Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-
Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah Disiplin dalam Pelayanan Kebidanan
ini dengan baik. Dalam penulisan makalah ini penulis banyak belajar dan mencari
tahu apa yang ada didalam materi ini. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan
terimakasih pada Allah SWT yang telah memberikan kami kelancaran dalam
penulisan makalah ini. Kami sadar bahwa didalam makalah ini tentu saja masih
jauh dari kata kesempurnaan, Hal itu dikarenakan keterbatasan kemampuan dan
pengetahuan kami.
Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari para pembaca.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.Akhir kata, kami mohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini
terdapat banyak kesalahan.

Serang, April 2017

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang......................................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan..................................................................................... 2
C. Manfaat Penelitian.................................................................................. 2
BAB II TEORI
A. Standar Outcome.................................................................................... 3
1. Kepuasan Pelanggan......................................................................... 3
2. Ketetapan.......................................................................................... 5
3. Efisiensi dan Efektifitas.................................................................... 6
B. Meningkatkan Kinerja Bidan.................................................................. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................. 15
B. Saran....................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Standarisasi merupakan sarana penunjang yang sangat penting artinya
sebagai salah satu alat yang efektif dan efisien guna menggerakkan kegiatan
organisasi, dalam meningkatkan produktifitas dan menjamin mutu produk dan/
atau jasa, sehingga dapat mingkatkan daya saing, melindungi konsumen, tenaga
kerja, dan masyarakat baik keselamatan maupun kesehatannya. (Djoko Wijono,
1999 : 623).
Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah
besar. Angka kematian ibu ( AKI) yang menurut SDKI 2012 adalah 359 per
100.000 kelahiran hidup.
Angka kematian bayi (AKB) di indinesia, menurut hasil Survey Demografi
Kesehatan Indonesia 2012 adalah 32/1000 kelahiran hidup, dengan Angka
Kematian Neonatal 25 per 1000 kelahiran hidup. Dibandingaka Negara ASEAN
lainnya, AKB indonesia2-5 kali lebih tinggi.
Standar pelayanan kebidanan dapat pula digunakan untuk menentukan
kompetensi yang diperlukan bidan dalalm menjalani praktek sehari-hari. Standar
ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai pelayanan, menyusun
rencana pelatihan dan pengembangan kurikulum pendidikan. Selain itu, standar
pelayanan dapat membantu dalam penentuan kebutuhan operasional untuk
penerapannya , misalnya kebutuhan akan pengorganisasian , mekanisme,
peralatan dan obat yang diperlukan. Ketika audit terhadap pelaksana kebidanan
dilakukan, maka berbagai kekurangan yang berkaitan dengan hal-hal tersebut
akan ditemukan sehingga perbaikannya dapat dilakukan secara lebih spesifik.
Salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan perorangan di puskesmas
adalah kepuasan pasien. (Djoko Wijono, 1999 : 623).
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui disiplin dalam Standar Pelayanan kebidanan
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui Standar Standar apa saja yang dapat
meningkatkan pelayanan yang bermutu

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Kelompok
a. Penulis dapat menambah wawasan baru, pengalaman serta
meningkatkan pengetahuan tentang disiplin dalam standar pelayanan
b. Dapat menjadi acuan penulisan selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kedisiplinan

Disiplin merupakan sikap mental yang tecermin dalam perbuatan tingkah


laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan
terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma dan kaidah yang berlaku. Disiplin
kerja adalah sikap kejiwaan seseorang atau kelompok yang senantiasa
berkehendak untuk mengikuti atau mematuhi segala peraturan yang telah
ditentukan. Kedisiplinan dapat dilakukan dengan latihan antara lain dengan
bekerja menghargai waktu dan biaya akan memberikan pengaruh yang positif
terhadap produktivitas kerja pegawai.

B. Definisi

Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) adalah rumusan tentang penampilan


atau nilai diinginkan yang mampu dicapai, berkaitan dengan parameter yang
telah ditetapkan yaitu standar pelayanan kebidanan yang menjadi tanggung
jawab profesi bidan dalam sistem pelayanan yang bertujuan untuk
meningkatan kesehatan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan kesehatan
keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 2001: 53).

C. Manfaat Standar Pelayanan Kebidanan

Standar pelayanan kebidanan mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut:

1. Standar pelayanan berguna dalam penerapan norma tingkat kinerja


yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan
2. Melindungi masyarakat
3. Sebagai pelaksanaan, pemeliharaan, dan penelitian kualitas
pelayanan
4. Untuk menentukan kompetisi yang diperlukan bidan dalam
menjalankan praktek sehari-hari.
5. Sebagai dasar untuk menilai pelayanan, menyusun rencana
pelatihan dan pengembangan pendidikan (Depkes RI, 2001:2)
D. Format Standar Pelayanan Kebidanan
Dalam membahas tiap standar pelayanan kebidanan digunakan format
bahasan sebagai berikut:

1. Tujuan merupakan tujuan standar


2. Pernyataan standar berisi pernyataan tentang pelayanan kebidanan
yang dilakukan, dengan penjelasan tingkat kompetensi yang
diharapkan.
3. Hasil yang akan dicapai oleh pelayanan yang diberikan dan
dinyatakan dalam bentuk yang dapat diatur.
4. Prasyarat yang diperlukan (misalnya, alat, obat, ketrampilan) agar
pelaksana pelayanan dapat menerapkan standar.
5. Proses yang berisi langkah-langkah pokok yang perlu diikuti untuk
penerapan standar (Depkes RI, 2001:2).
E. Dasar hukum penerapan SPK adalah:
1. Undang-undang kesehatan Nomor 36 tahun 2009
Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomer 23 tahum 1992
kewajiban tenaga kesehatan adalah mematuhi standar profesi
tenaga kesehatan, menghormati hak pasien, menjaga kerahasiaan
identitas dan kesehatan pasien, memberikan informasi dan
meminta persetujuan (Informed consent), dan membuat serta
memelihara rekam medik.
Standar profesi tenaga kesehatan adalah pedoman yang harus
dipergunakan oleh tenaga kesehatan sebagai petunjuk dalam
menjalankan profesinya secara baik.

Hak tenaga kesehatan adalah memperoleh perlindungan hukum


melakukan tugasnya sesuai dengan profesi tenaga kesehatan serta
mendapat penghargaan.
2. Kepmenkes 369
3. Permenkes 1464
4. Pertemuan Program Safe Motherhood dari negara-negara di
wilayah SEARO/Asia tenggara tahun 1995 tentang SPK
Pada pertemuan ini disepakati bahwa kualitas pelayanan kebidanan yang
diberikan kepada setiap ibu yang memerlukannya perlu diupayakan agar
memenuhi standar tertentu agar aman dan efektif. Sebagai tindak lanjutnya, WHO
SEARO mengembangkan Standar Pelayanan Kebidanan. Standar ini kemudian
diadaptasikan untuk pemakaian di Indonesia, khususnya untuk tingkat pelayanan
dasar, sebagai acuan pelayanan di tingkat masyarakat. Standar ini diberlakukan
bagi semua pelaksana kebidanan.
3. Pertemuan Program tingkat propinsi DIY tentang penerapan SPK
1999
Bidan sebagai tenaga profesional merupakan ujung tombak dalam pemeriksaan
kehamilan seharusnya sesuai dengan prosedur standar pelayanan kebidanan yang
telah ada yang telah tertulis dan ditetapkan sesuai dengan kondisi di Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY, 1999).
4. Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002
tentang registrasi dan praktek bidan. Pada BAB I yaitu tentang
KETENTUAN UMUM pasal 1 ayat 6 yang berbunyi Standar profesi
adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam
melaksanakan profesi secara baik.
Pelayanan kebidanan yang bermutu adalah pelayanan kebidanan yang dapat
memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kebidanan serta penyelenggaraannya
sesuai kode etik dan standar pelayanan pofesi yang telah ditetapkan. Standar
profesi pada dasarnya merupakan kesepakatan antar anggota profesi sendiri,
sehingga bersifat wajib menjadi pedoman dalam pelaksanaan setiap kegiatan
profesi (Heni dan Asmar, 2005:29)

F. Standar outcome
1. Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional
terhadap klien

2. Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif
maupun negatif.

3. Outcome jangka pendek adalah hasil dari segala suatu tindakan tertentu atau
prosedur tertentu.

4. Outcome jangka panjang adalah status kesehatan dan kemampuan fungsional


klien

G. Kepuasan Pelanggan

Pembelian atau penggunaan jasa memutuskan memberikan suatu penilaian


terhadap produk atau jasa dan bertindak atas dasar itu. Apakah pembeli puas
setelah membelanjakan tergantung kepada penampilan yang ditawarkan dalam
hubungannya dengan harapan pembeli.

Philip Kotler dalam bukunya Marketing Management , memberikan definisi


tentang kepuasan pelanggan (customer satisfaction): Kepuasan adalah
tingkat keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari
membandingkan pemampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam
hubungannya denagn harapan seseorang.

Tingkat kepuasan adalah suatu fungsi dari perbedaan antara penampilan yang
dirasakan dan harapan.

Ada 3 tingkat kepuasan :

a. Bila penampilan kurang dari harapan pelanggan tidak dipuaskan


b. Bila penampilan sebanding dengan harapan, pelanggan puas
c. Apabila penampilan melebihi harapan, pelanggan amat puas atau
senang
H. Faktor kepuasan pelanggan pengguna jasa pelayanan kesehatan
1. pemahaman pengguna jasa tentang jenis pelayanan yang akan
diterimanya, dalam hal ini aspek komunikasi memegang peranan penting
2. Empati (sikap peduli) yang ditunjukan oleh para petugas
kesehatan, kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang
baik, dan memahami kebutuhan para pelanggan. Sikapa ini akan
menyentuh emosi pasien. Faktor inin akan berpengaruh pada tingkat
kepatuhan pasien (compliance)
3. Biaya (cost), tingginya biaya pelayanan dapat dianggap sebagai
sumber moral hazard pasien dan keluarganya, yang penting sembuh
sehingga menyebabkan mereka menerima saja jenis perawatan dan
teknologi yang ditawarkan petugas kesehatan. Akibatnya, biaya perawatan
menjadi mahal. Informasi terbatas yang dimiliki pasien dan keluarganya
tentang perawatan yang diterima dapat menjadi sumber keluhan pasien.
Sistem asuransi kesehatan dapat mengatasi masalah biaya kesehatan.
4. Bukti langsung penampilan fisik (tangibility); meliputi fasilitas
fisik, perlengkapan pegawai dan sarana komunikasi
5. Jaminan keamamnan yang ditunjukkan petugas kesehatan
(assurance); kemampuan kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang
dimiliki para staf; bebas dari bahaya, risiko dan keragu-raguan, ketepatan
jadwal pemeriksaan dan kunjungan dokter dsb
6. Kehandalan (reliability); merupakan kemampuan memberikan
pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan
7. Daya tanggap/ kecepatan petugas dalam memberi tanggapan
terhadap keluhan pasien (responsiveness); keinginan para staf untuk
membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap
I. Efisiensi Pelayanan Kesehatan
1. Efisiensi mutu pelayanan kesehatan merupakan dimensi penting dari mutu
karena efisiensi akan mempengaruhi hasil pelayanan kesehatan, apalagi
sumber daya pelayanan kesehatan pada umumnya terbatas.

2. Pelayanan yang efisien akan memberikan perhatian yang optimal daripada


memaksimalkan pelayanan kepada pasien dan masyarakat
3. Petugas akan memberikan pelayanan yang terbaik dengan sumber daya yang
dimiliki

4. Pelayanan yang kurang baik karena norma yang tidak efektif atau pelayanan
yang salah harus dikurangi atau dihilangkan, dengan cara ini kualitas dapat
ditingkatkan sambil menekan biaya.

5. Pelayanan yang kurang baik, disamping menyebabkan risiko yang tidak perlu
terjadi dan kurang nyamannya pasien, seringkali mahal dan memakan waktu
yang lama untuk memperbaiki

6. Peningkatan kualitas memerlukan tambahan sumber daya, tetapi dengan


menganilis efisiensi, manajer program kesehatan dapat memilih intervensi
yang paling cost effective.

efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian


hasil yang optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar
telah ditentukan dan berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik
untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Efisiensi hanya dapat dievaluasi
dengan penilaian-penilaian relatif, membandingkan antara masukan dan
keluaran yang diterima. Sebagai contoh untuk menyelesaikan sebuah tugas,
cara A membutuhkan waktu 1 jam sedang cara B membutuhkan waktu 2
jam, maka cara A lebih efisien dari cara B. Dengan kata lain tugas tersebut
dapat selesai menggunakan cara dengan benar atau efisiensi.

J. Sistem Untuk peningkatan kineja bidan

Kinerja bidan : proses yang dilakukan dan hasil yang dicapai oleh suatu
organisasi dalam memberikan jasa atau produk kepada pelanggan

Sekumpulan prinsip-prinsip pedoman untuk kegiatan di mana pekerjaan


setiap individu memberikan sumbangan bagi perbaikan pelayanan kesehatan
secara keseluruhan.

Bagaimana saya dapat membantu orang lain untuk memahami arti


pekerjaan bagi keseluruhan
K. Standar Pelayanan Kebidanan
Ruang lingkup standar kebidana meliputi 24 standar yang dikelompokkan sebagai
berikut:
a) Standar Pelayanan Umum (2 standar)
b) Standar Pelayanan Antenatal (6 standar)
c) Standar Pertolongna Persalinan (4 standar)
d) Standar Pelayanan Nifas (3 standar)
e) Standar Penanganan Kegawatdaruratan Obstetri-neonatal (9 standar)

A. STANDAR PELAYANAN UMUM


STANDAR 1 : PERSIAPAN UNTUK KEHIDUPAN KELUARGA SEHAT
Tujuan:
Memberikan penyuluh kesehatan yang tepat untuk mempersiapkan kehamilan
yang sehat dan terencana serta menjadi orang tua yang bertanggung jawab.
Pernyataan standar
Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada perorangan, keluarga dan
masyarakat terhadap segala hal yag berkaitan dengan kehamilan, termasuk
penyuluhan kesehatan umum, gizi, KB dan kesiapan dalam menghadapi
kehamilan dan menjadi calon orang tua, menghindari kebiasaan yang tidak baik
dan mendukung kebiasaan yang baik.
Hasil dari pernyataan standar
Masyarakat dan perorangan ikut serta dalam upaya mencapai kehamilan yang
sehat
Ibu, keluarga dan masyarakat meningkat pengetahuannya tentang fungsi alat-alat
reproduksi dan bahaya kehamilan pada usia muda
Tanda-tanda bahaya pada kehamilan diketahui oleh keluarga dan masyarakat.
Persyaratan
1. Bidan bekerjasama dengan kader kesehatan dan sector terkait sesuai dengan
kebutuhan
2. Bidan didik dan terlatih dalam:
2.1 Penyuluhan kesehatan.
2.2 Komunikasi dan keterampilan konseling dasar.
2.3 Siklus menstruasi, perkembangan kehamilan, metode kontrasepsi,gizi, bahaya
kehamilan pada usia muda, kebersihan dan kesehatan diri, kesehatan/ kematangan
seksual dan tanda bahaya pada kehamilan.
3. tersedianya bahan untuk penyuluhan kesehatan tentang hal-hal tersebut di atas.
Penyuluhan kesehatan ini akan efektif bila pesannya jelas dan tidak
membingungkan.

STANDAR 2 : PENCATATAN DAN PELAPORAN


Tujuannya:
Mengumpulkan, mempelajari dan menggunakan data untuk pelaksanaan
penyuluhan, kesinambungan pelayanan dan penilaian kinerja.
Pernyataan standar:
Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang dilakukannya dengan seksama
seperti yang sesungguhnya yaitu, pencatatan semua ibu hamil di wilayah kerja,
rincian peayanan yang telah diberikan sendiri oleh bidan kepada seluruh ibu
hamil/ bersalin, nifas dan bayi baru lahir semua kunjungan rumah dan penyuluhan
kepada masyarakat. Disamping itu, bidan hendaknya mengikutsertakan kader
untuk mencatat semua ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang berkaitan
dengan ibu hamil, ibu dalam proses melahirkan,ibu dalam masa nifas,dan bayi
baru lahir. Bidan meninjau secara teratur catatan gtersebut untuk menilai kinerja
dan menyusun rencana kegiatan pribadi untuk meningkatkan pelayanan.
Hasil dari pernyataan ini:
Terlaksananya pencatatan dan pelaporan yang baik.
Tersedia data untuk audit dan pengembangan diri.
Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam kehamilan, kelahiran bayi dan
pelsysnsn kebidanan.
Prasyarat :
1. Adanya kebijakan nasional/setempat untuk mencatat semua kelahiran dan
kematian ibu dan bayi
2. Sistem pencatatan dan pelaporan kelahiran dan kematian ibu dan bayi
dilaksanakan sesuai ketentuan nasional atau setempat.
3. Bidan bekerja sama dengan kader/tokoh masyarakat dan memahami masalah
kesehatan setempat.
4. Register Kohort ibu dan Bayi, Kartu Ibu, KMS Ibu Hamil, Buku KIA, dan
PWS KIA, partograf digunakan untuk pencatatan dan pelaporan pelayanan. Bidan
memiliki persediaan yag cukup untuk semua dokumen yang diperlukan.
5. Bidan sudah terlatih dan terampil dalam menggunakan format pencatatan
tersebut diatas.
6. Pemetaan ibu hamil.
7. Bidan memiliki semua dokumen yang diperlukan untuk mencatat jumlah kasus
dan jadwal kerjanya setiap hari.

Hal yang harus diingat pada standar ini:


Pencatatan dan pelaporan merupakan hal yang penting bagi bidan untuk
mempelajari hasil kerjanya.
Pencatatn dan pelaporan harus dilakukan pada saat pelaksanaan pelayanan.
Menunda pencatatan akan meningkatkan resiko tidak tercatatnya informasi pentig
dalam pelaporan. Pencatatn dan pelaporan harus mudah dibaca, cermat dan
memuat tanggal, waktu dan paraf

B. STANDAR PELAYANAN ANTENATAL


STANDAR 3 : IDENTIFIKASI IBU HAMIL
Tujuannya :
Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara
berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami dan anggota
keluarganya agar mendorong ibu untuk memerikasakan kehamilannya sejak dini
dan secara teratur.
Hasil dari identifikasi ini :
Ibu memahami tanda dan gejala kehamilan
Ibu, suami, anggota masyarakat menyadari manfaat pemeriksaan
kehamilan secara dini dan teratur, serta mengetahui tempat pemeriksaan hamil.
Meningkatnya cakupan ibu hamil yang memeriksakan diri sebelum kehamilan 16
minggu.
Persyaratannya antara lain :
Bidan bekerjasama dengan tokoh masyarakat dan kader untuk menemukan ibu
hamil dan memastikan bahwa semua ibu hamil telah memeriksakan kandungan
secara dini dan teratur.
Prosesnya antara lain :
Melakukan kunjungan rumah dan penyuluhan masyarakat secara teratur untuk
menjelaskan tujuan pemeriksaan kehamilan kepada ibu hamil, suami, keluarga
maupun masyarakat.

STANDAR 4 : PEMERIKSAAN DAN PEMANTAUAN ANTENATAL


Tujuaanya :
Memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan deteksi dini komplikasi
kehamilan.
Pernyataan standar :
Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi
anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah
perkembangan berlangsung normal.
Bidan juga harus mengenal kehamilan risti/ kelsinan khususnya anemia, kurang
gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV ; memberikan pelayanan imunisasi,nasehat, dan
penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas.
Hasilnya antara lain :
Ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali selama kehamilan
Meningkatnya pemanfaatan jasa bidan oleh masyarakat. Deteksi dini dan
komplikasi kehamilan.
Ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat mengetahui tanda bahaya kehamilan
dan tahu apa yang harus dilakukan.
Mengurus transportasi rujukan jika sewaktu-waktu terjadi kegawatdaruratan.
Persyaratannya antara lain :
Bidan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas, termasuk penggunaan
KMS ibu hamil dan kartu pencatatanhasil pemeriksaan kehamilan (kartu ibu )
Prosesnya antara lain :
Bidan ramah, sopan dan bersahabat pada setiap kunjungan.
STANDAR PELAYANAN 5 : PALPASI ABDOMINAL
Tujuannya :
Memperkirakan usia kehamilan, pemantauan pertumbuhan janin, penentuan letak,
posisi dan bagian bawah janin.
Pernyataan standar :
Bidan melakukan pemeriksaan abdomen dengan seksama dan melakukan
partisipasi untuk memperkirakan usia kehamilan. Bila umur kehamialn
bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah, masuknya kepala janin ke dalam
rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.
Hasilnya :
Perkiraan usia kehamilan yang lebih baik.
Diagnosis dini kehamilan letak, dan merujuknya sesuai kebutuhan.
Diagnosis dini kehamilan ganda dan kelainan lain serta merujuknya sesuai
dengan kebutuhan
Persyaratannya :
1. Bidan telah di didik tentang prosedur palpasi abdominal yang benar.
2. Alat, misalnya meteran kain, stetoskop janin, tersedia dalam kondisi baik.
3. Tersedia tempat pemeriksaan yang tertutup dan dapat diterima masyarakat.
4. Menggunakan KMS ibu hamil/buku KIA , kartu ibu untuk pencatatan.
5. Adanya sistem rujukan yang berlaku bagi ibu hamil yang memerlukan rujukan.
Bidan harus melaksanakan palpasi abdominal pada setiap kunjungan antenatal.

STANDAR 6 : PENGELOLAAN ANEMIA PADA KEHAMILAN


Tujuan :
Menemukan anemia pada kehamilan secara dini, dan melakukan tindak lanjut
yang memadai untuk mengatasi anemia sebelum persalinan berlangsung.
Pernyataan standar :
Ada pedoman pengolaan anemia pada kehamilan.
Bidan mampu :
Mengenali dan mengelola anemia pada kehamilan
Memberikan penyuluhan gizi untuk mencegah anemia.
Alat untuk mengukur kadar HB yang berfungsi baik.
Tersedia tablet zat besi dan asam folat.
Obat anti malaria (di daerah endemis malaria )
Obat cacing
Menggunakan KMS ibu hamil/ buku KIA , kartu ibu.
Proses yang harus dilakukan bidan :
Memeriksa kadar HB semua ibu hamil pada kunjungan pertama dan pada minggu
ke-28. HB dibawah 11gr%pada kehamilan termasuk anemia , dibawah 8% adalah
anemia berat. Dan jika anemia berat terjadi, misalnya wajah pucat, cepat lelah,
kuku pucat kebiruan, kelopak mata sangat pucat, segera rujuk ibu hamil untuk
pemeriksaan dan perawatan selanjutnya.sarankan ibu hamil dengan anemia untuk
tetap minum tablet zat besi sampai 4-6 bulan setelah persalinan.

STANDAR 7 : PENGELOLAAN DINI HIPERTENSI PADA KEHAMILAN


Tujuan :
Mengenali dan menemukan secara dini hipertensi pada kehamilan dan melakukan
tindakan yang diperlukan.
Pernyataan standar:
Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan
mengenal tanda serta gejala pre-eklampsia lainnya, serta mengambil tindakan
yang tepat dan merujuknya.
Hasilnya:
Ibu hamil dengan tanda preeklamsi mendapat perawatan yang memadai dan tepat
waktu.
Penurunan angka kesakitan dan kematian akibat eklampsi.
Persyaratannya :
1. Bidan melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur, pengukuran tekanan
darah.
2. Bidan mampu :
Mengukur tekanan darah dengan benar
Mengenali tanda-tanda preeklmpsia
Mendeteksi hipertensi pada kehamilan, dan melakukan tindak lanjut sesuai
dengan ketentuan.

STANDAR 8 PERSIAPAN PERSALINAN


Pernyataan standar:
Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta keluarganya
pada trimester ketiga, untuk memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih
dan aman serta suasana yang menyenangkan akan di rencanakan dengan baik.
Prasyarat:
1. Semua ibu harus melakukan 2 kali kunjungan antenatal pada trimester terakhir
kehamilan
2. Adanya kebijaksanaan dan protokol nasional/setempat tentang indikasi
persalinan yang harus dirujuk dan berlangsung di rumah sakit
3. Bidan terlatih dan terampil dalam melakukan pertolongan persalinan yang aman
dan bersih.
4. Peralatan penting untuk mel;akukan pemeriksaan antenatal tersedia
5. Perlengkapan penting yang di poerlukan untuk melakukan pertolongan
poersalinan yang bersih dan aman tersedia dalam keadaan DTT/steril
6. Adanya persiapan transportasi untuk merujuk ibu hamil dengan cepatjika terjadi
kegawat daruratan ibu dan janin
7. Menggunakan KMS ibu hamil/buku KIA kartu ibu dan partograf.
8. Sistem rujukan yang efektif untuk ibu hamil yang mengalami komplikasi
selama kehamilan.

C. STANDAR PERTOLONGAN PERSALINAN


STANDAR 9 : ASUHAN PERSALINAN KALA SATU
Tujuan :
Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung
pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi.
pernyataan standar:
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai,kemudian memberikan
asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan klien,
selama proses persalinan berlangsung.
Hasilnya:
1. Ibu bersalin mendapatkan pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu
bia diperlukan.
2. Meningkatkan cakupan persalinan dan komplikasi lainnya yang ditolong tenaga
kesehatan terlatih
3. Berkurangnya kematian/ kesakitan ibu atau bayi akibat partus lama.

STANDAR 10: PERSALINAN KALA DUA YANG AMAN


Tujuan :
Memastikan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi
Pernyataan standar:
Menggunakmengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan, memperpendekt
dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara
lengkap.
Persyaratan:
1. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mulas/ ketuban pecah
2. Bidan sudah terlatih dan terampil dalam menolong persalinan secara bersih dan
aman.
3. Tersedianya alat untuk pertolongan persalinan termasuk sarung tangan steril
4. Perlengkapan alat yang cukup.

Standar 11: penatalaksanaan aktif persalinan kala III


Tujuan :
Membantu secara aktif pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap
untuk mengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan, memperpendek kala 3,
mencegah atoni uteri dan retensio plasenta
Pernyataan standar:
Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu
pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.

Standar 12: penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomy


Tujuan :
Mempercepat persalinan dengan melakukan episiotomi jika ada tanda-tanda gawat
janin pada saat kepala janin meregangkan perineum.
Pernyataan standar :
Bidan mengenali secara tepat tanda tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan
segera melakukan episiotomy dengan aman untuk memperlancar persalinan,
diikuti dengan penjahitan perineum.

D. STANDAR PELAYANAN MASA NIFAS


Standar 13 : perawatan bayi baru lahir
Tujuan : menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernafasan
serta mencegah hipotermi, hipokglikemia dan in feksi
Pernyataan standar:
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan
spontan mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melakukan
tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah dan
menangani hipotermia.

Standar 14: penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan


Tujuan : mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang bersi dan aman selama
kala 4 untuk memulihkan kesehata bayi, meningkatkan asuhan sayang ibu dan
sayang bayi,memulai pemberian IMD
Pernyataan standar:
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam
dua jam setelah persalinan, serta melakukan tindakan yang di perlukan.

Standar 15: pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas
Tujuan : memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah
persalinan dan penyuluhan ASI ekslusif
Pernyataan standar:
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada
hari ketiga, minggu ke dua dan minggu ke enam setelah persalinan, untuk
membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang
benar, penemuan dini penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi
pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum,
kebersihan perorangan, makanan bergizi, ;erawatan bayi baru lahir, pemberian
ASI, imunisasi dan KB.
E. STANDAR PENANGANAN KEGAWATAN OBSTETRI DAN NEONATAL
Standar 16: penanganan perdarahan dalam kehamilan pada trimester III
Tujuan : mengenali dan melakukan tindakan cepat dan tepat perdarahan dalam
trimester 3 kehamilan
Pernyataan standar:
Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada kehamilan, serta
melakukan pertolongan pertama dan merujuknya.

Standar 17: penanganan kegawatan dan eklampsia


Tujuan : mengenali secara dini tanda-tanda dan gejala preeklamsi berat dan
memberiakn perawatan yang tepat dan segera dalam penanganan
kegawatdaruratan bila ekslampsia terjadi
Pernyataan standar:
Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala eklampsia mengancam, serta
merujuk dan atau memberikan pertolongan pertama.

Standar 18: penanganan kegawatan pada partus lama


Tujuan : mengetahui dengan segera dan penanganan yang tepat keadaan
kegawatdaruratan pada partus lama/macet.
Pernyataan standar:
Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus lama serta melakukan
penanganan yang memadai dan tepat waktu atau merujuknya.

Standar 19: persalinan dengan penggunaan vakum ekstraktor


Tujuan : untuk mempercepat persalinan pada keadaan tertentu dengan
menggunakan vakum ekstraktor.
Pernyataan standar:
Bidan mengenali kapan di perlukan ekstraksi vakum, melakukannya secara benar
dalam memberikan pertolongan persalinan dengan memastikan keamanannya bagi
ibu dan janin / bayinya.

Standar 20: penanganan retensio plasenta


Tujuan : mengenali dan melakukan tindakan yang tepat ketika terjadi retensio
plasenta total / persial.
Pernyataan standar:
Bidan mampu mengenali retensio plasenta, dan memberikan pertolongan pertama
termasuk plasenta manual dan penanganan perdarahan, sesuai dengan kebutuhan.

Standar 21: penanganan perdarahan postpartum primer


Tujuan : mengenali dan mengambil tindakan pertolongan kegawatdaruratan yang
tepat pada ibu yang mengalami perdarahan postpartum primer / atoni uteri.

Pernyataan standar:
Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam pertama
setelah persalinan (perdarahan postpartum primer) dan segera melakukan
pertolongan pertama untuk mengendalikan perdarahan.

Standar 22: penanganan perdarahan post partum sekunder


Tujuan : mengenali gejala dan tanda-tanda perdarahan postpartum sekunder serta
melakukan penanganan yang tepat untuk menyelamatkan jiwa ibu.
Pernyataan standar:
Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala perdarahan post
partum sekunder, dan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan jiwa
ibu, atau merujuknya.

Standar 23: penanganan sepsis puerperalis


Tujuan : mengenali tanda-tanda sepsis puerperalis dan mengambil tindakan yang
tepat.
Pernyataan standar:
Bidan mampu mengamati secara tepat tanda dan gejala sepsis puerperalis, serta
melakukan pertolongan pertama atau merujuknya.

Standar 24: penanganan asfiksia neonaturum


Tujuan : mengenal dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia neonatorum,
mengambil tindakan yang tepat dan melakukan pertolongan kegawatdaruratan
bayi baru lahir yang mengalami asfiksia neonatorum.
Pernyataan standar:
Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia, serta
melakukan resusitasi secepatnya, mengusahakan bantuan medis yang di perlukan
dan memberikan perawatan lanjutan.