Anda di halaman 1dari 279

PROSIDING

Seminar Nasional
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Call for Paper

Tema:
Standardisasi Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Dalam Iklim Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Sabtu, 23 April 2016


Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta

Diselenggarakan Oleh:

Minat Utama Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial
Program Pascasarjana, Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta

GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS


PROSIDING
Seminar Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Standardisasi Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Dalam Iklim Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
ISBN: 978-602-386-073-9

Pelindung:
Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada

Penanggungjawab:
Ketua Minat Utama Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Penyeleksi Abstrak/Makalah:
Prof. Dr. dr. Adi Heru Sutomo, M.Sc., DCN., DLSHTM., PKK.
Prof. Dr. dr. Soebijanto
Dr. Ir. Widodo Hariyono, A.Md., M.Kes.
Ketua Editor:
Dr. Ir. Widodo Hariyono, A.Md., M.Kes.
Anggota Editor:
Azham Umar Abidin, S.K.M., M.P.H.
Risma Arum Lintar Indira, S.K.M., M.P.H.
Tim Korektor Prosiding:
Bambang Hermawan, S.K.M.
Dwi Nurani Ohorella, S.Kep., Ns.
Ihya Hazairin Noor, S.K.M.
Mahfi Yusuf, S.Pd.

Diselenggarakan Oleh:
Minat Utama Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial
Program Pascasarjana, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada
Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Tel.: 0274560300, 581876
Website: www.kesker.fk.ugm.ac.id, E-mail: keskerugm@ugm.ac.id

Penerbit: Gadjah Mada University Press


www.ugmpress.ugm.ac.id
SUSUNAN PANITIA
Seminar Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Penasehat : Ketua Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan,


dan Kedokteran Sosial
Penganggungjawab : Ketua Minat Utama Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(Prof. Dr. dr. Adi Heru Sutomo, M.Sc., DCN.,
DLSHTM., PKK.)
Ketua Panitia : Dr. Ir. Widodo Hariyono, A.Md., M.Kes.
Sekretaris : Risma Arum Lintar Indira, S.K.M., M.P.H.
Bendahara : 1. Esty Sundari
2. Pirenaningtyas, A.Md.
Sie Ilmiah : 1. Dr. Ir. Widodo Hariyono, A.Md., M.Kes.
2. Azham Umar Abidin, S.K.M., M.P.H.
3. Dwi Nurani Ohorella, S.Kep., Ns.
Sie Humas : 1. Mahfi Yusuf, S.Pd.
2. Tiva Gani Agustina, S.S.
Sie Acara : Triasih Widiawati
Sie Konsumsi : Fadhilla Pratamasari, S.Gz., M.P.H.
Sie Perlengkapan : 1. Anton Dwi Haryanto
2. Asnandar Prabowo
3. Triandaru
Sie Pubdekdok : 1. Ihya Hazairin Noor, S.K.M.
2. Bambang Hermawan, S.K.M.

iii
SAMBUTAN
KETUA PANITIA SEMINAR NASIONAL K3

Assalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Alhamdulillah, atas kehendak-Nya, kegiatan "Seminar Nasional Keselamatan dan


Kesehatan Kerja (K3)" hari ini, Sabtu, 23 April 2016, di Fakultas Kedokteran,
Universitas Gadjah Mada, dapat terselenggara. Kegiatan ini merupakan agenda
penting yang diselenggarakan oleh Minat Utama Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3), pada Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran
Sosial. Dalam seminar ini, diambil tema: Standardisasi Penerapan K3 di Indonesia
Dalam Iklim Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kita ketahui, bahwa persoalan dalam
dunia kerja dengan aspek K3-nya begitu luas. Pada sisi lain, tuntutan standardisasi
sistem kerja menjadi kebutuhan dasar yang tidak dapat ditawar lagi. Maka, dalam
seminar ini, kita akan menelaah berbagai masalah dalam standardisasi K3 di
Indonesia dalam iklim MEA yang harus kita hadapi.
Seminar ini terdiri dari 2 sesi, pertama paparan ilmu dari para narasumber, kedua
adalah presentasi dari para pemakalah yang datang dari berbagai perguruan tinggi
di Indonesia. Dari hasil seleksi abstrak dan makalah yang masuk, jumlah makalah
yang akan dipresentasikan nanti sebanyak 39 judul, subtopik ilmu dibagi menjadi
4 kelompok. Kita pahami, bahwa keilmuan K3 ditopang oleh 2 subdisiplin ilmu,
yaitu (1) ilmu kesehatan - kedokteran, dan (2) ilmu keteknikan - rekayasa. Maka,
dalam presentasi call for paper pada seminar ini, judul dan bidang ilmu yang
dicakup cukup variatif (interdisipliner).
Kami, panitia seminar, mengucapkan selamat datang kepada para peserta dan
pemakalah seminar yang datang dari berbagai kota di Indonesia, dan terima kasih
atas partisipasi yang diberikan dalam kegiatan ini. Terima kasih kami haturkan
kepada Bapak Dekan Fakultas Kedokteran, Ibu Ketua Departemen Perilaku
Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial, Bapak Ketua Program Studi Ilmu
Kesehatan Masyarakat, dan semua pihak yang telah membantu penyelenggaraan
kegiatan ini. Mohon dimaafkan atas segala kekurangan. Semoga kegiatan ini
menjadi kontribusi bermakna bagi pengembangan K3 di Indonesia.

Selamat ber-seminar, dan sukses untuk semuanya!


Wassalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Yogyakarta, 22 April 2016


Panitia Seminar Nasional K3
Ketua,

Dr. Ir. Widodo Hariyono, A.Md., M.Kes.

iv
SAMBUTAN
KETUA DEPARTEMEN PERILAKU KESEHATAN,
LINGKUNGAN, DAN KEDOKTERAN SOSIAL

Assalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Kami mengucapkan selamat datang kepada para peserta dan pemakalah seminar
dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta serta institusi lain di
Indonesia.

Dalam menyongsong industrialisasi global dunia kerja dalam beberapa dekade


terakhir ini, peranan para ahli dan pendidik Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) menjadi semakin penting. Masalah-masalah terkait aspek K3 dalam sektor
kerja menjadi semakin luas dan beragam. Di sisi lain, tuntutan standardisasi dalam
semua bentuk pekerjaan, baik dalam skala makro maupun mikro, menjadi
kepentingan bagi semua jenis industri. Standardisasi ini mencakup baik industri
skala kecil, menengah, maupun besar, dan juga dalam sektor industri barang
maupun jasa.

Kegiatan "Seminar Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada hari
Sabtu, 23 April 2016, di Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada ini
diselenggarakan untuk turut menjawab tantangan tersebut. Kegiatan ini diinisiasi
oleh Minat Utama Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dari Departemen
Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial. Seminar ini bertujuan
untuk memerluas wawasan dan pencerahan terkait dengan bidang ilmu K3 sesuai
tema dalam seminar ini, yaitu: "Standardisasi Penerapan K3 di Indonesia Dalam
Iklim Masyarakat Ekonomi ASEAN".

Pada seminar ini akan dipaparkan berbagai makalah yang dibagi dalam beberapa
subtopik. Presentasi dari para pemakalah akan memerkaya khazanah riset dalam
bidang K3 dan aplikasinya di dunia industri. Kami berharap partisipasi dalam
kegiatan ini dapat menjadi kontribusi penting dalam pengembangan keilmuan K3
maupun cabang ilmu lain yang berkaitan dengan K3.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
penyelenggaraan kegiatan ini. Semoga kegiatan ini menjadi tonggak permulaan
yang penting bagi pengembangan keilmuan K3 di Indonesia yang lebih luas.

Selamat mengikuti seminar, semoga menjadi manfaat besar dan berlipat ganda!
Wassalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Yogyakarta, 22 April 2016


Departemen PKLKS
Ketua,

dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, M.P.H., Ph.D.

v
SAMBUTAN
DEKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UGM

Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

Alhamdulillahi robbil alamin, salam sejahtera dan keselamatan untuk kita


semuanya. Atas nama Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM),
saya selaku Dekan mengapresiasi tinggi atas kerja segenap Panitia pemrakarsa
terselenggaranya Prodi S2 Ilmu Kesehatan Kerja dan Panitia atas terselenggara
Seminar Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Seminar dalam
rangkaian peringatan Hari K3 Nasional tahun ini mengangkat tema Standardisasi
Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Iklim Masyarakat Ekonomi
ASEAN/MEA.
Tema ini saya kira sangat relevan untuk merespon mulai diberlakukannya
perdagangan bebas dunia, dimana di Asia Tenggara mulai diberlakukan MEA.
Pemberlakuan perdagangan bebas ini tentu akan memicu adanya kompetisi global
yang tentu menuntut adanya daya saing korporasi dan tenaga kerja/sumber daya
manusia (SDM). Salah satu indikator daya saing korporasi adalah penerapan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di lingkungan
kerja. Penerapan SMK3 yang terintegrasi menjadi bukan hanya menjadi tuntutan
utama dalam pemenuhan standar Internasional untuk produksi dan penjualan
produk barang atau jasa, bahkan menjadi faktor penentu kelangsungan usaha
perusahaan serta daya saing sebuah negara. Penerapan SMK3 saat ini merupakan
kebijakan Pemerintah dan amanat konstitusi Pasal 87 Undang-Undang No. 13
Tahun 2003 yang telah diatur dalam pedoman penerapan SMK3 melalui Peraturan
Pemerintah No. 50 Tahun 2012.
Sebagaimana diketahui bahwa SMK3 adalah menciptakan suatu sistem
keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur
manajemen, tenagakerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam
rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta
terciptanya tempat kerja yang selamat, sehat, dan aman. Kondisi ini diharapkan
dapat memacu produktifitas kerja dan mensejahterakan seluruh pemangku
kepentingan (stakeholders). Namun realitas masih menunjukkan bahwa K3 belum
menjadi mainstream korporasi dan masyarakat industri di Indonesia. BPJS
Ketenagakerjaan masih mencatat bahwa pada akhir tahun 2015 kecelakaan kerja
yang dilaporkan sebanyak 105.182 kasus, dengan korban meninggal dunia 2.375
orang.
Dalam bidang kesehatan, pemberlakukan perdagangan bebas, termasuk
MEA akan memicu mobilisasi dan perpindahan manusia dalam jumlah besar
dalam waktu yang cepat lintas negara. Kondisi ini sangat mungkin akan memicu
adanya transmisi penyakit karena transportasi yang melebihi batas inkubasi
penyakit. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana transmisi penyakit ini
dapat diatasi tanpa menganggu aktivitas perdagangan dan perjalanan
internasional. Tentunya ini memerlukan kerjasama sektor kesehatan antar negara
dan pemberlakuan aspek legalnya.
FK UGM sebagai salah satu instiusi pendidikan dokter, perawat dan ahli
gizi tentu merespon positif isu kebijakan kesehatan dunia ini dengan

vi
mempersiapkan tenaga kesehatan kompeten dan berwawasan global. FK UGM
mulai tahun akademik 2007/2008 menerapkan inovasi Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) dengan strategi Belajar Berdasarkan Masalah (BBM) atau
Problem Based Learning (PBL) dan terus mengembangkan Continuing
Profesionalism Development/CPD dan Continuing Medical Education/CME
untuk meningkatkan kapasitas SDM.
Akhirnya kami mengucapkan selamat berseminar, selamat Hari K3
Nasional, dan kami berharap agar forum ini dapat menjadi media yang kondusif
dalam upaya memicu akselerasi penerapan K3 dalam berbagai bidang kerja untuk
meningkatkan derajat keselamatan dan kesehatan kerja masyarakat.

Wassalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Yogyakarta, 22 April 2016


Fakultas Kedokteran UGM
Dekan,

Prof. Dr. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K)Onk.

vii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ......................................................................................... i


Data Bibliografi ... ii
Susunan Panitia iii
Sambutan Ketua Panitia Seminar Nasional K3 ... iv
Sambutan Ketua Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan
Kedokteran Sosial .............................................................................. v
Sambutan Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada ............. vi
Daftar Isi...................................................................................................... viii

Subtopik: Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja


1. Analisis Penerapan dan Operasi Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Studi Deskriptif di PT Citra
Swastika Sentosa ditinjau dari Aspek-Aspek Penerapan OHSAS
18001: 2007)
Ayu Agustiana, Rini Fatmawati, Herman 1-7
2. Analisis Penerapan Budaya Keselamatan Kerja Oleh
Radiografer di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Paru Respira
Yogyakarta
Azidanti Saufi, Ahmad Ahid Mudayana 8 - 14

3. Efektivitas Penanganan Limbah Padat di Rumah Sakit Umum


Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan
Veza Azteria 15 - 20

4. Evaluasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Bengkel St.


Yosef Nenuk Atambua
Sebastianus Baki Henong 21 - 26

5. Evaluasi Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Perawat Unit


Hemodialisa di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II
Istika Dwi Kusumaningrum, Widodo Hariyono 27 - 33

6. Implementasi Manajemen Keselamatan Proses Dengan


Revalidasi HAZOP & Klasifikasi SIL Unit Ammonia Pabrik-4
Basuki Rachmad 34 - 44

7. Implementasi Regulasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja


(K3). (Studi Kasus Pada Dua Daerah TK II di Sumbar Kendala
Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN)
Amrizal Arief, Yulianita 45 - 47

viii
8. Manajemen Keselamatan Proses Sebagai Bentuk Pengelolaan
Potensi Bencana Industri di Indonesia
Sidik Mastrilianto 48 - 55
9. Peran Contractor Safety Management System (CSMS) Dalam
Meminimalkan Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek
Pembangunan Waduk Teritip Kota Balikpapan
Erwin Ananta 56 - 63
10. Program Induksi Terhadap Penerapan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Supraco Indonesia.
(Studi Kasus: Barge Pioneer Blok Mahakam Kutai
Kartanegara)
James Evert Adolf Liku, Zulkifli 64 - 69
11. Sistem Manajemen Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) di
Perusahaan Sebagai Upaya Menekan Angka Kematian Akibat
Kecelakaan Kerja
Septa Decelita, Hardi Yanta 70 - 77
12. Tinjauan Rujukan Daftar Bahaya dan Usulan Tambahan Daftar
Bahaya Keselamatan dan Kesehatan
Syamsul Arifin 78 - 83

Subtopik: Penyakit Akibat Kerja


1. Estimasi Risiko Kejadian Penyakit Degeneratif Akibat Pajanan
Polusi Udara NO2 Pada Pekerja Jalan Tol di Jakarta
E. Laelasari, H. Kusnoputranto, Budiawan Mustofa 84 - 91
2. Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup Dengan
Sindroma Metabolik Pada Pekerja di PT X
Ratih Damayanti, Erwin Dyah Nawawinetu 92 - 98
3. Hubungan Faktor Karakteristik Pekerja Dengan Kadar Nikel
Dalam Urin Pekerja Sektor Informal Pelapisan Logam
Yuliani Setyaningsih 99 - 105
4. Hubungan Kebisingan Dengan Kelelahan Kerja Karyawan
Game4Indo Yogyakarta
Suci Khoiriyah, Nor Wijayanti 106 - 112
5. Pengaruh Frekuensi Menyusui Terhadap Keluhan Sakit
Punggung Pada Pekerja Wanita di Perusahaan Garmen
Yeremia Rante Ada, Sumardiyono 113 - 119
6. Keluhan Gangguan Pernapasan Ditinjau Dari Kadar Debu
Total, Masa Kerja, Behavior Based Safety (BBS) Karyawan di
PT Borneo Melintang Buana Eksport Kabupaten Sleman
Sitti Fatimah Rahmansyah, Dwi Nurani Ohorella, Hening Rizky
Permata, Mahfi Yusuf 120 - 125

ix
7. Pengurangan Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan di Rumah
Sakit X Kota Padang Tahun 2016
Fadillah Ulva, Adi Heru Sutomo, Agus Surono 126 - 130

Subtopik: Ergonomi
1. Analisis Faktor Penyebab Musculoskeletal Disosders Dengan
Metode Rapid Upper Limb Assessment Pada Staf Kependidikan
UNIDA
Tofan Agung E.P., Eka Rosanti, Ratih Andhika A.R., Edwina
Rudyarti 131 - 138
2. Hubungan Intensitas Pencahayaan Dengan Kelelahan Mata
Pada Pekerja Home Industry Batik Sragen
Seviana Rinawati, Siti Rachmawati 139 - 144
3. Hubungan Sikap Kerja Pengangkutan Dengan Keluhan Low
Back Pain Pada Pekerja Depot Air Minum
Arinta Puspita Restu 145 - 152
4. Identifikasi Postur Kerja Pekerja Pada Usaha Pembuatan Tahu
Dengan Menggunakan Metode RULA, REBA, QEC, OWAS dan
WERA
Chalis Fajri Hasibuan 153 - 159
5. Kajian Kualitas Udara Dalam Ruangan di Perkantoran untuk
Meningkatkan Produktivitas Kerja Karyawan
Muslikha Nourma Rhomadhoni 160 - 166
6. Kenyamanan, Kekuatan Otot, Denyut Nadi, dan Kelelahan
Mekanik Bengkel Sepeda Motor Konvensional di Kotamadya
Padang
Amrizal Arief, Erzedin Alwi 167 - 173
7. Kesejahteraan di Tempat Kerja, Menciptakan Lingkungan
Kerja yang Positif, dan Peningkatan Produktivitas Karyawan
Charli Sitinjak 174 - 179
8. Pengaruh Postur Kerja Terhadap MSDs Karyawan Instalasi
Central Sterile Supply Department, Laundry, dan Jahit di
RSUD Dr. Moewardi, Surakarta
Agustina Dwi Suryawati, Sumardiyono, Yeremia Rante Ada 180 - 186
9. Penilaian Risiko Terhadap Kondisi Ergonomi Pengrajin
Songket Fikri Koleksi di Talang Semut Bukit Tanggal,
Palembang
Septia Milanda, Desca Olympia Citra 187 - 193

x
10. Posisi Kerja Ergonomis Berkorelasi Positif Dengan Tingkat
Kelelahan Pembatik
Yamtana, Ayub Belasihi 194 - 200
11. Studi Keluhan Muskuloskeletal Pada Pramudi Bus Trans
Jakarta Koridor IX (Pendekatan Ergonomi) Tahun 2015
Decy Situngkir 201 - 207
Subtopik: Teknik Pengendalian Kecelakaan
1. Analisis Kesesuaian Penyediaan Energi di Tempat Kerja Pada
Karyawan PTS Gresik
Erwin Dyah Nawawinetu, Ratih Damayanti 208 - 212
2. Aplikasi Sistem Peringatan Dini Pada Keamanan, Keselamatan
dan Kesehatan Kerja
Aan Burhanuddin, Muchamad Malik 213 - 218
3. Dows Fire dan Explosion Index Sebagai Solusi Alternatif
Dalam Penilaian Potensi Bahaya dan Risiko Terjadinya
Kebakaran dan Ledakan. (Studi Kasus di Tangki Penyimpanan
LPG Pertamina Perak Surabaya)
Dani Nasirul Haqi 219 - 226
4. Efektifitas Penggunaan Local Exhaust Ventilation (LEV) yang
Dirancang Secara Sederhana Dalam Meminimalisir Faktor
Bahaya Debu Pada Industri Informal
Saiku Rokhim 227 - 232
5. Efektifitas Simulasi Tanggap Darurat Kebakaran Dengan
Menggunakan Metode Prosedur Standar Oprasional di Barge
Pelangi Tirtamas 2 (Studi Kasus PT Pelangi Niaga Mitra
Internasional Kutai Kartanegara)
M. Isradi Zainal, Mustadin Umar 233 - 239
6. Excessive Workload Detector Exator Sebagai Alat Pencegah
Stres Kerja untuk Meningkatkan Perkembangan Electromedic
di Indonesia Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
Satria Indra Nugraha, Zahrotul Mahmudati, Hafidzoh Najwati,
Zakiyah Islamiyati O.P., Oktavinta Warits P.P., Baju Widjasena 240 - 245
7. Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Pengendalian Risiko
Pada Pekerjaan Tambang Belerang (Studi Pada Pekerja
Tambang Belerang di Taman Wisata Alam Kawah Ijen)
Khairul Anwar, Isa Marufi, Anita Dewi Prahastuti S 246 - 253

8. Pengetahuan dan Sikap Mengenai Keselamatan Berkendara


(Safety Riding) Dengan Insiden di Jalan Raya Pada Pelajar
SMA Muhammadiyah 5 Kota Yogyakarta
Eko Maulana S., Ihya Hazairin Noor, Sujiah, Bambang Hermawan 254 - 260

xi
9. Prototype SAIRIS Tech (Alat Penangkap Polutan Udara
Dalam Ruangan)
Husaini, Abdul Haris 261 - 264

xii
Analisis Penerapan dan Operasi Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(Studi Deskriptif di PT Citra Swastika Sentosa ditinjau dari Aspek-Aspek
Penerapan OHSAS 18001: 2007)

Ayu Agustiana, Rini Fatmawati, Herman


Prodi Ilmu Administras Bisnis, FISIP, Universitas Hang Tuah
Jl. Arif Rahman Hakim 150 Surabaya
Tel: (031)5945864. E-mail: fisip.bisnis@hangtuah.ac.id

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa bagaimana penerapan dan operasi sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di PT Citra Swastika Sentosa berdasarkan
OHSAS 18001: 2007. Berdasarkan hasil wawancara dapat simpulkan Berdasarkan uraian
diatas, maka hasil penelitian ini adalah dari seluruh aspek penerapan dan operasi sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terdapat beberapa aspek yang sudah
diterapkan dan belum diterapkan dengan baik oleh perusahan sesuai dengan
OHSAS18001: 2007. Dilihat dari aspek sumber daya manusia dan ketrampilan khusus,
manajemen yang bertanggung jawab tentang K3, peningkatan kinerja K3, tenaga kerja,
pengembangan dan peninjauan K3, dan konsultasi eksternal dampak K3 belum diterapkan
oleh perusahaan. Dan dari aspek infrastruktur, teknologi dan finansial, laporan kinerja
K3, pertanggung jawaban laporan K3, pertanggungjawaban laporan K3, pendelegasian
pihak manajemen, tingkat pendidikan, pelatihan atau pengalaman, evaluasi aktivitas
pelatihan, peduli dengan peran dan tanggung jawab, peduli dengan konsekuensi potensil,
komunikasi internal, komunikasi eksternal, merespon komunikasi, identifikasi bahaya,
penyelidikan insiden, dan konsutasi internal dampak K3 sudah diterapkan oleh
perusahaan.

Kata kunci: kerja, kesehatan, keselamatan, sistem manajemen.

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Perkembangan perusahaan jasa saat ini semakin pesat karena tidak terlepas
dari peran tenaga kerja yang dimiliki oleh perusahaan. Perusahaan yang baik
adalah perusahaan yang benar-benar menjaga keselamatan dan kesehatan
karyawannya dengan membuat aturan tentang keselamatan dan kesehatan kerja
yang dilaksanakan oleh seluruh karyawan dan pimpinan perusahaan. Perlindungan
tenaga kerja dari kecelakaan kerja sangat dibutuhkan oleh karyawan agar
karyawan merasa aman dan nyaman dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Pada dasarnya negara telah mengeluarkan peraturan perundang-undangan
yaitu Undang-undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Undang-
undang No.13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan adalah kewajiban pengusaha
melindungi tenaga kerja dari potensi bahaya yang dihadapi karyawan. Namun
tidak sedikit perusahaan yang tidak memaksimalkan program Keselamatan dan
Kesehatan Kerja sebagai perlindungan bagi karyawan. Masih banyak perusahaan
yang memandang Keselamatan dan Kesehatan Kerja kurang bermanfaat dan
hanya menambah beban pengeluaran perusahaan yang semakin besar. Meski

1
begitu, kesalahan tentu tidak boleh hanya dilihat dari pihak perusahaan saja,
melainkan juga dari pihak tenaga kerjanya sendiri.
Menurut (Dessler, 2003) kondisi yang tidak aman dapat berupa prosedur
yang berbahaya, penyimpanan yang tidak aman serta peralatan yang tidak terjaga
dengan baik. Sedangkan tindakan yang tidak aman dapat berupa kecerobohan,
kesalahan dalam pelaksanaan prosedur dan ketidak telitian. Kondisi dan tindakan
yang tidak aman tersebut sangat besar kemungkinan terjadinya di dalam industri
jasa freight forwarding. Banyaknya peralatan dan mesin-mesin yang dapat
membahayakan keselamatan karyawan menjadikan kecelakaan kerja sangat
mungkin terjadi.
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mencatat hingga tahun 2010,
kecelakaan kerja masih didominasi bidang jasa konstruksi (31,9%), disusul
industri (31,6%), transport (9,3%), pertambangan (2,6%), kehutanan (3,8%), dan
lain-lain (20%). Tingginya angka kecelakaan kerja di sektor jasa konstruksi itu
karena kesadaran dari penyedia jasa terhadap keselamatan kerja masih rendah. Hal
ini dapat dilihat dari jumlah anggota yang memiliki sertifikat Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) baru sekitar 5%. Sedangkan, menurut
data statistik, kecelakaan akibat kerja di Indonesia masih tinggi, berdasarkan data
yang ada di PT. Jamsostek sepanjang tahun 2007 angka kecelakaan kerja yang
terjadi mencapai 83.714 kasus, dan pada tahun 2008 angka kecelakaan kerja
mencapai 58.600 kasus, kemudian pada tahun 2009 telah terjadi sebanyak 54.398
kasus kecelakaan kerja, sedangkan pada tahun 2010 angka kecelakaan kerja
mencapai 47.919 kasus, dengan rincian sebanyak 7.965 meninggal dunia, dan
jumlah santunan yang dibayarkan sebesar Rp. 150.987 triliun (http://apindo.or.id).
Berdasarkan fakta-fakta tersebut perlu segera diselesaikan permasalahan
kecelakaan kerja di perusahaan yakni dengan mencari prioritas penanganan
terhadap jenis pekerjaan yang nantinya digunakan untuk mengevaluasi keamanan
serta mencegah kecelakaan, untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang
analisis penerapan dan operasi sitem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
di PT Citra Swasrika Sentosa yang merupakan perusahaan jasa freight forwarding
yang bertaraf Internasional dengan pelayanan yang khusus melayani jasa
pengangkutan domestik dan Internasional seperti jasa Ekspedisi Muatan Kapal
Laut (EMKL) dan Custom Clearance. Berdasarkan fenomena masalah yang
terjadi peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Analisis
Penerapan dan Operasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(Studi Deskriptif di PT Citra Swastika Sentosa ditinjau dari Aspek-Aspek
Penerapan dan Operasi OHSAS 18001: 2007)
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas untuk memahami kebenaran
penerapan dan operasi sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di PT
Citra Swastika Sentosa maka peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
Bagaimana Penerapan dan Operasi Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di PT Citra Swastika Sentosa ditinjau dari Aspek-aspek
penerapan dan operasi OHSAS 18001: 2007.

2
1.3. Kerangka Konsep

Sistem Manajemen
Keselamatan dan
Kesehatan Kerja

Penerapan dan Operasi


Sistem Manajemen
Keselamatan dan
Kesehatan Kerja

Aspek Sumberdaya, Aspek Kompetensi, Aspek Komunikasi,


peran, tanggung jawab, pelatihan dan partisipasi dan
akuntabilitas dan kepedulian konsultasi
wewenang

Penilaian Penerapan
dan Operasi
Keselamatan dan
Kesehatan Kerja

Gambar 1. Model Konseptual

2. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jenis
penelitian deskriptif. Dalam penelitian ini peneliti berusaha memperoleh
gambaran yang konkret tentang Analisis penerapan dan operasi sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja di PT Citra Swastika Sentosa.
Dalam hal ini fokus penelitian yang akan diuraikan oleh peneliti berisi
mengenai aspek-aspek yang akan menyaring berbagai informasi yang dibutuhkan
sesuai dengan permasalahan yang diangkat sekaligus sebagai upaya pengukuran
atas fenomena yang ada. Untuk membatasi kajian yang akan dibahas dalam
penelitian ini maka akan menggunakan fokus dengan aspek-aspek sebagai berikut:
aspek sumber daya, peran, tanggung jawab, akuntanbilitas dan wewenang.
Sumber daya meliputi: sumber daya manusia dan ketrampilan khusus,
infrastruktur, teknologi dan finansial. Peran meliputi: manajemen yang
bertanggung jawab tentang K3, laporan kinerja SMK3. Tanggung jawab meliputi:
peningkatan kinerja K3 dan tenaga kerja. Akuntabilitas meliputi:

3
pertanggungjawaban laporan K3. Wewenang meliputi: pendelegasian pihak
manajemen dan aspek kompetensi. Pelatihan dan kepedulian meliputi.
Kompetensi meliputi: tingkat pendidikan, pelatihan atau pengalaman. Pelatihan
meliputi: evaluasi aktivitas pelatihan. Kepedulian meliputi: peduli dengan peran
dan tanggung jawab, peduli dengan konsekuensi potensial. Aspek komunikasi,
partisipasi dan konsultasi meliputi: komunikasi meliputi: komunikasi internal,
komunikasi eksternal, merespon komunikasi. Partisipasi dan konsultasi meliputi:
identifikasi bahaya, penyelidikan insiden, pengembangan dan peninjauan K3,
konsultasi internal dampak K3, konsultasi eksternal dampak K3.
Subyek dan sumber informasi dalam penelitian ini yaitu beberapa orang
yang berkompeten untuk memberikan informasi mrngenai penerapan dan operasi
SMK3 diantaranya:
A. Sumber data primer
Sumber data primer dalam penelitian ini adalah dari hasil pengamatan
langsung ke area perusahaan, wawancara dan diskusi dengan pihak-pihak yang
berkaitan langsung dengan penerapan dan operasi sistem manajemen keselamatan
dan kesehatan kerja di PT Citra Swastika Sentosa diantaranya yaitu:
1. Manajer Operasional
2. Manajer Personalia
3. Manajer Keuangan
4. Staf Operasional
5. Staf keuangan
6. Staf Personalia (koordinator lapangan)
7. Tally
8. Tenaga Kerja Bongkar Muat
B. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan yang berhubungan
dengan penerapan dan operasi sistem manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja.

3. Hasil dan Pembahasan


Lokasi penelitian yang dipilih penulias adalah PT Citra Swastika Sentosa
yang terletak di Jalan Perak Timur 512 Blok D-4 Surabaya, Jawa Timur.
Penerapan dan Operasi SMK3 memberikan perusahaan freight forwarding dan
transportasi logistik utama yang terbaik dengan penyediaan fasilitas dan
pelayanan terpercaya kepada pelanggan dan Mendukung pelayanan kepabeanan
yang efisien dan efektif untuk menjamin daya saing perindustrian transportasi
logistik, Melayani sistem distribusi muatan kapal laut dan udara dengan bongkar
muat yang efisien, efektif dan aman sampai ketempat tujuan, Mampu memberi
solusi terbaik dalam permasalahan pada dunia logistik dan transportasi yang
profesional, Mendukung kesejahteraan karyawan demi kemajuan perusahaan.
Ketentuan PT Citra Swastika Sentosa untuk mendukung keselamatan kerja
karyawannya adalah dengan cara memenuhi kelengkapan alat pelindung diri
untuk menunjang keselamatan kerja di lapangan, antara lain: rompi, sepatu
pelindung, helm pelindung, dan masker.

4
3.1. Aspek Sumber Daya, Peran, Tanggung Jawab, Akuntabilitas, dan
Wewenang
Berdasarkan analisis pada aspek pertama yang terdiri dari aspek sumber
daya, peran, tanggung jawab, akuntabilitas dan wewenang, jika dilihat dari segi
manajemen dapat menunjukkan bahwa manajemen di PT Citra Swastika Sentosa
masih belum mempunyai sumber daya manusia yang khusus bertanggung jawab
dalam pengolahan SMK3 di perusahaan, tetapi di sisi lain tanggunng jawab dan
pelaksanaan SMK3 telah dibebankan menjadi satu kepada staf personalia yang
selaku koordinator lapangan juga, selain itu pelaksanaan SMK3 juga telah
berjalan dengan baik meskipun tidak sepenuhnya terlaksana seperti yang
diterapkan pada OHSAS 18001: 2007.
Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Salafudin
(2013), Suprijo (2012) dan Suhara (2008) yang ketiganya menyatakan bahwa
pada perusahaan yang diteliti telah menerapkan SMK3 yang berupa program,
kebijakan, peraturan, prosedur dan pedoman yang bertujuan untuk mencegah dan
mengurangi potensi terjadinya kecelakaan kerja. Sedangkan pada kenyataannya
pada PT. Citra Swastika Sentosa belum sepenuhnya menerapkan SMK3 dan
hanya beberapa program dan peraturan saja yang di terapkan dalam lingkungan
kerja perusahaan guna mengurangi potensi terjadinya kecelakaan kerja, hal
tersebut menandakan bahwa penerapan SMK3 di PT Citra Swastika Sentosa
belum sepenuhnya diterapkan dibuktikan dengan adanya nilai negatif (-) yang
menandakan belum diterapkannya suatu aspek dalam K3 menurut OHSAS 18001:
2007, seperti pada sub indikator sumber daya manusia dan ketrampilan khusus,
manajemen yang bertanggung jawab tentang K3, peningkatan kinerja serta tugas
dan tanggung jawab diatur dalam ketentuan perusahaan sesuai dengan masing-
masing bidang.
Hal ini dikarenakan kurangnya karyawan khususnya untuk tenaga ahli pada
bidang K3 pada PT. Citra Swastika Sentosa dan untuk menanggulanginya pihak
menajemen perusahaan menggunakan SDM yang ada untuk menggandakan
pekerjaannya untuk mengurusi tentang K3 di perusahaan.
3.2. Aspek Kompetensi, Pelatihan, dan Kepedulian
Berdasarkan analisis pada aspek kedua yang terdiri dari aspek kompetensi,
pelatihan dan kepedulian, menunjukkan hasil yang sudah baik. Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suprijo (2012) yang mengungkapkan
bahwa faktor penunjang yang paling tinggi adalah pelatihan yang kemudian
ditambah dengan tersediaannya APD untuk para pekerja di lapangan.
Berbeda dengan Salafudin (2013) dan Suhara (2008) yang mengungkapan
tentang keseluruhan SMK3 pada perusahaan yang diteliti sudah cukup baik. Pada
kenyataannya hanya aspek kompetensi, pelatihan dan kepedulian pada PT. Citra
Swastika Sentosa yang sudah diterapkan dengan baik, hal ini ditandai dengan
adanya nilai positif (+) pada seluruh sub indikator yang berlaku sesuai OHSAS
18001: 2007 seperti tingkat pendidikan, pelatihan/ pengalaman, evaluasi aktivitas
pelatihan, peduli dengan peran tanggung jawab, peduli dengan konsekuensi
potensial.
Hal ini dikarenakan perusahaan telah menerapkan program kompetensi,
pelatihan dan kepedulian untuk karyawan terutama untuk karyawan yang baru
masuk ke dalam perusahaan.

5
3.3. Aspek Komunikasi, Partisipasi, dan Konsultasi
Berdasarkan analisis pada aspek ketiga yang terdiri dari aspek komunikasi
telah menunjukkan hasil baik, sedangkan pada aspek partisipasi dan konsultasi
menunjukkan hasil yang sudah baik namun perlu danya beberapa perbaikan pada
indikator pengembangan dan peninjauan K3 dan konsultasi eksternal K3.
Hasil penelitian tersebut berbeda dengan ketiga penelitian terdahulu seperti
Salafudin (2013), Suprijo (2012) dan Suhara (2008) karena hasil penelitian
ketiganya pada perusahaan yang diteliti telah menerapkan SMK3 dengan baik
pada perusahaannya. Sedangkan pada kenyataannya SMK3 di PT Citra Swastika
Sentosa belum sepenuhnya berjalan dengan baik terbukti dengan adanaya nilai
negatif (-) pada kedua indikator yang tidak terbukti berlaku sesuai OHSAS 18001:
2007.
Artinya bahwa penerapannya belum dijalankan dengan baik oleh
perusahaan, hal itu akan mempengaruhi penilaian pada aspek ketiga ini secara
keseluruhan. Permasalahan tersebut dapat di atasi dengan cara manajemen
menunjuk pihak tertentu untuk khusus mengatur dan bertanggung jawab atas K3
di perusahaan.

4. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, maka hasil penelitian ini adalah dari seluruh
aspek penerapan dan operasi sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
terdapat beberapa aspek yang sudah diterapkan dan belum diterapkan dengan baik
oleh perusahan sesuai dengan OHSAS 18001: 2007. Dilihat dari aspek sumber
daya manusia dan ketrampilan khusus, manajemen yang bertanggung jawab
tentang K3, peningkatan kinerja K3, tenaga kerja, pengembangan dan peninjauan
K3, dan konsultasi eksternal dampak K3 belum diterapkan oleh perusahaan.
Aspek infrastruktur, teknologi dan finansial, laporan kinerja K3, pertanggung
jawaban laporan K3, pertanggungjawaban laporan K3, pendelegasian pihak
manajemen, tingkat pendidikan, pelatihan atau pengalaman, evaluasi aktivitas
pelatihan, peduli dengan peran dan tanggungjawab, peduli dengan konsekuensi
potensil, komunikai internal, komunikasi eksternal, merespon komunikasi,
identifikasi bahaya, penyelidikan insiden, dan konsutasi internal dampak K3
sudah diterapkan oleh perusahaan.

5. Saran
Atas dasar temuan penelitian, berikut merupakan saran peneliti untuk
menerapkan sistem manajemen K3 sesuai dengan OHSAS 18001: 2007 adalah
dari aspek sumberdaya manusia dan ketrampilan khusus diperlukan adanya
manajemen yng bertanggung jawab tentang SMK3 dan dari tenaga kerja juga
sebaiknya memiliki peran dan tanggung jawab atas K3. Dengan adanya
manajemen khusus dan tenaga kerja yang bertanggung jawab maka peningkatan
kinerja K3 juga akan terlaksana dengan baik. Kemudian sebaiknya juga dilakukan
pengembangan dan peninjauan K3 agar perusahaan dapat mengetahui bagaimana
kondisi K3 di perusahaan dan melakukan konsultasi eksternal dampak K3 juga
sebaiknya dilakukan agar perusahaan mendapat masukan baru mengenai dampak
K3 dan cara penyelesaian dampak tersebut.

6
Daftar Pustaka
Dessler . Keselamatan dan kesehatan kerja. Jakarta: Bumi Aksara ; 2003
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.50 tahun 2012 tentang Penerapan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja menurut Occupational
Health and Safety Assesment Series (OHSAS) 18001: 2007
Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
Undang-undang No. 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan
http://apindo.or.id/kementerian-tenaga-kerja-kecelakaan-kerja/2010/05/html
(diakses, Jumat, 11 September 2015)

7
Analisis Penerapan Budaya Keselamatan Kerja Oleh Radiografer
di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta

Azidanti Saufi, Ahmad Ahid Mudayana


Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan
Jalan Prof. Dr. Soepomo, SH., Janturan, Warungboto, Yogyakarta
Tel: 085643709243. E-mail: ahidfkm@gmail.com

Abstrak

Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, pasal 164 menyatakan bahwa
upaya keselamatan dan kesehatan kerja harus diselenggarakan di semua tempat kerja,
khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan seperti di Instalasi
Radiologi sebab menggunakan radiasi. Program keselamatan kerja sebaiknya dimulai dari
tahap yang paling dasar yaitu membentuk budaya keselamatan kerja bagi radiografer
yang dapat terwujud melalui tindakan aman dalam melakukan pekerjaan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui penerapan budaya keselamatan kerja oleh radiografer di
Instalasi Radiologi RS Paru Respira Yogyakarta.
Jenis penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di Instalasi
Radiologi di RS Paru Respira Yogyakarta. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 10
responden yang meliputi 1 orang kepala Instalasi Radiologi, dan 9 orang radiografer.
Teknik pengumpulan data dengan wawancara. Keabsahan data menggunakan triangulasi
sumber.
Rumah sakit memiliki sistem manajemen keselamatan yang cukup baik yang diwujudkan
dengan menyediakan Alat Pelindung Diri (APD), adanya jaminan kesehatan, pemeriksaan
kesehatan berkala, mendukung adanya pelatihan bagi radiografer, standar operasional
prosedur, dan terjalin komunikasi yang baik antara pimpinan dengan radiografer maupun
antar radiografer. Lingkungan kerja di Instalasi radiologi sudah cukup baik karena sudah
dikelilingi timbal. Radiografer sudah memiliki kesadaran yang cukup baik namun masih
sering tidak menggunakan APD karena sudah bekerja di balik tabir timbal dan
menggunakan Thermoluminisence Dosemeter (TLD) saat terpapar radiasi saja.
Penerapan budaya keselamatan kerja oleh radiografer di Instalasi Radiologi RS Paru
Respira Yogyakarta sudah cukup baik meskipun ada radiografer yang tidak menggunakan
APD secara lengkap.

Kata kunci: analisis, keselamatan kerja, penerapan, rumah sakit.

1. Pendahuluan
Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 164,
menyatakan upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup
sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang
diakibatkan oleh pekerjaan. Jika memperhatikan isi dari pasal tersebut, maka
rumah sakit termasuk tempat kerja yang memiliki potensi mengalami kecelakaan
dan penyakit akibat kerja khususnya di Instalasi Radiologi sebab menggunakan
sumber radiasi[1]. Instalasi Radiologi merupakan salah satu instalasi penunjang
medik sebab menggunakan sumber radiasi pengion untuk mendiagnosis adanya
suatu penyakit dalam bentuk gambaran anatomi tubuh yang ditampilkan dalam
film radiografi[2]. Instalasi Radiologi memiliki beberapa tenaga kerja yang
bertugas dalam mengoperasikan peralatan sinar-X yang selanjutnya disebut
radiografer.

8
Radiografer secara umum mempunyai tugas dan tanggung jawab meliputi:
(1) Melakukan pemeriksaan pasien secara radiografi; (2) Melakukan teknik
penyinaran radiasi pada radioterapi; (3) Menjamin terlaksananya penyelenggaraan
pelayanan kesehatan bidang radiologi atau radiografi sebatas kewenangan dan
tanggungjawabnya; (4) Menjamin akurasi dan keamanan tindakan proteksi
radiasi; (5) Melakukan tindakan jaminan mutu peralatan radiografi[3]. Tugas dan
tanggung jawab tersebut maka seorang radiografer harus mendapatkan
perlindungan terkait keselamatan kerja. Mengingat pekerjaan seorang radiografer
berhubungan dengan sinar-X maupun radiasi pengion lainnya yang mempunyai
karakteristik dapat menimbulkan efek deterministik (kerusakan jaringan) maupun
genetik[4].
Radiasi ini memiliki efek bagi radiografer jika radiografer tidak bekerja
secara aman. Rendahnya kesadaran terhadap keselamatan kerja merupakan salah
satu bentuk perilaku terhadap keselamatan kerja yang kurang baik. Program
keselamatan kerja sebaiknya dimulai dari tahap yang paling dasar yaitu
membentuk budaya keselamatan kerja. Budaya keselamatan kerja yang baik dapat
membentuk perilaku terhadap keselamatan kerja yang baik, yang dapat terwujud
melalui tindakan aman dalam melakukan pekerjaan[5]. INSAG-4 mendefinisikan
budaya keselamatan sebagai gabungan dari karakteristik dan sikap dalam
organisassi dan individu yang menetapkan bahwa, sebagai prioritas utama,
masalah keselamatan instalasi nuklir memperoleh perhatian yang sesuai dengan
kepentingannya. Meskipun budaya keselamatan kerja merupakan konsep yang
abstrak namun memiliki peran penting dalam menentukan keselamatan pekerja
dan lingkungan di tempat kerja yang menggunakan teknik radiografi[6]. Oleh
sebab itu, seorang radiografer harus memiliki dan menerapkan budaya
keselamatan kerja selama bekerja dengan radiasi.
Berbagai model dan indikator budaya keselamatan telah diterapkan, mulai
dari yang paling sederhana hingga model yang paling komplek. Budaya
keselamatan kerja merupakan sebuah kesatuan dari tiga (3) aspek yaitu aspek
organisasi dan manajemen keselamatan kerja yang ada di perusahaan (safety
management system), aspek nilai-nilai dan persepsi keselamatan kerja dari setiap
pekerja terhadap lingkungan kerja (safety climate), dan aspek perilaku K3 dalam
bekerja sehari-hari (safety behaviour)[7].
Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Pemerintah nomor 33 tahun
2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif
sebagai upaya pengendalian[8]. Selain itu, Surat Keputusan Kepala Badan
Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) nomor 01/Ka-Bapeten/V-99 tentang
Ketentuan Kerja terhadap Radiasi, yang memuat nilai batas dosis yaitu radiografer
<50 mSv/tahun dan masyarakat umum <5 mSv/tahun[9].
Permasalahan yang ada di Instalasi Radiologi RS Paru Respira Yogyakarta
yaitu sudah tersedia Alat Pelindung Diri (APD) radiasi untuk radiografer namun
belum rutin digunakan setiap kali melakukan pemeriksaan, karena sudah terdapat
tabir timbal sehingga petugas tidak menggunakan APD lainnya. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis penerapan budaya
keselamatan kerja oleh radiografer di Instalasi Radiologi RS Paru Respira
Yogyakarta.

9
2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini,
meliputi dokter spesialis radiologi yang menjabat sebagai kepala Instalasi
Radiologi, dan 9 radiografer. Penentuan sumber data pada orang yang
diwawancarai dilakukan dengan purposive sampling. Pertimbangan dalam
penelitian ini yaitu masa kerja di atas 2 tahun. Teknik pengumpulan data dengan
wawancara (indept interview). Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan
triangulasi sumber. Lokasi penelitian di Instalasi Radiologi di RS Paru Respira
Yogyakarta.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Hasil
3.1.1. Sistem Manajemen Keselamatan
Hasil wawancara yang dilakukan menunjukkan bahwa sistem manajemen
keselamatan yang ada di rumah sakit sudah cukup baik terkait dengan komitmen
yang diberikan pimpinan, peraturan dan prosedur keselamatan, komunikasi,
keterlibatan, dan kompetensi radiografer.
3.1.1.1. Komitmen Top Management
Rumah sakit cukup memberikan perhatian masalah keselamatan kerja bagi
radiografer, sebagaimana yang diungkapkan responden sebagai berikut:
Sebenarnya dikatakan perhatian ya perhatian, kalau kurang ya kurang.
Masalahnya mungkin karena pengetahuan tentang keselamatan kerja belum
sepenuhnya dipahami jadi perhatiannya kurang.(P2)
Iya memperhatikan, tapi karena mereka tidak begitu tahu masalah tentang
radiologi jadi mereka mendukung sepenuhnya. Kebetulan di radiologi itu
menjadi syarat untuk perpanjangan (ijin). Kalau disini sepertinya hanya
pemeriksaan kesehatan, pelatihan tentang keselamatan radiasi saja.(P3)
3.1.1.2. Peraturan dan Prosedur Keselamatan Kerja
Peraturan dan prosedur kerja sedang dalam proses penyusunan sebab rumah
sakit baru akan akreditasi, sebagaimana yang diungkapkan responden sebagai
berikut:
Prosedurnya ada tapi belum tertulis (dalam proses pembuatan) karena
belum disahkan direktur, tapi sudah ada. Baru akan akreditasi. Sekarang
memakai yang sementara pernah ada, pakai BP4 (Balai Pengobatan Paru-
Paru). Tapi hanya thorax, belum semua. Kalau yang mau dibuat itu SOP
pemeriksaan, SOP alur, SOP alat, SOP pemeliharaan alat, pemeliharaan
alat, keselamatan pasien juga ada, tapi baru mau dibuat. (P1)
Prosedur ada. Prosedur kerja standarnya ya begitu kalau kita kerjanya
sesuai standar itu sudah pasti, sudah terbiasa (P4)
3.1.1.3. Komunikasi, Kompetensi, dan Keterlibatan Pekerja
Komunikasi yang terjalin cukup baik meskipun beda lokasi dengan
pimpinan rumah sakit. Komunikasi yang baik antara manajemen dan radiografer
akan meningkatkan kompetensi dan keterlibatan radiografer, sebagaimana yang
diungkapkan responden terkait komunikasi, kesadaran akan risiko, dan
keterlibatan dalam pembuatan SOP, sebagai berikut:
Ya karena posisinya jauh kalau sesama kita yang di sini mudah, kalau
manajemen ya karena posisinya jauh (di daerah Minggiran, Yogyakarta) ya
kurang. Pergantian shift juga tidak ada masalah. (P1)

10
Sejauh ini lancar-lancar saja, meski kita tidak sering bertemu karena shift
tapi kita komunikasi lewat sosial media kalau ada informasi nanti di share di
grup itu. (P3)
Iya kalau risiko itu selalu ada tapi bagaimana usaha kita untuk menekan
risiko itu. Seminimal mungkin. Kerja hati-hati. Yang perlu dilakukan ya
dilakukan, kontak dengan pasien juga secukupnya, pakai APD. (P2)
Drafnya (SOP) dari kita, semua terlibat. Jadi di bagi-bagi nanti kan kalau
sudah ajdi dikoreksi lagi. Jadi ada yang bikin, ada yang verivikator, baru
naik ke menajemen untuk penomoran sama tanda tangan. (P1)
Kalau pembuatan SOP ya kita semua ikut membuat, hanya dibagi-bagi.
(P4)
3.1.2. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang yang kondusif dapat mendukung penerapan program
keselamatan kerja dengan optimal bila seluruh radiografer mengutamakan
program keselamatan.
Kurang besar. Lahannya kurang. Kalau istirahat disini. (P1)
Sudah rata-rata. Kalau dibilang nyaman sekali ya tidak, dibilang tidak
nyaman ya tidak juga, tempatnya bersih, dan ada AC-nya, bersih kamar
mandinya. (P2)
3.1.3. Perilaku Keselamatan
Perilaku keselamatan berhubungan dengan kepatuhan dalam menggunakan
APD, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan pemeriksaan dosis
radiasi. Radiografer jarang menggunakan APD dengan asumsi bahwa sudah aman
sebab bekerja di balik tabir timbal. Sebagaimana yang diungkapkan responden
sebagai berikut:
Kalau rontgen tidak perlu karena sudah ada tabir Pb-nya. Ada apron
gonad, thyroid, semua ada. Digunakannya di situasi tertentu kalau
membutuhkan. Apron biasanya digunakan untuk pasien hamil dan anak atau
radiografer yang memegangi anak kecil itu pakai apron (P1)
Sebenarnya ada banyak (APD). Apronnya sudah lengkap tapi jarang
dipakai juga. Karena sudah di balik tabir, misalkan pasien anak-anak susah
untuk diam jadi harus dipegangi. Karena ga terbatas jadi yang pakai
radiografernya yang bantu pegangin. Apron ada 2 tapi ada tambahan tapi
saya belum hitung. Kalau thyroid dan gonad masing-masing satu. Sarung
tangan itu cuma administratif, tapi kalau sekarang belum dipakai. Biasanya
untuk pemeriksaan fluroskopi tapi di sini belum ada. (P2)
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium dan
rontgen. Pemantauan dosis radiasi menggunakan alat untuk mengukur dosis
radiasi secara akumulasi, sesuai dengan yang diungkapkan responden sebagai
berikut:
Paling medical check up ya. Dilakukan setahun sekali kalau akan ijin
(perijinan alat). Pemeriksaan yang dilakukan itu rontgen sama darah
lengkap. (P1)
Ada, rutin setahun sekali. Pemeriksaan laboratorium, rontgen. (P4)
TLD itu kan untuk dosis jadi kita perbulannya berapa. Nanti dinilaikan
dan dilaporkan ke Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) di
Jakarta. Sejauh ini dosisnya masih normal.(P1)
Ada monitor radiasi, jenis TLD.(P4)

11
3.2. Pembahasan
Penerapan budaya keselamatan kerja di Instalasi Radiologi RS Paru Respira
Yogyakarta tahun 2016 meliputi sistem manajemen keselamatan, lingkungan
kerja, dan perilaku keselamatan.
3.2.1. Sistem Manajemen Keselamatan
3.2.1.1. Komitmen Top Management
Komitmen yang diberikan pimpinan sangat berpengaruh untuk terwujudnya
budaya keselamatan bagi radiografer. Komitmen top manajemen merupakan
faktor utama sesuai bahwa komitmen pihak manajemen baik yang berupa
tindakan, tulisan, maupun kata-kata, menjadi faktor terpenting untuk terciptanya
budaya keselamatan. Komitmen dari manajemen dapat terwujud dengan
memberikan perlengkapan keselamatan kerja, pengawasan, membuat peraturan
dan prosedur kerja yang mudah dipahami dan dilaksanakan[10].
3.2.1.2. Peraturan dan Prosedur Keselamatan Kerja
Rumah sakit juga sudah memberikan dan memberlakukan peraturan dan
prosedur kerja dalam bentuk SOP yang wajib dilaksanakan oleh seluruh pekerja
termasuk radiografer. Peraturan dan prosedur yang baik dan benar, mudah
dimengerti dan mudah diterapkan oleh pekerja. Terdapat sanksi apabila melanggar
peraturan dan prosedur tersebut[10].
3.2.1.3. Komunikasi, Kompetensi, dan Keterlibatan Pekerja
Komunikasi antara manajemen dan staf merupakan faktor sangat penting
untuk meningkatkan kompetensi dan keterlibatan pekerja, dimana dua faktor ini
sangat berpengaruh pada perilaku pekerja. Oleh karena itu komunikasi menjadi
sangat penting diperhatikan untuk memperbaiki perilaku sikap pekerja radiasi
rumah sakit[6]. Jika radiografer memiliki kompetensi yang baik, diharapkan
mampu meminimalisir risiko terjadi kecelakaan kerja dan meningkatkan
kompetensi radiografer yang lain terhadap keselamatan kerja.
3.2.2. Lingkungan Kerja
Persepsi seseorang mempengaruhi sikap dan perilaku terhadap keselamatan
kerja. Mengidentifikasi persepsi dan radiografer dengan melakukan survei tentang
pandangan atau persepsi radiografer tentang lingkungan kerja yang
mempengaruhi keamanan selama bekerja[7]. Lingkungan kerja yang baik dapat
menciptakan suasana kerja yang aman dan nyaman bagi radiografer sehingga
tidak mudah bosan dan lelah selama bekerja.
3.2.3. Perilaku Keselamatan
Hampir semua radiografer tidak patuh dalam memakai APD karena
radiografer menganggap mereka berada di balik tabir timbal, sehingga mereka
merasa aman walaupun bekerja tanpa memakai APD. Selain itu hasil TLD selama
ini selalu di ambang batas normal yaitu 0.10 mSv. APD yang harus dipakai cukup
berat, misalnya apron seluruh tubuh yang beratnya mencapai 2kg[11]. Alasan
lainnya yaitu untuk menghindari pengulangan foto pada pasien terutama pasien
yang perlu dibantu saat melakukan foto (dipegang) maka radiografer tidak
menggunakan apron agar waktu digunakan lebih cepat. Selain penggunaan apron,
radiografer harus memakai masker setiap kali bekerja demi terhindar dari efek
nosokomial yaitu penularan penyakit dari pasien ke radiografer dan sebaliknya[11].

12
Mengingat RS Paru Respira merupakan rumah sakit khusus yang menangani
penyakit paru-paru dan pernafasan dan penularannya dapat melalui udara.
Pemeriksaan kesehatan bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan
pekerja radiasi baik sebelum, selama maupun sesudah masa kerja minimal hingga
30 tahun data kesehatan disimpan. Pemeriksaan kesehatan meliputi anamnesis
riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pendukung antara lain
rontgen dan pemeriksaan laboratorium yang bertujuan untuk mengetahui keadaan
umum dan khusus dari metabolisme tubuh terutama yang berhubungan dengan
paparan radiasi. Selain itu pemeriksaan laboratorium juga mencakup pemeriksan
kromosom, analisis sperma[12].
Dosis radiasi yang aman bagi manusia yaitu dosis maksimum yang dapat
diterima oleh tubuh manusia tanpa menimbulkan efek terhadap manusia dan
sesuai dengan Nilai Batas Dosis (NBD). NBD ditentukan berdasarkan penetapan
organisasi internasional yang menangani proteksi radiasi yaitu International
Commission on Radiological Protection (ICRP). Selain mengacu pada ICRP,
untuk menentukan NBD juga mengacu pada instansi yang berwenang dalam
bidang tenaga nuklir (atom) yaitu Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) yaitu <50 mSv/tahun[9] [13].

4. Kesimpulan
Penerapan budaya keselamatan oleh radiografer harus didukung dengan
sistem manajemen keselamatan yang meliputi komitmen top manajemen,
peratudan dan prosedur keselamatan, komunikasi, kompetensi, dan keterlibatan
radiografer, serta lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Semua ini harus
didukung oleh perilaku radiografer yang mengutamakan keselamatan kerja selama
bekerja.

Daftar Pustaka
1. Undang-Undang RI, 2009, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36
tentang Kesehataan, Jakarta.
2. Maryanto, D., Solichin, Zaenal, A., 2008, Analisis Keselamatan Kerja
Radiasi Pesawat Sinar-X di Unit Radiologi RSU Kota Yogyakarta, Seminar
Nasional IV SDM Teknologi Nuklir Yogyakarta, BATAN:679-690
3. Kepmenkes RI, 2007, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 375/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Radiografer,
Jakarta.
4. Akhadi, M., 2002, Budaya Keselamatan dalam Pemanfaatan Radiasi di
Rumah Sakit, Buletin ALARA, Jakarta, dalam Mayerni dkk, 2013, Dampak
Radiasi terhadap Kesehatan Pekerja Radiasi di RSUD Arifin Achmad, RS
Santa Maria dan RS Awal Bros Pekanbaru, Jurnal Ilmu Lingkungan, 7
(1):Pp. 114-127
5. Terinate, Kelvin dan Oentoro, Albert, 2010, Pengaruh Budaya Keselamatan
Kerja Pada Proyek Konstruksi Terhadap Unsafe Act Pekerja, Skripsi,
Universitas Kristen Petra.
6. Khoiri, Muhammad, 2010, Upaya Peningkatan Budaya Keselamatan Pekerja
Radiasi Rumah Sakit di Indonesia, Seminar Nasional VI SDM Teknologi
Nuklir Yogyakarta, BATAN:571-576

13
7. Cooper, Dominic, 2001, Improving Safety Culture: A Practical Guide,
Apllied Behaviour Science, Hull. Pp: 14-27
8. Peraturan Pemerintah RI, 2007, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan
Sumber Radioaktif, Jakarta.
9. BAPETEN, 1999, Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir
Nomor:01/Ka-Bapeten/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap
Radiasi, Jakarta.
10. Andi, Ratna, S. A., Aditya, C., 2005, Model Persamaan Struktural Pengaruh
Budaya Keselamatan Kerja pada Perilaku Pekerja di Proyek Konstruksi,
Jurnal Teknik Sipil, 12(3):Pp. 127-136
11. Hendra, dkk, 2011, Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Praktik
Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) pada Radiografer di Instalasi
Radiologi 4 Rumah Sakit di Kota Semarang, Jurnal Kesehatan Masyarakat
Indonesia, 7 (1):Pp. 9-1
12. Tetriana, D., Evalisa, M., 2006, Sangat Penting, Pemeriksaan Kesehatan
Pekerja Radiasi, Buletin ALARA, 7 (3): Pp. 93-101
13. Wardhana, W.A., Teknologi Nuklir Proteksi Radiasi dan Aplikasinya, ANDI,
Yogyakarta, Hal. 189-192

14
Efektivitas Penanganan Limbah Padat
di Rumah Sakit Umum Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan

Veza Azteria
Prodi D4 K3, Universitas Balikpapan
E-mail: veza.azter@gmail.com

Abstrak

Limbah padat rumah sakit mengandung bahan berbahaya (bersifat infeksius, toksik dan
radioaktif) jika tidak dikelola dengan baik maka dapat menimbulkan polusi bagi
lingkungan serta berbahaya terhadap kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengkaji efektifitas penanganan limbah padat Rumah Sakit Umum Daerah Dr.
Kanudjoso Djatiwibowo. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional
deskriptif yang dilakukan secara cross sectional dengan pengamatan, menganalisa,
observasi dan mengolah data serta informasi yang telah dikumpulkan secara sistematik.
Hasil penelitian pengelolaan limbah padat rumah sakit Dr. Kanudjoso Djatiwibowo mulai
dari minimasi limbah, pemilahan, pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan,
pengolahan, pemusnahan dan pembuangan limbah padat sudah sesuai berdasarkan
Peratuan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1204/Menkes/SK/X/2004 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Namun yang perlu diperbaiki adalah
kesadaran petugas dan kedisiplinan dalam penggunaan alat pelindung diri (APD).
Sehingga perlu ditingkatkan dari segi pengawasan dan pelatihan secara berkala.

Kata kunci: limbah padat, lingkungan, rumah sakit.

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk
pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Rumah sakit dalam melaksanakan
fungsinya menghasilkan limbah baik limbah padat maupun cair. Limbah-limbah
tersebut kemungkinan besar mengandung mikroorganisme patogen atau bahan
kimia beracun berbahaya yang menyebabkan penyakit infeksi dan dapat tersebar
ke lingkungan rumah sakit. Beban limbah rumah sakit tergantung pada jumlah
pasien yang dilayani oleh rumah sakit dan akan meningkat seiring dengan
peningkatan kapasaitas pelayanan rumah sakit.
Penanganan limbah padat infeksius di rumah sakit diperlukan sejak awal
kegiatan, karena jika penanganan awal sudah dilaksanakan diharapkan buangan
tersebut tidak menimbulkan gangguan pada instalasi pengolah limbah. Limbah
rumah sakit merupakan limbah infeksius yang dapat menimbulkan infeksi
nosokomial, dapat membahayakan bagi pasien rawat inap maupun karyawan
(medis, non medis, perawat) yang ada pada rumah sakit tersebut serta pengunjung
atau pasien yang menjalani rawat jalan maupun terhadap lingkungan yang ada di
sekitar rumah sakit.
Limbah buangan dari rumah sakit berasal dari bagian tubuh maupun
jaringan manusia, darah atau cairan darah, zat ekskresi, obat obatan maupun
produk kimia, kain pel ataupun pakaian, jarum suntik, gunting dan benda tajam
lainnya. Sehingga limbah dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori (Amro

15
Atik 2011) yaitu: limbah umum (limbah dari makanan atau minuman, limbah
cuci, bahan pengemas), limbah patologis (plasenta, darah dan cairan tubuh),
limbah infeksius, limbah benda tajam (jarum suntik, gunting), limbah farmasi
(obat-obatan), limbah sitotoksik, limbah radioaktif.
Adapun sarana pengelolaan limbah dirumah sakit salah satunya
menggunakan insinerator. Dengan adanya unit insinerator diharapkan selain
mengurangi volume sampah sebelum dibuang dapat juga menghilangkan sifat
berbahaya dan beracunnya. Sedangkan untuk limbah domestik padat dibuang pada
tempat pembuangan sampah sementara. Berdasarkan adanya aktifitas pelayanan
rumah sakit dalam pelayanan medis yang menghasilkan limbah padat, maka
peneliti melihat penting untuk dilakukan penelitian terhadap efektifitas
penanganan limbah padat yang ada di Rumah Sakit Dr. Kanudjoso Djatiwibowo.
1.2. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektifitas penanganan limbah padat
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Kanudjoso Djatiwibowo.

2. Metode Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ada tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap
pelaksanaan dan tahap analisa data.
2.1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan persiapan-persiapan seperti proses administrasi,
pelaksanaan evaluasi, studi literatur hingga penyusunan laporan.
2.2. Tahap Pelaksanaan
Penelitian dilaksanakan di RS. Dr.Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan Jl.
MT Haryono No. 656 dimulai dari bulan Juli 2015 Agustus 2015. Data yang
diperoleh dan dikumpulkan dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan
data sekunder.
1. Data Primer
a. Melalui interview, penulis melakukan wawancara langsung kepada
pembimbing lapangan dan pegawai rumah sakit.
b. Melalui observasi lapangan, penulis melakukan kunjungan ke lokasi-lokasi
di rumah sakit dan mengamati proses pengelolaan limbah padat mulai dari
sumber timbulan limbah padat, kuantitas dan pengelolaan limbah padat.
2. Data Sekunder
a. Data laporan harian
b. Dokumen dan referensi dari rumah sakit
c. Data gambaran umum rumah sakit
d. Data sumber timbulan limbah padat
e. Data-data lain sebagai penunjang.
2.3. Tahap Analisa Data
Penelitian ini dirancang sebagai penelitian evaluasi bersifat observasional
deskriptif yang dilakukan secara cross sectional dengan pengamatan,
menganalisa, observasi dan mengolah data serta informasi yang telah
dikumpulkan secara sistematik. Data primer yang diperoleh dari hasil pengamatan
dianalisa berdasarkan standar yang ada di rumah sakit. Analisa data dikhususkan
pada sumber timbulan dan kuantitas limbah padat dalam proses pengelolaan
limbah padat. Selain itu membandingkan dengan peraturan menteri kesehatan

16
dengan membandingkan dengan kondisi lapangan yang sebenarnya kemudian
membuat kesimpulan dan memberikan saran apabila diperlukan.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Dasar Hukum
Efektifitas penanganan limbah padat yang ada di RS Dr. Kanudjoso
Djatiwibowo mengacu pada Peratuan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah
Sakit. Peraturan tersebut menetapkan prosedur untuk pengelolaan limbah padat
rumah sakit dalam mengelola limbah mulai dari minimasi limbah, pemilahan,
pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, pemusnahan dan
pembuangan limbah padat.
3.2. Limbah Padat
Limbah padat rumah sakit dibagi kedalam dua jenis yaitu limbah non medis
dan limbah medis. Adsavakulchai (2002) limbah medis meliputi:
a. Non medis limbah: benda tajam seperti jarum suntik, pipa pasteur,
perlengkapan intravera, botol obat, infus plastik, tabung, masker bedah dan
perban.
b. Patologi limbah: darah cairan tubuh, jaringan dan bagian tubuh
c. Limbah farmasi: obat yang kadaluarsa, obat yang tersisa.
Menurut Reinhardt (1991) limbah medis merupakan limbah patologi,
limbah infeksius, benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksik dan limbah
radioaktif.
3.3. Analisa Penanganan Limbah Padat Non Medis
Banyak limbah yang dihasilkan dari rumah sakit. Tidak semua limbah yang
dihasilkan berbahaya, tetapi prosedur penanganan yang paling berbahaya dan
membutuhkan spesifik yang tidak menimbulkan ancaman saat menangani.
3.3.1. Pemilahan dan Penyimpanan
Sampah biasanya ditampung di tempat penampungan dengan bentuk,
ukuran dan jumlah yang disesuaikan dengan jenis dan jumlah sampah serta
kondisi setempat. Adapun persyaratan penampungan sampah antara lain
(Departemen Kesehatan, 2002):
a. Bahan tidak mudah berkarat
b. Kedap air terutama untuk menampung limbah basah
c. Bertutup rapat
d. Mudah dibersihkan
e. Mudah dikosongkan atau diangkut
f. Tidak menimbulkan bising
g. Tahan terhadap benda tajam atau runcing.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung ke lapangan, di
Rumah Sakit Dr.Kanudjoso Djatiwibowo sudah melakukan semua prosedur
tersebut dengan baik. Untuk memudahkan pengosongan dan pengangkutan, pihak
petugas menggunakan kantong plastik kuning pelapis dalam bak sampah. Kantong
plastik tersebut membantu membungkus sampah pada saat pengangkutan
sehingga mengurangi kontak dengan manusia, mengurangi bau dan tidak terlihat
sehingga lebih estetis dan memudahkan dalam pencucian bak sampah (Wilson,
l977).

17
3.3.2. Pengangkutan
Untuk merencanakan pengangkutan sampah rumah sakit perlu
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut (Wilson, 1977):
a. Penyebaran tempat penampungan sampah
b. Jalur jalan dalam rumah sakit
c. Jenis dan kapasitas sampah
d. Jumlah tenaga dan sarana yang tersedia.
Pengangkutan limbah padat dilakukan setiap hari yaitu pada waktu pagi
(05.30 - 07.00) dan sore hari (15.00 17.00) dengan menggunakan troli. Troli
digunakan untuk mengangkut limbah medis dan non medis secara bersamaan.
Petugas yang mengangkut limbah harus dilengkapi dengan menggunakan
perlengkapan seperti pakaian kerja khusus, sarung tangan dari bahan neophrane,
masker, topi pengaman dan sepatu boot atau lars.
3.3.3. Pembuangan
Untuk sampah non medis pembuangan limbah dilakukan setiap hari pada
sore hari. Pembuangan limbah non medis langsung ditangani oleh Pihak
Kebersihan Kota Balikpapan yang langsung diangkut ke tempat pembuangan
akhir Manggar. Keberadaan sampah dengan daur ulang dapat dilakukan seperti
limbah plastik yang digunakan sebagai botol minuman, kaleng minuman, kardus.
3.4. Analisa Penanganan Limbah Medis
Tidak semua limbah medis berbahaya, tetapi sebagian besar membahayakan
sehingga memerlukan prosedur penanganan, penampungan dan pengangkutan
serta pemusnahannya karena alasan sebagai berikut (Wilson,1977):
a. Volume limbah yang dihasilkan melebihi kemampuan pembuangannya
b. Beberapa limbah berpotensi menimbulkan bahaya dalam pembuangan apabila
tidak ditangani dengan baik.
Limbah ini menimbulkan pencemaran lingkungan bila mereka dibuang
secara sembarangan dan akhirnya membahayakan atau menganggu kesehatan
masyarakat. Coloni (2001) menyatakan bahwa risiko penularan akan muncul pada
saat pembuangan dari sumbernya, proses pengumpulan, pengangkutan,
penyimpanan hingga penanganan baik onsite maupun offsite.
3.4.1. Pemilahan dan Pengumpulan
Hal yang paling penting dalam mengurangi risiko dalam menangani limbah
adalah dengan menggunakan pewadahan dengan tepat. Yaitu dengan menangani
limbah dari sumber. Bila hal ini dilakukan dengan benar, maka kontak selama
penanganan saat sorting dan repacking yang berisiko penyebab terjadinya
penularan bisa dihindari.
Menurut Reinhardt (1991) pertimbangan pertama adalah untuk mengetahui
tipe limbah infeksius, dimana digolongkan menjadi tiga tipe yaitu limbah padat,
limbah benda tajam dan cair. Ketiganya memiliki perbedaan besar secara fisik,
kimia dan risiko. Tempat sampah dalam penggunaannya harus dilapisi plastik
kuning dengan ukuran 60x100 cm yang biasa ditemui di ruang perawatan, ruang
operasi, radiologi, ruang medis, dan farmasi.
3.4.2. Pengangkutan
Pengaturan waktu pembuangan sudah cukup jelas yaitu shift pagi (05.30 -
07.00) dan sore (15.00 17.00). Rute transportasi limbah sebagian besar melalui
jalan-jalan yang dilalui oleh pasien seperti koridor dll. Kekurangan yang dihadapi
dalam pengangkutan limbah padat atau limbah medis, ada beberapa petugas

18
pengangkut yang tidak menggunakan kelengkapan standar yang terkandung dalam
Peraturan Departemen Kesehatan. Selain itu, troli pengangkut yang tidak ditutup.
Kurang lengkapnya standar ini menyebabkan mudahnya transmisi penyakit
kepada petugas pengelolaan limbah padat.
Selama proses pengumpulan dari setiap bin ke transportasi dari
pembuangan, petugas yang bekerja kadang tidak menggunakan peratan
keselamatan yang diberikan. Perangkat keselamatan yang harus digunakan antara
lain sarung tangan, masker, sepatu bot (World Health Organization, 1999).
Rumah Sakit Dr.Kanudjoso Djatiwobowo sendiri telah membuat aturan, tetapi
kurangnya pengawasan dan kesadaran personil sendiri masih kurang efektif.
3.4.3. Penyimpanan
Untuk limbah medis setelah trasnportasi dilakukan, limbah tas kuning
dikumpulkan dalam ruang khusus. Fungsi penyimpanan adalah untuk
mengumpulkan limbah medis sebelum dibakar atau dikirm ke insinerator.
Tujuannya adalah agar tidak terjadi penularan melalui udara, kontak langsung atau
melalui hewan. Pada prinsipnya limbah medis harus segera diproses secepat
mungkin. Untuk limbah medis Rumah Sakit Dr.Kanudjoso Djatiwibowo
penyimpan dilakukan 1 x 24 jam.
Limbah tidak boleh disimpan terlalu lama pada suhu kamar, karena dapat
mendorong pertumbuhan penyakit, disamping bahan-bahan pertimbangan
estetika. Membatasi akses sehingga hanya orang tertentu yang bisa memasuki
area, melakukan pelabelan dan pemilihan tempat yang tepat untuk penyimpanan.
3.4.4. Pengolahan Limbah Medis
Dalam pengolahan limbah medis rumah sakit dilihat dari segi ekonomi,
teknis, lingkungan dan sosial dengan adanya partisipasi dari pihak swasta. Metode
yang paling direkomendasikan adalah dengan menggunakan insinerator
(Tchobanoglous, 1993). Proses Pembakaran yang dilakukan pihak Rumah Sakit
Umum Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan menggunakan insinerator
dilakukan berdasarkan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 25
tahun 2010 Tentang Izin Pengoperasian Alat Pengolahan (Insinerator) Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun Infeksius.

Gambar 1. Insinerator (Kiri) Residu Hasil Pembakaran (Kanan)

Pembakaran dilaksanakan oleh dua orang petugas cleaning service dan satu
orang operator, dengan metode kerja shift. Waktu pembakaran dilakukan setiap
hari pada pukul 17.00 WITA, pada waktu ini dianggap efektif karena dianggap
tidak menganggu pegawai atau masyarakat yang beraktifitas disekitar rumah sakit.

19
Kecuali yang berada di wilayah parkir belakang gedung anggrek hitam rumah
sakit Dr.Kanudjoso Djatiwibowo. Timbulan limbah medis padat yang dibakar
berkisar 120 150 kg/hari, dengan daya tampung yang dimiliki insinerator adalah
3 kubik.
Pada pengoperasian insinerator lebih diperhatikan pada residu yang
dihasilkan baik ke udara maupun abu yang akan dibuang. Berdasarkan lokasinya
insinerator dapat bersifat onsite ataupun offsite. Pada Rumah Sakit Dr.Kanudjoso
Djatiwibowo uji emisi insinerator dilakukan 3-6 bulan sekali, yang dilakukan oleh
pihak Sucofindo atau Mutu Agung Samarinda. Proses pembuangan abu
pembakaran di Rumah Sakit Umum Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan
dilakukan oleh pihak ketiga atau rekanan yang mengambil hasil abu/residu dari
abu pembakaran limbah padat infeksius. Proses pengambilan abu atau residu sisa
pembakaran dilakukan 2-3 hari dengan jumlah pembuangan abu berkisar 1 ton.
Namun, masih banyak kekurangan dalam penerapannya limbah padat. Hal ini
dikarenakan kurangnya kesadaran petugas dan kedisiplinan dalam penggunaan
alat pelindung diri (APD). Salah satu penyebabnya kurang adanya pengawasan,
pelatihan yang sifatnya berkala, dan pengetahuan mengenai limbah padat.

4. Kesimpulan
Dari hasil pemaparan dan penelitian diatas, maka dapat diketahui bahwa
limbah rumah sakit dapat menimbulkan polusi bagi lingkungan serta serta
berbahaya terhadap kesehatan pasien apabila tidak dikelola dengan baik. Maka
perlu dilakukan penanganan yang baik dari sumber limbah hingga pemusnahan
limbah tersebut. Berdasarkan Peratuan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah
Sakit, penanganan limbah padat di rumah sakit dr.Kanudjoso Djatiwibowo sudah
cukup baik dalam mengelola limbah mulai dari minimasi limbah, pemilahan,
pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, pemusnahan dan
pembuangan limbah padat. Namun yang perlu diperbaiki adalah kesadaran
petugas dan kedisiplinan dalam penggunaan alat pelindung diri (APD). Sehingga
perlu ditingkatkan dari segi pengawasan, dan pelatihan secara berkala.

Daftar Pustaka
Adsavakulchai. 2002. Study on Waste from Hospital and Clinic Phitsanulok. Vol
1. Issue 3
Atik, AMA. 2011. Evaluasi Pengelolaan Limbah Padat Secara Terpadu di
Rumah Sakit. Vol 11. No 2. Jurnal Dian. [ 2 Mei 2011]
Colony,S. 2001. Hospital Waste Management at SMF. http://www.SMF-Hospital
Waste Management.htm
Reinaldht,PA and Gordon JG. 1991. Infectious and Medical Waste Management.
Michigan. Lewis Publisher Inc.
Tchobanaglous, George and Vigil, Samuel. 1993. Integrated Solid Waste
Engineering. Singapore; Mc Graw-Hill Book Co.
Wilson,D.G. 1977. Handbook Of Solid Waste Management. New Work. Van
Nostrand Reinhold Co.
World Health Organization.1999. Safe Management of Waste from Health-care
Activities.

20
Evaluasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Bengkel
St. Yosef Nenuk Atambua

Sebastianus Baki Henong


Fakultas Teknik, Prodi Teknik Sipil, Universitas Katolik Widya Mandira
E-mail: sebastian_baki@yahoo.co.id

Abstrak

Sumber daya manusia memegang peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi atau
perusahaan, oleh karena itu sumber daya manusia merupakan aset hidup yang perlu
dipelihara dan dikembangkan. Kenyataan bahwa manusia sebagai aset utama dalam
organisasi atau perusahaan, harus mendapatkan perhatian serius dan dikelola dengan
sebaik mungkin. Penelitian dilakukan di bengkel St. Yosef Nenuk. Bengkel ini terdiri dari
unit bengkel kayu (mebel), dan unit bengkel besi (otomotif), dengan mempekerjakan
sekitar 50 orang tenaga kerja. Penelitian ini diselesaikan menggunakan metode frekuensi
sederhana, dengan membagikan kuisioner kepada para pekerja. Hasil penelitian
menunjukan bahwa 62 % karyawan telah mengetahui dan memahami keselamatan dan
kesehatan kerja, dengan menggunakan alat pelindung diri ketika bekerja, sedangkan 38 %
sudah mengetahui adanya Keselamatan dan Kesehatan Kerja namun dalam pelaksanaan
tidak menggunakan alat pelindung diri sehingga masih terjadi kecelakaan. Karena itu
solusi yang diberikan adalah perlu adanya peringatan baik dari teman kerja maupun
manajemen untuk menegur bahkan memberikan sanksi kepada para karyawan jika tidak
menggunakan alat pelindung diri ketika bekerja sehingga dengan demikian kecelakaan
kerja dalam pelaksanaan konstruksi dapat diminimalisir bahkan dihilangkan.

Kata kunci: bengkel, kerja, kesehatan, keselamatan.

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Sumber daya manusia memegang peranan penting bagi keberhasilan suatu
organisasi atau perusahaan, oleh karena itu sumber daya manusia merupakan aset
hidup yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Kenyataan bahwa manusia
sebagai aset utama dalam organisasi atau perusahaan, harus mendapatkan
perhatian serius dan dikelola dengan sebaik mungkin. Hal ini dimaksudkan agar
sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan mampu memberikan kontribusi
yang optimal dalam upaya pencapaian tujuan organisasi. Dalam pengelolaan
sumber daya manusia inilah diperlukan manajemen yang mampu mengelola
sumber daya secara sistematis, terencana, dan efisien. Salah satu hal yang harus
menjadi perhatian utama bagi manajer sumber daya manusia ialah sistem
keselamatan dan kesehatan kerja (Ryska, 2013).
Keselamatan dan kesehatan kerja termasuk salah satu program pemeliharaan
yang ada di perusahaan. Pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja
bagi karyawan sangatlah penting karena bertujuan untuk menciptakan sistem
keselamatan dan kesatuan kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga
kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mengurangi
kecelakaan.
Bengkel St. Yosef Nenuk terdiri dari unit bengkel kayu (mebel) dan unit
bengkel besi (otomotif). Berdasarkan pengakuan beberapa konsumen hasil mebel

21
maupun reparasi otomotif dari bengkel ini, merasa sangat puas karena perabotan
yang dihasilkan sangat berkualitas, murah sehingga mampu dijangkau oleh
masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Oleh karena itu banyak konsumen
yang memesan mebel (meja, kursi, lemari dll) di bengkel ini.
Berdasarkan data yang diperoleh di Bengkel St. Yosef Nenuk, hampir setiap
tahun tenaga kerja yang bekerja di bengkel ini mengalami kecelakaan kerja,
padahal penerapan keselamatan dan kesehatan kerja sudah diterapkan semaksimal.
Data kecelakaan kerja selama lima tahun terakhir dapat dilihat dalam tabel 1 di
bawah ini.

Tabel 1. Data Kecelakaan Kerja Bengkel St. Yosef Nenuk


Jumlah
Tahun Keterangan
Kecelakaan Kerja
2011 5 Tangan luka terkena gergaji, kaki ditimpa benda tajam
2012 6 Tangan terluka, terjatuh di lantai dan tertimpa balok
2013 4 Kaki tertimpa kayu dan terjatuh di lantai
2014 7 Kaki tertimpa kayu, tangan luka
2015 5 Tangan terluka, terjatuh di lantai dan tertimpa balok
Jumlah 28
Sumber: Bengkel St. Yosef Nenuk

Berdasarkan data yang ada maka perlu diadakan evaluasi keselamatn dan
kesehatan kerja di Bengkel St. Yosef Nenuk Atambua sehingga kecelakaan kerja
dapat diminimalisir bahkan dihilangkan.
1.2. Tinjauan Pustaka
1.2.1. Pengertian Kecelakaan Kerja
1. Menurut Sulaksmono (1997) kecelakaan adalah suatu kejadian tak diduga dan
tidak dikehendaki yang mengacaukan proses suatu aktivitas yang telah diatur.
2. Menurut (OHSAS 18001, 1999) dalam Shariff (2007), kecelakaan kerja adalah
suatu kejadian tiba-tiba yang tidak diinginkan yang mengakibatkan kematian,
luka-luka, kerusakan harta benda atau kerugian waktu.
Dari kedua pengertian dapat dijelaskan bahwa kecelakaan kerja adalah
kejadian tak terduga dan juga tak diinginkan, yang mengacaukan proses aktivitas
dan juga menimbulkan kerugian pada manusia dan harta benda.
1.2.2. Penyebab Kecelakaan Kerja
Menurut Anizar (2009), ada dua faktor penyebab kecelakaan yaitu unsafe
action (faktor manusia) dan unsafe condition (faktor lingkungan).
Unsafe Action dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain:
1. Ketidakseimbangan fisik tenaga kerja yaitu: posisi tubuh yang menyebabkan
mudah lelah, cacat fisik, cata sementara, kepekaan panca indra terhadap
sesuatu.
2. Kurang pendidikan: kurang pengalaman, salah pengertian terhadap suatu
perintah, kurang terampil, salah mengartikan Standart Operational Procedure
(SOP) sehingga mengakibatkan kesalahan pemakaian alat kerja.
3. Menjalankan pekerjaan tanpa mempunyai kewenangan
4. Menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahliannya.
5. Pemakaian alat pelindung diri (APD) hanya berpura-pura
6. Mengangkut beban yang berlebihan

22
7. Bekerja berlebuhan atau melebihi jam kerja
Unsafe condition dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain:
1. Peralatan yang sudah tidak layak pakai
2. Ada api ditempat bahaya
3. Pengamanan gedung yang kurang standar
4. Terpapar bising
5. Pencahayaan dan ventilasi yang kurang atau berlebihan
6. Kondisi suhu yang membahayakan
7. Dalam keadaan pengamanan yang berlebihan
8. Sistem peringatan yang berlebihan
9. Sifat pekerjaan yang mengandung bahaya
1.2.3. Klasifikasi Kecelakaan Akibat Kerja
Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) (1962) seperti dikutip
oleh Anizar (2009) mengklasifikasikan kecelakaan akibat kerja antara lain:
1) Klasifikasi menurut jenis pekerjaan:
a. Terjatuh
b. Tertimpa benda jatuh
c. Tertumbuk atau terkena benda-benda, terkecuali benda jatuh
d. Terjepit oleh benda
e. Gerakan-gerakan melebihi kemampuan
f. Pengaruh suhu tinggi
g. Terkena arus listrik
h. Kontak dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi
i. Jenis-jenis lain termasuk kecelakaan-kecelakaan yang data-datanya tidak
cukup atau kecelakaan-kecelakaan lain yang belum masuk klasifikasi
kecelakaan diatas.
2) Klasifikasi menurut penyebab:
a. Mesin: pembangkit tenaga, terkecuali motor-motor listrik, Mesin penyalur,
mesin-mesin untuk mengerjakan logam, mesin-mesin pengolah kayu,
mesin-mesin pertanian, mesin-mesin pertambangan, mesin-mesin lain yang
tidak termasuk klasifikasi tersebut.
b. Alat angkut dan alat angkat: mesin angkat dan peralatannya, alat angkutan
diatas rel, alat angkutan lain yang beroda, terkecuali kereta api, alat
angkutan udara, alat angkutan air, alat-alat angkutan lain.
c. Peralatan lain: bejana bertekanan, dapur pembakar dan pemanas, instalasi
pendingin, instalasi listrik termasuk motor listrik tetapi dikecualikan alat-
alat listrik tangan, alat-alat listrik (tangan), alat-alat kerja dan
perlengkapannya, kecuali alat-alat listrik, tangga, perlatan lain yang belum
termasuk klasifikasi tersebut.
d. Bahan-bahan, zat-zat dan radiasi: bahan peledak, debu, gas, cairan dan zat-
zat kimia terkecuali bahan peledak, benda-benda melayang, radiasi, bahan
dan zat lain yang belum termasuk golongan tersebut.
e. Lingkungan kerja: di luar bangunan, di dalam bangunan, di bawah tanah
3) Klasifikasi Menurut Sifat Luka atau Kelainan
a. Patah tulang
b. Dislokasi/kaseleo
c. Regang otot/urat
d. Memar dan luka dalam yang lain

23
e. Amputasi
f. Luka dipermukaan
g. Gegar dan remuk
h. Luka bakar
i. Keracunan-keracunan mendadak
j. Mati lemas
k. Pengaruh arus listrik
l. Pengaruh radiasi
m. Luka-luka yang banyak dan berlainan sebabnya
4) Klasifikasi menurut Letak Kelainan atau Luka di Tubuh
a. Kepala
b. leher
1.2.4. Kerugian Akibat Kecelakaan
Setiap kecelakaan kerja pasti akan menimbulkan kerugian-kerugian, baik itu
kerugian material maupun fisik. Menurut Anizar (2009) kerugian yang
diakibatkan oleh kecelakaan kerja antara lain:
1. Kerugian Ekonomi:
a. Kerusakan alat/mesin, bahan dan bangunan
b. Biaya pengobatan dan perawatan
c. Tunjangan kecelakaan
d. Jumlah produksi dan mutu yang berkurang
e. Kompensasi kecelakaan
f. Penggantian tenaga kerja yang mengalami kecelakaan
2. Kerugian non ekonomi yang meliputi:
a. Penderitaan korban dan keluarga
b. Hilangnya waktu selama sakit, baik korban maupun pihak keluarga
c. Keterlambatan aktivitas akibat tenaga kerja lain berkerumun/berkumpul,
sehingga aktivitas terhenti sementara
d. Hilangnya waktu kerja
3. Kerugian langsung: pengobatan dan perawatan, kompensasi, kerusakan
bangunan, kerusakan perkakas dan peralatan.
4. Kerugian tidak langsung: tertundanya produksi, biaya untuk mendapatkan
karyawan penggantinya, biaya training, upah lembur, waktu kerja dari
pengawas tambahan, hilangnya waktu kerja si korban, hilangnya waktu kerja
bagi keluarga yang datang menjenguk si korban, waktu untuk menyelesaikan
urusan administrasi, biaya untuk membayar karyawan pendamping.

2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode frekuensi
sederhana. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan
wawancara (Sugiyono, 2013). Data responden dihimpun lalu dijumlahkan.
Pertanyaan yang diberikan dalam kuesioner dijawab dengan setuju atau tidak.
Berapa orang yang menyetujui setiap pertanyaan yang diberikan dalam kuesioner.
Selain itu juga diadakan wawancara dengan pihak manajemen maupun beberapa
tukang.

24
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Hasil
Dari 60 kuesioner yang disebar ke responden (karyawan bengkel), kembali
ke peneliti sebanyak 50 dengan rincian, umur responden berkisar antara 25-60
tahun. Pendidikan responden berkisar antara Sekolah dasar dan Sekolah
menengah pertama dan semua responden telah menikah dan mempunyai anak.
Ada sepuluh pertanyaan yang diberikan kepada para responden dalam kuesioner
dan jawaban yang diperoleh dapat dilihat dalam tabel 2.

Tabel 2. Jawaban Kuesioner


Jawaban Ya
No Pertanyaan
Ya Tidak %
Apakah dibengkel selalu disediakan pelindung kerja seperti 31 19 62
1. helm, sepatu boots, sarung tangan, masker, dll yang dapat
menghindarkan saya dari kecelakaan kerja
Apakah pelindung kerja seperti helm, sepatu boots, sarung 31 19 62
2.
tangan, masker, dll dalam keadaan baik?
Apakah semua peralatan kerja dalam kondisi baik dan layak 31 19 62
3.
pakai?
Apakah peralatan yang berbahaya telah diberi suatu tanda 38 12 76
4.
peringatan
Apakah perusahaan memberikan pelatihan dan pendidikan bagi 37 13 74
5. setiap karyawan untuk bertindak dengan aman dalam
menyelesaikan pekerjaan?
Melalui pendidikan yang saya peroleh, saya dapat menjalankan 42 8 84
6.
tugas dan dapat memperbaiki kualitas kerja saya
Setiap karyawan yang bekerja berada dalam kondisi lingkungan 42 8 84
7.
kerja yang aman dan bersih
Apakah perusahaan melakukan pengawasan secara lebih 33 27 66
8.
intensif terhadap pelaksanaan pekerjaan saya
Apakah perusahaan memberikan metode/ petunjuk kerja yang 35 15 70
9.
dapat mempermudah pekerjaan saya
Apakah perusahaan menyediakan obat-obatan untuk 42 8 84
10.
pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan
Apakah perusahaan memberikan jaminan kesehatan kepada 42 8 84
11.
setiap karyawan

3.2. Pembahasan
Dari analisa yang telah dipaparkan dalam tabel 2, dapat dijelaskan:
1. Pada umumnya manajemen di bengkel St. Yosef Nenuk Atambua telah
mengetahui akan pentingnya Alat Pelindung Diri (APD) sehingga manajemen
menyediakan APD yang dibutuhkan oleh para karyawan. Namun ada beberapa
alat pelindung yang tidak terlihat misalnya helm dan kaos tangan. Hal ini
ditujukan dengan 62 % responden menyetujui pertanyaan pertama. Selain itu
juga pihak manajemen juga menyediakan obat-obatan dalam kotak P3K. Hal
ini dapat membantu para pekerja sehingga ketika terjadi kecelakaan para
pekerja perlu mendapatkan pertolongan pertama sebelum di bawa ke Rumah
Sakit dan para pekerja mengetahui akan hal ini.
2. Pihak manajemen juga menyediakan waktu serta tenaga (pekerja) untuk
mengikuti program Pendidikan dan Pelatihan pada kursus-kursus baik yang
diadakan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah Provinsi. Selain itu juga

25
tenaga-tenaga terampil dari Bengkel ini diminta untuk membimbing para siswa
(magang) dari beberapa Sekolah Kejuruan.
3. Pihak manajemen selalu mengawasi pekerja di bengkel, dan selalu
memberitahu/mengajari penggunaan alat-alat secara benar sehingga para
pekerja tidak bekerja sendiri dalam ketidaktahuan tetapi selalu mendapat
bimbingan.
4. Ada beberapa karyawan yang seringkali lalai dalam menjalankan aturan yang
telah ditetapkan oleh pihak manajemen misalnya tidak menggunakan APD
secara baik dan benar, meninggalkan bengkel dalam keadaan kotor dan alat
kerja yang berserakan di lantai, kerja tidak sesuai dengan petunjuk yang
diberikan oleh pengawas sehingga pihak manajemen.

4. Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukan bahwa 62 % karyawan telah mengetahui dan
memahami keselamatan dan kesehatan kerja, dengan menggunakan alat pelindung
diri ketika bekerja, sedangkan 38 % sudah mengetahui adanya Keselamatan dan
Kesehatan Kerja namun dalam pelaksanaan tidak menggunakan alat pelindung
diri sehingga masih terjadi kecelakaan.

5. Saran
1. Berhadapan dengan karyawan yang kurang tertib dalam menjalankan tugasnya,
misalnya terlambat hadir tepat waktu, tidak menggunakan APD ketika bekerja,
membiarkan alat kerja berhamburan di lantai pihak manajemen sebaiknya
memberikan teguran langsung maupun tertulis. Jika masih terus dilanggar
hendaknya diberi sanksi, karena selama ini sanksi belum pernah diterapkan
kepada pekerja.
2. Pihak manajemen hendaknya terus mengawasi pekerja, sehingga para pekerja
tidak bekerja sendirian. Ketika terjadi ketidaktahuan dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan atau penggunaan mesin, para pekerja langsung bertanya dan
mendapat jawaban yang benar, dengan demikian pekerja merasa aman, nyaman
dan produktif.

Daftar Pustaka
Ryska, R, Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan PT Ceria Utama Abadi, cabang Palembang, 2013
Sulaksmono, Handout: Manajemen Keselamatan Kerja, Surabaya, 1997
Shariff, S.M, Occupational Safety and Health Management, University
Publication Centre (UPENA), Malaysia: Universiti Teknologi MARA. 2007
Anizar, Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri, Graha Ilmu
Yogyakarta, 2012
Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods), Alfabeta Bandung,
2013

26
Evaluasi Penggunaan Alat Pelindung Diri
Pada Perawat Unit Hemodialisa
di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II

Istika Dwi Kusumaningrum1, Widodo Hariyono2


1
Program Studi Kesehatan Masyarakat, STIKES Surya Global, Yogyakarta
Jalan Ring Road Selatan, Blado Potorono, Banguntapan, Bantul
Tel: 085643301114. E-mail: istikadk@gmail.com
2
Prodi IKM, FKM, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Abstrak

Pelayanan yang diberikan kepada pasien hemodialisa infeksius dengan mengutamakan


pencegahan penularan infeksius dengan menggunakan alat pelindung diri (APD). Faktor
ketidakpatuhan petugas dalam menggunakan alat pelindung diri diantaranya adalah
kurangnya pengetahuan petugas terhadap bahaya risiko, alat pelindung diri dirasa kurang
nyaman, serta sistem pengawasan yang buruk terhadap penggunanaan alat pelindung diri.
Penggunaan APD di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II belum maksimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan alat pelindung diri (APD) pada
perawat unit Hemodialisa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif
dan hasil disajikan secara deskriptif dengan rancangan penelitian studi kasus (case study).
Subjek penelitian ini dilakukan kepada Direksi dan perawat unit Hemodialisa. Objek
penelitian ini adalah Penggunaan alat pelindung diri (APD) pada perawat unit
Hemodialisa.
Metode telusur didapatkan hasil bahwa temuan dari hasil observasi, bukti pelaksanaannya
hanya dapat ditemukan sebagian saja yang dilaksanakan. Kebijakan maupun prosedur
sudah ditetapkan dan dilaksanakan tetapi tidak dapat dipertahankan. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa evaluasi penggunaan APD di unit Hemodialisa masih kurang.
Penggunaan APD di unit Hemodialisa tidak dilaksanakan dengan baik karena sebagian
petugas tidak mengenakan APD secara lengkap. Pengawasan di unit Hemodialisa belum
maksimal mengingat supervisor masih disibukkan dengan kegiatan pelayanan sehingga
fungsi managerial belum terlaksana dengan baik.

Kata kunci: alat pelindung diri (APD), perawat, unit hemodialisa.

1. Pendahuluan
Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, khususnya pasal
165: Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan
melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga
kerja. Berdasarkan pasal diatas maka pengelola tempat kerja di Rumah Sakit
mempunyai kewajiban untuk menyehatkan para tenaga kerjanya. Salah satunya
adalah melalui upaya kesehatan kerja disamping keselamatan kerja1.
Kementerian Kesehatan melakukan revitalisasi Program Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi (PPI) di rumah sakit yang merupakan salah satu pilar
menuju patient safety. Diharapkan kejadian infeksi di rumah sakit dapat
diminimalkan serendah mungkin sehingga masyarakat dapat menerima pelayanan
kesehatan secara optimal. Sebagai perbandingan, bahwa tingkat infeksi
nosokomial yang terjadi di beberapa negara Eropa dan Amerika adalah rendah
yaitu sekitar 1% dibandingkan dengan kejadian di negara-negara Asia, Amerika

27
Latin dan Sub-Afrika yang tinggi hingga mencapai lebih dari 40% dan menurut
data WHO, angka kejadian infeksi di RS sekitar 3 21% (rata-rata 9%). Hasil
laporan National Safety Council (NCS) tahun 2008 menunjukkan bahwa
terjadinya kecelakaan di rumah sakit 41% lebih besar dari pekerja di industri lain.
Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum, terkilir, sakit pinggang, tergores/
terpotong, luka bakar dan penyakit lainnya2.
Hemodialisa (HD) adalah salah satu terapi pengganti ginjal yang
menggunakan alat khusus dengan tujuan mengatasi gejala dan tanda akibat laju
filtrasi glomerulus yang rendah sehingga diharapkan dapat memperpanjang usia
dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Saat ini unit hemodialisis di Indonesia
yang terdata di PERNEFRI sebanyak 4000 unit, sementara Indonesia
membutuhkan sekitar 6000 unit mesin hemodialisis. Adanya globalisasi dalam
sektor kesehatan ini berdampak dalam pelayanan kesehatan terutama dalam
melakukan tindakan. Pelayanan kesehatan baik dalam terapi, pemberian resep
maupun pemakaian alat kesehatan mengikuti perkembangan globalisasi tersebut.
Dengan meningkatnya penderita gagal ginjal kronik dari tahun ke tahun maka
hemodialisis menjadi kebutuhan yang tidak dihindari lagi3.
Pelayanan yang diberikan kepada pasien hemodialisa infeksius dengan
mengutamakan pencegahan penularan infeksius dengan menggunakan alat
pelindung diri (APD). Alat pelindung diri (APD) adalah suatu alat yang dipakai
untuk melindungi diri dari atau tubuh terhadap bahaya-bahaya kecelakaan kerja
dimana secara teknis dapat mengurangi tingkat keparahan dari kecelakaan kerja
yang terjadi peralatan pelindung tidak menghilangkan atau mengurangi bahaya
yang ada. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dan bahaya dengan cara
penempatan dan penghalang antara tenaga kerja dan bahaya4.
Dari beberapa komponen pelayanan kesehatan di rumah sakit, perawat
adalah salah satu tenaga pelayanan kesehatan yang berinteraksi dengan pasien
yang intensitasnya paling tinggi dibandingkan dengan komponen lainnya. Perawat
sebagai anggota inti tenaga kesehatan yang jumlahnya terbesar di rumah sakit (40-
60 %) dimana pelayanan keperawatannya yang diberikan merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan memiliki peran kunci dalam mewujudkan
keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit5.
Faktor ketidakpatuhan petugas dalam menggunakan alat pelindung diri
diantaranya adalah kurangnya pengetahuan petugas terhadap bahaya risiko, alat
pelindung diri dirasa kurang nyaman, serta sistem pengawasan yang buruk
terhadap penggunanaan alat pelindung diri. Sesuai dengan fungsi sarana kesehatan
tersebut semua pekerja di rumah sakit dalam melaksanakan tugasnya selalu
berhubungan dengan bahaya potensial bila tidak ditanggulangi dengan baik dan
benar dapat menimbulkan dampak negatif terhadap keselamatan dan
kesehatannya, yang akhirnya akan mempengaruhi produktivitas kerjanya6.
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II memiliki mesin HD sebanyak
25 buah (22 mesin untuk pasien umum, 2 mesin khusus pasien infeksius), yang
mana setiap hari 24 mesin yang dioperasionalkan secara rutin sedangkan yang 1
digunakan apabila ada keadaan emergensi sebagai cadangan. Kecelakaan kerja
yang sering terjadi adalah tertusuk jarum bahkan terinfeksi Hepatitis. Sedangkan
program pemeriksaan Hepatitis B, C dan HIV baru diusulkan. Penggunaan APD
di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II belum maksimal. Baju kerja
khusus HD hanya tersedia 2 untuk masing-masing perawat, sedangkan terpapar

28
oleh pecikan darah sangat tinggi. Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk
meneliti tentang evaluasi penggunaan alat pelindung diri (APD) pada perawat
Unit Hemodialisa di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II.

2. Metode Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dan hasil disajikan
secara deskriptif dengan rancangan penelitian studi kasus (case study)7. Subjek
penelitian ini dilakukan kepada Direksi (Direktur, Manajer Keperawatan, Tim PPI
dan perawat Hemodialis) dengan teknik purposive sampling. Objek penelitian ini
adalah penggunaan alat pelindung diri (APD) pada perawat unit Hemodialisa.
Evaluasi penggunaan APD dilakukan dengan cara: telusur dokumen, observasi
lapangan, diskusi kelompok terfokus (FGD/Focus Group Discussions). Analisis
data dengan menggunakan checklist observasi dan model telusur dokumen untuk
mendapatkan informasi tentang kesesuaikan dalam penggunaan alat pelindung diri
(APD) di unit Hemodialisa.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Hasil
3.1.1. Hasil Observasi
Dari hasil observasi petugas Hemodialisa terhadap 8 orang perawat pada
bulan Maret 2015, didapatkan hasil bahwa masih banyak petugas yang belum
membiasakan untuk menerapkan 5 Moments for Hand Hygiene. Panduan patient
safety, prosedur handwash dan handrub masing-masing unit diberikan tetapi
jarang untuk diterapkan. Sebanyak 87% petugas tidak membersihkan tangan
(handwash) sebelum menggunakan sarung tangan (handscoen). Setelah melepas
sarung tangan pun petugas tidak membersihkan tangan terlebih dahulu dan
langsung ganti sarung tangan baru kemudian tindakan pasien. Tempat untuk
mencuci tangan (handwash) di unit HD ada 3, sedangkan cairan berbasis alkohol
(handrub) tersedia 2.
Jenis APD di unit Hemodialisa tersedia lengkap meliputi, pelindung badan
khusus HD, handscoen, masker dan kacamata. Pelindung badan khusus HD
masing-masing perawat unit HD hanya disediakan 2 setel baju kerja khusus HD
sebagian ada yang masih disimpan di loker ruang perawat ada juga yang dibawa
pulang karena baju kerja khusus HD kebesaran. Hanya 3 petugas yang
menggunakan baju kerja khusus HD itupun tidak setiap hari, sedangkan 75%
petugas tidak memakai masker, kaca mata digunakan untuk alat reuse saja.
Pelindung tangan (handscoen) wajib digunakan untuk tindakan hemodialisa,
masing-masing tempat tidur pasien atau mesin HD disediakan 2 pasang
handscoen digunakan tiap tindakan memasang dan melepas jarum.
Pada tanggal 21 Maret 2015 saat observasi didapatkan petugas yang
melakukan handrub pada saat masih menggunakan handscoen kemudian lanjut
tindakan ke pasien. Pada hari yang bersamaan petugas melakukan punksi akses
vaskuler dan penyuntikan tidak menggunakan handscoen.Saat pelepasan jarum
pasien ketika selesai tindakan Hemodialisa juga ditemukan pasien mengalami
kebocoran karena kurang pas atau terburu-buru. Dapat disimpulkan bahwa
petugas unit HD tidak menggunakan APD lengkap untuk melakukan tindakan
pasien infeksius maupun non infeksius.

29
3.1.1.1. Telusur Dokumen
Telusur dokumen di unit HD dan IPCN tidak ditemukan prosedur tentang
proses reuse dialiser, SPO penggunaan APD di unit HD, SPO pelayanan HD
pasien infeksius (untuk petugas) dan kebijakan infeksi kontrol untuk Hepatitis B,
C dan HIV di unit HD.
3.1.1.2. Hasil Wawancara dengan Direksi
Rekomendasi dari informan kunci (Direktur Diklat) adalah merubah
perilaku perawat atau seseorang itu tidak mudah. Merubah seseorang perlu proses
maka perlu di gali terus pada hal-hal yang sifatnya membangun, seperti memberi
pelatihan maupun sosialisasi ke perawat. Penggunaan APD harus lebih
diperhatikan, insiden cidera maupun potensial cidera harus dilaporkan.
Seharusnya tim PPI/IPCN membuat PDCA untuk mengembangkan mutu
pelayanan rumah sakit. Dari hasil wawancara dengan Direktur rumah sakit dan
diikuti dengan telusur dokumen, dihasilkan bahwa prosedur terkait dengan
penggunaan alat pelindung diri di unit Hemodialisa belum semuanya terpenuhi.
3.1.2. Hasil FGD/Group Interview
3.1.2.1. Pengetahuan
Gambaran pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini, meliputi
pengetahuan informan utama dalam menjelaskan dan memaparkan definisi,
bahaya, manfaat, jenis alat pelindung diri (APD) di unit Hemodialisa,
peraturannya dan memelihara APD. Tidak semua informan utama bisa
menjelaskan definisi APD. Sepatu kerja tidak selalu di pakai saat melakukan
tindakan, masih ada beberapa petugas mengenakan sandal saat tindakan.
3.1.2.2. Sikap
Kendala petugas tidak melakukan hand hygiene (handwash/handrup) karena
pada saat pasien selesai melakukan tindakan HD (ending) selalu bersamaan, jadi
petugas selama ini hanya mengganti sarung tangan baru dan kembali tindakan
pasien berikutnya. Kadangkala juga sampai lupa untuk mengganti sarung tangan
baru. Dari hasil wawancara sebetulnya petugas tahu jika sebelum maupun setelah
menggunakan sarung tangan harus mencuci tangan dengan air tidak boleh
menggunakan cairan beralkohol (handrub) karena bedak handscoen yang
menempel pada tangan tidak bisa dibersihkan hanya dengan cairan beralkohol.
Baju kerja disimpan di loker ruang perawat. Sedangkan handscoen dibuang di
tempat sampah yang letaknya bersebelahan dengan tempat tidur pasien.
3.1.2.3. Keyakinan
Gambaran keyakinan yang dimaksud dalam penelitian ini, meliputi
keyakinan informan utama dalam menerapkan APD di unit HD, dan bersedia
menggunakan sesuai dengan kebijakan dan standar kerja. Standar kerja di unit HD
sudah sesuai, untuk penggunaan handscoen masih belum terkontrol. Setiap satu
tindakan sudah disediakan 2 pasang namun masih ada petugas yang mengambil
handscoen baru di box. Baju kerja HD hanya 2 untuk masing-masing perawat,
standarnya 1 shift 1 baju kerja.
3.1.2.4. Ketersediaan APD
Ketersediaan APD yang dimaksud pada penelitian ini adalah gambaran
mengenai ada atau tidaknya APD yang disediakan rumah sakit dan peraturannya.
Dari hasil wawancara dengan informan bahwa APD sudah tersedia dari rumah
sakit.

30
3.1.2.5. Kebijakan/SPO
SPO yang dimaksud pada penelitian ini yaitu adanya prosedur atau petunjuk
kerja di unit hemodialisa. Aturan atau SPO sudah ada terkait dengan hand
hygiene, terkendalanya adalah sosialisasi yang kurang.
3.1.2.6. Pengawasan
Pengawasan dilakukan oleh supervisor masing-masing unit. Pengawasan
belum berjalan secara maksimal mengingat supervisor masih disibukkan dengan
kegiatan pelayanan sehingga fungsi managerial belum terlaksana dengan baik.
Dokumen atau buku untuk pengawasan petugas HD belum ada di unit HD.
3.2. Pembahasan
Risiko penularan infeksi yang dihadapi oleh petugas pelayanan kesehatan
disebabkan karena kontak dengan darah dan sekresi tubuh pasien sewaktu
tindakan keperawatan rutin. Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri
mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit
menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi. Memang pada
kenyataannya masih banyak petugas kesehatan seperti dokter dan perawat tidak
menggunakan sarung tangan pada saat melakukan tindakan keperawatan seperti
tindakan menyuntik dengan alasan karena mereka khawatir akan kehilangan
kepekaan dan selain itu juga karena merasa tidak nyaman8.
Menurut informan kunci penggunaan sarung tangan saat menyuntik atau
memasukkan jarum ketubuh pasien sebelum dan sesudah tindakan wajib
menggunakan sarung tangan bahwa semua penyakit pasien berisiko atau infeksi
berbahaya sehingga mereka harus menggunakan APD karena darah termasuk
infeksius. Penggunaan APD seperti sarung tangan sebenarnya sangatlah mutlak
dilakukan, disamping penggunaan alat-alat medis yang steril dalam setiap
pemberian tindakan keperawatan, pemakaian sarung tangan bertujuan untuk
melindungi tangan dari kontak dengan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret dan
selaput lendir. Selain melindungi petugas kesehatan, sarung tangan juga
mengurangi penyebaran infeksi dari pasien. Cuci tangan dan penggunaan sarung
tangan, merupakan komponen kunci dalam meminimalkan penularan penyakit
serta mempertahankan lingkungan bebas infeksi.
Baju pelindung bertujuan untuk melindungi baju dari bahan-bahan yang
infeksius, melindungi petugas dari kemungkinan genangan atau percikan darah
atau cairan tubuh lain yang dapat mencemari baju atau kulit petugas kesehatan.
Penggunaan masker di unit HD menjadi suatu perdebatan. Hemodialisa
(HD) potensi menularnya melalui darah bukan melalui udara. Masker bertujuan
mencegah membran mukosa petugas terkena kontak dengan percikan darah dan
cairan tubuh, sedangkan untuk pasien mencegah kontak droplet dari mulut dan
hidung petugas yang mengandung mikroorganisme saat bicara , batuk dan bersin.
Berdasarkan informasi dari petugas unit HD menyatakan bahwa pasien di unit HD
ada yang menderita penyakit TBC sebanyak 4 orang. Pasien yang menderita TBC
sudah diberikan arahan untuk menggunakan masker tetapi pasien tidak mau
memakainya karena susah untuk bernafas. Sedangkan petugas sendiri juga enggan
untuk memakainya.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa semua informan utama
memiliki pengetahuan tentang alat pelindung diri (APD). Untuk sikap yang
dimiliki informan utama dalam menggunakan APD bersikap positif. Sedangkan
keyakinan dalam penggunaan APD informan utama sangat yakin jika ada

31
ketentuannya karena APD dapat melindungi petugas. Penelitian lain yang
mendukung adalah, penggunaan sarung tangan, relevansi untuk praktik klinis,
pendidikan dan prakek cuci tangan yang benar dan pemakaian sarung tangan
antara kesehatan rumah sakit dan dukungan pekerja yang diperlukan9.
Di unit HD pengawasan belum berjalan dengan maksimal mengingat
supervisor masih disibukkan dengan kegiatan pelayanan sehingga fungsi
manajerial belum terlaksana dengan baik. Waktu pengawasan juga belum
terjadwal dengan baik. Pengawasan yang dilakukan secara berkala dan intens,
kondisi yang berbahaya atau kegiatan yang tidak aman dapat diketahui dengan
segera dan dapat dilakukan usaha untuk memperbaikinya. Teknik pengawasan
dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung10. Hal ini juga dikuatkan
dengan pendapat Ayu dan Denny (2013), bahwa pengawasan yang dilakukan
setiap hari oleh supervisor dapat membentuk perilaku perawat agar disiplin untuk
berperilaku aman dalam bekerja, dan dengan adanya pengawasan akan
mengurangi risiko yang ada misalnya kesalahan perawat dalam menangani
pasien11.

4. Kesimpulan
Penggunaan APD di unit Hemodialisa tidak dilaksanakan dengan baik
karena sebagian petugas tidak mengenakan APD secara lengkap. Pengetahuan
petugas, sikap, dan keyakinan tentang alat pelindung diri (APD) sudah cukup baik
hal ini terbukti dari jawaban yang petugas sampaikan, namun juga hanya sebatas
pengetahuan saja karena tidak semua diterapkan saat tindakan Hemodialisa.
Kebijakan atau SPO di unit Hemodialisa untuk pelaksanaan Hemodialisa sudah
sesuai, namun SPO untuk petugas dalam penggunaan APD penanganan pasien
Hemodialisa infeksius maupun non infeksius belum ada, SPO proses reuse
dialyzer juga belum ada. Sedangkan kebijakan infeksi control, Hepatitis B, C dan
HIV di unit Hemodialisa masih diusulkan. Pengawasan di unit Hemodialisa belum
maksimal mengingat supervisor masih disibukkan dengan kegiatan pelayanan
sehingga fungsi managerial belum terlaksana dengan baik.
Rekomendasi yang perlu dilakukan adalah manajemen rumah sakit yang
arahnya mendukung akreditasi harus ditingkatkan. Pelatihan maupun sosialisai
untuk petugas terkait dengan pencegahan infeksi yang sudah diberikan wajib
diterapkan serta melengkapi standar prosedur operasional (SPO) yang belum ada
di unit Hemodialisa.
Daftar Pustaka
1. Direktorat Bina Kesehatan Kerja. 2010. Kep Menkes
RI/No.1087/Menkes/SK/VIII/ 2010. Standar Kesehatan dan Keselamatan
Kerja di RS. Jakarta. KepMenkes RI
2. Surveilans infeksi rumah sakit. 2010. Situs: http://buk.depkes.go.id/ index.php
option=com content & view=article & id=123: surveilans-infeksi-di rumah
sakit.
3. Direktoran Bina Pelayanan Medik Spesialistik. 2009. Pedoman Pelayanan
Hemodialisis di Sarana Pelayanan Kesehatan. Jakarta. Departemen
Kesehatan RI
4. Sumamur, P.K. 2009. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan.
Jakarta. CV Haji Masagung.

32
5. Depkes RI. 2006. Peningkatan Manajemen Kinerja Klinik (PMKK) Perawat
dan Bidan, Pusdiklat SDM Kesehatan bekerjasama dengan Direktorat Bina
Pelayanan Keperawatan. Jakarta.
6. Hasyim, H. 2005. Manajemen Hiperkes dan Kesehatan Kerja di RS (Tinjauan
Kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Institusi Sarana Kerja).
Sumatera Selatan. FK Prodi Kesmas Universitas Sriwijaya.
7. Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung. Alfabeta.
8. Demak, Denisa Listy. 2013. Analisis Penyebab Perilaku Aman Bekerja Pada
Perawat di RS Islam Asshobirin Tangerang Selatan Tahun 2013. Jakarta.
FKIK UIN Syarif Hidayatullah.
9. Sharon, WM Pang. 2011. An Evaluation of Hospital Hand Hygiene Practise
and Glove Use in Hongkong. Journal of Clinical Nursing volume 20.
10. Sarwono, SW. 2009. Teori-teori Psikologi Sosial. CV. Jakarta. Rajawali.
11. Ningsih, AR; Denny AW. 2013. Evaluasi Pelaksanaan Behavior Based Safety
Pada Program Stop Dalam Membentuk Perilaku Aman Tenaga Kerja di PT X
Tahun 2013. FKM Universitas Airlangga.

33
Implementasi Manajemen Keselamatan Proses
Dengan Revalidasi HAZOP dan Klasifikasi SIL
Unit Ammonia Pabrik-4

Basuki Rachmad
Turn Around Department, PT Pupuk Kalimantan Timur
Tel: 0062-548-41202 ext 2620. E-mail: basuki.rachmad@pupukkaltim.com

Abstrak

Tujuan dilakukannya Revalidasi HAZOP dan Klasifikasi SIL ini adalah untuk mereview
kembali dokumen HAZOP existing yang dilakukan sejak masa proyek Kaltim-4
berdasarkan kondisi operasi saat ini dengan metode HAZOP yang sesuai antara lain
dilakukan risk score dan menerapkan konsep IPL (Independent Protection Layer), serta
mengevaluasi dan mengendalikan potensi bahaya yang baru teridentifikasi dan
merekomendasikan bila ditemukan safeguard belum mencukupi atau diperlukan
safeguard tambahan ataupun ada kesalahan safeguard agar potensi bahaya risiko yang
tinggi dapat diturunkan sampai batas yang dapat ditoleransi. Dan agar sistem interlock
di Ammonia Pabrik-4 memiliki klasifikasi SIL untuk meningkatkan keandalan sistem
interlock Ammonia Pabrik-4. Juga untuk menindak lanjuti arahan pemegang saham.
Tahap pertama dipilih unit Ammonia untuk dilakukan Studi HAZOP SIL karena
mempunyai potensi bahaya tertinggi. Existing HAZOP terdiri dari 17 Node kemudian
dilakukan revalidasi dengan menggunakan metode HAZOP yang sesuai antara lain
dilakukan risk score dan menerapkan konsep IPL (Independent Protection Layer).
Revalidasi HAZOP di Ammonia Pabrik-4 diperoleh bahwa dari 17 node yang tidak ada
rekomendasi sebanyak 5 node karena safeguard yang ada sudah cukup, adapun 12 node
lainnya ada rekomendasi sejumlah 20 rekomendasi untuk menurunkan tingkat risiko yang
dapat ditoleransikan. Adapun analisis klasifikasi SIL dengan metode LOPA dari 116
interlock system di Unit Ammonia Pabrik-4, ada 83 interlock system dengan klasifikasi
SIL-3, 18 interlock system klasifikasi SIL-2, 5 interlock system klasifikasi SIL-1 dan 10
interlock system tergolong Non SIL.

Kata kunci: ammonia, HAZOP, klasifikasi SIL, layer of protection analysis, risk score.

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Sejak beroperasi tahun 2002 Pabrik-4 sampai saat ini belum pernah
dilakukan revalidasi HAZOP. Sejauh ini sudah banyak modifikasi yang telah
dilakukan, namun dokumen yang terkait dengan perubahan tersebut salah satunya
dokumen P&ID belum dilakukan up dating. Hal ini dapat mengakibatkan
terjadinya kesalahan pengoperasian maupun pemeliharaan. Kesalahan
pengoperasian maupun pemeliharaan dapat berdampak safety, environment
maupun asset.
Berdasarkan Pedoman Manajemen Keselamatan Proses dari Pupuk
Indonesia (Dok no F01000-PP-093) pada elemen 2 hal 8 disebutkan bahwa
setidaknya setiap lima tahun sekali dilakukan evaluasi dan validasi ulang
HAZOPS. Demikian juga dengan sistem interlock di Pabrik-4 sampai saat ini
belum ada klasifikasinya. Berdasarkan standard internasional ANSI/ISA84.01
klasifikasi sistem interlock adalah Safety Integrity Level (SIL). Ada 4 klasifikasi

34
SIL yakni SIL1, SIL2, SIL3 dan SIL4. Untuk melakukan klasifikasi sistem
interlock tersebut diperlukan suatu metode antara lain Layer Of Protection
Analysis (LOPA). Saat ini umumnya implementasi HAZOPS diintegrasikan
dengan implementasi SIL agar dalam mengimplementasi keduanya lebih efektif
dan efisien dari segi waktu maupun biaya.
1.2. Perumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas maka dapat disusun
perumusan masalah sebagai berikut;
1. Apakah metode studi HAZOP SIL efektif untuk revalidasi studi HAZOP
existing?
2. Bagaimana mereview studi HAZOP existing?
3. Bagaimana menentukan risk score?
4. Bagaimana menentukan klasifikasi SIL?
1.3. Manfaat dan Tujuan Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk evaluasi manajemen pemeliharaan
SIS pada unit Ammonia Pabrik-4, juga dapat digunakan sebagai acuan untuk
evaluasi sistem sejenis lainnya. Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai
adalah sebagai berikut ;
1. Untuk mereview kembali dokumen HAZOP existing, mengevaluasi dan
mengendalikan potensi bahaya yang baru teridentifikasi.
2. Untuk menentukan klasifikasi SIL suatu SIF berdasarkan asesmen risiko yang
berdampak pada manusia (safety), potensi kerusakan yang berdampak
lingkungan (environment) juga potensi kerusakan yang berdampak pada biaya
pemeliharaan dan kehilangan produksi (asset).
3. Agar semua potensi bahaya dapat teridentifikasi dan merekomendasikan bila
ditemukan safeguard belum mencukupi atau diperlukan safeguard tambahan
ataupun ada kesalahan safeguard agar potensi bahaya risiko yang tinggi dapat
diturunkan sampai batas yang dapat ditoleransi.
4. Agar sistem interlock Pabrik-4 memiliki klasifikasi SIL untuk meningkatkan
keandalan sistem interlock Pabrik-4.
1.4. Ruang Lingkup
Revalidasi HAZOP dan Klasifikasi SIL Pabrik-4 meliputi unit Utility,
Ammonia dan Urea. Tahap pertama dipilih unit Ammonia karena dari ketiga unit
tersebut yang mempunyai potensi bahaya tertinggi adalah unit Ammonia, adapun
dokumen HAZOP Ammonia Pabrik-4 existing yang akan dilakukan Revalidasi
HAZOP & Klasifikasi SIL yakni; HAZOP Report for Ammonia Unit K-4 Project
(Doc. No.: K4-01-P1-OR-001-R, Rev.1, 5 September 2000). Unit Ammonia
Pabrik-4 terdiri dari 17 Node; (1) Desulphurization, (2) Reforming, (3) CO
Conversion, (4) Process Gas Cooling, (5) C02 Absorption, (6) C02 Stripping, (7)
MDEA Preparation, Storage & Drain, (8) Methanation, (9) Natural Gas Feed &
Compression, (10) Process Air Compressor, (11) Syn Gas Compression, (12)
Ammonia Synthesis Loop, (13) Ammonia Refrigeration, (14) Ammonia Receiver
and Ammonia Product Transferring, (15) Process Condensate Stripping, (16)
Boiler Feed Water dan (17) Steam System.
Adapun analisis klasifikasi SIL terhadap interlock system Ammonia Pabrik-
4 akan dimulai dari interlock system yang berdasarkan hasil studi revalidasi
HAZOP risk score-nya yang kategori critical kemudian dilanjutkan kategori
medium critical, sedangkan yang kategori non critical langsung dapat

35
diklasifikasikan Non SIL. Jumlah interlock system di unit Ammonia Pabrik-4
sekitar 116 interlock system.

2. Metode Penelitian
Metode Hazard and Operability Study (HAZOP) adalah metode yang
digunakan untuk mengidentifikasi potensi hazard dan masalah operabilitas yang
disebabkan oleh penyimpangan dari tujuan desain pada suatu proses pabrik
(Dieltjens, 2010). Teknik HAZOP (Hazard & Operability Study) yakni dengan
cara mengkombinasikan antara parameter dan guide word menjadi deviasi dari
design intent suatu node. Kemudian penyebab dan konsekuensi dari deviasi
diidentifikasi, dengan mengases safeguard yang terkait. Severity (S) dari
konsekuensi ditentukan berdasarkan Risk Matrix, demikian juga likelihood (L)
terjadinya causes juga ditentukan berdasarkan Risk Matrix, sehingga diperoleh R
(Risk Score). Action adalah tindakan untuk mengeliminasi dan memitigasi potensi
bahaya yang telah teridentifikasi.Penyebab (causes) yang tidak dianggap dalam
studi HAZOP adalah sebagai berikut; (a) Kegagalan simultan lebih dari satu
independent protection device, (b) Kejadian simultan dari dua insiden yang tidak
berkaitan, (c) Kelalaian manusia, (d) Bencana alam, (e) Sabotase, (f) Analisis
HAZOP bukan merupakan design review, (g) Equipment/machinery telah di
desain, difabrikasi dan diinspeksi dengan baik tidak ada kerusakan dan (h)
Mechanical protection device (PSV, rupture disc) dianggap bekerja baik.
Klasifikasi SIL dengan metode Layer Of Protection Analysis (LOPA),
adalah suatu proses (metode, system) untuk mengevaluasi efektifitas dari
independent protection layer dalam mereduksi kemungkinan terjadinya
konsekuensi yang tidak diinginkan. Langkah awal dalam melakukan studi SIL
adalah mengidentifikasikan SIF (Safety Instrumented Function) atau interlock
system dengan benar. Tujuan dipasangnya suatu SIF adalah untuk mencegah
hazardous situation menjadi hazardous event.Masing-masing SIF diidentifikasi
dan diklasifikasi dengan menggunakan LOPA worksheet.Fungsi yang terkait
dengan pushbutton, fire&gas alarm system, control dan electrical tidak termasuk
dalam studi LOPA. Semua sistem interlock yang teridentifikasi di dalam Cause
and Effect Diagram atau sistem interlock hasil rekomendasi studi HAZOP akan
dibahas dalam studi klasifikasi SIL. Metodologi proses studi HAZOP SIL
ditunjukkan secara diagram alir seperti pada Gambar 3.

36
Mulai

Perumusan Masalah

Menentukan Tujuan & Manfaat

Mengumpulkan Data

Studi HAZOP SIL

no
Semua node &
interlock

yes

Kesimpulan & Saran

Selesai

Gambar 1. Metodologi Studi HAZOP SIL

3. Hasil
3.1. Revalidasi HAZOP
3.1.1. Rekomendasi Hasil Revalidasi HAZOP
Dari 17 node yang tidak ada rekomendasi sebanyak 5 node karena safeguard
yang ada sudah cukup, adapun 12 node lainnya ada rekomendasi untuk
menurunkan tingkat risiko yang dapat ditolenrasikan. Secara lengkap rekomendasi
setiap node ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Daftar Rekomendasi Hasil Revalidasi HAZOP


NODE RECOMMENDATION RISK BY
Pasang flow alarm low dari 1-FT-2005 Non Critical Instrument
1
Pasang temperature alarm low dari 1-TI-2004 Non Critical Instrument
Medium
Pasang flow alarm low dari 1-FT-2005 Instrument
2 Critical
Pasang alarm press high 1-PAH-2008 Critical Instrument
3 Tidak ada rekomendasi
4 Tidak ada rekomendasi
Pasang ESD terpisah dari 1-FIC-3008 Critical Instrument
Pasang ESD terpisah dari 1-FIC-3006 Critical Instrument
5
Pasang high alarm level terpisah dari existing
Critical Instrument
(1-LIC-3009A)

37
Kondisi saat ini masih disable untuk 1-PSL-
6 Non Critical Instrument
3004 sehingga perlu di enable
7 Tidak ada rekomendasi
8 Install low pressure alarm 1-PI-4041 Non Critical Instrument
9 Tidak ada rekomendasi
10 Tidak ada rekomendasi
11 Pasang 1-PIC/PV-7002, untuk venting Critical Instrument
Pasang interlock dari 1-TAHH-5022 to close 1-
12 Critical Instrument
HV-5003
13 Pasang 1-PAL-4065 Non Critical Instrument
Pasang High Alarm bukan 1-LT-5006 + Instrument
Critical
Prosedur pengamanan Operasi
Pasang High pres. alarm 1-PAH-5011 Critical Instrument
Pasang LSLL interlock trip to 2-P-204A/B & 2-
14 Critical Instrument
P-201A/B
Modifikasi dengan menambah kapasitas 2-E-
211/2-C-202 untuk mengurangi pencemaran Critical PPE
lingkungan
Pasang interlock system terpisah dengan 1-LIC-
15 Critical Instrument
7001 by I-752
Pasang line pengarah overflow ke lokasi aman Non Critical Istek
16 Pasang level alarm high terpisah dari 1-LT-
Critical Instrument
2001 (gunakan 1-LT-2002)
Buat SOP kontingensi planing bila 1-LV-2003 Medium
17 Operasi
fail open Critical

3.2. LOPA
3.2.1. Hasil Analisis Klasifikasi SIL
Diperoleh klasifikasi SIL untuk interlock system di Unit Ammonia Pabrik-4
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2. Dari 116 interlock system di Unit
Ammonia Pabrik-4, ada 83 interlock system dengan klasifikasi SIL-3, 18 interlock
system klasifikasi SIL-2, 5 interlock system klasifikasi SIL-1 dan 10 interlock
system tergolong Non SIL.

Tabel 2. Daftar Klasifikasi SIL Interlock Systemdi Unit Ammonia Pabrik-4


SIFs SIL Selection
Required
No Risk Initial
Sensor Design Intent SIL
Category SIL
Untuk mencegah kerusakan
1-FSLL-2002
1 tube & coil Primary Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
Reformer
Untuk mencegah kerusakan
1-FFSLL-2002
2 tube & coil Primary Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
Reformer
Untuk mencegah kerusakan
1-FFSLL-2005
3 tube & katalis Primary Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
Reformer
1-PSLL-2008 Untuk menghindari
4 Safety SIL3 SIL3
(1oo1) explotion gas di furnace

38
1-LSLL-2002 Untuk mencegah kerusakan
5 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) WHB
1-TSHH-2030 Untuk mencegah kerusakan
6 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) katalis
1-FSLL-2010 Untuk mencegah coil
7 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) rupture 1-E-202A/B
1-LSHH-3003 Untuk mencegah kerusakan
8 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) katalis Converter
Untuk mencegah kerusakan
1-LSHH-3008
9 packing 1-V-302 dan Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
furnace Primary Reformer
1-PSHH-4174 Untuk mencegah terjadinya
10 Safety SIL3 SIL3
(1oo1) explotion gas
1-LSHH-4022 Untuk mencegah kerusakan
11 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4024 Untuk mencegah kerusakan
12 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4026 Untuk mencegah kerusakan
13 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-PSHH-4208 Untuk mencegah kerusakan
14 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & tube condensor
1-PSLL-4252 Untuk mencegah kerusakan
15 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & compressor
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
16 Asset SIL3 SIL3
4271 (1oo1) turbine
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
17 Asset SIL3 SIL3
4274 (1oo1) compressor
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
18 Asset SIL3 SIL3
4276 (1oo1) compressor
1-XSHH-4271 Untuk mencegah kerusakan
19 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine
1-XSHH-4272 Untuk mencegah kerusakan
20 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine
1-XSHH-4273 Untuk mencegah kerusakan
21 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4274 Untuk mencegah kerusakan
22 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4275 Untuk mencegah kerusakan
23 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4276 Untuk mencegah kerusakan
24 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-PSLL-4201 Untuk mencegah kerusakan
25 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & compressor
1-LSH-4152 Untuk mencegah kerusakan
26 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & compressor
1-SS-4021 Untuk mencegah kerusakan
27 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & compressor
1-TSHH-4023 Untuk mencegah kerusakan
28 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-TSHH-4025 Untuk mencegah kerusakan
29 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor

39
1-TSHH-4028 Untuk mencegah kerusakan
30 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-TSHH-4030 Untuk mencegah kerusakan
31 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4022 Untuk mencegah kerusakan
32 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4024 Untuk mencegah kerusakan
33 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4026 Untuk mencegah kerusakan
34 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4062 Untuk mencegah kerusakan
35 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4064 Untuk mencegah kerusakan
36 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-TSHH-4064 Untuk mencegah kerusakan
37 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-TSHH-4068 Untuk mencegah kerusakan
38 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-PSLL-4452 Untuk mencegah kerusakan
39 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & compressor
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
40 Asset SIL3 SIL3
4471 (1oo1) turbine
1-ZSHHL- Untuk mencegah kerusakan
41 Asset SIL3 SIL3
L4474 (1oo1) compressor
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
42 Asset SIL3 SIL3
4476 (1oo1) compressor
1-XSHH-4471 Untuk mencegah kerusakan
43 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine
1-XSHH-4472 Untuk mencegah kerusakan
44 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine
1-XSHH-4473 Untuk mencegah kerusakan
45 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4474 Untuk mencegah kerusakan
46 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4475 Untuk mencegah kerusakan
47 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4476 Untuk mencegah kerusakan
48 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
Untuk mencegah kerusakan
1-PSHH-4473
49 compressor dan Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
pencemaran lingkungan
Untuk mencegah kerusakan
1-PSHH-4474
50 compressor dan Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
pencemaran lingkungan
Untuk mencegah kerusakan
1-PSHH-4477
51 compressor dan Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
pencemaran lingkungan
Untuk mencegah kerusakan
1-PSHH-4478
52 compressor dan Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
pencemaran lingkungan
1-XA-4403 Untuk mencegah kerusakan
53 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine

40
1-LSH-4352 Untuk mencegah kerusakan
54 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & compressor
1-SS-4061 Untuk mencegah kerusakan
55 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-PSLL-4452 Untuk mencegah kerusakan
56 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & compressor
1-LSHH-3012 Untuk mencegah kerusakan
57 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4042 Untuk mencegah kerusakan
58 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4044 Untuk mencegah kerusakan
59 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-4046 Untuk mencegah kerusakan
60 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-TSHH-4043 Untuk mencegah kerusakan
61 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-TSHH-4045 Untuk mencegah kerusakan
62 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-TSHH-4048 Untuk mencegah kerusakan
63 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-PSLL-4352 Untuk mencegah kerusakan
64 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & compressor
1-PSHH-4308 Untuk mencegah kerusakan
65 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) turbine & tube condensor
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
66 Asset SIL3 SIL3
4371 (1oo1) Turbine
1-XSHH-4371 Untuk mencegah kerusakan
67 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4372 Untuk mencegah kerusakan
68 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4373 Untuk mencegah kerusakan
69 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4374 Untuk mencegah kerusakan
70 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4375 Untuk mencegah kerusakan
71 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-XSHH-4376 Untuk mencegah kerusakan
72 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-PSHH-4373 Untuk mencegah terjadinya
73 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) explotion gas
1-PSHH-4374 Untuk mencegah terjadinya
74 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) explotion gas
1-PSHH-4377 Untuk mencegah terjadinya
75 Safety SIL3 SIL3
(1oo1) explotion gas
1-PSHH-4378 Untuk mencegah terjadinya
76 Safety SIL3 SIL3
(1oo1) explotion gas
Untuk mencegah kerusakan
1-FSLL-3008
77 katalis dan Reactor Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
Methanator
Untuk mencegah kerusakan
1-FSLL-3006
78 katalis dan Reactor Asset SIL3 SIL3
(1oo1)
Methanator

41
1-LSHH-5005 Untuk mencegah kerusakan
79 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-PSHH-5002 Untuk mencegah kerusakan
80 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) coil start up heater
1-LSHH-5009 Untuk mencegah kerusakan
81 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) compressor
1-LSHH-7001 Untuk mencegah kerusakan
82 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) packing Stripper
1-LSLL-7001 Untuk mencegah tube
83 Asset SIL3 SIL3
(1oo1) rupture 1-E-701A/B/C
Untuk mencegah keluarnya
1-PSHH-2012
84 api pembakaran ke Safety SIL2 SIL2
(1oo1)
lingkungan
Untuk mencegah kerusakan
1-LSLL-3003
85 1-P-302A/B & CO2 Asset SIL2 SIL2
(1oo1)
Absorber
Untuk mencegah kerusakan
1-LSLL-3005
86 1-P-301A/B & CO2 Asset SIL2 SIL2
(1oo1)
Absorber
1-PSLL-4152 Untuk mencegah kerusakan
87 Asset SIL2 SIL2
(1oo1) compressor
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
88 Asset SIL2 SIL2
4171 (1oo1) turbine
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
89 Asset SIL2 SIL2
4174 (1oo1) compressor
1-XSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
90 Asset SIL2 SIL2
4171 (1oo1) turbine
1-XSHH-4172 Untuk mencegah kerusakan
91 Asset SIL2 SIL2
(1oo1) compressor
1-XSHH-4173 Untuk mencegah kerusakan
92 Asset SIL2 SIL2
(1oo1) compressor
1-XSHH-4174 Untuk mencegah kerusakan
93 Asset SIL2 SIL2
(1oo1) compressor
1-PSHH-4173 Untuk mencegah terjadinya
94 Asset SIL2 SIL2
(1oo1) explotion gas
1-PSLL-4101 Untuk mencegah kerusakan
95 Asset SIL2 SIL2
(1oo1) turbine & compressor
1-LSH-4152 Untuk mencegah kerusakan
96 Asset SIL2 SIL2
(1oo1) turbine & compressor
1-SS-4001 Untuk mencegah kerusakan
97 Asset SIL2 SIL2
(1oo1) turbine & compressor
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
98 Asset SIL3 SIL2
4374 (1oo1) Compressor
1-ZSHHLL- Untuk mencegah kerusakan
99 Asset SIL3 SIL2
4376 (1oo1) Compressor
1-FSLL-3002 Untuk mencegah kerusakan
100 Asset SIL2 SIL2
(1oo1) pompa 1-P302A/B
1-LSLLL- Untuk mencegah kerusakan
101 Asset SIL3 SIL2
6002 (1oo1) katalis Converter
1-FSLL-2005 Untuk mencegah kerusakan
102 Asset SIL1 SIL1
(1oo1) katalis dan tube Reformer

42
Untuk mencegah kerusakan
1-TSHH-3017
103 katalis Methanator dan Asset SIL3 SIL1
(1oo1)
equipment di down stream
Untuk mencegah kerusakan
1-TSHH-3019
104 katalis Methanator dan Asset SIL3 SIL1
(1oo1)
equipment di down stream
1-PSLLL- Untuk mencegah kerusakan
105 Asset SIL1 SIL1
3009 (1oo1) pompa 1-P302A/B
1-LSLL-6001 Untuk mencegah kerusakan
106 Asset SIL3 SIL1
(1oo1) pompa 1-P-601A
1-LSLL-3010 Untuk mencegah rupture
107 Safety SIL3 NR
(1oo1) flash drum
1-TSHH-4003 Untuk mencegah kerusakan
108 Asset NR NR
(1oo1) compressor
1-TSHH-4023 Untuk mencegah kerusakan
109 Asset NR NR
(1oo1) compressor
1-TSHH-4025 Untuk mencegah kerusakan
110 Asset NR NR
(1oo1) compressor
1-TSHH-4028 Untuk mencegah kerusakan
111 Asset NR NR
(1oo1) compressor
1-TSHH-4030 Untuk mencegah kerusakan
112 Asset NR NR
(1oo1) compressor
1-FSLL-3001 Untuk menjaga temperature
113 Asset NR NR
(1oo1) CO2 product
1-LSLL-5007
114 Untuk level di 1-V-502 Asset NR NR
(1oo1)
1-ASHH-7001 Untuk mencegah kerusakan
115 Asset NR NR
(1oo1) tray 1-C-701
1-PSLL-4401 Untuk mencegah kerusakan
116 Asset NR NR
(1oo1) turbine & compressor

3.2.2. Rekomendasi Hasil Analisis Klasifikasi SIL


Dari analisis klasifikasi SIL ada satu rekomendasi terkait dengan final
element (FE) interlock system yang bergabung dengan control system seperti pada
Tabel 3.
Tabel 3. Daftar Rekomendasi Hasil Analisis Klasifikasi SIL
Final
Logic Required
Sensor Element Recommendation By
Solver SIL
(FE)
Pasang FE interlock
system terpisah
1-LSHH- 1-LV-
1-IS- dengan 1-LV-7001
7001 7001
752 sehingga antara SIL-3 Instrument
close
(1oo1) (1oo1) interlock system dan
(1oo1)
control system
menjadi independen

4. Kesimpulan
Dengan melakukan Risk Scoring pada setiap deviasi akan mempermudah
proses studi HAZOP untuk menentukan apakah safeguard yang terpasang sudah
cukup atau belum cukup untuk menurunkan risiko pada level yang dapat

43
ditoleransikan. Sehingga mempermudah dalam proses rekomendasi. Dengan
melakukan Klasifikasi SIL dengan metode LOPA setelah dilakukan Studi HAZOP
adalah suatu langkah yang efektif karena analisis klasifikasi SIL terkait langsung
dengan hasil studi HAZOP terutama tentang Causes dan Consequences. Sehingga
mempercepat analisis klasifikasi SIL.
Hasil Studi HAZOP dan Klasifikasi SIL di Unit Ammonia Pabrik-4 ini dapat
dijadikan sharing knowledge management kepada karyawan yang lebih muda
karena yang menjadi nara sumber proses studi ini mayoritas adalah karyawan
senior berdasarkan pengalaman puluhan tahun.

Daftar Pustaka
Bingham, Ken dan Goteti, Prasad, 2004, Integrating HAZOP And Sil/Lopa
Analysis: Best Practice Recommendations, Reliant Center Houston, Texas
Dieltjens, Luc, 2010, SIL classification in Urea Plants, 23rd AFA Int.l Technical
Conference, June 29 July 1, 2010, Ramada Plaza Tunis Hotel, Tunisia
ISA, 2004, Standards Library for Automation and Control, Fisrt edition
2004,ISANetwork, North Carolina.
Macdonald, D.M., 2004, Practical Industrial Safety, Risk Assesment and
ShutdownSystems, First Published 2004, IDC Technologies, Newnes An
imprint of Elsevier,Oxford.

44
Implementasi Regulasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Studi Kasus Pada Dua Daerah TK II di Sumbar
Kendala Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Amrizal Arief, Yulianita


Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Baiturrah Padang
Jalan By Pass KM 15 Aie Pacah Padang
HP: 0811661493, E-Mail: amrizalarief7@gmail.com
HP: 082172821841, E-Mail: yuliazallia@gmail.com

Abstrak

Era Masyarakat Ekonomi ASEAN membuat industri harus siap dengan persoalan K3 yang
dihadapi Industri masing-masing, kalau produknya mau memasuki negara-negara
ASEAN. Persoalan sekarang tidak semua industri yang berada di daerah TK II di
Indonesia, memiliki indikator apakah industrinya memenuhi persyaratan K3 yang
dipersyaratkan sesuai dengan komitmen global baik yang berskala bila teral maupun
multilateral.
Kasus yang dikemukakan disini adalah keterbatasan kemampuan Disnaker/Balai
Hiperkes setempat untuk mengevaluasi Nilai Ambang Batas yang berbahaya pada
pekerja, membuat industri kesulitan bila pihak Auditor Eksternal mengaudit industri
tersebut. Pada Industri lain ditemukan Industri yang mau melaksanakan SMK3, tetapi
tidak dapat pembinaan dari Pihak Disnaker.
Persoalan ini sebenarnya bisa diatasi oleh Lembaga Pendidikan Tinggi K3, melalui ahli
K3 yang dimiliki Lembaga Pendidikan Tinggi, sejauh kepakaran yang dimiliki Perguruan
Tinggi diakui oleh lembaga yang berwewenang mengakui profesi K3.
Seandainya kasus di industri ini di atas tidak terjembatani secara baik dikhawatirkan
persoalan pembinaan K3 di Industri di daerah TK II, merupakan kendala terbesar dalam
rangka menghadapi MEA.

Kata kunci: Profesi dan Keahlian K3.

1. Latar belakang
Dewasa ini kecenderungan penanaman modal untuk berbagai kegiatan
industri telah mulai di berbagai daerah, karena telah dipangkasnya berbagai
Peraturan daerah yang berhubungan dengan investasi, ini ditandai dengan
munculnya beberapa industri skala besar didaerah tingkat II (Kabupaten atau
Kotamadya). Keberadaan industri sudah barang tentu diikuti dengan pembukaan
lapangan kerja, sekali gus mengatasi pengangguran yang mungkin terjadi didaerah
sekitar.
Pada bagian ini penulis akan menampilkan dua perusahaan pada daerah
TK II, pertama PT. X di Kabupaten Y, yang bergerak dalam penyediaan, pem-
prosesan, distribusi material baja dan beton siap pakai untuk industri konstruksi,
kelistrikan, pertambangan, telekomunikasi, dan perhubungan. Dalam operasional-
nya perusahaan ini didukung oleh lima divisi seperti divisi pipa, divisi tiang besi,
divisi elbow, divisi enginering, dan satu divisi perkantoran. Di luar persoalan
perizinan lembaga yang berkompeten mengawasi perusahaan tersebut adalah
Disnaker setempat. Kasus lain adalah PT Y di Kotamadya Z, yang bergerak dalam

45
pe-ngolahan dan ekspor karet, sebagai perusahaan yang bergerak di daerah Kota-
madya, selain Disnaker, juga ada Balai Hiperkes Propinsi.
Kedua perusahaan tersebut dalam operasionalnya seperti PT X, kegiatan
K3 nya masih belum terkoordinir di bawah P2K3, masih ditangani oleh Pengawas
K3 dengan segala keterbatasannya, dalam bekerja sehari-hari, pekerja mengalami
kebisingan, Vibrasi dan Temperatur di atas NAB. Sementara PT Y, kegiatan ber-
gerak dalam skspor pengolahan karet, yang telah menerapkan majemen kualitas
(ISO-9000, QS-9000) dan manajemen lingkungan (ISO-14000), se-kalipun dalam
kegiatan K3 nya sudah ada pengawas K3 dan kegiatannya sudah dipantau oleh
P2K3, tetapi gangguan yang berhubungan dengan Higiene Industri, diperusahaan
tersebut, seperti gangguan fisik, ergnomi masih saja tetap ada, dan perusahaan
tersebut cukup kesulitan mencari mitra yang bergerak dalam K3, apalagi PT Y
sudah diharapkan menerapkan Manajemen K3 sesuai tuntutan pasar Internasional

2. Masalah
Pertumbuhan industri tidak selalu berkorelasi positif dengan penanganan
persoalan K3, baik berupa hygiene industry maupun pembinaan K3 seperti SMK3.
Penanganan dilapangan membutuhkan Sumber Daya Manusia yang memahami
persoalan K3 secara profesional sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Mengandalkan lembaga resmi yang berwewenang dengan K3 seperti
Disnaker Tingkat II yang dialami oleh perusahaan PT X, persoalan utamanya
adalah keterbatasan wawasan dalam pemahaman dan keahlian dalam bidang K3.
Kecendrungan yang sering muncul dari pihak Disnaker adalah sebatas apakah
disetujui atau tidak kegiatan industri dilapangan tersebut, artinya pihak pengelola
industri dilapangan tidak puas dengan sistem yang ada. Pada PT Y yang sudah
memiliki lembaga P2K3, persoalan yang mengemuka adalah tidak adanya
pembinaan yang berhubungan dengan SMK3, karena ini sudah merupakan
tuntutan Internasional.
Dampaknya cukup membikin pengelola perusahaan industri di atas pusing
dalam menghadapi tantangan industri ke depan, di satu sisi butuh masalah-
masalah dilapangan ini bisa diselesaikan dalam waktu cepat dan tepat, tetapi di
sisi lain terkendala dengan keterbatasan SDM baik di internal perusahaan maupun
pihak eksternal seperti Disnaker/Balai Hiperkes.

3. Solusi
Pihak Perguruan Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat yang memiliki kajian
Ilmu K3 mampu menjembatani kebuntuan situasi yang ada, tetapi dihadapkan
adanya semacam ketentuan apakah ahli di Perguruan Tinggi memiliki ke-
wenangan yang setara dengan Ahli K3 yang diakui oleh Kemenaker atau Disnaker
setempat, persoalan ini selalu menjadi pertanyaan kalangan Industri, oleh pihak
perguruan tinggi sulit untuk diberikan jawabannya.
Sekalipun pada PT X, minat K3 FKM Unbrah telah berhasil melak-
sanakan evaluasi higiene industri dan hasilnyasudah diakui oleh pihak Auditor
seperti PT Biro Klarifikasi Indonesia Persero 26 Maret 2016 yang khusus
mengaudit SMK3. Misi yang bersamaan pada PT Y yang bergerak dalam kegiatan
ekspor karet seperti penyuluhan dan penataran tentang K3 yang berhubungan
dengan budaya K3, seperti tiga elemen utama yang membentuk budaya K3, yaitu

46
sikap individual, SMK3 dan Kepemimpinan K3, dalam rangka meningkatkan
wasasan K3 diperusahaan tsb.
Kedua perusahaan PT X maupun PT Y menilai apa yang telah dilakukan
seperti evaluasi lingkungan industri dan penyuluhan dan penataran K3 cukup
memuaskan, tetapi bagi minat K3 FKM Unbrah sepertinya kedua perusahaan
tersebut, masih mempersoalkan sertifikat K3 yang diakui sebagai Ahli K3 yang
telah disahkan oleh Kemenaker.
Gambaran yang dikemukakan di atas, akan berimplikasi pada pengakuan
profesi K3 yang dihasilkan oleh Perguruan Tinggi. Apakah Ilmuan K3 yang ada
memiliki kesetaraan dengan ahli K3 yang ditentukan Kemenaker/Disnaker.
Menurut peneliti hal ini harus segera dituntaskan baik oleh Kemenristek Dikti
maupun Kemenaker, karena dilapangan orang-orang yang memiliki sertifikat ahli
K3 yang dengan beragam latar belakang pendidikan bahkan ada yang tamatan
SLTA tetapi memiliki sertifikat ahli K3, eksistensinya diakui oleh pihak
Kemenaker/Disnaker, tetapi dalam mengimplementasikan keilmuannya tidak
semampu tamatan D3, S1 maupun S2 yang berhubungan dengan K3.

4. Kesimpulan
Apabila persoalan tersebut jangka panjang tidak teratasi, menurut peneliti
akan berdampak pada animo masyarakat untuk mendalami keilmuan K3, di sisi
lain dilapangan pada daerah TK II yang dijadikan kasus penelitian ini mem-
buktikan bahwa Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat yang mempunyai minat K3
mampu memberi solusi pada persoalan yang ada. Permasalaan ini harus segera
dicari jalan keluarnya, sebab hubungannya tidak saja pada pertumbuhan minat K3
seperti kajian keilmuan K3, tetapi dilapangan akan berpengaruh pada industri
yangsangat membutuhkan SDM, karena pada akhirnya akan menentukan
keterlibatan industri tersebut dalam merebut pasaran Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA)

Daftar Pustaka
PP No 50 Tahun 2012 tenang penerapan SMK3
Permenaker No. Per.05/MEN/1996. Tentang SMK3
Somad I, 2013. Teknik Efektif Dalam Membudayakan K3. Dian Rakyat Jakarta.
Thomas R. Krause; 2005. Leading with Safety; John Willey & Sons, Inc, New
Jersey.
Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003.

47
Manajemen Keselamatan Proses Sebagai Bentuk Pengelolaan
Potensi Bencana Industri di Indonesia

Sidik Mastrilianto
Pusat Kajian K3, Universitas Balikpapan
Jalan Pupuk Raya, Balikpapan 76114, Kalimantan Timur
HP: +6281351676234, E-Mail: sidikmst@gmail.com

Abstrak

Belajar dari pengalaman bencana di dunia Industri, perkembangan ilmu keselamatan


mulaimemberi perhatian lebih pada tingginya tingkat risiko keparahan atau
konsekuensinya di Perusahaan yang menyimpan, memproses, dan menyalurkan bahan
kimia berbahaya dan beracun. Bencana di industri, menggugah praktisi keselamatan dan
rekayasa industri dunia untuk memperbaiki prevensi dan proteksi keselamatan proses
industri.
Assosiasi dan Institusi di berbagai negara, sudah menetapkan aturan dan pedoman atau
recommended practice tentang Process Safety Management. Pelatihan sertifikasi bagi
praktisi keselamatan juga banyak berdatangan ke Indonesia. Bahkan banyak perusahaan
migas mempersyaratkan sertifikasi Negara lain untuk menjadi seorang ahli K3 Industri.
Metode implementasi deskriptif dilakukan penulis terhadap praktisi K3 di industri
migasdan Peraturan Pemerintah di Indonesia dengan apa yang sudah dilakukan oleh
Perusahaan multinational di beberapa negara.
Dalam makalah ini akan diutarakan faktor-faktor yang berkontribusi sistematis suatu
bencana industri, dan bagaimana sebaiknya pengelolaan pencegahan bencana industri,
keterkaitannya dengan peraturan Pemerintah, pendidikan formal atau pelatihan sertifikasi
dalam menciptakan sistem manajemen dan praktisi K3 industri yang mampu bersaing
dengan sistem dan praktisi K3 industri asing sertapeningkatan keilmuan Keselamatan
Proses di Indonesia.

Kata kunci: Bencana industri, manajemen keselamatan.

1. Pendahuluan
Perbedaan mendasar dari Keselamatan Kerja yang selama ini banyak
diperdalam penerapannya dengan Keselamatan Proses dapat tercermin dari
defenisi Manajemen Keselamatan Proses itu sendiri. Manajemen Keselamatan
Proses (Process Safety Management - PSM) menurut U.S. OSHA 1993 adalah
suatu system pendekatan yang saling berkaitan untuk mengelola bahaya di proses
suatu industri dengan tujuan untuk menurunkan tingkat kekerapan (frequency) dan
tingkat keparahan (severity) insiden-insiden yang dipicu dari terlepasnya bahan
kimia dan sumber energy lainnya. Sistem tersebut merupakan perangkat analitik
yang berfokus pada pencegahan terlepasnya suatu bahan kimia berbahaya highly
hazardous chemicals dari wadah yang semestinya (primary containment).
Beberapa system manajemen di ciptakan untuk mengorganisir berupa standard
atau petunjuk desain, prosedur operasional, program audit dan metode-metode
pencegahan lainnya.
Pengalaman di dunia Industri, bencana terlepas dan tersebarnya Methy
Isocyante (MIC) di Bhopal, India pada tanggal 3 Desember tahun 1984
merupakan kejadian yang sangat menakutkan dimana ribuan nyawa melayang

48
dengan dampak yang masih tersisa sampai puluhan tahun kemudian. Berselang
sekitar setahun setengah kemudian di industri nuklir juga sempat dikejutkan
dengan bencana Chernobyl pada tanggal 26 April 1986, namun di era Uni Soviet
(USSR) tersebut sedikit sekali informasi yang dapat diperoleh. Dalam perjalanan
waktu kemudian industri hilir (downstream) Migas juga tidak kalah menyumbang
catatan buruk dunia industri pada tahun 1987, seperti peledakan di BP
Grangemouth Hydrocracker tanggal 22 Maret, peledakan depor Shell Port
Edouard Herriot, Lyon tanggal 2 Juni dan terlepasnya Hydrogen Fluoride (HF) di
Refinery Marathon Oil Texas City, tanggal 30 Oktober, bahkan di industri Hulu
(upstream) Migas dengan terjadinya bencana di Laut Utara, terbakarnya platform
Piper Alpha pada tanggal 6 Juli tahun 1988(11).
Para praktisi keselamatan kerja terlena dengan berfokus pada hal-hal yang
hanya berisiko tinggi saja, dimana tinggi tingkat kekerapan dan tinggi tingkat
keparahannya. Bencana industri kalau diperhatikan dari tingkat kekerapannyaakan
berada pada tingkat yang sangat jarang terjadi, walau bila bencana tersebut terjadi
akan sangat mungkin menyebabkan banyak korban (multiple fatality) dengan
potensi kerusakan lingkungan (environmental damage) yang berdampak sangat
buruk, seperti yang terjadi di teluk Meksiko tanggal 20 April 2010.
Di era sekitar tahun sembilan puluhan, Amerika Serikat dan beberapa
Negara di Eropa sudah mulai berkolaborasi antara agensi atau assosiasi
Keselamatan dengan praktisi Lingkungan, karena keduanya memiliki kepentingan
yang sama dalam perlindungan manusia dan lingkungan. Langkah awal yang
dilakukan adalah membuat pendekatan sistematis untuk identifikasi bahaya
proses, dimana biasanya bersifat laten atau tersembunyi. Ditetapkanlah beberapa
peraturan-peraturan, standard-standard, technical codes, recommended practices
terkait dengan keselamatan proses. Isi dari aturan aturan tersebut berisi
persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh industri sebagai bentuk
pencegahan atau meminimalisasi konsekuensi atau dampak pelepasan bahan
kimia beracun (toxic), reaktif (reactive), mudah terbakar (flammable),atau
meledak (explosive), yang dengan pelepasannya dapat menghasilkan bahaya
keracunan, kebakaran dan peledakan.

Gambar. 1: Konsep Bow-Tie Diagram (adopted from CCPS Book)(1)

Ilmu Keselamatan Proses mulai difokuskan oleh industri-industri yang


menyimpan, memproses dan menyalurkan bahan kimia berbahaya. Bermunculan
pengembangan teori-teori keselamatan dan metodologi penilaian risiko, seperti
Bow-Tie Analysis, HAZOP-LOPA, Banyak lembaga pelatihan, bahkan sertifikasi
memberikan pelatihan-pelatihan bagi para manager, engineer, praktisi K3 sampai
ke lini terbawah dari industri.

49
Di Indonesia, sebagian besar industri yang dikatagorikan industri berisiko
tinggi sudah banyak yang memenuhi kewajibannya dengan menerapkan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dan bahkan secara
sukarela menerapkan beberapa standard internasional terkait Keselamatan Proses.
Sampai saat ini Indonesia tidaklah mengalami bencana industri yang cukup
signifikan. Hal ini tentu dapat mendatangkan pertanyaan bagi kita, apakah
memang Manajemen Keselamatan Proses sudah benar-benar diterapkan dengan
baik? Atau sebenarnya masih banyak bahaya laten atau tersembunyi seperti
gunung es yang belum teridentifikasi menunggu waktunya muncul ke permukaan
dan menjadi bom waktu saja?, yang sewaktu-waktu dapat terjadi konsekuensi
yang parah.
Latar belakang permasalahan yang diteliti oleh penulis untuk pencapaian
cita-cita bahwa Indonesia bebas dari bencana industri diantaranya adalah:
1.1. Sudahkah Indonesia belajar dari pengalaman bencana industri yang terjadi di
Negara lain atau bahkan dari insiden-insiden industri di dalam negri yang
terjadi / dilaporkan?
1.2. Apakah peraturan-peraturan terkait atau bahkan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia sudah secara tidak langsung
mengatur tentang manajemen keselamatan proses?
1.3. Apakah industri di Indonesia yang menyimpan, memproses serta
menyalurkan bahan kimia berbahaya dan beracun, manajemen dan
pekerjanya sudah menyadari akan pentingnya mengimplementasikan
Keselamatan Proses?

2. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah peneilitian kombinasi
dokumentasi dan pengalaman lapangan (field experience) yang dalam
pengumpulan datanya dilakukan secara langsung dari lokasi penelitian dan studi
literatur. Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan implementasi yang
merupakan pemaknaan dalam berkonsep dengan melihat kondisi aktual di
lapangan dan sistem yang berlaku saat ini. Sehingga akan menghasilkan deskripsi
mengenai gambaran situasi yang diteliti serta pemaknaan yang terkandung dalam
data hasil pengamatan.
Spesifikasi pada penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif analisis
yaitu penyajian data yang banyak dalam bentuk kata dan bahasa secara holistic
pada suatu konteks khusus yang terjadi saat ini dan dengan memanfaatkan
berbagai literatur, melakukan analisis secara induktif dengan menggunakan
pendekatan implementasi. Jadi penelitian yang dilakukan ini guna menyelidiki
kondisi Indonesia saat ini dalam mengelola pencegahan bencana industri
(Industrial Catastrophic Incident) berkaitan dengan penerapan manajemen
keselamatan proses.
2.1. Objek Penelitian
Objek penelitian yang diteliti pada penelitian implementasi deskriptif
analisis ini adalah penerapan manajemen keselamatan proses di Perusahaan Migas
yang menampung, memproses dan mendistribusikan bahan mudah terbakar dan
meledak, serta kebijakan atau peraturan yang berlaku.

50
2.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan sejalan dengan perjalanan penulis menjadi pengajar
dan pekerja di salah satu Perusahaan Migas hulu dan hilir, sejak awal tahun 2014
sampai akhir tahun 2015 di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
2.3. Sumber Data
2.3.1. Sumber Data Primer
Data primer penelitian ini adalah kegiatan penerapan manajemen
keselamatan proses di Perusahaan Migas hulu dan hilir di Kalimantan Timur. Data
diambil dari observasi dan audit internal yang dilakukan peneliti, yang termasuk
didalamnya wawancara langsung dengan rekan pelaksana, praktisi K3 dan dinas
ketenaga kerjaan setempat.
2.3.2. Sumber Data Sekunder
Data sekunder penelitian ini adalah peraturan atau kebijakan yang mengatur
penerapan manajemen keselamatan proses dari berbagai Negara dan literatur
terkait dengan investigasi bencana industri dan pengelolaan pencegahannya.
2.4. Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan pola pikir induktif, yakni peneliti berada
langsung di lapangan dengan menjadi pelaksana dan pengamat, yang secara
parallel mempelajari manajemen keselamatan proses, menganalisa dengan
pendekatan implementasi penerapan yang ada dan membandingkansistem
manajemen K3 di Indonesia dibandingkan dengan dari berbagai negara, serta
memperkayanya dengan studi literatur terkait penyelidikan bencana industri di
berbagai Negara dan industri.
2.4.1. Analisa Faktor Penyebab Sistemik Bencana Industri
Dengan menggunakan elemen-elemen systemic factors dari Center for
Chemical Process Safety (CCPS), analisa dilakukan terhadap hasil investigasi 15
bencana industri (catastrophic / major incidents) yang terjadi sejak tahun 1984
sampai 2010.
2.4.2. Perbandingan penerapan Manajemen Keselamatan Proses di Industri.
Membandingkan standard-standard dan peraturan-peraturan Negara lain,
dalam hal ini U.S. OSHA dan CCPS terhadap peraturan-peraturan di Indonesia
yang terkait dengan Keselamatan Proses.
2.4.3. Observasi Kepatuhan Kebijakan Manajemen Keselamatan Proses.
Mempelajari implementasi penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
Proses dilakukan penulis sejak awal tahun 2014 sampai akhir tahun 2015 di salah
satu Perusahaan Migas di Indonesia, tepatnya di Lepas pantai, stasiun pengumpul
dan fasilitas produksi LPG di Kalimantan Timur. Observasi dilakukan pada hasil
audit korporasi di tahun 2015 dengan referensi protokol OSHA & CCPS.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Hasil
3.1.1. Bencana Industri dan Faktor Penyebab Sistemik
Dari 15 bencana industri yang pernah terjadi terdapat 5 hal penting (Top
Five) sebagai faktor penyebabsistemnya, diantaranya adalah; (1) Identifikasi
bahaya dan penilaian risiko, (2) Kesiapan tanggap darurat (3) Manajemen
Perubahan di fasilitas produksi dan operasi (4) Pelatihan kompetensi keselamatan
proses, dan (5) Asset Integrity and Reliability.

51
%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%

Asset Integrity

Training &
Stakeholder

Contractor
Operating
Process

Conduct of
Compliance with

Incident
Workforce

Operational

Emergency
Process Safety
Process Safety

Hazard

Safe Work

Management of
Grafik.1: 15 Major Incidents vs. Systemic Contributing Factors(11,12,15)

3.1.2. Penerapan Manajemen Keselamatan Proses


U.S. OSHA 1910.119 dan U.K. COMAH Seveso II Directive
Mempersyaratan untuk pencegahan atau meminimalisasi konsekuensi dari
pelepasan luas dari bahan kimia beracun, reaktif, mudah terbakar dan mudah
meledak, dimana dapat mengkasilkan bahaya-bahaya keracunan, kebakaran dan
peledakan, menjadi beberapa elemen tersendiri.Ruang lingkupnya bagi suatu
proses yang menyimpan, menggunakan dan menyalurkan bahan kimia berbahaya
pada atau lebih dari jumlah ambang batasnya (daftar bahan kimia dan NAB nya
tersedia) gas yang mudah terbakar (Kategori 1 dalam daftar) atau cairan mudah
terbakar dengan titik nyala (flashpoint) dibawah 100 F (37.8 C) di satu lokasi,
dengan kuwantitas 10,000 pounds (4535.9 kg) atau lebih, kecuali; untuk bahan
bakar yang diatur tersendiri, cairan mudah terbakar dengan titik nyala (flashpoint)
dibawah 100 F (37.8 C) yang disimpan dalam atmospheric tanks atau ditransfer
dengan mempertahankan titik didih normalnya tanpa proses pendinginan. Tidak
berlaku untuk: Fasilitas Retail, Sumur Pengeboran Migas atau Operasi
supportnya, atau fasilitas terpencil yang normal operasinya tidak ditinggali
manusia. Pengukuran performa kinerja menggunakan Tier-1 dan Tier-2 sebagai
Indikator hasil (lagging indicator) dan Tier-3 dan Tier-4 sebagai Indikator usaha
(leading indicator).
Di Indonesia dengan 166 Kriteria SMK3 bagi Perusahaan Berisiko
Tinggi:Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus
orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh
karakteristik proses bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja
seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib
menerapkan Sistem Manajemen K3. Namun belum secara detail memiliki
pedoman dalam mengelola Keselamatan Proses, masih bersifat umum.

52
Tabel 1. Perbandingan Elemen Manajemen Keselamatan Proses
SMK3 element &
RBPS of CCPS Element OSHA Element
Sub-element
I. Commit to Process Safety
Process Safety Culture Elemen 1 - 5
Compliance with Standards Process Safety Information
Process Safety Competency
Workforce Involvement Employee Participation
Stakeholder Outreach
II. Understanding Hazards and Risk
Process Knowledge Management Process Safety Information Elemen 2
Hazard Identification and Risk Analysis Process Hazard Analysis Elemen 6
III. Manage Risk
Operating Procedures Operating Procedures Sub elemen 6.1
Safe Work Practices Operating Procedures Sub elemen 6.1
Hot Work Permits Sub elemen 6.1
Asset Integrity and Reliability Mechanical Integrity
Contractor Management Contractors Sub elemen 6.6
Training and Performance Assurance Training Elemen 12
Management of Change Management of Change Sub elemen 6.5
Operational Readiness Pre-startup Safety Review
Conduct of Operations
Emergency Planning &
Emergency Management Response Sub elemen 6.7
Incident Investigation Incident Investigation Elemen 8
Measurement and Metrics
Auditing Compliance Audits Elemen 11
Management Review &Continuous
Improvement

3.1.3. Implementasi Manajemen Keselamatan Proses di Industri Migas.


Semua elemen-elemen CCPS sudah diterapkan oleh Industri Migas yang di
observasi oleh penulis. Internal Audit dilakukan setiap tahunnya untuk
menghadapi tiga tahunan audit Prosess Safety Management dari Korporasi nya.
Secara umum hasil Audit Manajemen Keselamatan Proses tahun 2015 adalah
Memuaskan.

Grafik-2 Hasil Audit Process Safety Management tahun 2015. (18)

53
3.2. Pembahasan
1. Teridentifikasi bahwa terdapat 3 hal utama yang banyak berkontribusi sebagai
penyebab sistemik atau dilanggar oleh industri berisiko tinggi, diantaranya
adalah:
a. Kurangnya komitmen manajemen untuk peningkatan kompetensi pekerja
terkait keselamatan Proses, serta kajian manajemen untuk peningkatan
berkelanjutan sistem manajemen keselamatan proses terkait integritas asset
nya.
b. Kurangnya pemahaman pekerja dalam mengidentifikasi bahaya tersembunyi
(latent hazard) dan menganalisa risiko proses (process risk), sehingga
preventive safeguard dan protective safeguard terutama pada perubahaan
yang dilakukan dalam siklus produksi. (MOC) belum mendapatkan
perhatian lebih.
c. Manajemen Kondisi Darurat danbelajar dari Investigasi insiden merupakan
dua element yang masih terdapat ruang untuk peningkatan (room for
improvement)
2. Masih terdapat perbedaan presepsi terhadap apa yang dimaksud dengan
Perusahaan berisiko tinggi dan kriteria audit SMK3, serta belum secara spesifik
menilai implementasi dari Manajemen Keselamatan Proses.
3. Perusahaan Migas sudah melaksanakan penerapan Manajemen Keselamatan
Proses dengan acuan dari peraturan atau standard internasional dan atau
multinasional korporasinya.
Keterlibatan banyak pihak sangatlah di perlukan untuk memastikan bahwa
pencegahan dan proteksi (preventive and mitigative safeguards) sudah tersedia
atau terpasang, serta dipastikan dapat berfungsi dengan baik. Mulai dari
Pemerintah, Manajemen dan Pekerja di Industi terkait, Pendidik dan Praktisi
Keselamatan Kerja, perlu saling bahu membahu menjadikan Indonesia yang
aman, selamat dan sehat dari potensi dampak buruk kemungkinan bencana
industri yang bisa terjadi.

4. Kesimpulan dan Saran


Indonesia belum belajar banyak dari pengalaman buruk bencana industri
yang pernah terjadi. Kita belum memiliki ketetapan atau aturan yang secara
spesifik mewajibkan bagi perusahaan yang menyimpan, memproses dan
mendistribusikan bahan kimia berbahaya dan beracun untuk menerapkan
Manajemen Keselamatan Proses. Masih sulit mendapatkan informasi terkait
bencana industri yang terjadi di Indonesia dengan minimnya informasi hasil
investigasi yang disebar luaskan.
Banyak Perusahaan Migas di Indonesia yang sudah menerapkan Manajemen
Keselamatan Proses dengan acuan dari peraturan Negara lain atau Multinasional
Korporasinya. Hal ini dikarenakan juga Kita belum memiliki aturan khusus
mengenai Manajemen Keselamatan Proses.
Saran ditujukan pada yang berwenang membuat kebijakan K3, Pendidik dan
Praktisi K3 di industri untuk dapat saling bahu membahu membuat aturan spesifik
tentang Management Keselamatan Proses yang terintegrasi dalam Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang berlaku.Dengan
memanfaatkan banyaknya assosiasi atau perhimpunan profesi K3 untuk memiliki

54
semacam Industrial Safety Committee Board yang dapat membantu inspektur /
pengawas ketenagakerjaan dalam investigasi bencana industri yang terjadi dan
memberi masukkan kepada pihak yang berwenang dalam pemutakhiran peraturan-
peraturan terkait pencegahan cedera serius atau kematian dan bencana industri di
Indonesia.

Daftar Pustaka:
OSHA: Process Safety Management of Highly Hazardous Chemical (29 CFR
1910.119), U.S.,1992
Environmental Protection Agency; Risk Management Program rule (40 CFR 68),
U.S, 1996.
European Commission; Seveso I Directive, 1982 and Seveso II Directive, 1997.
Health and Safety Executive COMAH regulations The control of Major
Accident Hazards Regulations, United Kingdom, 1999.
OHS Act 1985 (Major Hazard Facilities) Regulation 1999 (SR 1999), National
Standard for the Control of Major Hazard Facilities [NOHSC 1014(1996)],
Australian
Korean OSHA PSM Standard, Industrial Safety and Health Act. Article 20,
Preparation of Safety and Health Management Regulations, Korean Ministry
of Environment Framework Plan on Hazardous Chemical Management,
Republic of Korea, 2001 2005.
ANG Oil & Gas Industry accident prevention regulation, Brazil
American Petroleum Institute API RP 750
Department of Occupational Safety and Health, Ministry of Human Resources
Section 16 of Act 514, Malaysia.
Peraturan Pemerintah No.50 Tahun 2012 dan Permenaker No 5 Tahun 1996
John Atherton and Frederic Gil; Incidents That Define Process Safety, BP plc
Process Safety Community of Practice, CCPS - Wiley Publication, 2008.
Center for Chemical Process Safety; Guidelines for Risk Based Process Safety
Wiley Publication, 2007.
Center for Chemical Process Safety; Guidelines for Process Hazard Evaluation
Procedures Third Edition, Wiley Publication, 2008.
Center for Chemical Process Safety; Guidelines for Engineering Design for
Process Safety Second Edition, Wiley Publication, 2012.
Andrew Hopskins; Disastrous Decisions The Human and Organizational Causes
of the Gulf of Mexico Blowout, First published CCH Australia limited,
2012.
Trevor A Kletz.; What Went Wrong? Case Histories of Process Plant Disasters,
Gulf Publishing Company, 1985
Managing Process Safety within Chevron Last Edition Handbook, ETC
Houston, TX, 2014.
Operational Excellent Audit Final Report, Chevron Corporate Health,
Environment and Safety Operational Excellence Assurance Group, Nov,
2015

55
Peran Contractor Safety Management System (CSMS) Dalam
Meminimalkan Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek
Pembangunan Waduk Teritip Kota Balikpapan

Erwin Ananta
Program Studi Diploma IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Universitas Balikpapan
Kampus: Jalan Pupuk Raya, Kel. Gunung Bahagia, Balikpapan 76114
HP: 081350608600, E-Mail: erwin.ananta@outlook.com

ABSTRAK

Pembangunan waduk Teritip Balikpapan dirancang merupakan waduk terbesar di Kota


Balikpapan dengan menelan dana sebesar 2,4 trilyun rupiah yang sumber dananya
diambil dari APBN dalam tahun jamak (multi years). Pembangunannya dimulai sejak 11
Februari 2014 dan dikerjakan oleh BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan
berlangsung hingga penelitian ini dilakukan. Proyek yang ground beaking dilakukan oleh
Menteri Pekerjaan Umum ini dirancang bangun untuk mengatasi kekurangan air yang
kerap kali menimpa Kota Balikpapan pada musim kemarau dihampir setiap tahunnya.
Proyek bernilai trilyunan rupiah itu, sudah barang tentu membutuhkan sebuah sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang baik pula untuk memastikan
pekerja-pekerja yang terlibat dalam proyek ini bekerja dengan aman dan selamat.
Contractor Safety Management System (CSMS) merupakan salah satu sistem manajemen
dalam mengelola aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam bidang konstruksi
dengan tujuan untuk meminimalkan terjadinya risiko kecelakaan kerja yang terjadi dalam
setiap kegiatan proyek konstruksi. CSMS apabila tidak dilaksanakan dengan baik, maka
akan menimbulkan rendahnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di lingkungan
kerja. Jangka panjangnya, akan menimbulkan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja,
serta kerugian-kerugian lainnya seperti kerusakan lingkungan, kerusakan alat peralatan,
produktivitas menurun, dan bahkan dapat merusak nama baik perusahaan.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan melalui pengamatan (observasi) terhadap
suatu sistem manajemen, dengan memberikan gambaran melalui implementative
description terhadap penerapan CSMS yang dilaksanakan oleh kontraktor proyek ini,
dimana tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran CSMS yang telah dilakukan
dengan membandingkan dengan tata kelola K3 proyek yang baik.

Kata kunci: Contractor Safety Management System (CSMS), Manajemen K3.

1. Pendahuluan
Balikpapan adalah kota yang terletak di pesisir pantai di Provinsi Kaliman-
tan Timur. Setiap kali kemarau melanda, defisit air bersih kerap kali mengancam
hampir setiap tahunnya. Penyebabnya adalah air bersih yang digunakan untuk ke-
butuhan warga kota berasal dari air baku yang diolah menjadi air bersih oleh
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagian besar mengandalkan air tadah
hujan yang tertampung di Waduk Manggar, Balikpapan Utara. Selama enam
bulan ketika tidak turun hujan, Waduk Manggar mampu mencukupi kebutuhan air
bersih warga, namun apabila kemarau melanda dan tidak ada turun hujan dengan
intensitas cukup di atas waduk lebih dari enam bulan, maka terjadilah defisit air
bersih. Kelurahan Teritip yang terletak di Balikpapan Timur dipilih sebagai lokasi

56
yang digunakan untuk menjadi waduk tadah hujan kedua untuk menambah daya
tampung air baku. Waduk ini direncanakan menjadi waduk terbesar di kota Balik-
papan mengalahkan waduk sebelumnya, yakni Waduk Manggar, juga digunakan
sebagai pengendali banjir. Meski demikian air yang digunakan sebagai sumber
bahan baku masih sama persis, yakni air hujan yang ditampung. Artinya, ketika
kemarau panjang melanda, maka tidak tertutup kemungkinan kedua waduk ini
bisa menjadi kering. Tapi setidaknya dengan adanya penambahan Waduk Teritip,
akan mampu memperpanjang usia pelayanan air bersih dari PDAM ketika hujan
tak kunjung turun. Proyek Pembangunan Waduk Teritip ini sendiri menggunakan
sistem pendanaan tahun jamak (multiyears system) dengan menelan biaya angga-
ran APBN murni sebesar Rp2,4 trilyun.
Proyek pembangunan wa-
duk yang ditinjau Presiden Joko
Widodo bulan Maret 2016 ini
yang menelan biaya trilyunan
rupiah, maka sudah barang
tentu membutuhkan sebuah
sistem manajemen keselamatan
dan kesehatan kerja (K3) yang
baik, dengan menerapkan
manajemen K3 yang baik maka
dipastikan bahwa pekerja-
pekerja yang terlibat dalam pro-
yek ini bekerja dengan aman Gambar 1: Progres Proyek Pembangunan
Waduk Teritip (Maret 2016)
dan selamat.
Salah satu pendekatan ke-
selamatan dan kesehatan kerja yang cocok untuk diterapkan dalam bidang
konstruksi sipil adalah Contractor Safety Management System (CSMS). CSMC
merupakan salah satu sistem manajemen dalam mengelola aspek keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) dalam bidang konstruksi dengan tujuan untuk
meminimalkan terjadinya risiko kecelakaan kerja yang terjadi dalam setiap
kegiatan proyek konstruksi.
CSMS apabila tidak dilaksanakan dengan baik, maka akan menimbulkan
rendahnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di lingkungan kerja. Jangka
panjangnya, akan menimbulkan kecelakaan kerja, kerusakan alat peralatan, pro-
duktivitas menurun, dan bahkan dapat merusak nama baik perusahaan. Di sam-
ping itu akibat CSMS tidak diterapkan dengan baik, maka perlu dilakukan per-
baikan kembali terhadap sistem manajemen K3 yang tengah berlangsung.

2. Metode Penelitian
2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada proyek pembangunan waduk dan bendungan
Teritip, kelurahan Teritip, kecamatan Balikpapan timur, kota Balikpapan. Lokasi
ini dipilih karena masih dalam kawasan kota Balikpapan yang berbatasan dengan
wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Mengingat proyek ini menelan biaya yang
cukup besar dimana saat ground breaking dilakukan oleh Menteri Pekerjaan
Umum pada Jumat, 11 April 2014 dan kontraktor utama yang mengerjakan pro-
yek ini adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, yang merupakan perusahaan

57
BUMN dengan menggunakan beberapa sub-kontraktor, maka peneliti merasa ter-
tarik untuk melakukan penelitian terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja
(K3), khususnya CSMS dalam proyek ini.
2.2 Metodologi
Rangkaian kegiatan penelitian ini disusun berdasarkan kegiatan-kegiatan
yang akan digunakan meliputi pendekatan penelitian; lokasi dan waktu penelitian;
teknik pengumpulan data penelitian; dan pemeriksaan keabsahan (validitas) data
yang diterima dan dikumpulkan dalam penelitian ini.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan melalui pengamatan (observasi)
terhadap suatu sistem manajemen, dengan memberikan gambaran melalui imple-
mentative description terhadap penerapan CSMS yang dilaksanakan oleh kontrak-
tor utama, dimana tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran CSMS
yang telah dilakukan dengan membandingkan dengan tata kelola K3 proyek yang
baik. Secara prinsip metodologi dalam penelitian ini adalah bagaimana menjawab
pertanyaan penelitian yang meliputi metode yang dipergunakan, prinsip dasar dari
metode penelitian yang digunakan, prosedur kerja dilakukan, asumsi-asumsi yang
mendasari penelitian, instrumen penelitian yang digunakan, teknik pengumpulan
data, dan alasan substantif yang mendasari dilakukannya penelitian ini.
Teknik dan instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan de-
ngan melalui teknik wawancara mendalam (in depth interviewing), dimana teknik
ini diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap narasumber secara langsung.
Kegiatan wawancara dilakukan untuk menyempurnakan data yang diperoleh me-
lalui pengamatan (observasi) yaitu berkaitan dengan masalah implementasi
CSMS. Reduksi data digunakan untuk memudahkan pemahaman terhadap data
yang dihasilkan, dan dilakukan sejak awal dalam langkah analisis data. Teknik re-
duksi data ini dilakukan dengan membuat rangkuman terhadap pokok-pokok ma-
salah yang ada dalam penelitian. Dilakukan secara sistematis dengan mengesam-
pingkan data yang tidak valid atau data yang tidak diperlukan. Tahapan reduksi
data ini dimulai dengan melakukan telaah secara menyeluruh atas hasil data yang
diperoleh dari berbagai sumber, berbagai pengamatan, wawancara, dan studi lain-
nya termasuk studi dokumentasi. Reduksi data juga dilakukan untuk menyeleksi
dan menyortir data secara menyeluruh, melakukan penyederhanaan atas data yang
diperoleh, kompaksi data dari data mentah (row datum) menjadi data siap olah.
Tahapan akhir dari implementative decription adalah penarikan kesimpulan
atas data yang telah diperoleh melalui rangkaian analisis sebelumnya dengan ter-
lebih dahulu dilakukan verifikasi atas data tersebut. Penarikan kesimpulan ini di-
maksudkan untuk memberikan simpulan akhir terhadap data yang diperoleh
dalam bentuk pernyataan singkat dan mudah dipahami dengan merujuk pada
aspek-aspek yang telah diteliti.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1 Peran CSMS Bidang Konstruksi
CSMS merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh korporasi bi-
dang konstruksi yang menjadi bagian secara keseluruhan dalam sistem manaje-
men keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3). Seluruh kegiatan mengenai kese-
lamatan dan kesehatan bagi industri, pekerja dan lingkungan diatur dalam suatu
rangkaian yang saling terkait.

58
Gambar 2: Posisi CSMS dalam hubungan aktivitas proyek

Gambar 3. Struktur Organisasi Proyek Konstruksi

Kontraktor merupakan unsur penting dalam industri konstruksi sebagai ba-


gian yang membantu kegiatan operasional terciptanya kerja yang aman. Kontrak-
tor rawan terhadap kecelakaan dalam menjalankan kegiatan proyek, hal ini dise-
babkan oleh: (a) tenaga kerja yang dilibatkan oleh kontraktor umumnya bersifat
sementara; (b) pekerja-pekerja yang terlibat di lapangan mayoritas adalah pekerja
kasar dengan pendidikan relatif rendah; (c) tingkat disiplin terhadap K3 kurang;
(d) pemahaman tentang peraturan K3 perusahaan rendah; dan (e) terlibat langsung
dalam pelaksanaan pekerjaan sehingga lebih banyak terpapar bahaya.
Kontraktor utama dalam melaksanakan kegiatan proyek konstruksi wajib
menekankan pentingnya K3 kepada sub-sub kontraktor yang berada dibawahnya,
karena kecelakaan yang menimpa sub-kontraktor tinggi. Kelalaian yang dilakukan
oleh sub-kontraktor dapat menimbulkan bahaya dan mempengaruhi kinerja opera-
sional kontraktor utama. Kegiatan sub-kontraktor harus dikelola dengan baik un-
tuk menjamin keselamatan dalam setiap kegiatan proyek konstruksi. Untuk itulah
dibutuhkan Contractor Safety Management System dalam pengelolaannya.

59
CSMS sedikit berbeda dengan SMK3 PP 50/2012 pada umumnya, karena
pada pekerjaan konstruksi dengan sistem kontrak kerja terdapat batasan waktu, se-
hingga perlu ada proses berupa tahapan mulai dari pemilihan kontraktor dan sub-
kontraktor sampai dengan berakhirnya pekerjaan sesuai kontrak. Posisi dan peran
CSMS dalam hubungannya dengan aktivitas proyek ini dapat ditunjukkan seperti
pada Gambar 2.
CSMS dalam hal ini, merupakan sistem manajemen untuk mengelola para
kontraktor dan sub-sub kontraktor yang bekerja di lingkungan korporasinya.
Fungsi dibutuhkan adanya CSMS diantaranya adalah untuk: (a) meningkatkan ki-
nerja K3 di tempat kerja dengan membantu kontraktor dan sub-kontraktor dalam
administrasi yang efektif; (b) membantu kontraktor dalam mengelola program K3
sesuai tujuan dan target yang ditetapkan; (c) memfasilitasi kontraktor utama de-
ngan pemilik proyek, dan kontraktor utama dengan para sub-kontraktor dalam ka-
itannya dengan pekerjaan, seperti terlihat pada struktur organisasi proyek kon-
struksi Gambar 3.
3.2 Analisis Lapangan
Dari hasil observasi di lapangan, pengumpulan data, dan wawancara kepada
narasumber didapatkan bahwa proyek pembangunan Waduk Teritip ini dikerjakan
dengan kerjasama antara PT Waskita Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor uta-
ma dengan PT Mettana joint operation dengan PT Teknika Cipta, dengan melibat-
kan empat sub-kontraktor lokal Balikpapan.
Dalam pemilihan sub-kontraktor yang dilibatkan dalam proyek pembangun-
an pekerjaan sipil tubuh bendungan, pihak PT Waskita Karya (Persero) Tbk me-
nerapkan CSMS melalui beberapa tahapan.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk yang telah memiliki sertifikasi ISO 9001
Quality Management, ISO 14001 Environmental Management, OHSAS 18001 Oc-
cupational Health and Safety, juga sertifikasi SMK3 PP 50/2010, dalam memi-
lihan sub-kontraktor yang dilibatkan pada proyek ini, menggunakan kebijakan da-
lam dua tahap utama CSMS, yakni (a) tahap administrasi; dan (b) tahap imple-
mentasi.
3.3 Penerapan CSMS
Kebijakan kontraktor utama terhadap CSMS seperti diuraikan diatas terdiri
dari dua tahap yaitu administrasi dan implementasi. Dalam tahap administrasi, di-
lakukan analisis terhadap tahapan penilaian risiko kerja (risk assessment), Pra-
kualifikasi sub-kontraktor dan seleksi sub-kontraktor. Pada tahap implementasi
terdapat tahapan prelimineary activities, on-going project activities, dan over all
evaluation. Tahapan ini dapat dilihat pada Gambar 4.
Pada tahapan risk assessment bertujuan untuk: (a) mengetahui tingkat risiko
suatu pekerjaan yang akan diserahkan kepada sub-kontraktor; (b) menyesuaikan
potensi bahaya dengan kemampuan sub-kontraktor dalam menjalankan pekerjaan
dengan aman; dan (c) sebagai dasar menentukan kriteria sub-kontraktor yang se-
suai melaksanakan pekerjaan. Sub-kontraktor dalam pekerjaannya diklasifi-
kasikan menurut tingkat risiko bahaya yang mungkin terpapar. Tingkat risiko
dibagi tiga, yakni (a) Risiko Tinggi (High risk) dengan nilai minimum 80; (b)
Risiko Sedang (Medium risk) dengan nilai minimum 70; dan (c) Risiko Rendah
(Low risk) dengan nilai minimum 60.

60
Pada tahapan pa-kualifikasi, dilakukan penyeleksian awal terhadap sub-kon-
traktor yang memenuhi persyaratan K3 dalam melakukan pekerjaan. Pra-kuali-
fikasi ini juga untuk mengevaluasi dokumen yang diserahkan oleh sub-kontraktor
kepada kontraktor utama tentang persyaratan administratif, pengalaman dalam
K3, organisasi K3, petugas-petugas K3 yang dimiliki, rekam jejak K3 di proyek
sebelumnya, manual-manual K3 yang dimiliki, serta referensi dan sertfikasi yang
diperoleh.
Tahapan seleksi bertujuan untuk menentukan sub-kontraktor yang akan me-
laksanakan pekerjaan sesuai dengan proses penunjukan atau proses pelelangan,
baik secara terbuka ataupun tertutup, berdasarkan kinerja K3 yang baik, penawar-
an biaya yang rasional baik secara teknikal maupun ekonomis, juga sebagai salah
satu unsur dalam menentukan pemenang lelang dari beberapa sub-kontraktor yang
mengikuti pelalangan sesuai Peraturan Presiden RI No. 54 tahun 2010 tentang Pe-
ngadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Pada tahap implementasi, prelimineary activities dilaksanakan setelah pe-
menang/pelaksana proyek telah ditetapkan. Kegiatan awal sebagai persiapan sebe-
lum proyek dijalankan meliputi antara lain: (a) pertemuan pendahuluan membahas
rencana kerja; (b) menentukan strategi pelaksanaan pekerjaan lapangan; (c) me-
nentukan persyaratan perizinan yan diperlukan (d) menentukan persyaratan tenaga
kerja yang diperlukan; (e) menentukan sistem supervisi selama pekerjaan berlang-
sung; dan (f) memberikan kesempatan kepada sub-kontraktor untuk mengenal le-
bih lanjut lokasi dan aktivitas yang akan dikerjakan.
Tahapan on-going project activities meliputi implementasi program K3
yang telah disusun sebelumnya pada saat kegiatan kerja berlangsung. Sub-kon-
traktor melakukan upaya pencegahan kecelakaan dalam setiap langkah kegiatan-
nya sesuai dengan sifat dan jenis bahaya yang ada, dan program K3 yang dijalan-
kan disesuaikan dengan skala pekerjaan, tingkat risiko dan jumlah tenaga kerja
yang dipekerjakan.
Over all evaluation merupakan tahapan dimana dilakukan evaluasi secara
menyeluruh terhadap hasil kerja K3, CSMS dievaluasi secara berkala, khususnya
setelah suatu pekerjaan kontrak selesai dan dilakukan penyerahan pekerjaan dari
sub-kontraktor kepada kontraktor utama. Hasil evaluasi digunakan untuk menilai
kinerja sub-kontraktor, dan digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan pro-
gram CSMS berikutnya. Dalam tahapan ini pula dibentuk tim evaluasi yang me-
libatkan semua unsur terkait dalam.

61
Pada saat penelitian ini berlangsung, tahap administrasi sudah selesai dilak-
sanakan, sehingga Peneliti hanya bisa melakukan pengamatan dan wawancara
mendalam pada tahap implementasi CSMS. Implementasi yang telah dilakukan
secara administratif sudah menunjukkan adanya upaya yang baik terhadap pene-
rapan keselamatan dan kesehatan kerja proyek. PT Waskita Karya (Persero) Tbk
sejauh ini telah melakukan upaya membudayakan K3 dengan baik. Adanya komit-
men dari pihak manajemen untuk mengutamakan K3 dalam setiap kegiatan pro-
yek sudah menunjukkan itikad korporasi dalam menjunjung tinggi K3, namun im-
plementasi di tingkat lapangan masih perlu dibenahi. Diperlukan adanya ketegas-
an dan keseriusan oleh semua pihak dalam menjalankan program-program K3 di
lapangan.

4. Kesimpulan
Peran CSMS dalam kegiatan pelaksanaan proyek konstruksi sangat penting
untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan kerja terhadap pekerja konstruksi di
lapangan yang terpapar secara langsung atas kegiatan yang dilakukan. Mengingat
sebagian besar pekerja merupakan pekerja kasar dengan taraf pendidikan yang
rendah serta pemahaman K3 yang masih kurang, maka perlu secara terus-menerus
disadarkan akan pentingnya K3 melalui beragam program K3 atau kampanye K3.
Sejauh penelitian ini dilakukan, tahap implementasi CSMS kepada sub-kon-
traktor yang mengacu pada pedoman tata kerja organisasi PT Wakita Karya (Per-
sero) Tbk telah cukup baik, adanya komitmen manajemen terhadap K3 sudah
menggambarkan upaya serius yang dilakukan korporasi, namun implementasi di
tingkat lapangan terdapat beberapa hambatan yang membuat penerapan rencana
K3 dalam CSMS tidak bisa diterapkan sepenuhnya, hal ini disebabkan masih be-
lum adanya ketegasan, konsistensi, dan keseriusan dalam menerapkan rencana
K3. Kurangnya kesadaran dan budaya K3 yang rendah menjadi penghambat da-
lam penerapan CSMS di lapangan.

Daftar Pustaka

Peraturan Presiden RI No. 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Peme-


rintah.
Peraturan Pemerintah RI No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manaje-
men Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/Per/M/2008 tentang Pedoman Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bidang Pekerjaan
Umum.
Berita Waskita. 2014. Waskita Karya Mulai Kerjakan Bendungan Teritip, Balik-
papan. Jakarta: Internal buletin.
DuPont. 2016. Contractor Safety Management Consulting. http://www.dupont
.com.
Geigle. 2015. Developing a Construction Safety Management System. Oregon:
OHSA Academy.
Ramli, Soehatman. 2008. Contractor Safety Management System. https:// hsek3ll-
migas.googlecode.com
Wendt, Noel and Newman, Peter. 2001. Contractor Safety Management: WHO
Manages WHO: A Contractor's Perspective. Queensland: Roche Mining.

62
Waskita Karya (Persero) Tbk, PT. 2014. Kebijakan Rencana Keselamatan dan Ke-
sehatan Kerja, Lingkungan dan Mutu (RK3LM) Proyek Pembangunan Lan-
jutan Bendungan Teritip Kota Balikpapan. Kontrak No. HK.02.03/SNVT.PJ
SA.K.III/PKDSA/23/II/2014 tanggal 18 Februari 2014.

63
Program Induksi Terhadap Penerapan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Supraco Indonesia
(Studi Kasus: Barge Pioneer Blok Mahakam Kutai Kartanegara)

James Evert Adolf Liku, Zulkifli


Pusat Kajian K3, Universitas Balikpapan
Jalan Pupuk Raya, Balikpapan 76114 Kalimantan Timur
E-Mail: toraja_liku@yahoo.com, E-Mail: zul_ippy@yahoo.co.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan gambaran mengenai manfaat
dilakukannya Induksi Keselamatan Dan Kesehatan Kerja yang ada di PT. Supraco
Indonesia.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan jumlah
responden 30 orang dengan sampel purposive yaitu teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu, pertimbangan yang digunakan untuk menentukan sampel dalam
penelitian ini yaitu karyawan baru yang masuk diarea kerja PT. Supraco Indonesia, hal ini
dilakukan karena jumlah karyawan baru yang masuk tidak tentu atau tidak dapat
diperkirakan. Data dikumpulkan dengan metode angket dengan skala likert dan
dokumentasi. Uji kualitas data menggunakan Uji-Chi Square.
Dari hasil penilaian rata-rata dalam persentase terhadap jawaban responden yang diterima
atas pertanyaan mengenai efektifitas induksi yang berkaitan tentang penyampaian induksi
dan juga pokok materi yang disampaikan pada saat induksi yang skor penilaiannya dapat
dikatakan bahwa sebagian besar responden mempunyai jawaban positif tentang induksi
yang diberikan, dilihat dari kemampuan menjawab responden 71% dari 15 kuisioner yang
diberikan.
Disarankan dengan diketahuinya bahwa variabel penyampaian induksi dan variabel
pokok materi yang disampaikan pada saat induksi mempunyai hubungan yang signifikan
maka perusahaan harus lebih memperhatikan setiap kekurangan dalam langkah proses
induksi beserta prosedurnya. Perlu kiranya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan
memasukkan teori-teori lainnya sehingga hal ini dapat menambah referensi bagi PT.
Supraco Indonesia dan selain itu untuk menambah ilmu pengetahuan secara umum.

Kata kunci: kecelakaan kerja, pencegahan, penerapan dan sistem manajemen


keselamatan kerja

1. Pendahuluan
Situasi dan kondisi kerja pada lokasi kerja mempunyai kekhususan yang
berpotensi menimbulkan kecelakaan terhadap setiap orang yang masuk ke lokasi
tersebut terutama karyawan baru, karyawan pindahan dan tamu/visitor. Agar
keseragaman pelaksanaan disetiap tempat kerja tercapai maka induksi
keselamatan dan kesehatan kerja harus distandarkan.Induksi Keselamatan dan
Kesehatan Kerja adalah pengenalan dasar-dasar keselamatan dan kesehatan kerja
khususnya kepada karyawan baru, karyawan pindahan dan tamu. Selain
memberikan pemahaman tentang keselamatan kerja dan juga untuk memberikan
informasi tentang kondisi dalam area kerja.
PT. Supraco Indonesia adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang
jasa kontraktor khususnya Constructions/Civil. Perusahaan ini termasuk
perusahaan yang kompeten dalam persaingan di bidang jasa proyek

64
kontruksi.Dalam kegiatan operasional perusahaan tentunya mempunyai berbagai
potensi bahaya pekerjaan yang menyangkut keselamatan dan kesehatan pekerja
dan hal ini sangat berpengaruh dalam kegiatan perusahaan untuk mencapai
targetnya.
Pada Juni 2014 pernah terjadi satu accident di area kerja PT. Supraco
khususnya di Barge Pioneer, korban pada waktu itu adalah karyawan baru dengan
posisi sebagai Fuel-man, kronologisnya adalah pada waktu korban mengambil
sebuah kertas dokumen di lantai atas dan setelah selesai hendak menuruni tangga
tiba-tiba korban terpeleset jatuh dan langsung dilarikan di klinik Barge Pioneer.
Atas latar belakang tersebut penulis ingin mengetahui dan mempelajari apakah
induksi keselamatan kerja dapat mempengaruhi atau bermanfaat bagi personal
yang diinduksi yang ada di PT. Supraco Indonesia.Adapun rumusan masalah
dalam penulisan tugas akhir ini yaitu: Apakah induksi keselamatan dan
kesehatan kerja dapat meningkatkan pengetahuan karyawan baru untuk mencegah
kecelakaan yang ada di area kerja PT. Supraco Indonesia di Barge Pioneer.

2. Metode Penelitian
Metodologi penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metodologi
deskriptif kuantitatif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan
utama membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu penerapan secara objektif
yang menurut Sugiyono (2012).
2.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitianinidilaksanakan di PT. Supraco Indonesia khususnya dalam area
Barge Pioneer ( North Processing Unit, Delta Mahakam, Anggana Kutai Karta
Negara ). Penelitian ini dilakukan pada periode Mei 2015 - Agustus 2015.
2.2 Metode Analisis Data
Dasar pengambilan keputusan dalam uji chi square dapat dilakukan dengan
melihat nilai output Chi Square Test hasil olah data dengan SPSS. Dalam
pengambilan keputusan kita dapat berpedoman pada dua hal, yakni
membandingkan nilai Asymp. Sig dengan batas kritis yakni 0,05 atau dapat
dengan chi square tabel.
1. Melihat nilai Asymp. Sig:
a. Jika nilai Asymp. Sig < 0,05 , maka terdapat hubungan yang signifikan
antara Penyampaian Induksi dengan Materi Induksi
b. Jika nilai Asymp. Sig > 0,05, maka tidak terdapat hubungan yang signifikan
antara Penyampaian Induksi dengan Materi Induksi
2. Melihat nilai chi square:
a. Jika nilai Chi square hitung > Chi square tabel, maka terdapat hubungan
antara Penyampaian Induksi dengan Pokok Materi Induksi
b. Jika nilai Chi square hitung < Chi square tabel, maka tidak terdapat
hubungan antara Penyampaian Induksi dengan Pokok Materi Induksi.
Pengujian terhadap keterkaitan antara dua buah variabel hasil perhitungan
(Count Data), sehingga dasar pengujian yang digunakan adalah selisih nilai
proporsi dari nilai observasi dengan nilai harapan dan juga untuk menguji
hubungan atau pengaruh dua variabel nominal dan mengukur kuatnya hubungan
antara variabel yang satu dengan variabel nominal lainnya (C=Coefesien of
contingency).

65
3. Hasil Penelitian Dan Pembahasan
3.1 Hasil Penelitian
3.1.1 Faktor Intrinsik Penyampaian Induksi (X1)
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan teknik penyampaian
induksi sebanyak 5 responden (17%), baik 19 responden (63%), tidak baik 6
responden (20%) dan sangat tidak baik 0 responden (0%).
a. Alat Bantu Induksi
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan alat bantu
penyampaian induksi sebanyak 0 responden (0%), baik 5 responden (17%),
tidak baik 19 responden (63%) dan sangat tidak baik 6 responden (20%).
b. Buku Panduan
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan buku panduan yg
diberikan setelah induksi sebanyak 6 responden (20%), baik 19 responden
(63%), tidak baik 5 responden (17%) dan sangat tidak baik 0 responden
(0%).
c. Buku Induksi
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan buku induksi
sebanyak 11 responden (37%), baik 19 responden (63%), tidak baik 0
responden (0%) dan sangat tidak baik 0 responden (0%).
d. Ruang Induksi
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan tempat/ruang induksi
sebanyak 4 responden (13%), baik 8 responden (27%), tidak baik 18
responden (60%) dan sangat tidak baik 0 responden (0%).
3.1.2 Faktor Ekstrinsik Pokok Materi Induksi (X2)
a. Kebijakan
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan kebijakan yang
disampaikan pada saat induksi sebanyak 12 responden (40%), baik 11
responden (37%), tidak baik 7 responden (23%) dan sangat tidak baik 0
responden (0%).
b. Target (HSE Program)
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan target yang
disampaikan pada saat induksi sebanyak 11 responden (37%), baik 14
responden (46%), tidak baik 5 responden (17%) dan sangat tidak baik 0
responden (0%).
c. Prosedur
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan prosedur yang
disampaikan pada saat induksi sebanyak 4 responden (14%), baik 14
responden (46%), tidak baik 12 responden (40%) dan sangat tidak baik 0
responden (0%).
d. Tanggung Jawab
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan tanggung jawab yang
disampaikan pada saat induksi sebanyak 8 responden (27%), baik 14
responden (46%), tidak baik 8 responden (27%) dan sangat tidak baik 0
responden (0%).
e. Kondisi gawat darurat
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan kondisi gawat darurat
yang disampaikan pada saat induksi sebanyak 12 responden (40%), baik 13

66
responden (43%), tidak baik 5 responden (17%) dan sangat tidak baik 0
responden (0%).
3.1.3 Pemahaman Induksi (Y)
a. Patuh kepada kebijakan yang ada
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan kepatuhan kepada
kebijakan yang ada sebanyak 6 responden (20%), baik 24 responden (80%),
tidak baik 0 responden (0%) dan sangat tidak baik 0 responden (0%).
b. Bekerja sesuai dengan prosedur
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan kesesuaian antara cara
kerja dengan prosedur sebanyak 5 responden (17%), baik 13 responden
(43%), tidak baik 11 responden (37%) dan sangat tidak baik 1 responden
(3%).
c. Aktif dalam pemenuhan HSE Program
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan keaktifan dalam
pemenuhan HSE Program sebanyak 1 responden (3%), baik 11 responden
(36%), tidak baik 13 responden (43%) dan sangat tidak baik 6 responden
(18%).
d. Safe Action
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan tindakan yang aman
saat bekerja sebanyak 4 responden (13%), baik 18 responden (60%), tidak
baik 8 responden (27%) dan sangat tidak baik 0 responden (0%).
e. Produktivitas kerja
Diketahui tanggapan sangat baik berkaitan dengan produktivitas kerja
sebanyak 12 responden (40%), baik 17 responden (57%), tidak baik 1
responden (3%) dan sangat tidak baik 0 responden (0%).
3.2 Pembahasan
3.2.1 Uji Kualitas Data
Berdasarkan dari hasil out put SPSS maka hasil dari pengujian tersebut adalah:
a. Case Processing Summary
Terdapat 30 data yang semuanya diproses (tidak ada data yang missing
atau hilang), sehingga tingkat ke validannya 100%.
b. Penyampaian Induksi dan Materi Induksi
Terlihat table silang yang memuat hubungan antara variable
Penyampaian Induksi dan Pokok Materi yang disampaikan pada saat
induksi.
c. Chi Square Tests
Pada bagian pearson chi square terlihat nilai Asymp. Sig sebesar 0,04.
Karena nilai Asymp. Sig 0,04 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ha
diterima, yang artinya Terdapat hubungan yang signifikan antara
Penyampaian Induksi dengan Pokok materi induksi yang disampaikan. Hal
ini dapat diartikan bahwa penyampaian induksi mempunyai korelasi dengan
materi yang disampaikan berkaitan dengan pencegahan kecelakaan. Karena
faktanya memang pencegahan kecelakaan kepada karyawan baru itu
tergantung dari pengenalan awal di area kerja karna induksi K3 memberikan
pemahaman tentang keselamatan kerja dan juga untuk memberikan
informasi tentang kondisi dalam area kerja sehingga karyawan baru
mengerti potensi-potensi bahaya di tempat kerja.

67
Tabel 3.1. Out Put Chi Square Tests
Value df Asymp. Sig. (2-sided)
a
Pearson Chi Square 52.122 36 .04
Likelihood Ratio 35.856 36 .475
Linear-by-Linear Association .737 1 .391
N of Valid Cases 30
a. 49 cells (100.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .03.

3.2.2 Pengujian Hipotesis


Chi square adalah uji statistik yang biasa digunakan untuk membandingkan
data observasi dengan data yang diharapkan untuk menguji hipotesis. Berdasarkan
data hasil yang diperoleh mengenai penyampaian induksi yang baik tidak
menjamin terhindarnya kecelakaan kerja. Merekap data, menginput data
menggunakan software, menerapkan uji sampel data, menghitung derajat
kebebasan kemudian output. Berdasarkan output nilai chi square hitung adalah
16,2 (P = 0,04). Adapun tabel silang yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
Interprestasi Hasil
Karena p-value (0,04) lebih kecil dari tingkat signifikansi (0,05), kita tidak dapat
menerima hipotesis nol. Dengan demikian disimpulkan bahwa Ha diterima yaitu
ada hubungan antara cara penyampaian induksi dengan materi yang disampaikan.

4. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian dan analisis data terhadap hasil-hasil
penelitian sebagai output dari pengumpulan dan pengolahan data secara pengujian
hipotesis sebagaimana yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka pada bab
ini dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari hasil penilaian rata-rata dalam persentase terhadap jawaban responden
yang diterima atas pertanyaan mengenai efektifitas induksi yang berkaitan
tentang penyampaian induksi dan juga pokok materi yang disampaikan pada
saat induksi yang skor penilaiannya dapat dikatakan bahwa sebagian besar
responden mempunyai jawaban positiftentang induksi yang diberikan, dilihat
dari kemampuan menjawab responden71% dari 15 kuisioner yang diberikan.
2. Dari ketiga variabel yang dianalisis menggunakan uji chi square, yaitu sebagai
faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi efektifitas induksi dalam
pencegahan kecelakaan, ternyata ada dua faktor yang paling berpengaruh
secara signifikan terhadap manfaat induksi, yaitu kriteria teknik penyampaian
induksi dan alat bantu yang digunakan dalam proses belangsungnya induksi.
Sedangkan faktor-faktor lainnya seperti buku panduan, buku induksi dan ruang
khusus tidak berpengaruh secara signifikan terhadap efektifitas dari induksi.
3. Faktor penyampaian induksi yang baik (X1) berpengaruh signifikan terhadap
efektifits dari induksi (Y) karena teknik penyampaian yang baik berupa tata
cara komunikasi yang spesifik, jelas, tidak ambigu, variatif, singkat beserta
didukung oleh alat bantu sehingga penyampaian akan mudah dipahami dan
dimengerti oleh karyawan baru.
4. Faktor pokok materi yang disampaikan saat induksi (X2) juga berpengaruh
signifikan terhadap efektifits dari induksi (Y) karena dengan adanya materi
yang sesuai standar yang dianjurkan akan meningkatkan pemahaman kepada

68
karyawan baru sehingga mereka lebih mengerti dengan apa saja yang
menyangkut tentang Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan kerja yang
ada diperusahaan.
5. Faktor-faktor lain seperti buku panduan dan buku induksi dalam hasil analisis
uji chi square juga cukup berpengaruh secara signifikan terhadap efektifitas
induksi. Hal ini dapat ditunjukkan secara statistik bahwa nilai Asymp. Sig pada
Person chi square sebesar 0,04. Nilai-nilai tersebut lebih kecil dari 0,05,
sehingga kita tidak dapat menerima hipotesis nol. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa Ha diterima yaitu ada hubungan antara cara penyampaian
induksi dengan materi yang disampaikan.
Berdasarkan analisis data serta kesimpulan yang telah diuraikan, maka
selanjutnya penulis mengajukan saran yang semoga dapat bermanfaat yaitu:
1. Agar setiap penyampaian induksi mengalami peningkatan, hal ini dapat
dilakukan dengan mengkaji ulang SOP induksi.
2. Agar terbentuknya kenyamanan saat proses induksi maka perlu
disediakanfasilitas pelaksana seperti tempat khusus dan alat bantu induksi.
3. Adanya pendokumentasian tentang dilaksanakannya induksi keselamatan dan
kesehatan kerja.

Daftar Pustaka
Cochran WG. (2014). Some methods for strengthening the common tests.
Biometrics 1956; l0:4l7-5l.
Cristian, adrian. 2011. Manajemen sumber daya manusia. Yogyakarta.
Handoko, martin. 2012. Orientasi dan penempatan karyawan baru. Semarang.
Husna Suad & Heiddjrachman. 2010. Manajemen Personalia. Penerbit BPFE.
Yogyakarta.
Instruksi MANAKER 05 Tahun 1996. Tentang Pengawasan Dan Pembinaan
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Kontruksi Bangunan. Jakarta.
Meidi, 2011. SemuaTentangKeselamatan. Bandung.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. PER.01/MEN/1980.
Tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Kontuksi Bangunan.
Jakarta.
Riza pamula achmad.2010. Interisti Sejati. Jakarta.
SNI 13-7083-2005. Tata cara induksi keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
pertambangan. Badan Standarisasi Nasional (BSN).
Sriwidianty, 2012. Program Keselamatan Di Tempat Kerja. Jakarta.
Sugiono, 2010. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Kombinasi, Penerbit
Alfabeta Bandung ISBN 979-8433-71-8, Indonesia.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970. Tentang Keselamatan Dan Kesehatan
Kerja. Jakarta.
Usman, H. & R. Purnomo Setiady Akbar. 2011. Pengantar Statistika. Jakarta:
Bumi Aksara
Yuli, catur. 2011. Orientasi Keselamatan Di Perusahaan. Jakarta

69
Sistem Manajemen Keselamatan Kesehatan Kerja (K3)
di Perusahaan Sebagai Upaya Menekan Angka Kematian
Akibat Kecelakaan Kerja

Septa Decelita1, Hardi Yanta2


1
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
2
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Jambi
E-mail: septadc@yahoo.com, E-mail: Hardiyanta00@gmail.com

Abstrak

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga
dapat melindungi dan bebas dari kecelakaan kerja, pada akhirnya dapat meningkatkan
efisiensi dan produktivitas kerja. Pada tahun 2007 tercatat 65.474 angka kecelakaan yang
mengakibatkan 1.451 orang meninggal 5.326 orang cacat tetap dan 58.697 orang cedera.
Data kecelakaan tersebut mencakup seluruh perusahaan yang menjadi anggota Jamsostek
dengan jumlah 7 juta orang atau 10% dari seluruh pekerja di Indonesia. Dengan demikian
diperlukan sistem manajemen K3 di perusahaan sebagai upaya menekankan angka
kematian akibat kecelakaan kerja.
Untuk melihat dampak penerapan sistem manajemen Keselamatan Kesehatan Kerja (K3)
di perusahaan.
Studi ini menggunakan literature review pada beberapa jurnal berbahasa Inggris dan
Indonesia yang diambil dari tahun 2005 sampai dengan 2016, pencarian kepustakaan
dilakukan dengan memasukkan beberapa kata kunci yaitu: Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3), Manajemen, Perusahaan kedalam data base yang tersedia meliputi: Google
Schoolar, ProQuest, EBSCO. Diperoleh 16 artikel dan terpilih 10 artikel.
Sistem manajemen kecelakaan kerja dapat meminimalisir bahaya dan angka kecelakaan
kerja, karena masih banyaknya tenaga kerja yang tidak mengetahui dan bagaimana
penerapan K3 di perusahaan. Secara teknis manajemen kecelakaan kerja tidak dapat
menjamin keselamatan jiwa secara menyeluruh, namun melalui sistem manajemen
setidaknya bisa mengurangi risiko angka kematian akibat kecelakaan kerja. Sitem
manajemen tersebut dapat diterapkan melalui sosialisasi tentang manfaat, penerapan K3
serta pelatihan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di perusahaan.
Penggunaan sistem manajemen kecelakaan kerja merupakan aspek penting dalam
menekan angka kematian akibat kecelakaan kerja. Oleh karena itu pengetahuan,
kedisiplinan dari tenaga kerja dapat di wujudkan melalui sosialisasi, pelatihan pekerja
serta penggunaan alat pelindung diri pada pekerja.

Kata kunci: Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Manajemen, Perusahaan.

1. Pendahuluan
Perusahaan mempunyai misi yang ingin dicapai baik itu yang bersifat
jangka pendek maupun untuk jangka panjang kedepannya. Perusahan dituntut
mampu meningkatkan produktivitas sumber daya manusia. Produktivitas sumber
daya manusia ditentukan oleh sejauh mana sistem yang ada di perusahaan mampu
menunjang dan memuaskan keinginan seluruh pihak.
Apabila suatu perusahaan peduli kesejahteraan karyawan, maka karyawan
akan meningkatkan produktivitas kerjanya terhadap perusahaan. Salah satu faktor

70
yang mempengaruhi produktivitas karyawan adalah keselamatan dan kesehatan
kerja (K3). Menurut Hariandja (2007), K3 merupakan aspek yang penting dalam
usaha meningkatkan kesejahteraan serta produktivitas karyawan. Apabila tingkat
keselamatan kerja tinggi, maka kecelakaan yang menyebabkan sakit, cacat, dan
kematian dapat ditekan sekecil mungkin. Apabila keselamatan kerja rendah, maka
hal tersebut akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan sehingga berakibat pada
produktivitas yang menurun.
Kewajiban untuk menyelenggarakan Sistem Manajemen K3 pada
perusahaan besar melalui Undang-undang Ketenagakerjaan, baru menghasilkan
2,1% saja dari 15.000 lebih perusahan berskala besar di Indonesia yang sudah
menerapkan Sistem Manajemen K3. Minimnya jumlah itu sebagian besar
disebabkan oleh masih adanya anggapan bahwa program K3 hanya akan menjadi
tambahan beban biaya perusahaan. Padahal jika diperhitungkan besarnya dana
kompensasi/santunan untuk korban kecelakan kerja sebagai akibat diabaikannya
Sistem Manajemen K3, yang besarnya mencapai lebih dari 190 milyar rupiah di
tahun 2003, jelaslah bahwa masalah K3 tidak selayaknya diabaikan (Warta
Ekonomi, 2 Juni 2006).
Setiap tahun ribuan kecelakaan terjadi di tempat kerja yang menimbulkan
korban jiwa, kerusakan materi, dan gangguan produksi. Pada tahun 2007 menurut
jamsostek tercatat 65.474 kecelakaan yang mengakibatkan 1.451 orang
meninggal, 5.326 orang cacat tetap dan 58.697 orang cedera. Data kecelakaan
tersebut mencakup seluruh perusahaan yang menjadi anggota jamsostek dengan
jumlah peserta sekitar 7 juta orang atau sekitar 10% dari seluruh pekerja di
Indonesia. Dengan demikian diperlukan suatu manajemen risiko kesehatan
keselamatan kerja sebagai upaya menekan angka kecelakaan kerja akibat
kecelakaan kerja.

2. Metode Penulisan
Studi ini menggunakan literature review pada beberapa jurnal berbahasa
Inggris dan Indonesia yang diambil dari tahun 2005 sampai dengan 2016.
Pencarian kepustakaan dilakukan dengan memasukkan beberapa kata kunci yaitu:
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Manajemen, Perusahaan kedalam data
base yang tersedia meliputi: Google Schoolar, ProQuest, EBSCO. Diperoleh 16
artikel dan terpilih 10 artikel.

3. Hasil dan Pembahasan


Sistem manajemen kecelakaan kerja dapat meminimalisir bahaya dan angka
kecelakaan kerja, karena masih banyaknya tenaga kerja yang tidak mengetahui
dan bagaimana penerapan K3 di perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa masih
kurangnya perhatian ataupun komitmen dari perusahaan untuk melaksanakan
program K3 dengan baik. Secara teknis manajemen kecelakaan kerja tidak dapat
menjamin keselamatan jiwa secara menyeluruh, namun melalui sistem
manajemen setidaknya bisa mengurangi risiko angka kematian akibat kecelakaan
kerja. Sitem manajemen tersebut dapat diterapkan melalui sosialisasi tentang
manfaat, penerapan K3 serta pelatihan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di
perusahaan. Hal tersabut di dukung oleh Undang-Undang No. 1 tahun 1970 di
antaranya karyawan wajib memakai alat pelindung diri seperti helm dan sepatu di
lokasi perusahaan yang telah ditentukan, serta karyawan dilarang merokok di

71
ruang AC dan di tempat tempat yang mudah terbakar.
Sebagai wujud dari program keselamatan kerja, PG Krebet Baru
menyediakan alat pelindung diri kepada tenaga kerja yang disesuaikan dengan
keadaan tiap stasiun kerja. Alat pelindung diri yang dapat digunakan untuk
menjaga terlaksananya program keselamatan dan kesehatan kerja antara lain
masker, safety glove, safety shoes, welder glasses, helm pengaman, oto las kulit,
dan ear plug (penyumbat telinga). Perusahaan juga memasang himbauan
keselamatan kerja di berbagai tempat di dalam pabrik seperti poster Gunakan
sepatu safety demi Keselamatan. Sebagai wujud dari program kesehatan kerja,
PG Krebet Baru memberikan fasilitas kesehatan untuk karyawan. Fasilitas
kesehatan yang disediakan oleh PG Krebet Baru adalah poliklinik dan tenaga
medis. Perusahaan memberikan minuman yang bergizi (susu) sebagai penawar
racun kepada karyawan yang melaksanakan tugas berhubungan dengan bahan
beracun dan berbahaya.
Mengingat pentingnya Alat Pelindung Diri (APD), Berdasarkan hasil
kuesioner dan pengamatan di perusahaan, 8.33% karyawan bagian instalasi
mengungkapkan bahwa keselamatan kerja berpengaruh signifikan terhadap
produktivitas mereka. Keselamatan kerja membuat beberapa karyawan dapat
bekerja lebih cepat dan tepat waktu. Kesadaran karyawan tersebut terhadap
keselamatan kerja ditunjukkan dengan penggunaan alat pelindung diri saat
bekerja. Sebanyak 41.67% karyawan menyatakan hal yang berbeda bahwa
keselamatan kerja tidak berpengaruh terhadap produktivitas.
Pada penelitian lain, simultan variabel bebas yang terdiri dari keselamatan
kerja (X1) dan kesehatan kerja (X2) berpengaruh signifikan terhadap variabel
terikat produktivitas kerja karyawan (Y). Hal ini menunjukkan bahwa variabel
independen yaitu keselamatan kerja (X1) dan kesehatan kerja (X2) berpengaruh
cukup besar terhadap produktivitas kerja karyawan sebesar 53,6%. Tingkat
kecelakaan kerja memberikan kontribusi pengaruh yang signifikan dalam
penurunan produktivitas, sebesar 67,2%. Setiap kejadian kecelakaan kerja dapat
menurunkan nilai produktivitas sebesar 27,84 unit.
Mengingat tingginya angka kecelakaan kerja, implementasi Sistem
Manajemen Keselamatan Kesehatan Kerja (SMK3) perusahaan jasa konstruksi di
Kota Kupang termasuk dalam kategori kuning dengan persentase 62,38 % dan
tingkat kecelakaan masuk dalam kategori hijau maka implementasi SMK3 berada
pada level 2 (cukup aman). Alasan Penerapan SMK3 karena SMK3 bukan hanya
tuntutan pemerintah, masyarakat, pasar, atau dunia internasional saja tetapi juga
tanggung jawab pengusaha untuk menyediakan tempat kerja yang aman bagi
pekerjanya. Selain itu penerapan SMK3 juga mempunyai banyak manfaat bagi
industri kita antara lain manfaat lamgsungnya yaitu: 1) Mengurangi jam kerja
yang hilang akibat kecelakaan kerja, 2) Menghindari kerugian material dan jiwa
akibat kecelakaan kerja, 3) Menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif
karena tenaga kerja merasa aman dalam bekerja.
Perusahaan telah melaksanakan keselamatan kerja karyawan dengan baik
dengan upaya menjaga atau melindungi karyawan dari luka-luka yang disebabkan
oleh kecelakaan yang terkait dengan pekerjaan. Hal tersebut dapat dibuktikan
dengan: 1) perusahaan telah menyediakan peralatan kerja dalam kondisi baik dan
layak pakai dengan cara mengganti peralatan yang berusia tua, 2) perusahaan
menyediakan alat perlindung diri untuk menjaga keselamatan karyawan dari

72
segala risiko kecelakaan di tempat kerja, 3) perusahaan telah memasang rambu-
rambu kecelakan dan tanda larangan seperti larangan merokok, awas listrik
tegangan tinggi, awas lubang untuk menjaga keselamatan karyawan, 4)
perusahaan memberikan jaminan bahwa karyawan bekerja dalam kondisi
lingkungan kerja yang aman dengan menyediakan satpam di tempat kerja 5)
perusahaan secara rutin melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kerja yang
dilaksanakan oleh SHE Officer. Perusahaan memberikan sanksi jika menemukan
pekerja yang dianggap melanggap aturan di tempat kerja. 6) perusahaan
memberikan petunjuk kerja untuk mempermudah pekerjaan 7) perusahaan
memberikan pelatihan bagi setiap karyawan mengenai keselamatan kerja untuk
bekerja dengan aman.
Perusahaan telah melaksanakan kesehatan kerja karyawan dengan baik
dengan upaya menjaga atau melindungi kondisi umum fisik, mental, emosi atau
rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Hal tersebut dapat dibuktikan
dengan: a. Perusahaan menyediakan obat-obatan untuk pertolongan pertama
apabila terjadi kecelakaan sebagai tindakan awal dalam menangani kecelakaan
yang terjadi di tempat kerja. b. Perusahaan melakukan pemeriksaan kesehatan
secara berkala bagi karyawan untuk menjaga agar karyawan selalu dalam keadaan
sehat. c. Perusahaan memberikan jaminan kesehatan kepada para
karyawan/pekerja. d. Terpeliharanya lingkungan kerja yang sehat dan bersih untuk
menjaga kesehatan pekerja dari segala penyakit. e. Tersedia pelayanan kesehatan
bagi para karyawan/pekerja. f. Perusahaan memberikan pendidikan mengenai
pentingnya kesehatan dalam menyelesaikan pekerjaan.
Faktor yang mempengaruhi kesehatan kerja adalah lingkungan kerja segi
fisik dengan nilai signifikansi sebesar 5.104, lingkungan kerja dari segi psikologis
dan sosial dengan nilai signifikansi sebesar 3.808 dan perilaku kerja dengan nilai
signifikansi sebesar 1.973. Dan kesehatan kerja mempengaruhi stress kerja
dengan nilai signifikansi sebesar 2.169. Variabel keselamatan kerja (X1) dan
kesehatan kerja (X2) baik secara parsial maupuan secara simultan mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan PT Tracon
Industri dan diketahui variabel paling dominan dalam mempengaruhi
produktivitas kerja karyawan dalam penelitian ini adalah keselamatan kerja
ditunjukkan dengan nilai koefisien t- hitung memiliki nilai-nilai yang lebih besar
dari pada variabel komitmen organisasi.
Jadi apabila keselamatan kerja tinggi maka produktivitas kerja karyawan
juga akan tinggi. Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian dari Katsuro et al.,
(2010) yang menyatakan bahwa keselamatan kerja memiliki pengaruh signifikan
terhadap produktivitas kerja. Selain itu Padminingsih (2007) juga menyatakan
keselamatan kerja berpegaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kerja.
Kesehatan kerja dipresentasikan dalam enam indikator yaitu kebersihan
lingkungan, pemeriksaan kesehatan berkala bagi karyawan, fasilitas P3K, kondisi
balai pengobatan, keadaan ventilasi, tingkat kebisingan. Artinya semakin baik
tingkat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang diharapkan maka semakin
baik pula produktivitas karyawan, begitu sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teori
yang dikemukakan oleh Hariandja (2002: 312) bahwa peningkatan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) akan dapat meningkatkan produktifitas dan kinerja
perusahaan. Undang-undang Republik Indonesia No.13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan juga menyebutkan bahwa untuk mewujudkan Kinerja yang

73
optimal diselenggarakan upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Tingkat
Keselamatan dan Kesehatan Kerja dikatakan baik apabila Perusahaan telah
memberikan peralatan kerja yang baik dan menjaga lingkungan kerja agar
terhindar dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

4. Kesimpulan
Untuk mencapai pelayanan yang efektif maka perawat, dokter dan tim
kesehatan harus berkolaborasi satu dengan yang lainnya. Tidak ada kelompok
yang dapat menyatakan lebih berkuasa diatas yang lainnya. Masing-masing
profesi memiliki kompetensi profesional yang berbeda sehingga ketika
digabungkan dapat menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Banyaknya faktor yang berpengaruh seperti kerjasama, sikap saling menerima,
berbagi tanggung jawab, komunikasi efektif sangat menentukan bagaimana suatu
tim berfungsi. Kolaborasi yang efektif antara anggota tim kesehatan memfasilitasi
terselenggaranya pelayanan pasien yang berkualitas.

Daftar Pustaka
(Brock & Smith, 2007)Brock, T. P., & Smith, S. R. (2007). An Interdisciplinary
Online Course in Health Care Informatics, 71(3), 16.
Goorden, M., Vlasveld, M. C., Anema, J. R., Mechelen, W. Van, & Roijen, L. H.
(2014). Cost-Utility Analysis of a Collaborative Care Intervention for Major
Depressive Disorder in an Occupational Healthcare Setting, 555562.
doi:10.1007/s10926-013-9483-4
Green, C., Richards, D. A., Hill, J. J., Gask, L., Lovell, K., Chew-, C., Bland, J.
M. (2014). Cost-Effectiveness of Collaborative Care for Depression in UK
Primary Care: Economic Evaluation of a Randomised Controlled Trial
( CADET ), 9(8). doi:10.1371/journal.pone.0104225
Group, P. B. (2009). Collaborative Mental Health Care Versus Care as Usual in a
Primary Care Setting: A Randomized Controlled Trial, 60(1).
Hills, H., & Richards, T. (n.d.). to Advance Behavioral Health Care, 38.
doi:10.1007/s11414-013-9374-7
Morone, N. E., Belnap, B. H., Hum, B., He, F., Mazumdar, S., Weiner, D. K., &
Rollman, B. L. (n.d.). Pain Adversely Affects Outcomes to a Collaborative
Care Intervention for Anxiety in Primary Care, 5867. doi:10.1007/s11606-
012-2186-2
Nursing, P., & Source, A. H. (2006). Nutrition in Primary Health Care: Using a
Delphi Process To Design New Interdisciplinary Services.
Zucchero, A., Hooker, E., & Larkin, S. (2010). An interdisciplinary symposium
on dementia care improves student attitudes toward health care teams, 312
320. doi:10.1017/S1041610209991293

74
Tabel Referensi Sistem K3

No Nama Penulis Metode Hasil Judul


(Tahun)
1. Henry Bagus Jenis penelitian yang Ada pengaruh yang signifikan secara parsial dari Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan
Setiawan, Heru digunakan adalah variabel keselamatan kerja karyawan (X1) dan kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan
Susilo dan M. penelitian survei kerja karyawan (X2) terhadap kinerja karyawan (Y). (Survei Pada Karyawan PT. PINDAD
Faisal Riza yang bersifat (Persero) Malang)
(2014) penjelasan
(explanatory
research).
2. Bella Gloria Pengumpulan data Keselamatan kerja secara langsung tidak berpengaruh Analisis Pengaruh Keselamatan dan
Ukhisiadan menggunakan signifikan terhadap produktivitas karyawan. Kesehatan Kerja terhadap
Retno Astutiserta kuisioner, penelitian Keselamatan kerja secara tidak langsung mempengaruhi Produktivitas Karyawan dengan
Arif Hidayat dan responnya produktivitas karyawan melalui kesehatan kerja. Metode Partial Least Squares
(2012) diukur dengan Kesehatan kerja secara langsung berpengaruh signifikan

75
menggunakan skala terhadap produktivitas karyawan.
likert.
3. Bayu Indra StudiLapangan simultan variabel bebas yang terdiri dari keselamatan Pengaruh Pelaksanaan Keselamatan
Siswanto, (2015) (Field Work kerja (X1) dan kesehatan kerja (X2) berpengaruh dan Kesehatan Kerja terhadap
Research) dengan signifikan terhadap variabel terikat produktivitas kerja Produktivitas Kerja Kryawan pada PT
cara observasi, karyawan (Y). menunjukkan bahwa variabel independen Pembangunan Perumahan Tbk Cabang
wawancara, yaitu keselamatan kerja (X1) dan kesehatan kerja (X2) Kalimantan di Balik Papan
kuesioner dan Studi berpengaruh cukup besar terhadap produktivitas kerja
Dokumentasi karyawan sebesar 53,6%.
4. Much. Djunaidi Analisis dilakukan Tingkat kecelakaan kerja memberikan kontribusi Peningkatan Produktivitas Kerja
dan Faizal dengan pengaruh yang signifikan dalam penurunan dengan Menerepkan Sistem
Abidin menggunakan produktivitas, sebesar 67,2%. Setiap kejadian Manajemen Kesehatan dan Kelamatan
(2015) pendekatan regressi kecelakaan kerja dapat menurunkan nilai produktivitas Kerja (SMK3 di Universal Furniture
dan korelasi. sebesar 27,84 unit. Industri
5. Iman Kurniawan Metode Lima risiko tertinggi: lifting material menggunakan Manajemen Risiko K3 (keselamatan
Wicaksono dan Penilaian tower crane terdapat risiko material terjatuh/ sebagian dan kesehatan kerja) pada proyek
Moses L. menggunakan besar dari material yang diangkar dengan total indeks pembangunan apartemen puncak
Singgih (2011) matriks penilaian risiko sebesar 13,95, Steel fixing, formwork, permai Surabaya
risiko yang installatioon, concreting, dan pekerjaan eksternal wall
bersumber dari memiliki risiko terjatuh dari ketinggian dengan total
AS/NZS 4360:2004 indeks risiko sebersar 13,16, installation electrical pipe.
Risk Management
Standart
6. Bryan Alfons Metode penilaianKriteria kecelakaan tertinggi yaitu terjatuhnya pekerja Manajemen Risiko Keselamatan dan
Willyam Sepang, risiko dengan dengan Risk Level L (Low) sebesar 52% dan sub-kriteria Kesehatan Kerja (K3) pada Proyek
J. Tjakra, J. E. menggunakan kecelakaan tertinggi yaitu pekerja terjatuh dari tangga Pemabngunan Ruko Orlens Fashion
Ch. Langi, D. R. matrikspenilaian dengan Risk Level L (Low) sebesar 52%. Untuk kriteria Manado
O. Walangitan risiko. faktor utama penyebab kecelakaan tertinggi adalah
(2013) faktor manusia dengan Risk Level L (Low) sebesar 56%
dan sub-kriteria faktor penyebab kecelakaan tertinggi
adalah tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD)

76
dengan Risk Level L (Low) sebesar 56%.
7. Bobby Rocky Peneliti langsung Masih banyak tenaga kerja yang tidak mengetahui Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Kani, dan R. J. mengadakan survey tentang K3. Hal ini menunjukkan bahwa masih Pada Pelaksanaan Proyek Konstruksi
M. Mandagi, J. di lapangan untuk kurangnya perhatian ataupun komitmen dari perusahaan (Studi Kasus: Proyek PT. Trakindo
P. Rantung, serta mengidentifikasi kontraktor untuk melaksanakan program K3 dengan Utama)
G. Y. Malingkas mengenai risiko K3. baik.
(2013)
8. Yunita A. Adapun acuan Implementasi SMK3 perusahaan jasa konstruksi di Kota Kajian Implementasi Sistem
Messah, Yohana penelitian ini adalah Kupang termasuk dalam kategori kuning dengan Manajemen Keselamatan dan
Bolu Tena dan I ketentuan yang persentase 62,38 % dan tingkat kecelakaan masuk dalam Kesehatan Kerja Pada Perusahaan Jasa
Made ditetapkan dalam kategori hijau maka implementasi SMK3 berada pada Konstruksi di Kota Kupang
Udiana(2012) SMK3. level 2 (cukup aman).
9. Dewinta Data yang Faktor yang mempengaruhi kesehatan kerja adalah Analisa Keselamatan dan Kesehatan
Grahanintyas, digunakan berasal lingkungan kerja segi fisik dengan nilai signifikansi Kerja dalam Meningkatkan
Sritomo dari data kuisioner sebesar 5.104, lingkungan kerja dari segi psikologis dan Produktivitas Kerja
Wignjosoebroto karyawan pada sosial dengan nilai signifikansi sebesar 3.808 dan (Studi Kasus: Pabrik The Wonosari
dan Effi bagian pemetikan perilaku kerja dengan nilai signifikansi sebesar 1.973. PTPN XII)
Latiffianti (2012) daun sampai dengan Dan kesehatan kerja mempengaruhi stress kerja dengan
pengolahan menjadi nilai signifikansi sebesar 2.169
produk teh sejumlah
185 karyawan.
10 Ananda Zuliyan Penelitian kuantitatif. variabel keselamatan kerja (X1) dan kesehatan kerja Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan
Pratomo dan Rancangan penelitian (X2) baik secara parsial maupuan secara simultan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja
Andre Dwijanto yang digunakan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Karyawan PT Tracon Industri
W (2014) dalam penelitian ini produktivitas kerja karyawan PT Tracon Industri dan
adalah konklusif. diketahui variabel paling dominan dalam mempengaruhi
produktivitas kerja karyawan dalam penelitian ini adalah
keselamatan kerja ditunjukkan dengan nilai koefisien t-
hitung memiliki nilai-nilai yang lebih besar dari pada
variabel komitmen organisasi.

77
Tinjauan Rujukan Daftar Bahaya dan Usulan Tambahan Daftar
Bahaya Keselamatan dan Kesehatan

Syamsul Arifin
Universitas Balikpapan
Jl Pupuk Raya, Gn Bahagia, Balikpapan
Tlp (0542) 765442, 764205, E-Mail: syamsul.arifin@yahoo.com

Abstrak

Ada beberapa institusi yang dapat dijadikan rujukan ketika melakukan identifikasi
bahaya, diantaranya: International Labour Organization (ILO), Occupational Safety and
Health Administration (OSHA), Canadian Centre for Occupational Health and Safety
(CCOHS), dan Viner. Dengan melakukan penelitian analisis isi, penulis membandingkan
daftar bahaya yang disusun tersebut, mengkritisi, dan mengusulkan beberapa tambahan
daftar bahaya sehingga bisa menghasilkan suatu daftar bahaya yang lebih komprehensif.
Daftar bahaya yang dibahas dapat juga diklasifikasikan menjadi beberapa kategori: fisika,
kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial.

Kata kunci: identifikasi, bahaya, keselamatan, kesehatan.

1. Pendahuluan
Bahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi merugikan (ISO, 2009), baik
kerugian pada manusia berupa cedera, penyakit akibat kerja, pencemaran
lingkungan, maupun kerugian perusahaan berupa kerusakaan aset atau gangguan
produksi. Identifikasi bahaya adalah salah satu langkah krusial dalam pengelolaan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Tanpa identifikasi
bahaya yang benar, pengendalian dan fokus perhatian Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) perusahaan bisa jadi salah sasaran, tidak efektif, dan tidak efisien.
Salah satu cara mengidentifikasi bahaya adalah dengan berkeliling tempat
kerja dan mengamati aktifitas, proses, peralatan, dan bahan yang dipergunakan
yang dapat mengakibatkan cedera, penyakit, pencemaran lingkungan atau
kerugian perusahaan(1). Namun, sangat mudah sekali untuk mengabaikan beberapa
bahaya jika setiap hari kita berada dan bekerja di tempat yang sama.
Ada beberapa institusi yang dapat dijadikan rujukan ketika melakukan
identifikasi bahaya, diantaranya: ILO (International Labour Organization),
Occupational Safety and Health Administration (OSHA), Canadian Centre for
Occupational Health and Safety (CCOHS), dan Viner (1991).

2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kualitatif dengan
melakukan teknik analisis konten pada publikasi yang diterbitkan ILO, OSHA,
CCOHS dan Viner tentang identifikasi bahaya di tahun 1998-2015.

3. Hasil dan Pembahasan


ILO (International Labour Organization) di Ensiklopedia Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang diterbitkannya menyebutkan beberapa bahaya, yaitu:
tekanan (kenaikan dan penurunan), biologi, bencana alam dan buatan, listrik, api,

78
panas dan dingin, jam kerja, kualitas udara dalam ruangan, pengendalian
lingkungan dalam ruangan, pencahayaan, kebisingan, radiasi (pengion dan bukan
pengion), getaran, kekerasan dan tampilan visual alat elektronik (visual display
units)(2).
Occupational Safety and Health Administration (OSHA) di publikasi
berjudul Job Hazard Analysis menyebutkan beberapa tipe bahaya diantaranya:
bahan kimia beracun, mudah terbakar, korosif, mudah meledak akibat reaksi
kimia dan tekanan berlebih, bahaya tersengat listrik, terbakar akibat listrik, listrik
statis, kehilangan sumber listrik, bahaya ergonomi berupa cedera dan kesalahan
manusia, runtuhan galian, terjatuh (terpleset, tersandung), api/panas, getaran,
mekanik, kegagalan mekanika, kebisingan, radiasi pengion dan radiasi bukan
pengion, menabrak benda, ditabrak benda, suhu ekstrim (panas dan dingin),
pandangan terhalang, cuaca (salju, hujan, angin, es)(3). OSHA negara bagian
Oregon menambahkan beberapa bahaya dari daftar diatas, yaitu bahaya biologi
(bakteri, virus, jamur) dan kekerasan di tempat kerja(4).
Canadian Centre for Occupational Health and Safety (CCOHS) membagi
klasifikasi bahaya menjadi beberapa hal: bahaya kimia, ergonomi (manual
handling, pencahayaan, pengaturan kantor, posisi duduk-berdiri, terpleset,
terjatuh, tersandung, shift kerja, peralatan dan gangguan kesehatan tulang-otot
terkait pekerjaan), kesehatan (biologi, penyakit, wabah), fisik (temperatur, kualitas
udara ruangan, jamur, kebisingan, radiasi), psikososial (stres, kekerasan,
bullying), keselamatan (berkendara, listrik, alat angkat-angkut, tangga, mesin,
platform kerja, perkakas kerja), dan tempat kerja (ruang terbatas, ventilasi, cuaca,
bekerja sendirian)(5).
Sementara itu, Viner (1991), membagi bahaya berdasarkan klasifikasi
sumber energi. Sehingga bahaya menurut Viner dikelompokkan menjadi: energi
potensial (gravitasi, fluida bertekanan), kinetik (gerakan), mekanik, akustik dan
getaran, listrik, nuklir, panas, kimia, mikrobiologi, dan otot (penyerangan).(6)
Beberapa bahaya yang disebutkan di atas sudah cukup menjelaskan dirinya
sendiri, namun ada beberapa poin dari daftar bahaya di atas yang perlu dijelaskan
lebih lanjut dan ada beberapa bahaya yang belum terdata dan perlu ditambahkan
guna kelengkapan daftar bahaya.
Terpleset, terjatuh, dan tersandung yang disebutkan OSHA dan CCOHS
misalnya, ketiga hal itu seharusnya tidak masuk ke dalam kategori bahaya atau
hazard, karena ketiga hal tersebut adalah kejadian atau event. Seperti disebutkan
ISO guide 73, kejadian adalah peristiwa atau perubahan kondisi tertentu
(occurrence or change of a particular set of circumstances) (7). Sehingga, bahaya
dari kejadian terpleset, terjatuh, dan tersandung bisa berupa permukaan licin,
sandungan, dan perbedaan ketinggan permukaan/lantai. Begitu pula dengan
ditabrak benda dan menabrak benda yang disebutkan OSHA. Kedua hal itu
adalah kejadian, bahaya yang tepat untuk dua kejadian itu bisa berupa benda
bergerak atau benda stasioner di jalur lintasan. Jika kejadiannya adalah terjepit,
maka bahaya yang bisa disebut adalah berada pada jalur lintasan bahaya/berada
dijalur pergerakan mesin.
Terutama di fasilitas minyak dan gas yang berusia tua (lebih dari 30 tahun)
dan fasilitas pengeboran yang banyak menghasilkan getaran, bahaya benda jatuh
menjadi salah satu fokus tersendiri. Potensi benda jatuh menjadi penyebab
terbesar kematian dan potensi kecelakaan serius di industri minyak dan gas (8).

79
Data dari HSE UK untuk sumur migas menyebutkan bahwa di 2015, ada lebih
dari 30 kejadian benda jatuh, termasuk besi 5 kg jatuh dari ketinggian 6 m, pintu
bukaan 5,8 kg jatuh dari 6,5 m, alas karet (20 kg) yang diangkat helikopter jatuh
dari 18 m, dan pintu lemari listrik 20 kg yang jatuh dari ketinggian 20 m.(9)
Selain potensi benda jatuh, potensi pekerja jatuh karena berada atau bekerja
di ketinggian patut juga dijadikan salah satu identifikasi bahaya. Pekerja terjatuh
adalah kejadiannya, sedangkan perbedaan ketinggian kerja adalah bahayanya.
Peralatan yang tidak standar atau buatan sendiri juga bisa ditambahkan, karena
peralatan buatan sendiri tanpa desain teknis, integritas material dan/atau
perhitungan kekuatan peralatan bisa meningkatkan risiko cedera. (10)
Kemudian, jika ILO menyebutkan tekanan sebagai salah satu bahaya, dan
Viner menyebutkan fluida bertekanan, maka segala macam zat bertekanan
harusnya diidentifikasi sebagai bahaya juga, semisal gas atau udara terkompresi.
OSHA dan Viner menyebutkan bahaya mekanik, sebagai tambahan dan perjelasan,
segala mesin atau benda yang berputar atau digerakkan dengan listrik, hidrolik
dan semisalnya masuk ke dalam bahaya tersebut. Kontak dengan benda tajam juga
dapat menghasilkan kejadian atau insiden. Pada industri teknik, cedera akibat
benda tajam bisa terjadi ketika menangani benda atau material bersisi tajam. Data
HSE UK menyebutkan bahwa sepertiga cedera tercatat diakibatkan oleh luka dari
besi tajam ketika menanganinya. (11)
CCOHS dan Viner menyebutkan bahaya kimia, tapi OSHA menambahkan
detail berupa karakteristik bahan kimianya yang bisa berupa beracun, korosif,
mudah terbakar, mudah meledak dan semisalnya, bisa juga ditambahkan sifat
iritan. Meski sudah cukup disebutkan sebagai bahaya bahan kimia, menurut
penulis, penambahkan sifat lebih detail tidak mengapa karena akan membantu
memudahkan pekerja mengidentifikasi lebih jauh konsekuensi yang bisa terjadi
dari suatu bahan kimia. Bahkan menyebutkan fasa bahan kimianya (padat, cair,
gas) juga mungkin dapat membantu pekerja mengidentifikasi beberapa bahan
kimia yang kasat mata semisal gas berbahaya dari H2S.
Jika sebelumnya adalah kehadiran bahan kima yang dapat membuat bahaya,
maka ketidakhadiran suatu bahan juga bisa membuat bahaya, seperti kekurangan
atau tidak adanya oksigen. Kekurangan atau ketiadaan oksigen bisa terjadi akibat
beberapa hal, misalnya penggunaan gas inert, beberapa reaksi kimia (contohnya
pengaratan), atau kehadiran gas lain semisal argon, CO2, nitrogen, dan helium
bisa mendorongnya keberadaan oksigen.(12)
ILO dan CCOH menyebutkan bahaya kualitas udara dalam ruangan dan
menyebutkan pula pengendalian lingkungan dalam ruangan dan ventilasi. Kedua
hal terakhir itu lebih tepat digolongkan sebagai mitigasi rekayasa teknik untuk
menjaga kualitas udara dalam ruangan berada dalam tingkat yang diperbolehkan.
CCOH hanya menyebut bahaya radiasi, Viner menyebut nuklir, sedang ILO dan
OSHA membagi radiasi berdasarkan "muatan listrik"nya sehingga dipisah menjadi
radiasi pengion dan radiasi non-pengion. Klasifikasi ILO dan OSHA lebih baik
karena menjelaskan berbedaan pengaruh antara kedua klasifikasi tersebut.
Radiasi pengion adalah radiasi yang apabila menumbuk atau menabrak
sesuatu, akan muncul partikel bermuatan listrik yang disebut ion. Peristiwa
terjadinya ion ini disebut ionisasi. Ion ini kemudian akan menimbulkan efek atau
pengaruh pada bahan, termasuk benda hidup. Radiasi pengion disebut juga radiasi
atom atau radiasi nuklir. Termasuk ke dalam radiasi pengion adalah sinar-X, sinar

80
gamma, sinar kosmik, serta partikel beta, alfa dan neutron. Partikel beta, alfa dan
neutron dapat menimbulkan ionisasi secara langsung. Meskipun tidak memiliki
massa dan muatan listrik, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik juga termasuk
ke dalam radiasi pengion karena dapat menimbulkan ionisasi secara tidak
langsung.(13) Radiasi non-pengion adalah radiasi yang tidak dapat menimbulkan
ionisasi. Termasuk ke dalam radiasi non-pengion adalah gelombang radio,
gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak dan ultraviolet.(13)
Berbicara mengenai bahaya ergonomi, bisa dibagi menjadi 3 subbidang
ergonomi: fisik (postur kerja/postur janggal, penanganan material - beban
berlebih, gerakan berulang, penataan tempat kerja), kognitif (beban kerja pikiran,
pengambilan keputusan, kinerja manusia, interaksi manusia-komputer/mesin,
reliabilitas manusia, stres kerja), dan organisasional (komunikasi, pengelolaan
SDM kru, desain kerja, desain waktu kerja, kerjasama tim, dst) (14). ILO dan
OSHA menyinggung mengenai ergonomi kognitif, sedang CCOHS membahas
ergonomi kognitif dan fisik.
Pencahayaan disebut sebagai bahaya, kurang pencahayaan lebih tepat
dianggap sebagai bahaya, terutama jika pekerjaan membutuhkan ketelitian.
Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1405 tahun 2002 tentang persyaratan
kesehatan lingkungan kerja perkantoran dan industri memberikan acuan jumlah
penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan
secara efektif. (15)
Bahaya alam dapat didefinisikan sebagai fenomena alamiah yang bisa
terjadi secara cepat atau lambat yang mungkin diakibatkan oleh geofisika (gempa
bumi, longsor, tsunami dan aktifitas gunung api), hidrologi (banjir bandang),
klimatologi (cuaca ekstrim, kekeringan, kebakaran hutan), meteorologi (topan dan
badai/ombak besar) atau biologis (epidemis penyakit dan wabah
serangga/binantang).(16) ILO menyebutkan bahaya bencana alam dan bencana
buatan, sedang OSHA hanya menyebutkan beberapa contoh bencana alam. Potensi
bencana alam dan contoh detailnya bisa dijadikan daftar bahaya alamiah.
ILO menyebutkan bahaya biologi secara umum, sementara institusi lain
menyebutkan beberapa contoh bahaya biologi, semisal bakteri, virus, jamur,
mikrobiologi (3,5,6), sedang bahaya biologi berupa makhluk hidup yang lebih besar
semisal serangga, binatang vektor/carrier penyakit, pengerat, berbisa dan buas
bisa ditambahkan guna melengkapi bahaya biologi. Secara umum, bahaya berasal
dari hal fisik yang dapat dilihat (semisal pisau tajam) atau memiliki aroma
(semisal cat), tapi ada juga bahaya yang berasal dari interaksi (atau ketiadaan
interaksi) dengan orang lain. Saat ini, bahaya psikososial sudah dikenali sebagai
salah satu bahaya di tempat kerja.(17)
World Health Organization (WHO) menyebutkan beberapa risiko
psikososial diantaranya: konten kerja, beban dan irama kerja, jadwal kerja, kendali
kerja, lingkungan dan peralatan, budaya dan fungsi organisasi, hubungan
interpersonal di tempat kerja, peran di organisasi, pengembangan karir, interaksi
rumah dan pekerjaan.(18)
Bahaya psikososial, stres kerja, kekerasan, intimidasi, pelecehan, bullying,
sudah dapat dianggap sebagai salah satu tantangan keselamatan dan kesehatan
kerja. (19,20,21) Maka dari itu, kekerasan, stres, bekerja sendirian di tempat kerja
telah masuk ke daftar bahaya yang disebutkan ILO, OSHA, dan CCOHS. Sehingga
kekerasan di tempat kerja dari sesama pekerjan atau pelanggan, ancaman

81
keamanan-penipuan, pencurian, perampokan juga perlu diperhitungkan ke dalam
daftar bahaya psikososial.
Jika CCOHS memasukkan bekerja sendiri sebagai bahaya, maka pekerjaan
yang dilakukan secara simultan dengan tim lain atau simultaneous operations
(SIMOPS) juga patut dipertimbangkan sebagai salah satu potensi bahaya.
SIMOPS didefinisikan sebagai pelaksanaan dua atau lebih pekerjaan berbeda
secara bersamaan.(22) Adanya beberapa pekerjaan/aktifitas berbeda yang
berlangsung di area yang berdekatan memberikan ada kemungkinan terjadinya
interferensi, bentrok atau terjadi transfer risiko antar pekerjaan.(23)

4. Kesimpulan
a. Bahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi merugikan.
b. Daftar bahaya yang dibahas dapat juga diklasifikasikan menjadi beberapa
kategori: fisika, kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial.
c. Daftar bahaya fisika bisa berupa permukaan licin, sandungan, perbedaan
ketinggian permukaan, benda bergerak, benda stasioner di jalur lintasan,
berada pada jalur lintasan bahaya/berada dijalur pergerakan mesin, potensi
benda jatuh, potensi pekerja jatuh (perbedaan ketinggian kerja), peralatan
tidak standar/buatan sendiri, api, panas dan dingin, gas atau udara dan cairan
bertekanan, mekanik, benda berputar, benda tajam, getaran, kebisingan,
listrik, listrik statis, radiasi pengion dan radiasi bukan pengion,
pencahayaan, bencana alam, cuaca (salju, hujan, angin, es, gelombang laut,
gempa bumi, longsor, tsunami, aktifitas gunung api, banjir bandang, cuaca
ekstrim, kekeringan, kebakaran hutan, topan, badai/ombak besar, petir).
d. Daftar bahaya kimia bisa berupa bahan kimia beracun, mudah terbakar,
korosif, mudah meledak akibat reaksi kimia dan tekanan berlebih, iritan,
tidak ada/kurang oksigen, kualitas udara dalam ruangan.
e. Daftar bahaya biologi bisa berupa mikrobiologi, bakteri, virus, jamur,
penyakit, wabah, jamur, binatang berbisa, binatang buas, carrier, serangga,
pengerat.
f. Daftar bahaya ergonomi bisa berupa tampilan visual alat elektronik (visual
display units), jam kerja, manual handling, pengaturan kantor, posisi duduk-
berdiri, shift kerja, peralatan, gerakan berulang-ulang, posisi janggal,
bekerja terlalu lama, beban berlebih, kurang/tidak ada komunikasi,
informasi terbatas.
g. Daftar bahaya psikososial bisa berupa kekerasan, stres, bullying, bekerja
sendirian, keamanan (penipuan, pencurian, perampokan), pelecehan,
pekerjaan bersamaan/Simultaneous Operations (SIMOPS).

Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Hendra, SKM., MKKK, pengajar
K3 FKM Universitas Indonesia atas kesediaannya meninjau isi makalah.

Daftar Pustaka:
1. Health and Safety Executive (HSE). Risk assessment - A brief guide to
controlling risks in the workplace. 2014. Inggris
2. International Labour Organization (ILO). Encyclopedia of Occupational
Health and Safety 4th Edition. 1998. Swiss

82
3. Occupational Safety and Health Administration (OSHA). Job Hazard
Analysis. 2002. Amerika
4. Oregon OSHA. Hazard Identification and Control. 2005. Amerika
5. Canadian Centre for Occupational Health and Safety (CCOHS). Hazards.
2015. Kanada
6. Safety Institute of Australia. Hazard as a Concept. 2012. Australia
7. International Organization for Standardization. ISO Guide 73: 2009, Risk
management Vocabulary. 2009. Swiss
8. DROPS Reliable Securing Focus Group. Dropped Objects Awareness and
Prevention, Reliable Securing 3.0. 2013. Inggris
9. Drops Online. UK HSE Statistics Dec 2015. Diakses di
http://www.dropsonline.org/resources-and-guidance/presentations/ industry-
updates/uk-hse-statistics-dec-2015/ pada Januari 2016
10. Helmerich & Payne. IDCs Composite Catalog of Oilfield Trash. 2010.
Amerika
11. HSE UK. HSE information sheet, Preventing injuries from the manual
handling of sharp edges in the engineering industry. 1998. Inggris
12. HSE UK. Lack of oxygen in confined spaces. Diakses di http://www.hse.
gov.uk/welding/confined-spaces.htm pada Maret 2016
13. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) - Pusat Pendidikan dan Pelatihan.
Pengenalan Radiasi. Desember 2005. Indonesia
14. International Ergonomics Association (IEA). Definition and Domains of
Ergonomics. Diakses di http://www.iea.cc/whats/ pada 25 Maret 2016
15. Kementerian Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan no. 1405 tahun 2002
tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerja perkantoran dan industri.
Indonesia
16. International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC).
Types of disasters: Definition of hazard. Diakses di
http://www.ifrc.org/en/what-we-do/disaster-management/about-
disasters/definition-of-hazard/ pada Maret 2016
17. Work Safe Alberta. Occupational Health and Safety Teacher Resources.
Kanada
18. World Health Organization (WHO). Health Impact of Psychosocial Hazards
at Work: An Overview. 2010. Swiss
19. European Agency for Safety and Health at Work (EU-OSHA). Expert forecast
on emerging psychosocial risks related to occupational safety and health.
2007. Luxembourg
20. Comcare Australia. Psychosocial hazards. Diakses di: https://www.
comcare.gov.au/preventing/hazards/psychosocial_hazards pada Maret 2016
21. Tweedy, James T. Healthcare Hazard Control and Safety Management. 2005.
Singapura
22. International Marine Contractors Association (IMCA). Guidance on
Simultaneous Operations (SIMOPS). 2010. Inggris

83
Estimasi Risiko Kejadian Penyakit Degeneratif Akibat
Pajanan Polusi Udara NO2 Pada Pekerja Jalan Tol di Jakarta
E.Laelasari1, H.Kusnoputranto2, Budiawan3, Mustofa4
1
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
2
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok
3
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, Depok
4
Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
E-mail: 1ela_laelasari@uinjkt.ac.id, 2haryoto_k@ui.ac.id, 3dr.bud@ui.ac.id,
4
mustofafk@ugm.ac.id

Abstrak

Saat ini Indonesia mengalami peningkatan morbiditas penyakit tidak menular.


Peningkatan tersebut seiring dengan tingginya tingkat polusi udara di kota-kota besar.
Bahan kimia lingkungan yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat menyebabkan
terjadinya oxidative DNA dan berisiko terhadap kejadian kanker dimasa depan.
Studi ini memprediksi munculnya risiko penyakit non-degeneratif akibat pajanan polutan
NO2 dikalangan pekerja tol. Aplikasi formula mathematis analisis risiko kesehatan
lingkungan memprediksi kejadian 10 tahun kedepan kejadian penyakit degenerative pada
200 karyawan pekerja tol di Jakarta dan sekitarnya.
Keseluruhan (100%) pekerja jalan tol memiliki peluang hazard risiko yang kecil untuk
terjadinya penyakit degenerative (HQ<1) dari keseluruhan sample. Prediksi berdasarkan
konsentrasi udara DKI Jakarta dan setiap area spesifik gerbang tol tidak menemukan
peluang yang nyata.
Paparan polutan lingkungan baik yang bersifat non karsinogenik atau bahkan
karsinogenik memberikan dampak buruk bagi penduduk dan utamanya pekerja yang
berada di dalamnya. Walau pun pada saat ini mayoritas pekerja belum memiliki peluang
untuk terkena penyakit Non Degeneratif dalam kurun waktu 10 tahun kedepan sejak di
deteksi pada tahun 2013, namun tidak menutup kemungkinan peluang tersebut akan
terjadi di tahun selanjutnya(>10 tahun). Rekomendasi perlu dilakukan riset lanjutan
melibatkan tekhnologi genom, mengingat polutan memiliki kemampuan biomagnifikasi
pada makhluk hidup. Penggunaan alat pelindung diri dan penghijauan disarankan
disamping monitoring berkala pada ambient udara di perkotaan.

Kata kunci: hazard quotient (HQ), pekerja tol, penyakit degenerative, polusi udara, NO2.

1. Pendahuluan
Saat ini dunia sedang mengalami peningkatan angka kejadian penyakit tidak
menular. Tingginya angka morbiditas penyakit tidak menular tersebut seiring
dengan peningkatan tingkat pencemaran lingkungan termasuk pencemaran udara.
Hal ini terjadi terutama di daerah perkotaan. Sumber polutan udara terbesar
berasal dari emisi kendaraan bermotor, disamping sumber lain seperti industri(1).
Polusi udara lingkungan (ambient air pollution) memiliki dampak yang luas
dibandingkan dengan polusi dalam ruang (indoor air pollution), hal ini
dikarenakan cemaran polusi udara dapat menyebar ke seluruh wahana lingkungan
udara di athmosfer tanpa mengenal batas geografis(2). Walau pun curah hujan dan
kecepatan angin dapat mempengaruhi pengenceran polutan udara, namun pada
saat musim kering yang panjang dapat berdampak sangat buruk bagi kesehatan
penduduk dan beberapa racun kimia dari udara dapat merusak sistem organ

84
pernafasan manusia, dan kondisi organ tersebut sulit untuk diperbaharui kembali(1,
3)
. Efek negatif nitrogen dioksida pada sistem pernapasan diyakini terutama
disebabkan iritasi sepanjang portal masuk, karena sifat reaktif dari senyawa.
Saat ini belum ada metoda yang tepat untuk memperkirakan kejadian
penyakit tidak menular atau pun kanker pada penduduk yang bermukim di
lingkungan udara yang kotor. Kondisi ini sangat dibutuhkan untuk
mempertimbangkan apa tindakan selanjutnya yang akan diambil untuk
mengurangi dampak polusi udara perkotaan.
Suatu tekhnik untuk menilai risiko kesehatan yang terjadi pada penduduk,
atau disebut sebagai environmental health risk assessment (EHRA) atau analisis
risiko kesehatan lingkungan (ARKL) dikembangkan dari formula matematis
untuk memperkirakan dampak yang terjadi di masa depan pada sekelompok
penduduk yang terpajan polutan udara.

2. Metode Penelitian
Studi ini menggunakan desain cross-sectional study, jumlah sample studi
yang terlibat 200 petugas tol, berasal dari 9 kluster pintu gerbang tol utama di
sebuah perusahaan jalan tol di Jakarta. Lokasi pengambilan sample studi tersebar
di kota Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Bogor. Studi ini dilaksanakan sejak tahun
tahun 2012 hingga 2014.
Untuk memprediksi risiko kesehatan yang terjadi diakibatkan oleh NO2 dan
TSP, maka dilakukan analisis risiko kesehatan ( Health Risk Assesment), yaitu
proses perhitungan dampak potensial yang merugikan kesehatan manusia akibat
bahaya pajanan polutan lingkungan(4) guna mengetahui cara mengendalikan dan
mengurangi risiko yang dihasilkan(5). WHO, merumuskan Analisis risiko
kesehatan terdiri dari 4 langkah utama yaitu Identifikasi bahaya (Hazard
Identification), Analisis Pemajanan (Exposure Assesment), Analisis Dosis Respon
(Dose Respont Assesment), dan Karakteristik Risiko (Risk Characterization)(4).
Identifikasi bahaya digunakan untuk mengetahui secara spesifik (agen
risiko, konsentrasi dan media lingkungan), agen risiko apa yang berpotensi
menyebabkan gangguan kesehatan bila tubuh terpajan. Sebagai pelengkap dalam
identifikasi bahaya dapat ditambahkan gejala gejala gangguan kesehatan apa
yang terkait erat dengan agen risiko yang akan dianalisis. Tahapan ini harus
menjawab pertanyaan agen risiko spesifik apa yang berbahaya, di media
lingkungan yang mana agen risiko eksisting, seberapa besar
kandungan/konsentrasi agen risiko di media lingkungan, gejala kesehatan apa
yang potensial.
Analisis dosis respon melingkupi identifikasi jalur migrasi NO2(pathways)
dari suatu agen risiko masuk ke dalam tubuh manusia kemudian
membandingkannya dengan konsentrasi referensi (RfC) merujuk pada literature
yang tersedia, maka pengukuran pemajanan dan identifikasi jalur migrasi
(pathway) pajanan atau asupan polutan yang diterima individu dalam populasi
berisiko bisa dihitung(6).
The Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR) belum
mengeluarkan Minimal risk level (MRLs) untuk NO2 untuk setiap masa dan jalur
pajanan(7). Begitu pula dengan Environmental Protection Agency (EPA) tidak
memiliki daftar RfD, RfC, atau klasifikasi kanker untuk NO2 pada IRIS (4, 7).
International Agency for Research on Cancer (IARC) juga tidak memiliki

85
informasi terkait klasifikasi potensi karsinogen (carcinogenicity classification)
untuk NO2(8). Namun demikian perhitungan RfC diperoleh dari informasi studi
Nukman, 2005, yang telah dikoreksikan dengan nilai UFuntuk RfC-corected
untuk NO2 masing-masing 0,02 mg/kg x hari(9).
Intake Rate (dalam satuan mg kontaminan per kg berat badan dan perhari)
berdasarkan karakteristik antropometri individu dan pola aktifitas populasi
berisiko menggunakan rumus(5, 10):

CR EF ED
I C
BW AT
Gambar 1. Intake Rate (I)

Keterangan:
I : Intake rate; asupan jumlah risk agent yang masuk ke dalam tubuh manusia
(mg/kg x hari) atau sebagai chronic daily intake (CDI)
C : Concentration; konsentrasi rata-rata kontaminan pada jenis exposure
(udara: mg/m3)
CR : Contact rate; (0.83 m3/hari)
EF : Exposure Frequency; frekwensi pajanan (dalam hari per tahun) 8 jam; 264
hari kerja
ED : Exposure duration atau actual event duration (real time)
BW : Body Weight (kg)
AT : Period over which exposure (day/year x 30 year); 30 tahun populasi
umum; 25 tahun pada pekerja untuk penyakit kronik non kanker

Karakterisasi risiko kesehatan dinyatakan dalam hazard quotient (HQ)


untuk efek non kanker. HQ dihitung dengan membagi asupan non karsinogenik
dengan dosis reference -nya. RfC adalah toksisitas kuantitatif non karsinogenik
yang menyatakan dosis pajanan harian yang diperkirakan tidak menimbulkan efek
merugikan kesehatan meskipun pajanan tersebut berlangsung sepanjang hayat.
Hasil perhitungan HQ akan diketahui jika HQ > 1 maka konsentrasi agen
berisiko dapat menimbulkan efek merugikan kesehatan (unsafe).Namun jika HQ <
1 maka konsentrasi agen belum berisiko menimbulkan efek kesehatan. Nilai
kuantitatif HQ selanjutnya digunakan untuk merumuskan manajemen risiko
kesehatan dari risk agent untuk diminimalkan.
Data konsentrasi polutan di udara ambient menggunakan informasi data
sekunder dari laporan tahunan polutan udara DKI Jakarta 2013 yang dikeluarkan
oleh BLHD DKI Jakarta(11). Pada riset ini dilakukan pengelompokan
pemantauan udara ambient berdasarkan titik lokasi gerbang tol terdekat maksimal
radius 10-15 km dari station pemantau milik pemerintah yang kemudian terbagi
menjadi 5 kluster, masing-masing adalah stasiun pemantau di Ciracas melingkupi
gerbang tol Cimanggis utama dan Cibubur (GT.1 dan 2); stasion pemantau udara
di Rawa Terate meliputi gerbang tol Cikarang Utama(GT.3); stasion pemantau
udara di Kalideres meliputi gerbang tol Karang Tengah, Tangerang Pusat dan
cengakareng (GT.4,5 dan 6); stasion pemantau di daerah masjid Istiqlal meliputi
daerah pemantau gerbang tol Tomang, wilayah timur halim (GT.7 dan 8); stasion
pemantau tebet meliputi pemantauan di gerbang tol Cililitan (GT.9). Notasi
''Nm3'' pada data hasil pemantauan udara oleh BLHD DKI, artinya meter kubik

86
dalam kondisi normal, adalah bahwa jumlah gas yang saat kering,menempati
meter kubik pada suhu 25oC dan pada tekanan mutlak 760 milimeter merkuri (1
atm). Jumlah miligram dalam volume kontrol tidak berubah, tetapi perubahan
volume, mengubah konsentrasi.

3. Hasil
Pada riset ini diperoleh gambaran demografi dari 200 petugas penjaga pintu
gerbang tol. Mayoritas petugas berusia 34 tahun, memiliki jenis kelamin laki-laki
(75%) dan sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan sekolah menengah
atas (75%), serta memiliki masa kerja berkisar median 16 tahun.

Tabel 1. Karakteristik Demografi Subjek


Variabel n (%) , mean, median, min-max
Usia (tahun) Mean 38.69 ,Median 38, Min-Max 30-
54, Modus 34
Jenis kelamin 200
Laki-laki 150(75)
Perempuan 50(25)
Pendidikan 200
SMA 150(75)
Diploma 1/2/3 13(6.5)
S1 37(18.5)
Masa kerja (tahun) Mean 17.21, Median 16, Min-max 2-35
Berat badan (kg) Mean 71.4, Median 70, Min-max 45-140
Jam kerja per hari (jam) Mean 8, Median 8, Min-max 7-12

Tahapan awal dalam menilai risiko non karsinogenik adalah melakukan


identifikasi polutan. Pada studi ini polutan yang diteliti adalah Nitrogen Dioksida
(NO2). Konsentrasi terendah yang diperoleh dari 9 gerbang tol adalah 7.70
ug/Nm3 dan tertinggi adalah 136.1 ug/Nm3 terlihat di tabel 2. Batasan maksimum
di Indonesia adalah 400 ug/m3.

Tabel 2. Konsentrasi NO2 di masing-masing gerbang tol


Lokasi station Subjek Polutan udara (NO2)
Gerbang tol
pemantau n (%) Mean min-max
Ciracas GT1. Cimanggis 34(17) 28.77 7.70-75.40
GT2. Cibubur 19(9.5)

Rawa Terate GT3. Cikarang Utama 31(15.5)

Kalideres GT4. Karang Tengah 39(19.5) 41.24 22- 70.7


GT5. Tangerang Utama 13(6.5)
GT6. Cengkareng 19(9.5)

Masjid Istiqlal GT7. Wilayah Barat 17(8.5) 35.66 7.7- 74.20


GT8. Wilayah Timur 16(8.0)

Tebet GT9. Cililitan 12(6.0) 42.96 9.7 136.1


Untuk melakukan penilaian Intake Rate, terlebih dahulu diketahui pola
aktivitas dari responden yang akan diteliti. Diperlihatkan oleh table 1 untuk 200

87
orang petugas tol, mean untuk berat badan, masa kerja dan jam kerja adalah 71.4
kg; 17 tahun dan 8 jam kerja per hari.
Berikut ditampilkan contoh analisis Intake Rate (I) NO2 diambil dari slah
satu responden yang bekerja di gerbang tol GT.1. Cimanggis. Hasil perhitungan
mengikuti rumus Intake sebagai berikut untuk prediksi selama 10 tahun:
CR EF ED
I C
BW AT
0.83(m3 / hari) 8( jam) 264(hari) 14tahun
I 28.77(ug / m3)(1mg / 1000m3)
72(kgs) 365(hari) x10(tahun )
I 2.76E 03 atau 2.76 x 10-3 mg/kg/hari

Perhitungan estimasi menggunakan formula matematis diperoleh hasil sebagai


berikut:

Hazard Qutation (HQ)Non-cancer = I/RfC


2.76 E 03
HQ = 0.14 ; (HQ < 1)
0.02(mg / kg / hari)

Dapat dinyatakan bahwa konsentrasi NO2 di kawasan jalan bebas hambatan


di Jakarta diestimasikan ke 10 tahun kedepan setelah tahun pengamatan di 2013
masih tergolong normal dan tidak berisiko untuk jenis polutan NO2, namun nilai
ini tidak berlaku untuk senyawa lain yang berinteraksi dengan NO2.

4. Pembahasan
NO2 adalah polutan lingkungan yang memiiki makna yang penting. NO2
memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan PM10 dalam hal menghasilkan
dampak kesehatan bagi penduduk, terutama penduduk yang tinggal di perkotaan.
Polutan ini memiliki potensi mengiritasi saluran pernafasan meningkatkan risiko
kesakitan terutama pada penduduk manula dan anak-anak(12).Pada dosis yang
lebih tinggi, NO2 dapat menurunkan tingkat imunitas tubuh(13).
Sesaat setelah tersimpan ke dalam sel tubuh, NO2 cenderung bereaksi cepat
dengan jaringan pernapasan, dan NO2 masuk ke dalam aliran darah. Bentuk utama
yang ditemukan dalam darah adalah NO2-dan NO3-, dibuat oleh reaksi NO2
dengan air dalam jaringan untuk membentuk nitrous dan nitrat asam (14, 15).
Dasar mekanisme molekuler nitrogen dioksida yang menyebabkan cedera paru
dijelaskan oleh studi dari Persinger et al, 2002. NO2 adalah gas radikal bebas,
dengan elektron tidak berpasangan tunggal pada atom nitrogen. Dengan demikian,
ini adalah senyawa yang sangat reaktif dan mampu dengan mudah mengoksidasi
molekul seluler. Reaksi ini dapat mengakibatkan berbagai perubahan, termasuk
kerusakan sel, peroksidasi lipid, interaksi dengan protein seluler dan tiol,
tergantung pada kerentanan molekul seluler terhadap interaksi dengan nitrogen
bersifat radikal(16).
Terdapat perbedaan antara pada studi ini dengan studi yang lain , seperti
nilai frekwensi, durasi dan jumlah hari paparan yang mencerminkan jumlah hari
mereka terpajan NO2 di tempat kerja (9, 17). Seluruh responden merupakan sub-
populasi pekerja, dimana paparan polutan NO2 dari jalan tol diterima selama
minimal 8 jam kerja dan masa kerja mereka merupakan jumlah tahun mereka
bekerja, jumlah hari kerja adalah perkalian dari lama mereka bekerja di

88
perusahaan dan jumlah hari kerja (5 hari per minggu). Nazarof,
mengklasifikasikan periode pajanan life time untuk penduduk adalah 30 tahun
sementara pekerja 25 tahun(10).
Eksposur NO2 jangka pendek pada orang dewasa yang sehat telah mencatat
perubahan kecil dalam fungsi paru pada konsentrasi rendah 2 ppm(18). Namun
pada penderita asma dan orang-orang dengan COPD, yang mewakili populasi
sensitif untuk efek pernapasan NO2, umumnya menunjukkan tidak ada efek pada
0,25 ppm dan konsentrasi dibawahnya(19). Perubahan fungsi paru pada penderita
asma dimulai pada 0,3 ppm(20) dan semakin parah seiring dengan meningkatnya
konsentrasi.
Oleh karena nilai NOAEL 0,25 ppm (0.51 mg/m3) diberlakukan bagi
indikasi keberadaan perubahan fungsi paru akibat induksi NO2 pada penderita
asma. Sejak hal itu diberlakukan untuk populasi yang sensitif, dengan demikian
tidak ada faktor ketidakpastian diaplikasikan untuk variabilitas intra-manusia(19).
Pada studi ini memperlihatkan nilai maksimum dan minimum untuk polutan
NO2 pada tahun 2013 di 9 buah gerbang tol adalah 7.7-136.1 ug/Nm3 atau setara
dengan 0.0077-0.136 mg/m3. Jika dibandingkan pada nilai NOAEL, paparan NO2
pada studi ini masih dianggap normal (< 0,51 mg/m3). Jika dibandingkan di kota
Kopenhagen, rata-rata per jam konsentrasi nitrogen dioksida yang terletak dekat
jalan raya yang sangat sibuk, sering melebihi 940 mg/m3 (0,5 ppm). Konsentrasi
per jam NO2 dengan nilai minimum-maksimum di Inggris berkisar 470-750
mg/m3 (0,25-0,4 ppm)(12).
Tidak ditemukannya nilai hazard quieten (HQ) yang bermakna pada studi
ini menjadi keterbatasan studi. Diperkirakan karena adanya faktor pengenceran
udara athmosfer terhadap polutan NO2. Konsentrasi polutan udara di daerah
perkotaan bervariasi, sesuai dengan waktu dalam hari, musim tahun dan faktor
meteorologi. Pola harian yang khas terdiri dari gambaran grafik naik turun
konsentrasi polutan, sesuai dengan waktu jam-jam sibuk lalu lintas di perkotaan
yang mengeluarkan emisi nitrogen oksida.

5. Kesimpulan
Seluruh responden (100%) tidak memiliki peluang yang berarti akibat
pajanan NO2 untuk terjadinya penyakit degenerative pada prediksi life time 10
tahun kedepan sejak saat mereka di observasi (median usia: 38 tahun). Namun
kondisi ini tidak berlaku untuk senyawa lain yang berinteraksi dengan NO2.
Perlu adanya penelusuran lebih lanjut terkait dampak polutan udara NO2
bagi kesehatan, misalnya penggunaan alat personal dust sampler untuk menilai
paparan debu personal. Riset kedepan dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu,
seperti bidang genetika dapat membantu mempelajari mekanisme biotrasnformasi
dari polutan ini. Studi ini juga merekomendasikan system perbaikan lingkungan di
area sekitar jalan tol terutama program penghijauan, peningkatan gizi pekerja,
terutama konsumsi makanan yang kaya anti-oksidan agar dapat menangkal
electron bebas dari polusi udara.

89
Daftar Pustaka
1. WHO. 7 Million Premature Deaths Annually Linked To Air Pollution: WHO;
2014 [cited 29/03/2016]. Available from:
http://www.WHO.int/mediacentre/news/releases/2014/air-pollution/en/.
2. WHO. Burden of disease: deaths data by region. 2014 [cited 29/03/2016].
Available from: http://apps.WHO.int/gho/data/node.main.156?lang=en.
3. Fleischer NL, Merialdi M, van Donkelaar A, Vadillo-Ortega F, Martin RV,
Betran AP, et al. Outdoor air pollution, preterm birth, and low birth weight:
analysis of the world health organization global survey on maternal and
perinatal health. Environmental health perspectives. 2014 Apr;122(4):425-30.
PubMed PMID: 24508912. Pubmed Central PMCID: PMC3984219. Epub
2014/02/11. eng.
4. IRIS. Integrated Risk Information System USA: US EPA; [cited 26/03/2016].
Available from: https://www.epa.gov/iris.
5. Ricci PF. Environmental and health risk assessment and management. The
Netherlands: Springer; 2006.
6. US-EPA. Methods for derivation of inhalation reference concentrations and
application of inhalation dosimetry. North Carolina, USA.: U.S.EPA.
7. ATSDR. Agency for Toxic Substances and Disease Registry; 2007.
8. IARC. IARC-Monograph on the evaluation of carcinogenic risk to human:
WHO- International Agency for Reaserch on Cancer; 2016 [cited
02/04/2016]. Available from:
http://monographs.iarc.fr/ENG/Monographs/supplements.php.
9. Nukman A, Rahman A, Warouw S, Setiadi MI, Akib CR. Analisis dan
manajemen risiko kesehatan pencemaran udara: Studi kasus di sembilan kota
besar padat trasnportasi; . Journal ekologi kesehatan. Agustus 2005;4(2):270-
89.
10. Nazaroff WW, Cohen LA. Environmental Engineering Science, intake rate
8.E.2 on pages 573-574. John Wiley & Sons; 2001. p. 704.
11. BLHD DKI Jakarta. Pemantauan polutan udara DKI Jakarta tahun 2013. In:
Indonesia KLH, editor. Jakarta: PEMDA DKI Jakarta; 2013.
12. Jarvis DJ, Adamkiewicz G, Heroux ME, Rapp R, Kelly FJ. Nitrogen dioxide.
2010. In: WHO Guidelines for Indoor Air Quality: Selected Pollutants
[Internet]. Geneva: World Health Organization. 5. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK138707/.
13. Ezratty V, Guillossou G, Neukirch C, Dehoux M, Koscielny S, Bonay M, et
al. Repeated nitrogen dioxide exposures and eosinophilic airway
inflammation in asthmatics: a randomized crossover study. Environmental
health perspectives. 2014 Aug;122(8):850-5. PubMed PMID: 24747297.
Pubmed Central PMCID: PMC4123022. Epub 2014/04/22. eng.
14. Goldstein BD, Hamburger SJ, Falk GW, Amoruso MA. Effect of ozone and
nitrogen dioxide on the agglutination of rat alveolar macrophages by
concanavalin A. Life sciences. 1977 Dec 1;21(11):1637-44. PubMed PMID:
600016. Epub 1977/12/01. eng.
15. Saul RL, Archer MC. Nitrate formation in rats exposed to nitrogen dioxide.
Toxicology and applied pharmacology. 1983 Feb;67(2):284-91. PubMed
PMID: 6836583. Epub 1983/02/01. eng.

90
16. Persinger RL, Poynter ME, Ckless K, Janssen-Heininger YM. Molecular
mechanisms of nitrogen dioxide induced epithelial injury in the lung.
Molecular and cellular biochemistry. 2002 May-Jun;234-235(1-2):71-80.
PubMed PMID: 12162462. Epub 2002/08/07. eng.
17. Ahmad AA, Khoiron., Ellyke. Analisis risiko kesehatan lingkungan dengan
risk agent total suspended partikulat di kawasan industri kota Probolinggo
(Environmental health risk assessment with risk agent total suspended
particulate in industrial area Probolinggo). e-Journal Pustaka Kesehatan. 2014
Mei 2014;2(2).
18. Mohsenin V. Airway responses to 2.0 ppm nitrogen dioxide in normal
subjects. Archives of environmental health. 1988 May-Jun;43(3):242-6.
PubMed PMID: 3289507. Epub 1988/05/01. eng.
19. Jorres R, Magnussen H. Effect of 0.25 ppm nitrogen dioxide on the airway
response to methacholine in asymptomatic asthmatic patients. Lung.
1991;169(2):77-85. PubMed PMID: 2062123. Epub 1991/01/01. eng.
20. Bauer MA, Utell MJ, Morrow PE, Speers DM, Gibb FR. Inhalation of 0.30
ppm nitrogen dioxide potentiates exercise-induced bronchospasm in
asthmatics. The American review of respiratory disease. 1986
Dec;134(6):1203-8. PubMed PMID: 3789520. Epub 1986/12/01. eng.

91
Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup Dengan
Sindroma Metabolik Pada Pekerja di PT X
Ratih Damayanti, Erwin Dyah Nawawinetu
Departemen Kesehatan, Fakultas Vokasi, Jl. Srikana 65 Surabaya
Tel. 085645662519. E-mail: ratih.damayanti88@gmail.com,
erwindyah.2012@gmail.com

Abstrak
Salah satu isu penyakit yang berhubungan dengan aktivitas kerja yang rendah adalah
gangguan metabolisme yang berujung pada sindrom metabolik. Kemajuan di bidang
teknologi pun juga memberikan dampak terhadap perubahan gaya hidup dan pola makan
di masyarakat. Ketidakseimbangan asupan gizi akibat salah makan dipengaruhi oleh gaya
hidup merupakan faktor risiko yang sangat berperan pada munculnya masalah kesehatan
seperti obesitas, hipertensi, dislipidemia yang menyebabkan penyakit degeneratif bagi
masyarakat terutama masyarakat pekerja.Menganalisis hubungan antara pola makan dan
gaya hidup dengan sindrom metabolik pada pekerja di PT. X.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain crossectional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsumsi energi pekerja di PT X cenderung
berlebih memiliki risiko lebih besar mengalami sindrom metabolik sebesar 2,182 kali
daripada yang memiliki tingkat konsumsi energi kurang dan defisit. Kelompok pekerja
yang merokok memiliki risiko lebih besar mengalami sindrom metabolik sebesar 1,468
kali daripada yang tidak merokok. Sedangkan pekerja yang minum minuman beralkohol
memiliki risiko lebih besar mengalami sindrom metabolik sebesar 0,712 kali daripada
yang tidak minum minuman beralkohol.
Program yang seharusnya dilakukan yaitu pengaturan pola makan (baik di kantor maupun
di rumah), penyuluhan mengenai bahaya merokok, olah raga setiap minggu sekali untuk
membantu mempercepat turunnya angka sindrom metabolik. Selanjutnya, perilaku makan
saat di kantor dan stress kerja juga ikut diteliti untuk mengetahui kaitan antara beban
kerja, stress kerja dan sindroma metabolik.

Kata kunci: gaya hidup, pekerja, pola makan, sindroma metabolik.

1. Pendahuluan
Peran industri tidak dapat dipungkiri memengaruhi pertumbuhan ekonomi
yang dicapai oleh Indonesia. Perusahaan dituntut dapat memanajemen
sumberdaya yang dimiliki seiring dengan perkembangan indsutri yang makin
maju secara optimal. Sumber daya yang dimaksud di atas adalah sumber daya
manusia atau tenaga kerja. Modal utama yang paling penting di perusahaan atau
industri adalah tenaga kerja yang sehat sehingga akan menghasilkan produktivitas
yang berkualitas1.
Perubahan gaya hidup dan pola makan saat ini banyak dipengaruhi oleh
kemajuan di bidang teknologi. Dengan adanya peningkatan jumlah produsen
makanan cepat saji, pola konsumsi makanan masyarakat pun ikut berubah.
Asupan gizi yang tidak seimbang yang diakibatkan salah konsumsi makanan
berperan besar pada timbulnya masalah kesehatan sepeti obesitas, hipertensi,
dislipedmia yang menyebabkan penyakit degeneratif seperti sindrom metabolik2.
Pada salah satu penelitian menyebutkan bahwa indeks massa tubuh, glukosa
darah puasa, trigliserida dan C-reaktif protein (CRP) memiliki hubungan negatif
dengan asupan serat makanan berdasarkan usia, jenis kelamin, status diabetes,

92
kebiasaan merokok, kebiasaan minum, total asupan energi, asupan lemak, asupan
asam lemak jenuh, ativitas fisik dan penggunaan insulin. Tingkat konsumsi
serat berkaitan dengan obesitas abdominal, hipertensi dan sindrom metabolik.
Asupan tinggi serat juga dikaitkan dengan kontrol glukosa darah yang lebih baik
dan pengendalian faktor risiko penyakit kardiovaskular termasuk penyakit ginjal.
Penderita diabetes disarankan untuk lebih banyak mengonsumsi serat pada
makanan sehari-hari3.
Berdasarkan data-data dan penelitian di atas, maka penelitian ini ditujukan
untuk menurunkan prevalensi sindrom metabolik pada pekerja dengan mengetahui
hubungan antara pola makan dan gaya hidup dengan sindrom metabolik pada
pekerja di PT. X. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara
pola makan dan gaya hidup dengan sindrom metabolik pada pekerja di PT. X.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain
crossectional. Lokasi survei penelitian PT. X di Gresik, Jawa Timur. Penelitian
ini dilaksanakan selama 3 bulan yaitu antara bulan Agustus-Oktober 2015.
Populasi penelitian ini adalah pekerja di PT. X. Sampel dalam penelitian ini
merupakan bagian dari populasi penelitian, yaitu pekerja yang terpilih untuk
diikutsertakan dalam penelitian.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Hasil
3.1.1. Pola Konsumsi Makanan dan Sindrom Metabolik
Pada penelitian ini pola makan yang dimaksud adalah konsumsi makan
sehari hari para pekerja selama 24 jam dengan mempergunakan metode recall 24
hours. Berikut ini adalah tabulasi silang antara konsumsi energi dengan status
sindrom metabolik yang terjadi pada para pekerja di PT X.
Pada penelitian ini, konsumsi energi dikategorikan menjadi 4 yaitu baik,
berlebih, defisit dan kurang. Konsumsi energi tersebut ditabulasi silang dengan
status sindrom metabolik yang dialami oleh para pekerja di PT X:

Tabel 1. Konsumsi Energi Pekerja di PT X dan Sindrom Metabolik tahun 2015


Konsumsi Status Sindrom Metabolik Total
Energi Sinrom Metabolik (%) Bukan Sindrom Metabolik (%) (%)
Baik 10,61 18,18 28,79
Berlebih 6,06 10,61 16,67
Defisit 21,21 25,76 46,97
Kurang 3,03 4,55 7,58
Total 39,39 59,09 100,00

Berdasarkan tabel di atas dapat dibandingkan bahwa pekerja yang


mengalami sindrom metabolik dan tidak mengalami sindrom metabolik sebagian
besar konsumsi energinya defisit yaitu masing-masing sebesar 21,21% dan
25,76%. Berdasarkan uji statistik bahwa kelompok pekerja yang tingkat konsumsi
energi totalnya baik dan cenderung berlebih memiliki risiko lebih besar
mengalami sindrom metabolik sebesar 2,182 kali daripada yang memiliki tingkat
konsumsi energi kurang dan defisit.

93
3.1.2. Gaya Hidup dan Sindroma Metabolik
Gaya hidup merupakan salah satu faktor yang menentukan kesehatan
seseorang. Semakin baik gaya hidup maka akan semakin baik pula kesehatannya.
Pada penelitian ini gaya hidup yang dimaksud adalah kebiasaan merokok dan
kebiasaan minum minuman beralkohol. Kebiasaan merokok dan minum minuman
beralkohol memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan terutama pada
metabolisme tubuh. Sindrom metabolik adalah salah satu gangguan kesehatan
karena adanya gangguan metabolism di dalam tubuh. Berikut ini adalah kaitan
antara gaya hidup dengan sindrom metabolik:
1. Kebiasaan Merokok dan Sindrom Metabolik
Berikut ini adalah gambaran kelompok pekerja yang merokok dan tidak
merokok dan mengalami sindrom metabolik dan tidak mengalami sindrom
metabolik:

Tabel 2. Kebiasaan Merokok dan Sindrom Metabolik Pekerja di PT X tahun 2015


Kebiasaan Status Sindrom Metabolik Total
Merokok Sindrom Metabolik (%) Bukan Sindrom Metabolik (%) (%)
Ya 19,70 22,73 42,42
Tidak 21,21 36,36 57,58
Total 40,91 59,09 100,00

Berdasarkan tabel di atas dapat dibandingkan bahwa pekerja yang


mengalami sindrom metabolik dan tidak mengalami sindrom metabolik sebagian
besar tidak memiliki kebiasaan merokok. Kelompok pekerja yang tidak merokok
dan mengalami sindrom metabolik sebesar 21,21%. Sedangkan pekerja yang tidak
merokok dan tidak mengalami sindrom metabolik sebesar 36,36%.
Sebaliknya pada kelompok yang merokok dan mengalami sindrom
metabolik lebih besar dari pada kelompok yang merokok dan tidak mengalami
sindrom metabolik yaitu masing-masing sebesar 19,70 % dan 22,73%.
Berdasarkan uji statistik bahwa kelompok pekerja yang merokok memiliki risiko
lebih besar mengalami sindrom metabolik sebesar 1,468 kali daripada yang tidak
merokok.
2. Minum Minuman Beralkohol dan Sindrom Metabolik
Berikut ini adalah gambaran kelompok pekerja yang memiliki kebiasaan
minum minuman beralkohol dan mengalami sindrom metabolik dan tidak
mengalami sindrom metabolik.

Tabel 3. Kebiasaan Minum Minuman Beralkohol dan Sindrom Metabolik Pekerja


di PT X tahun 2015
Status Sindrom Metabolik
Kebiasaan Minum Total
Sindrom Metabolik Bukan Sindrom
Minuman Beralkohol (%)
(%) Metabolik (%)
Ya 1,52 3,03 4,55
Tidak 39,39 56,06 95,45
Total 40,91 59,09 100,00

Berdasarkan tabel di atas dapat dibandingkan bahwa pekerja yang


mengalami sindrom metabolik dan tidak mengalami sindrom metabolik sebagian
besar tidak memiliki kebiasaan minum minuman beralkohol. Kelompok pekerja

94
yang tidak minum minuman beralkohol dan mengalami sindrom metabolik
sebesar 39,39%. Sedangkan pekerja yang tidak merokok dan tidak mengalami
sindrom metabolik sebesar 56,06%.
Sebaliknya pada kelompok yang minum minuman beralkohol dan
mengalami sindrom metabolik lebih kecil dari pada kelompok yang minum
minuman beralkohol dan tidak mengalami sindrom metabolik yaitu masing-
masing sebesar 1,52% dan 3,03%. Berdasarkan uji statistik bahwa kelompok
pekerja yang minum minuman beralkohol memiliki risiko lebih besar mengalami
sindrom metabolik sebesar 0,712 kali daripada yang tidak minum minuman
beralkohol.
3.2 Pembahasan
Sindrom metabolik di Indonesia belum terdata secara epidemiologis tetapi
prevalensi obesitas sentral pada laki-laki sebesar 19,7% dan pada perempuan
sebesar 32,9%. Sedangkan prevalensi hipertensi sebesar 25,8% pada tahun 2013
yang sebenarnya terjadi penurunan dari tahun 2007 yaitu sebesar 31,7%.
Prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dan gejala yaitu sebesar 2,1%.
Data tersebut menunjukkan gambaran bahwa adanya penyakit degeneratif yang
merupakan beberapa tanda sindrom metabolik di Indonesia4.
Sindroma metabolik dapat dialami oleh siapapun termasuk pekerja.
Sindroma metabolik tersebut dapat ditegakkan diagnosisnya jika telah dilakukan
pemeriksaan, pengukuran dan observasi pada pekerja. Di PT X setiap tahun pasti
dilakukan pemeriksaan kesehatan termasuk pemeriksaan darah termasuk
pemeriksaan gula darah puasa, kolesterol, trigliserida untuk mengetahui kondisi
kesehatan pekerja. Penelitian ini dilakukan pada pekerja di PT X dengan
menggunakan data sekunder mengenai pemeriksaan kesehatan dan digabung
dengan data primer mengenai data antropometri dan data dietetik. Hasil penelitian
menujukkan bahwa sebesar 41% dari total populasi yang diteliti mengalami
kejadian sindrom metabolik. Penegakkan diagnosis sindrom metabolik pada
penelitian ini berdasarkan 3 dari 5 gejala yang merupakan gejala sindrom
metabolik. Pekerja yang mengalami overweight atau kelebihan berat badan ada
sekitar 56% dan yang mengalami obesitas sebesar 17%. Rasio lingkar pinggang
pekerja yang melebihi batas normal (> 90 cm) ada sekitar 52% atau setengah lebih
dari total populasi yang diteliti. Hal tersebut juga berlaku pada kadar kolesterol
total. Kadar kolesterol total yang melebihi batas normal (> 40 mg/dL) pekerja di
PT X sebesar 64% dari total populasi yang diteliti. Sedangkan kadar trigliserida
yang melebihi batas normal ada sekitar 53% dari total populasi. Kadar gula darah
puasa dan tekanan darah cenderung normal. Dari gambaran tersebut, diagnosa
sindrom metabolik dapat diketahui.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa seseorang
dikatakan mengalami sindrom metabolik jika terdiagnosa minimal 3 kriteria
penilaian seperti gula darah puasa > 110 mg/dL, tekanan darah 130/85 dan lingkar
pinggang > 90 cm untuk laki-laki dan > 80 cm untuk perempuan atau kadar
kolesterokl HDL < 40 mg/dL pada pria dan < 50 mg/dL pada wanita. Sebagian
besar rasio lingkar pinggang > 90 cm (97 7,6 cm). Kadar gula darah juga
melebihi batas normal 110 mg/dL (132 32,7mg/dL). Tekanan darah juga
melebihi batas normal dengan rata-rata sistolik 141,4 12,9 mmHg dan diastolik
93,3 8,5 mmHg. Kasus obesitas sentral dengan IMT > 27 sebesar 70,8%5.

95
Pola makan menjadi salah satu faktor determinan penyebab terjadinya
sindrom metabolik. Pada penelitian ini, ternyata para pekerja di PT X memiliki
rata-rata tingkat konsumsi lemak yang cenderung berlebih (lebih dari 20%)
dibandingkan dengan rata-rata tingkat konsumsi total energi dan karbohidrat.
Pekerja di PT X cenderung memiliki rata-rata tingkat konsumsi energi total yang
defisit tetapi terjadi sindrom metabolik di kalangan pekerja. Hal tersebut
disebabkan karena kebiasaan merokok dan makan makanan yang berlemak tinggi
sehingga kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi.
Komposisi konsumsi karbohidrat, lemak dan total kalori berpengaruh pada
sindrom metabolik. Semakin banyak konsumsi makan semakin tinggi kejadian
sindrom metabolik. Total kolesterol ternyata menjadi indikator tertinggi dalam
penentuan sindrom metabolik yang kemudian pada selanjutnya adalah lingkar
pinggang. Total kalori dan lemak pada variabel konsumsi makanan menjadi
indikator tertinggi untuk menyumbang terjadinya kejadian sindrom metabolik6.
Konsumsi makanan tinggi kalori akan mengakibatkan sindrom metabolik
dengan meningkatnya massa lemak di daerah abdomen pada individu yang rentan.
Masa lemak abdomen merupakan sumber asam lemak bebas dalam sirkulasi
darah. Penelitian dengan menggunakan model clamp euglycemic hyperinsulinemia
menunjukkan efek marker antinatriuretic pada insulin. Peningkatan kejadian
sindroma metabolik seiring dengan peningkatan asupan makanan. Makanan yang
tinggi kalori akan menyebabkan sindrom metabolik dengan terjadinya
peningkatan masa lemak pada daerah perut6,7.
Penelitian ini menunjukkan bahwa asupan makanan dengan kadar lemak
yang tinggi dikonsumsi oleh sekitar 89, 39% pekerja dan 36,36% pekerja
diantaranya mengalami sindroma metabolik. Konsumsi lemak yang berlebih yang
dimaksud pada penelitian ini adalah konsumsi lemak lebih dari 20%. Sedangkan
asupan lemak yang dianjurkan adalah 20-25% dari dari kebutuhan energi total.
Makanan yang mengandung lemak dalam jumlah besar hanya memberikan
rasa gurih tanpa memberikan rasa kenyang berarti sehingga jumlah makanan akan
terus dikonsumsi agar merasa kenyang. Jumlah makanan dengan kadar lemak
yang tinggi ini dapat memberikan energi yang cenderung tinggi. Perilaku makan
makanan tinggi lemak akan menyebabkan adanya ketidakseimbangan lemak yang
tersimpan di dalam jaringan lemak. Jaringan lemak yang meningkat akan
menyebabkan peningkatan leptin sehingga mempengaruhi pengaturan
keseimbangan energi dan pada akhirnya akan menimbulkan obesitas. Kadar
kolesterol yang tinggi dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari akan
merangsang reseptor LDL yang dapat meningkatkan LDL dan trigliserida.
Hipertrigliseridemia sering dihubungkan dengan berkurangnya kadar HDL pada
obesitas. Keadaan hipertrigliserida pada obesitas merupakan faktor risiko
terjadinya gangguan metabolik5,8.
Gaya hidup yang tidak sehat juga dapat menimbulkan berbagai gangguan
kesehatan seperti sindrom metabolik. Gaya hidup yang tidak sehat tersebut adalah
kebiasaan merokok, kebiasaan minum minuman beralkohol, kurangnya
manajemen stress, makan makanan yang tidak bergizi dan kaya lemak serta gula
ditambah pula dengan kurangnya aktivitas. Gaya hidup yang ada pada penelitian
ini adalah kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja di PT X memiliki kebiasaan

96
merokok. Kebiasaan merokok ini memiliki risiko 1,468 kali menyebabkan
terjadinya sindroma metabolik.
Kebiasaan merokok dapat memicu terjadinya penyakit jantung koroner,
terjadi peningkatan kolesterol total dan kadar trigliserida serta meningkatkan
kejadian resistensi insulin dan pada akhirnya akan memunculkan risiko sindrom
metabolik. Kebiasaan merokok ini juga memiliki hubungan dengan sindrom
metabolik yang berhubungan dengan ATP III. Merokok, konsumsi makanan
tinggi lemak dan rendah serat merupakan kombinasi yang dapat meningkatkan
kadar kolesterol total dan trigliserida9,10.
Sebuah penelitian di Korea menunjukkan bahwa kebiasaan merokok pada
saat ini memiliki hubungan yang signifikan dengan sindrom metabolik. Hal
tersebut dikuatkan dengan adanya hubungan yang signifikan antara komponen-
komponen sindrom metabolik yaitu tingginya kadar trigliserida dan rendahnya
kolesterol HDL dengan kebiasaan merokok. Selain itu, ternyata ada pula
hubungan yang positif antara kebiasaan merokok dengan obesitas sentral. Minum
minuman beralkohol memiliki efek yang tidak baik bagi kesehatan. Salah satu
efek kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol adalah meningkatkan kadar
kolesterol. Selain itu, jika konsumsi tersebut dalam kadar yang berlebih, akan
menyebabkan peningkatan kadar trigliserida dan tekanan darah9.

4. Kesimpulan
4.1 Kesimpulan
Pekerja di PT X yang mengalami sindrom metabolik sebesar 41% dengan
ditandai dengan 3 kriteria yaitu obesitas sentral (IMT > 27), kadar kolesterol
darah yang melebihi normal ( > 40 mg/dL) dan kadar trigliserida yang melebihi
batas normal (> 120 mg/dL). Tingkat konsumsi energi para pekerja di PT X
masuk dalam kategori berlebih sehingga meningkatkan risiko sindrom metabolik.
Gaya hidup para pekerja di PT X yang menjadi salah satu faktor pencetus sindrom
metabolik adalah kebiasaan merokok. Kebiasaan merokok memiliki risiko
meningkatkan kejadian sindrom metabolik.
4.2 Saran
Perlu adanya pengaturan pola makan (baik di kantor maupun di rumah),
penyuluhan mengenai bahaya merokok dan dipasang peringatan di setiap unit
kerja mengenai bahaya merokok serta program olah raga setiap minggu sekali
untuk membantu mempercepat turunnya angka sindrom metabolik. Selanjutnya,
perilaku makan saat di kantor dan stress kerja juga ikut diteliti untuk mengetahui
kaitan antara beban kerja, stress kerja dan sindroma metabolik.

Daftar Pustaka
Nurjanah, Fitria. 2014. Gaya Hidup dan Kejadian Sindrom Metabolik pada
Karyawan Laki-laki Berstatus Gizi Obesitas di PT Indocement Citeureup.
Skripsi. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Satoto. 1998. Kegemukan, Obesitas dan penyakit Degeneratif: Epidemiologi dan
Street.
Fuji et al. Impact of Dietary Fiber Intake on Glycemic Control, Cardiovascular
Risk Factors and Chroni Kidney Disease in Japanese Patients with Type 2
Diabetes Mellitus: the Fukuoka Diabetes Registry. Nutrition Journal 2013,
12:159

97
Kementrian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI: Jakarta
Wiardani NK, Sugiani PP, Gumala NM. Konsumsi lemak total, lemak jenuh dan
kolesterol sebagai faktor risiko sindrom metabolik pada masyarakat
perkotaan di Denpasar. Jurnal Gizi Klinik Indonesia.2011;7(3):121-127
Sargowo D, Andarini S. Pengaruh komposisi asupan makanan terhadap
komponen sindrom metabolik. J Kardiol Indones. 2011; 32:14-23Tsai, T.,
Cheng, I.J. & Iii, I.I.Y.L., 2011. Prevalence of metabolik syndrome and
related factors in Taiwanese high-tech industry workers. , 66(9), pp.1531
1535.
Krikken JA, Lely AT, Bakker SJL, Navis G. The effect of a shift in sodium intake
on renal hemodynamics is determined by body mass index in healthy young
men. Kidney Int 2007;71:260-5.
Kapriana, Martalina T dan Sulchan, Muhammad. 2012. Asupan tinggi lemak dan
aktivitas olahraga sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi obesitik pada
remaja awal. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Program Studi
Ilmu Gizi. Skripsi
Ye, Han Hui et al. The Association between Shift Work and the Metabolik
Syndrome in Female Workers. Annals of Occupation and Environment
Medicine 2013, 25:33.
Oh, Sang Woo et al. 2005. Association between cigarette smoking and metabolik
syndrome. Diabetes Care, volume 28, number 8, Agustus 2005

98
Hubungan Faktor Karakteristik Pekerja Dengan Kadar Nikel
Dalam Urin Pekerja Sektor Informal Pelapisan Logam
Yuliani Setyaningsih
Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro
Jl. Prof.Soedarto, SH Tembalang Semarang
E-mail: joeliani_kesja_undip@yahoo.com

Abstrak

Nikel sangat dibutuhkan tubuh pada kadar atau konsentrasi yang rendah, tetapi kadar
nikel yang tinggi akan sangat beracun bagi manusia. Paparan nikel di pelapisan logam
merupakan bahaya kesehatan yang potensial. Paparan senyawa nikel dapat menyebabkan
berbagai masalah kesehatan seperti alergi, dermatitis kontak, dan keracunan sistem organ.
Beberapa studi epidemiologi menunjukkan adanya potensi karsinogenik akibat paparan
senyawa nikel.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis beberapa faktor karakteristik pekerja dengan
kadar nikel dalam urin pada pekerja pelapisan logam. Penelitian ini adalah penelitian
explanatory research dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian ini diambil
secara purposif sebanyak 66 orang pekerja pelapisan logam di kecamatan Talang
kabupaten Tegal. Variabel bebas yang diamati meliputi umur, masa kerja, jenis pekerjaan
dan status gizi sedangkan variabel terikatnya nya adalah kadar nikel dalam urin pekerja
pelapis logam. Data karakteristik responden dikumpulkan dengan menggunakan
kuesioner sedangkan kadar urin dianalisis dengan menggunakan AAS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar nikel dalam urin pekerja adalah sebesar
72.52 Mol/L. Ada hubungan bermakna antara jenis pekerjaan dengan kadar nikel dalam
urin pada pekerja pelapis logam (p = 0.041).Sedangkan umur, masa kerja dan status gizi
tidak berhubungan dengan kadar nikel dalam urin pekerja pelapis logam.

Kata kunci: kadar nikel, karakteristik pekerja, pelapis logam.

1. Pendahuluan
Penggunaan senyawa nikel di sektor industri semakin meningkat. Paparan
nikel banyak ditemukan pada pekerja, diantaranya ditemukan di pekerja tambang,
produksi alat-alat elektronik, industri kaca dan keramik serta industri baja dan
pelapisan logam. Paparan nikel pada manusia terjadi terutama melalui inhalasi
dan konsumsi. Paparan senyawa nikel mempunyai efek buruk pada kesehatan
manusia. Reaksi yang paling umum dan terkenal akibat paparan nikel adalah
alergi nikel dalam bentuk dermatitis kontak. Selain itu akumulasi nikel dalam
tubuh melalui paparan kronis dapat menyebabkan fibrosis paru-paru, gangguan
jantung, penyakit ginjal dan karsinogenik. Studi epidemiologis paparan senyawa
nikel pada manusia menyebabkan karsinogen di paru dan kanker hidung pada
pekerja tambang nikel, peleburan dan pemurnian (Denkhaus dan Salnikow, 2002;
Kasprzak et al, 2003).
Sekitar 2% dari angkatan kerja di industri nikel terkena partikel udara yang
mengandung nikel dalam konsentrasi mulai 0,1-1 mg/m3 (IARC, 1990; Denkhaus
dan Salnikow, 2002). Senyawa nikel diklasifikasikan sebagai karsinogen pada
manusia oleh International Agency for Research on Cancer (IARC, 1990).

99
Beberapa pekerja terpapar nikel melalui inhalasi dari uap dan debu. Selain itu juga
akibat terjadi kontak kulit dengan garam, campuran logam atau larutan nikel.
Hanya sedikit (kurang dari 5 %) mengabsorbsi nikel melalui pencernaan.
Manifestasi akibat toksisitas nikel tergantung dari rute paparan dan kelarutan dari
senyawa nikel. Rute utama paparan nikel adalah melalui absorbsi paru. Bavazzano
et al. dan Kiilunen et al. melaporkan bahwa nikel dapat diabsorbsi secara oral
melalui tangan dan mulut yang terkontaminasi. Paparan kulit danpat
menyebabkan sensitivitas nikel dan dermatitis kontak (Bavazzano et al., 1994;
Kiilunen et al., 1997).
Konsentrasi nikel sebesar 5 g/dL pada sampel urin sesaat dapat dilakukan
pada pekerja yang terpapar keracunan akut ( Rendall et al., 1994). Toksisitas nikel
dalam tubuh dipengaruhi oleh dosis, lama paparan, umur, status gizi, tingkat
kekebalan, jenis kelamin dan jaringan yang terpapar nikel (EPA, 2001). Sentra
industri pelapisan logam di kecamatan Talang kabupaten Tegal menggunakan
nikel sebagai salah satu bahan kimia pelapisnya. Dari hasil pengamatan awal
diketahui bahwa 10 orang mengalami gatal-gatal di tangan, 3 orang diantaranya
mengeluh sesak napas. Dalam melakukan pekerjaannya, pekerja tidak
menggunakan alat pelindung diri berupa masker, sarung tangan maupun sepatu
boot. Berdasarkan kondisi tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui faktor apa
sajakah yang berhubungan paparan nikel pada pekerja pelapis logam di kecamatan
Talang kabupaten Tegal.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian explanatory research dengan
pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di sentra pelapisan Logam
Kecamatan Talang kabupaten Tegal. Subyek penelitian diambil secara purposive
sebanyak 66 orang pekerja pelapisan logam. Variabel bebas yang diamati meliputi
umur, masa kerja, jenis pekerjaan dan status gizi sedangkan variabel terikatnya
nya adalah kadar nikel dalam urin pekerja pelapis logam. Data dianalisis dengan
menggunakan uji chi square dengan tingkat kepecayaan 0,05 dan confidence
interval 95 % dan nilai =0,05.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Karakteristik Responden

Tabel 1. Distribusi frekuensi Karakteristik Pekerja Pelapis Logam di Kecamatan


Talang Kabupaten Tegal, tahun 2016
No. Variabel n %
1. Umur
a. > 34 tahun 36 54.5
b. < 34 tahun 30 45.5
2. Masa Kerja
a. > 14 tahun 31 49.97
b. 14 tahun 35 53.03
3. Jenis pekerjaan
a. Pencelup 37 56.06
b. Bukan pencelup 29 43.94
4. Status Gizi (IMT)
a. normal 34 51.5
b. gemuk 5 7.6
c. gemuk sekali 27 40.9

100
Karakteristik pekerja pelapis logam yang dianalisis di penelitian ini
meliputi umur, masa kerja, jenis pekerjaan dan status gizi. Tabel 1 menunjukkan
bahwa umur pekerja terbanyak adalah > 34 tahun yaitu sebesar 54.5 %.
Sedangkan masa kerja terbanyak adalah kurang atau sama dengan 14 tahun yaitu
sebesar 53.03 %. Umur berpengaruh langsung terhadap kekuatan otot seseorang
yang kemudian akan mempengaruhi kemampuan tenaga kerja untuk bekerja
(Phoon, 1988). Secara tidak langsung umur juga berpengaruh terhadap masa kerja
yang menentukan durasi paparan bahan kimia ke dalam tubuh pekerja.
Pekerjaan pelapis logam terdiri atas pekerjaan pencelup dan non pencelup.
Pekerjaan non pencelup meliputi pengamplasan, gerinda, proses pengerjaan akhir
seperti pengelapan dan pengepakan. Di Kecamatan Talang jenis pekerjaan
terbanyak adalah pencelup logam yaitu sebesar 56.06 %. Pekerja pencelup ini
berada dekat dengan bak elektroplating. Pekerja pelapis logam terpapar oleh
partikel dan kabut Nikel dan Chromium yang dihasilkan dari proses elektrolisis
yang terjadi di bak elektroplating. Partikel dan kabut tersebut terjadi sebagai
akibat letupan pada permukaan cairan di bak elektroplating yang berasal dari
gelembung oksigen dan hidrogen keluar dari elektroda saat proses pelapisan
(Sarkar, 2002). Adapun status gizi responden terbagi atas normal, gemuk, dan
gemuk sekali. Sebagian besar responden memiliki status gizi normal yaitu sebesar
51.5 %.
3.2. Keluhan Sakit
Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 42.42% pekerja mengaku tidak
memiliki keluhan setelah melakukan pekerjaannya. Meskipun demikian ada 12,67
% pekerja pelapis logam yang mengalami 2 atau lebih keluhan sakit akibat
pekerjaannya. Keluhan sakit responden paling banyak atau sebesar 15.15 %
adalah sesak napas. Hal ini disebabkan karena sebagian besar paparan Nikel
masuk ke dalam tubuh pekerja melalui inhalasi. Selain itu 12.12 % responden juga
mngeluh gatal-gatal. Hal ini dapat dijelaskan karena reaksi yang paling umum
akibat paparan nikel adalah dermatitis kontak (Denkhaus dan Salnikow, 2002).

Gambar 1. Jenis keluhan Sakit yang dialami Pekerja Pelapis Logam di


Kecamatan Talang Kabupaten Tegal, Tahun 2016

101
3.3. Paparan Nikel
Kadar nikel pada responden dilihat dengan mengukur kadar nikel dalam
urin. Urin pekerja diambil setelah bekerja selama 4 jam kerja dan sebelum
istirahat makan siang sebanyak 5 ml. Sampel urin selanjutnya ditampung dalam
kontainer polypropylene, Hasil pemeriksaan kadar nikel dalam urin pekerja
pelapis logam dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Distribusi frekuensi kadar nikel dalam urin Pekerja Pelapis Logam di
Kecamatan Talang Kabupaten Tegal, tahun 2016
No. Kadar nikel n %
1 Lebih dari median ( 65.7 Mol/L) 31 46.97
2 Kurang dari median (65.7 Mol/L) 35 53.03
Jumlah 100 100.00

Kadar nikel dalam urin pekerja pelapis logam berkisar antara 9.52 Mol/L-
185.98 Mol/L. Adapun rerata nikel dalam urin pekerja adalah sebesar 72.52
Mol/L dan median 65.70 Mol/L. Sebanyak 53.03 % pekerja memiliki kadar
nikel dalam urinnya kurang dari median. Konsentrasi nikel sebesar 5 g/dL di
dalam spot urin yang dikumpulkan setelah terpapar, menunjukkan bukti adanya
keracunan akut pada pekerja (Rendall et al, 1994). Nikel secara normal dibuktikan
pada sampel biologi pada kadar yang sangat rendah (0.3-1.2 g/L dalam serum
dan 2.0-6.0 g/L dalam urine) (Christensen, 1995; Templeton et al, 1994). Kadar
nikel dalam urin dapat digunakan untuk memonitor peningkatan paparan nikel dan
kadar/konsentrasi diatas 0.5 mg/LdL menunjukkan tanda-tanda serius (Tsai et al,
1996)
3.4. Hubungan antara Umur dengan Kadar Nikel dalam Urin pada Pekerja
Pelapis Logam
Hubungan antara umur dan Kadar Nikel dalam urin pada pekerja pelapis
logam disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Tabulasi Silang Hubungan antara Umur dengan Kadar Nikel dalam Urin
Pekerja Pelapis Logam di Talang Kabupaten Tegal, 2014
Kadar Nikel Total
Katagori median < median P
umur n % n % n %
>34 17 47.2 19 52.8 36 100 1.000
<34 14 46.7 16 53.3 30 100
Total 31 47.0 35 53.0 66 100

Hasil uji statistik menggunakan chi square menunjukkan nilai p sebesar


1.000, sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara umur pekerja
pelapis logam dengan kadar nikel dalam urin pekerja. Meskipun tidak ada
hubungan terlihat bahwa pada usia lebih dari 34 tahun terdapat 47.2% pekerja
yang memiliki kadar nikel dalam urinnya lebih dari nilai median (65.7 Mol/L).
Angka ini lebih besar dibandingkan pada kelompok usia kurang dari 34 tahun.

102
3.5. Hubungan antara Masa kerja dengan Kadar Nikel dalam Urin pada
Pekerja Pelapis Logam
Tabel 4 menunjukkan tabulasi silang hubungan antara masa kerja dengan
kadar nikel pada pekerja pelapis logam. Proporsi kadar nikel lebih besar dari
median lebih besar terjadi pada masa kerja lebih dari 14 tahun, yaitu sebesar 51.6
% dibanding pada usia kurang dan sama dengan 14 tahun yaitu hanya sebesar 42.9
%.

Tabel 4. Tabulasi Silang Hubungan antara Masa Kerja dengan Kadar Nikel dalam
Urin Pekerja Pelapis Logam di Talang Kabupaten Tegal, 2014
Kadar Nikel
Katagori Total
median < median P
masa kerja
n % n % n %
>14 16 51.6 16 48.4 31 100 0.642
14 15 42.9 20 57.1 35 100
Total 31 47.0 35 53.0 66 100

Meskipun demikian hasil uji statistik dengan menggunakan chi square


menunjukkan tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kadar nikel dalam
urin dengan nilai p = 0.642. Menurut Phoon, masa kerja yang lebih panjang
membantu tenaga kerja beradaptasi terhadap lingkungan kerjanya dan memiliki
pengalaman yang lebih baik dalam bekerja dibandingkan dengan pekerja dengan
masa kerja yang pendek ( Phoon, 1988).
3.6. Hubungan antara Jenis Pekerjaan dengan Kadar Nikel dalam Urin pada
Pekerja Pelapis Logam
Hubungan antara jenis pekerjaan dengan kadar nikel dalam urin pada pekerja
pelapis logam dapat dilihat pada table berikut ini:

Tabel 5. Tabulasi Silang Hubungan antara Jenis Pekerjaan dengan Kadar Nikel
dalam Urin Pekerja Pelapis Logam di Talang Kabupaten Tegal , 2014
Katagori Kadar Nikel
Total
Jenis median < median
P
Pekerjaan n % n % n %
Pencelup 22 59.5 15 40.5 37 100 0.047
Bukan 9 31.0 20 69.0 29 100
pencelup
Total 31 47.0 35 53.0 66 100

Tabel 5 menjelaskan hubungan antara jenis pekerjaan dengan kadar nikel


urin pada pekerja pelapis logam. Adapun pekerjaan pada pelapisan logam terdiri
atas pekerjaan pencelup dan non pencelup. Hasil uji statistik dengan
menggunakan chi square menunjukkan ada hubungan antara jenis pekerjaan
dengan kadar nikel pada urin pekerja pelapis logam dengan nilai p = 0.047. dan
OR 3.259 ( CI =1.170-9.079). Ini berarti pekerjaan pencelup memiliki peluang
3.26 kali lebih besar untuk memiliki kadar nikel dalam urin diatas median (65.7
Mol/L) dibandingkan dengan pekerjaan non pencelup. Pekerja pencelup
memiliki risiko yang lebih besar karena bekerja menghadapi bak pelapis, terpapar
uap bahan kimia secara langsung dan tidak menggunakan alat pelindung diri.

103
Selain itu ventilasi yang tidak adekuat membuat uap nikel terkumpul di sekitar
bak elektroplating (Kiilunen et al., 1997; Greenberg et al., 2003)
3.7. Hubungan antara Status Gizi dengan Kadar Nikel dalam Urin pada
Pekerja Pelapis Logam
Hubungan antara status gizi dengan kadar nikel dalam urin pekerja pelapis
logam dapat dilihat pada tabel 6. Status gizi pada penelitian ini terbagi atas
normal, gemuk dan gemuk sekali.

Tabel 6. Tabulasi Silang Hubungan antara Status gizi dengan Kadar Nikel dalam
Urin Pekerja Pelapis Logam di Talang Kabupaten Tegal, 2014
Kadar Nikel
Katagori Total
median < median
Status Gizi p
n % n % n %
Normal 18 52.9 16 47.1 34 100 0.41
Gemuk 4 80.0 1 20.0 5 100
Gemuk sekali 9 33.3 18 66.7 27 100
Total 31 47.0 35 53.0 66 100

Hasil uji statistik menggunakan chi square menunjukkan nilai p sebesar


0.096, sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara status gizi pekerja
pelapis logam dengan kadar nikel dalam urin pekerja. Tubuh memerlukan zat
makanan untuk pemeliharaan tubuh, perbaikan kerusakan sel dan pertumbuhan,
dimana tingkat gizi seseorang berkaitan erat dengan kesehatan dan daya kerja.
Banyaknya kalori yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan harus terpenuhi
dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. Jika asupan gizi tidak terpenuhi
maka kemampuan pekerja akan berkurang dan mudah letih (Sumamur PK, 1994)

4. Kesimpulan
1. Kadar nikel dalam urin pekerja pelapis logam berkisar antara 9.52 Mol/L-
185.98 Mol/L. Adapun rerata nikel dalam urin pekerja adalah sebesar 72.52
Mol/L dan median 65.70 Mol/L. Sebanyak 53.03 % pekerja memiliki kadar
nikel dalam urinnya kurang dari median
2. Umur pekerja terbanyak adalah > 34 tahun yaitu sebesar 54.5 %. Sedangkan
masa kerja terbanyak adalah kurang atau sama dengan 14 tahun yaitu sebesar
53.03 %. Jenis pekerjaan terbanyak adalah pencelup logam yaitu sebesar 56.06
%. Adapun status gizi responden terbagi atas normal, gemuk, dan gemuk
sekali. Sebagian besar responden memiliki status gizi normal yaitu sebesar 51.5
%.
3. Tidak ada hubungan antara umur dengan kadar nikel dalam urin pada pekerja
pelapis logam ( nilai p = 1.000).
4. Tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kadar nikel dalam urin pada
pekerja pelapis logam ( nilai p = 0.642).
5. Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan kadar nikel dalam urin pada
pekerja pelapis logam ( nilai p = 0.041).
6. Tidak ada hubungan antara status gizi dengan kadar nikel dalam urin pada
pekerja pelapis logam ( nilai p = 0.096)

104
Daftar Pustaka
Bavazzano P, Bolognesi R, Cassinelli C , 1994, Skin Contamination and low
airborne nickle exposure of elektroplaters, Sci Total Environ 155:83
Christensen, J, 1995, Human exposure to toxic Metal: Factors influencing
interpretation of biomonitoring result, Sci Total Environ 166: 89
Denkhaus, E, K. Salnikow, 2002, Nickel Essencially, toxicity, and carcinogenicity
of nickel compounds, Crit.Rev, Oncol.Hematol, 42 , 35-56
Greenberg, Michael I. Richard J.H., Scott, D.P., Gayla J.M., 2003. Occupational,
Industrial and Environmental Toxicology, second edition, Philadelphia:
Mosby
International Agency for Reseach on Cancer, IARC, 1990, Monographs on the
Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans, vol 49, Chromium, Nickel
and Welding, IARC, Scientific Publication , Lyon, 257-445
International Committe on Nickels Carcinogenesis in Man,1990, Report of the
International Commiite on Nickel carcinogenesis in Man, Scand J Work
Environ Health , 6:1-82
Kasprzak, K.S., F. William Sunderman Jr, Konstantin Salnikow, 2003, Nickel
Carcinogenesis, Mutation Research 533 , 67-97
Kiilunen m, Aitio A, Tossavainen A, 1997, Occupational exposureto Nickel salts
in electroplatic aplating, Ann, Occup Hyg 41 (2):189
Phoon, W.1988,Practical Occupational Health, Singapore: PG. Publishing
Rendall, R, Phillips J, Renton K, 1994, Death following exposure to fine
particulate nickel from a metal process. Ann Occup Hyg , 38: 921
Sumamur, PK, 1994, Hiperkes Keselamatan Kerja dan Ergonomi, jakarta: Darma
Bakti Muara Agung
Suyono, Joko . Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, 2001
Tsai, PJ, Vincent JH, Wahl G et al, 1996 , Occupational exposure to inhalable and
Total aerosol in the primary nickelproduction industry, Occup Environ Med
%3 (2): 793

105
Hubungan Kebisingan Dengan Kelelahan Kerja
Karyawan Game4Indo Yogyakarta
Suci Khoiriyah, Nor Wijayanti
Prodi Kesehatan Masyarakat STIKES Surya Global Yogyakarta
Jalan Ring Road Selatan Blado Potorono Banguntapan Bantul
Tel. 1085768767540, 2087737022904
E-mail: khoiriyah.suci@gmail.com, 2wijayantinor@gmail.com
1

Abstrak

Kebisingan sebagai semua suara yang tidak dikehendaki bersumber dari alat-alat proses
produksi dan atau alat-alat yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan
pendengaran. Pengukuran kebisingan tempat kerja Game4indo Yogyakarta rata-rata 89,4
dB, melebihi nilai ambang batas berdasarkan Kepmenaker Nomor 51/MEN/1999, nilai
ambang batas adalah 85 dB dengan waktu pemaparan 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
Kelelahan diartikan suatu kondisi menurunnya efisiensi, performa kerja dan
berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk melanjutkan kegiatan.
Game4indo Yogyakarta setiap harinya karyawan terpapar kebisingan 6-8 jam per hari
atau 40 jam per minggu tanpa waktu istirahat. Adanya shift malam berturut-turut tanpa
hari libur setelah bekerja. Kelelahan yang dikeluhkan seperti telinga berdengung hingga
pusing, mudah lelah diawal bekerja, cepat mengantuk, tidak fokus, rasa malas bekerja.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kebisingan dengan kelelahan kerja
karyawan Game4indo Yogyakarta. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan
pendekatan cross sectional. Teknik sampel dengan total populasi (sampling jenuh).
Populasi dan sampel penelitian adalah seluruh karyawan Game4indo berjumlah 32 orang.
Pengumpulan data kebisingan menggunakan alat Sound Level Meter dan data kelelahan
menggunakan kuesioner IFRC (Industrial Fatigue Resource Committe). Analisis data
menggunakan uji Kendalls Tau SPSS versi 21.
Ada hubungan kebisingan dengan kelelahan kerja karyawan Game4indo Yogyakarta
dengan nilai P-value 0,043 < (0,05).

Kata kunci: karyawan, kebisingan, kelelahan kerja.

1. Pendahuluan
Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kesehatan/kedokteran beserta
prakteknya yang bertujuan agar tenaga kerja/masyarakat tenaga kerja memperoleh
derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental, maupun sosial dengan
usaha preventif atau kuratif terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang
diakibatkan oleh faktor tenaga kerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap
penyakit umum.1 Sehat digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial
seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan
juga menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan tenaga
kerjaannya.2 Kesehatan kerja dapat tercapai secara optimal jika tiga komponen
kerja berupa kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja dapat berinteraksi
secara baik dan serasi.1
Kebisingan adalah sebagai bunyi yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai
dengan kontek ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap
kenyamanan dan kesehatan manusia.3 Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja

106
No. KEP-15/MEN/1999 mendefinisikan kebisingan sebagai semua suara yang
tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat
yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.4 Menurut
Peraturan Menteri Kesehatan No. 718/Menkes/Per/XI/ 1987, kebisingan adalah
terjadinya bunyi yang tidak diinginkan sehingga mengganggu dan atau dapat
membahayakan kesehatan. Bising ini merupakan kumpulan nada-nada dengan
bermacam-macam intensitas yang tidak diingini sehingga mengganggu
ketentraman orang terutama pendengaran.5
Kelelahan dapat diartikan sebagai suatu kondisi menurunnya efisiensi,
performa kerja dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk terus
melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan.6 Pengaruh kebisingan terhadap
tenaga kerja antara lain mengurangi kenyamanan dalam bekerja, tetapi tidak
semua tenaga kerja terganggu akan kebisingan yang ada, hal ini disebabkan
mereka sudah terbiasa oleh kondisi yang ada dalam jangka waktu yang lama.
Kebisingan dapat mengganggu komunikasi atau percakapan antar tenaga kerja,
mengganggu konsentrasi, menurunkan daya dengar, baik yang bersifat sementara
maupun yang permanen.2
Pengukuran kebisingan tempat kerja Game4indo Yogyakarta rata-rata 89,4
dB, melebihi nilai ambang batas berdasarkan Kepmenaker Nomor 51/MEN/1999,
nilai ambang batas adalah 85 dB dengan waktu pemaparan 8 jam sehari atau 40
jam seminggu. Game4indo Yogyakarta setiap harinya karyawan terpapar
kebisingan 6-8 jam per hari atau 40 jam per minggu tanpa waktu istirahat. Adanya
shift malam berturut-turut tanpa hari libur setelah bekerja. Kelelahan yang
dikeluhkan seperti telinga berdengung hingga pusing, mudah lelah diawal bekerja,
cepat mengantuk, tidak fokus, rasa malas bekerja.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui nilai kebisingan di Game4indo
Yogyakarta, mengetahui tingkat kelelahan karyawan Game4indo Yogyakarta dan
mengetahui hubungan kebisingan dengan kelelahan kerja karyawan Game4indo
Yogyakarta.

2. Metode Penelitian
Jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.
Teknik sampel dengan total populasi (sampling jenuh). Populasi dan sampel
penelitian adalah seluruh karyawan Game4indo Yogyakarta berjumlah 32 orang.
Pengumpulan data kebisingan menggunakan alat Sound Level Meter dan data
kelelahan menggunakan kuesioner IFRC (Industrial Fatigue Resource Committe).
Metode analisis data dengan analisis univariat untuk mengestimasi parameter
populasi untuk data numerik, menggambarkan setiap variabel yang diteliti secara
terpisah dengan cara membuat tabel frekuensi dari masing-masing variabel serta
menggunakan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara dua variabel
yaitu variabel bebas dan terikat.7 Penelitian ini analisis bivariat dilakukan dengan
uji Kendalls Tau SPSS versi 21.

107
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Karakteristik Responden
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Di Game4indo
Yogyakarta Tahun 2015
No. Usia (Tahun) Frekuensi (F) Persentase (%)
1. < 20 6 18,75
2. 21-30 26 81,25
Total 32 100

Tabel 1, data responden berdasarkan usia bahwa sebagian besar responden


dalam penelitian ini berusia 21- 30 tahun dengan jumlah 26 responden atau
persentase sebesar 81,25%.

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Game4indo


Yogyakarta Tahun 2015
No. Jenis Kelamin Frekuensi (F) Persentase (%)
1. Laki-laki 20 62,5
2. Perempuan 12 37,5
Total 32 100

Tabel 2, data responden berdasarkan jenis kelamin bahwa sebagian besar


responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 20 responden atau persentase 62,5
%.
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Di Game4indo
Yogyakarta Tahun 2015
No. Pendidikan Frekuensi (F) Persentase (%)
1 SD 1 3,1
2 SMA 24 75
3 D3 2 6,3
4 S1 5 15,6
Total 32 100

Tabel 3, data responden berdasarkan pendidikan bahwa responden sebagian


besar dengan pendidikan SMA sebanyak 24 responden atau persentase 75%.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lama Bekerja Di


Game4indo Yogyakarta Tahun 2015
Lama Bekerja
No. Frekuensi (F) Persentase (%)
(Tahun)
1. <1 21 65,6
2. 1-2 6 18,8
3. 2-3 4 12,5
4. 3-4 1 3,1
Total 32 100

Tabel 4, data responden berdasarkan lama bekerja bahwa sebagian besar


lama bekerja kurang dari setahun sebanyak 21 responden persentase 65,6%.

108
3.1.2. Analisis Data

Tabel 5. Hasil Pengukuran Kebisingan Di Game4indo Yogyakarta


Tahun 2015
No. Hasil Rata-rata Pengukuran Kebisingan Frekuensi (F) Persentase (%)
1. Standar (dibawah NAB yakni < 85) 6 18,75
2. Lebih dari Standar (diatas NAB yakni 85) 26 81,25
Total 32 100

Tabel 5, data hasil rata-rata pengukuran kebisingan menunjukkan bahwa


nilai kebisingan dibawah NAB atau memenuhi standar yakni dibawah 85 dB
berada pada kategori yang sudah sesuai dengan standar NAB yang ditetapkan
Kepmenaker Nomor 51/MEN/1999 dengan frekuensi 6 titik pengukuran atau
persentase 18,75 %. Data hasil rata-rata pengukuran kebisingan menunjukkan
bahwa nilai kebisingan diatas atau sama dengan NAB atau melebihi standar NAB
yang ditetapkan Kepmenaker Nomor 51/MEN/1999 dengan frekuensi 26 titik
pengukuran atau persentase 81,25 %.

Tabel 6. Kelelahan Responden (Skor Kelelahan Dengan Kuesioner IFRC)


Di Game4indo Yogyakarta Tahun 2015
No. Kelelahan Frekuensi (F) Persentase (%)
1. Ringan 7 21,85
2. Sedang 18 56,30
3. Tinggi 7 21,85
Total 32 100

Tabel 6, data kelelahan responden menunjukkan bahwa skor kelelahan


dengan kuesioner IFRC sebagian besar responden mengalami kelelahan sedang
dengan frekuensi 18 responden atau persentase 56,3%.

Tabel 7. Data Kebisingan Dengan Kelelahan Kerja Karyawan


Di Game4indo Yogyakarta Tahun 2015
Kelelahan
Jumlah
Kebisingan Rendah Sedang Tinggi
F % F % F % F %
Standar 3 9,375 3 9,375 0 0 6 18,75
Lebih dari
4 12,5 15 46,875 7 21,875 26 81,3
Standar
Total 7 21,875 18 56,25 7 21,87 32 100

Tabel 7, data kebisingan dengan kelelahan kerja diketahui bahwa kebisingan


dalam kategori standar atau di bawah NAB dengan kelelahan rendah memiliki
frekuensi 3 responden atau persentase 9,375%, kelelahan sedang memiliki
frekuensi 3 responden atau persentase 9,375%. Kebisingan dalam kategori lebih
dari standar atau atau sama dengan NAB dengan kelelahan rendah memiliki
frekuensi 4 responden atau persentase 12,5%, kelelahan sedang memiliki
frekuensi 15 responden atau persentase 46,875%, kelelahan tinggi memiliki 7
responden atau persentase 21,875%.

109
3.1.3. Hasil Uji Kendalls Tau

Tabel 8.Hasil Uji Statistik Hubungan Kebisingan dengan Kelelahan Kerja Di


Game4indo Yogyakarta Tahun 2015
Correlations
Nilai Kategori
Kebisingan kelelahan
Correlation 1,000 ,346*
Coefficient
Nilai Kebisingan
Sig. (2-tailed) . ,043
Kendall's N 32 32
tau_b Correlation ,346* 1,000
Kategori Coefficient
kelelahan Sig. (2-tailed) ,043 .
N 32 32

Tabel 8, nilai p-value 0,043 < (0,05). Ho ditolak dan Ha diterima berarti
ada hubungan kebisingan dengan kelelahan kerja karyawan Game4indo
Yogyakarta.
3.2. Pembahasan
Pengukuran kebisingan di Game4indo Yogyakarta yang melebihi dari
standar atau sama dengan NAB ( 85 dB) didapatkan nilai kebisingan rata-rata
dengan persentase sebesar 81,25 %, sesuai standar atau dibawah NAB (<85 dB)
didapatkan persentase 18,75%. Hasil tersebut dibandingkan dengan Kepmenaker
No. 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) faktor fisika di tempat
kerja yang menyebutkan NAB untuk pemajanan 8 jam per hari atau 40 jam dalam
satu minggu adalah sebesar 85 dB.4 Kebisingan dapat memaparkan suara bising
pada waktu pemajanan 4 menit/hari dan karyawan harus memakai ear plug dalam
bekerja, karena ear plug dapat mengurangi intensitas kebisingan suara antara 10-
15 dB.2
Pengukuran kelelahan kerja karyawan di Game4indo Yogyakarta
didapatkan bahwa untuk kelelahan ringan sebanyak 7 responden atau persentase
21,85%, kelelahan sedang sebanyak 18 responden atau persentase 56,30% dan
kelelahan tinggi sebanyak 7 responden atau persentase 21,85%. Kelelahan
berakibat kepada pengurangan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh, selain itu juga
menyebabkan seseorang berhenti bekerja seperti halnya kelelahan fisiologis
berakibatkan tertidur. Kelelahan mudah ditiadakan dengan beristirahat. Tetapi,
jika dipaksakan bekerja terus (tidak beristirahat), kelelahan akan bertambah dan
dapat mengganggu kesehatan.8
Hasil uji Kendalls Tau pada penelitian ini didapatkan bahwa nilai p-value
0,043 < (0,05), Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan kebisingan
dengan kelelahan kerja karyawan Game4indo Yogyakarta. Hasil penelitian
tentang kebisingan ini sesuai dengan penelitian Fredianta,dkk (2013) yang
menyatakan bahwa semua titik pengukuran tingkat kebisingan tiap operator
pekerja melebihi NAB di PT XYZ.9 Berikut pula dengan penelitian Muizzudin
(2013) yang menyatakan ada hubungan antara kelelahan kerja dengan
produktivitas kerja pada tenaga kerja bagian tenun di PT. Alkatex Tegal, dengan
menggunakan metode analisa data yakni Chi square Test.10 Penelitian lain tentang

110
kelelahan kerja yang hasilnya mendukung yaitu penelitian Fahri, dkk (2010)
menyatakan rata-rata kebisingan diantara 90,87 dB sampai dengan 93,67 dB dan
hasil uji statistik korelasi dan regresi membuktikan nilai p = 0,041 hal ini
membuktikan ada hubungan yang bermakna antara kebisingan dengan perasaan
kelelahan kerja Bagian Drilling Pertamina EP Jambi.11 Penelitian dari Hanifa
(2005) menyatakan ada pengaruh kebisingan terhadap kelelahan menggunakan uji
korelasi Pearson membuktikan ada hubungan antara kebisingan dengan kelelahan
pada tenaga kerja Industri Pengolahan Kayu Brumbung Perum Perhutani
Semarang.12

4. Kesimpulan
1. Kebisingan yang tidak sesuai standar atau diatas NAB dengan frekuensi 26
responden atau persentase sebesar 81,25 %, kebisingan yang sesuai standar
atau dibawah NAB dengan frekuensi sebanyak 6 responden atau persentase
18,75 %.
2. Kelelahan kerja kategori kelelahan ringan dengan frekuensi 7 responden atau
persentase 21,85%, kelelahan sedang dengan frekuensi 18 responden atau
persentase 56,3% dan kelelahan tinggi dengan frekuensi sebanyak 7 responden
atau persentase 21,85%.
3. Hasil uji Kendalls Tau didapatkan nilai p-value 0,043< (0,05). Ho ditolak dan
Ha diterima, berarti ada hubungan kebisingan dengan kelelahan kerja karyawan
Game4indo Yogyakarta.

Daftar Pustaka
1. Sumamur, P.K., Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Edisi Revisi,
Jakarta, Gunung Agung, 2014.
2. Budiono, A.M. Sugeng, Yusuf R.M.S, Pusparini, A, Bunga Rampai Hiperkes
dan K3, Semarang, BP Universitas Diponegoro, 2013.
3. Sasongko, D., Kebisingan Lingkungan, Semarang, Universitas BP Diponegoro,
2009.
4. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP-51.MEN/1999 Tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika Di Tempat Kerja, Jakarta, Departemen Tenaga
Kerja dan Transmigrasi RI, 1999.
5. Keputusan Menteri Kesehatan No.718/Menkes/Per/XI/1987 Tentang
Kebisingan, Jakarta, Departemen Kesehatan RI, 1987.
6. Anizar, Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri, Yogyakarta,
Graha Ilmu, 2012.
7. Notoatmodjo, S, Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta, Rineka Cipta,
2012.
8. Sumamur, P.K, Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta, Gunung
Agung, 2009.
9. Fredianta, G.D., Huda, N.L., Ginting, E., Analisis Tingkat Kebisingan Untuk
Mereduksi Dosis Paparan Bising Di PT.XYZ, e-Jurnal Teknik Industri FT
USU, Vol 2, No. 1, Mei 2013 pp. 1-8
10. Muizzudin, A., Hubungan Antara Kelelahan Kerja Dengan Produktivitas
Kerja Pada Tenaga Kerja Bagian Tenun di PT. Alkatex Tegal, Skripsi,
Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013.

111
11. Fahri, S., Pasha, E., Kebisingan Dan Tekanan Panas Dengan Perasaan
Kelelahan Kerja Pada Tenaga Kerja Bagian Drilling Pertamina EP Jambi,
Prossiding Seminar Nasional Unimus, Semarang, ISBN: 978.979.704.883.9,
2010.
12. Hanifa, Y. T., Pengaruh Kebisingan Terhadap Kelelahan Pada Tenaga Kerja
Industri Pengolahan Kayu Brumbung Perum Perhutani Semarang. Skripsi,
Universitas Negeri Semarang, 2005.

112
Pengaruh Frekuensi Menyusui terhadap Keluhan Sakit Punggung
Pada Pekerja Wanita di Perusahaan Garmen
Yeremia Rante Ada, Sumardiyono
Program D3 Hiperkes dan KK FK UNS Jl. Ir. Sutami 36 A, Surakarta, 57126
Tel. 081347122037, 08562838920
E-mail: yeremia08@gmail.com, sumardiyono_uns@yahoo.com

Abstrak

Sakit akibat kerja yang frekuensi kejadiannya paling tinggi adalah sakit atau nyeri
punggung yaitu 22% dari 1.700.000 kasus. Pekerja di perusahaan garmen umumnya
didominasi oleh pekerja wanita, yang dalam salah satu siklus kehidupannya adalah
memasuki fase menyusui dan di sisi lain masih harus bekerja untuk menopang ekonomi
keluarga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh frekuensi menyusui terhadap
keluhan sakit punggung pada pekerja wanita di perusahaan garmen di Surakarta.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survei bersifat analitik dengan metode cross
sectional. Populasi penelitian ini meliputi pekerja wanita dalam siklus menyusui pada 5
perusahaan garmen di Surakarta. Sampel penelitian 67 orang diambil menggunakan
purposive quota sampling dengan kriteria: wanita menyusui, usia 20-40 tahun. Analisis
statistik menggunakan Chi square Test.
Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh frekuensi menyusui terhadap keluhan sakit
punggung pada pekerja wanita di perusahaan garmen (X2=9,656; p=0,002; C=0,355;
OR=5,1 CI=1,768-14,712). Sedangkan variabel lain diperoleh: umur (X2=0,567;
p=0,451), bagian kerja (X2=3,993; p=0,262), IMT (X2=0,007; p=0,932), masa kerja
(X2=2,125; p=0,145).Dengan demikian variabel pengganggu seperti umur, bagian kerja,
IMT, dan masa kerja tidak berpengaruh terhadap keluhan sakit punggung.
Frekuensi menyusui berpengaruh secara signifikan sebesar 35% dan berisiko 5 kali lebih
besar terhadap keluhan sakit punggung pada pekerja wanita di perusahaan garmen.

Kata kunci: frekuensi menyusui, sakit punggung.

1. Pendahuluan
Hampir semua orang dapat mengalami sakit/nyeri punggung pada
aktivitaskehidupannya. Sakit punggung berbedaterhadap satu orang ke orang lain
dan tingkat risikonya bisa ringan sampai parah, serta jangka waktunya bisa
singkat maupun panjang. Sakit punggung adalah rasa sakit/nyeri yang terletak di
bagian belakang tubuh manusia dari leher sampai ke tulang ekor. Sakit punggung
merupakan salah satu cedera fisik paling umum untuk pekerja, tidak hanya
mereka yang bekerja di lapangan tetapi juga bagi mereka yang bekerja di kantor
maupun industri. Nyeri punggung tidak hanya terjadi untuk mereka yang bekerja
mengangkat benda berat, tetapi dapat terpapar risiko sakit punggung jika
beraktivitas duduk di kursi kerja, bisa pada saat bekerjapada komputer sepanjang
hari, menjahit dengan posisi duduk, atau berdiri untuk jangka waktu lama. Hal
yang lebih buruk apabila nyeri punggung bisa menjadi sesuatu yang serius yang
dapat menjadi cedera jangka panjang. Sakit punggung sulit untuk dipulihkan,
maka lebih baik untuk mencegahnya. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan
sakit punggung (The President Post, 2012).

113
Pernyataan dari Wirawan (2004) yang mengutip hasil penelitian yang
dilakukan oleh Community Oriented Program for Controle of Rheumatic Disease
(COPORD),di Indonesia menunjukan prevalensi nyeri punggung 18,2 % pada
laki-laki dan 13,6 % pada wanita. Selanjutnya Tarwaka dkk (2004) mengutip
pernyataan National Safety Council yang melaporkan bahwasakit akibat kerja
yang frekuensi kejadiannya paling tinggi adalah sakit/nyeri pada punggung, yaitu
22% dari 1.700.000 kasus.
Salah satu risiko terjadinya sakit punggung akan dialami oleh para pekerja
di perusahaan garmen. Pekerja di perusahaan garmen umumnya didominasi oleh
pekerja wanita, yang dalam salah satu siklus kehidupannya adalah memasuki fase
melahirkan, menyusui, menopause dan disisi lain masih harus bekerja untuk
menopang ekonomi keluarga.Nyeri punggung pada wanita menopause biasanya
terkait erat dengan kondisi tulang punggung.Susunan tulang punggung manusia
sangat kompleks, teratur, pas tingginya, dan ada ujung saraf yang keluar di antara
ruas-ruas tulang. Tulang punggung berbeda dari tulang kering karena lebih
longgar dan berongga. Sumber sakit punggung paling umum adalah otot-otot yang
lemah atau kaku di daerah punggung, perut, dan urat-urat lutut. Masalah
punggung sering diperparah oleh gaya hidup sekarang yang lebih banyak duduk,
sehingga menyebabkan ketegangan di punggung tetapi juga dapat menyebabkan
kegemukan

2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survei bersifat analitik dengan
metode cross sectional. Populasi penelitian ini adalah pekerja wanita yang masih
dalam siklus menyusui, dilakukan pada 5 perusahaan garmen di Surakarta.
Sampel penelitian 67 orang diambil menggunakan purposive quota sampling
dengan kriteria: wanita menyusui, usia 20-40 tahun. Analisis statistik
menggunakan Chi square Test.

3. Hasil Penelitian
3.1. Karakteristik Subjek Penelitian
Jumlah subjek penelitian yang digunakan sebagai sampel sebanyak 67 orang
wanita di perusahaan garmen yang bekerja pada bagian Sewing, QC, Packing, dan
bagian lainnya. Subjek bekerja 8 jam perhari dengan 1 jam istirahat. Pengukuran
terhadap variabel penelitian saat pekerja melaksanakan pekerjaannya pada shift
pagi. Data karakteristik subjek penelitian tersaji pada tabel 1.
Variabel utama yang diteliti adalah frekuensi menyusui bayi di malam hari
yang dilakukan oleh subjek penelitian. Subjek penelitian adalah wanita/ibu-ibu
yang memiliki bayi, yang dalam aktivitasnya di rumah selain merawat bayi juga
menyusui bayinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi rata-rata
menyusui dalam 2 hari terakhir dari 67 orang subjek yang diteliti diperoleh data
minimal 1 kali dan maksimal 7 kali. Nilai rata-rata frekuensi menyusui adalah 4,2
sehingga kategorinya pertama < 4 kali per malam dan kategori kedua > 4 kali per
malam.

114
Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian
Jumlah Total Subjek
No Karakteristik % Total (%)
(Orang) (orang)
1. Frekuensi Menyusui
< 4 kali per malam 40 60
67 100
> 4 kali per malam 27 40
2. Umur
< 28 tahun 36 54
67 100
> 28 tahun 31 46
3. Bagian Kerja
Sewing 32 48
67 100
QC 8 12
Packing 2 3
Lainnya 25 37
4. Indeks Massa Tubuh
Normal / Kurus 50 75
67 100
Gemuk/ Obesitas 17 25
5. Masa Kerja
< 6 tahun 37 55
67 100
> 6 tahun 30 45

3.1.2. Hasil Pengukuran Sakit Punggung


Keluhan sakit punggung diukur dengan kuesioner Nordic Body Map. Hasil
pengukuran keluhan sakit punggung terhadap 67 orang subjek penelitian tersaji
pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil Pengukuran Keluhan Sakit Punggung


No Kriteria Jumlah (Orang) % % Kumulatif
1 Ada Keluhan Sakit 40 59,7 100
Punggung
2 Tidak Ada Keluhan Sakit 27 40,3
Punggung

Hasil pengukuran terhadap 67 orang subjek penelitian ditemukan 59,7%


merasakan keluhan sakit/nyeri punggung, sedangkan 40,3% tidak merasakan
keluhan sakit/nyeri punggung. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa 2/3
tenaga kerja wanitasubjek penelitian yang diukur mengalami keluhan sakit
punggung.
Karakteristik pekerjaan di industri garmenpada umumnya sangat berkaitan
erat dengan sikap kerja yang ergonomis, meliputi posisi kerja duduk,posisi
berdiri,material handling, ketelitian cukup tinggi, tingkat pengulangan kerja
tinggi pada satu jenis otot, berinteraksi dengan benda tajam seperti jarum, gunting
dan pisau potong, dan paparan bahaya lingkungan kerja.Permasalahan ergonomi
kerja di industri garmen terutama sangat terkait dengan posisi postur tubuh pada
saat bekerja. Seperti yang dilaporkan oleh David (1999), diantara penyakit kerja
yang terkait dengan kondisi lingkungan kerja di persahaan garmen antara lain
70% operator jahit mengalami sakit punggung.

115
3.1.3. Hasil Uji Statistik Pengaruh Frekuensi Menyusui terhadap Keluhan
Sakit Punggung
Untuk mengatahui apakah ada pengaruh frekuensi menyusui terhadap
keluhan sakit punggung pada wanita pekerja perusahaan garmen, seberapa besar
pengaruhnya, dan seberapa besar nilai risikonya, maka dilakukan uji statistik
dengan menggunakan Chi Square Test, Contingency Coeficient, dan Odd Ratio.
Hasil uji tersaji pada tabel 3.

Tebel 3. Hasil Uji Statistik Pengaruh Frekuensi Menyusui


Terhadap Keluhan Sakit Punggung
Keluhan Sakit
Punggung
Frekuensi Jumlah
Ada Tidak Ada X2 p C OR
Menyusui
Keluhan Keluhan
n % n % n %
< 4 kali per malam 30 75 10 25 40 100
> 4 kali per malam 10 37 17 63 27 100 9,656 p=0,002 0,355 5,1
Jumlah 40 60 27 40 67 100

Dari tabel 1 tersaji pada kelompok subjek dengan kategori frekuensi


menyusui < 4 kali per malam, sebanyak 40 orang yang mengeluh sakit punggung
75% dan tidak mengeluh sakit punggung 25%. Sedangkan subjek dengan kategori
frekuensi menyusui > 4 kali per malam, sebanyak 27 orang yang mengeluh sakit
punggung 37% dan tidak mengeluh sakit punggung 63%.
Adanya pengaruh frekuensi menyusui terhadap keluhan sakit punggung
dibuktikan melalui Chi Square Test yang diperoleh nilai uji X2=9,656 pada
p=0,002. Oleh karena nilai p < 0,05 maka hasil uji dinyatakan signifikan. Dengan
demikian dapat dinyatakan ada pengaruh frekuensi menyusui terhadap keluhan
sakit punggung. Frekuensi menyusui > 4 kali per malam yang dilakukan wanita
mempengaruhi timbulnya keluhan sakit punggung ditunjukkan oleh nilai
C=0,355. Dengan demikian frekuensi menyusui > 4 kali per malam menyebabkan
timbulnya keluhan sakit punggung sebesar 35,5%, sedangkan faktor lain yang
mempengaruhi keluhan sakit punggung sebesar 84,5%. Faktor risiko frekuensi
menyusui > 4 kali per malam berisiko mengalami keluhan sakit punggung.
Besarnya risiko untuk mengalami keluhan sakit punggung pada wanita yang
menyusui bayinya > 4 kali per malam dibandingkan frekuensi menyusui < 4 kali
per malam sebesar 5 kali yang ditunjukkan oleh nilai OR=5,1.
3.1.4. Hasil Uji Statistik Variabel Pengganggu terhadap Keluhan Sakit
Punggung
Untuk mengetahui apakah keluhan sakit punggung juga dipengaruhi oleh
variabel pengganggu, maka dilakukan uji statistik. Karena banyak variabel
pengganggu yang secara teoritis mempengaruhi keluhan sakit punggung, maka
penelitian ini hanya mengambil umur, bagian kerja, indeks massa tubuh (IMT),
dan masa kerja. Umur diukur dengan wawancara yang dibuktikan diperkuat data
kepegawaian perusahaan. Bagian kerja diukur dengan kuesioner yang diperkuat
oleh pernyataan kepala bagian produksi. IMT diukur dengan mengukur tinggi
badan dalam meter dan berat badan dalam kg yang selanjutnya nilai IMT dihitung
dengan rumus. Masa kerja diukur dengan data kepegawaian perusahaan.

116
Tabel 4. Hasil Uji Statistik Variabel Pengganggu
terhadap Keluhan Sakit Punggung
Keluhan Sakit Punggung
Ada Tidak Ada Jumlah
Variabel X2 p Keterangan
Keluhan Keluhan
N % n % n %
Umur
< 28 tahun 23 64 13 36 36 100 Tidak Signifikan
> 28 tahun 17 55 14 45 31 100 0,567 0,451
Bagian Kerja
Sewing 19 59 13 41 32 100 Tidak Signifikan
QC 4 50 4 50 8 100
3,993 0,262
Packing 0 0 2 100 2 100
Lainnya 17 68 8 32 25 100
IMT
Normal / Kurus 30 60 20 40 50 100 Tidak Signifikan
Gemuk/ Obesitas 10 59 7 41 17 100 0,007 0,932
Masa Kerja
< 6 tahun 25 68 12 32 27 100 Tidak Signifikan
> 6 tahun 15 50 15 50 30 100 2,125 0,145

Untuk mengetahui seberapa besar faktor-faktor luar menyebabkan keluhan


sakit punggung antara lain umur, bagian kerja, indeks massa tubuh, dan masa
kerja maka dilakukan uji statistik untuk mengetahui apakah ada pengaruh faktor-
faktor tersebut terhadap timbulnya keluhan sakit punggung. Umur terendah 20
tahun dan tertinggi 37 tahun dengan nilai rata-rata 28,01 tahun, maka digunakan
kategori < 28 tahun dan > 28 tahun. Hasil uji menunjukkan tidak ada pengaruh
faktor umur terhadap keluhan sakit punggung (p > 0,05). Bagian kerja
dikategorikan menjadi 4 kalegori, yaitu Sewing, Quality Control, Packing, dan
bagian lain. Hasil uji menunjukkan tidak ada pengaruh bagian kerja terhadap
keluhan sakit punggung (p > 0,05). Indeks massa tubuh terendah 15,82kg/m2 dan
tertinggi 31,9 kg/m2. Data menunjukkan IMT dengan kategori kurus (kekurangan
berat badan tingkat ringan) = 13 orang, kategori normal = 37 orang, kategori
gemuk (kelebihan berat badan tingkat ringan) = 9 orang dan sangat gemuk
(kelebihan berat badan tingkat berat) = 8 orang.Dalam hal ini IMT dikategorikan
menjadi 2 kelompok dengan menggabungkan kurus dan normal menjadi
kelompok normal sebanyak 50 orang, dan gemuk dan sangat gemuk menjadi
kategori gemuk sebanyak 17 orang. Hasil uji menunjukkan tidak ada pengaruh
faktor IMT terhadap keluhan sakit punggung (p > 0,05).Masa kerja terendah 1
tahun dan tertinggi 14 tahun dengan nilai rata-rata 6,19 tahun, maka digunakan
kategori < 6 tahun dan >6 tahun. Hasil uji menunjukkan tidak ada pengaruh faktor
masa kerja terhadap keluhan sakit punggung (p > 0,05).
3.2. Pembahasan
Pekerja wanita di industri garmen merupakan mayoritas dari keseluruhan
pekerja dibanding laki-laki. Dilihat dari permasalahan kesehatan kerja,pekerja
memiliki risiko penyakit yang berhubungan dengan otot dan rangka atau yang
dikenal dengan sebutan musculoskeletal disorders (MSDs), dimana salah satunya
adalah nyeri punggung.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita sebagai ibu yang sedang
menyusui bayinya lebih dari 4 kali per malam memiliki risiko yang lebih tinggi

117
dibanding ibu yang menyusui bayinya kurang dari frekuensi 4 kali per malam.
Tugas wanita yang lebih berat dibanding laki-laki akan terbawa dampaknya ke
tempat kerja dikarenakan pekerja wanita ini harus melakukan peran ganda dalam
mendukung ekonomi rumah tangga. Dampak yang muncul bisa saja diawali
dengan kelelahan karena harus bangun malam hari untuk menyusui bayinya,
sehingga besoknya pada saat bekerja tidak dalam kondisikerja yang fit,
selanjutnya akan mengalami keluhan gangguan sakit punggung.
Akibat dari nyeri punggung yang terjadi pada para pekerja dapat
menyebabkan kelelahan fisik dan gangguan kesehatan dan lambat laun dapat
menyebabkan perubahan fisik (Sumamur, 2009). Hasil penelitian ini senada
dengan apa yang disampaikan oleh Davies (2007), yang menyatakan bahwa jenis
kelamin seseorang dapat mempengaruhi timbulnya keluhan nyeri pada punggung,
karena pada wanita keluhan ini lebih sering terjadi misalnya pada siklus
menstruasi maupun menyusui. selain itu proses menopouse juga dapat
menyebabkan kepadatan tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogen
sehingga memungkinkan terjadinya nyeri punggung. Terkhusus pada wanita
menyusui maka faktor frekuensi atau seringnya menyusui di malam hari
berpengaruh terhadap keluhan sakit punggung.
Dalam penelitian ini, umur tertinggi 37 tahun dengan rata-rata 28,01 tahun
tidak berpengaruh terhadap keluhan sakit punggung. Hal ini sependapat dengan
teori yang disampaikan oleh Tarwaka (2004), yang menyampaikan bahwa pada
umumnya keluhan otot skeletal (salah satunya adalah otot punggung) mulai
dirasakan pada usia kerja, yaitu 25-65 tahun. Dimana keluhan pertama dirasakan
pada umur 35 tahun dan keluhan terus meningkat seiring bertambahnya umur
(Tarwaka, 2004).
Penelitian lain oleh Lutam (2005), didapatkan bahwa faktor-faktor
determinan yang berhubungan dengan timbulnya nyeri punggung salah satunya
adalah status perkawinan. Pada wanita yang menikah memiliki risiko 4,12 kali
(OR=4,12; 95% CI= 1,50-11,27) untuk mengalami keluhan sakit/nyeri punggung.
Berbeda dengan penelitian Lutam (2005), pada penelitian ini subjek tidak hanya
menikah namun sudah pada tahapan menyusui bayinya. Selanjutnya disampaikan
oleh Lutam (2005), status gizi mempunyai hubungan yang bermakna secara
statistik pada uji bivariat,tetapi tidak termasuk pada faktor determinan untuk
terjadinya nyeri punggung; sedangkan umurtidak mempunyai hubungan yang
bermakna secara statistik dengan nyeri punggung.
Dalam penelitian ini, variabel pengganggu yaitu masa kerja dengan kategori
< 6 tahun dan > 6 tahun tidak berpengaruh terhadap keluhan sakit punggung (p >
0,05). Namun hasil ini berbeda dengan penelitian sebelumnya oleh Khaizun
(2013), yang menyatakan ada pengaruh masa kerja dengan kategori < 4 tahun dan
4 tahun terhadap keluhan subjektif pada punggung pekerja tenun sarung ATBM
di Pemalang (p=0,02; OR=5). Dengan demikian, perbedaan hasil penelitian ini
dengan penelitian sebelumnya adalah kategori masa kerja.

4. Kesimpulan
Ada pengaruh frekuensi menyusui dengan frekuensi > 4 kali per
malamterhadap keluhan sakit punggung (X2=9,656; p=0,002). Faktor frekuensi
menyusui > 4 kali per malam menyebabkan timbulnya keluhan sakit punggung
sebesar 35,5%, sedangkan 84,5% disebabkan oleh faktor lain. Besarnya risiko

118
untuk mengalami keluhan sakit punggung pada wanita yang menyusui bayinya >
4 kali per malam dibandingkan frekuensi menyusui < 4 kali per malam sebesar 5
kali (OR=5,1).

Daftar Pustaka
Davies, Kim. 2007. Nyeri Tulang Dan Otot, terjemahan oleh Dina Mardiana.
Jakarta: Erlangga.
Khaizun, 2013. Faktor Penyebab Keluhan Subyektif Pada Punggung Pekerja
Tenun Sarung ATBM di Desa Wanarejan Utara Pemalang. Skripsi.
Semarang: Jurusan IKMFIK UNNES.
Lutam, 2005. Analisis Nyeri Punggung dengan Faktor-Faktor yang Berhubungan
Pada Pekerja Wanita di Penjahitan Pakaian PT X Gunung Putri Bogor Tahun
2005. Tesis.Perpustakaan Universitas Indonesia, http://www.digilib.ui.ac.id/
opac/themes/libri2/detail.jsp?id=85383.
Suma'mur, P.K., 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (HIPERKES).
Jakarta: Sagung Seto.
The President Post, 2012. Pencegahan Nyeri Punggung di Kantor.
Tarwaka, Solichul HA. Bakri dan Sudiajeng, Lilik. 2004. Ergonomi Untuk
Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas, Cetakan I, Surakarta:
UNIBA Press.
Wirawan RB, 2004. Diagnosis dan Manajemen Nyeri Pinggang. Kumpulan
makalah Towards Mechanism-Based pain Treatment, the Recent Trends and
Current Evidences. Yogyakarta, pp: 105-8.
David, Mahone. 1999. Ergonomics in the Textile and Apparel Industries.
Chicago: CNA Insurance Companies.

119
Keluhan Gangguan Pernapasan Ditinjau dari Kadar Debu Total,
Masa Kerja, Behavior Based Safety (BBS) Karyawan
PT Borneo Melintang Buana Eksport Kabupaten Sleman

Sitti Fatimah Rahmansyah, Dwi Nurani Ohorella,


Hening Rizky Permata, Mahfi Yusuf
Minat Utama Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana
Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Tel. 082348079742, E-mail: imhasafira11@gmail.com

Abstrak
PT Borneo Melintang Buana Eksport (BMB) merupakan salah satu industri yang
bergerak dalam produksi mebel untuk diekspor ke luar negeri. Hazard potential yang
terdapat sangat dominan di perusahaan ini adalah debu kayu dalam proses produksi yang
dijalankan. Di sisi lain, para pekerja yang terpapar dengan debu kayu tersebut tampak
tidak patuh terkait behavior-based safety (BBS), sehingga dicurigai debu kayu tersebut
dapat mempengaruhi kondisi kesehatan pernapasan mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar debu total, masa kerja,
behavior-based safety terhadap gangguan pernapasan pada bagian produksi di PT BMB.
Pengambilan data dilakukan secara cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif.
Pengukuran kadar debu total menggunakan dust meter, BBS diukur dengan menggunakan
kuesioner, masa kerja dan keluhan gangguan pernapasan dikaji melalui wawancara.
Kuesioner diuji validitas dan reliabilitasnya pada karyawan yang tidak menjadi responden
di PT BMB.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara masa kerja dan behavior-
based safety terhadap keluhan pernapasan. Masa kerja memiliki p-value sebesar 0,631
sedangkan behavior-based safety memiliki p-value sebesar 1,000. Keluhan pernapasan
yang terjadi disebabkan oleh kandungan debu yang ada di lingkungan kerja yang
melebihi NAB tempat kerja yaitu sebesar 9,9323 mg/m3. Tidak ada hubungan antara
masa kerja dan behavior-based safety terhadap keluhan pernapasan. Keluhan disebabkan
karena tingginya kadar debu di lingkungan tempat kerja.

Kata kunci: Behavior-based safety, debu total, gangguan pernapasan, masa kerja.

1. Pendahuluan
Dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), perusahaan dan tenaga
kerjanya mendapatkan tantangan untuk meningkatkan produktivitas kerja melalui
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) agar dapat bersaing dan tetap
bertahan. Salah satu upaya untuk menerapkan K3 adalah dengan mengendalikan
bahaya yang muncul di lingkungan kerja, baik itu bahaya kecelakaan akibat kerja
(KAK) maupun bahaya penyakit akibat kerja (PAK)1.
PT BMB jika diamati secara langsung, tampak masalah faktor lingkungan
kerja yang dapat mempengaruhi kesehatan maupun keselamatan kerja pekerjanya.
Salah satunya adalah debu kayu yang muncul dari berbagai aktivitas yang
dilakukan dalam proses produksi. Di sisi lain, tampak beberapa pekerjaan tidak
menggunakan alat pelindung diri (APD) dalam bekerja untuk melindungi
pernapasanannya dari paparan debu.

120
Studi membuktikan bahwa terjadi penurunan fungsi paru pada pekerja
industri mebel akibat paparan debu kayu2. Penelitian lain menemukan pada
pekerja mebel kayu Kota Jayapura menemukan bahwa kadar debu kayu yang
terhirup berhubungan dengan kapasitas vital paksa paru karyawan mebel
tersebut3. Penggunaan masker dan kadar debu total juga berhubungan dengan
keluhan pernapasan 4,5. Di sisi lain, tidak ditemukan adanya hubungan penurunan
fungsi paru dengan paparan debu kayu pada karyawan industri mebel6.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perilaku penggunaan APD atau
masker berhubungan dengan gangguan pernapasan. Penggunaan masker memiliki
hubungan yang signifikan dengan gangguan keluhan pernapasan7, 8. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara masa kerja serta BBS
dengan keluhan gangguan paru oleh pekerja unit produksi PT BMB, serta untuk
menganalisis bagaimana kondisi lingkungan khususnya kadar debu total dalam
ruangan kerja unit produksi PT BMB.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan studi potong lintang, dengan pengambilan data
untuk variabel terikat dan variabel bebas dilakukan dalam waktu yang bersamaan.
Penelitian dilakukan di perusahaan mebel PT BMB Kabupaten Sleman, Daerah
Istimewa Yogyakarta pada minggu terakhir bulan Maret 2016. Populasi pada
penelitian ini adalah seluruh karyawan di bagian produksi PT BMB Kabupaten
Sleman Yogyakarta. Didapatkan jumlah sample sebesar sejumlah 153 responden
dengan derajat kesalahan sebesar 5%.
Variabel bebas pada penelitian ini adalah kadar debu total, masa kerja, serta
Behavior Based Safety pada karyawan PT BMB Kabupaten Sleman. Variabel
terikat adalah keluhan subjektif gangguan pernapasan9. Kadar debu total diperoleh
dengan pengukuran menggunakan dust meter. Pengukuran ini dilakukan oleh tim
ahli pengukuran faktor fisik lingkungan kerja dari Balai Hiperkes Yogyakarta.
Masa kerja, diperoleh dengan menggunakan lembar pertanyaan. Behavior Based
Safety diperoleh menggunakan lembar pertanyaan. Keluhan gangguan pernapasan
dilakukan menggunakan lembar pertanyaan.
Analisa data dilakukan secara deskriptif, untuk menggambarkan kadar debu
total dalam ruang kerja, masa kerja, behavior based safety serta keluhan gangguan
pernapasan. Bivariat dengan menggunakan chi square, untuk menganalisis
hubungan masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat.

3. Hasil Penelitian
3.1. Analisis Univariat
Berdasarkan tabel 1, diperoleh hasil bahwa pekerja laki-laki memiliki
persentase yang lebih banyak dibandingkan dengan pekerja perempuan yakni
sebesar 83,66%. Pekerja lulusan SMA/sederajat adalah yang paling banyak
dengan nilai sebesar 78,43% dan pekerja lulusan D3 hanya sekitar 0,65%. Dari
data yang telah diperoleh, mayoritas pekerja merokok dengan angka sebesar
52,94%. Selain itu para pekerja juga mengeluhkan adanya keluhan pernapasan
seperti batuk, pilek, sesak napas, bahkan nyeri dada dengan frekuensi sebesar
73,9%. Perilaku keselamatan para pekerja secara keseluruhan sebesar 50,3% dan
pekerja yang bekerja di PT BMB ini mayoritas adalah pekerja baru dengan
frekuensi sebesar 54,2%.

121
Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Pendidikan, Status
Merokok, dan Keluhan Pernapasan
Karakteristik Jumlah (n) Frekuensi (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki 128 83,66
Perempuan 25 16,34
Pendidikan
SD 19 12,42
SMP 12 8,50
SMA 120 78,43
D3 1 0,65
Status Merokok
Merokok 81 52,94
Tidak 46 30,07
Pernah 26 16,99
Keluhan Pernapasan
Ada keluhan 113 73,9
Tidak ada keluhan 40 26,1
Behavior based safety
Tidak baik 76 49.7
Baik 77 50.3
Masa kerja
Baru 83 54.2
Lama 70 45.8

Tabel 2 menjelaskan bahwa kadar debu dalam ruangan kerja di PT BMB


telah melebihi NAB yaitu sebesar 9,9323 mg/m3 (NAB = 1 mg/m3). Di sisi lain,
kadar debu di luar ruangan diperoleh nilainya hampir mendekati baku mutu
lingkungan yaitu sebesar 210, 43 g/m3 (baku mutu = 230 g/m3).

Tabel 2. Pengujian Kadar Debu Pada PT BMB Export10


Lokai NAB/ Baku Mutu Satuan Hasil Analisa Keterangan
Dalam ruang kerja 1 mg/m3 9,9323 Melebihi NAB
Luar ruang kerja 230 g/m3 210,43 Di bawah baku mutu

3.2. Analisis bivariat

Tabel 3. Hubungan Masa Kerja dan Behavior Based Safety


dengan Keluhan Pernapasan Responden
Keluhan pernapasan
Variabel P-value
Ada keluhan Tidak ada keluhan
Masa Kerja
Baru 60 (72,3%) 23 (27,7%) 0,631
Lama 53 (74,7%) 17 (24,3%)
Behavior based safety
Baik 56 (73,7%) 20 (26,3%) 1,000
Tidak baik 57 (74%) 20 (26%)

Tabel di atas menjelaskan bahwa sebagian besar karyawan memiliki keluhan


pernapasan, baik ditinjau dari masa kerja maupun behavior based safety.
Meskipun banyak karyawan yang memiliki keluhan pernapasan, secara statistik

122
keluhan pernapasan tidak berhubungan dengan masa kerja maupun behavior
based safety.

4. Pembahasan
Kemampuan fisik seseorang akan berangsur-angsur menurun seiring dengan
bertambahnya masa kerja. Masa kerja sangat berpengaruh dimana jika seorang
pekerja melakukan pekerjaan di bidang tertentu selama bertahun-tahun dilakukan
maka tidak menutup kemungkinan akan mengalami keluhan yang bisa berakibat
fatal. Dampak dari semakin lamanya seseorang bekerja dapat menyebabkan
gangguan pada fungsi paru dan terjadinya akumulatif timbunan debu ini
berhubungan dengan masa kerja pekerja11. Namun, berdasarkan hasil olah data,
diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan
pernapasan dengan nilai p-value sebesar 0,631. Hal ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya bahwa tidak ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan
pernapasan4. Masa kerja lebih dari 5 tahun tidak berpengaruh terhadap keluhan
pernapasan12. Hal ini tergantung dari dosis paparan dan jenis debu yang terhirup
tiap harinya. PT BMB menggunakan beberapa jenis kayu tergantung kebutuhan
produksinya, yaitu kayu jati, kayu jawa dan kayu Palembang. Adapun jenis kayu
selain kayu jati memiliki partikel yang lebih kecil dan halus serta lebih mudah
terhirup oleh pekerja meskipun telah menggunakan masker. Hal inilah yang
memungkinkan keluhan pernapasan yang dialami oleh pekerja ini cenderung
disebabkan oleh jenis kayu yang diolah. Tidak adanya hubungan antara masa
kerja dengan keluhan pernapasan kemungkinan disebabkan karena mayoritas
responden memiliki masa kerja yang relatif lebih singkat serta berdasarkan dari
wawancara langsung kepada responden, keluhan pernapasan yang sering mereka
alami seperti batuk, pilek, sesak napas dan nyeri dada lebih cenderung terjadi saat
kondisi fisik lemah dan karena pengaruh cuaca serta jenis kayu yang mereka olah.
Behavior based safety (BBS) terdiri atas perilaku penggunaan alat pelindung
diri, persyaratan keselamatan dan inisiatif keselamatan. Berdasarkan data,
diperoleh hasil bahwa secara statistik tidak ada hubungan antara perilaku behavior
based safety dengan keluhan pernapasan dengan nilai p-value sebesar 1,000. Hal
ini kemungkinan disebabkan karena keluhan yang dialami oleh pekerja
diakibatkan oleh partikel debu. Para pekerja mengaku bahwa meskipun mereka
menggunakan masker tetapi debu tetap masuk ke dalam masker. Selain itu,
keluhan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keluhan subjektif yang berarti
bahwa keluhan pada individu itu tergantung pada kepekaan individu itu sendiri.
Penyebab lain kemungkinan diakibatkan karena keluhan yang dialami oleh
pekerja tergantung pada kondisi lingkungan.
Secara keseluruhan, masa kerja lama, masa kerja baru, BBS baik ataupun
BBS tidak baik, tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keluhan pernapasan
pekerja. Berdasarkan data dari Hiperkes, partikel debu diruang kerja melebihi
nilai ambang batas yaitu sebesar 9,9323 mg/m3 (NAB: 1 mg/m3).

5. Kesimpulan dan Saran


5.1. Kesimpulan
Masa kerja dan behavior-based safety tidak memiliki hubungan yang
signifikan secara statistik terhadap keluhan pernapasan di PT. Borneo Melintang
Buana. Namun, keluhan pernapasan disebabkan karena kadar debu di lingkungan

123
tempat kerja sangat tinggi yang melebihi nilai ambang batas yakni di dalam ruang
produksi sebesar 9,9323 mg/m3 (NAB = 1 mg/m3), serta di luar ruangan sebesar
210, 43 g/m3 (baku mutu = 230 g/m3).
5.2. Saran
PT Borneo Melintang Buana disarankan melakukan upaya pengendalian
kadar debu total di area produksi. Penggunaan alat pelindung diri yang lebih
sesuai agar paparan debu dapat diminimalisir sehingga pekerja terlindungi dari
penyakit akibat kerja. Pemeriksaan fungsi paru sebaiknya dilakukan untuk
mendeteksi dini kemungkinan adanya penyakit paru.

6. Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak pengelola PT. Borneo
Melintang Buana Export karena telah mengizinkan kami untuk melakukan
penelitian di perusahaan tersebut. Ucapan terima kasih kami pula kepada pihak
pekerja yang telah membantu memberikan informasi selama penelitian ini
berlangsung.

Daftar Pustaka
1. Sumamur, P.K. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja
(HIPERKES). Jakarta: CV Sagung Seto
2. Jacobsen, G., Schlunssen V., Schamburg I., Taudorf E., Sigsgaard T. 2008
Longitudinal Lung Function Decline and Wood Dustr Exposure in the
Furniture Industry. European Respiratory Journal 31: 334-342
3. Irjayanti, A., Nurjazuli, Ari W. 2012. Hubungan Kadar Debu Terhirup
(Respirable) Dengan Kapasitas Vital Paksa Paru Pada Pekerja Mebel Kayu di
Kota Jayapura. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia 11(2): 182-186
4. Sholikhah, A.M., Sudarmaji. 2015. Hubungan Karakteristik Pekerja dan
Kadar Debu Total dengan Keluhan Pernapasan pada Pekerja Industri Kayu X
di Kabupaten Lumajang. Jurnal Kesehatan Lingkungan 1 (1): 1-12.
5. Istiharini, D., Yuantari, MG.C., Hartini, E. 2013. Studi Kadar Debu Kapas di
Udara pada Pengolahan Kaps UD Tuyaman Desa Sidomukti Weleri
Kabupaten Kendal Tahun 2013. Jurnal Online Universitas Dian Nuswantoro
http://eprints.dinus.ac.id/id/eprint/6500
6. Baran, S., Swietlik K., Teul I. 2009. Lung Function: Occupational Exposure
to Wood Dust. European Journal of Medical Research 14 (5): 14-17.
7. Laga, H., Russeng, S.S., Wahyu, A. 2013. Faktor yang berhubungan dengan
kapasitas paru tenaga kerja di kawasan industri mebel antang makassar.
Jurnal online kesehatan masyarakat universitas hasanuddin
http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/6712.
8. Ashari, A., Naiem, M.F., Rahim, M.R. 2013. Gambaran Keluahan Gangguan
Kesehatan pada Operator Percetakan Kota Makassar Tahun 2013. Jurnal
Online Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin http://repository.unh
as.ac.id/handle/123456789/6019
9. Rab, T. 1996. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Hipokrates
10. Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja. 2016. Laporan Pengujian Tanggal 26
Februari 2016. Yogyakarta: Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja

124
11. Fahmi, T. 2012. Hubungan Masa Kerja dan Penggunaan APD dengan
Kapasitas Fungsi Paru pada Pekerja Tekstil Bagian Ring Frame Spinning I di
PT. X Kabupaten Pekalongan. Jurnal Kesehatan Masyarakat 1 (2): 828-835
12. Kandung, R.P.B. 2013. Hubungan antara Karakteristik Pekerja dan
Pemakaian Alat Pelindung Pernafasan (Masker) dengan Kapasitas Fungsi
Paru pada Pekerja Wanita bagian Pengampelasan di Industri Mebel X.
Jurnal Kesehatan Masyarakat 2 (1)

125
Pengurangan Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
di Rumah Sakit X Kota Padang Tahun 2016
Fadillah Ulva, Adi Heru Sutomo, Agus Surono
Minat Utama Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Abstrak
Tuntutan pengelolaan program keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit (K3RS)
semakin meningkat. Pekerja, pengunjung, pasien dan masyarakat di sekitar rumah sakit
berhak mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja.
Keselamatan pasien merupakan salah satu isu penting dalam pelaksanaan K3RS.
Berkaitan dengan hal tersebut RS X telah membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah
Sakit sejak tahun 2011. Program pertama dari tim ini yaitu membudayakan keselamatan
pasien. Pencapaian dari program ini belum 100% atau belum optimal.
Tujuan penelitian untuk mengkaji budaya keselamatan pasien di RS X dilihat dari aspek
pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan dengan penerapan hand hygiene.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Subyek
penelitian diambil secara purposive sampling berjumlah 7 orang. Instrumen penelitian
melakukan wawancara mendalam, panduan pedoman wawancara berdasarkan instrumen
akreditas rumah sakit tahun 2012. Observasi langsung dan telaah dokumen untuk
mendukung data wawancara.
Pengurangan risiko infeksi di RS X melalui penerapan lima momen untuk cuci tangan.
Praktik hand hygiene sudah mulai dilakukan walaupun belum optimal. Praktik hand
hygiene belum berjalan pada semua momen cuci tangan. Hal ini dikarenakan oleh
beberapa kendala seperti sarana dan prasarana yang belum maksimal serta kesadaran
masing-masing individu.
Upaya penerapan keselamatan pasien di RS X melalui praktek hand hygiene belum
terpenuhi secara optimal. Sarana dan prasarana perlu dilengkapi.

Kata kunci: budaya keselamatan pasien, hand hygiene, keselamatan dan kesehatan kerja
di rumah sakit.

1. Pendahuluan
Keselamatan telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada
lima isu penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit yaitu:
keselamatan pasien, keselamatan pekerja atau petugas kesehatan, keselamatan
bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap
keselamatan pasien dan petugas, dan keselamatan lingkungan (green
productivity). Kelima aspek keselamatan tersebut sangatlah penting untuk
dilaksanakan di setiap rumah sakit. Keselamatan pasien merupakan prioritas
utama untuk dilaksanakan dan hal tersebut terkait dengan isu mutu dan citra
perumahsakitan (Kemenkes RI, 2010).
Institute of Medicine di Amerika Serikat pada tahun 2000 menerbitkan
laporan yang mengagetkan banyak pihak: TO ERR IS HUMAN, Building a
Safer Health System. Laporan itu mengemukakan angka kematian akibat KTD
pada pasien rawat inap di seluruh Amerika yang berjumlah 33,6 juta berkisar
44.00098.000 per tahun. Publikasi WHO pada tahun 2004, mengumpulkan

126
angka-angka penelitian rumah sakit di berbagai negara antara lain Amerika,
Inggris, Denmark, dan Australia, ditemukan KTD dengan rentang 3,216,6%.
Dengan data-data tersebut, berbagai negara segera melakukan penelitian dan
mengembangkan Sistem Keselamatan Pasien (Depkes RI, 2008).
Data tentang KTD di Indonesia apalagi kejadian nyaris cedera (near Miss)
masih langka. Namun kejadian kesalahan medis pada pasien telah banyak
dilaporkan dalam beberapa kasus yang mendapatkan kerugian bermakna bagi
pasien. Raharjo (2006) yang mengutip dari Herkutanto (2004) melaporkan adanya
126 kasus tuduhan malpraktek terhadap rumah sakit selama periode 1999 sampai
2004. Majelis Kode Etik Kedokteran juga mencatat 41 kasus malpraktek di DKI
Jakarta selama JuliSeptember 2003. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh
Indonesia telah mengambil inisiatif membentuk Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit untuk meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit maka
(Beginta, 2012).
Berdasarkan Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
dijelaskan bahwa rumah sakit di Indonesia diwajibkan untuk meningkatkan mutu
pelayanan melalui akreditasi rumah sakit minimal dalam jangka waktu 3 (tiga)
tahun sekali. Standar akreditasi rumah sakit terdiri dari empat kelompok, yang
salah satunya adalah kelompok sasaran keselamatan pasien. Sehingga
keselamatan pasien merupakan bagian yang sangat penting dalam akreditasi
rumah sakit (KARS, 2012).
Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan pada Juli 2014 diketahui
bahwa RS X di Padang belum terakreditasi baik akreditasi nasional maupun JCI.
Tim keselamatan pasien RS X di Padang dibentuk pada tahun 2011. Tim
keselamatan pasien dipimpin oleh Direktur Medik dan Keperawatan. Tim
keselamatan pasien memiliki Sembilan program kerja. Pencapaian dari program
ini belum 100% atau belum optimal. Salah satu upaya dalam menerapkan budaya
keselamatan pasien yaitu pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang pengurangan
risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan RS X di Padang.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus
(case study) yang bertujuan mendiskripsikan keadaan, menilai, serta mengetahui
tentang pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan di RS X. Subyek
dalam penelitian ini adalah Sekretaris Tim Keselamatan Pasien RS X, Anggota
Tim Keselamatan Pasien RS X, dan perawat di instalasi rawat inap RS X
sebanyak 5 orang. Variabel dalam penelitian ini adalah pengurangan risiko infeksi
terkait pelayanan kesehatan
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan
wawancara yang digunakan pada saat melakukan wawancara mendalam (in depth
interview). Pengumpulan data primer dilakukan dengan observasi (pengamatan
langsung) dengan menggunakan lembar checklist, alat tulis dan tape recorder
sebagai alat perekam. Data sekunder diperoleh dengan pemanfaatan dokumen-
dokumen yang ada di RS X dengan informan sebagai sumber data. Analisis data
dilakukan dengan mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola,
kategori dari satuan uraian dasar, sehingga tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian dapat terlaksana.

127
3. Hasil dan Pembahasan
RS X telah membuat acuan dalam hand hygiene. Acuan yang digunakan
yaitu dari WHO. Upaya pengurangan infeksi melalui prosedur hand hygiene
dinilai sebagai cara yang efektif dalam pengurangan rantai infeksi. Hal ini
disampaikan oleh informan 4.
Sangat bagus untuk mengurangi risiko penularan ke pasien lain, dari satu
pasien ke pasien lain terutama saat ini kan kita sudah banyak pasien kita
yang menderita MRSA kan (Informan 4)

Penerapan prosedur hand hygiene masih mengalami beberapa kendala yaitu


masih kurangnya sarana dan prasarana serta perilaku individu yang masih belum
terbiasa. Hal ini disampaikan oleh informan 4.
Ditanya sarana hand hygiene disini sangat kurang, salah satunya dibilang
kurang kita cuma punya washtoffel untuk hand wash satu unit, kalau
handrubs kita punya ditiap-tiap pintu kamar pasien yang sudah pasang.
Cuma untuk washtoffel kita cuma punya satu unit, itu sudah beberapa kali
kita minta. Namun belum ada tindak lanjut (Informan 4)

Penempatan lokasi handrub juga perlu diperhatikan. Handrub yang tersedia


hanya satu unit yang dipasang di dinding pintu masuk ruang perawatan. Hal ini
akan menyulitkan tenaga medis dalam melaksanakan prosedur hand hygiene,
sesuai dengan yang disampaikan oleh informan 2.
Udah berjalan cuma kadang dokter ribet, dia setiap melakukan tindakan
harus cuci, setelah itu ulang lagi, mungkin yang pertamanya saja dia
lakukan. Kadang ingat kadang tidak. Tapi ribet juga kan, tergantung
sebenarnya. Tapi sarananya gak mendukung. Sebenarnya gimana supaya
tidak ribet yang dipikirkan. Misalnya dibangsal, ada 10 orang kontak
dengan satu pasien kalau cuci tangan keluar dulu, masuk lagi, keluar lagi.
Ndak mungkin, menambah waktu lebih lama kan. Habis waktunya untuk
itu, belum lagi diagnosanya (Informan 2)

Pengurangan risiko infeksi di RS X dilakukan dengan penerapan lima


momen untuk cuci tangan. SPO terkait hand hygiene telah disosialisasikan kepada
semua petugas baik melalui surat edaran, pertemuan pre-conference, pamflet, dan
simulasi. Petugas telah mengetahui tentang pentingnya hand hygiene dalam upaya
pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan. Namun dalam prakteknya
belum terlaksana.
Sarana dan prasarana hand hygiene di RS X belum sepenuhnya tersedia.
Terdapat beberapa unit yang belum mempunyai fasilitas cuci tangan sehingga
harus pergi ke unit disampingnya. Selain itu, penyedian handrub juga terkadang
tidak tepat waktu. Hal tersebut menjadi kendala dalam upaya perubahan perilaku
untuk mengurangi risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan.
Penelitian yang dilakukan oleh Ernawati (2014) di ruang rawat inap rumah
sakit menunjukkan bahwa kepatuhan hand hygiene perawat ruang rawat inap
rumah sakit masih rendah (35%). Angka kepatuhan yang tinggi ditemukan pada
momen sesudah kontak atau melakukan tindakan sedangkan kepatuhan cuci
tangan sebelum kontak sangat rendah bahkan nol pada momen sebelum kontak
dengan pasien.

128
Masih rendahnya kepatuhan hand hygiene dapat dipengaruhi oleh beberapa
hal, yaitu antara lain faktor pengetahuan dan penguatan monitoring atau
pengawasan. Selain itu juga diperlukan mekanisme sangsi dan penghargaan yang
merupakan determinan dalam kepatuhan hand hygiene.
Carpenter dalam Mulyatiningsih (2013) menjelaskan bahwa cara yang
paling umum diperolehnya infeksi adalah melalui peralatan seperti kateter saluran
kemih, infus, pembedahan dan ventilator. Infeksi yang mungkin terjadi adalah
infeksi saluran kemih, plebitis, pneumonia berhubungan dengan pemakaian
ventilasi mekanik dan infeksi luka operasi berhubungan dengan tindakan
pembedahan.
Infeksi dan penyebaran infeksi dapat dikurangi melalui upaya pencegahan.
Menurut Storr (2005) tidak semua infeksi dapat dicegah namun proporsi yang
signifikan yang mempengaruhi infeksi dapat dihindari adalah perilaku dan praktik
staf dalam berinteraksi dengan pasien. Mengatasi infeksi di perawatan dengan
membuat sesuatu yang sesederhana mungkin sehingga mudah dilaksanakan dan
tujuan terhadap pengendalian dan pencegahan infeksi dapat tercapai.
Mencuci tangan dianggap sebagai salah satu tindakan terpenting untuk
mengurangi penularan mikroorganisme dan mencegah infeksi. Penelitian
Semmelweis dan banyak penelitian lainnya memperlihatkan bahwa penularan
penyakit menular dari pasien ke pasien mungkin terjadi melalui tangan petugas
kesehatan. Menurut Boyce, menjaga kebersihan tangan dengan baik dapat
mencegah penularan infeksi nosokomial.
Hand hygiene merupakan istilah yang digunakan untuk mencuci tangan
menggunakan antiseptic pencuci tangan. Pada tahun 2009, WHO mencetuskan
global patient safety challenge dengan clean care is safe care, yaitu merumuskan
inovasi strategi penerapan hand hygiene untuk petugas kesehatan dengan My
Five Moments for Hand Hygiene. Lima momen cuci tangan, yaitu melakukan
cuci tangan sebelum bersentuhan dengan pasien, sebelum melakukan prosedur
bersih dan steril, setelah bersentuhan dengan cairan tubuh pasien, setelah
bersentuhan dengan pasien, setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien.

4. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian tentang pengurangan risiko
infeksi terkait pelayanan kesehatan di RS X belum berjalan secara optimal.
Penerapan pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan di RS X masih
terkendala oleh aspek sarana dan prasarana, proses perubahan perilaku. Selain itu,
kebijakan terkait dengan keselamatan pasien belum ada hanya panduan atau SPO
yang telah tersedia.
Saran yang direkomendasikan peneliti yaitu bagi manajemen diharapkan
melakukan pengawasan secara berkala terhadap pelaksanaan pengurangan risiko
infeksi terkait pelayanan kesehatan. Fasilitas sarana dan prasarana perlu
dilengkapi. Bagi manajemen supaya mensosialisasikan dan mengadakan pelatihan
tentang keselamatan pasien berdasarkan pada Permenkes No. 1691/Menkes/Per/
VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit. Bagi kepala keperawatan,
sebaiknya melakukan pendekatan secara berkelanjutan kepada perawat dan
menerapkan safety talk dan safety briefing. Bagi perawat diharapkan dapat
menerapkan upaya pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan di RS
X.

129
Daftar Pustaka
1. Kementerian Kesehatan RI. (2010). Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor: 1087/MENKES/SK/VIII/2010: Standar Kesehatan dan
Keselamatan Kerja di Rumah Sakit. Jakarta.
2. Herkutanto. (2004). Kualitas Visum Et Repertum (VeR) Perlukaan di Jakarta
dan Faktor yang Mempengaruhinya. Majalah Kedokteran Indonesia.
2004;54(9):355-61
3. Depkes, RI. (2008). Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
4. Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) (2012). Instrumen Akreditasi Rumah
Sakit Standar Akreditasi Versi 2012. Jakarta.
5. Kementerian Kesehatan RI. (2009). Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009
tentang Rumah Sakit. Jakarta
6. Beginta, R. (2012). Pengaruh Budaya Keselamatan pasien, Gaya
Kepemimpinan, Tim Kerja, Terhadap Persepsi Pelaporan Kesalahan
Pelayanan Oleh Perawat Di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Bekasi tahun 2011. [Tesis]. Jakarta: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.
7. Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) (2012). Instrumen Akreditasi Rumah
Sakit Standar Akreditasi Versi 2012. Jakarta.
8. Bea, I.F., Syahrir A.P., Noer. B.N. (2013). Gambaran Budaya Keselamatan
pasien di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Tahun 2013 [Jurnal] disitasi
dari repository.unhas.ac.id pada tanggal 22 Juli 2014.
9. Muslim, M. Fauzan. 2014. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawat
Dalam Melaksanakan Identifikasi Pasien di Rumah Sakit Puri Indah Jakarta
Barat [Skripsi] disitasi dari http://digilib.esaunggul.ac.id pada tanggal 23
Februari 2015.
10. Nilsson, L., Lindeeroet, O., Gupta, A., & Vegfors, M. (2009). Implementing a
pre-operative checklist to increase patient safety: a 1-year follow-up of
personnel attitudes. Journal Compilation. Vol.54/No.2 halaman 176-182.
Diunduh melalui <http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1399-
6576.2009.02109.x/abstract> [Diakses 23 Februari 2015].
11. Mulyatiningsih, Sri. (2013). Determinan Perilaku Perawat Dalam
Melaksanakan Keselamatan Pasien di Rawat Inap RSAU Dr Esnawan
Antariksa Jakarta [Thesis]. Jakarta: Universitas Indonesia.
12. Choo, J. Hutchinson, A., & Bucknall, T. (2010). Nurses' role in medication
safety. Journal of Nursing Management. Vol.18/No.5 halaman 853-861.
Diunduh melalui <http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1365-
2834.2010.01164.x/abstract> [Diakses 5 Januari 2015].
13. Flynn, L., Liang, Y., Dickson, G.L., Xie, M., & Suh, D.C. (2012). Nurses
practice environments, error interception practices, and inpatient medication
errors. Journal of Nursing Scholarship Vol.44/No.22 halaman 180-186.
Diunduh melalui <http://onlinelibrary.w iley.com/enhanced/doi/10.1111/j.
1547-5069.2012.01443.x/> [Diakses 6 Januari 2015].
14. Ernawati, Elies, Asih Tri R, dan Satra Wiyanto. (2014) Penerapan Hand
hygiene Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit. Jurnal Kedokteran
Brawijaya, Vol. 28, Suplemen No. 1, 2014 halaman 89-94.

130
Analisis Faktor Penyebab Musculoskeletal Disorders
Dengan Metode Rapid Upper Limb Assessment
Pada Staf Kependidikan UNIDA

Tofan Agung E.P, Eka Rosanti, Ratih Andhika A.R, Edwina Rudyarti
Universitas Darussalam Gontor
Jl. Raya Siman Km.5 Siman, Ponorogo
Tel. (0352) 483762 E-mail: tofank3@gmail.com, ekarosanti@unida.gontor.ac.id,
ratihandhika@unida.gontor.ic.id, edwinarudyarti@unida.gontor.ac.id

Abstrak

Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor memilliki staf kependidikan dengan mayoritas


pekerjaan di depan komputer atau Visual Display Unit (VDU) setiap hari dan merupakan
salah satu pekerjaan yang berisiko menimbulkan musculoskletal disorders (MSDs)
(Wahlstroom, 2005). Beberapa staff kependidikan menyatakan bahwa mereka mengalami
rasa nyeri pada bagian punggung dan leher. Fasilitas yang digunakan termasuk kursi dan
meja mempengaruhi postur tubuh staf sehingga menjadi kurang ergonomis. Penelitian ini
bertujuan untuk melakukan analisis faktor yang berhubungan dengan keluhan
musculoskeletal disorders dengan metode RULA pada staff kependidikan UNIDA
Gontor.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi penelitian adalah staf
kependidikan yang bekerja di UNIDA Gontor yang berjumlah 20 orang. Metode
pengambilan sampel yaitu total populasi sehingga sampel berjumlah 20 orang. Variabel
keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) diukur dengan metode Nordic Body Map
(NBM) dan variabel antropometri pekerja diukur menggunakan busur untuk ukuran tubuh
dan RULA untuk postur tubuh. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan cross
tab dan Koefisien Korelasi (KK).
Hasil uji kekuatan hubungan (koefisien korelasi) umur (0.283), masa kerja (0.189),
kebiasaan merokok (0.330) dengan musculoskeletal disorders dalam kategori rendah.
Kekuatan hubungan (koefisien korelasi) antara antropometri stasiun kerja (0.418) dengan
musculoskeletal disorders dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil analisis data dapat
diketahui bahwa analisis antropometri dan postur tubuh operator dengan metode RULA
menunjukkan semua responden pada action level 2, yang artinya penyelidikan lebih jauh
dibutuhkan dan mungkin saja perubahan diperlukan. Mayoritas (12 orang) staf
kependidikan UNIDA Gontor mengalami keluhan tingkat rendah musculoskeletal
disorders.

Kata kunci: musculoskeletal disorders, RULA, staff kependidikan, UNIDA.

1. Pendahuluan
Gangguan musculoskeletal adalah masalah kesehatan yang paling umum di
Uni Eropa yaitu 25 27% dari pekerja Eropa mengeluh sakit punggung dan 23%
nyeri otot. Hasil studi Departemen Kesehatan dalan profil masalah kesehatan di
Indonesia tahun 2005, menunjukkan bahwa sekitar 40,5% penyakit yang diderita
pekerja sehubungan dengan pekerjaannya. Gangguan kesehatan yang dialami
pekerja, menurut penelitian yang dilakukan terhadap 9.482 pekerja di 12
kabupaten atau kota di Indonesia, umumnya berupa penyakit musculoskeletal
disorders (16%), kardiovaskuler (8%), gangguan saraf (3%) dan gangguan THT
(1,5%) (1).

131
Universitas Darussalam Gontor merupakan Universitas baru yang memilliki
staf kependidikan dengan mayoritas pekerjaan di depan komputer setiap hari.
Pekerjaan di depan komputer atau disebut Visual Display Unit (VDU) merupakan
salah satu pekerjaan yang berisiko menimbulkan musculoskletal disorders (MSDs)
(2). Berdasarkan studi observasi awal, beberapa staf kependidikan menyatakan
bahwa mereka mengalami rasa nyeri pada bagian punggung dan leher. Selain itu
fasilitas yang digunakan termasuk kursi dan meja mempengaruhi postur tubuh staf
sehingga menjadi kurang ergonomis. Berdasarkan uraian diatas peneliti ingin
melakukan penelitian mengenai analisis faktor yang berhubungan dengan keluhan
musculoskeletal disorders staff kependidikan UNIDA Gontor.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan studi cross sectional.
Penelitian dilakukan di UNIDA Gontor Ponorogo pada bulan Mei 2014. Populasi
penelitian ini adalah staf kependidikan yang bekerja di UNIDA yang berjumlah
20 orang dengan pengambilan sampel secara total.
Variabel bebas penelitian ini adalah umur, kebiasaan merokok, masa kerja, indeks
massa tubuh, iklim kerja, antropometri pekerja, sedangkan variabel terikat yaitu
keluhan Musculoskeletal Disorders. Variabel umur, kebiasaan merokok dan masa
kerja diperoleh menggunakan kuesioner. Variabel indeks massa tubuh (IMT),
iklim kerja, akan dilakukan pengukuran oleh petugas dari laboratorium. Variabel
Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) diukur dengan metode Nordic Body
Map (NBM). Variabel antropometri pekerja didapatkan dari pengukuran dengan
menggunakan busur untuk ukuran tubuh dan RULA untuk postur tubuh.
Teknik pengolahan data dilakukan meliputi editing, coding, entry dan
cleaning. Analisis data dilakukan menggunakan cross tab dan koefisien korelasi
(KK).

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Hasil
3.1.1. Faktor Individu

Tabel 2. Antropometri dan postur tubuh responden


Bagian tubuh Posisi berdiri (cm) Bagian tubuh Posisi duduk
terukur Mean Min Max terukur Mean Min Max
Jangkauan tangan 209,4 201 223 Lebar bahu 42,7 38 49
Tinggi badan 165,5 158 173 Lebar pinggul 31,15 23 48
Tinggi bahu 135,7 129 143 Tinggi duduk 86,55 81 93
Tinggi siku berdiri 104,5 100 112 Tinggi pinggul 22,15 15 27
Tinggi pinggul 95,75 90 102 Tinggi siku 26 20 31
Panjang depa 171 161 179 Tinggi lutut 49,45 31 57
Panjang lengan 60,95 56 72 Tinggi lipat 53,9 50 58
lutut
Panjang lengan 26,65 20 34 Jangkauan 43,7 41 49
Atas pantat dan
lipat lutut
Panjang lengan 44,55 42 47 - - - -
bawah

132
3.1.2. Distribusi Masing-masing Variabel
3.1.2.1. Umur

Gambar 1. Distribusi umur

Berdasarkan gambar 1 diketahui 40% (8 responden) berumur < 23 tahun


dan 60% (12 responden) berumur 23 tahun.
3.1.2.2. Kebiasaan Merokok

Gambar 2. Distribusi kebiasaan merokok

Gambar 2 menunjukkan sebagian besar responden memiliki kebiasaan


merokok (55%) dan (45%) memiliki kebiasaan tidak merokok.
3.1.2.3. Masa Kerja

Gambar 3. Distribusi masa kerja


Berdasarkan gambar 3 diketahui sebagian besar responden memiliki masa
kerja 1 tahun (65%) dan terdapat 7 responden (35%) memiliki masa kerja lebih
dari 1 tahun.

133
3.1.2.4. Iklim Kerja

Tabel 3. Pemeriksaan iklim kerja (suhu ruang)


Suhu AC Ruang Responden F %
o
Sesuai NAB (28-32 C) (SNI 16-7061-2004)
dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja
5 100%
dan Transmigrasi Republik Indonesia
No. 13 Tahun 2011)
Tidak sesuai NAB (>32oC) 0 0%
Total 5 100%

Tabel 3 menjelaskan bahwa seluruh ruang responden memiliki suhu AC


ruangan dalam batas aman sesuai NAB 28-32oC, untuk beban pekerjaan sedang.
3.1.2.5. Fasilitas Pekerja (Stasiun Kerja)

Gambar 4. Distribusi antropometri meja dan kursi responden


Gambar 4 menunjukkan terdapat 16 responden (80%) yang meja dan kursi
kerjanya sesuai dan 4 responden (20%) lainnya tidak sesuai dengan nilai normal
antropometri stasiun kerja.
3.1.2.6. Keluhan MSDs

Gambar 5. Distribusi pemeriksaan keluhan MSDs

134
Gambar 5 menunjukkan responden dengan keluhan MSDs rendah sebanyak
12 orang (60%), keluhan sedang 7 orang (35%), dan keluhan tinggi hanya 1 orang
(5%).
3.1.2.7. Tabulasi Silang Antar Variabel

Tabel 4. Tabulasi silang antar variabel


Tingkat MSDs Total
Umur Rendah Sedang Tinggi
(f) (%) (f) (%) (f) (%) (f) (%)
Umur 23 8 66.7 4 33.3 0 0 12 100.0
Umur < 23 4 50 3 37.5 1 12.5 8 100.0
Total 12 60 7 35 1 5.0 20 100.0
yKoefisien Korelasi = 0.283
Kebiasaan Merokok
Tidak merokok 7 77.8 2 22.2 0 0.00 9 100.0
Merokok 5 45.5 5 45.5 1 9.1 11 100.0
Total 12 60.0 7 35.0 1 5.00 20 100.0
Koefisien Korelasi = 0.330
Masa Kerja
< 1 Tahun 8 61.5 4 30.8 1 7.7 13 100.0
> 1 Tahun 4 57.1 3 42.9 0 0 7 100.0
Total 12 60.0 7 35.0 1 5.0 20 100.0
Koefisien Korelasi = 0.189
Suhu Ruangan
>NAB 0 0 0 0 0 0 0 0
<NAB 12 60 7 35 1 5 20 100
Total 12 60 7 35 1 5 20 100
Level risiko RULA
Level 1 0 0 0 0 0 0 0 0
Level 2 12 60 7 35 1 5 20 100.0
Level 3 0 0 0 0 0 0 0 0
Total 12 60 7 35 1 5 20 100.0
Fasilitas Kerja
Sesuai 10 62.5 6 37.5 0 0 16 100
Tidak sesuai 2 50 1 25 1 25 4 100
Total 12 60 7 35 1 5 20 100
Koefisien Korelasi = 0.418

Tabel 4 menunjukkan bahwa:


a. Besar koefisien korelasi umur dengan keluhan MSDs sebesar 0.283 yang
berarti bahwa kekuatan hubungan umur responden dengan kejadian keluhan
MSDs rendah.
b. Besar koefisien korelasi riwayat merokok dengan keluhan MSDs sebesar 0.330
yang berarti bahwa kekuatan hubungan riwayat merokok responden dengan
kejadian keluhan MSDs rendah.
c. Besar koefisien korelasi masa kerja dengan keluhan MSDs sebesar 0.189 yang
berarti bahwa kekuatan hubungan masa kerja responden dengan kejadian
keluhan musculoskeletal disorders rendah.

135
d. Suhu ruangan tempat kerja responden seluruhnya berada dibawah NAB. NAB
suhu ruangan adalah antara 28-320C untuk beban kerja sedang.
e. Seluruh responden berada pada level risiko 2. Level tindakan (Level action) 2
menunjukkan bahwa diperlukan investigasi lebih lanjut, dan diperlukan adanya
perubahan untuk perbaikan sikap kerja.
f. Besar koefisien korelasi fasilitas kerja dengan keluhan MSDs sebesar 0.418
yang berarti bahwa kekuatan hubungan stasiun kerja responden dengan
kejadian keluhan musculoskeletal disorders sedang.

3.2. Pembahasan
3.2.1. Hubungan Umur dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders
Keluhan sakit punggung atau musculoskeletal disorders mulai dirasakan
oleh pekerja pada usia kerja dan episode pertama untuk kembali sakit biasanya
dirasakan pada usia 35 tahun (3). Tabel 4 menunjukkan bahwa pada operator yang
memiliki umur lebih atau sama dengan 23 tahun lebih banyak mengalami keluhan
musculoskeletal disorders. Pekerja yang berusia kurang dari 23 tahun mengalami
keluhan musculoskeletal disorders lebih sedikit namun memiliki risiko keluhan
musculoskeletal disorders yang sama, karena melakukan jenis pekerjaan yang
hampir sama.
3.2.2. Hubungan Masa Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja dengan masa kerja dibawah 1
tahun lebih banyak mengalami keluhan musculoskeletal disorders dibandingkan
dengan pekerja dengan masa kerja lebih dari 1 tahun. Hal ini dikarenakan pada
tenaga kerja yang bekerja dengan komputer berada pada posisi statis dalam jangka
waktu yang lama dengan aktivitas yang berulang, postur kerja yang buruk, dan
desain kursi yang buruk (4).
3.2.3. Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Keluhan Musculoskeletal
Disorders
Hasil penelitian pada studi ini adalah operator yang memiliki kebiasaan
merokok lebih banyak mengalami keluhan musculoskeletal disorders
dibandingkan dengan operator yang tidak memiliki kebiasaan merokok. Beberapa
studi telah mengamati hubungan tersebut dan menjelaskan bahwa mekanisme
timbulnya keluhan otot dimulai dari nikotin yang menyebabkan berkurangnya
aliran darah ke jaringan dan kandungan rokok menyebabkan kandungan mineral
tulang belakang berkurang dan menyebabkan microfractures (5).
3.2.4. Hubungan Antropometri Tubuh (Level Risiko RULA) dengan Keluhan
Musculoskeletal Disorders
Berdasarkan hasil pengukuran diketahui bahwa seluruh responden
seluruhnya memiliki level tindakan 2. Level tindakan (level action) 2
menunjukkan bahwa diperlukan investigasi lebih lanjut, dan diperlukan adanya
perubahan untuk perbaikan sikap kerja. Hasil penelitian tidak menunjukkan
analisis tabulasi silang dan analisis kuat hubungan karena seluruh data level
tindakan menunjukkan hasil yang sama, yaitu level tindakan 2.
3.2.5. Hubungan Antropometri Stasiun Kerja dengan Keluhan
Musculoskeletal Disorders
Hasil penelitian menggambarkan bahwa keluhan musculoskeletal disorders
mayoritas dialami oleh pekerja yang memiliki stasiun kerja (tempat duduk) yang
sesuai dengan tubuh operator container crane. Penelitian Hidayat et al. (6)

136
menyatakan bahwa pekerja yang bekerja dengan posisi kerja yang tidak
ergonomis (awkward position) akan mengalami keluhan nyeri pada bagian tubuh
tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa operator bekerja dengan stasiun
kerja yangsesuai namun mayoritas dari pekerja mengalami keluhan
musculoskeletal disorders karena posisi kerja tidak ergonomis.
3.2.6. Hubungan Lingkungan Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal
Disorders
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu seluruh ruangan tempat
penelitian berada dibawah NAB. Kondisi ini mendukung pekerjaan yang
dilakukan oleh pekerja. Hasil penelitian tidak menunjukkan analisis tabulasi
silang dan analisis kuat hubungan karena seluruh data suhu di ruangan
menunjukkan hasil yang sama, yaitu dibawah NAB.

4. Kesimpulan dan Saran


4.1. Kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu:
a. Karakteristik umur staf kependidikan sebagian besar 23 tahun, mayoritas
masa kerja <1 tahun dan sebagian besar memiliki kebiasaan merokok.
b. Analisis antropometri dan postur tubuh staf kependidikan berada pada
action level 2, yang artinya penyelidikan lebih jauh dibutuhkan dan
mungkin saja perubahan diperlukan.
c. Sebagian besar stasiun kerja yang digunakan oleh staf kependidikan sesuai
dengan antropometri tubuh.
d. Seluruh ruangan memiliki iklim kerja sesuai dengan nilai ambang batas (28-
32 oC).
e. Sebagian besar staf kependidikan mengalami keluhan MSDs pada tingkat
rendah.
f. Koefisien korelasi antara umur, masa kerja, kebiasaan merokok dengan
MSDs adalah rendah. Sedangkan kekuatan hubungan antara antropometri
stasiun kerja dengan musculoskeletal disorders dalam kategori sedang
(0.418).
4.2. Saran
Saran yang dapat diberikan dengan adanya penelitian ini yaitu:
a. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk stasiun kerja (tempat duduk) atau
desain work station responden.
b. Universitas menyediakan kursi yang dapat disesuaikan dengan tingginya
agar dapat disesuaikan dengan ukuran tubuh staf.
c. Penggantian stasiun kerja (tempat duduk) yang baru yang lebih ergonomi.

Daftar Pustaka
(1) Sumiati. Analisa Risiko Low Back Pain (LBP) pada Perawat Unit Darurat dan
Ruang Operasi di RS. Prikasih Jakarta Selatan. Skripsi. Fakultas Kesehatan
Masyarakat. Universitas Indonesia. 2007.
(2) Wahlstrom, J. Ergonomics, Musculoskeletal Disorders and Computer Work.
Occupational Medicine. Page 168 176. http://occmed.oxfordjournals.org/co
ntent/55/3/168.full.pdf+html. 2005. (sitasi 9 Nopember 2015)

137
(3) Center For Disease Control. Ergonomics and Musculoskeletal Disorders.
http//www.cdc.gov/. 2014. (sitasi 9 Nopember 2015)
(4) Vinod Supriya; Arun B. Prevalence of Various Work Related
Musculoskeletal Disorders in Software Professionals. Indian Journal of
Medical & Health Sciences Vol. 2 No.1. 2015.
(5) Mutiah, A; Setyaningsih, Y; Jayanti S. Analisis Tingkat Risiko
Musculoskeletal Disorders (MSDs) dengan The BriefTM Survey dan
Karakteristik Individu terhadap Keluhan MSDs Pembuat Wajan di Desa
Cepogo Boyolali. Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol.2 No.2. 2013.
(6) Hidayat, R., Huda, L.N., Poerwanto. Analisis Perancangan Alat Bantu Kerja
Operator Angkut di Stasiun Pemanenan Pada PT. Perkebunan X. e-Jurnal
Teknik Industri FT USU, Ed.4. 2013. No.1: p.25-32.

138
Hubungan Intensitas Pencahayaan Dengan Kelelahan Mata
Pada Pekerja Home Industry Batik Sragen
Seviana Rinawati, Siti Rachmawati
Program Studi D3 Hiperkes dan KeselamatanKerja
Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Jl. Kol. Sutarto 150K Surakarta, 57126
Tel. (0271) 635819. E-mail: shevie.ana@gmail.com

Abstrak

Intensitas pencahayaan yang tidak sesuai dengan standar pada suatu industri dapat
berisiko gangguan penglihatan atau kelelahan mata. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui adanya hubungan intensitas pencahayaan dengan kelelahan mata pada
pekerja home industry batik Sragen.
Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik, desain cross sectional. Populasi
penelitian terdiri dari 102 pekerja dengan sampel penelitian secara random sampling
(kriteria inklusi dan eksklusi) diperoleh sejumlah 98 orang yang diukur tingkat kelelahan
mata menggunakan reaction timer sensor cahaya dan intensitas pencahayaan
menggunakan Luxmeter ANA 999. Analisis data menggunakan Pearson Product Moment
(<0,05).
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan intensitas pencahayaan dengan kelelahan
mata pada pekerja home industry batik Sragen ditunjukkan dengan nilai r = -0,423 dan
= 0,02. Penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara intensitas
pencahayaan dengan kelelahan mata pada pekerja home industry batik Sragen.
Disarankan adanya penambahan intensitas pencahayaan buatan pada tempat kerja yang
belum sesuai dengan standar yang disyaratkan yaitu sebesar 300 Lux.

Kata kunci: home industry batik, intensitas pencahayaan, kelelahan mata.

1. Pendahuluan
Industri garmen merupakan industri yang mengelola dan memproses bahan
kain dengan menggunakan mesin dan peralatan modern. Salah satu faktor
permasalahan yang mengganggu kenyamanan kerja tenaga kerja adalah
permasalahan mengenai intensitas pencahayaan kurang atau berlebih yang dapat
mengakibatkan terjadinya kelelahan mata. Karena tujuan utama dari K3 adalah
untuk meminimalisir bahkan menghilangkan Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan
Kecelakaan Akibat Kerja (KAK). Pencahayaan yang buruk dapat mengakibatkan
kelelahan mata dengan berkurangnya daya efisiensi kerja, kelelahan mental,
keluhan-keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar mata, kerusakan
alat penglihatan dan meningkatnya kecelakaan. Pencahayaan yang baik adalah
pencahayaan yang memungkinkan tenaga kerja dapat melihat objek yang
dikerjakanya secara jelas, cepat dan tanpa upaya-upaya yang tidak perlu
(Sumamur, 2011).
Kelelahan mata adalah gangguan yang dialami mata karena otot-ototnya
yang dipaksa bekerja keras terutama saat harus melihat objek dekat dalam jangka
waktu lama. Otot mata sendiri terdiri dari tiga sel-sel otot eksternal yang mengatur
gerakan bola mata, otot ciliary yang berfungsi memfokuskan lensa mata dan otot
iris yang mengatur sinar yang masuk ke dalam mata. Semua aktifitas yang

139
berhubungan dengan pemaksaan otot-otot tersebut untuk bekerja keras,
sebagaimana otot-otot yang lain akan bisa membuat mata mengalami gangguan
ini. Gejala mata terasa pegal biasanya akan muncul setelah beberapa jam kerja.
Pada saat otot mata menjadi letih, mata akan menjadi tidak nyaman atau sakit
(Cok Gde, 2006).
Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1045/Menkes/SK/XII/
2002 tentang Persyaratan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri serta
Peraturan Menteri Perburuhan No 07 Tahun 1964 tentang Faktor Higiene di
Tempat Kerja, maka ditentukan standar intensitas pencahayaan minimal di tempat
kerja, disebutkan bahwa untuk ruangan aktifitas secara umum, harus memiliki
rata-rata intensitas pencahayaan minimal 100 Lux, dimana apabila ada aktifitas
khusus maka pada lokasi dimana aktifitas dilakukan, ditambahkan pencahayaan
lokal dibidang kerja, sehingga intensitas pencahayaan sesuai dengan persyaratan.
Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan di home industry batik
Sragen dijumpai intensitas pencahayaan di tempat kerja 100-280 Lux. Padahal
jenis pekerjaan membatik memerlukan ketelitian yang tinggi, sehingga semestinya
intensitas pencahayaan di ruangan tersebut minimal adalah 300-500 lux
(Kemenkes No. 1045, 2002). Sehingga dampak dari kurangnya intensitas
pencahayaan tersebut adalah beberapa tenaga kerja yang mengalami keluhan mata
pedih, merah, dan penglihatan ganda. Berdasarkan uraian diatas maka penulis
mengadakan penelitian mengenai pengaruh intensitas pencahayaan dengan
kelelahan mata pada home industry batik Sragen.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan survei bersifat analitik dengan metode cross
sectional. Populasi: 102 pekerja dengan sampel penelitian secara random
sampling (kriteria inklusi: usia 28-43 tahun, masa kerja lebih dari 3 tahun, tidak
mengalami sakit mata, hipertensi dan diabetes mellitus, lama kerja 8 jam sehari
dan kriteria eksklusi: tenaga kerja yang tidak bersedia dijadikan responden)
diperoleh sejumlah 98 orang yang diukur tingkat kelelahan mata menggunakan
reaction timer sensor cahaya dan intensitas pencahayaan menggunakan Luxmeter
ANA 999. Analisis data menggunakan Pearson Product Moment (<0,05).

3. Hasil dan Pembahasan


3.1 Karakteristik Sampel Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh karakteristik
responden berdasarkan usia, masa kerja, riwayat kesehatan, lama kerja. Tenaga
kerja rata-rata berusia antara 28 43 tahun dari data sebagai berikut: usia 28-31
tahun = 13,33%, usia 32-35 tahun = 36,67%, usia 36-39 tahun = 23,33% dan usia
40-43 tahun = 26,67% sehingga diketahui bahwa tenaga kerja masih memiliki
daya akomodasi mata yang baik. Karena usia semakin tua menyebabkan otot-otot
mata berangsur-angsur kehilangan elastisitasnya dan agak kesulitan melihat pada
jarak dekat.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Guyton (1991) bahwa daya akomodasi
menurun setelah usia 45-50 tahun, ini berarti mata tenaga kerja masih dapat
bekerja dengan baik. Hal yang sama menurut Tarwaka (2010) bahwa usia diatas
40 tahun seseorang lebih rentan terhadap ketajaman mata dan penglihatannya
mulai terganggu seiring dengan adanya proses perubahan fisiologis dan penuaan

140
pada mata seseorang, akan tetapi pada penelitian ini usia tidak berpengaruh
terhadap kejadian kelelahan kerja. Hal ini diperkuat dengan uji statistik mengenai
hubungan usia dan kelelahan mata yang mempunyai hasil p-value sebesar 0,560
yang berarti tidak signifikan.
Masa kerja dan lama kerja tenaga kerja bagian pembatikan bekerja lebih dari
3 tahun dan bekerja selama 8 jam per hari dengan waktu istirahat 1 jam. Lamanya
waktu kerja dan terus-menerus berisiko terjadinya mata lelah atau astenopia
(Afandi, 2002) dan menurut Tarwaka (2010) menyatakan terjadinya perbedaan
tingkat kelelahan mata juga dipengaruhi oleh waktu kerja yang lama terutama
untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan tingkat ketelitian hal tersebut
tidak sesuai karena tenaga kerja bekerja selama 8 jam perhari dengan istirahat 1
jam sehingga tidak melebihi jam kerja yang telah ditentukan oleh Undang-Undang
No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 77 85 yang diperkenankan
bekerja adalah 8 jam per hari atau 40 jam perminggu.
Riwayat kesehatan tenaga kerja yang dijadikan responden tidak memiliki
riwayat penyakit yang berhubungan dengan mata maupun kelainan-kelainan pada
mata.

3.2 Hasil Intensitas Pencahayaan dan Kelelahan Mata Tenaga Kerja


Hasil pengukuran yang telah dilakukan di tempat kerja diperoleh data
sebagai berikut:
Intensitas pencahayaan pada tenaga kerja pembatikan yang diukur dengan
alat ukur Luxmeter ANA 999 masih banyak yang tidak sesuai dengan standar
(300-500 Lux) hasil antara 100 - 280 Lux sebesar 70% sedang yang telah sesuai
standar 30% dengan hasil antara 304 - 500 Lux di tempat kerja.

Gambar 1. Hasil pengukuran intensitas pencahayaan di tempat kerja

Hal ini belum sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh Kepmenkes
RI No.1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang persyaratan Kesehatan Kesehatan
Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri yaitu sebesar 300 Lux untuk kategori
jenis pekerjaan yang membutuhkan ketelitian.
Pencahayaan yang kurang dari NAB merupakan beban tambahan bagi
pekerja, sehingga dapat menimbulkan gangguan performance (penampilan) kerja
yang akhirnya dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan
kerja. Hal ini sangat erat kaitannya dan mutlak harus ada karena berhubungan
dengan fungsi indera penglihatan, yang dapat mempengaruhi produktifitas bagi
tenaga kerja (Gempur, 2004).
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Tri (2013) menunjukkan
bahwa intensitas pencahayaan eksisting kurang dari nilai ambang batas

141
pencahayaan untuk pekerjaan hand scarfing berdasarkan Kepmenkes yang
berakibat pada cepatnya kelelahan yang dialami responden.
Hasil pengukuran kelelahan mata dengan menggunakan alat reaction timer
sensor cahaya dan didukung dengan kuesioner terkait keluhan pada mata
diperoleh hasil: tenaga kerja mengalami kelelahan mata dengan kategori lelah
sebesar 76,67% dari responden dan 23,33% reponden tidak mengalami kelelahan
mata. Banyaknya tenaga kerja yang mengalami kelelahan mata disebabkan
pencahayaan yang tidak merata di tempat kerja sehingga pencahayaan tidak
memenuhi standar yang telah ditentukan dan berdampak pada akomodasi mata
yang menimbulkan kelelahan mata.
Berdasarkan penelitian Mayangsari (2012) dapat diketahui bahwa tingkat
kelelahan kerja yang dialami operator scarfing yaitu kelelahan kerja berat karena
pekerjaan hand scarfing sangat berisiko tinggi dan dapat menimbulkan stress bagi
operator yang mengerjakan aktivitas tersebut yang disebabkan oleh faktor
lingkungan fisik yaitu pencahayaan dan kebisingan.
Kurangnya intensitas pencahayaan di home industri dikarenakan tidak
tersedia sumber pencahayaan khusus di tempat pembatikan, ventilasi ruangan
kurang maksimal untuk masuknya cahaya dari luar ruangan, letak lampu rumah
hanya digunakan sebagai pencahayaan umum (bukan untuk tingkat ketelitian
tinggi), hemat energi listrik.
3.3 Uji Statistik Intensitas Pencahayaan dengan Kelelahan Mata
Berdasarkan data hasil pengukuran yang telah dilakukan di tempat kerja
antara data intensitas pencahayaan dan data kelelahan mata selanjutnya dilakukan
analisis uji Pearson Product Moment dengan SPSS versi 18 diperoleh hasil: p-
value sebesar 0,020 dengan r = -0,423, maka dinyatakan signifikan karena p <
0,05 yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak, sehingga ada hubungan antara
intensitas pencahayaan dengan kelelahan mata pada tenaga kerja di home industri
Sragen.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hermawan (2014)
yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara intensitas pencahayaan dan
kelainan refraksi mata dengan kelelahan mata pada tenaga para medis di bagian
rawat inap RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri dengan menggunakan
uji chi square diperoleh nilai p-value 0.011 (<0,05) sehingga Ho ditolak.
Penelitian yang sama dilakukan oleh Aryanti (2006) bahwa ada hubungan
yang signifikan antara intensitas pencahayaan dengan kelelahan mata pada
karyawan bagian administrasi di PT. Hutama Karya Semarang dengan hasil p
sebesar 0,011 (p<0,05).
Begitu juga dengan penelitian Nurmawati (2011) analisis statistik dengan
menggunakan uji korelasi pearson antara intensitas pencahayaan terhadap
kelelahan mata pada pekerja bordir diperoleh nilai p=0,035 yang berarti adanya
korelasi antara intensitas pencahayaan dengan kelelahan mata (r=0,386) pada taraf
sign < = 0,05.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya telah diperoleh kesimpulan bahwa
intensitas pencahayaan yang kurang dari standar dapat mempengaruhi kelelahan
pada mata, hal tersebut dikarenakan jika mengamati pekerjaan kurang jelas
biasanya pekerja akan mendekatkan matanya ke obyek untuk memperbesar
ukuran obyek sehingga mata harus berakomodasi lebih kuat lagi.

142
Untuk meningkatkan intensitas pencahayaan agar tidak terjadi kelelahan
mata maka dapat melakukan hal seperti: pemberian pencahayaan khusus dengan
memasang lampu lokal di dekat objek pekerjaan (sesuai standar pekerjaan dengan
tingkat ketelitian tinggi = 300 lux) dengan memperhatikan ketinggian dan letak
lampu agar tidak mengganggu pekerjaan membatik, membersihkan dengan rutin
dan dibuka agar cahaya dapat masuk dan meyebar secara merata.

4. Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara intensitas
pencahayaan dengan kelelahan mata pada tenaga kerja di home industri Sragen
dengan nilai p-value sebesar 0,020 dengan r = -0,423.

Daftar Pustaka
Afandi.2002.Kesehatan Mata Penguna Komputer. Dari: http://www.elektroindone
sia.com/elektro/komput6.html. diunggah pada tanggal 2 Februari 2016
Ahmadi. 2009. Fisika Kesehatan. Jogjakarta: Mitra Cendikia.
Aryanti. 2006. Hubungan Antara Intensitas Pencahayaan dan Suhu Udara
DenganKelelahan Mata Karyawan Pada Bagian Administrasi PT. Hutama
Karya Wilayah Semarang. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Keolahragaan
UNNES.
Ching. 1996. Keselamatan dan Kesehatan di Tempat Kerja. Jakarta: Bina Cipta.
Cok Ghe Rai Padmanaba. 2006. Kesehatan Mata di Lokasi Kerja.
Departemen Kesehatan. 2008. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Mata.
Dewa. 2008. Dampak sistem pencahayaan bagi kesehatan mata. http://Kulit cantik
jawabali.com/mata sexy/dampak-sistem-pencahayaanbagi-kesehatan-mata.
Diakses tanggal 28 Februari 2016.
Dyer dan Morris. 1990. Faktor- faktor Yang Berhubungan Dengan
KesehatanMata. Bandung: Alfabeta.
Gempur Santoso. 2004. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta:
Prestasi Pustaka.Gibson. 1995. Ilmu Kedokteran. Jakarta: Rineka Cipta.
Grandjen. 1998. Fitting The TaskTo The Man a Texbook Of
Occuputionalergonomic; 4 Th edition London: Taylor and Francis.
Guyton, Arthur C .1991. Fisiologi Kedokteran. EGC Jakarta Gabbard C, LeBlanc
Hermawan Ady Prayoga. 2014. Hubungan Antara Intensitas Pencahayaan dan
Kelainan Refraksi Mata dengan Kelelahan Mata Pada Tenaga Para Medis di
Bagian Rawat Inap RSUD Dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Unnes
Journal of Public Health: ISSN 2252-6528.
Keputusan Menteri Kesehatan No 1045/menkes/SK/XII/2002.
PersyaratanLingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. Jakarta.
Mayangsari, K. 2012. Analisa Faktor Lingkungan Fisik Terhadap Kelelahan
Operator Scarfing di PT. ABC. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Industri
Untirta Cilegon
Medrofa. 2003. Ilmu Dasar Kesehatan Mata. Surabaya: Mustika.
Mochamad Arief. 2004. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta.
Nurmawanti, Ema. 2013. Dampak Intensitas Pencahayaan Terhadap
KelelahanMata Pada Pekerja Bordir Di Desa Cicarian Kecmatan
Kawalu.Tasikmalaya.

143
Peraturan Menteri Perburuhan No 07 Tahun 1964 tentang Faktor Higiene di
Tempat Kerja.
Pheasant. 1991. Ergonomic, Work and Health. Maryland: Aspan Publiser.
Prabu. 2009. Sistem dan Standard Percahayaan Ruangan.http://Putraprabu-
wordpress.com/2009/01/06/Sistem-dan-standardpercahayaan-ruangan.
Diakses pada tanggal 12 Mei 2012.
Pusat Hiperkes dan Keselamatan Kerja.1995. Kuesioner Kelelahan Mata.
Pusat Hyperkes dan Keselamatan Kerja. 1995. Penelitian Pengaruh Komputer
Pada Mata. Jakarta: Departemen Tenaga Kerja.
Sidarta Ilyas. 1991. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Sumamur PK. 2011. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (HIPERKES)
(Edisi 2). Jakarta: Sagung Seto
Tarwaka. 2010. Ergonomi Industri. Edisi Pertama Cetakan Pertama. Surakarta:
Harapan offset
Tri Asih Septiana, Yayan Harry Yadi dan Ade Sri Mariawati. 2013. Pengaruh
Tingkat Pencahayaan Terhadap Kelelahan Operator Pada Simulasi
Scarfing dengan Reaction Time. Jurnal Teknik Industri, Vol.1, No.2, Juni
2013, pp.152-156 ISSN 2302-495X. Jurusan Teknik Industri Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa.

144
Hubungan Sikap Kerja Pengangkutan
Dengan Keluhan Low Back Pain Pada Pekerja Depot Air Minum

Arinta Puspita Restu


Universitas Riau, Pekanbaru
E-mail: arintapuspitarestu@gmail.com

Abstrak

Sikap tubuh yang tidak alamiah dalam aktivitas pengangkutan merupakan salah satu
faktor penyebab keluhan Low Back Pain (LBP). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara sikap kerja pengangkutan dengan keluhan LBP pada pekerja
depot air minum di kelurahan Sekaran, Gunungpati, Semarang. Jenis penelitian ini adalah
penelitian penjelasan atau explanatory research digunakan pendekatan cross sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja depot air minum sebanyak 30 orang. Teknik
pengambilan sampel dengan cara total sampling yaitu sebanyak 30 orang. Instrumen yang
digunakan yaitu REBA dan Nordic Body Map (NBM). Analisis data dilakukan secara
univariat dan bivariat (menggunakan uji Fisher).
Hasil penelitian didapatkan dari 30 responden, 27 (90%) memiliki sikap kerja
pengangkutan dengan risiko tinggi (skor REBA 8) yang mengeluh LBP sebanyak 18
responden (66,7%) dan 9 responden (33,3%) tidak merasakan sakit. Berdasarkan uji
Fisher diperoleh nilai sig. (p-value) sebesar 0,537 (p>0,05). Kesimpulan dari penelitian
ini yaitu tidak ada hubungan antara sikap kerja pengangkutan dan keluhan LBP pada
pekerja depot air minum di Kelurahan Sekaran, Gunungpati, Semarang. Perlu adanya
penelitian lebih lanjut dengan variabel utama yang berbeda, misalnya umur, masa kerja,
frekuensi angkat angkut, waktu kerja untuk mengetahui hubungannya dengan LBP karena
di penelitian ini variabel tersebut hanya sebagi variabel perancu.

Kata kunci: low Back Pain, REBA, sikap kerja.

1. Pendahuluan
Nyeri punggung bawah atau disebut juga Low Back Pain (LBP) merupakan
rasa nyeri yang dirasakan pada punggung bawah yang sumbernya adalah tulang
belakang daerah spinal atau punggung bawah, otot, saraf, atau struktur daerah
lainnya di daerah tersebut1. Sensasi nyeri pada LBP dirasakan pada diskus
invertebralis umumnya lumbal bawah, L4-L5 dan L5-S1. L4-L5 adalah
intervetebral disc yang berada di antara lumbar ke-4 dan lumbar ke-5, sedangkan
L5-S1 adalah intervetebral disc yang berada di lumbar ke- dan sacrum nomor
satu2. Keluhan LBP dapat ditimbulkan dari aktivitas Manual Material Handling
(MMH) yang tidak tepat. Banyak cedera yang terjadi akibat pekerjaan MMH yaitu
berupa terkilir/keseleo atau ketegangan otot, terutama pada bagian otot pinggang
dan punggung disebabkan karena pekerjaan yang tidak benar atau pengerahan
tenaga untuk periode yang lama3.
LBP memiliki tingkat kejadian tertinggi yaitu sekitar 60% di negara
industri4. Angka kejadian nyeri punggung bawah di Indonesia diperkirakan
bervariasi antara 7,6% sampai 37%5. Hasil penelitian yang dilakukan Departemen
Kesehatan RI terhadap pekerja industri di kawasan industri Pulo Gadung Jakarta
yaitu, sebanyak 502 orang atau 52,8% mengalami keluhan nyeri muskuloskeletal.

145
Bagian tubuh yang sering mengalami nyeri muskuloskeletal adalah kaki (22,7%),
pinggang (17,1%) dan bahu (9,5%)6.
Penelitian ini dilakukan terhadap pekerja depot air minum di kelurahan
Sekaran, Gunung Pati, Semarang. Depot air minum isi ulang merupakan badan
usaha yang mengelola air minum untuk keperluan masyarakat dalam bentuk curah
dan tidak dikemas7. Hasil survei yang dilakukan di kelurahan Sekaran, terdapat
sekitar 15 usaha depot air minum yang memiliki rata-rata 1-2 pekerja yang
bertugas untuk mengangkat dan mengangkut galon air dengan waktu kerja setiap
hari lebih dari 8 jam/hari. Semua pekerja di depot air minum berjenis kelamin
laki-laki. Proses pengemasan air minum di depot air minum dilakukan secara
MMH, yaitu pada kegiatan pemindahan galon air minum.
Proses dalam pengemasan air minum di depot air minum isi ulang terdiri
dari proses pencucian galon dan proses pengemasan. 1) Proses pencucian galon
merupakan proses yang pertama dilakukan, yaitu membersihkan bagian dalam dan
luar galon. Pencucian bagian luar galon dilakukan dengan menggunakan sabun
untuk menghilangkan kotoran dan kemudian dibilas menggunakan air bersih.
Selanjutnya, dilakukan pencucian bagian dalam galon dengan penyikatan
menggunakan mesin yang berbentuk sikat, setelah disikat kemudian dibilas
menggunakan air bersih dan dilakukan sterilisasi menggunakan air panas untuk
menghilangkan kuman atau bakteri yang terdapat di dalam galon tersebut. 2)
Proses yang kedua yaitu pengisian air ke kemasan atau galon. Setelah galon
disterilkan menggunakan air panas, kemudian galon diisi air dan ditutup.
Kemudian diangkat atau dipindahkan dari tempat pengisian air ke lantai. Semua
proses dalam pengemasan air di depot tersebut dilakukan selama 2 menit.
Sedangkan waktu yang dibutuhkan pekerja untuk memindahkan sebuah galon dari
tempat pengisian ke lantai adalah 3-5 detik.
Risiko keluhan LBP pada pekerja depot air minum terdapat pada proses
kedua yaitu proses pengisian air ke kemasan. Hal tersebut dikarenakan terdapat
pemindahan beban berupa menurunkan galon yang sudah berisi air dengan berat
19 kg dari mesin pengisian ke lantai. Pemindahan beban tersebut membutuhkan
waktu 3-5 detik per galon. Frekuensi pemindahan kurang lebih 45 sampai 50
galon/hari. Sumamur, P.K. (2009), menjelaskan bahwa berat beban maksimum
untuk orang Indonesia menurut ILO yaitu 35 kg sekali angkat1. Hasil dari metode
penilaian risiko manual handling pada saat pemindahan beban pada depot air
minum dengan menggunakan metode indikator kunci atau Leitmerk Mal Methode
(LMM) didapatkan hasil akhir yaitu 20 dengan tingkat risiko 2 yang artinya situasi
beban kerja meningkat dan memungkinkan terjadinya pembebanan fisik pada
pekerja tertentu yaitu, pekerja berumur < 21 tahun dan > 40 tahun; tidak diberikan
pelatihan pada pekerja baru; pekerja baru sembuh dari sakit dan sebagainya.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, sikap kerja pekerja pada saat
pemindahan adalah posisi tangan pada saat menaikkan dan menurunkan galon air
minum yang pada gerakan tersebut terjadi pengurangan sudut antara dua tulang
atau fleksi, dan posisi peunggung fleksi sehingga tulang belakang membungkuk
dengan menahan beban galon air minum seberat 19 kg. Ditinjau dari sisi
ergonomis sikap kerja tersebut menimbulkan kondisi yang tidak nyaman pada otot
kaki dan tangan, posisi sikap kerja membungkuk juga dapat menimbulkan
kelelahan pada pinggang. Menurut peraturan Worksafe Australia tahun 1986,
berat beban 16-45 kg memerlukan penekanan dalam metode angkat2. Berdasarkan

146
hasil survei awal menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) yang
dilakukan pada 10 pekerja di depot air minum, diketahui bahwa semua pekerja
(100%) mengalami keluhan diantaranya persentase keluhan yang paling besar
adalah bagian bahu (70%) dan pinggang (50%). Oleh karena itu, dirasa perlu
untuk mengetahui hubungan antara sikap kerja pengangkutan dengan keluhan
LBP pada pekerja depot air minum di kelurahan Sekaran, Gunungpati, Semarang.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sikap kerja
pengangkutan dengan keluhan LBP pada pekerja depot air minum di kelurahan
Sekaran, Gunungpati, Semarang.

2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan populasi
pada penelitian ini yaitu pekerja depot air minum di kelurahan Sekaran yang
berjumlah 30 orang. Sampel dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik
total sampling yang merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota
populasi digunakan sebagai sampel8 dan pada penelitian ini berjumlah 30 pekerja.
Peneltian ini menggunakan instrumen Rapid Entire Body Assessment
(REBA) dan Nordic Body Map (NBM). Peneliti menggunakan REBA karena
metode REBA dapat mengidentifikasi sekitar 600 posisi tubuh serta merupakan
suatu alat analisis postural sangat sensitif terhadap pekerjaan yang melibatkan
perubahan posisi secara mendadak atau secara tak terduga dan metode ini dapat
menganalisis secara bersamaan dari posisi yang terjadi pada anggota tubuh bagian
atas, badan, leher dan kaki9,10. Selain REBA intrumen lain yang digunakan pada
penelitian adalah NBM. Metode NBM digunakan untuk mengukut varibel LBP
yang merupakan salah satu alat ukur sederhana yang digunakan untuk menilai
tingkat keparahan gangguan atau cedera pada otot9. Metode ini juga dapat
dimengerti dengan mudah oleh pekerja atau responden, dimana responden hanya
memberikan tanda checklist pada gambar bagian tubuh yang dirasakan
responden memiliki keluhan. Oleh karena itu, peneliti menggunakan REBA dan
NBM dalam penelitian ini. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square atau
uji alternatifnya.

3. Hasil dan Pembahasan


Penelitian ini dilakukan dengan mengamati sikap kerja 30 responden atau
pekerja di depot air minum pada saat pemindahan galon yang beratnya 19 kg yaitu
dengan merekam proses pemindahan galon. Rekaman tersebut kemudian
digunakan untuk menganalisis sikap kerja pekerja menggunakan metode REBA.
Selain melakukan pengamatan sikap kerja responden, peneliti juga mengambil
data keluhan khususnya LBP yang dialami responden secara subyektif dengan
menggunakan NBM.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data distribusi menurut karakteristik
responden yang terdiri dari umur responden, waktu kerja, masa kerja, frekuensi
pengangkutan, risiko sikap kerja pengangkutan dan keluhan LBP pada pekerja
depot air minum (Tabel 1).

147
Tabel 1. Data Distribusi Karakteristik Responden
Presentase
Karakteristik Responden Frekuensi
(%)
1. Umur
< 20 tahun 4 13,3
20 tahun 26 86,7
2. Waktu Kerja
10 Jam/hari 14 46,7
> 10 jam/hari 16 53,3
3. Masa Kerja
< 3 bulan 2 6,7
3 bulan 28 93,3
4. Frekuensi Pengangkutan
30 galon/jam 30 100
> 30 galon/jam - -
5. Risiko Sikap Kerja Pengangkutan
Sedang 3 10
Tinggi 27 90
6. Keluhan LBP
Tidak Sakit 11 36,7
Agak Sakit 5 16,7
Sakit 14 46,7

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa jumlah responden berdasarkan


umur sebagian besar berumur 20 tahun (86,7%). Kekuatan otot maksimal terjadi
pada saat umur 20-29 tahun, selanjutnya terus terjadi penurunan sejalan dengan
bertambahnya umur. Pada saat umur mencapai 60 tahun, rata-rata kekuatan otot
menurun sampai 20%. Pada saat kekuatan otot mulai turun, maka risiko terjadinya
keluhan otot meningkat11.
Pekerja depot air minum sebagaian besar bekerja lebih dari 10 jam per hari
(53,3%). Menurut Sumamur, P. K. (2009), waktu kerja atau lama seseorang
bekerja dengan baik dalam sehari pada umumnya 6-10 jam. Waktu kerja
diperpanjang lebih dari kemampuan lama kerja sehari tersebut biasanya tidak
disertai efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja yang optimal, bahkan terlihat
penurunan kualitas dan hasil kerja serta bekerja dengan waktu yang
berkepanjangan timbul kecenderungan untuk terjadinya kelelahan, gangguan
kesehatan, penyakit dan kecelakaan maupun ketidakpuasan1.
Menurut Helmi (2012), keluhan LBP dirasakan minimal 3 bulan disertai
dengan adanya keterbatasan aktivitas yang mengakibatkan nyeri apabila
melakukan pergerakan11. Sebanyak 93,3% responden memiliki masa kerja lebih
dari 3 bulan, sehingga responden tersebut lebih berisiko mengalami keluhan LBP.
Penelitian ini menunjukkan bahwa 90% responden memiliki tingkat risiko tinggi
dengan keluhan sakit 46,7%, mengeluh agak sakit 16,7% dan tidak mengalami
keluhan atau tidak sakit 36,7%.
Pekerja depot air minum sebagian besar melakukan pemindahan galon, baik
berupa galon berisi maupun galon kosong. Galon yang tidak berisi air memiliki
berat 79,2 gram dan galon yang berisi air memilik berat 19 kg. Pemindahan galon
tersebut dilakukan secara manual atau tidak menggunakan alat bantu. Aktivitas

148
pemindahan galon yang terdiri dari mengangkat, membawa, menarik atau
mendoeong galon tersebut dapat menyebabkan LBP, jika pekerja melakukan
dengan posisi tubuh tidak alami atau dipaksakan1. Sikap kerja pengangkutan
merupakan salah satu variabel yang diduga mempengaruhi terjadinya LBP. Pada
penelitian ini cara melihat variabel sikap kerja pengangkutan dengan melakukan
pengukuran risiko ergonomi pada proses pengangkutan menggunakan metode
REBA.
Penelitian ini menggunakan uji fisher exact dengan penggabungan sel
karena nilai expected kurang dari lima ada dua sel (50,0%). Berdasarkan dari
penelitian ini diketahui bahwa keluhan LBP banyak dialami oleh pekerja dengan
risiko pekerjaan tinggi menurut skor REBA. Hasil dari analisis bivariat
menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap kerja
pengangkutan dengan keluhan LBP (p 0,537). Walaupun tidak terdapat hubungan
signifikan tetapi jika dilihat dari proporsinya, responden yang sikap kerja
pengangkutan berisiko tinggi mengalami LBP lebih besar dari 66,7% (Tabel 2).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fathoni
(2012) yaitu, 10 responden memiliki sikap dan postur kerja yang dapat
menyebabkan penyakit muskuloskeletal dan 6 responden mengalami LBP.
Namun, hasil uji bivariat penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang
bermakna antara sikap kerja dan postur kerja dengan keluhan LBP pada perawat
RSUD Purbalingga bulan Januari 2009 (p 0,197)12. Pada hasil penelitian Mayrika
(2009) juga menunjukkan dan 30 penjual jamu gendong sebesar 56,7% yang
memiliki teknik mengangkat tidak ergonomis dan keluhan nyeri punggung bawah
sebesar 83,3% dengan hasil uji bivariat tidak memiliki hubungan signifikan (p
0,628 > 0,05)13.

Tabel 2. Hubungan antara Sikap Kerja Pengangkutan dengan Keluhan LBP


Sikap Kerja Keluhan LBP
Jumlah Nilai
(Skor Agak Sakit + Sakit Tidak Sakit p
REBA) N % n % N %
Risiko 0,537
18 66,7 9 33,3 27 100
Tinggi
Risiko
1 33,3 2 66,7 3 100
Sedang

Hasil bivariat yang menyatakan tidak adanya hubungan signifikan antara sikap
kerja pengangkutan dengan keluhan LBP pada pekerja depot air minum di
Sekaran, Gunungpati, Semarang ini dapat dipengaruhi oleh variabel pengganggu.
Variabel pengganggu dalam penelitian ini yaitu umur, waktu kerja, lama kerja dan
frekuensi pengangkutan. Responden pada penelitian ini yang semuanya berjenis
kelamin pria, sebanyak 26 orang (86,7%) berumur 20 tahun. Menurut NIOSH
(1997), umur dengan tingkat nyeri punggung tertinggi untuk pria adalah pada
kelompok umur 20-2414. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Bettie et
al. (1989) yang menyatakan kekuatan otot maksimal terjadi pada saat umur 20
sampai 29 tahun, dan selanjutnya mengalami penurunan sejalan dengan
bertambahnya umur, karena pada penelitian ini dari 26 orang yang berumur lebih
dari 20 tahun sebanyak 17 orang (65,4%) mengeluh LBP11. Hasil bivariat dari
penelitian yang dilakukan oleh Winda (2012) juga menunjukkan adanya

149
hubungan antara usia dengan keluhan muskuloskeletal, dimana usia lebih dari 30
tahun lebih banyak mengalami keluhan (45,2%). Pada penelitian tersebut juga
menunjukkan pekerja dengan usia lebih dari 30 tahun memiliki risiko 4,4 kali
mengalami keluhan muskuloskeletal tingkat tinggi dibanding pekerja dengan usia
di bawah 30 tahun15.
Waktu kerja dapat mempengaruhi timbulnya keluhan LBP pada pekerja.
Seseorang dapat bekerja dengan baik dalam sehari yaitu 6-10 jam. Hasil analisis
univariat pada penelitian ini, 16 (53,3%) dari 30 responden bekerja lebih dari 10
jam per harinya dan 11 (68,8%) dari 16 responden yang bekerja lebih dari 10
jam/hari mengeluhkan LBP. Hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan
bahwa jika waktu kerja lebih dari 10 jam dapat menimbulkan terjadinya
kelelahan, gangguan kesehatan, penyakit dan kecelakaan maupun ketidakpuasan1.
Berdasarkan analisis univariat mengenai lama kerja, didapatkan sebanyak
28 (93,3%) dari 30 responden sudah bekerja di depot air minum selama 3 bulan
dan 18 (64,3%) dari 28 responden yang bekerja lebih dari 3 bulan mengeluhkan
LBP. LBP yang merupakan kondisi tidak mengenakkan atau nyeri kronik
dirasakan sekurangnya 3 bulan dan disertai adanya keterbatasan aktivitas akibat
nyeri apabila melakukan pergerakan atau mobilitas12. Namun pada penelitian yang
dilakukan oleh Mayrika (2009) menunjukkan tidak adanya hubungan yang
signifikan antara masa atau lama kerja dengan keluhan nyeri punggung bawah
pada penjual jamu gendong. Pekerja yang bekerja mengangkat atau membawa
beban berat setiap harinya mengakibatkan tulang belakang akan terus mengalami
penekanan sehingga merubah sikap tubuh. Perubahan tersebut sebagai akibat dari
kebiasaan mereka bertumpu saat membawa beban14. Menurut Tobing (1996) pada
penelitian tersebut mengatakan sikap kerja yang salah dalam waktu lama dapat
menyebabkan nyeri pinggang kronis16
Variabel penganggu terakhir yang dianalisis univariat dalam penelitian ini
adalah frekuensi pengangkutan. Pada penelitian ini, semua responden melakukan
frekuensi pengangkutan 30 galon per jam. Responden yang mengeluhkan LBP
sebanyak 19 (63,3%) dari 30 orang yang frekuensi pengangkutannya 30 galon
per jam. Hal ini tidak sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa pemindahan
barang secara manual dengan frekuensi sering dengan jangka waktu lama dapat
mengakibatkan risiko rasa nyeri pada tulang belakang2. Selain itu, penelitian yang
dilakukan Sutanto (2013) didapatkan juga hasil yang mendukung teori yaitu ada
hubungan antara frekuensi angkat dengan nyeri pinggang pada buruh gendong di
pasar Bandungan Kab. Semarang17. Penjelasan mengenai variabel pengganggu
pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa analisis bivariat dengan hasil tidak
ada hubungan yang signifikan antara sikap kerja pengangkutan dengan keluhan
LBP pada pekerja depot air minum dikarenakan pengaruh dari variabel
pengganggu. Pengaruh variabel pengganggu tersebut dapat mengakibatkan atau
mencegah terjadinya LBP.
Menurut Health and Safety Executive (2004), teknik penanganan yang baik
pada aktivitas pengangkutan adalah sebagai berikut: sebelum melakukan
pengangkutan sebaiknya merencanakan cara angkut beban; kaki harus terpisah
dengan satu kaki sedikit ke depan untuk menjaga keseimbangan; pegangan pada
beban baik; beban harus sedekat mungkin dengan tubuh; menghindari memutar
punggung pada saat mengangkat beban, terutama pada waktu punggung
membungkuk; pandangan ke depan, tidak turun pada beban, jika pegangan pada

150
beban sudah aman; meletakkan beban terlebih dahulu kemudian baru menggeser
beban ke posisi yang diinginkan18.

4. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan tetang hubungan antara sikap kerja
pengangkutan dengan keluhan LBP pada pekerja depot air minum di kelurahan
Sekaran, Gunungpati, Semarang dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan
antara seikap kerja pengangkutan dengan keluhan LBP pada pekerja depot air
minum di kelurahan Sekaran, Gunungpati, Semarang.

Daftar Pustaka
1. Sumamur P.K, Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Jakarta: CV.
Segung Setyo, 2009.
2. Nurmianto, Eko, Ergonomi: Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: Guna
Widya, 2008.
3. Tarwaka, Ergonomi Industri: Dasar-dasar Pengetahuan Ergonomi dan
Aplikasi di Tempat Kerja, Surakarta: Harapan Press, 2011.
4. World Health Organization (WHO), Preventing Musculoskeletal Disorders in
Workplace, Geneva: WHO, 2003.
5. Ruslan, Nyeri Punggung Bawah [Online], diakses pada 13 Februari 2014,
Available: http://www.krakataumedika.com/nyeri-punggung-bawah/
6. Riyadini, Keluhan Nyeri Muskuloskeletal pada Pekerja Industri di Kawasan
Industri Pulo Gadung Jakarta, Artikel Penelitian, Majalah Kedokteran
Indonesia, vol. 58, no. 1, Januari 2008, hal. 8-12, 2008.
7. Suprihatin, B., Jurnal Higene Sanitasi Depot Air Minum Isi Ulang di
Kecamatan Tanjung Redep Kabupaten Berau Kalimantan Timur, vol. 2, no. 2,
2008.
8. Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, Bandung: CV. Alfabeta, 2005.
9. Tarwaka, Ergonomi Industri: Dasar-Dasar Pengetahuan Ergonomi dan
Aplikasi di Tempat Kerja. Surakarata: Harapan Press, 2011.
10. Hignett, S., Technical note: Rapid Entire Body Assessment (REBA), Applied
Ergonomics 31, hal. 201-205, 2000.
11. Helmi, N. Z., Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal, Jakarta: Salemba
Medika, 2012.
12. Fathoni, Hubungan Sikap dan Posisi Kerja dengan Low Back Pain pada
Perawat RSUD Purbalingga, Jurnal Keperawatan Soedirman, vol. 7, no. 2,
2012.
13. Mayrika, Beberapa Faktor yang Berpengaruh terhadap Keluhan Nyeri
Punggung Bawah pada Penjual Jamu Gendong, Jurnal Promosi Kesehatan
Indonesia, vol. 4, no. 1, hal.61-67, 2009.
14. NIOSH, Musculoskeletal Disorders and Workplace Factors, Colombia:
NIOSH, 1997.
15. Winda, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Muskuloskeletal
pada Pekerja Angkat-Angkut Industri Pemecah Batu di Kecamatan
Karangnongko Kabupaten Klaten, Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 1, no.
2, hal. 836-844. 2012.
16. Tobing, Penatalaksanaan Nyeri Pinggang, FKUI: Jakarta, 1996.

151
17. Sutanto, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Nyeri Pinggang
pada Buruh Gendong di Pasar Bandungan Kabupaten Semarang, Jurnal
Kesehatan Masyarakat 2013, vol. 2, no. 2, 2013.
18. HSE, Manual Handling at Work: A Brief Guide [Online], diakses pada tanggal
16 Maret 2014, Available: www.hse.gov.uk/pubns/indg143.htm, 2004.

152
Identifikasi Postur Kerja Pekerja Pada Usaha Pembuatan Tahu
Dengan Menggunakan Metode RULA, REBA, QEC,
OWAS dan WERA

Chalis Fajri Hasibuan


Universitas Medan Area
Jl. Kolam No. 1 Medan Estate
E-mail: chalisfajri@yahoo.co.id

Abstrak

Penggunaan tenaga manusia dalam dunia industri masih dominan, terutama kegiatan
penanganan material secara manual (Manual Material Handling/MMH). Beban kerja
yang berat, postur kerja yang salah dan perulangan gerakan yang tinggi, serta adanya
getaran terhadap keseluruhan tubuh merupakan keadaan yang memperburuk penyakit
tersebut. Keluhan pada sistem muskuloskeletal diakibatkan penggunaan postur kerja yang
tidak baik.
Hasil penilaian postur kerja pada bagian pengepresan dengan 11 elemen kerja yaitu
mengambil kain, melapis kain kecetakan, mengambil bahan, menuangkan bahan
kecetakan, meratakan tahu, menutup kain, menutup papan cetakan, menutup papan
cetakan dengan batu, membuka batu, membuka papan, membuka kain yang dilakukan
penilaian, postur kerja paling berbahaya terhadap keluhan Musculoskeletal Disorders
(MSDs) ada pada elemen mengambil bahan dimana pada 5 penilaian postur kerja dengan
menggunakan RULA (Rapid Upper Limb Assessment), REBA (Rapid Entire Body
Assessment), QEC (Quick Exposure Check), OWAS (Ovako Working Posture Assessment
System), dan WERA (Workplace Ergonomic Risk Assessment) menghasilkan tindakan
untuk segera dilakukan perbaikan, sedangkan pada elemen kerja membuka kain memiliki
penilaian kriteria aman.
Rekomendasi perbaikan yaitu perubahan sikap/postur pekerja bagian kaki dan punggung,
karena pada bagian tersebut mengalami pembebanan akibat postur kerja yang salah,
perubahan tata letak peralatan, pengurangan beban dan perancangan maupun penambahan
alat bantu.

Kata kunci: MSDs, OWAS, postur kerja, QEC, REBA, RULA, WERA,.

1. Pendahuluan
Penanganan material secara manual adalah istilah yang diberikan untuk
proses penanganan material yang dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia
[1]. Kelebihan Manual Material Handling (MMH) bila dibandingkan dengan
penanganan material menggunakan alat bantu adalah fleksibilitas gerakan yang
dapat dilakukan untuk beban-beban ringan [2]. Kelebihan MMH bila
dibandingkan dengan penanganan material menggunakan alat bantu adalah pada
fleksibilitas gerakan yang dapat dilakukan untuk beban-beban ringan. Akan tetapi
aktifitas MMH dalam pekerjaan-pekerjaan industri banyak diidentifikasi berisiko
besar sebagai penyebab penyakit tulang belakang (low back pain) akibat dari
penanganan material secara manual yang cukup berat dan posisi tubuh yang salah
dalam bekerja. Faktor lain yang dapat menyebabkan penyakit ini adalah beban
kerja yang berat, postur kerja yang salah dan pengulangan pekerjaan yang tinggi,
serta adanya getaran terhadap keseluruhan tubuh. Faktor-faktor yang dapat

153
menimbulkan adanya gangguan pada tubuh manusia jika pekerjaan berat
dilakukan secara terus menerus akan berakibat buruk pada kondisi kesehatan
pekerja terutama dalam jangka waktu panjang [3].
Salah satu industri kecil yang banyak di Indonesia khususnya di kota
Medan adalah industri tahu, 90% usaha tahu yang terdapat di Kota Medan masih
bersifat usaha mikro kecil menengah (UMKM) dengan pekerja yang padat karya
dan masih minim penggunaan teknologi, minimnya penggunaaan alat yang dapat
meringankan tugas pekerja mengakibatkan pekerja harus bekerja secara maksimal
sehingga menimbulkan keselahan postur kerja dari pekerja yang apa bila di
biarkan terus-menerus akan mengakibatkan cedera pada pekerja, sehingga Tujuan
dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keluhan muscoleskeletal
disorders yang dialami pekerja pada industri tahu di kota Medan dan juga
mengidentifikasi postur kerja aktual pada pekerja.

2. Metode Penelitian
2.1. Tempat, Waktu dan Objek Penelitian
Penelitian dilakukan pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Tahu
UD X yang terdapat di Kota Medan. Penelitian ini dilakukan pada bulan
September 2015 sampai dengan bulan Otober 2015. Objek yang diteliti pada
penelitian ini adalah postur kerja pekerja yang terdapat pada bagian pengepresan
tahu dengan 11 elemen kegiatan.

Mulai

Observasi Pendahuluan Dengan


Studi Literatur
Nordic Standard Questionaire

Tidak
Terjadi Keluhan Pada Bagian
Tubuh

Ya
Perumusan
Masalah Dan
Tujuan Penelitian

Pengumpulan Data
1. Pengumpulan Data Primer berupa pencatatan
aktivitas kerja
2. Data Tempat Penelitian

Pengolahan Data Dengan Menggunakan


Metode RULA, REBA, OWAS, QEC, WERA

Analisa Dan Pembahasan

Kesimpulan Dan Saran

Selesai

Gambar 1. Flowchart Penelitian

154
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Pengumpulan Data
a. Keluhan Musculoskeletal
Untuk mengetahui keluhan musculoskeletal yang dialami operator dapat
diketahui melalui penyebaran kuisioner SNQ. Penilaian berdasarkan kuisioner
SNQ untuk pembobotan masing-masing kategori berikut: [4]
Tidak sakit : bobot 0
Agak sakit : bobot 1
Sakit : bobot 2
Sangat sakit : bobot 3
Berikut ini merupakan hasil rekapitulasi untuk data keluhan
musculoskeletal diatas dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil SNQ


Bagian Tubuh Kategori Keluhan
No yang Mengalami
Op 1 Op 2 Op 3 Op 4 Op 5 Op 6 Op 7 Op 8
Keluhan
0 Sakit kaku di leher Sakit Agak Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
bagian atas Sakit
1 Sakit kaku di Sangat Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
bagian leher Sakit
bagian bawah
2 Sakit di bahu kiri Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
3 Sakit di bahu Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
kanan
4 Sakit lengan atas Sakit Sakit Sakit Agak Sakit Agak Sakit Agak
kiri sakit sakit sakit
5 Sakit di punggung Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
6 Sakit lengan atas Sakit Agak Sakit Agak Sakit Agak Sakit Sakit
kanan Sakit sakit sakit
7 Sakit pada Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
pinggang
8 Sakit pada bokong Agak Agak Agak Sakit Agak Tidak Agak Tidak
Sakit Sakit Sakit Sakit sakit Sakit sakit
9 Sakit pada pantat Agak Agak Agak Sakit Agak Tidak Agak Agak
Sakit Sakit Sakit Sakit sakit Sakit Sakit
10 Sakit pada siku Agak Agak Agak Agak Agak Agak Agak Agak
kiri Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
11 Sakit pada siku Agak Agak Agak Agak Agak Agak Agak Agak
kanan Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
12 Sakit pada lengan Agak Sakit Agak Tidak Sakit Agak Sakit Agak
bawah kiri Sakit Sakit sakit Sakit Sakit
13 Sakit pada lengan Agak Sakit Agak Tidak Sakit Agak Sakit Agak
bawah kanan Sakit Sakit sakit Sakit Sakit
14 Sakit pada Sakit Sakit Sakit Agak Sakit Agak Sakit Agak
pergelangan Sakit Sakit Sakit
tangan kiri
15 Sakit pada Sakit Sakit Sakit Agak Sakit Agak Sakit Agak
pergelangan Sakit Sakit Sakit
tangan kanan
16 Sakit pada tangan Agak Agak Agak Agak Agak Agak Agak Sakit
kiri Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
17 Sakit pada tangan Agak Agak Agak Agak Agak Sakit Agak Sakit
kanan Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit

155
Bagian Tubuh Kategori Keluhan
No yang Mengalami
Op 1 Op 2 Op 3 Op 4 Op 5 Op 6 Op 7 Op 8
Keluhan

18 Sakit pada paha Agak Agak Tidak Tidak Tidak Tidak Agak Tidak
kiri Sakit Sakit sakit sakit sakit sakit Sakit sakit
19 Sakit pada paha Agak Agak Tidak Tidak Tidak Tidak Agak Tidak
kanan Sakit Sakit sakit sakit sakit sakit Sakit sakit
20 Sakit pada lutut Agak Agak Tidak Agak Agak Tidak Agak Agak
kiri Sakit Sakit sakit Sakit Sakit sakit Sakit Sakit
21 Sakit pada lutut Agak Agak Tidak Agak Agak Tidak Agak Agak
kanan Sakit Sakit sakit Sakit Sakit sakit Sakit Sakit
22 Sakit pada betis Agak Agak Agak Agak Tidak Tidak Agak Agak
kiri Sakit Sakit Sakit Sakit sakit sakit Sakit Sakit
23 Sakit pada betis Agak Agak Agak Agak Tidak Tidak Agak Agak
kanan Sakit Sakit Sakit Sakit sakit sakit Sakit Sakit
24 Sakit pada Agak Sakit Sakit Sakit Agak Agak Sakit Sakit
pergelangan kaki Sakit Sakit Sakit
kiri
25 Sakit pada Agak Sakit Sakit Sakit Agak Agak Sakit Sakit
pergelangan kaki Sakit Sakit Sakit
kanan
26 Sakit pada kaki Agak Agak Agak Sakit Tidak Tidak Agak Agak
kiri Sakit Sakit Sakit sakit sakit Sakit Sakit
27 Sakit pada kaki Agak Agak Agak Sakit Tidak Tidak Agak Agak
kanan Sakit Sakit Sakit sakit sakit Sakit Sakit
Sumber: Pengumpulan Data

b. Data Jenis Gerakan Kerja Operator


Pada stasiun kerja pengepresan, data-data kerja operator dapat diteliti dan dilihat
waktu yang dipakai pada proses pengerjaannya. Data tersebut dapat dilihat pada tabel

Tabel 2. Data Jenis Kerja Operator


Jenis Pekerjaan Jarak Waktu (Detik) Berat (kg)
Mengambil kain 1m 5 detik -
Melapiskan kain ke cetakan - 20 detik -
Mengambil & menuang bahan yang 50 cm 120 detik -
telah diayak
Meratakan Tahu - 30 detik -
Menutup Kain - 30 detik -
Mengambil papan penutup 1m 5 detik 2
Menutup tahu dengan papan - 15 detik 2
Mengambil batu pengepres 1m 5 detik 5
Mengepres bahan dengan batu - 180 detik 5
Mengangkat batu pengepres - 5 detik 5
Mengembalikan batu pengepres 1m 5 detik 5
Membuka papan penutup - 5 detik 2
Membuka kain - 5 detik -
Mengambil batu pengepres 1m 5 detik 5
Mengepres bahan dengan batu - 300 detik 5
Mengangkat batu pengepres - 5 detik 5
Mengembalikan batu pengepres 1m 5 detik 5
Membuka papan penutup - 5 detik 2
Membuka kain - 5 detik -

156
c. Data Frekuensi Gerakan Kerja Operator

Tabel 3. Data Frekuensi Gerakan Kerja Operator


Jenis Pekerjaan Frekuensi Gerakan
Mengambil kain 1 kain = 2 detik
Melapiskan kain ke cetakan 1 cetakan = 20 detik
Mengambil & menuang bahan yang 1 menit = 6x tuang
telah diayak 1 cetakan = 2 menit
1 cetakan = 12x tuang
Meratakan bahan dengan kayu perata 1 cetakan = 15 detik
Menutup tahu dengan kain 1 cetakan = 15 detik
Menutup tahu dengan papan 1 cetakan = 15 detik
Mengepres bahan dengan batu 1 cetakan = 3 menit
Mengembalikan batu pengepres 1 batu = 5 detik
Membuka papan penutup 1 cetakan = 5 detik
Membuka kain 1 cetakan = 5 detik
Mengepres bahan dengan batu 1 cetakan = 3 menit

3.2. Pengolahan Data


Penilaian postur kerja dilakukan dengan menggunakan metode RULA.
Penilaian postur kerja bertujuan untuk mengetahui elemen gerakan atau kegiatan
yang menyebabkan terjadinya keluhan pada tubuh operator [5][6]. Sehingga
gerakan yang menimbulkan keluhan dapat dihilangkan atau diperbaiki. Penilaian
postur kerja untuk setiap elemen kerjanya dapat diuraikan sebagai berikut:

Gambar.1 Mengambil Kain

Hasil penilaian postur kerja dengan menggunakan metode RULA, REBA, QEC,
OWAS dan WERA.

Tabel 4. Kriteria Hasil Penilaian Postur Kerja Mengambil Kain


Elemen Kriteria Hasil Penilaian Postur kerja
Kerja RULA REBA QEC OWAS WERA
Mengambil Aman Aman Aman Aman Pekerjaan aman
Kain

Untuk rekapitulasi penilaian postur kerja keseluruhan dari elemen kerja bagian
pengepresan di industri tahu dapat dilihat pada tabel

157
Tabel 5. Kriteria Hasil Penilaian Postur Kerja Pada Seluruh Elemen
Elemen Kriteria Hasil Penilaian Postur kerja
Kerja RULA REBA QEC OWAS WERA
Mengambil Aman Aman Aman Aman Pekerjaan aman
kain
Melapis kain Diperlukan Mungkin diperlukan Diperlukan Pekerjaan aman
kecetakan beberapa diperlukan beberapa
waktu waktu
kedeapan kedeapan
Mengambil Tindakan Segera Tindakan Diperlukan Perkerjaan
bahan dalam waktu dalam beberapa diperlukan
dekat waktu waktu inverstigasi
dekat kedepan
Menuangkan Diperlukan Segera Diperlukan Diperlukan Pekerjaan
bahan beberapa beberapa beberapa diperlukan
ke cetakan waktu waktu waktu investagasi
kedepan kedepan kedepan
Meratakan Aman Kecil Aman Aman Pekerjaan aman
tahu
Menutup Aman Aman Aman Aman Pekerjaan aman
kain
Menutup Aman Aman Aman Aman Pekerjaan aman
papan cetakan
Menutup Aman Perlu Diperlukan Diperlukan Pekerjaan aman
papan cetakan beberapa beberapa
dengan batu waktu waktu
kedepan kedepan
Membuka Aman Aman Aman Aman Pekerjaan aman
batu
Membuka Aman Aman Aman Aman Pekerjaan aman
papan
Membuka Aman Aman Aman Aman Pekerjaan aman
kain

4. Simpulan
Berdasarkan pengolahan data dan analisis masalah, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Pada aktifitas proses pengepresan tahu yang terdiri dari 11 elemen kerja
teridentifikasi bahwa postur kerja memiliki potensi menimbulkan cidera.
Hasil RULA, REBA, QEC, OWAS, WERA mempelihatkan postur kerja yang
salah dan perlunya tindakan terhadap perbaikan postur kerja artinya
memerlukan perbaikan dengan segera karena postur tersebut berbahaya
khususnya pada bagian mengambil bahan.
2. Penilaian dengan menggunakan Nordic questioneir diperoleh bahwa
keseluruhan aktifitas pekerja pada bagian pengepresan memiliki nilai sakit
dan sangat sakit.

158
Daftar Pustaka
1. Martaleo, M. 2012. Perbandingan Penilaian Risiko Ergonomi dengan Metode
REBA dan QEC (Studi Kasus Pada Kuli Angkut Terigu). Jurnal Simposium
Nasional RAPI XI FT UMS. ISSN: 1412-9612: 157-163.
2. Astuti, R.D. 2007. Analisis Pengaruh Aktivitas Kerja dan Beban Angkat
Terhadap Kelelahan Muskuloskeletal. Jurnal Gema Teknik. 10 (02): 27-32.
3. Sutrio, 2011, Analisis Pengukuran RULA dan REBA Petugas pada
Pengangkatan Barang di Gudang dengan Menggunakan Software
Ergolntelligence (Studi kasus: Petugas Pembawa Barang di Toko Dewi
Bandung), Prosiding Seminar Nasional RITEKTRA, ISBN: 978-602-97094-3-
8
4. Susihono, 2012, Perbaikan Postur Kerja Untuk Mengurangi Keluhan
Muskuloskeletal Dengan Pendekatan Metode Owas (Studi kasus di UD. Rizki
Ragil Jaya Kota Cilegon), Spektrum Industri, 2012, Vol. 10, No. 1
5. Nevile, 2008, Stanton, Hand Book Of Human Factor and Ergonomics
Methods, CRC Press
6. Pratiwi, 2014, Evaluasi Penilaian Risiko Postur Kerja Pada Pekerja
Gerabah, Seminar Nasional IDEC 2014, ISBN: 978-602-70259-2-9.

159
Kajian Kualitas Udara Dalam Ruangan di Perkantoran
untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja Karyawan
Muslikha Nourma Rhomadhoni
Fakultas Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Kampus B UNUSA RSI Jemursari No. 51-57 Surabaya
Tel: 031-8479070. E-mail: muslikhanourma@unusa.ac.id

Abstrak

Polusi udara dalam ruangan berdampak dua sampai lima kali lebih buruk dari udara
luar. Tahun 1989 Environmental Protection Agency Of America (EPA) mengumumkan
studi di Amerika isu polusi udara dalam ruang, bahwa polusi udara dalam ruangan lebih
berat dari pada di luar ruangan sebab hampir 90% manusia beraktivitas di dalam ruangan.
Dampaknya menurunkan produktivitas kerja hingga senilai US $10 miliar.
Kajian ini bertujuan untuk mengkaji sumber polusi udara dalam ruangan, persyaratan dan
tata laksana udara di ruangan perkantoran di Indonesia, serta pengaruh kualitas udara
ruangan dalam meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
Hasil kajian National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) bahwa
sumber polusi udara dalam ruangan adalah ventilasi yang tidak baik (52%), kontaminasi
dari dalam gedung (16%), kontaminasi yang berasal dari luar gedung (10%), kontaminasi
mikrobiologi (5%), dan kontaminasi material bangunan (4%), lain-lain (13%). Untuk
mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mencegah timbulnya gangguan
kesehatan di perkantoran, Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri
Kesehatan No. 1405 Tahun 2002 tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerja
perkantoran dan industri telah mengatur persyaratan kualitas udara dalam ruangan.
Kualitas udara ruangan yang dimaksud meliputi suhu, kelembaban, debu, pertukaran
udara, gas pencemar, mikrobiologi. Kualitas lingkungan kerja yang baik dan sesuai
dengan kondisi manusia sebagai pekerja berdampak pada kinerja dan produktivitas kerja
yang dihasilkan. Sedangkan kualitas udara dalam ruangan yang buruk dapat menurunkan
produktivitas kerja.

Kata kunci: perkantoran, produktivitas kerja karyawan, udara dalam ruangan.

1. Pendahuluan
Kualitas udara dalam ruang berpengaruh pada kesehatan manusia, sebab
hampir 90% hidup manusia berada dalam ruangan.1 Polusi udara dalam ruangan
merupakan urutan lima besar risiko lingkungan pada kesehatan Environmental
Protection Agency Of America (EPA). Udara dikelompokan menjadi udara luar
ruangan (outdoor air) dan udara dalam ruangan (indoor air). Sebanyak 400
sampai 500 juta orang di negara berkembang sedang menghadapi masalah polusi
udara dalam ruangan.2 Tahun 1989 EPA melakukan studi di Amerika bahwa
polusi udara dalam ruangan lebih berat dari pada di luar ruangan. Dampaknya
mampu menurunkan produktivitas kerja hingga senilai US $10 milyar.3 Dalam
penelitian lain polusi udara di dalam ruangan telah membunuh 3,5 juta orang di
seluruh dunia tahun 2010.4 Kualitas udara yang rendah dalam suatu bangunan
berhubungan erat dengan Sick Building Syndrome (SBS). Pegawai yang bekerja di
dalam ruangan dengan suhu lebih dari 26C mempunyai risiko 3,363 kali lebih
besar untuk mengalami SBS, dibanding dengan pegawai yang bekerja dalam

160
ruangan dengan suhu udara 26C atau lebih rendah.5 Berdasarkan hasil penelitian
di atas peneliti ingin mengkaji sumber polusi udara dalam ruangan, persyaratan
dan tata laksana udara di ruangan perkantoran di Indonesia, serta pengaruh
kualitas udara ruangan dalam meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah studi pustaka tentang kualitas udara dalam ruangan
kerja dan pengaruhnya dengan produktivitas kerja pada publikasi penelitian dan
referensi terkait.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1 Sumber polusi udara dalam ruangan
Menurut EPA, polusi udara dalam ruangan dua sampai lima kali lebih buruk
dari udara di luar. Hal ini disebabkan karena sebagian besar rumah terisolasi
bahan-bahan beracun yang dihasilkan oleh bangunan itu sendiri, perlengkapan
dalam bangunan (karpet, AC, dan sebagainya), kondisi bangunan, suhu,
kelembaban, pertukaran udara, dan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku
orang-orang yang berada di dalam ruangan, misalnya merokok. Menurut National
Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) bahwa masalah kualitas
udara dalam ruang disebabkan oleh6 ventilasi yang tidak baik (52%), kontaminasi
dari dalam gedung (16%), kontaminasi yang berasal dari luar gedung (10%),
kontaminasi mikrobiologi (5%), dan kontaminasi material bangunan (4%), lain-
lain (13%). Sumber polusi udara dalam ruang selain berasal dari bahan-bahan
sintetis dan beberapa bahan alamiah yang digunakan untuk karpet, busa, pelapis
dinding, dan perabotan rumah tangga (asbestos, formaldehid, Volatile Organic
Compound (VOC)), juga berasal dari produk konsumsi (pengkilap perabot,
perekat, kosmetik, pestisida/insektisida).7
Unsur utama polutan dalam ruangan seperti formaldehida pada kayu lapis,
papan partikel dan perekat; itu ditemukan di sebagian besar lemari, karpet dan
dinding. Benzena pada deterjen, cat lateks, minyak, busa, pewarna, karet. Karbon
monoksida dihasilkan dari kompor gas, knalpot kendaraan bermotor, dan asap
rokok dan trichloroethylene pada cat, lak, shampoo karpet, penghilang spot dan
perekat, serta digunakan dalam dry cleaning.
3.2 Persyaratan dan Tata Laksana Udara di Ruangan
Untuk mencegah pencemaran lingkungan dan mencegah timbulnya
gangguan kesehatan terjadinya di perkantoran dan industri Pemerintah Republik
Indonesia telah mengatur di dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.
1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerja
perkantoran dan industri. Persyaratan kesehatan lingkungan kerja perkantoran
meliputi: persyaratan air, udara, limbah, pencahayaan, kebisingan, getaran,
radiasi, vektor penyakit, persyaratan lokasi, ruang dan bangunan, toilet dan
instalasi. Berikut adalah persyaratan dan tata laksana udara ruang di perkantoran:
3.2.1 Suhu dan kelembaban
Persyaratan: Suhu: 1828C, Kelembaban: 40% - 60%. Tata laksana: Agar
ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan upaya-
upaya sebagai berikut: tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m ; bila suhu
udara >28oC perlu menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner (AC),
kipas angin, dll ; bila suhu udara luar <18oC perlu menggunakan pemanas ruang ;

161
bila kelembaban udara ruang kerja >60% perlu menggunakan alat dehumidifier ;
bila kelembaban udara ruang kerja <40% perlu menggunakan humidifier
(misalnya: mesin pembentuk aerosol).
3.2.2 Debu
Persyaratan kandungan debu maksimal di dalam udara ruangan dalam
pengukuran rata-rata 8 jam adalah debu total konsentrasi maksimal 0,15 mg/m ;
asbes total konsentrasi maksimal 5 serat/ml udara dengan panjang serat 5 u
(Mikron). Tata laksana agar kandungan debu di dalam udara ruang kerja
perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan maka perlu dilakukan upaya-upaya
sebagai berikut: kegiatan membersihkan ruang kerja perkantoran dilakukan pada
pagi dan sore hari dengan menggunakan kain pel basah atau pompa hampa
(vacuum pump), pembersihan dinding dilakukan secara periodik 2 kali/tahun dan
dicat ulang 1 kali setahun, serta sistem ventilasi yang memenuhi syarat.
3.2.3 Pertukaran udara
Persyaratan pertukaran udara ; 0,283 m3/menit/orang dengan laju ventilasi:
0,15 0,25 m/detik. Untuk ruangan kerja yang tidak menggunakan pendingan
harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai dengan menerapkan
sistim ventilasi silang. Tata laksana agar pertukaran udara ruang perkantoran
dapat berjalan dengan baik maka perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
untuk ruangan kerja yang tidak ber AC harus memiliki lubang ventilasi minimal
15% dari luas lantai dengan menerapkan sistem ventilasi silang, ruang yang
menggunakan AC secara periodik harus dimatikan dan diupayakan mendapat
pergantian udara secara alamiah dengan cara membuka seluruh pintu dan jendela
atau dengan kipas angin, membersihkan saringan/filter udara AC secara periodik
sesuai ketentuan.
3.2.4 Gas pencemar
Persyaratan kandungan gas pencemar dalam ruang kerja, dalam rata-rata
pengukuran 8 jam sebagai berikut:

Tabel 3.2 Kandungan Gas Pencemar dalam Ruang Kerja


Konsentrasi maksimal
No. Parameter
mg/m3 ppm
1. Asam Sulfida (H2S) 1 -
2. Amonia (NH3) 17 25
3. Karbon Monoksida (CO) 29 25
4. Nitrogen Dioksida (NO2) 5,60 3,0
5. Sulfur Dioksida (SO2) 5,2 2

Tata laksana agar kandungan gas pencemar dalam udara ruang kerja
perkantoran tidak melebihi konsentrasi maksimum perlu dilakukan tindakan-
tindakan sebagai berikut: pertukaran udara ruang diupayakan dapat berjalan
dengan baik, ruang kerja tidak berhubungan langsung dengan dapur, dilarang
merokok didalam ruang kerja, dan tidak menggunakan bahan bangunan yang
mengeluarkan bau yang menyengat.
3.2.5 Mikrobiologi
Persyaratan angka kuman kurang dari 700 koloni/m3 udara dan bebas
kuman patogen. Tata laksana agar angka kuman di dalam udara ruang tidak
melebihi batas persyaratan maka perlu dilakukan beberapa tindakan sebagai

162
berikut: karyawan yang sedang menderita penyakit yang ditularkan melalui udara
untuk sementara waktu tidak boleh berkerja, lantai dibersihkan dengan antiseptik,
memelihara sistem ventilasi agar berfungsi dengan baik, dan memelihara sistem
AC sentral.
3.3 Pengendalian
Studi National Aeronautics and Space Administration (NASA) menunjukkan
bahwa tanaman di dalam ruangan dapat mendetoksifikasi hingga 85 % polusi
udara dalam ruangan. Dr. Bill Wolverton, peneliti senior dari NASA's, John C.
Stennis Space Center, Bay St. Louis, Missisipi, meneliti penggunaan tanaman
hidup sebagai penyaring udara selama lebih dari 20 tahun. Dari 40 jenis tanaman
yang telah diuji, diantaranya yang paling bermanfaat adalah palem (areca palm),
sirih gading (golden photos) dan tanaman jagung. Tanaman tersebut mudah
tumbuh di dalam rumah, memerlukan cahaya rendah, dan efektif membersihkan
udara. Hasil eksperimen NASA menyebutkan bahwa tanaman-tanaman tersebut
efektif dalam memindahkan polutan seperti formaldehyde, karbonmonoksida
(CO), dan nitrogen dioksida (NO2).8
NASA dan Associated Landscape Contractors of America (ALCA) telah
melakukan penelitian terhadap beberapa jenis tumbuhan. Hasilnya, beberapa
tanaman hias di dalam ruangan mampu menyerap polutan dan gas-gas berbahaya
seperti benzena, xylene, formaldehide, xilena, nitrogen oksida dan berbagai bahan
kimia lain di udara. Tanaman yang dimaksud adalah:

1. Lidah mertua (snake plant)


Dikenal dengan Sansieverra, mampu menyerap karbon
monoksida, nikotin, benzene, formaldehyde,
trychloroethylene, dan dioksin. Lima helai daun
Sansieverra dewasa mampu menyerap dan membersihkan
ruangan seluas 100m3 dari berbagai jenis polutan .
2. Lidah buaya (Aloe vera)
Tanaman ini mampu menetralisir racun benzena dan
berbagai bahan kimia lainnya.
3. Spider plant (chlorophytum comosum)
Tanaman ini mampu menyerap benzena, formaldehida,
karbon monoksida dan xilena, bahkan bahan kimia pada
industri, karet dan percetakan.
4. Gerber daisy (gerbera jamesonii)
Di Indonesia dikenal sebagai Herbras. Tanaman ini
efektif menghilangkan trichloroethylene. Cocok
diletakkan di kamar mandi, ruang mencuci atau kamar
tidur.
5. Sirih gading (epipremnum aureum)
Sirih gading sering disebut golden photos atau devils ivy.
Tanaman ini mampu menjadi pembersih udara dalam
ruangan dan menyerap racun formaldehid dan berbagai
polutan lainnya.

163
6. Dragon tree (dracaena marginata)
Dragon tree atau red edged dracaena dari famili
asparagaceae. Tanaman ini mampu menyerap xylene,
trichloroethylene dan formaldehida yang ada di udara
akibat lak, pernis dan bensin.
7. Bunga krisan (chrysanthemum morofolium) Dalam
bahasa inggris dikenal sebagai florists daisy atau herdy
garden mum. Tanaman ini mampu menghilangkan
benzena (dari lem, cat, plastik dan detergen), formaldehid
dan bahan kimia lainnya di udara.
8. Beringin (ficus benjamina)
Tanaman ini mampu membersihkan udara di dalam
ruangan terutama menyerap polutan terkait karpet dan
furnitur seperti formadehide, benzena dan
trychlorosthylene.
9. Rhododendron (Rhododendron simsii)
Tanaman ini mampu menyerap polutan formaldehide dari
sumber playwood atau insulasi busa.
10. English ivy (hedera helix)
Tanaman ini mampu membersihkan udara dalam ruangan
dari partikel pengotor udara. Juga menyerap formaldehid
pada produk pembersih rumah tangga.
11. Warneck dracaena (dracaena deremensis)
Tanaman ini mampu menghilangkan polutan yang
diakibatkan oleh pernis dan minyak.
12. Evergen cina (aglaonema crispum)
Tanaman ini mampu membersihkan polutan dalam
ruangan diantaranya benzena dan formaldehid.
13. Palem bambu (chamaedorea seifrizii)
Tanaman ini mampu menyerap polutan benzena dan
trychloroethylene serta gas beracun formaldehid yang
melekat pada furnitur.
14. Heart leaf philodendron (philodendron oxycardium)
Tanaman ini mampu menyerap hampir semua jenis
polutan di udara.
15. Peace lily (spathiphyllum)
Tanaman ini mampu menghilangkan racun dan polutan
di dalam ruangan seperti formaldehide, benzen,
trrichloroethylen, toulena dan xilena.

3.4 Udara Ruangan dalam Meningkatkan produktivitas kerja


Rasa nyaman penting secara biologis sebab berpengaruh pada kinerja organ
tubuh manusia ketika sedang bekerja. Faktor lingkungan fisik yang
mempengaruhi kinerja karyawan, adalah pewarnaan, penerangan, udara, suara
bising, ruang gerak, keamanan.9 Dampak positif udara ruangan yang baik adalah

164
karyawan akan melaksanakan kegiatannya dengan baik dan mencapai hasil yang
optimal, mendukung kinerja dan produktivitas kerja yang dihasilkan.10 Efisiensi
kerja pegawai kantor rata-rata menguntungkan 20% setelah diberi Air
Conditioning (AC). Karena penggunaan AC mengatur keadaan udara dengan
mengawasi suhu, peredaran, kelembaban, dan kebersihan. Dengan terpenuhinya
kualitas dan kuantitas udara yang baik maka akan memberikan banyak
keuntungan bagi kantor yaitu meningkatkan produktivitas kerja, meningkatkan
mutu kerja kantor, menjaga kesehatan pegawai, meningkatkan semangat kerja dan
menimbulkan kesan yang menyenangkan bagi para tamu.11
Kualitas udara ruangan yang buruk dapat menurunkan produktivitas.12 Suhu
udara juga berpengaruh signifikan pada kelelahan mata karyawan.13 Pada tempat
pengelasan udara yang panas mampu menurunkan tingkat konsentrasi, tingkat
kesalahan yang lebih tinggi dan meningkatkan ketidakhadiran pekerja pada saat
bekerja, mengurangi produktivitas sehingga meningkatkan biaya pelatihan dan
pengobatan karena efek dari kualitas udara dalam ruangan.14 Tahun 1994 OSHA
menghitung kerugian pengusaha adalah total biaya tahunan akibat Indoor air
quality (IAQ) US $15 miliar karena inefisiensi pekerja dan cuti sakit. Suhu udara
akan mengurangi efisiensi kerja dengan keluhan kaku atau kurangnya koordinasi
otot. Suhu udara yang panas menurunkan prestasi kerja. Suhu lingkungan yang
terlalu tinggi menyebabkan peningkatan beban psikis (stres) sehingga
menurunkan konsentrasi dan persepsi kontrol terhadap lingkungan kerja yang
selanjutnya menurunkan prestasi kerja. Suhu yang terlalu tinggi dapat
menimbulkan terjadinya risiko kecelakaan dan kesehatan kerja.

4. Kesimpulan
Sumber polusi udara dalam ruangan, ventilasi yang tidak baik (52%),
kontaminasi dari dalam gedung (16%), kontaminasi yang berasal dari luar gedung
(10%), kontaminasi mikrobiologi (5%), dan kontaminasi material bangunan (4%),
lain-lain (13%). Untuk mencegah pencemaran lingkungan dan mencegah
timbulnya gangguan kesehatan terjadinya di perkantoran, Pemerintah Republik
Indonesia melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. 1405 Tahun 2002 tentang
persyaratan kesehatan lingkungan kerja perkantoran dan industri telah mengatur
persyaratan kualitas udara dalam ruangan. Kualitas udara ruangan yang dimaksud
meliputi suhu, kelembaban, debu, pertukaran udara, gas pencemar, mikrobiologi.
Kualitas lingkungan kerja yang baik dan sesuai dengan kondisi manusia sebagai
pekerja akan mendukung kinerja dan produktivitas kerja yang dihasilkan.
Sedangkan kualitas udara dalam ruangan yang buruk dapat menurunkan
produktivitas kerja.

Daftar Pustaka
1. Susanna, D. et al. Kesehatan dan Lingkungan. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia, Depok. 1998.
2. Yoga, Chandra. Polusi Udara dan Kesehatan. Arcan, Jakarta. 1992.
3. Environmental Protection Agency. Indoor Air Facts No. 4 (revised) Sick
Building Syndrome (SBS). Environmental Protection Agency, United
States//www.epa.gov/iaq/ pubs/sbs.html diakses 20 Agustus 2007. 2007.
4. Global Burden of Disease Study 2010. The Lancet. 2013.

165
5. Oktora, Bunga. Hubungan antara kualitas fisik udara dalam ruang (suhu dan
kelembaba relatif) dengan kejadian sick building syndrome (SBS) pada
pegawai kantor pusat perusahaan jasa konstuksi X di jakarta timur. Skripsi.
Departemen kesehatan lingkungan. Universitas Indonesia. 2008.
6. Lunau F, Reynolds GL. Indoor Air Quality and Ventilation. London: Selper
Ltd., 1990.
7. Environmental Protection Agency. Indoor Air Facts No. 4 (revised) Sick
Building Syndrome (SBS). Environmental Protection Agency, United States.
(online) http://www.epa.gov/iaq/pubs/sbs.html. 2007.
8. http://lifestyle.liputan6.com/read/2100188/ini-dia-3-vacuum-cleaner-alami-
untuk-serap-polusi- di-rumah-anda, diakses 21 Maret 2016.
9. Yoharnita Nur Fitriana. Hubungan Lingkungan Kerja Dengan Prestasi Kerja
Karyawan Di PT. PJB Service Sidarjo, Skripsi, Prodi Psikologi Institut Islam
Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2013. hal 20.
10. http://www.kompasiana.com/hadi_santa/pengaruh-kebisingan-temperatur-dan-
pencahayaan-terhadap-performa-kerja_550081c7813311791bfa78ae diakses
10 Maret 2016.
11. Moekijat. Tata Laksana Kantor Manajemen Perkantoran. Bandung: Mandar
Maju. 2002.
12. Wyon, D. The effects of Indoor air quality on performance and productivity.
2004.
13. Aryanti, Riski Cahya. Hubungan antara intensitas penerangan dan suhu udara
dengan kelelahan mata karyawan pada bagian administrasi di PT. Hutama
Karya Wilayah IV Semarang. Skripsi. Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang. 2006.
14. Bjarne, Olesen, Pusat Internasional untuk Indoor Lingkungan dan Energi,
Technical University of Denmark. Nils Koppels Alle, Membangun. 402, DK-
2800 Lyngby, Denmark.bwo@mek.dtu.dk

166
Kenyamanan, Kekuatan Otot, Denyut Nadi, dan Kelelahan
Mekanik Bengkel Sepeda Motor Konvensional
di Kotamadya Padang

Amrizal Arief1, Erzedin Alwi2


1
FKM, Universitas Baiturrahmah Padang
2
PT Otomotif Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang
E-mail: amrizalarief7@gmail.com, erzeddin_alwi@yahoo.com

Abstrak

Masalah ergonomi pada perbengkelan sepeda motor seperti bengkel informal adalah sikap
kerja jongkok, pada bengkel formal adalah sikap kerja berdiri, kedua sikap kerja tersebut
berpengaruh terhadap produktivitas kerja. kerja jongkok di lantai tentu akan menimbulkan
beban kerja tambahan, kerja berdiri akan menimbulkan berbagai masalah pada kaki.
Suatu studi dengan treatment bysubject design terhadap pekerja dengan sikap kerja
jongkok sebagai kontrol dan setelah diwashing out subjek diberi intervensi. Intervensi
berupa: kerja berdiri menggunakan bike lift dan duduk dikursi tambahan sesuai
antropometri pekerja. Variabel yang diteliti adalah: keluhan muskuloskeletal dengan
kuesioner Nordiac Body Map, kekuatan otot menggunakan Dynamometer, denyut nadi
menggunakan Personal ECG Recorder EP-202, kelelahan umum menggunakan
Reaction Timer, kelelahan otot menggunakan Accutrend Lactate. Data dianalisis dengan
uji t-paired. Hasil yang diperoleh: 1) dijumpai pengurangan keluhan muskuloskeletal
yang sangat berarti, 2) pengurangan kekuatan otot 6,9 %, 3) beban kerja kategori beban
kerja sedang dengan pengurangan beban kerja 39,74%, 4) kelelahan umum turun dari
kelelahan kerja sedang ke kelelahan kerja ringan dengan penurunan 37,59%, dan 5)
kelelahan otot dari ambang aerobik ke keadan normal dan turun sebanyak 45,7%.

Kata kunci: denyut nadi, kekuatan otot, kelelahan umum, kenyamanan, otot.

1. Pendahuluan
Kesehatan Kerja merupakan terjemahan dari Occupational Health adalah
bagian dari kesehatan masyarakat, atau aplikasi kesehatan masyarakat di dalam
suatu masyarakat pekerja dengan lingkungan kerjanya. Kesehatan kerja bertujuan
untuk memperoleh derajat kesehatan masyarakat pekerja dan masyarakat
lingkungan perusahaan yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental, dan sosial,
melalui usaha-usaha preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif terhadap
gangguan-gangguan kesehatan akibat kerja dan lingkungan kerja (Kurniawidjaja,
2010).
Perkembangan industri di Indonesia berlangsung amat pesat, baik industri
formal maupun industri informal seperti industri rumah tangga, pertanian,
perkebunan. Di antara industri formal, industri otomotif khususnya sepeda motor
menunjukkan kemajuan yang sangat berarti, dapat dilihat dengan hadirnya
berbagai produk dan jumlah sepeda motor yang masuk ke pasar Indonesia baik
dalam bentuk import langsung (Completely Built Up) Knock Down).
Menurut Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) pada tahun 2014
penjualan sepeda motorterus menerus mengalami peningkatan. Keadaan tersebut
sangat menggembirakan tidak saja dalam bentuk bisnis kendaraan bermotor, tetapi
juga akan ikut berpengaruh dalam bentuk pelayanan purna jual. Hal ini akan

167
merangsang pertumbuhan tenaga kerja yang bekerja pada dealer,cabang dealer
dan perbengkelan yang bersifat informal.
Implikasi lain dari berbagai hasil penjualan sepeda motor, berbagai merk
sepeda motor mendirikan perbengkelan utama dan cabang-cabangnya sebagai
tempat pelayanan purna jual. Tidak saja dikelolanya secara langsung, tetapi juga
memberikan kesempatan pada masyarakat untuk mendirikan perbengkelan dengan
persyaratan seperti merk Honda yang bernaung di bawah Astra Honda Authorized
Service Station (AHASS), Yamaha dengan Yamaha Service Shop (YSS).
Selain implikasi di atas, pengembangan sumber daya manusia berupa
peningkatan ketrampilan pekerja seperti training juga dilakukan oleh masing-
masing induk perusahaan, maupun bekerja sama dengan lembaga pendidikan
formal seperti Balai Latihan Ketrampilan Industri (BLKI) Departemen Tenaga
Kerja dan Transmigrasi. Output dari pengembangan sumber daya manusia ini
adalah untuk memenuhi tenaga kerja yang akan bekerja pada bengkel resmi,
maupun bengkel yang dikelola masyarakat dan bernaung dibawah lembaga resmi
masing-masing merk.
Peningkatan sumber daya manusia maksudnya adalah, agar pekerja dapat
melaksanakan tugasnya secara profesional, sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan serta mutu kerja yang telah menjadi ketentuan pabrik sepeda motor
masing-masing. Selain penyiapan sumber daya manusia, sarana dan prasarana
perbengkelan. Kenyataan dilapangan yang disebabkan pertumbuhan ekonomi
dalam negeri yang tidak stabil, tidak seluruh perawatan sepeda motor bisa
dilakukan konsumen pada bengkel resmi, maupun pada bengkel-bengkel yang
bernaung di bawah lembaga resmi masing-masing merek.
Hal itu disebabkan oleh berbagai pertimbangan diantaranya jarak bengkel dari
tempat tinggal konsumen, kerusakan mendadak dan biaya perbaikan. Kondisi
tersebut memacu pertumbuhan perbengkelan tidak resmi yang bersifat informal,
dengan kondisi peralatan dan tempat yang kurang sesuai dengan peruntukannya
serta sikap kerja mekanik yang tidak sesuai dengan aturan yang menunjang
kesehatan kerja.
Keberadaan perbengkelan yang bersifat informal, tentu ikut menciptakan
lapangan kerja baru dan dapat menyalurkan para pemuda yang telah pernah
belajar ketrampilan sepeda motor. Mampu mereduksi kemiskinan akibat
pengangguran karena telah ikut menciptakan lapangan kerja, juga dapat menjadi
tempat pendidikan yang bersifat informal bagi pemuda putus sekolah.
Bengkel sepeda motor informal yang keberadaanya didominasi sektor
ekonomi informal diduga kurang memenuhi persyaratan. Chia (2005) menyatakan
penyakit akibat kerja pada sektor ini tidak jauh berbeda dengan sektor industri
formal, malahan lebih beragam dan mungkin banyak yang tidak dikenali. Penyakit
akibat kerja dapat disebabkan fisik (bising, debu, getaran), bahan kimia (pestisida,
berbagai penyakit yang berhubungan dengan kimia), ergonomi (penanganan
beban, pekerjaan berulang, sikap kerja), biologi (kebersihan air, hewan) dan
penyebab lainnya.
Secara umum jenis pekerjaan yang dilakukan pada bengkel informal sama
dengan bengkel formal yaitu service, maintenance maupun overhaul, tetapi
dengan sikap kerja seperti jongkok ataupun duduk sementara di atas balok kayu.
Pengadaan bike lift seperti yang terdapat pada bengkel resmi sangat sulit
dilaksanakan pada perbengkelan informalkarena dari sisi lokasi kerja, pembiayaan

168
terlalu mahal, serta rumitnya perawatan dan perbaikannya apabila terjadi
kerusakan.
Bengkel sepeda motor formal atau yang bernaung dibawahnya hanya
menangani satu merk sepeda motor, sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada
perusahaan tersebut. Pada bengkel sepeda motor informal aktifitasnya melayani
semua merk sepeda motor, dan biasanya sepeda motor yang diperbaiki diganjal
dengan balok kayu. Mekanik bekerja dalam posisi tubuh yang tidak sempurna
yaitu dalam sikap kerja jongkok, sekali-sekali duduk pada balok kayu, dan
berakibat pada kesehatan mekanik, karena meningkatnya beban kerja.
Bystrom (2004) mengemukakan, beban kerja secara psikologis membuat
perasaan lelah dan gangguan pada muskuloskelelatal, kelelahan fisik akan
menimbulkan ketidaknyamanan, sedangkan kelelahan mental akan membuat
motivasi kerja jadi rendah. Terganggunya kenyamanan kerja akhirnya
meningkatkan kelelahan kerja, sehingga akan berpengaruh pada produktivitas
kerja.
Dari berbagai pengamatan dan wawancara yang dilakukan terhadap para
mekanik bengkel sepeda motor informal yang peneliti lakukan, terdapat berbagai
keluhan karena terlalu lama bekerja dalam sikap kerja jongkok, diantaranya terasa
pegal pada bahu serta pinggang, dan posisi punggung membungkuk dan leher
menunduk mengakibatkan leher kaku, rasa nyeri dan pegal pada leher dan
punggung. Selain itu posisi kaki yang terlipat sewaktu jongkok maupun duduk
juga menyebabkan aliran darah ke arah kaki menjadi terhambat, sehingga
menimbulkan berbagai keluhan seperti kesemutan pada tungkai bawah dan
tebalnya kaki.
Dari berbagai kasus pekerjaan pada bengkel sepeda motor informal dan
bengkel formal di atas, peneliti mengadakan penelitian pendahuluan yang
dilakukan terhadapmekanik bengkel sepeda motor informal dan formal di
Kotamadya Padang, ditemukan kasus berikut diantaranya, perbedaan energi
pekerja, indeks beban kerja, kekuatan otot, dan kelelahan kerja bengkel informal
lebih tinggi dari pada bengkel formal.
Alternatif yang diajukan adalah sikap kerja yang lebih dinamis (duduk-
berdiri), Tarwaka (2004) mengemukakan bahwa sikap duduk-berdiri merupakan
sikap terbaik dan lebih dikehendaki dari pada hanya sikap duduk atau berdiri saja.
Hal tersebut disebabkan karena memungkinkan pekerja berganti sikap kerja untuk
mengurangi kelelahan otot.
Achmadi (2013) mengemukakan, bahwa Ilmu Kesehatan Kerja berupaya
agar masyarakat dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan di-rinya, dengan
mempelajari hubungan interaktif antara tiga komponen utama obyek keilmuan,
yaitu kapasitas kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja. Ditegaskan juga bahwa
ilmu kesehatan kerja mempelajari teknik, metode serta berbagai upaya
penyelesaian masalah dengan cara menyerasikan ketiga kom-ponen keilmuan
tersebut, kesehatan kerjayang buruk akan timbul, bila ketiga komponen tersebut
tidak serasi.
Wibowa (2014) mengemukakan bahwa implementasi program pelayanan
kesehatan kerja adalah program pelayanan paripurna, dilaksanakan secara
komprehensif, diantaranya berupa penyerasian manusia dengan mesin dan alat-
alat kerja (ergonomi) yang merupakan salah satu bagian dari pelayanan preventif.

169
Penyerasian manusia dan alat-alat tersebut, adalah merupakan perilaku pe-
meliharaan kesehatan (Sucipta 2009).
Manuaba (2006) mengemukakan, ergonomi dapat mengurangi beban ker-ja,
dengan evaluasi fisiologis, psikologis atau cara-cara tidak langsung, beban kerja
dapat diukur dan dianjurkan untuk mencari penyesuaian antara kapasitas kerja,
beban kerja dan beban tambahan yang berasal dari lingkungan kerja.Dalam
melakukan berbagai usaha perbaikan terhadap faktor pekerjaan (task), lingkungan
kerja, haruslah selalu berpusat kepada pekerja.
Perbaikan sikap kerja tersebut sesuai dengan penjelasan undang-undang
nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang mengamanatkan antara lain, setiap
tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi
gangguan kesehatan pada mekanik, keluarga, masyarakat dan lingkungan
sekitarnya. Salah satu upaya adalah berusaha menerapkan konsep ergonomi pada
sarana kerja dengan mencoba pekerja bekerja dengan menggunaka bike lift sepeda
motor, artinya sikap kerja duduk-berdiri (dinamis) dengan bantuan bike lift yang
bisa diatur ketinggiannya sesuai dengan kondisi mekanik, dan kursi kerja.
Secara umum permasalahan yang timbul pada bengkel sepeda motor
gangguan kesehatan kerja pada mekaniknya, lebih banyak disebabkan oleh faktor
ketidakseimbangan antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja.
Setelah menggunakan bike lift dengan sikap kerja pekerja yang lebih dinamis,
apakah gangguan kesehatan kerja yang dialami mekanik bisa ditekan serendah-
rendahnya, dan menyamai atau mendekati gangguan kesehatan kerja yang mung-
kin timbul pada mekanik sepeda motor di bengkel resmi seperti peningkatan
kenyamanan, penurunan kekuatan otot, denyut nadi, kelelahan umum dan
kelelahan otot.

2. Metode Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksperimen, desain yang
digunakan adalah rancangan sama subjek (Kountur, 2007), maksudnya kelompok
yang mendapat perlakuan dan kelompok pengendali sebelum dan sesudah
perlakuan selalu diobservasi.
Variabel yang akan diukur dan peralatan yang digunakan untuk me-
ngumpulkan data penelitian ini ialah: Berat badan,Kekuatan otot, Denyut nadi,
Asam laktat darah dan Temperatur dan kelembaban menggunakan Hygrometer,
bising menggunakan Sound Level Meter

3. Hasil dan Pembahasan


Setelah melaksanakan eksperiemen terhadap 10 orang mekanik sepeda motor
yang berasal dari bengkel konvensional dari tangal 1 Februari sampai 9 April
2016, yang diawali dengan eksperimen kerja dengan sikap kerja jongkok
sebanyak tiga kali, diselingi washing out 27 hari, kemudian dilanjutkan
eksperimen kerja duduk berdiri (kerja dinamis) juga tiga kali.
Hasil-hasil analisa data berupa kekuatan otot, denyut jantung dan kelelahan
dapat dilihat seperti berikut:
3.1 Keluhan Kenyamanan Otot
Berdasarkan hasil analisis data kenyamanan otot pada pekerja bengkel
konvensional di Kotamadya Padang dapat dilihat pada (Tabel 1)

170
Tabel 1. Analisis Hasil Uji t-paired Total Skor Kenyamanan Otot
P0 (Sikap P1 (Sikap
No Variabel n Kerja Lama) Kerja Baru) P0-P1 p-value
RerataSB RerataSB
1 Total skor Kenya- 10 102,401,897 99,30 4,218 3,1 0,054
manan otot pretest
2 Total skor Kenya- 10 104,203,938 50,1010,92 49,1 0,000
manan tot postest
3 Beda total skor 10 1,84,826 49,7012,16 -47,9 0,000
kenyamanan otot 6

3.2 Kekuatan Otot


Berdasarkan hasil analisis data kekuatan otot pada pekerja bengkel
konvensional di Kotamadya Padang dapat dilihat pada (Tabel2)

Tabel 2. Analisis Hasil Uji t-paired Total Skor Kekuatan Otot


P0 (Sikap P1 (Sikap
No Variabel n Kerja Lama) Kerja Baru P0-P1 p-value
RerataSB RerataSB
1 Total skor ke- 10 32,143,43 31,983,62 0,16 0,427
kuatan otot pretest
2 Total skor ke- 10 33,823,27 28,655,41 5,17 0,001
kuatan otot
postest
3 Beda total skor 10 -1,961,38 3,333,88 -1,37 0,001
kekuatan otot

3.3 Denyut Nadi


Berdasarkan hasil analisis data denyut nadi sebelum bekerja, denyut nadi saat
bekerja, maupun perbedaan denyut nadi saat bekerja dan sebelum kerja pada
bengkel konvensional sepeda motor di Kotamadya Padang dapat dilihat pada
(Tabel 3)
Tabel 3. Analisis Hasil Uji t-paired Total Skor Denyut Nadi
P0 (Sikap P1 (Sikap
No Variabel n Kerja Lama) Kerja Baru P0-P1 p-value
RerataSB RerataSB
1 Denyut Nadi saat 10 76,894,46 79,664,18 -2,77 0,245
istirahat (dpm)
2 Denyut Nadi saat 10 109,358,98 99,224,85 10,13 0,001
kerja (dpm)
3 Beda total Denyut 10 32,4610,05 19,564,87 12,9 0,001
Nadi

3.4 Kelelahan Umum


Berdasarkan hasil analisis data kelelahan pekerja bengkel konvensional pada
sepeda motor di Kotamadya Padang dapat dilihat pada (Tabel 4)

171
Tabel 4. Analisis Hasil Uji t-paired Total Skor Kelelahan Umum
P0 (Sikap Kerja P1 (Sikap Kerja
p-
No Variabel n Lama) Baru P0-P1
value
RerataSB RerataSB
1 Total Skor Kelelah- 10 165,7491,210 166,411,062 - 0,30
an umum Pretest 6608 8
2 Skor Kelelahan 10 451,27911,555 308,52112,80 142, 0,00
umum Postest 75 3
3 Beda Skor 10 285,46512,02 178,14764,1 107, 0,00
Kelelahan umum 31 0

3.5 Kelelahan Otot


Berdasarkan hasil analisis data kelelahan otot pekerja bengkel konvensional
pada sepeda motor di Kotamadya Padang dapat dilihat pada (Tabel 5)

Tabel 5. Analisis Hasil Uji t-paired Total Skor Kelelahan Otot


P0 (Sikap Kerja P1 (Sikap
p-
No Variabel n Lama) Kerja Baru P0-P1
value
RerataSB RerataSB
1 Total Skor 10 2,020,12 1,970,04 0,05 0,248
KelelahanPretest
2 Skor Kelelahan 10 3,650,24 2,870,31 0,78 0,001
Postest
3 Beda Skor 10 1,640,22 0,890,33 0,75 0,002
Kelelahan

4. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian perobahan sikap kerja mekanik bengkel sepeda
motor konvensional dari sikap kerja jongkok kesikap kerja dinamis (duduk-
berdiri), dapat simpulan sebagai berikut:
a. Kenyamanan tubuh mekanik sepeda motor konvensional setelah dirobah jadi
sikap kerja dinamis (duduk-berdiri) tenyata penurunan kenyamanan tubuh
mekanik bekerja sangat berarti.
b. Gangguan kekuatan otot tangan mekanik sepeda motor pada bengkel sepeda
motor konvensional, setelah dirobah dengan sikap kerja dinamis (duduk-
berdiri) ternyata kekuatan otot mekanik tersebut cukup berarti, artinya
gangguan otot mekanik sepeda motor tersebut semakin kecil.
c. Denyut jantung mekanik sepeda motor pada bengkel konvensional yang kerja
dengan sikap kerja jongkok, setelah dirobah dengan sikap kerja dinamis
(duduk-berdiri) ternyata denyut nadi mekanik tersebut tuurn cukup berarti,
artinya beban kerja mekanik tersebut semakin ringan.
d. Kelelahan umum mekanik sepeda motor pada bengkel konvensional, setelah
dirobah dengan sikap kerja dinamis (duduk-berdiri) tenyata penurunan
kelelahan umum mekanik tersebut turun sangat berarti.
e. Kelelahan otot mekanik sepeda motor pada bengkel konvensional, setelah
dirobah dengan sikap kerja dinamis (duduk-berdiri) tenyata kelelahan otot
mekanik tersebut turun cukup berarti, artinya kelelahan mekanik sepeda motor
tersebut semakin kecil.

172
5. Saran
Dari kesimpulan baik berupa penurunan kekuatan otot, penurunan beban
kerja yang ditandai dengan penurunan denyut nadi dan penurunan kelelahan,
setelah terjadinya perobahan sikap kerja dari semula sikap kerja jongkok ke sikap
kerja dinamis (duduk berdiri) pada bengkel sepeda motor konvensional. Perlu
kiranya ditindak lanjuti penelitian ini pada sektor informal lainnya, karena
bagaimanapun penurunan beban kerja, kekuatan otot, dan kelelahan dengan
sendirinya akan berdampak positif terhadap produktivitas kerja.

Daftar Pustaka
Achmadi, U. F. 2013. Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Bystrom, P., Hanse, J, J. & Kjellberg, A. 2004. Appraised Psychological
Workload, Muskuloskeletal Symptoms, and the Mediating Effect of
Fatique; A Structural Equation Modeling Approach. Scandinavian Journal
of Psychology.Hal 331-341.
Chia S.E. 2005. Common Occupational Diseases Among Workers In The
Informal Sectors and A suggested Approach to Prevent and Control These
Diseases. Presented at International Conference on Occupational Health
Aspects of Industrial Development and Informal Sector, 30 November
2005. Yogyakarta
Kountur, R. 2007. Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Penerbit
PPM. Jakarta.
Kurniawidjaja, LM, 2010. Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. UI Press. Jakarta
Manuaba, A. 2006. Macro Ergonomics Approach on Work Organization with
Special Reference to the Utilization of Total Ergonomich SHIP Approach
to Obtain Human, Competitive and Sustainable Work System and Product.
Proceeding Seminar Nasional Ergonomi. Surabaya.
Sucipta,IN. 2009. Agro Ergonomi, Dasar-Dasar Ergonomi di Bidang Pertanian.
Udayana University Press.
Tarwaka, Bakri. H, A, Sudiajeng. L. 2004. Ergonomi, Untuk Keselamatan, Kese-
hatan dan Produktivitas. Uniba Press. Surakarta.
Wibowa, A 2014. Kesehatan Masyarakat Di Indonesia. Konsep, Aplikasi dan
Tantangan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

173
Kesejahteraan di Tempat Kerja, Menciptakan Lingkungan Kerja
yang Positif, dan Peningkatan Produktivitas Karyawan

Charli Sitinjak
Program Pascasarjana, Universitas Muhammadyah Malang
E-mail: charli16cg2@yahoo.co.id

Abstrak

Dalam dunia kerja sering dijumpai penurunan kualitas produksi dikarenakan


ketidaknyamanan karyawan dengan suasana kerja yang penuh tekanan, ketidak
harmonisan antar karyawan, bahkan ketidaknyamanan akan peraturan yang dibuat oleh
atasan yang dianggap memberatkan karyawan dalam bekerja. Dengan meningkatkan
kesejahteraan di ruang lingkup perusahaan diangaap dapat memeberkian jawaban atas
problematika yang terjadi, sehingga sebuah perusahaan tidak hanya akan terus
berkembang, para pekerja juga jadi saling harmonis satu sama lain. Dalam tulisan ini
penulis secara fokus membahas tentang kesejahteraan bagi karyawan juga perusahaan,
dengan tujuan untuk membantu suatu perusahaan agar terhindar dari hal-hal yang
merugikan.

Kata kunci: karyawan, kesejahteraan, ruang lingkup kerja.

1. Pendahuluan
Persaingan kerja yang semakin ketat mengakibatkan perusahaan berusaha
untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki dalam menghasilkan
produk berkualitas tinggi. Apalagi saat ini kita dihadapkan dengan sebuah
tantangan besar yaitu MEA (masyarakat ekonomi ASEAN), dengan adanya MEA
ini mau tidak mau prusahanaan loka terus berlomba-lomba untuk menunjukan
kualitas agar tetap bisa eksis di dunia pasar dalam maupun luar negeri.
Dengan adanya optimalisasi demi meningkatkan kualitas kerja tersebut
membuat sebuah tekanan yang lebih besar untuk para karyawan yang bekerja.
Karyawan dituntut untuk bekerja ekstra dan memberikan kemampuan terbaik
mereka, yang bertujuan untuk dapat membantu perusahaan dalam hal kualitas dan
kuantitas prodak yang dihasilkan (Harter, Schimidt, & Keyes, 1999). Pada kondisi
ini karyawan memainkan peranan yang sangat vital dalam membantu sebuah
perusahaan agar tetap eksis.
Disaat seperti ini tidak jarang perusahaan memberlakukan kebijakan-
kebijakan sepihak tanpa mempertimbangkan kesejahteraan karyawan yang
bekerja. Kebijakan tersebut tidak jarang memberikan dampak yang buruk bagi
para karyawan, dan tidak jarang perusahaan juga tidak memperhatikan poin yang
terpenting yaitu keselamatan kerja untuk karyawan (Danna, & Griffin, 1999;
Magallares, Morales, & Rubio, 2011). Keadaan ini merupakan sebuah keadaan
yang dapat merugikan, disatu sisi perusahaan membutuhkan peningkatan produksi
dan disisi lain karyawan juga butuh kualitas pelayanan yang baik guna
meningkatkan kesejahteraan mereka (Waddell, &Burton, 2006).
Untuk menghadapi tantangan-tantangan yang lebih luas yang terjadi akibat
adanya MEA, merupakan harga mati yang harus dilakukan oleh perusahaan yaitu
meningkatkan kesejahteraan para pekerjanya. Disini para pekerja merupakan

174
kunci penentu disebuah perusahaan, mereka merupakan penentu maju mundurnya
sebuah perusahaan. Dengan demikian dapat dikatakan para petinggi perusahaan
harus mengeluarkan kebijakan tidak melihat dari sisi keuntungan perusahaan saja
namun harus melihat dari aspek pekerja juga (Kompas, 2015).
Dari permasalahan yang telah diulas pada alinea-alinea sebelumnya maka
dapat dikatakan bahwa, masih banyak perusahaan yang tidak pro kepada
karyawan-karyawan mereka. hal ini sudah tentu memberikan dampak negatif bagi
pada karyawan. Dampak negatif yang sering terjadi yaitu penurunan loyalitas
karyawan, penurunan produktivitas, jenuh ditempat kerja, dan permasalahan
lainya. Masalah-masalah ini muncul dikarenakan tekanan yang sangat tinggi yang
mengakibatkan pada pekerja memiliki stress kerja yang tinggi dan penurunan
kesejahteraan yang dirasakan oleh pada karyawan (Grebner, Semmer, Faso, Gut,
Kalin, & Elfering, 2003).
Efek dari stress yang dialami oleh karyawan bisa berakibat sangat fatal,
dilihat dari kaca mata medis stress tersebut bisa berakibat pada serangan jantung,
stroke, gangguan pencernaan, sakit kepala, pilek dan penyakit lainya, sedangkan
penyakit sikologis yang dapat timbul dikarenakan stress ditempat kerja yaiut
depresi, kecemasan, panic berlebihan, penurunan kmitmen kerja, dan
terhambatnya pembentukan emosi positif (meyer, & Maltin, 2010; Ryff, & Keyes,
1995).
Menurut laporan Medibank Private Work Stress, terjadi penurunan
pendapatan sampai dengan jumblah $. 14. 1 milyar akibat dari stress karyawan di
Australia (Australia Psychological Society Stres Nasional dan Kesejahteraan
Survey 2011, 2012, 2014. Pada tahun 2012, (dalam survey stres tahunan Amerika)
orang Amerika menyatakan bahwa 65 persen pekerjaan sebagai sumber utama
stres, (American Psychological Association (APA). Hanya 37 persen orang
Amerika yang disurvei mengatakan mereka melakukan pekerjaan yang sangat
baik mengelola stres atau sangat baik. Satu survei 2013 oleh Pusat APA untuk
Keunggulan Organisasi juga menemukan bahwa stres yang berhubungan dengan
pekerjaan adalah masalah serius. Lebih dari sepertiga orang Amerika yang bekerja
dilaporkan mengalami stres kerja kronis dan hanya 36 persen mengatakan
organisasi mereka menyediakan sumber daya yang cukup untuk membantu
mereka mengelola stres yang dialami.
1.1 Jenis Stres
Eustress merupakan stress yang baik, dikatakan baik karena seseorang yang
sedang mengalami eustress akan lebih termotivasi untuk bekerja (Spector,
Cooper, Sanchez, & ODriscoll, 2002). Setiap individu membutuhkan stress
dalam melaksanakan kerjanya, stress disini memberikan efek tantangan pada diri
seseorang untuk lebih produktif lagi dan ketika seseorang tersebut bisa melewati
tantangan tersebut mereka akan merasa bahagia.
Distress merupakan stres yang berdampak negatif. Distress didefinisikan
sebagai stres yang berlangsung secara terus menerus yang tidak dapat di
tanggulangi sendiri, meskipun individu tersebut telah berusaha sekuat tenaga
untuk menanggulangi stresnya bekerja (Spector, Cooper, Sanchez, & ODriscoll,
2002). Stress ini dapat menjadi kronis dan dapat melemahkan indivdu. Efek yang
muncul dari stress ini adalah kecemasan, depresi dan gangguan psikologis lainya.
Gejala perilaku meliputi makan berlebihan, kehilangan nafsu makan, minum,
merokok dan mekanisme koping negatif. Karakteristik distress (Stres negatif):

175
dapat berlangsung jangka pendek atau jangka panjang, dianggap di luar
kemampuan kita mengatasi, mengurangi motivasi dan menguras energi kita,
sangat tidak menyenangkan, menyebabkan masalah mental dan kesehatan, dan
mengurangi kinerja (Leach, & Kiely, 2013). Contoh: cedera pada saat latihan,
kematian orang yang dicintai, kerawanan dalam pekerjaan, atau kehilangan
pekerjaan, tidak bisa bergaul dengan rekan tim dan pengawas, kurangnya otoritas
dan kurangnya pelatihan, jadwal yang terlalu padat, kurangnya ketegasan, dan
sering menunda-ninda waktu.
Dari penejelasan pada alinea sebelumya, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa kurangnya kesejahteraan dapat berakibat fatal bagi karyawan sehingga
mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi dari sebuah perusahaan
(Dolan, Peasgood, & White, 2008). Oleh karena itu pada penelitian kali ini
penelitia ingin meneliti tentang kesejahteraan di tempat kerja yang bertujuan
menciptakan lingkungan yang positif dan meningkatkan produktivitas karyawan.

2. Tinjauan Pustaka
2.1 Kesejahteraan Karyawan di Tempat Kerja
Kesejahteraan dapat diartikan sebagai seatu keadaan dimana individu
merasakan keadaan yang damai, sehat secara jasmani dan rohani, dan padasaat
seseorang merasakan kemakmuran pada dirinya. Sedangkan kesejahteraan
ditempat kerja dapat didefinisikan sebagai kenyamanan yang dirasakan oleh
karyawan kerja yang diapatkan dari lingkungan kerja yang kondusif dan tidak
memberikan tekanan berlebih (Sheldon, Elliot, Ryan, Chirkov, Kim, Wu, Demir,
& Sun, 2004).
Kesejahteraan di dalam ruang lingkup perusahaan bisa dibentuk dengan
memberikan balas jasa (berupa materi dan non materi) yang diberikan oleh pihak
perusahaan berdasarkan hasil kerja seorang karyawan (prestasi) ataupun diberikan
berdasarkan kebijakan yang dilakukan perusahaan (Dolan, Layard, & Metcalfe,
2011; Doge, Daly, Huyton, & Sanders, 2012). Contoh sederhana yang dapat
dilakukan oleh pihak perusahaan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan
para pekerja adalah dengan cara memberikan bantuan bagi yang sakit, bantuan
tabungan karyawan, asuransi, dan pusat pelayanan kesehatan yang menjadi
kewajiban ada disetiap tempat kerja (bisa berupa klinik sederhana) (Australian
Institute of Health and Walfare, 2013).
Pentingnya program peningkatan kesejahteraan yang diberikan kepada
karyawan dengan tujuan menciptakan ruang lingkup yang positif di tempat kerja,
akan berdampak pada tingkat kesejahteraan yang baik bagi setiap karyawan,
sehingga mereka akan lebih tenang dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dengan
ketenangan tersebut diharapkan para karyawan akan lebih disiplin. Program ini
juga dapat memeberikan semangat dan dorongan yang lebih bagi pada karyawan
dalam bekerja (Keyes, Shmotkin, & Ryff, 2002).

3. Metode Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dalam penelitian ini peneliti
menggunakan orientasi studi kasus, dengan tujuan mendeskripsikan tentang
konteks dan terjadinya suatu kasus (Hanurawan, 2012). Sampel dalam penelitian
ini sebanyak 20 orang karyawan yang memiliki karakteristik telah bekerja di
sebuah perusahaan selama minimal 10 tahun. Teknik dalampengambilan sampel

176
dilakukan dengan cara purposive sampling. Metode pengambilan data yang
digunakan adalah metode wawancara mendalam.
3.1 Metode Analisis Data
Proses analisis data dalam penelitian ini dengan mengguanakan penelaahan
terhadap seluruh data yang didapat melalu wawancara dengan membuat sebuah
verbatim. Penelaahan disni dilakukan terhadap pola-pola menonjol dalam data
yang terkumpul sehingga dapat dilakukan interpretasi suatu kesimpulan
(proporsisi) sebagai hasi penelitian.
3.2 Validasi Kesimpulan
Teknik validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi data.
Triangulasi data dilakukan dengan tujuan mendapatkan keterpercayaan hasil atau
temuan penelitian dalam studi kasus.

4. Temuan dan Simpulan


4.1 Temuan
Dari ke 20 sampel yang digunakan dalam penelitian ini, didapatkan bahwa 17
orang masih memiliki keluhan yang relatif sama yaitu, kurangnya perhatian yang
diberikan oleh perusahaan dalam hal kesejahteraan pekerja. Mereka juga
menyatakan bahwa hal tersebut sudah membuat banyak teman mereka yang ogah-
ogahan, mangkir dari pekerjaan, dan tidak lagi bekerja dengan sepunuh hati.
Para perkerja pun memiliki harapan yang sama yaitu perusahaan harus
membuat kebijakan tidak hanya untuk kepentingan perusahaan namun melihat
juga dari sisi pekerja. Terkadang banyak pekerja yang sudah lelah dan sakit tetap
dipaksakan bekerja hanya karena takut untuk dipecat. Sedangkan 3 pekerja yang
lain merasakan sediit lebih baik, mereka bekerja di perusahaan yang notabene
dipegang oleh orang asing, dimana mereka telah disediakan segala sesuatunya
mulai dari keperluan dalam bekerja, makanan, dan klinik kesehatan serta
tunjangan dihari tua yang baik. Hal ini dikatakan oleh mereka dapat menjadi
penyemangat mereka dalam bekerja.
Dari hasil wawancara juga didapatkan bahwa keseluruhan karyawan juga
menuntut hal yang sama, seperti tunjangan-tunjangan, tabungan hari tua, asuransi
kesehatan dan lainya dengan tujuan menciptakan ruang lingkup kerja yang positif.
Alasan mereka mengingnkan ha-hal tersebut adalah agar mereka tidak berfikiran
negatif, dengan menciptakan hal-hal positif seperti memikirkan kesejahteraan
karyawan perusahaan secara perlahan mulai membantu karyawan untuk berfikir
positif juga dan meringankan beban pikiran mereka, dan dapat dikatan mereka
akan terhindar dari distress kerja yang akan berakibat fatal bagi karyawan dan
perusahaan.
4.2 Simpulan
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan dapat menjadi
penyeimbang dalam diri karyawan, sehingga karyawan sedikit terbantu dalam
menghadapi tekanan kerja yang tinggi, apalagi dalam menyongsong MEA
produktivitas dan kualitas produk sebuah perusahaan sudah menjadi harga mati
untuk ditingkatkan.
Dengan berhasilnya perusahaan untuk menciptakan lingkungan yang positif,
maka dapat dikatakan perusahaan tersebut telah siap dalam menyongsong MEA.
Atmosfer positif yang terhadap dalam ruang lingkup perusahaan akan sangat
berpengaruh kepada penignkatan produktivitas para karyawan, membuat

177
karyawan juga nyaman dalam menikmati pekerjaanya sehari-hari (Haworth, 2015;
Bevan, 2010).

Daftar Pustaka
Australian Institute of Health and Welfare. 2013. Strategies and practices for
promoting the social and emotional wellbeing of Aboriginal and Torres
strait islander people.
Bevan, S. 2010. The business case for employees health and well-being. The Work
Foundation.
Butterworth P, Leach LS & Kiely KM (2013). The relationship between work
characteristics, wellbeing, depression and workplace bullying: technical
findings from a survey of 3236 year old workers in Canberra and
Queanbeyan, 2013. Canberra: Safe Work Australia.
Danna, K., & Griffin, R. W. 1999. Health and well-being in the work place: A
review and synthesis of the literature. Journal of Management, 25(3), 357-
384.
Doge, R., Daly, A. P., Huyton, J., & Sanders, L. D. 2012. The challenge of
defining wellbeing. International Journal Wellbeing, 2(3), 222-235.
Dolan, P., Layard, R., & Metcalfe, M. 2011. Measuring subjective well-being for
public policy. Office for National Statistics.
Dolan, P., Peasgood, T., & White, M. 2008. Do we really know what makes us
happy? A review of the economic literature on the factors associated with
subjective well-being. Journal of Economic Psychology, 29, 94-122.
Grebner, S., et al. (2003). Working conditions, Well-being, and job-related
attitudes among call centre agents. European Journal Of Work and
Organizational Psychology, 12(4), 341-365.
Harter, J.K., Schimidt, F. L., & Keyes, C. L. M. 1999. Well-being in the
workplace and its relationship to business outcomes. American
Psychological Association, 9, 205-224.
Haworth. 2015. Workplace design for well-being. www.haworth.com.
http://print.kompas.com/baca/2015/12/01/MEA%2c-Antara-Peluang-dan-A
ncaman.
Keyes, C. L. M., Smhotkin, D., & Ryff, C. D. 2002. Optimizing well-being: The
empirical encounter of two traditions. Journal of Personality and Social
Psychology, 82(6), 1007-1022.
Magallares, A., Morales, J. F., & Rubio, M. A. 2011. The effect of work
discrimination on the well-being of Obese people. International Journal of
Psychology and Psychological Therapy, 11(20), 255-267.
Meyer, J. P., & Maltin, E, R. 2010. Employee commitment and well-being: A
critical review, theoretical framework and research agenda. Journal of
Vocational Behavior, 77, 323-337.
Ryff, C. D., & Keyes, C. L. M. 1995. The structure of psychological well-being
revisited. Journal of Personality and Social Psychology, 89(4), 719-727.
Sheldon, K. M., Elliot, A. J., Ryan, R. M., Chirkov, V., Kim, Y., Wu, C., Demir,
A., & Sun, Z. 2004. Self-concordance and subjective well-being in four
cultures. Journal of Cross Cultural Psychology, 32(2), 209-223.

178
Spector, P. E., Cooper, C. L., Sancez, J, I., & ODriscoll, M. 2002. Locus of
control and well-being at works: How generalizable are western findings?
Academy of Management Journal, 45(2), 453-466.
Waddell, G., & Burton, A. K. 2006. Is work god for your health and well-being.
www.tsoshop.co.uk.

179
Pengaruh Postur Kerja Terhadap MSDs Karyawan Instalasi
Central Sterile Supply Department, Laundry, dan Jahit
di RSUD Dr. Moewardi, Surakarta

Agustina Dwi Suryawati1, Sumardiyono2, Yeremia Rante Ada2


1
Mahasiswi Program D3 Hiperkes dan KK FK UNS Jl. Ir. Sutami 36 A, Surakarta, 57126
2
Dosen Program D3 Hiperkes dan KK FK UNS Jl. Ir. Sutami 36 A, Surakarta, 57126
E-mail: agustinads.hiperkes@gmail.com

Abstrak

Aktivitas kerja Instalasi CSSD, Laundry dan Jahit RSUD Dr. Moewardi Surakarta
mayoritas menggunakan manual handling seperti penerimaan alat, pencucian alat,
pengemasan alat, pengambilan linen, pemilahan linen kotor, penimbangan linen, dsb.
Pekerjaan tersebut berpotensi menyebabkan MSDs (Musculoskeletal Disorders) karena
dilakukan secara repetitif dengan postur tubuh tidak alamiah seperti membungkuk,
memuntir, mengangkat tangan terlalu tinggi, dll.
Metode penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Teknik
pengambilan data menggunakan rancangan perlakuan ulang (one group pre and posttest
design). Pengukuran efek dilakukan sebelum dan sesudah bekerja. Postur kerja dinilai
menggunakan metode REBA (Rapid Entire Body Assessment), MSDs dinilai
menggunakan kuesioner NBM (Nordic Body Map). Populasi penelitian 42 orang, sampel
diambil 30 orang dengan teknik random sampling. Analisis statistik menggunakan
Wilcoxon Test.
Menurut penilaian REBA, terdapat dua tingkat risiko kerja yaitu Sedang (skor 5-7) dan
Tinggi (skor 8-9). Pada uji statistik perbedaan MSDs berdasarkan risikonya diperoleh
p=0,335;t=-0,964. Hasil ini menunjukkan tidak ada perbedaan MSDs pada pekerja dengan
risiko Sedang dan Tinggi. Selanjutnya dilakukan uji statistik sebelum dan sesudah bekerja
pada masing-masing risiko, dihasilkan: Risiko sedang (t=-3,519; p=0,000), risiko tinggi
(t=-3,183; p=0,001), risiko sedang dan tinggi (t=-4.706; p=0,000). Sedangkan variabel
pengganggu: jenis kelamin (t=-0,958; p=0,338), kebiasaan merokok (t=-0,338;p=0,736),
IMT (r=0,189; p=0,318), umur (r=0,397; p=0,030).
Tidak ada perbedaan MSDs pada risiko postur kerja Sedang dan Berat, tetapi ada
perbedaan MSDs sebelum dan sesudah bekerja. Variabel jenis kelamin, kebiasaan
merokok, IMT tidak berpengaruh terhadap hasil penelitian ini, sedangkan umur
berpengaruh terhadap MSDs.

Kata kunci: MSDs, postur kerja,.

1. Pendahuluan
Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) adalah keluhan pada bagian
otot-otot skeletal yang dirasakan seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan
sampai berat apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam kurun
waktu yang lama maka dapat menyebabkan kerusakan pada otot, saraf, tendon,
persendian, kartilago, dan discus interveteblaris.[1] Faktor penyebab terjadinya
keluhan muskuloskeletal yaitu peregangan otot yang berlebihan (overexertion),
aktivitas berulang, dan sikap kerja tidak alamiah. Faktor penyebab sekundernya
ialah tekanan, getaran, dan mikroklimat. Beberapa ahli menjelaskan bahwa faktor
individu seperti umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, kekuatan

180
fisik dan ukuran tubuh juga dapat menjadi penyebab terjadinya keluhan otot
skeletal.[2]
Hasil Laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan
bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja industri lain.
Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum, terkilir, sakit pinggang,
tergores/terpotong, luka bakar, penyakit infeksi dan lain-lain. Di Australia,
diantara 813 perawat, 87% pernah low back pain prevalensi 42% dan di AS
insiden cedera muskuloskeletal 4,62/100 perawat per tahun. Cedera punggung
menghabiskan biaya kompensasi terbesar, yaitu lebih dari 1 milliar $ per tahun.
Khusus di Indonesia data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS
belum tergambar dengan jelas, namun diyakini banyak keluhan-keluhan dari para
petugas RS sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS. [3]
Beragamnya jenis pekerjaan, mayoritas masih menggunakan manual
handling dan bersifat repetitif, karyawan di Rumah Sakit sangat rentan terhadap
gangguan sistem muskuloskeletal. RSUD Dr. Moewardi merupakan rumah sakit
terbesar di Surakarta. Salah satu pekerjaan di RSUD Dr. Moewardi yang
menggunakan manual handling ialah pekerjaan di Instalasi CSSD (Central Sterile
Supply Department), Laundry dan Jahit. Pekerjaan yang ada di CSSD antara lain
penerimaan alat, pencucian alat, setting alat IBS (Instalasi Bedah Sentral),
pengemasan alat, kasa, dan linen IBS, serta sterilisasi. Instalasi Laundry pekerjaan
yang dilakukan antara lain pengambilan linen, pemilahan linen kotor,
penimbangan, pencucian linen, pengeringan linen, pemilahan linen bersih,
penyeterikaan, pelipatan linen, dan penyimpanan linen. Instalasi Jahit kegiatan
yang dilakukan adalah pembuatan linen yang belum terencana dan daur ulang atau
permak linen.[4]
Aktivitas-aktivitas tersebut dikerjakan dengan posisi berdiri maupun duduk
dan berpotensi menyebabkan MSDs karena dilakukan secara repetitif dengan
postur tubuh tidak alamiah seperti membungkuk, memuntir, mengangkat tangan
terlalu tinggi, dll. Berdasarkan wawancara dengan salah satu karyawan, beliau
mengeluh nyeri pinggang setelah melakukan pekerjaanya. Oleh karena itu peneliti
tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul Pengaruh Postur Kerja
terhadap MSDs pada Karyawan Instalasi CSSD, Laundry dan Jahit di RSUD Dr.
Moewardi Surakarta.

2. Metode Penelitian
Penilitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan
pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan data menggunakan rancangan
perlakuan ulang (one group pre and posttest design). Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh karyawan di Instalasi CSSD, Laundry, dan Jahit RSUD Dr.
Moewardi Surakarta yang berjumlah 42 orang dan yang diambil sebagai sampel
adalah 30 orang dengan menggunakan teknik sampling simple random sampling.
Simple random sampling adalah metode penarikan dari sebuah populasi dengan
cara tertentu sehingga setiap anggota populasi atau semesta tadi memiliki peluang
yang sama untuk terpilih atau terambil.[5]
Postur kerja dinilai menggunakan metode REBA (Rapid Entire Body
Assessment). Penilaian tingkat keluhan muskuloskeletal menggunakan kuesioner
NBM (Nordic Body Map) yang dilakukan 2 kali, yaitu pada saat sebelum bekerja
dan sesudah bekerja. Pengaruh tingkat risiko postur kerja terhadap MSDs

181
dianalisis menggunakan Mann Whitney Test sedangkan perbedaan keluhan
muskuloskeletal sebelum dan sesudah bekerja dianalisis menggunakan Wilcoxon
Test, karena termasuk uji hipotesis komparatif dengan variabel numerik dua
kelompok (berpasangan) dan data tidak berdistribusi normal.[6] Faktor risiko yang
berhubungan dengan MSDs seperti jenis kelamin dan kebiasaan merokok
dianalisis dengan Mann-Whitney Test, usia dan Indeks Massa Tubuh dianalisis
dengan Spearman Test.

3. Hasil Penelitian
3.1. Karakteristik Sujek Penelitian
Jumlah subjek penelitian sebanyak 30 orang, adapun karakteristik subjek
penelitian tersaji pada tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian


No. Karakteristik SD Range
1. Umur (tahun) 37,5 9,9 2457
2. Indeks Massa Tubuh (kg/m2) 25,1 4,1 17,937,6
No. Karakteristik Varian Frekuensi Persentase
Laki-Laki 23 76,7%
3. Jenis Kelamin
Perempuan 7 23,3%
Tidak Merokok 24 80%
4. Kebiasaan Merokok
Merokok 6 20%

3.2. Hasil Penilaian REBA

Tabel 2. Hasil Penilaian REBA


No. Pekerjaan REBA Tingkat Aksi Tingkat Risiko
1. Penyeterikaan Linen
Pemilahan Linen Bersih
5 2 Sedang
Pengemasan Kasa
Penjahitan Linen
2. Penyimpanan Linen
Sterilisasi Alat 6 2 Sedang
Pengemasan Linen IBS
3. Pelipatan Linen 7 2 Sedang
4. Penyettingan Alat IBS 8 3 Tinggi
5. Pemilahan Linen Kotor
Pencucian Alat 9 3 Tinggi
Pencucian Linen Kotor

Berdasarkan tabel diatas pekerjaan di Instalasi CSSD, Laundry dan Jahit


termasuk dalam tingkat risiko sedang dan tinggi. Dalam penelitian ini karyawan
yang bekerja dengan postur kerja tingkat risiko sedang sebanyak 17 orang (56,7%)
dan tingkat risiko tinggi sebanyak 13 orang (43,3%).
3.3. Hasil Pengukuran Keluhan Muskuloskeletal
Hasil pengukuran keluhan muskuloskeletal dengan menggunakan kuesioner
Nordic Body Map yang dilakukan sebelum dan sesudah bekerja tersaji pada tabel
hasil pengukuran MSDs dibawah ini.

182
Tabel 3. Hasil Pengukuran MSDs
No. Keluhan Muskuloskeletal SD Range
1 Sebelum Bekerja ( total skor) 29,7 5,2 2840
2 Sesudah Bekerja ( total skor) 42,1 10,4 2872

Skor gangguan muskuloskeletal dapat dikategorikan tingkat risikonya


berdasarkan total skor. Risiko rendah (28-49), risiko sedang (50-70), risiko tinggi
(71-91), dan risiko sangat tinggi (92-112).[2]Apabila hasil penelitian ini
dikategorikan berdasarkan tingkat risikonya dapat disajikan pada gambar 1.

Interpretasi pada gambar 1 tersebut menunjukkan tingkat keluhan


muskuloskeletal karyawan meningkat sesudah bekerja, pada risiko tinggi dari 0%
menjadi 3,3%, pada risiko sedang (3,3% menjadi 13,3%). Dan untuk risiko sedang
menurun dari 96,7% menjadi 83,3%.

3.4. Hasil Uji Statistik

Tabel 4. Hasil Uji Statistik


Variabel Variabel Terikat
No. n Uji Statistik Hasil Uji P Simpulan
Bebas (Skor MSDs)
Sebelum Bekerja Spearman r = -0,052 0,786 Tidak Signifikan
1. Umur 30
Sesudah Bekerja Test r = 0,397 0,030 Signifikan
Sebelum Bekerja Spearman r = 0,131 0,489 Tidak Signifikan
2. IMT 30
Sesudah Bekerja Test r = 0,189 0,318 Tidak Signifikan
Sebelum Bekerja t = -0,526 0,599 Tidak Signifikan
Jenis Mann-
3. 30 Tidak Signifikan
Kelamin Sesudah Bekerja Whitney Test t = -0,958 0,338
Kebiasaan Sebelum Bekerja Mann- t = -0,111 0,911 Tidak Signifikan
4. 30
Merokok Sesudah Bekerja Whitney Test t = -0,338 0,736 Tidak Signifikan
Postur Sebelum Bekerja Mann- t = -0,359 0,719 Tidak Signifikan
5. 30
Kerja Sesudah Bekerja Whitney Test t = -0,964 0,335 Tidak Signifikan
Postur
Kerja Sebelum dan Wilcoxon
6. 17 t = -3,519 0,000 Signifikan
Risiko Sesudah Bekerja Test
Sedang
Postur
Kerja Sebelum dan Wilcoxon
7. 13 t = -3,183 0,001 Signifikan
Risiko Sesudah Bekerja Test
Tinggi
Postur
Kerja Sebelum dan Wilcoxon
6. 30 t = -4,706 0,000 Signifikan
Sedang dan Sesudah Bekerja Test
Tinggi

183
4. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengukuran REBA, pekerjaan yang ada di Instalasi
CSSD, Laundry dan Jahit RSUD Dr. Moewardi termasuk dalam tingkat risiko
sedang dan tinggi, karena pekerjaan mereka dilakukan dengan posisi tubuh yang
tidak alamiah seperti mengangkat tangan terlalu tinggi pada pemilahan linen
kotor, mengangkat beban yang berat pada saat penerimaan alat kotor,
membungkuk pada saat pencucian alat, memuntir saat memasukkan linen ke
mesin cuci (Gambar untuk setiap pekerjaan tersaji di lampiran). Pekerjaan-
pekerjaan tersebut dilakukan secara berulang-ulang, baik dalam posisi duduk
maupun berdiri. Peter Vi menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya keluhan sistem muskuloskeletal ialah peregangan otot
yang berlebihan, aktivitas berulang dan sikap kerja tidak alamiah.[7] Sehinga
karyawan di Instalasi CSSD, Laundry dan Jahit RSUD Dr. Moewardi berisiko
terkena gangguan Muskuloskeletal Disorders (MSDs).
Analisis statistik hubungan antara usia dengan keluhan muskuloskeletal
sebelum bekerja menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Hal ini berarti usia
tidak berpengaruh terhadap keluhan muskuloskeletal sebelum bekerja. Namun,
hasil analisis statistik hubungan antara umur dengan keluhan muskuloskeletal
sesudah bekerja menunjukkan hasil yang signifikan (p < 0,05). Nilai r=0,397,
menunjukkan kekuatan hubungan lemah dan arah hubungan. Dengan demikian
semakin tinggi usia karyawan, semakin tinggi pula tingkat risiko keluhan MSDs
yang dirasakan karyawan setelah bekerja.
Hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT), jenis kelamin dan kebiasaan
merokok dengan keluhan muskuloskeletal baik sebelum maupun sesudah bekerja
didapatkan hasil analisis statistik yang tidak signifikan (p>0,05). Hal ini
menunjukkan bahwa dalam penelitian ini IMT, jenis kelamin, dan kebiasaan
merokok tidak mempengaruhi terjadinya keluhan muskuloskeletal, baik sebelum
maupun sesudah bekerja.
Perbedaan keluhan muskuloskeletal pada postur kerja tingkat risiko sedang
dan tinggi, baik sebelum maupun sesudah bekerja didapatkan hasil statistik yang
tidak signifikan (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan MSDs
antara risiko postur kerja sedang dan tinggi. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan
yang dilakukan bervariasi, selalu dilakukan rolling pekerjaan setiap 2 hari sekali,
tersedia waktu pemulihan atau recovery setelah karyawan melakukan pekerjaan.
Pada analisis statistik perbedaan keluhan muskuloskeletal sebelum dan
sesudah bekerja pada masing-masing tingkat risiko postur kerja yaitu sedang dan
tinggi, keduanya menunjukkan hasil yang signifikan (p<0,05). Kemudian
dilakukan analisis terhadap keluhan MSDs sebelum dan sesudah bekerja pada
kedua risiko postur kerja (digabung), didapatkan hasil yang signifikan pula
sebesar 0,000 (p < 0,05), nilai t bernilai negatif sebesar -4,706 menunjukkan rata-
rata skor untuk keluhan muskuloskeletal sebelum bekerja lebih rendah
dibandingkan dengan rata-rata skor keluhan muskuloskeletal setelah bekerja,
artinya ada peningkatan keluhan muskuloskeletal setelah responden melakukan
pekerjaan.

5. Kesimpulan
Tidak ada perbedaan keluhan muskuloskeletal pada risiko postur kerja
sedang dan berat, tetapi ada perbedaan keluhan muskuloskeletal sebelum dan

184
sesudah bekerja.Terjadi peningkatan keluhan muskuloskeletal setelah responden
bekerja.Variabel jenis kelamin, kebiasaan merokok, IMT tidak berpengaruh
terhadap hasil penelitian ini, sedangkan umur berpengaruh terhadap MSDs,
semakin bertambahnya umur karyawan semakin tinggi pula keluhan MSDs yang
dirasakan.

Daftar Pustaka
1. Tarwaka, Solichul H.A., Bakri, Lilik. 2004. Ergonomi untuk Keselamatan,
Kesehatan dan Produktivitas Kerja. Surakarta: Uniba Press.
2. Tarwaka, 2010. Ergonomi Industri, Dasar-dasar Pengetahuan Ergonomi dan
Aplikasi di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan Press Solo. pp: 283-333.
3. Menteri Kesehatan RI. 2007. Pengantar Pedoman Manajemen Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik
Indonesia. pp: 4.
4. RSUD Dr. Moewardi. 2015. Instalasi Pencuci Hama dan Jahit.
http://rsmoewardi.jatengprov.go.id/dtlpelayanan-40-instalasi-pensuci-hama-
dan-cuci-jahit.html. (11 Maret 2016)
5. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. pp: 126.
6. Dahlan M. S. 2009. Statistik untuk Kedokteran Dan Kesehatan. Jakarta:
Salemba Medika. pp: 66-79.
7. Peter Vi. 2000. Construction Health: Musculoskeletal Disorder what are the
causes and controls in costruction. Magazine Vol 11 No.3.

185
Lampiran

Gambar 1. Pencucian Alat Gambar 2. Penyettingan Gambar 3. Pengemasan


Alat IBS Linen IBS

Gambar 4. Pengemasan Kasa Gambar 5. Sterilisasi Alat Gambar 6. Pemilahan Linen Kotor

Gambar 7. Pencucian Linen Gambar 8. Pemilahan Linen Gambar 9. Penyeterikaan


Bersih Linen

Gambar 10. Pelipatan Gambar 11. Penyimpanan Gambar 12. Penjahitan Linen
Linen Linen Bersih

186
Penilaian Risiko Terhadap Kondisi Ergonomi
Pengrajin Songket Fikri Koleksi
di Talang Semut Bukit Tanggal, Palembang

Septia Milanda, Desca Olympia Citra


Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya, Indralaya
Tel. 089698000451, E-mail: septiamilanda@yahoo.co.id
Tel. 089627231319, E-mail: descaolympiac@gmail.com

Abstrak

Dunia industri di zaman modern saat ini selalu menginginkan dan menuntut produktivitas
kerja yang optimum dari para pekerjanya. Perkembangan IPTEK dapat meningkatkan
produktvitas dengan berbagai metode baik menggunakan alat, sistem, ataupun prosedur
tertentu untuk menjaga kenyamanan dan keamanan bagi pekerja. Di dunia industri yang
belum konvensional, aktivitas manual seperti mengangkat, mengambil, menaruh,
mendorong, dan menarik benda masih dilakukan. Bila aktivitas ini dilakukan berulang
akan membahayakan kesehatan pekerja dan dapat mengakibatkan keluhan berupa
musculoskeletal disorder atau fatigue karena postur tubuh yang salah.
Metode penulisan dengan observasi dan alat ukurnya berupa dokumentasi guna
mendapatkan data primer dan menggunakan software RULA (Rapid Upper Limb
Assessment) sebagai media penghitungan rating beban musculoskeletal dalam suatu
pekerjaan dimana seseorang memiliki risiko pada pembebanan bagian atas tubuh dan
leher kemudian diinterpretasikan dalam bentuk scoring.
Berdasarkan hasil analisis, postur kerja pengrajin songket Fikri Koleksi Talang Semut
Bukit Sangkal Palembang Tangga Buntung bernilai 5 menurut metode alat ukur RULA.
Hasil scoring 5 menunjukkan bahwa pekerja melakukan pekerjaan dengan posisi kerja
yang menimbulkan cidera. Beberapa gerakan berulang (repetitive motion) bisa
menimbulkan kelelahan. Dengan demikian, pekerja pada pengrajin songket di Fikri
Koleksi Talang Semut Bukit Sangkal Palembang melakukan pekerjaan dengan posisi
kerja belum tepat sehingga bisa menimbulkan cidera. Perlunya evaluasi lebih lanjut dan
perubahan postur tubuh selama bekerja.

Kata kunci: ergonomi, pengrajin songket, penilaian risiko, RULA.

1. Pendahuluan
Dunia industri di zaman modern saat ini selalu menginginkan dan menuntut
produktivitas kerja yang optimum dari para pekerjanya. Perkembangan IPTEK
dapat meningkatkan produktvitas dengan berbagai metode baik menggunakan alat,
sistem, ataupun prosedur tertentu untuk menjaga kenyamanan dan keamanan bagi
pekerja. Di dunia industri yang belum konvensional, aktivitas manual seperti
mengangkat, mengambil, menaruh, mendorong, dan menarik benda masih
dilakukan. Bila aktivitas ini dilakukan berulang akan membahayakan kesehatan
pekerja dan dapat mengakibatkan keluhan berupa musculoskeletal disorder atau
fatigue karena postur tubuh yang salah, sehingga perkembangan ergonomic
terjadi sekitar pertengahan abad ke-20 mulai berkembang disiplin ilmu tentang
perancangan peralatan dan fasilitas kerja yang berdasarkan kondisi fisiologi, yang
dikenal dengan ergonomi, negara di Eropa Barat dikenal dengan istilah Human
Factor Engineering atau Human Engineering. Definisi ergonomi yang disebut

187
sebagai human factor. (Wignjosoebroto, 1995). Penekanan pada keberadaan
manusia dan interaksinya dengan produk, perlengkapan,fasilitas, prosedur dan
lingkungan kerjanya sehari-hari. Tujuan human factor meningkatkan efisiensi
dan efektifitas kerja.
Dari hasil penelitian sebelumnya, diketahui bahwa mayoritas responden
pada usia berisiko. Pada umumnya nyeri keluhan pada musculoskeletal mulai
dirasakan pada usia kerja, yaitu 25-65 tahun. Keluhan pertama biasanya dirasakan
pada umur 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus meningkat sejalan
bertambahnya umur. Hal ini dikarenakan kekuatan dan ketahanan otot mulai
menurun, sehingga risiko terjadinya keluhan muskuloskletal meningkat. Dari hal
tersebut maka usia mempengaruhi terjadinya keluhan subjektif pada punggung
(Koesyanto, H. 2013). Menurut (Hendra dan Suwandi Rahardjo, 2009) bahwa
pekerja yang mempunyai masa kerja lebih dari 4 tahun mempunyai risiko
gangguan muskuloskeletal 2,775 kali lebih besar dibandingkan dengan pekerja
dengan masa kerja 4 tahun. Menurut Boshuzen dalam Mayrika dkk. (2009), usia
lebih dari 5 tahun lebih berisiko terkena nyeri punggung dibandingkan dengan
responden dengan masa kerja kurang dari 5 tahun. Kemudian, nyeri dan rasa tidak
nyaman pada tengkuk pada umumnya terjadi pada waktu kerja dengan pekerjaan
yang beban kerja berat, pekerjaan manual dengan duduk terus menerus (Depkes
R1 2004).
Pada penelitian ini, pengrajin songket dipilih sebagai sampel untuk
mengetahui seberapa besar mengalami cidera akibat posisi tidak ergonomis dalam
menenun songket. Pengukuran terhadap kondisi ergonomi bisa dilakukan dengan
berbagai cara, salah satunya yaitu RULA (Rapid Upper Limb Assessment). RULA
merupakan suatu pengembangan metode penelitian pada pemeriksaan workplace
yang ergonomis dimana kerja yang dilakukan berhubungan dengan tubuh bagian
atas (upper limb) yang secara tidak teratur. RULA ini merupakan suatu alat
rekaman yang memproses biomekanika dan postur tubuh dengan peringatan pada
leher, punggung dan tubuh bagian atas (Mc Actamney dan Corlett, 1993).

2. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode
observasi lapangan dan alat ukurnya berupa dokumentasi guna mendapatkan data
primer dan menggunakan software RULA (Rapid Upper Limb Assessment)
sebagai media penghitungan rating beban musculoskeletal dalam suatu pekerjaan.
Penelitian ini dilakukan terhadap pengrajin songket Fikri Koleksi yang ada di
Talang Semut Bukit Tanggal, Palembang.

3. Hasil dan Pembahasan


RULA (Rapid Upper Limb Assessment) sebagai media penghitungan
rating beban musculoskeletal dalam suatu pekerjaan dimana seseorang memiliki
risiko pada pembebanan bagian atas tubuh dan leher kemudian diinterpretasikan
dalam bentuk scoring. Prosedur dalam pengembangan metode RULA meliputi 3
(tiga) tahap yaitu tahap pengembangan metode untuk merekam postur kerja, tahap
pengembangan sistem penilaian dengan skor, dan tahap pengembangan dari skala
tingkat tindakan yang memberikan panduan pada tingkat risiko dan kebutuhan
untuk mengadakan penilaian yang lebih detail dan tahap-tahap tersebut dan
memiliki 12 langkah dapat dijelaskan sebagai berikut:

188
a. Tahap 1: Pengembangan metode untuk merekam postur kerja; penilaian
sikap dan posisi tubuh pada saat bekerja yang dibagi menjadi kelompok A dan
B. A terdiri dari lengan atas, bawah, dan pergelelangan tangan disebut dengan
skor A
b. Tahap 2: Pengembangan system skor untuk pengelompokan bagian tubuh
c. Tahap 3: Pengembangan Grand Score dan Action List

STEP 1 STEP 2

189
STEP 3 Sampai STEP 5

STEP 6 Sampai STEP 9

190
STEP 10 Sampai STEP 11

STEP 12 dan Kesimpulan

Hasil observasi dan pengukuran diatas terhadap posisi ergonomi pengrajin


songket Fikri Koleksi bernilai 5. Hasil scoring 5 menunjukan bahwa pekerja
melakukan pekerjaan dengan posisi kerja yang menibimbulkan cidera. Beberapa
gerakan berulang (repetitive motion) bisa menimbulkan kelelahan. Dengan
demikian, pekerja pada pengrajin songket di Fikri Koleksi Talang Semut Bukit
Sangkal Palembang melakukan pekerjaan dengan posisi kerja belum tepat
sehingga bisa menimbulkan cidera

191
Tabel 1. Kategori tindakan RULA
Kategori Tindakan Level Risiko Tindakan
1-2 Minimum Aman
3-4 Kecil Diperlukan beberapa waktu kedepa
5-6 Sedang Tindakan dalam waktu dekat
7 Tinggi Tindakan sekarang juga

Penelitian sebelumnya, penilaian risiko dengan subjek keluhan


Musculoskeletal Disorders menggunakan desain penelitian cross sectional
dengan melalukan observasi dan penyebaran kuesioner pada pengrajin dari
pekerjaan bertenun songket menunjukan tingkat ergonomi tinggi skor RULA
bernilai tujuh (Elza, 2012)
Penilaian risiko dengan menggunakan metode RULA terhadap pengrajin
songket di Fikri Koleksi pada proses pembuatan songket dengan menggunakan
alat konvensional yaitu dayan termasuk pada level risiko sedang (5). Hal ini
memberikan informasi bahwa aktivitas proses pembuatan songket diambil
tindakan dalam waktu dekat.

4. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan penelitian diatas diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Hasil observasi dan pengukuran menggunakan software RULA terhadap posisi
ergonomi pengrajin songket Fikri Koleksi dapat disimpulkan bernilai 5.
Hasil scoring 5 menunjukkan bahwa pekerja melakukan pekerjaan dengan
posisi kerja yang menimbulkan cidera.
2. Penilaian risiko menggunakan software RULA terhadap pekerja pada
pengrajin songket di Fikri Koleksi Talang Semut Bukit Sangkal Palembang
dengan hasil scoring 5. Hal ini memberikan informasi bahwa aktivitas proses
pembuatan songket diambil tindakan dalam waktu dekat.
Adapun rekomendasi yang disarakan yaitu evaluasi lebih lanjut dan
perubahan postur tubuh selama bekerja atau penyesuaian alat songket terhadap
posisi pekerja serta penyuluhan yang diberikan berkesinambungan kepada
pengrajin tentang ergonomi saat bekerja terutama pada pembuatan songket untuk
menghindari risiko kerja.

Daftar Pustaka
Ahmad H. Asdie, 1999, Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Yogyakarta: EGC.
Berkeley Vale.
Bridger, R.S. 1995. Introduction to The Ergonomic, International Edition.
McGraw-Hill. New York
Canadian Centers for Occupational Health & Safety. 2005. WMSDs (online).
Depkes RI, 2004, Kesehatan dan Keselamatan Kerja Perkantoran, Disorders
Pada Pekerja Panen Kelapa Sawit. Makalah disajikan dalam Prosiding
Seminar Nasional Ergonomi XI Semarang, 17-18 November 2009
Elza, D.S. 2012. Gambaran Tingkat Risiko Ergonomi dan Keluhan Subjektif
Muscoluskeletal Disorders pada Pengrajin Songket Tradisional Silungkang.
Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta.

192
______Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keluhan Nyeri Punggung Pada
Penjual Jamu Gendong, Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia. 4(1):61-67.
Harrianto, R. 2008. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Hendra & Rahardjo, S. 2009. Risiko Ergonomi dan Keluhan Muskuloskeletal.
http://www.ccohs.ca/oshanwers/ergonomics/riks.html (diakses 25 maret
2016)
Humantech, 1995. Aplied Ergonomics Training Manual 2nd Edition. Australia:
J. Jayaratnam & David KOH, 2010, Kedokteran Kerja, Jakarta, di terjemahkan
oleh Suryadi, Jakarta: EGC.
Khaizun. 2013. Faktor penyebab keluhan subyektif pada punggung pekerja tenun
sarung ATBM di desa wanarejan utara pemalang.
Koesyanto, H. 2013. Masa Kerja dan Sikap Kerja Duduk Terhadap Nyeri
Punggung. Kesehatan Masyarakat, KEMAS 9 (1), 9-14.
NIOSH. Musculoskeletal Disorders and Workplace Faktors: A Critical Review
NIOSH: Centers of Disease Contrrol and Prenvention. 1997.
Nurhikmah. 2011. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Musculoskeletal
Disorders (MSDs) Pada Pekerja Furnitur Di Kecamatan Benda Kota
Tangerang Tahun 2011. S1, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Oesman, T.I., dan Simanjuntak, R.A. 2011. Analisis Postur Kerja dengan Risk
Assesment Methods pada Penambang Pasir. Proceeding Seminar Nasional
Industrial Services. Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta:
72-80.
of Epidemiologic Evidence for Work Related Musculoskeletal Disoeder.
Sutalaksana, 1979, Teknik Tata Cara Kerja, Jurusan Teknik Industri. Institut
Teknologi Bandung.
Wignjosoebroto Sritomo, Gunani Sri,Putri Denik, 2001, Evaluasi Ergonomis
Dalam Perancangan Fasilitas dan Tata Cara Kerja Di Sektor Industri Kecil-
Menengah Tradisional.
Wignjosoebroto, S. 1995, Ergonomi Studi Gerak dan Waktu, PT Candimas
Metropolis, Jakarta
Wignjosoebroto, S. 2008. Ergonomi, Studi Gerak Dan Waktu. Jakarta: Guna
Widya.

193
Posisi Kerja Ergonomis Berkorelasi Positif
Dengan Tingkat Kelelahan Pembatik
Yamtana, Ayub Belasihi
Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta
Jl. Tatabumi No. 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, D.I. Yogyakarta.
Tel. (0274) 617601, HP: 081344782344, Email: yamtanakesmas@yahoo.co.id

Abstrak

Posisi kerja duduk yang tidak ergonomis dapat menyebabkan kelelahan kerja. Hal ini
disebabkan karena kursi yang digunakan tidak sesuai dengan ukuran antropometri tenaga
kerja. Demikian pula halnya yang dialami oleh para pembatik pada umumnya. Hasil
survei pendahuluan pada salah satu industri batik di Yogyakarta, melakukan wawancara
menggunakan kuesioner diperoleh hasil 100% responden mengalami keluhan kelelahan
kerja.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan posisi kerja ergonomis
dengan tingkat kelelahan pembatik.
Jenis penelitian ini adalah survei dengan pendekatan cross sectional. Subyek
penelitiannya yaitu 30 orang pembatik (responden), sedangkan obyek penelitian adalah 4
industri batik di Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Adapun kriteria respondennya
yaitu tenaga kerja perempuan, usia 20-45 tahun, menggunakan kursi saat membatik,
mempunyai beban kerjanya sama, kondisi tubuh sehat, lama kerja 6-8 jam/hari, lama
istirahat 1 jam. Pengumpulan data menggunakan alat: rol meter, reaction timer untuk
mengukur tingkat kelelahan, dan kuesioner. Data penelitian dianalisis secara deskriptif,
dan inferensial menggunakan uji pasti Fisher Chi Square dengan = 0,05.
Hasil penelitian diperoleh bahwa posisi kerja ergonomis sebanyak 10 responden
(33,33%), posisi kerja tidak ergonomis sejumlah 20 responden (66,67%). Sebanyak 10
responden (33,33%) tidak lelah (normal), 20 responden (66,67%) mengalami kelelahan.
Klasifikasi kelelahannya yaitu 16 responden (53,33%) mengalami lelah ringan, dan 4
responden (13,33%) lelah sedang. Berdasarkan uji pasti Fisher Chi Square diperoleh nilai
p = 0,003, berarti ada hubungan yang bermakna antara posisi kerja ergonomis dengan
tingkat kelelahan pembatik.
Saran kepada pengusaha industri batik supaya menyediakan kursi kerja yang ergonomis.
Kursi kerja yang ergonomis antara lain, tinggi dataran duduknya sesuai dengan panjang
tungkai (kaki) tenaga kerja, atau sesuai yang direkomendasikan yakni setinggi 3945 cm.
Kursi harus mempunyai sandaran punggung, dan lebar papan duduk minimal 35 cm.

Kata kunci: ergonomis, kelelahan, pembatik posisi kerja.

1. Pendahuluan
Usaha sektor informal salah satunya adalah industri batik, dan sampai
sekarang masih sebagai potensi UKM unggulan di Kota Yogyakarta. Sebagai
industri kecil menengah, industri batik mampu menyerap 892 tenaga kerja.
Sampai saat ini kegiatan usaha industri batik, untuk menghasilkan produksinya
masih menggunakan tenaga manusia dan peralatan tradisional. Dalam proses
pembatikan diperlukan keterampilan dan ketelitian. Adapun proses produksi di
industri batik meliputi beberapa tahapan, antara lain: proses persiapan, proses
pembatikan, proses pelepasan lilin, dan finishing.
Pekerja batik tulis pada umumnya dikerjakan oleh perempuan, bekerja
dengan cara duduk, jenis tempat duduknya berbeda-beda, baik bentuk dan
ukurannya. Umumnya tempat duduk yang digunakan belum memenuhi kaidah-

194
kaidah ergonomis, sehingga menyebabkan tidak nyaman dan cepat merasakan
kelelahan. Ketidaknyamanan pada saat bekerja disebabkan oleh posisi duduk,
akhirnya menimbulkan kelelahan, bahkan rasa sakit di beberapa bagian tubuh.
Bagian-bagian tubuh yang merasakan lelah antara lain: bahu, lengan atas,
punggung atas, punggung bawah, lengan bawah, pergelangan tangan, paha, lutut
dan kaki. Sedangkan bagian tubuh yang merasakan sakit adalah dari punggung
atas sampai kaki1).
Survei pendahuluan terhadap 10 pekerja pada bagian pembatikan di industri
batik yang berlokasi di Kota Yogyakarta, dengan melakukan wawancara
menggunakan kuesioner diperoleh hasil 100% pembatik mengalami keluhan
(subyektif) kelelahan kerja. Kelelahan kerja tersebut seperti: lelah seluruh badan,
bahu, lengan atas, punggung atas, punggung bawah, lengan bawah, pergelangan
tangan, paha, lutut dan kaki, merasa lesu, mengantuk, pusing, hingga ingin
berbaring. Sebagian kegiatan dari proses produksi batik mengharuskan posisi
pekerja duduk. Sedangkan kebanyakan kursi yang digunakan oleh para pekerja
adalah kursi yang tidak ada sandaran tangan. Umumnya posisi pekerja tersebut
dalam bekerja keadaannya bersikap duduk membungkuk.
Posisi kerja yang tidak ergonomis dapat menyebabkan kelelahan kerja. Hal
ini disebabkan karena posisi tersebut tidak sesuai dengan kemampuan maupun
ukuran antropometri tenaga kerja. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
pengerahan tenaga yang lebih besar dan akan mempercepat kelelahan, dan
berdampak pada menurunnya produktivitas kerja2).
Kelelahan kerja ini jika dibiarkan terus-menerus setiap hari akan dapat
menjadi kelelahan kronis. Tanda-tanda psikis adanya kelelahan sering disertai
kelainan-kelainan psikosomatis, seperti sakit kepala, vertigo, gangguan fungsi
paru-paru dan jantung, kehilangan nafsu makan, gangguan pencernaan dan sulit
tidur3). Atas dasar tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini apakah ada
hubungan posisi kerja ergonomis dengan tingkat kelelahan pembatik ? Tujuan
penelitiannya untuk mengetahui hubungan antara posisi kerja ergonomis dengan
tingkat kelelahan pembatik.

2. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah survei dengan pendekatan cross sectional.
Populasi penelitiannya adalah 12 industri batik di Kecamatan Mantrijeron
Yogyakarta. Setiap industri memiliki karyawan antara 3-12 pembatik.
Sampel/obyek penelitian diambil secara acak pada 4 industri. Kemudian dari 4
industri tersebut ditentukan subyek penelitian secara proporsional, selanjutnya
disebut responden berjumlah 30 pembatik. Kriteria respondennya yaitu:
menggunakan kursi saat membatik, menggunakan alat canting dan tungku,
bahannya kain dan malam, jenis kelamin perempuan, tidak cacat fisik dan tidak
sakit, lama kerja 6-8 jam/hari, waktu istirahat 1 jam, usia antara 20-45 tahun,
beban kerjanya sama.
Variabel bebas penelitian ini adalah posisi kerja ergonomis, variabel
terikatnya tingkat kelelahan. Interpretasi hasil pengukuran dari reaction timer,
yaitu: a. Lelah: apabila hasil rerata 3 kali ulangan pengukuran menunjukkan angka
036 per menit; b. Tidak lelah: apabila hasil rerata 3 kali ulangan pengukuran
menunjukkan angka >37 per menit. Variabel pengganggu, yaitu: suhu ruangan,
pencahayaan, jenis kelamin, dan umur. Data penelitian dianalisis secara deskriptif,

195
dan inferensial menggunakan uji turunan chi square yaitu uji pasti fisher, dengan
taraf signifikan sebesar 95% atau =0,05. Data diolah menggunakan komputer
program SPSS for windows versi 12.0.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Karakteristik dan posisi kerja ergonomis
Responden penelitian ini 30 pembatik pada 4 industri batik di Kecamatan
Mantrijeron dengan tingkat pendidikannya lulusan: sekolah menengah atas,
sekolah menengah kejuruan, dan kursus. Dalam bekerja responden menggunakan
kursi kayu yang mempunyai sandaran punggung, alas duduk berbentuk persegi
berukuran lebar 29 cm sampai 42 cm. Ruang kerja umumnya berada pada bagian
dalam bangunan, menggunakan penerangan alami sinar matahari, ruang terbuka
hijau dengan taman di bagian tengahnya. Keadaan ini memungkinkan masuknya
cahaya matahari dan sirkulasi udara, serta terdapat ventilasi alami pada beberapa
sisi ruang kerja. Kegiatan proses produksi batik berlangsung mulai pagi hingga
sore, yaitu sejak pukul 08.00 WIB atau 09.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB atau
16.00 WIB. Waktu kerja diselingi istirahat selama 1 jam, biasanya secara
bergantian antara pukul 11.00 WIB hingga 13.00 WIB.
Variabel penelitian posisi kerja ergonomis (ergonomis atau tidak ergonomis)
diperoleh dengan cara mengukur kursi kerja, yang meliputi: tinggi dataran duduk,
lebar papan duduk, dan tinggi papan tolak punggung. Selanjutnya ukuran kursi
tersebut dibandingkan dengan ukuran antropometri pembatik, yang meliputi:
tinggi duduk, jarak lekuk lutut-garis punggung, dan jarak lekuk lutut-telapak kaki.
Pengukuran posisi kerja ergonomis dan tingkat kelelahan terhadap 30 responden
pada 4 industri batik di Yogyakarta diperoleh data, sebagai berikut.

Tabel 1. Distribusi frekuensi posisi kerja ergonomis dan tingkat kelelahan


responden pada industri batik di Kecamatan Mantrijeron Yogyakarta
Tahun 2012
No. Kriteria Jumlah responden Persentase (%)
1 Ergonomis 10 33,33
2 Tidak Ergonomis 20 66,67
Jumlah 30 100
1 Normal (tidak lelah) 10 33,33
2 Lelah ringan 16 53,34
3 Lelah sedang 4 13,33
Jumlah 30 100

3.2. Tingkat kelelahan responden


Tingkat kelelahan responden diperoleh dengan menggunakan alat pengukur
kelelahan (reaction timer) untuk mengetahui seberapa besar tingkat kelelahan
responden. Secara deskriptif terlihat bahwa kebanyakan responden mengalami
kelelahan ringan sejumlah 16 orang atau 53,33% dari seluruh responden. Data
tersebut kemudian dikelompokkan menjadi lelah dan tidak lelah, dengan
ketentuan yang termasuk dalam kelompok lelah adalah responden yang lelah
ringan, lelah sedang, dan lelah berat. Sedangkan responden yang termasuk dalam
kelompok tidak lelah adalah responden yang masuk dalam kategori prima dan
normal.

196
Tabel 2. Hubungan posisi kerja ergonomis dengan tingkat kelelahan responden
pada industri batik di Mantrijeron Yogyakarta Tahun 2012
Tingkat kelelahan Total
No. Kriteria Normal (tidak lelah) Lelah
Jumlah Persen
Jumlah Persen Jumlah Persen
1 Ergonomis 7 23,33 3 10 10 33,33
2 Tidak 3 10 17 56,67 20 66,67
ergonomis
Total 10 33,33 20 66,67 30 100

Data penelitian selanjutnya diuji pasti Fisher Chi square dengan =0,05,
diperoleh hasil bahwa p=0,003. Hasil tersebut menunjukkan p < , ini berarti ada
hubungan yang bermakna antara posisi kerja ergonomis dengan tingkat kelelahan
pembatik.
3.3. Pembahasan
Hasil analisis data penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna
antara posisi kerja ergonomis dengan tingkat kelelahan pembatik. Hal ini sesuai
pendapat Nurmianto (2004), bahwa tujuan penerapan ergonomi adalah mencegah
kecelakaan kerja dan mencegah tidak efisiennya kerja2). Selain itu ergonomis juga
dapat mengurangi beban kerja, karena apabila peralatan kerja tidak sesuai dengan
kondisi dan ukuran tubuh pekerja akan menjadi beban kerja tambahan.
Saat ini batik sudah menjadi identitas yang begitu melekat di masyarakat
Indonesia. Industri batik merupakan industri tradisional yang sudah ada sejak dulu
secara turun temurun. Proses dasar membatik menggunakan alat canting, demi
menjaga nilai seni tradisional dan warisan sejarah, sehingga membutuhkan waktu
lama dalam mengerjakannya. Selembar kain batik tulis bisa saja dibuat dalam
waktu 1 sampai 1,5 bulan.
Dalam proses membatik memerlukan kecermatan dan ketelitian tinggi
sehingga pekerja akan mudah mengalami kelelahan, oleh karena itu posisi kerja
ergonomis sangat penting. Posisi kerja ergonomis maksudnya peralatan yang
digunakan (kursi) untuk membatik sesuai dengan ukuran tubuh, sehingga pekerja
akan nyaman dan tidak cepat mengalami kelelahan serta memperoleh efisiensi
kerja yang optimal. Pembatik pada umumnya perempuan, bekerja dengan cara
duduk, tempat duduk yang berbeda-beda, baik bentuk dan ukurannya.
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, kebanyakan kursi kerja pembatik
mempunyai ukuran tinggi kursi maupun lebar alas duduk tidak sesuai jika
dibandingkan dengan antropometri pekerja.
Pengukuran posisi kerja ergonomis dilakukan dengan cara membandingkan
ukuran kursi kerja dengan ukuran antropometri pekerja. Ukuran alat-alat kerja erat
kaitannya dengan antropometri tubuh penggunanya. Jika alat-alat tersebut tidak
sesuai, maka tenaga kerja akan merasa tidak nyaman, dan akan lebih lamban
dalam bekerja serta dapat menimbulkan kelelahan kerja atau gejala penyakit otot
yang lain akibat melakukan pekerjaan dengan cara yang tidak alamiah.
Antropometri sebagai unsur dalam penerapan ergonomi. Sebagaimana pendapat
Sumamur (1984), bahwa ukuran-ukuran antropometri terpenting sebagai dasar
ukuran-ukuran untuk posisi duduk antara lain tinggi duduk, jarak lekuk lutut-garis
punggung, dan jarak lekuk lutut-telapak kaki4).
Kursi kerja yang tidak ergonomis dapat menyebabkan kelelahan kerja bagi
pembatik. Apabila dibiarkan terus-menerus akan menyebabkan ketidaknyamanan

197
bagi responden yang akhirnya dapat menimbulkan kecelakaan kerja sehingga
dapat menurunkan produktivitas kerja. Selain itu, para pembatik tersebut bekerja
dengan sikap duduk yang cenderung harus menyesuaikan dengan kursi yang
digunakannya. Hasil uji inferensial menunjukkan ada hubungan yang bermakna
antara posisi kerja ergonomis dengan tingkat kelelahan pembatik. Hal ini sesuai
dengan Kasjono dan Haryono (2007), bahwa kelelahan kerja dapat disebabkan
oleh lingkungan yang buruk termasuk posisi kerja ergonomis. Hal ini dapat dilihat
bahwa kursi yang digunakan ukurannya tidak sesuai dengan ukuran antropometri
pembatik5).
3.3.1. Tinggi dataran duduk
Tinggi dataran duduk harus sesuai dengan tinggi lutut, sedang paha dalam
keadaan datar, diukur dari lantai sampai pada permukaan atas dari bagian depan
alas duduk. Ukuran yang dianjurkan untuk orang Indonesia adalah 3848 cm.
Tinggi dataran duduk harus lebih pendek dari jarak antara lekuk lutut dan telapak
kaki3). Tinggi dataran duduk kursi yang digunakan oleh para pembatik atau 30
responden, berukuran mulai dari 32 cm hingga 49 cm atau rata-rata setinggi 36,9
cm. Ini berarti kursi yang digunakan tidak memenuhi syarat ergonomi. Selain itu,
tinggi dataran duduk tersebut terdapat 2 kursi yang terlalu pendek hingga 13 cm
dari jarak antara lekuk lutut dengan telapak kaki, bahkan ada yang justru lebih
tinggi hingga 7 cm sebanyak 1 kursi. Hal ini akan mengakibatkan telapak kaki
tidak dapat menyentuh tanah, dan paha tidak dalam keadaan datar sehingga dapat
menyebabkan kelelahan karena kaki tidak dapat melakukan istirahat (foot rest).
Sebanyak 10 kursi kerja yang lain mempunyai tinggi dataran duduk berukuran
antara 37 cm hingga 44 cm, dengan selisih jarak antara lekuk lutut dengan telapak
kaki sebesar 1 cm hingga 3 cm sehingga dapat dikatakan ergonomis. Dudukan
kursi yang sesuai dengan tinggi dan bentuk tubuh orang yang sedang duduk akan
dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya.
3.3.2. Papan tolak punggung
Papan tolak punggung tingginya dapat diatur dan menekan pada punggung3).
Sebagaimana pada 30 responden yang diteliti, seluruhnya mempunyai papan tolak
punggung sebagai sandaran punggung, dan tingginya dapat menahan bagian
punggung. Namun ukuran tinggi papan tolak punggung tersebut tidak dapat
diatur. Hal ini sesuai dengan penelitian Andariyati (2008), bahwa timbulnya nyeri
pinggang erat kaitannya dengan cara kerja, sikap kerja, dan posisi kerja6). Dengan
memperhatikan dan mengingat faktor-faktor penyebab dan pencetusnya, insiden
nyeri pinggang pekerja dapat diminimalisasir atau dicegah kejadiannya,
diantaranya dengan penggunaan kursi yang memiliki sandaran (papan tolak
punggung).
3.3.3. Lebar papan duduk
Menurut Nurmianto (2004), lebar papan duduk tidak boleh kurang dari 35
2)
cm . Berdasarkan ukuran lebar papan duduk yang digunakan responden, terdapat
1 kursi yang tidak memenuhi syarat ergonomis (dari 20 kursi yang dinyatakan
tidak ergonomis) karena lebar papan duduk berukuran 29 cm. Sekaitan itu ukuran
lebar papan duduk harus menyesuaikan dengan lebar rata-rata pantat orang
Indonesia. Jika lebar papan duduknya kurang dari 35 cm, menyebabkan kursi
tersebut kurang bisa menahan seluruh beban tubuh manusia, sehingga akan
mengakibatkan kelelahan pekerja terutama pada bagian pinggang.

198
3.3.4. Jarak bahu ke tungku
Panjang tangan pembatik diukur dari ujung bahu hingga ujung (jari)
tangan, yaitu sepanjang 53 cm hingga 66 cm. Jarak antara bahu ke tungku sejauh
59 cm hingga 77 cm, sehingga pekerja mengharuskan tubuh ikut bergerak untuk
menjangkau malam (lilin cair) dalam wajan di atas tungku. Setiap responden
memiliki jarak antara tangan yang memegang alat canting terhadap malam cair
dalam wajan di tungku berbeda-beda. Jarak responden terhadap tungku
terdekatadalah 1 cm hingga yang terjauh 11 cm (panjang tangan 66 cm dengan
jarak bahu ke tungku 77 cm). Kondisi ini mengakibatkan tubuh harus ikut
bergerak menyesuaikan jarak yang timbul, dan berdampak pada beban kerja otot
hingga kelelahan kerja.
3.3.5. Rekomendasi kursi
Desain kursi yang tidak sesuai dengan antropometri dapat menimbulkan
kelelahan hingga keluhan pada pinggang, leher, pinggul, dan bagian tubuh lainya.
Hal ini sesuai dengan Nurmianto (2003) dan Enggarani (2004), serta sesuai
dengan hasil penelitian yang dilakukan2, 7). Kursi yang ergonomis dapat mampu
memberikan postur dan sirkulasi yang baik, dan kenyamanan bagi penggunanya.
Pilihan kursi yang nyaman dapat diatur dan memiliki penyangga punggung.
Adapun, ukuran kursi kerja sesuai dengan hasil pengukuran dan teori yang
berkembang, yaitu terkait ukuran tinggi dataran duduk, lebar papan duduk, papan
tolak punggung, dan posisi kursi yang mendukung jarak antara pembatik (tangan
yang membawa canting) terhadap malam dalam wadah di atas tungku.
Secara umum tinggi dataran duduk harus sesuai dengan tinggi lutut,
sedangkan paha dalam keadaan datar. Tinggi dataran duduk diukur dari lantai
hingga permukaan atas dari bagian depan alas duduk. Ukuran yang dianjurkan
untuk orang Indonesia adalah 3848 cm. Tinggi dataran duduk harus lebih pendek
dari jarak antara lekuk lutut dan telapak kaki3). Dalam pengukuran didapatkan
antropometri jarak lekuk lutut hingga telapak kaki responden sebagai acuan tinggi
dataran duduk yaitu sebesar 39 cm hingga 45 cm (dengan rata-rata 41,73 cm).
Lebar papan duduk tidak kurang dari 35 cm, dan memiliki papan tolak
punggung tingginya dapat diatur, dan dapat menahan bagian punggung3). Kursi
pembatik yang dianjurkan yaitu papan tolak punggung dapat diatur tinggi
rendahnya. Ukuran kursi untuk membatik ini hanya salah satu alat yang dapat
diberikan untuk mengurangi kelelahan, dan masih banyak aspek yang perlu dikaji
lebih lanjut dari kerajinan membatik ini.
Hasil pengukuran jarak bahu terhadap malam cair dalam wajan di atas
tungkupun hampir seluruhnya lebih panjang daripada jarak bahu terhadap ujung
tangan yang memegang canting. Kondisi ini mengakibatkan tubuh harus ikut
bergerak agar tangan yang memegang canting dapat menjangkau hingga ke
malam dalam wadah di atas tungku. Untuk itu, penempatan kursi perlu
disesuaikan dengan tangan yang memegang canting leluasa menjangkau malam
dalam wadah di atas tungku, sehingga tubuh tidak harus ikut bergerak agar tangan
yang memegang canting dapat menjangkaunya. Hal ini tentu saja akan
mempercepat terhadap tingkat kelelahan pembatik.
Posisi kerja yang tidak ergonomis akan dapat menimbulkan berbagai
dampak negatif pada manusia tersebut. Dampak negatif bagi manusia tersebut
akan terjadi baik dalam waktu jangka pendek maupun jangka panjang. Bekerja
pada posisi kerja yang tidak ergonomis dapat menimbulkan berbagai masalah

199
antara lain: nyeri, kelelahan, bahkan kecelakaan kerja. Untuk itu tempat duduk
harus dibuat sedemikian rupa, sehingga memberikan relaksasi (kenyamanan) bagi
otot dan tulang yang sedang bekerja. Selain itu tidak menimbulkan tekanan pada
bagian tubuh yang dapat mengganggu sirkulasi darah.
Gejala-gejala kelelahan yang dirasakan oleh responden termasuk dalam
kelelahan fisik. Kelelahan menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang
ditandai oleh sensasi lelah, motivasi menurun, aktivitas menurun. Hal ini sesuai
dengan pendapat (Sumamur, 1994), bahwa kelelahan kerja cenderung
meningkatkan terjadinya kecelakaan kerja3). Kondisi tersebut akan merugikan
bagi pekerja maupun perusahaan. Sehingga ukuran peralatan kerja harus sesuai
dengan pekerja, lingkungan kerja harus mendukung fungsi tubuh yang sedang
bekerja, serta mampu berproduksi secara optimal. Kursi pembatik yang
direkomendasikan dari penelitian ini, antara lain: tinggi dataran duduk antara 38-
48 cm, lebar papan duduk lebih dari 35 cm, jarak bahu ke tungku dapat
menyesuaikan (dapat digeser), papan tolak punggung ketinggiannya dapat diatur.

4. Kesimpulan
a. Ada hubungan yang bermakna antara posisi kerja ergonomis dengan tingkat
kelelahan pembatik pada industri batik di Kecamatan Mantrijeron Yogyakarta
dengan nilai p = 0,003.
b. Sebanyak 20 responden atau 66,67% pembatik bekerja dalam posisi duduk
yang tidak ergonomis dan mengalami kelelahan. Klasifikasi kelelahan 4
responden atau 13,33% mengalami lelah sedang, dan 16 responden atau
53,33% mengalami lelah ringan.

Daftar Pustaka
1
Dominica. 2004. Analisis Ergonomis tentang Kerja Pembatik pada Industri
Batik. Diunduh tanggal 15 Februari 2012 dari http://digilib.itb.ac.id/
1999_TS_PP_Dewa_1.pdf.
2
Nurmianto, E. 2004. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Guna
Widya
3
Sumamur, P.K. 1994. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: PT
Gunung Agung.
4
Sumamur, P.K. 1984. Ergonomi untuk Produktivitas Kerja. Jakarta: Yayasan
Swabhawa Karya.
5
Kasjono, H.S., Haryono. 2007. Higiene Lingkungan Kerja. Yogyakarta: Mitra
Cendikia.
6
Andariyati, S.N., 2008. Hubungan Posisi Kerja dengan Keluhan Nyeri Punggung
Bawah (Low Back Pain) pada Perawat di RSUD Sleman. Skripsi Diploma IV
Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Depkes Yogyakarta.
7
Enggarani, R., 2004. Tinjauan Aspek Ergonomi pada Kursi Kerja Pengrajin Batik
di Tamansari Yogyakarta. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Semarang:
Universitas Diponegoro.

200
Studi Keluhan Muskuloskeletal Pada Pramudi Bus Trans Jakarta
Koridor IX (Pendekatan Ergonomi) Tahun 2015
Decy Situngkir
Prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Universitas Indonesia
Jl. Margonda Raya Gg. Kober No.33 Depok
HP: 08983697021, E-mail: desseka@gmail.com

Abstrak

Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara dengan angka kecelakaan lalu
lintas yang masih cukup tinggi.Berdasarkan data Global Status Report on Road Safety,
Indonesia mengalami peningkatan kecelakaan lalu lintas hingga 80% dan hal ini
didominasi oleh kendaraan umum.1 Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan lalu lintas, di antaranya faktor pramudi, lingkungan, dan kendaraan seperti
kabin pramudi yang tidak ergonomis baik tata letak mesin, desain kursi yang tidak sesuai
sehingga merintangi jangkauan kaki ke pedal, mengakibatkan ketegangan otot pada
anggota tubuh bagian bawah, dan meningkatkan risiko kecelakaan.2 Mengemudi
menyebabkan prevalensi keluhan muskuloskeletal dan nyeri yang tinggi di pinggang
karena sebagian besar aktivitas mengemudi bersifat statis. Di Jakarta, salah satu jenis
kendaraan yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas adalah bus Trans Jakarta.Penelitian
observasi deskriptif ini menggunakan desain cross sectional dan jumlah subjek penelitian
sebanyak 70 pramudi. Instrumen dalam penelitian ini adalah kursi antropometri, meteran,
busur, kamera digital.
Penelitian yang dilakukan kepada pramudi bus Trans Jakarta Koridor IX ditemukan
bahwa sebesar 81,4%merasakan keluhan muskuloskeletal dengan keluhan terbesar pada
leher bagian atas dikarenakan mengemudi menuntut konsentrasi yang tinggi, postur
duduk statis dan lama, kursi yang tidak ergonomis dan getaran. Dan sebesar 18,6 persen
tidak merasakan keluhan muskuloskeletal.
Kebanyakan pramudi merasakan keluhan setelah mengemudi. Dan upaya yang dilakukan
untuk mengatasinya adalah dengan beristirahat dan dipijat. Risiko tinggi adalah pada saat
postur duduk statis dan lama, menekan tombol transmisi dan tombol pintu penumpang.

Kata kunci: ergonomis, getaran, muskuloskeletal, pramudi, postur duduk stastis.

1. Pendahuluan
Bus Trans Jakarta merupakan Bus Rapid Transit atau sistem transportasi
bus cepat, namun masih memiliki angka kecelakaan yang tinggi (tabel 1).

Tabel 1. Data Kecelakaan PT. Trans Jakarta3


Jumlah Kasus
No Tahun Keterangan
Kecelakaan
1 2009 264
2 2010 246 Sterilisasi sistem
3 2011 252
4 2012 563
5 2013 852
6 2014 773

201
Tingginya angka kecelakaan dapat disebabkan oleh faktor pramudi, faktor
kendaraan dan faktor lingkungan. Ketidaksesuaian ukuran-ukuran komponen di
tempat kerja dengan pekerja mengharuskannya bekerja dengan posisi sulit seperti
membungkuk, mengangkat satu lengan, atau aktivitas hanya dilakukan dengan
satu tangan, dan lain-lain. Keluhan muskuloskeletal sering kali terjadi karena meja
kerja, peralatan dan mesin didesain dengan ukuran yang lebih besar, agar dapat
dipakai juga oleh pramudi yang lebih kecil. Prinsip ergonomis yang benar
mengharuskan meja kerja yang sesuai atau dapat disesuaikan dengan ukuran
individu yang menggunakannya atau dikenal dengan istilah perancangan man-
machine interface .4,5,6
Menurut OSHA dalam Ojo et al keluhan muskuloskeletal menyebabkan
kerugian sebesar 15 juta USD sampai dengan 20 juta USD setiap tahun. Pekerjaan
yang berisiko tinggi keluhan muskuloskeletal adalah aktivitas pegawai kantor
sampai mengemudi. Prevalensi keluhan muskuloskeletal pada pengemudi
terbilang tinggi, berkisar 53% - 91% di dunia.7 Hal ini disebabkan oleh desain
kursi yang tidak nyaman, lama mengemudi, angkat berat, kurangnya aktivitas
fisik, usia, sikap duduk untuk waktu yang lama, getaran seluruh tubuh, postur
kerja yang salah, misalnya sikap duduk yang merosot, condong pada satu sisi,
membungkuk dan menjangkau berlebihadan faktor psikososial sehingga
mengakibatkan beban yang cukup besar pada individu, masyarakat, dan industri
dalam hal absensi dan biaya pengobatan.8,9,10
Penelitian Tamrin et al pada 1.181 pengemudi bus menunjukkan bahwa
seluruh bagian tubuh mengalami keluhan muskuloskeletal dengan nyeri punggung
bagian bawah yang merupakan risiko paling tinggi (58,5%), diikuti nyeri leher
(51,7%), nyeri punggung bagian atas (39,0%), nyeri bahu (36,1%), nyeri pada
betis (28,9%), nyeri pada lutut (27,5%), nyeri pada bagian paha (19,9%), nyeri
pada lengan (17,5%) dan nyeri pada bagian siku (10,2%).11

2. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat observasional deskriptif dengan desain cross
sectional12 yang dilakukan di halte busway Pinang Ranti pada bulan Mei s/d Juni
2015, dengan beberapa instrument seperti: kuesioner, busur, vibration meter,
kuesioner Nordic Body Map, kursi antropometri, meteran, dan kamera digital.
Populasi penelitian adalah pramudi bus dan bus Trans Jakarta Koridor IX yang
beroperasi daerah Pinang Ranti Pluit. Kriteria sampel yang ditetapkan masuk
dalam penelitian ini sebagai berikut masa kerja 1 tahun, tidak memiliki riwayat
kecelakaan, tidak memiliki riwayat penyakit seperti diabetes, lupus, RA dan
bersedia menjadi subjek penelitian sampai selesai. Besar sampel dihitung dengan
menggunakan rumus Lemeshow13, maka didapat besar sampel sebanyak 49
pramudi, namun untuk menghindari bias peneliti menggunakan semua data yang
terkumpul sebanyak 70 pramudi. Untuk faktor kendaraan, sampel yang digunakan
4 jenis bus Trans Jakarta Koridor IX yaitu Korindo(K), Laksana(L), Restu Ibu
(RI) dan Trisakti (TS).

202
3. Hasil dan Pembahasan

Leher atas 43,9%

Punggung 40,4%

Pinggang 38,6 %

Leher bawah 36,8 %

Betis kiri 36,8 %

Bahu kiri 33,3 %

Bahu kanan 29,8 %

Betis kanan 25%

Gambar 1.Gambaran keluhan Musculoskeletal Symptoms dengan Nordic Body Map

Tabel 2. Ada/Tidaknya Keluhan Muskuloskeletal


Keluhan MSS
Ya Tidak
N % N %
57 81,4 13 18,6

Hasil penelitan menyimpulkan bahwa 81,4% (57 pramudi) merasakan


keluhan subjektif muskuloskeletal, artinya mereka berisiko terhadap terjadinya
keluhan muskuloskeletal. Bagian tubuh yang paling sering merasakan keluhan
otot adalah leher, punggung atas, pinggang, bahu dan betis.
Keluhan-keluhan tersebut tidak muncul begitu saja, peneliti
menyimpulkan beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya keluhan
muskuloskeletal:
3.1 Faktor individu
Berdasarkan demografi, pramudi yang paling berisiko keluhan
muskuloskeletal adalah pramudi yang berusia 30-45 tahun (83,6%), 40 pramudi
(70,02%) dengan masa kerja 1-3 tahun, 40 pramudi (51,4%) yang tidak biasa
berolah raga dan pramudi yang memiliki berat badan normal sebanyak (79,5%).
Genaidy et all bahwa usia 20-29 tahun adalah usia dimana sesorang
memiliki SCTL (Spinal Compression Tolerance Limit) terbesar, yang akan
menurun 22% pada 10 tahun berikutnya, turun 26% pada 10 tahun berikutnya, dan
42% pada 10 tahun berikutnya, sehingga pada usia 60 tahun atau lebih SCTL telah
menurun lebih dari 53%. Pendek kata, semakin, semakin tua seseirang semakin
tinggi risikonya mengalami elastisitas tulang.14 Empat puluh pramudi (70,02%)
dengan masa kerja 1-3 tahun yang berisiko keluhan muskuloskeletal diduga
terjadi akibat menurunnya endurance otot. Berbeda dengan pramudi yang

203
memiliki masa kerja > 5 tahun, yang tidak merasakan keluhan mungkin memiliki
nilai ambang keluhan yang lebih tinggi atau terjadi health worker effect bias
dimana pramudi dengan masa kerja > 5 tahun yang merasakan keluhan MSS telah
berhenti bekerja sehingga seolah-olah prevalensinya rendah.15
Seseorang yang tidak biasa berolahraga berisiko mengalami keluhan
muskuloskeletal. Keluhan otot akan meningkat akibat kurangnya kelenturan otot
sejalan dengan bertambahnya aktivitas fisik tanpa kesegaran jasmani16 Atau dapat
disimpulkan semakin tinggi tingkat kesegaran jasmani seseorang semakin kecil
risiko terjadinya keluhan muskuloskeletal.17 Pramudi berbadan normal yang
merasakan keluhan muskuloskeletal sebenarnya masih dalam batas yang normal.
Keluhan tersebut muncul diakibatkan oleh faktor lain. Namun, perlu diperhatikan
bagi pramudi yang berbadan kurus dan gemuk.
3.2 Faktor Kendaraan
3.2.1 Kursi pramudi
Berdasarkan hasil kesesuaian antropometri pramudi dan kursi, beberapa
elemen kursi tidak sesuai diantaranya panjang alas duduk, lebar alas duduk,
ukuran tinggi kursi, dan panjang sandaran lengan yang mungkin berkontribusi
terjadinya keluhan muskuloskeletal.
Panjang alas duduk seharusnya lebih pendek dari lekuk lutut sampai
dengan garis punggung (panjang tungkai atas). Hasil pengukuran panjang alas
duduk seri bus, K: 54 cm, L:45 cm, TS: 50 cm dan RI: 50 cm sedangkan untuk
panjang lutut bagian belakang menggunakan persentil 5% yaitu 38,08 cm. Alas
duduk lebih panjang dari panjang lutut bagian belakang dan untuk kursi seri bus
L, Ts dan RI tidak ergonomis karena tidak adjustable . Alas duduk yang terlalu
panjang menyebabkan penekanan di daerah belakang lutut sehingga pramudi akan
merasakan pegal dan sakit pada bagian tersebut, membatasi pramudi untuk
bersandar sehingga menyebabkan keluhan di punggung. Untuk lebar alas duduk
memang tidak sesuai. Berdasarkan hasil pengukuran lebar alas duduk semua bus
lebih besar daripada lebar pinggul pramudi. Namun ini tidak mempengaruhi
terjadinya keluhan muskuloskeletal pada pramudi 4,18
Tinggi tempat duduk bus seri L dan TS kecuali bus seri K terlalu pendek
dan RI lebih tinggi dari pada ukuran tinggi lutut pramudi, tidak ergonomis.
Standar ukuran tinggi kursi yang diusulkan adalah 40-52,5 cm. 19Tinggi tempat
duduk yang tidak ergonomis dapat menyebabkan sikap duduk yang tidak
ergonomis seperti kaki selonjor, kaki menggantung karena kursi terlalu tinggi
yang dapat mengakibatkan nyeri dan pegal-pegal di bagian kaki. Kaki ditekuk di
bawah kursi karena terlalu pendek juga tidak baik karena akan menghentikan
aliran darah dan menyebabkan kaki menjadi kesemutan. Panjang sandaran lengan
yang digunakan tidak sesuai dengan antropometri pramudi karena hasil
pengukuran antropometri lebih besar dari pada hasil dimensi kursi. 4,18
3.2.2 Setir
Ukuran setir untuk setiap seri bus Transjakarta Koridor IX sesuai dengan
standar, berdiameter 50 cm dan memiliki sudut inklanasi dari setir 15-320 ke arah
vertikal.20 Namun hal ini mempersulit pramudi yang bertubuh gemuk dikarenakan
jarak setir ke alas duduk cukup dekat. Untuk itu, sebaiknya kursi pramudi
merupakan kursi yang adjustable sehingga posisi duduk pramudi juga dapat
diatur.

204
3.3 Faktor Pekerjaan
3.2.3.1 Durasi dan frekuensi pekerjaan
Kelompok yang paling banyak mengalami keluhan berdasarkan durasi
kerja adalah kelompok pramudi dengan durasi kerja > 8 jam dan mengemudi
sebanyak 2-3 rit. Pekerjaan yang biasa, tidak terlalu berat atau ringan
produktivitasnya akan mulai menurun setelah 4 jam bekerja. Karuniasih
mengatakan bahwa supir yang telah bekerja/mengendarai lebih dari 2 jam
merasakan pegal-pegal pada punggung dan leher. Kadar gula darah juga menurun
sehingga perlu istirahat dan kesempatan untuk makan guna meningkatkan kadar
gula kembali. Durasi waktu mengemudi yang cukup lama dan frekuensi yang
terlampau sering akan mendorong fatigue dan ketegangan otot tendon.
Ketegangan otot tendon dapat dipulihkan apabila ada jeda waktu istirahat yang
digunakan untuk peregangan otot.16

Tabel 3. Hasil kesesuaian data antropometri pramudi dengan data kursi


pramudi bus Transjakarta Koridor IX
Dimensi Tubuh Dimensi Kursi
No Variabel Keterangan
5% X 95% Variabel Ukuran
1 Tinggi bahu duduk 67.62 Tinggi sandaran K: 68 cm K: Sesuai
punggung L: 52 cm L: Sesuai
TS: 55 cm TS: Sesuai
RI: 60 cm RI: Sesuai
2 Tinggi siku duduk 27.27 34.88 Tinggi sandaran K: 25 cm Tdk sesuai
lengan
3 Panang dari pantat 37.22 Panjang alas K: 52 cm K: Tdk sesuai
sampai bagian tempat duduk L:45 cm L: Tdk sesuai
lutut belakang Ts: 45 cm TS: Tdk sesuai
RI: 50 cm RI: Tdk sesuai
4 Tinggi lutut 38.08 Tinggi tempat K: 37 cm K: Sesuai
bagian belakang duduk L: 40 cm L: Tdk sesuai
TS: 45 cm TS: Tdk sesuai
RI: 49 cm RI: Tdk sesuai
5 Lebar bahu atas 46.35 Lebar sandaran K: 46 cm K: Sesuai
punggung L: 45 cm L: Sesuai
TS: 46 cm TS: Sesuai
RI: 46 cm RI: Sesuai
6 Lebar pinggul 42.03 Lebar alas tempat K: 54 cm K: Tdk sesuai
duduk L: 55 cm L: Tdk sesuai
TS:50 cm TS: Tdk sesuai
RI: 54 cm RI: Tdk sesuai
7 Panjang dari siku 34.3 Panjang sandaran K: 25 cm K: Tdk sesuai
ke ujung jari lengan
8 Tinggi duduk 79.65 90.47 Tinggi kursi K:85 cm K: Sesuai
L: 67 cm L: Tdk sesuai
TS: 73 cm TS: Tdk sesuai
RI: 80 cm RI: sesuai

3.3.1 Postur kerja


Berdasarkan analisis yang dilakukan peneliti terhadap aktivitas
mengemudi pada postur leher, punggung, kaki, lengan, pergelangan tangan serta
durasi dan frekuensi. Tingkat risiko ergonomi terbesar pada saat mengemudi
adalah pada aktivitas menekan tombol transmisi dan pintu penumpang dan postur

205
dominan mengemudi. Pada umumnya posisi leher pramudi berada pada kisaran
300. Postur ini merupakan postur yang berisiko karena mengalami fleksi 200
sehingga hal ini dapat meningkatkan keluhan.14 Selain itu, tuntutan intensitas
konsentrasi yang tinggi pada saat mengemudi juga menyebabkan kerja otot yang
lebih pada leher. Postur ini terjadi pada aktivitas menekan tombol transmisi dan
tombol pintu penumpang.
Postur punggung pada aktivitas mengemudi berkisar 300 dan postur batang
tubuh pada pramudi ini bersifat statis. Sutajaya mengatakan bahwa sikap duduk
yang tidak alamiah akan menimbulkan kontraksi otot secara isometris (melawan
tahanan) pada otot-otot utama yang terlibat dalam pekerjaan. Otot-otot punggung
bekerja keras menahan beban anggota gerak atas yang sedang melakukan
pekerjaan sehingga mengakibatkan beban kerja pramudi bertumpu di daerah
pinggang dan menyebabkan otot pinggang sebagai penahan beban utama akan
mudah mengalami kelelahan dan selanjutnya akan terjadi nyeri pada otot sekitar
pinggang atau punggung bawah. Postur ini terjadi pada aktivitas menekan tombol
transmisi dan tombol pintu penumpang, sikap duduk yang lama.
Postur kaki pada saat mengemudi berada dalam postur yang stabil, hanya aktivitas
pedal gas dan rem berulang-kali secara bergantian selama perjalanan
membutuhkan kontrakasi otot pada betis sehingga kaki dengan kondisi postur
yang statis dan kebutuhan tenaga yang harus dikeluarkan, membuat zat sisa pada
betis yang berupa asam laktat menumpuk dan menimbulkan rasa pegal.
3.4 Faktor lingkungan
Faktor lingkungan ialah getaran. Getaran yang timbul darikeempat jenis
bus > nilai ambang batas (NAB) yang diperkenankan yaitu 0,5 m/s2 seperti tertulis
dalam Permenakertrans No. 13 Tahun 2011.22 Jika terpajan getaran dalam jangka
pendek menyebabkan nyeri dada,dan sakit perut akibat goyangan organ di dalam
rongga dada dan perut, sakit kepala, mual, dan gangguan keseimbangan,
penglihatan kabur sehingga tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang memerlukan
ketelitian, nafas pendek, dan gangguan bicara. Sedangkan dalam jangka panjang
dapat mengakibatkan gesekan tulang dan seni, perubahan medulla spinalis,
skoliosis lumbalis, cedera diskus intervertebralis dan hernia nucleus pulposus,
juga gangguan jantung, varises, varikikel dan thrombus akibat terhambatnya darah
kembali ke jantung.

4. Kesimpulan
57 pramudi (81,4%) bus Trans Jakarta merasakan keluhan muskuloskeletal.
Keluhan paling banyak dirasakan pada bagian leher bagian atas (43,9%),
punggung (40,4%), pinggang (38,6%), betis kiri (36,8%), leher bagian bawah
(36,8%) dan betis kiri (36,8%). Hal ini disebabkan oleh faktor pekerjaan, faktor
individu, faktor kendaraan dan faktor lingkungan. Umumnya, gejala yang
dirasakan pramudi adalah pegal dan nyeri/sakit pada bagian tubuh tertentu.Waktu
timbulnya keluhan mayoritas pramudi mersakan setelah mengemudi. Dan
kebanyakan upaya yang dilakukan untuk mengatasi rasa keluhan tersebut adalah
dengan beristirahat dan dipijat.

Daftar Pustaka
1
WHO. Global Status on Report Safety 2013: Supporting a Decade of Action.
Geneva: WHO; 2013

206
2
Lukito NA, Sulistio H, Kusuma A. Karakteristik Pengemudi dan Model Peluang
Terjadinya Kecelakaan Bus Antar Kota Antar Propinsi. Jurnal Rekayasa
Volume 6 No.1, hal 42-54; 2012.
3
Trans Jakarta PT. Data Kecelakaan PT. Trans Jakarta. Jakarta; 2015
4
Harrianto R. Buku Ajar Kesehatan Kerja.Jakarta: EGC; 2009.
5Wignjosoebroto S. Ergonomi, Suatu Studi Gerak dan Waktu.Surabaya: Guna
Widya; 2003
6
Nurmianto E. Ergonomi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Guna Widya;
2008
7
Ojo AO, Oluwaseun O, Rufus A, Adaobi O. Assesment of Work Related
Musculoskeletal Pain Among Professional Drivers in The Service of A
Tertiary Institution. American Journal of Health Research Vol 2, hal 56-6;
2014.
8
Najenson D, Santo Y, Masharawi Y, Katz-Leuter m, Ushvaev D, Kalichman L.
Low Back Pain Among Professional Drivers: Ergonomic and Occupational-
Psychosocial Risk Factors. IMA Journal Vol 12 (1): 26-31; Januari 2010.
9
Akinpelu AO, Oyowole OO, Odole AC, Olukoya RO. Prevalence of
Musculoskeletal Pain and Health Seeking Behaviour among Occupational
Drivers in Ibadan, Nigeria. Afr. J. Biomed. Res.2011; 14, 89-94.
10
Sadri, HG. Risk Factors of Musculoskeletal Disorders in Bus Drivers. 6 (2003),
214-215; 2003.
11
Tamrin SBM, Yokoyama K, Aziz N, Maeda S. Association of Risk Factors with
Musculoskeletal Disorders among Male Commercial Bus Drivers in
Malaysia. Human Factor Erognom. Service Industry. DOI:
10.1002/hfm.20387
12
Arikunto S. Prosedur Suatu Penelitian: Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta
13
Lemeshow S, Hosmer WD, Klar J. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan.
Gajah Mada University Press: Jogjakarta; 1997.
14
Bridger RS. Introduction to Ergonomics. London: Mc Graw Hill, Inc; 1995.
15
Murti B. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Gajah Mada University Press:
Jogjakarta; 1987.
16
Karuniasih. Tinjauan Faktor Risiko dan Keluhan Subjektif Terhadap Timbulnya
Muskuloskeletal Disorders Pada Pengemudi Travel X Trans Tujuan Jakarta-
Bandung Tahun 2009. Depok: FKM UI; 2009.
17
NIOSH. Musculoskeletal Disorders and Workplace Factors: A Critical Review
of Epidemiologic Evidence for Work Related Musculoskeletal Disorders;
1997.
18
Pheasant, S. 2003. Bodyspace: Anthropometry, Ergonomics and Design. Second
Edition. USA: Taylor & Francis
19
Humantech. Applied Ergonomics Training Manual. Humantech Inc: Berkeley
Australia; 2003.
20
Kompier JAM. Bus Drivers: Occupational Stress and Stress Prevention.
Geneva: International Labour Office, 1996.
21
________Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia: Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat
Kerja. Jakarta; 2011

207
Analisis Kesesuaian Penyediaan Energi di Tempat Kerja
PadaKaryawan PTS Gresik
Erwin Dyah Nawawinetu, Ratih Damayanti
Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga
Jl. Srikana 65 Surabaya 60286
Tel. 031-5033869. E-mail: erwindyah.2012@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian penyediaan energi di tempat kerja
pada karyawan PTS. Penelitian dilakukan dengan metode observasional deskriptif pada
responden (66 orang karyawan PTS dari 97 orang yang masuk dalam program gizi dan
yang bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini). Variabel yang diteliti adalah
status gizi responden (menurut Indeks Masa Tubuh dan Lingkar Perut), kecukupan energi
sehari dari responden (diambil dengan metode food recall), kecukupan energi yang
disediakan oleh katering perusahaan (dilakukan pengamatan selama 10 hari), beban kerja
responden. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif menggunakan tabulasi silang
dibandingkan dengan teori dan peraturan yang berlaku.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden: memiliki status
overweight (55%) menurut IMT namun hanya 44% yang mengalami belly obesity, dan
mengasup energi melebihi kecukupan energi yang dianjurkan (hasil food recall), terutama
yang berasal dari lemak. Makanan yang disediakan oleh katering perusahaan (3 katering)
seluruhnya masih belum memenuhi kecukupan energi yang dibutuhkan oleh responden
menurut beban kerja responden (ringan, sedang, berat).
Disimpulkan bahwa penyediaan energi dari makanan yang disediakan perusahaan belum
sesuai dengan kebutuhan energi responden. Status gizi lebih (overweight dan obesity)
berasal dari pola makan responden di luar tempat kerja. Disarankan agar perusahaan
mengadakan health education bagi karyawan mengenai pola hidup yang sehat untuk
mengatasi masalah kelebihan gizi serta melakukan perbaikan menu gizi yang disediakan.

Kata kunci: kecukupan energi, status gizi.

1. Pendahuluan
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat
kesehatan dan kesejahteraan manusia. Gizi seseorang dikatakan baik apabila
terdapat keseimbangan dan keserasian antara perkembangan fisik dan
perkembangan mental orang tersebut. Terdapat hubungan antara status gizi
dengan konsumsi makanan. Tingkat status gizi optimal akan tercapai apabila
kebutuhan gizi optimal terpenuhi (1).
Gizi sangat dibutuhkan oleh setiap orang, salah satunya untuk pekerja.
Pekerja memerlukan zat-zat gizi sesuai dengan jenis pekerjaannya. Zat-zat gizi
yang berasal dari makanan sehari-hari berfungsi sebagai zat tenaga, zat
pembangun, dan zat pengatur. Kebutuhan akan zat-zat gizi tergantung dari usia,
jenis kelamin, ukuran tubuh, dan jenis aktivitas. Gizi pada pekerja ditujukan untuk
kesehatan pekerja agar mampu bekerja secara optimal. Zat gizi utama yang paling
dibutuhkan oleh pekerja adalah karbohidrat sebagai sumber energi untuk kerja
otot. Selain karbohidrat, pekerja tetap memerlukan protein untuk memelihara
fungsi tubuh dan sebagai sumber energi (2).

208
Banyak faktor yang dapat memengaruhi status gizi seseorang, yang terdiri
dari faktor biologis, faktor sosial ekonomi, konsumsi makanan, faktor perilaku,
dan status kesehatan. Salah satu diantaranya adalah konsumsi makanan berupa
asupan energi. Hasil survei awal yang telah dilakukan peneliti menunjukkan
bahwa 46 % pekerja PTS mengalami status gizi lebih. Kondisi ini apabila
dibiarkan akan berakibat pada gangguan kesehatan, terutama munculnya penyakit
degeneratif serta gangguan metabolik lain. Perusahaan telah menyediakan makan
siang, namun belum pernah dianalisis kecukupan energi dan zat gizi yang
diberikan.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat observasional deskriptif dengan responden sebanyak
66 orang yang diambil secara purposif pada populasi karyawan yang mengalami
masalah terkait dengan sindroma metabolik dan menjadi sasaran program gizi di
PTS. Variabel yang diteliti adalah status gizi (menurut IMT dan lingkar perut),
kecukupan energi sehari (dari konsumsi makan sehari yang diperoleh dengan food
recall), kecukupan energi yang disediakan oleh katering perusahaan, dan beban
kerja. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan membuat tabulasi silang
serta dibandingkan dengan teori maupun peraturan yang berlaku.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Status Gizi
Status gizi menurut IMT menunjukkan bahwa sebagian besar responden (36
orang atau 55%) mengalami overweight dan 11 orang responden ( 17% )
mengalami obesitas. Status gizi menurut lingkar perut menunjukkan bahwa 32
orang ( 48%) mengalami belly obesity dan sisanya 34 orang (52%) memiliki
lingkar perut normal. Penilaian status gizi pekerja perlu dilakukan, karena dengan
mengetahuistatus gizi pekerja dapat ditentukan kebutuhan gizi yang sesuai serta
pemberian intervensi gizi bila diperlukan. Pemeriksaan status gizi dapat dilakukan
melalui beberpa cara, antara lain melalui pemeriksaan biokimia, pemeriksaan
klinis, pemeriksaan biofisik dan antropometri. Antropometri merupakan metode
yang paling sering digunakan dalam penilaian status gizi(3). Metode ini
menggunakan parameter BB dan TB untuk menghitung Indeks Masa Tubuh
(IMT) dan pengukuran lingkar perut (LP). Pada penelitian ini pemeriksaan status
gizi dilakukan dengan cara antropometri, yaitu dengan menghitung IMT dan LP.
Lingkar perut dikatakan normal untuk laki-laki adalah kurang atau sama dengan
90 cm. Menurut A. Esmailladeh, dkk (2004), lingkar perut merupakan indikator
yang paling banyak digunakan untuk mengetahui obesitas perut dalam suatu
populasi. Pada responden penelitian ini ternyata responden yang memiliki status
gizi menurt LP normal, lebih banyak yang memiliki IMT normal (4).

Tabel 1. Status gizi responden menurut LP dan IMT


Status gizi Status gizi menurut Lingkar Perut
Total
menurut Normal Belly obesity
IMT jumlah % jumlah % Jumlah %
Normal 15 79 4 21 19 100
Overweight 16 44 20 56 36 100
Obesitas 2 27 9 73 11 100

209
Namun, di sini juga tampak bahwa ada responden yang menurut IMT
tergolong overweight (44%) dan obesitas (27%), ternyata lingkar perutnya normal.
Ada pula responden yang status gizi menurut IMT normal, namun ternyata ia
mengalami bellyobesity (21%). Jadi pengukuran status gizi memang sebaiknya
dilakukan menggunakan lebih dari satu indikator agar dapat segera diwaspadai
jika ada risiko terkait dengan kelebihan status gizi.
Akibat apabila seseorang mengalami gizi lebih adalah kegemukan
(obesitas). Kegemukan merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya
berbagai macam penyakit degeneratif, seperti penyakit diabetes mellitus,
hipertensi, penyakit jantung koroner, hati, dan kantung empedu (3).
Berbagai penelitian mengenai status gizi menyebutkan bahwa prevalensi
terjadinya gizi lebih cenderung meningkat di Indonesia. Berdasarkan penelitian
Hellen Keller Indonesia pada tahun 1999 prevalensi status gizi lebih sebesar
14,0% meningkat pada tahun 2000 menjadi 17,4%, sehingga masih merupakan
masalah kesehatan di Indonesia(4).
3.2. Beban kerja
Beban kerja responden menurut hasil wawancara aktifitas kerjanya adalah
ringan sampai dengan berat dengan sebaran sebagai berikut:

Tabel 2. Distribusi frekuensi beban kerja responden, Gresik, Agustus 2015


Beban kerja Jumlah Persen
Ringan 6 7,9
Sedang 55 72,4
Berat 5 6,6
Total 66 100

Beban kerja adalah beban yang ditanggung oleh tubuh pekerja akibat
pekerjaannya. Menurut Christensen, beban kerja dapat diukur dengan berbagai
macam cara, antara lain observasi kegiatan kerja, pengukuran denyut nadi,
pengukuran konsumsi oksigen selama bekerja, dan lain-lain(5). Pada penelitian ini
beban kerja diketahui dari penjelasan responden dan supervisor mengenai aktifitas
kerja yang dilakukan. Sebagian besar responden memiliki beban kerja sedang
(72,4%) dan hanya, 6% yang memiliki beban kerja berat berat sisanya 7,9%
memiliki beban kerja ringan.
Beban kerja ringan, sedang dan berat tersebut setara dengan penggunaan
kalori sebesar 100-200 kalori/jam untuk beban kerja ringan, >200-350 kalori/jam
untuk beban kerja sedang dan >350-500 kalori/jam untuk beban kerja berat (6).
Beban kerja perlu diketahui dalam penelitian ini untuk menganalisis kecukupan
energi yang diasup responden, baik yang berasal dari hasil food recall selama 24
jam maupun dari menu makan siang yang disediakan katering perusahaan.
Hal ini penting dilakukan, karena jika asupan makanan melebihi energi yang
dikeluarkan, maka akan menyebabkan terjadinya malnutrisi. Seperti pada
penelitian ini dimana responden sebagain besar mengalami kelebihian gizi
(obesitas dan overweight) serta masalah sindroma metabolik yang kemungkinan
akibat asupan zat gizi yang tidak sesuai dengan beban kerjanya. Asupan energi
dari karbohidrat, protein dan lemak perlu diperhatikan agar status gizi responden
tetap baik yang selanjutnya akan berdampak pada status kesehatan serta
produktivitas kerja.

210
3.3. Kecukupan energi
Kecukupan Energi yang diteliti di sini adalah kecukupan energi yang berasal
dari karbohidrat, lemak, dan protein yang diberikan di perusahaan maupun yang
biasa dikonsumsi oleh responden. Hasil food recal sebagai berikut:

Tabel 3. Rerata konsumsi energi harian menurut hasil food recall,


Gresik-Agustus 2015
Rerata konsumsi energi Energi dari Energi dari Energi dari
harian (Kkal) KH (Kkal) Protein (Kkal) Lemak (Kkal)
2490 322 96 92

Kecukupan energi harian untuk orang yang bekerja dengan berbagai beban
kerja adalah berbeda-beda. Hasil food recall kemudian dibandingkan dengan hasil
perhitungan kecukupan energi untuk setiap beban kerja.

Tabel 4. Kecukupan energi menurut food recall dibandingkan


dengan kebutuhan energi menurut beban kerja
Kecukupan energi Jumlah Persen
Kurang 35 53
Cukup 0 0
Lebih 31 47
Total 66 100

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kecukupan energi menurut


hasil food recall pada responden adalah sebesar 2490 kalori, yang berasal dari
nilai rerata karbohidrat sebesar 322 kalori, protein sebesar 96 kalori dan lemak
sebesar 92 kalori. Persentase responden yang nilai kecukupan energinya kurang
sesuai dengan nilai anjuran adalah sebanyak 53% sedang sisanya (47%)
kecukupan energinya melebihi anjuran.
Kecukupan energi yang tidak sesuai dengan anjuran akan menyebabkan
masalah malnutrisi, baik gizi lebih maupun gizi kurang yang selanjutnya dapat
mempengaruhi produktivitas kerja. Namun pada penelitian ini responden yang
dari hasil food recall menunjukkan kecukupan energinya kurang, ternyata tidak
ada yang mengalami kurang gizi.
3.4. Kecukupan energi makan siang
Kecukupan energi dihitung berdasarakan asupan energi rata-rata pada
menu yang diberikan selama 10 hari pengamatan yang dibandingkan dengan
anjuran kecukupan energi sesuai beban kerja. Menu tersebut adalah berasal dari 3
katering yang bekerja sama dengan perusahaan yaitu katering 1, 2 dan 3. Hasil
analisis kecukupan energi makan siang adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Hasil perhitungan energi makan siang yang disediakan perusahaan,


Gresik- Agustus 2015
Energi (Kal) MENU MAKAN
ANJURAN Energi (Kal)
makan siang dari SIANG (Kal)
katering MEAN SD BEBAN KERJA MEAN SD
1 601 101 RINGAN 956 118
2 583 125 SEDANG 945 58
3 629 133 BERAT 1039 112

211
Tabel tersebut menunjukkan bahwa rerata (mean) energi makan siang yang
disediakan ketiga katering perusahaan selama pengamatan masih kurang dari nilai
anjuran untuk seluruh kategori beban kerja.
Setelah dilakukan perhitungan sesuai dengan data beban kerja, usia dan
jenis kelamin (semua responden laki-laki), maka energi yang harus disediakan
oleh katering perusahaan pada menu makan siangnya adalah sebagai berikut:

Tabel 6. Makanan yang seharusnya disediakan untuk setiap beban kerja pada
menu makan siang
Beban Karbohidrat Protein Lemak
Kerja Kal. Gram Kal. gram Kal. gram
Ringan 503 s/d 645 126 s/d 161 168 s/d 214 42 s/d54 168 s/d 214 19 s/d 24
Sedang 532 s/d 602 133 s/d 150 176 s/d 200 45 s/d 50 177 s/d 201 20 s/d 22
Berat 556 s/d 690 139 s/d 173 190 s/d 234 48 s/d 58 185 s/d 229 21 s/d 25

4. Kesimpulan dan saran


Disimpulkan bahwa penyediaan energi dari makanan yang disediakan
perusahaan belum sesuai dengan kebutuhan energi responden. Status gizi lebih
(overweight dan obesity) berasal dari pola makan responden di luar tempat kerja.
Disarankan agar perusahaan mengadakan health education bagi karyawan
mengenai pola hidup yang sehat untuk mengatasi masalah kelebihan gizi serta
melakukan perbaikan menu gizi yang disediakan.

Daftar Pustaka
1. Wiryo Hananto. (2002). Peningkatan gizi bayi, anak, ibu hamil dan menyusui
dengan bahan makanan local. Jakarta: Sagung Seto.
2. Djunaedi, H. 2001. Gizi Kerja untuk Meningkatkan Produktivitas, Majalah
Kesehatan Masyarakat Indonesia Tahun XXIX, Nomor 2.
3. Almatsier. (2005). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Cetakan V. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
4. Depkes RI (2005) Pedoman Pemberian ASI Eksklusif, Jakarta: WHO.
5. Tarwaka, 2011. Ergonomi Industri. Solo: Harapan Press Solo
6. BSN. 2009. Penilaian beban kerja berdasarkan tingkat kalori menurut
pengeluaran energi. SNI 7269: 2009

212
Aplikasi Sistem Peringatan Dini Pada Keamanan,
Keselamatan, dan Kesehatan Kerja
Aan Burhanuddin1, Muchamad Malik2
1
Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas PGRI Semarang
Jl. Sidodadi Timur Nomor 24 - Dr. Cipto, Semarang
E-mail: aan.burhanuddin@gmail.com
2
Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, FMIPA, Universitas Gadjah Mada
Sekip Utara, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
E-mail: muchamad.malik@mail.ugm.ac.id

Abstrak

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam perkembangannya akan lebih menakankan
pada pencegahan timbulnya kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja dengan
cara mengenali hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja
serta tindakan antisipatif apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Lingkungan kerja yang bersinggungan langsung dengan bahan beracun akan sangat
membahayakan bagi tubuh manusia apabila terpapar secara terus-menerus.
Sebuah lingkungan kerja yang mengandung bahan gas beracun sebagai contoh gas CO,
SO atau gas LPG dalam konsentrasi tertentu dapat menimbulkan iritasi mata atau sesak
napas. Oleh karena itu diperlukan sebuah sistem peringatan dini yang dapat mengukur
konsentrasi gas tersebut dan dapat memberikan peringatan kepada pekerja yang terkait
dengan konsentrasi gas tersebut kepada para pekerja.
Sistem peringatan dini ini dibuat menggunakan tiga sensor gas, tiga sensor panas, LED
dan buzzer. Pembacan dan pengolahan sensor tersebut diproses oleh mikrokontroler 16
bit yang akan mengondisikan ruangan. Dalam pembuatan sistem tersebut algoritma
permogramannya digunakan fuzzy yang sebelumnya telah disimulasikan dengan
MATLAB, sehingga logika pemrogramannya mengacu pada hasil simulasi, miniatur
ruangan dibuat dengan tiga ruang utama untuk pekerja dalam sebuah lorong dan sebuah
pintu darurat. Hasil dari sistem tersebut adalah apabila pada suatu ruangan terdeteksi
konsentrasi gas yang melebihi ambang batas, maka sistem akan mengaktifkan buzzer dan
akan mengaftikan LED sebagai arah jalur evakuasi paling aman.

Kata kunci: fuzzy, keamanan K3, MATLAB, sensor gas.

1. Pendahuluan
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak hanya menjadi salah satu unsur
perlindungan tenaga kerja yang bertujuan untuk menjamin keselamatan bagi para
pekerja saja, namun juga untuk menjamin agar sumber-sumber produksi dapat
digunakan secara aman dan efisien serta menjamin kelancaran proses produksi
yang merupakan faktor penting dalam meningkatkan produksi dan produktivitas
[1].
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam perkembangannya akan lebih
menakankan pada pencegahan timbulnya kecelakaan akibat kerja dan penyakit
akibat kerja dengan cara mengenali hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan
dan penyakit akibat kerja serta tindakan antisipatif apabila terjadi kecelakaan dan
penyakit akibat kerja. Lingkungan kerja yang bersinggungan langsung dengan

213
bahan beracun akan sangat membahayakan bagi tubuh manusia apabila terpapar
secara terus-menerus [2]. Beberapa contoh tempat kerja yang terpapar langsung
oleh gas beracun adalah pabrik pengolahan gas LPG, pabrik pupuk, Stasiun bahan
bakar gas dan lain sebagainya. Untuk meminimalisir bahaya gas polutan dalam
ruangan, dibutuhkan suatu sistem yang dapat mendeteksi gas berbahaya tersebut,
dan memberikan solusi arah evakuasi yang paling cepat dan paling aman.

2. Studi Pustaka
Dalam melakukan penelitian, penulis telah melakukan berbagai studi
pustaka sebelum merancang sistem peringatan dini pada keselamatan kerja
tersebut.Dengan cara ini penulis berusaha untuk mendapatkan dan mengumpulkan
data-data, informasi, konsep-konsep yang bersifat teoritis dari buku, bahan-bahan
kuliah dan internet yang berkaitan dengan permasalahan.
2.1. Kesehatan, keselamatan kerja
Perlindungan terhadap pekerja harus menjadi prioritas bagi sebuah
perusahan dan Negara, hal ini sesuai undang-undang yaitu Pasal 86 ayat 1
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 yang menyebutkan bahwa setiap pekerja/
buruh berhak untuk memperoleh perlindungan atas:
a. Keselamatan dan kesehatan kerja
b. Moral dan kesusilaan
c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai
agama.
Sedangkan ayat 2 dan 3 menyebutkan bahwa untuk melindungi
keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal
diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. (ayat 2), Perlindungan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. (ayat 3). Dalam Pasal 87 juga
dijelaskan bahwa Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen [3].
2.2 Sensor
Sensing atau pengindraan adalah teknik yang digunakan untuk
mengumpulkan informasi tentang objek fisik atau proses, termasuk terjadinya
peristiwa (yaitu, perubahan suatu keadaan seperti penurunan suhu atau tekanan).
Sebuah objek yang melakukan suatu tugas penginderaan disebut sensor. Sebagai
contoh, tubuh manusia dilengkapi dengan sensor yang mampu menangkap
informasi optik dari lingkungan (mata), informasi akustik seperti suara (telinga),
dan bau (hidung) [4,5,6].

Gambar 1. Akuisisi Data

214
Pada Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa sinyal-sinyal listrik yang dihasilkan
seringkali tidak siap untuk segera diproses, karena itu mereka melewati tahap
pengondisian sinyal. Berbagai operasi dapat diterapkan pada sinyal sensor untuk
mempersiapkan untuk digunakan lebih lanjut.
2.3 Fuzzy Logic
Logika Fuzzy ( logika samar ) merupakan logika yang berhadapan langsung
dengan konsep kebenaran sebagian, dimana logika klasik menyatakan bahwa
segala hal dapat diekspresikan dalam binary 0 atau 1. Logika fuzzy
memungkinkan nilai keanggotaan antara 0 dan 1. Karena alasan diatas maka pada
penelitian ini akan dibuat perancangan perangkat lunak dan perangkat keras robot
avoider dengan mengunakan aplikasi fuzzy logic sebagai kendali sistem [7,8].

3 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode rancang bangun, yang diawali
dari: studi pustaka, pembuatan rangkaian elektronika, pembuatan logika fuzzy
dengan MATLAB, pengujian, dan implementasi.
3.1. Pembuatan Rangkaian Elektronika
Rangkaian elektronika dalam sistem simulasi ini terdiri dari mikrokontroler
sebagai pusat pengendali, sensor sebagai actuator dan input penginderaan, buzzer
dan LED sebagai output. Rangkaian elektronika sebagaimana dalam Gambar 2
dapat dijelaskan bahwa sensor gas pada rangkaian tersebut ada tiga buah, sensor
satu terkoneksi dengan pin analog 1, sensor 2 terkoneksi dengan pin analog 3 dan
sensor tiga terkoneksi dengan pin analog 5. Apabila suatu keadaan atau
konsentrasi gas melebihi ambang batas, maka sensor akan terpicu, gas tersebut
akan dirubah menjadi panas oleh rangkaian sensor, panas tersebut kemudian akan
diubah menjadi suatu sinyal listrik (tegangan) yang kemudian dikirim ke
mikrokontroler melalui pin analog yang kemudian akan diproses menjadi output.
Output tersebut yaitu berupa switch otomatis yang akan menghidupkan buzzer dan
LED.

Gambar 2. Rangkaian Elektronika

3.2. Penerapan Fuzzy Logic


MATLAB adalah sistem perangkat lunak interaktif dengan elemen dasar
basis data array. Hal ini memunginkan seorang pengguna (user) dapat

215
memecahkan masalah yang berhubungan dengan komputasi dan matematika.
Software MATLAB digunakan untuk simulasi pada logika fuzzy sehingga
pembuatan aturan logikanya dapat terpenuhi.

Gambar 3. Simulasi MATLAB

Proses simulasi tersebut membutuhkan tiga inputan seperti pada Gambar 3


yaiyu Gas 1, Gas 2, Gas 3. Inputan dari himpunan fuzzy tersebut kemudian
dijadikan nilai crips yang kemudian ditentukan besar domain dan daerah batasan
crips nya. Output dari simulai tersebut bergantung pada aturan-aturan yang
diterapkan pada logika fuzzy yang dibuat. Aturan-aturan tersebut yang nantinya
akan diaplikasikan kedalam kode program yang nanti akan dimasukkan ke dalam
mikrokontroler.

4. Hasil dan Pembahasan


Dalam penelitian ini, purwarupa raungan dibuat dengan ukuran 20 cm x 50
cm yant terdiri dari tiga ruang utama yang diasumsikan sebagai ruang kerja. Tiap
ruangan mempunyai lorong sehingga terdapat tiga lorong yang saling terhubung
dan sebuah jalur evakuasi.
R1 R2 R3
E4

E1 E2 E3
E1
E1 E1
Gambar 4. Desain Ruangan

Gambar 4 merupakan desain layout maket ruangan yang dapat dijelaskan


bahwa R1 adalah ruang satu, R2 adalah ruang dua, R3 adalah ruang tiga, E1
adalah lorong satu, E2 adalah lorong dua, E3 adalah lorong tiga dan E4 adalah
lorong empat. Pada tiap ruangan tersebut akan diberikan sensor gas sebagai
pendeteksi gas dalam ruangan. Pada setiap lorong akan diberikan LED warna
merah sebagai penunjuk bahaya dan led warna hijau sebagai penunjuk jalur
evakuasi yang aman. Dalam membuat logika sistem keamanan tersebut harus
memenuhi aturan yang telah dibuat.

Tabel 1. Aturan Logika


No Sensor Led Merah Led Hijau Buzzer Keterangan
1 If Sensor R1, R2, R3 < E1, E2, E3, E1, E2, E3, Mati Gedung aman
setpoint E4= Mati E4= Hidup
2 If Sensor R2 > setpoint E1, E3,E4 = E1,E3, E4 = Hidup Terjadi
Mati, E2 = Hidup, E2 = Ketidakamanan
Hidup Mati pada Ruang 2

216
3 If Sensor R3 > setpoint E1, E2,E4 = E1,E2, E4 = Hidup Terjadi
Mati, E3 = Hidup, E3 = Ketidakamanan
Hidup Mati pada Ruang 3
4 If Sensor R 1> setpoint E2, E3,E4 = E2,E3, E4 = Hidup Terjadi
Mati, E1 = Hidup, E1 = Ketidakamanan
Hidup Mati pada Ruang 1
5 If Sensor R1, R2 > setpoint E3,E4 = Mati, E3, E4 = Hidup Terjadi
E1, E2 = Hidup, E1,E2 Ketidakamanan
Hidup = Mati pada Ruang 1,2
6 If Sensor R2, R3 > setpoint E1,E4 = Mati, E1, E4 = Hidup Terjadi
E2, E3 = Hidup, E2,E3 Ketidakamanan
Hidup = Mati pada Ruang 2,3
7 If Sensor R1, R3 > setpoint E2,E4 = Mati, E2, E4 = Hidup Terjadi
E1, E3 = Hidup, E1,E3 Ketidakamanan
Hidup = Mati pada Ruang 1,3
8 If Sensor R1, R2,R3 > setpoint E4 = Mati, E1, E4 = Hidup, Hidup Terjadi
E2, E3 = E1,E2, E3 = Ketidakamanan
Hidup Mati pada Ruang 1,2,3

Gambar 5. Hasil Logika Fuzzy

Dari tabel 1 tersebut maka dibuat sebuah algoritma permograman yang


sesuai dengan rule tersebut yang dapat dimasukkan ke dalam mikrokontroler.
Maka relasi dari tiap-tiap input terhadap rule atau aturan akan menghasilkan
beberapa output yang sama seperti ditunjukkan pada gambar 5.
Hasil dari algoritma tersebut adalah apabila dalam ruangan tersebut tidak
ada gas berbahaya yang terdeteksi maka akan dianggap aman dengan indikator
LED warna hijau menyala, apabila di ruang satu (R1) terdapat kandungan gas
yang berbahaya maka LED hijau pada lorong satu (E1) akan mati dan LED merah
akan menyala, sedangkan LED pada lorong lainnya akan menyala dan buzzer akan
bunyi sebagai tanda peringatan. Apabila ruang satu dan ruang dua terdeteksi ada
gas berbahaya, maka LED merah pada lorong satu dan dua akan hidup dan LED
warna hijau akan mati, sedangkan di lorong lain akan menyala. Apabila semua
ruangan terdeteksi ada gas berbahaya, maka hanya akan ada LED hijau pada
lorong jalur darurat (E4) yang menyala sedang lorong lain akan menghidupkan
LED merah, sehingga dapat diasumsikan bahwa keadaan jalur evakuasi paling
aman adalah melalui pintu darurat.

217
5. Kesimpulan
Dari hasil penelitan yang telah dilakukan, sensor gas memiliki kepekaan
yang sangat sensitif, sehingga respon terhadap output nya juga sangat cepat. Hal
ini dapat menjadikan sistem ini menjadi lebih responsif dan bermanfaat terhadap
pekerja sebagai peringatan dini apabila terjadi kebocoran gas, kebakaran maupun
sebagai detektor polutan. Hasil dari simulasi pada MATLAB dan implementasi
logika fuzzy pada mikrokontroler berjalan sesuai aturan yang dibuat sebelumnya,
sehingga sistem ini dianggap tepat dan presisi.
Sistem peringatan dini terhadap keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja
ini perlu adanya pengembangan lanjutan yaitu perlu adanya simulasi yang
menyakup keadaan ruangan yang lebih banyak dan dapat diemplementasikan di
suatu gedung yang mempunyai lantai lebih dari satu.

Daftar Pustaka
[1].Hidayah. Pelaksanaan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam
Meningkatkan Produktivitas Kerja Karyaean di PT Tirta Investama
Wonosobo. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta; 2013.
[2].Kosegeran, Victor. Perancangan Alat Ukur Kadar CO,CO2 dan HC pada Gas
Buang Kendaraan Bermotor. Manado: Universitas Samratulangi. 2013
[3].Undang Republik Indonesia. No. 13 Tahun 2003 Pasal 86 ayat 1, Tentang
Ketenaga Kerjaan.
[4].Mukhopadhyay, Subhas Chandra. Intelligent Sensing, Instrumentation and
Measurements. New Zealand: School of Engineering and Advanced
Technology, Massey University (Turitea Campus), Palmerston North.;
2013
[5].Mukhopadhyay, Subhas Chandra. Smart Sensors, Measurement and
Instrumentation. New Zealand: School of Engineering and Advanced
Technology, Massey University (Turitea Campus), Palmerston North.
2013
[6].Dargie, Waltenegus. Wireless Sensor Network Theory and Practice. Germany:
Technical University of Dresden. 2010.
[7].Ross, Timothy J. Fuzzy Logic with Engineering Appli ations, Third Edition.
Canada: John Wiley & Sons, Ltd, ISBN 978-0-470-74376-8; 2010.
[8].Lilly, John H. Fuzzy Control and Identification. Canada: John Wiley & Sons,
Ltd,ISBN 978-0-470-54277-4, 2010

218
Dows Fire dan Explosion Index Sebagai Solusi Alternatif
Dalam Penilaian Potensi Bahaya dan Risiko
Terjadinya Kebakaran dan Ledakan
(Studi Kasus di Tangki Penyimpanan LPG Pertamina Perak Surabaya)

Dani Nasirul Haqi


Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga
Jl. Mulyorejo, Kampus C, UNAIR Surabaya
Tel. 0857303096977, E-mail: dani.nihaq@gmail.com

Abstrak

Depot Liquified Petroleum Gas (LPG) Pertamina Tanjung perak Surabaya adalah salah
satu perusahaan yang bergerak dalam menyimpanan dan pendistribusian LPG. Dalam
proses kegiatanya banyak menggunakan bahanbahan kimia yang bersifat flamable, yaitu
bahan bakar yang mudah terbakar. Sehingga potensi untuk terjadinya kebakaran dan
ledakan di Depot LPG Pertamina Tanjung perak besar.
Metode Dows Fire and Explosion Index yaitu suatu instrumen untuk melakukan evaluasi
secara bertahap risiko bahaya kebakaran, ledakan, dan potensial reaktifitas dari peralatan
beserta isinya secara obyektif dan realistis.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat bahaya kebakaran dan ledakan pada tangki
penyimpanan LPG di Depot LPG Pertamina Perak Surabaya sebesar 298,62 masuk dalam
klasifikasi tingkat bahaya parah. Luas daerah pajanan apabila terjadi kebakaran dan
ledakan adalah sebesar 18352,07 m. Besarnya nilai/harga dari peralatan sebagai bentuk
kerugian karena berada di daerah paparan bahaya dan terpapar risiko terjadinya
kebakaran maupun peledakan pada unit proses adalah sebesar Rp. 7.237.989.100.000.
Besarnya kerugian akibat adanya paparan dari material faktor pada suatu area paparan
(area of exposure) tertentu dalam proses unit ketika kecelakaan adalah sebesar Rp
8.742.767.000.000. Besarnya faktor yang dapat mengendalikan kerugian sebesar 0,5.
Besarnya kerugian sebenarnya yang diderita jika terjadi kebakaran dan ledakan sebesar
Rp 4.371.383.500.000.

Kata kunci: Kebakaran, Ledakan, Liquified Petroleum Gas.

1. Pendahuluan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat
pekerja maupun pengusaha sebagai upaya mencegah timbulnya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi
menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta tindakan antisipatif
apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Tujuan dari dibuatnya
program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah untuk mengurangi biaya
perusahaan apabila timbul kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) seharusnya menjadi prioritas utama dalam suatu
perusahaan, namun sayangnya tidak semua perusahaan memahami akan arti
pentingnya K3 dan mengetahui bagaimana cara mengimplementasikannya dengan
baik dalam lingkungan perusahaan. Potensi kerugian perusahaan akibat lemahnya
implementasi K3 sangat besar diantaranya yaitu terganggunya proses produksi
dan perbaikan alat produksi yang rusak karena kecelakaan kerja serta perusahaan

219
kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan karena rendahnya produktivitas
kerja karyawan.
Salah satu hal yang paling ekstrim apabila perusahaan tidak menerapkan
aspek K3 dengan baik adalah terjadinya kebakaran dan ledakan. Kebakaran dan
ledakan dapat mengakibatkan kecelakaan yang serius dan menghasilkan kerugian
materi serta kehidupan yang besar. Kebakaran adalah suatu nyala api, baik kecil
maupun besar pada tempat yang tidak dikehendaki, merugikan dan pada
umumnya sukar dikendalikan. Kebakaran dapat terjadi dimana saja dan kapan
saja. Bahkan di hutan, perumahan, perkantoran, pertokoan, dan gedung-gedung
tinggi. Tidak ada tempat kerja yang dapat dijamin bebas dari risiko bahaya
kebakaran. Kebakaran di tempat kerja membawa konsekuensi yang berdampak
merugikan banyak pihak baik pengusaha, tenaga kerja, maupun masyarakat luas.
Akibat yang ditimbulkan dari peristiwa kebakaran di tempat kerja dapat
mengakibatkan korban jiwa, kerugian material, hilangnya lapangan pekerjaan dan
kerugian lainya yang tidak langsung (Direktorat Pengawasan Keselamatan Kerja
Ditjen Pembina Pengawasan Ketenagakerjaan, 2004).
Depot LPG Pertamina Tanjung perak Surabaya adalah salah satu perusahaan
yang bergerak dalam menyimpanan dan pendistribusian Liquified Petroleum Gas
(LPG). Dalam proses kegiatanya banyak menggunakan bahanbahan kimia yang
bersifat flamable, yaitu bahan bakar yang mudah terbakar. Sehingga potensi untuk
terjadinya kebakaran dan ledakan di Depot LPG Pertamina Tanjung perak juga
besar.
Berdasarkan hal yang telah dipaparkan di atas, maka diperlukan suatu
penilaian terhadap potensi kebakaran dan ledakan. Ada beberapa cara untuk
melakukan penilaian terhadap potensi bahaya dan risiko kebakaran dan ledakan,
salah satunya dengan menggunakan metode Dows Fire and Explosion Index
yaitu suatu instrumen untuk melakukan evaluasi secara bertahap risiko bahaya
kebakaran, ledakan, dan potensial reaktifitas dari peralatan beserta isinya secara
objektif dan realistis.

2. Metode Penelitian
Berdasarkan metode yang digunakan jenis penelitian ini adalah penelitian
survei (survey research method). Penelitian survei adalah suatu penelitian yang
dilakukan tanpa melakukan intervensi terhadap subjek penelitian. Berdasarkan
sifatnya jenis penelitian ini merupakan penelitian survei yang bersifat analitik
(analytical). Penelitian survei analitik diarahkan untuk menjelaskan suatu keadaan
atau situasi. Pada penelitian ini menjelaskan risiko bahaya kebakaran, ledakan,
dan potensial reaktifitas dari peralatan beserta isinya secara obyektif dan realistis
di Depot LPG Pertamina Tanjung Perak Surabaya. Berdasarkan waktu
pelaksanaannya, jenis penelitian ini termasuk penelitian cross sectional karena
penelitian dilaksanakan pada periode waktu tertentu.
Teknik Pengumpulan Data. Data primer yang dikumpulkan adalah data hasil
wawancara dan observasi di Depot LPG Tanjung Perak Surabaya. Data yang
diperoleh dalam observasi ini adalah data mengenai luas area penyimpanan LPG,
dan mengenai sistem pencegahan terhadap bahaya kebakaran dan ledakan yang
sudah diterapkan di tangki penyimpanan LPG. Sedangkan data yang diperoleh
dari hasil wawancara yaitu data berupa unit proses pada tangki penyimpanan
LPG, besarnya biaya yang ditanggung atau kerugian akibat kebakaran dan

220
ledakan. Data skunder yang dikumpulkan dalam kegiatan ini berupa: data
mengenai profil perusahaan,yang terdiri dari gambaran umum perusahaan,
kebijakan K3 yang diterapkan, kegiatan K3 yang dilaksanakan, dan data-data
lainya yang diperlukan untuk menunjang penelitian. Dalam penelitian ini data
dimasukkan ke dalam formulir Fire and Explosion Index untuk dilakukan
perhitungan-perhitungan sesuai dengan petunjuk yang terdapat dalam pedoman
Dows Fire and Explosion Index. Perhitungan dilakukan secara manual dan
dengan bantuan piranti lunak computer.

3. Hasil dan Pembahasan


Menentukan Fire and Explosion Index dengan memasukkan hasil analisis
MF, F1, F2, dan F3 ke formulir Fire and Explosion Index pada Pedoman Dows
Fire and Explosion Index. Hasil perhitungan Fire and Explosion Index dapat
dilihat pada lampiran 1 Formulir Perhitungan Fire and Explosion Index. Tingkat
bahaya kebakaran dan ledakan pada tangki penyimpanan LPG di Depot LPG
Pertamina Perak Surabaya sebesar 298,62 masuk dalam klasifikasi tingkat bahaya
parah. Radius of exposure di peroleh dengan mengalikan F & EI dengan konstanta
0,84. Maka radius pajanan adalah:
Radius of exposure (ft)= 0,84 x (F&EI)
= 0,84 x 298,62
= 250,84 ft
= 76,45 m
Luasan yang terpapar apabila LPG storage tank mengalami peledakan maupun
kebakaran.
Area of exposure = x radius of exposure
= 3,14 x (76,45)
= 18352,07 m
Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian teknik di Depot LPG
Pertamina Perak. Didapatkan niali original cost sebesar Rp. 14.880.000.000.
Sehingga jika niali tersebut dikalikan dengan 0,82 dan escalation factor (593,2).
Didapatkan nilai pengganti sebesar Rp. 7.237.989.100.000.
Nilai Daerah Pajanan = Rp. 7.237.989.100.000.
Menentukan Faktor Kerusakan (Damage Factor). Item ini menunjukkan
keseluruhan efek/dampak kerusakan yang terjadi akibat pelepasan energi pada
suatu unit proses. Adapun penilaian pada item ini mengikuti formulasi sebagai
berikut:
MF = 21 ; F3 (X) = 14,22
Damage factor (Y) = 0,340314 + (0,076531 x (X)) + (0,003912 x (X))
(0,00073 x (X))
= 0,340314 + (0,076531 x (14,22)) + (0,003912 x
(14,22)) (0,00073 x (14,22))
= 1,2079
Kerugian akibat adanya paparan dari material faktor pada suatu area paparan
(area of exposure) adalah
Base MPPD = Damage Factor x Value of The Area of Exposure
= 1,2079x Rp.7.237.989.100.000
= Rp 8.742.767.000.000

221
Pada bagian konstruksi berbagai plant/process unit, harus disertakan nilai-
nilai dari indeks pencegahan dan kontrol terhadap bahaya kebakaran maupun
peledakan dari proses unit tersebut sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang
berlaku. Dalam pemenuhan persyaratan-persyaratan dasar khususnya terhadap
bagian dari pengendalian kerugian (loss control) harus didasarkan pengalaman
dalam pencegahan terjadinya insiden yang serius dan mengurangi kemungkinan
terjadinya insiden tersebut. Ada tiga kategori yang menandakan bagian-bagian
dari pengendalian kerugian (loss control) yaitu Process Control (C1), Material
Isolation (C2), dan Fire Protection (C3). Berdasarkan hasil observasi dan
wawancara dengan Supervisor LPG di bagian Maintenance, didapatkan analisis
Loss Control Credit Factor sebagai berikut:
LCCF = C1 x C2 x C3
= 0,73 x 0,94 x 0,73
= 0,5
Actual Maximum Probable Property Damage merupakan besarnya kerugian
akibat adanya paparan dari material factor pada suatu area paparan (area of
exposure) tertentu dalam suatu proses unit. Besarnya kerugian ini diterima ketika
terjadi kecelakaan walaupun pada unit proses telah tersedia peralatan yang
dilengkapi sistem pengamanan terhadap timbulnya kondisi abnormal penyebab
kecelakaan itu. Nilai ini dapat dianggap sebagai bentuk kerugian material yang
ditanggung walau ada bentuk pengendalian untuk mengurangi kerugian baik pada
pengendalian unit proses yang berbahaya, serta sistem pencegahan dan
penanggulangan kebakaran pada unit proses tersebut. Adapun nilai Actual MPPD
ditentukan sebagai berikut:
Actual MPPD = LCCF x Base MPPD
= 0,5 x Rp 8.742.767.000.000
= Rp 4. 371. 383. 500.000

4. Kesimpulan
Tingkat bahaya kebakaran dan ledakan pada tangki penyimpanan LPG di
Depot LPG Pertamina Perak Surabaya sebesar 298,62 masuk dalam klasifikasi
tingkat bahaya parah. Luas daerah pajanan apabila terjadi kebakaran dan ledakan
pada tangki penyimpanan LPG adalah sebesar 18352,07 m. Besarnya nilai/harga
dari peralatan sebagai bentuk kerugian karena berada di daerah paparan bahaya
dan terpapar risiko terjadinya kebakaran maupun peledakan pada unit proses
adalah sebesar Rp. 7.237.989.100.000. Besarnya kerugian akibat adanya paparan
dari material faktor pada suatu area paparan (area of exposure) tertentu dalam
proses unit ketika kecelakaan adalah sebesar Rp 8.742.767.000.000. Besarnya
faktor yang dapat mengendalikan kerugian jika terjadi kebakaran dan ledakan
pada tangki penyimpanan LPG di Depot LPG Pertamina Tanjung Perak sebesar
0,5. Besarnya kerugian sebenarnya yang diderita jika terjadi kebakaran dan
ledakan pada tangki penyimpanan LPG di Depot LPG Pertamina Tanjung Perak
Surabaya sebesar Rp 4.371.383.500.000.

Daftar Pustaka
American Institute Of Chemical Engineers. 1994. Dows Fire and Explosion
Index Hazard Classification Guide, 7th edn. New York: American Institute
of Chemical

222
American Petroleum Institute. 2006. Management of Atmospheric Storage Tank
Fire, 4th. American Petroleum Institute.
Building & Plant Institute dan Ditjen Binawas Depnaker RI. 2005. Training
Penanggulangan Kebakaran. Jakarta.
Chandra, V. 2006. Fundamentals of Natural Gas. Oklahoma: PennWell
Cooperation.
Chemical Engineering Magazine. 2011. Chemical Engineering Plant Cost Index,
April 2011. Chemical Engineering Magazine.
Center For Chemical Process Safety. 2003. Guidelines for Fire Protection in
Chemical, Petrochemical, and Hydrocarbon Processing Facilities. New
York: Center for Chemical Process Safety of the American Institute of
Chemical Engineers.
Crowl, D.A. 2003. Understanding Explosions. New York: Center for Chemical
Process Safety of the American Institute of Chemical Engineers.
Direktorat Pengawasan Keselamatan Kerja Ditjen Pembina Pengawasan
Ketenagakerjaan. 2004. Pengawsan K3 Penanggulangan Kebakaran. Edisi
I. Jakarta: Depnakertrans RI.
Furness, A & Muckett, M. 2007. Introduction to Fire Safety Management. UK:
Elsevier.
Imamkhasani, S. 1991. Bahan bahan Kimia Berbahaya. IN NEDVED, M.&
IMAMKHASANI, S. (Eds.) Dasar dasar Keselamatan Kerja Bidang
Kimia dan Pengendalian Bahaya besar. Jakarta: ILO.
Less, F. P. 1996. Loss Prevention in the Process Industries: Hazard Identification,
Assessment and Control.Oxford: Butterworth-Heinemann.
Marzuki. 2002.Metodologi Riset. Yogyakarta: BPFE-UII.
Material Safety Data Sheet. 2007. Liquefied Petroleum Gas (LPG). Jakarta:
Pertamina.
National Fire Protection Association. 1991. NFPA 30: Flammable and
Combustibles Liquid Code 1990 Edition. National Fire
Codes.Massachusetts.
National Fire Protection Association. 2003. NFPA 101:Life Safety Codes. One
Batterymarch Park. Quincy. Massachusetts.
Nedved, M. 1991a. Pencegahan dan Perlindungan Terhadap Kebakaran dan
Peledakan. IN NEDVED, M. & IMAMKHASANI, S. (Eds.). Dasar-dasar
Keselamatan Kerja Bidang Kimia dan Pengendalian Bahaya Besar.
Jakarta: ILO.
Nolan, D. P. 1996. Handbook of Fire and Explosion Protection Engineering
Principles For Oil, Gas, Chemical, and Related Facilities. New Jersey:
Noyes Publications.
Notoamodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan, Cetakan pertama.
Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Permenaker RI No.04/Men/1980. Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan
Alat Pemadam Api Ringan. Jakarta.
Ramli, S. 2010a. Manajemen Kebakaran. Jakarta: Dian Rakyat.
Sari, KJ.2007. Evaluasi Sistem Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran
Pada Gedung Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Kampus
Depok, Tahun 2007, [Skripsi]. Program Sarjana Kesehatan

223
MasyarakatPeminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas
KesehatanMasyarakat Universitas Indonesia, Depok.
Siswoyo.2007. Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran Aktif dan Sarana
Penyelamatan Jiwa Di Gedung Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Tahun 2007, [Skripsi].Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Peminatan
Keselamatandan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia,Depok.
Suardin, J. 2005. The Integration Of Dows Fire and Explosion Index Into
Process Design And Optimization To Achieve An Inherently Safer Design
Master of Science. Texas: Texas A&M University.
Triyono, A. 2001. Teknik Penanggulangan Bahaya Kebakaran Di Perusahaan.
Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja, vol. XXXIV, no. 3, Juli-
September, hal. 34. Jakarta: Depnaker.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja.

224
Lampiran 1

Tabel 1. Formulir Perhitungan Fire and Explosion Index (F & EI)

AREA / COUNTRY BUSINESS GROUP LOCATION DATE


Indonesia Depot LPG Pertamina Surabaya 23 Oktober 2014
Perak
SITE PROCESS UNIT
EHS LPG Storage Tank
PREPARED BY: APPROVED BY: (Production
Dani Nasirul Haqi Manager)
REVIEWED BY: (Management) REVIEWED BY: (Technology) REVIEWED BY:(Safety/Environment)

MATERIALS IN PROCESS UNIT


LPG
STATE OF OPERATION BASIC MATERIAL(S) FOR MATERIAL FACTOR

225
___ DESIGN ___ START UP ___ NORMAL Propana dan Butana
OPERATION___ SHUTDOWN
MATERIAL FACTOR (See Table 1 or Appendices A or B) Note requirements when unit temperature 21
o o
over 140 F (60 C)
1. General Process Hazards Penalty Penalty Fac-
Factor Range tor Used(1)
Base Factor .................................................................................................................... 1.00 1.00
A. Exothermic Chemical Reactions 0.00 to 1.25 -
B. Endothermic Processes 0.00 to 0.40 -
C. Material Handling and Transfer 0.00 to 1.05 0.85
D. Enclosed or Indoor Process Units 0.00 to 0.90 -
E. Access 0.00 to 0.35 0.35
F. Drainage and Spill Control 0.00 to 0.50 0,25
General Process Hazards Factor (F1) (SUM A to F) ............................................................................... 2.45
2. Special Process Hazards
Base Factor .................................................................................................................... 1.00 1.00
A. Toxic Material(s) 0.0 to 0.80 0.20
B. Sub-Atmospheric Pressure (< 500 mm Hg) 0.50 -
C. Operation In or Near Flammable Range ___ Inerted ___ Not Inerted
1. Tank Farms Storage Flammable Liquids 0.50 0.50
2. Process Upset or Purge Failure 0.30 -
3. Always in Flammable Range 0.80 0.80
D. Dust Explosion (See Table 3) 0.00 to 2.00 -
E. Pressure (See Figure 2) Operating Pressure 0 psig or kPa gauge 0.314
Relief Setting 0 psig or kPa gauge
F. Low Temperature 0.0 to 0.30 0.30
G. Quantity of Flammable/Unstable Material: Quantity= 9831457,79 lbor kg
HC = 19,8 x 10^3 BTU/lb or kcal/kg
1. Liquids or Gases in Process (See Figure 3) -
2. Liquids or Gases in Storage (See Figure 4) 0.69

226
3. Combustible Solids in Storage, Dust in Process (See Figure 5) -
H. Corrosion and Erosion 0.00 to 0.75 0.50
I. Leakage Joints and Packing 0.00 to 1.50 1.50
J. Use of Fired Equipment (See Figure 6) -
K. Hot Oil Heat Exchange System (See Table 5) 0.00 to 1.15 -
L. Rotating Equipment 0.00 - 0.50 -
Special Process Hazards Factor (F2) (A to L) ...................................................................................... 5,804
Process Unit Hazards Factor (F1 x F2) = F3 ........................................................................................ 14,22
Fire and Explosion Index (F3 x MF = F&EI) ....................................................................................... 298,62
Efektifitas Penggunaan Local Exhaust Ventilation (LEV) yang
Dirancang Secara Sederhana Dalam Meminimalisir Faktor
Bahaya Debu Pada Industri Informal

Saiku Rokhim
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Jl. Ahmad Yani 117 Surabaya
Tel. 031-8410298, E-mail: saiku_rokhim_avicenna@yahoo.com

Abstrak

Debu merupakan salah satu bahan kimia yang bersifat partikel dan dapat timbul pada
proses produksi, sehingga dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan tenaga kerja.
Salah satu industri informal dengan bahaya potensial berupa debu adalah industri di
bidang penggilingan padi. Tenaga kerja di penggilingan padi akan berisiko mengalami
gangguan pada saluran pernapasan apabila tidak ada pengendalian terhadap faktor debu.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas penggunaan Local Exhaust
Ventilation (LEV) yang dirancang secara sederhana.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Obyek penelitian ini adalah
LEV yang dirancang secara sederhana dan diaplikasikan pada penggilingan padi Desa
Pandan Pancur Kecamatan Deket Kabupaten Lamongan. Variabel penelitian ini meliputi
efektifitas penggunaan LEV yang dirancang secara sederhana serta kadar debu total (total
dust) sebelum dan sesudah pemasangan LEV tersebut. Anlisis penelitian dilakukan
dengan cara membandingan kadar debu total antara C2 (sesudah pemasangan LEV) dan C1
(sebelum pemasangan LEV).
Pada LEV dirancang dengan lima bagian yang sesuai dengan fungsinya masing-masing
yaitu hood, duct, air cleaner, fan dan exhaust stacks. Kemudian diaplikasikan di industri
penggilingan padi dengan penempatan sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi
semaksimal mungkin. Hasil pengukuran pada salah satu industri penggilingan padi
didapatkan: Kadar debu total sebelum pemasangan LEV pada sumber kontaminan sebesar
6,1 mg/m3 dan pada tempat istirahat tenaga kerja sebesar 3,6 mg/m3. Hasil pengukuran
kadar debu total sesudah pemasangan LEV pada sumber kontaminan sebesar 2,4 mg/m3
dan pada tempat istirahat tenaga kerja sebesar 0,6 mg/m3. Hasil analisis efektifitas
penggunaan LEVmenunjukkan bahwa kadar debu total sesudah pemasangan LEV lebih
kecil dari kadar debu total sebelum pemasangan LEV baik pada sumber kontaminan
maupun pada tempat istirahat tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa LEV yang
dirancang secara sederhana adalah efektif dalam meminimalisir faktor bahaya debu di
industri informal penggilingan padi.
Saran yang dapat diberikan adalah dalam melakukan pengukuran kadar debu sebaiknya
dilakukan secara berkala untuk mengetahui tingkat efektifitas LEV.

Kata kunci: kadar debu, local exhaust ventilation, penggilingan padi.

1. Pendahuluan
Debu merupakan salah satu bahan kimia yang bersifat partikel dan dapat
timbul atau terjadi pada sebagian proses produksi dan dapat menyebabkan
gangguan terhadap tenaga kerja baik kesehatan maupun keselamatan kerjanya [1].
Salah satu industri informal dengan bahaya potensial berupa debu adalah industri
di bidang penggilingan padi. Tenaga kerja di penggilingan padi akan berisiko

227
mengalami gangguan pada saluran pernapasan apabila tidak ada pengendalian
terhadap faktor debu.
Secara umum pengaruh bahan yang masuk melalui inhalasi baik yang
berupa gas maupun debu akan menimbulkan efek terhadap kesehatan yang dapat
berupa efek akut maupun kronik. Efek akut terjadi langsung setelah kontak
dengan bahan kontaminan, sedangkan efek kronik terjadi pada paparan yang
berjangka lama [2].
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Octoranova 2004 terdapat
sebanyak 75% tenaga kerja dari 80 responden yang telah mengalami keluhan pada
saluran pernapasan berupa batuk akibat paparan debu. Begitu juga penelitian yang
dilakukan Aditya 2006, bahwa sebanyak 87,5% tenaga kerja dari 24 responden
menyatakan adanya keluhan subyektif pada saluran pernafasan akibat paparan
debu di tempat kerja.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi tenaga kerja dari
faktor debu adalah pengadaan sistem ventilasi. Sistem ventilasi merupakan proses
pertukaran udara dengan cara pengeluaran udara terkontaminasi dari suatu ruang
kerja umum melalui saluran buang dan pemasukan udara segar melalui saluran
masuk. Prinsip-prinsip umum dalam pertukaran udara secara alami terjadi karena
adanya aliran udara dari satu titik ke titik lainnya yang disebabkan karena
perbedaan tekanan. Perbedaan tekanan menghasilkan suatu kekuatan pada udara
yang menyebabkan udara mengalir dari titik yang bertekanan lebih tinggi ke
tempat yang bertekanan lebih rendah. Diantara jenis ventilasi yang sangat efektif
untuk mengeluarkan udara kontaminan adalah Local Exhaust Ventilation (LEV).
Local Exhaust Ventilation (LEV) mengeluarkan kontaminan udara dari sumbernya
tanpa memberi kesempatan kepada kontaminan untuk mengadakan difusi dengan
udara di lingkungan kerja, karena Local Exhaust Ventilation (LEV) sendiri
diletakkan sangat dekat dengan sumber emisi. Local Exhaust Ventilation (LEV)
berfungsi menghirup kontaminan keluar dari lingkungan kerja dan mengendapkan
kontaminan dalam suatu kolektor, sehingga kontaminan tidak berhamburan di
lingkungan kerja yang akan mengganggu kenyamanan, kesehatan dan
keselamatan kerja [3].
Agar LEV yang dipakai dapat mencapai efektifitas yang maksimum, maka
perancangan dalam pembuatan komponen-komponen LEV harus diperhatikan.
Efektifitas menunjukkan sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan.
Dalam hal ini yaitu untuk menurunkan kadar debu di tempat kerja.

2. Metode Penelitian
2.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen, yaitu melakukan
percobaan penggunaan Local Exhaust Ventilation (LEV) yang dirancang secara
sederhana.
2.2. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Local Exhaust Ventilation
(LEV) yang dirancang secara sederhana dan diaplikasikan pada penggilingan padi
Desa Pandan Pancur Kecamatan Deket Kabupaten Lamongan.
2.3. Variabel Penelitian
a. Efektifitas penggunaan Local Exhaust Ventilation (LEV) yang dirancang
secara sederhana.

228
b. Kadar debu total (total dust) sebelum pemasangan Local Exhaust Ventilation
(LEV).
c. Kadar debu total (total dust) sesudah pemasangan Local Exhaust Ventilation
(LEV).

2.4. Analisis Data


Data hasil pengukuran kadar debu total sebelum dan sesudah pemasangan
Local Exhaust Ventilation (LEV) diolah dan dianalisis dengan cara
membandingan kadar debu total antara C2 (sesudah pemasangan LEV) dan C1
(sebelum pemasangan LEV).

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Hasil
3.1.1. Rancangan Local Exhaust Ventilation (LEV)
Local Exhaust Ventilation (LEV) yang dirancang secara sederhana terdiri
dari lima bagian yang sesuai dengan fungsinya masing-masing yaitu hood, duct,
air cleaner, fan dan exhaust stacks.

Gambar 1. Desain Local Exhaust Ventilation (LEV)

229
3.1.2. Pengukuran Kadar Debu Total (total dust) Sebelum Pemasangan Local
Exhaust Ventilation (LEV)

Tabel 1. Distribusi hasil pengukuran kadar debu total sebelum pemasangan Local
Exhaust Ventilation (LEV)
No Lokasi Berat Filter (mg) Kecepatan Waktu Kadar
Pengukuran X1 X2 Y1 Y2 Alira Udara / Paparan Debu
(mg) (mg) (mg) (mg) Flowrate (menit) Total
(liter/menit) (mg/m3)
1 Sumber 90,5 91,6 90,6 90,7 5,5 30 6,1
kontaminan
2 Tempat 90,5 91,3 90,7 90,9 5,5 30 3,6
istirahat
tenaga kerja
3.1.3. Pengukuran Kadar Debu Total (total dust) Sesudah Pemasangan Local
Exhaust Ventilation (LEV)

Tabel 2. Distribusi hasil pengukuran kadar debu total sesudah pemasangan Local
Exhaust Ventilation (LEV)
Berat Filter Kecepatan Kadar
Waktu
Lokasi Alira Udara / Debu
No X1 X2 Y1 Y2 Paparan
Pengukuran Flowrate Total
(mg) (mg) (mg) (mg) (menit)
(liter/menit) (mg/m3)
1 Sumber
90,3 90,7 90,8 90,8 5,5 30 2,4
kontaminan
2 Tempat
istirahat 90,5 90,7 90,8 90,9 5,5 30 0,6
tenaga kerja

3.2. Pembahasan
3.2.1. Rancangan Local Exhaust Ventilation (LEV)
Rancangan Local Exhaust Ventilation (LEV) terdiri dari lima bagian, yaitu:
1. Hood. Bahan yang digunakan untuk membuat hood yaitu menggunakan bahan
aluminium yang tahan korosi. Bahan yang digunakan untuk membuat hood
harus terbuat dari bahan yang tahan korosi [4]. Demikian pula desain hood
yang dibuat dengan bentuk bulat. Hood inlet yang berbentuk bulat adalah
lebih efisien dari hood inlet yang berbentuk kotak [4].
2. Duct. Berfungsi membawa kontaminan yang sudah tertangkap oleh hood
menuju ke air cleaner, terbuat dari pipa berbentuk bulat yang memiliki
permukaan yang halus. Duct yang berbentuk bulat dan permukaannya halus
sangat baik untuk local exhaust system [5].
3. Air cleaner. Tipe air cleaner yang digunakan yaitu tipe pengumpul debu dan
partikel (dust and particel collector) yang terdiri dari penyaring udara dan
pengumpul debu yang dipasang di dalam bag filter.
4. Fan. Menggunakan tipe centrifugal fan dengan bentuk straight (radial blade).
Tipe fan yang digunakan bila kadar debu dalam udara tempat kerja tinggi atau
sangat tinggi yaitu centrifugal fan dengan bentuk straight (radial blade) [5].
5. Exhaust stacks. Terbuat dari pipa berbentuk bulat dengan menggunakan bahan
yang tahan terhadap korosi [4].

230
3.2.2. Pengukuran Kadar Debu Total (total dust) Sebelum Pemasangan Local
Exhaust Ventilation (LEV)
Menurut Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. 01 Tahun 1997 bahwa
NAB debu total (total dust) adalah 10 mg/m3 dengan tidak mengandung asbes dan
kandungan silika bebas < 1% [6]. Berdasarkan tabel 1. dapat diketahui bahwa
kadar debu total sebelum pemasangan Local Exhaust Ventilation (LEV) baik pada
sumber kontaminan maupun pada tempat istirahat tenaga kerja masih berada di
bawah Nilai Ambang Batas (NAB) kadar debu total.
Walaupun demikian, kadar debu yang terukur di penggilingan padi
tersebut dapat dikatakan cukup tinggi terutama di bagian sumber kontaminan
yaitu 6,1 mg/m3. Hal ini dikarenakan mesin penggiling padi tidak tertutup rapat
dan terdapat kebocoran pada penampung padi sehingga debu padi keluar
berterbangan di udara. Kualitas udara di dalam ruangan mempengaruhi
kenyamanan lingkungan ruang kerja. Kualitas udara yang buruk akan membawa
dampak negatif terhadap tenaga kerja berupa keluhan kesehatan [7].
Debu padi merupakan debu organik yang dapat menyebabkan penyakit
pada pernafasan. Ini karena kepekaan dari saluran nafas bagian bawah terutama
alveoli terhadap debu meningkat. Kepekaan inilah yang mengakibatkan
penyempitan saluran nafas, hingga dapat menghambat aliran udara yang keluar
masuk paru dan akibatnya sesak nafas. Jika tenaga kerja terpapar debu tersebut
secara terus-menerus maka lama kelamaan debu tersebut merusak paru bahkan
sampai menimbulkan penyakit akibat kerja. Efek yang lama dari paparan debu
yang tertimbun di paru akan menyebabkan paralysis cilia, hipersekresi, dan
hipertrofi kelenjar mucus. Keadaan ini menyebabkan saluran nafas rentan
terhadap infeksi dan timbul gejala batuk menahun yang produktif[8].
3.2.3. Pengukuran Kadar Debu Total (total dust) Sesudah Pemasangan Local
Exhaust Ventilation (LEV)
Berdasarkan tabel 2. dapat diketahui bahwa kadar debu total sesudah
pemasangan Local Exhaust Ventilation (LEV) baik pada sumber kontaminan
maupun pada tempat istirahat tenaga kerja masih berada di bawah Nilai Ambang
Batas (NAB) kadar debu total.
Dengan adanya Local Exhaust Ventilation (LEV) maka kadar debu di
penggilingan padi dapat dikendalikan. Dengan menurunnya kadar debu di tempat
kerja maka diharapkan lingkungan kerja menjadi sehat yang pada akhirnya akan
meningkatkan produktifitas kerja.
3.2.4. Analisis Efektifitas Penggunaan Local Exhaust Ventilation (LEV) yang
Dirancang Secara Sederhana
Berdasarkan hasil pengukuran kadar debu total pada sumber kontaminan
yang semula 6,1 mg/m3 menjadi 2,4 mg/m3 sesudah pemasangan Local Exhaust
Ventilation (LEV). Hal ini menunjukkan adanya penurunan kadar debu total
sebesar 3,7 mg/m3. Sementara kadar debu total pada tempat istirahat tenaga kerja
yang semula 3,6 mg/m3 menjadi 0,6 mg/m3 sesudah pemasangan Local Exhaust
Ventilation (LEV). Hal ini menunjukkan adanya penurunan kadar debu total
sebesar 3 mg/m3. Dari hasil anlisis tersebut didapatkan bahwa penurunan kadar
debu total baik pada sumber kontaminan maupun pada tempat istirahat tenaga
kerja yaitu lebih dari 25%, hal ini berarti bahwa Local Exhaust Ventilation (LEV)
yang dirancang secara sederhana adalah efektif.

231
4. Kesimpulan dan Saran
4.1. Kesimpulan
Penggunaan Local Exhaust Ventilation (LEV) yang dirancang secara
sederhana dan di aplikasikan pada penggilingan padi menunjukkan bahwa kadar
debu total mengalami penurunan lebih dari 25%, hal ini menunjukkan bahwa
Local Exhaust Ventilation (LEV) yang dirancang secara sederhana adalah efektif.
4.2. Saran
Pengukur kadar debu total (total dust) sebelum dan sesudah pemasangan
Local Exhaust Ventilation (LEV) sebaiknya tidak hanya dilakukan satu kali pada
satu titik tertentu, tetapi sebaiknya dilakukan secara berkala untuk mengetahui
tingkat efektifitas Local Exhaust Ventilation (LEV).

Daftar Pustaka
1. Depertemen Tenaga Kerja R.I. 1995. Penyusunan Standart Pengukuran
Kadar Debu Total di Lingkungan Kerja. Jakarta: Depnaker.
2. Aditama, T. Y., dan Giri Putro, S. 1996. Polusi Udara dan Kesehatan
Paru. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia, Tahun XXIV, Nomor 3.
3. Hidayat, I. 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan Kerja.
Semarang: Universitas Diponegoro.
4. Siswanto, A. 1991b. Ventilasi Industri. Balai Hiperkes dan Keselamatan
Kerja Jawa Timur: Depnaker.
5. Waille, G dan Koley, D. 1997. Environmental, Safety and Health
Enginering. John Wiley and Sons, Inc.
6. Depertemen Tenaga Kerja R.I. 1997. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja
No. 01 Tahun 1997 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di
Lingkungan Kerja. Jakarta: Depnaker.
7. Djojodibroto, D. 1999. Kesehatan Kerja di Perusahaan. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
8. Yunus, F. 1997. Diagnosa Penyakit Paru Kerja. Jakarta: Cermin Dunia
Kedokteran No. 70: 18-23.

232
Efektifitas Simulasi Tanggap Darurat Kebakaran
Dengan Menggunakan Metode Prosedur Standar Oprasional
di Barge Pelangi Tirtamas 2
(Studi Kasus PT Pelangi Niaga Mitra Internasiona lKutai Kartanegara)

M. Isradi Zainal1, Mustadin Umar2


1
Prodi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Universitas Balikpapan
2
Mahasiswa Program Studi D4 K3, Universitas Balikpapan
Jl. Pupuk Raya, Balikpapan 76114

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui Sejauh mana efektivitas simulasi
tanggap darurat kebakarandengan menggunakan Metode Prosedur standar Operasional di
Barge Pelangi Tirtamas 2 PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional di Kutai Kartanegara.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data melalui
observasi dengan alat bantu checklist.
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja tanpa adanya sebuah simulasi atau latihan
dimana pekerja ditempatkan sedemikian rupa di dalam suasana yang menyerupai kejadian
sebenar-benarnya. Hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kesiapan para
pekerja dalam menangani sebuah situasi darurat kebakaran yang mungkin terjadi
mengingat besarnya risiko-risiko tersebut seperti yang ada pada industri migas.
Dari hasil penelitian yang dilakukan dan hasil dan pembahasan penelitian dapat ditarik
kesimpulan bahwa simulasi dilakukan dengan konsisten dan dari hasil penelitian yang
dilakukan dan hasil analisa serta pembahasan hasil penelitian secara keseluruhan
didapatkan kesimpulan bahwa efektifitas simulasi tanggap darurat kebakaran dengan
metode prosedur standar operasional di Barge Pelangi Tirtamas 2 masih pada tingkat
persentase yang sangat baik.

Kata kunci: efektifitas, simulasi, standar operasional prosedur

1. Pendahuluan
Dalam situasi keadaan Darurat bencana sering terjadi kegagapan
pananganan dan kesimpang siuran informasi dan data korban maupun kondisi
kerusakan, sehingga mempersulit dalam pengambilan kebijakan untuk
penanganan darurat bencana. Sistem koordinasi juga sering kurang terbangun
dengan baik, Penyaluran bantuan, distribusi logistic sulit terpantau dengan baik
sehingga kemajuan kegiatan penanganan tanggap darurat kurang terukur dan
terarah secara objektif. Situasi dan kondisi di lapangan yang seperti itu disebabkan
belum terciptanya mekanisme dan Koordinasi Tanggap Darurat Bencana yang
baik, terstruktur dan sistematis. Dalam kondisi Kedaruratan Bencana diperlukan
sebuah institusi yang menjadi pusat koordinasi kedaruratan bencana sesuai dengan
lokasi dan tingkatan bencana yang terjadi. Koordinasi Tanggap Darurat Bencana
dapat dilengkapi dengan Posko Lapangan Tanggap Darurat Bencana dengan
gugus tugas yang terdiri dari unit kerja yang saling terkait dan merupakan satu
kesatuan sistem yang terpadu.
Industri di Indonesia sendiri sangat beragam, mulai dari industri
perkebunan, pertambangan, minyak dan gas serta yang lainnya. Dalam hal
industri minyak dan gas, berbagai penyebab utama kecelakaan kerja pada proyek

233
ini sering kali adalah hal-hal yang berhubungan dengan kegagalan material
ataupun pekerja dalam hal melaksanakan keselamatan kerja dengan baik, lokasi
kerja yang berpindah-pindah dan berbeda-beda, terbuka dan dipengaruhi cuaca,
ataupun waktu pelaksanaan yang terbatas, dinamis dan menuntut ketahanan fisik
yang tinggi, serta banyak menggunakan tenaga kerja yang bervariasi dari yang
terlatih sampai yang tidak terlatih. Apabila ditambah dengan manajemen
keselamatan kerja yang sangat lemah, akibatnya para pekerja bekerja rentan
terpapar oleh kecelakaan. Untuk memperkecil risiko kecelakaan kerja, sudah sejak
lama pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan tentang keselamatan
kerja untuk menanggulangi risiko-risiko tersebut.
Masalah keselamatan dan kesehatan kerja berdampak ekonomis yang cukup
signifikan. Setiap kecelakaan kerja dapat menimbulkan berbagai macam kerugian.
Di samping dapat mengakibatkan korban jiwa, biaya-biaya lainnya adalah biaya
pengobatan, kompensasi yang harus diberikan kepada pekerja, premi asuransi, dan
perbaikan fasilitas kerja. Terdapat biaya-biaya tidak langsung yang merupakan
akibat dari suatu kecelakaan kerja yaitu mencakup kerugian waktu kerja
(pemberhentian sementara), terganggunya kelancaran pekerjaan (penurunan
produktivitas), pengaruh psikologis yang negatif pada pekerja, memburuknya
reputasi perusahaan, denda dari pemerintah, serta kemungkinan berkurangnya
kesempatan usaha (kehilangan pelanggan pengguna jasa). Biaya-biaya tidak
langsung ini sebenarnya jauh lebih besar dari pada biaya langsung. Berbagai studi
menjelaskan bahwa rasio antara biaya tidak langsung dan biaya langsung akibat
kecelakaan kerja konstruksi sangat bervariasi dan diperkirakan mencapai 4:1
sampai dengan bahkan 17:1 (The Business Roundtable, 1991).
Sangat diperlukan sekali dengan khusus dukungan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) untuk mencegah dan mengurangi angka kecelakaan kerja,
dengan menerapkan sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
tempat kerja. Dukungan tersebut harus dimulai dari tingkat manajemen paling atas
sampai tingkat kalangan pekerja yang paling bawah. Berbagai program
keselamatan dibuat dan di implementasikan di tempat kerja guna mencegah dan
mengurangi kecelakaan terjadi. Baik program yang dibuat sebelum pekerjaan
dimulai, dan ketika pekerjaan tersebut sedang berlangsung, maupun setelah
pekerjaan tersebut selesai. Salah satu program untuk mencegah kecelakaan kerja/
mengurangi angka kecelakaan di tempat kerja pada saat pekerjaan itu sedang
berlangsung adalah melakukan latihan tanggap darurat secara terus-menerus agar
setiap orang terbiasa dan secara cepat akurat dalam melakukan hal-hal yang
diperlukan pada saat ada kejadian bencana kebakaran, kapal tenggelam, kapal
tabrakan, badai atau gempa pada alam yang terjadi yang dapat mengakibatkan
kerugian yang lebih besar pada nyawa dan harta benda.
Pada penerapan sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja,
latihan tanggap darurat banyak digunakan untuk paling tidak mengurangi risiko-
risiko yang mungkin akan timbul apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di
lokasi kerja seperti yang dilakukan oleh PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional
yang bergerak dalam usaha di bidang kemaritiman dan berada di laut lepas yang
akses penyelamatan dan ruang geraknya terbatas.
Berdasarkan hal-hal tersebut, maka peneliti memandang perlu untuk
dilakukan penelitian dalam hal latihan tanggap darurat kebakaran dalam rangka

234
mengurangi risiko-risiko akibat kebakaran yang akan terjadi dan kemungkinan
akan lebih besar apabila tidak dapat ditanggulangi dengan segera.

2. Metode Penelitian
Metodologi penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metodologi
deskriptif persentase(kuantitatif) yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan
dengan tujuan utama membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu penerapan
secara objektif yang menurut Sugiyono (2014) dikatakan metode kuantitatif
karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan persentase.
Metode kuantitatif digunakan apabila masalah merupakan penyimpangan antara
seharusnya dengan yang terjadi, antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori
dengan praktik, antara rencana dengan pelaksanaan.
Ketepatan dalam penggunaan metode penelitian akan menetukan
objektifitas hasil penelitian. Oleh sebab itu, dalam penelitian yang dilakukan
terhadap latihan tanggap darurat kebakaran di atas kapal Pelangi Tirtamas 2 milik
PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional di lokasi Total E&P Indonesie selat
Makassar, peneliti akan mengguanakan metode penelitian deskriptif persentase
dengan pendekatan kuantitatif.
Deskriptif ini terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah atau
keadaan atau peristiwa sebagaimana yang bersifat sekedar untuk mengungkapkan
fakta. Hasil penelitian ini lebih ditekankan pada memberikan gambaran objektif
tentang keadaan sebenarnya dari objek yang diteliti. Penelitian terhadap teori dan
praktek adalah untuk memperoleh gambaran tentang faktor pendukung dan faktor
penghambatnya. Spesifikasi penelitian yang bersifat deskriptif analitis bertujuan
melukiskan kenyataan-kenyataan yang ada atau realitas sosial dan
menggambarkan objek pokok permasalahan.

3. Hasil dan Pembahasan


1. Evakuasi Simulasi Tanggap Darurat Kebakaran Api Kecil

Gambar 1. Diagram Kesesuaian Penerapan Simulasi Kebakaran Api Kecil

Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai kesesuaian


SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional dan diketahui
kesesuaian sesuai sebanyak 9 (100%) dan tidak sesuai 0 (0%).

235
2. Evakuasi Simulasi Tanggap Darurat Kebakaran Api Besar

Gambar 2. Diagram Kesesuaian Penerapan Simulasi Kebakaran Api Besar

Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai kesesuaian


SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional dan diketahui
kesesuaian sesuai sebanyak 11 (91%) dan tidak sesuai 1 (9%).

3. Barge Master

Gambar 3. Diagram Kesesuaian Tugas Barge Master

Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai kesesuaian


SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional dan diketahui
kesesuaian sesuai sebanyak 5 (83%) dan tidak sesuai 1 (17%).

236
4. Chief Officer

Gambar 4. Diagram Kesesuaian Tugas Chief Officer

Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai kesesuaian


SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional dan diketahui
kesesuaian sesuai sebanyak 2 (29%) dan tidak sesuai 5 (71%).
5. Radio Operator
Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai
kesesuaian SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional
dan diketahui kesesuaian sesuai sebanyak 3 (100%) dan tidak sesuai 0 (0%).
6. On Scene Commander /Safety on duty
Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai
kesesuaian SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional
dan diketahui kesesuaian sesuai sebanyak 8 (100%) dan tidak sesuai 0 (0%).
7. Safety Officer of Duty/Muster checker
Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai
kesesuaian SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional
dan diketahui kesesuaian sesuai sebanyak 7 (100%) dan tidak sesuai 0 (0%).
8. Paramedic
Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai
kesesuaian SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional
dan diketahui kesesuaian sesuai sebanyak 3 (100%) dan tidak sesuai 0 (0%).
9. Chief Engineer
Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai
kesesuaian SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional
dan diketahui kesesuaian sesuai sebanyak 4 (100%) dan tidak sesuai 0 (0%).
10. ERT I

Gambar 5. Diagram Kesesuaian Tugas ERT I

237
Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai kesesuaian
SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional dan diketahui
kesesuaian sesuai sebanyak 2 (67%) dan tidak sesuai 1 (33%).
11. ERT II
Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai kesesuaian
SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional dan diketahui
kesesuaian sesuai sebanyak 5 (100%) dan tidak sesuai 0 (0%).
12. ERT III/Stretcher Team
Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai kesesuaian
SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional dan diketahui
kesesuaian sesuai sebanyak 4 (100%) dan tidak sesuai 0 (0%).
13. ERT IV/Mekanik dan Elektrik
Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai kesesuaian
SOP dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional dan diketahui
kesesuaian sesuai sebanyak 2 (100%) dan tidak sesuai 0 (0%).
14. Tugas dari Personal On Board

Gambar 6. Diagram Kesesuaian Tugas Personal On Board

Diperoleh hasil perhitungan dari chek list persentase mengenai kesesuaian SOP
dengan penerapannya di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional dan diketahui
kesesuaian sesuai sebanyak 4 (80%) dan tidak sesuai 1 (20%).

4. Kesimpulan
b. Dari hasil penelitian yang dilakukan dan hasil analisa serta pembahasan
hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa Kesesuaian
Keseluruhan Tentang Efektifitas Simulasi Tangap Darurat Kebakaran
dengan menggunakan metode Prosedur Standar Operasional di Barge
Pelangi Tirta Mas 2 pada langkah-langkah kejadian Kategori Api Besar
& Kecil di PT. Pelangi Niaga Mitra Internasional masih tinggi yaitu
95% mendekati Sesuai dengan Standar Operasional Prosedur
c. Pada Point 12 SOP tentang langkah-langkah kejadian dari simulasi
keadaan gawat darurat Kategori Api Besar blm sesuai dengan SOP yang
berlaku (Skoci Penyelamat tidak diturunkan).
d. Kesesuaian SOP dengan tugas dan tanggung jawab yang telah
dilaksanakan masih dalam ratting baik dengan persentase 88% karena
dari semua item check list masih banyak pemenuhan dengan SOP yang
berlaku.

238
Daftar Pustaka
Hidayat.1986.Teori Efektifitas dan Efisiensi.Alphabeta.Bandung
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No. KEP186/MEN/1999,
Unit Penanggulangan Kebakaran Ditempat Kerja, Jakarta
Keputusan Presiden Republik Indonesia no 65 tahun 1980, Mengesahkan
international conventionfor the safety of life at sea, 1974 sebagai hasil
konferensi internasional tentang Keselamatan Jiwa Di Laut 1974, yang
telah ditandatangani oleh delegasi pemerintah Republik Indonesia,di
London, Pada tanggal 01 Nopember 1974, yang merupakan pengganti
International Convention For The Safety Of Life At Sea 1960 .
Kountur, ronny. (2003), Metologi Penelitian, Jakarta:Penerbit PPM.
Putra Darma. 2014. Prosedur Fire Drill.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 45 tahun 2012, Manajemen
Keselamatan Kapal , Jakarta
Sugiono.2014.Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan Metode
Kombinasi.Yogyakarta
Syukri, Sahab.1997.Teknik Manajemen Keselamatan dan kesehatan
kerja.Jakarta:PT. Bina Sumber Daya Manusia
The International Convention for the Safety of Life at Sea, regulation 22,
Entries in log, 1974
The International Convention for the Safety of Life at Sea, regulation 26,
Practice musters and drills, 1974Undang undang RI no 1 tahun 1970,
Keselamatan kerja Jakarta
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana
Undang undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2008, Pelayaran.

239
Excessive Workload DetectorExator
Sebagai Alat Pencegah Stres Kerja untuk Meningkatkan
Perkembangan Electromedic di Indonesia
Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Satria Indra Nugraha1, Zahrotul Mahmudati2, Hafidzoh Najwati3, Zakiyah


Islamiyati O.P4, Oktavinta Warits P.P5, Baju Widjasena6
1
Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Diponegoro
2,3,4,5
Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Diponegoro
6
Dosen Jur. Keselamatan dan Kesehatan Kerja, FKM, Universitas Diponegoro
Jl. Prof Soedarto, SH-Tembalang, Semarang. Tel: (024)7460013
E-mail:ybsatriain@live.com1, mahmudative@gmail.com2, hafidzoh.najwati@gmail.com3,
zakiyah.islamiaty@gmail.com4, oktavintawarits@gmail.com5, bwidjasena@gmail.com6

Abstrak

Pembangunan nasional dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) kini


memasuki era industrialisasi yang menuntut produktivitas kerja yang tinggi. Beban kerja
merupakan kemampuan tubuh pekerja dalam menerima pekerjaan. Beban kerja yang
diterima seseorang harus disesuaikan dengan kemampuan fisik, kognitif maupun
keterbatasan pekerja. Beban kerja berlebih akan mengakibatkan stres kerja yang
berpotensi mempertinggi peluang seseorang untuk terkena penyakit tidak menular, dan
menurunkan daya tahan tubuh. Untuk mencegah timbulnya stres kerja, maka penulis
menciptakan sebuah alat electromedic baru yang bernama Exator.
Pengujian efektifitas alat menggunakan metode eksperimen. Responden yang berjumlah
sepuluh orang diukur denyut nadinya secara manual dan menggunakan alat Exator.
Pengukuran dilakukan kepada responden sebelum dan sesudah diberikan perlakuan.
Perlakuan yang diberikan berupa aktivitas fisik yang dapat meningkatkan denyut jantung
responden. Apabila denyut jantung kelompok eksperimen melebihi 100 bpm, aktuator
akan memberikan peringatan terkait kondisi beban kerja responden.
Hasil pengukuran responden menggunakan Exator kemudian dibandingkan dengan
pengukuran secara manual. Tingkat akurasi Exator untuk pengukuran denyut jantung
sebelum perlakuan sebesar 94,9%. Sedangkan tingkat akurasi Exator untuk pengujian
sesudah perlakuan sebesar 98,6%. Tingkat kesalahan atau error sebesar 5,1% pada
pengujian sebelum perlakuan dan error sebesar 1,4% setelah perlakuan disebabkan
karena resolusi sensor dan hambatan dalam rangkaian sehingga alat tidak 100% presisi.

Kata kunci: beban kerja berlebih, electromedic, exator, stres kerja.

1. Pendahuluan
Pembangunan nasional dalam mengadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) kini memasuki era industrialisasi yang menuntut produktivitas kerja yang
tinggi. Produktivitas dan efisiensi kerja yang baik bagi pekerja dan perusahaan
merupakan landasan yang kuat dalam memacu peningkatan status kesejahteraan
nasional. Namun pembangunan berteknologi tinggi memiliki risiko hazard dan
penyakit akibat kerja yang dapat berpengaruh terhadap produktivitas kerja,
efisiensi perusahaan sehingga dapat menghambat laju kemajuan nasional.1
Setiap pekerjaan memiliki beban kerja yang berbeda tergantung dari jenis
pekerjaan yang dilakukan. Kesesuaian beban kerja yang diatur oleh perusahaan

240
terhadap kondisi pekerja perlu diperhatikan. Beban kerja yang berlebih dapat
menimbulkan suasana kerja yang kurang nyaman bagi pekerja karena dapat
memicu timbulnya stres kerja yang lebih cepat. Sebaliknya kekurangan beban
kerja dapat menimbulkan kerugian bagi organisasi1. Bagi para pekerja, stres
sering disebut sebagai faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan,
ketidakpuasan kerja, dan sakit akibat kerja seperti penyakit jantung koroner,
alkoholisme dan hipertensi2
Penelitian Christensen (2001) menjelaskan bahwa salah satu pendekatan
untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menghitung nadi
kerja, konsumsi energi, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Pada batas
tertentu ventilasi paru, denyut jantung, dan suhu tubuh mempunyai hubungan
yang linear dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang dilakukan. Kemudian
penelitian Konz tahun 1996 mengemukakan bahwa denyut jantung adalah suatu
alat estimasi laju metabolisme yang baik, kecuali dalam keadaan emosi dan
konsodilatasi.3,5
Tanda-tanda reaksi stres manusia meliputi reaksi fisik, antara lain tingginya
detak jantung (increased heart rate), naiknya tekanan darah (elevated blood
pressure), dan berkeringat dingin (cold hand). Stres meliputi empat kondisi, yaitu
tegang (s = stressed), cemas (t = tense), tenang (c = calm), dan rileks (r = relaxed)
4,5
. Pengukuran detak jantung tubuh sebagai salah satu tanda reaksi stres kerja saat
ini masih menggunakan peralatan yang belum terintegrasi, sehingga kurang
efektif dan efisien jika digunakan sebagai pengukur tingkat stres. maka diperlukan
suatu alat yang mampu digunakan untuk mengukur tingkat stres pada manusia.
Dengan berkembangannya teknologi yang semakin meningkat terutama di
bidang ilmu elektronika. mendorong perancangan alat pengukur tingkat stres
secara otomatis. Excessive Workload Detector EXATOR ini berfokus pada
pembuatan alat yang mampu mengukur tingkat stres dengan parameter detak
jantung berbasis Vibrator dan Optocoupler Sensor dengan bahasa pemrograman
arduino dan teknik Debugging sehingga performa Exator mencapai sesuai yang
diharapkan.

2. Metode Penelitian
Keseluruhan sistem EXATOR dapat dijelaskan sebagai berikut:
2.1. Perancangan Hardware
Secara hardware, Exator terdiri dari pulse sensorsebagai sensor (input
device), mikrokontroler Arduino Uno sebagai processing device yang akan
mengolah data, kemudian data hasil olahan Arduino Uno dikirim sebagai sinyal
keluaran untuk ditampilkan pada LCD (output device).

Gambar 1. Blok Diagram Exator

241
Exator akan membaca denyut nadi (beat per minute/ bpm) secara kontinyu
selama alat digunakan. Pulse sensor yang digunakan membaca tiap pulse wave
yang terjadi setiap detakan[1]. Prinsip kerja pulse sensor tersebut adalah cahaya
yang dipancarkan oleh LED hijau akan terpantul saat sensor dikenakan. Pantulan
tersebut kemudian ditangkap oleh receiver. Jeda waktu pembacaan dan perubahan
intensitas cahaya terpantul akan dikalkulasikan dan menjadi nilai input bagi
processing device berupa sinyal digital. Processing device berupa arduino akan
mengolah sinyal input dan hasil olahan menjadi sinyal output. Sinyal output berisi
informasi yang harus ditampilkan pada LCD, kemudian LCD akan menampilkan
hasil pembacaan beban kerja yang dapat dibaca oleh pengguna.

Gambar 2. Pulse sensor, Arduino Uno, dan LCD 16x2

3. Perancangan Software
Perancangan software Exator dilakukan dengan Arduino IDE sesuai bahasa
pemrograman Arduino. Berdasarkan pengklasifikasian BPM pada [2] maka flow
chart kerja Exator dirancang sebagai berikut:

Gambar 3. Flowchart Exator

Algoritma dari Exator adalah:


1. Mulai
2. Pulse sensor membaca BPM
3. Bila BPM dibawah 90, cetak pada LCD Anda sehat

242
Gambar 4. Hasil cetak pada LCD BPM<90

4. Bila BPM diantara 90-100, cetak pada LCD Anda lelah

Gambar 5. Hasil cetak pada LCD BPM 90-100

5. Bila BPM lebih dari 100, cetak pada LCD Terlalu lelah

Gambar 6. Hasil cetak pada LCD BPM>100

6. Bila BPM gagal terbaca, cetak pada LCD error


7. Bila Reset ditekan, kembali ke state awal
8. Selesai
Kemudian algoritma tersebut dimasukkan dalam arduino dengan bahasa
pemrograman milik arduino. Debugging dilakukan hingga performa Exator
mencapai sesuai yang diharapkan.

4. Hasil dan Pembahasan

Tabel 1. Pengujian Akurasi Exator sebelum Perlakuan


Pengukuran BPM
Pengukuran Manual Pengukuran Dengan Exator Error (%)
62 64 3,2
98 98 0,0
80 75 6,3
74 75 1,4
90 85 5,6
72 79 6,9
80 82 2,5
116 100 13,8
80 87 8,8
82 80 2,4
Error Rata-Rata 5,1

Berdasarkan hasil pengukuran pada Tabel 1. dapat disimpulkan bahwa


Exator mempunyai rata-rata tingkat error 5,1%.Dengan demikian dapat diperoleh

243
tingkat akurasi dari Exator yang dibuat sebesar 94,9%. Error yang cukup besar
pada data ke-8 disebabkan oleh interferensi gelombang sehingga intensitas cahaya
yang ditangkap pulse sensor berubah nilainya.

Tabel 2. Pengujian Akurasi Exator sesudah Perlakuan


Pengukuran BPM
Pengukuran Manual Pengukuran Dengan Exator Error (%)
110 110 0,0
120 126 5,0
120 125 0,0
120 120 0,0
120 118 0,9
109 110 1,6
126 124 0,8
122 123 1,8
97 112 1,8
102 103 1,0
Error Rata-Rata 1,4

Dari tabel diatas terlihat error1,4%, hal itu disebabkan resolusi sensor dan
hambatan dalam rangkaian sehingga alat tidak 100% presisi.

5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian diperoleh kesimpulan sebagai berikut:Tingkat
akurasi Exator untuk pengukuran denyut jantung sebelum perlakuan sebesar
94,9%. Sedangkan tingkat akurasi Exator untuk pengujian sesudah perlakuan
sebesar 98,6%. Hasil tersebut merupakan perbandingan dengan pengukuran
manual.

6. Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kementrian Riset, Teknologi,dan
Pendidikan Tinggi yang telah memberikan dana penelitian kepada penulis dalam
rangka Progam Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta.

Daftar Pustaka
1. Lituhayu, Rizaini. Mangkuprawiru, Tb Sjafri. Dhewi, Ratih Maria. Analisa
Beban Kerja dan Kinerja Karyawan (Studi Kasus Pada Head Office PT.
Lerindro International Jakarta). Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
2008.
2. Teasdale, JD, et. al. Prevention of relapse/recurrence in major depression by
mindfulness-based cognitive therapy. MA J Consult Clin Psychol. Aug;
68(4):615-23. 2000.
3. Tarwaka, Solichul H, Bakri A, dan Sudiajeng Lilik. Ergonomi Untuk
Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Produktivitas. UNIBA Press.
Surakarta. 2004.
4. Elizabeth Scott, M. S. 2010. Stress Effect . http://www.stress.about.com/stres
s-effect.html.Diunduh 1 April 2013

244
5. Kresna Pradhipta, dkk. Rancang Bangun Alat Pengukur Tingkat Stres
Menggunakan MetodeFuzzy Logic. Journal of Control and Network Systems.
Vol. 4, No.1. Hal 13. 2013.

Lampiran

Gambar 7. Pengukuran manual Gambar 8. Pengukuran dengan Exator


sebelum perlakuan sebelum perlakuan

Gambar 9. Pengukuran manual Gambar 10. Pengukuran dengan Exator


perlakuan setelah perlakuan

Gambar 11. Informed Consent


Responden

245
Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko,dan Pengendalian Risiko
Pada Pekerjaan Tambang Belerang
Studi Pada Pekerja Tambang Belerang di Taman Wisata Alam Kawah Ijen

Khairul Anwar, Isa Marufi, Anita Dewi Prahastuti S


Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember
Jl. Kalimantan 37, Jember
Tel. 085745106202, E-mail: khairul.fkm@gmail.com, isa.marufi@gmail.com

Abstrak

Gunung Ijen merupakan salah satu dari rangkaian Gunung berapi di Jawa Timur yang
masih aktif, terletak di Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Gunung Ijen
mengandung derajat keasaman dan kandungan belerang yang sangat tinggi,tingginya
kandungan belerang menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah pertambangan
belerang yang dilakukan secara tradisional. Permasalahan pekerja tambang di wilayah
Gunung Ijen adalah manajemen risiko diantaranya beban kerja, alat pelindung diri yang
tidak standart, jaminan sosial tenaga kerja yang buruk, masalah kesehatan kerja,
psikologis pekerja dan iklim kerja. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bahaya,
menilai risiko dan menyusun pengendalian risiko dari proses kerja. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif melalui pendekatan mix methods. dengan modifikasi
metode what-if dan Job Safety Analysis. Hasil identifikasi dan analisis risiko diketahui
risiko sangat tinggi (very high) adalah paparan gas Hidrogen Sulfida (H2S) pada proses
penurunan kedasar kawah, pengambilan belerang di dasar kawah, pengangkutan belerang
dari dasar kawah menuju puncak Gunung Ijen.

Kata kunci: bahaya, risiko, tambang belerang,.

1. Pendahuluan
Gunung Ijen merupakan salah satu dari rangkaian Gunung berapi di Jawa
Timur, Gunung tersebut masih aktif dan terletak di Kabupaten Bondowoso dan
Kabupaten Banyuwangi yaitu pada wilayah Kecamatan Licin, Kabupaten
Banyuwangi dan Kecamatan Klobang, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa
Timur. Gunung Ijen telah mengalami 12 kali erupsi1. Gunung Ijen memiliki
ketinggian 2.386 meter di atas permukaan laut. Secara geografis Gunung Ijen
berada pada posisi 80330 LS dan 1141430 BT, pada puncak Gunung
terdapat Danau Kawah Ijen dengan panjang dan lebar masing-masing sebesar 800
meter dan 700 meter serta kedalaman danau mencapai 180 meter2. Selain terkenal
sebagai obyek wisata juga memiliki kandungan belerang yang tinggi. Sedikitnya
jumlah belerang yang dihasilkan adalah sebanyak 14 ton per harinya. Jumlah
tersebut baru sekitar 20% dari potensi yang sesungguhnya disediakan oleh alam3.
Berdasarkan pengukuran gas belerang yang dilakukan oleh tim Pusat
Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) di wilayah Gunung Ijen
yang dilakukan pada tujuh titik pengukuran. Hasil dari pengukuran tersebut yaitu
kadar gas belerang diketahui yang tertinggi yaitu sebesar 47 ppm (batas normal 10
ppm)4. Tingginya kandungan belerang yang terdapat di Kawah Ijen menjadikan
kawasan tersebut sebagai wilayah pertambangan, pada umumnya aktivitas
penambangan dilakukan secara tradisional oleh pekerja, sehingga, kesehatan dan
keselamatan pekerja penambang belerang di Gunung Ijen berisiko terganggu.

246
Berdasarkan studi pendahuluan ke Gunung Ijen pada tanggal 21 Maret
2015, diketahui upah yang didapatkan oleh pekerja tambang belerang di Kawah
Gunung Ijen yaitu setiap kilo dihargai Rp.925/kg untuk angkutan pertama dan Rp.
1.025/kg untuk angkatan keduadan pekerja tiap angkut mampu membawa
belerang 50-80 kg dengan dua kali angkut jadi jumlah perhari bisa mengangkut
belerang sebanyak 100 kg160 kg.
Masalah utama pada pekerja penambangan belerang Ijen adalah masalah
keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang tidak mendapatkan perlindungan
secara maksimal, baik dari perusahaan maupun dari pemerintah. diketahui
terdapat beberapa masalah keselamatan dan kesehatan yaitu pekerja terpapar
langsung dengan bahan kimia yang dikeluarkan seperti gas sulfatara (S, SO2, SO3,
H2S), uap fumarol (uap air panas (H2O), gas nitrogen), gas asam arang, CO,
hidrogen klorida, hidrogen fluorida dapat mengancam para pekerja setiap saat,
beban kerja, tidak standarnya alat pelindung diri (APD) yang dipakai. pemberian
jaminan sosial tenaga kerja yang buruk, iklim kerja dan psikologis pekerja selain
itu, masalah kesehatan seperti tulang keropos, batuk, sakit gigi, nyeri persendian,
dan sesak napas5. Segala bentuk permasalahan diatas diketahui pula bahaya yang
sangat besar dan risiko kecelakaan kerja yang sangat tinggi, dan sebuah
rekomendasi atau pengendalian risiko dalam proses manajemen risiko guna
mengurangi risiko pada pekerjaan tambang belerang di Kawah Ijen.
Frekuensi penambang belerang untuk melakukan penambangan tergantung
dari kekuatan fisik masing-masing penambang. Dampak ergonomi atau sikap
kerja yang salah dan paparan gas H2S yang terus menerus tentunya berdampak
negatif bagi keselamatan dan kesehatan penambang belerang. Oleh karena itu
sebagai upaya tindakan preventif dan promotif akibat adanya bahaya dan risiko
kerja maka perlu dilakukan penelitian tentang manajemen risiko pada pekerjaan
tambang belerang di Kawah Gunung Ijen. tujuan penelitian ini adalah
mengidentifikasi bahaya, menilai risiko dan menyusun upaya pengendalian dari
langkah kerja, proses kerja dan risiko kecelakaan kerja pada pekerja tambang
belerang di Taman Wisata Alam Kawah Ijen Kabupaten Banyuwangi.

2. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif denganpendekatan mix methods, fokus
penelitian adalah identifikasi sumber bahaya pada alat kerja, bahan dan proses
pekerjaan. Tempat penelitian dilakukan di Gunung Ijen Kecamatan Licin
Kabupaten Banyuwangi dan waktu penelitian mulai Juli sampai September 2015.
Metode identifikasi bahaya dan analisis risiko mengunakan checklist hazard
identification and risk assessment (HIRA) dengan modifikasi What If (What If
Analysis/ETA) dan JSA (Job Safety Analisys). Metode yang digunakan untuk
memperoleh data penelitian menggunakan metode wawancara dan observasi yang
dilengkapi dengan instrumen wawancara dan lembar observasi.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1.Hasil
3.1.1. Identifikasi Bahaya
Berdasarkan hasil penelitian pada penambangan belerang di kawah
Gunung Ijen diketahui alat yang digunakan untuk penambangan belerang yaitu
keranjang yang terbuat dari bambu, karung, troli, alat pengungkit (linggis), alat
penimbangan berupa neraca gantung dan neraca duduk, mesin pompa air dan

247
handuk sebagai masker. Peralatan yang digunakan oleh penambang belerang
memiliki risiko masing-masing seperti keranjang dan karung yang digunakan
sebagai alat angkut memiliki risiko tersandung, terkilir dan nyeri sendi/encok, alat
pengungkit dan neraca gantung memiliki risiko tergores, mesin pompa air
memiliki risiko kebisingan, dan handuk memiliki risiko keracunan gas berbahaya
yang bisa mengakibatkan cidera ataupun meninggal.
Bahan yang digunakan dalam proses penambangan adalah sulfatara dan
solar sebagai pembangkit mesin pompa air pada proses sublimasi. Adapun hasil
dari identifikasi bahaya pada proses penambangan belerang dijelaskan pada empat
tahapan yaitu tahap persiapan, tahap eksploitasi, tahap pengangkutan dan tahap
penimbangan.
a. Tahap persiapan
Tahap persiapanterdiri dari proses mempersiapkan peralatan dan
perbekalan, proses pendakian ke puncak Gunung Ijen dan proses penurunan
menuju dasar Kawah Ijen. Pada tahap ini terindentifikasi risiko yaitu terjatuh dari
motor saat perjalanan ke Paltuding dan serangan hewan buas seperti macan tutul
dan babi hutan, tersandung, terkilir, gigitan hewan berbisa seperti ular atau
kalajengking, iritasi mata, terhirup gas H2S dan nyeri sendi/encok. Sedangkan
sumber bahaya diketahui dari faktor unsafe condition yaitu kondisi jalan yang
berlubang, licin, dan menanjak, jarak tempuh yang sangat jauh, terjadi hujan,
kabut tebal, kondisi gelap akibat tidak ada penerangan, paparan gas CO2, SO2,
SO4, dan gas hidrogen sulfida (H2S), dari faktor unsafe action yaitu mengantuk
dan tidak mengunakan APD (safety shoes, marks respiratory) sedangkan dampak
risiko bisa terjadi cidera, memar, pendarahan atau meninggal.
b. Tahap Eksploitasi

Gambar 1. Proses pengambilan belerang di dasar Kawah Ijen.

Tahap eksploitasi terdiri dari dua proses yaitu pengambilan bongkahan


belerang di dasar Kawah Ijen, proses penataan bongkahan belerang ke atas
keranjang. Pada tahap ini teridentifikasi beberapa risiko yaitu terhirup atau
keracunan gas berbahaya (H2S), tertimpa bebatuan dari atas tebing, tergores alat
pengungkit (linggis), terkilir, iritasi mata nyeri sendi pada punggung. Sumber
bahaya yang diketahui dari faktor unsafe condition yaitu kondisi gelap akibat
tidak ada penerangan, paparan gas CO, SO2, SO4, HCl, dan gas H2S. Sedangkan
dari faktor unsafe action yaitu tidak mengunakan APD (safety shoes, safety
helmet, safety goggle, marks respiratory) risiko pada tahap ini bisa berdampak
cidera, penyakit pernafasan, pingsan atau bahkan meninggal dunia.

248
c. Tahap Pengangkutan

Gambar 2. Proses pengangkutan belerang dari dasar Kawah Ijen.

Tahap pengangkutan terdiri dari dua proses yaitu proses pengangkutan


belerang dari dasar kawah menuju puncak Gunung Ijen dan proses pengangkutan
dari puncak Gunung Ijen menuju Paltuding (Tempat penimbangan akhir). Pada
tahap ini terindentifikasi beberapa risiko yaitu terhirup atau keracunan gas H2S,
tertimpa bebatuan dari atas tebing, tersandung, kaki terkilir, iritasi mata,
nyerisendi/encok pada persendian dan tergores alat angkut. Sumber bahaya dari
faktor unsafe condition yaitu paparan gas CO, SO2, SO4, HCl, gas hidrogen sulfida
(H2S), kondisi jalan sempit, curam, menanjak, jarak tempuh, jalan berbatu dan
jalan menuju Paltuding berpasir dan berdebu,beban angkut yang sangat berat
(>40kg) dari faktor unsafe action yaitu kelelahan kerja, riwayat penyakit, usia dan
tidak mengunakan APD (safety shoes, marks respiratory). Dampak risiko pada
tahap ini bisa terjadi cidera, memar, pendarahan ataupun meninggal dunia.
d. Tahap Penimbangan
Tahap ini terdiri dari dua proses yaitu proses penimbangan di tempat
peristirahatan pertama (pondokan) dan Proses penimbangan akhir di Paltuding.
Pada tahap ini terindentifikasi jenis risiko yaitu terkilir, terjatuh, nyeri sendi pada
pungung. Sumber bahaya dari faktor unsafe condition yaitu tempat licin, berdebu,
beban angkut yang berat (>40kg), beban kerja tinggi, sedangkan faktor unsafe
action yaitu tidak mengunakan APD (safety shoes) risiko pada tahap ini bisa
berdampak kelelahan kerja dan cidera.
3.1.2. Penilaian Risiko
Penilaian risiko merupakan salah satu proses dari analisiss risiko, penilaian
risiko dalam penelitian ini mengunakan metode semi kuantitatif yaitu dengan
mengkalikan tingkat kemungkinan (probability), konsekuensi (consequences) dan
paparan (exposure) berdasarkan standart dari AS/NZS 4360 melalui wawancara
kepada informan utama dan informan kunci. bertujuan untuk mengetahui nilai
risiko dan level risiko. Hasil penilaian risiko pada proses penambangan belerang
di wilayah Gunung Ijen dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 1. Penilaian risiko proses penambangan belerangGunung Ijen


Proses kerja Jenis Risiko Nilai Risiko Level Risiko
Mempersiapkan peralatan Terjatuh 75 Substansial
Serangan hewan 15 Acceptable
Proses pendakian Gunung Tersandung 300 Priority 1
Ijen Terkilir 300 Priority 1
Terigit hewan berbisa 75 Substansial
Proses penurunan menuju Tertimpa bebatuan 150 Substansial

249
Proses kerja Jenis Risiko Nilai Risiko Level Risiko
bibir Kawah Ijen Tersandung 300 Priority 1
Terkilir 300 Priority 1
Iritasi mata 100 Substansial
Terhirup gas H2S 6000 Very High
Nyeri sendi/encok 100 Substansial
Proses pengambilan Terhirup gas H2S 6000 Very High
endapan belerang di bibir Tertimpa bebatuan 150 Substansial
Kawah Ijen Tergores 300 Priority 1
Terkilir 300 Priority 1
Iritasi mata 100 Substansial
Nyeri sendi/encok 100 Substansial
Terkena cairanbelerang 1500 Very High
Proses penataan Terhirup gasH2S 6000 Very High
bongkahan belerang ke alat Tertimpa bebatuan 150 Substansial
angkut Tangan terkilir 300 Priority 1
Iritasi mata 100 Substansial
Nyeri sendi/encok 100 Substansial
Proses pengangkutan Terhirup gas H2S 6000 Very High
belerang menuju puncak Tertimpa bebatuan 150 Substansial
Gunung Terjatuh 450 Very High
Kaki terkilir 300 Priority 1
Iritasi mata 100 Substansial
Nyeri sendi/encok 100 Substansial
Proses pengangkutan Kaki terkilir 300 Priority 1
menuju paltuding Terpleset 900 Very High
Nyeri sendi/encok 100 Substansial
Tergores alat angkut 150 Substansial
Proses penimbangan Terkilir 300 Priority 1
pondokan Nyeri sendi/encok 100 Substansial
Proses penimbangan di Terjatuh 150 Substansial
paltuding Terkilir 300 Priority 1
Nyeri sendi/encok 100 Substansial

Berdasarkan tabel di atas, dari hasil observasi dan wawancaradengan


pekerja tambang diketahui risiko pada proses penambangan belerang secara
keseluruhan yang tertinggi adalah terhirup gas berbahaya Hidrogen Sulfida (H2S),
dengan nilai risiko 6000 dan level risiko sangat tinggi (very high).

3.1.3. Pengendalian Risiko


Risiko yang memiliki level tertinggi yaitu terhirup gas berbahaya Hidrogen
Sulfida (H2S) adapun pengendaliannya adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Hirarki dan pengendalian risiko proses penambangan


Hierarki of Pengendalian
Jenis Risiko
Control (rekomendasi)
Terhirup gas Engineering Terdapat alat pendeteksi adanya gas berbahaya
berbahaya Administrative Membuat Standart Operasional Prosedur bagi
Hidrogen Sulfida pekerja yang melakukan pekerjaan di dapur
(H2S) belerang
Melakukan inspeksi dan pengukuran secara
berkala terkait paparan gas H2S
Pembatasan izin memasuki area dabur belerang

250
Hierarki of Pengendalian
Jenis Risiko
Control (rekomendasi)
dan dasar kawah
Melakukan pemeriksaan kesehatan awal, berkala
dan khusus kepada pekerja
Menyediakan klinik kesehatan sebagai tindakan
emergency
Training Safety Talks sebelum memasuki area,
Melatih penangungjawab area dapur belerang
PPE/APD Chemical Catrige Respiratory, Gas Mask, Self
Consumed Breathing Apparatus (SCBA)

3.2.Pembahasan
Hasil identifikasi bahaya dalam penelitian ini, ditemukan risiko yang
memiliki level risiko sangat tinggi (very high) sehingga dapat mengakibatkan
kecelakaaan kerjapenyakit akibat kerja yaitu adalah risiko terhirup atau keracunan
gas Hidrogen Sulfida (H2S). Bahaya paparan gas H2S tidak hanya teridentifikasi
pada proses penurunan belerang namun juga terdapat pada proses pengambilan
belerang didasar kawah, proses penataan belerang didasar kawan dan
pengangkutan belerang dari dasar kawah menuju puncak Gunung Ijen artinya
bahaya ini setiap saat akan selalu mengintai para pekerja kapanpun dan disetiap
proses kerja saat penambangan belerang, sehingga hal ini perlu adanya tindakan
khusus dalam upaya preventif promotif yang dilakukan oleh pihak stakeholder
baik perusahaan, pemerintah setempat atau para pekerja tambang itu sendiri.
Penelitian ini berhubungan dengan temuan dari penelitian sebelumnyayaitu:
diketahui hasil penelitian Marufi dkk. (2014) menyatakan bahwa terdapat
keluhan pernafasan, sebagian besar penambang belerang di Gunung Ijen berupa
mengeluh batuk berdahak yaitu sebesar 74%, keluhan pada mata, berupa mata
berair ketika menambang sebesar 94%, keluhan pada gigi, berupa gigi linu
sebesar 68%5, dan hasil penelitian Dyah Pranani (2008) menyatakan bahwa
paparan uap belerang merupakan faktor risiko untuk terjadinya erosi gigi
sedang/berat, subjek penelitian yang terpapar uap belerang mempunyai risiko
untuk mengalami erosi gigi sedang/berat sebesar 42,25 kali lebih besar
dibandingkan dengan subjek yang tidak terpapar uap belerang10. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Taufiq (2012) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan
antara faal paru pekerja tambang belerang di Gunung Ijen dengan bukan
penambang belerang di lingkungan sekitar Gunung Ijen11. pekerjaan tambang di
Kawah Ijen memiliki risiko yang sangat komplek terutama di bidang kesehatan
pekerja. Risiko yang paling tinggi dari proses penambangan belerang adalah
terhirup gas berbahaya H2S.
Hidrogen Sulfida (H2S) merupakan suatu gas tidak berwarna, sangat
beracun, mudah terbakar dan memiliki karakteristik bau seperti telur busuk.
Hydrogen sulfida dikenal juga dengan sebutan sebagai gas rawa atau asam
sulfide7. Gas ini dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi kesehatan,
hydrogen sulfide mempunyai efek anoksit dan merusak secara langsung sel-sel
sistem syaraf pusat. Jika kadar di atas 50 ppm akan menyebabkan sakit kepala,
tidak dapat tidur, mual, batuk, badan lemah, mengantuk, edema paru dan
kojungtivitas yang disertai rasa sakit. Sedangkan jika kadar gas H2S di atas 500
ppm dapat menyebabkan tidak sadar dengan segera depresi pernapasan dan
kematian dalam waktu 30-60 menit8. Risiko paparan gas H2S kemungkinan terjadi

251
kontak dengan pekerja, saat turun hujan di siang atau sore hari. Ketika gas H2S di
atas air danau gas ini mampu di bawa permukaan akibat hembusan angin, jika gas
ini terpapar lasung oleh pekerja maka dapat mengakibatkan cidera bahkan
meninggal dunia.
Bahan kimia beracun seperti gas H2S dapat masuk kedalam tubuh
kemudian masuk melalui aliran darah ke dalam tubuh melalui: saluran pernafasan,
penyerapan melalui kulit (absorbsi) dan saluran pencernaan, saluran pernafasan
terdiri dari dua yaitu bagian atas (hidung, tengorokan, trachea, dan sebagaian
besar pipa bronchial yang membawa ke cuping dan paru-paru) dan alveoli dimana
dapat terjadi pemindahan gas yang menembus dinding sel yang tipis. Gas dan uap
dengan daya larut yang rendah, namun berdaya larut tinggi didalam lemak
melewati lapisan alveoli kemudian masuk kedalam aliran daran dan dibawa
(disebarkan) ke organ-organ yang memiliki afinitas khusus9.
Pengendalian risiko merupakan langkah penting dan menentukan dalam
keseluruhan manajemen risiko6. Risiko yang telah diketahui besar dan potensi
akibatnya harus dikelola dengan tepat, efektif dan sesuai dengan kemampuan dan
kondisi lokasi penambangan belerang di Gunung Ijen. Menurut OHSAS 18001
pengendalian risiko yang lebih spesifik untuk bahaya K3 adalah 1) Eliminasi, 2)
Subtitusi, 3) Pengendalian Teknis, 4) Pengendalian Administratif 5) Penggunaan
Alat Pelindung Diri (APD).
Pengendalian risiko pada tingkat risiko sangat tinggi diketahui yaitu
penyediaan alat deteksi gas berbahaya (H2S, CO, SO4) yang terintegrasi dengan
alarm, membuat standar operasional prosedur (SOP) bagi pekerja yang melakukan
pekerjaan di dapur belerang, melakukan inspeksi dan pengukuran secara rutin,
pembatasan izin memasuki area dapur belerang, melakukan pemeriksaan
kesehatan dan menyediakan klinik kesehatan di lingkungan pertambangan.
Mananjemen risiko pada proses penambangan belerang di Kawah Ijen
kabupaten Banyuwangi secara keseluruhan belum dikelola secara maksimal baik
oleh perusahaan PT. Candi Ngrimbi ataupun pemerintah setempat. Oleh sebab itu
agar setiap langkah dan proses kerja penambangan dapat berjalan aman, sehat dan
produktif maka seharusnya dilakukan sebuah manajemen risiko secara terencana
dan komprehensif.

4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian padapekerjaan tambang belerang di kawah
Gunung Ijen diketahui risiko tertinggi yaitu terhirup gas berbahaya Hidrogen
Sulfida (H2S), upaya pengendalian berupa rekomendasi adanya gas detector,
safety talk, klinik emergency dan APD berupa Chemical Catrige Respiratory, atau
Gas Mask. Saran atau rekomendasi yang dapat diberikan dari peneliti adalah
diharapkan perusahaan bersinergi dengan pemerintah daerah untuk segera
melakukan upaya pencegahan, pengendalian risiko pada proses penambangan
belerang di Kawah Gunung Ijen berupa melaksanakan program tentang
keselamatan dan kesehatan kerja diantaranya memasangan safety sign rambu-
rambu bahaya, melakukan sosialisasi tentang K3 secara rutin, menyediakan APD,
membuat prosedur kerja, memberikan bantuan alat angkut yang ergonomis,
membangun layangan kesehatan sebagai upaya tidakan emergency jika terjadi
kecelakaan kerja.

252
Daftar Pustaka
1. ZaennudinA, Wahyudin D, Sumaryadi M, Kusdinar E. 2012. Prakiraan
Bahaya Letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur. Bandung: Jurnal Lingkungan
dan Bencana Geologi, 3 (2) Agustus 2012: 109-132.
2. Badan Geologi. Peningkatan Kegiatan Gunung Ijen dari Waspada Menjadi
Siaga. [internet] 2012 Apr [cited 23 September 2014] Available
from:http://www.vsi.esdm.go.id.
3. WittiriS. Artikel Gunung Ijen Penghasil Belerang Terbesar. [internet] 2010
[cited 24 Februari 2015] Available fromhttp://www.esdm.go.id/.
4. BPPD Bondowoso. 2013. Awas Kadar Gas Gunung Ijen Berbahaya. [internet]
2013 [cited 23 Februari 2010] Available from
http://www.bpbd.bondowosokab.go.id/
5. Marufi I, Dewi A, Ismi R,2014. Identifikasi Keluhan Kesehatan Akibat
Paparan Bahan Pencemarn Belerang (Studi Kasus pada Pekerja di Kawasan
PeGunungan Ijen Kabupaten Banyuwangi). Proceding Jurnal 12-13 Sept
2014Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali.
6. Ramli S. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS
18001. Jakarta: Dian Rakyat; 2010.
7. Soemiarat J. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta. 1999.
8. Irianto K. Pencegahan dan Penaggulangan Keracunan Bahan Kimia
Berbahaya. Yrama Widya. Bandung. 2013.
9. Soeripto M. Higiene Industri. Jakarta. Balai Penerbit FKM UI Depok. 2008.
10. Pranani D. Pengaruh Paparan Uap Belerang terhadap Kejadian Erosi Gigi
(Studi pada Pekerja Tambang Belerang di Gunung Ijen Kabupaten
Banyuwangi Jawa Timur): Semarang 2008 Aug: 28. 4-6.
11. Taufiq. Perbedaan Faal Paru antara Pekerja Penambang Belerang dan Bukan
Penambang Belerang di Desa Tamansari Kecamatan Licin Kabupaten
Banyuwangi: Jember 2012 Aug; 03. 47-66.

253
Pengetahuan dan Sikap Mengenai Keselamatan Berkendara
(Safety Riding) Dengan Insiden di Jalan Raya Pada Pelajar
SMA Muhammadiyah 5 Kota Yogyakarta

Eko Maulana Syaputra, Ihya Hazairin Noor, Sujiah, Bambang Hermawan


Minat Keselamatan dan Kesehatan Kerja
S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Gadjah Mada
E-mail: ekomaulanasyaputra@mail.ugm.ac.id1

Abstrak

SMA Muhammadiyah 5 Kota Yogyakarta merupakan salah satu sekolah yang berlokasi
dekat dengan pusat kota, Malioboro, dan pusat perbelanjaan sehingga volume kendaraan
yang melalui sekolah tersebut sangat tinggi. Pelajar sekolah tersebut juga sebagian besar
menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi utama untuk ke sekolah, padahal
penggunaan sepeda motor jika tidak diiringi dengan pengetahuan dan sikap yang baik
dalam berkendara maka dapat menimbulkan dampak negatif yaitu terjadinya kecelakaan
lalu lintas. Data dari Sat Lantas Polresta Kota Yogyakarta pada Januari 2013 sampai
dengan Februari 2016 telah terjadi lebih dari 1771 kecelakaan lalu lintas dan melibatkan
2502 unit sepeda motor dengan sebagian korban kecelakaan lalu lintas merupakan
pelajar.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap
mengenai keselamatan berkendara (safety riding) dengan insiden di jalan raya pada
pelajar SMA Muhammadiyah 5 Kota Yogyakarta.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan studi
cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling.
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan secara statistik antara
pengetahuan keselamatan berkendara (safety riding) dengan insiden jalan raya dengan p-
value 0.035. Terdapat hubungan secara statistik antara sikap keselamatan berkendara
(safety riding) dengan insiden jalan raya dengan p-value 0.036.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada hubungan signifikan secara statistik antara
pengetahuan keselamatan berkendara (safety riding) dengan insiden jalan raya. Ada
hubungan signifikan secara statistik antara sikap keselamatan berkendara (safety riding)
dengan insiden jalan raya.

Kata kunci: insiden jalan raya, pengetahuan, sikap, safety riding.

1. Pendahuluan
Populasi dan tingkat kepemilikan sepeda motor di Indonesia dalam beberapa
tahun terakhir ini terus tumbuh dengan cepat1, tak terkecuali di Daerah Istimewa
Yogyakarta, tercatat lebih dari 1,7 juta sepeda motor (single motorcycle) yang
terdaftar pada tahun 20142. Salah satu penyebab pertumbuhan tersebut karena
harga sepeda motor yang relatif terjangkau serta kemudahan dalam penggunaan3.
Namun, jumlah sepeda motor yang terus meningkat ini diikuti pula dampak
negatif yaitu pertambahan insiden di jalan raya.
Data unit kecelakaan Sat Lantas Polresta Kota Yogyakarta diketahui bahwa
pada tahun 2015 telah terjadi 651 kecelakaan lalu lintas (naik 31,7% dari tahun
2014) dan melibatkan 947 sepeda motor. Tercatat 45 korban meninggal dunia dan
899 korban luka ringan. Total kerugian material mencapai lebih dari 559 juta

254
rupiah4 dengan segmen usia yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di dominasi
oleh usia dewasa muda (16-30 tahun) yaitu sebesar 48.5%2. Diketahui pula bahwa
lokasi kecelakaan paling banyak terjadi di kawasan permukiman, kawasan
pertokoan/mall dan pusat perbelanjaan4.
SMA Muhammadiyah 5 Kota Yogyakarta merupakan salah satu sekolah
yang berada di lokasi berpotensi terjadi kecelakaan karena letaknya yang
berdekatan denganpusat kota, kawasan Malioboro, dan pusat pertokoan/mall
sehingga volume kendaraaan yang melalui ruas jalan di sekolah tersebut sangat
tinggi pada jam-jam tertentu. Sebagian pelajar juga menggunakan sepeda motor
untuk berangkat kesekolah. Berdasarkan hasil observasi oleh peneliti secara detail
mengenai faktor potensial yang dapat mengakibatkan insiden di jalan raya pada
pelajar sekolah tersebut diantaranya adalah: (1) Terdapat beberapa pelajar yang
kurang terampil dalam menggunakan sepeda motor. (2) Terdapat beberapa pelajar
yang menggunakan sepeda motor namun belum memiliki surat menyurat
berkendara (SIM/STNK). (3) Terdapat beberapa pelajar yang tidak disiplin dalam
berkendara, seperti berbelok tanpa menggunakan lampu penunjuk arah (sein) dan
menggunakan handphone saat berkendara. (4) Berdasarkan hasil wawancara
diketahui bahwa beberapa pelajar pernah mengalami insiden di jalan raya seperti
pernah ditilang, hampir mengalami kecelakaan (nearmiss) dan kecelakaan
(menabrak maupun ditabrak pengendara lain). Berbagai persoalan yang menjadi
penyebab potensial tersebut akhirnya akan menghasilkan dampak negatif pada
pelajar, yaitu terjadinya insiden di jalan raya. Sehingga berdasarkan temuan
diatas, perlu dilakukan pengkajian mengenai tingkat pengetahuan dan sikap
pelajar terkait dengan keselamatan berkendara (safety riding). Perlu juga diketahui
bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap tersebut dengan insiden di jalan raya
pada pelajar SMA Muhammadiyah 5 Kota Yogyakarta.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
pengetahuan dan sikap mengenai keselamatan berkendara (safety riding) dengan
insiden di jalan raya pada pelajar SMA Muhammadiyah 5 Kota Yogyakarta.
Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut: (1)
Hubungan antara pengetahuan mengenai keselamatan berkendara dengan insiden
di jalan raya yang dialami oleh pelajar SMA Muhammadiyah 5 Kota Yogyakarta.
(2) Hubungan antara sikap mengenai keselamatan berkendara (safety riding)
dengan insiden di jalan raya yang dialami oleh pelajar SMA Muhammadiyah 5
Kota Yogyakarta.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan
menggunakan rancangan studi cross sectional. Populasi penelitian ini adalah
seluruh pelajar SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta yang berjumlah 311 orang.
Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: (1)
Bersedia menjadi responden (2) Berada di sekolah saat penelitian dilakukan. (3)
Sering menggunakan sepeda motor untuk beraktivitas (min. 4x dalam seminggu).
Dari kriteria tersebut didapatkan sebanyak 111 orang untuk menjadi responden
penelitian. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu: (1)
Pengetahuan, adalah kemampuan responden dalam memberikan jawaban
pertanyaan mengenai keselamatan berkendara (safety riding) yang diukur
menggunakan kuesioner, skala data nominal dengan kategori: (a) Pengetahuan

255
baik jika skor hitung >70 (b) Pengetahuan tidak baik jika skor hitung 706. (2)
Sikap adalah tanggapan responden mengenai keselamatan berkendara (safety
riding), baik berupa penerimaan (setuju) maupun penolakan (tidak setuju) yang
diukur menggunakan kuesioner, skala data nominal dengan kategori: (a) Sikap
baik jika skor hitung > mean (b) Sikap tidak baik jika skor hitung mean7.
Variabel terikat yaitu: insiden di jalan raya, adalah kejadian yang pernah dialami
responden selama 12 bulan terakhir, dapat berupa kecelakaan lalu lintas ringan,
sedang8 maupun kejadian hampir celaka yang diukur dengan menggunakan
kuesioner, skala data nominal dengan kategori: (a) Pernah, jika responden pernah
mengalami insiden (b) Tidak pernah, jika responden tidak pernah mengalami
insiden. Kuesioner yang digunakan untuk menilai pengetahuan dan sikap
mengenai keselamatan berkendara (safety riding) serta insiden di jalan raya
dimodifikasi dari penelitian Mahawati dan Prasetya9.
Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat untuk mendeskripsikan
distribusi dan persentase dari tiap variabel dan analisis bivariat untuk menguji
variabel bebas dan terikat yang diduga berhubungan dengan menggunakan uji chi
square.

3. Hasil penelitian dan Pembahasan


3.1 Analisis data
3.1.1 Analisis Univariat

Tabel 1. Distribusi usia, jenis kelamin, pengetahuan, sikap, dan insiden


di jalan raya yang dialami responden.
F(%) F(%)
n = 111 n = 111
Usia Kejadian hampir celaka
14-15 25 (22.5) Tidak pernah 51 (45.9)
16-17 80 (72.1) <2 35 (31.5)
18 6 (5.4) 2-4 17 (15.3)
Jenis kelamin >4 8 (7.2)
Perempuan 58 (52.3)
Laki-laki 53 (47.7)
Pengetahuan Kejadian kecelakaan
Baik 79 (71.2) Tidak pernah 62 (55.9)
Tidak baik 32 (28.8) <2 35 (31.5)
Sikap 2-4 9 (8.1)
Baik 82 (73.9) >4 5 (4.5)
Tidak baik 29 (26.1)

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa mayoritas responden berusia 16-17


tahun (72.1%), berjenis kelamin perempuan (52.3%) dan memiliki pengetahuan
yang baik (71.2%) serta sikap yang baik (73.9%) mengenai keselamatan
berkendara (safety riding). Sebagian besar responden belum pernah mengalami
insiden di jalan raya berupa kecelakaan (55.9%), namun lebih dari setengah dari
responden (54.15%) pernah mengalami insiden di jalan raya berupa kejadian
hampir celaka (near miss).

256
3.1.2 Analisis Bivariat

Tabel 2. Hubungan Antara Pengetahuan Mengenai Keselamatan


Berkendara (Safety Riding) dengan Insiden di Jalan Raya
Insiden jalan raya
p-
Tidak pernah Pernah Total
value
Pengetahuan Tidak baik 7 (21.9%) 25 (78.1%) 32 (100%)
0.035
Baik 36 (45.6%) 43 (54.4%) 79 (100%)
< 0.05
Total 43 (37.7%) 68 (61.3%) 111 (100%)

Dari tabel 2 diatas diketahui bahwa terdapat hubungan signifikan secara


statistik antara pengetahuan mengenai keselamatan berkendara (safety riding)
dengan insiden di jalan raya.

Tabel 3. Hubungan Antara Sikap Mengenai Keselamatan Berkendara


(Safety Riding) dengan Insiden di Jalan Raya
Insiden jalan raya
p-
Tidak pernah Pernah Total
value
Sikap Tidak baik 6 (20.7%) 23 (79.3%) 29 (100%)
0.036
Baik 37 (45.1%) 45 (54.9%) 82 (100%)
< 0.05
Total 43 (38.7%) 68 (61.3%) 111 (100%)

Dari tabel 3 diatas diketahui bahwa terdapat hubungan signifikan secara


statistik antara sikap mengenai keselamatan berkendara (safety riding) dengan
insiden di jalan raya.

3.2 Pembahasan
3.2.1 Hubungan Antara Pengetahuan Mengenai Keselamatan Berkendara
(Safety Riding) dengan Insiden di Jalan Raya
Tabel 2 menjelaskan bahwa sebagian besar responden (79 responden)
memiliki pengetahuan yang baik mengenai keselamatan berkendara. Namun
masih banyak responden yang memiliki pengetahuan baik tetapi pernah
mengalami insiden lalu lintas (45 responden). Penyebabnya adalah belum adanya
kesadaran dan pemahaman mereka tentang pentingnya berkendara dengan aman,
responden hanya sekedar tahu tanpa bisa mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari10, hal inilah yang mendukung terjadinya insiden di jalan raya.
Hasil uji dengan menggunakan chi square diketahui bahwa terdapat
hubungan signifikan secara statistik antara pengetahuan mengenai keselamatan
berkendara (safety riding) dengan insiden di jalan raya. Hasil dalam penelitian ini
sejalan dengan penelitian Ariwibowo11 yang menyatakan bahwa terdapat
hubungan secara statistik antara pengetahuan terhadap praktik safety riding
awareness pada pengendara ojek sepeda motor dengan p-value 0,024.
Nani12 menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor yang
mendasari seseorang dalam berperilaku. Pengetahuan bermanfaat bagi seseorang
dalam memutuskan tindakan yang diambil benar atau salah sehingga seseorang
yang memiliki pengetahuan yang luas maka akan lebih bijak dalam memutuskan
suatu tindakan dan pengetahuan tersebut membuat perilaku yang seseorang
lakukan bersifat langgeng atau berkelanjutan, termasuk dalam hal berkendara.

257
Pengetahuan memegang peranan penting dalam mencegah terjadinya
insiden di jalan raya. Semakin seseorang memiliki pengetahuan yang benar dan
memadai tentang moda jalan raya sebelum mereka mengemudikan kendaraan,
memahami dan mematuhi aturan-aturan/kaidah-kadiah maupun rambu lalu lintas
maka akan menurunkan potensi untuk mengalami kecelakaan. Pengetahuan yang
baik mengenai keselamatan berkendara (safety riding) juga dapat
mengembangkan keahlian dalam mengendarai, hal ini secara positif akan
mempengaruhi perilaku berkendara, menciptakan kebiasaan mengemudi yang
lebih aman dan menghasilkan penurunan jumlah insiden lalu lintas13.
3.2.2 Hubungan Antara Sikap Mengenai Keselamatan Berkendara (Safety
Riding) dengan Insiden di Jalan Raya
Tabel 3 menjelaskan bahwa sebagian besar responden (82 responden)
memiliki sikap yang positif atau baik mengenai keselamatan berkendara (safety
riding) namun masih banyak responden yang memiliki sikap baik tetapi pernah
mengalami insiden lalu lintas (45 responden). Hal ini dapat disebabkan bahwa
sikap responden dapat dipengaruhi oleh faktor lainnya sehingga bisa saja
responden bersikap baik atau positif terhadap keselamatan berkendara (safety
riding) namun kenyataannya responden dalam penelitian ini cenderung memiliki
perilaku yang berisiko dalam berkendara sehingga meningkatkan insiden di jalan
raya14.
Hasil uji dengan menggunakan chi square diketahui bahwa terdapat
hubungan signifikan secara statistik antara sikap mengenai keselamatan
berkendara (safety riding) dengan insiden di jalan raya. Hasil dalam penelitian ini
sejalan dengan penelitian Notosiswoyo11 yang menyatakan bahwa terdapat
hubungan secara statistik antara sikapdengan perilaku pencegahan kecelakaan
sepeda motorpada siswa SLTA di Kota Bekasi dengan p-value 0,021.
Notoadmodjo15 menjelaskan bahwa praktik seseorang didasari oleh adanya
persepsi yang dapat memunculkan suatu tindakan nyata atau sikap seseorang
dalam berperilaku. Baik atau buruknya sikap juga saling terkait dengani oleh
besar tingkat pengetahuan seseorang. Oleh karena itu suatu sikap yang baik sangat
diperlukan dalam berkendara sehingga dapat mencegah terjadinya insiden di jalan
raya.
Hakim dan Nuqul1 di dalam penelitiannya menyebutkan bahwa keselamatan
berlalu lintas dipengaruhi oleh sikap para pengguna jalan, sehingga mengetahui
sikap pengendara merupakan aspek penting untuk mengurangi insiden di jalan
raya. Sejalan dengan hal tersebut, Pamungkas13 dalam penelitiannya menjelaskan
bahwa secara singkat, pengendara memiliki dua fungsi utama dalam sistem
berkendara. Pertama pengendara menggunakan sistem untuk berpindah dari satu
titik ke titik lainnya dalam suatu periode waktu tertentu. Kedua, disaat yang
bersamaan pengendara bertindak sebagai petunjuk dan sistem kendali bagi
kendaraan. Untuk melakukan tindakan atau berperilaku seperti apa dan
bagaimana, pengemudi harus mendeteksi dan menseleksi informasi dari
lingkungan sekitarnya, termasuk bentuk geometris jalan, menterjemahkan
keputusan ke dalam bentuk tindakan terhadap kendaraan sekaligus
memperhitungkan keselamatan, kemudahan dan kenyamanan pengendara harus
memiliki sikap dan motif dalam berkendara. Sikap dan motif inilah yang nantinya
dapat menentukan bagaimana seorang pengendara bereaksi terhadap situasi

258
berkendara, sehingga sikap dan motif yang positif atau baik berperan penting
dalam keselamatan berkendara.

4. Kesimpulan Dan Saran


4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diambil kesimpulan bahwa sebagian
besar pengetahuan dan sikap responden mengenai keselamatan berkendara (safety
riding) sudah baik. Meskipun angka terjadinya insiden di jalan raya masih cukup
tinggi. Hal tersebut disebabkan pengetahuan dan sikap yang positif atau baik tidak
selalu disertai dengan tindakan yang positif oleh individu, karena norma individu
sangat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti faktor lingkungan dan orang
terdekat.
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi square diketahui bahwa terdapat
hubungan yang signifikan secara statistik antara pengetahuan terhadap insiden di
jalan raya dan sikap terhadap insiden di jalan raya pada siswa SMA
Muhammadiyah 5 Kota Yogyakarta dengan p-value masing-masing 0.035 dan
0.036.
4.2 Saran
Setelah dilakukannya penelitian ini dapat direkomendasikan kepada instansi
terkait, yaitu dinas perhubungan dan jajaran polisi lalu lintas Kota Yogyakarta
agar lebih giat mengkampanyekan program mengenai budaya selamat berkendara
(safety riding) terutama pada kelompok pelajar SMA karena usia pada kelompok
tersebut sangat berisiko untuk mengalami insiden di jalan raya
Saran juga dapat diberikan pada penelitian selanjutnya agar dapat meneliti
variabel lain seperti pengaruh perilaku, kondisi fisik dan psikologis pengendara,
intensitas pemakaian helm, dan pengaruh pelatihan keselamatan berkendara
(safety riding), demi penyebarluasan ilmu pengetahuan dan informasi ilmiah
mengenai keselamatan berkendara di Kota Yogyakarta dapat menjadi lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Hakim, L. dan Nuqul, F. L. 2011. Analisa Sikap terhadap Aturan Lalu-Lintas
pada Komunitas Bermotor. Jurnal Psikologi Indonesia. Vol.8, No. 2, hal.93-
103.
2. Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 2015. Daerah
Istimewa Yogyakarta dalam Angka. Yogyakarta.
3. Bolla, M. E. 2011. Kajian Karakteristik Kecelakaan Sepeda Motor Di Kota
Surabaya. Jurnal Teknik Sipil. Vol. 1, No.1, hal. 67-69.
4. Polresta Kota Yogyakarta. 2016. Data Kecelakaan Lalu Lintas Tahun 2013-
Ferbruari 2016, Yogyakarta.
5. Notoatmodjo, S. 2007, Kesehatan masyarakat Ilmu & Seni, Rineka Cipta,
Jakarta.
6. Sugiyono. 2009. Metode Penilaian Kuanttatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
7. Azwar. 2010. Sikap Manusia Teori dan Perilaku. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan.

259
9. Mahawati, E dan Prasetya, J. 2013. Pola Interaksi Determinan Perilaku Safety
Riding dalam Upaya Eleminasi Gangguan Kesehatan dan Kecelakaan Lalu
Lintas Guna Meningkatkan Kualitas Hidup Generasi Muda. Laporan Akhir
Penelitian Dosen Pemula. Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
10. Asdar, M., Rismayanti, Sidik, D. 2013. Perilaku Safety Riding pada Siswa
SMA Di Kabupaten Pangkep. http://repository.unhas.ac.id/handle/123456
789/4246.
11. Ariwibowo, R. 2013. Hubungan antara Umur, Tingkat Pendidikan,
Pengetahuan, Sikap terhadap Praktik Safety Riding Awareness pada
Pengendara Ojek Sepeda Motor Di Kecamatan Banyumanik. Undergraduated
thesis. Universitas Diponegoro.
12. Sundari, N.P. 2010. Perilaku Pengendara Sepeda Motor pada Remaja terhadap
Risiko Kecelakaan Lalu Lintas. http://adln.lib.unair.ac.id/go.php? id=gdlhub-
gdl-s1-2010-sundarinan-12659&width=300&PHPSESSID=e99
ecec43aeb91a73c0e368ce140cf5f.
13. Pamungkas, N.S. 2014. Mengenal Perilaku Pengendara Kendaraan dalam
Upaya Mencegah Terjadinya Kecelakaan di Jalan Raya. Teknis. Vol.9,
No.1.hal. 13-18.
14. Agung, I.A. 2014. Model Perilaku Pengendara Berisiko pada Remaja. Jurnal
Psikologi Integratif. Vol. 2, No. 2, hal. 35-41.
15. Notoatmodjo, S. 2003. Pengantar Ilmu Pendidikan Kesehatan dan Ilmu
Perilaku Kesehatan. Yogyakarta: Andi offset.

260
PROTOTYPE SAIRIS TECH
(Alat Penangkap Polutan Udara Dalam Ruangan)

Husaini1, Abdul Haris2


1
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran
Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan, 70714.
2
Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Depkes RI Banjarmasin
Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 70714
E-mail: husainifawaz@yahoo.com,harisa396@yahoo.com

Abstrak

Polutan udara yang mencemari udara dalam ruangan harus mampu dikendalikan sehingga
tidak berbahaya bagi pekerja dan lingkungan sekitarnya, terutama berbagai industri,
termasuk industri karet. Prototipe alat SaiRis Tech adalah salah satu pengendalian
berbagai macam polutan udara dalam ruangan dan alat ini diberi nama SaiRis Tech
adalah berdasarkan penemunya yaitu Husaini dan Abdul Haris yang kemudian
disingkat menjadi SaiRis Tech. Tujuan penelitian ini adalah mendesain/membuat
Protipe alat penangkap berbagai polutan udara yang terdapat dalam ruangan, serta
melakukan berbagai uji terhadap polutan. Alat ini sudah lulus uji laboratorium dengan
jenis polutan SO2 dengan efisiensi menurunkan kadar SO2 sampai 97%. Manfaatnya
adalah memberikan informasi keberbagai pihak dalam rangka pengendalian polutan udara
dalam ruangan.

Kata kunci: alat penangkap polutan, gas SO2, prototype.

1. Pendahuluan
Polutan udara dalam ruangan sebuah industri merupakan ancaman serius
terhadap pekerja, oleh sebab itu diperlukan pengendalian secara teknis. Salah satu
prototipe alat untuk menangkap atau menurunkan kadar polutan dalam ruangan
industri, khususnya industri karet adalah prototipe SaiRis Tech yang telah lulus
uji laboratorium. Studi pendahuluan yang dilakukan dalam penggunaan prototipe
alat SaiRis Tech ini adalah terhadap kadar sulfur dioksida dari asap pembakaran
rubber sheet yang menunjukkan bahwa rata-rata kandungan sulfur dioksida
sebesar 0,856 ppm setara dengan 2247 gr/m3 [6]. Ini melebihi nilai ambang batas
baku mutu udara ambient nasional Republik Indonesia PP nomor 41 tahun 1999
[1] yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja [2] pada ruang pengasapan
maupun pada masyarakat yang berada di sekitar ruang pengasapan suatu industri
rubber sheet. Polutan jenis SO2 bersifat karsinogenik terhadap kesehatan paru
manusia [3], juga menyebabkan kelainan paru restriktif, obstruktif dan gabungan
serta kelainan imunoglobulin jenis total IgE dan IgG [4]. Oleh sebab itulah
dilakukan perancangan alat untuk menurunkan kadar berbagai polutan dalam
udara, seperti penelitian ini penurunan polutan SO2 pada ruang pengasapan rubber
sheet berupa prototipe SaiRis Tech. Kinerja alat ini sangat efisiensi menurunkan
cemaran atau polutan SO2 sampai 97 % [6].

261
2. Tujuan
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menyebarluaskan teknologi
sederhana yang tepat guna dalam pendalikan pencemaran udara dari aktivitas
pengeringan rubber sheet atau aktivitas industri karet.

3. Manfaat
Alat ini bermanfaat untuk menurunkan risiko pencemaran lingkungan atau
kualitas udara di dalam industri rubber sheet dan lingkungan sekitar industri
tersebut.

4. Metode
A. Alat Utama SaiRis Tech
Alat utama SaiRis Tech terdiri dari kolom dari pipa stainless berdiameter 2
inchi dengan total tinggi 30 cm. Pada bagian dalam terdapat bantalan penahan
gas kotor untuk memperlambat laju aliran gas kotor. Selain itu pada bagian
atas diletakkan sedemikian rupa sprayer berdaya sebar 78,5 cm2, dengan
sebaran berbentuk lingkaran [5].
B. Penggunaan Tekanan
Tekanan yang digunakan pada cairan kontak adalah 30 50 psi [6]. Tekanan
paling efektif adalah pada 40 psi. Cairan kontak yang digunakan adalah air
bersih dengan kekeruhan < 5 NTU [6].
C. Peralatan Pendukung
Peralatan pendukung untuk mengoperasikan SaiRis Tech adalah berupa
kompresor udara dengan kapasitas minimum 16 liter dengan daya HP,
tabung air bertekanan kapasitas minimum 100 liter untuk pengoperasian
selama 2 jam [6].
Udara Bersih

Pressure gauge
Pipa Udara Bertekanan

Pipa Air Bertekanan


Valve

Valve

Nozzle

Kompressor

Sairis Tech

Tabung Air Bertekanan


Bed

Inlet Gas Kotor Dari Ruang Asap


Air Kotor

Gambar 1. Sairis Tech Dengan Peralatan Tambahan

262
5. Hasil
SaiRis Tech telah diuji coba untuk menurunkan kandungan SO2 yang
terdapat pada ruang pengasapan industri rubber sheet. Uji coba dilakukan pada
skala laboratorium dengan gambaran kinerja pada tabel di bawah [6]:

Tabel 1. Hasil Uji Coba Kandungan SO2 dengan Prototipe Alat Sairis Tech
Konsentrasi Rerata
Hasil Efisiensi
Kontrol Kontrol Kontrol
Uji (%)
(ppm) (ppm)
Tanpa Bed, Tekanan 40 Psi, 1 Kolom 0.93 0.856
Tanpa Bed, Tekanan 40 Psi, 1 Kolom 0.69 0.856
Tanpa Bed, Tekanan 40 Psi, 1 Kolom 0.96 0.856
Tanpa Bed, Tekanan 40 Psi, 1 Kolom 1.12 0.856
Tanpa Bed, Tekanan 40 Psi, 1 Kolom 0.58 0.856
Variasi Bed, Tekanan, Kolom,
Pengulangan
3;40;1,1 0.856 0.01 99
3;40;1,2 0.856 0 100
3;40;1,3 0.856 0.03 96
3;40;1,4 0.856 0.04 95
3;40;1,5 0.856 0.04 95

Bila disajikan dengan diagram batang, maka akan terlihat hasil uji coba
sebagai berikut [6]:

Diagram 1. Gambaran Efisiensi Sairis Tech Selama Lima Kali Pengulangan

6. Kesimpulan
Dari hasil uji coba SaiRis Tech dapat disimpulkan bahwa alat ini mampu
menurunkan kandungan SO2 pada ruang pengasapan rubber sheet antara 95100
% [6].

263
Daftar Pustaka
[1] Anonimous. 1999. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41
Tahun 1999 Tentang Baku Mutu Udara Ambien Nasional. Jakarta
[2] Mukono, H.J. 2008. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap
Gangguan Saluran Pernafasan. Surabaya: Airlangga University Press.
[3] Eva, M., Faisal, Y., Wiwien, H.W., dan Mukhtar, I. 2003. Pengaruh Inhalasi
Sulfur Dioksida Terhadap Kesehatan Paru. J Cermin Dunia Kedokteran.
[4] Husaini. 2014. Hubungan Pajanan CO, SO2, NO2, Uap Besi dan Debu Besi
Dengan Gangguan Fungsi Paru Dan Kadar Imunoglobulin Serum Perajin
Logam, Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
[5] Haris, A. 2011. Penurunan Debu Padi Menggunakan Wet Scrubber. Tesis.
Surabaya: Institut Sepuluh Nopember Surabaya.
[6] Husaini, dan Haris, A. 2016. Penurunan Sulfur Dioksida (SO2) Ruang
Pengasapan Rubber Sheet Menggunakan Wet Scrubber Prototipe SaiRis
Tech [Belum di Publish].

264