Anda di halaman 1dari 4

SITOSTATIKA

3.PENGERTIAN
Sitostatika merupakan golongan obat yang digunakan dalam pengobatan kanker yang
paling banyak menunjukkan kemajuan dalam pengobatan penderita kanker. Karena itu pula
harapan dan tumpuan dunia medis terhadap efek pengobatan dengan sitostatika terus
meningkat. Sejalan dengan harapan tersebut upaya menyembuhkan atau sekurangnya
mengecilkan ukuran kanker dengan sitostatika terus meluas.

Namun, penggunaan sitostatika dalam dunia kesehatan memiliki resiko


yangsangat besar. Menurut NIOSH (2004), bekerja dengan atau dekat
dengan obat-obat berbahaya (sitotoksik) di tatanan kesehatan dapat
menyebabkan ruam kulit,kemandulan, keguguran, kecacatan bayi, dan
kemungkinan terjadi leukemia dan kanker lainnya. Selain itu, toksisitas yang
sering dilaporkan berkenaan dengan preparasi dan handling cytotoxic berupa
toksisitas pada liver, neutropenia ringan,fetal malformation, fetal loss,
atau kasus timbulnya kanker. Tahun 1983 dilaporkan adanya
kerusakan liver pada 3 orang perawat yang bekerja pada wardoncology. Di
dua rumah sakit di Italy telah dilakukan penelitian ditemukan
cyclophosphamide dan ifosfamide dalam urine perawat dan staf farmasi
yang tidak mengikuti peraturan khusus dalam menangani obat-obat kanker

Obat sitotoksik adalah agen yang ditujukan untuk terapi, khususnya


pada pengobatan kanker. Obat ini diketahui sangat beracun bagi sel-
sel, terutama melalui tindakannya pada reproduksi sel. Obat
sitotoksik semakin sering digunakan dalam berbagai pengaturan
kesehatan, laboratorium dan klinik hewan untuk pengobatan kanker dan
kondisi medis lainnya seperti rheumatoidarthritis, multiple sclerosis dan
kelainan auto-imun.

Obat sitotoksik mencakup obat yang menghambat atau mencegah


fungsi sel. Obat sitotoksik termasuk obat-obatan yang terutama digunakan
untuk mengobati kanker, sering sebagai bagian dari rezim kemoterapi.
Bentuk yang paling umum dari obat sitotoksik dikenal sebagai
antineoplastik. Obat sitotoksik memiliki efek mencegah pertumbuhan yang
cepat dan pembagian (mitosis) sel kanker . Namun, obat sitotoksik juga
mempengaruhi pertumbuhan sel-sel lain membagi cepat dalam tubuh
seperti folikel rambut dan lapisan dari sistem pencernaan. Sebagaihasil dari
pengobatan, banyak sel-sel normal yang rusak bersama dengan sel-sel
kanker. Pajanan obat sitotoksik dan limbah yang terkait dapat terjadi di
mana kontrol tindakan gagal atau tidak di tempat. Paparan dapat terjadi
melalui kontak kulit, menghirup aerosol dan partikel obat , dan luka benda
tajam

3.1 GOLONGAN OBAT SITOSTATIKA


Penggolongan obat sitostatika :
a. Alkylating agent : Cisplatin, sikofosfamid
b. Anti metabolites : Cystosine, florouracil
c. Antibiotika : Bleomycin, daunomiycine
d. Mitotik inhibitors : Vinkristine, inblastine

3.2 PERAN FARMASIS DALAM PENANGANAN SITOSTATIKA


Seorang farmasis memiliki beberapa tanggung jawab dalam penanganan sediaan
sitotoksik , yaitu:
a. Seorang farmasis terlatih harus dapat melakukan skrining resep secara klinis setiap
resep obat sitotoksik yang diresepkan pada pengobatan penyakit ganas.
b. Sebelum obat sitotoksik dipersiapkan farmasis harus memverifikasi resep sesuai dengan
rejimen pengobatan, mengklarifikasi dan menyelesaikan perbedaan apapun dan memeriksa:
- Apakah sesuai regimen/ protokol yang ditetapkan
- Perhitungan BSA sesuai untuk pasien dengan mempertimbangkan umur pasien dan faktor
lainnya. Jika berat pasien adalah 30% dari berat badan ideal mereka, atau BMI lebih besar dari
30, farmasis akan menghubungi dokter penulis resep dan mendiskusikan kemungkinan implikasi
dan kebutuhan untuk pengurangan dosis atau dosis capping.
- Untuk anak-anak, dosis harus dihitung sesuai dengan protokol yang relevan, yaitu mg / kg
atau berdasarkan BSA menggunakan grafik BSA UKCCSG.
- Untuk anak-anak obesitas, pedoman dalam perhitungan dosis individu harus diikuti
- Dosis modifikasi perawatan sebelumnya dipertahankan jika sesuai.
- Semua obat sitotoksik dan terapi suportif termasuk antiemetik dan hidrasi sebaiknya telah
diresepkan.
- Rute administrasi dan durasi infus telah ditetapkan secara spesifik pada resep.
- Volume dan media infus sesuai dengan kebutuhan pasien, protokol dan stabilitas sediaan
farmasi.
- Ada selang waktu yang tepat antara pengobatan dan siklus.
- Semua parameter keselamatan yang relevan seperti complete blood count, fungsi ginjal dan
hati dipantau dan dapat dilakukan penyesuaian dosis obat bila diperlukan.
- Pasien tidak alergi terhadap obat-obatan yang diresepkan.
- Tanggal untuk pemberian kemoterapi secara jelas dinyatakan.
- Resep telah ditandatangani oleh dokter yang menangani pasien bersangkutan, baik dalam
format form elektronik atau bentuk tertulis.

3.3 PERSYARATAN PERSONEL UNTUK DAPAT


HANDLING SITOTOKSIK
Setiap personil yang melakukan persiapan/peracikan sediaan steril harus memenuhi
beberapa syarat sebagai berikut:
- Memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang penyiapan dan pengelolaan komponen
sediaan steril termasuk prinsip teknik aseptis.
- Memiliki kemampuan membuat prosedur tetap setiap tahapan pencampuran sediaan steril.
- Apoteker yang melakukan pencampuran sediaan steril sebaiknya selalu meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya melalui pelatihan dan pendidikan berkelanjutan.
- Petugas yang melakukan pencampuran sediaan steril harus sehat dan khusus untuk
penanganan sediaan sitostatika petugas tidak sedang merencanakan kehamilan, tidak hamil
maupun menyusui.
3.4 EDUKASI & TRAINING
Semua staf yang dipekerjakan untuk menangani bahan sitotoksik harus menerima
pendidikan dan pelatihan sesuai dengan tingkat keterlibatan mereka dalam penanganan,
persiapan atau pemberian obat. Program pelatihan harus mencakup pengalaman praktis,
pengajaran perorangan, latihan pembelajaran yang dapat diuji dan informasi mengenai kesehatan
dan keselamatan selama penanganan bahan sitotoksik. Program yang lebih maju juga akan
mencakup pelatihan klinis dan teoritis. Checklist adalah titik awal yang baik untuk program
pelatihan formal maupun informal. Tujuan dari checklist adalah untuk memungkinkan staf
memperoleh pengetahuan dan kompetensi dalam prosedur aseptic, rekonstitusi bahan sitotoksik,
informasi aktif, manajemen, serta penelitian dan pengembangan(Allwood, et al., 2003).
Tingkat pelatihan yang dibutuhkan dalam setiap bagian tergantung pada tingkat
keterlibatan berbagai pelatihan yang dibutuhkan dalam setiap bagian tergantung pada tingkat
keterlibatan berbagai kelompok staf dalam penyediaan kemoterapi.
Level 1 : petugas teknik yang bekerja full time dan paruh waktu yang terlibat dalam
persediaan dari rekonstitusi sediaan sitotoksik
Level 2 : apoteker dalam status pre-registrasi, apoteker junior dan apoteker senior dari
berbagai bidang keahlian lain
Level 3 : apoteker senior dan staf teknis yang mengatur preparasi steril atau melakukan
rekonstitusi sediaan sitotoksik