Anda di halaman 1dari 860

PEMBAHASAN

TO 3 OPTIMAPREP BATCH IV
UKMPPD 2015
dr. Yolina, dr. Retno, dr. Yusuf, dr. Resthie, dr. Reza, dr. Widya
dr. Cemara, dr. Zanetha

OFFICE ADDRESS:
Jl padang no 5, manggarai, setiabudi, jakarta selatan Medan :
(belakang pasaraya manggarai) Jl. Setiabudi no. 65 G, medan P
phone number : 021 8317064 Hone number : 061 8229229
pin BB 2A8E2925 Pin BB : 24BF7CD2
WA 081380385694 Www.Optimaprep.Com
ILMU PENYAKIT DALAM
1. Pharmacology
Rifampin menginduksi enzim CYP1A2, 2C9, 2C19, & 3A4 di
hepar menurunkan waktu paruh berbagai obat:
HIV protease & non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors,
digitoxin, digoxin, quinidine,
ketoconazole,
propranolol, metoprolol, verapamil,
clofibrate, methadone,
corticosteroids, oral contraceptives
oral anticoagulants,
theophylline,
barbiturates,
fluconazole,
sulfonylureas

Goodman & Gillman Pharmacology.


2. Hepatitis Virus
HBsAg (the virus coat, s= surface)
Penanda serologis pertama yang terdeteksi.
HBeAg
Produk degradasi dari HBcAg.
Penanda replikasi HBV.
HBcAg (c = core)
Ditemukan di inti hepatosit.
Tidak ditemukan dalam bentuk bebas di
serum.
Anti-HBs
Penanda imunitas.
Anti-Hbe
Menandakan berhentinya infektivitas di
tubuh.
Anti-HBc
Respons imunologi pertama terhadap HBV
Dapat dideteksi saat window period.

Principle & practice of hepatology.


2. Hepatitis Virus
3. Tuberkulosis
Untuk pemantauan pengobatan dilakukan 2 kali BTA (sewaktu,
pagi). Bila salah satu/keduanya (+), maka hasil dinyatakan BTA (+)
Tipe pasien TB Waktu Periksa Hasil BTA Tindak Lanjut
Pasien baru BTA (+), Akhir tahap (-) Tahap lanjutan dimulai
OAT kategori 1 intensif
(+) OAT sisipan 1 bulan, jika masih (+) tahap
lanjutan tetap diberikan
Sebulan sebelum (-) Sembuh
akhir ATAU di akhir
(+) Gagal, mulai OAT kategori 2
pengobatan
Pasien baru BTA (-) & Akhir intensif (-) Berikan pengobatan tahap lanjutan s.d.
Roentgen (+) dengan selesai, kemudian pasien dinyatakan
OAT kategori 1 pengobatan lengkap
(+) Ganti dengan kategori 2 mulai dari awal
Penderita baru BTA Akhir intensif (-) Teruskan pengobatan dgn tahap lanjutan
(+), dengan
(+) OAT sisipan 1 bulan, jika masih (+) tahap
pengobatan ulang
lanjutan tetap diberikan. Uji resistensi.
OAT kategori 2
Sebulan sebelum (-) Sembuh
akhir atau di akhir
(+) Belum ada obat, disebut kasus kronk. Rujuk.
pengobatan
Pelatihan DOTS. Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI; 2008.
4. Acute Kidney Injury

Kidney International Supplements (2012) 2, 812; doi:10.1038/kisup.2012.7


4. Acute Kidney Injury
FENa = Fractional excretion of Na
BUN = blood urea nitrogen, dihitung dari kadar Urea x 0,46
5. Intoksikasi Asam Jengkolat
Jengkol mengandung asam jengkolat & sulfur yang dapat mengkristal di
tubulus renal menimbulkan uropati obstruktif, acute kidney injury, atau
penyakit ginjal kronik.

Intoksikasi akut dapat terjadi 5-12 jam setelah makan jengkol

Manifestasi klinis:
Nyeri pinggang
Kolik abdomen
Oliguria
Hematuria

Terapi:
Hidrasi agresif untuk meningkatkan aliran urine
Alkalinisasi dengan Na bikarbonat untuk melarutkan kristal asam jengkolat
6. Infeksi HIV
Untuk memulai terapi antiretroviral perlu
dilakukan pemeriksaan jumlah CD4 (bila tersedia)
dan penentuan stadium klinis infeksi HIV-nya.

Rekomendasi :
Mulai terapi ARV pada semua pasien dengan jumlah
CD4 <350 sel/mm3 tanpa memandang stadium
klinisnya.
Terapi ARV dianjurkan pada semua pasien dengan TB
aktif, ibu hamil dan koinfeksi Hepatitis B tanpa
memandang jumlah CD4.

Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada orang Dewasa Kementerian. Kemenkes 2011.
6. Infeksi HIV

Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada orang Dewasa Kementerian. Kemenkes 2011.
Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral pada orang Dewasa Kementerian. Kemenkes
2011.
6. Infeksi HIV

Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada orang Dewasa Kementerian. Kemenkes 2011.
Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV
dan Terapi Antiretroviral pada orang Dewasa
Kementerian. Kemenkes 2011.
7. Takikardia

Kardioversi:
Atrial fibrilasi & VT monomorfik: dilakukan berjenjang 100 J, 200 J, 300 J, dan 360 J.
Atrial flutter & SVT: mulai 50 J, jika gagal dilakukan berjenjang 100 J, 200 J, 300 J, dan 360 J.
VT polimorfik: 360 J.
Ventricular tachycardia:
The rate >100 bpm
Broad QRS complex (>120 ms)
Regular or may be slightly irregular
8. GERD
Definition:
a pathologic condition of symptoms & injury to the
esophagus caused by percolation of gastric or
gastroduodenal contents into the esophagus associated
with ineffective clearance & defective gastroesophageal
barrier.

Symptoms:
Heartburn; midline retrosternal burning sensation that
radiates to the throat, occasionally to the intrascapular
region.
Others: regurgitation, dysphagia, regurgitation of excessive
saliva.

GI-Liver secrets
8. GERD
8. GERD

Management:
Aggressive lifestyle modification & pharmacologic therapy.
Surgery is encouraged for the fit patient who requires chronic
high doses of pharmacologic therapy to control GERD or who
dislikes taking medicines.
Endoscopic treatments for GERD are very promising, but
controlled long-term comparative trials with proton pump
inhibitors and/or surgery are lacking.
Lilly LS. Pathophysiology of heart disease. 5th ed. Lipincott Williams & Wilkins; 2011.
9. Artritis Gout
Gout:
Transient attacks of acute
arthritis initiated by
crystallization of urates
within & about joints,

leading eventually to
chronic gouty arthritis &
the appearance of tophi.

Tophi: large aggregates of


urate crystals & the
surrounding
inflammatory reaction.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.


McGraw-Hill; 2011.
Robbins pathologic basis of disease. 2007.
Acute Gout Tophy in chronic gout
Current diagnosis & treatment in rheumatology. 2nd ed. McGraw-Hill; 2007.
9. Artritis Gout
Tujuan penanganan serangan akut untuk meredakan nyeri dengan
cepat.
NSAID: indometasin 150-200 mg/hari, 2-3 hari, lalu 75-100 mg sampai
minggu berikutnya/radang berkurang. Harrisons: 3 x 25-50 mg/hari.
Colchicine: 0,5-0,6 mg, 3-4 kali/hari, maksimal 6 mg
Corticosteroid if NSAID is contraindicated.

Pencegahan serangan dengan menurunkan asam urat:


Allopurinol (lini 1): 300 mg/hari, maksimal 800 mg dosis terbagi
Probenecid: 2x250 mg/hari minggu pertama, selanjutnya 2x500 mg,
maksimal 2-3 g/hari.

Agen penurun asam urat tidak diberikan saat serangan akut, kecuali
sudah rutin diminum dari sebelum serangan.

HCT dapat menyebabkan hiperurisemia sehingga diganti obat


antihipertensif lain.
Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi IV.
Current diagnosis & treatment in rheumatology. 2nd ed. McGraw-Hill; 2007.
Physician drug handbook.
9. Artritis Gout
Adverse effects of sulfonamide type
(CA inhibitor, thiazide, loop)
diuretics:
hypokalemia is a consequence of
excessive K+ loss in the terminal
segments of the distal tubules
where increased amounts of Na+
are available for exchange with K+
hyperglycemia and glycosuria
Hyperuricemia: increase in serum
urate levels may precipitate gout in
predisposed patients.
Sulfonamide diuretics compete
with urate for the tubular organic
anion secretory system.

Color atlas of pharmacology.


Katzungs basic and clinical pharmacology
10. Diabetes
meglitinide

TZD

Glucose undergoes oxidative metabolism in the cell to yield ATP. ATP inhibits an
inward rectifying K+ channel receptor on the -cell surface. Inhibition of this receptor
leads to membrane depolarization, influx of Ca [2]+ ions, and release of stored insulin
from cells. The sulfonylurea class of oral hypoglycemic agents bind to the SUR1
receptor protein.
10. Diabetes

PERKENI. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di indonesia. 2006.
10. Diabetes
Cara Pemberian obat antidiabetik oral, terdiri dari:
Obat dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara
bertahap sesuai respons kadar glukosa darah, dapat
diberikan sampai dosis optimal
Sulfonilurea: 15 30 menit sebelum makan
Repaglinid, Nateglinid: sesaat sebelum makan
Metformin : sebelum /pada saat / sesudah makan
Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama makan
suapan pertama
Tiazolidindion: tidak bergantung pada jadwal makan.
DPP-IV inhibitor dapat diberikan bersama makan dan atau
sebelum makan.

PERKENI. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di indonesia. 2006.
11. Asma

Asma: pedoman diagnosis & penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan dokter paru indonesia. 2004.
11. Asma
11. Asma
12. Hipertensi

Krisis hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak, sistol
180 mmHg dan/atau diastol 120 mmHg, pada penderita hipertensi.
Hipertensi emergensi: disertai kerusakan organ target yang progresif. TD harus diturunkan
dalam kurun menit/jam.
Hipertensi urgensi: tidak disertai kerusakan organ target. TD harus diturunkan dalam 24-48
jam.
Harrisons principles of internal medicine. 19th ed. 2015.
Ringkasan eksekutif krisis hipertensi. Perhimpunan hipertensi indonesia.
13. Dislipidemia
TLC: therapeutic lifestyle change
13. Dislipidemia
Indikasi tatalaksana peningkatan LDL
berdasarkan stratifikasi risiko KV

Target LDL di bawah angka ini, jika


lebih maka mulai intervensi

Faktor risiko: laki-laki 45 tahun, perempuan 55 tahun, perokok, hipertensi, HDL < 40 mg/dL, riwayat PJK dini
di keluarga (laki-laki <55 th, perempuan <65 th). Jika HDL > 60 mg/dL, kurangi 1 jumlah faktor risiko.
CHD equivalent risk: DM, penyakit arteri perifer, aneurisma aorta abdominalis, penyakit arteri karotis (TIA,
stroke karena kelainan di a. Karotis)
13. Dislipidemia

Pocket medicine. 5th ed. 2014.


14-15. Infeksi
Infection through the
mucosa or wounded skin

Proliferate in the
bloodstream or
extracellularly within organ

Disseminate
hematogenously to all
organs

Multiplication can cause:


Hepatitis, jaundice, & hemorrhage in the liver
Uremia & bacteriuria in the kidney
Aseptic meningitis in CSF & conjunctival or scleral hemorrhage in the aqueous humor
Muscle tenderness in the muscles Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.
14-15. Infeksi
Anicteric leptospirosis (90%), Icteric leptospirosis or Weil's
follows a biphasic course: disease (10%), monophasic
Initial phase (47 days): course:
sudden onset of fever,
severe general malaise, Prominent features are renal and
liver malfunction, hemorrhage
muscular pain (esp calves), and impaired consciousness,
conjunctival congestion,
leptospires can be isolated from The combination of a direct
most tissues. bilirubin < 20 mg/dL, a marked
in CK, & ALT & AST <200 units is
Two days without fever follow. suggestive of the diagnosis.
Second phase (up to 30 days): Hepatomegaly is found in 25% of
leptospires are still detectable in cases.
the urine.
Circulating antibodies emerge, Therapy is given for 7 days :
meningeal inflammation, uveitis & Penicillin (1.5 million units IV
rash develop. or IM q6h) or
Therapy is given for 7 days: Ceftriaxone (1 g/d IV) or
Doxycycline 2x100 mg (DOC) Cefotaxime (1 g IV q6h)
Amoxicillin 3x500 mg
Ampicillin 3x500 mg
14-15. Infeksi
Sherris medical microbiology, Bailey and scott diagnostic microbiology,
clinical laboratory diagnosis of leptospirosis.
16. Hemostasis
Aspirin menghambat
COX-1 PGG2 turun
sehingga menghambat
aktivasi trombosit
mengganggu agregasi
trombosit.

Aspirin inhibition of COX-1 decreases TXA2 production. Source: Gasparyan, A. Y. et al. J Am Coll Cardiol 2008;51:1829-1843.
16. Hemostasis

http://ceaccp.oxfordjournals.org/content/early/2010/09/29/bjaceaccp.mkq038/F1.expansion.html
17-18. SLE
Systemic lupus
erythematosus:
an autoimmune
disease
organs & cells
undergo damage
initially mediated by
tissue-binding
autoantibodies &
immune complexes.

Robbins & Cotran pathologic basis of diseases. 2010.


17-18. SLE

Harrisons principles of internal medicine. 19th ed. 2015.


17-18. SLE

Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia Untuk Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. 2011.
Bila dijumpai 4 atau lebih kriteria diatas, diagnosis SLE memiliki
sensitivitas 85% & spesif
isitas 95%.
Sedangkan bila hanya 3 kriteria dan salah satunya ANA positif, maka
sangat mungkin SLE dan diagnosis bergantung pada pengamatan klinis.
Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia Untuk Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. 2011.
Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia Untuk Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. 2011.
19. Penyakit Katup Jantung
Gejala klasik stenosis aorta:
Angina,
Effort syncope,
Secara umum, sinkop terjadi karena perfusi serebral yang
inadekuat. Sinkop sering terjadi saat exercise.
Gagal jantung kongestif.

Tanda:
Murmur ejeksi sistolik di sela iga 2 linea sternalis dekstra

CXR:
Biasanya normal karena hipertrofi konsentrik. Pada tahap lanjut
hipertrofi ventrikel kiri (apeks tertanam)
19. Penyakit Katup Jantung

Lilly LS. Pathophysiology of heart disease. 5th ed. Lipincott Williams & Wilkins; 2011.
20-21. Terapi TB
Tipe pasien TB Waktu Periksa Hasil BTA Tindak Lanjut
Pasien baru BTA (+), Akhir tahap (-) Tahap lanjutan dimulai
OAT kategori 1 intensif
(+) OAT sisipan 1 bulan, jika masih (+) tahap
lanjutan tetap diberikan
Sebulan sebelum (-) Sembuh
akhir ATAU di
(+) Gagal, mulai OAT kategori 2
akhir pengobatan
Pasien baru BTA (-) & Akhir intensif (-) Berikan pengobatan tahap lanjutan s.d.
Roentgen (+) OAT selesai, kemudian pasien dinyatakan
kategori 1 pengobatan lengkap
(+) Ganti dengan kategori 2 mulai dari awal
Pasien baru BTA (+), Akhir intensif (-) Teruskan pengobatan dgn tahap lanjutan
OAT kategori 2
(+) OAT sisipan 1 bulan, jika masih (+) tahap
lanjutan tetap diberikan. Uji resistensi.
Sebulan sebelum (-) Sembuh
akhir atau di akhir
(+) Belum ada obat, disebut kasus kronk. Rujuk.
pengobatan
Pelatihan DOTS. Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI; 2008.
Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan
Lacak pasien, diskusikan apa penyebab berobat tidak teratur, lanjutkan dosis sampai selesai
Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan
Tindakan 1 Tindakan 2
Lacak pasien, Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis
diskusikan & TB ekstra paru selesai
temukan apa Bila 1 atau lebih hasil Lama pengobatan Lanjutkan pengobatan
masalahnya BTA (+) sebelumnya < 5 sampai seluruh dosis
Periksa SPS bulan selesai & periksa dahak 1
bulan sebelum selesai.
Lama pengobatan Kategori 1: mulai kategori 2
sebelumnya > 5 Kategori 2: rujuk, mungkin
bulan kasus kronik
Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih dari 2 bulan (default)
Lacak pasien, Bila hasil BTA (-) atau Pengobatannya dihentikan, pasien diobservasi
diskusikan & TB ekstra paru bila gejala semakin parah perlu dilakukan
temukan apa pemeriksaan kembali (SPS atau biakan)
masalahnya Bila 1 atau lebih hasil Sebelumnya kategori 1: mulai kategori 2
Periksa SPS BTA (+) Sebelumnya kategori 2: rujuk, mungkin kasus
kronik
Jika memungkinkan seharusnya diperiksa uji resistensi terhadap OAT
Pelatihan DOTS. Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI; 2008.
22. Asma
22. Asma
23. JNC VIII
23. JNC VIII
JNC VIII tidak
mewajibkan satu
obat tertentu untuk
memulai terapi
hipertensi.

Namun, ditinjau dari


keluaran gagal
jantung, diuretik &
ACE-I lebih efektif
dibanding golongan
lain.
24. Anafilaksis

World Allergy Organization


anaphylaxis guidelines:
Summary
24. Anafilaksis

World Allergy Organization


anaphylaxis guidelines:
Summary
25. Penyakit Paru
Klasifikasi PPOK
Faktor risiko: - Sesak napas
- Usia - Batuk kronik, produksi sputum
- Riwayat pajanan: asap rokok, polusi - Keterbatasan aktivitas
udara, polusi tempat kerja

Hiperinflasi Pemeriksaan fisis


Hiperlusen
Diafragma mendatar
Pemeriksaan foto toraks Infiltrat massa
Corakan bronkovaskuler
Bulla
Jantung pendulum Curiga PPOK

Fasilitas spirometri (-) Fasilitas spirometri (+) Bukan PPOK

Normal 30% < VEP1 < 70% prediksi


PPOK secara klinis VEP1/KVP<80%

Berisiko PPOK PPOK derajat I/II/III/IV

Pedoman praktis diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia


26. Anaemia
26. Anemia

Hoffbrand essential hematology.


26. Anemia

Harrisons principles of internal medicine.


26. Anemia

Wintrobe Clinical Hematology. 13 ed.


27. Hipertensi
Beta bloker menurunkan volume ekspirasi paksa & respons
obat bronkodilator.

ACE inhibitor sebaiknya dihindari karena memiliki efek


samping menginduksi batuk dan bronkospasme yang
diakibatkan oleh penumpukan kinin di jaringan paru.

ARB juga dapat menginduksi batuk, meskipun insidensnya


lebih rendah dari ACE-I.

Calcium antagonist tidak memiliki efek samping yang


mengganggu saluran napas & memiliki sedikit efek
menurunkan reaktivitas bronkus.
27. Hipertensi
27. Hipertensi
28. Hipertensi Pada DM
28. Hipertensi Pada DM
Hipertensi pada DM, PERKENI 2011:
Indikasi pengobatan :
Bila TD sistolik >130 mmHg dan/atau TD diastolik >80 mmHg.
Target tekanan darah:
Tekanan darah <130/80 mmHg
Bila disertai proteinuria 1gram /24 jam: < 125/75 mmHg

ACE-I, ARB, & antagonis kalsium golongan non-dihidropiridin dapat


memperbaiki mikroalbuminuria.
Pengobatan hipertensi harus diteruskan walaupun sasaran sudah
tercapai.
Bila tekanan darah terkendali, setelah satu tahun dapat dicoba
menurunkan dosis secara bertahap.
29. Gastrointestinal Bleeding
Bleeding from the gastrointestinal (GI) tract may present in 5 ways:
Hematemesis: vomitus of red blood or "coffee-grounds" material.
Melena: black, tarry, foul-smelling stool.
Hematochezia: the passage of bright red or maroon blood from the rectum.
Occult GI bleeding: may be identified in the absence of overt bleeding by a
fecal occult blood test or the presence of iron deficiency.
Present only with symptoms of blood loss or anemia such as lightheadedness,
syncope, angina, or dyspnea.

Harrisons principles of internal medicine


29. Gastrointestinal Bleeding
Specific causes of upper GI bleeding may be suggested
by the patient's symptoms:
Peptic ulcer:
epigastric or right upper quadrant pain
Esophageal ucer:
odynophagia, gastroesophageal reflux, dysphagia
Mallory-Weiss tear:
emesis, retching, or coughing prior to hematemesis
Variceal hemorrhage or portal hypertensive gastropathy:
jaundice, weakness, fatigue, anorexia, abdominal distention
Malignancy:
dysphagia, early satiety, involuntary weight loss, cachexia
29. Gastrointestinal Bleeding
Epigastric pain described as a burning or gnawing discomfort can
be present in both duodenal ulcer & gastric ulcer.
H. pylori and NSAID-induced injury account for the majority of Dus

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. 2011.


29. Gastrointestinal Bleeding
Management
ABC
NGT Bleeding evaluation.
Gastric wash is still controversial, but useful in
cirrhosis case to prevent encephalopathy.

Fluid rescucitation NaCl 0,9% before PRC available


Active & massive bleeding: whole blood (contain
coagulation factor)
Drugs Acid supressor: ranitidin, omeprazol IV
Gastric acid may disturb coagulation process or fibrin
formation.
Nutrition Active bleeding: parenteral
Endoscopy Diagnostic & therapeutic.

Penatalaksanaan kedaruratan di bidang ilmu penyakit dalam.


SIGN: Management of acute upper andlower gastrointestinal bleeding.
29. Gastrointestinal Bleeding
We suggest that patients with acute upper GI bleeding be started
empirically on an intravenous (IV) PPI.

In the setting of active upper GI bleeding from an ulcer, acid


suppressive therapy with H2 receptor antagonists has not been
shown to significantly lower the rate of ulcer rebleeding.
By contrast, high dose intravenous infusion of a PPI significantly
reduces the rate of rebleeding compared with standard treatment
in patients with bleeding ulcers.

PPIs may also promote hemostasis in patients with lesions other


than ulcers. This likely occurs because neutralization of gastric acid
leads to the stabilization of blood clots.

Approach to acute upper gastrointestinal bleeding in adults. Author: John R Saltzman, MD, FACP, FACG, FASGE, AGAF.
Section Editor: Mark Feldman, MD, MACP, AGAF, FACG. Deputy Editor Anne C Travis, MD, MSc, FACG, AGAF. Uptodate.com.
30. Pleuritis
Pleuritis sicca/dry pleuritis/pleuritis adhesiva/pleuritis fibrinosa
Eksudat terutama fibrin, menyebabkan friksi & adhesi antar lapisan
pleura.
Dapat ditemukan pada pneumonia bakterial, tuberkulosis, demam
reumatik
Gejala: nyeri tajam, menusuk di pinggir bawah dada, nyeri saat batuk atau
menarik napas.
Tanda: pleural friction rub

Pleuritis eksudatif/wet pleuritis


Eksudasi terutama berupa cairan
Dapat ditemukan pada pneumonia, infeksi viral, tuberkulosis
Gejala serupa dengan pleuritis sicca, bisa ditemukan sesak napas.

Pada kasus di soal, sesak dan suara napas melemah menandakan


eksudasi. Tidak disebutkan adanya pleural friction rub, sehingga
diagnosisnya adalah pleuritis eksudatif.
ILMU BEDAH
31. Flail Chest
A flail chest occurs when a segment of the
rib cage breaks under extreme stress and
becomes detached from the rest of the
chest wall.
This is usually defined as at least two
fractures per rib (producing a free
segment), in at least two ribs.
some definitions require three or more
ribs in two or more places
Flail Chest - causes
Most Common Vehicle Accidents (76%)

Second most common Falls, especially


in elderly population (weak, frail bones)
(14%)

Third most common blunt trauma in


children, especially those with genetic
conditions, eg. Osteogenesis Imperfecta.
Flail Chest What is happening..?
During normal
inspiration, the
diaphragm contracts
and intercostal
muscles pull the rib
cage out. Pressure in
the thorax decreases
below atmospheric
pressure, and air
rushes in through the
trachea.
Flail Chest What is happening..?
The flail segment will
be pulled in with the
decrease in pressure
while the rest of the
rib cage expands.
Flail Chest What is happening..?
During normal
expiration, the
diaphragm and
intercostal muscles
relax increasing
internal pressure,
allowing the
abdominal organs to
push air upwards and
out of the thorax.
Flail Chest What is happening..?
However, a flail
segment will also be
pushed out while the
rest of the rib cage
contracts.
Flail Chest What is happening..?
Since the flail segment moves in an opposite
direction to rest of the chest wall

Paradoxical Breathing
Flail Chest Implications

Pulmonar
y
Contusion
Respirator
Mediastinal y
Pai Flutter Failure
n

Pneumothorax,
Hemothorax
Flail Chest Diagnosis
Clinical examination for bruises, paradoxical
movement of flail segment.

Chest X Ray

Computed
Tomography
Flail Chest Management
Analgesia.

Intubation and Ventilation.

Chest Tube Insertion

Rib Fracture Fixation


Flail Chest Management
Analgesia.
Mainstay
Opioid Analgesics (risk of respiratory
depression)
NSAIDs
Thoracic or high lumbar Epidurals with or
without Opioid additives.
Posterior rib blocks (lasts upto 24 hours)
http://emedicine.medscape.com/article/2047916

Chest Trauma
Disorders Etiology Clinical

Hemothorax lacerated blood Anxiety/Restlessness,Tachypnea,Signs of


vessel in thorax Shock,Tachycardia
Frothy, Bloody Sputum
Diminished Breath Sounds on Affected
Side,Flat Neck Veins, Dullness to percussion

Simple/Closed Blunt trauma Opening in lung tissue that leaks air into
Pneumothorax spontaneous chest cavity, Chest Pain,Dyspnea,Tachypnea
Decreased Breath Sounds on Affected
Side,hipersonor
Open Pneumothorx Penetrating Opening in chest cavity that allows air to
chest wound enter pleural cavity, Dyspnea,Sudden sharp
pain,Subcutaneous Emphysema
Decreased lung sounds on affected side
Red Bubbles on Exhalation from wound
(Sucking chest wound)
Disorders Etiology Clinical
Tension Anxiety/Restlessness, Severe ,Poor Color
Penumothorax Dyspnea,Tachypnea,Tachycardia
Absent Breath sounds on affected side,
Accessory Muscle Use, JV Distention
Narrowing Pulse Pressures,Hypotension
Tracheal Deviation, hypersonor

Flail Chest Trauma a segment of the rib cage breaks becomes


detached from the rest of the chest wall, 3 ribs
broken in 2 or more places,painful when
breathing,Paradoxical breathing

Pleural Efusion congestive heart Dyspnea, cough, chest pain, which results from
failure, pleural irritation, Dullness to percussion,
pneumonia, decreased tactile fremitus, and asymmetrical
malignancy, or chest expansion, with diminished or delayed
pulmonary expansion on the side of the effusion, decreased
embolism tactile fremitus, and asymmetrical chest
infection expansion, diminished or delayed expansion on
the side of the effusion

Pneumonia Infection, Fever,dysnea,cough,rales in ausultation


inflammation
32. Anatomy
THE HUMERUS
Nerves related to the humerus :
1- The circumflex (axillary) N. may be injured
in fracture of surgical neck .
2- The radial N. (which lies in the spiral groove
) may be injured in fracture of the middle of
the shaft .
3- The ulnar N. may be injured in
fracture of the lower end (the medial
epicondyle)
Humerus Fractures
Proximal Humerus Fractures
Clinical Evaluation
Patients typically present with arm held close to chest by
contralateral hand. Pain and crepitus detected on
palpation
Careful NV exam is essential, particularly with regards to
the axillary nerve. Test sensation over the deltoid.
Deltoid atony does not necessarily confirm an axillary
nerve injury
Humeral Shaft Fractures
Clinical evaluation
Thorough history and
physical
Patients typically present
with pain, swelling, and
deformity of the upper arm
Careful NV exam important
as the radial nerve is in close
proximity to the humerus
and can be injured
Humeral Shaft Fractures
Holstein-Lewis Fractures
Distal 1/3 fractures
May entrap or lacerate radial nerve as the fracture passes
through the intermuscular septum
33. Radial Nerve Injury In Spiral
Groove
Most commonly in distal
part of groove beyond the
origin of nerves to triceps
and anconeus and
cutaneous nerves
Causes:
Fracture of shaft of humerus
Prolonged pressure on the
back of arm as in
Unconscious patient by edge
of operating table
Prolonged application of
tourniquet in thin lean person
Parese N.Radialis
Defisit Motorik
Kelemahan saat supinasi
Tidak dapat ekstensi tangan dan jariwrist drop
Defisit Sensori
Hilangnya sensasi di lengan bawah bagian
posterior, the radial half of dorsum of hand, and
dorsal aspect of radial 3 12 digits, excluding their
nail beds.
33. Peripheral Nerve Injury in Upper Limb
Peripheral Nerve Injury in Upper Limb
Sensorik
Common Nerve Injuries and Entrapment
Syndromes of the Upper Extremity
Axillary Nerve: Quadrilateral Space Syndrome.
The axillary nerve is vulnerable to trauma as it passes
through the quadrilateral space.
Injury can occur from shoulder dislocation; upward
pressure (e.g., from improper crutch use); repetitive
overload activities (e.g., pitching a ball, swimming); and
arthroscopy or rotator cuff repair.
The typical symptom is arm fatigue with overhead activity
or throwing.
There may be associated paresthesias of the lateral and
posterior upper arm.
Examination reveals weak lateral abduction and external
rotation of the arm.

http://www.aafp.org/afp/2010/0115/p147.html#sec-3
Origin: Root value; (C 5 & 6).
Posterior cord of brachial plexus. Axillary Nerve
Course:
It passes downward and laterally
along the posterior wall of the
axilla, then it exit the axilla.
Then, it passes posteriorly around
the surgical neck of the humerus.
It is accompanied by the posterior
circumflex humeral vessels.
Branches:
Motor to the:
Deltoid and teres minor muscles.
Sensory:
Superior lateral cutaneous nerve
of arm that loops around the
posterior margin of the deltoid
muscle to innervate the skin over
that region.
Axillary Nerve
Lesion 1
The axillary nerve is
commonly injured 3
due to:
1. Fracture of
surgical neck of
the humerus.
2. Downward 2
dislocation of
the shoulder
joint
3. Compression of
the nerve from
the incorrect
use of crutches.
Axillary Nerve Lesion
Affects:
Motor:
Paralysis of the deltoid and teres
minor muscles.
Impaired abduction of the
shoulder (20-90).
The paralyzed deltoid wastes.
As the deltoid atrophies, the
rounded contour of the shoulder
is lost and becomes flattened
compared to the uninjured side.
Sensory:
Loss of sensation over the lateral
side of the proximal part of the
arm.
Long Thoracic Nerve. Injury to the long thoracic nerve
occurs acutely from a blow to the shoulder, or with
activities that involve chronic repetitive traction on the
nerve (e.g., tennis, swimming, baseball).
Presenting symptoms include diffuse shoulder or neck pain that
worsens with overhead activities.
Examination reveals scapular winging and weakness with
forward elevation of the arm.

Spinal Accessory Nerve. Injury to the spinal accessory nerve


can occur with trapezius trauma or shoulder dislocation.
Radical neck dissection, carotid endarterectomy, and
cervical node biopsy are iatrogenic sources of injury.
Patients usually present with generalized shoulder pain and
weakness. Examination of the shoulders reveals asymmetry.
The affected side appears to sag and the patient is unable to
shrug the shoulder toward the ear.
Associated weakness of forward arm elevation above the
horizontal plane is common.
With chronic injury, the trapezius may atrophy.
http://www.aafp.org/afp/2010/0115/p147.html#sec-3
Median Nerve at the Elbow: Pronator Syndrome.
The pronator teres muscle in the forearm can compress the
median nerve, which may cause symptoms that mimic carpal
tunnel syndrome.
Symptoms are discomfort and aching in the forearm with
activities requiring repetitive pronation of the forearm,
especially with the elbow extended.
Paresthesias in the thumb and first two digits may be present.

Radial Nerve at the Elbow: Radial Tunnel and Posterior


Interosseous Nerve Syndromes.
The radial nerve divides into a superficial branch (sensory only)
and a deep branch (posterior interosseous nerve) at the lateral
elbow.
Forearm pain that is exacerbated by repetitive forearm
pronation is the presenting symptom of radial tunnel syndrome,
which involves injury to the superficial branch of the radial
nerve.
Symptoms of radial tunnel syndrome are almost identical to
those of tennis elbow (i.e., lateral epicondylitis).
http://www.aafp.org/afp/2010/0115/p147.html#sec-3
Ulnar Nerve at the Elbow: Cubital Tunnel Syndrome.
The ulnar nerve at the elbow is very superficial and at risk of
injury from acute contusion or chronic compression.
Compression can be from an external or internal source. As the
elbow flexes, the cubital tunnel volume decreases, causing
internal compression.
Cubital tunnel syndrome may cause paresthesias of the fourth
and fifth digits.
There may be elbow pain radiating to the hand, and symptoms
may be worse with prolonged or repetitive elbow flexion.

Median Nerve at the Wrist: Carpal Tunnel Syndrome.


Carpal tunnel syndrome is the most common nerve entrapment
injury.
Early symptoms are paresthesias of the thumb, index digit, and
long digit.
Some patients also have forearm pain.
The most helpful physical examination findings are hypalgesia
(positive likelihood ratio of 3.1) and abnormality in a Katz hand
diagram.
http://www.aafp.org/afp/2010/0115/p147.html#sec-3
Radial Nerve at the Wrist: Handcuff Neuropathy.
The superficial branch of the radial nerve crosses the volar wrist on
top of the flexor retinaculum of the carpal tunnel.
The injury leads to numbness on the back of the hand, mostly on the
radial side.
Examination may reveal decreased sensation to soft touch and
pinprick over the dorsoradial hand, dorsal thumb, and index digit.
Motor function is typically intact.

Ulnar Nerve at the Wrist: Cyclist's Palsy.


Injury of the ulnar nerve at the wrist is common in cyclists because the
ulnar nerve gets compressed against the handlebar during cycling,
resulting in cyclist's palsy.
This type of nerve injury occurs with other activities involving
prolonged pressure on the volar wrist (e.g., jackhammer use).
Symptoms are paresthesias in the fourth and fifth digits.
Digit weakness is uncommon because the motor portion of the nerve
at the wrist is less superficial.
Unless the activity is prolonged or chronic, results of the sensory
examination are normal and numbness will resolve within a few hours
after stopping the activity.

http://www.aafp.org/afp/2010/0115/p147.html#sec-3
34 & 35. Juvenile Idiopathic Arthritis
Juvenile idiopathic arthritis (JIA) is a broad term used
to describe several different forms of chronic arthritis
in children. All forms are characterized by joint pain
and inflammation.

Most common rheumatologic disease in children and is


one of the more frequent chronic diseases of
childhood1-4 years old

JIA is broadly defined as arthritis of one or more joints


occurring for at least 6 weeks in a child younger than
16 years of age.
Pediatrics in Review Vo.33 No.7, 2012
http://pedsinreview.aappublications.org/content/33/7/303.full
JIA Classification
Different subtypes of JIA vary with respect to age
and gender distributions.
Oligoarticular JIA: more frequently in girls, peak
incidence in children between 2 and 4 years of age.
Polyarticular JIA: frequently in girls , has a biphasic age
of onset; the first peak is from 1 to 4 years of age and
the second peak occurs at 6 to 12 years of age.

Pathogenesis: Cell-mediated and humoral


immunity play a role in the pathogenesis of JIA.
Possible factors that have been implicated in the
pathogenesis of JIA include immunologic
dysregulation, psychological stress, trauma,
hormonal abnormalities, and infectious triggers.
Pediatrics in Review Vo.33 No.7, 2012
http://pedsinreview.aappublications.org/content/33/7/303.full
Clinical Features & Complications
All subtypes of JIA, share common symptoms:
Morning stiffness or gelling phenomenon (stiffness after
a joint remains in one position for a prolonged period) that
improves throughout the day,
Limp, swollen joints, limitation of activities because of
pain,
Periods characterized by disease remission interspersed
with disease flares.
There is no diagnostic test for JIA; therefore, other
causes of arthritis must be excluded carefully before
the diagnosis is made.
The most common and devastating complications:
iridocyclitis, a form of chronic anterior uveitis can
lead to permanent blindness. Pediatrics in Review Vo.33 No.7, 2012
http://pedsinreview.aappublications.org/content/33/7/303.full
Treatments
Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are the first
line of treatment for patients who have JIA. The most
commonly used NSAIDs in children include ibuprofen,
naproxen, and indomethacin.

Patients may be given low doses of prednisone to obtain


symptomatic relief of pain and stiffness while waiting for a
second-line agent to become effective.

DMARDs slow the radiologic progression of disease. These


agents include sulfasalazine, azathioprine,
hydroxychloroquine, leflunomide, cyclosporin, and
methotrexate.
Pediatrics in Review Vo.33 No.7, 2012
http://pedsinreview.aappublications.org/content/33/7/303.full
Arthritis Septik
Acute Monoarthritis Acute monoarthritis
Differential Diagnosis Cardinal signs of
Infection inflammation
Rubor, tumor, calor, dolor
Crystal-induced
Hemarthrosis
+/- Fever
Tumor +/- Leukocytosis
Intra-articular
derangement ACUTE MONOARTHRITIS
IS SEPTIC UNTIL
Systemic rheumatic PROVEN OTHERWISE
condition
Definition Etiology
Inflammation of a synovial Staph aureus
membrane with purulent Streptococci
effusion into the joint In all age groups, 80% due
capsule, often due to to gram-positive aerobes,
bacterial infection 20% due to gram-
Epidemiology negative anaerobes
Pasien yang imunokompremais Neonates and infants < 6
Neonatus mos S aureus and gram-
Lansia negative anaerobes
Incidence of H. influenzae
has decreased due to the
vaccine
Pathophysiology
36. Hipospadia
Dorsal hooded foreskin

chordee

scrotum

abnormal ventral
meatus

Hypospadias is a complex of an abnormal ventral meatus, chordee, and a


dorsal hooded foreskin. Usually isolated, it can be part of the DSD
spectrum.
Incidence: one in 300 live-births (but wide
variation from 1 in 110 to 1 in 1,250)
Rising incidence
Associating with inguinal hernia and hydrocele
(~10%), undescended testes (~8%)
Embryology
The development of male urethra takes place
between the 8th and the 15th week of gestation
under the influence of testosterone.
Etiology
Multifactorial involving genetic, endocrine, and
environmental factors.
Genetic Factors
Inheritance is unknown.The following facts:

Monozygotic twins eightfold increase in the


incidence of hypospadias
family history 8% of fathers and 14% of
brothers
Endocrine Factors
Deficient androgenic stimulation
Increased maternal progesterone exposure
Environmental Factors
Incidence of hypospadias and one hypothesis
suggests that there is increased maternal
exposure to estrogenic substances (contained in
pesticides, milk, plastic linings of metal cans, and
pharmaceuticals).
Clinical Features
Classification
Distal (glanular, coronal, and subcoronal) (50%)
Middle (distal penile, midshaft, and proximal
penile) (30%)
Proximal (penoscrotal, scrotal, and perineal)
(20%)
Surgery
Principles Preoperative
The goal of surgery is to completing the repair of
hypospadias before 18 months
create a cosmetically of age (minimizes psychological
acceptable penis, which impact of genital surgery).
allows normal voiding Hormone manipulation
with a forward stream Correction of chordee
and normal vaginal
Urethroplasty
penetration.
Meatoplasty and
glanuloplasty
Skin coverage
Postoperative
Early complications
bleeding, hematoma, infection, and breakdown of
repair.
Long-Term Outcome
persistent chordee, meatal stenosis,
urethrocutaneous fistula, urethral stricture, and
urethral diverticulum. The incidence is highly
variable though.
37. Goiter
TYPICAL PRESENTING COMPLAINT
Cosmetic reason / noticed lump in the neck
Discomfort
Tracheal compression SOB
Oesophageal compression dysphagia
Worries about malignancy
Onset of hyperthyroidism
Thyroid swellings

Diffuse Nodular
enlargement enlargement

Toxic Non-Toxic Solitary nodule Multinodular Goitre

Usually
Grave's Disease Other Simple colloid goitre Carcinoma/ Adenoma progression
thyroidites lymphoma of simple
diffuse enlargement

Usually Thyroiditis Prominent Toxic Non-toxic


tender nodule
in MNG

Hashimoto's de Quervain's

Cyst
Riedel's

Colloid Haemorrhage
into
necrotic nodule

Painful, sudden
WHO Grading for Goitres
Grade 0 No palpable or visible goitre
Grade 1 Palpable goitre
Grade 1A Goitre detectable only by palpation
Grade 1B Goitre palpable and visible with extended neck
Grade 2 Goitre visible with neck in normal position
Grade 3 Large goitre visible from distance
Symptoms related to goiter
Symptoms of hyperthyroidism (thyrotoxicosis very severe
hyperthyroidism) :
Metabolic: heat intolerance, excessive sweating, weight loss despite of
excessive appetite
CVS: palpitations, shortness of breath, tiredness,
Neurological: nervousness/agitation/irritability (emotional lability),
insomnia, depression and excitement ( mania and melancholia noticed
by relatives), tremors, headaches, vertigo, hyperaesthesia
GI: mild diarrhoea
GU: reduction in menses (oligomenorrhoea) or amenorrhoea
MS: muscle wasting and weakness (small muscles of hand, shoulder and
face) rarely: complete paralysis
Symptoms of hypothyroidism (myxoedema very severe
hypothyroidism)
Metabolic: tiredness, weakness, mental lethargy, cold intolerance, weight gain
despite of poor/normal appetite,
CVS: breathlessness and ankle swelling ( heart failure),
Neurological: difficulty to think and to speak clearly and quickly, hallucinations,
dementia (myxoedema madness) myxoedema coma
GI: progressive constipation
GU: menstrual disturbances (menorrhagia common when myxoedema occurs
before menopause)
MS: carpal tunnel syndrome [pins and needles in the fingers, esp index and
middle fingers; pain in the forearm, loss of function drops small articles and
cannot perform delicate movements due to loss of discriminatory sensation as
median nerve is damaged, in severe nerve damage loss of motor function
weakness and paralysis of muscles of the thenar eminence and 1st 2 lumbricals,
i.e. median nerve palsy (wasting of thenar eminence, absent abduction of
thumb, absent opposition of thumb); exacerbation of symptoms at night
often woken up at night, pathognomonic]
Associated symptoms:
Stridor/dyspnoea, dysphagia, and hoarseness either due to mass
effect/compression by goitre (i.e. tracheal deviation, oesophageal
compression, and involvement of recurrent laryngeal nerve respectively)
or might be due to infiltrating fibrosis which may indicate either anaplastic
carcinoma of the thyroid gland or de Quervains thyroiditis (fibrosing).
Fever, drenching night sweats lymphoma, tuberculous involvement of
the thyroid gland, cancer of the thyroid gland
Fever, chills infective causes
Pain rare: in the neck, usually not localized, non-radiating dull pain; if
the pain is sharp, severe and of sudden onset consider rupture of
thyroid cyst / bleeding into the cyst

May indicate metastases


Bone pain
Chronic cough
Haemoptysis
38. Urolithiasis
Urinary tract stone disease
Signs:
Flank pain
Irritative voiding symptom
Nausea
microscopic hematuria
Urinary crystals of calcium
oxalate, uric acid, or cystine
may occasionally be found
upon urinalysis

optimized by optima
Uric acid stones
These are a byproduct of protein metabolism commonly
seen with gout,and may result from certain genetic
factors and disorders of your blood-producing tissues
fructose also elevates uric acid, and there is evidence
that fructose consumption is helping to drive up rates of
kidney disease
Calcium oxalate stones
Batu ureter yang tersering
Cenderung terbentuk pada urin yang bersifat asampH
rendah
Sebagian oksalat yang terdapat di urin, diproduksi oleh tubuh
Kandungan Kalsium dan oksalat yang terdapat di makanan
memiliki pengaruh terhadap terbentuknya batu, tetapi bukan
merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi
Dietary oxalate an organic molecule found in many
vegetables, fruits, and nuts
Calcium from bone may also play a role in kidney stone
formation.
Calcium phosphate stones
Lebih jarang
Cenderung terbentuk pada urin yang alkalinpH tinggi
Struvite stones
Lebih sering ditemukan pada wanita
Hampir selalu akibat dari ISK
Cystine stones
Representing only a very small percentage
these are the result of a hereditary disorder that
causes kidneys to excrete massive amounts of
certain amino acids (cystinuria)
Kristal urine
Amorphous Urates and Uric Acid
Phosphates Bilirubin Crystals

Calcium Oxalate Triple Phosphate Cholesterol


Kristal kalsium phosphatsering berbentuk rosette
Karakteristik Batu Saluran Kemih
http://www.aafp.org/afp/2008/0801/p379.html
Tatalaksana Batu Ginjal
Batu Ureter
Percutaneus Nephrolithotomy
39. Volvulus
It is the term applied to twisting of a
loop of bowel so that the mesenteric
vessel and the lumen of the bowel
become occluded. It therefore is an
obstruction of the bowel.
Volvulus
Obstruction caused by twisting
of the intestines more than 180
degrees about the axis of the
mesentery
1-5% of large bowel
obstructions
Sigmoid ~ 65%
Cecum ~25%
Transverse colon ~4%
Splenic Flexure
TYPES OF VOLVULUS
Volvulus neonatorum
Volvulus of the small intestine
Ceacal volvulus (volvulus of the caecum)
Sigmoid volvulus (which is most common and
responsible for most intestinal obstruction)
Gastric volvulus
Colonic volvulus
Etiology
Gastric volvulus Midgut volvulus Sigmoid volvulus Cecal volvulus
Malrotation (short Chronic Congenital defect
Congenital mesenteric constipation. in the peritoneal
weakness of attachment). fixation of the right
suspensory Colonic distention. colon.
ligaments. Congenital short
mesentery. Congenital long
Diaphragmatic mesentery.
hernia.
Diaphragmatic Congenital
eventration malrotation.

Chronic
constipation.

Colonic distension.
Clinical Presentation
Gastric volvulus Midgut volvulus Sigmoid volvulus Cecal volvulus
Acute volvulus: Neonatal intestinal Acute intestinal Acute intestinal
Borchardt triad: obstruction. obstruction. obstruction.
1. Sever Bilious vomiting.
epigastric pain. Abdominal
2. Violent distension.
retching
without
vomiting.
3. Difficulty in
advancing in
nasogastric
tube.

Chronic volvulus:
Vague non specific
symptoms.
DIAGNOSTIC INVESTIGATIONS
This includes:
An Upper GI series (the use of barium meal
swallow to perform a GIT radiography)
A Digital rectal examination with rectal tube
And the taking of a straight x-ray film of the
abdomen
Plain Radiography

Volvulus

Gastric volvulus Midgut volvulus Colonic volvulus

Intrathoracic
Double
stomach with Sigmoid Cecal
bubble sign
air fluid level

Coffee bean Marked cecal


sign distension
Sigmoid volvulus
coffee bean sign
Ultrasound Whirlpool sign
Barium Meal

Volvulus

Gastric volvulus Midgut volvulus Colonic volvulus

Cork scerw
Organo-axial Mesentero-axial Sigmoid Cecal
duodenum

Greater Gastric antrum


curvature above above gastric Beak sign Beak sign
lesser curvature fundus
Sigmoid volvulus Midgut volvulus
bird beak sign Cork screw sign

R
soundnet.cs.princeton.edu

40 & 41. Posterior Hip Dislocation


Gejala
Nyeri lutut
Nyeri pada sendi
panggul bag.
belakang
Sulit
menggerakkan
ekstremitas
bawah
Kaki terlihat
memendek dan
dalam posisi
fleksi, endorotasi
dan adduksi
Risk Factor
Kecelakaan
Improper seating
adjustment
sudden break in
the car
netterimages.com
soundnet.cs.princeton.edu

Anterior Hip Dislocation


Gejala
Nyeri pada sendi
panggul
Tidak dapat berjalan
atau melakukan
adduksi dari kaki.
The leg is externally
rotated, abducted,
and extended at the
hip

netterimages.com
Complication Hip Dislocation
Up to 50% of
patients sustain
concomitant
fractures elsewhere
at the time of hip
dislocation.
Sciatic nerve injury
is present in 10% to
20% of posterior
dislocations
Cedera N. Ischiadikus
Biasanya cabang peroneus yang terkena
dengan sedikit disfungsi dari n. Tibialis
Gejala:
Drop foot
Tidak dapat dorsofleksi kaki
Cedera N. Peroneus
Foot drop :
Complete
sciatic or lateral popliteal nerve injury
Incomplete
superficial or deep peroneal nerve
High lesionstotal foot drop
Low lesionsincomplete foot drop
Type 1 :
Dorsiflexion and inversion is not possible
Front of the leg is wasted
Sensation over the dorsal web space is lost

Type 2 :
Cannot evert but can dorsiflex and invert the foot
Wasting of the outer half of the leg
Sensation lost over outer leg and foot

Gait : - high stepping gait is characteristic .


Imaging for Pelvic Dislocation
AP x-rays will usually be sufficient for the diagnosis,
although associated acetabular fractures will require
CT to fully characterise.
Anterior and posterior dislocations may appear similar
as both demonstrate loss of the normal joint
congruency between the femoral head and the
acetabulum
Posterior dislocation
femoral head is usually displaced posterior, superior, and slightly
lateral to the acetabulum and also internally rotated hence the
lesser trochanter is usually obscured on AP view
In a well centred AP film the posteriorly dislocated femoral head
will appear smaller than the contralateral hip, and vice versa, on
account of geometric magnification
Radiographs: AP Pelvis X-Ray

In primary survey of ATLS Protocol.


Should allow diagnosis and show direction of dislocation.
Femoral head not centered in acetabulum.
Femoral head appears larger (anterior) or smaller (posterior).
Usually provides enough information to proceed with
closed reduction.
Reasons to Obtain More
X-Rays Before Hip Reduction

View of femoral neck inadequate to rule out


fracture.

Patient requires CT scan of abdomen/pelvis for


hemodynamic instability
and additional time to obtain 2-3 mm cuts through
acetabulum + femoral head/neck would be minimal.
Radiographs (anteroposterior [AP], lateral, and internal
and external oblique views)A full series of prereduction
radiographs should be obtained vexpeditiously,
In the AP pelvis view, the femoral head will appear small
when compared with the uninjured side in a posterior
dislocation and large in an anterior dislocation.
Evaluate where the femoral head lies in comparison to the
acetabulum (eg, anterior vs posterior, superior vs inferior), if
surgery is required to reduce the joint.
Lateral and oblique views are very important to evaluate for
fractures of the femoral head, neck, and acetabulum.
Two oblique views are taken.
The first oblique view is taken with the patient placed on the injured
side and angled anteriorly approximately 15.
The second view is taken with the patient supine and angled upward
about 60.
Tatalaksana Definitif Dislokasi Sendi
Panggul: Reposisi
Bila pasien tidak memiliki komplikasi lain:
Berikan Anestetic atau sedative dan manipulasi
tulang sehingga kembali pada posisi yang
seharusnya reduction/reposisi
Pada beberapa kasus, reduksi harus dilakukan
di OK dan diperlukan pembedahan
Setelah tindakan, harus dilakukan
pemeriksaan radiologis ulang atau CT-scan
untuk mengetahui posisi dari sendi.
42. Epispadia
Epispadia merupakan suatu kelainan bawaan
pada bayi laki-laki, dimana lubang uretra
terdapat di bagian punggung penis atau
uretra tidak berbentuk tabung, tetapi
terbuka.
Epispadia
Manifestasi klinis
Uretra terbuka pada saat lahir, posisi dorsal

Terdapat penis yang melengkung ke arah dorsal, tampak


jelas pada saat ereksi

Terdapat chordae

Terdapat lekukan pada ujung penis

Inkontinesia urin timbul pd epispadia penopubis (95%)


dan penis (75%) karena perkembangan yang salah dari
sfingter urinarius.
43. Apendisitis Akut
Blumberg Sign
Alvarado Score
Symptoms Score

Awalny nyeri ulu hati kemudian 1


berpindah ke perut kanan bawah

Mual, muntah 1

Tidak mau makan 1

Nyeri tekan titik Mc Burney (+) 2

Nyeri tekan lepas (+) 1

Suhu tubuh 37.9 C 1

Neutrofil Segmen 86% 1

TOTAL 8
Tatalaksana

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3299622/
44. FOREHAND FRACTURE
Montegia Fracture Dislocation
Fraktur 1/3 proksimal Ulna
disertai dengan dislokasi
kepala radius ke arah Lateral displacement
anterior, posterior, atau
lateral
Head of Radius dislocates
same direction as fracture
Memerlukan ORIF

http://www.learningradiology.com
Galleazzi Fracture
Fraktur distal radius
dan dislokasi sendi
radio-ulna ke arah
inferior
Like Monteggia fracture
if treated conservatively
it will redisplace
This fracture appeared
in acceptable position
after reduction and POP

http://www.learningradiology.com
Colles Fracture
Fraktur tersering pada tulang yang
mengalami osteoporosis
Extra-Articular : 1 inch of distal Radius
Mekanisme trauma: Jatuh pada pergelangan
tangan pada posisi dorsofleksi
Typical deformity : Dinner Fork
Deformity is : Impaction, dorsal
displacement and angulation, radial
displacement and angulation and avulsion of
ulnar styloid process

http://www.learningradiology.com
Colles Fracture

optimized by optima
http://www.learningradiology.com
Smith Fracture
Hampir berlawanan dengan Colles fracture
Lebih jarang terjadi dibandingkan dengan
colles
Mekanisme trauma: Jatuh pada pergelangan
tangan pada posisi palmar fleksi
Typical deformity : Garden Spade
Management is conservative : MUA and
Above Elbow POP

http://www.learningradiology.com
Smith Fracture

http://www.learningradiology.com
45. Rotator Cuff Injury
Acromioclavicular Joint Rotator Cuff muscles
(AC joint) hold the head of the
Gliding joint within the humerus
shoulder specific to allow deltoid muscle to
primates and humans further elevate the arm
allowing for the ability to
raise the arm above the
head i.e combing hair
Muscles comprising rotator cuff

Supraspinatus
Infraspinatus
Teres Minor
Subscapularis

A mnemonic to remember what muscles form


the rotator cuff is SITS (supraspinatus,
infraspinatus, teres minor, subscapularis)
Symptoms
Occur more often in a person's Decrease in ability to
dominant arm
More commonly found among move the arm, especially
men older than 40 years out to the side
Pain usually worse at night and
interferes with sleep
Worsening pain followed by Able to use arm for most
gradual weakness activities but unable to
use the injured arm for
activities that entail
lifting the arm as high or
higher than the shoulder
to the front or side
Work up

Unable to use the injured arm to do this movements.


http://emedicine.medscape.com/article/92814-overview
Work up
Plain radiography of the MRI is a noninvasive
shoulder can be very imaging modality that is
helpful in the diagnosis of extremely sensitive and
rotator cuff disease. specific. It can be used to
Standard views should detect the size, location,
include a true and characteristics of
anteroposterior (AP) view rotator cuff pathology.
(in the plane of the Ultrasonography can be
scapula), a supraspinatus used to characterize the
outlet view, and an extent of the rotator cuff
axillary view. tear and to visualize
biceps tendon dislocation.

http://emedicine.medscape.com/article/92814-overview
Treatment
Pain control and Corticosteroids delivered
inflammation reduction directly to the site via
are initially required to injection can be
allow progression of considered to allow
healing and initiation of further progression of the
an active rehabilitation rehabilitation program.
program in patients with Place injections into the
a rotator cuff injury. subacromial space,
avoiding direct injection
into the rotator cuff
tendon.

http://emedicine.medscape.com/article/92814-overview
46. Tumor Jaringan Lunak
Diagnosis Histologic

Lipoma Soft mass, pseudofluctuant with a slippery edge

Atherom cyst Occur when a pilosebaceous unit or a sebaceous gland becomes


blocked. Skin Color is usually normal, and there is a punctum
(comedo, blackhead) on the dome

Dermoid Cyst Lined by orthokeratinized, stratified squamous epithelium surrounded


by a connective tissue wall. The lumen is usually filled with keratin.
Hair follicles, sebaceous glands, and sweat glands may be seen in the
cyst wall
Epidermal Cyst A raised nodule on the skin of the face or neck. HistologicLined by
keratinizing epithelium the resembles the epithelium of the skin
Most commonly superotemporal Occasionally superonasal
Freely mobile under skin Posterior margins are easily palpable

Dermoid Cyst

Lipoma
Neuroma Schwannoma Neurofibroma
Etiology >90% trauma Benign neoplasm of Benign Neoplasm of
the neural sheet the neural sheet and
Severed neural fibers (Schwann cells) perineural fibroblasts
regenerate forming a
mass
Clinical PAIN is the main 25-48% of all cases Can be solitary mass
symptom occur in the Head and or part of
Neck neurofibromatosis
Painless slow
Painless slow growth
growth
Difficult to differ with
Schwannoma
If NF caf au lait
Histopathology Well- Streaming fascicles Not well-
circumscribed and of spindle-shaped demarcated
encapsulated with Schwann cells; interlacing bundles
interlacing fascicles These cells are of spindle-shaped
of spindle cells often palisaded cells that exhibit
wavy nuclei
Sometimes mast
cells

Acoustic Neuroma: inaccurate term should be vestibular Schwannoma


Schwannoma (Neurilemmoma)

Benign neural Younger and middle-


neoplasm of Schwann aged adults
cell origin Intraosseous appears
Relatively uncommon, as unilocular or
however 25-48% of all multilocular
cases occur in the radiolucency in
Head and Neck area posterior mandible
Usually painless; Pain and paresthesia
slow-growing that seen in intrabony
arises in association tumors
with a nerve trunk;
Asymptomatic and
pushes the nerve aside
Schwannoma (Neurilemoma)

Histology: Encapsulated tumor with varying amounts of


Antoni A and Antoni B cells
Antoni A: Streaming fascicles of spindle-shaped Schwann cells;
These cells are often palisaded around acellular eosinophilic
areas called Verocay bodies (which are reduplicated basement
membrane and cytoplasmic processes)
Antoni B: is less cellular and organized
Degenerative changes are seen in older lesions
Treatment: Surgical excision
Neurofibroma
MOST COMMON type of Oral cavity lesions are
peripheral nerve tumors seem mostly in tongue
arising from a mixture of and buccal mucosa
Schwann cells and Intraosseous lesions also
perineural fibroblasts seen as poorly defined
Can be solitary or unilocular or multilocular
associated with radiolucencies
Neurofibromatosis
Solitary are more
common and present as
slow-growing, soft,
painless nodule, most
common in the skin
Neurofibroma

Histology: Not well-demarcated and consists of interlacing


bundles of spindle-shaped cells that exhibit wavy nuclei
Numerous mast cells are present
Treatment: local surgical excision; If multiple lesions are
present, patients should be evaluated for Neurofibromatosis
Traumatic Neuroma

Reactive proliferation of neural tissue after damage to


nerve bundle
Smooth nodules most common in mental foramen, tongue
and lower lip with a history of trauma; intraosseous lesions
appear as radiolucencies
Any age but mostly middle-age, with F>M
Hallmark is PAIN which could be intermittent or constant
and mild or severe; Mental nerve neuromas are painful
especially with denture flange impingement
Traumatic Neuroma

Histology: Haphazard proliferation of mature, myelinated


nerve bundles within a fibrous connective tissue

Mild chronic inflammation is also seen sometimes

Treatment: Surgical excision along with a small portion of the


involved nerve; low recurrence rate
Palisaded Encapsulated Neuroma
Benign neural tumor Histology: Well-
common in the head circumscribed and
and neck area encapsulated with
Trauma is considered interlacing fascicles of
as a major etiological spindle cells
factor (Schwann cells); wavy
Face: 90% of cases nuclei with no mitotic
with majority occurring activity or
on the nose and cheek pleomorphism; parallel
oriented cells
Smooth, PAINLESS
nodules; More
common in adults;
F=M
Palisaded Encapsulated Neuroma
47. Lipoma
Massa yang berasal dari sel adiposa, tumbuh
dengan lambat
Lokasi: Punggung atas, leher, bahu

terletak subkutan di daerah yang terdapat


jaringan adiposa
Tipe tumor jinak jaringan lunak yang
tersering
Menyerupai jaringan adiposa normal
Subtipe:angiolipoma, spindle cell lipoma
Massa yang berasal dari sel adiposa, tumbuh
dengan lambat,berbatas tegas, kenyal, mobile,
pseudokistik (pseudofluctuant)
Pseudokistik/Pseudofluctuant Karena
konsistensi sel lemak yang kenyal
Paget's test
Massa di fiksasi oleh ibu jari dan jari telunjuk,
kemudian bagian tengah ditekanbila bagian
tengah menonjol keatas, maka fluctuant atau
kistikfluktuasi +
48. Peripheral Nerve Injury in Upper Limb
Peripheral Nerve Injury in Upper Limb
Sensorik
Common Nerve Injuries and Entrapment
Syndromes of the Upper Extremity
Ulnar Nerve at the Elbow: Cubital Ulnar Nerve at the Wrist: Cyclist's
Tunnel Syndrome. Palsy.
The ulnar nerve at the elbow is very Injury of the ulnar nerve at the wrist is
superficial and at risk of injury from common in cyclists because the ulnar
acute contusion or chronic nerve gets compressed against the
compression. handlebar during cycling, resulting in
Compression can be from an external or cyclist's palsy.
internal source. As the elbow flexes, the This type of nerve injury occurs with
cubital tunnel volume decreases, causing other activities involving prolonged
internal compression. pressure on the volar wrist (e.g.,
Cubital tunnel syndrome may cause jackhammer use).
paresthesias of the fourth and fifth Symptoms are paresthesias in the
digits. fourth and fifth digits.
There may be elbow pain radiating to Digit weakness is uncommon because
the hand, and symptoms may be worse the motor portion of the nerve at the
with prolonged or repetitive elbow wrist is less superficial.
flexion. Unless the activity is prolonged or
chronic, results of the sensory
examination are normal and
numbness will resolve within a few
hours after stopping the activity.

http://www.aafp.org/afp/2010/0115/p147.html#sec-3
49. Assessment of Airway Management

Listen for sounds, look for signs of breathing


(chest expansion, fogging of oxygen mask),
feel for air movement.

Noisy breathing suggest obstruction. Snoring


is often due to soft tissues (tongue, soft
palate), gurgling suggests fluid.
Indications for airway protection
Decreased level of consciousness
GCS <9
Cerebral injury
Surgery
Medical problems
Opening the Airway
Check the airway

Open the airway, place one hand on the victims


forehead and gently tilt head back.

Remove any visible obstruction from the victims


mouth, including dislodged dentures. Leave well
fitting dentures in place.

DO NOT ATTEMPT ANY FINGER SWEEPS


Opening the airway Head tilt, chin lift
Jaw thrust technique may be needed
if C-spine injury

April 2004 Richard Lake 225


Simple airway adjuncts
50. Karakteristik Batu Saluran Kemih
http://www.aafp.org/afp/2008/0801/p379.html
Tatalaksana Batu Ginjal
Batu Ureter
Percutaneus Nephrolithotomy
http://urology.iupui.edu/papers/reconstructive_bph/s0094014305001163.pdf

51. Trauma Uretra


Curiga adanya trauma
pada traktus urinarius
bag.bawah, bila:
Terdapat trauma
disekitar traktus
urinarius terutama
fraktur pelvis
Retensi urin setelah
kecelakaan
Darah pada muara OUE
Ekimosis dan hematom
perineal
Uretra Anterior:
Anatomy:
Bulbous urethra
Uretra Posterior :
Pendulous urethra Anatomy
Fossa navicularis Prostatic urethra
Etiologi: Membranous urethra
Straddle type injuries Etiologi:
Intrumentasi Fraktur tulang Pelvis
Fractur penis Gejala klinis:
Gejala Klinis: Darah pada muara OUE
Disuria, hematuria Nyeri Pelvis/suprapubis
Hematom skrotal Perineal/scrotal hematom
Hematom perineal akan timbul bila terjadi robekan RT Prostat letak tinggi atau
pada fasia Bucks sampai ke dalam fasia melayang
Collesbutterfly hematoma in the perineum Radiologi:
will be present if the injury has disrupted Bucks Pelvic photo
fascia and tracks deep to Colles fascia, creating a
Urethrogram
characteristic butterfly hematoma in the
perineum Therapy:
Therapy: Cystostomi
Cystostomi Delayed Repair
Immediate Repair
EAU Guidelines on Urethral Trauma. 2010. in http://www.europeanurology.com/article/S0302-2838%2810%2900024-
2/fulltext
Colapinto and McCallum Classification
of blunt anterior and posterior urethra
52. BPH
Voiding (obstructive) Storage (irritative or
symptoms filling) symptoms
Hesitancy Urgency
Weak stream Frequency
Straining to pass urine Nocturia
Prolonged micturition Urge incontinence
Feeling of incomplete
bladder emptying
Urinary retention
LUTS is not specific to BPH not everyone with
LUTS has BPH and not everyone with BPH has LUTS
Blaivas JG. Urol Clin North Am 1985;12:21524
BPH
Symptom assessment
the International Prostate Symptom Score (IPSS) is recommended as it is used worldwide
IPSS is based on a survey and questionnaire developed by the American Urological
Association (AUA). It contains:
seven questions about the severity of symptoms; total score 07 (mild), 819 (moderate), 2035
(severe)
eighth standalone question on QoL
Digital rectal examination(DRE)
inaccurate for size but can detect shape and consistency
Prostat Volume determination- ultrasonography
Urodynamic analysis
Qmax >15mL/second is usual in asymptomatic men from 25 to more than 60 years of age
Measurement of prostate-specific antigen (PSA)
high correlation between PSA and Prostat Volume, specifically Trantitional Zone Volume
men with larger prostates have higher PSA levels 1

PSA is a predictor of disease progression and screening tool for CaP


as PSA values tend to increase with increasing PV and increasing age, PSA may be used as a
prognostic marker for BPH
IPSS Score
Alur Diagnosis

American Urological Association (AUA) guideline


Biopsi Prostat Diagnosis BPH
Hanya dilakukan bila PSA >3 Diagnosis BPH terutama
Skrinning PSA untuk Ca berdasarkan anamnesis dan
Prostat, tidak dapat pemeriksaan fisik
meningkatkan survival rate Anamnesis dilakukan dengan
USG Prostat IPSS Score
Hanya dapat melihat Uroflowmetripemeriksaan
pembesaran prostat penunjang yang digunakan
Tidak menunjukkan derajat untuk menilai derajat
obstruksinya keparahan obstruksi
http://www.cancer.gov/cancertopics/factsheet/detection/PSA

PSA Test
Tes yang mengukur kadar prostate specific
antigen (PSA) dalam darah
PSA protein yang dihasilkan oleh prostat
Laki-laki secara normal memiliki kadar PSA
rendah, dan kadarnya akan meningkat seiring
dengan usia
PSA juga meningkat pada:
Pembesaran prostat
inflammation or infection of the prostate called prostatitis
ISK tunggu 6 minggu setelah sembuh
Aktivitas fisik berlebih, terutama cycling dalam 48 jam
sebelum tes
Ejakulasi48 jam sebelum tes
Anal sex and prostate stimulation
RT sebelum PSA test
Biopsi prostat 6 minggu sebelum tes
Other investigations or operations on your bladder or
prostate, or a catheter
http://emedicine.medscape.com/article/ http://en.wikipedia.org/wiki/

53. Male Genital Disorders


Disorders Etiology Clinical
Testicular torsion Intra/extra-vaginal Sudden onset of severe testicular pain followed by
torsion inguinal and/or scrotal swelling. Gastrointestinal
upset with nausea and vomiting.
Hidrocele Congenital anomaly, accumulation of fluids around a testicle, swollen
blood blockage in the testicle,Transillumination +
spermatic cord
Inflammation or
injury

Varicocoele Vein insufficiency Scrotal pain or heaviness, swelling. Varicocele is


often described as feeling like a bag of worms
Hernia skrotalis persistent patency of Mass in scrotum when coughing or crying
the processus
vaginalis
Chriptorchimus Congenital anomaly Hypoplastic hemiscrotum, testis is found in other
area, hidden or palpated as a mass in inguinal.
Complication:testicular neoplasm, subfertility,
testicular torsion and inguinal hernia
54. Management of Trauma Patient
Controlling External Bleeding
Pertolongan pertama yang harus segera
dilakukan untuk menghentikan perdarahan
Memberikan tekanan langsung
Menekan langsung sumber perdarahan dengan
kassa steril
Pressure Bandages
Apply over wound on
extremity to maintain
direct pressure
Use roller bandage to
completely cover
wound and maintain
pressure

Make sure it doesnt cut off circulation


Check victims fingers and toes for circulation
55. Basic Life Support
56. Shock: Classification
Hypovolemic shock
Terjadi karena turunnya volume darah yang bersirkulasi dibandingkan
kapasitas total pembuluh darah, dicirikan dengan penurunakan diastolic
filling pressures
Cardiogenic shock
Kegagalan pompa jantung akibat berkurangnya kontraktilitas myoardium
atau fungsi myokardium atau kelainan anatomi jantung, dicirikan dengan
peningkatan diastolic filling pressures and volumes
Extra-cardiac obstructive shock
Terjadi karena adanya obstruksi aliran darah balik ke jantung, dicirikan
dengan impairment of diastolic filling or excessive afterload
Distributive shock
Disebabkan oleh hilangnya kontrol vasomotor yang menyebabkan dilatasi
arteriol dan venula, dicirikan dengan peningkatan cardiac output dan
menurunnya SVR (Systemic vascular resistance)
Class of Haemorrhagic Shock
ILMU PENYAKIT MATA
57. Media Refraksi
Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media
refraksi:
kornea,
aqueous humor (cairan mata),
lensa,
badan vitreous (badan kaca),
Pada orang normal susunan pembiasan oleh media
penglihatan dan panjang bola mata sedemikian seimbang
sehingga bayangan benda setelah melalui media
penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea.
Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan
akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya
pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi
Kornea
Terdiri dari:
Epitel
Membran
bowman
Stroma
Membran
descement
Endotel
58. Konjungtivitis Alergi
Allergic conjunctivitis may be divided into 5
major subcategories.
Seasonal allergic conjunctivitis (SAC) and
perennial allergic conjunctivitis (PAC) are
commonly grouped together.
Vernal keratoconjunctivitis (VKC), atopic
keratoconjunctivitis (AKC), and giant papillary
conjunctivitis (GPC) constitute the remaining
subtypes of allergic conjunctivitis.
Konjungtivitis Atopi
Biasanya ada riwayat atopi Terapi topikal jangka
Gejala + Tanda: sensasi panjang: cell mast stabilizer
terbakar, sekret mukoid Antihistamin oral
mata merah, fotofobia Steroid topikal jangka
Terdapat papila-papila halus pendek dapat meredakan
yang terutama ada di tarsus gejala
inferior
Jarang ditemukan papila
raksasa
Karena eksaserbasi datang
berulanga kali
neovaskularisasi kornea,
sikatriks
KONJUNGTIVITIS VERNAL
Nama lain:
spring catarrh
seasonal conjunctivitis
warm weather conjunctivitis
Etiologi: reaksi hipersensitivitas bilateral (alergen sulit
diidentifikasi)
Epidemiologi:
Dimulai pada masa prepubertal, bertahan selama 5-10
tahun sejak awitan
Laki-laki > perempuan
Paling sering pada Afrika Sub-Sahara & Timur Tengah
Temperate climate > warm climate > cold climate (hampir
tidak ada)
Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.
Gejala & tanda:
Rasa gatal yang hebat, dapat
disertai fotofobia
Sekret ropy
Riwayat alergi pada RPD/RPK
Tampilan seperti susu pada
konjungtiva
Gambaran cobblestone
(papila raksasa berpermukaan
rata pada konjungtiva tarsal)
Tanda Maxwell-Lyons (sekret
menyerupai benang &
pseudomembran fibrinosa Komplikasi:
halus pada tarsal atas, pada Blefaritis & konjungtivitis
pajanan thdp panas)
stafilokokus
Bercak Trantas (bercak
keputihan pada limbus saat
fase aktif penyakit)
Dapat terjadi ulkus kornea
superfisial
Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.
Table. Major Differentiating Factors Between VKC and AKC

Characteristics VKC AKC


Age at onset Generally presents at a younger age -
than AKC
Sex Males are affected preferentially. No sex predilection
Seasonal variation Typically occurs during spring months Generally perennial
Discharge Thick mucoid discharge Watery and clear discharge
Conjuntiva Cobblestone papillae
Conjunctival - Higher incidence of
scarring conjunctival scarring
Horner-Trantas dots Horner-Trantas dots and shield ulcers Presence of Horner-Trantas
are commonly seen. dots is rare.
Corneal Not present Deep corneal
neovascularization neovascularization tends to
develop
Presence of Conjunctival scraping reveals Presence of eosinophils is less
eosinophils in eosinophils to a greater degree in VKC likely
conjunctival than in AKC
scraping
59. Anomali nasolakrimalis
Spektrum: Dacryostenosis, Pemeriksaan:
absence of valves, anomalies of A dye disappearance test: teteskan
fluoresens pada mata, lihat dengan
the sac, anomalies of the puncta, sinar cobalt blue. Jika genangan
anomalies of the canaliculi fluoresens masih ada kemungkinan
besar ada obstruksi sistem
Dakriostenosis paling sering nasolakrimal.
ditemukan: Pada ujung duktus Tx:
nasolakrimalis gagal melakukan 90% kasus akan mengalami resolusi
dalam tahun pertama
kanalisasi menuju punctum Lakukan masase duktus untuk
nasolakrimalis memaksanya terbuka. Dengan cara
menekan kuat pojok dalam mata
Simtom muncul pada 2-4% menuju ke tulang hidung dan
neonatus dorong ke arah lubang hidung
Probing
Neonatus tidak memproduksi air Dacryocystorhinostomy
mata hingga berusia beberapa
minggu, sehingga tidak disadari
pada awal-awal usia kelahiran.
Tatalaksana Konjungtivitis Alergi
Self-limiting Jangka panjang & prevensi
Akut: sekunder:
Antihistamin topikal
Steroid topikal (+sistemik Stabilisator sel mast Sodium
kromolin 4%: sebagai
bila perlu), jangka pengganti steroid bila gejala
pendek mengurangi sudah dapat dikontrol
gatal (waspada efek Tidur di ruangan yang sejuk
dengan AC
samping: glaukoma, Siklosporin 2% topikal (kasus
katarak, dll.) berat & tidak responsif)

Vasokonstriktor topikal Desensitisasi thdp antigen


(belum menunjukkan hasil
Kompres dingin & ice baik)
pack

Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.


60. Sildenafil
Used in the treatment of erectile dysfunction.
Ocular side-effects include a bluish tinge to the
visual field, hypersensitivity to light, and hazy
vision.
These effects are reversible and may last only a
few minutes or hours.
It has been reported that only 3% of patients
have visual side-effects with the standard 50
milligram dose.
With increased dosage, the ocular side-effect
incidence rate significantly increases.
61. Resep Kacamata
Untuk penglihatan dekat, maka Misal pada soal OD S -0.75 C +0.5
yang digunakan adalah total Axis 180 yang artinya
dioptri dari melainan koreksi pada bidang dengan aksis
miop/hipermetro/ astigmatisme 180o adalah S -0,75 D;
ditambah dengan kekuatan sedangkan pada bidang lainnya
koreksi presbyopia. dengan aksis 90 o koreksinya adalah
S -0,25 D.
Pada kasus astigmatisme, terjadi
perbedaan koreksi Jika ditambah dengan koreksi
myopia/hipermetropia di dua presbiop untuk penglihatan dekat
bidang (plane). (usia 53 tahun berarti ditambah
+2D) maka
koreksi OD akan menjadi S +1.25 D
di bidang 180 o; sedangkan pada
bidang 90o koreksinya adalah S
+1,75 D;
sedangkan koreksi OS akan menjadi
S +2D (karena tidak ada
miopia/hipermetropia/astigmatism
e
Resep Kacamata (1)
Resep Kacamata (2)
Resep Kacamata
62. GLAUKOMA SEKUNDER
Glaucoma sekunder merupakan glaukoma yang diketahui penyebab yang
menimbulkannya. Hal tersebut disebabkan oleh proses patologis intraokular yang
menghambat aliran cairan mata (cedera, radang, tumor)
Glaukoma terjadi bersama-sama dengan kelainan lensa seperti :
Luksasi lensa anterior, dimana terjadi gangguan pengaliran cairan mata ke sudut bilik mata.
Katarak imatur, dimana akibat mencembungnya lensa akan menyebabkan penutupan sudut bilik mata
(glaukoma fakomorfik)
Katarak hipermatur, dimana bahan lensa keluar dari lensa sehingga menutupi jalan keluar cairan mata
(glaukoma fakolitik)
Glaukoma yang terjadi akibat penutupan sudut bilik mata oleh bagian lensa yang lisis ini
disebut glaukoma fakolitik, pasien dengan galukoma fakolitik akan mengeluh sakit kepala
berat, mata sakit, tajam pengelihatan hanya tinggal proyeksi sinar.
Pada pemeriksaan objektif terlihat edema kornea dengan injeksi silier, fler berat dengan
tanda-tanda uveitis lainnya, bilik mata yang dalam disertai dengan katarak hipermatur.
Tekanan bola mata sangat tinggi

Ilyas, Sidarta., 2004. Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006

KATARAK-SENILIS
Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang 4 stadium: insipien, imatur (In some patients, at
terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 this stage, lens may become swollen due to
tahun
continued hydration intumescent cataract),
matur, hipermatur
Epidemiologi : 90% dari semua jenis katarak Gejala : distorsi penglihatan, penglihatan
Etiologi :belum diketahui secara kabur/seperti berkabut/berasap, mata tenang
pastimultifaktorial: Penyulit : Glaukoma, uveitis
Faktor biologi, yaitu karena usia tua dan Tatalaksana : operasi (ICCE/ECCE)
pengaruh genetik
Faktor fungsional, yaitu akibat akomodasi
yang sangat kuat mempunyai efek buruk Insipien Imatur Matur Hipermatur
terhadap serabu-serabut lensa. Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Faktor imunologik Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
Gangguan yang bersifat lokal pada lensa, Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
seperti gangguan nutrisi, gangguan Bilik mata Normal Dangkal Normal Dalam
permeabilitas kapsul lensa, efek radiasi depan
cahaya matahari. Sudut bilik Normal Sempit Normal Terbuka
mata
Gangguan metabolisme umum Shadow test - + - -/+
Visus + < << <<<
Masih 6/60-1/60 1/300 1/300-1/~
6/6-6/20
Penyulit - Glaukoma - Uveitis,
glaukoma
63. DAKRIOSISTITIS
Partial or complete obstruction of the nasolacrimal duct
with inflammation due to infection (Staphylococcus aureus
or Streptococcus B-hemolyticus), tumor, foreign bodies,
after trauma or due to granulomatous diseases.
Clinical features : epiphora, acute, unilateral, painful
inflammation of lacrimal sac, pus from lacrimal punctum,
fever, general malaise, pain radiates to forehead and teeth
Diagnosis : Anel test(+) :not dacryocystitis, probably skin
abcess; (-) or regurgitation (+) : dacryocystitis. Swab and
culture
Treatment : Systemic and topical antibiotic, irrigation of
lacrimal sac, Dacryocystorhinotomy
DAKRIOSISTITIS ANATOMI DUKTUS LAKRIMALIS
Uji Anel
Evaluasi Sistem Lakrimal-Drainase Lakrimal :
Uji Anel : Dengan melakukan uji anel, dapat diketahui apakah fungsi dari
bagian eksresi baik atau tidak.
Cara melakukan uji anel :
Lebarkan pungtum lakrimal dengan dilator pungtum
Isi spuit dengan larutan garam fisiologis. Gunakan jarum lurus atau bengkok
tetapi tidak tajam
Masukkan jarum ke dalam pungtum lakrimal dan suntikkan cairan melalui
pungtum lakrimal ke dalam saluran eksresi , ke rongga hidung
Uji anel (+): terasa asin di tenggorok atau ada cairan yang masuk hidung.
Uji anel (-) jika tidak terasa asinberarti ada kelainan di dalam saluran
eksresi.
Jika cairan keluar dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi di
duktus nasolakrimalis. Jika cairan keluar lagi melalui pungtum lakrimal
inferior berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kanalikuli lakrimal
inferior, maka coba lakukan uji anel pungtum lakrimal superior.
Atlas of ophthalmology; Pedoman pelayanan medis RS Cicendo
Tes Untuk menguji lapang pandang penderita
Konfrontasi dengan membandingkan antara lapang pandang
pemeriksa (dianggap normal) dengan lapang
pandang pasien

Tes Pemberian zat fluoresens warna pada kornea


Fluoresensi untuk melihat ada tidaknya defek kornea
Tes Ishihara Tes untuk mengetahui butawarna
Tes Amsler Tes untuk memeriksa fungsi penglihatan sentral
(misal pada penyakit macular degeneration)
DD/ Dakrioadenitis
Peradangan dari kelenjar Gejala: nyeri, kemerahan, dan
lakrimalis gejala penekanan pada unilateral
supratemporal orbita
Kelenjar lakrimalis berada di Tanda: Khemosis
supratemporal orbita + lobus Injeksi konjungtiva
palpebral Sekret mukopurulent
Kelopak merah
Patofisiologi masih belum
Limfadenopati submandibular
dimengerti, diperkirakan akibat Bengkak pada 1/3 lateral kelopak
ascending infection kuman dari mata (S-shaped lid)
duktus lakrimalis ke dalam Proptosis
kelenjar Gangguan gerak bola mata
Pembesaran kelenjar parotis
Lobus palpebral biasanya juga Demam
ikut terkena ISPA
Penyebab: mumps, EBV, Malaise
stafilokokus, GO
Tatalaksana
Viral (paling sering) - Self-
limiting, tx suportif
(kompres hangat, NSAID
oral)
Bacterial 1st generation
cephalosporins
Protozoa / fungal
antiamoebic/ antifungal
Inflammatory
(noninfectious) cek
penyebab sistemik,
tatalaksana berdasarkan
penyebabnya.
64. RETINOPATI DIABETIK
ANAMNESIS

MATA MERAH MATA MERAH MATA TENANG


MATA TENANG VISUS
VISUS NORMAL VISUS TURUN VISUS TURUN
TURUN MENDADAK
struktur yang PERLAHAN
mengenai media
bervaskuler
refraksi (kornea, uveitis posterior Katarak
sklera konjungtiva
uvea, atau perdarahan vitreous Glaukoma
tidak Ablasio retina retinopati
seluruh mata)
menghalangi oklusi arteri atau vena penyakit sistemik
media refraksi retinal retinitis
neuritis optik pigmentosa
Keratitis
Konjungtivitis murni neuropati optik akut kelainan refraksi
Keratokonjungtivitis
Trakoma karena obat (misalnya
Ulkus Kornea
mata kering, etambutol), migrain,
Uveitis
tumor otak
xeroftalmia glaukoma akut
Pterigium Endoftalmitis
Pinguekula panoftalmitis
Episkleritis
skleritis
RETINOPATI DIABETIK
DM ophthalmic complications : Diabetic Retinopathy :
Retinopathy (damage to the
Corneal abnormalities retina) caused by
Glaucoma complications of diabetes,
which can eventually lead to
Iris neovascularization
blindness.
Cataracts It is an ocular manifestation of
Neuropathies systemic disease which affects
Diabetic retinopathy up to 80% of all patients who
most common and have had diabetes for 10 years
potentially most blinding or more.
RETINOPATI DIABETIK
Signs and Symptoms Pemeriksaan :
Seeing spots or floaters in the Tajam penglihatan
field of vision Funduskopi dalam keadaan
Blurred vision pupil dilatasi : direk/indirek
Foto Fundus
Having a dark or empty spot in
USG bila ada perdarahan
the center of the vision vitreus
Difficulty seeing well at night
On funduscopic exam : cotton
wool spot, flame Tatalaksana :
hemorrhages, dot-blot Fotokoagulasi laser
hemorrhages, hard exudates
RETINOPATI DIABETIK
Riwayat DM yang lama, biasa > 20 tahun
Mata tenang visus turun perlahan
Pemeriksaan Oftalmoskop
Mikroaneurisma (penonjolan dinding kapiler)
Perdarahan dalam bentuk titik, garis, bercak yang letaknya dekat
dengan mikroaneurisma di polus posterior (dot blot hemorrhage)
Dilatasi vena yang lumennya ireguler dan berkelok
Hard exudate (infiltrasi lipid ke dalam retina akibat dari peningkatan
permeabiitas kapiler), warna kekuningan
Soft exudate (cotton wall patches) adalah iskemia retina tampak
sebagai bercak kuning bersifat difus dan warna putih
Neovaskularisasi
Edema retina
RETINOPATI DIABETIK - KLASIFIKASI

RETINOPATI DIABETIK NONPROLIFERATIF


ditandai dengan kebocoran darah dan serum pada
pembuluh darah kapiler
menyebabkan edema jaringan retina dan
terbentuknya deposit lipoprotein (hard exudates)
Tidak menyebabkan gangguan penglihatan
mengenai makula
Edema makula penebalan daerah makula
sebagai akibat kebocoran kapiler perifoveal
RETINOPATI DIABETIK - KLASIFIKASI
RETINOPATI DIABETIK PROLIFERATIF
ditandai dengan adanya proliferasi jaringan
fibrovaskular atau neovaskularisasi pada
permukaan retina & papil saraf optik serta vitreus
Proliferasi respon dari oklusi luas pembuluh
darah kapiler retina yang menyebabkan iskemia
retina
menyebabkan gangguan penglihatan sampai
kebutaan melalui mekanisme;
Perdarahan vitreus
Tractional retinal detachment
Glaukoma neovaskular
KLASIFIKASI RETINOPATI DM
Derajat I : Mikroaneurisama dengan atau
tanpa eksudat lemak pada fundus okuli
Derajat II: Mikroaneurisma, perdarahan bintik
dan bercak dengan atau tanpa eksudat lemak
pada fundus okuli
Derajat III: Mikroaneurisma, perdarahan bintik
dan bercak, neovaskularisasi
Dot blot hemorrhage
Flame-shaped hemorrhage

Microaneurysm / dot blot hemorrhage


Macular edema
Neovascularization
Proliferative diabetic retinopathy
Penatalaksanaan :
1. Medical Treatment :
Aldose reduktase inhibitor (sorbinil)
Penelitian menurunkan proses retinopati
Vascular Endothelial Growth factor Inhibitor
Aminoguanidin (mengikat protein yang
mengalami glikolisis
Pentoxypilin (memperbaiki sirkulasi perifer)
2. Laser Photocoagulation
Early Treatment Diabetic Retinopathy Study
(ETDRS) : Fotokoagulasi dini menurunkan incident
ggn visus 50%
Terapi pilihan utama pada retinopati diabetes
yang telah mengancam penglihatan
Indikasi :
Perdarahan vitreous atau preretinal terokalisasi
Kontraksi progresif proliferasi fibrin
Neovaskularisasi ekstensif di COA
3. Bedah Vitrektomi :
Vitrektomi dini pada PDR dapat menyebabkan
regresi NVD dan NVE
Indikasi :
Vitrektomi dipertimbangkan dilakukan jika terjadi
rekurensi, kegagalan terapi dengan foto koagulasi,
ataupun perdarahan vitreus yang massif hingga polus
posterior tidak terlihat.
Perdarahan vitreous yang lama (3 6 bln)
PDR (retinopati diabetik proliferatif) yang aktif dengan
visus baik
Adanya traksi pada papil, peripapil, makula
Adanya ablasio retina yang melibatkan makula
Penurunan tajam penglihatan dari 10/50 menjadi
10/100 atau lebih buruk
Defini dan gejala
Oklusi arteri Penyumbataan arteri sentralis retina dapat disebabkan oleh radang arteri, thrombus dan
sentral emboli pada arteri, spsame pembuluh darah, akibat terlambatnya pengaliran darah, giant cell
retina arthritis, penyakit kolagen, kelainan hiperkoagulasi, sifilis dan trauma. Secara oftalmoskopis,
retina superficial mengalami pengeruhan kecuali di foveola yang memperlihatkan bercak
merah cherry (cherry red spot). Penglihatan kabur yang hilang timbul tanpa disertai rasa sakit
dan kemudian gelap menetap. Penurunan visus mendadak biasanya disebabkan oleh emboli

Oklusi vena Kelainan retina akibat sumbatan akut vena retina sentral yang ditandai dengan penglihatan
sentral hilang mendadak.
retina Vena dilatasi dan berkelok, Perdarahan dot dan flame shaped , Perdarahan masif pada ke 4
kuadran , Cotton wool spot, dapat disertai dengan atau tanpa edema papil

ARMD Degenerasi makula terkait usia. Penyebab pasti belum diketahui. Insidens meningkat pada usia
> 50 tahun. Predominansi pada wanita, riwayat keluarga, dan riwayat merokok. Gangguan
penglihatan sentral (mata kabur, distorsi atau skotoma). Ditandai oleh atrofi dan degenerasi
retina bagian luar, epitel pigmen retina, membran Bruch, dan koriokapilaris dengan derajat
bervariasi. Funduskopi: drusen (endapan putih, kuning, bulat, diskret tersebar di seluruh
makula dan kutub posterior)
Tatalaksana bisa berupa Antioksidan serta Fotokoagulasi laser

Retinopati suatu kondisi dengan karakteristik perubahan vaskularisasi retina pada populasi yang
hipertensi menderita hipertensi. Mata tenang visus turun perlahan dengan tanda AV crossing cotton
wol spot- hingga edema papil; copperwire; silverwire
Amaurosis Kehilangan penglihatan tiba-tiba secara transient/sementara tanpa adanya nyeri, biasanya
Fugax monokular, dan terkait penyakit kardiovaskular
65. KELAINAN REFRAKSI: ABLASIO RETINA
ANAMNESIS

MATA MERAH MATA MERAH MATA TENANG


MATA TENANG VISUS
VISUS NORMAL VISUS TURUN VISUS TURUN
TURUN MENDADAK
struktur yang PERLAHAN
mengenai media
bervaskuler
refraksi (kornea, uveitis posterior Katarak
sklera konjungtiva
uvea, atau perdarahan vitreous Glaukoma
tidak Ablasio retina retinopati
seluruh mata)
menghalangi oklusi arteri atau vena penyakit sistemik
media refraksi retinal retinitis
neuritis optik pigmentosa
Keratitis
Konjungtivitis murni neuropati optik akut kelainan refraksi
Keratokonjungtivitis
Trakoma karena obat (misalnya
Ulkus Kornea
mata kering, etambutol), migrain,
Uveitis
tumor otak
xeroftalmia glaukoma akut
Pterigium Endoftalmitis
Pinguekula panoftalmitis
Episkleritis
skleritis
Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

65. Ablasio Retina


Ablasio retina adalah suatu Jenis:
keadaan terpisahnya sel Rhegmatogenosa (paling
kerucut dan batang retina sering) lubang / robekan
(retina sensorik) dari sel pada lapisan neuronal
epitel pigmen retina menyebabkan cairan vitreus
Mengakibatkan gangguan masuk ke antara retina
nutrisi retina pembuluh sensorik dengan epitel
darah yang bila berlangsung pigmen retina
lama akan mengakibatkan Traksi adhesi antara vitreus
gangguan fungsi / proliferasi jaringan
penglihatan fibrovaskular dengan retina
Serosa / hemoragik
eksudasi ke dalam ruang
subretina dari pembuluh
darah retina
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Etiologi Ablasio Retina
Rhegmatogenosa: Serosa / hemoragik:
Miopia Hipertensi
Trauma okular Oklusi vena retina
Afakia sentral
Degenerasi lattice Vaskulitis
Traksi: Papilledema
Retinopati DM Tumor intraokular
proliferatif
Vitreoretinopati
proliferatif
Retinopati prematuritas
Trauma okular
Ablasio
Rhegmatogenosa

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology


17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Ablasio Retina
Anamnesis: Funduskopi : adanya
Riwayat trauma robekan retina, retina yang
Riwayat operasi mata terangkat berwarna keabu-
Riwayat kondisi mata abuan, biasanya ada fibrosis
sebelumnya (cth: uveitis, vitreous atau fibrosis
perdarahan vitreus, miopia preretinal bila ada traksi.
berat) Bila tidak ditemukan
Durasi gejala visual & robekan kemungkinan suatu
penurunan penglihatan
ablasio nonregmatogen
Gejala & Tanda:
Fotopsia (kilatan cahaya)
gejala awal yang sering
Defek lapang pandang
bertambah seiring waktu
Floaters
Tatalaksana
Ablasio retina
kegawatdaruratan mata
Tatalaksana awal:
Puasakan pasien u/ persiapan
operasi
Hindari tekanan pada bola
mata
Batasi aktivitas pasien sampai
diperiksa spesialis mata
Segera konsultasi spesialis
retina konservatif (untuk
nonregmatogen), pneumatic
retinopexy, bakel sklera,
vitrektomi tertutup

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
66. Entropion
Yaitu kondisi di mana margo palpebra membalik ke dalam
Pada enteropion bisa disertai dengan trikiasis
Terdapat beberapa jenis entropion:
Entropion kongenital: sangat jarang terjadi, biasanya menghilang
sejalan dengan waktu
Entropion involusional (senilis): bentuk yang paling umum, berkaitan
dengan usia tua karena proses penuaan. Results from inferior retractor
dysfunction tissue laxity and possibly override of preseptal orbicularis
over pretarsal orbicularis.
Entropion sikatrikal: sering mengenai margo palpebrae superior,
disebabkan oleh jaringan parut pada konjungtiva dan tarsus, seperti
pada trauma, operasi, bahan kimia, trakoma
Entropion spastik: sering mengenai palpebra inferior, disebabkan
karena spasme otot orbikularis okuli. Sering didapatkan pada orangtua
(entropion senilis), dimana terdapat relaksasi dari kulit palpebra dan
letak bola mata yang lebih dalam, akibat berkurangnya jaringan lemak
Gejala & tanda:
Terjadi akibat rangsangan mekanis dan kerusakan
kornea, seperti nyeri, lakrimasi, fotofobia,
blefarospasme, injeksi konjungtiva
Kornea keruh, terdapat ulkus kornea
Pengobatan:
Operasi berupa tarsotomi
67. Blepharitis
Terdiri dari blefaritis anterior dan Tx blefaritis seboroik: perbaikan
hygiene mata dengan cara:
posterior kompres hangat untuk evakuasi dan
melancarkan sekresi kelenjar
Blefaritis anterior: radang tepi palpebra dicuci + digosok perlahan
bilateral kronik di tepi palpebra dengan shampoo bayi untuk
membersihkan skuama
Blefaritis stafilokokus: sisik pemberian salep antibiotik eritromisin
kering, palpebra merah, (bisa digunakan kombinasi antibioti-KS)
terdapat ulkus-ulkus kecil
Blefaritis posterior: peradangan
sepanjang tepi palpebra, bulu palpebra akibat difungsi kelenjar
mata cenderung rontok meibom bersifat kronik dan bilateral
antibiotik stafilokokus Kolonisasi stafilokokus
Terdapat peradangan muara meibom,
Blefaritis seboroik: sisik sumbatan muara oleh sekret kental
berminyak, tidak terjadi
ulserasi, tepi palpebra tidak
begitu merah
Blefaritis tipe campuran
Blepharitis
Definisi Gejala Tatalaksana
Blefaritis Infeksi kelopak superfisial Terdapat krusta dan bila Salep antibiotik
superfisial yang diakibatkan menahun disertai (sulfasetamid dan
Staphylococcus dengan meibomianitis sulfisoksazol),
pengeluaran pus
Blefaritis Blefaritis diseratai skuama Etiologi: kelainan Membersihkan tepi
skuamosa/ atau krusta pada pangkal metabolik atau jamur. kelopak dengan
blefaritis bulu mata yang bila Gejala: panas, gatal, sampo bayi, salep
seboroik dikupas tidak terjadi luka sisik halus dan mata, dan topikal
pada kulit, berjalan penebalan margo steroid
bersamaan dengan palpebra disertai
dermatitis sebore madarosis
Blefaritis Infeksi Staphyllococcus Gangguan pada fungsi Dengan sulfa,
Angularis pada tepi kelopak di sudut pungtum lakrimal, tetrasiklin, sengsulfat
kelopak atau kantus rekuren, dapat
menyumbat duktus
lakrimal sehingga
mengganggu fungsi
lakrimalis

Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas


Blefaritis Angularis
68. Konjungtivitis
Conjunctivitis is swelling (inflammation) or infection of
the membrane lining the eyelids (conjunctiva)

Pathology Etiology Feature Treatment


Bacterial staphylococci Acute onset of redness, grittiness, topical antibiotics
streptococci, burning sensation, usually bilateral Artificial tears
gonocci eyelids difficult to open on waking,
Corynebacter diffuse conjungtival injection,
ium strains mucopurulent discharge, Papillae
(+)
Viral Adenovirus Unilateral watery eye, redness, Days 3-5 of worst, clear
herpes discomfort, photophobia, eyelid up in 714 days without
simplex virus edema & pre-auricular treatment
or varicella- lymphadenopathy, follicular Artificial tears relieve
zoster virus conjungtivitis, pseudomembrane dryness and inflammation
(+/-) (swelling)
Antiviral herpes simplex
virus or varicella-zoster virus
http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html
Pathology Etiology Feature Treatment
Fungal Candida spp. can Not common, mostly occur in Topical antifungal
cause immunocompromised patient,
conjunctivitis after topical corticosteroid and
Blastomyces antibacterial therapy to an
dermatitidis inflamed eye
Sporothrix
schenckii
Vernal Allergy Chronic conjungtival bilateral Removal allergen
inflammation, associated atopic Topical antihistamine
family history, itching, Vasoconstrictors
photophobia, foreign body
sensation, blepharospasm,
cobblestone pappilae, Horner-
trantas dots
Inclusion Chlamydia several weeks/months of red, Doxycycline 100 mg PO
trachomatis irritable eye with mucopurulent bid for 21 days OR
sticky discharge, acute or Erythromycin 250 mg
subacute onset, ocular irritation, PO qid for 21 days
foreign body sensation, watering, Topical antibiotics
unilateral ,swollen lids,chemosis
,Follicles
69. Ulkus Kornea
ULKUS KORNEA
Gejala Subjektif
Ulkus kornea adalah hilangnya Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
sebagian permukaan kornea akibat Sekret mukopurulen
kematian jaringan kornea Merasa ada benda asing di mata
Pandangan kabur
ditandai dengan adanya infiltrat Mata berair
Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
supuratif disertai defek kornea
Silau
bergaung, dan diskontinuitas Nyeri
jaringan kornea yang dapat terjadi nfiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit
dari epitel sampai stroma. nyeri, jika ulkus terdapat pada perifer kornea
dan tidak disertai dengan robekan lapisan
Etiologi: Infeksi, bahan kimia, epitel kornea.

trauma, pajanan, radiasi, sindrom Gejala Objektif


sjorgen, defisiensi vit.A, obat- Injeksi siliar
obatan, reaksi hipersensitivitas, Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan
adanya infiltrat
neurotropik Hipopion
ULKUS KORNEA
Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 Penatalaksanaan :
: harus segera ditangani oleh
1. Ulkus kornea sentral spesialis mata
Ulkus kornea bakterialis Pengobatan tergantung
penyebabnya, diberikan obat
Ulkus kornea fungi tetes mata yang mengandung
Ulkus kornea virus antibiotik, anti virus, anti
Ulkus kornea acanthamoeba jamur,
2.Ulkus kornea perifer sikloplegik
Mengurangi reaksi
Ulkus marginal
peradangan dengan steroid.
Ulkus mooren (ulkus Berikan analgetik jika nyeri
serpinginosa kronik/ulkus
Jangan menggosok-gosok
roden) mata yang meradang
Ulkus cincin (ring ulcer) Mencegah penyebaran infeksi
dengan mencuci tangan
An inflammatory or more seriously, infective condition of the cornea
involving disruption of its epithelial layer with involvement of the
corneal stroma
Causative Agent Feature Treatment
Fungal Fusarium & candida species, conjungtival Natamycin,
injection, satellite lesion, stromal infiltration, amphotericin B,
hypopion, anterior chamber reaction Azole derivatives,
Flucytosine 1%
Protozoa infection associated with contact lens users swimming in
(Acanthamoeba) pools
Viral HSV is the most common cause, Dendritic Acyclovir
lesion, decrease visual accuity
Staphylococcus Rapid corneal destruction; 24-48 hour, stromal Tobramycin/cefazol
(marginal ulcer) abscess formation, corneal edema, anterior in eye drops,
segment inflammation. Centered corneal ulcers. quinolones
Pseudomonas
Traumatic events, contact lens, structural (moxifloxacin)
Streptococcus malposition
connective tissue RA, Sjgren syndrome, Mooren ulcer, or a
disease systemic vasculitic disorder (SLE)
69. Keratitis/ulkus kornea Jamur
Indolen, disertai infiltrat kelabu, sering dgn hipopion,
peradangan nyata bola mata, ulserasi superfisial, dan lesi satelit.
The most common pathogens are Fusarium and Aspergillus
(filamentous fungi) in warmer climates and Candida (a yeast) in
cooler climates.

Tabel 1. Pengobatan Keratitis Fungal


Organisme Rute obat Pilihan pertama Pilihan kedua Alternatif
Organisme Topikal Natamycin Amphotericin B Nystatin
mirip ragi = Subkonjungtiva Natamycin Miconazole -
Candida sp Sistemik Flycytosine Ketoconazole -
Organisme Topikal Natamycin Amphotericin B Miconazole
mirip hifa = Subkonjungtiva Amphotericin B Miconazole -
ulkus fungi Sistemik Fluconazole Ketoconazole -

Sources: Vaughan DG, dkk. Oftalmologi Umum Edisi 14. 1996.


Keratitis Fungal
Gejala nyeri biasanya dirasakan diawal, namun lama-lama
berkurang krn saraf kornea mulai rusak.
Pemeriksaan oftalmologi :
Grayish-white corneal infiltrate with a rough, dry texture and feathery
borders; infiltrat berada di dalam lapisan stroma
Lesi satelit, hipopion, plak/presipitat endotelilal
Bisa juga ditemukan epitel yang intak atau sedikit meninggi di atas
infiltrat stroma
Faktor risiko meliputi :
Trauma mata (terutama akibat tumbuhan)
Terapi steroid topikal jangka panjang
Preexisting ocular or systemic immunosuppressive diseases

Sumber: American Optometric Association. Fungal Keratitis. / Vaughan Oftalmologi Umum 1995.
Keratitis Fungal
Meskipun memiliki karakteristik, terkadang sulit membedakan
keratitis fungal dengan bakteri.
Namun, infeksi jamur biasanya localized, dengan button appearance
yaitu infiltrat stroma yang meluas dengan ulserasi epitel relatif kecil.
Pd kondisi demikian sebaiknya diberikan terapi antibiotik
sampai keratitis fungal ditegakkan (mis. dgn kultur, corneal
tissue biopsy).

Stromal infiltrate
Keratitis Jamur

Lesi satelit (panah merah) pada


keratitis jamur

Keratitis fungi bersifat indolen, dengan infiltrat kelabu, sering dengan hipopion,
peradangan nyata pada bola mata, ulserasi superfisial, dan lesi-lesi satelit (umumnya
infiltrat di tempat-tempat yang jauh dari daerah utama ulserasi).

Vaughan DG, dkk. Oftalmologi Umum Edisi 14. 1996.


70. Konjungtivitis Inklusi
Disebabkan oleh infeksi Chlamydia trachomatis, biasanya
terdapat pada dewasa muda yang aktif secara seksual.
Gejala dan tanda :
Mata merah, pseudoptosis, bertahi mata (terutama pagi hari)
Papila dan folikel pada kedua konjungtiva tarsus (terutama inferior)
Keratitis superfisial mungkin ditemukan tapi jarang
CHLAMYDIAL KONJUNGTIVITIS
EPIDEMIOLOGY SIGNS
Adult chlamydial conjunctivitis is a sexually Preauricular lymphadenopathy
transmitted disease (STD) Mucopurulent discharge
All ages but particularly young adults Conjunctival injection
More women than men affected C. Chemosis
trachomatis serotypes D-K Follicular reaction (especially bulbar or plica
semilunaris follicles)
Histopathology: basophilic intracytoplasmic Superior micropannus
epithelial inclusion bodies (on Giemsa Fine or coarse epithelial or subepithelial
staining) corneal infiltrates

SYMPTOMS TREATMENT
Unilateral or bilateral involvement Options include one of the following:
Purulent discharge, crusting of lashes, Azithromycin 1000mg single dose
swollen lids, or lids "glued together" Doxycycline 100mg BID for 7 days
Patient may also complain of: Tetracycline 100mg QID x 7 days (avoid in
red eyes pregnant women and in children)
irritation Erythromycin 500 mg QID x 7 days
tearing Patient and sexual contacts should be
photophobia evaluated and treated for other STDs.
blurred vision
http://www.aao.org/theeyeshaveit/red-eye/chlamydial-conjunctivitis.cfm
Etiologi Diagnosis Karakteristik
Viral Konjungtivitis folikuler Merah, berair mata, sekret minimal, folikel sangat
akut mencolok di kedua konjungtiva tarsal
Klamidia Trachoma Seringnya pd anak, folikel dan papil pd konjungtiva
tarsal superior disertai parut, perluasan pembuluh
darah ke limbus atas
Konjungtivitis inklusi Mata merah, sekret mukopurulen (pagi hari), papil
dan folikel pada kedua konjungtiva tarsal (terutama
inferior)
Alergi/hiper- Konjungtivitis vernalis Sangat gatal, sekret berserat-serat, cobblestone pd
sensitivitas konjungtiva tarsal superior, horner-trantas dots
(limbus)
Konjungtivitis atopik Sensasi terbakar, sekret berlendir, konjungtiva
putih spt susu, papil halus pada konjungtiva tarsal
inferior
Konjungtivitis Reaksi hipersensitif tersering akibat protein TB,
fliktenularis nodul keabuan di limbus atau konjungtiva bulbi,
mata merah dan berair mata
Autoimun Keratokonjungtivitis sicca Akibat kurangnya film air mata, tes shcirmer
abnormal, konjungtiva bulbi hiperemia, sekret
mukoid, semakin sakit menjelang malam dan
berkurang pagi
NEUROLOGI
71. Klasifikasi Nyeri
Klasifikasi Nyeri - Nyeri secara esensial dapat
dibagi atas dua tipe yaitu nyeri adaptif dan nyeri
maladaptif.
Nyeri adaptif berperan dalam proses survival
dengan melindungi organisme dari cedera atau
sebagai petanda adanya proses penyembuhan
dari cedera.
Nyeri maladaptif terjadi jika ada proses patologis
pada sistem saraf atau akibat dari abnormalitas
respon sistem saraf. Kondisi ini merupakan suatu
penyakit (pain as a disease).
Woolf, C. J., 2004: Pain: Moving from Symptom Control toward Mechanism-Specific Pharmacologic Management,
Ann Intern Med; 140:441-451
Klasifikasi Nyeri
1. Nyeri Nosiseptif
Nyeri dengan stimulasi singkat dan tidak
menimbulkan kerusakan jaringan.
Pada umumnya, tipe nyeri ini tidak memerlukan
terapi khusus karena perlangsungannya yang singkat.
Nyeri ini dapat timbul jika ada stimulus yang cukup
kuat sehingga akan menimbulkan kesadaran akan
adanya stimulus berbahaya, dan merupakan sensasi
fisiologis vital.
Intensitas stimulus sebanding dengan intensitas nyeri.
Contoh: nyeri pada operasi, nyeri akibat tusukan
jarum, dll.
Woolf, C. J., 2004: Pain: Moving from Symptom Control toward Mechanism-Specific Pharmacologic Management,
Ann Intern Med; 140:441-451
2. Nyeri Inflamatorik
Nyeri dengan stimulasi kuat atau berkepanjangan yang
menyebabkan kerusakan atau lesi jaringan.
Nyeri tipe II ini dapat terjadi akut dan kronik dan pasien
dengan tipe nyeri ini, paling banyak datang ke fasilitas
kesehatan.
Contoh: nyeri pada rheumatoid artritis.

3. Nyeri Neuropatik
Merupakan nyeri yang terjadi akibat adanya lesi sistem
saraf perifer
Seperti pada neuropati diabetika, post-herpetik neuralgia,
radikulopati lumbal, dll) atau sentral (seperti pada nyeri
pasca cedera medula spinalis, nyeri pasca stroke, dan
nyeri pada sklerosis multipel).
Woolf, C. J., 2004: Pain: Moving from Symptom Control toward Mechanism-Specific Pharmacologic Management,
Ann Intern Med; 140:441-451
4. Nyeri Fungsional

Bentuk sensitivitas nyeri ini ditandai dengan tidak


ditemukannya abnormalitas perifer dan defisit neurologis.
Nyeri disebabkan oleh respon abnormal sistem saraf
terutama hipersensitifitas aparatus sensorik.
Beberapa kondisi umum memiliki gambaran nyeri tipe ini
yaitu fibromialgia, iritable bowel syndrome, beberapa
bentuk nyeri dada non-kardiak, dan nyeri kepala tipe
tegang.
Tidak diketahui mengapa pada nyeri fungsional susunan
saraf menunjukkan sensitivitas abnormal atau hiper-
responsifitas
Woolf, C. J., 2004: Pain: Moving from Symptom Control toward Mechanism-Specific Pharmacologic Management,
Ann Intern Med; 140:441-451
72. Abses Serebri
Infeksi supuratif fokal di dalam parenkim otak, diliputi oleh kapsul
bervaskular
Faktor Predisposisi :
Otiti media dan mastoiditis
Sinusitis paranasal
Infeksi pyogenik di torax atau bagian tubuh lainnya
Trauma tembus kepala atau prosedur neurosurgery
Infeksi dental
Etiologi :
Immunocompetent : Streptococcus spp. [anaerobic, aerobic, and
viridans (40%)], Enterobacteriaceae [Proteus spp., E. coli sp., Klebsiella
spp. (25%)], anaerobes [e.g., Bacteroides spp., Fusobacterium spp.
(30%)], and staphylococci (10%).
Immunocompromised : HIV infection, organ transplantation, cancer,
or immunosuppressive therapy Nocardia spp., Toxoplasma gondii,
Aspergillus spp., Candida spp., and C. neoforma
Manifestasi klinis abses serebri bergantung dari lokasi abses,
lokasi fokus primer dan tingginya tekanan intrakranial

Trias Klasik :
Nyeri kepala : konstan, tumpul di sebelah atau seluruh kepala,
makin lama makin memberat
Demam muncul pada 50% pasien
Defisit neurologis fokal hemiparesis, aphasia, gangguan lapang
pandang, kejang
73. EPIDURAL HEMATOM

Pengumpulan darah diantara tengkorak dg


duramater. Biasanya berasal dari arteri yg pecah
(A. Meningea Media) oleh karena ada fraktur
atau robekan langsung.
Gejala (trias klasik) :
1. Interval lusid.
2. Hemiparesis/plegia.
3. Pupil anisokor.
Diagnosis akurat dg CT scan kepala : perdarahan
bikonveks atau lentikulerdi daerah epidural.
PERDOSSI. Trauma Kapitis. 2006
Epidural Hematom
74. Demensia
Demensia ialah kondisi keruntuhan kemampuan
intelek yang progresif setelah mencapai
pertumbuhan & perkembangan tertinggi (umur
15 tahun) karena gangguan otak organik, diikuti
keruntuhan perilaku dan kepribadian,
dimanifestasikan dalam bentuk gangguan fungsi
kognitif seperti memori, orientasi, rasa hati dan
pembentukan pikiran konseptual.
Biasanya kondisi ini tidak reversibel, sebaliknya
progresif
Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Delirium, dementia, amnestic and
cognitive disorders. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical
Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Epidemiologi Demensia
50-60% demensia tipe Alzheimer (Alzheimers
diseases), meningkat seiring bertambahnya usia.
15-30% demensia vaskular, sering ditemui pada
seseorang yang berusia antara 60 hingga 70 tahun dan
lebih sering pada laki-laki daripada wanita.
Sekitar 10-15% persen pasien menderita kedua jenis
demensia di atas.
Penyebab demensia paling sering lainnya (1-5%) adalah
trauma kepala, demensia yang berhubungan dengan
alkohol, dan berbagai jenis demensia yang
berhubungan dengan gangguan pergerakan, misalnya
penyakit Huntington dan penyakit Parkinson.
Roan Witjaksana. Delirium dan Demensia. Diakses dari : http://www.
idijakbar.com/prosiding/delirium.htm
Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Delirium, dementia, amnestic and
cognitive disorders. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical
Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Klasifikasi PPDGJ III demensia (F00-F03 Gangguan Mental Organik)
F 00 Demensia pada penyakit Alzheimer
F00.0 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan onset dini
F00.1 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan Onset Lambat
F00.2 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan, tipe tidak khas atau tipe
campuran
F00.9 Demensia pada penyakit Alzheimer YTT (Yang Tidak Tergolongkan)
F 01 Demensia Vaskular F01.0 Demensia Vaskular Onset akut
F01.1 Demensia Vaskular Multi-Infark
F01.2 Demensia Vaskular Sub Kortikal
F01.3 Demensia Vaskular campuran kortikal dan subkortikal
F01.8 Demensia Vaskular lainnya
F01.9 Demensia Vaskular YTT
F02 Demensia pada penyakit lain
F02.0 Demensia pada penyakit PICK
F02.1 Demensia pada penyakit Creutzfeldt-Jakob
F02.2 Demensia pada penyakit Huntington
F02.3 Demensia pada penyakit parkinson
F02.4 Demensia pada penyakit HIV
F02.8 Demensia pada penyakit lain YDT YDK (Yang Di-Tentukan-Yang
DiKlasifikasikan ditempat lain)
F03 Demensia YTT
Kriteria Diagnosis untuk masing-masing tipe
demensia pada slide sebelumnya dapat dilihat
di DSM IV.
Demensia Vaskular
Penyebabnya adalah penyakit vaskuler serebral yang
multipel yang menimbulkan gejala berpola demensia.
Ditemukan umumnya pada laki-laki, khususnya dengan
riwayat hipertensi dan 9 faktor resiko kardiovaskuler
lainnya.
Gangguan terutama mengenai pembuluh darah
serebral berukuran kecil dan sedang yang mengalami
infark dan menghasilkan lesi parenkhim multipel yang
menyebar luas pada otak.
Pada pemeriksaan akan ditemukan bruit karotis, hasil
funduskopi yang tidak normal atau pembesaran
jantung.
Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Delirium, dementia, amnestic and
cognitive disorders. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical
Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Tatalaksana Demensia
Langkah pertama: verifikasi diagnosis. Diagnosis akurat
sangat penting mengingat progresifitas penyakit dapat
dihambat atau bahkan disembuhkan jika terapi yang
tepat dapat diberikan.
Pada pasien dengan hipertensi perlu diperhatikan
pilihan obat yang diberikan. Antagonis reseptor -2
dapat memperburuk kerusakan fungsi kognitif.
Terapi pada demensia meliputi psikososial,
farmakoterapi, terapi dengan menggunakan
pendekatan lain, Behavioural And Psychological
Symptoms Of Dementia (BPSD)
Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Delirium, dementia, amnestic and
cognitive disorders. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical
Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Obat anti-demensia pada kasus demensia stadium lanjut sebenarnya sudah
tak berguna lagi, namun bila diberikan dapat mengefektifkan obat terhadap
BPSD (Behavioural and Psychological Symptoms of Dementia):
Nootropika:
Pyritinol (Encephabol) 1 x100 - 3 x 200 mg
Piracetam (Nootropil) 1 x 400 - 3 x 1200 mg
Sabeluzole (Reminyl)
Ca-antagonist:
Nimodipine (Nimotop 1 - 3 x 30 mg)
Citicholine (Nicholin) 1 - 2 x 100 - 300 mg i.v / i.m.
Cinnarizine(Stugeron) 1 - 3 x 25 mg
Pentoxifylline (Trental) 2 - 3 x 400 mg (oral), 200 - 300 mg infuse
Pantoyl-GABA
Acetylcholinesterase inhibitors
Tacrine 10 mg dinaikkan lambat laun hingga 80 mg. Hepatotoxik
Donepezil (Aricept) centrally active reversible cholinesterase inhibitor, 5 mg
1x/hari
Galantamine (Riminil) 1 - 3 x 5 mg
Rivastigmin (Exelon) 1,5, 3, 4, 5, 6 mg
Memantine 2 x 5 - 10 mg
Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Delirium, dementia, amnestic and
cognitive disorders. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical
Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Farmakoterapi BPSD
Antidepresiva
Antipsikotika tipik: Haloperidol 0,25 - 0,5 o Amitriptyline 25 - 50 mg
atau 1 - 2 mg
o Tofranil 25 - 30 mg
Antipsikotika atipik: o Asendin 1 x 25 - 3 x 100 mg (hati2, cukup
Clozaril 1 x 12.5 - 25 mg
keras)
Risperidone 0,25 - 0,5 mg atau 0,75 - 1,75
o SSRI spt Zoloft 1x 50 mg, Seroxat 1x20 mg,
Olanzapine 2,5 - 5,0 mg atau 5 - 10 mg
Quetiapine 100 - 200 mg atau 400 - 600 mg
Luvox 1 x 50 -100 mg, Citalopram 1 x 10 - 20
Abilify 1 x 10 - 15 mg mg, Cipralex, Efexor-XR 1 x 75 mg, Cymbalta 1
x 60 mg.
Anxiolitika
Clobazam 1 x 10 mg
o Mirtazapine (Remeron) 7,5 mg - 30 mg (hati2)
Lorazepam 0,5 - 1.0 mg atau 1,5 - 2 mg Mood stabilizers
Bromazepam 1,5 mg - 6 mg o Buspirone HCI o Carbamazepine 100 - 200 mg atau 400 - 600
10 - 30 mg mg
Trazodone 25 - 10 mg atau 50 - 100 mg o Divalproex 125 - 250 mg atau 500 - 750 mg
Rivotril 2 mg (1 x 0,5mg - 2mg) o Topamate 1 x 50 mg o Tnileptal 1 x 300 mg - 3
x mg
o Neurontin 1 x 100 - 3 x 300 mg bisa naik
hingga 1800 mg
o Lamictal 1 x 50 mg 2 x 50 mg
o Priadel 2 - 3 x 400 mg

Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Delirium, dementia, amnestic and
cognitive disorders. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical
Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
75. CIDERA MEDULA SPINALIS

CMS memerlukan perhatian khusus mulai dari


tempat kejadian sampai pasien dirawat di rumah
sakit.
CMS 11,5 53,4 per 1.000.000
Angka kematian berkisar antara 4 17 %
CMS akut sering terjadi di C4 C7, T1, T11 T12,
L1, dan 15% CMS akut mrpk cdr multiple
PATOFISIOLOGI
Kompresi karena tulang, ligamen, herniasi
diskus intervertebralis & hematom.
Paling berat akibat kompresi tulang, trauma
hiperekstensi corpus dislokasi ke posterior.
Regangan jaringan, biasanya terjadi pada
hiperpleksi
toleransi medula spinali terhadap regangan
tergantung usia
Edema, timbul segera setelah trauma
Sirkulasi terganggu.
PATOFISIOLOGI
2 jam pasca cedera terjadi invasi sel-sel
inflamasi dimulai oleh microglia dan leukosit
polimorfonuklear.
4 jam pasca cedera hampir separuh medula
spinalis menjadi nekrotik.
6 jam pasca cedera terjadi edema primer
vaskogenik.
48 jam terjadi edema dan nekrotik kros-
sektional pada tempat cedera.
Manifestasi lesi traumatik
Komusio ,Kontusio,Laserasio,Perdarahan
Kompresi, Hemiseksi ,Transeksi medula
spinalis

Sindrom medulaspinalis bag ant & post


Syok spinal
Aktivitas refleks yang meningkat
Transeksi medula spinalis akan terjadi
masa Spinal Syok

Semua gerakan voluntair dibawah lesi hilang


secara mendadak
Semua sensibilitas bawah lesi hilang
Semua refleks hilang.
Berlangsung 3-6 mg
KLASIFIKASI

ASIA (American Spinal Injury Association) dan


IMSOP (International Medical Society of
Paraplegia) pada tahun 1990 dan 1991.
Berdasarkan fungsi:
Berdasarkan tipe dan lokasi:
Berdasarkan fungsi:

Grade A complete : tidak ada fungsi


motorik atau sensorik sampai sefmen
S4-S5
Grade B incomplete : tidak ada fungsi
sensorik tapi fingsi motorik masik ada
di bawah level cedera spinal sampai
segmen S4-S5
Berdasarkan fungsi:

Grade C incomplete : fungsi motorik


masih ada dibawah level cedera spinal dan
sebagian besar 10 otot ektrimitas dibawah
level cedera spinal mempunyai kekuatan
motorik <3
Grade D incomplete : idem grade C, tapi
kekuatan motorik 3
Grade E normal : fungsi motorik dan
sensorik normal
Berdasarkan tipe dan lokasi:

Complete spinal cord injury : ASIA/IMSOP grade A :

Uni-level : no zone of partial preservation


Multiple level : with zone of partial
preservation
Berdasarkan tipe dan lokasi:
Incomplete spinal cord injury : ASIA/IMSOP grade B, C, dan D :
Cervico-Medullary Syndrome
Central Cord Syndrome
Anterior Cord Syndrome
Posterior Cord Syndrome
Brown-Sequard Syndrome
Conus Medullaris Syndrome
Complete cauda equina injury : ASIA/AMSOP grade A
Incomplete cauda equina injury : ASIA/IMSOP grade B, C dan
D.
GEJALA KLINIK
Cervico-Medullary
Syndrome
Respiratory arrest, Sacral sparing
hipotensi, tetraplegia.
C1 C4, ggn sensibilitas
wajah,
Lengan lebih berat dari
tungkai
Central cord syndrome
Gangguan motorik pada
ekstrimitas atas lebih berat
dari tungkai dengan
gangguan sensibilitas
sembuh spontan
GEJALA KLINIK
Anterior Cord Syndrome
Paralisis komplit yang
mendadak dengan
hiperestesia pada tingkat
lesi, dibawah lesi ada rasa
raba, merupakan kasus
yang harus dintervensi
operasi secara dini.
Posterior cord syndrome
Jarang ada, kelemahan dr
batas lesi kebawah
Gangguan proprioseptik
GEJALA KLINIK
Brown-sequard syndrome
Gangguan motorik dan
propioseptik sisi ipsilateral
dan gangguan sensasi rasa
suhu dan nyeri pada sisi
kontralateral
Cedera hiperekstensi
Conus Medullaris
syndrome
Daerah T11-T12 dan T12-L1
24% dari kasus
Gangguan lower motor
neuron, flaksid tungkai &
sfingter ani,
spastisitas(kronik).
Sensory Test/Dermatome
A dermatome : an area of skin that
is mainly supplied by a single spinal
nerve.
There are 8 cervical nerves (C1
being an exception with no
dermatome), 12 thoracic nerves, 5
lumbar nerves and 5 sacral nerves.
Each of these nerves relays
sensation (including pain) from a
particular region of skin to the
brain.
Supplied by sensory neurons that
arise from a spinal nerve ganglion.
Symptoms that follow a dermatome
(e.g. like pain or a rash) may
indicate a pathology that involves
the related nerve root
http://en.wikipedia.org/wiki/Dermatome_(anatomy)#Clinical_significance
Sensory Test/Dermatome
PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan umum
1.Tentukan cedera medula spinalis akut?
2.Lakukan stabilisasi medula spinalis
3.Atasi gangguan fungsi vital yaitu airways,
breathing
4.Perhatikan perdarahan dan sirkulasi,
hipotensi, syok neurogenik
5.Medical: methylprednisolon 30mg/kgBB iv
76. HNP
HNP (Hernia Nukleus Pulposus) yaitu : keluarnya
nucleus pulposus dari discus melalui robekan annulus
fibrosus keluar ke belakang/dorsal menekan medulla
spinalis atau mengarah ke dorsolateral menakan saraf
spinalis sehingga menimbulkan gangguan.

Fakultas Kedokteran UI, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Media Acsculapius, Jakarta 2000, hal; 54-57.
Gejala Klinis
Adanya nyeri di pinggang bagian bawah yang menjalar ke
bawah (mulai dari bokong, paha bagian belakang, tungkai
bawah bagian atas). Dikarenakan mengikuti jalannya N.
Ischiadicus yang mempersarafi kaki bagian belakang.
1. Nyeri mulai dari pantat, menjalar kebagian belakang lutut,
kemudian ke tungkai bawah. (sifat nyeri radikuler).
2. Nyeri semakin hebat bila penderita mengejan, batuk,
mengangkat barang berat.
3. Nyeri bertambah bila ditekan antara daerah disebelah L5 S1
(garis antara dua krista iliaka).
4. Nyeri Spontan, sifat nyeri adalah khas, yaitu dari posisi
berbaring ke duduk nyeri bertambah hebat. Sedangkan bila
berbaring nyeri berkurang atauhilang.

Fakultas Kedokteran UI, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Media Acsculapius, Jakarta 2000, hal; 54-57.
Pemeriksaan
Motoris
Gaya jalan yang khas, membungkuk dan miring ke sisi tungkai yang nyeri dengan fleksi di sendi
panggul dan lutut, serta kaki yang berjingkat.
Motilitas tulang belakang lumbal yang terbatas.
Sensoris
Lipatan bokong sisi yang sakit lebih rendah dari sisi yang sehat.
Skoliosis dengan konkavitas ke sisi tungkai yang nyeri, sifat sementara.

Tes-tes Khusus
1. Tes Laseque (Straight Leg Raising Test = SLRT)
Tungkai penderita diangkat secara perlahan tanpa fleksi di lutut sampai sudut 90.
2. Gangguan sensibilitas, pada bagian lateral jari ke 5 (S1), atau bagian medial dari
ibu jari kaki (L5).
3. Gangguan motoris, penderita tidak dapat dorsofleksi, terutama ibu jari kaki (L5),
atau plantarfleksi (S1).
4. Tes dorsofleksi : penderita jalan diatas tumit
5. Tes plantarfleksi : penderita jalan diatas jari kaki
6. Kadang-kadang terdapat gangguan autonom, yaitu retensi urine, merupakan
indikasi untuk segera operasi.
7. Kadang-kadang terdapat anestesia di perincum, juga merupakan indikasi untuk
operasi.
8. Tes kernique
Fakultas Kedokteran UI, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Media Acsculapius, Jakarta 2000, hal; 54-57.
Pemeriksaan Penunjang
Radiologi
Foto X-ray tulang belakang. Pada penyakit diskus, foto ini normal
atau memperlihatkan perubahan degeneratif dengan
penyempitan sela invertebrata dan pembentukan osteofit.
Myelogram mungkin disarankan untuk menjelaskan ukuran dan
lokasi dari hernia. Bila operasi dipertimbangkan maka
myelogram dilakukan untuk menentukan tingkat protrusi diskus.
CT scan untuk melihat lokasi HNP
Diagnosis ditegakan dengan MRI setinggi radiks yang dicurigai.
EMG
Untuk membedakan kompresi radiks dari neuropati perifer

Fakultas Kedokteran UI, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Media Acsculapius, Jakarta 2000, hal; 54-57.
Tatalaksana
Medikamentosa: anti nyeri NSAID/ opioid, muscle relaxant, transquilizer.
Fisioterapi
Tirah baring (bed rest) 3 6 minggu dan maksud bila anulus fibrosis masih
utuh (intact), sel bisa kembali ke tempat semula.
Simptomatis dengan menggunakan analgetika, muscle relaxan trankuilizer.
Kompres panas pada daerah nyeri atau sakit untuk meringankan nyeri.
Bila setelah tirah baring masih nyeri, atau bila didapatkan kelainan neurologis,
indikasi operasi.
Bila tidak ada kelainan neurologis, kerjakan fisioterapi, jangan mengangkat
benda berat, tidur dengan alas keras atau landasan papan.
Fleksi lumbal
Pemakaian korset lumbal untuk mencegah gerakan lumbal yang berlebihan.
Jika gejala sembuh, aktifitas perlahan-lahan bertambah setelah beberapa hari
atau lebih dan pasien diobati sebagai kasus ringan.
Operasi

Fakultas Kedokteran UI, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Media Acsculapius, Jakarta 2000, hal; 54-57.
77. Tension Type Headache
(TTH) adalah sakit kepala yang terasa seperti
tekanan atau ketegangan di dalam dan disekitar
kepala.
Nyeri kepala karena tegang yang menimbulkan
nyeri akibat kontraksi menetap otot- otot kulit
kepala, dahi, dan leher yang disertai dengan
vasokonstriksi ekstrakranium.
Nyeri ditandai dengan rasa kencang seperti pita di
sekitar kepala dan nyeri tekan didaerah
oksipitoservikalis.
The International Classification of Headache Disorders: 2nd
edition. Cephalalgia 2004, 24 Suppl 1:9-160.
Menurut International Headache Society Classification, TTH
terbagi atas 3 yaitu:
Episodik tension-type headache,
Chronik-tension type Headache, dan
Headache of the tension type not fulfilling above criteria

Etiologi
Tension (keteganggan) dan stress.
Tiredness (Kelelahan).
Ansietas (kecemasan).
Lama membaca, mengetik atau konsentrasi
(eye strain)
Posture yang buruk.
Jejas pada leher dan spine.
Tekanan darah yang tinggi.
Physical dan stress emotional

The International Classification of Headache Disorders: 2nd


edition. Cephalalgia 2004, 24 Suppl 1:9-160.
Diagnosis TTH
Diagnosis nyeri kepala sebahagian besar didasarkan atas keluhan, maka
anamnesis memegang peranan penting.
Dari anamnesis, biasanya gejala terjadinya TTH terjadi setiap hari dan
terjadi dalam 10 kali serangan dalam satu hari.
Durasi atau lamanya TTH tersebut dapat terjadi selama antara 30 menit
sampai dengan 7 hari.
Nyerinya dapat bersifat unilateral atau bilateral, dan pada TTH tidak
adanya pulsating pain serta intensitas TTH biasanya bersifat ringan.
Pada TTH pun terdapat adanya mual, muntah dan kelaian visual seperti
adanya fonofobia dan fotofobia
Pemeriksaan tambahan pada TTH adalah pemeriksaan umum seperti
tekanan darah, fungsi cirkulasi, fungsi ginjal, dan pemeriksaan lain seperti
pemeriksaan neurologi (pemeriksaan saraf cranial, dan intracranial
particular), serta pemeriksaan lainnya, seperti pemeriksaan mental status.
Pemeriksaan lainnya seperti pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan
radiologi (foto rontgen, CT Scan), Elektrofisiologik (EEG, EMG)
The International Classification of Headache Disorders: 2nd
edition. Cephalalgia 2004, 24 Suppl 1:9-160.
Tatalaksana
TTH umumnya mempunyai respon yang baik
dengan pemberian analgesik seperti ibuprofen,
parasetamol / asetaminofen, dan aspirin.
Kombinasi Analgesik/sedative digunakan secara
luas (contoh , kombinasi analgesik/antihistamine
seperti Syndol, Mersyndol and Percogesic).
Pengobatan lain pada TTH
termasuk amitriptyline / mirtazapine /
dan sodium valproate (sebagai profilaksi).
The International Classification of Headache Disorders: 2nd
edition. Cephalalgia 2004, 24 Suppl 1:9-160.
78. Cluster Type Headache
79. SUBDURAL HEMATOM
Perdrhan yg mengumpul diantra korteks serebri dan
duramater regangan dan robekan vena-vena drainase
yg tdpt di rongga subdural ant. Permk. Otak dg sinus
duramater.
Gjl klinik biasany tdk terlalu hebat kecuali bila terdapat
efek massa.
Berdsrkan kronologis SDH dibagi mjd :
1. SDH akut : 1- 3 hr pasca trauma.
2. SDH subakut : 4-21 hr pasca trauma.
3. SDH khronis : > 21 hari.
gamb. CT scan kepala tdp lesi hiperdens bbtk bulan sabit yg
srg tjd pada daerah yg berseberangan dg trauma (Counter
Coup)

PERDOSSI. Trauma Kapitis. 2006


Tindakan op. dilakukan bila pdrh > 40 cc.
Bila komplikasi akut : gangg. Parenkim otak,
gangg. Pemb. Drh arteri.
Bila tidak ada komplikasi disebabkan : atrofi otak
mybbkan perdrhan dan putusnya vena jembatam,
gangg. Pembekuan.
Tindakan operasi dilakukan bila :
1. Perdarahan berulang.
2. Kapsulisasi.
3. Lobulat (multilobulat)
4. Kalsifikasi.
PERDOSSI. Trauma Kapitis. 2006
80. Afasia
Kelainan yang terjadi karena kerusakan dari
bagian otak yang mengurus bahasa.
yaitu kehilangan kemampuan untuk
membentuk kata-kata atau kehilangan
kemampuan untuk menangkap arti kata-kata
sehingga pembicaraan tidak dapat
berlangsung dengan baik.
Afasia menimbulkan problem dalam bahasa
lisan (bicara dan pengertian) dan bahasa
tulisan (membaca dan menulis). Biasanya
membaca dan menulis lebih terganggu dari
pada bicara dan pengertian.
Afasia bisa ringan atau berat. Beratnya
gangguan tergantung besar dan lokasi
kerusakan di otak.
Pembagian Afasia :
1. Afasia Motorik (Broca)
2. Afasia Sensorik (Wernicke)
3. Afasia Global
Afasia Motorik :
- Terjadi karena rusaknya area Broca di
gyrus frontalis inferior.
- Mengerti isi pembicaraan, namun tidak
bisa menjawab atau mengemukakan
pendapat
- Disebut juga Afasia Expressif atau Afasia
Broca
- Bisa mengeluarkan 1 2 kata(nonfluent)
Afasia Sensorik
- Terjadi karena rusaknya area Wernicke di
girus temporal superior.
- Tidak mengerti isi pembicaraan, tapi bisa
mengeluarkan kata-kata(fluent)
- Disebut juga Afasia reseptif atau Afasia
Wernicke
Afasia Global
- Mengenai area Broca dan Wernicke
- Tidak mengerti dan tida bisa
mengeluarkan kata kata
PSIKIATRI
81. Bipolar Disorder

1 or more history of one


Mood episodes of or more major Bipolar
disorder mania or depressive disorder
hypomania episodes

can be mixed

Increase suicide With/without


risk psychosis
Epidemiology
Bipolar disorder

Mean age onset: 20

Bipolar disorder I Bipolar disorder II

one or more major


one or more manic
affects men and depressive episodes more common in
or mixed mood
women equally and at least one women
episodes
hypomanic episode
Etiology

Environmental
Trauma
factors

Anatomic
Genetic
abnormalities

Exposure to
Others chemicals or
drugs

Remain unclear
Secondary Cause of Bipolar Mania
Acute Manic Algorithm Therapy
Acute Depressive Episode
Pharmacological Therapy of Bipolar
Disorder
Pharmacological Therapy of Bipolar
Disorder Cont...
82. Ansietas
Diagnosis Characteristic
Gangguan panik Serangan ansietas yang intens & akut disertai dengan
perasaan akan datangnya kejadian menakutkan.
Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa adanya
provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan yang relatif
bebas dari gejala di antara serangan panik.
Gangguan fobik Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau
situasi, antara lain: hewan, bencana, ketinggian, penyakit,
cedera, dan kematian.
Gangguan Gejala emosional (ansietas/afek depresif ) atau perilaku
penyesuaian dalam waktu <3 bulan dari awitan stresor. Tidak
berhubungan dengan duka cita akibat kematian orang lain.
Gangguan cemas Ansietas berlebih terus menerus disertai ketegangan motorik
menyeluruh (gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas
otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan
gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).
Gangguan Fobik
Diagnosis Karakteristik
Fobia Khas Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau
situasi, antara lain: hewan, bencana, ketinggian, penyakit, cedera,
dan kematian.
Fobia sosial Rasa takut yang berlebihan akan dipermalukan atau melakukan
hal yang memalukan pada berbagai situasi sosial, seperti bicara di
depan umum, berkemih di toilet umum, atau makan di tempat
umum.
Agorafobia Kecemasan timbul di tempat atau situasi di mana
menyelamatkan diri sulit dilakukan atau tidak tersedia
pertolongan pada saat terjadi serangan panik. Situasi tersebut
mencakup berada di luar rumah seorang diri, di keramaian, atau
bepergian dengan bus, kereta, atau mobil.

PPDGJ
83. Insomnia
Menurut DSM-IV, Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal
kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-
restoratif yang berlangsung setidaknya satu bulan dan menyebabkan
gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu.

The International Classification of Diseases mendefinisikan Insomnia


sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi
minimal 3 malam/minggu selama minimal satu bulan

Menurut The International Classification of Sleep Disorders, insomnia


adalah kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa
tidak nyaman setelah episode tidur tersebut.
KLASIFIKASI INSOMNIA
Dalam ICD 10, insomnia dibagi menjadi 2 yaitu:
Organik
Non-organik
Dyssomnias (gangguan pada lama, kualitas dan waktu tidur)
Parasomnias (ada episode abnormal yang muncul selama tidur seperti mimpu buruk, berjalan
sambil tidur, dll)

Dalam DSM IV, gangguan tidur (insomnia) dibagi menjadi 4 tipe yaitu:
Gangguan tidur yang berkorelasi dengan gangguan mental lain
Gangguan tidur yang disebabkan oleh kondisi medis umum
Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan tertentu
Gangguan tidur primer (gangguan tidur tidak berhubungan sama sekali dengan
kondisi mental, penyakit, ataupun obat-obatan.) Gangguan ini menetap dan
diderita minimal 1 bulan.
Lanjutan...
Berdasarkan International Classification of Sleep Disordes yang direvisi,
insomnia diklasifikasikan menjadi:
a. Acute insomnia
b. Psychophysiologic insomnia
c. Paradoxical insomnia (sleep-state misperception)
d. Idiopathic insomnia
e. Insomnia due to mental disorder
f. Inadequate sleep hygiene
g. Behavioral insomnia of childhood
h. Insomnia due to drug or substance
i. Insomnia due to medical condition
j. Insomnia not due to substance or known physiologic condition,
unspecified (nonorganic)
10
k. Physiologic insomnia, unspecified (organic)
PENYEBAB INSOMNIA

Stress

Kecemasan dan depresi


Kafein, nikotin,
alkohol
Kondisi medis
Perubahan lingkungan
Belajar
insomnia

INSOMNIA
PENATALAKSANAAN NON-FARMAKOLOGI

Terapi Tingkah Laku :


Edukasi tentang kebiasaan tidur yang
baik,
Teknik Relaksasi
Terapi kognitif
Restriksi Tidur
Kontrol stimulus
PENATALAKSANAAN FARMAKOLOGI

1. Benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam)


2. Non benzodiazepine (Chloral-hydrate, Phenobarbital)
Pemilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur :
Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur) Obat yang
dibutuhkan adalah bersifat Sleep inducing anti-insomnia yaitu
golongan benzodiazepine (Short Acting) Misalnya pada gangguan
anxietas
Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk
kembali ke proses tidur selanjutnya) Obat yang dibutuhkan adalah
bersifat Prolong latent phase Anti-Insomnia, yaitu golongan
heterosiklik antidepresan (Trisiklik dan Tetrasiklik) Misalnya pada
gangguan depresi
Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan
terpecah-pecah menjadi beberapa bagian (multiple awakening). Obat
yang dibutuhkan adalah bersifat Sleep Maintining Anti-Insomnia,
yaitu golongan phenobarbital atau golongan benzodiazepine (Long
acting).
84. Depresi
Gejala utama: Gejala lainnya:
1. afek depresif, 1. konsentrasi menurun,
2. hilang minat & 2. harga diri & kepercayaan diri
berkurang,
kegembiraan,
3. rasa bersalah & tidak berguna
3. mudah lelah & yang tidak beralasan,
menurunnya 4. merasa masa depan suram &
aktivitas. pesimistis,
5. gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh
diri,
6. tidur terganggu,
7. perubahan nafsu makan (naik
atau turun).
PPDGJ
Depresi
Episode depresif ringan: 2 gejala utama + 2 gejala lain > 2
minggu

Episode depresif sedang: 2 gejala utama + 3 gejala lain, >2


minggu.

Episode depresif berat: 3 gejala utama + 4 gejala lain > 2


minggu. Jika gejala amat berat & awitannya cepat,
diagnosis boleh ditegakkan meski kurang dari 2 minggu.

Episode depresif berat dengan gejala psikotik: episode


depresif berat + waham, halusinasi, atau stupor depresif.

PPDGJ
DSM-IV Criteria
85. Gangguan Somatoform
Diagnosis Karakteristik
Gangguan somatisasi Banyak keluhan fisik (4 tempat nyeri, 2 GI tract, 1
seksual, 1 pseudoneurologis).
Hipokondriasis Keyakinan ada penyakit fisik.

Disfungsi otonomik Bangkitan otonomik: palpitasi, berkeringat,


somatoform tremor, flushing.

Nyeri somatoform Nyeri menetap yang tidak terjelaskan.

Gangguan Dismorfik Preokupasi adanya cacat pada tubuhnya


Tubuh Jika memang ada kelainan fisik yang kecil,
perhatian pasien pada kelainan tersebut akan
dilebih-lebihkan

PPDGJ
Gangguan Hipokondrik
Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:
Keyakinan yang menetap adanya sekurang-
kurangnya 1 penyakit fisik yang serius,
meskipun pemeriksaan yang berulang tidak
menunjang
Tidak mau menerima nasehat atau dukungan
penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak
ditemukan penyakit/abnormalitas fisik
86. Drugs-Induced Movement Disorder
(Extrapyramidal syndrome)
Definitions
Akathisia Suatu sindrom yang dikarekteristikkan sebagai sensasi kegelisahan yang
tidak menyenangkan, dan bermanifes menjadi tidak dapat berdiam
diri(inability to sit still or remain motionless). Anxiety, Patients typically
pace for hours
Dystonia Kelainan nerulogis dimana terdapat kontraksi otot yang terus-menurus
sehingga mengakibatkan gerakan repetitif dan twisting atau postur yang
abnormal.
Oculogyric crisisDeviasi keatas bola mata yang ekstrim disertai dengan
konvergen, menyebabkan diplopia. Berkaitan dengan fleksi
posterolateral dari leher dan dengan mulut terbuka atau rahang terkunci.
Frequently a result of antiemetics such as the neuroleptics (e.g.,
prochlorperazine) or metoclopramide. And Chlorpromazine
Dyskinesia Kelainan pergerakan yang terdiri dari hilangnya gerakan volunter dan
munculnya gerakan involunter. Tremor ringan pada tangan, gerakan yang
tidak dapat dikontrol pada ekstremitas atas atau bawah
Tardive dyskinesia Muncul setelah terapi dengan antipsikotik seperti haloperidol (Haldol) or
amoxapine (Asendin). Tremors and writhing movements of the body and
limbs and abnormal movements in the face, mouth, and tongue, including
involuntary lip smacking, repetitive pouting of the lips, and tongue
http://en.wikipedia.org/wiki
protrusions.
http://www.uspharm
acist.com/content/c/
10205/?t=alzheimer%
27s_and_dementia,n
eurology
Antipsikotik & Gejala Ekstrapiramidal
Haloperidol Termasuk dalam derivat butyrophenone dan berfungsi sebagai
inverse agonist of dopamine. Digunakan sebagai antipsikotik. Efek
sampinggejala ekstrapiramidal (Distonia, Kekakuan
otot,Akathisia,Parkinsonism), Hypotension, Somnolen,Efek
Anticholinergic (Constipation,Dry mouth,Blurred vision)
Obat Efek Samping
Triheksifenidil Obat golongan antimuskarinik atau antikolinergik, biasa digunakan
untuk mengatasi gejala parkinsonism.
Mekanisme aksi:
Distonia terjadi karena adanya aktivitas berlebih pada
neurotransmiter di basal ganglia, berkaitan dengan
ketidakseimbangan antara dopaminergic dan cholinergic systems.
Trihexyphenidyl berperan sebagai antagonis kompetitif pada
reseptor muskarinik untuk menurunkan asetilkolin. THP juga
menyebabkan relaksasi otot-otot polos
87. F50 Gangguan Makan
F50.0 Anoreksia Nervosa
u/ diagnosis dibutuhkan :
BB dipertahankan 15 % dibawah yang seharusnya
Berkurangnya BB dilakukan sendiri dengan cara
menghindari makanan

Distorsi body image takut gemuk terus menerus.

Adanya gangguan endokrin yang meluas

Jika terjadi pada masa pra-pubertas maka


perkembangan pubertas tertunda
F50.2 Bulimia Nervosa
u/ diagnosis pasti dibutuhkan:
Terdapat pre-okupasi yang menetap u/
makan dan ketagihan.
Pasien berusaha melawan efek kegemukan
dengan :
Merangsang muntah o/ diri sendiri
Menggunakan pencahar berlebihan
Menggunakan obat penekan nafsu makan
Merasa ketakutan yang luar biasa u/ gemuk
88. Prinsip Pemberian Antipsikotik
Key points for using antipsychotic therapy:
1. An oral atypical antipsychotic drug should be considered as
first-line treatment.
2. Choice of medication should be made on the basis of prior
individual drug response, patient acceptance, individual side-
effect profile and cost-effectiveness, other medications being
prescribed and patient co-morbidities.
3. The lowest-effective dose should always be prescribed
initially, with subsequent titration.
4. The dosage of a typical or an atypical antipsychotic medication
should be within the manufacturers recommended range.

Western Australian Psychotropic Drugs Committee. Antipsychotic Drug Guidelines Version 3 August 2006
Psikofarmaka
Key points for using antipsychotic therapy:
5. Treatment trial should be at least 4-8 weeks before changing
antipsychotic medication.
6. Antipsychotic medications, atypical or conventional, should
not be prescribed concurrently, except for short periods to
cover changeover.
7. Treatment should be continued for at least 12 months, then if
the disease has remitted fully, may be ceased gradually over
at least 1-2 months.
8. Prophylactic use of anticholinergic agents should be
determined on an individual basis and re-assessment made at
3-monthly intervals.
9. A trial of clozapine should be offered to patients with
schizophrenia who are unresponsive to at least two adequate
trials of antipsychotic medications.

Western Australian Psychotropic Drugs Committee. Antipsychotic Drug Guidelines Version 3 August 2006
89. Waham
DEFINISI
Keyakinan tentang isi pikiran yang tidak sesuai
dengan kenyataan atau tidak cocok dengan
intelegensia dan latar belakang
kebudayaannya, keyakinan tersebut
dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat
diubah-ubah.
Jenis-jenis waham
Waham kendali pikir (Thought of being controlled)
Waham kebesaran (delusion of grandiosity)
Waham kejar
Waham curiga
Waham aneh
Waham sisip (thought of insertion)
Waham siar pikir (thought of broadcasting)
Waham sedot pikir (thought of withdrawal)
Waham lainnya, seperti waham cemburu, waham
bersalah, waham hipokondria, dsb.
ISI PIKIR
Waham/delusi
satu perasaan keyakinan atau kepercayaan yang keliru,
berdasarkan simpulan yang keliru tentang kenyataan eksternal,
tidak konsisten dengan intelegensia dan latar belakang budaya
pasien, dan tidak bisa diubah lewat penalaran atau dengan jalan
penyajian fakta.
Jenis-jenis waham:
1. waham bizarre: keyakinan yang keliru, mustahil dan
aneh (contoh: makhluk angkasa luar menanamkan
elektroda di otak manusia)
2. waham sistematik: keyakinan yang keliru atau
keyakinan yang tergabung dengan satu tema/kejadian
(contoh: orang yang dikejar-kejar polisi atau mafia)
3. waham nihilistik: perasaan yang keliru bahwa diri dan
lingkungannya atau dunia tidak ada atau menuju
kiamat
Jenis-jenis waham:
4. waham somatik: keyakinan yang keliru melibatkan fungsi
tubuh (contoh: yakin otaknya meleleh)
5. waham paranoid:
a. waham kebesaran: keyakinan atau kepercayaan,
biasanya psikotik sifatnya, bahwa dirinya adalah orang
yang sangat kuat, sangat berkuasa atau sangat besar
b. waham kejaran (persekutorik): satu delusi yang
menandai seorang paranoid, yang mengira bahwa
dirinya adalah korban dari usaha untuk melukainya, atau
yang mendorong agar dia gagal dalam tindakannya.
Keyakinan bahwa dokter dan keluarga berkomplot untuk
merugikan, merusak, mencederai, atau menghancurkan
diri pasien
Jenis-jenis waham:
c. waham rujukan (delusion of reference): satu
kepercayaan keliru yang meyakini bahwa tingkah laku
orang lain itu pasti akan memfitnah, membahayakan,
atau akan menjahati dirinya
d. waham dikendalikan: keyakinan yang keliru bahwa
keinginan, pikiran, atau perasaannya dikendalikan oleh
kekuatan dari luar. Termasuk di dalamnya:
thought withdrawal: waham bahwa pikirannya ditarik oleh
orang lain atau kekuatan lain
thought insertion: waham bahwa pikirannya disisipi oleh orang
lain atau kekuatan lain
thought broadcasting: waham bahwa pikirannya dapat diketahui
oleh orang lain, tersiar di udara
thought control: waham bahwa pikirannya dikendalikan oleh
orang lain atau kekuatan lain
Jenis-jenis waham:

6. waham cemburu: keyakinan yang keliru yang


berasal dari cemburu patologis tentang
pasangan yang tidak setia
7. erotomania: keyakinan yang keliru, biasanya
pada wanita, merasa yakin bahwa seseorang
sangat mencintainya
8. waham curiga : kecurigaan yang berlebihan atau
irasional dan tidak percaya dengan orang lain
90. Ansietas
Diagnosis Characteristic
Gangguan panik Serangan ansietas yang intens & akut disertai dengan
perasaan akan datangnya kejadian menakutkan.
Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa adanya
provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan yang relatif
bebas dari gejala di antara serangan panik.
Gangguan fobik Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau
situasi, antara lain: hewan, bencana, ketinggian, penyakit,
cedera, dan kematian.
Gangguan Gejala emosional (ansietas/afek depresif ) atau perilaku
penyesuaian dalam waktu <3 bulan dari awitan stresor. Tidak
berhubungan dengan duka cita akibat kematian orang lain.
Gangguan cemas Ansietas berlebih terus menerus disertai ketegangan motorik
menyeluruh (gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas
otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan
gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).
91. Gangguan Afektif
Pada gangguan afektif dengan ciri psikotik, waham
bersifat mood-congruent (konsisten dengan
depresi/manik)
Depresi: waham tentang dosa, kemiskinan,
malapetaka, & pasien merasa bertanggung jawab.
Manik: waham tentang kekuasaan, uang, utusan
Tuhan.
Diagnosis Gejala Psikotik Gangguan Afektif
Skizofrenia Ada Durasi singkat
Skizoafektif Ada, dengan atau tanpa Hanya ada bila gejala
gangguan afektif psikotik (+)
Gangguan afektif dengan Hanya ada selama Ada, walau tanpa gejala
ciri psikotik gangguan afektif (+) psikotik
Tujuan Tatalaksana Mania
Tatalaksana Mania Akut
92. Reaksi Terhadap Stres Berat
Gangguan stres pascatrauma
kondisi yang ditandai oleh munculnya gejala
(gangguan otonomik, afek, & tingkah laku) setelah
melihat, mengalami, atau mendengar peristiwa
traumatis dalam kurun waktu 6 bulan.

Gangguan stres akut


Gangguan yang serupa dengan gangguan stres
pascatrauma, yang muncul segera setelah kejadian
Reaksi Terhadap Stres Berat
Reaksi stres akut:
Harus ada kaitan waktu yang jelas antara stresos yang luar
biasa dengan onset gejala
Ditemukan gejala:
Terpaku, depresi, ansietas, marah, kecewa, overaktif, penarikan
diri
Pada kasus yang dapat dialihkan dari stresornya, gejala dapat
menghilang dengan cepat. Dalam hal stres menjadi berkelanjutan
atau tidak dapat dialihkan, gejala baru mereda setelah 24-48 jam.
Diagnosis ini tidak boleh digunakan untuk keadaan
kambuhan mendadak dari gejala-gejala pada individu yang
sudah menunjukkan gangguan psikiatrik sebelumnya.
Reaksi Terhadap Stres Berat
Kriteria Diagnosis reaksi stres pascatrauma
Individu terpajan situasi (melihat, mengalami, menghadapi)
yang melibatkan ancaman kematian atau cedera serius atau
ancaman lain yang serupa.
Adanya bayang-bayang kejadian yang persisten, berupa
gambaran, pikiran, persepsi, atau mimpi buruk. Individu
mengalami gejala penderitaan bila terpajan pada ingatan akan
trauma aslinya.
perilaku menghindar dari bayang-bayang dan pikiran tentang
kejadian traumatis (termasuk orang, tempat, dan aktivitas), dan
dapat tidak ingat aspek tertentu dari kejadian.
Adanya gejala peningkatan kesiagaan yang berlebih seperti
insomnia, iritabililta, sulit konsentrasi, waspada berlebih.
Gejala menyababkan hendaya pada fungsi sosial atau pekerjaan.

PPDGJ
93. Delirium
Deliriumkesadaran fluktuatif, ditandai dengan kesulitan memfokuskan,
mempertahankan, dan mengalihkan perhatian
Pedoman diagnostik:
Gangguan kesadaran & perhatian
Gangguan kognitif (distorsi persepsi, halusinasi, hendaya daya pikir, daya ingat,
disorientasi)
Gangguan psikomotor: hipo/hiperaktivitas
Gangguan siklus tidur-bangun
Gangguan emosional: depresi, ansietas, lekas marah
Onset cepat, hilang timbul, kurang dari 6 bulan

Penyebab:
SSP: kejang (postictal)
Metabolik: gangguan elektrolit, hipo/hiperglikemia
Penyakit sistemik: infeksi, trauma, dehidrasi/ovehidrasi
Obat-obatan

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.
Delirium

Delirium. Ondria C, Gleason MD., University of Oklahoma College of Medicine, Tulsa, Oklahoma. Am Fam
Physician. 2003 Mar 1;67(5):1027-1034.
Delirium
Subtypes of Delirium
Hyperactive subtype
may be agitated, disoriented, and delusional, and may
experience hallucinations. This presentation can be
confused with that of schizophrenia, agitated
dementia, or a psychotic disorder.
Hypoactive subtype
Subdued, quietly confused, disoriented, & apathetic.
Delirium in these patients may go unrecognized or be
confused with depression or dementia.
Mixed subtype
Fluctuating between the hyperactive &hypoactive.
Delirium. Ondria C, Gleason MD., University of Oklahoma College of Medicine, Tulsa, Oklahoma. Am Fam
Physician. 2003 Mar 1;67(5):1027-1034.
Delirium
Diagnosis Karakteristik
Psikotik akut Onset < 2 minggu, gejala beraneka ragam & berubah cepat atau
schizophrenia like, adanya stres akut yang berkaitan.
Psikotik akut lir Onset < 2 minggu, terdapat gejala skizofrenia untuk sebagian besar
skizofrenia waktu, tidak memenuhi kriteria psikosis polimorfik akut.
Polimorfik 1) Onset < 2 minggu, 2) ada beberapa jenis halusinasi/waham yang jenis
psikotik akut & intensitasnya berubah-ubah, 3) terdapat keadaan emosional yang
tanpa gejala beragam, 4) walau gejala beragam tapi tidak satupun dari gejala itu
skizofrenia konsisten memenuhi kriteria skizofrenia/manik/depresi
Polimorfik Onset < 2 minggu, ada beberapa jenis halusinasi/waham yang jenis &
psikotik akut intensitasnya berubah-ubah, memenuhi poin 1-3 psikotik polimorfik akut
dengan gejala disertai gejala yang memenuhi skizofrenia. Jika lebih dari 1 bulan maka
skizofrenia diagnosis menjadi skizofrenia
Gangguan Onset < 2 minggu, waham & halusinasi harus sudah ada dalam sebagian
psikotik akut lain, besar waktu, tidak memenuhi skizofrenia & gangguan psikotik polimorfik
predominan akut.
waham
94. Jenis Obat psikoaktif
Depressant
Zat yang mensupresi, menghambat dan menurunkan aktivitas CNS.
Yang termasuk dalam golongan ini adalah sedatives/hypnotics, opioids,
and neuroleptics.
Medical uses sedation, sleep induction, hypnosis, and general
anaesthesia.
Contoh:
Alcohol dalam dosis rendah, anaesthetics, sleeping pills, and opioid drugs such
as heroin, morphine, and methadone.
Hipnotik (obat tidur), sedatif (penenang) benzodiazepin
Effects:
Relief of tension, mental stress and anxiety
Warmth, contentment, relaxed detachment from emotional as well as physical
distress
Positive feelings of calmness, relaxation and well being in anxious individual
Relief from pain
Stimulants
Zat yang mengaktivkan dan meningkatkan aktivitas CNS
psychostimulants
Memiliki berbagai efek fisiologis
Perubahan denyut jantung, dilatasi pupil, peningkatan TD, banyak berkeringat,
mual dan muntah.
Menginduksi kewaspadaan, agitasi, dan mempengaruhi penilaian
Penyalahgunaan kronik akan menyebabkan perubahan kepribadian dan
perilaku seperti lebih impulsif, agresif, iritabilitas, dan mudah curiga
Contoh:
Amphetamines, cocaine, caffeine, nicotine, and synthetic appetite
suppressants.
Effects:
feelings of physical and mental well being, exhilaration, euphoria, elevation of
mood
increased alertness, energy and motor activity
postponement of hunger and fatigue
Hallucinogens (psyche delics)
Zat yang merubah dan mempengaruhi persepsi, pikiran, perasaan, dan
orientasi waktu dan tempat.
Menginduksi delusi, halusinasi, dan paranoia.
Adverse effects sering terjadi
Halusinasi yang menakutkan dan tidak menyenangkan (bad trips)
Post-hallucinogen perception disorder or flashbacks
Delusional disorder persepsi bahwa halusinasi yang dialami nyata, setelah
gejala mereda
mood disorder (anxiety, depression, or mania).
Effects:
Perubahan mood, perasaan, dan pikiranmind expansion
Meningkatkan kepekaan sensorismore vivid sense of sight, smell, taste and
hearing
dissociation of body and mind
Contoh:
Mescaline (the hallucinogenic substance of the peyote cactus)
Ketamine
LSD
psilocybin (the hallucinogenic substance of the psilocybe mushroom)
phencyclidine (PCP)
marijuana and hashish
Kokain vs Amfetamin
Cocaine Amphetamine
Stimulate the CNS, thereby causing a feeling of Stimulate the CNS, thereby causing a feeling of
elation or euphoria. elation or euphoria.

Illegal drug. For medical reasons, it is used for the


therapeutic management of ADHD, narcolepsy
and severe cases of prolonged fatigue.

Cocaine has greater efficacy than Lower efficacy


amphetamine

Half life of only an hour Half life lasts from 12 to 13 hours.

Route of administration: topically, PO, Routes of administration: PO (oral), IV


insufflation and intravenously. (intravenous), vaporization, rectal, sub-lingual
(below the tongue) and also insufflation.
Intoksikasi Zat Stimulan
(Simpatomimetik)
Kelompok sindrom Opiate
simpatomimetik koma, depresi nefas,
takikardi, hipertensi, miosis, hipotensi,
bradikardi, hipotermia,
hiperpireksia, keringat edema paru, bising usus
banyak, midriasis, menurun, hiporefleks
hiperefleksi, kejang
Contoh:
Contoh narkotika
amfetamin barbiturate
MDMA dan derivatnya benzodiazepine
Kokain meprebamat
Dekongestan etanol
INTOKSIKASI KOKAIN
Tanda dan gejala : agitasi atau
takikardia atau bradikardia, retardasi psikomotor,
dilatasi pupil, kelemahan otot,
peningkatan atau penurunan depresi, nyeri dada
tekanan darah, atau arimia jantung,
berkeringat atau rasa dingin, bingung(confusion),
mual atau muntah,
Kejang,
dyskinesia, dystonia,hingga
dapat menimbulkan koma
Amphetamine Pharmacological Effects
At moderate doses At high doses
Respiratory stimulation Repetitive purposeless acts
Slight tremors Sudden outbursts of
Restlessness aggression/violence
Greater increase in motor Paranoid delusions
activity Severe anorexia
Insomnia Overall psychosis and
Agitation abnormal mental
conditions
Amphetamine Psychosis:
paranoid ideation
Primarily with meth users
Pharmacological Effects
In addition to the direct
effects of the drug.
Infections from
neglected health care
Poor eating habits
Use of unsterile
equipment
Great deterioration in
social, personal,
occupational affairs
Zat Intoksikasi Withdrawal
Alkohol Cadel, inkoordinasi, unsteady gait, nistagmus, Hiperaktivitas otonom, tremor, insomnia,
gangguan memori/perhatian, stupor/koma mual/muntah, halusinasi, agitasi,
ansietas, kejang.
Heroin Euforia, analgesia, ngantuk, mual, muntah, Miosis/midriasis, mengantuk/koma,
napas pendek, konstipasi, midriasis, gangguan cadel, gangguan perhatian/memori
jiwa
Kanabis/ganja Injeksi konjungtiva, peningkatan nafsu makan,
/marijuana mulut kering, takikardia, halusinasi,delusi
Kokain Taki/bradikardia, dilatasi pupil, Disforik mood, fatigue, mimpi buruk,
peningkatan/penurunan TD, insomnia/hipersomnia, peningkatan
perspirasi/menggigil, mual/muntah, turun BB, nafsu makan, agitasi/retardasi psikomotor
agitasi/retardasi psikomotor, kelemahan otot.
Depresi napas, nyeri dada, aritmia, bingung,
kejang, distonia, koma
Amfetamin Taki/bradikardia, dilatasi pupil, Disforik mood, fatigue, mimpi buruk,
peningkatan/penurunan TD, insomnia/hipersomnia, peningkatan
perspirasi/menggigil, mual/muntah, turun BB, nafsu makan, agitasi/retardasi psikomotor
agitasi/retardasi psikomotor, kelemahan otot.
Depresi napas, nyeri dada, aritmia
Benzodiazepin Cadel, inkoordinasi, gangguan berjalan, Hiperaktivitas otonom, tremor, insomnia,
nistagmus, gangguan perhatian/memori, mual/muntah, halusinasi
stupor/koma. visual/taktil/auditorik, agitasi psikomotor,
ansietas, bangkitan grand mal.
ILMU PENYAKIT KULIT DAN
KELAMIN
95-96. Infeksi Parasit
Organisme Penyakit Gambaran Klinis
Dermatophagoides Asma, Reaksi alergi
Dermatitis
Alergi
Sarcoptes scabei Scabies 4 tanda kardinal: Pruritus nocturna, riwayat
terinfeksi skabies dalam keluarga, adanya
terowongan, dan ditemukannya tungau
Trichuris triciura Trichuriasis Anemia (hidup di sekum- colon asendens) gejala diare-
disentri atau tanpa gejala
Ancylostoma Cutaneus Larva Stadium larva: eritem, papul, eritema berkelok-
brazilience Migran kelok, pustule, gatal
Ankilostomiasis Anemia (usus halus)
Trichinella spiralis trikiniasis Mialgia, miosistis, demama, hipereosinofilia
Cutaneus larva migrans
Peradangan berbentuk linear,
berkelok-kelok, menimbul dan
progresif
Etio : Ancylostoma braziliense dan
Ancylostoma caninum
Larva masuk ke kulit menimbulkan
rasa gatal dan panas, diikuti lesi linear
berkelok-kelok, menimbul,
serpiginosa membentuk terowongan
Gatal hebat pada malam hari

Th/: Tiabendazole, Albendazole,


Cryotherapy, Kloretil
Djuanda A., Hamzah M., Aisah S., 2008, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 5. Jakarta: FKUI Hal 125-126
97. Pedikulosis
Infeksi kulit/rambut pada manusia yang
disebabkan Pediculus
3 macam infeksi pada manusia
Pedikulosis kapitis: disebabkan Pediculus humanus
var. capitis
Pedikulosis korporis: disebabkan pediculus
humanus var. corporis
Pedukulosis pubis: disebabkan Phthirus pubis

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Pedikulosis kapitis
Infeksi kulit dan rambut kepala
Banyak menyerang anak-anak dan higiene buruk
Gejala: mula-mula gatal di oksiput dan temporal,
karena garukan terjadi erosi, ekskoriasi, infeksi
sekunder
Diagnosis: menemukan kutu/telur, telur berwarna abu-
abu/mengkilat
Pengobatan: malathion 0.5%- 1%, gameksan 1%, benzil
benzoat 25%, Permetrin 1%
Permethrin 1% lotion or shampoo (Nix) is first-line
treatment for pediculosis, except in places with known
permethrin resistance.
Topical therapies should be used twice, at day 0 and
again at day 7 to 10, to fully eradicate lice.
Permethrin 1% lotion (Nix) Apply to damp hair and First-choice treatment per
leave on for 10 minutes, guidelines
then rinse; repeat in seven
days (per package insert

Malathion 0.5% lotion Apply to dry hair enough to Flammable; do not use hair
(Ovide) sufficiently wet the hair dryer, cigarettes, or open
and scalp; allow to dry flame while hair is wet
naturally
Shampoo eight to 12 hours
later, rinse, and use lice
comb
Repeat after seven to nine
days if live lice still are
present

http://www.aafp.org/afp/2012/0915/p535.html
Pedikulosis korporis
Biasanya menyerang orang dewasa dengan
higiene buruk (jarang mencuci pakaian)
Kutu melekat pada serat kapas dan hanya
transien ke kulit untuk menghisap darah
Gejala: hanya bekas garukan di badan
Diagnosis: menemukan kutu/telur pada serat
kapas pakaian
Pengobatan: gameksan 1%, benzil benzoat
25%, malathion 2%, pakaian direbus/disetrika
Pedikulosis pubis
Infeksi rambut di daerah pubis dan sekitarnya
Menyerang dewasa (tergolong PMS), dapat
menyerang jenggot/kumis
Dapat menyerang anak-anak, seperti di alis/bulu
mata dan pada tepi batas rambut kepala
Gejala: Gatal di daerah pubis dan sekitarnya,
dapat meluas ke abdomen/dada, makula serulae
(sky blue spot), black dot pada celana dalam
Pengobatan: gameksan 1%, benzil benzoat 25%
98. Dermatitis Statis
Salah satu jenis dermatitis sirkultorius
Paling sering: dermatitis varikosum ec insufisiensi vena

Gejala:
Pruritus, edema pada kaki hemosiderin keluar dari pemb.
Darah bercak hiperpigmentasi dermatitis
Bila infeksi sekunder indurasi subkutan
Dapat timbul ulkus

Terapi
Utk gangguan sirkulasi: elevasi tungkai dan
pembalut elastis
Lesi eksudatif: kompres PK 1/10.000
Lesi kering: kortikosteroid topikal
Infeksi sekunder: antibiotik sistemik
99. Reaksi Kusta
Suatu episode akut di dalam perjalanan klinik penyakit
kusta yang ditandai dengan terjadinya reaksi radang akut
(neuritis) yang kadang- kadang disertai dengan gejala
sistemik

Dapat menyebabkan kerusakan syaraf tepi terutama


gangguan fungsi sensorik (anestesi) sehingga dapat
menimbulkan kecacatan pada pasien kusta.

Reaksi kusta dapat terjadi sebelum mendapat pengobatan,


pada saat pengobatan, maupun sesudah pengobatan
paling sering terjadi pada 6 bulan sampai satu tahun
sesudah dimulainya pengobatan.
Reaksi Kusta
Reaksi Deskripsi
Pure neuritis leprosy Jenis lepra yang gejalanya berupa neuritis saja

Lepra Tuberkuloid Bentuk stabil dari lepra, lesi minimal, gejala lebih ringan.
Tipe yg termasuk TT (Tuberkuloid polar), Ti ( Tuberkuloid
indenfinite), BT (Borderline Tuberkuloid)

Reaksi Reversal Lesi bertambah aktif (timbul lesi baru, lesi lama menjadi
kemerahan), +/- gejala neuritis. Umum pada tipe PB

Eritema Nodusum Leprosum Nodul Eritema, nyeri, tempat predileksi lengan dan
tungkai, Umum pada MB

Fenomena Lucio Reaksi berat, eritematous, purpura, bula, nekrosis serta


ulserasi yg nyeri
Reaksi Kusta: Tipe
1 (Reaksi Reversal)

Reaksi hipersensitivitas tipe IV


(Delayed Type Hypersensitivity Reaction)

Terutama terjadi pada kusta tipe borderline (BT, BB, BL)

Biasanya terjadi dalam 6 bulan pertama ataupun sedang


mendapat pengobatan

Patofisiologi: terjadi peningkatan respon kekebalan seluler


secara cepat terhadap kuman kusta dikulit dan syaraf
berkaitan dengan terurainya M.leprae yang mati akibat
pengobatan yang diberikan
Reaksi Kusta: Tipe 2

Reaksi tipe 2 (Reaksi Eritema Nodosum Leprosum=ENL)

Termasuk reaksi hipersensitivitas tipe III

Terutama terjadi pada kusta tipe lepromatous (BL, LL)

Diperkirakan 50% pasien kusta tipe LL Dan 25% pasien kusta tipe BL mengalami
episode ENL

Umumnya terjadi pada 1-2 tahun setelah pengobatan tetapi dapat juga timbul
pada pasien kusta yang belum mendapat pengobatan Multi Drug Therapy
(MDT)

Patofisiologi: Manifestasi pengendapan kompleks antigen antibodi pada


pembuluh darah.
Faktor Pencetus
100. Pemeriksaan Penunjang untuk
Lesi Kulit

Pemeriksaan Diagnosis
Biopsi Kulit Leprae, pathologic diagnostic; skin cancer
Kultur kerokan Jamur dan infeksi bakteri
KOH Infeksi Jamur Kulit
Giemsa Infeksi Chylamdial atau virus
Lampu Wood Jamur pada kulit dan rambut
Pemeriksaan Lampu Wood
Warna Etiologi
Kuning Emas Tinea versicolor M. fufur

Hijau Pucat Trichophyton schoenleini


Hijau Kekuningan Microsporum audouini or M.
(terang) Canis
Tosca - Biru Pseudomonas aeruginosa
Pink Coral Porphyria Cutanea Tarda

Ash-Leaf-Shaped Tuberous Sclerosis


Putih Pucat Hypopigmentation
Coklat-Ungu Hyperpigmentation
Putih terang, Depigmentation, Vitiligo
Putih Kebiruan
Putih terang Albinism
Bluewhite Leprosy
Tinea
Tinea kapitis: grey patch ringworm, kerrion,
black dot ringworm
Tinea korporis: polimorfis, polisiklik, central
healing
Tinea kruris: tepi aktif, polisiklis, skuama,
vesikel
Tinea unguium: subungual distalis, leukonikia
trikofita, subngual proksimal
Tinea pedis: intertriginosa, vesiculer akut,
moccasin foot
Pemeriksaan KOH pada Tinea
KOH stain Gambaran Tinea
gambaran hifa sebagai dua
The presence of spores and
branching hyphae garis sejajar terbagi oleh
sekat dan bercabang
maupun spora berderet
(artrospora) pada Tinea
(Dermatofitosis)
Terapi
Terapi
Pengobatan topikal
Kombinasi asam salisilat (3-6%) dan asam benzoat (6-12%)
dalam bentuk salep ( Salep Whitfield).
Kombinasi asam salisilat dan sulfur presipitatum dalam bentuk
salep (salep 2-4, salep 3-10)
Derivat azol : mikonazol 2%, klotrimasol 1%, ketokonazol 1% dll.
Pengobatan sistemik
Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa, sedangkan anak-anak
10-25 mg/kgBB sehari.
Lama pemberian griseofulvin pada tinea korporis adalah 3-4
minggu, diberikan bila lesi luas atau bila dengan pengobatan
topikal tidak ada perbaikan.
Ketokonazol 200 mg per hari selama 10 hari 2 minggu pada
pagi hari setelah makan
101.
Clostridium sp.
Batang, gram positif, memiliki endospora,
anaerob
Organisme yang bersifat patogen:
Clostridium tetani
Clostridium difficile
Clostridium perfringens
Clostridium botulinum
Clostridium Tetani

Ditemukan pada tanah, dan saluran pencernaan binatang


Memiliki neurotoksin poten (tetanus toxin, tetanospasmin)
Patogenesis
Kuman masuk ke luka spora menjadi sel vegetatif
memproduksi toksin bermigrasi sepanjang saraf
ke SSP kejang & spasme otot
Terapi
Antibiotik dan ATS
Clostridium Botulinum

Ditemukan di tanah, saluran pencernaan binatang


Relatif resisten terhadap panas, bertahan pada makanan kaleng
Patogenesis
Toksin tertelan diserap di duodenum & jejenum masuk pemb. Darah
mencapai sinaps neuromuskular memblok pelepasan asetilkolin
3 bentuk: botulisme makanan, luka, dan botulisme bayi
Gejala
Menyerupai infeksi bacillus cereus atau staphylococcal
Gejala mulai 18-36 jam post menelan toksin
Rasa lemah, pusing, mulut kering, mual, muntah, gejala neurologis (sulit berbicara,
paralisis otot pernapasan)
Terapi
Antitoksin, gastric lavage
Clostridium Difficile

Hidup di kolon
Antibiotic-associated diarrhea (AAD), colitis, pseudomembranous colitis
Patogenesis
Penggunaan antibiotik jangka panjang flora normal di kolon mati
pertumbuhan c. difficile
Gejala
Diare ringan sampai enterokolitis.
Pada kolitis tanpa pseudomembran pasien menderita lemah, nyeri
abdominal, mual, diare, demam tinggi dan leukositosis bermakna.
Terapi
Metronidazole, vancomycin
Clostridium Perfringens
Eksotoksin: gas gangrene pada luka operasi
Demam tinggi, pus coklat, gelebung gas bawah
kulit, perubahan warna kulit, bau busuk
Endotoksin: keracunan makanan (t.u makanan
kaleng endospora)
Kram perut, diare
Terapi: antibiotik
102.
Vaginal Discharge
Patologi Candida Trikomonas BV Gonorre Chlamydia
Warna Putih seperti Kuning keabuan Kuning Non spesifik,
santan kehijauan keruh (pus) ada darah

Bau Asam Seperti ikan Amis, ikan Purulen mukopurulen


busuk
Serviks Bercak putih Strawberry Putih homogen, Edema Edema serviks,
menempel cervix melekat serviks rapuh
pada serviks
Px/ Pseudohifa, Parasit Clue cell Diplokokus PMN > 30/LPB
blastospora berflagel gram (-)
intrasel
Kandidosis
Kandidosis: penyakit jamur bisa bersifat akut/subakut disebabkan
oleh genus Candida
Klasifikasi
Kandidosis mukosa: kandidosis oral, perleche, vulvovaginitis, balanitis,
mukokutan kronik, bronkopulmonar
Kandidosis kutis: lokalisata, generalisata, paronikia & onikomikosis,
granulomatosa
Kandidosis sistemik: endokarditis, meningitis, pyelonefritis, septikemia
Reaksi id (kandidid)
Faktor
Endogen: perubahan fisiologik (kehamilan, obesitas, iatrogenik, DM,
penyakit kronik), usia (orang tua & bayi), imunologik
Eksogen: iklim panas, kelembaban tinggi, kebiasaan berendam kaki,
kontak dengan penderita

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Kandidosis kutis
Bentuk klinis:
Kandidosis intertriginosa: Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat
paha, intergluteal, lipat payudara, sela jari, glans penis, dan
umbilikus berupa bercak berbatas tegas, bersisik, basah,
eritematosa. Dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan
pustul-pustul kecil atau bula
Kandidosis perianal: Lesi berupa maserasi seperti dermatofit
tipe basah
Kandidosis kutis generalisata: Lesi terdapat pada glabrous skin.
Sering disertai glossitis, stomatitis, paronikia
Pemeriksaan: KOH (selragi, blastospora, hifa semu), kultur
di agar Sabouraud
Pengobatan: hindari faktor predisposisi, antifungal (gentian
violet 0,5-1%, nistatin, amfoterisin B, grup azole)
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Virulensi C. albicans
Mannoprotein:
Mempunyai sifat imunosupresif mempertinggi
pertahanan jamur terhadap imunitas hospes C.
albicans tidak hanya menempel, namun juga
melakukan penetrasi ke dalam mukosa.

Enzim yang berperan sebagai faktor virulensi


Enzim-enzim hidrolitik: proteinase, lipase dan
fosfolipase.
Tjampakasari, CR. Karakteristik Candida albicans. Cermin Dunia Kedokteran. 2006; 151: 33-36
Fuberlin. Candida albicans Patogenicity. [Cited 2012 Jan 22].
103. Schistosoma
Penyakit : skistosomiasis= bilharziasis
Spesies tersering: S. japonicum dan S. haematobium

Morfologi dan Daur Hidup


Hidup in copula di dalam pembuluh darah vena-vena usus,
vesikalis dan prostatika.
Di bagian ventral cacing jantan terdapat canalis
gynaecophorus, tempat cacing betina.
Telur tidak mempunyai operkulum dan berisi mirasidium,
mempunyai duri dan letaknya tergantung spesies.
Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah,
bermigrasi di jaringan dan akhirnya masuk ke lumen usus
atau kandung kencing
Telur menetas di dalam air mengeluarkan mirasidium
Daur Hidup Schistosoma sp.
Schistosoma Haematobium
Tersebar terutama di Afrika dan Timur Tengah
Ukuran telur: panjang 110-170 m dan lebar 40-70
m, memiliki tonjolan spinal
Telur mengandung mirasidium matur yang tersebar
di urin
Schistosoma japonicum
TELUR
BENTUK : BULAT AGAK LONJONG DNG
TONJOLAN DI BAGIAN
LATERAL DEKAT KUTUB
UKURAN : 100 x 65 m
TELUR BERISI EMBRIO
TANPA OPERKULUM
Tersebar di daerah Timur (termasuk
Indonesia)

SERKARIA
Schistosoma sp
EKOR BERCABANG
Gejala klinis dan Px Penunjang
Efek patologis tergantung jumlah telur yang dikeluarkan
dan jumlah cacing
Keluhan :
S. mansoni & japonicum: demam Katamaya, fibrosis periportal,
hipertensi portal, granuloma pada otak & spinal
S. haematobium: hematuria, skar, kalsifikasi, karsinoma sel
skuamosa, granuloma pada otak dan spinal
Pada infeksi berat Sindroma disentri
Hepatomegali timbul lebih dini disusul splenomegali;
terjadi 6-8 bulan setelah infeksi

Px Penunjang:
Mikroskopik feses: semua spesies
Mikroskopik urin: spesies haematobium

Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/dx.html
Terapi Schistosomiasis

Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/dx.html
104. Infeksi cacing tambang
Disebabkan Ancylostoma
duodenale & Necator
americanus
Gejala:
Pruritus lokal pada tempat
yang mengalami invasi
Nyeri abdomen, diare,
muntah
Anemia defisiensi besi
Infeksi berat
menyebabkan
pneumonitis (Loefflerlike
syndrome)

Haburchak DR. Hookworms. http://emedicine.medscape.com/article/218805-overview#show


http://www.cdc.gov/parasites/hookworm/health_professionals/index.html#tx
Nama cacing Cacing dewasa Telur Obat

Ascaris Mebendazole,
lumbricoides pirantel pamoat

Taenia solium Albendazole,


prazikuantel, bedah

Enterobius Pirantel pamoat,


vermicularis mebendazole,
albendazole
Ancylostoma Mebendazole,
duodenale pirantel pamoat,
Necator albendazole
americanus
Schistosoma Prazikuantel
haematobium

Trichuris Mebendazole,
trichiura albendazole

Brooks GF. Jawetz, Melnick & Adelbergs medical microbiology, 23rd ed. McGraw-Hill; 2004.
105-106. Fascioliasis
Human fascioliasis is usually recognized as an
infection of the bile ducts and liver, but infection
in other parts of the body can occur.
In the early (acute) phase, symptoms can occur as
a result of the parasite's migration from the
intestine to and through the liver.
Symptoms can include gastrointestinal problems
such as nausea, vomiting, and abdominal
pain/tenderness. Fever, rash, and difficulty
breathing may occur.
Fasciola Hepatica life cycle
A B C

Microscopy

A, B, C: Telur Fasciola hepatica. Pengecatan: iodine.


A,B bentuk membulat; C. Terlihat operculum pada
terminal
Nama cacing Gejala Klinis Morfologi Bentuk

Fasciola Gangguan GIT Cacing pipih spt daun


hepatika mual, muntah, nyeri Cacing dewasa memiliki
abdomen, demam batil isap kepala dan
Peradangan, perut
penebalan,sumbatan Telursulit dibedakan
sal.empedusiroris dengan F.buski, sdkt
periporta melebar pada
abopercular
Telur dikeluarkan belum
matang, matang dalam
air berisi mirasidium
Fasciolopsis Sebagian besar Cacing dewasa memiliki
buski asimptomatik. batil isap kepala dan
Nyeri perut perut
(epigastrium),diare kronik Telurelips,dinding
diselingi konstipasi,tinja transparan,operkulum
berisi makanan yang tidak kecil nyaris tidak
tercerna,anemia akibat terlihat,imatur(tidak
perdarahan ada embrio)
ulkus/abses,reaksi alergi
thdp komponen
cacing,obstruksi usus
107. Cutaneous Anthrax
95% of all cases globally
Incubation: 2 to 3 days
Spores enter skin through open wound or
abrasion
Papule vesicle ulcer eschar
Case fatality rate 5 to 20%
Untreated septicemia and death

Center for Food Security and Public Health,


Iowa State University, 2011
Day 6
Day 2

Day 4

Day 6
Day 6

Day 10
Center for Food Security and Public Health,
Iowa State University, 2011
The Organism
Bacillus anthracis
Large, gram-positive, non-
motile rod
Two forms
Vegetative, spore
Over 1,200 strains
Nearly worldwide distribution

Center for Food Security and Public Health,


Iowa State University, 2011
Terapi Cutaneous Anthrax
Penularan dari alam:
Penicillin V 500 mg, PO, 4x/hari selama 710 hari

Penularan akibat bioterorism (aerosol, hirup):


Ciprofloxacin 500 mg, PO, 2x/hari atau
levofloxacin 500 mg, IV)/PO per 24 jam 60 hari

Sumber: http://cid.oxfordjournals.org/content/early/2014/06/14/cid.ciu296.full
108. Pemfigus
Kelainan Penjelasan
Pemfigus vulgaris Penyakit kulit autoimun berbula kronik, menyerang kulit
dan membran mukosa yang secara histologik ditandai
dengan bula intraepidermal akibat proses akantolisis dan
secara imunopatologik ditemukan antibodi terhadap
komponen desmosom pada permukaan keratinosit jenis
IgG, baik terikat maupun beredar dalam darah. Khas: bula
kendur, bila pecah menjadi krusta yang bertahan lama,
nikolsky sign (+)
Pemfigoid bulosa Perbedaan dengan pemfigus vulgaris: keadaan umum
baik, dinding bula tegang , bula subepidermal, terdapat
IgG linear
Pemphigus Vulgaris Pemphigus Vulgaris Bullous Pemphigoid

Pemphigus Foliceus
Cicatricial Pemphigoid
Paraneoplastic Pemphigus e.c
Castleman tumor
Cleared when the tumor removed
Terapi Pemfigus
Target seperti penyakit autoimun bulosa lain:
untuk menurunkan pembentukan bula dan
erosi, mempercepat penyembuhan,
meminimalisir obat-obatan

Agen yang dapat dipakai: Kortikosteroid, agen


imunosupresif, rituximab, sulfasalazine,
pentoxifylline, Dapson, IVIG, Infliximab

http://emedicine.medscape.com/article/1064187-treatment
109. Balantidiasis
Balantidium coli

~70 x 45 m ~55 m
(up to 200 m)
Most people who are infected with
Balantidium coli remain asymptomatic. An
infected individual may have cysts or
trophozoites in their feces, but be free of any
other symptoms or complaints
Common symptoms of Balantidiasis include
chronic diarrhea, occasional dysentery
(diarrhea with passage of blood or mucus),
nausea, foul breath, colitis, abdominal pain
Terapi Balantidiasis
Antibiotik tetrasiklin, metronidazol, dan iodoquinol

Tetracycline: Dewasa 500 mg, PO, 4x/hari selama 10 hari;


Anak 8 tahun, 40 mg/kg/hari (max. 2 gram), PO, 4x/hari
selama 10 hari
Note: kontraindikasi pada wanita hamil dan anak < 8 tahun

Metronidazole: Dewasa, 500-750 mg, PO, 3x/hari selama 5


hari; Anak, 35-50 mg/kg/hari, PO, 3x/hari selama 5 hari

Iodoquinol: Dewasa, 650 mg, PO, 3x/hari selama 20 hari;


Anak, 30-40 mg/kg/hari (max 2 g), PO, 3x/hari selama 20
hari

http://www.cdc.gov/dpdx/balantidiasis/tx.html
110. Amoebiasis
Immature Entamoeba histolytica Trophozoites of Entamoeba histolytica with
cyst (mature cysts have 4 nuclei) ingested erythrocytes
METRONIDAZOLE
Mixed amoebicide.
Drug of choice for intestinal &
extraintestinal amoebiasis.
Acts on trophozoites.
Has no effect on cysts.
Nitro group of metronidazole is reduced by
protozoan leading to cytotoxic reduced product
that binds to DNA and proteins resulting into
parasite death.
ILMU KESEHATAN ANAK
111. Oral Thrush
Etiology: Candida TREATMENT NYSTATIN
Albicans Infants
Clinical Manifestation 200,000 units PO q6hr (100,000
White curdish like lesions units in each side of mouth)
on the buccal mucosa, Children
tongue, palate, and
gingiva. The lesions are Oral suspension: 400,000-
difficult to scrape off and 600,000 units PO q6hr
this differentiates it from Intestinal Candidiasis
milk. After scraping, there Oral Tablets: 500,000 units - 1
is an erythematous base
and some bleeding. million units q8hr
Oral candidiasis may be
associated with diaper
candidiasis (diaper rash)
112. Vaksin Campak
Pada tahun 1963, telah dibuat dua jenis vaksin campak
Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan
dilemahkan (tipe Edmonston B)
Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan
(virus campak yang berada dalam larutan formalin yang
dicampur dengan garam aluminium)
Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak
yang dilemahkan adalah 1000 TCID50 atau sebanyak
0,5 ml.
Pemberian yang dianjurkan secara subkutan/
intramuskular.
Vaksin Campak
Pada anak-anak di negara berkembang, antibodi maternal
akan hilang pada usia 9 bulan, dan pada anak-anak di
negara maju setelah 15 bulan.
WHO menganjurkan pemberian imunisasi campak pada
bayi berumur 9 bulan di negara berkembang.
Untuk negara maju imunisasi dianjurkan pada anak
berumur 12-15 bulan
Imunisasi campak tidak dianjurkan pada ibu hamil, anak
dengan imunodefisiensi primer, pasien TB yang tidak
diobati, pasien kanker atau transplantasi organ, mereka
yang mendapat pengobatan imunosupresif jangka panjang
atau anak immunocompromised yang terinfeksi HIV.
Reaksi KIPI Campak
Demam yang lebih dari 39,50C (5%-15%)
kasus, demam mulai dijumpai pada hari ke 5-6
sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2
hari.
Ruam dapat dijumpai pada 5% resipen, timbul
pada hari ke 7-10 sesudah imunisasi dan
berlangsung selama 2-4 hari.
Reaksi KIPI berat : ensefalitis dan ensefalopati
pasca imunisasi (1:1 milyar dosis vaksin.)
Bayi yang pernah sakit campak apakah perlu
divaksin campak pada umur 9 bulan ?
Boleh. Karena beberapa penyakit virus lain gejalanya mirip
campak, sehingga orangtua bahkan dokter keliru, bahwa
penyakit yang disebabkan oleh virus lain dianggap
sebagaicampak.
Seandainya benar-benar pernah menderita campak, bayi
tetap boleh diberikan vaksin campak, tidak merugikan bayi,
karena kekebalannya hanya bertahan beberapa tahun.
Oleh karena itu semua anak balita dan usia sekolah di
daerah yang banyak kasus campak dan cakupan
imunisasinya masih rendah harus mendapat imunisasi
campak ulangan (penguat) agar kekebalannya bisa
berlangsung lama.

Soedjatmiko, Alan R. Tumbelaka. Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia


Vaksin MMR
Vaksin MMR merupakan vaksin kering yang mengandung virus
hidup, harus disimpan pada temperatur 2-8oC atau lebih dingin dan
terlindung dari cahaya.
Vaksin harus digunakan dalam waktu 1 jam setelah dicampur
dengan pelarutnya, tetap sejuk dan terlindung dari cahaya, karena
setelah dicampur vaksin sangat tidak stabil dan cepat kehilangan
potensinya pada temperatur kamar.
Pada temperatur 22-25oC, akan kehilangan potensi 50% dalam 1
jam, pada temperatur > 37oC vaksin menjadi tidak aktif setelah 1
jam.
Dosis tunggal 0,5 ml suntikan secara intra-muskular atau subkutan
dalam. Imunisasi ini menghasilkan sero-konversi terhadap ketiga
virus ini > 90% kasus.
Diberikan pada umur 12-18 bulan.
Vaksin MMR
Apabila belum pernah mendapatkan vaksin MMR (measles, mumps,
rubella), imunisasi tersebut dapat diberikan pada semua umur di
atas satu tahun.
Pada anak yang sudah pernah menderita penyakit campak maupun
gondongan bukan merupakan halangan untuk memberikan MMR,
karena dari anamnesis penyakit tersebut sulit untuk dibuktikan
kebenarannya.
Anak yang telah mengalami campak/rubella/gondongan
sebelumnya tetap diberikan vaksin MMR karena pemberian vaksin
sama sekali tidak merugikan
Pemberian dua vaksin yang mengandung virus hidup tidak dapat
diberikan secara simultan pada hari yang sama atau kurang dari 14
hari.
Tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme, asma,
ataupun IBD
Reaksi KIPI MMR
malaise, demam atau ruam 1 minggu setelah
imunisasi
kejang demam pada 0,1% anak
ensefalitis pasca imunisasi <1/1000.000 dan
pembengkakan kelenjar parotis pada 1% anak
berusia sampai 4 tahun
Meningoensefalitis yang disebabkan oleh
imunisasi gondongan terjadi kira-kira 1/1000.000
Trombositopenia
Kontraindikasi MMR
Kanker tidak diobati atau gangguan imunitas,
pengobatan dengan imunosupresif
Anak dengan alergi berat terhadap gelatin
atau neomisin.
Anak dengan demam akut, pemberian MMR
harus ditunda sampai penyakit ini sembuh.
Jika MMR diberikan pada wanita dewasa
dengan kehamilan harus ditunda selama 2
bulan, seperti pada vaksin rubela.
KONTRAINDIKASI IMUNISASI
Berlaku umum untuk semua vaksin
Indikasi Kontra BUKAN Indikasi Kontra
Reaksi anafilaksis terhadap Reaksi lokal ringan-sedang (sakit,
vaksin (indikasi kontra kemerahan, bengkak) sesudah suntikan
pemberian vaksin tersebut vaksin
berikutnya) Demam ringan atau sedang pasca vaksinasi
Reaksi anafilaksis terhadap sebelumnya
konstituen vaksin Sakit akut ringan dengan atau tanpa demam
Sakit sedang atau berat, dengan ringan
atau tanpa demam Sedang mendapat terapi antibiotik
Masa konvalesen suatu penyakit
Prematuritas
Terpajan terhadap suatu penyakit menular
Riwayat alergi, atau alergi dalam keluarga
Kehamilan Ibu
Penghuni rumah lainnya tidak divaksinasi
Pedoman Imunisasi di Indonesia. Satgas Imunisasi IDAI. 2008
113. Maintenance: Holiday-Segar
Method (Berlaku utk usia>4 minggu)
Kebutuhan selama 24 jam:
10 kg pertama x 100 mL + 10 kg kedua + x 50
mL + sisanya x 20 mL
ATAU kebutuhan per jam:
10 kg pertama x 4 mL + 10 kg kedua x 2 mL +
sisanya x 1 mL
SOAL
(8 kg x 100 cc/kgBB) + (8 kg x 100 cc/kgBBx10%) =
800 cc + 80 cc = 880 cc
Hitung cairan
Calculate Deficit/terapi pengganti
Mild Dehydration: 4% deficit (50 ml/kg deficit, 30 ml/kg if
>10 kg)
Moderate Dehydration: 8% deficit (100 ml/kg deficit, 60
ml/kg if >10 kg)
Severe Dehydration: 12% deficit (120 ml/kg deficit)

On Going Loss/ Concomitant water loss setiap muntah/


diare
Can be measured directly (eg, NGT, catheter, stool
measurements) or estimated (eg: 10cc/kgBB/diare; 5
cc/kgbb/muntah)
114. Ikterus Neonatorum
Ikterus neonatorum: fisiologis vs non fisiologis.
Ikterus fisiologis:
Awitan terjadi setelah 24 jam
Memuncak dalam 3-5 hari, menurun dalam 7 hari (pada NCB)
Ikterus fisiologis berlebihan ketika bilirubin serum puncak adalah 7-15
mg/dl pada NCB
Ikterus non fisiologis:
Awitan terjadi sebelum usia 24 jam
Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam
Tingkat cutoff > 15 mg/dl pada NCB
Ikterus bertahan > 8 hari pada NCB, > 14 hari pada NKB
Tanda penyakit lain
Gangguan obstruktif menyebabkan hiperbilirubinemia direk. Ditandai
bilirubin direk > 1 mg/dl jika bil tot <5 mg/dl atau bil direk >20% dr total
bilirubin. Penyebab: kolestasis, atresia bilier, kista duktus koledokus.

Indrasanto E. Hiperbilirubinemia pada neonatus.


Kolestatis

Bilirubin Bilirubin Direk Larut air: dibuang lewat ginjal


indirek

OBSTRUKSI

Urin warna
teh

Feses warna
Tidak ada bilirubin direk yg menuju usus
Dempul
Kolestasis (Cholestatic Liver Disease)
Definisi : Keadaan bilirubin direk > 1 mg/dl bila bilirubin total < 5
mg/dl, atau bilirubin direk >20% dari bilirubin total bila kadar
bil.total >5 mg/dl
Kolestasis : Hepatoselular (Sindrom hepatitis neonatal) vs Obstruktif
(Kolestasis ekstrahepatik)
Sign and Symptom : Jaundice, dark urine and pale stools,
nonspecific poor feeding and sleep disturbances, bleeding and
bruising, seizures
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Penunjang
Atresia Bilier
Merupakan penyebab kolestasis tersering dan serius pada bayi yang
terjadi pada 1 per 10.000 kelahiran
Ditandai dengan adanya obstruksi total aliran empedu karena destruksi
atau hilangnya sebagian atau seluruh duktus biliaris. Merupakan proses
yang bertahap dengan inflamasi progresif dan obliterasi fibrotik saluran
bilier
Etiologi masih belum diketahui
Tipe embrional 20% dari seluruh kasus atresia bilier,
sering muncul bersama anomali kongenital lain seperti polisplenia, vena porta
preduodenum, situs inversus dan juga malrotasi usus.
Ikterus dan feses akolik sudah timbul pada 3 minggu pertama kehidupan
tipe perinatal yang dijumpai pada 80% dari seluruh kasus atresia bilier,
ikterus dan feses akolik baru muncul pada minggu ke-2 sampai minggu ke-
4 kehidupan.

Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Dept IKA RSCM. 2007
Atresia Bilier
Gambaran klinis: biasanya terjadi pada bayi perempuan,
lahir normal, bertumbuh dengan baik pada awalnya, bayi
tidak tampak sakit kecuali sedikit ikterik. Tinja
dempul/akolil terus menerus. Ikterik umumnya terjadi
pada usia 3-6 minggu
Laboratorium : Peningkatan SGOT/SGPT ringan-sedang.
Peningkatan GGT (gamma glutamyl transpeptidase) dan
fosfatase alkali progresif.
Diagnostik: USG dan Biopsi Hati
Terapi: Prosedur Kasai (Portoenterostomi)
Komplikasi: Progressive liver disease, portal hypertension,
sepsis

Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Dept IKA RSCM. 2007
115. Kretinisme
Kretin merupakan keadaan hipotiroid berat dan ekstrim
yang terjadi pada waktu bayi dan anak yang ditandai
dengan kegagalan pertumbuhan
Kretinisme yang terjadi akibat kekurangan yodium bisa
bersifat endemik ataupun sporadis
Kretinisme endemik merupakan kretinisme yang terjadi
pada bayi yang lahir pada daerah dengan asupan yodium
yang rendah serta goiter endemik; sehingga mengalami
kekurangan yodium yang berat pada masa fetal
Kretinisme sporadik merupakan kretinisme akibat
hipotiroid kongenital
Seseorang dikatakan kretin endemik jika ia lahir di daerah
gondok endemik dan menunjukkan dua gejala atau lebih:
retardasi mental, tuli sensorineural nada tinggi, gangguan
neuromuskular
Manifestasi Klinis
3 tipe kretinisme sporadik:
Tipe nervosa: RM berat, bisu tuli, strabismus,
paresis sistem piramidalis tungkai bawah, spastik
ataksik (motor rigidity)
Tipe miksedema: RM dengan derajat lebih ringan;
dan tanda hipotiroid klinis seperti perawakan
pendek, miksedema, kulit kering, rambut jarang,
perkembangan seksual terhambat, spastik tungkai
bawah, gangguan gaya jalan
Tipe campuran: gabungan antara keduanya
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan kadar hormon TSH, fT4, dan T3
Pada pemeriksaan radiologis:
Bone age: temuan radiologis yang tipikal pada
kretinisme adalah bone age yang terlambat. Pusat
osifikasi sering mengalami malformasi dan
memiliki bentuk yang ireguler
Pemeriksaan skintigrafi kelenjar tiroid (sidik tiroid)
USG bisa dijadikan alternatif sidik tiroid
116. Sindrom Nefrotik
Spektrum gejala yang ditandai Di bawah mikroskop:
dengan protein loss yang masif dari
ginjal Minimal change nephrotic
Pada anak sindrom nefrotik mayoritas syndrome (MCNS)/Nil
bersifat idiopatik, yang belum Lesions/Nil Disease (lipoid
diketahui patofisiologinya secara nephrosis) merupakan
jelas, namun diperkirakan terdapat
keterlibatan sistem imunitas tubuh, penyebab tersering dari
terutama sel limfosit-T sindrom nefrotik pada anak,
Gejala klasik: proteinuria, edema, mencakup 90% kasus di
hiperlipidemia, hipoalbuminemia
bawah 10 tahun dan >50%
Gejala lain : hipertensi, hematuria,
dan penurunan fungsi ginjal pd anak yg lbh tua.

Lane JC. Pediatric nephrotic syndrome. http://emedicine.medscape.com/article/982920-overview


Faktor risiko yang diperkirakan mempengaruhi
kekambuhan:
riwayat atopi (ada penelitian yang menyatakan bukan
faktor risiko)
usia saat serangan pertama (< 3 tahun),
jenis kelamin (ada penelitian yang menyatakan bukan
faktor risiko)
infeksi saluran pernapasan akut akut (ISPA) bagian
atas yang menyertai atau mendahului terjadinya
kekambuhan,
ISK
rendahnya serum albumin
Diagnosis
Anamnesis : Bengkak di kedua kelopak mata,
perut, tungkai atau seluruh tubuh. Penurunan
jumlah urin. Urin dapat keruh/kemerahan
Pemeriksaan Fisik : Edema palpebra, tungkai,
ascites, edema skrotum/labia. Terkadang
ditemukan hipertensi
Pemeriksaan Penunjang : Proteinuria masif 2+,
rasio albumin kreatinin urin > 2, dapat disertai
hematuria. Hipoalbumin (<2.5g/dl),
hiperkolesterolemia (>200 mg/dl). Penurunan
fungsi ginjal dapat ditemukan.
Sindrom Nefrotik (Kriteria)
Sindrom nefrotik : Sindrom klinis dengan gejala proteinuria
masif (> 40 mg/m2/jam), hipoalbunemia ( 2,5 g/dl)),
edema, dan hiperkolesterolemia. Kadang disertai
hematuria, hipertensi, dan penurunan fungsi ginjal.
Sindrom nefrotik relaps jarang : Mengalami relaps <2 kali
dalam 6 bulan sejak respons awal atau < 4 kali dalam 1
tahun
Sindrom nefrotik relaps sering : Mengalami relaps 2 kali
dalam 6 bulan sejak respons awal atau 4 kali dalam 1
tahun
Relaps : Timbulnya proteinuria kembali (>40 mg/m2/jam),
atau 2+ selama 3 hari berturut-turut

Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI


Sindrom Nefrotik (Kriteria)
Sindrom nefrotik resisten steroid : Sindrom
nefrotik yang dengan pemberian prednison dosis
penuh (2 mg/kg/hari) selama 8 minggu tidak
mengalami remisi
Sindrom nefrotik dependen steroid : Sindrom
nefrotik yang mengalami relaps setelah dosis
prednison diturunkan menjadi 2/3 dosis penuh
atau dihentikan dalam 15 hari, dan terjadi 2 kali
berturut-turut
Remisi : Keadaan proteinuria negatif atau trace
selama 3 hari berturut-turut
Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI
Tatalaksana

Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI


117. Etiologi Diare pada Anak
Bacteria (10-20% of cases, especially
Viruses (75-90% of cases) inflammatory Diarrhea)
Rotavirus Escherichia coli
Penyebab tersering gastroenteritis virus pada Accounts for 10% of Bacterial
anak
Outbreak pada musim gugur-dingin
diarrhea
Puncak insidens: usia 6-24 bulan Fever in 20% of cases
Durasi 5-7 hari Bloody EIEC, EHEC, EAEC
Norovirus (Norwalk Virus) Nonbloody ETEC, EPEC
Most common cause of Gastroenteritis in adults Campylobacter jejuni
Winter outbreaks
Affects all ages Fever in 80% of cases
Typical duration 2-5 days Bloody Diarrhea with Fecal
Common outbreaks via Foodborne Illness in Leukocytes
Nursing Home, dormitories, cruise ships Salmonella
Astrovirus Bloody Diarrhea
Winter outbreaks
Affects all ages Shigella
Typical duration 3 days High fever (and Febrile Seizures)
Adenovirus Bloody Diarrhea
Summer outbreaks
Typicall affects children
Yersinia enterocolitica
Typical duration 6-9 days Clostridium difficile
Diarrheagenic Escherichia coli
E. coli species are members of the Enterobacteriaceae family.
Characteristic: oxidase-positive, facultatively anaerobic, gram-negative
bacilli. Fermentation of lactose(+).
Five groups of diarrheagenic E. coli
(1) enterotoxigenic E. coli (ETEC) produce secretory enterotoxins;
(2) enteroinvasive E. coli (EIEC) are capable of invading intestinal epithelial
cells and causing a dysenteric illness;
(3) enteropathogenic E. coli (EPEC) are defined by their pattern of adherence
to tissue culture cells and their ability to produce a characteristic alteration in
the microvillus membrane, the attaching and effacing lesion;
(4) shigatoxin-producing E. coli (STEC), also known as enterohemorrhagic E.
coli (EHEC), Shiga-like toxin-producing E. coli (SLT-EC) and verotoxin-producing
E. coli (VTEC) produce Shiga toxins (Stx) and cause diarrhea, hemorrhagic
colitis, and hemolytic-uremic syndrome (HUS);
(5) enteroaggregative E. coli (EAggEC) adhere in vitro to HEp-2 cells in a
characteristic aggregative manner and are associated with persistent diarrhea
in children

Behrman: Nelson Textbook of Pediatrics, 17th ed


Diarrheagenic Escherichia coli
Noninflammatory Diarrheas
Enterotoxigenic E. coli (ETEC) Rapid onset of watery, nonbloody diarrhea of considerable
volume, accompanied by little or no fever. Diarrhea and
other symptoms cease spontaneously after 24 to 72 hours
Inflammatory Diarrheas
Enteroinvasive E. coli (EIEC) Present most commonly as watery diarrhea. Minority of
patients experience a dysentery syndrome, with fever,
systemic toxicity, crampy abdominal pain, tenesmus, and
urgency
Enteropathogenic E. coli (EPEC) Profuse watery, nonbloody diarrhea with mucus, vomiting
and low-grade fever. Chronic diarrhea and malnutrition can
occur. Usually at < 2 y.o, esp <6 mo (at weaning period)
Shigatoxin-producing E. coli Symptoms ranging from mild diarrhea to severe
(STEC)/EHEC hemorrhagic colitis and hemolytic-uremic syndrome in all
ages
Enteroaggregative E. coli (EAggEC) Watery, mucoid, secretory diarrhea with low-grade fever
and little or no vomiting. One third of patients have grossly
bloody stools. The watery diarrhea usually persist 14 days
Diarrheagenic Escherichia coli
118. HMD

Mathai SS. Management of respiratory distress in the newborn. MJAFI 2007; 63: 269-72.
Neonatal Asphyxia
Deprivation of oxygen to a newborn infant that
lasts long enough during the birth process to
cause physical harm, usually to the brain
Etiology:
Intrauterine hypoxia
Infant respiratory distress syndrome
Transient tachypnea of the newborn
Meconium aspiration syndrome
Pleural disease (Pneumothorax,
Pneumomediastinum)
Bronchopulmonary dysplasia

http://en.wikipedia.org/wiki/Perinatal_asphyxia
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (Hyaline membrane
disease)

Etiology:
Surfactant deficiency
(decreased production and
secretion)
Surfactant
Necessary for the lung alveoli
to overcome surface tension
and remain open
The major constituents
dipalmitoyl
phosphatidylcholine (lecithin)
Phosphatidylglycerol
apoproteins (surfactant
proteins SP-A, -B, -C, -D)
Cholesterol

Hyaline Membrane Disease (Respiratory Distress Syndrome). Nelson Textbook of http://www.netterimages.com/images/vpv/000/000/010/102


Pediatrics 91-0550x0475.jpg
Pneumosit sebagai Penghasil Surfaktan

Pada dinding alveolus dibedakan atas 2


macam sel:
sel epitel gepeng ( squamous pulmonary epitheal
atau sel alveolar kecil atau pneumosit tipeI).
sel kuboid yang disebut sel septal atau alveolar
besar atau pneumosit tipe II.
Menghasilkan surfaktan untuk menurunkan tegangan
permukaan dan mempertahankan bentuk dan besar
alveolus
Patomekanisme
HMD
HMD
Pada bayi prematur, pada bayi dengan ibu DM atau kelahiran SC,
gejala muncul progresif segera setelah lahir.
Pada radiologi tampak gambaran diffuse ground-glass or finely
granular appearance, air bronkogram, ekspansi paru jelek.
Lung immaturity salah satu penyebab Chronic Lung Disease
(bronchopulmonary dysplasia)
Komplikasi
Septicemia
Bronchopulmonary dysplasia (BPD)
Patent ductus arteriosus (PDA)
Pulmonary hemorrhage
Apnea/bradycardia
Necrotizing enterocolitis (NEC)
Retinopathy of prematurity (ROP)
Hypertension
Failure to thrive
Intraventricular hemorrhage (IVH)
Tatalaksana HMD
Endotracheal (ET) tube
Continuous positive airway pressure (CPAP)
Surfactant replacement
Corticosteroid reduced overall incidence of death or
chronic lung disease
Early Postnatal Corticosteroids (<96 hours) not
suggested because risk> benefit (CP, development delay,
Hyperglicemia, hypertension, GI bleeding)
Moderately Early Postnatal Corticosteroids (7-14 days)
not suggested because risk> benefit
Delayed Postnatal Corticosteroids (> 3 weeks) can be
used for ventilator dependant infants in whom it is felt
that steroids are essential to facilitate extubation.
Distres Pernapasan pada Neonatus
Kelainan Gejala
Sindrom aspirasi Biasanya pada bayi matur, pertumbuhan janin terhambat,
mekonium terdapat staining mekonium di cairan amnion dan kulit, kuku,
atau tali pusar. Pada radiologi tampak air trapping dan
hiperinflasi paru, patchy opacity, terkadang atelektasis.
Respiratory distress Pada bayi prematur, pada bayi dengan ibu DM atau kelahiran
syndrome (penyakit SC, gejala muncul progresif segera setelah lahir. Pada radiologi
membran hyalin) tampak gambaran diffuse ground-glass or finely granular
appearance, air bronkogram, ekspansi paru jelek.
Transient tachypnea of Biasanya pada bayi matur dengan riwayat SC. Gejala muncul
newboorn setelah lahir, kemudian membaik dalam 72 jam pasca lahir.
Pada radiologi tampak peningkatan corakan perihilar,
hiperinflasi, lapangan paru perifer bersih.
Pneumonia neonatal Terdapat risiko pneumonia (KPD, demam pada ibu, cairan
amnion berbau, dsb). Gejala meliputi gejala distress dan gejala
sepsis. Gambaran radiologis : Diffuse, relatively homogeneous
infiltrates
Asfiksia perinatal (hypoxic Asidemia pada arteri umbilikal, Apgar score sangat rendah,
ischemic encephalopathy) terdapat kelainan neurologis, keterlibatan multiorgan
119. Hipoglikemia pada Neonatus
Hipoglikemia adalah kondisi bayi Insulin dalam aliran darah fetus
dengan kadar glukosa darah <45 tidak bergantung dari insulin ibu,
mg/dl (2.6 mmol/L), baik bergejala tetapi dihasilkan sendiri oleh
atau tidak
pankreas bayi
Hipoglikemia berat (<25 mg/dl) dapat
menyebabkan palsi serebral,
Pada Ibu DM terjadi hiperglikemia
retardasi mental, dan lain-lain dalam peredaran darah
Etiologi uteroplasental bayi
Peningkatan pemakaian glukosa mengatasinya melalui hiperplasia
(hiperinsulin): Neonatus dari ibu DM, sel B langerhans yang
Besar masa kehamilan, eritroblastosis
fetalis
menghasilkan insulin insulin
Penurunan produksi/simpanan glukosa: tinggi
Prematur, IUGR, asupan tidak adekuat
Begitu lahir, aliran glukosa yang
Peningkatan pemakaian glukosa: stres
perinatal (sepsis, syok, asfiksia, menyebabkan hiperglikemia tidak
hipotermia), defek metabolisme ada, sedangkan insulin bayi tetap
karbohidrat, defisiensi endokrin, dsb
tinggi hipoglikemia
Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010
Hipoglikemia
Diagnosis
Anamnesis: tremor, iritabilitas, kejang/koma, letargi/apatis, sulit menyusui,
apneu, sianosis, menangis lemah/melengking
PF: BBL >4000 gram, lemas/letargi/kejang beberapa saat sesudah lahir
Penunjang: Pemeriksaan glukosa darah baik strip maupun darah vena, reduksi
urin, elektrolit darah
Penatalaksanaan
Bolus 200 mg/kg dengan dextrosa 10% IV selama 5 menit
Hitung Glucose Infusion Rate (GIR), 6-8 mg/kgBB/menit untuk mencapai GD
maksimal. Dapat dinaikkan sampai maksimal 12mg/kgBB/menit
Cek GD per 6 jam
Bila hasil GD 36-47 mg/dl 2 kali berturut-turut + Infus dextrosa 10%
Bila GD >47 mg/dl setelah 24 jam terapi, infus diturunkan bertahap
2mg/kgBB/menit setiap jam
Tingkatkan asupan oral
Pemantauan dan Skrining
Hipoglikemia
PPM IDAI jilid 1
120. Trauma Lahir Ekstrakranial
Kaput Suksedaneum Perdarahan Subgaleal
Paling sering ditemui Darah di bawah galea
Tekanan serviks pada kulit aponeurosis
kepala Pembengkakan kulit kepala,
Akumulasi darah/serum ekimoses
subkutan, ekstraperiosteal Mungkin meluas ke daerah
TIDAK diperlukan terapi, periorbital dan leher
menghilang dalam Seringkali berkaitan dengan
beberapa hari. trauma kepala (40%).
Trauma Lahir Ekstrakranial:
Sefalhematoma
Perdarahan sub periosteal akibat ruptur pembuluh
darah antara tengkorak dan periosteum
Etiologi: partus lama/obstruksi, persalinan dengan
ekstraksi vakum, Benturan kepala janin dengan pelvis
Paling umum terlihat di parietal tetapi kadang-kadang
terjadi pada tulang oksipital
Tanda dan gejala:
massa yang teraba agak keras dan berfluktuasi;
pada palpasi ditemukan kesan suatu kawah dangkal
didalam tulang di bawah massa;
pembengkakan tidak meluas melewati batas sutura yang
terlibat
Trauma Lahir Ekstrakranial:
Sefalhematoma
Ukurannya bertambah sejalan dengan bertambahnya
waktu
5-18% berhubungan dengan fraktur tengkorak
Umumnya menghilang dalam waktu 2 8 minggu
Komplikasi: ikterus, anemia
Kalsifikasi mungkin bertahan selama > 1 tahun.
Catatan: Jangan mengaspirasi sefalohematoma meskipun
teraba berfluktuasi
Tatalaksana:
Observasi pada kasus tanpa komplikasi
Transfusi jika ada indikasi
Fototerapi (tergantung dari kadar bilirubin total)
121. Kelainan Radiologis pada Paru
Pneumonia lobaris Characteristically, there is homogenous opacification in a lobar pattern.
The opacification can be sharply defined at the fissures, although more
commonly there is segmental consolidation. The non-opacified bronchus
within a consolidated lobe will result in the appearance of air
bronchograms.
Pneumonia associated with suppurative peribronchiolar inflammation and subsequent
lobularis/ patchy consolidation of one or more secondary lobules of a lung in
bronkopneumonia response to a bacterial pneumonia: multiple small nodular or
reticulonodular opacities which tend to be patchy and/or confluent.
Asthma pulmonary hyperinflation Increased Bronchial wall markings (most
characteristic) Associated with thicker Bronchial wall, inflammation
Flattening of diaphragm (Associated with chronic inflammation or
Associated with accessory muscle use)
Hyperinflation (variably present)
Patchy infiltrates (variably present) from Atelectasis
bronkiolitis Hyperexpansion (showed by diaphragm flattening), hyperluscent,
Peribronchial thickening, hilar prominence
Variable infiltrates or Viral Pneumonia
Acute bronchitis Interstitial shadowing, signs of hyperinflation, hila prominence with hazy
outlines, hazy peribronchial markings
Bronchopneumonia
Pneumonia Lobaris

Etiology:
Pneumococcus
Mycoplasma
Gram negative organisms
Legionella
Bronchiolitis

The x-ray shows lung hyperinflation with a flattened diaphragm and opacification in the right lung apex (red
circle) and left lung base (blue circle) from atelectasis. Obviously, the same changes can be seen in the x-ray
of a child with acute asthma. This is one reason why children with acute asthma are often misdiagnosed as
having pneumonia.
122. Epiglotitis
Acute bacterial epiglottitis Classical triad is: drooling, dysphagia
Life-threatening, medical emergency and distress (respiratory)
due to infection with edema of Abrupt onset of respiratory distress
epiglottis and aryepiglottic folds
with inspiratory stridor
Organism
Sore throat
Haemophilus influenzae type B: most
common (bacil gram -, needs factor X Severe dysphagia
and V for growth) Older child may have neck extended
Also caused by and appear to be sniffing due to air
Pneumococcus, Streptococcus group A, hunger
Viral infection herpes simplex 1 and
parainfluenza Resembles croup clinically, but think
Age of epiglottitis if:
Typically between 3-7 years Child can not breathe unless sitting up
Peak incidence has become older over Croup appears to be worsening
last decade and is now closer to 6-7 Child can not swallow saliva and drools
years (80%)
Location Cough is unusual
Purely supraglottic lesion
Associated subglottic edema in 25%
Associated swelling of aryepiglottic
folds causes stridor
Epiglotitis
Imaging Diff Diagnosis: Croup
Imaging studies are not always Dilatation of the hypopharynx
necessary for the diagnosis and may be
falsely negative in early stages Dilation of the laryngeal
Lateral radiograph should be taken in ventricle
the erect position only, as Narrowing of the subglottic
Supine position may close off airway
Enlargement of epiglottis
trachea
Larger than your thumb thumb sign Epiglottis is normal
Thickening of aryepiglottic folds
True cause of stridor Tx:
Circumferential narrowing of subglottic Secure airway
portion of trachea during inspiration
Ballooning of hypopharynx and
May require intubation or
pyriform sinuses emergency tracheostomy
Reversal of the normal lordotic curve of Some use IV steroids
the cervical spine
Empiric antibiotic therapy
Thumb Sign pada epiglotitis Gambaran epiglotis normal
123. Ikterus Neonatorum
Ikterus yang berkembang cepat pada hari ke-1
Kemungkinan besar: inkompatibilitas ABO, Rh,
penyakit hemolitik, atau sferositosis. Penyebab
lebih jarang: infeksi kongenital, defisiensi G6PD
Ikterus yang berkembang cepat setelah usia
48 jam
Kemungkinan besar: infeksi, defisiensi G6PD.
Penyebab lebih jarang: inkompatibilitas ABO, Rh,
sferositosis.
Penyebab ikterik ec. Anemia Hemolisis pada
neonatus
Penyakit Keterangan
Inkompatibilitas ABO Adanya aglutinin ibu yang bersirkulasi di darah anak
terhadap aglutinogen ABO anak. Ibu dengan golongan darah
O, memproduksi antibodi IgG Anti-A/B terhadap gol. darah
anak (golongan darah A atau B). Biasanya terjadi pada anak
pertama
Inkompatibilitas Rh Rh+ berarti mempunyai antigen D, sedangkan Rh berarti
tidak memiliki antigen D. Hemolisis terjadi karena adanya
antibodi ibu dgn Rh- yang bersirkulasi di darah anak
terhadap antigen Rh anak (berati anak Rh+). Jarang pada
anak pertama krn antibodi ibu terhadap antigen D anak yg
berhasil melewati plasenta belum banyak.
Ketika ibu Rh - hamil anak kedua dgn rhesus anak Rh +
antibodi yang terbentuk sudah cukup untuk menimbulkan
anemia hemolisis
Inkompatibilitas Rhesus
Faktor Rh: salah satu jenis antigen permukaan
eritrosit
Inkompatibilitas rhesus: kondisi dimana wanita
dengan rhesus (-) terekspos dengan eritrosit Rh (+),
sehingga membentuk antibodi Rh
Ketika ibu Rh (-) hamil dan memiliki janin dengan Rh (+),
terekspos selama perjalanan kehamilan melalui kejadian
aborsi, trauma, prosedure obstetrik invasif, atau kelahiran
normal
Ketika wanita dengan Rh (-) mendapatkan transfusi darah
Rh (+)

Setelah eksposure pertama, ibu akan membentuk IgG maternal


terhadap antigen Rh yang bisa dengan bebas melewati plasenta
hingga membentuk kompleks antigen-antibodi dengan eritrosit
fetus dan akhirnya melisiskan eritrosit tersebut fetal
alloimmune-induced hemolytic anemia.
Ketika wanita gol darah Rh (-) tersensitisasi diperlukan waktu
kira-kira sebulan untuk membentuk antibodi Rh yg bisa
menandingi sirkulasi fetal.
90% kasus sensitisasi terjadi selama proses kelahiran o.k itu
anak pertama Rh (+) tidak terpengaruhi karena waktu pajanan
eritrosit bayi ke ibu hanya sebentar, tidak bisa memproduksi
antibodi scr signifikan
Inkompatibilitas Rhesus
Risiko dan derajat keparahan meningkat seiring dengan
kehamilan janin Rh (+) berikutnya, kehamilan kedua
menghasilkan bayi dengan anemia ringan, sedangkan
kehamilan ketiga dan selanjutnya bisa meninggal in utero
Risiko sensitisasi tergantung pada 3 faktor:
Volume perdarahan transplansental
Tingkat respons imun maternal
Adanya inkompatibilitas ABO pada saat bersamaan
Adanya inkompatibilitas ABO pada saat bersamaan dengan
ketidakcocokan Rh justru mengurangi kejadian inkompatibilitas Rh
karena serum ibu yang mengandung antibodi ABO
menghancurkan eritrosit janin sebelum sensitisasi Rh yg signifikan
sempat terjadi
Untungnya inkompatibilitas ABO biasanya tidak memberikan
sekuele yang parah
http://emedicine.medscape.com/article/797150
Tes Laboratorium
Prenatal emergency care Postnatal emergency care
Tipe Rh ibu Cek tipe ABO dan Rh,
the Rosette screening test hematokrit, Hb, serum
atau the Kleihauer-Betke bilirubin, apusan darah,
acid elution test bisa dan direct Coombs test.
mendeteksi direct Coombs test yang
alloimmunization yg positif menegakkan
disebabkan oleh fetal diagnosis antibody-induced
hemorrhage hemolytic anemia yang
Amniosentesis/cordosente menandakan adanya
sis inkompabilitas ABO atau
Rh

http://emedicine.medscape.com/article/797150
Tatalaksana
Jika sang ibu hamil Rh dan belum tersensitisasi,
berikan human anti-D immunoglobulin (Rh IgG atau
RhoGAM)
Jika sang ibu sudah tersensitisasi, pemberian Rh IgG
tidak berguna
Jika bayi telah lahir dan mengalami inkompatibilitas,
transfusi tukar/ foto terapi tergantung dari kadar
bilirubin serum, rendahnya Ht, dan naiknya
reticulocyte count

http://emedicine.medscape.com/article/797150
Inkompatibilitas ABO
Terjadi pada ibu dengan Gejala yang timbul adalah
golongan darah O terhadap ikterik, anemia ringan, dan
janin dengan golongan peningkatan bilirubin
darah A, B, atau AB serum.
Tidak terjadi pada ibu gol A Lebih sering terjadi pada
dan B karena antibodi yg bayi dengan gol darah A
terbentuk adalah IgM yg tdk dibanding B, tetapi
melewati plasenta, hemolisis pada gol darah
sedangkan 1% ibu gol darah tipe B biasanya lebih parah.
O yang memiliki titer Inkompatibilitas ABO jarang
antibody IgG terhadap sekali menimbulkan hidrops
antigen A dan B, bisa fetalis dan biasanya tidak
melewati plasenta separah inkompatibilitas Rh
Kenapa tidak separah Inkompatibilitas
Rh?
Biasanya antibodi Anti-A dan Anti-B adalah IgM
yang tidak bisa melewati sawar darah plasenta
Karena antigen A dan B diekspresikan secara luas
pada berbagai jaringan fetus, tidak hanya pada
eritrosit, hanya sebagian kecil antibodi ibu yang
berikatan dengan eritrosit.
Eritrosit fetus tampaknya lebih sedikit
mengekspresikan antigen permukaan A dan B
dibanding orang dewasa, sehingga reaksi imun
antara antibody-antigen juga lebih sedikit
hemolisis yang parah jarang ditemukan.
Inkompatibilitas ABO
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah
direct Coombs test.
Pada inkompatibilitas ABO manifestasi yg lebih
dominan adalah hiperbilirubinemia,
dibandingkan anemia, dan apusan darah tepi
memberikan gambaran banyak spherocyte dan
sedikit erythroblasts, sedangkan pada
inkompatibilitas Rh banyak ditemukan eritoblas
dan sedikit spherocyte
Tatalaksana: fototerapi, transfusi tukar
Inkompatibilitas ABO Inkompatibilitas Rh
Inkompatibilitas ABO jarang Gejala biasanya lebih parah jika
sekali menimbulkan hidrops dibandingkan dengan
fetalis dan biasanya tidak inkompatibilotas ABO, bahkan
separah inkompatibilitas Rh hingga hidrops fetalis
Risiko dan derajat keparahan Risiko dan derajat keparahan
tidak meningkat di anak meningkat seiring dengan
selanjutnya kehamilan janin Rh (+) berikutnya,
kehamilan kedua menghasilkan bayi
dengan anemia ringan, sedangkan
kehamilan ketiga dan selanjutnya
bisa meninggal in utero
apusan darah tepi memberikan pada inkompatibilitas Rh banyak
gambaran banyak spherocyte ditemukan eritoblas dan sedikit
dan sedikit erythroblasts spherocyte
124. Ikterus yang Berhubungan dengan ASI

Breast Feeding Jaundice (BFJ) Breast Milk Jaundice (BMJ)


Disebabkan oleh kurangnya asupan Berhubungan dengan pemberian
ASI sehingga sirkulasi enterohepatik ASI dari ibu tertentu dan
meningkat (pada hari ke-2 atau 3 saat bergantung pada kemampuan
ASI belum banyak)
bayi mengkonjugasi bilirubin
indirek
Timbul pada hari ke-2 atau ke-3 Kadar bilirubin meningkat pada
Penyebab: asupan ASI kurang hari 4-7
cairan & kalori kurang penurunan Dapat berlangsung 3-12 minggu
frekuensi gerakan usus ekskresi tanpa penyabab ikterus lainnya
bilirubin menurun Penyebab: 3 hipotesis
Inhibisi glukuronil transferase oleh
hasil metabolisme progesteron
yang ada dalam ASI
Inhibisi glukuronil transferase oleh
asam lemak bebas
Peningkatan sirkulasi enterohepatik
Indikator BFJ BMJ
Awitan Usia 2-5 hari Usia 5-10 hari
Lama 10 hari >30 hari
Volume ASI asupan ASI kurang cairan & Tidak tergantung dari volume ASI
kalori kurang penurunan
frekuensi gerakan usus
ekskresi bilirubin menurun
BAB Tertunda atau jarang Normal
Kadar Bilirubin Tertinggi 15 mg/dl Bisa mencapai >20 mg/dl
Pengobatan Tidak ada, sangat jarang Fototerapi, Hentikan ASI jika kadar
fototerapi Teruskan ASI bilirubin > 16 mg/dl selama lebih
disertai monitor dan evaluasi dari 24 jam (untuk diagnostik)
pemberian ASI AAP merekomendasikan
pemberian ASI terus menerus dan
tidak menghentikan
Gartner & Auerbach
merekomendasikan penghentian
ASI pada sebagian kasus
For healthy term infants with breast milk or breastfeeding
jaundice and with bilirubin levels of 12 mg/dL to 17 mg/dL, the
following options are acceptable: Increase breastfeeding to 8-12
times per day and recheck the serum bilirubin level in 12-24
hours.
Temporary interruption of breastfeeding is rarely needed and is
not recommended unless serum bilirubin levels reach 20 mg/dL.
For infants with serum bilirubin levels from 17-25 mg/dL, add
phototherapy to any of the previously stated treatment options.
The most rapid way to reduce the bilirubin level is to interrupt
breastfeeding for 24 hours, feed with formula, and use
phototherapy; however, in most infants, interrupting
breastfeeding is not necessary or advisable

Breast Milk Jaundice Treatment & Management. Medscape.com


Tekanan di dalam Jantung

125. Congenital Heart


Disease

Congenital HD

Acyanotic Cyanotic

With volume With With


load: With pressure pulmonary blood pulmonary blood
load: flow: flow:
- ASD
- Valve stenosis - ToF - Transposition of
- VSD - Coarctation of - Atresia the great vessels
- PDA aorta pulmonal - Truncus
- Valve - Atresia tricuspid arteriosus
regurgitation

1. Nelsons textbook of pediatrics. 18th ed.


2. Pathophysiology of heart disease. 5t ed.
Penyakit jantung kongenital
Asianotik: L-R shunt
ASD: fixed splitting S2,
murmur ejeksi sistolik
VSD: murmur pansistolik
PDA: continuous murmur
Sianotik: R-L shunt
TOF: AS, VSD, overriding
aorta, RVH. Boot like heart
pada radiografi
TGA

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002103/
Atrial Septal Defect
ASD:
Pathophysiology & Clinical Findings
Ro:
Increased flow into right side of - enlargement of RV, RA, &
the heart & lungs pulmonary artery
- increased vasvular marking

Constant increased of Wide, fixed 2nd heart sound


ventricular diastolic volume splitting

Increased flow across tricuspid Mid-diastolic murmur at the lower


valve left sternal border

Increased flow across Thrill & systolic ejection murmur, best


heard at left middle & upper sternal
pulmonary valve border

Flow across the septal defect doesnt produce murmur because the pressure gap
between LA & RA is not significant
1. Nelsons textbook of pediatrics. 18th ed.
ASD:
Pathophysiology & Clinical Findings

size of the main


pulmonary artery
size of the right atrium
size of the right ventricle
(seen best on the lateral
view as soft tissue filling in
the lower & middle
retrosternal space).
1. Nelsons textbook of pediatrics. 18th ed.
2. Essentials of Radiology. 2nd ed.
Ventricular Septal Defect
VSD:
Pathophysiology & Clinical Findings
Pansystolic murmur & thrill
Flow across VSD
over left lower sternum.

If defect is large 3rd heart sound


Over flow across mitral valve
& mid diastolic rumble at the apex.

ECG: Left ventricular hypertrophy or


biventricular hypertrophy,
LA, LV, RV volume overload peaked/notched P wave
Ro: gross cardiomegaly

Dyspnea, feeding difficulties, poor


High systolic pressure & high growth, profuse perspiration,
pneumonia, heart failure.
flow to the lungs
pulmonary hypertension Duskiness during crying or infection
Ph/: increased of 2nd heart sound

1. Nelsons textbook of pediatrics. 18th ed.


VSD:
Pathophysiology & Clinical Findings
cardiomegaly with
prominence of
both ventricles,
the left atrium, &
the pulmonary artery.
pulmonary vascular
marking

1. Nelsons textbook of pediatrics. 18th ed.


Patent Ductus Arteriosus
Coarctasio of Aorta
126. Malnutrisi Energi Protein
Malnutrisi: Ketidakseimbangan seluler antara asupan dan kebutuhan
energi dan nutrien tubuh untuk tumbuh dan mempertahankan fungsinya
(WHO)
Dibagi menjadi 3:
Overnutrition (overweight, obesitas)
Undernutrition (gizi kurang, gizi buruk)
Defisiensi nutrien spesifik
Malnutrisi energi protein (MEP):
MEP derajat ringan-sedang (gizi kurang)
MEP derajat berat (gizi buruk)
Malnutrisi energi protein berdasarkan klinis:
Marasmus
Kwashiorkor
Marasmik-kwashiorkor

Sjarif DR. Nutrition management of well infant, children, and


adolescents.
Scheinfeld NS. Protein-energy malnutrition.
http://emedicine.medscape.com/article/1104623-overview
Marasmus

wajah seperti orang tua


kulit terlihat longgar
tulang rusuk tampak
terlihat jelas
kulit paha berkeriput
terlihat tulang belakang
lebih menonjol dan kulit
di pantat berkeriput
( baggy pant )
Kwashiorkor

edema
rambut kemerahan, mudah
dicabut
kurang aktif, rewel/cengeng
pengurusan otot
Kelainan kulit berupa bercak
merah muda yg meluas &
berubah warna menjadi coklat
kehitaman dan terkelupas (crazy
pavement dermatosis)
Marasmik-kwashiorkor
Terdapat tanda dan gejala klinis marasmus dan
kwashiorkor secara bersamaan
Kriteria Gizi Kurang dan Gizi Buruk
Z-score menggunakan BB/IBW (Ideal Body Weight)
kurva WHO weight-for- menggunakan kurva CDC
height 80-90% mild
<-2 moderate wasted malnutrition
<-3 severe wasted gizi 70-80% moderate
buruk malnutrition
70% severe
Lingkar Lengan Atas < 11,5 malnutrition Gizi Buruk
cm
10 Langkah Utama Penatalaksaan Gizi Buruk
No Tindakan Stabilisasi Transisi Rehabilitasi Tindaklanjut
H 1-2 H 3-7 H 8-14 mg 3-6 mg 7-26
1. Atasi/cegah hipoglikemia

2. Atasi/cegah hipotermia

3. Atasi/cegah dehidrasi

4. Perbaiki gangguan elektrolit

5. Obati infeksi
6. Perbaiki def. nutrien mikro tanpa Fe + Fe

7. Makanan stab & trans

8. Makanan Tumb.kejar
9. Stimulasi

10. Siapkan tindak lanjut


Emergency Signs in Severe
Malnutrition
Dibutuhkan tindakan resusitasi
Tanda gangguan airway and breathing :
Tanda obstruksi
Sianosis
Distress pernapasan
Tanda dehidrasi berat rehidrasi secara ORAL.
Dehidrasi berat sulit dinilai pada malnutrisi berat.
Terdapat risiko overhidrasi
Tanda syok : letargis, penurunan kesadaran
Berikan rehidrasi parenteral (Resusitasi Cairan)
HIPOGLIKEMIA
Semua anak dengan gizi Jika anak tidak sadar, beri
buruk berisiko hipoglikemia larutan glukosa 10% IV
(< 54 mg/dl) bolus 5 ml/kg BB, atau
Jika tidak memungkinkan larutan glukosa/larutan gula
periksa GDS, maka semua pasir 50 ml dengan NGT.
anak gizi buruk dianggap Lanjutkan pemberian F-75
hipoglikemia setiap 23 jam, siang dan
Segera beri F-75 pertama, malam selama minimal dua
bila tidak dapat disediakan hari.
dengan cepat, berikan 50 ml
glukosa/ gula 10% (1 sendok
teh munjung gula dalam 50
ml air) oral/NGT.
Ketentuan Pemberian Makan Awal
Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah
osmolaritas serta rendah laktosa
Berikal secara oral atau melalui NGT, hindari pemberian
parenteral
Formula awal F-75 diberikan sesuai standar WHO dan
sesuai jadwal makan yang dibuat untuk mencukupi
kebutuhan zat gizi pada fase stabilisasi
Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan
bahwa jumlah F-75 yang dibutuhkan harus dipenuhi
Apabila pemberian makan oral tidak mencapai kebutuhan
minimal, berikan sisanya melalui NGT
Pada fase transisi, secara bertahap ganti F-75 dengan F-
100
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008
Pemberian Makanan
Fase stabilisasi (Inisiasi)
Energi: 80-100 kal/kg/hari
Protein: 1-1,5 gram/kg/hari
Cairan: 130 ml/kg/hari atau 100 ml/kg/hari (edema)
Fase transisi
Energi: 100-150 kal/kg/hari
Protein: 2-3 gram/kg/hari
Fase rehabilitasi
Energi: 150-220 kal/kg/hari
Protein: 3-4 gram/kg/hari
HIPOTERMIA (Suhu aksilar < 35.5 C)
Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk
kepalanya). Tutup dengan selimut hangat dan
letakkan pemanas/ lampu di dekatnya, atau
lakukan metode kanguru.
Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam s.d suhu
menjadi 36.5 C/lbh.
Jika digunakan pemanas, ukur suhu tiap
setengah jam. Hentikan pemanasan bila suhu
mencapai 36.5 C
DEHIDRASI
Jangan gunakan infus untuk rehidrasi, kecuali
pada kasus dehidrasi berat dengan syok.
Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT
beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam
pertama
setelah 2 jam, berikan ReSoMal 510
ml/kgBB/jam berselang-seling dengan F-75
dengan jumlah yang sama, setiap jam selama 10
jam.
Atasi Infeksi
Anggap semua anak dengan Jika ada komplikasi (hipoglikemia,
gizi buruk mengalami infeksi hipotermia, atau anak terlihat
letargis atau tampak sakit berat),
saat mereka datang dan atau jelas ada infeksi
segera diberi antibiotik. Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV/6
jam selama 2 hari), dilanjutkan
Amoksisilin PO (15 mg/kgBB/8 jam
PILIHAN ANTIBIOTIK
selama 5 hari) ATAU Ampisilin PO
SPEKTRUM LUAS (50 mg/kgBB/6 jam selama 5 hari)
Jika tidak ada komplikasi sehingga total selama 7 hari,
atau tidak ada infeksi nyata DITAMBAH Gentamisin (7.5
mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari
Kotrimoksazol PO (25 mg
selama 7 hari.
SMZ + 5 mg TMP/kgBB/12
jam selama 5 hari.
Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam,
tambahkan Kloramfenikol (25 mg/kgBB IM/IV
setiap 8 jam) selama 5 hari.
Jika diduga meningitis, lakukan pungsi lumbal
untuk memastikan dan obati dengan
Kloramfenikol (25 mg/kg setiap 6 jam) selama
10 hari.
Mikronutrien
Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)
Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)
Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)
Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase
rehabilitasi)
Vitamin A diberikan secara oral pada hari ke 1 dengan:

Jika ada gejala defisiensi vitamin A, atau pernah sakit campak dalam 3
bulan terakhir, beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada hari ke 1, 2,
dan 15.
127. Atelectasis
Atelectasis is defined as diminished volume affecting all
or part of a lung
2 types:
Obstructive:
the most common type and results from reabsorption of gas from
the alveoli when communication between the alveoli and the
trachea is obstructed at the level of the larger or smaller bronchus.
Causes of obstructive atelectasis include foreign body, tumor, and
mucous plugging.
Nonobstructive
caused by loss of contact between the parietal and visceral
pleurae, compression, loss of surfactant, and replacement of
parenchymal tissue by scarring or infiltrative disease.
Chest radiographs and CT scans may demonstrate
direct and indirect signs of lobar collapse.
Direct signs include displacement of fissures and
opacification of the collapsed lobe.
Indirect signs include
displacement of the hilum,
mediastinal shift toward the side of collapse,
loss of volume on ipsilateral hemithorax,
elevation of ipsilateral diaphragm,
crowding of the ribs,
compensatory hyperlucency of the remaining lobes,
silhouetting of the diaphragm or the heart border.
Atelectasis
Chest radiographs and CT scans may
demonstrate direct and indirect signs of
lobar collapse.
Direct signs include displacement of
fissures and opacification of the collapsed
lobe.
Indirect signs include
displacement of the hilum,
mediastinal shift toward the side
of collapse,
loss of volume on ipsilateral
hemithorax,
elevation of ipsilateral diaphragm,
crowding of the ribs,
compensatory hyperlucency of
the remaining lobes,
silhouetting of the diaphragm or
the heart border.
128. Demam Tifoid
Etiologi : 96% disebabkan Salmonella typhi, sisanya ole S. paratyphi
Prevalens 91% kasus terjadi pada usia 3-19 tahun
Penularan : fekal-oral
Masa inkubasi : 10-14 hari
Gejala
Demam naik secara bertahap (stepwise) setiap hari, suhu tertinggi pada
akhir minggu pertama. Minggu kedua demam terus menerus tinggi
Delirium (mengigau), malaise, letargi, anoreksia, nyeri kepala, nyeri perut,
diare, atau konstipasi, muntah, perut kembung,
Pada kasus berat: penurunan kesadaran, kejang, dan ikterus
Pemeriksaan Fisik
Kesadaran menurun, delirium, lidah tifoid (bagian tengah kotor, pinggir
hiperemis), meteorismus, hepatomegali, sphlenomegali (jarang). Kadang
terdengar ronki pada pemeriksaan paru

Pedoman Pelayanan Medis IDAI


Clinical features:
Step ladder fever in
the first week, the
persist
Abdominal pain
Diarrhea/constipation
Headache
Coated tongue
Hepatosplenomegaly
Rose spot
Bradikardia relatif

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.


Pemeriksaan Penunjang
Darah tepi perifer
Anemia, terjadi karena supresi sumsum tulang, defisiensi Fe, atau perdarahan usus
Leukopenia, Limfositosis reaktif, Trombositopenia (pada kasus berat)
Pemeriksaan serologis
Serologi widal : kenaikan titer S.typhi O 1:160 atau kenaikan 4x titer fase akut ke
konvalesens, banyak positif-negatif palsu. Bahkan kadar baku normal di berbagai tempat
endemis cenderung berbeda-beda dan perlu penyesuaian
Kadar IgG-IgM (Typhi-dot)
Tubex Test
Pemeriksaan biakan Salmonella
The criterion standard for diagnosis of typhoid fever has long been culture isolation of
the organism. Cultures are widely considered 100% specific
Biakan darah pada 1-2 minggu perjalanan penyakit. Biakan sumsum tulang masih positif
hingga munggu ke-4
Pemeriksaan radiologis
Foto toraks (kecurigaan pneumonia)
Foto polos abdomen (kecurigaan perforasi) Pedoman Pelayanan Medis IDAI
Tatalaksana Demam Tifoid
Tatalaksana Demam Tifoid
129. Terbentuknya Methemoglobinemia
Kompleks heme dalam Hb memiliki ion besi dalam bentuk tereduksi
yaitu ferro (Fe2+).
Ion besi dalam Fe2+ inilah yang bisa mengikat oksigen menjadi
oksihemoglobin.
Oksihemoglobin kemudian melepas oksigen di jaringan dan kembali
ke dalam bentuk Fe2+.
Ketika hemoglobin kehilangan salah satu elektronnya dan
teroksidasi, Fe2+ berubah menjadi Fe3+ atau bentuk ferri inilah
yang disebut methemoglobin
Methemoglobin kekurangan satu electron untuk bisa mengikat
oksigen
Kadar normal methemoglobin dibawah 1%
Terdapat mekanisme tubuh untuk mengembalikan Hb yang
teroksidasi tersebut melalui reduksi oleh glutathione, Cytochrome
b5 reductase, dan glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD)
Etiology
Designation Examples
Hereditary NADH-cytochrome b5 reductase
deficiency, cytochrome b5 deficiency,
M Hb, unstable Hb
Drug/chemical induced Acetaminophen, amyl nitrite,
benzocaine, dapsone, nitroglycerin,
nitroprusside, phenazopyridine
(pyridium), sulfanilamide, aniline dyes,
chlorates, nitrofurans, sulfones
Diet induced Nitrites, nitratesa
Adapted from Mansouri and Lurie (1993). M HB is an abnormal type of Hb.
a When followed up, cases have generally been linked to high nitrite levels (e.g.,

Keating et al. 1973).


Lorna Fewtrell, Drinking-Water Nitrate, Methemoglobinemia, and Global Burden of
Disease: A Discussion. Environ Health Perspect. Oct 2004; 112(14): 13711374.
Methemoglobinemia
Acquired methemoglobinemia lebih sering terjadi
dibandingkan congenital methemoglobinemia .
Methemoglobin yang terbentuk akibat paparan suatu
substansi melebihi kapasitas enzim pereduksi yang dimiliki
oleh eritrosit.
Acquired methemoglobinemia lebih sering terjadi pada
bayi premature dan bayi < 4 bulan, karena:
Hb Fetal (HbF) teroksidasi lebih mudah dibanding Hb Adult
(HbA)
Level NADH reductase (enzim pereduksi) rendah saat lahir dan
meningkat sesuai usia (usia 4 bulan kadarnya baru sama dgn
dewasa)
pH gaster yang lebih tinggi memfasilitasi proliferasi bakteri
sehingga meningkatkan konversi nitrat dalam asupan makanan
menjadi nitrit.
Methemoglobinemia
Nitrit organik dan inorganik merupakan penyebab
methemoglobinemia yang umum.
Air minum yang terkontaminasi oleh nitrat.
Makanan yang dikemas mungkin memiliki nitrit
yang tinggi
Sayuran yang tidak dimasak dan terkontaminasi
bakteri
Bayi rentan terhadap methemoglobinemia karena
asam lambung yg dihasilkan tidak cukup untuk
menjaga jumlah bakteri penghasil nitrat di usus
tetap rendah
Manifestasi Klinis
Darah yang mengandung
methemoglobin berwarna
merah gelap kecokelatan.
Inilah yang menimbulkan
gambaran sianosis.
Perubahan warna kulit
muncul ketika kadar
methemoglobin sekitar
10%
sianosis adalah tanda
pertama yang ditemukan
pada methemoglobinemia In tubes 1 and 2, methemoglobin fraction is 70%; in
tube 3, 20%; and in tube 4, normal.
MetHb Clinical findings
concentration (%)
1020 Central cyanosis of limbs/trunk
2045 Central nervous system depression
(headache, dizziness, fatigue, lethargy),
dyspnea
4555 Coma, arrhythmias, shock, convulsions
> 60 High risk of mortality

Adapted from Kross et al. (1992).

Lorna Fewtrell, Drinking-Water Nitrate, Methemoglobinemia, and Global Burden of


Disease: A Discussion. Environ Health Perspect. Oct 2004; 112(14): 13711374.
130. GIGANTISME

http://physrev.physiology.org/content/physrev/92/1/1/F1.large.jpg
http://www.elsevierimages.com/images/vpv/000/000/028/28260-
0550x0475.jpg
Gigantisme
Pertumbuhan linear yang abnormal karena
kerja insulinlike growth factor I (IGF-I) yang
berlebihan ketika masa kanak-kanak dimana
epiphyseal growth plates masih terbuka
Acromegaly merupakan kelainan yang sama
tetapi terjadi setelah lempeng epifise
tertutup.
Gigantisme biasa muncul saat kanak-kanak
atau remaja muda.
Normal Growth Hormone Normal Control of Growth
Physiology Hormone Production
Disekresikan oleh hipofisis anterior secara
pulsatil. Hipotalamus mengontrol
Oleh karena itu memeriksa kadar GH
secara random tidak berguna jumlah GH yang dikeluarkan
GH turun secara drastis setelah gula masuk oleh hipofisis dengan
ke dalam tubuh (hal ini tidak terjadi pada
akromegali/gigantisme yang tidak mengeluarkan
mengalami penurunan GH setelah diberi
tes toleransi glukosa) neuropeptida growth
GH mempunyai efek langsung pada tubuh, hormone releasing
tetapi juga berefek pada sel kelenjar untuk
melepaskan hormon lainnya: hormone (GHRH).
GH bekerja pada sel khusus di hepar
melepaskan hormon yang disebutInsulin-
Neuropeptida utama yang
like Growth Factor (IGF-1) (atau disebut menghambat pelepasan GH
juga Somatomedin-C)
Karena IGF-1 dilepaskan dengan kadar yg disebut somatostatin
relatif spontan, maka lebih bagus
digunakan untuk memeriksa akromegali/
gigantisme
Etiologi
Causes of excess IGF-I Gigantism is a form of
action can be divided into familial pituitary adenomas,
and may run in some
the following 3 categories: families due to a genetic
Release of primary GH excess mutation.
from the pituitary Gigantism can also be
Increased GHRH secretion or associated with other
hypothalamic dysregulation conditions, including:
Hypothetically, the excessive Carney complex
production of IGF-binding McCune-Albright syndrome
(MAS)
protein, which prolongs the
Multiple endocrine neoplasia
half-life of circulating IGF-I type 1 (MEN-1)
Neurofibromatosis
Gejala dan Tanda Gigantisme
Tall stature Frontal bossing
Mild to moderate obesity Prognathism
(common) Hyperhidrosis
Macrocephaly (may precede Osteoarthritis (a late
linear growth) feature of IGF-I excess)
Headaches Peripheral neuropathies
Visual changes (eg, carpel tunnel
Hypopituitarism syndrome)
Soft tissue hypertrophy Cardiovascular disease
Exaggerated growth of the Benign tumors
hands and feet, with thick Endocrinopathies
fingers and toes
Coarse facial features

http://emedicine.medscape.com/article/925446-treatment#a1156
Pemeriksaan Tatalaksana
Laboratorium Pengobatan
Growth Hormon Analog somatostatin
IGF-I pemeriksaan lab paling
baik karena pengeluaran oleh Agonis reseptor dopamin
tubuh tidak bersifat pulsatil Antagonis reseptor GH
Imaging Radiasi
Radiografi Operasi transphenoidal
CT Scan
MRI
Histologi
Untuk menemukan adenoma/
karsinoma/ hiperplasia
131. Diare Persisten
Intoleransi laktosa
Alergi protein susu sapi
Malabsorpsi nutrien

Bacterial overgrowth
Infeksi persisten
Antibiotic-Associated
Diarrhea
Food Allergy
Hipersensitivitas terhadap protein di dalam makanan (cth
kasein & whey dari produk sapi)
Mekanisme pertahanan spesifik dan non-spesifik saluran
cerna belum sempurna, antigen masuk lewat saluran cerna
hipersensitivitas
Hipersensitivitas karena susu sapi bisa diperantarai IgE (bisa
mengenai sal. Kulit, cerna, napas, berisiko tinggi asma dan
rginitis alergi di kemudian hari) atau tidak diperantarai IgE
(lebih sering mengenai sal. cerna)
The prevalence of food allergies has been estimated to be 5-
6% in infants and children younger than 3 years and 3.7 % in
adults

Nocerino A. Protein intolerance. http://emedicine.medscape.com/article/931548-overview


Food Allergy
Gejala:
Anafilaktik
Kulit: dermatitis atopik, urtikaria, angioedema
Saluran nafas: asma, rinitis alergi
Saluran cerna: oral allergy syndrome, esofagitis eosinofilik, gastritis eosinofilik,
gastroenteritis eosinofilik, konstipasi kronik, dll.
Pemeriksaan: skin test, IgE serum, eliminasi diet, food
challenge
Tata laksana:
Eliminasi makanan yang diduga mengandung alergen
Breastfeeding, ibu ikut eliminasi produk susu sapi dalam dietnya
Susu terhidrolisat sempurna bila susah untuk breastfeeding
PPM IDAI
PPM IDAI
132. Pankreatitis Akut: Etiologi
Aktivasi enzim pankreas bisa dipicu oleh
kerusakan sel asinar dari pankreas atau melalui
aktivasi prematur dari proenzim dalam saluran
pankreas
Trauma (paling sering pada anak-anak)
Iskemia
Paparan toksin: alkohol, obat-obatan
Infeksi
Obstruksi
ERCP
Kelainan metabolik: hiperlipidemia, hiperkalsemia
Manifestasi Klinis
Nyeri abdomen disertai mual dan muntah merupakan
gejala utama
Nyeri tajam dan mendadak di epigastrium (bisa juga di
tengah/bawah abdomen, terkadang menjalar ke
punggung), bertambah parah dengan makan dan
berkurang jika lutut ditekuk ke dada.
Takikardia
Demam
Nyeri difus abdominen
Bising usus (-)
(Grey Turner's sign) atau (Cullen's sign) menandakan
hemorrhagic pancreatitis.
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium Radiologi
Foto polos abdomen
Leukositosis infeksi sentinel loops, obscured psoas margins
and a dilated duodenum; the colon cut-
15% pankreatitis pada anak off sign, in which a normal gas pattern is
present only up to the mid-transverse
mengalami hypocalcemia colon
20% terdapat efusi pleura pada foto
25% mengalami thoraks
USG direkomendasikan untuk
hiperglikemia selama konfirmasi diagnosis sekaligus
serangan menyingkirkan kemungkinan obstruksi
An enlarged, edematous-appearing
Amilase meningkat (normal
pancreas suggests pancreatitis.
A dilated main pancreatic duct indicates
obstruction (kalsifikasi sering ditemukan
0-88 U/L) pada pankreatitis berulang
Computed tomographic imaging is
Lipase meningkat helpful in complicated cases, especially
when surgery is being considered.
ERCP tidak saat akut
Tatalaksana
Resusitasi cairan: Target urin output normal
Manajemen nyeri: Meperidine (Demerol) is preferred to
morphine
Kebutuhan nutrisi:
A low-fat elemental diet that is started early may decrease the
need for total parenteral nutrition without aggravating the
pancreatitis.
In prolonged cases, peripheral or central intravenous nutrition
may be necessary because of the high metabolic rate that
accompanies pancreatitis.
Antibiotics are generally unnecessary
Nasogastric suction is useful only when persistent vomiting
or ileus is present.
133. Kejang demam
Kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh di atas 38,4 C
tanpa adanya infeksi SSP atau gangguan elektrolit pada anak di atas
usia 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya (ILAE,
1993)
Umumnya berusia 6 bulan 5 tahun
Kejang demam sederhana (simpleks)
Berlangsung singkat, tonik klonik, umum, tidak berulang dalam 24 jam
Kejang demam kompleks
Lama kejang > 15 menit
Kejang fokal atau parsial menjadi umum
Berulang dalam 24 jam
Diagnosis banding: meningitis, ensefalitis, meningoensefalitis, APCD
(pada infant), epilepsi

Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. IDAI. 2006


Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab demam/
kejang: DPL, GDS, elektrolit, urinalisis, kultur darah/urin/feses
Pungsi lumbal dilakukan utk menyingkirkan meningitis
sangat dianjurkan untuk usia < 12 bulan dan dianjurkan untuk usia 12-
18 bulan, > 18 bln tidak rutin dilakukan
Kontraindikasi mutlak : Terdapat gejala peningkatan tekanan
intrakranial
EEG tidak direkomendasikan, tetapi masih dapat dilakukan
pada kejang demam yang tidak khas, mis: KDK pada anak
berusia lebih dari 6 tahun atau kejang demam fokal
CT scan/ MRI hanya jika ada indikasi, mis: kelainan neurologis
fokal yang menetap, edema papil, dst
Profilaksis Intermiten untuk
Pencegahan Kejang Demam
Faktor risiko berulangnya kejang demam:
Riwayat kejang demam dalam keluarga
Usia kurang dari 12 bulan
Temperatur yang rendah saat kejang
Cepatnya kejang setelah demam
Pada saat demam
Parasetamol 10-15 mg/kg diberikan 4 kali/hari
Diazepam oral 0,3 mg/kg setiap 8 jam, atau per rektal 0,5
mg/kg setiap 8 jam pada suhu >38,5:C
Pengobatan Jangka Panjang Kejang
Demam
Fenobarbital 3-6 mg/kg/hari atau asam valproat 15-40 mg/kg/hari
fenobarbital biasanya tidak digunakan krn terkait ES autisme
Dianjurkan pengobatan rumatan:
Kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang (paresis Tods,
CP, hidrosefalus)
Kejang lama > 15 menit
Kejang fokal
Dipertimbangkan pengobatan rumatan :
Kejang berulang dalam 24 jam
Bayi usia < 12 bulan
Kejang demam kompleks berulang > 4 kali
Lama pengobatan rumatan 1 tahun bebas kejang, dihentikan bertahap
dalam 1-2 bulan
Name Description Alleles
134. Genetik Only one of globin alleles
Thalassemia Beta Thalassemia
minor
bears a mutation.
Individuals will suffer from
+/ or o/

Two major groups of microcytic anemia.

mutations: Affected individuals can often


Nondeletion forms: manage a normal life but may
Thalassemia need occasional transfusions,
These defects, in +/+ or o/+
intermedia e.g., at times of illness or
general, involve a single pregnancy, depending on the
base substitution or severity of their anemia.
small deletion or
inserts near or
Both alleles have thalassemia
upstream of the mutations. This is a severe
globin gene. microcytic, hypochromic
Deletion forms: anemia.
Thalassemia
It causes anemia, splenomegaly o/o
Deletions of different major
and severe bone deformities.
sizes involving the Periodic blood transfusion;
globin gene splenectomy for splenomegaly
and iron chelation
Thalassemia-
Penurunan genetik
thalassemia beta jika kedua
orang tua merupakan
thalassemia trait

http://elcaminogmi.dnadirect.com/grc
/patient-site/alpha-thalassemia-
carrier-screening/genetics-of-alpha-
thalassemia.html?6AC396EC1151986D
584C6C02B56BBCC0

NB: need
two genes
(one from
each parent)
to make
enough beta
globin
protein
chains.
Genetik Alpha Thalassemia
Alleles
Description Genotype
affected
known as alpha thalassemia silent carrier/ alpha thalassemia minima
minimal effect on hemoglobin synthesis.
One Three -globin genes are enough to permit normal Hb production, and no clinical -/
symptoms.
Slightly reduced MCV and MCH

Known as alpha thalassemia minor.


Two genes permit nearly normal production of red blood cells, but there is a mild
microcytic hypochromic anemia
Can be mistaken for iron deficiency anemia.
--/ or
Two Alpha thalassemia minor can exist in two forms:
-/-
alpha-thal-1 (/--), associated with Asians, involves cis deletion of both alpha
genes on the same chromosome;
alpha-thal-2 (-/-), associated with Africans, involves trans deletion of alpha
genes on different (homologous) chromosomes.

The condition is called Hemoglobin H disease.


Poor oxygen delivery to tissues.
Three Microcytic hypochromic anemia with target cells and Heinz bodies (precipitated HbH), --/-
as well as hepatosplenomegaly
First noticed in childhood or in early adult life
Stillborn with hydrops fetalis or die shortly after birth.
Four --/--
Hemoglobin that is present is all tetrameric chains (hemoglobin Barts).
Pewarisan
Genetik
Thalassemia-
Penurunan genetik thalassemia
alpha jika kedua orang tua
merupakan thalassemia trait

NB: need four genes (two from


each parent) to make enough alpha
globin protein chains.

http://imagebank.hematology.org/AssetDetail.aspx?AssetID=9909&AssetType=Asset
135. Pertusis
Batuk rejan (pertusis) adalah penyakit akibat
infeksi Bordetella pertussis dan Bordetella
parapertussis (basil gram -)
Karakteristik : uncontrollable, violent coughing
which often makes it hard to breathe. After fits of
many coughs needs to take deep breathes which
result in a "whooping" sound.
Anak yang menderita pertusis bersifat infeksius
selama 2 minggu sampai 3 bulan setelah
terjadinya penyakit
Pertusis
Stadium:
Stadium katarrhal: hidung tersumbat, rinorrhea,
demam subfebris. Sulit dibedakan dari infeksi
biasa. Penularan terjadi dalam stadium ini.
Stadium paroksismal: batuk paroksismal yang
lama, bisa diikuti dengan whooping atau stadium
apnea. Bisa disertai muntah.
Stadium konvalesens: batuk kronik hingga
beberapa minggu
Guinto-Ocampo H. Pediatric pertussis. http://emedicine.medscape.com/article/967268-
overview
Diagnosis dan Tatalaksana Pertusis
Diagnosis :
Curiga pertusis jika anak batuk berat lebih dari 2 minggu, terutama jika
penyakit diketahui terjadi lokal.
Tanda diagnostik : Batuk paroksismal diikuti whoop saat inspirasi
disertai muntah, perdarahan subkonjungtiva, riwayat imunisasi (-),
bayi muda dapat mengalami henti napas sementara/sianosis
Penatalaksanaan :
Kasus ringan pada anak-anak umur 6 bulan dilakukan secara rawat
jalan
< 6 bulan, dengan pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti
napas, atau sianosis dirawat di RS
Komplikasi : Pneumonia, Kejang, Gizi kurang, Perdarahan dan Hernia
Beri imunisasi DPT pada pasien pertusis dan setiap anak dalam keluarga

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008


Antibiotik dalam Penatalaksanaan Pertusis

Beri eritromisin oral (12.5 mg/kgBB/kali, 4 kali


sehari) selama 10 hari atau makrolid lainnya
Jika terdapat demam atau eritromisin tidak tersedia,
berikan kloramfenikol oral (25 mg/kg/kali, 3 kali
sehari) selama 5 hari sebagai penatalaksanaan
terhadap kemungkinan pneumonia sekunder
Tanda pneumonia sekunder : pernapasan cepat diantara
episode batuk, demam, dan gejala distres pernapasan
dengan onset akut
Jika kloramfenikol tidak tersedia, berikan
kotrimoksazol
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008
136. GENETIC DISORDER
Patau Mental retardation, heart defects, CNS abnormalities,
Syndrome microphthalmia, polydachtyly, a cleft lip with or without a cleft
Trisomi 13 palate, coloboma iris, and hypotonia, Clenched hands (with outer
noninherit fingers on top of the inner fingers), Close-set eyes, Low-set ears,
ed Single palmar crease, microcephaly, Small lower jaw (micrognathia),
cryptorchidism, Hernia

Many infants with trisomy 13 die within their first days or weeks of
life.
Sindrom cryptorchidism, hypospadias, or micropenis, small testes, delayed or
Klinefelter incomplete puberty, gynecomastia, reduced facial and body hair, and
47,XXY an inability to have biological children (infertility).
noninherit Older children and adults tend to be taller. Increased risk of
ed developing breast cancer and SLE.
May have learning disabilities and delayed speech; tend to be quiet,
sensitive, and unassertive.
Sindrom Down mikrosefal; hypotonus, Excess skin at the nape of the neck,
Trisomi 21 Flattened nose, Separated sutures, Single palm crease, Small
noninherited ears, small mouth, Upward slanting eyes, Wide, short hands
with short fingers, White spots on the colored part of the eye
(Brushfield spots), heart defects (ASD, VSD)

Physical development is often slower than normal (Most


never reach their average adult height), delayed mental and
social development (Impulsive behavior, Poor judgment,
Short attention span, Slow learning)
Sindrom Clenched hands, Crossed legs, abnormally shaped head;
Edward Trisomi micrognathia, Feet with a rounded bottom (rocker-bottom
18 feet), Low birth weight & IUGR, Low-set ears, Mental delay,
Noninherited microcephaly, Undescended testicle, coloboma iris, Umbilical
hernia or inguinal hernia, congenital heart disease (ASD, PDA,
VSD), kidney problems (i.e: Horseshoe kidney, Hydronephrosis,
Polycystic kidney), severe intellectual disability

It is three times more common in girls than boys. Many


individuals with trisomy 18 die before birth or within their first
month.
Sindrom turner The most common feature is short stature, which becomes
45 + XO evident by about age 5. Ovarian hypofunction. Many
noninherited affected girls do not undergo puberty and infertile.
About 30 % have webbed neck, a low hairline at the back
of the neck, limfedema ekstrimitas, skeletal abnormalities,
or kidney problem, 1/3 have heart defect, such as
coarctation of the aorta.

Most of them have normal intelligence. Developmental


delays, nonverbal learning disabilities, and behavioral
problems are possible
Marfan syndrome Mutasi pada fibrillin (protein pada jaringan ikat tubuh).
3 dari 4 kasus A tall, thin build, Long arms, legs, fingers, and toes and
bersifat diturunkan flexible joints, skoliosis, pektus karinatum/ ekskavatum,
Teeth that are too crowded, Flat feet.
Fragile X syndrome Fragile X syndrome is a genetic condition that causes a
Diturunkan secara X- range of developmental problems including learning
linked dominan disabilities and cognitive impairment.

Usually, males are more severely affected by this disorder


than females.
OBSTETRI & GINEKOLOGI
137. Kondiloma Akuminatum
PMS akibat HPV, kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan
mukosa

Gambaran klinis: Vegetasi bertangkai dengan permukaan berjonjot


dan bergabung membentuk seperti kembang kol

Pemeriksaan: Bubuhi asam asetat berubah putih

Terapi:
Tingtura podofilin 25%, krioterapi (nitrogen
cair), kauterisasi, asam trikloroasetat (TCA)
DOC pada kehamilan: TCA, lainnya: krioterapi,
Kauterisasi, laser

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=300086&val=7288&title=Kondiloma%20Akuminata%20Pada%20Wan
ita%20Hamil:%20Salah%20Satu%20Modalitas%20Terapi
138. Meigs Syndrome
Trias dari tumor jinak ovarium, efusi pleura, dan asites
yang akan mereda setelah tumor diangkat

Penyebab paling sering adalah fibroma ovarium, tumor


Brenner (neoplasma epitelial dan stroma jinak), dan
tumor sel granulosa

Gejala klinis yang sering didapatkan adalah kelelahan,


sesak napas, adanya massa abdomen-pelvis, perubahan
berat badan, batuk tidak produktif, kembung, amenore
pada usia premenopause, dan menstruasi tidak teratur

Pemeriksaan fisis didapatkan adanya massa pelvis


disertai tanda efusi pleura dan asites
Pemeriksaan Penunjang Meigs Syndrome
Laboratorium: darah
lengkap, serum elektrolit,
fungsi ginjal, fungsi hati,
fungsi koagulasi, Ca125

Imaging: CT-scan abdomen


dan thorax, foto rontgen
thorax, parasentensis cairan
asites

Terapi: Bedah, suportif

Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/255450
Jenis Kista Ovarium
Kista Ovarium Fungsional Kista Ovarium Patologis
Kista Folikel: akibat folikel Kista Dermoid: berisi berbagai
gagal melepas sel telur jenis jaringan (darah, lemak,
Kista Luteal: sisa jaringan tulang, rambut)
folikel (korpus luteum) terisi Kistadenoma: berkembang
darah dari sel-sel yang melapisi
bagian luar ovarium
Kistadenoma serosa
Kistadenoma musinosa
139. Fase Aktif Memanjang
Definisi
Laju pembukaan yang tidak adekuat setelah
persalinan aktif didiagnosis.
Diagnosis laju pembukaan tidak adekuat
bervariasi:
< 1 cm setiap jam selama sekurangkurangnya 2 jam
setelah kemajuan persalinan
< 1,2 cm per jam pada primigravida dan < 1,5 cm per
jam pada multipara
> 12 jam sejak pembukaan 4 cm sampai pembukaan
lengkap (rata-rata 0,5 cm per jam).

http://www.obgyn-rscmfkui.com/berita.php?id=234
Fase Aktif Memanjang
Gejala dan Tanda
Kontraksi melemah, sehingga menjadi kurang
kuat, lebih singkat dan/atau lebih jarang, atau
Kualitas kontraksi tetap sama seperti semula, tidak
mengalami kemajuan ataupun melemah.
Wanita terus mengkoping dengan cara yang sama
selama berjam-jam, atau menyadari persalinan
lebih mudah untuk dikendalikan.
Pada pemeriksaan vaginal, serviks tidak
mengalami perubaha

http://www.obgyn-rscmfkui.com/berita.php?id=234
Fase Aktif Memanjang: Tatalaksana
Ruptur membran buatan (jika belum
dilakukan) dan mulai memberikan dosis
oksitosin intravena yang semakin dinaikkan.
Oksitosin dosis tinggi diberikan dan terus
dinaikkan hingga dicapai laju pembukaan
sedikitnya 1 cm per jam.
Jika langkah ini tidak berhasil merangsang
kemajuan, maka seksio sesarea dilakukan.

http://www.obgyn-rscmfkui.com/berita.php?id=234
140. Morfologi Sperma

Kepala: oval memanjang, ukuran panjang 5 mikron,


bagian 2/3 anterior luar terdapat akrosom, berisi
kromosom

Tubuh: berisi mitokondria untuk menggerakkan ekor

Ekor: sebagai alat pergerakan perma


Sperma Abnormal

Azoospermia: tidak terdapat sperma hidup dalam cairan


sperma dalam cairan ejakulat ejakulat
Astenozoospermia: motilitas <
Oligospermia: jumlah sperma normal
kurang dari 20 juta per ml cairan Teratozoospermia: morfologi
ejakulat abnormal

Necrozoospermia: tidak ada


Sertoli-Cell-Only Syndrome

Riwayat infertilitas pada pria dengan


tanda seks sekunder normal

Hasil biposi testis menunjukkan hanya


terdapat sel sertoli tanpa adanya sel
germinal dan spermatozoa
(azoospermia)

Pemeriksaan hormon:
Testosteron dan LH normal
FSH meningkat (karena
kurangnya inhibin)

Terapi: tidak ada terapi efektif


141.
142. Penyakit Tiroid pada Kehamilan
Hipertiroid: Gejala dan tanda serupa seperti tidak
hamil
Pemeriksaan: TSH, T3, T4 (fT4 meningkat); USG tiroid

Hipotiroid: Lebih jarang karena berkaitan dengan


infertilitas, gejala dan tanda serupa seperti tidak
hamil
Pemeriksaan: TSH meningkat, fT4 normal (subklinis)
atau menurun
Hipertiroid pada Kehamilan: Tatalaksana
Rawat inap dan tirah baring untuk mengontrol kadar hormon tiroid.
PTU 300-450 mg/hari, dibagi dalam 3 dosis. Bila FT4 dan FT3 sudah
normal dosis pemeliharaan 50-300 mg/hari, dalam dosis terbagi.
Larutan yodium (Lugol) 3 tetes dalam segelas air putih diminum
1x/hari selama 1-2 minggu.
Propanolol mengurangi manifestasi simpatetik, 40-80 mg/hari,
dalam 3-4 dosis.
Kontra Indikasi: penyakit paru obstruktif, blokade jantung,
dekomp kordis, DM
Tiroidektomi dapat dipertimbangkan ketika kondisi hipertiroid telah
teratasi lewat pengobatan.
Setelah bayi lahir, periksa kadar hormon tiroidnya untuk
menyingkirkan kemungkinan hipotiroidisme pada bayi akibat
pengobatan selama ibu hamil.
Hipertiroid pada Kehamilan
DOC (PTU dan methimazole)
PTU (utama)
Efek teratogenik <<
Efek samping: Hipotiroid pada janin
Methimazole
efek teratogenik berupa sindrom teratogenik embriopati
metimazole yang ditandai dengan atresi esofagus atau
koanal
blocker (propanolol)
Mengurangi gejala akut hipertiroid
Efek samping pada kehamilan akhir: hipoglikemia
pada neonatus, apnea, dan bradikardia yang biasanya
bersifat transien dan tidak lebih dari 48 jam
Dibatasi sesingkat mungkin dan dalam dosis rendah
(10-15 mg per hari)
Abalovich M, Amino N, Barbour LA, Cobin RH, Leslie J, Glinoer D, et al. Management of Thyroid Dysfunction during Pregnancy and
Postpartum. J. Endocrinol. Metabolism. 2007; 92(8): S1-S47
Indikasi Pembedahan
Dibutuhkannya obat anti tiroid dosis besar
(PTU >450 mg atau methimazole >300 mg)
Timbul efek samping serius penggunaan obat
anti tiroid
Struma yang menimbulkan gejala disfagia,
atau obstruksi jalan napas
Tidak dapat memenuhi terapi medis (misalnya
pada pasien gangguan jiwa)
Hipotiroid pada Kehamilan:
Tatalaksana

Rujuk pasien ke rumah sakit


Berikan levotiroksin 50-100 g/hari kemudian
periksa kadar TSH dan tiroksin setiap 4-6
minggu untuk menyesuaikan dosis levotiroksin
sebesar 25-50 g.
Target TSH adalah <2,5 U/ml
143. Dysmenorrhea
Nyeri berat, kram pada abdomen bagian bawah dan
bisa diikuti oleh berkeringat, takikardia, sakit kepala,
mual/muntah, diare

Primer: tanpa kelainan patologis, onset < 20 tahun


Sekunder: berhubungan dengan kelainan pelvis
Endometriosis

Pengertian : adanya jaringan endometrium (kelenjar


atau stroma) di luar uterus.:

Etiologi: Penyakit estrogen dependen


1. Teori transplantasi ektopik jaringan endometrium
2. Teori meteplasia jaringan selomik
3. Teori induksi

694
Faktor Risiko

Faktor genetik:
Risiko 7x lbh besar pada riwayat ibu penderita
endometriosis

Faktor imunologi
Tidak semua wanita dengan menstruasi retrograd
akan menderita endometriosis, mungkin ada
kekurangan imun yang mempengaruhi

695
Gejala Klinik
Dismenore
Timbul beberapa saat sebelum keluarnya darah haid,
berlangsung selama menstruasi dan progresif

Subfertilitas/infertilitas

Abortus spontan
Meningkat 40% dibanding wanita normal 15-25%

Keluhan lain
Di kolon & rektum : distensi abdomen, kostipasi
Di ureter : obstruksi, disuri, hematuri dll
696
Pemeriksaan Klinis
Umumnya tidak menunjukan kelainan

Nodul pada daerah ligamentum sakrouterina dan


kavum douglas

Nyeri pada septum rektovagina dan pembesaran


ovarium unilateral (kistik)

Kasus berat : uterus retroversi fiksata, pergerakan


ovarium dan tuba terbatas
Pemeriksaan Penunjang
Laparoskopi : untuk biopsi lesi
USG, CT scan, MRI
144. Polihidramnion
Volume air ketuban lebih 2000 cc
Muncul sesudah kehamilan lebih 20 minggu

Penyebab : Rh isoimunisasi, DM, gemelli, kelainan kongenital


dan idiophatic.

Gejala :
Sering pada trimester terakhir kehamilan.
Fundus uteri tua kehamilan.
DJJ sulit didengar.
Ringan : sesak nafas ringan; Berat : air ketuban > 4000 cc
Dyspnoe & orthopnea, oedema pada extremitas bawah

Diagnosis : Palpasi dan USG


Tatalaksana Polihidramnion
Identifikasi penyebab
Kronik hidramnion : diet protein , cukup istirahat.
Polihidramnion sedang/berat, aterm terminasi.
Penderita di rawat inap, istirahat total dan dimonitor
Jika dyspnoe berat, orthopnea, janin kecil amniosintesis
Amniosintesis, 500 1000 cc/hari diulangi 2 3 hari
Bila perlu dapat dipertimbangkan pemberian tokolitik
Komplikasi :
Kelainan letak janin
partus lama
solusio plasenta
tali pusat menumbung dan
PPH
Prematuritas dan kematian perinatal tinggi
Oligohidramnion
suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari
normal, yaitu kurang dari 500 cc (manuaba, 2007)
Etiologi:
Janin: Kelainan kromosom, cacat kongenital,
hambatan pertumbuhan janin dalam rahim,
kehamilan posterm
Ibu: hipertensi, DM, SLE, masalah plasenta, PROM
Komplikasi: menekan organ janin, keguguran,
prematur, IUFD, komplikasi persalinan
Oligohidramnion
Tindakan Konservatif
Tirah baring / istirahat yang cukup.
Rehidrasi.
Perbaikan nutrisi.
Pemantauan kesejahteraan janin (hitung
pergerakan janin, NST, Bpp).
Pemeriksaan USG yang umum dari volume cairan
amnion.
Amnion infusion.
Induksi dan kelahiran
145. PCOS
Etiologi
hiperandrogenisme dan resistensi terhadap insulin

Tiga kriteria diagnosa yaitu:


Oligoamenorrhoea atau anovulasi
Gejala hiperandrogen baik secara klinik maupun biokimia
Adanya gambaran morfologi ovarium yang polikistik dengan USG

Gejala PCOS
Gangguan siklus haid yaitu siklus haid jarang dan tidak teratur
Gangguan kesuburan dimana yang bersangkutan menjadi sulit hamil
(subfertile)
Tumbuh bulu yang berlebihan dimuka, dada, perut, anggota badan dan
rambut mudah rontok (hirsutisme)
Banyak jerawat
kegemukan (obesitas)
Pada USG ditemukan banyak kista
di ovarium
USG Roda Pedati
classic triad of this syndrome
consists of chronic anovulation,
hirsutism, and obesity
PCOS: Terapi
Sasaran pengelolaan
Mengatur siklus haid agar kembali teratur
Memperbaiki kesuburan
Menghilangkan gejala hirsutism dan jerawat
Mengendalikan obesitas
Menurunkan kadar insulin darah
Mencegah komplikasi jangka panjang
Tatalaksana
Pola hidup sehat dengan diet, olahraga teratur untuk kendalikan
berat badan (obesitas) dan tidak merokok
Obat2an/medikamentosa
Untuk melancarkan haid : dengan pil KB. PIl KB juga dapat mengurangi
resiko perdarahan abnormal dan kanker rahim
Untuk memicu ovulasi : dengan Clomiphene citrate dan FSH
Untuk menghilangkan hirsutism dan jerawat : dengan pil KB
(Cyproterone acetate), Spironolactone dan flutamide
Untuk menurunkan insulin darah : dengan Metformin
146. Taeniasis pada Kehamilan
Etiologi
Taenia saginata, Taenia solium dan Taenia asiatica

Gejala & Tanda


rasa tidak enak pada lambung, nausea (mual), badan lemah, berat
badan menurun, nafsu makan menurun, sakit kepala, konstipasi
(sukar buang air besar), pusing, diare, dan pruiritus ani (gatal pada
lubang pelepasan).
Pemeriksaan darah tepi (hitung jenis) terjadi peningkatan eosinofil
(eosinofilia)

Terapi
Niklosamid, mebendazol, albendazol, dan prazikuantel
Obat yang aman untuk kehamilan: Prazikuantel dan Niklosamida
Prazikuantel lebih dipilih karena absorpsi sistemik lebih baik
147. Persalinan dengan Vakum
INDIKASI KONTRA INDIKASI
Kelelahan ibu Ibu: dengan resiko tinggi rupture
uteri
Partus tak maju Kondisi ibu tidak boleh mengejan
Gawat janin yang ringan Panggul sempit (disproporsi
Toksemia gravidarum kepala panggul)
Janin: letak lintang, presentasi
Rupture uteri iminens muka, presentasi bokong,
Ibu: memperpendek persalinan preterm, kepala janin menyusul
kala II, penyakit jantung
kompensasi, penyakit fibrotik.
Janin: adanya gawat janin
Waktu: kala persalinan lama
Syarat Persalinan Dengan Vakum
Pembukaan lengkap atau hampir lengkap
Presentasi kepala
Cukup bulan (tidak premature)
Tidak ada kesempitan panggul
Anak hidup dan tidak gawat janin
Penurunan hodge II/III
Kontraksi baik
Ibu kooperatif dan masih mampu untuk mengedan

Komplikasi: perdarahan intrakranial, edema skalp, sefalhematoma,


aberasi, dan laserasi kulit kepala pada janin, laserasi perineum,
laserasi anal, maupun laserasi jalan lahir pada ibu
148. DM pada Kehamilan
Klasifikasi DM dengan Kehamilan menurut Pyke:
Klas I : Gestasional diabetes, yaitu diabetes yang
timbul pada waktu hamil dan menghilang setelah
melahirkan.

Klas II : Pregestasional diabetes, yaitu diabetes mulai


sejak sebelum hamil dan berlanjut setelah hamil.

Klas III : Pregestasional diabetes yang disertai dengan


komplikasi penyakit pembuluh darah seperti
retinopati, nefropati, penyakit pemburuh darah
panggul dan pembuluh darah perifer.
DM pada Kehamilan
Kriteria Diagnosis:
Gejala klasik DM + gula darah sewaktu 200 mg/dl.
Gula darah sewaktu merupakan hasil pemeriksaan
sesaat pada suatu hari tanpa memerhatikan waktu
makan terakhir. Atau
Kadar gula darah puasa 126 mg/dl. Puasa diartikan
pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8
jam. Atau:
Kadar gula darah 2 jam pada TTGO 200 mg/dl. TTGO
dilakukan dengan Standard WHO, menggunakan
beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa
anhidrus yang dilarutkan dalam air.
Terapi
Insulin adalah pilihan hipoglikemik selama
kehamilan karena mempunyai catatan keamanan
yang tidak dapat dipungkiri lagi baik bagi ibu
maupun janinnya

Obat hipoglikemik oral tidak dianjurkan karena


gagal mengontrol hiperglikemia dan potensial
menyebabkan hipoglikemik pada empat minggu
pertama kelahiran.
149. Mioma Geburt
Mioma submukosa pedinkulata: jenis mioma
submukosa yang mempunyai tangkai.

Dapat keluar dari rongga rahim ke vagina


melalui saluran servik: mioma geburt atau
mioma yang dilahirkan
Mioma
Gejala dan Tanda:
Perdarahan yang banyak dan lama selama masa haid
atau pun di luar masa haid
Rasa nyeri karena tekanan tumor dan terputarnya
tangkal tumor, serta adanya infeksi di dalam rahim.
Penekanan pada organ di sekitar tumor seperti
kandung kemih, ureter, rektum, organ panggul lain
gangguan BAB atau BAK, pelebaran pembuluh darah
vena dalam panggul, gangguan ginjal
Infertilitas karena terjadi penekanan pada saluran
indung telur
Pada bagian bawah perut dekat rahim terasa kenyal.
Mioma: Terapi
GnRH analog (pengecilan tumor sementara)
Operasi:
Histerektomi (bila tidak ingin anak lagi)
Miomektomi
150. Faringitis Pada Kehamilan
Etiologi
virus, termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus,
mononukleosis atau HIV
Bakteri: streptokokus grup A, korinebakterium,
arkanobakterium,Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia
pneumoniae.

Gejala & Tanda


Nyeri tenggorokan dan nyeri menelan, faring hiperemis

Terapi
Analgetik
Antibiotik (bakteri) golongan penisilin atau makrolida
151. Asma dan Kehamilan
Pengaruh kehamilan pada asma:
hormon estrogen: kongesti kapiler hidung
(terutama trimester ketiga)
hormon progesteron: peningkatan laju
pernapasan, bronkodilatasi
hormon kortisol bebas: << gejala asma
prostaglandin (terutama trimester III):
bronkokonstriktor (Nelson and Piercy, 2001)
Komplikasi Asma pada Kehamilan
Bagi Ibu:
Preeklampsia, hipertensi, hiperemesis gravidarum,
perdarahan pervaginam, induksi, komplikasi
kehamilan

Bagi Janin
Kematian perinatal, IUGR, kehamilan preterm,
hipoksia neonatal, BBLR
Asma pada Kehamilan
Diagnosis: sama seperti pasien tidak hamil (Sesak/ sulit bernapas, wheezing,
batuk berdahak, ronkhi)

Tatalaksana pada kehamilan


O2 dan pasang kanul IV.
Hindari penggunaan obat penekan batuk, sedatif dan antihistamin.
Berikan cairan Ringer Laktat atau NaCl 0,9%.
Salbutamol via nebulizer
Metilprednisolon IV 40-60 mg/ 6 jam, ATAU hidrokortison IV 2 mg/kgBB/ 4 jam atau
setelah loading dose 2 mg/kgBB dilanjutkan infus 0,5 mg/kgBB/jam.
Jika ada tanda infeksi, beri ampisilin 2 g IV tiap 6 jam.
Rujuk ke fasilitas yang memadai. Di rumah sakit rujukan, pertimbangkan foto
thoraks, laboratorium, alat monitor fungsi vital, dan rawat intensif bilamana perlu.
Konsultasi dengan dokter spesialis paru atau penyakit dalam dan dokter spesialis
obstetri dan ginekologi.

Bila harus dilakukan persalinan: Jangan beri prostaglandin. Untuk mencegah


perdarahan pascasalin, beri oksitosin 10 unitIM atau ergometrin 0,2 mg IM.
152. Adenomiosis
Adanya kelenjar dan stroma endometrium ektopik dalam myometrium akibat
rusaknya batas antara stratum basalis endometrium dengan miometrium
sehingga kelenjar endometrium dapat menembus miometrium

Berdasarkan kedalaman penetrasi ke dalam miometrium (Siegler & Camilien):


Derajat 1: mengenai 1/3 miometrium (superfisial)
Derajat 2: mengenai 2/3 miometrium
Derajat 3: mengenai seluruh miometrium (deep)

Berdasarkan jumlah pulau-pulau endometrium (histologi)


Ringan (1-3), sedang (4-9), dan berat (> 10)
Adenomiosis
Gejala dan Tanda
Haid yang banyak dan lama.
Nyeri haid (dismenorrhea) rasanya seperti ditusuk-tusuk.
Kram rahim saat haid
Nyeri saat berhubungan seksual
Perdarahan diantara 2 siklus haid
Haid dengan bekuan darah

Terapi:
Anti inflamasi: pada pasien dengan usia mendekati menopause
Hormon: pil kombinasi estrogen-progesteron, progesteron-only
pill amenorrhea tidak nyeri
Histerektomi
Adenomiosis: Diagnosis Banding
Diagnosis Gejala dan Tanda Temuan USG

Adenomiosis Gejala: dismenorea (nyeri pelvis), Penebalan endometrium


menoragia asimetris, peningkatan
ekogenitas, kista kecil
Tanda: Pembesaran difus dengan batas subendometrial/miometrial/i
tidak tegas, teraba lunak, nyeri saat uterus ntramural, banyak pembuluh
digerakkan darah tersebar difus
Endometriosis Gejala dan tanda: Dismenorea Sulit terlihat kecuali bila
berbentuk kista
(endometrioma, kista coklat)
Mioma Uteri Gejala: Dismenorea, pembesaran perut, Jarang memiliki kista
(Fibroid) menoragia didalamnya, terdapat
kalsifikasi
Tanda: pembesaran dengan batas tegas,
teraba keras/kenyal, + nyeri saat uterus
digerakkan
Adenomiosis: Diagnosis Banding
153. Metode Suhu Basal Tubuh
Suhu basal tubuh: suhu terendah yang dicapai
oleh tubuh selama istirahat atau dalam keadaan
istirahat (tidur). Dilakukan pada pagi hari segera
setelah bangun tidur dan sebelum beraktivitas

Pada waktu ovulasi, suhu akan turun terlebih


dahulu dan naik menjadi 37-38 derajat kemudian
tidak akan kembali pada suhu 35 derajat celsius
Lendir Serviks (Billings Test)
Lendir Tipe E (estrogenik) :
Diproduksi pada fase akhir pra ovulasi. Sifat-sifat banyak, tipis,
seperti air (jernih) dan viskositas/kelengketan rendah, elastisitas
besar, bila dikeringkan terjadi bentuk seperti daun pakis.
Spermatozoa dapat menembus lendir ini.
Lendir Tipe G (gestagenik) :
Diproduksi pada fase awal pra ovulasi dan setelah ovulasi. Sifat-
sifat kental, kelengketan tinggi, keruh (oppaque). Dibuat karena
peninggian kadar progesteron.
154. Gangguan Menstruasi
Disorder Definition
Amenorrhea Primer Tidak pernah menstruasi setelah berusia 16 tahun, atau
berusia 14 tahun tanpa menstruasi sebelumnya dan tidak
terdapat tanda-tanda perkembangan seksual sekunder

Amenorrhea Tidak terdapat menstruasi selama 3 bulan apda wanita


Sekunder dengan sklus haid teratur, atau 9 bulan pada wanita dengan
siklus menstruasi tidak teratur
Oligomenorea Menstruasi yang jarang atau dengan perdarahan yang sangat
sedikit
Menorrhagia Perdarahan yang banyak dan memanjang pada interval
menstruasi yang teratur
Metrorrhagia Perdarahan pada interva l yang tidak teratur, biasanya
diantara siklus
Menometrorrhagia Perdarahan yang banyak dan memanjang, lebih sering
dibandingkan dengan siklus normal
Kelainan dan Diagnosis
Etiologi
Penyebab amenore primer:
1. Tertundanya menarke (menstruasi pertama)
2. Kelainan bawaan pada sistem kelamin (misalnya tidak memiliki rahim atau vagina,
adanya sekat pada vagina, serviks yang sempit, lubang pada selaput yang
menutupi vagina terlalu sempit/himen imperforata)
3. Penurunan berat badan yang drastis (akibat kemiskinan, diet berlebihan, anoreksia
nervosa, bulimia, dan lain lain)
4. Kelainan bawaan pada sistem kelamin
5. Kelainan kromosom (misalnya sindroma Turner atau sindroma Swyer) dimana sel
hanya mengandung 1 kromosom X)
6. Obesitas yang ekstrim
7. Hipoglikemia
Etiologi
Penyebab amenore sekunder:
1. Kehamilan
2. Kecemasan akan kehamilan
3. Penurunan berat badan yang drastis
4. Olah raga yang berlebihan
5. Lemak tubuh kurang dari 15-17%extreme
6. Mengkonsumsi hormon tambahan
7. Obesitas
8. Stres emosional
Algoritma Amenore Primer
Algoritma Amenore Sekunder
No. 155

IUD PADA KEHAMILAN


Intrauterine Pregnancy
f If pregnancy does occur, potentially severe
complications can result. Medical attention is always
needed
f Spontaneous abortion is the most frequent
complication of pregnancy with an IUD in place
f Visible string IUD : the IUD should be removed as
soon as pregnancy is confirmed
f Without visible stings : Some practitiones use USG
to assist IUD removal
An IUD left in place during pregnancy also
increases the risk of premature delivery. It
does not increase the risk of other
complications-birth defects, genetic
abnormalities, or molar pregnancy

prgilbert/vw-99 742
Edukasi AKDR
Hal-hal yang harus diketahui oleh akseptor AKDR
Cara memeriksa sendiri benang ekor AKDR.
Efek samping yang sering timbul misalnya perdarahan haid yang bertambah
banyak atau lama, rasa sakit atau kram.
Segera mencari pertolongan medis bila timbul gejala-gejala infeksi.
Jenis AKDR yang dipakai.
Pertimbangan pemakaian metode kontrasepsi tambahan seperti kondom
atau spermisid selama tiga bulan pasca pemasangan.
Mengetahui tanda bahaya AKDR : terlambat haid, perdarahan abnormal,
nyeri abdomen, dispareunia, keputihan abnormal, demam/menggigil,
benang ekor AKDR hilang/bertambah pendek/bertambah panjang.
Bila mengalami keterlambatan haid segera periksa ke petugas kesehatan.
Sebaiknya tunggu tiga bulan untuk hamil kembali setelah pelepasan AKDR
dan gunakan metode kontrasepsi lain. Ini dapat mencegah kehamilan
ektopik.
Bila berobat apapun, beritahu dokter bahwa akseptor menggunakan AKDR.
AKDR tidak memberi perlindungan terhadap virus AIDS.

(Hartanto, 2004, p. 229)


156. Tanda-Tanda Pasti Kehamilan

Gerakan janin
DJJ janin pada stetoskop Laenec, Doppler
Janin terlihat pada USG
Tanda-Tanda Kehamilan
Chadwicks Sign Warna kebiruan pada labia, vagina, dan serviks akibat
peningkatan aliran darah. Mulai muncul pada minggu 6-8
minggu setelah konsepsi
Hegars Sign Perlunakan istmus dan konsistensi uterus, sehingga uterus dan
serviks seolah-olah terpisah. Mulai muncul pada minggu 4-6
kehamilan dan bertahan hingga minggu ke 12. Bukan
merupakan tanda yang sensitive (tidak ada bukan berarti tidak
hamil)
Goodells Sign Perlunakan vagina dekat serviks akibat peningkatan aliran
darah
Piskaceks Sign Pembesaran asimetri pada uterus akibat pembesaran regio
kornu (pertemuan tuba dengan uterus), biasanya didaerah
dekat implantasi
Braxton Hicks Konstraksi palsu, biasanya frekuensi dan intensitas tidak
teratur dan tidak terlalu nyeri. Dapat mulai sejak minggu ke 6
dan mulai terasa lagi saat trimester 2 atau 3
157. Antiskabies
Drugs Possible adverse Effect Efektif
Benzyl benzoat 25% Irritation, anasthesia & hypoesthesia, ocular All stadium
irritation, rash, pregnancy category B
Permethrine 5% Mild &transient burning & stinging, pruritus, All stadium
pregnancy category B, not recomended for
children under 2 months
Gameksan 1% Toksis to SSP for pregnancy and children All stadium
under 6 years old
Krotamiton 10% Allergic contact dermatitis/primary irritation, All stadium
pregnancy category C
Sulfur precipitate Erythema, desquamation, irritation, Not efective for
6% pregnancy category C egg state
158. IUFD
Kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan
sempurna dari rahim ibunya tanpa memandang tuanya
kehamilan
Etiologi
perdarahan antepartum seperti plasenta previa dan
solusio plasenta
pre eklamsi dan eklamsi
penyakit kelainan darah
penyakit infeksi menular
penyakit saluran kencing
penyakit endokrin sperti DM dan hipertiroid
malnutrisi
IUFD
Tanda dan gejala
Terhentinya pertumbuhan uterus, atau penurunan TFU
Terhentinya pergerakan janin
Terhentinya denyut jantung janin
Penurunan atau terhentinya peningkatan berat badan ibu.
Perut tidak membesar tapi mengecil dan terasa dingin
Terhentinya perubahan payudara

Tatalaksana
Terminasi Kehamilan
Pengakhiran kehamilan jika ukuran uterus tidak lebih dari 12 minggu kehamilan
Persiapan:
Keadaan memungkinkan yaitu Hb > 10 gr%, tekanan darah baik.
Dilakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu:pemeriksaan trombosit, fibrinogen, waktu pembekuan,
waktu perdarahan, dan waktu protombin.
Tindakan:
Kuretasi vakum
Kuretase tajam
Dilatasi dan kuretasi tajam
Pengakhiran kehamilan jika ukuran uterus lebih dari 12 minggu sampai 20 minggu
Misoprostol 200mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam sesudah pemberian pertama.
159. PERDARAHAN ANTEPARTUM
Perdarahan dari jalan lahir setelah usia kehamilan 22 minggu
Gejala dan Tanda Utama Faktor Predisposisi Penyulit Lainnya Diagnosis
Perdarahan tanpa nyeri. Nullipara atau multiparitas Tidak ada nyeri. Plasenta Previa
Darah segar atau kehitaman. Bagian terendah fetus tidak
Terjadi setelah miksi atau defekasi, aktifitas masuk pintu atas panggul.
fisik, kontraksi braxton hicks, trauma atau Gawat janin
koitus.
Perdarahan dengan nyeri intermitten atau Hipertensi Syok yang tidak sesuai jumlah Solusio Plasenta
menetap. Versi luar darah yang keluar
Darah kehitaman dan cair atau mungkin Trauma abdomen Anemia berat
terdapat bekuan Polihidramnion Melemah/hilangnya gerak
Bila jenis terbuka, warna darah merah segar. Gemelli fetus
Defisiensi nutritif Gawat janin atau hilangnya
DJJ
Uterus tegang dan nyeri
Kelelahan dan dehidrasi Pernah SC Syok/takikardia Ruptura Uteri
Konstriksi bandl Partus lama Hilangnya gerak dan DJJ
Nyeri perut bawah hebat CPD Bentuk uterus
Gejala tidak khas pada bekas seksio sesaria Kelainan abnormal/kontur tidak jelas
letak/presentasi Nyeri raba/tekan dinding
Persalinan traumatik perut
Bagian anak mudah dipalpasi
Perdarahan merah segar Solusio plasenta Perdarahan gusi Gangguan
Uji pembekuan darah tidak menunjukan adanya Janin mati dalam rahim Gambaran memar bawah kulit pembekuan darah
bekuan darah setelah 7 menit Eklampsia Perdarahan dari tempat
Rendahnya faktor pembekuan darah Emboli air ketuban suntikan/infus
Perdarahan saat amniotomi atau saat selaput Kehamilan multipara Sulit dikenali saat pembukaan Vasa Previa
ketuban pecah spontan Genetik masih kecil
Pulsasi di sepanjang alur pembuluh yang teraba
Plasenta Previa
Perdarahan awal ringan, perdarahan ulangan lebih berat sampai
syok,umumnya perdarahan awal terjadi pada 33 minggu. Pada
perdarahan <32 minggu waspada infeksi traktus uri &
vaginitis, servisitis
Klasifikasi:
Plasenta letak rendah: plasenta pada segmen bawahuterus dengan tepi
tidak mencapai ostium internum.
Plasenta previa marginalis: tepi plasenta letak rendahmencapai ostium
internum tetapi tidak menutupi ostiuminternum
Plasenta previa partialis: plasenta menutupi sebagianostium internum
Plasenta previa totalis (komplit): plasenta menutupiseluruh ostium
internum
Posisi Plasenta Pada Kehamilan
A. Placenta Normal
B. Placenta Previa
C. Placenta Akreta
D. Solusio Plasenta
Masam-macam:
- PP totalis
- PP lateralis
- PP marginal
- PP letak rendah
160. Kenaikan BB pada Ibu Hamil
Institute of Medicine Washington DC 1990,
merekomendasikan kenaikan BB selama kehamilan
berdasar BB sebelum hamil sebagai berikut:
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS &
ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
161. Pemeriksaan Forensik dalam Kasus
Kejahatan Seksual

Upaya pembuktian secara kedokteran forensik terbatas


pada:
pembuktian ada tidaknya tanda-tanda persetubuhan
ada tidaknya tanda-tanda kekerasan,
perkiraan umur
pembuktian apakah seseorang itu memang sudah
pantas atau sudah mampu untuk dikawin atau tidak.

Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Umur korban
Umur korban amat perlu ditentukan pada pemeriksaan medis, karena hal
itu menentukan jenis delik (delik aduan atau bukan), jenis pasal yang
dilanggar dan jumlah hukuman yang dapat dijatuhkan.
Dalam hal korban mengetahui secara pasti tanggal lahirnya/umurnya,
apalagi jika dikuatkan oleh bukti diri (KTP,SIM dsb) , maka umur dapat
langsung disimpulkan dari hal tersebut.
Akan tetapi jika korban tak mengetahui umurnya secara pasti maka perlu
diperiksa erupsi gigi molar II dan molar III. Gigi molar II mengalami
erupsi pada usia kurang lebih 12 tahun, sedang gigi molar III pada usia 17
sampai 21 tahun. Untuk wanita yang telah tumbuh molar IInya, perlu
dilakukan foto ronsen gigi. Jika setengah sampai seluruh mahkota molar
III sudah mengalami mineralisasi (terbentuk) , tapi akarnya belum maka
usianya kurang dari 15 tahun.
Kriteria sudah tidaknya wanita mengalami haid pertama atau menarche
tak dapat dipakai untuk menentukan umur karena usia menarch saat ini
tidak lagi pada usia 15 tahun tetapi seringkali jauh lebih muda dari itu.

Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Tanda kekerasan
Kekerasan pada delik susila adalah kekerasan yang menunjukkan adanya
unsur pemaksaan, seperti jejas bekapan pada hidung, mulut dan bibir, jejas
cekik pada leher, kekerasan pada kepala, luka lecet pada punggung atau
bokong akibat penekanan, memar pada lengan atas dan paha akibat
pembukaan secara paksa, luka lecet pada pergelangan tangan akibat
pencekalan dsb.
Adanya luka-luka ini harus dibedakan dengan luka-luka akibat "foreplay" pada
persetubuhan yang "biasa" seperti luka isap (cupang) pada leher, daerah
payudara atau sekitar kemaluan, cakaran pada punggung (yang sering -terjadi
saat orgasme) dsb.
Tanpa adanya kejelasan ini suatu kasus persetubuhan biasa bisa
disalahtafsirkan sebagai perkosaan yang berakibat hukumannya menjadi lebih
berat.
Pemeriksaan toksikologi untuk beberapa jenis obat-obatan yang umum
digunakan untuk membuat orang mabuk atau pingsan perlu pula dilakukan,
karena tindakan membuat orang mabuk atau pingsan secara sengaja
dikategorikan juga sebagai kekerasan. Obat-obatan yang perlu diperiksa adalah
obat penenang, alkohol, obat tidur, obat perangsang (termasuk ecstasy) dsb.

Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Tanda persetubuhan (i)
Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda
penetrasi dan tanda ejakulasi.
Tanda penetrasi biasanya hanya jelas ditemukan pada korban yang masih
kecil atau belum pernah melahirkan atau nullipara. Pada korban-korban
ini penetrasi dapat menyebabkan terjadinya robekan selaput dara sampai
ke dasar pada lokasi pukul 5 sampai 7, luka lecet, memar sampai luka
robek baik di daerah liang vagina, bibir kemaluan maupun daerah
perineum. Tidak ditemukannya luka-luka tersebut pada korban yang
bukan nulipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya penetrasi.
Tanda ejakulasi bukanlah tanda yang harus ditemukan pada
persetubuhan, meskipun adanya ejakulasi memudahkan kita secara pasti
menyatakan bahwa telah terjadi persetubuhan. Ejakulasi dibuktikan
dengan pemeriksaan ada tidaknya sperma dan komponen cairan mani.
Untuk uji penyaring cairan mani dilakukan pemeriksaan fosfatase asam.
Jika uji ini negatif, kemungkinan adanya ejakulasi dapat disingkirkan.
Sebaliknya jika uji ini positif, maka perlu dilakukan uji pemastian ada
tidak sel sperma dan cairan mani.

Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Tanda persetubuhan (iI)
Usapan lidi kapas diambil dari daerah labia minora, liang vagina dan kulit yang
menunjukkan adanya kerak. Adanya rambut kemaluan yang menggumpal harus
diambil dengan cara digunting, karena umumnya merupakan akibat ejakulasi di
daerah luar vagina.
Untuk mendeteksi ada tidaknya sel mani dari bahan swab dapat dilakukan
pemeriksaan mikroskopik secara langsung terhadap ekstrak atau dengan
Pembuatan preparat tipis yang diwarnai dengan pewarnaan malachite green atau
christmas tree.
Jika yang akan diperiksa sampel berupa bercak peda pakaian dapat dilakukan
pemeriksaan Baechi, dimana adanya sperma akan tampak berupa sel sperma yang
terjebak diantara serat pakaian. Sel sperma positip merupakan tanda pasti adanya
ejakulasi. Kendala utama pada pemeriksaan ini adalah jika sel sperma telah hancur
bagian ekor dan lehernya sehingga hanya tampak kepalanya saja. Untuk
mendeteksi kepala sperma semacam ini harus diyakini bahwa memang kepala
tersebut masih memiliki topi (akrosom).
Adanya cairan mani dicari dengan pemeriksaan terhadap beberapa komponen
sekret kelenjar kelamin pria (khususnya kelenjar prostat) yaitu spermin (dengan uji
Florence), cholin (dengan uji Berberio) dan zink (dengan uji PAN) . Suatu temuan
berupa sel sperma negatif tapi komponen cairan mani positip menunjukkan
kemungkinan ejakulasi oleh pria yang tak memiliki sel sperma (azoospermi) atau
telah menjalani sterilisasi atau vasektomi.
Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Pemeriksaan DNA Sperma
Pada kasus perkosaan ditemukannya pita-pita DNA dari benda bukti atau
karban yang ternyata identik dengan pita-pita DNA tersangka
menunjukkan bahwa tersangkalah yang menjadi donor sperma tadi.
Perkembangan lebih lanjut pada bidang forensik adalah ditemukannya
pelacak DNA yang hanya melacak satu lokus saja (single locus probe),
disini pita yang muncul hanya 2 buah saja.
Penggunaan metode ini pada kasus perkosaan sangat menguntungkan
karena ia dapat digunakan untuk membuat perkiraan jumlah pelaku pada
kasus perkosaan dengan pelaku lebih dari satu.
Sebagai contoh, jika pita DNA pada bahan usapan vagina ada 6 buah, maka
sedikitnya ada (6 : 2) yaitu 3 orang pelaku. Untuk mempertinggi derajat
keakuratan pemeriksaan ini, umumnya dilakukan pemeriksaan beberapa
lokus sekaligus. Adanya pita yang sama dengan tersangka menunjukkan
bahwa tersangka itu adalah pelakunya, sedang pita yang tidak sama
menyingkirkan tersangka sebagai pelaku

Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
162. Otopsi
Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh
mayat, yang meliputi pemeriksaan terhadap
bagian luar maupun dalam, dengan tujuan
menemukan proses penyakit dan atau adanya
cedera, melakukan interpretasi atau
penemuan-penemuan tersebut, menerangkan
penyebab kematian serta mencari hubungan
sebab akibat antara kelainan-kelainan yang
ditemukan dengan penyebab kematian.
Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta.
Berdasarkan tujuannya, otopsi terbagi atas :
Otopsi Anatomi, dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa
fakultas kedokteran.
Otopsi Klinik, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi
akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian
yang pasti, menganalisa kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis
postmortem, pathogenesis penyakit, dan sebagainya. Otopsi klinis
dilakukan dengan persetujuan tertulis ahli waris, ada kalanya ahli waris
sendiri yang memintanya.
Otopsi Forensik/Medikolegal, dilakukan terhadap mayat seseorang yang
diduga meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus
kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas
permintaan penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan suatu
perkara. Tujuan dari otopsi medikolegal adalah :
Untuk memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau belum jelas.
Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat
kematian.
Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas
benda penyebab dan pelaku kejahatan.
Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum
et repertum.
Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta.
Dasar Hukum
Pasal 133 KUHAP :
Ayat 1:
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani
seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang
mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
Ayat 2:
Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1
dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan
tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau
pemeriksaan bedah mayat.
Ayat 3:
Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
pada rumah sakit harus diperlakukan baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yg
memuat identitas mayat diberi cap jabatan yang dilekatkan pada
ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta.
Pasal 134 KUHAP:
Dalam hal sangat diperlukan di mana untuk keperluan
pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi
dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih
dahulu kepada keluarga korban.
Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib
menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan
tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan
apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu
tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133
ayat (3) undang-undang ini.

Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta.
Pasal 179 KUHAP:
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli
kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib
memberikan keterangan ahli demi keadilan.
Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku
juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli,
dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang
sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut
pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta.
163. Informed consent
Persetujuan tindakan medis (Informed
Consent) adalah pernyataan persetujuan
(consent) atau izin dari pasien yang diberikan
dengan bebas, rasional, tanpa paksaan
(voluntary) tentang tindakan kedokteran yang
akan dilakukan terhadapnya sesudah
mendapatkan informasi yang cukup tentang
tindakan kedokteran yang dimaksud.

Guwandi J. Informed Consent. Jakarta: 2004


Dasar Hukum
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
290/MENKES/PER/III/2008.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004
tentang praktik kedokteran, pada Pasal 45 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi.
Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang Informed
Consent dalam lampiran SKB IDI No. 319 /P/BA/88 butir 33
berbunyi
Setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup besar
mengharuskan adanya persetujuan tertulis yang ditandatangani
oleh pasien, setelah sebelumnya pasien itu memperoleh
informasi yang cukup kuat tentang perlunya tindakan medis
yang bersangkutan serta resiko yang bersangkutan dengannya
(Departemen Kesehatan RI, 1997)
Menurut SK Dirjen Pelayanan Medik No.HK.00.06.6.5.1866 Kebijakan dan Prosedur
tentang Informed Consent adalah sebagai berikut:

1. Pengaturan persetujuan atau penolakan tindakan medis harus dalam bentuk


kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh pimpinan Rumah Sakit.
2. Memperoleh informasi dan penjelasan merupakan hak pasien dan sebaliknya
memberikan informasi dan penjelasan adalah hak dokter.
3. Formulir Informed Consent dianggap benar jika memenuhi ketentuan sebagai
berikut :
a. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan untuk tindakan medis yang dinyatakan
secara spesifik.
b. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan tanpa paksaan (voluntary).
c. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan oleh seorang (pasien) yang sehat mental
dan yang memang berhak memberikannya.
d. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan setelah diberikan cukup informasi dan
penjelasan yang diberikan.
4. Isi informasi dan penjelasan yang diberikan
Informasi dan penjelasan dianggap cukup jika paling sedikit enam hal pokok
dibawah ini disampaikan dalam memberikan informasi dan penjelasan.
a. Informasi dan penjelasan tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang akan
dilakukan.
b. Informasi dan penjelasan tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan.
c. Informasi dan penjelasan tentang resiko dan komplikasi yang mungkin akan terjadi.
d. Informasi dan penjelasan tentang alternatif tindakan lain yang tersedia dan serta resikonya dari
masing-masing tindakan tersebut.
e. Informasi dan penjelasan tentang prognosis penyakit apabila tindakan tersebut dilakukan.
f. Diagnosis.
5. Kewajiban memberikan informasi dan penjelasan.
Dokter yang akan melakukan tindakan medis
mempunyai tanggung jawab utama memberikan
informasi dan penjelasan yang diperlukan. Apabila
berhalangan, informasi dan penjelasan yang diberikan
dapat diwakili pada dokter lain dengan
sepengetahuan dokter yang bersangkutan.
6. Cara menyampaikan informasi.
Informasi dan penjelasan disampaikan secara lisan.
Informasi secara tertulis hanya dilakukan sebagai
pelengkap penjelasan yang telah disampaikan secara
lisan.
7. Pihak yang menyatakan persetujuan.
a. Pasien sendiri, yaitu apabila pasien telah berumur 21 tahun atau sudah menikah.
b. Bagi pasien dibawah umur 21 tahun, persetujuan (Informed Consent) atau penolakan
tindakan medis diberikan oleh mereka, menurut urutan hak sebagai berikut :
1) Ayah/Ibu adopsi
2) Saudara-saudara kandung
c. Bagi pasien dibawah umur 21 tahun atau tidak mempunyai orang tua atau orang tuanya
berhalangan hadir. Persetujuan (Informed Consent) atau penolakan tindakan medis
diberikan oleh mereka, menurut hak sebagai berikut:
1) Ayah/Ibu adopsi
2) Saudara-saudara kandung
d. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, persetujuan (Informed Consent) atau
penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut :
1) Ayah/Ibu kandung
2) Wali yang sah
3) Saudara-saudara kandung
e. Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampunan (curatelle) persetujuan atau
penolakan tindakan medis diberikan menurut urutan hak tersebut :
1) Wali
2) Curator
f. Bagi pasien dewasa yang telah menikah /orang tua, persetujuan atau penolakan tindakan
medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak tersebut:
1) Suami/isteri
2) Ayah/ibu kandung
3) Anak-anak kandung
4) Saudara-saudara kandung.
8. Cara menyatakan persetujuan.
Cara pasien menyatakan persetujuan dapat secara tertulis
(expressed) maupun lisan. Persetujuan secara tertulis mutlak
diperlakukan pada tindakan medis yang mengandung resiko
tinggi, sedangkan persetujuan secara lisan diperlukan pada
tindakan medis yang tidak mengandung resiko tinggi.
9. Semua jenis tindakan medis yang mengandung resiko harus
disertai Informed Consent. Jenis tindakan medis
memerlukan Informed Consent disusun oleh komite medik
dan kemudian ditetapkan oleh pimpinan Rumah Sakit. Bagi
rumah sakit yang belum mempunyai komite medik atau
keberadaan komite medik belum lengkap, maka dapat
mengacu pada jenis tindakan medis yang sudah ditetapkan
oleh rumah sakit lain yang fungsi dan kelasnya sama.
10. Perluasan tindakan medis yang telah disetujui tidak
dibenarkan dilakukan dengan alasan apapun juga, kecuali
apabila perluasan tindakan medis tersebut terpaksa
dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien.
11. Pelaksanaan Informed Consent untuk tindakan medis
tertentu, misalnya Tubektomi/Vasectomi dan Caesarean
Section yang berkaitan dengan program keluarga berencana,
harus merujuk pada ketentuan lain melalui konsultasi
dengan perhimpunan profesi yang terkait.
12. Demi kepentingan pasien, Informed Consent tidak
diperlukan bagi pasien gawat darurat dalam keadaan tidak
sadar dan tidak didampingi oleh keluarga pasien yang berhak
memberikan persetujuan/penolakan tindakan medis.
13. Format isian persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
atau penolakan tindakan medis, digunakan seperti pada
contoh formulir terlampir, dengan ketentuan sebagai berikut
:
Diketahui dan ditandatangani oleh dua orang saksi. Perawat bertindak sebagai
salah satu saksi.
Formulir asli dalam berkas rekam medis pasien.
Formulir harus sudah diisi dan ditandatangani 24 jam sebelum tindakan
medis dilakukan.
Dokter harus ikut membubuhkan tandatangan sebagai bukti bahwa telah
diberikan informasi dan penjelasan secukupnya.
Sebagai ganti tanda tangan, pasien atau keluarganya yang buta huruf harus
membubuhkan cap jempol ibu jari tangan kanan.
164. Non-maleficence
Kriteria
1. Menolong pasien emergensi :
Dengan gambaran sbb :
- pasien dalam keadaan sangat berbahaya (darurat) / berisiko
kehilangan sesuatu yang penting (gawat)
- dokter sanggup mencegah bahaya/kehilangan tersebut
- tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
- manfaat bagi pasien > kerugian dokter
2. Mengobati pasien yang luka
3. Tidak membunuh pasien ( euthanasia )
4. Tidak menghina/mencaci maki/ memanfaatkan pasien
5. Tidak memandang pasien hanya sebagai objek
6. Mengobati secara proporsional
7. Mencegah pasien dari bahaya
8. Menghindari misrepresentasi dari pasien
9. Tidak membahayakan pasien karena kelalaian
10. Memberikan semangat hidup
11. Melindungi pasien dari serangan
12. Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan
165. Luka Tembak Keluar
Jika peluru yang ditembakan dari senjata api mengenai tubuh korban dan
kekuatannya masih cukup untuk menembus dan keluar pada bagian tubuh lainnya,
maka luka tembak dimana peluru meninggalkan tubuh itu disebut luka tembak
keluar.
Bilamana peluru yang masuk ke dalam tubuh korban tidak terbentur pada
tulang, maka saluran luka yang terbentuk yang menghubungkan luka tembak
masuk dan luka tembak keluar dapat menunjukkan arah datangnya peluru yang
dapat disesuaikan dengan arah tembakan.
Luka tembak keluar mempunyai ciri khusus yang sekaligus sebagai
perbedaan pokok dengan luka tembak masuk.
Ciri tersebut adalah tidak adanya
kelim lecet pada luka tembak keluar, dengan tidak adanya kelim lecet, kelimkelim
lainnya juga tentu tidak ditemukan.
Ciri lain dari luka tembak keluar yang dapat dikatakan agak khas, oleh
karena hampir semua luka tembak keluar memiliki ciri ini, adalah luka tembak
keluar pada umumnya lebih besar dari luka tembak masuk
166. Kewajiban Dokter terhadap TS
KODEKI Pasal14
Setiap dokter memperlakukan teman
sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan.
KODEKI Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih
pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan
prosedur yang etis.
Kodeki pasal 14 dan 15. Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat
167. Kasus Kejahatan Seksual
Upaya pembuktian secara kedokteran forensik
terbatas pada:
pembuktian ada tidaknya tanda-tanda
persetubuhan
ada tidaknya tanda-tanda kekerasan,
perkiraan umur
pembuktian apakah seseorang itu memang
sudah pantas atau sudah mampu untuk
dikawin atau tidak.
Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Apabila persetubuhan telah dapat dibuktikan secara
pasti maka perkiraan saat terjadinya persetubuhan
harus ditentukan; hal ini menyangkut masalah alibi
yang sangat penting di dalam proses penyidikan.
Dalam waktu 4-5 jam postkoital sperma di dalam liang
vagina masih dapat bergerak;
Sperma masih dapat ditemukan namun tidak bergerak
sampai sekitar 24-36 jam postkoital, dan masih dapat
ditemukan sampai 7-8 hari bila wanita yang menjadi
korban meninggal.
Perkiraan saat terjadinya persetubuhan juga dapat
ditentukan dari proses penyembuhan selaput dara
yang robek. Pada umumnya penyembuhan tersebut
dicapai dalam waktu 7-10 hari postkoital.
Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Delik Aduan Kejahatan Seksual
Perkosaan
Menurut KUHP pasal 285 perkosaan adalah
dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan.
Termasuk dalam kategori kekerasan disini adalah
dengan sengaja membuat orang pingsan atau
tidak berdaya (pasal 89 KUHP).
Hukuman maksimal untuk delik perkosaan ini
adalah 12 tahun penjara.
Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Persetubuhan diluar perkawinan
Persetubuhan diluar perkawinan antara pria dan wanita
yang berusia diatas 15 tahun tidak dapat dihukum kecuali
jika perbuatan tersebut dilakukan terhadap wanita yang
dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.
Untuk perbuatan yang terakhir ini pelakunya dapat
dihukum maksimal 9 tahun penjara (pasal 286 KUHP) jika
persetubuhan dilakukan terhadap wanita yang diketahui
atau sepatutnya dapat diduga berusia dibawah 15 tahun
atau belum pantas dikawin maka pelakunya dapat diancam
hukuman penjara maksimal 9 tahun.
Untuk penuntutan ini harus ada pengaduan dari korban
atau keluarganya (pasal 287 KUHP) . Khusus untuk yang
usianya dibawah 12 tahun maka untuk penuntutan tidak
diperlukan adanya pengaduan.

Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Perzinahan
Perzinahan adalah persetubuhan antara pria dan
wanita diluar perkawinan, dimana salah satu
diantaranya telah kawin dan pasal 27 BW berlaku
baginya.
Khusus untuk delik ini penuntutan dilakukan oleh
pasangan dari yang telah kawin tadi yang
diajukan dalam 3 bulan disertai gugatan
cerai/pisah kamar/pisah ranjang. Perzinahan ini
diancam dengan hukuman pen]ara selama
maksimal 9 bulan.

Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
Perbuatan cabul
Seseorang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan
dilakukan perbuatan cabul, maka ia diancam dengan hukuman
penjara maksimal 9 tahun (pasal 289 KUHP).
Hukuman perbuatan cabul lebih ringan, yaitu 7 tahun saja jika
perbuatan cabul ini dilakukan terhadap orang yang sedang
pingsan, tidak berdaya. berumur dibawah 15 tahun atau belum
pantas dikawin dengan atau tanpa bujukan (pasal 290 KUHP).
Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap orang yang belum
dewasa oleh sesama jenis diancam hukuman penjara maksimal 5
tahun (pasal 291 KUHP).
Perbuatan cabul yang dilakukan dengan cara pemberian,
menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan wibawa atau
penyesatan terhadap orang yang belum dewasa diancam dengan
hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal 293 KUHP) .

Djaja Surja Atmadja. PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN.
168. Autonomy
Kriteria
1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien
2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (kondisi elektif)
3. Berterus terang
4. Menghargai privasi
5. Menjaga rahasia pasien
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Melaksanakan informed consent
8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
9. Tidak mengintervensi atau menghalangi otonomi pasien
10. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam mengambil keputusan
termasuk keluarga pasien sendiri
11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non
emergensi
12. Tidak berbohong ke pasien meskipun demi kebaikan pasien
13. Menjaga hubungan (kontrak)
169. Pihak yang menyatakan
persetujuan
a. Pasien sendiri, yaitu apabila pasien telah berumur 21 tahun atau sudah menikah.
b. Bagi pasien dibawah umur 21 tahun, persetujuan (Informed Consent) atau penolakan tindakan
medis diberikan oleh mereka, menurut urutan hak sebagai berikut :
1) Ayah/Ibu adopsi
2) Saudara-saudara kandung
c. Bagi pasien dibawah umur 21 tahun atau tidak mempunyai orang tua atau orang tuanya
berhalangan hadir. Persetujuan (Informed Consent) atau penolakan tindakan medis diberikan
oleh mereka, menurut hak sebagai berikut:
1) Ayah/Ibu adopsi
2) Saudara-saudara kandung
d. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, persetujuan (Informed Consent) atau penolakan
tindakan medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut :
1) Ayah/Ibu kandung
2) Wali yang sah
3) Saudara-saudara kandung
e. Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampunan (curatelle) persetujuan atau
penolakan tindakan medis diberikan menurut urutan hak tersebut :
1) Wali
2) Curator
f. Bagi pasien dewasa yang telah menikah /orang tua, persetujuan atau penolakan tindakan
medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak tersebut:
1) Suami/isteri
2) Ayah/ibu kandung
3) Anak-anak kandung
4) Saudara-saudara kandung.
170. Breaking Bad News
Buckman, 1992: Berita buruk adalah berita yang
secara drastis mengubah pandangan
pasien tentang masa depannya.
Ptacek & Eberhardt, 1996: Berita buruk adalah
berita yang menimbulkan perasaan tidak ada
harapan bagi pasien.
Aitini & Aleotti, 2006: Kabar buruk adalah
pengalaman tidak nyaman untuk pemberi dan
penerima berita.
Sebagai seorang dokter, Di dunia kedokteran, terdapat
sering ditemui berbagai
berita buruk yang sulit berbagai jenis berita buruk
disampaikan. Ada tiga faktor yang hendak disampaikan
penyebab yaitu:
kepada pasien. Berikut contoh-
Khawatir bahwa berita
itu akan menyebabkan efe contohnya:
k buruk. Vonis kanker.
Khawatir bahwa akan Penyakit kronis.
sulit untuk
menangani reaksi pasien Tidak bisa mempunyai
atau keluarga. anak.
Tantangan tiap individu. Kematian, dan lain-lain.
Terdapat 2 jenis breaking bed news guidelines yaitu:
6 steps guidelines Buckman Model
10 steps guidelines Kaye Model.

10 steps guidelines > Kaye Model


1. Persiapan wawancara.
6 steps guidelines > Buckman Model
2. Menilai pengertian pasien.
1. Siapkan informasi,
3. Menanyakan sejauh mana pasien ingin
lokasi, pengaturan.
ketahui.
2. Cari tahu apa yang mereka sudah
4. Mengungkapkan berita.
tahu.
5. Membiarkan proses denial.
3. Tanyakan berapa banyak yang
6. Memberikan penjelasan lebih lanjut.
mereka ingin tahu.
7. Mendengarkan kekhawatiran pasien.
4. Berbagi informasi.
8. Merespon emosi pasien.
5. Menanggapi emosi pasien.
9. Membuat ringkasan hasil diskusi.
6. Negosiasikan langkah tindak lanjut.
10. Merencanakan waktu untuk diskusi
selanjutnya.

Buckman, How to Break Bad News, 1992 Kaye P, Breaking Bad News: A 10 Step
Approach, 1996
171. Infanticide
Infanticide atau pembunuhan anak adalah
pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu
dengan atau tanpa bantuan orang lain terhadap
bayinya pada saat dilahirkan atau beberapa saat
sesudah dilahirkan, oleh karena takut diketahui
orang lain bahwa ia telah melahirkan anak.
Infanticide, bila umur janin 7 bulan dalam
kandungan oleh karena pada umur ini janin telah
dapat hidup di luar kandungan secara alami tanpa
bantuan beralatan. Umur janin di bawah 7 bulan
termasuk kasus abortus
Amir A. Infanticide. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. Medan. 1995
Undang-undang yang menyangkut pembunuhan anak terdapat pada:
Pasal 341 KUHP
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada
saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja
merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anaknya
sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 342 KUHP
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena
takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat
akan dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa
anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri
dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan
tahun.
Pasal 343 KUHP
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang,
bagi orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan
atau pembunuhan anak dengan rencana.
HAL-HAL YANG PERLU DITENTUKAN

Dalam kasus infanticide, hal-hal yang harus ditentukan


atau yang perlu dijelaskan dokter dalam pemeriksaannya
adalah:
Berapa umur bayi dalam kandungan, apakah sudah
cukup bulan untuk dilahirkan.
Apakah bayi lahir hidup atau sudah mati saat
dilahirkan.
Bila bayi lahir hidup, berapa umur bayi sesudah lahir.
Apakah bayi sudah pernah dirawat.
Apakah penyebab kematian bayi.
Umur janin dalam kandungan
Untuk menentukan umur bayi dalam kandungan, ada
rumus empiris yang dikemukakan oleh De Haas, yaitu
menentukan umur bayi dari panjang badan bayi.
Untuk bayi (janin) yang berumur di bawah 5 bulan,
umur sama dengan akar pangkat dua dari panjang
badan. Jadi bila dalam pemeriksaan didapati panjang
bayi 20 cm, maka taksiran umur bayi adalah 20 yaitu
antara 4 sampai 5 bulan dalam kandungan atau lebih
kurang 20 22 minggu kehamilan.
Untuk janin yang berumur di atas 5 bulan, umur sama
dengan panjang badan (dalam cm) dibagi 5 atau
panjang badan (dalam inchi) dibagi 2.
Keadaan ujung-ujung jari: apakah kuku-kuku telah melewati ujung jari
seperti anak yang dilahirkan cukup bulan atau belum. Garis-garis telapak
tangan dan kaki dapat juga digunakan, karena pada bayi prematur garis-
garis tersebut masih sedikit.
Keadaan genitalia eksterna: bila telah terjadi descencus testiculorum maka
hal ini dapat diketahui dari terabanya testis pada scrotum, demikian pula
halnya dengan keadaan labia mayora apakah telah menutupi labia minora
atau belum; testis yang telah turun serta labia mayora yang telah
menutupi labia minora terdapat pada anak yang dilahirkan cukup bulan
dalam kandungan si-ibu. Hal tersebut di atas dapat diketahui bila bayi
segar, tetapi bila bayi telah busuk, labia mayora akan terdorong keluar.
Pusat-pusat penulangan: khususnya pada tulang paha (os. femur),
mempunyai arti yang cukup penting di dalam membantu perkiraan apakah
anak dilahirkan dalam keadaan cukup bulan atau tidak; bagian distal dari
os. femur serta bagian proksimal dari os. tibia akan menunjukkan pusat
penulangan pada umur kehamilan 36 minggu, demikian pula pusat
penulangan pada os. cuboideum dan os. cuneiforme, sedangkan os. talus
dan os. calcaneus pusat penulangannya akan tampak pada umur
kehamilan 28 minggu.
Apakah bayi lahir hidup atau sudah mati saat dilahirkan.

Pemeriksaan luar
Pada bayi yang lahir hidup, pada pemeriksaan luar tampak dada
bulat seperti tong . biasanya tali pusat masih melengket ke perut,
berkilat dan licin. Kadang-kadang placenta juga masih bersatu
dengan tali pusat. Warna kulit bayi kemerahan.

Pemeriksaan dalam
Penentuan apakah seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan
hidup atau mati, pada dasarnya adalah sebagai berikut:
Adanya udara di dalam paru-paru.
Adanya udara di dalam lambung dan usus,
Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah, dan
Adanya makanan di dalam lambung.

Amir A. Infanticide. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. Medan. 1995
Apabila bayi dilahirkan dalam keadaan mati, ada 2
kemungkinan yang harus diperhatikan, yaitu:
Still birth, artinya dalam kandungan masih hidup,
waktu dilahirkan sudah mati. Ini mungkin
disebabkan perjalanan kelahiran yang lama, atau
terjadi accidental strangulasi dimana tali pusat
melilit leher bayi waktu dilahirkan.
Dead born child, di sini bayi memang sudah mati
dalam kandungan. Bila kematian dalam
kandungan telah lebih dari 2 3 hari akan
terjadi maserasi pada bayi.
Bila bayi lahir hidup, berapa umur bayi sesudah lahir
Pada bayi yang baru lahir, warna kulit merah terang. Adanya vernix
caseosa pada ketiak, sela paha dan leher. Vernix akan menghilang
setelah dua hari lalu kulit menjadi gelap dan menjadi normal
kembali.
Setelah 1 minggu, kulit akan mengelupas, terutama di bagian
abdomen kulit akan mengelupas setelah 3 hari. Caput succedaneum
akan menghilang setelah 24 jam sampai 2 3 hari setelah
dilahirkan. Setelah 2 jam kelahiran, terdapat bekuan darah pada
ujung pemotongan tali pusat. Dua belas jam kemudian akan
mengering. Setelah 36 48 jam terbentuk cincin peradangan pada
pangkal tali pusat. Tali pusat mengering setelah 2 3 hari. Enam
sampai tujuh hari tali pusat akan lepas membentuk cicatriks. Tali
pusat akan sembuh sempurna lebih kurang 15 hari.
Feses bayi juga dapat membantu menentukan sudah berapa lama
bayi hidup. Feses bayi yang baru lahir disebut meconium, biasa
dikeluarkan dari usus setelah 24 28 jam, tetapi kadang kala bisa
lebih lama.
Apakah terdapat tanda-tanda perawatan

Penentuan ada tidaknya tanda-tanda perawatan


sangat penting artinya dalam kasus pembunuhan
anak, oleh karena dari sini dapat diduga apakah
kasus yang dihadapi memang benar kasus
pembunuhan anak seperti apa yang dimaksud
oleh undang-undang, atau memang kasus lain
yang mengancam hukuman yang berbeda.
Adanya tanda-tanda perawatan menunjukkan
telah ada kasih sayang dari si-ibu dan bila
dibunuhnya tidak lagi termasuk kasus infanticide,
tetapi termasuk kasus pembunuhan biasa.
Adapun anak yang baru dilahirkan dan belum mengalami
perawatan dapat diketahui dari tanda-tanda sebagai berikut:
Tubuh masih berlumuran darah,
Ari-ari (placenta), masih melekat dengan tali pusat dan
masih berhubungan dengan pusar (umbilicus),
Bila ari-ari tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak
beraturan, hal ini dapat diketahui dengan meletakkan ujung
tali pusat tersebut ke permukaan air,
Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta
di daerah yang mengandung lipatan-lipatan kulit, seperti
daerah lipat ketiak, lipat paha dan bagian belakang bokong.
Pada seorang anak yang telah mendapat
perawatan tentunya akan memberikan
gambaran yang jelas, dimana tubuhnya sudah
dibersihkan, tali pusat telah dipotong dan
diikat, daerah-daerah lipatan kulit telah
dibersihkan dari lemak bayi dan tidak jarang
si-anak telah diberi pakaian atau pembungkus
agar tubuhnya menjadi hangat.
Apakah penyebab kematian bayi
Penyebab kematian alamiah antara lain:
Prematuritas.
Kelainan kongenital, misalnya: sifilis, jantung.
Perdarahan / trauma lahir.
Kelainan bentuk / anatomi, misalnya:
anecephalus.
Kelainan plasenta, misalnya: plasenta previa.
Erythroblastosis foetalis dan lain-lain.
Cara yang digunakan untuk membunuh anak antara lain:
Pembekapan, menutup hidung dan mulut dengan telapak tangan,
menekan dengan bantal, selimut dan lain-lain.
Penekanan dada, sehingga mengganggu pergerakan pernafasan.
Dengan menjerat leher bayi (strangulasi). Kadang-kadang dengan
memakai tali pusat.
Dengan menenggelamkan bayi.
Menusuk fontanella, epicanthus mata, ubun-ubun besar, ubun-
ubun kecil, jantung, sumsum tulang dengan menggunakan jarum
atau peniti.
Memukul kepala bayi atau melintir kepala bayi.
Memberi obat-obatan, seperti: opium, arsen dan lain-lain misalnya
dengan mengoleskan opium di sekitar putting susu, lalu diisap oleh
bayi tersebut.
Begitu bayi lahir, dibungkus dan dimasukkan ke dalam kotak
kemudian dibuang.
172. Autonomy
Kriteria
1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien
2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (kondisi elektif)
3. Berterus terang
4. Menghargai privasi
5. Menjaga rahasia pasien
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Melaksanakan informed consent
8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
9. Tidak mengintervensi atau menghalangi otonomi pasien
10. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam mengambil keputusan
termasuk keluarga pasien sendiri
11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non
emergensi
12. Tidak berbohong ke pasien meskipun demi kebaikan pasien
13. Menjaga hubungan (kontrak)
173. Umur janin dalam kandungan
Untuk menentukan umur bayi dalam kandungan, ada
rumus empiris yang dikemukakan oleh De Haas, yaitu
menentukan umur bayi dari panjang badan bayi.
Untuk bayi (janin) yang berumur di bawah 5 bulan,
umur sama dengan akar pangkat dua dari panjang
badan. Jadi bila dalam pemeriksaan didapati panjang
bayi 20 cm, maka taksiran umur bayi adalah 20 yaitu
antara 4 sampai 5 bulan dalam kandungan atau lebih
kurang 20 22 minggu kehamilan.
Untuk janin yang berumur di atas 5 bulan, umur sama
dengan panjang badan (dalam cm) dibagi 5 atau
panjang badan (dalam inchi) dibagi 2.
Keadaan ujung-ujung jari: apakah kuku-kuku telah melewati ujung jari
seperti anak yang dilahirkan cukup bulan atau belum. Garis-garis telapak
tangan dan kaki dapat juga digunakan, karena pada bayi prematur garis-
garis tersebut masih sedikit.
Keadaan genitalia eksterna: bila telah terjadi descencus testiculorum maka
hal ini dapat diketahui dari terabanya testis pada scrotum, demikian pula
halnya dengan keadaan labia mayora apakah telah menutupi labia minora
atau belum; testis yang telah turun serta labia mayora yang telah
menutupi labia minora terdapat pada anak yang dilahirkan cukup bulan
dalam kandungan si-ibu. Hal tersebut di atas dapat diketahui bila bayi
segar, tetapi bila bayi telah busuk, labia mayora akan terdorong keluar.
Pusat-pusat penulangan: khususnya pada tulang paha (os. femur),
mempunyai arti yang cukup penting di dalam membantu perkiraan apakah
anak dilahirkan dalam keadaan cukup bulan atau tidak; bagian distal dari
os. femur serta bagian proksimal dari os. tibia akan menunjukkan pusat
penulangan pada umur kehamilan 36 minggu, demikian pula pusat
penulangan pada os. cuboideum dan os. cuneiforme, sedangkan os. talus
dan os. calcaneus pusat penulangannya akan tampak pada umur
kehamilan 28 minggu.
Tes Apung Paru
Cara melakukan test apung paru adalah sebagai berikut:
Keluarkan paru-paru dengan mengangkatnya mulai dari trachea
sekalian dengan jantung dan timus. Kesemuanya ditaruh dalam
baskom berisi air. Bila terapung artinya paru-paru telah terisi udara
pernafasan.
Untuk memeriksa lebih jauh, pisahkan paru-paru dari jantung dan
timus, dan kedua belah paru juga dipisahkan. Bila masih terapung,
potong masing-masing paru-paru menjadi 12 20 potongan-
potongan kecil. Bagian-bagian ini diapungkan lagi. Bagian kecil paru
ini ditekan dipencet dengan jari di bawah air. Bila telah bernafas,
gelembung udara akan terlihat dalam air. Bila masih mengapung,
bagian kecil paru-paru ditaruh di antara 2 lapis kertas dan dipijak
dengan berat badan. Bila masih mengapung, itu menunjukkan bayi
telah bernafas. Sedangkan udara pembusukan akan keluar dengan
penekanan seperti ini, jadi ia akan tenggelam.

Amir A. Infanticide. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. Medan. 1995
174. Justice
Kriteria
1. Memberlakukan sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok yang rentan
8. Tidak melakukan penyalahgunaan
9. Bijak dalam makro alokasi
10. Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)
secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alas an tepat/sah
15. Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan
kesehatan
16. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dsb
175. Choking
Pembekapan (smothering) adalah suatu suffocation dimana
lubang luar jalan napas yaitu hidung dan mulut tertutup
secara mekanis oleh benda padat atau partikel-partikel
kecil.
Tersedak (chocking) adalah suatu suffocation dimana ada
benda padat yang masuk dan menyumbat lumen jalan
udara.
Burking, pembunuhan dengan asfiksia traumatik (external
pressure of the chest), yakni menghalangi udara untuk
masuk dan keluar dari paru-paru akibat terhentinya gerak
napas yang disebabkan adanya suatu tekanan dari luar
pada dada korban.
Muggling, strangulasi yang dilakukan dengan cara pelaku
berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah
pelaku.
Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta:
Binarupa Aksara, 1997; p.131-168.
176. Variabel Penelitian
Berdasarkan jenisnya variabel penelitian antara lain:
a. Variabel Independent
Variabel independent sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas merupakan
variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel
dependent.
b. Variabel Dependent
Variabel dependent sering disubut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan
variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
c. Variabel Moderator
Variabel moderator merupakan variabel yang mempengaruhi (memperkuat atau
memperlemah) hubungan antara variabel infependent dengan dependent. Variabel ini disebut
juga sebagai variabel independent ke dua.
d. Variabel Intervening
Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara
variabel independent dan variabel depandent, tetapi tidak dapat diamati atau diukur.
e. Variabel Kontrol
Variabel kontrol merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat konstant sehingga
hubungan variabel dependent dan independent tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak
diteliti.

Drs.Colid Narbuko,Drs.H Abu Achmadi.2004.Metode Penelitian. Jakarta:Bumi Aksara


177. Relative Risk
Kanker Paru Total
Ya Tidak
Merokok Ya 600 20 620
Tidak 40 1200 1240
Total 640 1220

RR kasus = (a/a+b) : (c/c+d)


= (600/620) : (40/1240)
= 30
178. Case Fatality Rate
Case fatality rate (CFR) adalah persentase angka
kematian oleh sebab penyakit tertentu, untuk
menentukan kegawatan/ keganasan penyakit tersebut

CFR:

Jumlah kematian penyakit x


------------------------------------ x 100%
Jumlah kasus penyakit x

CFR desa 4= 2/10 x 100% = 20%


179. Desain Penelitian
Dalam Epidemiologi terdapat dua jenis desain
penelitian epidemiologi, yaitu studi
deskriptif dan studi analitik.
Desain study ini digunakan untuk
mempermudah dalam penelitian yang terkait
dengan berbagai faktor penyebab, akibat,
serta hubungan antar berbagai faktor.
Studi Deskriptif
Cross Sectional
Digunakan untuk membedakan dua kelompok. Unit pengamatan merupakan
individual dan populasinya merupakan populasi yang umum serta samplenya
random. Pengukuran variable independent (exposure) dan variable dependent
(outcome) dilakukan secara bersamaan sehingga sulit untuk mengetahui hubungan
antara exposure dan outcome.
Case Report
Merupakan study pada satu kasus yang sama atau kasus baru yang menggambarkan
suatu riwayat penyakit dan pengalaman klinis dari masing-masing kasus. Unit
pengamatan atau analisisnya individual. Desain study ini digunakan untuk melihat
distribusi suatu penyakit atau masalah kesehatan yang diteliti, memperoleh
informasi tentang kelompok resiko tinggi dan membuat hipotesis baru.
Case Series
Studi ini merupakan studi lanjutan dari case report. case report hanya terdiri dari
satu kasus saja, tetapi case series terdiri lebih dari satu kasus dan kurang dari
sepuluh kasus. Studi ini juga terkait pada sindrom atau penyakit baru. Unit
pengamatannya juga individual.
Studi Kolerasi
Disebut juga studi ekologi. Merupakan studi observasional dengan unit analisis/
pengamatannya agregat. Populasi merupakan beberapa kumpulan dari unit
pengamatan.
Studi Analitik
Case Control
Digunakan untuk meneliti faktor risiko/determinan dari suatu penyakit yang 'outcome'
jarang terjadi. penelitian dimulai dari pengukuran status keterpaparan pada subjek-
subjek yang diteliti kemudian dikelompokan. Bersifat retrospektif yang berarti melihat
pengamatan dengan cara mundur. terdiri dari dua kelompok yaitu sakit dan tidak sakit.
D --> E (macam-macam).
Kohort
Penelitian bersifat observasional tanpa intervensi. Penelitian dilakukan pada subjek-
subjek yang masih bebas dari outcome (Disease) tapi berisiko untuk dapat
mengalaminya. Pada studi ini dapat terlihat jelas hubungan antar exposure dengan
outcome. Biasanya studi ini dilakukan pada dua kelompok yaitu kelompok terpapar
dan tidak terpapar. Studi ini dapat bersifat prospektif, retrospektif ataupun historical
prospektif. Sample yang dipilih merupakan sample yang tidak random sehingga hanya
beberapa sample yang terkait dengan penelitian saja.
Intervensi
Biasanya dilakukan secara randomisasi. Peneliti melakukan intervensi terhadap
status "exposure" pada subjek-subjek yang diteliti. Pada studi ini dilakukan
pengecekan ulang dalam kurun waktu tertentu. Jenis intervensi ini ada dua yaitu
intervensi secara klinik atau individual dan intervensi secara komunitas misalnya pada
komunitas pemabuk, perokok dan sebagainya.
180. Metode Pengambilan
Kesimpulan
Logika: suatu dasar untuk memperoleh pengetahuan yang benar, sebab
tanpa logika penalaran tidak mungkin dilakukan, dan tanpa penalaran
pengetahuan tidak akan dibenarkan. Kegiatan penalaran tidak akan lepas
dari logika. Logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari
kebenaran. Dasar penalaran logika ada dua yaitu, penalaran logika
deduktif dan penalaran logika induktif.
Deduksi: kegiatan berpikir dengan kerangka pikir dari pernyataan yang
bersifat umum ditarik kearah kesimpulan yang lebih bersifat khusus, atau
penarikan kesimpulan dari dalil atau hukum menuju contoh-contoh.
Induksi: cara berpikir untuk menarik kesimpulan dari kasus khusus atau
contoh menuju kasus umum atau dalil atau hukum atau kesimpulan
umum.
Verifikasi: salah satu cara pengujian hipotesis yang tujuan utamanya
adalah untuk menemukan teori-teori, prinsip-prinsip, generalisasi, dan
hukum-hukum
Empiris: salah satu aliran yang menekankan peranan pengalaman dalam
memperoleh pengetahuan serta pengalaman itu sendiri, dan mengecilkan
peranan akal.
181. Efficacy
Efficacy: adalah respon maksimal yang dihasilkan suatu obat. Efikasi
tergantung pada jumlah kompleks obat-reseptor yang terbentuk
dan efisiensi reseptor yang diaktifkan dalam menghasilkan suatu
kerja seluler
Efektivitas: untuk menilai efektivitas perlu diperhatikan seberapa
baik intervensi tersebut, kemampuannya untuk menyaring dan
mendiagnosis penyakit secara akurat, intervensi tersebut memberi
keuntungan bagi masyarakat
Efisiensi: suatu ukuran yang menunjukkan hubungan antara hasil-
hasil yang dicapai oleh suatu intervensi atau program terhadap
sumber-sumber yang dikeluarkan
Reliabilitas: dapat diandalkan, dalam proses pengukuran berarti
hasil pengukuran akan sama atau hampir sama apabila dilakukan
berulang kali.

Ganiswara, S.G., Setiabudi, R., Suyatna, F.D., Purwantyastuti, Nafrialdi (Editor).1995. Farmakologi dan
Terapi. Edisi 4.. Bagian Farmakologi FK UI: Jakarta
182. Cara pengambilan sampel
Cara sampling Random Keterangan
Simple Random Sampling pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakukan secara acak
tanpa memperhatikan strata/tingkatan yang ada dalam populasi itu

Stratified Sampling Penentuan tingkat berdasarkan karakteristik tertentu. Misalnya :


menurut usia, pendidikan, golongan pangkat, dan sebagainya

Cluster Sampling disebut juga sebagai teknik sampling daerah. Teknik ini digunakan
apabila populasi tersebar dalam beberapa daerah, propinsi, kabupaten,
kecamatan, dan seterusnya

Cara sampling Non-Random Keterangan


Systematical Sampling anggota sampel dipilh berdasarkan urutan tertentu. Misalnya setiap
kelipatan 10 atau 100 dari daftar pegawai disuatu kantor, pengambilan
sampel hanya nomor genap atau yang ganjil saja.
Porpusive Sampling sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitiannya.

Snowball Sampling Dari sampel yang sedikit tersebut peneliti mencari informasi sampel lain
dari yang dijadikan sampel terdahulu, sehingga makin lama jumlah
sampelnya makin banyak
Quota Sampling anggota sampel pada suatu tingkat dipilih dengan jumlah tertentu
(kuota) dengan ciri-ciri tertentu
Convenience sampling mengambil sampel secara sembarang (kapanpun dan dimanapun
menemukan) asal memenuhi syarat sebagai sampel dari populasi
tertentu

Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi aksara.
183. Strategi Pokok Promosi Kesehatan

Strategi global promosi kesehatan diperkenalkan oleh


World Health Organization (WHO) pada tahun 1984,
di mana ada tiga strategi pokok untuk mewujudkan
visi dan misi promosi kesehatan yaitu:
Advokasi
DukunganSosial (Social Support)
Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)

Dewi, Lia. 2010. Promosi Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika


Advokasi
Melakukan pendekatan atau lobi (lobbying)
dengan para pembuat keputusanagar mereka
menerima, commited dan akhirnya mereka
bersedia mengeluarkankebijakan atau
keputusan-keputusan untuk membantu dan
mendukung program yang akan dilaksanakan.
Dalam pendidikan kesehatan para pembuat
keputusan baik baik di tingkat pusat maupun
daerah disebut sasaran tersier.

Dewi, Lia. 2010. Promosi Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika


Dukungan Sosial (Social support)

Dukungan sosial ialah menjalin kemitraan untuk


pembentukan opini publik dengan berbagai
kelompok opini yang ada di masyarakat
seperti tokohmasyarakat, tokoh agama, lembaga
swadaya masyarakat, dunia usaha / swastamedia
massa, organisasi profesi, pemerintah, dll.
Bina suasana dilakukan untuksasaran sekunder
atau petugas pelaksana di berbagai tingkat
administrasi (dari pusat hingga desa).

Dewi, Lia. 2010. Promosi Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika


Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment )

Pemberdayaan masyarakat adalah


mengembangkan kemampuan masyarakat
agar dapat berdiri sendiri, serta memiliki
keterampilan untukmengatasi masalah-
masalah kesehatan mereka sendiri
Pemberdayaan adalah strategi promosi
kesehatan yang ditujukan kepadamasyarakat
langsung, sebagai sasaran primer.
Dewi, Lia. 2010. Promosi Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika
184. Sistem Rujukan
Sistem rujukan adalah suatu sistem
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang
melaksanakan pelimpahan wewenang dan
tanggungjawab atas kasus penyakit atau masalah
kesehatan yang diselenggarakan secara timbal
balik, baik vertical dalam arti dari satu strata
sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana
pelayanan kesehatan lainnya, maupun horizontal
dalam arti antara strata sarana pelayanan
kesehatan yang sama.
Rujukan Upaya Kesehatan Perorangan
Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik,
pengobatan, tindakan medik (missal: operasi) dan
lain lain.
Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk
pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.
Rujukan ilmu pengetahuan antara lain
mendatangkan tenaga yang lebih kompeten atau
melakukan bimbingan tenaga puskesmas dan
atau menyelenggarakan pelayanan medik
spesialis di puskesmas.
Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat
Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan
fogging, peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat
audio visual, bantuan obat, vaksin, dan bahan bahan habis pakai
dan bahan makanan.
Rujukan tenaga, antara lain dukungan tenanga ahli untuk
penyidikan kejadian luar biasa, bantuan penyelesaian masalah
hokum kesehatan, penanggulangan gangguan kesehatan karena
bencana alam.
Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan
dan tanggungjawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat
(antara lain usaha kesehatan sekolah, usaha kesehatan kerja, usaha
kesehatan jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada dinas
kesehatan kabupaten / kota. Rujukan operasional diselenggarakan
apabila puskesmas tidak mampu.
185. Suveilans Epidemiologi
Surveilans adalah proses pengumpulan,
pengolahan, analisis dan interprestasi data
secara sistematik dan terus menerus serta
penyebaran informasi kepada Unit yang
membutuhkan untuk diambil tindakan.
a. Penyelenggaraan Berdasarkan Metode Pelaksanaan
Surveilans Epidemiologi Rutin Terpadu, adalah
penyelenggaraan Surveilans epidemiologi terhadap
beberapa kejadian, permasalahan dan atau faktor resiko
kesehatan.
Surveilans epidemiologi Khusus, adalah penyelenggaraan
Surveilans epidemiologi terhadap suatu kejadian,
permasalahan , faktor resiko atau situasi khusus
kesehatan
Surveilans sentinel, adalah penyelenggaraan Surveilans
epidemiologi pada populasi dan wilayah terbatas untuk
mendapatkan signal adanya masalah kesehatan pada suatu
populasi atau wilayah yang lebih luas.
Studi epidemiologi, adalah penyelenggaraan Surveilans
epidemiologi pada periode tertentu serta populasi atau
wilayah tertentu untuk mengetahui lebih mendalam
gambaran epidemiologi penyakit, permasalahan dan atau
factor resiko kesehatan.
b. Penyelenggaraan berdasarkan Aktifitas
Pengumpulan Data

Surveilans aktif, adalah penyelenggaraan Surveilans


epidemilogi dimana unit Surveilans mengumpulkan
data dengan cara mendatangi unit pelayanan
kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.
Surveilans Pasif, adalah Penyelenggaraan Surveilans
epidemiologi dimana unit Surveilans mengumpulkan
data dengan cara menerima data tersebut dari unit
pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data
lainnya.
c. Penyelenggaraan Berdasarkan Pola Pelaksanaan
Pola Kedaruratan, adalah kegiatan Surveilans yang
mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk
penanggulangan KLB dan atau wabah dan atau
bencana
Pola Selain Kedaruratan, adalah kegiatan Surveilans
yang mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk
keadaan di luar KLB dan atau wabah dan atau
bencana,
d. Penyelenggaraan berdasarkan Kualitas
Pemeriksaan
Bukti klinis atau tanpa perlatan pemeriksaan,
adalah kegiatan Surveilans dimana data diperoleh
berdasarkan pemeriksaan klinis atau tidak
menggunakan peralatan pendukung pemeriksaan.
Bukti labortorium atau dengan peralatan khusus,
adalah kegiatan Surveilans dimana data diperoleh
berdasarkan pemerksaan laboratorium atau
peralatan pendukung pemeriksaan lainnya.
186. Proporsi
Proporsi bisa diartikan sebagai jumlah dari
suatu sifat tertentu dibandingkan dengan
seluruh populasi dimana sifat tersebut
didapatkan, contoh:
Dalam suatu KLB penyakit types, jumlah
penderita laki-laki sebanyak 30 orang dan
jumlah penderita perempuan adalah 15 orang.
Berapa proporsi penderita laki-laki? Jawab:
187. Odds Ratio
Odds Ratio (OR) adalah ukuran asosiasi paparan
(faktor risiko) dengan kejadian penyakit; dihitung
dari angka kejadian penyakit pada kelompok
berisiko (terpapar faktor risiko) dibanding angka
kejadian penyakit pada kelompok yang tidak
berisiko (tidak terpapar faktor risiko).

Rumus dari ODDS Ratio adalah: ad/bc.

Odds ratio = (8)(25)/ (5)(2) = 20


Keracunan Total
Ya Tidak
Makan Ya 8 5 13
Soto Tidak 2 25 27
Ayam
Total 10 30

Odds ratio = ad/ bc


= (8)(25)/ (5)(2)
= 20
188. Jaringan Pelayanan Puskesmas
Puskesmas :
Umumnya ada satu buah di setiap Kecamatan,
Jenis Puskesmas menurut pelayanan kesehatan medis,
dibagi dua kelompok yakni :
Puskesmas Perawatan, pelayanan kesehatan rawat jalan
dan rawat inap
Puskesmas Non Perawatan, hanya pelayanan kesehatan
rawat jalan
Menurut wilayah kerjanya, dikelompokkan menjadi :
Puskesmas Induk / Puskesmas Kecamatan
Puskesmas Satelit / Puskesmas Kelurahan
Puskesmas Rawat Jalan
Puskesmas rawat jalan merupakan puskesmas yang melayani
pasien yang berobat jalan dan tidak memberikan24 jam
pelayanan, termasuk seluruh prosedur diagnostik dan
terapeutik. Tenaga pelayanan di rawat jalan adalah tenaga
yang langsung berhubungan dengan pasien, yaitu:
Tenaga administrasi (non medis) yang memberikan pelayanan
penerimaan pendaftaran dan pembayaran,
Tenaga keperawatan (paramedis) sebagai mitra dokter dalam
memberikan pelayanan pemeriksaan / pengobatan,
Tenaga dokter (medis) pada masing-masing poliklinik yang ada

Depkes RI, 2009


Puskesmas Rawat Inap
Puskesmas rawat inap adalah puskesmas yang diberi
tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong
pasien gawat darurat, baik berupam tindakan
operatif terbatas maupun asuhan keperawatan
sementara dengan kapasitas kurang lebih 10 tempat
tidur.
Rawat inap itu sendiri berfungsi sebagai rujukan
antara yang melayani pasien sebelum dirujuk ke
institusi rujukan yang lebih mampu, atau
dipulangkan kembali ke rumah.
Depkes RI, 2009
Pendirian puskesmas rawat inap harus memenuhi kriteria
sebagai berikut :
1. Puskesmas terletak kurang lebih 20 km dari rumah sakit,
2. Puskesmas mudah dicapai dengan kendaraan bermotor dari
puskesmas sekitarnya,
3. Puskesmas dipimpin oleh seorang dokter dan telah
mempunyai tenaga yang memadai,
4. Jumlah kunjungan puskesmas minimal 100 orang per hari,
5. Penduduk wilayah kerja puskesmas dan penduduk wilayah 3
puskesmas disekelilingnya minimal rata-rata 20.000
orang/Puskesmas,
6. Pemerintah daerah bersedia untuk menyediakan anggaran
rutin yang memadai.
Puskesmas Pembantu (Pustu):
Biasanya ada satu buah di setiap desa/kelurahan
Pelayanan medis sederhana oleh perawat atau
bidan, disertai jadwal kunjungan dokter

Puskesmas Keliling (Puskel) :


Kegiatan pelayanan khusus ke luar gedung, di
wilayah kerja puskesmas
Pelayanan medis terpadu oleh dokter, perawat,
bidan, gizi, pengobatan dan penyuluhan.
Pondok Bersalin Desa (Polindes) :
Pos pelayanan kesehatan ini sebaiknya ada
disetiap desa/kelurahan, sebagai penunjang
pelaksanaan desa/kelurahan SIAGA,
Beberapa pos yang fungsinya sejenis (cuma
namanya saja yang berbeda) antara lain:
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
Pos Kesehatan Kelurahan (Poskeskel)
Balai Kesehatan Masyarakat (Bakesra)
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) :
Lumrahnya selalu ada satu atau lebih di setiap
RW/Desa/Kelurahan,
Hal ini sangat tergantung kepada peran serta aktif para RT,
RW, Lurah, tokoh masyarakat setempat, bersama
para kader kesehatan yang telah dibentuk dan ditunjuk.
Dari segi sasaran pelayanan Jenis posyandu, dibagi
menjadi:
Posyandu Bayi-Balita
Posyandu Lansia /Manula
Dari aspek pencapaian jenis pelayanan, dikelompokkan :
Posyandu Pratama
Posyandu Madya
Posyandu Purnama
Posyandu Mandiri
189. Kedokteran Berbasis Bukti
(Evidence-Based Medicine/EBM)

Penggunaan bukti terbaik & terbaru


secara sadar, eksplisit, dan benar

Membuat keputusan untuk


pelayanan pasien individual
Pembuatan Keputusan
Pelayanan Kesehatan tanpa EBM

Tindakan Malpraktik

Merugikan Pasien Tindak Pidana


Kedokteran berbasis bukti?

Mengamati pasien Anamnesis

Mencari bukti terbaik

Menelaah bukti
(Critical appraisal)
Memantau
perubahan
yang terjadi Penerapan bukti
Knowledgebased
health care

Critical appraisal

Evidence-based
medicine
Komponen EBM

Bukti riset terbaik

Kepakaran klinis

Nilai2 pasien & kondisi yang


akan dicapai
Kategori Bukti Ilmiah Kedokteran
Meta analisis & Penelaahan
sistematik (Ia)
Uji Kilinik - Random - Kontrol
(RCT) (Ib)
Uji Kilinik Non Random (IIa)
Quasi Experimental (IIb)
Penelitian Observasi (III)
Pendapat Pakar & Pengalaman Klinis (IV)
Uji Pra Klinik
Uji in-vitro
Regulasi Perijinan Obat Baru

Perijinan obat baru harus melewati uji praklinis (hewan coba) dan uji
kinis sebagai berikut :
1. Fase I. Uji fase I dilakukan terhadap probandus sehat, kecuali
untuk sitotoksik. Uji ini bertujuan untuk menentukan
metabolisme obat, mencari rentang dosis aman,
mengidentifikasi reaksi toksik.
2. Fase II. Uji fase II dilakukan terhadap sejumlah kecil pasien. Uji ini
bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak informasi
farmakokinetika, efek samping relatif, informasi efikasi obat,
penentuan dosis harian dan regimen.
3. Fase III. Uji fase III dilakukan terhadap sejumlah besar pasien, 500-
3000. Uji ini bertujuan untuk evaluasi efikasi dan toksisitas obat,
umumnya desain penelitian yang digunakan adalah randomized
clinical trial.

(Pedoman dasar uji klinis)


190. Cara pengambilan sampel
Cara sampling Random Keterangan
Simple Random Sampling pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakukan secara acak
tanpa memperhatikan strata/tingkatan yang ada dalam populasi itu

Stratified Sampling Penentuan tingkat berdasarkan karakteristik tertentu. Misalnya :


menurut usia, pendidikan, golongan pangkat, dan sebagainya

Cluster Sampling disebut juga sebagai teknik sampling daerah. Teknik ini digunakan
apabila populasi tersebar dalam beberapa daerah, propinsi, kabupaten,
kecamatan, dan seterusnya

Cara sampling Non-Random Keterangan


Systematical Sampling anggota sampel dipilh berdasarkan urutan tertentu. Misalnya setiap
kelipatan 10 atau 100 dari daftar pegawai disuatu kantor, pengambilan
sampel hanya nomor genap atau yang ganjil saja.
Porpusive Sampling sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitiannya.

Snowball Sampling Dari sampel yang sedikit tersebut peneliti mencari informasi sampel lain
dari yang dijadikan sampel terdahulu, sehingga makin lama jumlah
sampelnya makin banyak
Quota Sampling anggota sampel pada suatu tingkat dipilih dengan jumlah tertentu
(kuota) dengan ciri-ciri tertentu
Convenience sampling mengambil sampel secara sembarang (kapanpun dan dimanapun
menemukan) asal memenuhi syarat sebagai sampel dari populasi
tertentu

Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi aksara.
THT-KL
191. Rhinosinusitis
Diagnosis Clinical Findings
Acute Rhinosinusitis Two or more symptoms, included nasal obstruction or nasal
discharge as one of them and: facial pain/pressure or
hyposmia/anosmia.
cheek pain: maxillary sinusitis
retroorbital pain: ethmoidal sinusitis
forehead or headache: frontalis sinusitis
Chronic sinusitis Subacute: 4 weeks-3 months. Chronic: > 3 months. Symptoms
are nonspesific, may only consist of 1 or 2 from these
chronic headache, post nasal drip, chronic cough, throat
disturbance, ear disturbance, sinobronchitis.
Dentogen sinusitis The base of maxilla are processus alveolaris, where tooth roots
are located. Tooth infection can spread directly to maxillary
sinus. Symptoms: unilateral sinusitis with purulent nasal secrete
& foul breath.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


192. Perforasi Membran Timpani
Perforasi akibat trauma:
Sebagian besar sembuh spontan
Tatalaksana awal yang diperlukan: menghindari air & observasi
Antibiotik tetes diberikan bila terdapat sekret dan infeksi.
Operasi dilakukan bila tidak ada tanda penutupan dalam beberapa bulan.

Perforasi akibat infeksi akut:


Penyebab tersering perforasi
Membran timpani tampak merah & basah.
Sembuh dalam beberapa hari jika diberikan antibiotik, kecuali pada kasus
acute necrotizing otitis media.

Pada soal tidak jelas penyebab perforasi, karena trauma (tertusuk?) atau
infeksi (riwayat nyeri /demam ?).

Dipilih jawaban C, karena berlaku untuk kedua sebab perforasi. Pilihan B


tidak dipilih karena pemberian obat tetes tidak terus menerus, tergantung
obatnya (2-3 kali/hari).
Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003.
Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.
193. Otitis Externa
Tanda OE:
Nyeri jika aurikel ditarik ke belakang atau tragus ditekan.

Otitis eksterna difus (swimmers ear)


Etiologi: Pseudomonas, Staph. albus, E. coli.
Kondisi lembab & hangat bakteri tumbuh
Sangat nyeri, liang telinga: edema, sempit, nyeri tekan
(+), eksudasi
Jika edema berat pendengaran berkurang
Th/: AB topikal, kadang perlu AB sistemik
AB: ofloxacin, ciprofloxacin, colistin, polymyxin B,
neomycin, chloramphenicol, gentamicin, &
tobramycin.
Ofloxacin & ciprofloxacin: AB tunggal dengan
spektrum luas untuk patogen otitis eksterna.

Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003. Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
194. Benda Asing
Jika bentuknya cincin & bisa dijepit, maka pinset
dapat digunakan. Kalau bentuk bola, pakai hook.
Lokasi Gejala & Tanda
Hidung Obstruksi hidung, rinorea unilateral, sekret kental & bau. Edema,
inflamasi, kadang ulserasi.
Removal: hook for round smooth object, crocodile forceps if object
can be grasped, or suction for many object.
Laryng Total: laryngeal spasm dysphonia, apneu, cyanosis sudden
death. Removal: heimlich manoeuvre
Partial: hoarseness, croupy cough, odynophagia, wheezing, cyanosis,
hemoptysis, dyspneu, subjective feeling from foreign body. Removal:
laryngoscopy or bronchoscopy.
Trachea Choking, gagging, audible slap, palpatory thud, asthmatoid wheeze.
Removal: bronchoscopy
Bronchus Pulmonum phase: prolong expiration + wheezing.
May cause emphysema, atelectasis, drowned lung, lung abscess.
Removal: bronchoscopy or cervicotomy or thoracotomy.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


195. Otomikosis

Tatalaksana
Asam asetat 2% dalam alkohol atau povidon iodine 5%
atau antifungal topikal (nistatin/clotrimazol 1%)
Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003.
Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
195. Otomikosis

Pak J Med Sci. 2014 May-Jun; 30(3): 564567.


196. Audiologi Dasar
Sebelum dilakukan tes pendengaran, dilakukan PF telinga dahulu dengan
otoskop.
Tes pendengaran kualitatif:
Rinne
Weber
Schwabach
Bing

Tes pendengaran semikuantitatif:


tes bisik

Tes pendengaran kuantitatif


pure tone audiometry
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
197. Miringitis
197. Miringitis
Herpes zoster oticus/Ramsay
Hunt syndrome

Contemp Clin Dent. 2010 Apr-Jun; 1(2): 127129.


198. Otitis Externa
Tanda OE:
Nyeri jika aurikel ditarik ke belakang atau tragus ditekan.

Otitis eksterna difus (swimmers ear)


Etiologi: Pseudomonas, Staph. albus, E. coli.
Kondisi lembab & hangat bakteri tumbuh
Sangat nyeri, liang telinga: edema, sempit, nyeri tekan
(+), eksudasi
Jika edema berat pendengaran berkurang
Th/: AB topikal, kadang perlu AB sistemik
AB: ofloxacin, ciprofloxacin, colistin, polymyxin B,
neomycin, chloramphenicol, gentamicin, &
tobramycin.
Ofloxacin & ciprofloxacin: AB tunggal dengan
spektrum luas untuk patogen otitis eksterna.

Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003. Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
199. Benda Asing
Techniques appropriate for the removal of ear foreign bodies
include mechanical extraction, irrigation, and suction.

Live insects in the ear canal should be immobilized before


removal is attempted.

Mineral oil, microscope oil, and viscous lidocaine have all


been used successfully for this purpose.

Irrigation is contraindicated for organic matter that may swell


through osmosis and enlarge within the auditory canal.
200. Otitis Media
Otitis Media Akut
Etiologi:
Streptococcus pneumoniae 35%,
Haemophilus influenzae 25%,
Moraxella catarrhalis 15%.
Perjalanan penyakit otitis media akut:
1. Oklusi tuba: membran timpani retraksi atau suram.
2. Hiperemik/presupurasi: hiperemis & edema.
3. Supurasi: nyeri, demam, eksudat di telinga tengah, membran
timpani membonjol.
4. Perforasi: ruptur membran timpani, demam berkurang.
5. Resolusi: Jika tidak ada perforasi membran timpani kembali
normal. Jika perforasi sekret berkurang.
1) Lecture notes on diseases of the ear, nose, and throat. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
200. Otitis Media
Otitis Media Akut
Th:
Oklusi tuba: dekongestan topikal
(ephedrin HCl) Hyperaemic stage
Presupurasi: AB minimal 7 hari
(ampicylin/amoxcylin/
erythromicin) & analgesik.
Supurasi: AB, miringotomi.
Perforasi: ear wash H2O2 3% & AB.
Resolusi: jika sekret tidak
berhenti AB dilanjutkan hingga 3
minggu.
Suppuration stage
1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.