Anda di halaman 1dari 4

Perdagangan bebas (free trade) akan dapat memaksimalkan output dunia dan keuntungan

bagi setiap negara yang terlibat di dalamnya. Namun kenyataannya, hampir setiap negara
masih menerapkan berbagai bentuk hambatan terhadap berlangsungnya perdagangan
internasional secara bebas, terutama yang berkaitan erat dengan praktek dan kepentingan
perdagangan atau komersial dari masing-masing negara. Hambatan-hambatan tersebut biasa
disebut kebijakan perdagangan (trade policy) atau kebijakan komersial (commercial
policy).

Salah satu bentuk hambatan perdagangan yang paling penting adalah tarif. Tarif merupakan
bentuk kebijakan perdagangan yang paling tua dan secara tradisional telah digunakan
sebagai sumber penerimaan pemerintah sejak lama.

Analisis Keseimbangan Parsial Akibat Pemberlakuan Tarif

Merupakan instrumen analitis paling sesuai untuk mempelajari kasus pemberlakuan tarif
oleh sebuah negara kecil, serta keterkaitannya dengan output industri domestiknya yang
juga relatif kecil.

Jenis-jenis tarif ditinjau dari mekanisme perhitungannya yaitu:

1. Tarif ad valorem (ad valorem tariffs), adalah pajak yang dikenakan berdasarkan
angka presentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor. Misalnya: suatu
negara memungut tarif 25% atas harga dari setiap unit mobil yang diimpor.
2. Tarif spesifik (specific tariffs), adalah tarif yang dikenakan sebagai beban tetap
unit barang yang diimpor. Misalnya: pungutan 3 dollar untuk setiap barel minyak.
3. Tarif campuran (compound tariff), adalah gabungan dari tarif ad valorem dan tarif
spesifik. Di samping mengenakan pungutan dalam jumlah tertentu, tarif ini juga
memungut sekian persen lagi.

Dampak-Dampak Keseimbangan Parsial Akibat Pemberlakuan Tarif

Dampak pemberlakuan tarif terhadap konsumsi (consumption effect of the tariff),


yaitu berkurangnya konsumsi domestik akibat pengenaan tarif ad valorem.
Dampak pengenaan tarif terhadap produksi (production effect of the tariff), yaitu
peningkatan produk domestik akibat adanya tarif.
Dampak pengenaan tarif terhadap perdagangan (trade effect of the tariff), yaitu
terjadinya penurunan terhadap impor.
Dampak pengenaan tarif terhadap penerimaan pemerintah (revenue effect of the
tariff), yaitu terciptanya pemasukan bagi pemerintah.

Dampak-dampak keseimbangan umum dari pemberlakuan tarif di Negara kecil

Ketika sebuah Negara kecil memberlakukan tariff terhadap barang-barang impornya, tidak
akam mempengaruhi harga-harga barang di pasaran internasional. Tetapi harga barang
domestic sendri yang berubah, sehingga, pihak yang harus menghadapi segara implikasi
kenaikan harga-harga adalah konsumen dan produsen di Negara kecil yamg bersamgkutan
tetapi harga perekonomian Negara kecil tersebut secara keseluruhan tetap konstan, karena
kenaikan harga akibat tarif itu diimbangi oleh perciptanya pemasukan pajak bagi
pemerintah

Pemerintah dineraga kecil yang mengenakan tarif ini semata-mata sebagai alat untuk
menghimpun dana demi memberi subsidi baga konsumen public. Artinya pemerintah negar
kecil tersebut tidak ingin mengenakan pajak internal yang terlalu besar terhadap warganya
guna membiayai aneka pengeluaran Negara, dan sebagai gantinya , pemerintah memungut
pajak impor.

Ilustrasi:

Dengan adanya tarif, tingkat kesejahteraan negara yang bersangkutan menjadi lebih
rendah dibandingkan dengan kondisinya di masa perdagangan bebas. Penurunan
kesejahteraan bersumber dari dua sebab, yakni :

a) Perekonomian tidak lagi berproduksi pada titik yang memaksimumkan nilai


pendapatan dan harga dunia

b) Konsumen tidak dapat lagi berkonsumsi pada kurva indiferen tertinggi yang
memaksimumkan kesejahteraan.

Baik (a) maupun (b) diakibatkan oleh kenyataan bahwa konsumen dan produsen domestik
menghadapi harga yang berbeda dengan harga dunia. Penurunan kesejahteraan (The Loss in
Welfare) terjadi karena kegiatan produksi yang tidak efisien. Hal ini merupakan kondisi (a)
padanan keseimbangan umum dari kerugian akibat piuh produksi (production distortion loss)
yang melambangkan penurunan kesejahteraan sebagai akibat dari konsumsi yang tidak
efisien sehingga ini juga merupakan (b) padanan dari kerugian akibat piuh konsumsi
(Consumption Distortion Loss). Volume Perdagangan mengalami kemerosotan dengan adanya
tarif. Volume serta nilai-nilai ekspor dan impor sama-sama turun segera setelah
dilaksanakannya pengenaan tarif itu dibandingkan dengan sebelumnya ketika perdagangan
masih berlangsung secara bebas.

Dampak-Dampak Keseimbangan Umum Dari Pemberlakuan Tarif Di Negara Besar

Pemberlakuan Tarif oleh pemerintah negara besar yang bersangkutan akan menurunkan
volume perdagangannya, namun dalam waktu bersamaan juga akan meningkatkan nilai tukat
perdagangannya (terms Of Trade). Volume Perdagangan itu sendiri cenderung menurunkan
tingkat kesejahteraan negara besar tadi secara keseluruhan, sekalipun di sisi lain
meningkatnya nilai tukar perdagangan cenderung menambah kesejahteraannya. Tentu saja
meningkat atau menurunnya kesejahteraan negara tersebut ditentukan oleh kekuatan yang
lebih unggul, yakni apakah kekuatan positif dari perbaikan nilai tukar perdagangan atau
kekuatan negatif yang diakibatkan oleh kemerosotan volume perdagangan.

Biaya dan Manfaat Tarif

Tarif dapat meningkatkan barang di negara pengimpor sehingga kalangan konsumen di


negara pengimpor secara relatif merugi, sedangkan para produsen di negara pengimpor
memperoleh keuntungan.Jadi tarif membawa biaya sekaligus manfaat.

Saat pemerintah mengenakan tarif sebesar 100% terhadap barang impor maka harga
barang X langsung mengalami kenaikan dari 1 dolar menjadi 2 dolar. Konsumsi atas komoditi
ini pun turun dari 70 unit menjadi 50 unit. Dalam waktu bersamaan, produsen domestik
meningkatkan produksinya dari 10 unit menjadi 20 unit. Impor turun dari 60 unit menjadi
30 unit dan pemerintah menerima pemasukan sebesar 30 dolar dalam bentuk pajak impor.
Hal ini menyebabkan surplus konsumen mengalami penurunan sebesar 60 dolar dan
peningkatan surplus produsen sebesar 15 dolar. Dari total kerugian konsumen itu, 30 di
antaranya diterima oleh pemerintah dalam bentuk pajak impor, kemudian 15 dolar lainnya
diredistribusikan kepada para produsen barang X di dalam negeri dalam bentuk kenaikan
rente atau surplus produsen, 15 dolar sisanya merupakan biaya proteksi (protection cost)
atau biaya bobot mati (deadweight lost) yang merupakan bentuk kerugian yang harus
ditanggung oleh perekonomian negara bersangkutan.

Dampak Pengenaan tarif

1. Harga barang impor menjadi lebih mahal.


Hal ini menyebabkan penurunan konsumsi oleh konsumen, produsen akan
memproduksi barang dimana biaya marjinal (marginal cost) sama dengan harga
setelah tarif.
2. Meredistribusikan pendapatan dari konsumen domestik ke produsen domestik.
3. Mereditribusikan pendapatan dari sektor ekonomi yang sumber dayanya melimpah ke
sektor lain yang sumber dayanya kurang kompetitif.
Komponen produksi dari biaya proteksi atau biaya bobot mati akan mengalami
kenaikan karena pemberlakuan tarif impor. Hal ini mengakibatkan adanya pengalihan
sumber daya dari sektor ekonomi yang sumber dayanya melimpah (komoditi yang
biasa diekspor) ke sektor lain yang sumber dayanya kurang kompetitif (komoditi
yang lebih menguntungkan jika diimpor dari negara lain).
4. Dampak negatif tarif berupa production distortion lost.
Tarif menyebabkan produsen domestik memproduksi terlalu banyak barang sehingga
tidak semuanya bisa dijual dengan harga yang menguntungkan
5. Consumption distortion loss yaitu menyebabkan konsumen mengonsumsi barang
terlalu sedikit

Teori Struktur Tarif


Tarif nominal adalah angka yang dinyatakan sebagai pajak impor. Dalam kenyataannya tarif
menimbulkan dampak proteksi yang lebih besar daripada angka tersebut.
Olleh sebab itu kita harus mempelajari pengertian , cara penghitungan dan arti penting
tingkat proteksi efektif tersebut.

Tingkat Proteksi Efektif

Tingkat proteksi efektif yang dihitung atas dasar nilai tambah domestik, atau keuntungan
dari proses manifaktur di dalam negeri, akan jauh melampaui tingkat tarif nominal
( dihitung atas dasar harga komoditi final atau setelah kena pajak ).

Nilai tambah domestik = harga final komoditi - biaya impor barang input untuk keperluan
produksi komoditi tersebut di dalam negeri.

Tingkat proteksi efektif penting bagi para produsen dan para pembuat keputusan (yang
memutuskan tarif) untuk mengetahui seberapa efektifkah proteksi yang di berikan
pemerintah bagi proses manufaktur domestik.

Pada dasarnya pengenaan tarif atau bea masuk terhadap barang impor akan meningkatkan
harga barang yag dihasilkan produsen dalam negeri. Dampak ini yang menjadi tujuan
pengenaan tarif untuk melindungi produsen dalam negeri terhadap persaingan impor yang
harganya lebih murah. Namun seberapa besar tarif dikenakan harus hati-hati dalam
memutuskan karena akan berdampak seberapa besar proteksi yang di berikan.
Contoh : produsen kain wool domestik memerlukan impor kain wool 80 dolar, dan harga
pasaran internasional mantel wool jadi 100, dan pemerintah mengenakan tarif 10% untuk
mantel wool jadi. Maka harga mantel di dalam negeri pun 110. Maka produsen mendapat
keuntungan lebih dari sebelum di kenakan tarif, dari yang sebelumnya 20 menjadi 30. Dan
terdapat kenaikan keuntungan sebesar 50% ((10/20)x100%=50%). Dengan demikian
proteksi efektifnya sebesar 50%.