pewarisan untuk si anak angkat

itu sendiri karena dalam proses pengangkatan tersebut terjadi pula peristiwa

hukum dimana hak dan tanggung jawab orangtua kandung anak angkat akan

berpindah kepada orangtua angkatnya. Berdasarkan hal tersebut, maka

penulis bermaksud untuk menyusun tesis yang berjudul: HAK MEWARIS

ANAK ANGKAT DALAM PERSPEKTIF HUKUM WARIS ADAT

8
Amaq merupakan sebutan atau panggilan untuk seorang lakilaki yang sudah menikah,
untuk panggilan atau sebutan seorang lakilaki yang masiq bujang dalam Suku Sasak adalah Loq,
sedangkan sebutan untuk wanita yang sudah menikah biasanya dipanggil dengan sebutan Inaq,
dan untuk wanita yang masih lajang dalam Bahasa Sasak panggil dengan sebutan La. Lajang
dalam Bahasa Sasak disebut dengan Dedare.
7

SASAK (Studi di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur

Provinsi Nusa Tenggara Barat).

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas, penulis merumuskan dua rumusan

masalah dalam penelitian ini, yaitu:


1. Apa faktor-faktor yang melatarbelakangi masyarakat adat sasak

melakukan pengangkatan anak di Kecamatan Sembalun Kabupaten

Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat?


2. Bagaimana hak mewaris anak angkat bersama ahli waris lainnya dalam

perspektif hukum waris adat Sasak di Kecamatan Sembalun Kabupaten

Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk memahami dan menganalis faktorfaktor yang melatarbelakangi

masyarakat adat sasak melakukan pengangkatan anak di Kecamatan

Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.


2. Untuk memahami dan menganalisis hak mewaris anak angkat bersama

ahli waris lainnya dalam perspektif hukum waris adat Sasak di

Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa

Tenggara Barat.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian dari penulisan ini terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi

pengembangan ilmu hukum, khususnya hukum waris adat Sasak.


2. Secara Praktis
a. Masyarakat hukum adat
8

Sebagai bahan informasi dan masukan bagi masyarakat hukum adat

mengenai pewarisan terhadap anak angkat agar terciptanya

keseragaman mengenai pewarisan terhadap anak angkat secara

hukum adat Sasak.


b. Bagi akademisi
Sebagai bahan rujukan terhadap penelitian-penelitian yang akan

datang mengenai pewarisan dalam masyarakat adat Sasak.

1.5 Orisinalitas Penelitian

Dalam penelitian tesis ini, peneliti telah melakukan penelusuran

terhadap berbagai tesis yang relevan dengan rencana penelitian ini. Adapun

untuk melihat fokus dan perbedaan penelitian dengan penelitian yang

terdahulu, selengkapnya dari 3 (tiga) penelitian terdahulu dan penelitian

yang akan diajukan, dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini :


9

Tabel 1
Identifikasi Hasil Penelitian Terdahulu

No Nama Penulis Judul Penelitian Tahun Fokus Permasalahan Yang di Unsur Kebaruan

Teliti
1 Mery Wanyi Rihi Kedudukan Anak Angkat Menurut 2006 - Prosedur pengangkatan Akan lebih menjelaskan secara
Tesis Hukum Waris Adat Bali anak menurut Hukum Adat
rinci mengenai Hak mewaris anak
Universitas (Studi Kasus di Kelurahan Bali
Diponegoro Sesetan, Kecamatan Denpasar - Kedudukan anak angkat angkat bersama ahli waris lainnya
Selatan, Kota Denpasar dan terhadap harta warisan
terhadap harta orangtua angkat
Pengadilan Negeri Denpasar) orangtua angkat dan
orangtua kandungnya menurut Hukum Waris Adat Sasak
menurut Hukum Waris
Adat Bali
2 Fitria Perbandingan Kedudukan Anak 2010 - Akibat hukum Akan menjelaskan tentang Hak
Tesis Angkat Dalam Pewarisan pengangkatan anak mewaris anak bersama ahli waris
Universitas Menurut Hukum Adat Suku terhadap kedudukan lainnya angkat secara spesifik
Indonesia Melayu Jambi, Hukum Islam Dan mewarisnya menurut dalam persfektif Hukum Waris
Peraturan Perundang-undangan di Hukum Islam, Hukum Adat Sasak.
Indonesia Adat suku Melayu Jambi
dan Peraturan Perundang-
Undangan di Indonesia
- Kedudukan mewaris anak
angkat terhadap harta
orangtua angkatnya

3 Khusdjono Pengangkatan Anak dan Akibat 2014 - Proses pengangkatan anak - Akan menjelaskan tentang
Tesis Hukumnya Terhadap Harta Benda pada masyarakat Tionghoa faktor-faktor apa saja yang
Universitas Perkawinan Orangtua Angkat di Kecamatan Senapelan mendorong masyarakat adat
10

Sumatera Utara (Studi Kasus Pada Masyarakat Kota Pekan Baru. sasak melakukan
Tionghoa di Kecamatan - Akibat hukum terhadap pengangkatan anak.
Senapelan Kota Pekanbaru) pengangkatan anak pada - Akan menjelaskan tentang
masyarakat Tionghoa di Hak mewaris anak angkat
Kecamatan Senapelan Kota bersama ahli waris lainnya
Pekan Baru. terhadap harta orangtua
- Hak mewaris anak angkat angkatnya menurut Hukum
terhadap harta benda Waris Adat Sasak.
perkawinan orangtua
angkatnya.
11

1.6 Kerangka Teoritik

Dalam menjawab permasalahan-permasalahan hukum dalam

penelitian ini penulis menggunakan dua teori, yaitu :

1. Teori Hukum Sejarah


Aliran teori sejarah dipelopori oleh Friedrich Carl von Savigny

(Volk geist) hukum kebiasaan sebagai sumber hukum formal. Hukum

tidak dibuat melainkan tumbuh dan berkembang bersama sama dengan

masyarakat. Pandangannya bertitik tolak bahwa di dunia ini terdapat

banyak bangsa dan tiap-tiap bangsa memiliki volksgeist jiwa rakyat.

Savigny berpendapat bahwa semua hukum berasal dari adat-istiadat

dan kepercayaan serta bukan berasal dari pembentukan undang-

undang.9 Penggagas teori ini melihat hukum sebagai entitas yang

organis-dinamis. Hukum menurut teori ini, dipandang sebagai sesuatu

yang natural, tidak dibuat, melainkan hidup dan berkembang bersama

masyarakat. Hukum bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis

karena akan senantiasa berubah seiring dengan perubahan tata nilai di

masyarakat. Hukum bersumber dari jiwa rakyat (volksgeist) dan

karenanya undang-undang tidak begitu penting. Cerminan jiwa suatu

bangsa tercermin dari hukumnya dan karenanya, teori hukum tidak

dibuat, melainkan ditemukan dan bersumber dari jiwa rakyat.


Mazhab Teori Sejarah lahir pada awal abad ke-19, yaitu pada

tahun 1814. Lahirnya mazhab ini ditandai dengan diterbitkannya

manuskrip yang ditulis oleh Friedrich Karl von Savigny yang berjudul

Vom Beruf unserer Zeit fur Gezetgebung und Rechtwissenschaft


9
Lili Rasjidi, Ira Thania Rasjidi. Pengantar Filsafat Hukum, (Bandung: Mandar Maju,
2002), hlm, 63.
12

(tentang seruan masa kini akan undang-undang dan ilmu hukum).

Friedrich Karl von Savigny dipandang sebagai perintis lahirnya mazhab

sejarah.
Kelahiran mazhab yang dirintis oleh Savigny ini dipengaruhi oleh

buku yang berjudul L esprit des Lois (Semangat Hukum) karangan

Montesquieu (1689-1755) yang terbit pada tahun 1748. Dalam buku

tersebut, Montesquieu mengemukakan bahwa ada relasi yang kuat

antara jiwa suatu bangsa dengan hukum yang dianutnya. Hukum yang

dilandasi dan dianut suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh jiwa bangsa

yang direpresentasikan oleh nilai-nilai dan tatanan sosial yang ada.

Nilai dan tatanan sosial itu bersifat dinamis, sehingga berimplikasi pada

dinamisnya hukum. Dengan kata lain bahwa dinamisasi nilai-nilai dan

tatanan sosial menyebabkan dinamisasi pada hukum yang dipegang

masyarakat.10
2. Teori Receptio In Complexu
Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Lodewijk Willem

Christian Van Den Berg merupakan guru besar di Delf yang merupakan

penasihat Hukum Islam pada Pemerintah Kolonial Belanda (1845-

1927), beliau merupakan pencetus dari Teori Receptio In Complexu ini,

dimana inti dari teori ini adalah Selama bukan sebaliknya dapat

dibuktikan, menurut ajaran ini hukum pribumi (hukum adat) mengikuti

agamanya, karena jika memeluk agama berarti secara otomatis akan

mengikuti hukum dari agama itu dengan bersungguh-sungguh (setia).

Jadi dapat ditarik kesimpulan menurut teori ini adalah jika pada suatu

10
Syarif Muhammad Yahya, Jurnal Hukum Mengenai Teori Sejarah Hukum
https://www.academia.edu/5197645/Teori_Sejarah_Hukum._syarief diakses pada tanggal 11 Mei
2016
13

kelompok masyarakat yang memeluk suatu agama tertentu, maka

hukum adat masyarakat yang bersangkutan secara otomatis merupakan

hukum agama yang dipeluknya dan jika ada hal-hal yang menyimpang

dari hukum agama yang dipeluknya, maka hal tersebut dianggap

sebagai suatu pengecualian dari suatu penyimpangan dari hukum agama

yang telah diterima secara keseluruhan.11


3. Teori Budaya Hukum atau Kultur Hukum
Dalam teori Lawrence Meir Friedman yang ketiga mengenai

budaya hukum atau kultur hukum adalah sikap manusia terhadap

hukum dan sistem hukum kepercayaan, nilai, pemikiran, serta

harapannya. Kultur hukum adalah suasana pemikiran sosial dan

kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan,

dihindari, atau disalah gunakan. Budaya hukum erat kaitannya dengan

kesadaran hukum masyarakat. Semakin tinggi kesadaran hukum

masyarakat maka akan tercipta budaya hukum yang baik dan dapat

merubah pola pikir masyarakat mengenai hukum selama ini. Secara

sederhana, tingkat kepatuhan masyarakat terhadap hukum merupakan

salah satu indikator berfungsinya hukum.


Baik substansi hukum, struktur hukum maupun budaya hukum

saling keterkaitan antara satu dengan yang lain dan tidak dapat

dipisahkan. Dalam pelaksanaannya diantara ketiganya harus tercipta

hubungan yang saling mendukung agar tercipta pola hidup aman, tertib,

tentram dan damai.


Hukum dipercaya sebagai suatu lembaga penyeimbang yang kuat

terhadap ancaman disintegrasi dalam hidup bermasyarakat akibat

11
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia Press,
1991), hal 89.
14

benturan kekuatan yang sama-sama ingin berkuasa dan sekaligus

membatasi kesewenangan yang sedang berkuasa. Hukum dalam

bentuknya yang asli bersifat membatasi kekuasaan dan berusaha untuk

memungkinkan terjadinya keseimbangan dalam hidup bermasyarakat.

Berbeda dengan kekuasaan yang agresif dan ekspansionis, hukum

cendrung bersifat kompromistis, damai dan penuh dengan kesepakatan-

kesepakatan dalam kehidupan sosial dan politik.


Hukum bisa bekerja sesuai dengan fungsinya jika masyarakat

patuh dan tunduk terhadap hukum yang berlaku, hal ini bukan berarti

penyelesaian sengketa dimasyarakat diluar institusi hukum tidak

dibenarkan. Konstitusi sendiri mengakui hal tersebut, yakni dalam Pasal

18B ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa Negara mengakui dan

menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-

hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan

perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik

Indonesia, yang diatur dalam Undang-undang.


Peristiwa penyelesaian sengketa diluar institusi hukum oleh

masyarakat dibenarkan dan dijamin oleh konstitusi sepanjang

penyelesaian tersebut sesuai dengan undang-undang yang berlaku serta

norma-norma yang ada dimasyarakat.


Sengketa masyarakat adat yang telah diselesaikan melalui

mekanisme hukum adat hendaknya negara tidak mencapurinya, dalam

arti tidak diproses kemabali lewat pengadilan. Bila hal tersebut terjadi

akan menimbulkan sengketa antara masyarakat adat dengan negara.

Masyarakat yang menyerahkan sengketa atau permasalahan hukumnya

kepada institusi hukum kecuali didorong oleh kepentingan terlihat juga


15

adanya faktor-faktor seperti ide, sikap, keyakinan, harapan dan

pendapat mengenai hukum. Orang secara sadar datang kepada hukum

(pengadilan) disebabkan oleh penilaian yang positif mengenai institusi

hukum.
Dengan demikian, keputusan untuk membawa sengketa tersebut

kedepan pengadilan pada hakikatnya merupakan hasil positif dari

bekerjanya berbagai faktor tersebut. Penyelesaian sengketa melalui

pengadilan merupakan wujud kepercayaan masyarakat terhadap

tegaknya hukum di Indonesia. Kepercayaan masyarakat terhadap

hukum akan bergeser manakala hukum tersebut tidak dapat

memberikan jaminan keadilan dan menimbulkan kerugian baik materi

maupun non materi. Berbelit-belitnya proses peradilan menyebabkan

para pihak yang terlibat menghendaki penyelesaian secara cepat dengan

berbagai cara.12

12
Ibid
16

1.7 Desain Penelitian

Latar Belakang Rumusan Kajian Landasan Teori Metode Penelitian


Masalah Pustaka
- Mengangkat anak pada hakikatnya - Apa faktor- - Kajian Umum - Teori Hukum Sejarah: Hukum menurut teori ini, - Penelitian Hukum
adalah suatu perbuatan pengambilan faktor yang Tentang dipandang sebagai sesuatu yang natural, tidak dibuat, Empiris
atau pengangkatan anak orang lain melatarbelakangi Pengertian melainkan hidup dan berkembang bersama masyarakat. - Pendekatan Sosiologi
yang dimasukkan kedalam masyarakat adat Hukum Adat Di Hukum bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis Hukum
keluarganya sendiri, sehingga dalam sasak melakukan Indonesia karena akan senantiasa berubah seiring dengan perubahan - Lokasi Penelitian di
hal ini antara anak angkat dengan pengangkatan - Sistem tata nilai di masyarakat. Kecamatan Sembalun
orangtua angkat akan timbul suatu anak? kekeluargaan - Teori Receptio In Complexu: Kabupaten Lombok
hubungan kekeluargaan yang sama - Bagaimana hak dalam hukum menurut teori ini adalah jika pada suatu kelompok Timur
layaknya seperti orangtua dengan mewaris anak adat masyarakat yang memeluk suatu agama tertentu, maka
anak kandungnya. - Jenis dan Sumber data
angkat dalam - Pengangkatan hukum adat masyarakat yang bersangkutan secara otomatis menggunakan Data
- Mengangkat anak merupakan suatu persfektif hukum anak menurut merupakan hukum agama yang dipeluknya dan jika ada hal- Primer dan Data
perbuatan hukum yang akan waris adat sasak? hukum adat hal yang menyimpang dari hukum agama yang dipeluknya, Skunder
menimbulkan hak dan kewajiban - Pewarisan maka hal tersebut dianggap sebagai suatu pengecualian dari
antara anak angkat dengan orangtua suatu penyimpangan dari hukum agama yang telah diterima - Teknik analissi data
angkatnya. Masyarakat adat Sasak secara keseluruhan. yang digunakan yaitu
mengangkat anak dari kalangan deskriptif kualitatif
- Teori Budaya Hukum / Kultur Hukum
keluarga dan di luar lingkunagn mengenai budaya hukum atau kultur hukum adalah sikap
keluarga, hal inilah yang membuat manusia terhadap hukum dan sistem hukum kepercayaan,
peneliti tertarik untuk meneliti nilai, pemikiran, serta harapannya. Kultur hukum adalah
tentang pengangkatan anak pada suasana pemikiran sosial dan kekuatan sosial yang
masyarakat adat Sasak dari segi menentukan bagaimana hukum digunakan, dihindari, atau
pewarisannya, adapun judul yang disalah gunakan. Budaya hukum erat kaitannya dengan
peneliti angkat disi adalah HAK kesadaran hukum masyarakat. Semakin tinggi kesadaran
MEWARIS ANAK ANGKAT hukum masyarakat maka akan tercipta budaya hukum yang
DALAM PERSFEKTIF baik dan dapat merubah pola pikir masyarakat mengenai
MASYARAKAT ADAT SASAK hukum selama ini. Secara sederhana, tingkat kepatuhan
masyarakat terhadap hukum merupakan salah satu indikator
berfungsinya hukum.
17

1.8 METODE PENELITIAN

Penelitian adalah suatu proses yang dilakukan secara terencana dan

sistematik yang terdiri dari rangkaian langkah-langkah yang disusun secara

terencana dan sistematis untuk memperoleh suatu pemecahan atau jawaban

atas suatu permasalahan. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang

berhubungan dengan analisis dan konstruksi yang dilakukan secara

sistematis dan konsisten.

Metodologi berasal dari kata metodos dan logos yang artinya

jalan ke . Artinya, seorang peneliti tidak akan mungkin mampu untuk dapat

menemukan, merumuskan serta menganalisis suatu permasalahan tertentu

tanpa menggunakan metodologi.13 Berdasarkan uraian-uraian tersebut maka

dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metodologi penelitian

adalah prosedur mengenai cara-cara untuk melaksanakan penelitian yaitu

meliputi kegiatan mencari, mencatat, merumuskan, menganalisis hingga

mengolah data yang telah dianalisis melalui penyususnan laporan

berdasarkan fakta-fakta atau gejala-gejala ilmiah.

Mengenai metode yang penulis akan gunakan dalam penulisan tesisi

ini adalah sebagai berikut:

1.8.1 Jenis Penelitian

Dalam penelitian tesis ini penulis menggunakan penelitian

hukum empiris. Penelitian hukum empiris ini bertujuan untuk

memahami dan menganalisis hak mewaris anak angkat dalam

13
M. Soeparmoko, Metode Penelitian Praktis, (Jogyakarta: BPFE, 1991), hal 1
18

persfektif hukum waris adat Sasak yang terfokus pada daerah

penelitian di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur

Provinsi Nusa Tenggara Barat.

1.8.2 Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang dgunakan yaitu melalui pendekatan

secara Sosiologi Hukum, penelitian sosiologi hukum ini mengamati

bagaimana hukum yang hidup di dalam masyarakat ini dilakukan

dengan cara mengkaji dan menganalisis permasalahan hukum yang

terjadi secara langsung di lapangan mengenai Hak Mewaris Anak

Angkat Dalam Persfektif Hukum Waris Adat Sasak di Kecamatan

Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.

1.8.3 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sembalun, Kabupaten

Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat. Kecamatan Sembalun

sendiri terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu: Desa Sembalun Lawang,

Desa Sajang, Desa Bilok Petung, Desa Sembalun, dan Desa Sembalun

Timba Gading.

1.8.4 Jenis dan Sumber Data

Adapun jenis-jenis data yang penulis gunakan dalam penelitian

ini terdiri dari:


a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung di

lapangan.
b. Data Skunder, yaitu data yang merupakan studi kepustakaan

yang terdiri dari awik-awik adat Sasak di Kecamatan


19

Sembalun Kabupaten Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara

Barat, Hukum Waris Islam, Jurnal ilmiah mengenai pewarisan

di suku Sasak, serta bahan-bahan hukum lainnya.


Sedangkan sumber data dalam penelitian ini terdiri dari:
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh melalui wawancara,

proses wawancara dilakukan dengan pencatatan dan alat bantu

recorder/perekam terhadap obyek yang diteliti. Pencatatan

sumber data melalui pengamatan atau observasi dan

wawancara, yang merupakan hasil gabungan dari kegiatan

melihat, mendengar dan bertanya yang dilakukan secara sadar,

terarah dan senantiasa bertujuan untuk memperoleh informasi

yang diperlukan, yang diperoleh secara langsung dari

responden yaitu terhadap orang tua yang melakukan

pengangkatan anak dan anak angkat yang mendapatkan hak

mewaris dari orang tua angkatnya.


b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari studi

kepustakaan, bahan hukum, dan dokumen-dokumen hukum

lainnya seperti awik-awik suku Sasak di Kecamatan Sembalun

Kabupaten Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat yang

digunakan sebagai bahan tambahan untuk menganalisis data

primer, serta bahan-bahan hukum lain yang relevan dengan

penelitian ini.
20

1.8.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang penulis

gunakan antara lain, yaitu:14


a. Data Primer
Data primer dilakukan dengan cara melakukan

pengamatan secara langsung di lapangan. Dalam peneitian ini

obsevasi dilakukan melalui pengamatan terhadap objek yang

ingin diteliti. Adapun obyek yang diteliti dalam hal ini berupa

orang tua yang melakukan pengangkatan anak dan anak angkat

yang mendapatkan hak mewaris dari orang tua angkatnya secara

adat Sasak.
b. Data Skunder
Data sekunder dilakukan melalui wawancara untuk

memperoleh informasi melalui tanya jawab kepada narasumber

yang berkompeten sesuai dengan apa yang diteliti. Tipe

wawancara adalah tidak terstruktur yaitu tanpa batasan

pertanyaan dan waktu tetapi tetap berada dalam ruang lingkup

permasalahan yang diteliti. Tujuannya agar dapat memperoleh

jawaban secara langsung sesuai dengan sasaran permasalahan

yang diteliti.
Dilakukan dengan berkomunikasi langsung dengan

responden dan nara sumber di lapangan, dengan cara tanya-

jawab. Wawancara adalah sehimpunan butir pertanyaan

(tersusun atau bebas) yang diajukan oleh seorang pewawancara

dalam situasi tatap muka.

14
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hlm.35
21

Sifat wawancara adalah wawancara terbuka, yaitu

wawancara yang subyeknya mengetahui maksud dan tujuan dari

wawacara yang ditujukan kepadanya. Adapun narasumber

wawancara adalah Kepala Camat Sembalun, Tokoh adat

setempat, dan juga melibatkan orangtua angkat yang melakukan

pewarisan secara adat Sasak.

1.8.6 Teknik Populasi dan Sampling

Populasi dari penelitian ini yaitu seluruh orangtua angkat yang

melakukan pewarisan terhadap anak angkatnya yang berada di

Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa

Tenggara Barat. Metode sample yang digunakan oleh peneliti yaitu

metode non-random sampling, dengan teknik purposive sampling,

yaitu proses penarikan sampel dengan cara mengambil subyek yang

didasarkan pada tujuan tetentu. Metode ini dipilih dengan

mempertimbangkan alasan keterbatasan waktu, tenaga dan biaya

sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar jumlahnya.


Sampel yang akan diteliti dalam penelitian ini berjumlah 10

orang, diantaranya 5 orangtua yang melakukan pengangkatan anak

dan 5 orang anak angkat yang mewarisi harta orang tua angkatnya di

Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa

Tenggara Barat.

1.8.7 Teknik Analisis Data

Analisa data dilakukan secara deskriptif kualitatif yaitu data

yang telah dikumpulkan diolah dan diuraikan dalam bentuk kalimat


22

yang efektif dan logis sehingga peneliti dapat dengan mudah

menginterprestasikan hasil pengolahan data.15


Data yang telah dikumpulkan baik secara primer maupun

sekunder kemudian dianalisis, diolah dan disusun secara sistematis

sehingga mendapatkan simpulan hasil data yang runtun dan jelas

sebagai jawaban terhadap masalah yang diteliti.


Metode analisis yang digunakan adalah metode interprestasi

yaitu pendeskripsian hasil perolehan data secara kualitatif. Data yang

dianalisis secara kualitatif merupakan semua data yang telah diperoleh

tanpa ada pengurangan sehingga mendapatkan gambaran untuk

menjawab permasalahan yang diteliti lebih jelas dan logis. Kemudian

peneliti menarik kesimpulan serta memberikan saran sebagai jawaban

dari permasalahan yang dikaji.

1.9 SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam penulisan tesis ini, penulis akan membagi penulisan penelitian

kedalam 4 (empat) bab, dimana setiap bab terdiri atas sub-sub bab yang

gunanya untuk memberikan penjelasan yang sistematis dan efektif sehingga

dapat memudahkan pembaca dalam memahami isis dari penelitian ini.

Bab I PENDAHULUAN

Pada bab I pendahuluan tesis ini terdapat Latar Belakang Masalah,

Rumusan masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, serta

Sistematika Penulisan.

15
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hlm.183.
23

Bab II Kajian Pustaka

Pada bab II Kajian Pustaka terdiri atas teori-teori yang menjadi pisau

analisis dalam pembahasan tesis. Disamping itu juga mengkaji mengenai

akan dibahas mengenai: Sistem Kekeluargaan Dalam Hukum Adat,

Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat, dan Pewarisan. Dalam hal

pewarisan terbagi menjadi beberapa sub bab yang diantaranya Pengertian

Hukum Waris Adat, Sistem Pewarisan Dalam Hukum Adat, Harta Warisan

Dalam Hukum Waris Adat, Ahli Waris Dalam Hukum Adat.

Bab III Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bab III ini berisikan mengenai hasil hasil penelitian dan

pembahasan, yang merupakan inti dari penulisan tesis ini. Dimana hasil

penelitian tersebut memberikan ulasan mengenai gambaran umum tentang

kehidupan masyarakat adat Sasak di Kecamatan Sembalun Kabupaten

Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat, hak mewaris anak angkat

dalam persfektif hukum waris adat sasak di Kecamatan Sembalun

Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan proses

penyelesaian sengketa waris menurut hukum waris adat Sasak di Kecamatan

Sembalun Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Bab IV Penutup

Pada bab ini akan berisi mengenai kesimpulan dari hasil-hasil

penelitian tesisi yang menjadi inti sari dari penulisan tesis ini serta saran-
24

saran yang menjadi solusi atas permasalahan-permasalahan dari

pembahasan tesis yang di teliti.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Umum Tentang Pengertian Hukum Adat di Indonesia

Di kalangan masyarakat umum istilah hukum adat jarang digunakan,

yang dipakai dalam pembicaraan (Bahasa) ialah istilah adat saja. Dengan

menyebut kata adat maka yang dimaksud adalah kebiasaan yang pada
25

umumnya harus berlaku dalam masyarakat bersangkutan. Misalnya

dikatakan Adat Jawa maka yang dimaksud adalah kebiasaan berperilaku

dalam masyarakat adat Jawa. Begitu pula jika dikatakan Adat

Minangkabau, Adat Batak, Adat Bugis dan sebagainya. Jadi istilah

Hukum Adat hanya merupakan istilah teknis ilmiah, yang menunjukkan

aturan aturan kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat yang tidak

berbentuk peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh penguasa

pemerintah.

Istilah Hukum Adat berasal dari kata-kata Arab, Hukm dan

Adah. Hukm (jamaknya Ahkam) yang artinya suruhan atau

ketentuan. Misalnya didalam Hukum Islam (Hukum Syariah) ada lima

macam suruhan (perintah) yang disebut alahkam alkhamsah (Hukum

yang lima), yaitu fardh (wajib), haram (larangan), mandub atau Sunnah

(anjuran), makruh (celaan) dan jaiz, mubah atau halal (kebolehan). Adah

atau adat artinya kebiasaan, yaitu perilaku masyarakat yang selalu terjadi.

Jadi Hukum Adat adalah Hukum Kebiasaan.16

Di Eropa (Belanda) hukum kebiasaan dan hukum adat itu sama

artinya, yang disebut gewoonte recht, yaitu adat atau kebiasaan yang

bersifat hukum yang berhadapan dengan hukum peraturan perundang

undangan (wettenrecht). Tetapi didalam sejarah perundangundangan di

Indonesia antara istilah adat dan kebiasaan itu dibedakan, sehingga

hukum adat tidak sama dengan hukum kebiasaan. Kebiasaan yang

dibenarkan (diakui) di dalam perundangan merupakan Hukum


16
Hilman Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, (Bandung: Mandar
Maju, 2014), hlm, 8
26

Kebiasaan, sedangkan Hukum Adat adalah hukum kebiasaan diluar

peraturan perundangundanganan.

Adat kebiasaan yang diakui dalam peraturan perundangundangan

terdapat didalam pasal 1571 KUHPerdata (BW) menyatakan:

Jika sewa tidak dibuat dengan tulisan, maka sewa itu tidak
berakhir pada waktu yang ditentukan, melainkan setelah satu
pihak memberitahukan kepada pihak yang lain bahwa ia hendak
menghentikan sewanya, dengan mengindahkan tenggang waktu
yang diharuskan menurut kebiasaan setempat.
Istilah hukum adat yang mengandung arti aturan kebiasaan sudah

lama dikenal di Indonesia. Di masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda (1607-

1636) Aceh Darussalam yang memerintahkan dibuatnya kitab Hukum

Makuta Alam istilah hukum adat sudah dipakai. Kemudian istilah Hukum

Adat ini jelas disebut di dalam Kitab Hukum Safinatul Hukkam Fi Takhlisil

Khassam.17

Dengan demikian yang dimaksud Hukum Adat adalah adat yang

mempunyai sanksi, sedangkan istilah adat yang tidak mengandung sanksi

adalah kebiasaan yang normatif, yaitu kebiasaan yang berwujud aturan

tingkah laku yang berlaku di dalam masyarakat. Yang pada kenyataannya

antara hukum adat dan kebiasaan itu batasannya tidak jelas.

17
Bahtera bagi semua Hakim dalam menyelesaikan semua orang yang bermasalah, yang
ditulis oleh Jalaluddin bin Syeh Muhamad Kamaludin anak Khadi Baginda Kathib Negeri Trussan
atas perintah Sultan Alaiddin Johan Syah (17811795). Didalam mukaddimah kitab hukum acara
tersebut dikatakan bahwa dalam memeriksa perkara maka Hakim harus memperhatikan Hukum
Syarak, Hukum Adat, serta Adat dan Resam.
27

2.2 Sistem Kekeluargaan Dalam Hukum Adat

Di Indonesia terdapat berbagai suku bangsa yang berbeda dalam adat

istiadat maupun sistem kekeluargaannya dan secara umum dapat

diklasifikasikan atau dibeda-bedakan sebagai berikut:18


a. Sistem kekeluargaan patrilineal, yaitu suatu sistem kekeluargaan dengan

cara menarik garis keturunan sesorang secara konsekuen melalui garis

laki-laki atau bapak.


b. Sistem kekeluargaan matrilineal, yaitu suatu sistem kekeluargaan dengan

cara menarik garis keturunan seseorang melalui garis ibu.


c. Sistem kekeluargaan parental, yaitu suatu sistem kekeluargaan dengan

cara menarik garis keturunan seseorang melalui garis ibu dan bapak, serta

keluarga ibu dan keluarga bapak sama nilai dan sama derajatnya.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka peranan anak sebagai

penerus keturunan dalam tiga sistem kekeluargaan ini sangat penting.

Adapun contohnya pada masyarakat Minangkabau peranan anak wanita

lebih penting dari anak laki-laki karena menganut sistem kekeluargaan

matrilineal. Demikian pula sebaliknya masyarakat Bali yang menganut

sistem kekeluargaan patrilineal, maka anak laki-laki lebih memegang

peranan penting dari anak wanita. Atas dasar itu apabila tidak adanya anak

kandung, maka upaya yang ditempuh untuk mempertahankan garis

keturunan atau marga dari masing-masing sistem kekeluargaan itu adalah

pengangkatan anak.
Pengangkatan anak ini mungkin dilakukan terhadap orang lain

misalnya di Nias, Gayo, Lampung atau anggota dari klan sendiri seperti di

Bali atau saudara sepupu seperti di Jawa, Sulawesi atau anak tiri.

Pengangkatan anak tiri terdapat di Rejang, yaitu dikenal dengan istilah

18
Rusli Pandika, Hukum Pengangkatan Anak, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), hlm. 37
28

Mulang Jurai. Tata cara pengesahan anak tersebut melalui upacara adat

adalah bersifat pluralistis, hal ini disebabkan karena adanya 19 lingkungan

hukum adat di Indoensia.


Di Indonesia terdapat bermacam-macam istilah untuk anak angkat

seperti Mupu anak (Cirebon), Ngukut anak (Jawa Barat-Suku Sunda),

Nyentana yang (Bali), Meki anak (Minahasa), Ngukup anak (Suku Dayak

Manyan), Mulang jurai (Rejang Bengkulu) dan di Batak Karo istilahnya

sama yaitu anak angkat sedangkan pada masyarakat adat Sasak istilah anak

angkat dikenal dengan Ngakon anak atau anak Akon. Di Bali terdapat

pengangkatan anak yang mengubah status anak perempuan menjadi status

laki-laki dalam perkawinan keceburin, yang disebut sentana rajeg. 19 Hal ini

mirip dengan perkawinan ambil anak yaitu seorang anak laki-laki diambil

menjadi suami dari seorang gadis yang tumbuh pada sistem kekeluargaan

patrilial. Tujuannya untuk mencegah punahnya keturunannya, maka

perkawinan ambil anak itu dilakukan agar anak yang lahir dari perkawinan

tersebut termasuk klan si istri.20


Di Minangkabau tidak dikenal lembaga pengangkatan anak dalam

hukum adatnya, tidak terang apakah ini disebabkan oleh pengaruh hukum

Islam atau disebabkan oleh adanya sifat keibuan dari sistem

kekeluargaannya. Di daerah itu yang ada hanya pengangkatan anak untuk

dipelihara dan diasuh sebagai anak sendiri. Anak yang bersangkutan

biasanya masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan orang yang

mengambil anak. Hubungan anak tersebut dengan orangtuanya tidak

19
Jaja S. Meliala, Pengangkatan Anak (Adopsi) di Indonesia, (Bandung: Tarsito, 1982),
hlm. 8.
20
Saragih Djaren, Pengantar Hukum Adat Indonesia, (Bandung: Tarsito, 1984), hlm. 137.
29

terputus, tetapi menjadi ahli waris dari orangtua asalnya dan si anak bukan

merupakan ahli waris orangtua angkatnya.


Sistem kekeluargaan mempengaruhi sistem kewarisan, seperti

masyarakat yang menganut sistem kekeluargaan matrilineal sistem hukum

warisnya akan mengikuti garis keturunan ibu/perempuan. Kalau sistem

kekeluargaan yang patrilineal, hukum warisnya akan mengikuti garis

keturunan bapak/laki-laki. Adapun kalau masyarakat yang menganut sistem

kekeluargaan parental, ahli warisnya akan berhak mewaris baik dari garis

bapak maupun dari garis ibu.


Di dalam persekutuan yang geneologis menurut garis keturunan satu

pihak, seperti matrilial di Minangkabau, patrilineal di Tapanuli dan di Bali

hanya terdapat satu garis untuk menarik garis keturunan. Pada masyarakat

yang susunannya matrilineal keturunan menurut garis ibu dipandang lebih

penting, sehingga menimbulkan hubungan/pergaulan kekeluargaan yang

jauh lebih dekat dan meresap di antara anggota keturunan garis ibu. Hal

tersebut menimbulkan konsekwensi tersendiri baik dalam keluarga maupun

pewarisan. Demikian pula sebaliknya dalam masyarakat yang susunannya

menurut garis keturunan bapak, keturunan pihak bapak penilaiannya lebih

tinggi, serta hak-haknya juga lebih banyak.


Lazimnya untuk kepentingan keturunan, dibuat silsilah, yaitu suatu

bagan yang menggambarkan dengan jelas garis-garis keturunan dari

seseorang, baik lurus ke atas maupun lurus ke bawah maupun menyamping.

Pada silsilah tersebut nampak adanya hubungan-hubungan secara jelas yang

ada di antara para warga (hubugan kekeluargaan) bersangkutan. Hubungan

kekeluargaan ini merupakan faktor yang sangat penting dalam:


30

a. Masalah perkawinan, yaitu untuk meyakinkan apakah ada hubungan

kekeluargaan yang merupakan larangan untuk menjadi suami istri

(misalnya terlalu dekat, kakak-adik sekandung dan lain sebagainya).


b. Masalah waris, hubungan kekeluargaan merupakan dasar pembagian

harta peninggalan.

2.3 Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat

2.3.1 Pengertian Pengangkatan Anak

Dari segi etimologi yaitu asal usul kata, adopsi berasal dari

bahasa Belanda Adoptie atau Adaption (Bahasa Inggris) yang

berarti pengangkatan anak.


Dalam bahasa Arab disebut Tabanni yang menurut Prof.

Mahmud Yunus diartikan dengan mengambil anak angkat. Sedangkan

menurut Kamus munjid diartikan: menjadikannya sebagai anak.

Pengertian dalam bahasa Belanda menurut kamus hukum berarti

pengangkatan seorang anak untuk sebagai anak kandungnya sendiri.21

Dari segi terminologi, adopsi yang diartikan dalam kamus besar

bahasa Indonesia yang berarti anak angkat yaitu: anak orang lain yang

diambil dan disamakan dengan anaknya sendiri. Dalam ensiklopedia

umum disebutkan, adopsi adalah suatu cara untuk mengadakan

hubungan antara orangtua dan anak yang diatur dalam pengaturan

perundang-undangan. Biasanya adopsi dilaksanakan untuk

mendapatkan pewaris atau untuk mendapatkan anak bagi orangtua

yang tidak mempunyai anak.


Mengenai definisi adopsi, terdapat beberapa sarjana yang telah

memberikan pendapatnya, diantaranya adalah Surojo Wignjodiporo,


21
Op. Cit. Mudaris Zaini, hlm. 4.
31

menurut beliau adopsi adalah suatu perbuatan pengambilan anak

orang lain ke dalam keluarga sendiri sedemikian rupa, sehingga antara

orang yang mengangkat anak dan anak yang dipungut itu timbul suatu

hubungan kekeluargaan yang sama seperti yang ada antara orangtua

dengan anak kandungnya sendiri.


Menurut Soerjono Soekanto, adopsi adalah suatu perbuatan

mengangkat anak untuk dijadikan anak sendiri atau mengangkat

seseorang dalam kedudukan tertentu yang menyebabkan timbulnya

hubungan yang seolah-olah didasarkan pada faktor hubungan darah.22


Di Jawa Tengah, pengangkatan anak menurut Djojodiguno dan

Raden Tritawinata adalah pengangkatan anak orang dengan maksud

supaya anak itu menjadi anak dari orangtuanya. Anak angkat adalah

anak orang lain yang dianggap anak sendiri oleh orangtua angkat yang

resmi menurut hukum adat setempat, dikarenakan tujuan untuk

kelangsungan keturunan dan atau pamili atas kekayaan rumah

tangga.23
Menurut Tamakiran, anak angkat adalah seseorang bukan turuna

suami istri yang diambil, dipelihara dan diperlakukan oleh mereka

sebagai anak turunannya sendiri.

2.3.2 Macam-macam Pengangkatan Anak

Anak angkat adalah anak orang lain yang dijadikan anak dan

secara lahir dan batin diperlakukan seakan-akan sebagai anak

kandungnya sendiri. Dalam hukum adat, dikenal adanya dua macam

pengangkatan anak,24 yaitu:


22
Soerjono Soekanto, Intisari Hukum Keluarga, (Bandung: Alumni, 1980), hal. 52.
23
Hilman Hadikusuma, Hukum Keluarga Adat, (Jakarta: Fajar Agung, 1987), hal. 149
24
IGN. Sugangga, Hukum Waris Adat, (Semarang: Universitas Diponegoro, 1995), hal.
35.
32

1. Pengangkatan anak secara terang dan tunai, artinya pengangkatan

anak yang dilakukan secara terbuka dan dihadiri oleh segenap

keluarga, pemuka-pemuka adat/pejabat adat (ini pengertian

terang) dan seketika itu juga diberikan pembayaran uang adat

(pengertian terang). Di Bali, selain pengangkatan anak dihadiri

oleh seorang pendanda (pemuka agama), diadakan upacara pamit

dari para leluhur asal dari anak tersebut dan kemudian di desa.
2. Secara terang dan tidak tunai, artinya pengangkatan anak yang

dilakukan secara diam-diam, tanpa mengundang keluarga

seluruhnya, biasanya hanya keluarga tertentu saja, tidak dihadiri

oleh pemuka atau pejabat adat atau desa, dan tidak dengan

membayar uang adat. Hal ini biasanya bermotif hanya atas dasar

perikemanusiaan, ingin mengambil anak tersebut untuk

memelihara, dan juga ingin meringankan beban tanggungan dari

orangtua asli anak tersebut.


Perbedaan antara pengangkatan anak secara terang dan tunai

dengan pengangkatan anak secara tidak terang dan tidak tunai terletak

pada akibat hukumnya, yaitu pada pengangkatan anak secara terang

dan tunai, anak angkat tersebut putus hubungan hukum dengan

orangtua aslinya, masuk menjadi keluarga orangtua angkatnya dan

tidak mewaris dari orangtua kandungnya.


Sebaliknya pengangkatan anak secara tidak terang dan tidak

tunai, anak angkat tersebut bertempat tinggal secara hukum dengan

orangtua asalnya. Dengan demikian anak angkat itu masih tetap

mempunyai hak mewaris dari orangtua asalnya.


33

2.4 Pewarisan Dalam Sistem Hukum Waris Adat

2.4.1 Pengertian Hukum Waris Adat

Pada saat ini, masyarakat Indonesia mengenal adanya tiga

sistem hukum waris, yaitu sistem hukum waris adat, sistem hukum

waris Islam dan sistem hukum waris menurut KUH Perdata. Menurut

Ter Haar25, hukum waris adat merupakan hukum yang bertalian

dengan proses aturan-aturan penurunan dan peralihan kekayaan

materiil dan immateriil dari turunan ke turunan. Adapun Soepomo

merumuskan hukum waris adat sebagai hukum yang menurut

peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta

mengalihkan barang-barang harta benda dan barang-barang tidak

berwujud dari suatu angkatan manusia kepada turunannya.26


Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa hukum waris adat

itu meliputi keseluruhan asas, norma dan keputusan hukum yang

bertalian dengan proses penurunan serta pengalihan harta benda

(material), harta cita (non material) dari generasi satu kepada generasi

berikutnya. Di samping itu hukum waris adat tidak hanya mengatur

pewarisan akibat kematian seseorang saja, melainkan juga mengatur

pewarisan sebagai akibat pengalihan harta kekayaan. Kekayaan

tersebut baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, baik yang

bernilai uang maupun yang tidak bernilai uang dari pewaris kepada

ahli warisnya, baik ketika masih hidup maupun sesudah meninggal

dunia.

25
Ter Haar, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Diterjemhakan oleh K. Ng. Soebekti
Proesponoto, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1982), hlm. 231.
26
Op. Cit. R. Soepomo, hlm. 84.
34

Sebagai suatu proses maka peralihan dalam pewarisan itu sudah

dapat dimulai ketika pemilik kekayaan itu masih hidup. Proses

tersebut berjalan terus sehingga masing-masing keturunannya menjadi

keluarga-keluarga yang berdiri sendiri yang disebut mencar dan

mentas (Jawa), yang pada saatnya nanti ia juga akan memperoleh

giliran untuk meneruskan proses tersebut kepada generasi berikutnya.

Proses itu tidak menjadi terhambat karena meninggalnya orangtua,

meninggalnya bapak atau ibu tidak akan mempengaruhi proses

penurunan dan pengoperan harta benda dan harta bukan harta benda

tersebut.27
Pada masyarakat adat Sasak khususnya di Kecamatan Sembalun

Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat meneruskan harta

benda keluarga baru dimulai ketika sudah terjadi serah terima atau

pemberian warisan kepada ahli warisnya secara langsung ketika pewaris

masih hidup dan meninggalnya pewaris yang mewariskan harta bendanya

kepada anak tersebut seperti apa yang telah dijelaskan diatas. Berbeda

halnya dengan sistem pewarisan di Bali yang sama-sama menganut

sistem kekeluargaan patrilineal, dimana sistem pewarisannya baru

terbuka selebar-lebarnya apabila kedua orangtua telah meninggal

dunia dan jenazah telah diabenkan. Pada saat pewarisan terbuka maka

harta peninggalan yang terpencar-pencar dikumpulkan kembali

kemudian dibagi-bagi.

27
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Waris Indonesia, (Bandung: Sumur, 1978), hlm. 41
35

2.4.2 Sistem Pewarisan Dalam Hukum Waris Adat

Pewarisan adalah hubungan hukum atau kaidah hukum yang

mengatur hubungan hukum antara pewaris dengan ahli warisnya atas

harta warisan yang ditnggalkan, baik setelah pewaris meninggal

ataupun selagi pewaris itu masih hidup. Hubungan hukum ini

merupakan kaidah-kaidah yang bersifat mengatur dan merupakan

keadaan hukum yang mengakibatkan terjadi perubahan hak dan

kewajiban secara pasti dan melembaga. Dengan demikian perubahan

dan peralihan dari suatu bentuk ke bentuk yang lain dan merupakan

suatu proses yang harus dilakukan secara tepat dan beraturan.


Proses yang dimaksudkan dalam hal ini adalah cara sebagai

suatu upaya yang sah dalam perubahan hak dan kewajiban atas harta

warisan dan besarnya perolehan berdasarkan kedudukan para pihak

karena ditentukan oleh hukum. Di Indonesia secara garis besar dikenal

tiga sistem pewarisan, yaitu:


1) Sistem Pewarisan Individual atau Perseorangan
Pewarisan dengan sistem individual atau perseorangan

adalah sistem pewarisan dimana setiap ahli waris mendapatkan

pembagian untuk dapat menguasai dan atau memiliki harta

warisan menurut bagiannya masing-masing. Setelah harta warisan

itu diadakan pembagiannya maka masing-masing ahli waris dapat

menguasai dan memiliki bagian harta warisannya untuk

diusahakan, dinikmati maupun dialihkan (dijual) kepada sesama

ahli waris, angota kerabat, tetangga maupun orang lain. Sistem

individual ini banyak berlaku di kalangan masyarakat yang sistem

kekerabatannya parental sebagaimana dikalangan masyarakat adat


36

Jawa atau dikalangan masyarakat adat lainnya, seperti masyarakat

Batak dimana berlaku adat Manjae atau dikalangan masyarakat

adat yang masih kental dipengaruhi hukum Islam, seperti

dikalangan masyarakat adat Lampung. Dapat ditarik sebuah

kesimpulan sistem pewarisan Individual atau Perseorangan adalah

Suatu sistem pewarisan yang setiap ahli waris mendapatkan

pembagian untuk dapat menguasai dan atau memiliki harta

warisan menurut bagiannya masing-masing. Sistem pewarisan ini

contohnya pada masyarakat parental di Jawa.28


2) Sistem Pewarisan Kolektif
Pada sistem ini harta warisan diteruskan dan dialihkan

pemilikannya dari pewaris kepada ahli warisnya sebagai satu

kesatuan yang tidak terbagi-bagi penguasaan dan pemilikannya.

Setiap ahli waris berhak untuk mengusahakan, menggunakan dan

mendapatkan hasil dari harta warisan itu. Sistem pewarisan

kolektif ini contohnya pada masyarakat matrilineal di

Mingangkabau.
3) Sistem Pewarisan Mayorat
Sistem mayorat ini sebenarnya juga sistem pewarisan

kolektif, hanya saja penerusan dan pengalihan hak penguasaan

atas harta yang tidak terbagi-bagi itu dilimpahkan kepada anak

tertua yang bertugas sebagai pemimpin rumah tangga. Sistem

pewarisan mayorat contohnya di Pulau Lombok pada masyarakat

adat Sasak, dimana anak laki-laki tertua atau anak pertama

28
Hilman Hadi Kusuma, Hukum Waris Adat, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2015), hlm,
24
37

terutama laki-laki mempunyai hak mayorat tetapi dengan

kewajiban memelihara adik-adiknya serta mengawinkan mereka.29


Ketiga sistem pewarisan tersebut masing-masing tidak

langsung menunjuk pada suatu bentuk susunan masyarakat

tertentu tempat sistem pewarisan itu berlaku. Sistem tersebut

dapat ditemukan juga dalam berbagai bentuk susunan masyarakat,

bahkan dalam satu bentuk susunan masyarakat dapat ditemui

lebih dari satu sistem pewarisan.

2.4.3 Harta Warisan Dalam Hukum Waris Adat

Menurut pengertian secara umum warisan adalah semua harta

benda yang ditinggalkan oleh seorang yang meninggal dunia

(pewaris), baik harta benda itu sudah dibagi atau belum terbagi dan

atau tidak dibagi. Pengertian dibagi pada umumnya berarti bahwa

harta warisan itu terbagi-bagi pemiliknya kepada para ahli warisnya,

dan suatu kepemilikan mutlak perseorangan tanpa fungsi sosial. Oleh

karena menurut hukum adat suatu pemilikan atas harta warisan masih

dipengaruhi oleh sifat-sifat kerukunan dan kebersamaan, ia masih

dipengaruhi oleh rasa persatuan keluarga dan rasa keutuhan tali

persaudaraan.
Dilingkungan masyarakat adat yang asas pewarisannya

individual, apabila pewaris wafat maka semua anggota keluarga baik

pria atau wanita, baik tua atau muda, baik dewasa atau anak-anak pada

dasarnya setiap ahli waris berhak atas bagian warisannya.

Berkumpulnya para anggota keluarga ketika atau setelah pewaris

29
Wignjodipoero, Soerojo, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, (Jakarta: Haji Mas
Agung, 1987), hlm. 153.
38

wafat bukan saja dikarenakan adanya hak waris. Sikap yang seperti

demikian tidak terdapat dalam sistem pewarisan kolektif mayorat.

Berkumpulnya para ahli waris ketika pewaris wafat tidak

mengharuskan masalah pewarisan segera dibicarakan oleh para ahli

warisnya, pembicaraan mengenai warisan dapat diadakan beberapa

waktu berselang setelah pewaris wafat, atau juga dilakukan

penangguhan waktu dikarenakan diantara para ahli waris yang belum

hadir, atau karena diantara para ahli waris ada yang masih dibawah

umur atau karena masih ada orangtua yang dapat mengurus harta

warisan itu. Dikalangan orang jawa biasanya ada pembagian warisan

apabila sudah ada anak-anak yang sudah dewasa dan hidup mencer

atau dikarenakan sipewaris tidak mempunyai keturunan.


Disamping itu ada harta warisan yang memang tidak dapat

dibagi-bagikan penguasaan atau kepemilikannya dikarenakan sifat

bendanya, keadaan dan kegunaannya tidak dapat dibagi, misalnya

harta pusaka, alat perlengkapan adat, senjata, jimat, ilmu gaib, jabatan

adat, gelar adat dan lain sebagainya yang harus dipegang oleh ahli

waris tertentu dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.


Menurut Hilman Hadi Kusuma dalam bukunya yang berjudul

Hukum Waris Adat, yang membagi harta warisan itu kedalam tiga

bagian, yaitu:30

1. Harta Asal
Harta asal adalah semua harta kekayaan yang dikuasai dan

dimiliki oleh pewaris, baik berupa peninggalan atau harta bawaan

yang dibawa masuk kedalam perkawinan dan yang kemungkinan

30
Op.Cit. Hilman Hadi Kusuma, hlm. 36
39

bertambah selama perkawinan sampai akhir hayatnya. Harta asal

atau barang-asal dapat dibedakan dari harta pencaharian.31


Harta peninggalan dapat dibedakan dengan peninggalan

yang tidak terbagi, peninggalan yang belum terbagi dan

peninggalan yang terbagi, sedangkan harta bawaan dapat

dibedakan antara harta bawaan suami dan harta bawaan isteri.

Jika dilihat dari sudut pandang perkawinannya maka baik harta

peninggalan maupun harta bawaan adalah keseluruhan harta asal.

Sebaliknya jika dilihat dari sudut pandang pewarisan maka

keduanya adalah harta peninggalan.


1) Hara Peninggalan
a. Peninggalan tidak terbagi
Harta peninggalan yang tidak terbagi adalah harta

peninggalan yang diwariskan secara turun-temurun dari

zaman leluhur (Poyang, buyut) yang merupakan milik

bersama kerabat atau sefamili, yang biasanya berada

dibawah kekuasaan dan pengawasan tua-tua adat (Minang:

Penghulu, Mamak kepala waris; Lampung: Punyimbang

buway; Minahasa: Tua Untaranak; Ambon: Kepala Dati).

Harta pusaka ini merupakan harta pusaka tinggi yang tidak

terbagi pemiliknya, tetapi hanya terbagi hak pakainya

seperti di daerah Minang yang disebut dengan ganggam

bauntuik. Hak pakai atas harta pusaka itu dapat diwariskan

dari pewaris kepada ahli waris tertentu.

31
Hilman Hadi Kusuma dalam bukunya yang berjudul Hukum Waris Adat menjelaskan
mengenai Harta pencaharian yaitu harta yang didapat oleh pewaris bersama isteri atau suami
almarhum selama didalam ikatan perkawinan sampai saat putusnya perkawinan karena perceraian
atau kematian. Jadi harta asal itu (seolah-olah) sebagai modal pribadi pewaris yang dibawa masuk
kedalam perkawinan.
40

Harta peninggalan tidak terbagi di bagi menjadi dua,

yaitu:32 Yang pertama yakni harta pusaka tinggi berupa

tanah sawah, tanah perladangan atau bangunan rumah

adat. Di Minangkabau rumah gadang atau sawah pusaka

merupakan kepemilikan dari kaum wanita dimana ibu

yang menjadi pusat penguasaannya, dimana harta pusaka

ini bersifat tidak dibagi dan tidak boleh di jual, kecuali

dalam keadaan terpaksa boleh digadai.


Jadi harta pusaka tinggi tidak terbagi adalah karena

kedudukannya sebagai milik kerabat dan fungsi hukum

adatnya untuk kehidupan para kerabatnya. Selama

masyarakat hukum adat itu ada maka selama itu ia tidak

terbagi-bagi kepemilikannya secara perseorangan.


Yang kedua harta pusaka rendah adalah semua harta

peninggalan dari satu atau dua angkatan kerabat, misalnya

sari satu kakek atau nenek kepala keturunan yang meliputi

kesatuan anggota kerabat yang tidak begitu besar. Harta

pusaka ini merupakan bersama kerabat yang tidak terbagi-

bagi kepemilikannya dan akan terus dapat bertambah

dengan masuknya harta pencaharian dari para ahli

warisnya. Harta pusaka rendah dapat berwujud harta atau

barang yang terbatas nilai dan banyaknya, misalnya hanya

ada satu rumah adat tempat anggota kerabat berkumpul,

ada beberapa hektar tanah lading atau sawah dan beberapa

alat perlengkapan dan pakaian maupun perhiasan adat.


32
Ibid. hlm. 38.
41

b. Peninggalan terbagi
Harta peninggalan yang dapat dibagi pada umumnya

terdapat pada masyarakat patrilineal di Batak, dan

masyarakat bilateral di Jawa yang tidak menutup

kemungkinan di daerah-daerah yang harta peninggalan

tersebut karena pergeseran zaman dan merenggangnya

sistem kekerabatan. Di Sumatera Selatan tepanya daerah

Semende yang menjadi harta tak terbagi atau tetap terbagi-

bagi hanya harta tunggu tubang saja, sedangkan harta

diluar harta tubang dapat dibagi. Harta yang dapat dibagi

biasanya merupakan harta pencaharian atau harta bawaan.


Di daerah Minahasa, tanah kelakeran pada saat ini

sudah ada diadakannya pembagian kepemilikan kepada

anggota kerabat. Demikian pula dikalangan masyarakat

adat di Teluk Yos Soedarso Irian Barat tidak semua harta

kekayaan itu tidak dibagi-bagi, misalnya di daerah Nafri

sebagian dari harta kekayaan keluarga diadakan

pembagian yang terbatas pada anggota keluarga dekat,

terutama kepada mereka yang pernah membantu

kehidupan keluarga almarhum pewaris. Di Kayu Batu,

Kayu Pulo, Skou, Enggros Tobati untuk sebagian dari

harta peninggalan diadakan pembagian, namun anak tertua

laki-laki masih tetap mendapat pembagian yang terbanyak

dari ahli waris lainnya.33


c. Peninggalan belum terbagi

33
Ibid
42

Harta peninggalan yang dapat dibagi-bagi kepada

ahli waris adakalanya belum dibagi karena adanya

penangguhan waktu pembagiannya. Penangguhan waktu

pembagiannya antara lain disebabkan oleh beberapa hal,

diantaranya:34
1) Masih ada orangtua,
2) Terbatasnya harta peninggalan,
3) Tertentu jenis dan macamnya,
4) Pewaris tidak mempunyai keturunan,
5) Para ahli waris belum dewasa,
6) Belum ada ahli waris pengganti,
7) Salah satu ahli waris belum hadir,
8) Belum ada ahli waris yang berhak
9) Belum diketahuinya hutang piutang pewaris.
Apabila setelah pewaris wafat masih ada orangtua

pewaris, yang dalam hal ini janda atau duda yang masih

hidup dan masih dapat mengurus harta peninggalan, baik

untuk jaminan hidupnya maupun sebagai tempat

berkumpulnya para ahli waris, maka selama orangtua

masih hidup maka harta peninggalan tidak dapat dilakukan

pembagian. Namun adakalanya dikarenakan harta

peninggalan itu yang menurut adat sudah ditentukan jenis

dan macamnya yang harus dibagikan kepada ahli waris,

namun belum bisa dibagikan. Misalnya keris pusaka yang

harus di warisi oleh anak lelaki, akan tetapi anak tersebut

masih kecil atau dikatakan belum mampu mengemban

amanat untuk mewarisi keris tersebut.


2) Harta Bawaan
Harta bawaan adalah harta yang dimiliki oleh suami

atau isteri sebelum perkawinan. Oleh sebab itu dibagi antara


34
Ibid, hlm, 44.
43

harta bawaan suami dan harta bawaan isteri. Harta bawaan itu

ada yang terikat dengan kerabat dan ada yang tidak terikat

dengan kerabat. Harta bawaan yang terikat dengan kerabat

seperti harta pihak suami yang dibawa pihak suami yang

dibawa ke tempat kediaman isterinya (matrilokal) dalam

masyarakat matrilinial di Minangkabaum harta yang

diberikan kepada anak perempuan selagi masih gadis di

Batak yang dibawa menetap di tempat kediaman suaminya

(patrilokal) yang dinamakan tano atau saba bangunan. Harta

bawaan yang tidak terikat dengan kerabat, karena harta itu

hasil pencaharian si suami selagi masih bujang (harta

pembujangan, Sumatera Selatan), harta penantian bagi si

isteri semasa gadis atau guna kaya di Bali baik harta

perempuan ataupun harta laki-laki.35


3) Harta Pemberian
Harta pemberian adalah harta yang dimiliki oleh

pewaris karena pemberian, baik pemberian dari suami bagi si

isteri, pemberian dari orangtua, pemberian kerabat,

pemberian orang lain, hadiah-hadiah perkawinan atau karena

hibah wasiat. Harta pemberian dibedakan dengan harta asal,

sebab harta asal telah ada sebelum perkawinan sedangkan

harta pemberian ada setelah perkawinan. Harta pemberian

orangtua, dalam beberapa masyarakat terikat dengan kerabat,

seperti harta pemberian si bapak kepada anak perempuannya

sewaktu gadis ini Batak atau selagi anak tersebut dalam


35
Ibid, hlm, 46.
44

perkawinan (saba bangunan, pauseang, indahan arian), bila si

isteri ini meninggal dan tidak mempunyai anak, maka harta

ini akan kembali pada kerabatnya.


Bila harta pemberian tersebut ditujukan kepada salah

satu pihak suami-isteri, sama halnya dengan pemberian

kerabat hanya saja motif pemberiannya berbeda. Pemberian

kerabat biasanya didasarkan rasa kasihan, belas kasih atau

tolong-menolong, sedangkan pemberian orang lain karena

rasa persahabatan dan sebagainya.


4) Harta Pencaharian
Harta pencaharian adalah harta yang diperoleh oleh

suami-isteri, suami saja atau isteri saja dalam perkawinan

karena usaha dari suami-isteri atau salah satu pihak. Secara

umum harta yang diperoleh dalam perkawinan adalah harta

bersama suami-isteri, tetapi dalam beberapa masyarakat ada

harta pencaharian suami saja, atau harta pencaharian si isteri

saja disebabkan oleh bentuk dari suatu perkawinan dan

sistem kekerabatannya.
Di Minangkabau harta bersama dikenal harta suarang, di

Jawa gono-gini, di Kalimantan harta perpantangan di Bugis dan

Makasar dikenal cakkara. Harta bersama dapat bertambah karena

harta bawaan, harta pemberian, dan harta lain yang diperuntukkan

untuk keluarga yang diberikan tersebut.


45

2.4.4 Ahli Waris Dalam Hukum Waris Adat

Disini penulis akan menguraikan pengertian dari kedudukan

anak kandung, balu (janda atau duda), dan para ahli waris lainnya

sebagai ahli waris dalam hukum waris adat.

2.4.1.1 Anak Kandung


1. Anak sah
Anak sah mempunyai hak yang utama sebagai ahli

waris, baik laki laki maupun perempuan. Anak sah

adalah anak yang lahir dari suatu perkawinan yang sah.

Sedangkan perkawinan yang sah itu sendiri adalah

perkawinan yang diakui sah oleh hukum. Anak luar

kawin yang diakui setelah perkawinan kedua

orangtuanya secara sah.


2. Anak luar kawin
Anak luar kawin yang diakui setelah perkawinan

kedua orangtuanya secara sah. Anak yang diakui ini

setelah perkawinan kedua orangtuanya sah secara

hukum, maka kedudukannya berubah dari anak luar

kawin menjadi anak yang diakui, sehingga dengan

sendirinya atau secara otomatis menurut hukum ia adalah

anak sah. Dan dengan demikian, kedudukannya sama

dengan kedudukan anak sah.


3. Anak tidak sah
Secara normatif anak tidak sah (anak luar kawin)

hanya mempunyai hubungan hukum (keperdataan)

dengan ibu kandungnya dan warga kerabat ibu


46

kandungnya. Oleh karena itu, ia dapat mewaris dari

ibunya atau kerabat ibunya, hal ini tidak hanya terjadi

pada masyarakat matrilineal saja, akan tetapi juga terjadi

pada masyarakat patrilineal dan parental. Anak tidak sah

ada dua macam yaitu anak luar kawin yang sewaktu

waktu dapat berubah status hukumnya menjadi anak sah

dan. Dan anak incest yang selamanya tidak mungkin

menjadi anak sah.


4. Anak lakilaki sebagai ahli waris
Hal ini terutama terdapat dalam kekerabatan

patrilineal dengan bentuk perkawinan jujur, seperti di

Tanah Batak, Lampung Pepaduan, Bali (kecuali

Tenganan Pegringsingan yang parental) Nafri di

Jayapura / Irian Jaya, Flores (kecuali Ngadhubhaga

yang matrilineal). Anak perempuan dapat menerima

bagian sebagai harta bawaan kedalam perkawinannya

yang mengikuti sang siami.


Jika pewaris hanya mempunyai anak perempuan,

maka anak tersebut (terutama yang sulung) diberi status

anak laki laki dengan melakukan perkawinan ambil

suami (ngakuk ragab) atau pinjam jago (nginjam jaguk)

di Lampung yang beradat Pepadun. Di Bali di sebut

dengan Sentana Rajeg dan perkawinannya disebut

dengan perkawinan nyeburin. Dan bila pewaris tidak

mempunyai keturunan sama sekali, maka diangkatlah


47

anak lakilaki dari saudara kandung lakilakinya yang

terdekat.
5. Anak perempuan sebagai ahli waris
Hal ini kita jumpai dalam sistem kekerabatan

matrilineal (seperti di Minangkabau, Kerinci, Semendo

dan Rejanglebong, Lampung Pemingir, Ngadhubhaga)

berbentuk perkawinan perkawinan semenda. Anak

perempuan sebagai penerima dan penerus harta warisan

di Minangkabau sang ibu mewariskan hartanya kepada

anak kandung perempuannya dan sang ayah mewariskan

kepada kemenakannya yang perempuan. Jika seorang

pewaris di wilayah Semendo hanya mempunyai anak

laki-laki, maka anak tersebut dijodohkan dengan wanita

dalam bentuk perkawinan semendo ngangkit.


6. Anak laki-laki dan anak perempuan sebagai ahli waris.
Kedudukan anak lakilaki dan anak perempuan

sebagai ahli waris yang berhak sama atas harta warisan

orangtuanya, terdapat dalam sistem kekeluargaan

parental (Madura, Kalimantan (Dayak), Aceh, Riau,

Sumatera Selatan, Sumatera Timur, Tenganan

Peringsingan (Bali), Ternate).


Pengertian sama haknya bukan berarti bahwa jenis

atau jumlah harta warisan dibagi sama rata atau

jumlahnya sama secara sistematis diantara para ahli

waris, karena itu tidak merupakan kesatuan yang dengan

begitu saja secara matematis dapat dinilai harganya

dengan uang. Cara pembagiannya bergantung kepada


48

keadaan harta dan hak warisnya berdasarkan asas gotong

royong dan asas kepatutan. Di Jawa umunya berdasarkan

asas sigar semangka yang artinya bagian sama besar,

sedangkan dibeberapa wilayah lain berlaku asas wanita

menjunjung, pria memikul atau sepikul segendong.


7. Anak sulung selaku ahli waris.
Pada umumnya anak tertua dihormati dan disegani,

terlebih anak sulung yang sudah hidup mandiri, baik

yang diberi tanggung jawab maupun yang tidak diberi

tanggung jawab atas kehidupan dan penghidupan adik-

adiknya. Anak sulung berdasarkan dari jenis kelamin:


a. Anak Sulung Lakilaki
Apabila pewaris meninggal, sebagaimana di daerah

Lampung yang adatnya Pepadun, dan di Bali yang

patrilineal (kecuali Tenganan Pagringsingan), seluruh

tanggung jawab pewaris selaku kepala rumah tangga,

baik dalam kedudukan adat maupun terhadap harta

kekayaan kerabat, beralih secara langsung ke anak

sulung laki-laki dari isteri tertua (kalau isterinya lebih

dari satu). Anak sulung itu harus tetap tinggal di

rumah bapaknya dan bertanggung jawab atas

kehidupan adik-adiknya baik laki-laki maupun

perempuan sampai mereka mampu hidup mandiri.


b. Anak Sulung Perempuan
Ketika si pewaris meninggal dunia, maka di wilayah

Semendo Sumatera Selatan, harta warisannya tidak

dibagi, akan tetapi tetap utuh, dan penguasaannya


49

berpindah ke tangan anak sulun perempuan sebagai

tunggu tubang (pengelolaan harta peninggalan

orangtua). Di dalam pengurusan harta tersebut, ia

didampingi kakak laki-laki tertua selaku payung jurai

(pelindung keturunan). Dimana fungsi saudara laki-

laki mirip dengan kedudukan Ibu sebagai Kepala

Waris di Minangkabau sebagai pengelola harta

pusaka.36
2.4.1.2 Anak Tiri dan Anak Angkat
1. Anak tiri adalah anak yang di peroleh dari suami

atau isteri yang bukan anak kandungnya. Dalam hal

perkawinan antara seorang suami yang sudah beristeri

tetapi tidak dikaruniai keturunan dengan isteri keduanya

yang sudah beranak, maka dalam hal ini dapat saja salah

seorang anak bawaan dari isteri kedua itu diangkat

menjadi penerus garis keturunan suami tersebut. Dengan

demikian maka anak tiri itu menjadi ahli waris dari

bapak tiri dan ibu tiri (isteri pertama) dengan jalan

pengangkatan atau pengakuan oleh orangtua tiri tersebut.


2. Anak angkat
Anak angkat mewaris dapat kita lihat di wilayah

Lampung dimana anak angkat tegak tegi, selaku

penyambung garis keturunan ayah angkatnya, yang

menjadi ahli waris ayah angkatnya tersebut. Di kalangan

masyarakat Madura dan masyarakat adat Osing di

36
Dominikus Rato, Hukum Perkawinan Dan Waris Adat Di Indonesia, (Yogyakarta :
Laksbang Pressindo, 2015), hlm, 129.
50

Banyuwangi merupakan hak anak angkat mutlak dalam

mewarisi harta orangtua angkatnya meskipun dia tidak

lagi mewaris dari orangtua kandungnya.


2.4.1.3 Waris Balu (Janda atau duda)
Dalam sebuah rumah tangga juga ditemukan realitas

bahwa setelah suaminya meninggal dunia, janda tetap

menempati rumah yang ditinggalkan oleh almarhum

suaminya, apakah rumah itu merupakaan harta bawaan

suaminya atau merupakan harta gono gini, dalam hukum adat

dikatakan bahwa janda bukan ahli waris suaminya. Namun

demikian menurut hukum adat, janda mempunyai kedudukan

khusus terhadap harta benda almarhum suaminya. Yang

dimaksud janda di sini yaitu mereka yang sudah hidup

bersama sebagai suami isteri dan telah beranak pinak. Jika

harus diukur dengan tahun, maka janda ini telah hidup

berumah tangga dengan almarhum suaminya di atas 5 tahun

atau telah mempunyai harta gono gini dan tidak pernah cerai

dengan almarhum suaminya tersebut.


Apabila yang menjadi dasar pertimbangan untuk

menentukan ahli waris adalah pertalian sedarah atau

hubungan kekeluargaan berdasarkan persamaan darah, maka

janda jelasjelas bukan ahli waris. Akan tetapi, ada kenyataan

lain dalam masyarakat di Indonesia bahwa dalam suatu

perkawinan, hubungan suami isteri itu begitu eratnya sebab

perkawinan adalah hubungan lahir batin dan kadang kala

hubungan suami isteri itu melebihi hubungan antara saudara


51

kandung. Berdasarkan realitas sosial seperti inilah maka si

janda seringkali dianggap sebagai bagian dari keluarga,

apalagi jka selama hidupnya ia benar-benar berjasa terhadap

keluarga tersebut.
Menurut hukum adat Osing di Banyuwangi, janda

bukanlah ahli waris. Akan tetapi, dengan adanya perubahan

zaman, janda telah diberi hak untuk menikmati harta gono

gini hingga ia mandiri dan demi kepentingan mengurus anak-

anaknya yang belum dewasa. Akan tetapi, terhadap harta asal

sang suami, jika ada anak kandung, maka anak kandunglah

yang berhak. Jika tidak ada anak kandung, maka harta asal

kembali ke asal.
Di Indonesia, pada masyarakat matrilineal seperti pada

masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat dengan bentuk

perkawinan semenda, kedudukan janda sudah jelas, yaitu

terhadap harta peninggalan almarhum suaminya, terutama

harta asal akan kembali ke asal, yakni dikuasai oleh saudara-

saudara seperempuan almarhum suami. Hal ini dapat

dimengerti karena ketika kawin, sang suami tidak membawa

harta benda kedalam perkawinan. Jika ada harta yang

diperoleh di perantauan, maka harta ini menjadi harta

bersama. Sedangkan bagi duda tidak mewaris dari isterinya

yang meninggal. Jika si duda tidak kawin lagi dengan saudara

kandung almarhumah, maka anak-anak dan harta warisan

tinggal di tempat si isteri, dan diurus oleh Mamak Kepala


52

Waris yang bersangkutan. Dan bilan si duda tidak

mempunyai anak dan meninggalkan rumah almarhumah,

maka ia hanya dibenarkan membawa bagian dari harta

pencahariannya saja.
Sedangkan bagi masyarakat yang menganut sistem

kekerabatan patrilineal seperti di daerah Tapanuli, Bali,

Lampung Pepadun, Gayo, Nias, maka sepanjang perkawinan

itu adalah perkawinan jujur (ada belis/mas kawin) seorang

janda sepeninggalan suaminya tetap berkedudukan di

lingkungan kerabat suaminya, tetap merupakan bagian tak

terpisahkan di dalamnya. Sekalipun bukan ahli waris,

dikaruniai keturunan ataupun tidak maka ia tetap berhak

menikmati harta yang ditinggalkan oleh almarhum suaminya

sampai akhir hayatnya.


Sedangkan kedudukan janda atau duda pada

masyarakat yang menganut sistem kekerabatan parental

seperti di jawa. Menurut hukum adat jawa, janda atau duda

mula-mula bukanlah ahli waris dari suami atau isterinya yang

meninggal. Namun mereka berhak memperoleh bagian dari

harta peninggalan suami atau isterinya bersama-sama dengan

para ahli waris lainnya, atau mempertahankan keutuhan harta

tersebut untuk keperluan hidupnya. Apabila suami-isterinya

itu dikaruniai keturunan, maka janda atau duda itu berhak

mengurus dan mengatur, menikmati serta membagikan harta

warisan kepada para ahli waris yang bersangkutan.


53

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

3.1.1 Keadaan Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur

Provinsi Nusa Tenggara Barat

Sembalun merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten

Lombok Timur, dimana Lombok timur sendiri terletak di Pulau

Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok terbagi atas 4

(empat) Kabupaten dan 1 (satu) Kota, diantaranya ialah Kota

Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengan,

Kabupaten Lombok Utara, dan Kabupaten Lombok Timur.

Kabupaten Lombok Timur sendiri adalah salah satu daerah

Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat, ibu Kota daerah ini

adalah Kota Selong dengan luas wilayah 1.605,55 km2 dengan

populasi 1.105.582 jiwa. Adapun jumlah penduduk di Kecamatan

Sembalun menurut jenis kelamin pada tahun 2015 dari data Badan

Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur dapat di lihat pada tabel

berikut:

Tabel 2
JUMLAH PENDUDUK KECAMATAN SEMBALUN
BERDASARKAN JENIS KELAMIN

Laki Laki Perempuan Jumlah

9,434 10,143 19,577


54

Sumber: Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur Tahun 2015
Jika di lihat dari tabel di atas jumlah penduduk Kecamatan

Sembalun berdasarkan jenis kelamin, laki-laki berjumlah 9,434 jiwa

dan perempuan 10,143 dapat dilihat bahwa selisih dari jumlah

kelamin perempuan lebih banyak ketimbang laki-laki yakni selisih

709 jiwa. Kecamatan Sembalun merupakan sebuah kecamatan yang

terdiri dari 6 (enam) desa, yaitu Desa Sembalun Bumbung, Desa

Sembalun Lawang, Desa Sajang, Desa Bilok Petung, Desa

Sembalun, dan Desa Sembalun Timba Gading. Ibu kota kecamatan

Sembalun berada di Desa Sembalun Lawang yang jaraknya dari

ibukota Kabupaten Lombok Timur (Selong) sekitar 45 km. Adapun

wilayah Kecamatan Sembalun sendiri memiliki batas-batas wilayah

dimana sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sambelia,

sebelah selatan berbatasan dengan Aikmel dan Pringgasela, sebelah

barat berbatasan dengan Kabupaten Lombok Utara, dan sebelah

timur berbatasan dengan Kecamatan Pringgabaya.

Kondisi topografi Sembalun dikelilingi oleh bukit-bukit

dengan puncak tertinggi di Gunung Rinjani dimana terdapat Danau

Segara Anakan. Beberapa dari bukit tersebut merupakan kawasan

hutan rimba dan kawasan padang ilalang. Dari antara lereng bukit

terdapat mata air dan sungai yang airnya mengalir dan menjadi

sumber mata air penduduk di Pulau Lombok.

Kecamatan sembalun merupakan daerah yang berada pada

dataran tinggi di Pulau Lombok, yang terletak di sebelah timur laut


55

Pulau Lombok dengan memiliki ketinggian sekitar 1.200 meter dari

permukaan laut (mdpl), serta menjadi bagian dari kawasan Balai

Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) sesuai dengan keputusan

Menteri Kehutanan No.280/kpts-II/1997 dengan luas 40.000 ha,

Gunung Rinjani sendiri memiliki ketinggian 3.726 meter dari

permukaan laut (mdpl) yang juga merupakan gunung tertinggi ke

tiga di Indonesia setelah Gunung Jayawijaya (Papua) dan Gunung

Kerinci (Sumatera).

Disamping itu juga gunung rinjani merupakan GEOPARK

DUNIA, oleh karena itu tepatnya pada hari Selasa tanggal 25

November 2015 Bappeda Provinsi NTB selaku sekertariat sekaligus

dewan pelaksana harian Geopark Rinjani melakukan sosialisai ke

SKPD terkait dan tokoh Masyarakat yang di adakan di Hotel

Lombok Raya. Tujuan dari sosialisasi ini melindungi keragaman

bumi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal, pendidikan, dan

melestarikan alam warisan bumi, sehingga penting bagi kita semua

untuk memberikan dukungan penuh untuk menjadikan Taman

Nasional Gunung Rinjani sebagai Geopark Global Network

(GGN). 37

Dengan meningkatnya status Taman Nasional Gunung Rinjani

sebagai Geopark Dunia ini yang nantinya akan memancing minat

para wisatawan dalam maupun mancanegara, sehingga pertumbuhan

perkembangan dalam bidang ekonomi masyarakat sekitar yang


37
Bappeda NTB http://bappeda.ntbprov.go.id/geopark-rinjani-sebagi-geopark-dunia/
diakses pada tanggal 11 Mei 2016.
56

dalam hal ini masyarakat di Kecamatan Sembalun itu sendiri

menjadi meningkat.

3.1.2 Asal Usul Penduduk

Komunitas etnik Sasak di Sembalun memiliki cerita turun

temurun tentang asal muasal penduduk. Zaman dahulu seluruh pulau

Lombok dari pantai sampai gunung merupakan kawasan hutan

belantara, yang dalam bahasa Sasak disebut Gawar Sasak. Konon di

pulau ini sudah berdiam penduduk asli yang fisiknya misterius

karena kadang berwujud dan kadang tidak terlihat.

Kemudian, pada abad pertama Hijriyah, secara bergelombang

penduduk luar mendatangi pulau ini. Gelombang pertama, penduduk

yang diperkirakan berasal dari tiga tempat, yaitu Persia, India dan

Samudera Pasai (Sumatera). Mereka masuk dari arah utara

menggunakan perahu menelusuri sungai Sangkabira ke arah selatan

dan naik ke Gunung Rinjani. Di sana mereka melakukan tirakat38

sambil mencari tempat yang sesuai untuk mereka berdiam.

Sekitar abad ke-sembilan atau ke-sepuluh Masehi datang lagi

penduduk lain, berasal dari daerah Sumatra, Jawa dan Sulawesi.

Tidak diketahui bagaimana mereka masing-masing datang dan

bertemu. Mereka datang ke Pulau Lombok dari arah timur laut,

menelusuri aliran sungai Sangkabira yang selalu mengalir sepanjang

tahun dari Sembalun sampai laut utara.


38
Tirakat adalah menahan hawa nafsu dan bersemedi sembari berdoa atau mengucapkan
mantra-mantra sehingga mendapatkan petunjuk mengenai permohonan yang di minta, dengan kata
lain jalan keluar yang di berikan oleh yang maha pencipta dari permasalahan yang di hadapi oleh
pemohon.
57

Penduduk pendatang kedua ini tidak langsung naik ke puncak

Rinjani, tetapi mereka tinggal di sebelah timur lembah Rinjani yang

dinamakan Mentagi. Mereka bermukim disekitar mata air (makem)

yang sekarang terdapat dusun Lendang Luar.

Diperkirakan pada akhir abad ke-12, datang tujuh pasang

manusia yang datang dari arah selatan. Mereka tinggal berpindah-

pindah. Tempat pertama di sebuah bukit yang sekarang bernama

Selaparang, kemudian berpindah naik ke utara, menelusuri lereng

Gunung Nanggi dan tinggal di puncak bukit yang sekarang bernama

Seladaraq. Dari atas gunung inilah terlihat lembah yang sangat indah

dan setiap kali mereka melihatnya, ucapan pertama yang keluar dari

mulut mereka adalah ucapan Subhanallah Uluun, artinya

Mahasuci Allah yang Maha tinggi. Ucapan tersebut menjadi awal

sebutan nama lembah tersebut yang dikenal sekarang sebagai

Sembalun.39

Perkembangannya, mereka terus bergerak menyebar dari

tempat satu ke tempat lainnya, setelah turun ke lembah, pindah ke

arah utara menuruni Gunung Anak Dara dan berkampung di bukit

Gunung Selong yang menjadi kampung tua dan sekarang menjadi

Desa Bleq. Di tempat ini terdapat situs sejarah, yakni: tujuh rumah

adat (tidak boleh ditambah atau dikurangi), dua geleng tempat

penyimpanan harta benda dan satu Poposan Bale Malang (tempat

39
Wawancara dengan Bapak Abdulrahman Sembahulun selaku tokoh adat, pada hari Senin
tanggal 12 April 2016 pada pukul. 10.15 Wita di Desa Sembalun Bumbung Kecamatan Sembalun
Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.
58

musyawarah adat). Seterusnya, mereka menyebar ke seberang sungai

sangkabira membuat perkampungan baru di bukit batu yang disebut

Bawaq Dewa. Kemudian terus menyebar ke utara di daerah Bayan.

Dari turunan merekalah yang menjadi leluhur penduduk di Bayan

dan pemimpin di wilayah tersebut.

Bersumber dari cerita turun temurun ini diketahui bahwa

penduduk etnik Sasak yang ada sekarang di Sembalun berasal dari

turunan penduduk yang datang secara bergelombang. Dalam

perkembangan terjadi interaksi sosial dan budaya, masyarakat

mengenali struktur kekuasaan dan pranata sosial yang berlangsung

dalam komunitas dan kesatuan wilayah Sembalun, yang pengurusan

dan kekuasaannya dipimpin oleh seorang Datu bernama Datu

Sembahulun yang menguasai dan memerintah di wilayah Sembalun.

Dikisahkan Datu Sembahulun memiliki dua orang adik yang

kemudian menjadi Datu Bayan dan si bungsu menjadi Datu

Selaparang.

Dalam hal lembaga penyelenggara dalam berbagai bidang

pemerintahan, peradilan, adat istiadat dan keagamaan, masyarakat

Sembalun memiliki tiga unsur kelembagaan sosial yang saling

berhubungan, yang disebut Wik tu telu, sebagai berikut:40

1. Penghulu adalah lembaga yang mengurus dan bertanggung

jawab dalam masalah sosial keagamaan, pembinaan akhlak dan


40
Abdulrahman Sembahulun dan Y.L Franky. Masyarakat Adat Sembalun Lombok
Sistem Pengelolaan Hutan Adat di Sembalun. http://www.downtoearth-
indonesia.org/sites/downtoearth-indonesia.org/files/R-6-Sembalun.pdf diakses pada tanggal 12
Mei 2016
59

moral di masyarakat, utamanya berkaitan dengan system nilai

dan ajaran Lombok Buaq, yakni untuk hidup jujur, lurus, tulus,

ikhlas dan adil, serta ajaran sangkabira, yakni perilaku hidup

gotong royong, kebersamaan dan tolong menolong. Lembaga

ini dipimpin oleh seorang Penghulu adat, yang dalam

menjalankan tugasnya dibantu oleh enam orang kyai (pemuka

agama) dan berkedudukan tersebar di beberapa wilayah desa.

Tugas mereka adalah memimpin berbagai kegiatan keagamaan

dan ritual adat.


2. Pemekel adalah lembaga yang mengurus dan bertanggung

jawab atas keteraturan dan tertib sosial dalam masyarakat,

seperti perkawinan, perceraian, pesta dan hari ulang tahun

(Dina Gawe), penyelesaian perselisihan, dan sebagainya.

Pemekel dipimpin oleh Mekel atau biasa juga disebut Jero

Kepala, yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Jero

Warah sebagai petugas komunikasi dan hubungan

kemasyarakatan; Jakse atau Jero Tulis sebagai sekretaris;

Keliang sebagai kepala wilayah; dan Langlang Jagat sebagai

petugas keamanan dan tugas kurir atau utusan (mereka semua

berpakaian serba merah); Pekasih ialah petugas Kesubakan

untuk pengaturan pertanian dan pengairan.


3. Pemangku adalah lembaga yang dipimpin oleh pemangku,

yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pengurusan

dan pemanfaatan sumber daya alam, mencakup lingkungan


60

hutan, mata air, pertanian dan perkebunan, serta lingkungan

alam lainnya.41

3.1.3 Pendidikan

Pendidikan di Kecamatan Sembalun berdasarkan keterangan

Sekertaris Camat Sembalun, pendidikan formal penduduk dapat

dikatakan baik dibanding daerah sekitar lainnya, sebagian besar

penduduk dapat menyelesaikan pendidikan di SMP dan SMA. Di

semua desa tersedia pula sekolah dasar (SD), SMP dan SMA, baik

negeri maupun swasta. Sedangkan untuk melanjutkan perguruan

tinggi, mereka harus pergi ke Mataram dan Pulau Jawa. Secara lebih

terinci jumlah data satuan pendidikan (sekolah) di Kecamatan

Sembalun dapat dilihat pada tabel berikut:42

TABEL 3
JUMLAH DATA SATUAN PENDIDIKAN (SEKOLAH) PER DESA DI
KECAMATAN SEMBALUN

41
Dalam menjalankan tugasnya Pemangku atau disebut juga Mangku Gumi dibantu oleh
para Mangku, yakni Mangku Gawar adalah pemimpin yang mengatur dan menguasai hutan,
terutama kawasan hutan Rinjani dan Danau Segara Anak; Mangku Gunung adalah petugas yang
menguasai Gunung Pergasingan; Mangku Makem adalah petugas yang mengurus dan mengatur
mata air; Mangku Rantemas adalah petugas yang menguasai Kawasan Rantemas dan Gunung
Anak Dara; Mangku Majapahit adalah petugas yang menguasai dan mengatur cagar budaya
kawasan Desa Bleq, Ketapahan Majapahit, Bencingah Kocit, Kraton Suranala, Gunung Selong dan
Pangsormas. Permasalahan, penyelesaian sengketa dan pemberian sanksi atas pelanggaran yang
terjadi dalam urusan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, dilaksanakan oleh
Mangku berdasarkan kebiasaan dan hukum adat setempat.
42
Wawancara dengan Bapak Sunardi selaku Sekertaris Kecamatan Sembalun pada hari
Rabu tanggal 13 April 2016 pada pukul. 09.35 Wita di Desa Sembalun Kecamatan Sembalun
Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.
61

Desa SD/MI SMP/MTS SMA/MA/ Negeri Swasta


SMK
Sembalun Lawang 5 2 3 6 4
Sembalun Bumbung 5 3 1 4 5
Bilok Petung 4 2 2 4 4
Sajang 4 1 - 3 2
Sembalun Timba Gading - - - - -
Sembalun - - - - -
JUMLAH 18 8 6 17 15
Sumber: Data Referensi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016

3.1.4 Mata Pencaharian

Berdasarkan cerita turun temurun, dahulu di era pemerintahan

Datu Sembahulun, wilayah penguasaan adat masyarakat Sembalun

mempunyai batas-batas dengan daerah lainnya sebagai berikut:

sebelah utara berbatasan dengan laut utara (Laut Jawa), sebelah

selatan di Gunung Nanggi (Selaparang), sebelah barat di Gunung

Sangkareang (Santong), sebelah timur di Gunung Urat Suleman

(Sambelia).43

Dalam lingkup wilayah tersebut, masyarakat Sembalun

mempunyai hak mengusahakan dan memanfaatkan tanah maupun

hasil hutan, terkecuali di kawasan hutan yang ditetapkan sebagai

hutan larangan dan keramat, yang disebut Gawar Kemaliq.

Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan berdasarkan sistem nilai,

pengetahuan dan ketentuan kebiasaan setempat yang pengurusannya

dibawah kelembagaan Wik tu telu. Tanpa terkecuali setiap orang

harus mendapatkan restu dan pertunjuk dari pemimpin adat setempat

sebelum memulai aktivitasnya.


43
Op.Cit, Wawancara dengan Bapak Abdulrahman Sembahulun
62

Adapun bentuk-bentuk dari pemanfaatan lahan oleh

masyarakat Sembalun, terdiri dari:

a. Areal pemukiman penduduk,


b. Lahan penggembalaan ternak,
c. Kawasan hutan,44
d. Tempat berladang
e. Areal persawahan
f. Tempat untuk Bale Bleq (rumah-tempat penyimpanan sementara

hasil panen), dan


g. Lokasi khusus untuk Geleng (lumbung-lumbung padi).

Dari penjelasan diatas, maka dapat diketahui mata pencaharian

sebagian besar penduduknya adalah sebagai petani dengan tumbuhan

yang tumbuh cukup subur di daerah beriklim sejuk seperti kopi,

cengkeh, kakao, kemiri, strowberi, wortel, buncis, cabai, tomat dan

kentang. Selain itu, sebagian masyarakatnya juga bekerja sebagai

guru, pegawai negeri, tukang kayu, porter, guide, dan banyak pula

para pemuda yang mencari pekerjaan keluar Negeri menjadi TKI dan

TKW.45

3.1.5 Agama

Bentuk atau wujud kepercayaan masyarakat adat Sasak di

Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa

Tenggara Barat, menurut dari segi sejarahnya antara lain berwujud:46

44
Kawasan hutan di daerah sembalun yang terdiri dari hutan rimba (Gawar Elet), hutan
tempat berburu (Kolan Tu Nyeran), areal Hutan Bambu (gawar aur), hutan larangan (gawar
kemalik), hutan adat tempat mengambil tanaman obat, buah-buahan dan hasil hutan bukan kayu
lainnya, hutan milik (Gawar Tu Luwey),
45
Op.Cit, Wawancara dengan Bapak Sunardi selaku Sekertaris Kecamatan Sembalun
46
Op.Cit, Hasil wawancara dengan Bapak Haji Purnipe, yang merupakan tokoh adat Sasak
di Desa Sembalun Bumbung pada hari Kamis tanggal 14 April 2016.
63

1) Animisme, kepercayaan bahwa setiap benda yang ada

mempunyai nyawa, anima atau prana yang berpribadi. Dalam

kepercayaan ini tercakup dalam konsep Totem, kepercayaan

kepada ruh pelindung yang berwujud binatang; Pemujaan

kepada ruh nenek moyang/leluhur;


2) Dinamisme, kepercayaan kepada suatu daya kekuatan atau

kekuasaan yang keramat dan tidak berpribadi, yang dianggap

halus maupun berjasad, yang dapat dimiliki atau tidak dimiliki

oleh benda, binatang dan manusia. Dalam dinamisme tercakup

konsep Magic, kepercayaan bahwa dunia ini penuh daya-daya

gaib dan dapat dipergunakan untuk melawan kekuasaan yang

dijumpai; dimana, kepercayaan kepada sesuatu yang luar biasa,

mengherankan, karena keistimewaannya, kekuatannya atau

kesaktian;
3) Pemujaan pada dewa tertinggi/leluhur. Pemujaan dewa

tertinggi/leluhur adalah penyamaan leluhur, baik secara

langsung ataupun tidak langsung, atau dari orang-orang yang

menggantikan kedudukan leluhur atau kepala rumah tangga

titular, dengan roh dan dewa, serta pemindahan kepada mereka

khususnya tindakan dan sikap religius yang biasanya

diasosiasikan dengan pemujaan roh dan dewa.

Bentuk kepercayaan masyarakat dalam komunitas adat

atau krama adat di Sembalun Bumbung pada awalnya/asalnya adalah

animisme dan dinamisme. Animisme adalah bentuk kepercayaan

yang menganggap bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini


64

mempunyai roh atau jiwa. Manusia punya roh atau jiwa, demikian

pula tumbuh-tumbuhan, hewan, pohon-pohon besar dan lain-lainnya

dianggap punya roh atau jiwa yang harus diperhatikan dan

dihormati. Demikian halnya masyarakat dalam komunitas adat di

Sembalun Bumbung. Masyarakat di sini percaya bahwa manusia,

hewan, tumbuh-tumbuhan, pohon-pohon besar, gunung, sungai dan

sebagainya ada roh-roh atau jiwa-jiwa yang menunggu atau

menempatinya. Karena itulah masyarakat Sembalun Bumbung tidak

akan berani berbuat macam-macam terhadap roh-roh penunggu yang

mesti diyakini, diperhatikan, serta patut dihormati.

Sedangkan dinamisme adalah satu bentuk kepercayaan

masyarakat yang percaya dan menganggap benda-benda yang ada di

dunia ini mempunyai kekuatan gaib atau kekuatan sakti. Misalnya

gunung, hutan, batu-batu besar, keris, permata, tombak, dan

sebagainya dianggap mempunyai kekuatan gaib atau kekuatan sakti

yang dapat membantu kehidupan manusia, bahkan dapat sebaliknya

yaitu bisa membinasakan atau mencelakakan kehidupan

manusia. Demikian pula pada masyarakat di Desa Sembalun

Bumbung ini yang sebagian besar masih percaya pada kepercayaan

dinamisme ini, seperti kepercayaan bahwa batu-batu besar, keris,

tombak pusaka, batu permata dianggap memiliki kekuatan gaib atau

kekuatan sakti yang mesti diperhatikan, dihormati, dan dijaga

eksistensinya.
65

Di samping kepercayaan animisme dan dinamisme tersebut,

masyarakat Sembalun pada mulanya menganut kepercayaan

Boda yaitu satu bentuk kepercayaan masyarakat pada masa lampau,

yang selanjutnya datang kepercayaan atau agama Islam yang dianut

oleh sebagian besar masyarakat Sembalun Bumbung seperti

sekarang ini.

Meskipun sekarang ini hampir 85% masyarakat sembalun telah

memeluk agama Islam dan sisanya 15% memeluk agama Hindu,

namun demikian masyarakat yang beragama islam tidak

menghilangkan begitu saja kepercayaan aslinya yaitu kepercayaan

animisme dan dinamisme, akan tetapi masih tetap dipertahankan,

diyakini, dijaga dan dilestarikan karena mereka percaya bahwa

kepercayaan asalnya tersebut adalah warisan leluhur yang mesti

tetap dijaga, dilestarikan serta dihormati sampai kapan pun.

3.1.6 Jenis Responden

Pada bab I bagian teknik populasi dan sampling telah

dikemukakan bahwa jumlah responden yang dipilih adalah 10 orang

respondedn yang diantaranya 5 orangtua yang melakukan

pengangkatan anak dan 5 orang anak angkat yang mewarisi harta

orang tua angkatnya secara adat Sasak di Kecamatan Sembalun.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan ditemukan 15 kasus

pengangkatan dan pewarisan terhadap anak angkatnya di Kecamatan


66

Sembalun pada tahun 2016. Responden yang dipilih sebanyak 10

orang, yaitu terdiri dari 10 orangtua angkat.

3.1.7 Keadaan Responden

Mengenai keadaan responden ini, hanya dikemukakan keadaan

sosial ekonomi responden orangtua angkat dan anak angkat saja.

Untuk mendapat suatu gambaran yang lebih lengkap dan terperinci

mengenai keadaan responden perlu diuraikan yaitu mengenai jenis

kelamin, umur, pendidikan, dan pekerjaan mereka.

1. Jenis Kelamin
Adapun jenis kelamin dari jumlah responden yang peneliti

temukan di lapangan diantaranya meliputi: orangtua angkat

berjumlah 5 orang yang terdiri dari 4 orang pria dan 1 orang

wanita, sedangkan responden anak angkat adalah 5 orang terdiri

dari 3 orang pria dan 2 orang wanita. Dari data tersebut

menunjukkan jumlah anak angkat laki-laki lebih banyak dari

anak angkat wanita karena laki-laki lebih sering melakukan

pembagian atau yang menerima warisan.


2. Umur Responden
Batasan umur yang peneliti jadikan responden dalam

penelitian ini yang usianya termuda adalah 21 tahun keatas.

Pengelompokan umur responden tersebut didasarkan bahwa

pada umur tersebut responden sudah dewasa, sehingga

diharapkan dapat memberikan informasi yang akurat dan

kemungkinan mereka telah melangsungkan perkawinan serta

mendapat warisan dari orangtua angkatnya.


67

Adapun pengelompokan umur dari pengangkatan dan

pewarisan terhadap anak angkatnya dari keseluruhan Desa di

Kecamatan Sembalun dapat dilihat pada tabel dibawah ini.


Tabel 4
Umur Responden

Responden
No. Kelompok Orangtua Anak Jumlah %
Umur ANgkat Angkat
1. 21 30 1 1 2 20
2. 31 40 1 1 2 20
3. 41 50 1 3 4 40
4. 51 60 1 - 1 10
5 61 Keatas 1 - 1 10

5 5 10 100
Sumber : Data Primer Tahun 2016

Pengelompokan responden menurut pengangkatan dan

pewarisan terhadap anak angkatnya dari setiap Desa yang

berada di Kecamatan Sembalun dapat dilihat pada tabel di

bawah ini:
Tabel 5
Responden dari Setiap Desa di Kecamatan Sembalun

No. Nama Desa Orangtua

Angkat
1 Sembalun Lawang 2
2 Sembalun Bumbung 2
3 Sembalun Timba Gading 2
4 Sembalun 3
5 Sajang -
6 Bilok Petung 1
68

Jumlah 10
Sumber : Data Primer Tahun 2016
3. Pendidikan Responden
Tingkat pendidikan responden ini berturut-turut di

kelompokkan berdasarkan pendidikan formal, dari tingkat yang

paling rendah tidak bersekolah sampai dengan tingkat paling

tinggi yaitu perguruan tinggi. Secara rinci tingkat pendidikan

terakhir para responden yang di tempuh, dapat dilihat pada tabel

dibawah ini.

Tabel 6
Pendidikan Responden

Responden
No. Tingkat Pendidikan Orangtua Anak Angkat Jumlah %
Angkat
1 SD / MI 2 - 2 20
2 SMP / MTS 2 - 2 20
3 SMA / MA / SMK 1 2 3 30
4 Diploma - - - -
5 Perguruan Tinggi - 3 3 30

Jumlah 5 5 10 100
Sumber : Data Primer Tahun 2016
Berdasarkan tabel tersebut diatas, maka kelompok

pendidikan yang terbanyak adalah tingkat Perguruan Tinggi

yaitu 3 orang dari responden anak angkat sedangkan responden

orangtua angkat terbanyak mencapai jenjang pendidikan SD/MI

dan SMP/MTS. Pendidikan responden orangtua angkat yang

tertinggi adalah sampai jenjang SMA/MA/SMK yaitu 1 orang,

sedangkan responden anak angkat adalah pada jenjang

Perguruan Tinggi yaitu 2.


69

4. Pekerjaan Responden
Jenis pekerjaan responden yang peneliti jumpai bervariasi,

untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:


70

Tabel 7
Pekerjaan Responden

Responden
No. Pekerjaan Orangtua Anak Jumlah %
Angkat
Angkat
1 Petani 3 1 4 40
2 Pedagang 1 - 1 10
3 Porter 1 1 2 20
4 Guide - 2 2 20
5 Pensiunan PNS - - - -
6 Lain-lain - 1 1 10

Jumlah 5 5 10 100
Sumber : Data Primer Tahun 2016
Berdasarkan tabel tersebut diatas, tampak bahwa dari

kedua golongan pekerjaan responden adalah petani yang

terbanyak. sedangkan pengertian lain-lain adalah belum bekerja

atau masih sekolah.

3.2 Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Masyarakat Adat Sasak

Melakukan Pengangkatan Anak di Kecamatan Sembalun Kabupaten

Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat

3.2.1 Pengertian Pengangkatan Anak Menurut Adat Sasak

Pada hukum adat Sasak di Lombok Nusa Tenggara Barat

khususnya pada masyarakat di Kecamatan Sembalun Kabupaten

Lombok Timur pengangkatan anak dikenal dengan istilah Anak Akon

atau Ngakon Anak. Dalam bahasa Sasak istilah anak akon atau ngakon

anak ini berarti mengangkat atau mengambil anak seseorang dari


71

kalangan keluarga atau bukan kalangan keluarga untuk di jadikan

sebagai anaknya sendiri.


Pendapat beberapa paara sarjana memberi pengertian mengenai

pengangkatan anak, yaitu diantaranya:


Menurut Surojo Wignjodipuro bahwa pengertian pengangkatan

anak ini adalah suatu perbuatan pengambilan anak orang lain yang

dimaksukkan ke dalam keluarganya sedemikian rupa sehingga antara

yang mengangkat dan anak yang diangkat itu menimbulkan suatu

hubungan keluarga yang sama seperti yang ada antara orangtua

dengan anak kandung sendiri.47


Ny. Retnowulan Sutantio mengungkapkan bahwa pengertian

pengangkatan anak adalah menempatkan anak orang lain di tempat

anak sendiri oleh karena itu disamping pemeliharaan sehari-hari

diperlukan adanya pengakuan secara lahir dan batin sebagai anak

sendiri oleh orangtua angkatnya.


Adapun R. Soepomo sebagaimana telah diuraikan di muka

memberi pengertian pengangkatan anak adalah perbuatan hukum yang

melepaskan anak itu dari pertalian keluarga dengan orangtuanya

sendiri dan memasukkan anak itu ke dalam keluarga bapak angkat,

sehingga anak tersebut berkedudukan sebagai anak kandung untuk

meneruskan keturunan bapak angkatnya. 48


Pengertian pengangkatan anak pada masyarakat adat Sasak di

Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa

Tenggara Barat kiranya tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan

di atas. Adapun yang dimaksud dengan anak angkat dalam hukum

adat Sasak adalah anak orang lain diangkat oleh orangtua angkatnya
47
Surojo Wignjodipoero, Intisari Hukum Keluarga, (Bandung: Alumni, 1973), hal. 117
48
Ibid. hlm 103
72

menurut adat setempat, sehingga dia mempunyai kedudukan sama

seperti anak kandung yang dilahirkan oleh orangtua angkatnya

tersebut. Hal ini selanjutnya akan membawa akibat hukum dalam

hubungan kekeluargaan, waris dan kemasyarakatan. Konsekuensinya

disini segala hak dan kewajiban yang ada pada orangtua angkatnya

akan dilanjutkan oleh anak angkat itu sendiri, sebagaimana layaknya

seperti anak kandung.


Dari pengertian pengangkatan menurut Hukum Adat Sasak

seperti tersebut di atas dapat dijabarkan:


a) Adanya perbuatan melepas si anak dari kekuasaan orangtua

kandungnya.
b) Adanya perbuatan memasukkan si anak kedalam kekerabatan

orangtua angkatnya.
Pengertian melepaskan si anak adalah perbuatan berupa

permintaan calon orangtua angkat terhadap orangtua kandung si anak

atau kerabat si anak. Permintaan itu untuk melepas si anak dari

kekuasaan orangtua kandungnya/kerabatnya yang selanjutnya

dimasukkan ke dalam keluarga orangtua angkat untuk didudukkan

sebagai pelanjut keturunan. Perbuatan hukum ini termasuk pula

pengumuman yaitu pengumuman yang ditujukan kepada masyarakat

adat maupun kepada kerabat-kerabat si anak itu. Adapun maksud dari

pengumuman itu agar ada kata sepakat untuk melepas si anak tersebut

dan perbuatan tersebutpun menjadi terang.


Pengertian memasukkan si anak ke dalam kerabat orangtua

angkatnya: tercermin dalam perbuatan yang berupa pelaksanaan

upacara molang maliq atau ngurisang.49 Secara adat hal ini


49
Molang maliq atau Ngurisang adalah suatu upacara selamatan dalam rangkamenyambut
kelahiran sang anak dan memberikan nama kepada sang anak, akan tetapi jika anak angkatnya
73

mengandung arti bahwa si anak di perlakukan sama dengan anak

kandung, dimana anak kandung juga apabila terlahir ke dunia akan

diadakan acara molang malik atau ngurisang sebagai ucapan

terimakasih kepada sang maha pencipta atas diberikannya keturunan.


Bila kita membandingkannya dengan pengangkatan anak di luar

daerah masyarakat adat Sasak misalnya yang mempunyai sistem

kekeluargaan parental seperti di daerah Jawa, maka pengangkatan

anak tidaklah mempunyai konsekuensi yuridis seperti di Bali. Pada

masyarakat adat di Jawa kedudukan anak angkat hanya sebagai

anggota keluarga orangtua angkatnya, ia tidak berstatus sebagai anak

kandung.50

3.2.2 Sistem Pengangkatan Anak Dalam Hukum Adat Sasak

Masayarakat hukum adat Sasak adalah masyarakat yang

menganut sistem kekeluargaan patrilineal, artinya keturunan selalu

ditarik hanya melalui garis pihak laiki-laki saja atau kebapakan.

Sistem kekeluargaan patrilineal pada masyarakat adat Sasak

merupakan suatu prinsip, suatu sikap yang magis religius. Adapun

ciri-ciri hukum kekeluargaan patrilineal di Kecamatan Sembalun

tampak dalam penguasaan kepada anak laki-laki untuk melaksanakan

segala bentuk tanggung jawab pengelolaan tanah pertanian dan

perkebunan, dan setiap acara kegiatan upacara adat (roah, begawe

sudah di berikan nama oleh orangtua kandungnya maka orangtua angkatnya bisa mengajukan izin
untuk pergantian nama kepada anak angkatnya tersebut yang tentunya dengan persetujuan
orangtua kandungnya terlebih dahulu. Nama anak angkat tersebut yang akan nantinya menjadi
nama panggilang orangtua angkatnya.
50
R. Soepomo, Op. cit, hlm. 104.
74

beleq)51 yang dilakukan secara bersama-sama dengan warga desa

lainnya.
Konsekwensi dengan dianutnya sistem kekeluargaan patrilineal

dalam masyarakat hukum Sasak, menyebabkan kedudukan anak laki-

laki adalah sangat menonjol, termasuk dalam pewarisan dari harta

peninggalan orangtuanya. Keadaan tersebut pada dasarnya disebabkan

karena anak laki-laki pada masyarakat hukum adat Sasak

berkedudukan sebagai penerus keturunan, juga berkewajiban pada

penerus pemegang benda-benda pusaka yang diturunkan secara turun

temurun dari nenek moyang mereka. Ketentuan tersebut tidak berlaku

bagi anak perempuan, sebab anak perempuan setelah kawin akan

mengikuti keluarga suaminya dan putus hubungan hukumnya dengan

keluarga asalnya. Namun tidak menutup kemungkinan untuk

seseorang pasangan suami isteri yang sudah memiliki anak laki-laki

dan tidak memiliki anak perempuan akan mengangkat anak

perempuan, bahkan pasangan suami istri yang telah memiliki anak

laki-laki dan perempuan bisa juga mengangkat anak jika mereka

mampu secara materil hal tersebut dikarenakan adanya stigma yang

berkembang di kalangan masyarakat adat Sasak secara turun temurun

dari nenek moyang mereka yakni penoq anak penoq rizki.52

51
Hasil wawancara dengan Bapak Haji Purnipe, yang merupakan tokoh adat Sasak di Desa
Sembalun Bumbung pada tanggal 14 April 2016. Roah adalah suatu upacara adat yang dilakukan
dalam rangka acara selamatan yang biasanya dilakukan setelah membangun rumah, setelah acara
khitanan, sebagai wujud syukur atas rizki yang melimpah kepada sang pencipta, sedangkan
Begawe Beleq merupakan upacara yang dilakukan setelah acara pernikahan, biasanya acara ini
dilakukan oleh mempelai laki-laki.
52
Hasil wawancara dengan Bapak Hasanudin, yang merupakan tokoh adat dan mantan
Kepala Desa Bilok Petung, pada hari Kamis tanggal 14 April 2016. Penoq Anak Penoq Rizki, yang
artinya dalam Bahasa Indonesia adalah jika seseoran pasangan suami istri memiliki anak banyak
maka rizki atau berkah dari sang maha pencipta Allah SWT.
75

Sehingga tujuan dari pengangkatan anak dalam masyarakat

adat Sasak, adalah untuk melanjutkan keturunan orangtua angkat dan

mampu meneruskan kwajiban dari orangtua angkatnya. Akibat dari

tujuan ini maka anak angkat menjadi anggota keluarga yang

mengangkat tanpa memutus tali kekerabatan dari orangtua maupun

keluarga asal. Dalam perkembangannya pengangkatan anak tidak saja

oleh keluarga yang utuh (suami istri), akan tetapi juga dapat dilakukan

oleh janda / duda yang ditinggal mati, dan harus mendapat persetujuan

terlebih dahulu dari pihak keluarga anak yang akan di angkat.


Pengangkatan anak tidak hanya terdapat di masyarakat adat

Sasak yang sistem kekeluargaannya patrilineal, sebagai perbandingan

dapat diuraikan mengenai pengangkatan anak di beberapa daerah yang

menganut sistem kekeluargaan berbeda.


Pengangkatan anak dikenal pula di daerah Aceh dengan

sebutan anduk geuteung. Di sekitar Aceh Timur-Idilangsa, Kuala

Simpang, disebut anak bela dan di Meulaboh disebut anak pungut.

Sifatnya memelihara saja tidak mempunyai akibat hukum lain.53


Hukum adat Melayu yang meliputi daerah-daerah, Kabupaten

Tebing Tinggi, Binjai dan Medan dan sekitarnya mengenal

pengangkatan anak. Di daerah itu dikenal tiga macam pengangkatan

anak yaitu :54


1) anak angkat Pulang Buntal yang seluruhnya menjadi tanggungan
orangtua angkat mengenai kehidupan maupun pendidikannya.
2) Anak angkat pulang nama yang disamping orangtua angkat
mempunyai hubungan tetap dengan orangtua kandungnya.
3) Anak angkat pulang serasi, yaitu anak yang bila dengan orangtua
kandungnya ia selalu sakit-sakitan tetapi bila ia dengan orangtua
angkatnya selalu sehat.
53
Bastian Tafal, Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat Serta Akibat-akibat
Hukumnya Dikemudian Hari, (Jakarta: Rajawali Press, 1983), hlm. 103
54
Ibid, hlm, 108.
76

Hubungan kekeluargaa antara anak angkat dengan orangtua

kandung tidak lepas sama sekali, si anak tetap hanya berhak mewaris

dari orangtua kandungnya. Di samping ia masih berhak mewaris dari

orangtua angkatnya.
Di daerah Minangkabau, yang masyarakatnya menganut sistem

kekeluargaan matrilineal, yakni menarik garis keturunan dari pihak

ibu atau yang lebih dikenal dengan keibuan, terutama di kursi Limo

Jorong Bukittinggi, Padang dan Painan, tidak ada pengangkatan anak.

34 Oleh karena di daerah tersebut dipengaruhi oleh hukum Islam,

yang tidak mengenal pengangkatan anak.


Di Jawa yang menganut sistem kekeluargaan parental dikenal

pula sistem pengangkatan anak tapi tidak memutuskan hubungan

kekeluargaannya dengan orangtua kandungnya. Akibatnya si anak

angkat mewaris dari orangtua kandung dan orangtua angkatnya.


Dari uraian tersebut di atas, bahwa pada prinsipnya semua

masyarakat adat di Indonesia mengenal adanya pengangkatan anak,

namun terdapat pengertian serta istilah yang berlainan, yang

membawa konsekuensi lain pula dalam hal kedudukan anak angkat

tersebut pada orangtua angkat dan orangtua kandungnya. Jadi dengan

demikian dapat dikatakan bahwa sistem kekeluargaa yang dianut oleh

suatu masyarakat hukum adat, akan mempengaruhi pula sistem serta

eksistensi pengangkatan anak itu


77

3.2.3 Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Pengangkatan Anak

Menurut Hukum Adat Sasak

Masyarakat adat Sasak adalah masyarakat yang menganut sistem

kekerabatan patrilineal dimana seorang wanita yang dinikahi oleh

seorang laki-laki yang akan menjadi suami istri, istrinya tersebut akan

masuk ke dalam keluarga suaminya, demikian pula dengan anak-anak

yang dilahirkannya. Sistem patrilineal ini membawa kedudukan

bahwa seorang laki-laki menjadi utama, anak laki-laki akan

meneruskan keturunan keluarga tersebut, berbeda halnya dengan anak

perempuan apabila ia menikah kelak maka ia akan mengikuti

suaminya dan masuk ke lingkup keluarga suami. Menonjolnya

kedudukan anak laki-laki dalam masyarakat adat Sasak, berakibat

setiap keluarga menginginkan adanya keturunan laki-laki. Dalam

masyarakat adat sasak panggilan untuk ayah/bapak disebut dengan

istilah Amaq dan untuk ibu di sebut dengan Inaq.


Menurut Surojo Wignjodipuro alasan-alasan yang mendorong

orang untuk mengangkat anak adalah:55


a. Karena tidak mempunyai anak sendiri, sehingga dengan
mengangkat anak tersebut, merupakan jalan untuk mendapatkan
keturunan.
b. Karena belum dikaruniai anak, sehingga dengan mengangkat
anak ini diharapkan akan mempercepat kemungkinan
mendapatkan anak.
c. Terdorong oleh rasa belas kasihan terhadap anak yang
bersangkutan misalnya karena hidupnya kurang terurus dan lain
sebagainya.

Pada masyarakat adat Sasak bagi keluarga yang dalam hal ini

pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak (Bangkol) akan

berusaha mengangkat anak, adapun alasan masyarakat di kecamatan


55
Surojo Wignjodipuro, Op. cit, hlm. 119.
78

sembalun mengangkat anak dari hasil wawancara dengan Amaq Rip

yaitu:56
1. Seninaq atau semamaq a Bangkol
2. Bedoe ya anak laguq araq sekeq (nina ato mama).
3. Jari pancingan angkeq a bedoe anak.

Dari keterangan Kepala Dusun Desa Bilok Petung diatas

menjelaskan bahwa alasan masyarakat adat sasak mengangkat anak

apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah yang pertama adalah

pasangan suami istri tersebut salah satunya mengalami kemandulan

sehingga tidak akan pernah bisa mempunyai keturunan dan dilakukan

sematamata untuk melanjutkan dan mempertahankan garis keturunan

dalam suatu keluarga yang tidak mempunyai anak, yang kedua yakni

pasangan suami istri tersebut hanya memiliki satu orang anak saja

(laki laki atau perempuan) sehingga pasangan tersebut mengangkat

anak, dan yang ketiga yakni sebagai pancingan agar dapat melahirkan

anak kandung, dan keabsahan kekuatan hukum pengangkatan anak

tidak terganggu apabila nantinya ibu angkat melahirkan anak kandung.

Dengan demikian pengangkatan anak dengan sendirinya

mempersaudarakan anak kandung dengan anak angkat.


Begitu pentingnya keturunan (anak) ini dalam suatu perkawinan

sehingga tidak jarang menimbulkan berbagai peristiwa sebagai akibat

ketiadaan anak seperti perceraian, poligami dan pengangkatan anak itu

sendiri. Demikian dikatakan bahwa apabila dalam suatu perkawinan

telah ada keturunan (anak) maka tujuan perkawinan dianggap telah

tercapai dimana proses pelanjutan generasi dapat pula berlangsung. Di

56
Wawancara dengan Bapak Rip (Amaq Rip) selaku Kepala Dusun Desa Bilok Petung hari
Kamis pukul. 14.30 WIT tanggal 14 April 2016.
79

kalangan masyarakat adat sasak sendiri tidak sedikit pula peneliti

jumpai keluarga keluarga yang melakukan poligami, bahkan istri

pertama dengan istri kedua tinggal satu atap dengan suami mereka.
Kalau dilihat penjelasan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

(Undang-Undang Perkawinan) maka kita temukan tujuan perkawinan

tersebut adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal

serta rapat hubungan dengan keturunan. Dari ketentuan Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 1974 tampak pula bahwa keturunan

mempunyai peranan penting dalam kehidupan keluarga karena adanya

anak diharapkan dapat melanjutkan keturunan / silsilah keluarga

tersebut.
Adapun responden yang peneliti wawancarai pada tanggal 1213

April 2016 di lapangan mengenai faktorfaktor yang melatarbelakangi

mereka melakukan pengangkatan anak di Kecamatan Sembalun

berdasarkan Desa tempat mereka tinggal antara lain sebagai berikut:57


1. Bapak Agus Saleh (Amaq Mustiadi) usia 50 tahun dan istrinya

bernama Ibu Guslaini (Inaq Mustiadi) usia 48 Tahun, yang

bertempat tinggal di Desa Sembalun Kecamatan Sembalun, di

usia pernikahan mereka yang ke 5 tahun belum juga di karuniai

seorang anak dan kemudian mereka mengangkat anak laki-laki

yang bernama Mustiadi pada umur 1 tahun dan kini usia anak

tersebut menginjak 35 tahun, anak yang diangkat tersebut

merupakan anak laki-laki dari pasangan suami isteri yang tidak

lain adalah saudara sepupu dari bapak Agus Saleh yang bernama

Imran dan istrinya bernama Siti Fatimah. Ibu Fatimah meninggal

57
Wawancara dengan para responden 12 13 April 2016
80

dunia di karenakan sakit ketika usia anaknya (Mustiadi) masih

berumur 9 bulan.
2. Bapak Edi (Amaq Imron) usia 52 tahun dan istrinya bernama Ibu

Guslaini (Inaq Imron) usia 48 Tahun, yang bertempat tinggal di

Desa Sembalun bumbung Kecamatan Sembalun, di usia

pernikahan mereka yang ke 2 tahun belum juga di karuniai

keturunan dan kemudian mereka mengangkat anak laki-laki yang

bernama Imron Affandi pada umur 3 bulan dan kini usia anak

tersebut menginjak 28 tahun dan telah menikah, anak yang

diangkat tersebut merupakan anak laki-laki dari pasangan suami

isteri dari bapak Salihin dan istrinya bernama Jemah yang

merupakan tetangganya sendiri.


3. Bapak Samsul (Amaq Ica) usia 61 tahun dan isterinya bernama

Ibu Muniah (Inaq Ica) usia 56 tahun, bertempat tinggal di Desa

Sembalun Lawang yang memiliki seorang anak perempuan

berusia 42 tahun yang bernama Nisa (menikah) dan mengangkat

anak laki-laki bernama Imam Hidayat yang kini usianya 35 tahun

(menikah). Anak yang diangkat merupakan bayi yang di temukan

oleh Bapak Samsul sendiri di dekat saluran air pematang

sawahnya.
4. Bapak Hafiz (Amaq Eka) usia 57 tahun dan isterinya bernama

Ibu Linda (Inaq Eka) yang telah meninggal dunia 5 tahun silam

(tahun 2011), bertempat tinggal di Sembalun Timba Gading yang

sewaktu istrinya masih hidup Bapak Hafiz atau yang lebih sering

disapa dengan Amaq Eka mengangkat anak dari kalangan

keluarganya dimana anak tersebut (Eka Adi Karya, umur 30 tahun


81

dan menikah), Eka Adi Karya diangkat sebagai anak pada usia 1

tahun karena ditinggalkan oleh Ibunya bekerja ke Arab Saudi

menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).


5. Bapak Samsudin (Amaq Ojak) usia 55 tahun dan istrinya

bernama Ibu Anggraini (Inaq Ojak) usia 47 Tahun, yang memiliki

2 orang anak laki-laki yang bernama Rozak Alfa Rinjani (30

tahun, status menikah), Wahyu Taufani (25 tahun, status lajang),

yang mengangkat anak perempuan yang bernama Dewi Puspita

Wati (18 tahun, lajang) pada umur 2 tahun, anak yang diangkat

tersebut merupakan perempuan dari pasangan suami isteri dari

bapak Nasrudin (alm) dan istrinya bernama Selihun (alm) yang

merupakan Saudara kandung dari bapak Samsudin. Ibu selihun

meninggal dunia pada saat melahirkan, sedangkan Bapak

Nasrudin Meninggal dunia karena kecelakaan lalulintas sewaktu

bekerja di Malaysia.
Dari kelima kasus pengangkatan anak diatas yang mewakili 80%

pengangkatan anak secara Adat Sasak di Kecamatan Sembalun

Kebupaten Lombok Timur. Jika kita lihat dengan seksama mengenai

keterangan-keterangan yang responden sampaikan mengenai alasan-

alasan mereka melakukan pengangkatan anak, dapat kita lihat

beberapa faktor yang menyebabkan mereka melakukan pengangkatan

anak diantaranya:
1. Faktor tidak mempunyai keturunan atau salah satu pasangan

mengalami kemandulan.
2. Faktor keinginan memiliki anak laki laki.
3. Faktor kasihan terhadap masa tumbuh kembang dan masadepan

anak.
82

Pengangkatan anak yang telah di jelaskan peneliti di atas

merupakan pengangkatan yang bertujuan untuk meneruskan keturunan

dan untuk kesejahteraan anak tersebut, anak-anak yang diangkat

sebagian besar dari kalangan keluarga pewaris dimana orangtua

kandung mereka menyerahkan anaknya untuk diangkat berdasarkan

keinginan dan rasa kasihan terhadap sanak keluarganya yang tidak

memiliki keturunan.
Tabel 8
Umur Anak Saat Pengangkatan

No Umur Jumlah %
1 0 1 tahun 4 80
2 1 20 tahun 1 20
3 21 keatas - -

5 100
Sumber : Data Primer Tahun 2016
Apabila kita tarik benang merah antara faktor-faktor yang

melatarbelakangi masyarakat Adat Sasak di Kecamatan Sembalun

tersebut diatas dengan Teori Sejarah dimana Friedrich Carl von

Savigny (Volk geist) menyatakan hukum kebiasaan sebagai sumber

hukum formal. Hukum tidak dibuat melainkan tumbuh dan

berkembang bersama sama dengan masyarakat. Pandangannya bertitik

tolak bahwa di dunia ini terdapat banyak bangsa dan tiap-tiap bangsa

memiliki volksgeist jiwa rakyat. Savigny berpendapat bahwa semua

hukum berasal dari adat-istiadat dan kepercayaan dan bukan berasal

dari pembentukan undang-undang.58 Penggagas teori ini melihat

hukum sebagai entitas yang organis-dinamis. Hukum menurut teori

58
Lili Rasjidi, Ira Thania Rasjidi. Op.Cit, hlm. 63.
83

ini, dipandang sebagai sesuatu yang natural, tidak dibuat, melainkan

hidup dan berkembang bersama masyarakat. Hukum bukanlah sesuatu

yang statis, melainkan dinamis karena akan senantiasa berubah seiring

dengan perubahan tata nilai di masyarakat. Hukum bersumber dari

jiwa rakyat (volksgeist) dan karenanya undang-undang tidak begitu

penting. Cerminan jiwa suatu bangsa tercermin dari hukumnya dan

karenanya, teori hukum hukum tidak dibuat, melainkan ditemukan dan

bersumber dari jiwa rakyat.


Hal ini juga menunjukkan bahwa pengangkat anak secara

Hukum Adat Sasak di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok

Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat dilandasi oleh pandangan tentang

manusia sesuai dengan Pancasila, pengangkatan anak didorong oleh

rasa kemanusiaan, yang erat sekali kaitannya dengan masalah

perlindungan terhadap anak pada Pasal 2 ayat 3 dan 4 Undang-undang

Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan anak.

3.3 Hak Mewaris Anak Angkat Bersama Ahli Waris Lainnya Dalam

Persfektif Hukum Waris Adat Sasak di Kecamatan Sembalun

Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sebagian besar masyarakat adat Sasak yang tunduk pada hukum Islam

yang bersumber dari Al-Quran dan Hadist. Karena mayoritas Suku Sasak

beragama Islam, melakukan pembagian harta warisan secara hukum Islam.

Hal ini pernah dijelaskan oleh Van den Berg dan Salmon Keyzer dalam

teorinya Receptio in Complexu yang mengungkapkan bahwa adat-istiadat

dan hukum adat suatu golongan hukum masyarakat adalah receptio


84

(penerimaan) seluruhnya dari agama yang dianut oleh golongan masyarakat

itu. Hukum adat suatu golongan masyarakat adalah penerimaan secara bulat

dari hukum agama yang dianut oleh golongan masyarakat itu. Dalam hal ini,

Suku Sasak secara mayoritas beragama Islam dan menggunakan hukum

Islam untuk membagi warisannya.

Dasar penggunaan hukum waris Islam bersumber pada Surat An-Nisa

ayat 11.59 Dalam bahasa Sasak, bagian wanita dikatakan sebagai

sepersonan yaitu barang yang dijunjung di atas kepala perempuan.

Bagian laki-laki adalah sepelembah atau dua pikulan yang diletakkan di

atas bahu. Maka dikatakan dalam bahasa daerah sasak bagian laki-laki dan

wanita adalah Sapelembah sepersonan yaitu dua berbanding satu.60

Wanita menjunjung satu bakul di kepalanya, sedangkan laki-laki membawa

pikulan di bahunya yang terdiri dari dua bakul keranjang.

Dari arti surat Annisa ayat 11 dapat di jelaskan maksudnya sebagai

berikut: Anak laki-laki mendapatkan dua bagian warisan dan perempuan

satu bagian mengikuti sepelembah sepersonan. Jika tidak ada anak laki-laki

maka semua warisan tersebut jatuh pada anak perempuan. Jika anak

perempuan lebih dari satu orang, harta warisan dibagi sama diantara mereka.

59
Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu
bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu
semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan;
jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-
bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu
mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-
bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa
saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah
dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orangtuamu dan
anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak)
manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana.
60
Op.,Cit, Wawancara dengan Bapak Haji Purnipe.
85

Warisan tersbut tidak dibagikan kepada saudara laki-laki dari almarhum

bapaknya. Bila anak perempuan hanya satu-satunya semua harta warisan

jatuh kepada anak perempuan satu-satunya tersebut. Untuk membagi

warisan, masyarakat menyerahkan segala urusan pembagiannya pada Tuan

Guru, Pemimpin Agama Islam di desa di Sasak. Namun tidak jarang pula

sengketa waris diselesaikan oleh Pengadilan Agama dan diselesaikan

dengan Hukum Islam.

Perkembangan Hukum Adat Suku Sasak, sejak tahun 1951 di

daerah pulau Lombok, khususnya di daerah Kecamatan Sembalun (Lombok

Timur) telah terjadi pergeseran nilai dalam Hukum Waris Adat khususnya

tentang kedudukan anak dan wanita. Jika menurut hukum adat yang lama

dalam masyarakat adat Sasak, anak wanita hanya berhak mewarisi harta

benda seperti piring, gelas, pakaian, dan segala macam bentuk prabotan

rumah serta tidak berhak untuk mewaris barang-barang tidak bergerak

seperti tanah, maka kini dalam perkembangannya sudah diakui dimana

kedudukan wanita sebagai ahli waris dan berhak pula memperoleh harta

warisan peninggalan orangtuanya bersama-sama dengan saudara laki-

lakinya.

Keadaan di atas mau tidak mau harus ditafsirkan bahwa telah terjadi

pergeseran pola pikir di kalangan warga suku ini ke arah kemajuan

(modernisasi). Dari realita-realita yang terjadi dalam masyarakat, maka

secara filosofis dapat dibaca bahwa persamaan status hak dan kedudukan

antara anak laki-laki dengan anak wanita selama ini telah berjalan. Anak
86

wanita tidak lagi sebagai selalu berada di belakang keutamaan anak laki-

laki. Tetapi keduanya mempunyai harkat dan martabat yang sama.

Dari segi yuridis dapat dipertimbangkan antara lain, masyarakat adat

suku Sasak telah mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat tersebut ternyata diikuti pula

oleh perkembangan akan kebutuhan hukum. Artinya bahwa dalam

masyarakat tersebut telah mengalami pergeseran nilai-nilai sosial khususnya

nilai-nilai hukumnya. Dalam kasus ini pergeseran tersebut telah terjadi

dalam kedudukan wanita. Jika sebelumnya wanita dianggap berkedudukan

di bawah kaum laki-laki karena sistem kekerabatan yang bersifat patrilinial.

Situasi dan kondisi saat ini telah berubah dan sangat berbeda. Dalam

realita di tengah-tengah masyarakat adat dalam suku ini telah timbul nilai-

nilai hukum baru yang selaras dan sejalan dengan kebutuhan perkembangan

masyarakat itu sendiri. Dirasakan tidak adil lagi jika anak wanita dianggap

sebagai bukan ahli waris. Anak wanita sekarang sudah diakui sebagai ahli

waris. Oleh karena itu, kensekuensi logisnya, wanita harus mendapatkan

bagian sebagai ahli waris dari orangtuanya yang telah meninggal.

Berdasarkan hasil penelitian di Kecamatan Sembalun Kabupaten

Lombok Timur, menunjukkan bahwa hak mewaris anak angkat di dalam

pewarisan menurut hukum adat Sasak adalah sebagai ahli waris orangtua

angkatnya. Keadaan ini tidak berubah apabila setelah dilakukanya

pengangkatan anak, dan setelah itu pasangan tersebut baru dikaruniai anak.

Di dalam beberapa kasus yang peneliti temukan dilapangan ditemukan


87

setelah mengangkat anak mereka mempunyai anak kandung, maka anak

angkat tetap merupakan sebagai bagian dari ahli waris orangtua angkatnya.

Bapak Haji Purnipe menjelaskan mengenai hak mewaris anak angkat

yang selema ini berlaku dan berkembang di masyarakat Adat Sembalun. 61

Bahwa anak angkat berhak mewarisi harta orangtua angkatnya, yang dalam

hal ini semua harta pewaris termasuk harta pusaka (harta pusaka yang

dimaksud dalam hal ini adalah tanah pusaka, keris, cincin), dan anak angkat

tidak bisa mewaris harta orangtua angkatnya apabila harta tersebut

merupakan harta doe tengaq62 karena didalam harta tersebut masih

terdapat hak hak para saudara pewaris. Selain itu anak angkat juga berhak

mewarisi harta orangtua kandungnya, karena pengangkatan anak pada

masyarakat adat sasak merupakan pengangkatan anak yang tidak

memutuskan hubungan kekeluargaan antara anak angkat dengan orangtua

kandungnya.

61
Ibid, Wawancara dengan Bapak Haji Purnipe.
62
Harta Doe Tengaq adalah harta yang belum di bagi oleh pewaris dengan para ahli
warisnya (saudara saudara pewaris) karena harta ini merupakan harta yang di peroleh dari
orangtua pewaris atau dengan kata lain pewaris merupakan anak tertua sedangkan para ahli waris
lainnya merupakan ahli waris yang masih di bawah umur, sehingga pewaris diamanatkan untuk
menjaga warisan tersebut dalam jangka waktu penerima ahli warisnya sudah dewasa dan mampu
untuk menjaga dan membawa warisan tersebut sehingga di pergunakan sebagai mana mestinya.
88

Adapun yang dimaksud dengan Harta Doe Tengaq dapat kita lihat

pada gambar bagan di bawah ini:

P1 1957 B

1979 C
AII P2+A1 AIII

A2 A3

1983 1988

Gambar bagan : Harta Doe Tengaq

Penjelasan :

P1 : adalah Suami dari B dan orangtua kandung dari AI, AII, AIII.

B : adalah Istri dari P1.

P2 : Merupakan pewaris dan orangtua kandung A2, orangtua angkat A1.

AI : Merupakan saudara kandung AII, AII, dan anak pertama dari P1 dan C.

Dari gambar diatas dapat kita lihat berlangsungnya proses

pewarisan dari P1 terhadap anak-anaknya (AI, AII, AIII) karena kematian,

dikarenakan AIII masih di bawah umur dan belum bisa mengelola harta

warisannya sehingga dititipkan kepada AI untuk mengelola dan diberikan

ketika AII sudah menikah atau mampu mengelola harta warisan tersebut.
89

AI+P2 telah meninggal dunia dan meninggalkan seorang isteri dan dua anak

yang salah satunya merupakan anak angkat mewariskan hartanya tersebut

kepada ahli warisnya, akan tetapi harta yang merupakan bagian dari AIII

terbawa pembagiannya kepada para ahli waris dari P2+AI, harta tersebut

merupakan harta doe tengaq yang tidak boleh di bagi kepada para ahli waris

dari P2+AI dan harus diberikan kepada AIII.

Dari beberapa responden yang melakukan pewarisan terhadap anak

angkatnya, seperti apa yang di sampaikan oleh, Bapak Hafiz (Amaq Eka),

Bapak Agus Saleh (Amaq Mustiadi), dimana mereka berdua hanya memiliki

anak angkat tunggal dan memberikan seluruh hartanya yang berupa sawah,

ladang, dan rumah untuk anak angkatnya tanpa batas.63 Pemberian harta

tanpa batasan tersebut merupakan jenis harta pemberian, yang berbada

halnya dengan hibah.64

Hibah oleh Ter Haar disebut dengan toescbeidingen atau hibah wasiat

adalah salah satu cara dalam proses pewarisan yang digunakan oleh pewaris

(pemilik harta benda warisan) untuk mewariskan, meneruskan, atau

mengalihkan hak kepemilikan atas harta benda kepada ahli warisnya, ketika

si pewaris masih hidup. Proses penerusan melalui hibah dilakukan pada saat

pewaris masih hidup, sedangkan jika pengalihan hak kekuasaan dan

kepemilikan atas harta benda dilakukan ketika sipewaris meninggal dunia.65

63
Wawancara dengan Bapak Hafiz (Amaq Eka), dan Bapak Agus Saleh (Amaq Mustiadi),
pada hari Selasa dan Rabu tanggal 12 dan 13 pukul. 16.20 WIT
64
Op. Cit, Wawancara dengan Bapak Haji Purnipe.
65
Op. Cit, Dominitikus Rato, hlm, 207.
90

Pengaturan hibah dapat kita jumpai dalam Kitab Undang-undang

KUHPerdata pada Pasal 1666.66 Sedangkan ketentuan jumlah maksimal

hibah dapat kita jumpai dalam Kompilasi Hukum Islam pada Pasal 210 yang

menyatakan :

(1) Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun berakal sehat

tanpa adanya paksaan dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3

harta bendanya kepada orang lain atau lembaga di hadapan dua orang

saksi untuk dimiliki.


(2) Harta benda yang dihibahkan harus merupakan hak dari penghibah.

Proses daripada pemberian warisan tersebut dilakukan setelah pewaris

meninggal dunia dan disaksikan oleh beberapa orang saksi, diantaranya:67

1. Dua orang dari pihak keluarga pewaris.


2. Pemekel (kepala dusun) dan atau;
3. Seorang pemuka agama atau lebih.

Dan apabila pewaris meninggal dunia tanpa meninggalkan wasiat

apapun, maka pembagian harta warisan untuk para ahli waris dan anak

angkatnya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum adat yang berlaku,

dimana bagian untuk anak laki-laki 2 bagian (sepelembah) dan bagian untuk

anak perempuan 1 bagian (sepersonan).68

Jika di kaitkan juga dengan teori yang ketiga yaitu Teori Budaya

Hukum, dimana dalam teori Lawrence Meir Friedman yang ketiga

mengenai budaya hukum atau kultur hukum adalah sikap manusia terhadap
66
penghibahan adalah dengan mana seorang penghibah menyerahkan suatu barang
secara cuma-cuma, tanpa dapat menariknya kembali, untuk kepentingan seseorang yang menerima
penyerahan barang itu. Undang-undang hanya mengakui penghibahan-penghibahan antara orang-
orang yang masih hidup.
67
Op. Cit, Wawancara dengan Bapak Haji Purnipe.
68
Ibid, Wawancara dengan Bapak Haji Purnipe.
91

hukum dan sistem hukum kepercayaan, nilai, pemikiran, serta harapannya.

Kultur hukum adalah suasana pemikiran sosial dan kekuatan sosial yang

menentukan bagaimana hukum digunakan, dihindari, atau disalah gunakan.

Budaya hukum erat kaitannya dengan kesadaran hukum masyarakat.

Semakin tinggi kesadaran hukum masyarakat maka akan tercipta budaya

hukum yang baik dan dapat merubah pola pikir masyarakat mengenai

hukum selama ini. Secara sederhana, tingkat kepatuhan masyarakat terhadap

hukum merupakan salah satu indikator berfungsinya hukum.

Baik substansi hukum, struktur hukum maupun budaya hukum saling

keterkaitan antara satu dengan yang lain dan tidak dapat dipisahkan. Dalam

pelaksanaannya diantara ketiganya harus tercipta hubungan yang saling

mendukung agar tercipta pola hidup aman, tertib, tentram dan damai.

Hukum dipercaya sebagai suatu lembaga penyeimbang yang kuat

terhadap ancaman disintegrasi dalam hidup bermasyarakat akibat benturan

kekuatan yang sama-sama ingin berkuasa dan sekaligus membatasi

kesewenangan yang sedang berkuasa. Hukum dalam bentuknya yang asli

bersifat membatasi kekuasaan dan berusaha untuk memungkinkan

terjadinya keseimbangan dalam hidup bermasyarakat. Yang diharapkan akan

menjaga keseimbangan dengan menjunjung tinggi keadilan mengenai

pembagian harta warisan terhadap anak angkat dengan anak kandung

tersebut, karena menurut keterangan dari Bapak Haji Purnipe selaku tetua

adat atau tokoh adat di Kecamatan sembalun Kabupaten Lombok Timur

menjelaskan bahwa69 kedudukan anak angkat tersebut dalam hukum waris

69
Ibid, Wawancara dengan Bapak Haji Purnipe.
92

adat sasak disejajarkan atau di samakan kedudukannya dengan anak angkat

karena hal tersebut merupakan suatu ketentuan yang dijalankan secara turun

temurun dan merupakan awig-awig yang tidak tertulis.

Dari penjelasan ini jelaslah bahwa hak mewaris anak angkat menurut

Hukum Waris Adat Sasak diperlakukan sejajar dengan anak kandungnya.


93

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian dari pembahasan pada tesis ini, adapun

kesimpulan dari tesis ini antara lain :

1. Faktor-faktor yang melatar belakangi masyarakat adat sasak melakukan

pengangkatan anak yakni: faktor Kemandulan (suami), faktor tidak

memiliki anak laki-laki atau perempuan, dan adanya paradigma yang

diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang mereka dan

berkembang di masyarakat hingga saat ini yakni penoq anak penoq rizki

(apabila keluarga tersebut memiliki anak maka akan berlimpah pula

rizki yang di dapat dari yang maha kuasa).


2. Hak meawris anak angkat dalam persfektif hukum waris adat Sasak di

Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa

Tenggara Barat adalah disejajarkan kedudukannya dengan anak kandung

tanpa membeda-bedakan anak kandung dengan anak angkatnya, dan

dalam pembagian warisanya untuk bagian anak lakilaki dan wanita

yakni sepelembah, sepersonan yang artinya bagian laki-laki adalah

sepelembah atau dua pikulan yang diletakkan di atas bahu sedangkan

bagian wanita dikatakan sebagai sepersonan yaitu barang yang

dijunjung di atas kepala perempuan. Dengan kata lain untuk bagian anak

laki-laki adalah 2 (dua) bagian sedangkan anak perempuan 1 (satu)

bagian.
94

4.2 Saran

1. Meskipun pengangkatan anak telah dilakukan berdasarkan hukum adat

Sasak dengan upacara adat (Upacara molang maliq/syukuran), tetapi

perlu dilanjutkan dengan membuat penetapan dari Pengadilan Agama

agar mendapatkan kepastian hukum.


2. Dalam pembagian warisan terhadap para ahli waris haruslah dipisahkan

harta warisan yang tergolong harta warisan Doe Tengaq agar tidak

tercampur dengan harta bersama yang diberikan kepada ahli warisnya.


95

DAFTAR PUSTAKA
Buku-Buku

Ahmad Kamil dan M. Fauzan. Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak


di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.
Bushar Muhammad, Pokok-pokok Hukum Adat, Jakarta: Pradnya Paramita,
1981.
C. Dewi Wulansari, Hukum Adat Indonesia Suatu Pengantar, Bandung: Reflika
Aditama, 2010.
Domikus Rato, Hukum Perkawinan Dan Waris Adat di Indonesia, Yogyakarta:
Laksbang Pressindo, 2015
Eman Suparman, Intisari Hukum Waris Indonesia, Jakarta: Mundur Maju, 1991
, Hukum Waris Indonesia Dalam Prespektif Islam, Adat dan
BW, Bandung: Reflika Aditama, 2007
Hilman Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Bandung: Madar
Maju, 2003
............., Hukum Waris Adat, Bandung: Citra Aditya Bakti,
2015
., Hukum Keluarga Adat, Jakarta: Fajar Agung, 1987
Imam Sudiyat, Asas-asas Hukum Adat Bekal Pengantar, Liberty: Yogyakarta,
2010.
I Ketut Artadi, Hukum Adat Bali dan Aneka Masalahnya, Offset Grafika: Bali,
2002.
Titik Triwulan dan Trianto, Poligami Perspektif Perikatan Nikah, Jakarta: Presasi
Pustaka, 2007.
Muderis Zaini, Adopsi Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, Jakarta: Sinar
Grafika, 1995.
Rusli Pandika. Hukum Pengangkatan Anak, Jakarta: Sinar Grafika, 2012.
R. Soeroso, Perbandingan Hukum Perdata, Jakarta: Sinar Grafika, 2007.
Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Pers, 1986.
96

. dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta:


Rajawali, 1984.
Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:
Rineka Cipta, 1997.
Surojo Wignjodipoero, Intisari Hukum Keluarga, Bandung: Alumni, 1973.
Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana, Jakarta, 2008.
Praturan Perundang-undangan

Kompilasi Hukum Islam


Undang undang nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan
Kitab Undang undang Hukum Perdata (BW)

Makalah/ Jurnal

Andika Prima, Warisan bagi anak angkat menurut islam dan Kompilasi Hukum
Islam, (http://andikaprima.blogspot.co.id/2011/05/warisan-bagi-anak-
angkat-menurut-islam.html)
Bahtiar Alfahrosi, Kedudukan Anak Angkat Sebagai Ahli Waris Orangtua
Angkat (Studi Persepsi Pada Masyarakat Adat Osing di Desa
Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi), Malang:
Artikel, 2014.
Bambang Yunarko, Pilihan Hukum Waris Bagi Orang Di Indonesia Beragama
Islam (Perspektif Volume X Nomor 3, Surabaya: ejournal, 2005