Anda di halaman 1dari 9

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT IBU

TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IUD


DI PUSKESMAS TANJUNG PATI
TAHUN 2016

OLEH:
LUKMIZA, Amd.Keb
NIM : 1615301277

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
FORT DE KOCK BUKITTINGGI
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia dan negara-negara lain relatif tinggi,

hingga mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup (Survey Demografi dan Kesehatan

Indonesia, 2002/2003). Penurunan AKI serta peningkatan derajat kesehatan ibu menjadi

prioritas utama dalam pembangunan, bidang kesehatan di Indonesia. Adapun salah satu

upaya yang dapat dilakukan dapat terwujud dalam bentuk safe motherhood atau disebut

juga penyelamat ibu dan bayi (Sarwono, 2002).


Masalah kematian ibu adalah masalah yang sangat kompleks seperti status wanita

dan pendidikan. Masalah tersebut juga diperbaiki sejak awal. Tetapi kurang realistis

apabila mengharapkan perubahan drastis dalam waktu yang singkat, (Sarwono 2002).

Tingginya angka kelahiran berkaitan erat dengan usia wanita pada saat perkawinan

pertama. Secara nasional, meskipun usia kawin pertama umum 25-49 tahun, telah ada

peningkatan. Namun umur kawin yang pertama menunjukkan angka yang relatif rendah,

yakni 19,2 tahun, median umur kawin di pedesaan 18,3 tahun dan di perkotaan 20,3 tahun

(SDKI, 2002-2003).
Pelayanan KB yang berkualitas belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah

nusantara. Pada saat sekarang ini paradigma program KB telah mempunyai visi dari

mewujudkan NKKBS menjadi visi untuk mewujudkan keluarga berencana yang

berkualitas tahun 2015. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat,

maju, mandiri, memilih jumlah anak yang ideal. berwawasan ke depan, bertanggung
jawab dan harmonis. Visi tersebut dijabarkan dalam 6 visi yaitu memberdayakan

masyarakat, menggalang kemitraan, dalam peningkatan kesejahtera-an, kemandirian dan

ketahanan keluarga. Meningkatkan kegiatan khusus kualitas KB dan kesehatan

reproduksi, meningkatkan promosi, perlindungan dan upaya mewujudkan hak-hak

reproduksi dan meningkatkan upaya pemberdayaan perempuan untuk mewujudkan

kesetaraan dan keadilan gender melalui program KB serta mempersiapkan sumber daya

manusia yang berkualitas sejak pembuahan dan kandungan sampai pada usia lanjut

(Hanafi Hartanto, 2002).


Banyak perempuan yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis

kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia, tetapi juga oleh

ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut.

Berbagai faktor harus dipertimbangkan termasuk status kesehatan, efek samping,

potensial, konsekwensi kegagalan/kehamilan yang tidak diinginkan. Besar keluarga yang

direncanakan, persetujuan pasangan bahkan norma budaya lingkungan integral yang

sangat tinggi dalam pelayanan KB.


Angka kematian ibu dan perinatal merupakan ukuran penting dalam menilai

keberhasilan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana di suatu negara. Tingkat

kesejahteraan juga dapat ditentukan terhadap seberapa jauh gerakan keluarga berencana

dapat dilakukan dan diterima oleh masyarakat. Salah satu bagian dari program KB

nasional adalah KB implant. Kontrasepsi untuk kebutuhan KB yang terus berkembang

dari tahun ketahun. Pemasangan norplant (susuk KB), sederhana dan dapat diajarkan,

tetapi masalah mencabut susuk KB memerlukan perhatian karena sulit dicari metode

yang mudah dan aman (Manuaba, 1998).


Meskipun program KB dinyatakan cukup berhasil di Indonesia, namun dalam

pelaksanaanya hingga saat ini juga masih mengalami hambatan-hambatan yang dirasakan
antara lain adalah masih banyak Pasangan Usia Subur (PUS) yang masih belum menjadi

peserta KB. Disinyalir ada beberapa faktor penyebab mengapa wanita PUS enggan

menggunakan alat maupun kontrasepsi. Faktor-faktor tersebut dapat ditinjau dari

berbagai segi yaitu: segi pelayanan KB, segi kesediaan alat kontrasepsi, segi

penyampaian konseling maupun KIE dan hambatan budaya (Sumber Advokasi KB,

2005). Dari hasil SDKI (2002-2003) diketahui banyak alasan yang dikemukakan oleh

wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi adalah karena alasan fertilitas. Selain alasan

fertilitas, alasan lain yang banyak disebut adalah berkaitan dengan alat/cara KB yaitu:

masalah kesehatan, takut efek samping, alasan karena pasangannya menolak dan alasan

yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi yaitu biaya terlalu mahal.

Bidan yang mempunyai peranan penting sebagai pendamping disepanjang siklus

kehidupan wanita sejak periode perinatal, bayi, remaja, dewasa, kehamilan, persalinan,

nifas dan menopause. Haruslah faham serta mengerti terhadap berbagai perubahan yang

dihadapi wanita demi menuju kehidupan yang sehat.


Pemerintah terus menekan laju pertambahan jumlah penduduk melalui program

Keluarga Berencana (KB). Sebab jika tidak meningkatkan peserta KB maka jumlah

penduduk Indonesia akan mengalami peningkatan, apabila kesetaraan ber KB, pertahun,

angkanya tetap sama (60,3%) maka jumlah penduduk Indonesia tahun 2015 menjadi

sekitar 2555,5 juta (Sumarjati Arjoso, 2000). Terkait program KB nasional menurut

kepala BKKBN pusat ternyata cukup menggembirakan yaitu kesetaraan ber KB

berdasarkan SDKI 2002, tercatat 61,4% dari Pasangan Usia Subur (PUS) yang ada naik

menjadi 65,97% (Susenas, 2005). Demikian juga angka kelahiran total dari 2,7 (SDKI

2005) turun menjadi 2,5 (Susenas, 2004). Sedangkan laju pertambahan penduduk
menunjukan angka penurunan dari 2,86% (Sarwono Prawirohardjo, 1990) menjadi 1,17%

(Sarwono Prawirohardjo, 2000) (http: //situs kespro-info/kb/aju/ 2006/kb 01 html).


Berdasarkan hasil SDKI jumlah penduduk Indonesia tahun 2000 mencapai 206,4

juta jiwa (102,8 juta perempuan dan 103,4 juta laki-laki). Sedangkan untuk jumlah PUS

sekitar 34 juta pasangan. Presentasi KB aktif 60% (SDKI 2002-2003). Berdasarkan fakta

utama KB, proporsi wanita PUS yang tidak ber KB masih cukup besar (40%) dan alasan

utama wanita pus tidak ber KB adalah tidak subur (17%), masalah kesehatan (12%) dan

takut efek samping (10%) (Sumber Advokasi KB, 2005). Jumlah peserta KB berdasarkan

SDKI 2002-2003 meliputi peserta KB Suntik 27,8%, PIL KB 13,2%, IUD 6,2% susuk

KB 4,3%, MOW 3,7% MOP 0,4% dan Kondom 0,9% dan metode amenore laktasi

(MAL) 0,1%, dan sisanya merupakan peserta KB tradisional yang masing-masing

menggunakan cara pantang berkala 1,6%, senggama terputus 1,5% dan cara lain 0,5%.
Hasil presurvey di BBKBN (2004) terdapat peserta KB implant sebanyak 9.730

orang (4,81%), sedangkan KB aktif yang menggunakan KB lainnya sebanyak 188.282

orang (95,09%).
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tersebut maka penulis tertarik

untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat ibu terhadap

pemakaian kontrasepsi IUD di Puskesmas Tanjung Pati Tahun 2016.

B. Rumusan Masalah dan Permasalahan


Setelah mengidentifikasikan masalah, perumusan masalah, penelitian yang diambil

adalah Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi minat ibu terhadap pemakaian

kontrasepsi IUD di Puskesmas Tanjung Pati Tahun 2016 ?.

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini Jenis Penelitiannya adalah Deskriptif Subjek, Penelitian di lakukan

pada Pasangan Usia Subur (PUS), Penelitian akan di lakukan di Puskesmas Tanjung Pati,

pada bulan Tahun 2016.


D. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui faktor yang

mempengaruhi minat ibu terhadap pemakaian kontrasepsi IUD di wilayah kerja

Puskesmas Tanjung Pati Tahun 2016.

b. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui gambaran tingkat pendidikan ibu terhadap kontrasepsi IUD di

Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Pati Tahun 2016.


2. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu terhadap kontrasepsi IUD

di Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Pati Tahun 2016.


3. Untuk mengetahui gambaran tingkat pendapatan keluarga terhadap kontrasepsi

IUD di Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Pati Tahun 2016.


4. Untuk mengetahui gambaran sikap ibu terhadap kontrasepsi IUD di di Wilayah

kerja Puskesmas Tanjung Pati Tahun 2016.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Sebagai sarana untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu yang telah diberikan

dan diterima dalam rangka pengembangan kemampuan diri dan sebagai syarat dalam

menyelesaikan studi di STIKes Fort De Kock Bukittinggi.


2. Bagi instansi pendidikan
Dapat menambah bahan kepustakaan di STIKes Fort De Kock Bukittinggi.
3. Bagi instansi kesehatan
Dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi instansi kesehatan dalam pelayanan

kesehatan, khususnya Puskesmas Tanjung Pati.


4. Bagi PUS
Dapat menjadi saran dan masukan bagi PUS dalam rangka peningkatan pengetahuan

mengenai kontrasepsi, khususnya kontrasepsi IUD.


BAB III
KERANGKA KONSEP

A. KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana

seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang

dianggap penting untuk masalah yang ingin diteliti (Hidayat, 2011).


Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu

terhadap konsep lainnya dari masalah yang ingin diteliti. Konsep adalah suatu abstrak

yang di bentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian. Oleh sebab itu konsep

tidak dapat diukur dan diamati secara langsung. Agar dapat diamati dan dapat diukur,

maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variable-variabel, dari variable itulah

konsep dapat diamati dan diukur ( Notoatmodjo,2015 ).


Adapun kerangka konsep dalam penelitian faktor-faktor penyebab PUS tidak

memilih IUD sebagai alat kontrasepsi di puskesmas Tanjung Pati tahun 2016 dalam

penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Variabel Independent Variabel Dependent

Pengetahuan

Pendidikan Minat Ibu Terhadap


Pemakaian Kontrasepsi
IUD
Umur

Paritas
Gambar 3.1
Kerangka Konsep

B. Defenisi Operasional

N Variabel Defenisi Cara Ukur Alat Skala Hasil Ukur


o Operasional Ukur Ukur

1 Pengetahua kemampuan Wawancara Kuesione Ordinal Baik : >


n responden dalam r mean
Tidak Baik :
menjawab
< mean
pertanyaan yang
diajukan dalam
bentuk kuisione
2 Pendidikan jenjang Wawancara Kuesione Ordinal Tinggi
pendidikan r
Rendah
formal
responden yang
terakhir hingga
mendapat ijazah
kelulusan
1 Usia Usia responden Wawancara Kuesione Rasio Negatif : jika

saat di lakukan r nilai < mean


Positif : jika
penelitian. (
nilai > mena
....th, 20 th, 21

th, dst)
2 Paritas Frekuensi Wawancara Kuesione Ordinal Primipara

kehamilan yang r Multipara

dialami oleh

responden

C. Hipotesa Penelitian
1. Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan minat ibu terhadap pemakaian

kotrasepsi IUD
2. Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan minat ibu terhadap pemakaian

kotrasepsi IUD
3. Ada hubungan antara usia ibu dengan minat ibu terhadap pemakaian kotrasepsi IUD
4. Ada hubungan antara paritas ibu dengan minat ibu terhadap pemakaian kotrasepsi

IUD