Anda di halaman 1dari 37

MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

IL 2203

KURVA TUMBUH DAN PENGUKURAN PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

AKTIVITAS BIOKIMIA MIKROORGANISME

Menghitung Jumlah Sel Ragi dalam Bilik Hitung (Counting Chamber)

Metode Pengenceran dalam Standard Plate Count

Kurva Tumbuh Bakteri

Aktivitas Enzim Ektraseluler Mikroorganisme


Nama/NIM : Abdul Karim (15715002)

Joshua Reynaldi Budi Santoso (15715023)

Radhitiya Al Furqan (15715026)

Kelompok : 02

Tanggal Praktikum : 17 Oktober 2016

PJ Modul : Astiaranti, ST.

Mirra Hasna Nurdini

Asisten : Ratrisa Priska K.

Astiaranti

Hurriyah M.

Roidah Zihni A.

Mirra Hasna Nurdini

Saniar Rabithoh W.

Analis : Didit Trihartomo

PROGRAM STUDI REKAYASA INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2016
PERCOBAAN XV: MENGHITUNG JUMLAH SEL RAGI DALAM BILIK HITUNG
(COUNTING CHAMBER)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan jumlah sel ragi dalam bilik hitung (haemocytometer)

II. PRINSIP DASAR PERCOBAAN


Bilik hitung yang digunakan adalah hemasitometer yang biasa digunakan untuk
menghitung sel darah. Sebuah hemasitometer terdiri dari satu kaca objek tebal, di atasnya
terdapat suatu dataran yang dalamnya 0,1 mm. Hemasitometer terdiri dari beberapa kotak
empat persegi besar dengan luas 1 mm2, sehingga volumenya 0,1 mm3 yang setara
dengan 10-4 ml.Bila sel bakteri dihitung pada kotak besar, maka jumlah sel yang didapat
dikalikan 104 untuk mendapatkan jumlah sel bakteri/ml. Ada 25 kotak berukuran medium
di dalam kotak besar, dimana kotak ini mempunyai panjang 0,2 mm, lebar 0,2 mm dan
kedalaman 0,1 mm sehingga memberikan volume 0,04 mm3 dan luas 0,04 mm2 yang
ekuivalen dengan 1/25 kotak besar. Setiap kotak berukuran medium dibagi menjadi 16
kotak persegi kecil. Jika di bawah kaca tutup tadi dimasukkan setetes suspensi ragi, maka
dapat dihitung jumlahnya dalam tiap persegi. Sehingga dapat dihitung jumlah sel dalam
tiap ml suspensi tersebut.

III. TEORI DASAR PERCOBAAN


Perhitungan bakteri adalah suatu cara yang digunakan untuk menghitung jumlah
koloni bakteri yang tumbuh pada suatu media pembiakan. Secara mendasar ada dua cara
penghitungan bakteri, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Ada beberapa cara
perhitungan secara langsung, antara lain adalah dengan membuat preparat dari suatu
bahan (preparat sedrhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung
(counting chamber). Sedangkan perhitungan secara tidak langsung hanya mengetahui
jumlah mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viable count). Dalam
pelaksanaannya ada beberapa cara yaitu perhitungan pada cawan petri (total plate count /
TPC, perhitungan melalui pegenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat (MPN
methode), calorimeter /cara kekeruhan atau turbidimetri (Anonim, 2013).
Perhitungan jumlah suatu bakteri dapat melalui berbagai macam uji seperti uji
kualitatif koliform yang secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji penduga (uji
kuantitatif, bisa dengan metode MPN), uji penguat dan uji pelengkap. Waktu, mutu
sampel, biaya, tujuan analisis merupakan beberapa faktor penentu dalam uji kualitatif
koliform. Bakteri koliform dapat dihitung dengan menggunakan metode cawan petri
(metode perhitungan secara tidak langsung yang didasarkan pada anggapan bahwa setiap
sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks
bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terdapat pada sampel) seperti yang
dilakukan pada percobaan ini (Dwidjoseputro, 1994).
Pada tiap perhitungan bakteri ketepatan berkurang dengan meningkatnya
konsentrasi sel-sel. Begitu halnya bila jumlah yang dihitung terlalu kecil. Bahan yang
mengandung sejumlah bakteri (kira-kira lebih dari 104/ml) biasanya diencerkan dari
1:105 atau lebih tergantung pada bahan pemeriksaan atau metode hitung, sehingga hasil
hitungan yang diperoleh dapat diandalkan dan memudahkan perhitungan. Perhitungan
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu perhitungan secara langsung dan perhitungan
secara tidak langsung (Rizki, 2013).
Menurut Hadietomo (1990) menyatakan bahwa perhitungan secara tidak langsung
dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
1. Penentuan volume total
Cara ini adalah semacam modifikasi penentuan hematokrit pada pengukuran
volume total butir-butir darah, misalnya 10 ml biakan dimasukkan ke dalam
tabung reaksi khusus (tabung hopklins) yang bagian bawahnya berupa silinder
dan bergaris ukuran.
2. Metode turbidometri
Teknik ini sudah dipakai sebagai cara mengukur keker han suspensi atas dasar
penyerapan dan pemencaran cahaya yang dilintaskan, sehingga yang
mengandung lebih dari 107-108 sel/ml, tampak lebih keruh oleh mata
telanjang. Suatu volume biakan yang telah ditakar ditempatkan dalam tabung
khusus yang jernih dengan diameter tertentu.
Menurut Jimmo (2013), menyatakan bahwa prinsip dari perhitungan metode
hitungan cawan adalah bila sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium,
maka mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat
langsung dan kemudian dapat dihitung tanpa menggunakan mikroskop. Metode hitungan
cawan dibedakan atas dua cara, yaitu metode tuang (pour plate) dan metode permukaan
(surfacelspread plate). Pada metode tuang, sejumlah sampel (1 ml atau 0,1 ml) dari
pengenceran yang dikehendaki dimasukkan ke dalam cawan petri, kemudian ditambhkan
agar-agar cair yang steril yang telah didinginkan (47-50oC) sebanyak 15-20 ml dan
digoyangkan supaya sampelnya menyebar. Metode ini merupakan cara yang paling
sensitif untuk menentukan jumlah jasad renik, dengan alasan :
1. Hanya sel mikroba yang hidup yang dapat dihitung
2. Beberapa jasad renik dapat dihitung sekaligus
3. Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba, karena koloni yang
terbentuk mungkin berasal dari mikroba yang mempunyai penampakan
spesifik.
Selain keuntungan-keuntungan tersebut di atas, metode hitungan cawan juga
memiliki kelemahan sebagai berikut :
1. Hasil perhitungan tidak menunjukkan hasil yang sebenarnya, karena beberapa
sel yang berdekatan mungkin membentuk koloni.
2. Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan jumlah
yang berbeda pula.
3. Mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan
membentuk koloni yang kompak, jelas, dan tidak mnyebar.
4. Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi relatif lama sehingga pertumbuhan
koloni dapat dihitung.
Metode perhitungan cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang
hidup dapat berkembang menjadi koloni. Jadi jumlah koloni yang muncul pada cawan
adalah indeks bagi jumlah mikroorganisme yang terkandung dalam sampel. Teknik yang
harus dikuasai dari metode ini adalah mengencerkan sampel dan mencawankan hasil
pengenceran tersebut. Setelah inkubasi, jumlah semua koloni diamati untuk memenuhi
persyaratan statistik. Cawan yang dipilih untuk menghitung koloni adalah cawan yang
mengandung antara 30 sampai 300 koloni. Organisme yang terdapat dalam sampel asal
ditentukan dengan mengalikan jumlah koloni yang terbentuk dengan faktor pengenceran
pada cawan yang bersangkutan (Lud, 2007).
Salah satu metode cepat yang digunakan untuk menghitung massal sel adalah
melalui perhitungan kekeruhan (turbidity). Kekeruhan dapat diukur dengan
menggunakan fotometer atau spertofotometer. Pengukuran kekeruhan ini didasarkan atas
pertikel-pertikel kecil yang menyebarkan cahaya lengsung secara propisional (sampai
batas-batas tertentu) dengan konsentrtasinya. Zat cahaya melewati tabung yang berisi
suspensi mikroba, maka cahaya akan dihamburkan (Pelczar, 1989).

Ada dua Metode plate count yang sering digunakan, yaitu metode sebaran dan
metode tuang. Asumsi digunakannya metode ini adalah bahwa setiap satu sel mikroba
dapat tumbuh dan akhirnya membentuk satu koloni yang dapat dilihat dengan kasat
mata. Pada metode sebaran, volume yang dibutuhkan adalah 0.1 ml agar sampel tersebut
sapat tersebar, terendam, dan teresap. Karena jika lebih, maka sampel akan mengendap
dan mengumpul sehingga menyulitkan dalam perhitungan (Ali, 2008).
Menurut Yulneriwanti (2013), menyatakan bahwa perhitungan langsung dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Perhitungan sel langsung
Cara ini menggunakan bilik hitung (hemoci tometer) yang menghasilkan
hitungan total, karena semua sel terhitung, baik sel yang hidup maupun sel
yang mati. Karena bakteri itu kecil, maka perhitungan yang dilakukan secara
statistik dapat diterima, namun harus dibuat suspensi sekurang-kurangnya 107
/ ml.
2. Menghitung dengan alat penghitung elektronik
Dengan alat ini dapat dihitung beribu-ribu bakteri dalam beberapa detik.
Penggunaan alat ini banyak didasarkan atas kerja dengan lobang pengintai
elektronik (dapat disamakan dengan mata elektronik) kerjanya tergantung
pada interupsi dari berkas cahaya elektronik yang melintasi suatu ruang antara
dua ruang elektron yang berdekatan letaknya. Tiap partikel yang karena
perbedaan kkonduktivitas sel dan cairan. Interupsi ini dicetak oleh suatu alat
secara elektris.
3. Menghitung dengan filter membrane
Contoh cairan yang disaring dan ditakar dengan filter steril yang terbuat dari
membran berpori. Bakteri yang tertahan oleh filter itu kemudian dihitung
langsung. Dalam hal ini banyak bakteri dalam cairan tersebut tidak boleh
terlalu banyak dan tersebar rata.
Metode hitungan cawan menggunakan anggapan bahwa setiap sel akan hidup
berkembang menjadi satu koloni. Jumlah koloni yang muncul menjadi indeks bagi jumlah
oganisme yang terkandung di dalam sampel. Teknik pengitungan ini membutuhkan
kemampuan melakukan pengenceran dan mencawankan hasil pengenceran. Cawan-cawan
tersebut kemudian diinkubasi dan kemudian dihitung jumlah koloni yang terbentuk.
Cawan yang dipilih untuk penghitungan koloni, sesuai dengan kaidah statistik adalah
cawan yang berisi 30-300 koloni. Jumlah organisme yang terdapat dalam sampel asal
dihitung dengan cara mengalikan jumlah koloni yang terbentuk dengan faktor
pengenceran pada cawan bersangkutan (Filzahazny, 2013).
IV. ALAT DAN BAHAN
Alat :
Counting chamber
Pipet tetes
Mikroskop
Bahan :
Suspensi ragi

V. HASIL PENGAMATAN

No
Hasil Pengamatan Keterangan
.
1

Sumber: Kelompok 10

Jumlah :
Kotak 1 = 30, 18, 36
Kotak 2 = 18, 36, 24
Kotak 3 = 6, 24, 30
Kotak 4 = 24, 24, 30
Kotak 5 = 18, 18, 18
Sumber: Kelompok 2
3

Sumber: Kelompok 6

Sumber: Kelompok 5

VI. ANALISIS
Analisis Langkah Kerja

Sebelum menuangkan ke counting chamber, suspensi ragi dikocok atau


diencerkan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk meratakan sebaran suspense agar
tidak mengendap di satu titik dan mereduksi jumlah suspense dengan pengenceran.

Pada perhitungan dalam pengamatan mikroskop, digunakan 5 kotak medium, atau


80 kotak kecil. Hal ini semata mata untuk mempermudah perhitungan dan dianggap 5
kotak medium dapat mewakili rata rata jumlah total pada chamber. Bisa saja digunakan
6 kotak medium, namun faktor pengali dalam rumus akan menjadi 96, bukan lagi 80
karena terdapat 96 kotak kecil pada 6 kotak medium.
Perhitungan dilakukan secara triplo untuk mengurangi kemungkinan error dalam
pengolahan data dari kondisi sebenarnya. Dengan triplo dapat ditentukan jumlah rata
rata jamur pada 5 kotak yang telah diamati.

Keuntungan penggunaan counting chamber/ haemocytometer adalah tingkat


ketelitiannya tinggi. Kita dapat melakukan pengamatan terhadap kota kotak kecil yang
berjumlah 16 kotak pada tiap kotak medium, dimana beberapa sel bahkan lebih besar
daripada kota kecil tersebut. Bentuk kotak ini juga memudahkan dalam pengamatan
karena ada yang mebatasi suatu area dengan area lain, sehingga memperkecil
kemungkinan terjadinya pengulangan perhitungan atau error lainnya.

Analisis Hasil Pengamatan

Berdasarkan data pada tabel hasil pengamatan, maka dapat dilakukan pengolahan
data data tersebut sebagai berikut

Pengamatan I Pengamatan II Pengamatan III


Kotak 1 30 18 36
Kotak 2 18 36 24
Kotak 3 6 24 30
Kotak 4 24 24 30
Kotak 5 18 18 18
Total 96 120 128
Rata rata 118

Berdasarkan jumlah sel yang diamati, maka dapat ditentukan jumlah sel/ml
suspensi dengan persamaan

c
N= 5 3 3
80 25 10 mm 10

Dimana N adalah jumlah sel/ml, dan C adalah rata rata jumlah sel yang diamati
di counting chamber.

118
N= 5 3 3
=5.900 .000 sel /ml
80 25 10 mm 10

Maka didapat jumlah total sel pada suspensi ragi tersebut adalah 5.900.000 sel/ml.

Analisis kesalahan
Kesalahan kesalahan yang dapat terjadi pada percobaan ini antara lain kesalahan
pada teknis dan pengamatan.

Kesalahan teknis yang dimaksud adalah pada pengadukan agar sebaran ragi dalam
suspensi merata. Apabila pengadukan tidak dilakukan dengan benar, maka sel ragi akan
menumpuk pada satu titik, sehingga ketika dihitung dengan counting chamber teramati
seolah olah sel ragi sangat sedikit jumlahya (setelah dihitung dengan rumus), padahal
sel raginya tidak tersebar merata pada suspensi.

Sementara kesalahan pengamatan rentan rejadi dalam penghitungan sel pada


counting chamber. Hal ini terjadi karena interpretasi masing masing orang pada suatu
pengamatan berbeda- beda. Ada yang menghitung sel sel kecil yang samar samar
terlihat, namun ada juga yang hanya menghitung sel sel yang terlihat secara jelas. Dari
perbedaan interpretasi ini dapat menghasilkan jumlah perhitungan yang berbeda.

VII. KESIMPULAN

Berdasarkan data yang diperoleh dan hasil analisis, maka didapat jumlah sel/ml
suspensi yang diperoleh melalui perhitungan dengan counting chamber/ haemocytometer
adalah 5.900.000 sel/ml.
PERCOBAAN XVI : METODA PENGENCERAN DALAM STANDARD PLATE
COUNT

I. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan jumlah koloni dengan metode standar plate count.

II. PRINSIP DASAR PERCOBAAN

Seperti telah dijelaskan sebelumnya dalam standard plate count (SPC) ini, sampel
melalui satu seri pengenceran sebelum ditanam dalam cawan petri. Pengenceran sampel
dilakukan dengan akuades steril yang telah diketahui volumenya. Begitu diencerkan,
suspensi ditanam pada media yang tepat pada cawan petri dengan menggunakan metode
tuang (pour plate). Agar yang sudah encer didinginkan lalu dituang ke dalam cawan petri
yang terdapat volume tertentu sampel yang diencerkan. Setelah cawan ditutup, kemudian
digoyang ke beberapa arah untuk meratakan campuran medium dan sampel, agar koloni
dapat tumbuh dengan distribusi merata. Semua prosedur ini dilakukan pada setiap
pengenceran. Dimana penanaman pada cawan petri sebaiknya dilakukan duplikat agar
lebih akurat, kemudian sesudah diinkubasi satu malam, lalu dihitung koloninya dengan
colony counter.

III. TEORI DASAR PERCOBAAN

Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur berdasarkan konsentrasi sel (jumlah


sel per satuan isi kultur) ataupun destilasi sel (berat kering dari sel-sel persatuan isi
kultur). Dua parameter ini tidak selalu sama karena berat kering sel rata-rata bervariasi
pada tahap berlainan dalam pertumbuhan kultur, kedua para meter tersebut juga tidak
bermakna sama dalam penelitian mengenai biokimia mikroorganisme atau gizi
mikroorganisme. Densitas sel adalah kuantitas yang lebih bermakna, sedangkan dalam
penelitian mengenai inaktivitas mikroorganisme, kosentrasi sel adalah kuantitas yang
bermakna (Pratiwi, 2008).

Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dengan dua cara, yaitu secara


langsung dan tidak langsung. Pengukuran pertumbuhan mikroorganisme secara langsung
dapat dilakukan dengan beberapa cara,yaitu :

1. Metode Total Count


Pada metode ini sampel ditaruh di suatu ruang hitung (seperti hemasitometer)
dan jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan bantuan mikroskop
(Hadioetomo, 1993).
Jika setetes kultur dimasukkan kedalam wadah (misalnya hemasitometer) yang
diketahui volumenya, maka jumlah sel yang dapat dihitung. Akan tetapi cara
tersebut memiliki keterbatasan, yaitu tidak dapat membedakan sel hidup atau mati
dan tidak dapat digunakan pada jumlah sel yang sangat sedikit (kurang dari 102
sel/ml) (Purwoko, 2007).
2. Metode Turbidimetrik
Bila kita harus memeriksa kosentrasi sel jumlah besar biakan, maka metode
cawan bukanlah pilihan yang baik karena tidak hanya memakan waktu tetapi juga
memerlukan media dan pecah-belah dalam jumlah besar. Untuk kasus demikian
tersedia metode yang lebih cepat dan praktis, yaitu pengukuran kekeruhan biakan
dengan fotokilometer (Hadioetomo, 1993).
Secara rutin jumlah sel bakteri dapat dihitung dengan cara menghitung
kekeruhan (turbiditas) kultur. Semakin keruh suatu kultur, semakin banyak jumlah
sel. Prinsip dasar metode turbidimeter adalah jika cahaya mengenai sel, maka
sebagian cahaya diserap dan sebagian cahaya diteruskan. Jumlah cahaya yang
diserap propisional (sebanding lurus dengan jumlah sel bakteri). Ataupun jumlah
cahaya yang diteruskan berbanding terbalik dengan jumlah sel bakteri. Semakin
banyak jumlah sel, semakin sedikit cahaya yang diteruskan. Metode ini memiliki
kelemahan tidak dapat membedakan antara sel mati dan sel hidup (Purwoko,
2007).
3. Metode Berat Kering
Cara yang paling cepat mengukur jumlah sel adalah metode berat kering.
Metode tersebut relatif mudah dilakukan, yaitu kultur disaringan atau
disentrifugasi, kemudian bagian yang disaring atau yang mengendap hasil
sentrifugasi dikeringkan. Pada metode ini juga tidak dapat membedakan sel yang
hidup dan mati. Akan tetapi keterbatasan itu tidak mengurangi manfaat metode
tersebut dalam hal mengukur efesiensi fermentasi, karena pertumbuhan diukur
dengan satuan berat, sehingga dapat diperhitungkan dengan parameter konsumsi
substrat dan produksi senyawa yang diinginkan (Purwoko, 2007).

4. Metode Elektronic Counter


Pada pengukuran ini, suspensi mikroorganisme dialirkan melalui lubang kecil
(orifice) dengan bantuan aliran listrik. Elektroda yang ditempatkan pada dua sisi
orifice mengukur tekanan listrik (ditandi dengan naiknya tekanan) pada saat
bakteri melalui orifice. Pada saat inilah sel terhitung. Keuntungan metode ini
adalah hasil bisa diperoleh dengan lebih cepat dan lebih akurat, serta dapat
menghitung sel dengan ukuran besar. Kerugiannya metode ini tidak bisa
digunakan untuk menghitung bakteri karena adanya gangguan derbit, filamen, dan
sebagainya, serta tidak dapat membedakan antara sel hidup dan sel mati (Pratiwi,
2008).
5. Metode Plating Techique
Metode ini merupakan metode perhitungan jumlah sel tampak (visible) dan di
dasarkan pada asumsi bahwa bakteri hidup akan tumbuh, membelah dan
memproduksi satu koloni tunggal. Satuan perhitungan yang dipakai adalah CFU
(colony forming unit) dengan cara membuat seri pengenceran sampel dan
menumbuhkan sampel pada media padat. Pengukuran dilakukan pada plat dengan
jumlah koloni berkisar 25-250 atau 30-300. Keuntungan metode ini adalah
sederhana, mudah dan sensitif karena menggunakan colony counter sebagai alat
hitung dapat digunakan untuk menghitung mikroorganisme pada sampel makanan,
air ataupun tanah. Kerugiannya adalah harus digunakan media yang sesuai dan
perhitungannya yang kurang akurat karena satu koloni tidak selalu berasal dari
satu individu sel (Pratiwi, 2008).
6. Metode filtrasi membran
Pada metode ini sampel dialirkan pada suatu sistem filter membran dengan
bantuan vaccum. Bakteri yang terperangkap selanjutnya ditumbuhkan pada media
yang sesuai dan jumlah koloni dihitung. Keuntungan metode ini adalah dapat
menghitung sel hidup dan sistem perhitungannya langsung, sedangkan
kerugiannya adalah tidak ekonomis (Pratiwi, 2008).
Metode pengukuran pertumbuhan mikroorganisme secara tidak langsung
dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut :

1. Metode Viable Count


Kultur diencerkan sampai batas yang di inginkan. Kultur encer ditumbuhkan
kembali pada media, sehingga di harapkan setiap sel tumbuh menjadi 1 koloni
beberapa saat berikutnya, biasanya 4-12 jam. Akan tetapi cara ini memiliki
keterbatasan, yaitu jumlah sel terhitung biasanya lebih dari sebenarnya
(kemungkinan besar 1 koloni dapat berasal dari 2 sel) dan tidak dapat di
aplikasikan pada bakteri yang tumbuh lambat. Pada metode tersebut yang perlu
diperhatikan adalah jumlah sel bakteri harus mendekati kelipatan 10 pada setiap
pengencerannya. Jika tidak pengenceran di anggap gagal. Misalnya cawan yang
dapat dihitung jumlah selnya adalah yang mempunyai jumlah sel sekitar 2-4 untuk
sampel pengenceran (10-x ), 20-40 untuk sampel pengenceran (10(x+1)) dan 200-
400 untuk sampel pengenceran (10-(x+2)) (Purwoko, 2007).
2. Metode Aktivitas Metabolik
Metode ini di dasarkan pada asumsi bahwa produk metabolit tertentu, misalnya
asam atau CO2, menunjukkan jumlah mikroorganisme yang terdapat di dalam
media. Misalnya pengukuran produksi asam untuk menentukan jumlah vitamin
yang di hasilkan mikroorganisme (Pratiwi, 2008).
3. Metode Berat Sel Kering
Metode ini umum digunakan untuk mengukur pertumbuhan fungi berfilamen.
Miselium fungi dipisahkan dari media dan dihitung sebagai berat kotor. Miselium
selanjutnya dicuci dan dikeringkan dengan alat pengering (desikator) dan
ditimbang beberapa kali hingga mencapai berat yang konstan yang dihitung
sebagai berat sel kering (Pratiwi, 2008).

IV. ALAT DAN BAHAN


Alat :
Pembakar Bunsen
Pipa steril
Thermometer
Rak tabung
Cawan petri steril

Bahan :
Kultur cair biakan bakteri yang dalam tabung (umur 24-48 jam) Escherchia coli.
6 tabung yang berisi nutris agar 20 mL
1 tabung berisi aquades steril
V. HASIL PENGAMATAN

No Hasil Pengamatan Keterangan

Capet 1A
1 Sumber: Kelompok 5
Jumlah terhitung : 298

Capet 1B
2 Sumber: Kelompok 9
Jumlah terhitung : 292

Capet 2A
3 Sumber: Kelompok 9
Jumlah terhitung : 181
Capet 2B
4 Sumber: Kelompok 10
Jumlah terhitung : 64

Capet 3A
5 Sumber: Kelompok 2
Jumlah terhitung : 41

Capet 3B
6 Sumber: Kelompok 2
Jumlah terhitung : 30

VI. ANALISIS
Analisis Langkah Kerja
Terdapat 7 tabung berisi 9 ml akuades pelarut, tabung pertama diinokulasikan
dengan kultur bakteri cair sebanyak 1 ml, artinya pada tabung pertama terjadi pelarutan
sebesar 10-1, seterusnya 1 ml tabung satu dipindahkan ke tabung 2, maka pelarutan pada
tabung 2 adalah sebesar 10-2, berlaku seterusnya hingga tabung ketujuh dimana pelarutan
terjadi sebesar 10-7 kali. Metode pemindahan/ inokulasi ini dikenal dengan metode pour
plate.
Keuntungan menggunakan metode pour plate antara lain sel yang terhitung adalah
sel yang hidup karena perhitungan dilakukan setelah inkubasi penumbuhan bakteri, dapat
digunakan untuk identifikasi bakteri dan hasi linkubasinya dapat digunakan sebagai kultur
murni.
Di sisi lain, kekurangan menggunakan metode pour plate antara lain hasil
perhitungan tidak menunjukkan hasil sebenarnya, karena beberapa sel dapat berkumpul
membentuk satu koloni namun dihitung sebagai satu sel, dimungkinkan medium dan
kondisi lingkungan yang berbeda dapat memberikan hasil yang berbeda, butuh waktu
inkubasi terlebih dahulu untuk dilakukan pengamatan.
Metode pengenceran dilakukan dengan tujuan untuk mereduksi jumlah sel
mikroba yang dihitung, namun dengan tetap memperhatikan banyaknya pengenceran agar
jumlah akhir sel/ml dapat dihitung.
Perhitungan dengan metode Standar Plate Count valid apabila sel terhitung
berkisar antara 30 300 sel, untuk memperoleh angka ini, dilakukan reduksi dengan
metode pour plate. Syarat kevalidan ini juga menjadi dasar kenapa hanya tabung dengan
pengenceran >10-4 yang dipindahkan ke agar plate. Diharapkan larutan larutan ini dapat
memberikan angka dengan rentang 30 300, sementara tabung dengan pengenceran 10-2
dan 10-3 diperkirakan jumlah selnya masih banyak sehingga tidak memenuhi syarat
rentang kevalidan.

Analisis Hasil Pengamatan


Bedasarkan tabel hasil pengamatan, didapat data sebagai berikut
Nama Pengencera Volume pada Jumlah Faktor Pengali
Sumber
Plate n cawan petri (ml) Sel Koloni
1A Tabung 5 10-4 0.1 298 105
1B Tabung 6 10-5 1 292 105
2A Tabung 6 10-5 0.1 181 106
2B Tabung 7 10-6 1 64 106
3A Tabung 7 10-6 0.1 41 107
3B Tabung 8 10-7 1 30 107

Dengan mengalikan jumlah sel pada tiap plate dengan faktor pengali koloninya, maka
didapat jumlah koloni per milliliter larutan, seperti pada tabel berikut
Nama Plate Jumlah sel Faktor Pengali Koloni Jumlah sel/ml
1A 298 105 298 x 105
1B 292 105 292 x 105
2A 181 106 181 x 106
2B 64 106 64 x 106
3A 41 107 41 x 107
3B 30 107 30 x 107

Perhatikan kecendrungan reduksi jumlah sel/ ml. Apabila jumlah sel pada faktor
pengali sama dirata- ratakan, kemudian dibandingkan dengan jumlah sel lain, maka
didapatkan kecendrungan reduksinya. Pada faktor pengali 10 5, jumlah sel/ml rata rata
adalah 295, sementara pada faktor pengali 106 adalah 122.5, dan pada faktor pengali 10 7
adalah 35.5.

Bandingkan antara jumlah rata rata pada 10 5 dengan 106, diperoleh angka
perbandingan 2.4, sedangkan perbandingan jumlah rata rata pada 10 6 dengan 107
menghasilkan angka 3.4, artinya didapat kecendrungan reduksi (2.4+n) dimana n menyatakan
kenaikan 10 kali faktor pengali.

Analisis Kesalahan
Kesalahan yang sering terjadi pada metode pour plate adalah jumlah volume
inokulasi yang belum tentu benar, sehingga pengenceran dan faktor pengali berbeda
dengan yang diharapkan, hal ini mengakibatkan pada tidak validnya hasil perhitungan
dengan kenyatannya.
Selain itu karena metode Standar Plate Count melakukan langkah yang berulang
ulang, hal ini dapat membingungkan praktikan seperti tabung mana yang harus
dituangkan ke plate atau tabung mana dengan pengenceran yang mana.

VII. KESIMPULAN
Berdasarkan data dan hasil analisis yang telah dilakukan, maka didapat jumlah
sel/ml pada tiap plate dengan metode perhitungan Standar Plate Count sebagai berikut
1. 1A : 298 x 105 sel/ml
2. 1B : 292 x 105 sel/ml
3. 2A : 181 x 106 sel/ml
4. 2B : 64 x 106 sel/ml
5. 3A : 41 x 106 sel/ml
6. 3B : 30 x 107 sel/ml

PERCOBAAN XVII : KURVA TUMBUH BAKTERI

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan kurva pertumbuhan bakteri yang diamati
2. Menentukan range fase fase pertumbuhan bakteri berdasarkan kurva yang
didapat
3. Menentukan waktu generasi dari bakteri yang diamati

II. PRINSIP DASAR PERCOBAAN


Pertumbuhan populasi bakteri didapatkan dari melakukan inokulasi sel hidup
pada media kaldu steril dimana kemudian kultur diinkubasi pada temperatur, pH
dan kondisi gas yang optimum. Dalam kondisi optimum tersebut, sel akan
melakukan reproduksi dengan sangat cepat dan dinamikapertumbuhan mikroba
dapat digambarkan dalam grafik kurva pertumbuhan populasi, yang dibuat dengan
memplot penambahan jumlah sel versus waktu inkubasi. Kurva yang dibuat dpat
digunakan untuk menggambarkan fase siklus pertumbuhan. Selain itu juga dapat
memfasilitasi penghitungan jumlah sel dan laju pertumbuhan organisme tertentu
di bawah kondisi standar yang dinyatakan sebagai waktu generasi, waktu yang
dibutuhkan populasi mikroba untuk memperbanyak jumlahnya dua kali lipat.
III. TEORI DASAR PERCOBAAN
Fase dalam pertumbuhan bakteri telah dikenal luas oleh ahli mikrobiologi.
Terdapat 4 fase pertumbuhan bakteri ketika ditumbuhkan pada kultur curah (batch
culture), yaitu fase adaptasi (lag phase), fase perbanyakkan (exponential phase),
fase statis (stationer phase), dan fase kematian (death phase) (Purwoko, 2007).
1. Fase Adapatasi (Lag phase)
Pada fase ini tidak ada pertambahan populasi. Sel mengalami perubahan
dalam komposisi kimiawi dan bertambah ukurannya, substansi interaseluler
bertambah (Perlazar, 2005).Ketika sel dalam fase statis dipindahkan ke media
baru, sel akan melakukan proses adaptasi. Proses adaptasi meliputi sintesis
enzim baru yang sesuai dengan medianya dan pemulihan terhadap metabolit
yang bersifat toksik (misalnya asam,alkohol, dan basa) pada waktu media
lama (Purwoko, 2007). Pada fase adaptasi tidak di jumpai pertambahan
jumlah sel. Akan tetapi terjadi pertambahn volume sel karena pada fase statis
biasanya sel melakukan pengecilan ukuran sel. Akan tetapi, fase adaptasi
dapat dihindari (langsung ke fase perbanyakan), jika sel di media lama dalam
kondisi fase perbanyakan dan dipindahkan ke media baru yang sama
komposisinya dengan media lama (Purwoko, 2007).
2. Fase Perbanyakan (Logaritma atau eksponensial)
Pada fase ini pembiakan bakteri berlangsung paling cepat. Jika kita ingin
mengadakan piaraan yang cepat tumbuh, maka bakteri dalam fase ini baik
sekali untuk dijadikan inokolum (Dwidjuseputro, 1998).Sel akan membelah
dengan laju yang konstan massa menjadi dua kali lipat dengan laju yang
sama, aktivitas metabolit konstan dan keadaan pertumbuhan yang seimbang
(Pelczar, 2005). Setelah memperoleh kondisi ideal dalam pertumbuhannya,
sel melakukan pembelahan. Karena pembelahan sel merupakan persamaan
ekponensial, maka fase itu disebut juga fase eksponensial. Pada fase
perbanyakan jumlah sel meningkat pada batas tertentu (tidak terdapat
pertumbuhan bersih jumlah sel), sehingga memasuki fase statis. Pada fase
perbanyakan sel melakukan konsumsi nutrien dan proses fisiologis lainnya.
Pada fase itu produk senyawa yang di inginkan oleh manusia terbentuk,
karena senyawa terbentuk merupakan senyawa yang di inginkan pada fase
perbanyakan adalah etanol, asam laktat dan asam organik lainnya (Purwoko,
2007).
3. Fase Statis/Konstan
Pada fase ini terjadi penumpukan produk beracun dan atau kehabisan nutrien.
Beberapa sel mati sedangkan yang lain tumbuh dan membelah. Jumlah sel
hidup menjadi tetap (Pelczar, 2005).Fase ini menunjukan jumlah bakteri yang
berbiak sama dengan jumlah bakteri yang mati, sehingga kurva menunjukan
garis yang hampir horizontal (Dwidjoseputro, 1998). Alasan bakteri tidak
melakukan pembelahan sel pada fase statis bermacam-macam. Beberapa
alasan yang dapat dikemukan akan adalah :
a. Nutrien habis
b. Akumulasi metabolit toksik (misalnya alkohol,asam, dan basa)
c. Penurunan kadar oksigen
d. Penurunan nilai aw (ketersediaan air)
Bentuk kasus kedua dijumpai pada fase fermentasi alkohol dan asam laktat,
untuk kasus ketiga dijumpai pada bakteri aerob dan untuk kasus keempat
dijumpai pada fungi/jamur (Purwoko, 2007).Pada fase statis biasanya sel
melakukan adaptasi terhadap kondisi yang kurang menguntungkan. Adaptasi
ini dapat menghasilkan senyawa yang di inginkan manusia misalnya
antibiotika dan antioksidan (Purwoko, 2007).
4. Fase Kematian
Pada fase ini sel menjadi mati lebih cepat dari pada terbentuknya sel-sel baru,
laju kematian mengalami percepatan menjadi eksponensial bergantung pada
spesiesnya, semua sel mati dalam waktu beberapa hari atau beberapa bulan
(Pelczar, 2005).Penyebab utama kematian adalah autolisis sel dan penurunan
energi seluler. Beberapa bakteri hanya mampu bertahan beberapa jam selama
fase statis dan akhirnya masuk ke dalam fase kematian, sementara itu
beberapa bakteri hanya mampu bertahan sampai harian dan mingguan pada
fase statis dan akhirnya masuk ke fase kematian. Beberapa bakteri bahkan
mampu bertahan sampai puluhan tahun sebelum mati, yaitu dengan
mengubah sel menjadi spora (Purwoko, 2007).

IV. ALAT DAN BAHAN


Alat :
Inkubator
Colony counter
24 cawan petri steril
Pipet steril 1 mL dan 10 mL
Shaker
Bahan pembakar
Bahan :
Kultur cair biakan bakteri (umur 10-12 jam) Escherchia colipertumbuhan kultur
dapat dihentikan pada pertengahan fase log dengan menaruhnya pada water bath
berisi es.
10 kaldu nutrisi dalam tabung Erlenmeyer 250 mL
18 botol berisi aquades steril 99 ml
4 botol berisi 100 ml medium agar nutrisi

V. HASIL PENGAMATAN
Konsentra Juml
N Wakt si ah Sumb
Foto Pengamatan
o. u Pengencer Kolon er
an i
1 0 Kel.
1&2
Menit

10-2 >300

10-3 >300
10-4 206

10-5 37

2 30 Kel.
3&4
Menit

10-2 >300

10-3 >300
10-4 >300

10-5 77

(TIDAK ADA DOKUMENTASI) 10-2 >300


60 (TIDAK ADA DOKUMENTASI) 10-3 >300 Kel.
3
Menit (TIDAK ADA DOKUMENTASI) 10-4 87 5&6
(TIDAK ADA DOKUMENTASI) 10-5 8
4 90 10-2 273 Kel.
7&8
Menit
10-3 >300

10-4 16

10-5 1

5 120 Kel.
9 & 10
Menit

10-2 >300

10-3 >300
10-4 190

10-5 123

6 150 Kel.
1 & 11
Menit

10-2 >300

10-3 >300

10-4 270
10-5 237

10-6 26

10-7 1

Tabel turbiditas pada pada rentang waktu


Waktu Kejernihan
t0 79.5 %
t30 82.5 %
t60 83.5 %
t90 79.0 %
t120 74.0 %
t150 63 %

VI. ANALISIS
Analisis Langkah Kerja
Semua proses dilakukan secara aseptik. Tabung tabung reaksi berisi 99 ml
akuades dibagi berdasarkan rentang waktu tertentu. Inokulasi pada tiap tiap tabung
dilakukan dengan metode pour plate, tapi karena volume total pengenceran adalah 100
ml, maka pengenceran terjadi sebesar 10-2 dan kelipatannya. Karena tingkat pengenceran
yang besar, maka tiap tabung dituangkan ke plate untuk diinkubasi dan dihitung. Syarat
validitas masih sama, yaitu jumlah bakteri yang tumbuh antara 30 300.
Rentang waktu yang digunakan adalah 0 menit, 30 menit, 60 menit, 90 menit, 120
menit, dan150 menit diaman tiap selesai diinokulasi kaldu diaduk pada shaker sampai
titik kelipatan 30 menit berikutnya. Hal ini dilakukan agar bakteri di dalam kaldu selalu
merata posisinya karena lama kelamaan jumlahnya akan semakin sedikit.Digunakan juga
kuvet dan spektrofotometer untuk mengukur turbiditas kaldu. Dengan banyaknya
keberadaan bakteri dalam larutan, berarti tingkat turbiditas/ kekeruhan juga tinggi,
berlaku sebaliknya. Hal ini dapat dijadikan dasar dalam pembuatan grafik pertumbuhan
bakteri.
Analisis Hasil Pengamatan
Ada tiga hal yang akan dianalisis, yaitu kurva pertumbuhan berdasarkan jumlah
bakteri pada suatu konsentrasi dalam rentang waktu, kurva pertumbuhan berdasarkan
turbiditas, dan waktu generasi.
Untuk membuat kurva pertumbuhan bakteri pada suatu rentang waktu, ambil data
pada konsentrasi pengenceran yang sama, karena faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan bakteri pada kasus ini adalah waktu. Jika diambil jumlah bakteri pada
konsentrasi pengenceran 10-5dan 10-4pada tiap rentang waktu, maka didapat data sebagai
berikut
Tabel pertumbuhan pada konsentrasi Tabel pertumbuhan pada konsentrasi
pengenceran 10-5 pengenceran 10-4
Waktu Jumlah
Jumlah
t0 37
t30 77
t60 8
t90 1
t120 123
t150 237
Waktu
t0 206
t30 >300
t60 87
t90 16
t120 190
t150 270
SDiperoleh grafik pertumbuhan sebagai berikut
350

300

250

200
jumlah sel/ml 150

100

50

0
0 30 60 90 120 150

waktu (menit)

Grafik 1. Pertumbuhan Bakteri pada Konsentrasi Tertentu


Berdasarkan grafik 1 dapat diperkirakan pada t0 sampai t90 merupakan lag phase
yaitu fase adaptasi dari bakteri. Terdapat kenaikan dan penurunan pertumbuhan pada
rentang waktu tersebut. Sementara diperkirakan t90 sampai t150 merupakan log phase yaitu
fase pertumbuhan optimal dari bakteri, terbukti dari terjadi kenaikan jumlah sel pada
kedua konsentrasi. Stationary phase dan death phase tidak bisa ditentukan karena tidak
terlihat fase stagnansi dan fase degradasi pada kurva pertumbuhan tersebut.
Sementara apabila grafik pertumbuhan diplot dari hasil pengukuran dengan
spektrofotometer, maka didapat grafik sebagai berikut
90.00%

85.00% 83.50%
82.50%
79.50% 79.00%
80.00%
74.00%
75.00%
Kejernihan
70.00% Kurva Pertumbuhan

65.00% 63.00%

60.00%
0 30 60 90 120 150

waktu (menit)

Grafik 2. Pertumbuhan Bakteri Berdasarkan Tingkat Kejernihan pada Spektrofotometer


Bacaan pada grafik adalah tingkat kejernihan, sehingga berbanding terbalik
dengan tingkat pertumbuhan bakteri, semakin jernih larutan maka semakin sedikit bakteri
di dalamnya. Berdasarkan fakta tersebut, dapat diperkirakan dari t 0 sampai t60 merupakan
lag phase atau fase adaptasi dari bakteri, ditandai dengan peningkatan kejernihan larutan.
Hal ini menandakan hanya sedikit bakteri yang tumbuh pada rentang waktu tersebut,
diduga karena bakteri masih beradaptasi sehingga sangat sedikit bakteri yang tumbuh.
Pada rentang t60 sampai t150 terjadi penurunan kejernihan secara drastis, artinya
pertumbuhan bakteri meningkat cepat, karena itu diduga rentang waktu ini merupakan log
phase.
Terdapat kontradiksi antara kedua grafik pada t60 sampai t90, dimana pada grafik 1
rentang tersebut termasuk dalam lag phase, sementara pada grafik 2 rentang tersebut
berada pada log phase.
Terakhir, akan dihitung waktu generasi dengan menggunakan persamaan
t log 2
T=
log blog B

T = waktu generasi
t = waktu antara B dengan b
b = jumlah bakteri pada titik kedua fase log
B = jumlah bakteri pada titik pertama fase log
Misalkan digunakan data pertumbuhan bakteri pada konsentrasi pengenceran 10 -4
berdasarkan grafik 1, dimana fase log terjadi dari t 90 sampai t150 dari jumlah awal 16
menjadi 270. Apabila dimasukkan ke persamaan

t log 2 (15090)log2
T= =
log blog B log 270log16

= 14.717 menit

Jadi, waktu generasi dari bakteri uji (E. coli) adalah 14.717 menit, dibulatkan
menjadi 15 menit.
VII. KESIMPULAN
Berdasarkan data dan hasil dari analisis yang telah dilakukan, didapat kurva pertumbuhan dan
fase fasenya sebagai berikut
350
300
250 Log Phase
200
jumlah sel/ml 150
100
50
0
0 30 60 90 120 150
waktu (menit)

Grafik 3. Kurva pertumbuhan disertai fase berdasarkan konsentrasi

90.00%
83.50%
82.50%
85.00%
79.50% 79.00%
80.00%
74.00%
75.00%
Kejernihan
70.00%
63.00% Kurva Pertumbuhan
65.00%
Log Phase
60.00%
0 30 60 90 120 150
waktu (menit)

Grafik 4. Kurva pertumbuhan disertai fase berdasarkan kejernihan larutan

Waktu generasi dari bakteri Eschericia coli adalah 14.717 menit, atau dibulatkan
menjadi 15 menit.
PERCOBAAN XVIII : AKTIVITAS ENZIM EKSTRASELULER
MIKROORGANISME
I. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan kemampuan kerja enzim mikroorganisme untuk menghidrolisis
polisakarida dan kasein pada susu.

II. PRINSIP DASAR PERCOBAAN


Nutrien dengan berat molekul tinggi seperti polisakarida, lipida, dan protein tidak
mampu melewati membran sel. Makromolekul ini harus terlebih dahulu dihidrolisis
dengan enzim ekstraseluler yang spesifik menjadi building block seperti asam amino, dll.
Building block yang berat molekulnya sudah lebih rendah itu dapat dikirimkan ke dalam
sel dan digunakan untuk sintesis keperluan protoplasma dan menghasilkan energi.

III. TEORI DASAR PERCOBAAN


Aktivitas enzim disebut juga sebagai kinetik enzim. Kinetik enzim adalah
kemampuan enzim dalam membantu reaksi kimia. Kemampuan enzim ini dapat dihitung
dengan mengukur jumlah produk yang terbentuk, atau dengan menghitung kurangnya
substrat dalam satuan waktu tertentu. Selain itu, dapat juga dihitung dengan peningkatan
atau penurunan koenzim. Menghitung jumlah substrat, produk, atau koenzim di
laboratorium tidak mudah karena jumlahnya yang sangat sedikit. Oleh karena itu, praktik
menghitung aktivitas enzim adalah dengan mengukur perubahan absorbans dalam satuan
waktu, pH, dan suhu tertentu sewaktu reaksi berjalan. Aktivitas enzim dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu suhu, pH, kadar substrat, kadar enzim, inhibitor, dan toksik enzim
(Pelczar, 1986).
Enzim memiliki aktivitas pengatur dan berperan sebagai pemacu atau pengatur
kecepatan reaksi metabolisme. Beberapa enzim pengatur, yang dinamakan enzim
alosterik, diatur kecepatannya oleh pengikat balik non kovalen molekul modulator atau
pengatur spesifik pada sisi alosterik atau sisi pengaturan. Molekul modulator tersebut
dapat merupakan substrat sendiri atau beberapa senyawa antara metabolik lain. Golongan
enzim pengatur yang lain terdiri dari enzim- enzim yang diatur oleh modifikasi kovalen
beberapa gugus fungsional yang perlu bagi aktivitasnya. Beberapa enzim terdapat dalam
bentuk ganda, yang disebut isozim yang mempunyai sifat kinetika yang berbeda
(Hadioetomo, 1993). Amilolitik merupakan aktivitas bakteri dalam merombak pati
dengan bantuan enzim amilase. Enzim amilase adalah enzim yang mampu menghidrolisis
pati menjadi senyawa lebih sederhana seperti maltosa dan glukosa. Enzim ini banyak
digunakan untuk keperluan industri. Enzim ini dapat memecah atau menghidrolisis pati,
glikogen, dan turunan polisakarida dengan cara memecah ikatan glikosidiknya. Enzim
amilase dibedakan menjadi 3 golongan yaitu :
- , amilase yang disebut juga endoamilase
- , amilase yang di sebut juga eksoamilase
- glukoaminase (Rehm & Reed, 1987).
Aktivitas proteolitik menghasilkan zona jernih. Bakteri proteolitik adalah bakteri
yang memproduksi enzim protease ekstraseluler, yaitu enzim pemecah protein yang
diproduksi di dalam sel kemudian dilepaskan keluar dari sel. Semua bakteri mempunyai
enzim protease di dalam sel, tetapi tidak semua mempunyai enzim protease ekstraseluler.
Dekomposisi protein oleh mikroorganisme lebih kompleks daripada pemecahan
karbohidrat dan produk akhirnya juga lebih bervariasi. Hal ini disebabkan struktur protein
yang lebih kompleks. Mikroorganisme melalui suatu sistem enzim yang kompleks,
memecah protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana (Durham, 1987).

IV. ALAT DAN BAHAN


Alat :
Pembakar Bunsen
Jarum inokulasi
inkubator

Bahan :
Kultur biakan bakteri Escherchia coli, Basillus Subtilis dan dua jenis bakteri yang
tidak diketahui (bakteri A dan B).
Cawan petri steril yang berisi medium agar pati (untuk hidrolisis pati) dan
medium agar susu (untuk menghidrolisis kasein).
10 mL larutan Lugol

V. HASIL PENGAMATAN

No Hasil Pengamatan Keterangan


.

Bakteri A & Bakteri B


Medium agar susu
Sumber:
1 Kelompok 2 & 11

Pengamatan :
Tidak terdapat area bening

Eschericia coli & Bacillus


Subtilis
Medium agar pati
Sumber:
Kelompok 1 & 2

2 Pengamatan :
Diteteska lugol
- warna biru pada area tumbuh
B. subtilis
- tidak terjadi perubahan warna
pada area tumbuh E. coli
Eschericia coli & Bacillus
Subtilis
Medium agar susu VI.
Sumber: VI.
3 Kelompok 1 & 2
VI.
Pengamatan : VI.
area bening hanya pada area
VI.
tumbuhB. Subtilis
VI.
VI.
VI.
Bakteri A & Bakteri B
VI.
Medium agar pati
Sumber: VI.
Kelompok 3 & 4
VI.
4 Pengamatan : VI.
Ditetesi lugol
VI.
Kedua area tumbuh bakteri
VI.
berwarna biru setelah ditetesi
VI.
lugol
VI.
VI.
ANALISIS
Analisis Langkah Kerja
Pengerjaan dilakukan secara aseptik. Pembuatan agar susu dan agar pati sama
dengan pembuatan agar plate, dengan menuangkan media agar cair pada tabung reaksi ke
cawan petri.
Bakteri diinokulasi dengan metode streak plate agar memudahkan ketika
pengujian dengan lugol nantinya. Metode streak plate memungkinkan bakteri tumbuh
terpusat pada suatu area, berbeda dengan spreak dan pour plate yang membuat koloni
bakteri menjadi tersebar sehingga menyulitkan ketika dilakukan pengujian lugol.
Analisis Hasil Pengamatan
Berdasarkan teori dasar yang ada, pada penetesan lugol hasil positif (berwarna
biru) menunjukkan bahwa suatu zat mengandung amilum yang termasuk golongan
karbohidrat polisakarida. Artinya, apabila pada suatu area tumbuh bakteri terjadi reaksi
lugol positif, maka bakteri tersebut tidak dapat menghidrolisis agar pati yang menjadi
media tumbuhnya (pati terbuat dari amilum). Sebaliknya, apabila lugol tidak berubah
warna/ respon negatif, maka bakteri dapat menghidrolisa amilum atau media patinya.
Berdasarkan teori tersebut, maka bakteri A, bakteri B dan Bacillus subtilis tidak dapat
meghidrolisis amilum/ tingkat hidrolisis amilumnya rendah, sementara E. coli dapat
menghidrolisis amilum/ media patinya.
Pada uji hidrolisis kasein, hidrolisis menunjukkan hasil positif apabila terdapat
area bening pada area tumbuh bakteri. Hal ini menandakan bahwa kasein pada susu telah
dihidrolisis oleh bakteri. Hasil negatif diperoleh apabila tidak terdapat area bening pada
area tumbuh bakteri. Berdasarkan teori tersebut, maka bakteri A, bakteri B dan E. coli
tidak dapat/ kemampuan hidrolisis kaseinnya rendah, sementara Bacillus subtilis dapat
menghidrolisis kasein pada medianya.

Analisis Kesalahan
Kesalahan yang dapat terjadi pada percobaan ini adalah pada saat uji lugol. Pada
penetesan lugol, lugol tidak boleh diteteskan terlalu banyak. Apabila lugol diteteskan
terlalu banyak maka hampir dipastikan semua area akan berubah biru walaupun kadar
amilumnya kecil. Selain itu setelah meneteskan lugol pada area tumbuh, harus ditunggu
beberapa saat dulu sebelum diamati perubahan warnanya. Apabila dibiarkan terlalu lama,
warna lugol akan memudar dan menghilang.

VII. KESIMPULAN
1. Bakteri A : tidak dapat menghidrolisis susu dan amilum
2. Bakteri B : tidak dapat menghidrolisis susu dan amilum
3. E. coli : tidak dapat menghidrolisis susu, dapat menghidrolisis amilum
4. B. subtilis : dapat menghidrolisis susu, tidak dapat menghidrolisis amilum
DAFTAR PUSTAKA

Darneti. 2006. Pengantar Mikrobiologi. Andalas University Press : Padang.

Dwidjoseputro.1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Jakarta.

Hadioetomo, Sri Ratna. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT.Gramedia :

Jakarta.

Pelczar, Michael. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI-Press : Jakarta.

Pratiwi, Slyvia T. 2006. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga : Jakarta.

Purwoko,Tjahjadi. 2007. Fisologi Mikroba. Bumi Aksara : Jakarta

Anda mungkin juga menyukai