Anda di halaman 1dari 18

Nilai :

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM PELEDAKAN

Nama Praktikan/ NPM :


Anggota :
1. Aji Pratama Putra NPM : 1504024
2. Agus Saputra NPM : 1504025
3. Novalita NPM : 1504026
4. Ilham Praditya NPM : 1504027
5. Tegar Hilmawan NPM : 1504028
6. Wahyudi NPM : 1504029
No & Judul Praktikum : 01 & Pembuatan ANFO
Tanggal Praktikum : 05 April 2017
Tanggal Kumpul : 12 April 2017
Dosen Pengajar : Jihan Farhan Lubis, S.T.
Kelompok : 4 ( Empat )

LABORATORIUM KEBUMIAN
PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN BATUBARA
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG
2017
DAFTAR ISI

Halaman Judul ....................................................................................... i


Daftar Isi .................................................................................................

BAB I DASAR TEORI ..........................................................................


BAB II PROSEDUR PRECOBAAN ....................................................
BAB III DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN ....
BAB IV KESIMPULAN .......................................................................

Daftar Pustaka .......................................................................................


Lampiran ................................................................................................
BAB I
DASAR TEORI

1.1 Definisi
Bahan kimia mudah meledak (atau campuran) adalah sebuah padatan atau
cairan yang dengan sendirinya mampu bereaksi secara kimia menghasilkan gas
pada suhu dan tekanan tertentu dan dengan kecepatan tertentu yang dapat
menyebabkan kerusakan sekeliling. Zat piroteknik bahkan termasuk di dalamnya
ketika zat tersebut tidak menyusun gas. Zat piroteknik (atau campuran) dirancang
untuk menghasilkan efek panas, cahaya, suara, gas atau asap atau percampuran zat
tersebut sebagai hasil dari bukan peledakan, meledak dengan sendirinya, dan
reaksi kimia yang eksotermis.
Adapun tekanannya, menurut Langerfos dan Kihlstrom (1978) , bisa
mencapai lebih dari 100.000 atm. Sedangkan, energi per satuan waktu yang
ditimbulkan sekitar 25.000 MW atau 5.950.000 kkal/s. energi yang sedemikian
besar itu merefleksikan jumlah energi yang memang tersimpan di dalam bahan
peledak begitu besar, namun kondisi ini terjadi akibat reaksi peledakan
yang sangat cepat, yaitu berkisar antara 2.500-7.500 m/s.

1.2 Sifat dan Kelas-Kelas Bahan Kimia Mudah Meledak


Sifat eksplosif bahan kimia ditentukan oleh sifat reaksinya dengan
senyawa-senyawa tertentu, antara lain:
a. Menimbulkan panas reaksi sangat tinggi
b. Reaksinya disertai ledakan
Contoh reaksi antara gas metana (CH4) dengan oksigen ( O2 ), jika metana dan
oksigen berada di suatu ruangan dengan konsentrasi oksigen lebih tinggi
dibandingkan metana, maka adanya api sedikit saja sudah bisa terbakar dan
timbulnya ledakan karena reaksi yang terjadi sangat eksotermis.
Kelas-kelas bahan kimia mudah meledak, terdiri dari:
a. Zat-zat peledak.
b. Benda peledak, kecuali alat-alat yang berisi zat peledak seperti jumlah atau
sifat yang tidak hati-hati atau pembakaran yang disengaja yang seharusnya
tidak menyebabkan efek luar apapun baik dari alat pengerasan, pembakaran,
asap, panas atau bunyi yang keras.
c. Zat dan benda yang tidak disebutkan pada poin a dan b di atas yang dihasilkan
dengan maksud untuk menghasilkan efek praktis mudah meledak atau
piroteknik.

1.3 Klasifikasi Bahan Kimia Mudah Meledak


1.3.1 Berdasarkan komposisi senyawa kimia:
1. Bahan peledak senyawa murni (tunggal)
a. Bahan peledak murni (primary explosive): merkuri, fulminate,
timbal azida, sianurat triazia (CTA), diazonitrofenol (DDNP),
tetrasen, heksametilendiamin peroksida (HMTD)
b. Bahan peledak kuat (high explosive): trinitrotoluen (TNT),
dinitrobenzene, dinitrotoluen (DNT), dinitrofenol, ammonium
pitrat, trinitro-m-xylen (TMX), trinitroanisol (TNA), etilen gloikol
dinitrat (EGDN), nitroselulosa (NG), nitrogliserin (NG),
ammonium nitrat, dipentaaeritritol (Dipen), dan lain-lain.
2. Bahan Peledak Campuran
a. Bahan peledak kuat (high explosive)
Memiliki kecepatan denotasi antara 1.000-8.500 m/s dan
merupakan campuran yang sering digunakan baik dalam bidang
militer maupun sipil dengan tujuan sebagai penghancur. Misalnya
amatol, ammano, amonium nitrat fuel oil (ANFO), siklotol,
dinamit, oktol, pentolik, pikratol, dan bomplastik.
b. Bahan peledak lemah (low explosive)
Memiliki kecepatan detonasi antara 400-800 m/s.
Digunakan sebagai bahan isian pendorong pada amunisi
(propelan). Misalnya bubuk hitam (black powder), bubuk tak
berasap (smokeless powder), bahan pendorong roket, dan bahan
pendorong cair.
1.3.2 Berdasarkan kegunaan
2. Bahan peledak blasting: yaitu bahan peledak yang digunakan
untuk pertambangan.
3. Bahan peledak catridge: digunakan sebagai pembentuk metal
projectile yang berkemampuan tembus atau potong.
4. Bahan peledak propellant: digunakan sebagai pembentuk gas
pendorong dalam peluru senjata atau motor roket.
5. Bahan peledak fuse: bahan peledak yang dipergunakan sebagai
pembentuk panas, gas, warna dan sebagainya.
6. Bahan peledak pyrotechnic: bahan peledak yang digunakan
sebagai pemula suatu rangkaian proses peledakan.
1.3.2 Berdasarkan lingkungan penggunaan
1. Bahan peledak militer
2. Bahan peledak komersial

1.4 Klasifikasi Bahan Peledak


1.4.1 Berdasarkan kecepatan rambat reaksi
Bahan peledak dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:

1. High Explosives
Kecepatan rambat reaksi > kecepatan suara (300
m/s) contoh ANFO = 4500 m/s (Supersonic)
Tekanan yang ditimbulkan sangat tinggi
Reaksinya disebut Detonasi
Berdasarkan kepekaan (sensitivity)nya
digolongkan lebih lanjut:
a. Primary sangat sensitive
b. Secondary kurang sensitive
c. Tertiary tidak sensitive

2. Low Explosives
Kecepatan rambat reaksi < kecepatan suara Contoh: Gun
Powder = 100 m/s (Sub Sonic)
Tekanan yang timbul tinggi
Rekasinya disebut Deflagrasi
Berdasarkan penggunaannya digolongkan sbb:
a. Pyrotechnics = untuk penghasil panas, asap/kabut
berwarna, sinar, delay, suara, api.
b. Propellants = untuk melontarkan obyel/projectile (pelor,
hulu ledak).
1.4.2 Berdasarkan Jumlah Komponen
Single Component = merupakan senyawa kimia tunggal. Contoh:
Lead Azide, TNT, RDX.
Composite = merupakan campuran beberapa senyawa (majemuk).
Contoh: AN + FO = ANFO; Nitroglecerin (NG)+ Kieselguhr =
Dynamite
1.4.3 Berdasarkan Lapangan Pemakaian
Handak Industrial, Contoh: Dynamite, ANFO
Handak Militer, Contoh TNT(Trinitrotoluene), Amatol

1.5 Penanganan, Penyimpanan dan Pengangkutan Bahan Peledak


Berdasarkan Kepmen No. 555.K/26/M.PE/1995 tanggal 22 Mei 1995,
tentang Keselamatan dan Kesehtan kerja Pertambangan Umum, Bab II tentang
Bahan Peledak dan Peledak, adalah merupakan acuan yang digunakan dalam
penanganan, penyimpanan dan pengangkutan bahan peledak di bidang
pertambangan umum.

Berikut ini beberapa pengertian pengertian umum tentang istilah yang


digunakan dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.
555.K/26/M.PE/1995:

1. Bahan Peledak adalah semua senyawa kimia, campuran atau alat yang dibuat
atau digunakan untuk membuat bahan peledak dengan reaksi kimia yang
berkesinambungan di dalam bahan bahannya.
2. Detonator adalah suatu benda yang mengandung isian bahan peledak yang
digunakan sebagai penyala awal ledakan dan dalam hal ini termasuk detonator
listrik, detonator biasa, detonator bukan listrik (nonel) atau detonator tunda.
3. Gudang adalah suatu bangunan atau kontener yang secara teknis mampu
menyimpan bahan peledak secarateknis mampu menyimpan bahan peledak
secara aman.
4. Pekerjaan peledakan adalah pekerjaan yang terdiri dari pekerjaan meramu
bahan peledak, membuat primer, mengisi dan menyumbat lubang ledak,
merangkai suatu pola peledakan, menyambung suatu sirkit peledakan ke
sebuah sirkit detonator, menetapkan daerah bahaya, menyuruh orang
menyingkir dan berlindung, menguji sirkit peledakan, dan mengendalikan
akibat ledakan yang merugikan seperti lontaran batu, getaran tanah,
kebisingan, dan tertekannya udara yang mengakibatkan efek ledakan (air
blast).
5. Jarak aman gudang adalah jarak minimum dimana gudang bahan peledak
harus terpisah dari gudang gudang yang lain, bangunan yang dihuni orang,
jalan kereta api serta jalan umum dan tergantung pada jenis dan jumlah bahan
peledak yang disimpan di dalamnya.
6. Bahan peledak peka detonator adalah bahan peledak yang meledak dengan
detonator No.8 strength.
7. Bahan peledak peka primer adalah bahan peledak yang hanya dapat meledak
dengan menggunakan primer atau booster dengan detonator no.8 strength.
8. Bahan ramuan bahan peledak adalah bahan baku yang apabila dicampur
dengan bahan tertentu akan menjadi bahan primer.
9. Gudang handak utama adalah gudang yang digunakan sebagai tempat bahan
peledak yang letaknya tidak terlalu jauh dari tambang dan ari gudang ini
bahan peledak dipakai untuk keperluan peledakan.
10. Gudang bahan peledak transit adalah gudang yang dipergunakan sebagai
tempat penyimpanan sementara sebelum diangkut/dipindahkan ke gudang
bahan peledak utama.
11. Gudang bahan peledak sementara adalah gudang yang dipergunakan untuk
kegiatan pertambangan pada tahap eksplorasi atau persiapan penambangan.

1.6 Prosedur Penanganan Bahan Peledak:


1. Hati hati, usahakan bahan peledak selalu dalam keadaan kering,
terlindungi dari guncangan, gesekan dan berada jauh dari sumber api atau
bahan yang mudah terbakar.
2. Detonator dan bahan peledak lainnya harus tetap terpisah hingga
penyiapan primer
3. Kabel detonator harus tetap terhubung pendek dan dijaga agar tidak
kontak dengan arus listrik.
4. Semua bahan peledak dan detonator yang tidak terpakai harus
dikembalikan ke gudang.
5. Bahan peledak yang keluar dari gudang harus selalu dikontrol agar tidak
jatuh ke tangan yang tidak berkepentingan.
6. Jangan gunakan bahan peledak yang telah rusak.
7. Dilarang menggunakan bahan peledak kecuali sudah jelas prosedur
keamanan untuk penggunaannya atau di bawah petunjuk orang yang
berpengalaman.
8. Jangan memasukkan apapun kecuali sumbu api ke dalam detonator biasa.
9. Mencoba memeriksa isi atau mencoba menarik kabel dari detonator.
10. Apabila cuaca akan hujan ada petir, segera tinggalkan bahan peledak ke
tempat yang aman setelah terlebih dahulu berkonsultasi pada pengawas.

1.7 Penyiapan Primer


1. Sebelum detonator dimasukkan ke dalam dinamit maka harus terlebih
dahulu diperiksa keadaannya.
2. Buat primer sesuai dengan metode yang ada, pastikan detonator benar
benar masuk dalam dodol dan tidak mudah lepas.
3. Jangan masukkan detonator ke dalam bahan peledak dengan paksa,
masukkan detonator ke dalam lubang yang terlebih dahulu telah dibuat
dengan kayu/stick yang telah diijinkan.
4. Gunakan booster yang sesuai dengan ukuran detonator, jangan mencoba
untuk melebarkan lubang pada booster.
5. Tidak diijinkan membuat primer di dalam gudang.

1.8 Pengisian Lubang Ledak


1. Periksa lubang bor untuk memastikan aman sebelum pengisian
2. Memasukkan bahan peledak ke dalam lubang ledak dengan hati hati,
jangan dipaksa.
3. Jika lubang cukup dalam dapat dibantu dengan stick yang telah diijinkan.

1.9 Pemadatan
1. Jangan padatkan primer dan jangan menggunakan bahan yang terbuat
dari logam untuk memadatkan bahan peledak.
2. Pada saat pemadatan, hati hati jangan sampai merusak sumbu api, kabel
detonator yang keluar dari lubang.
3. Pindahkan benda benda yang tidak penting dari sekitar permukaan
lubang ledak sebelum pemadatan.

1.10 Penyalaan (Firing)

1. Lakukan test pada rangkaian detonator sebelum penyalaan dengan alat


khusus yang sesuai.
2. Jangan menyalakan detonator dengan arus yang kurang dari yang
direkomendasikan oleh pabrik pembuat.
3. Sebelum rangkaian siap untuk penyalaan, pastikan kabel detonator selalu
terhubung pendek, dan jangan gunakan detonator dari pabrik yang berada
dalam satu rangkaian.
4. Pastikan semua ujung kabel bersih sebelum dihubungkan.

1.11Penyimpanan
Jenis bahan peledak yang disimpan harus disesuaikan dengan kualitas
gudangnya, seperti:
1. Detonator, harus disimpan terpisah dari bahan peledak lainnya di dalam
gudang bahan peledak peka detonator.
2. Bahan peledak peka detonator, tidak boleh disimpan di gudang bahan
peledak peka primer atau di gudang bahan ramuan bahan peledak.
3. Bahan peledak peka primer dapat disimpan bersama sama di dalam
gudang bahan peledak peka detonator tetapi tidak boleh disimpan
bersama-sama dalam gudang bahan ramuan bahan peledak.
4. Gudang ramuan bahan peledak dapat disimpan bersama sama di dalam
gudang bahan peledak peka primer dan atau di dalam gudang bahan
peledak peka detonator.
Persyaratan mengenai konstruksi gudang handak di permukaan tanah yang
perlu diperhatikan, yaitu:
1. Harus terdiri dari dua ruangan
2. Dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar
3. Dilengkapi dengan lubang ventilasi pada bagian atas dan bawah
4. Mempunyai hanya satu pintu keluar
5. Dilengkapi dengan pengukur suhu dan suhu ruangan untuk bahan peledak
peka detonator tidak bole melebihi 35 C, bahan ramuan bahan peledak tidak
boleh melebihi 55C.
6. Memenuhi jarak aman terhadap lingkungan
7. Dilengkapi dengan alat penangkal petir
Sedangkan persyaratan untuk pengaman gudang bahan peledak, antara lain:

1. Setiap gudang harus dilengkapi dengan thermometer, tanda Dilarang


merokokdan Dilarang Masuk bagi yang tidak berkepentingan dan alat
pemadam kebakaran di tempat yang mudah dijangkau
2. Sekitar gudang harus dilengkapi dengan lampu penerangan dan harus dijaga
24 jam. Rumah jaga harus dibangun di luar gudang dan dapat mengawasi
sekitar gudang dengan mudah
3. Sekeliling gudang harus dipasang pagar pengaman yang dilengkapi dengan
pintu yang dapat dikunci
4. Sekeliling gudang bahan peledak peka detonator harus dilengkapi dengan
tanggul pengaman yang tingginya 2 meter dan lebar bagian atas 1 meter
5. Untuk gudang Amonium Nitrat dan ANFO, berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. Gudang dengan kapasitas < 5000 kg pada bagian dalamnya harus
dipasang pemadam otomatis
b. Gudang dengan kapasitas 5000 kg atau lebih harus dilengkapi
dengan hydran yang dipasang di luar gudang yang dihubungkan dengan
sumber air bertekanan.
Penerimaan dan Pengeluaran bahan peledak dari Gudang harus memenuhi
persyaratan:

1. Petugas yang mengambil bahan peledak harus menolak


atau mengembalikan bahan peledak yang dianggap rusak atau berbahaya atau
tidak layak digunakan.
2. Penerimaan dan pengeluaran bahan peledak harus
dilakukan pada ruangan depan gudang bahan peledak.
3. Jenis bahan peledak yang digunakan harus dikeluarkan
dari gudang sesuai dengan urutan waktu penerimaannya.
4. Bahan peledak dan detonator yang dikeluarkan harus
dalam kondisi baik dan jumlahnya tidak lebih dari jumlah yang diperlukan.
5. Bahan peledak sisa harus segera dikembalikan ke
gudang. Membuka kemasan bahan peledak yang dikembalikan tidak perlu
dilakukan, apabila bahan peledak tersebut masih dalam kemasan aslinya.
6. Bahan peledak yang rusak segera dimusnahkan dengan
cara yang aman.
7. Kemasan yang kosong atau bahan pengemas lainnya
tidak boleh disimpan di gudang bahan peledak.
8. Membuka kemasan bahan peledak harus dilakukan di
bagian depan gudang bahan peledak.
Semua bahan peledak yang masuk dan yang keluar harus dicatat dalam
buku yang terdapat di gudang dan di pos penjagaan dengan ketentuan sebagai
berikut:

1. Di dalam gudang bahan peledak harus tersedia buku catatan bahan peledak
yang berisi:
a. nama, jelas, jumlah seluruhan bahan peledak dan tanggal
penerimaannya
b. lokasi dan jumlah bahan peledak yang disimpan.
2. Pada setiap guadng bahan peledak harus tersedia daftar persediaan yang secara
teratur selalu disesuaikan dan dalam rinciannya tercatat:
a. nama dan tanda tangan petugas yang diberi wewenang untuk
menerima dan mengeluarkan bahan peledak
b. Jumlah bahan peledak atau detonator yang masuk dan keluar
gudang
c. Tanggal waktu pengeluaran serta pengambilan bahan peledak
d. Lokasi peledakan atau tujuan permintaan/pengeluaran bahan
peledak

1.12 Pengakutan
Prosedur pengangkutan bahan peledak ke lokasi penambangan, antara lain:

1. Bahan peledak harus diserahkan dan disimpan di gudang dalam jangka


waktu tidak lebih dari 24 jam sejak tiba dalam wilayah kegiatan
penambangan.
2. Bahan peledak selalu dalam kemasan aslinya dan terpisah dengan
detonator
3. Selalu jauhkan sumber api dari tempat kendaraan diparkir
4. Hati hati pada saat memuat dan menurunkan bahan peldak dari
kendaraan
5. Saat mengangkut bahan peledak ke lokasi penambangan hendaknya
diberi tanda dengan membunyikan sirine dan menyalakan lampu
kendaraan
6. Harus selalu diawasi juru ledak dan satpam
7. Melewati jalur yang aman dan tidak dilewati oleh kendaraan lain
BAB II
PROSEDUR PERCOBAAN

2.1 Alat dan Bahan


1. Biuret
2. Gelas kimia
3. Gelas ukur
4. Pipet tetes
5. Kantong plastik 1 kg
6. Neraca digital
7. Pupuk urea (173 gr)
8. Soal (Fuel Oil)

2.2 Langkah-langkah percobaan :


2.2.1 Perhitungan Density Solar (Fuel Oil)
1. Masukkan solar ke dalam gelas ukur hingga 30 mL
2. Kemudian timbang berat gelas ukur kosong menggunakan neraca
digital.
3. Timbang solar yang dimasukkan ke dalam gelas ukur dan hitung
selisih berat antara berat solar + gelas ukur dengan gelas ukur
kosong.
4. Hitung density solar dengan rumus berikut :
m
=
V
2.2.2 Pembuatan ANFO
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Gunakan sarung tangan untuk melindungi tangan dalam proses
percobaan.
3. Lakukan perhitungan perbandingan kompisi pembuatan ANFO
(94,3 % - 5,7%) dengan jumlah AN (Amonium Nitrat ) dan tentukan
jumlah FO.
4. Cari nilai jumlah solar (fuel oil) yang harus digunakan.
5. Masukkan solar ke dalam biuret.
6. Timbang pupuk urea 173 gram dengan neraca digital.
7. Masukkan pupuk urea ke dalam gelas ukur.
8. Campurkan pupuk urea dan solar yang ada di dalam biuret dan aduk
hingga merata (homogen).
9. Timbang ANFO yang telah tercampukan.
BAB III
DATA HASIL PENGAMATAN
DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Hasil Pengamatan


(solar) = 0,8146 gr/mL
Perbandingan AN : FO = 94,3 % : 5,7 %
m gelas ukur kosong = 96,25 gram
m FO + gelas ukur = 136, 98 gram
Volume
Pupuk Urea Massa FO AN + FO
No FO Keterangan
(gram) (gram) (gram)
(mL)
1 192 11,605 14,2462 203,605 Tercampur rata
2 157 9,48 11,6498 166,48 Tercampur rata
3 173 10,457 12,837 183,457 Tercampur rata
4 281 16,98515 20,851 297,9852 Tercampur rata
5 180 10,88 13,356 190,88 Tercampur rata
6 162 9,78 12,02 171,78 Tercampur rata

3.2 Pembahasan / Analisa Data Hasil Pengamatan


1. Pupuk Urea dengan m = 192 gram
94,3 192 gram
5,7 = m FO
94,3 % x m FO = 5,7 % x 192 gram
5,7 x 192 gram
m FO = 94,3 = 11,605 gram

m 11,605
Volume FO = = 0,8146 = 14,2462 mL

2. Pupuk Urea dengan m = 157 gram


94,3 192 gram
5,7 = m FO
94,3 % x m FO = 5,7 % x 157 gram
5,7 x 157 gram
m FO = 94,3 = 9,489 gram

m 9,489
Volume FO = = 0,8146 = 11,6498 mL
3. Pupuk Urea dengan m = 173 gram
94,3 173 gram
5,7 = m FO
94,3 % x m FO = 5,7 % x 173 gram
5,7 x 173 gram
m FO = 94,3 = 10,457 gram

m 10,457
Volume FO = = 0,8146 = 12,837 mL

4. Pupuk Urea dengan m = 281 gram


94,3 281 gram
5,7 = m FO
94,3 % x m FO = 5,7 % x 281 gram
5,7 x 281 gram
m FO = 94,3 = 16,98515 gram

m 16,98515
Volume FO = = 0,8146 = 20,851 mL

5. Pupuk Urea dengan m = 180 gram


94,3 189 gram
5,7 = m FO
94,3 % x m FO = 5,7 % x 180 gram
5,7 x 180 gram
m FO = 94,3 = 10,88 gram

m 10,88
Volume FO = = 0,8146 = 13,356 mL

6. Pupuk Urea dengan m = 162 gram


94,3 162 gram
5,7 = m FO
94,3 % x m FO = 5,7 % x 162 gram
5,7 x 162 gram
m FO = 94,3 = 9,79 gram

m 9,79
Volume FO = = 0,8146 = 12,02 mL
Amonium Nitrat + Fuel Oil (ANFO) tergolong ke dalam bahan peledak
peka primer yang merupakan gabungan antara detonator dan catrige. Supaya
panas pada ledakan detonator sebagai inisiasi pemberi panas, maka Aminium
Nitrat mesti harus memiliki sifat sensitifitas yang tinggi terhadap panas. Maka
dari itu, amonium nitrat mesti dicampurkan dengan fuel oil yang dapat
merambatkan panas dari detonator ke AN sehingga dapat menimbulkan ledakan
yang besar untuk memecahkan batuan.
Komposisi dalam pembentukan atau pembuatan ANFO memiliki
persentase 94,3 % : 5,7 % atau 95 % : 5 %. Namun, untuk pembakaran sempurna
mesti dengan komposisi 94,3 % : 5,7 %. Dengan komposisi yang baik akan
menghasilkan pembakaran yang baik dan tidak menimbulkan gas-gas beracun.
Selain itu juga, perbandingan komposisi yang baik akan medapatkan kualitas
bahan peledak yang bagus. Bila fuel oil (FO) sedikit akan menimbulkan
pembakaran yang tidak merata bahkan terjadi Miss Fire karena bahan peledak
tidak terbakar dan meledak.
Jumlah dari Urea (AN) yang nantinya akan dicampurkan dengan fuel oil
(FO) dengan kompisisi campuran yang telah diatur akan menghasilkan jumlah
bahan peledak sintetis (ANFO) total sebagai penjumlahan dari urea dan fuel oil
(FO) berupa solar.

BAB IV
KESIMPULAN

1. Perbandingan pembuatan Amonium Nitrat dan Fuel Oil (ANFO) yaitu : 94,3
% : 5,7 %.
2. Jika perhitungan Fuel Oil baik dalam pencampuran Amonium Nitrat dan Fuel
Oil maka FO akan menutupi semua AN atau setiap butirannya sesuai dengan
pengadukannya.
3. Fuel Oil (FO) bukan tegolong ke dalam bahan peledak. Namun, jika Fuel Oil
atau solar dicampurkan akan menghasilkan ledakan yang tinggi, biasanya
disebut sebagai blasting agent.
4. Semakin banyak Amonium Nitrat (Urea) maka akan semakin banyak pula
solar (Fuel Oil) yang akan digunakan untuk membuat ANFO dengan
perbandingan 94,3 % : 5,7 %.
5. Amonium Nitrat + Fuel Oil (ANFO) tergolong ke dalam bahan peledak peka
primer di mana merupakan gabungan dari detonator dan catrige.

DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai