Anda di halaman 1dari 13

1.

Latar belakang pentingnya mempelajari layanan format klasikal


Tugas dan tanggung jawab guru khususnya dalam pengajaran perlu diperhatikan
dengan serius. Ia memerlukan kemampuan profesionalitas. Pengetahuan, sikap, dan skill
yang telah diperoleh melalui program pendidikan keguruan maupun re service training
perlu dikembangkan melalui pengalaman mengajar di sekolah atas bimbingan Kepala
Sekolah.
Mengajar di kelas dengan peserta didik 40 orang dalam alokasi waktu 40 menit
Satu pertemuan merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Hal ini memerlukan latihan
praktek di kelas. Bagi calon guru akan dirasakan lebih rumit lagi dan sulit. Sebab, dalam
latihan praktek mengajar yang langsung di kelas yang demikian kondisi yang dihadapinya
itu, maka perhatian calon guru dalam mengajar terutama akan tertuju pada his pupils
learn (muridnya belajar) dan akan terabaikanlah tujuan utamanya he learn to teach (ia
belajar mengajar). Bahkan jika praktikan mengalami kekeliruan mengajar akan berakibat
langsung pada sekian banyak peserta didik. Ini merupakan satu kelemahan mendasar
sifatnya, disamping masih terdapat kelemahan lainnya.
Untuk mengatasi kelemahan yang mendasar tersebut dikembangkanlah pengajaran
belajar mengajar dan pelayanan klasikal yang efektif. Sebenarnya, pengajaran mikro
sebagai salah satu bagian dari program pengalaman kerja baik di sekolah maupun di luar
sekolah.

2. Pengertian pengelolaan kelas


Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu : pengelolaan dan kelas. Kata
Pengelolaan berasal dari kata kelola ditambah awalan pe dan an. Istilah lain dari
pengelolaan kelas menagemen yang berarti tata pimpinan pengelolan.\
Sedangakan kelas menurut Umar Hamalik (1987;311) adalah kelompok orang
yang melakukan kegiatan belajar bersama yang dapat pengajaran dari guru.
Berikut pengertian pengelolaan kelas menurut para ahli;
a. Menurut Hadari Nawawi ( 1989 : 115 ), pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai
kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa
pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan
kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.
b. Menurut Suharsimi Arikunto pengelolaan kelas adalah usaha yang dilakukan
penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar dicapai kondisi
optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
c. Menurut sudirman pengelolaan kelas berarti upaya pendayagunaan potensi kelas.
d. Menurut Made Pidarta pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-
alat yang tepat terhadap problema dan situasi kelas.
e. Menurut Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu
usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar / yang
membantu dengan maksud agar di capai kondisi yang optimal sehingga dapat
terlaksana kegiatan belajarsiswa dapat berjalan dengan lancar dan terciptanya kondisi
belajar yang optimal untuk berlangsungnya kegiatan belajar siswa.
Dari beberapa pengertian menurut para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
pengelolaan kelas merupakan keterampilan seorang guru untuk menciptakan dan
memelihara sebuah kelas yang kondusif dengan maksud agar tercapainya kondisi yang
optimal sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa
dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk
mencapai tujuan pengajaran dan hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan
siswa dan siswa dengan siswa.
Pengelolaan kelas merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai
oleh seorang pendidik. Karena tanpa keterampilan mengelola kelas akan sulit untuk
menjalankan kegiatan mengajar belajar secara efektif.
Pengelolaan kelas sendiri berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan
pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan
tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan
dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi
terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang
menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta
didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya
mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.
3. Masalah pengelolaan Kelas
Faktor faktor Penyebab Masalah Pengelolaan Kelas. Menurut Made Pirate,faktor
penyebab itu antara lain:
a. Pengelompokan (pandai,sedang,bodoh),kelompok bodoh akan menjadi sumber
negative,penolakan,atau apatis.
b. Karakteristik individual,seperti kemampuan kurang, ketidakpuasan atau dari latar
belakang ekonomi rendah yang menghalangi kemampuannya.
c. Kelompok pandai merasa terhalang oleh teman-temannya yang tidak seperti dia.
Kelompok ini sering menolak standar yang diberikan oleh guru. Sering juga
kelompok ini membentuk norma sendiri yang tidak sesuai dengan harapan sekolah.
d. Dalam latihan diharapkan semua anak didik tenang dan bekerja sepanjang jam
pelajaran, kalau ada instrupsi atau interaksi mungkin mereka merasa tegang atau
cemas. Karena itu perilaku-perilaku menyimpang seorang dua orang bisa ditoleransi
asal tidak merusak kesatuan.
e. Dari organisasi kurikulum tentang tim teaching.

Pollard dalam Hilda Karli mengelompokkan kepribadian siswa dalam 5 kelompok besar:

a. Impulsivity/Reflekxivity. Gambaran impulsivity adalah orang yang tergesa-


gesa dalam mengerjakan tugas tanpa berpikir dahulu,sedangkan reflexivity adalah
orang yang sangat mempertimbangkan tugas tanpa berkesudahan.
b. Extroversion/Introversion. Gambaran extroversion adalah orang yang
ramah,terbuka,bahkan kadang-kadang tergantung dari perlakuan teman-teman
sekelompoknya. Sedangkan introversion adalah orang yang tertutup dan sangat
pribadi,malah kadang-kadang tidak mau bergaul dengan teman-temannya.
c. Anxienty/Adjustment. Gambaran anxienty adalah orang yang merasa kurang
dapat bergaul dengan teman,guru atau tidak dapat menyelesaikan permasalahan
dengan baik,sedangkan adjustment adalah orang yang merasa dapat bergaul dengan
guru,teman atau dapat menyelesaikan masalah dengan baik.
d. Vacillation/Perseverance. Gambaran vacillation adalah oarng yang
konsentrasinya rendah sering berubah-rubah,dan cepat menyerah dalam
pekerjaan,sedangkan perseverance adalah orang yang mempunyai daya konsentrasi
kuat dan terfokus serta pantang menyerah dalam menyelesaiakn pekerjaan.
e. Competitiveness/collaborativeness. Gambaran competitiveness adalah orang
yang mengukur prestasinya dengan orang lain dan sukar bekerja sama dengan orang
lain,sedangkan collaborativeness adalah orang yang sangat tergantung dengan orang
lain dan tidak dapat bekerja sendiri.
Dua kategori pokok tentang pengelolaan masalah siswa,yaitu:
a. Masalah Individu
Kategori masalah individu dalam pengelolaan siswa menurut dreikurs dan
cassel di dasarkan pada tingkah laku manusia itu mempunyai maksud dan tujuan.
Setiap individu mempunyai kebutuhan pokok untuk menjadi dan merasa berguna. Jika
individu ini merasa putus asa dalam mengembangkan rasa memiliki harga diri melalui
nilai yang dapat di terima secara social,ia akan berkelakuan buruk.
b. Masalah Kelompok
Jhonson dan Bany mengidentifikasi 7 masalah kelompok dalam pengelolaan
kelas,yaitu:
Kurangnya kesatuan
Ketidaktaatan terhadap standar tindakan dan prosedur kerja
Reaksi negative terhadap pribadi anggota
Pengakuan kelas terhadap kelakuan guru
Kecendrungan adanya gangguan,kemacetan pekerjaan,dan kelakuan yang di buat-
buat
Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan
Semangat juang yang rendah dan adanya sikap bermusuhan.
Kurangnya kesatuan,di tandai dengan konflik-konflik antara individu dan sub
kelompok. Misalnya, konflik antara jenis kelamin dan atau ras dengan murid dari jenis
kelamin atau ras yang lain. Suasana kelas seperti ini ditandai dengan
konflik,permusuhan,ketegangan. Murid merasa tidak puas dengan kelompok dan
berpendapat kelompok tidak menarik. Akhirnya murid tidak saling mendukung.
Mengidentifikasikan masalah ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah :
1. Merasakan adanya masalah
Merasakan adanya masalah dengan cara bertanya pada diri sendiri (merefleksi)
mengenai kualitas pembelajaran yang selama ini di capai. Guru mengangap adanya
masalah kalau ada kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang
terjadi.
Contoh pertanyaan adanya masalah:
Apakah kopetensi awal siswa untuk mengikuti pembelajaran cukup memadai?
Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
Apakah sarana/prasarana pembelajaran cukup memadai?
Apakah perolehan pembelajaran cukup tinggi?
Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran inovasi
tertentu?

2. Megidentifikasi masalah
Masalah-masalah yang dihadapi tersebut dicari ciri masalahnya untuk dicari
masalah mana yang layak dipecahkan terlebih dahulu.
Tahap ini harus menemukan gagasan awal mengenai permasalahan actual yang
terkait dengan manajemen kelas, iklim belajar, PBM, sumber belajar, dan
perkembangan personal.
Cara mingidentifikasi masalah :
1) Menulis semua halyang terkait dengan pembelajaran yang dirasakan perlu
memperolehperhatian untuk menghindari dampak yang tidak diharapkan.
2) Memilah dan mengklasifikasikan masalah sesuai dengan jenisnya dan
menggidentifikasi frekuensi timbulnya masalah.
3) Mengurutkan masalah sesuai dengan tingkat urgensinya untuk ditindaklanjuti
4) Peneliti memilih permasalahan yang urgen untuk dipecahkan.
5) Menganalisis masalah
Analisis masalah adalah untuk menentukan urgensi masalahjuga dimaksudkan untuk
mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau pemecahan yang dibutuhkan. Analisis
disini adalah kajian terhadap permasalahan dilihat dari segi kelayakanya.
Acuan pertanyaan analisis masalah :
a) Bagaimana konteks, situasi atau iklim lokasi masalah itu terjadi?
b) Apalagi kondisi prasyarat untuk terjadinya masalah?
c) Bagaimana keterlibatan masing-masing komponen pembelajaran dalam terjadinya
masalah?
d) Bagaimana alternative pemecahan yang dapat diajukan?
e) Bagaimana perkiraan waktu yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
4) Memfokuskan masalah
Memfokuskan masalah adalah menentukan pilihan perbaikan yg akan dilakukan dalam
proses pembelajaran.
5)Merumuskan masalah
Deskripsi singkat tentang masalah yang harus dipecahkan dinyatakan dlm bentuk
pertanyaan/kalimat tanya atau pernyataan.
Masalah tersebut dijabarkan dan dirinci secara jelas dan operasional sehingga
tampak ruang lingkupnya.

3. Pendekataan pengelolaan kelas


Macam-macam pendekatan-pendekatan dalam pengelolaan kelas, diantaranya:
1. Pendekatan otoriter
Pendekatan ini memandang pengelolaan kelas sebagai suatu proses untuk
mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan
mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang
menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Didalamnya ada kekuasan dan
norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk
norma itu guru mendekatinya.
Kelebihan dari pendekatan ini adalah terciptanya suatu disiplin tinggi dalam
bentuk peraturan atau norma-norma yang harus ditaati sehingga terciptanya suatu
ketertiban di kelas.
Kelemahannya adalah pendekatan ini kurang efektif . guru yang menganut
pendekatan ini umumnya menganggap apa yang ia katakan adalah mutlak benar. Guru
dianggap yang paling tahu.siswa kurang diberi kesempatan untuk mengemukakan dan
mengembangkan ide atau buah pikirannya.
Contohnya: Seorang guru langsung mengusir anak didiknya yang berbicara di
kelas tanpa mempertimbangkan alasan yang diberikan anak didiknya tersebut. Guru
menganggap anak didiknya tersebut tidak disiplin.
2. Pendekatan permisif
Pendekatan ini menganggap pengelolaan kelas sebagai suatu proses untuk
membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan apa saja yang mereka
kehendaki dalam proses belajar mengajar. Peranan guru adalah mengusahakan
semaksimal mungkin kebebasan anak didiknya. Pendekatan ini memandang kebebasan
tersebut dapat mengembangkan setiap potensi yang ada dalam diri anak didik.
Kelebihan pendekatan ini adalah proses pembelajaran menjadi santai. Siswa
merasa tidak terkekang dan tidak terpaksa dalam belajar. Siswa diberi banyak
kesempatan untuk mengemukakan dan mengembangkan ide atau buah pikirannya.
Sedangkan kelemahannya adalah pendekatan ini tidak realistis. Pendekatan ini
dapat menghasilakan anak didik yang serba tidak mamatuhi aturan, nilai budaya, dan
agama baik dilingkungan rumah tangga atau keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Contohnya: Seorang guru membiarkan anak didiknya makan-makan selama
proses belajar mengajar berlangsung dengan anggapan bahwa mereka akan lebih
konsentrasi lagi dalam belajar mengajar.
3. Pendekatan permisif
Pendekatan ini menganggap pengelolaan kelas sebagai suatu proses untuk
membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan apa saja yang mereka
kehendaki dalam proses belajar mengajar. Peranan guru adalah mengusahakan
semaksimal mungkin kebebasan anak didiknya. Pendekatan ini memandang kebebasan
tersebut dapat mengembangkan setiap potensi yang ada dalam diri anak didik.
Pendekatan ini menganggap pengelolaan kelas sebagai suatu proses untuk
mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku
anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.
Pendekatan ini cukup efektif untuk dilaksanakan karena tingkah laku positif
anak didik dapat terkembangkan sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat
tercapai.
Kelemahannya yaitu siswa menjadi bergantung kepada guru dalam
mengembangkan sikap baiknya. Siswa tersebut akan teransang bertingkah baik bila
ada sebuah pujian dari guru dan sebagainya.
Contohnya: Guru memberikan pujian dan hadiah kepada anak yang bertingkah laku
baik dan memberikan sanksi kepada anak yang bertingkah laku buruk dengan tujuan
anak tersebut mengulangi perbuatannya itu lagi.
4. Pendekatan sosio emotional climate
Pendekatan ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim
atau suasana sosio-emosinal yang positif dalam kelas. Pendekatan ini berasumsi bahwa
belajar dapat dimaksimalkan apabila berlangsung dalam suasana yang positif berupa
pemantapan hubungan-hubungan sehat antar pribadi didalam kelas, baik hubungan
antara guru dan siswa maupun sesame siswa.
Pendekatan ini dapat diandalkan karena dapat meningkatkan keberhasilan
dalam proses belajar mengajar. Dengan adanya rasa kebersamaan dan kepercayaan
antara guru dan siswa, siswa tersebut akan bersemangat dalam belajarnya. Namun bila
guru tidak pintar-pintar dalam menjaga kebersamaan dengan siswa, bias jadi guru yang
dimanfaatkan oleh siswa. Contohnya: Guru menghargai setiap ada anak didiknya yang
mengemukakan pendapatnya, walaupun pendapatnya itu kurang tepat.
5. Pendekatan group process (kerja kelompok)
Pendekatan group process adalah usaha guru mengelompokkan anak didik
kedalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga
terciptanya suasana kelas yang bergairah. Dalam pendekatan ini, peran guru adalah
mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan
proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi
yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, selain itu guru
harus menjaga kondisi itu agar tetap baik.
Kelebihan pendekatan ini adalahdapat memantapkan dan memelihara
organisasi kelas yang efektif berupa terciptanya keakraban antar sesama siswa.
Pendekatan ini mengajari siswa bertanggung jawab atas kelompoknya. Namun dalam
pendekatan ini ditakutkan adanya tindakan intimidasi dan sikuat menekan silemah,
maksudnya setiap tugas kelompok hanya dibebankan sebagian orang saja.
Contohnya: Adanya bentuk kerja kelompok disetiap pembelajaran dan setiap ada
permasalahan dari seorang siswa, maka itu dianggap permasalahan kelompok.
6. Pendekatan electric approach
Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas
yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi
untuk dapat menciptakan dan mempertahankan sesuatu kondisi memungkinkan proses
belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan
secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan kondisi.
Menurut Djamarah, pendekatan elektis adalah guru kelas memilih berbagai
pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapi dalam suatu situasi mungkin
dipergunakan salah satu dan dalam situasi yang lain mungkin mengkombinasikan
pendekatan-pendekatan tersebut. Pendekatan ini mungkin lebih efektif karena cukup
fleksibel, dimana guru memilih dan menggabungkan secara bebas berbagai macam
pendekatan sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada.
7. Pendekatan kompetensi
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan
dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan
memecahkan masalah itu bila tidak bias dicegah. Pendekatan ini menganjurkan
tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku
anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan
mengimplementasikan pealajaran yang baik. Kelebihan pendekatan kompetensi ini
adalah proses pembelajaran disetting secara baik. Contohnya: Sebelum masuk kelas,
guru benar-benar mempersiapkan diri baik penguasaan materi maupun mental untuk
dapat menghadapi anak didiknya.

8. Pendekatan keterampilan proses


Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pembelajaran yang
menekankan pada proses, aktifitas, dan kreatifitas peserta didik dalam memperoleh
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta menerapkannya dalam kehidupan
sehari-sehari. Pendekatan ini khusus pada cara memandang anak didik sebagai
manusia seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar
memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan.
Pendekatan keterampilan proses ini menekankan pada bagaimana siswa belajar,
bagaimana mengelola perolehannya, sehingga dipahami dan dapat dipakai seabagai
bekal untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupannya di masyarakat.
Pembelajaran berdasarkan pedekatan keterampilan proses perlu memperhatikan
hal-hal berikut yaitu:
a. Keaktifan peserta didik didorong oleh kemauan untuk belajar karena adanya
tujuan yang ingin dicapai.
b. Keaktifan peserta didik akan berkembang jika dilandasi dengan pendayagunaan
potensi yang dimilikinya.
c. Suasana kelas dapat mendorong atau mengurangi aktifitas peserta didik .
Suasana kelas harus dikelola dengan baik agar dapat merangsang aktifitas dan
kreatifitas belajar peserta didik.
d. Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adalah memberikan kemudahan
belajar melalui bimbingan dan motivasi untuk mencapai tujuan.
9. Pendekatan lingkungan
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang
berusaha untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui pendayagunaan
lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan
pembelajaran akan menarik perhatian peserta didik, jika apa yang dipelajari diangkat
dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan
berfaedah bagi lingkungannya. Dalam pendekatan lingkungan, pelajaran disusun
sekitar hubungan dan faedah. Isi dan prosedur disusun hingga mempunyai makna dan
ada hubungannya antara peserta didik dengan lingkungannya. Pengetahuan yang
diberikan harus memberi jalan keluar bagi peserta didik dalam menanggapi
lingkungannya. Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti peserta mendapatkan
pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri apa-apa yang ada
dilingkungan sekitar, baik dilingkungan rumah maupun dilingkungan sekolah.
Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara
berikut:
a. Membawa peserta didik kelingkungan untuk kepentingan pembelajaran.
b. Membawa sumber-sumber belajar dari lingkungan ke sekolah.
10. Pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning / CTL)
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan
penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual ini adalah membantu siswa dalam
mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan dengan strategi daripada
memberi informasi. Guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Pendekatan kontekstual berlatar
belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami
sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan
memahami.
Pendekatan kontekstual mendorong peserta didik memahami hakekat., makna,
dan manfaat belajar sehingga memungkinkan mereka rajin dan termotivasi untuk
belajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan secara
alamiah, sehingga peserta didik dapat mepraktekkan secara langsung apa-apa yang
dipelajarinya.
Contohnya: Guru memulai pembelajaran yang dimulai atau dikaitkan dengan
dunia nyata yaitu diawali dengan bercerita atau tanyajawab lisan tentang kondisi
aktual dalam kehidupan siswa (daily life).
11. Pendekatan tematik.
Pendekatan tematik ialah cara pengemasan pelajaran dalam sebuah tema dari
mata pelajaran. Sebuah tema bisa memuat beberapa bidang keahlian yang dipelajari.
Hasil akhir bukanlah hal yang utama melainkan pemaparan, pembukaan cakrawala.
Kemampuan yang diperoleh oleh anak bisa jadi beragam, tidak harus sama pada
setiap anak didik tersebut. Keunikan masing-masing anak harus dihargai. Beberapa
anak mungkin bisa membaca lebih dahulu dari anak lain, dan sebagainya.
Pendekatan tematik adalah sebuah cara untuk tidak membatasi anak dalam
sebuah mata pelajaran dalam mempelajari sesuatu, misalnya: sambil belajar
mengenal hewan ia juga belajar mewarnai.
TUGAS

PRAKTIK LAYANAN FORMAT KLASIKAL

FORMAT KLASIKAL DAN PENGELOLAAN KELAS

OLEH :

RAHMI RAHMADANI
16319007 / 2017
PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR PPG-SM3T

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017

1. PENGERTIAN LAYANAN FORMAT KLASIKAL


Layanan format klasikal merupakan layanan yang berfungsi pencegahan,
pemahaman, pemeliharaan dan pengembangan sebagai upaya yang secara spesifik
diarahkan pada proses yang proaktif tanpa mengenal perbedaan gender, ras, atau agama
mulai taman kanak-kanak sampai tingkat kelas dua belas Sekolah Menengah (K-12)
disajikan melalui kegiatan kelas untuk memenuhi kebutuhan perkembangan dalam bidang
pribadi, sosial, belajar, dan karir peserta didik. Kegiatan layanan format klasikal bertujuan
untuk memberi bantuan kepada seluruh peserta didik atau klien melalui kegiatan
penyiapan pengalaman terstruktur agar klien memiliki kesadaran (pemahaman) tentang
diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), mampu
mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat
tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, mampu memenuhi
kebutuhan dan menangani masalahnya, dan mampu mengembangkan diri secara tumbuh
dan produktif. Layanan format klasikal memiliki nilai efisiensi dalam kaitan antara jumlah
peserta didik atau klien yang dilayani dengan Guru BK atau Konselor serta layanannya
yang bersifat pencegahan, pemeliharaan, dan pengembangan.
2. TUJUAN DAN MANFAAT LAYANAN FORMAT KLASIKAL
Layanan format klasikal sebagai salah satu pelayanan bimbingan dan konseling
memiliki tujuan untuk mengantarkan aktivitas-aktivitas pelayanan yang mengembangkan
potensi peserta didik atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik,
emosi, intelektual, sosial dan moral spiritual), sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan.
Pengertian pendidikan sebagaimana yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam konteks peminatan, secara spesifik pelayanan bimbingan dan konseling
mempunyai tujuan agar peserta didik dapat: 1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi,
perkembangan karir serta kehidupannya di masa yang akan datang; 2) mengembangkan
seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; 3) menyesuaikan diri
dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; 4)
mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan
pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja. Materi layanan format klasikal yang
dikembangkan dalam bidang belajar peserta didik bertujuan sebagai berikut: 1) merencanakan
kegiatan penyelesaian studi, 2) perkembangan karir serta kehidupan peserta didik di masa
yang akan datang, 3) mengembangkan potensi dan kekuatan yang dimiliki peserta didik secara
optimal, 4) menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan 5) menyelesaikan permasalahan
dalam belajar untuk mencapai kesuksesan dalam mencapai tujuan belajar. Materi layanan
format klasikal yang dikembangkan dalam bidang pribadi dan sosial bertujuan membantu
pencapaian kemandirian individu yang meliputi antara lain: self-esteem, motivasi berprestasi,
keterampilan pengambilan keputusan, keterampilan pemecahan masalah, perilaku bertanggung
jawab, keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi, kesadaran akan keragaman
budaya, pemahaman fungsi agama bagi kehidupan, kasus-kasus kriminalitas, bahayanya
perkelahian masal (tawuran), dan dampak pergaulan bebas. Materi layanan format klasikal
yang dikembangkan dalam bidang karir meliputi pemantapan pilihan program studi,
keterampilan kerja profesional, kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam
menghadapi pekerjaan, perkembangan dunia kerja, iklim kehidupan dunia kerja, cara melamar
pekerjaan. Bimbingan klasikal membantu tercapainya kemandirian peserta didik,
perkembangan yang optimal aspek-aspek perkembangan dan tercapainya kesuksesan belajar,
kematangan atau kedewasaan diri, penyesuaian diri, dan sukses karir dimasa depannya.
Layanan klasikal disajikan oleh Guru BK atau Konselor dengan menggunakan
berbagai teknik layanan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Manfaat layanan klasikal
antara lain sebagai wadah atau media:
a. Terjalinnya hubungan emosional dan kondusif antara Guru BK atau Konselor dengan
peserta didik/klien.
b. Terjadinya komunikasi langsung antara Guru BK atau Konselor dengan peserta didik/klien
yang memberikan kesempatan bagi peserta didik/ klien dapat menyampaikan permasalahan
kelas/pribadi di kelas,
c. Terjadinya tatap muka, dialog dan observasi Guru BK atau Konselor terhadap kondisi
peserta didik dalam suasana belajar di kelas,
d. Terbahsanya berbagai materi yang mendorong pengembangan kemampuan diri dan
kemampuan pengendalian peserta didik.
e. Pengembangan pikiran, perasaan, sikap dan kehendak, tindakan dan tanggung jawab peserta
didik/klien sebagai upaya pencegahan, penyembuhan, perbaikan, pemeliharan, dan
pengembangan kemampuan partisipasi mereka

3. FUNGSI LAYANAN FORMAT KLASIKAL

4. JENIS LAYANAN YANG DIPAKAI DALAM FORMAT KLASIKAL