Anda di halaman 1dari 20

NAMA : FACHRUL RAZI

NIM : 1503101010269

DASAR DASAR HUKUM DAGANG DI


INDONESIA

A. Sejarah Hukum Dagang

Perkembangan hukum dagang sebenarnya telah di mulai sejak abad


pertengahan eropa (1000/1500 SM) yang terjadi di Negara dan kota-kota di
Eropa dan pada zaman itu di Italia dan Perancis selatan telah lahir kota-kota
sebagai pusat perdagangan (Genoa, Florence, vennetia, Marseille, Barcelona
dan Negara-negara lainnya ), tetapi pada saat itu hokum Romawi (corpus lurus
civilis) tidak dapat menyelsaikan perkara-perkara dalam perdagangan, maka
dibuatlah hokum baru di samping hokum Romawi yang berdiri sendiri pada
abad ke-16 & ke-17 yang berlaku bagi golongan yang disebut hukum pedagang
(koopmansrecht) khususnya mengatur perkara di bidang perdagangan
(peradilan perdagangan) dan hukum pedagang ini bersifat unifikasi.
Karena bertambah pesatnya hubungan dagang maka pada abad ke-17
diadakan kodifikasi dalam hukum dagang oleh mentri keuangan dari raja Louis
XIV (1613-1715) yaitu Corbert dengan peraturan (ORDONNANCE DU
COMMERCE) 1673. Dan pada tahun 1681 disusun ORDONNANCE DE LA
MARINE yang mengatur tenteng kedaulatan.
Dan pada tahun 1807 di Perancis di buat hukum dagang tersendiri dari
hukum sipil yang ada yaitu (CODE DE COMMERCE ) yang tersusun dari
ordonnance du commerce (1673) dan ordonnance du la marine(1838). Pada
saat itu Nederlands menginginkan adanya hukum dagang tersendiri yaitu
KUHD belanda , dan pada tahun 1819 drencanakan dalam KUHD ini ada 3
kitab dan tidak mengenal peradilan khusus . lalu pada tahun 1838 akhirnya di
sahkan. KUHD Belanda berdasarkan azas konkordansi KUHD belanda 1838
menjadi contoh bagi pemmbuatan KUHD di Indonesia pada tahun 1848. Dan
pada akhir abad ke-19 Prof. molengraaff merancang UU kepailitan sebagai
buku III di KUHD Nederlands menjadi UU yang berdiri sendiri (1893 berlaku
1896). Dan sampai sekarang KUHD Indonesia memiliki 2 kitab yaitu, tentang
dagang umumnya dan tentang hak-hak dan kewajiban yang tertib dari
pelayaran.

B. Perkembangan Hukum Dagang


KUH Perdata dan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang diberlakukan di
Hindia Belanda (Indonesia) berdasarkan asas konkordansi. Asas Konkordansi
menyatakan bahwa hukum yang berlaku di Belanda, berlaku juga di Hindia
Belanda atas dasar asas unifikasi. Wetbook van Koophandel disahkan oleh
Pemerintah Belanda dan mulai berlaku pada tanggal 1 Oktober 1838.
Berdasarkan asas konkordansi, diberlakukan di Hindia Belanda berdasarkan
Staatblaad 1847 No. 23 yang mulai berlaku pada tanggal 1 mei 1848.
Apabila dirunut kebelakang, Wetbook van Koophandel atau Kitab
Undang-Undang Hukum Dagang (Hindia Belanda) merupakan turunan dari
Code du Commerce, Perancis tahun 1808, namun demikian, tidak semua isi
dari Code du Commerce diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Misalnya
tentang Peradilan khusus yang mengadili perselisihan dalam lapangan
perniagaan, yang dalam code du commerce ditangani oleh lembaga peradilan
khusus (speciale handelrechtbanken), tetapi di Belanda perselisihan ini
ditangani dan menjadi jurisdiksi peradilan biasa.
Sementara itu, di Perancis sendiri Code du Commerce 1908 merupakan
kodifikasi hasil penggabungan dari dua kodifikasi hukum yang pernah ada dan
berlaku sebelumnya, yaitu Ordonance du Commerce 1963 dan Ordonance de la
Marine 1681. Kodifikasi Perancis yang pertama ini terjadi atas perintah ra
Lodewijk.
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang masih berlaku di Indonesia
berdasarkan Pasal 1 aturan peralihan UUD 1945 yang pada pokoknya
mengatur bahwa peraturan yang ada masih tetap berlaku sampai pemerintah
Indonesia memberlakukan aturan penggantinya. Di negeri Belanda sendiri
Wetbook van Koophandel telah mengalami perubahan, namun di Indonesia
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang tidak mengalami perubahan yang
komprehensif sebagai suatu kodifikasi hukum. Namun demikian kondisi ini
tidak berarti bahwa sejak Indonesia merdeka, tidak ada pengembangan
peraturan terhadap permasalahan perniagaan. Perubahan pengaturan terjadi,
namun tidak tersistematisasi dalam kodifikasi Kitab Undang-Undang Hukum
Dagang. Strategi perubahan pengaturan terhadap masalah perniagaan di
Indonesia dilakukan secara parsial (terhadap substansi Kitab Undang-Undang
Hukum Dagang) dan membuat peraturan baru terhadap substansi yang tidak
diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang pada dasarnya memuat dua (2)
substansi besar, yaitu tentang dagang pada umumnya dan tentang hak-hak dan
kewajiban-kewajiban yang terbit dari pelayaran.
Bursa yang diaitur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang telah
mengalami perkembangan yang sangat pesat melalui lembaga pasar modal
sebagaimana diatur dalam UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan
Bursa Komoditi Berjangka yang diatur dalam UU No. 32 Tahun 1997 tentang
Perdagangan Berjangka Komoditi.Terhadap ketentuan wesel, cek, promes,
sekalipun belum diubah tetapi lembaga surat berharga telah dilengkapi dengan
berbagai peraturan yang tingkatnya dibawah UU, khusus untuk Surat Utang
Negara (SUN), yang termasuk dalam kategori surat berharga, diatur dalam UU
No. 24 Tahun 2002. Sementara tentang Pertanggungan (asuransi) telah
berkembang menajdi industri yang sangat besar. Pengaturan terhadap
pertanggungan telah mengalami perkembangan yang cukup mendasar,
khususnya dengan diberlakukannya UU No. 2 Tahun 1992 tentang
Perasuransian.

C. Pengertian Hukum Dagang

Hukum dagang atau perdagangan adalah keseluruhan peraturan atau norma


hukum yang mengatur hubungan hukum antara kepentingan perseorangan dan
atau badan di bidang perdagangan. Hukum dagang juga dapat diartikan sebagai
keseluruhan peraturan atau hukum yang mengatur segala sesuatu yang
dihasilkan dan dapat dipakai atau digunakan, yang berkenaan dengan
peredaran barang-barang atau dengan kata lain semua perbuatan manusia yang
bertujuan untuk mengangkut barang-barang dari produsen ke konsumen.

Pengertian Hukum Dagang menurut para ahli :

Subekti

Hukum Dagang ialah hukum yang mengatur hubungan privat (istimewa) antara
orang-orang sebagai anggota masyarakat dengan suatu badan hukum,
diantaranya pemerintahnya sebagai badan hukum.

Achmad Ichsan

Hukum dagang adalah hukum yang mengatur soal-soal perdagangan, yaitu


soal-soal yang timbul karena tingkah laku manusia dalam perdagangan.
R. Soekardono

Hukum dagang adalah bagian dari hukum perdata pada umumnya, yakni yang
mengatur masalah perjanjian dan perikatan yang diatur dalam buku III
Burgerlijke Wetboek (BW) dengan kata lain, hum dagang adalah himpunan
peraturan peraturan yang mengatur seseorang dengan orang lain dalam
kegiatan perusahaan yang terutama terdapat dalam kodifikasi KUHD dan
KUHPdt. Hukum dagang dapat pula dirumuskan adalah serangkaian kaidah
yang mengatur tentang dunia usaha atau bisnis dan dalam lalu lintas
perdagangan.

Fockema Andreae

Hukum dagang (Handelsrecht) adalah keseluruhan dari atuaran hukum


mengenai perusahaan dalam lalu lintas perdagangan, sejauh mana diatur dalam
KUHD dan beberapa undang-undang tambahan. Di Belanda hukum dagang
dan hukum perdata dijadikan satu buku, yaitu Buku II dalam BW baru
Belanda.

H.M.N. Purwosutjipto

Hukum dagang adalah hukum perikatan yang timbul khusus dari lapangan
perusahaan.

Sri Redjeki Hartono

Hukum dagang dalam pemahaman konvensional merupakan bagian dari


bidang hukum perdata atau dengan perikatan lain selain disebut bahwa hukum
perdata dalam pengertian luas, termaksud hukum dagang merupakan bagian-
bagian asas-asas hukum perdata pada umumnya.
M. N. Tirtaamidjaja

Hukum perniagaan adalah hukum yang mengatur tingkah laku orang-orang


yang turut melkukan perniagaan. Sedangkan perniagaan adalahpemberian
perantaraan antara produsen dan konsumen; membeli dan menjual dan
membuat perjanjian yang memudahkan dan memajukan pembelian dan
penjulan itu. Sekalipun sumber utama hukum perniagaan adalah KUHD akan
tetapi tidak bisa dilepaskan dari KUHPdt

KRMT. Titodiningrat

Hukum dagang merupakan bagian dari hukum perdata yang mempunyai


atuaran-aturan mengenai hubungan berdasarkan ats perusahaan. Peraturan-
peraturan mengenai perusahaan tidak hanya dijumpai dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Dagang (KUHD) melainkan juga berupa Undang-Undang di
luarnya. KUHD dapat disebut sebagai perluasan KUHPdt.

D. Sumber-Sumber Hukum Dagang


Sumber-sumber hukum dagang adalah tempat dimana bisa didapatkan
peraturan-peraturan mengenai Hukum Dagang. Beberapa sumber Hukum
Dagang yaitu ;

1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHD)


KUHD mengatur berbagai perikatan yang berkaitan dengan
perkembangan lapangan hukum perusahaan. Sebagai peraturan yang
telah terkodifikasi, KUHD masih terdapat kekurangan dimana
kekurangan tersebut diatur dengan peraturan perundang-undangan yang
lain.

2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata)


Sesuai pasal 1 KUHD, KUH Perdata menjadi sumber hukum dagang
sepanjang KUHD tidak mengatur hal-hal tertentu dan hal-hal tertentu
tersebut diatur dalam KUH Perdata khususnya buku III. Dapat dikatakan
bahwa KUH Perdata mengatur pemeriksaan secara umum atau untuk
orang-orang pada umumnya. Sedangkan KUHD lebih bersifat khusus
yang ditujukan untuk kepentingan pedagang.
3. Peraturan Perundang-Undangan
Selain KUHD, masih terdapat beberapa peraturan perundang-undangan
lain yang mengatur Hukum Dagang, diantaranya ;

a) UU No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan

b) UU No 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (PT)

c) UU No 7 Tahun 1987 tentang Hak Cipta

d) UU No 5 Tahun 1999 tentang Persaingan Usaha

e) UU No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal


dsb

4. Kebiasaan
Kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus dan tidak terputus dan
sudah diterima oleh masyarakat pada umumnya serta pedagang pada
khususnya, dapat dipakai juga sebagai sumber hukum pada Hukum
Dagang. Hal ini sesuai dengan pasal 1339 KUH Perdata bahwa
perjanjian tidak saja mengikat yang secara tegas diperjanjikan, tetapi
juga terikat pada kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan perjanjian
tersebut. Contohnya tentang pemberian komisi, jual beli dengan
angsuran, dan sebagainya.

5. Perjanjian yang dibuat para pihak


Berdasarkan pasal 1338 KUH Perdata disebutkan perjanjian yang dibuat
secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya. Dalam hal ini, persetujuan, perjanjian ataupun kesepakatan
memegang peranan bagi para pihak. Contohnya dalam pasal 1477 KUH
Perdata yang menentukan bahwa selama tidak diperjanjikan lain, maka
penyerahan terjadi di tempat dimana barang berada pada saat terjadi kata
sepakat. Misalkan penyerahan barang diperjanjikan dengan klausula
FOB (Free On Board) maka penyerahan barang dilaksanakan ketika
barang sudah berada di atas kapal.

6. Perjanjian Internasional
Perjanjian internasional diadakan dengan tujuan agar pengaturan tentang
persoalan Hukum Dagang dapat diatur secara seragam oleh masing-
masing hukum nasional dari negara-negara peserta yang terikat dalam
perjanjian internasional tersebut. Untuk dapat diterima dan mempunyai
kekuatan hukum yang mengikat maka perjanjian internasional tersebut
harus diratifikasi oleh masing-masing negara yang terikat dalam
perjanjian internasional tersebut.

Macam perjanjian internasional :

a) Traktat yaitu perjanjian bilateral yang dilakukan oleh dua negara saja.
Contohnya traktat yang dibuat oleh Indonesia dengan Amerika yang
mengatur tentang pemberian perlindungan hak cipta yang kemudian
disahkan melalui Keppres No.25 Tahun 1989,

b) Konvensi yaitu perjanjian yang dilakukan oleh beberapa negara.


Contohnya Konvensi Paris yang mengatur tentang merek.

C. Sistematika Hukum Dagang

Sistem hukum dagang menurut arti luas dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Hukum dagang tertulis, adalah hukum yang dituliskan atau dicantumkan
dalam perundang-undangan. Contoh: hukum pidana dituliskan pada
KUHPidana, hukum perdata dicantumkan pada KUHPerdata.
2. Hukum dagang tidak tertulis, adalah hukum yang tidak dituliskan atau
tidak dicantumkan dalam perundang-undangan. Contoh: hukum adat
tidak dituliskan atau tidak dicantumkan pada perundang-undangan tetapi
dipatuhi oleh daerah tertentu.
Pada awalnya, KUHD terdiri atas 3 buku, kemudian dipisah dan sekarang
tinggal dua buku. Buku I KUHD mengatur tentang perdagangan pada
umumnya meliputi pembukuan, macam-macam perseroan dan badan usaha,
bursa perniagaan, makelar, dan kasir;komisioner, juru kirim, tukang pedati,
juragan kapal di perairan sungai, surat-surat berharga, cek, promes, dan
kwitansi, reklame atau penungtutan kembali dalam keadan pailit; pertanggung
jawaban pada umumnya, serta macam-macam pertanggungan.

Buku ke II KUHD mengatur hak-hak dan kewajiban akibat pelayaran atan


perkapalan. Yang diatur dalam buku II KUHD antara lain meliputi kapal laut
dan muatannya;pengusaha kapal;kapten kapal laut, anak buah kapal,
penumpang kapal; perjanjian kerja di laut, penyewaan kapal, pengangkutan
barang, pengangkutan orang, dan lain-lain.

E. Hubungan Hukum Perdata dengan KUHD

Prof. Subekti, S. H. berpendapat bahwa terdapatnya KUHD di samping


KUH Perdata sekarang ini dianggap tidak pada tempatnya, oleh karena
sebenarnya Hukum Dagang tidaklah lain daripada Hukum Perdata, dan
perkataan dagang bukanlah suatu pengertian hukum, melainkan suatu
pengertian perekonomian.

Seperti telah kita ketahui, pembagian Hukum Sipil ke dalam KUH Per dan
KUHD hanyalah berdasarkan sejarah saja, yaitu karena dalam Hukum Romawi
(yang menjadi sumber terpenting dari Hukum Perdata Eropa Barat) belum
terkenal peraturan-peraturan sebagai yang sekarang termuat dalam KUHD,
sebab perdagangan antarnegara baru mulai berkembang dalam abad
pertengahan.
Di Netherlands sekarang ini sudah ada aliran yang bertujuan
menghapuskan pemisahan Hukum Perdata dalam dua kitab undang-undang itu
(bertujuan mempersatukan Hukum Perdata dan Hukum Dagang dalam suatu
kitab undang-undang saja).
Pada beberapa negara lainnya, misalnya Amerika Serikat dan Swiss,
tidaklah terdapat suatu Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang terpisah
dari KUH Perd. Dahulu memang peraturan-peraturan yang termuat dalam
KUHD dimaksudkan hanya berlaku bagi orang-orang pedagang saja, misalnya:
1. Hanyalah orang pedagang diperbolehkan membuat surat wesel
2. Hanyalah orang pedagang dapat dinyatakan pailit, akan tetapi sekarang
ini KUHD berlaku bagi setiap orang, juga orang bukan pedagang
sebagaimana juga KUH Per berlaku bagi setiap orang termasuk juga
seorang pedagang. Malahan dapat dikatakan bahwa sumber yang
terpenting dari Hukum Dagang ialah KUH Per. Hal ini memang
dinyatakan dalam Pasal 1 KUHD, yang berbunyi: KUH Per dapat juga
berlaku dalam hal-hal yang diatur dalam KUHD sekadar KUHD itu
tidak khusus menyimpang dari Kuh Per.
Hal ini berarti bahwa untuk hal-hal yang diatur dalam KUHD sepanjang
tidak terdapat peraturan-peraturan khusus yang berlainan, juga berlaku
peraturan-peraturan dalam KUH Per. Menurut Prof. Subekti, dengan demikian
sudahlah diakui bahwa kedudukan KUHD terhadap KUH Per adalah sebagai
hukum khusus terhadap hukum umum. Dengan perkataan lain menurut Prof.
Sudiman Kartohadiprojo, KUHD merupakan suatu lex specialis terhadap KUH
Per sebagai lex generalis, maka sebagai lex specialis kalau andaikata dalam
KUHD terdapat ketentuan mengenai hal yang dapat aturan pula dalam KUH
Per, maka ketentuan dalam KUHD itulah yang berlaku. Adapun pendapat
sarjana hukum lainnya tentang hubungan kedua hukum ini antara lain sebagai
berikut:
1. Van Kan beranggapan, bahwa Hukum Dagang adalah suatu tambahan
Hukum Perdata yaitu suatu tambahan yang mengatur hal-hal yang
khusus. KUH Per memuat Hukum Perdata dalam arti sempit, sedangkan
KUHD memuat penambahan yang mengatur hal-hal khusus hukum
perdata dalam arti sempit itu.
2. Van Apeldoorn menganggap Hukum Dagang suatu bagian istimewa dari
lapangan hukum perikatan yang tidak dapat ditetapkan dalam Kitab III
KUH Perd.
3. Sukrdono menyatakan, bahwa Pasal 1 KUHD memelihara kesatuan
antara Hukum Perdata Umum dengan Hukum Dagang sekedar
KUHD itu tidak khusus menyimpang dari KUH Per.
4. Tirtaamidjaja menyatakan, bahwa Hukum Dagang adalah suatu Hukum
Sipil yang istimewa.
Dalam hubungan Hukum Dagang dan Hukum Perdata ini dapat pula kita
bandingkan dengan sistem hukum yang bersangkutan di negara Swiss. Seperti
juga di tanah air kita, di negara Swiss juga berlaku dua buah kodifikasi, yang
kedua-duanya mengatur bersama hukum perdata. Perantaraan dalam Hukum
Dagang
Seorang pedagang, terutama seorang yang menjalankan perusahaan yang
besar dan berarti, biasanya tidak dapat bekerja seorang diri. Dalam
menjalankan perusahaannya ia memerlukan bantuan orang-orang yang bekerja
padanya sebagai seorang bawahan, ataupun orang yang berdiri sendiri dan
mempunyai perusahaan sendiri dan yang mempunyai perhubungan tetap
ataupun tidak tetap dengan dia.
Sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan yang demikian pesat dewasa
ini, pengusaha-pengusaha kebanyakan tidak lagi berusaha seorang diri,
melainkan bersatu dalam persekutuan-persekutuan atau perseroan-perseroan
yang menempati gedung-gedung untuk kantornya dengan sedikit pegawai.
Orang lalu membedakan antara perusahaan kecil (yang mempunyai 1-5
pekerja), perusahaan sedang (jumlah pekerja 5-50 orang), dan perusahan besar
(jumlah pekerjanya lebih dari 50 orang).
Pada tiap-tiap toko dapat dilihat aneka warna pekerja-pekerja, seperti
penjual, penerima uang, pengepak, dan lain-lain. Kesemuanya itu bekerja
dalam posisi masing-masing dan dapat dianggap sebagai pengganti penguasa
itu sendiri, yang bertindak sebagai wakilnya dalam hubungan dengan dunia
luar atau dengan pihak ketiga. Mereka semua adalah sebagai perantara. Mereka
menurut Prof. Sukardono tergolong dalam golongan-golongan pelayan-pelayan
perniagaan atau pekerja-pekerja perniagan (handelsbedienden). Termasuk juga
dalam golongan pekerja-pekerja perniagaan dalam lingkungan perusahaan
adalah:
1. Pemimpin perusahaaan (manager);
2. Pemegang prokurasi (procurantie houder atau general agent);
3. Pedagang berkeliling (commercial traveller).
Di samping itu terdapat pula golongan perantara yang bekerja di luar
lingkungan perusahaan, seperti:
1. Agen perniagaan (commercial agent);
2. Makelar (broker);
3. Komisioner (factor);
4. Pengusaha bank.

D. Kewajiban Pembukuan

Mengapa Perusahaan diwajibkan melakukan pembukuan/akuntansi? Di


Indonesia kewajiban melakukan pembukuan setiap perusahaan didasarkan
pada Kitab Undang Undang Hukum Dagang (KUHD) pasal 6.
Tujuan yang akan dicapai adalah untuk mendapatkan informasi informasi
tentang transaksi keuangan dan transaksi barang agar dapat ditentukan dengan
tepat kebijaksanaan selanjutnya. Selain KUHD pasal 6, juga UU Pajak tahun
2000 pasal 28 ayat 1 - 12 yang mewajibkan perusahaan menyelenggarakan
pembukuan perusahaan, sehingga diketahui hak dan kewajibannya.
Pembukuan yang baik memudahkan pengusaha menghitung laba rugi dan
menentukan besarnya pajak yang harus dibayar. Begitu pula pembukuan yang
diselenggarakan dengan baik akan memungkinkan investor melakukan
penilaian keadaan perusahaan apakah sehat atau tidak.
Pasal 6
Setiap orang yang menjalankan perusahaan diwajibkan untuk
menyelenggarakan catatan-catatan menurut syarat-syarat perusahaannya
tentang keadaan hartanya dan tentang apa yang berhubungan dengan
perusahaannya, dengan cara yang sedemikian sehingga dari catatan-catatan
yang diselenggarakan itu sewaktu-waktu dapat diketahui semua hak dan
kewajibannya. (KUHD 35, 66, 86, 96, 348; KUHP 396 dst.)
Ia diwajibkan dalam enam bulan pertama dari tiap-tiap tahun untuk
membuat neraca yang diatur menurut syarat-syarat perusahaannya dan
menandatanganinya sendiri. (KUHPerd.1881.)
Ia diwajibkan menyimpan selama tiga puluh tahun, buku-buku dan surat-
surat di mana ia menyelenggarakan catatan-catatan dimaksud dalam alinea
pertama beserta neracanya, dan selama sepuluh tahun, surat-surat dan
telegram-telegram yang diterima dan salinan-salinan surat-surat dan telegram-
telegram yang dikeluarkan. (KUHD 35.)

Pembukuan
1. Pasal 6 ayat (1) KUHD
Pengusaha wajib membuat catatan, sehingga dapat diketahui hak dan
kewajibannya setiap saat.
2. Pasal 6 ayat (2) KUHD
Pengusaha diwajibkan pula untuk membuat dan menandatangani neraca.
Dari neraca ini, dapat diketahui modal yang didapat dari selisih harta dan
modal serta keseimbangan antara debet dan kredit. Pasal ini berkaitan
dengan pasal 1131 dan 1132 BW tentang sita jaminan.

3. Pasal 6 ayat (3) KUHD


Pengusaha diharuskan menyimpan buku-buku, surat-surat, dan neraca
yang dibuatnya selama tiga puluh tahun serta menyimpan selama
sepuluh tahun surat-surat kawat dan tembusannya baik yang telah
dikirim atau diterimanya.

Yang dapat melihat pembukuan berdasarkan pasal 12 KUHD, mereka yang


dapat melihat pembukuan adalah:
1. Orang yang berkepentingan langsung
2. Ahli waris
3. Sekutu
4. Persero atau pemegang saham
5. Kreditur dalam hal kepailitan

UU Dokumen Perusahaan (UU No. 8 tahun 1997)


Berbeda dengan Pasal 6 KHU Dagang yang menggunakan istilah
pembukuan, sementara di Pasal 8 tahun 1997 menggunakan istilah
Dokumen perusahaan.
Berdasarkan Pasal 1 butir 2 Undang-undang Nomor 8 tahun 1997
merupakan data, catatan, dan atau keterangan yang dibuat dan atau
diterima oleh perusahaan dalam rangka pelaksanaan kegiatannya baik
tertulis diatas kertas atau sarana lain, maupun terekam dalam bentuk corak
apapun yang dapat dilihat, dibaca dan didengar.
Dokumen perusahaan terdiri dari dokumen keuangan dan dokumen
lainnya:
1. Dokumen keuangan
Terdiri dari catatan (neraca tahunan, perhitungan laba rugi tahunan,
rekening, jurnal transaksi harian), bukti pembukuan dan data
administrasi keuangan yang merupakan bukti adanya hak dan
kewajiban serta kegiatan usaha suatu perusahaan.
2. Dokumen lainnya
Terdiri dari data atau setiap tulisan yang berisi keterangan yang
mempunyai nilai guna bagi perusahaan, meskipun tidak terkait
langsung dengan dokumen keuangan.
Jangka waktu untuk dokumen keuangan selama 10 tahun terhitung
sejak akhir tahun buku perusahaan yang bersangkutan sedangkan data
pendukung administrasi keuangan disimpan sesuai dengan kebutuhan
perusahaan yang bersangkutan serta nilai guna dokumen tersebut.
Dokumen perusahaan perlu disimpan sekurang-kurang selama 30 tahun.
Setelah lewat masa 30 tahun kepentingan dokumen tidak mempunyai
fungsi sebagai alat bukti. Selain itu sifat pembukuan yang dibuat oleh
seorang pengusaha bersifat rahasia.
Berdasarkan Pasal 12 KUH Dagang, tiada seorang pun dapat dipaksa
akan memperlihatkan buku-bukunya. Akan tetapi kerahasiaan yang
dimaksud tidaklah mutlak, artinya dapat dilakukan terobosan dengan
beberapa cara, misalnyarepresentation dan communication.
1. Representation
Representation artinya melihat pembukuan pengusaha dengan
perantara hakim.
2. Communication
Communication artinya pihak-pihak yang disebutkan dibawah ini
dapat melihat pembukuan pengusaha secara langsung tanpa perantara
hakim, hal ini disebabkan yang bersangkutan mempunyai hubungan
kepentingan langsung perusahaan, yakni:
a. Para ahli waris
b. Para pendiri perseroan/persero
c. Kreditur dalam kepailitan
d. Buruh yang upahnya ditentukan pada maju mundurnya
perusahaan
Sebagaimana telah ditetapkan untuk membuat pembukuan bagi
pengusaha, tentunya baginya pengusaha yang tidak melakukannya akan
dikenakan sanksi sebagaimana yang disebutkan dalam undang-undang
nomor 8 tahun 1997 dan pasal 396, 397, 231 (1) (2) KUH Pidana.
Latar belakang Undang-undang Nomor 8 tahun 1997 tentang Dokumen
Perusahaan, yaitu:
1. Penyelenggaraan perusahaan yang efektif dan efisien.
2. Peraturan lama (KUHD) tidak lagi sesuai dengan perkembangan
dan kebutuhan di bidang ekonomi dan perdagangan.
3. Beban ekonomis dan administrative dalam penyimpanan
dokumen.
4. Meskipun demikian, tetap diperlukan penyimpanan dokumen
untuk menjamin kepastian hukum untuk melindungi para pihak.
5. Kewajiban membuat dan menyimpan dokumen perusahaan harus
tetap dijalankan
6. Perlu pembaharuan mengenai media yang membuat dokumen dan
pengurangan jangka waktu penyimpanannya.
7. Kemajuan teknologi telah memungkinkan catatan dan dokumen di
atas kertas dialihkan dalam media elektronik atau dibuat secara
langsung dalam media elektronik.
Pembukuan bagi pengusaha merupakan suatu yang bersifat rahasia.
Artinya pengusaha mempunyai hak untuk melarang orang lain mengetahui
hal-hal yang berhubungan dengan urusan intern dalam perushaannya.

Meskipun pembukuan bersifat rahasia, tetapi dapat diterobos dengan


pembukaan (openlegging, representation) dan pemberitaan (overlegging,
commication), bila terjadi perselisihan antar pengusaha.Pembukuan yaitu
perintah dari hakim atas permintaan pihak yang berkepentingan kepada
pihak lawannya untuk membuka pembukuan atau neraca perushaannya.
Dalam hal ini pengusaha yang diminta membuka pembukuannya tersebut
dapat menerima atau menolak permintaan hakim.
Bila dia menolak maka hakim bebas untuk menarik kesimpulan atau
keputusan mengenai hal itu. Sedangkan peberitaan yaitu suatu permintaan
dari salah satu pihak yang bersenketa terhadap pihak lawannya untuk
membuka catatan pembukuannya. Pembritaan ini bisa dilakukan oleh :
1. orang yang berwenang mengangkat pengurus, yaitu pengusaha atau
pemilik perushaan
2. sekutu atau persero
3. ahli waris pengusaha, dan lain-lain.
Berbeda dengan pembukuan yang dilakukan oleh hakim, pemberitaan
ini terjadi diluar hakim. Tetapi bila pihak yang diminta untuk membuka
pembukuannya itu (direksi) menolak, maka pemberitaan tersebut dapat
diminta untuk dilakukan di muka hakim

E. Macam-Macam Persekutuan Dagang

Berikut ini adalah beberapa macam persekutuan dagang :


1. Persekutuan (Maatschap)
Suatu bentuk kerjasama dan diatur dalam KUHD tiap anggota
persekutuan hanya dapat mengikatkan dirinya sendiri kepada orang lain.
Dengan lain perkataan ia tidak dapat bertindak dengan mengatas
namakan persekutuan kecuali jika ia diberi kuasa. Karena itu
persekutuan bukan suatu pribadi hokum atau badan hukum.
Kelebihan
a. Modal dan kerugian ditanggung bersama
b. Tercipta spesialisasi
Kekurangan
a. Tanggung jawab terbatas
b. Laba dibagi sesuai dengan jumlah pemilik
c. Pengendalian perusahaan juga terbagi di antara pemilik

2. Firma
Firma adalah bentuk usaha yang didirikan beberapa orang,
menggunakan nama bersama atau satu nama yang digunakan bersama.
Didirikan dengan akta otentik yang dibuat di hadapan Notaris dan
didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri setempat serta
diumumkan dalam Berita Negara.

Firma bukalah badan hukum sehingga akta pendiriannya tidak


memerlukan pengesahan dari Departemen Kehakiman RI. Pendirian,
pengaturan dan pembubaran Firma diatur di dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Dagang (KUHD).

Sebuah firma berakhir sesuai dengan jangak waktu yang ditetapkan


dalam anggaran dasar. Namun firma dapat juga berakhir sebelum
berakhirnya jangka waktu akibat pengunduran diri atau pemberhentian
sekutu (Pasal 26 dan 31 KUHD).

Kelebihan
a. Prosedur pendirian yang mudah
b. Kemampuan keuangan yang besar dengan adanya gabungan modal
beberapa orang
c. Keputusan didasarkan pada pertimbangan seluruh anggota firma
Kelemahan
a. Semua anggota firma bertanggung jawab atas utang-utang
perusahaan kepada pihak lain
b. Kerugian perusahaan ditanggung bersama, termasuk resiko
digunakannya kekayaan pribadi untuk menutupi kerugian firma
c. Tidak ada pemisahan antara kekayaan firma dengan kekayaan
pribadi para anggota
d. Kelangsungan hidup firma tidak terjamin karena sebuah firma akan
berakhir jika salah satu anggotanya keluar atau mengundurkan diri

3. Persekutuan Komanditer / CV
Persekutuan Komanditer / CV / Commanditaire Vennotschaap adalah
suatu bentuk badan usaha yang didirikan dan dimiliki oleh dua orang
atau lebih untuk mencapai tujuan bersama dengan tingkat keterlibatan
yang berbeda-beda di antara anggotanya. Para anggota persekutuan
menyerahkan uangnya sebagai modal perseroan dengan jumlah yang
tidak perlu sama sebagai tanda keikutsertaan.

Jenis Persekutuan

a. Sekutu Komplementer atau sekutu aktif


Orang yang bersedia memimpin pengaturan perusahaan dan
bertanggung jawab penuh dengan kekayaan pribadinya (UU pasal
18 KUHD).
b. Sekutu Komanditer atau sekutu pasif
Orang yang tidak ikut mengurus persekutuan tapi mempercayakan
uangnya dalam persekutuan. Tanggung jawabnya terbatas pada
jumlah kekayaan yang diikutsertakan saja.

Berakhirnya CV (Padal 31 KUHD)


a. Sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Anggaran
Dasar (Akta Pendirian)
b. Sebelum jangka waktu yang ditetapkan akibat pengunduran diri
atau pemberhentian sekutu
c. Akibat perubahan Anggaran Dasar dimana perubahan tersebut
mempengaruhi kepentingan pihak ketiga terhadap CV
Kelebihan
a. Pendirian relatif mudah
b. Dapat mengumpulkan modal lebih banyak
c. Lebih mudah memperoleh kredit pinjaman
d. Memiliki kesempatan untuk berkembang lebih besar
Kekurangan
a. Tanggung jawab yang tidak terbatas
b. Kelangsungan hidup yang tidak terjamin/tidak menentu
c. sulit untuk menarik modal yang telah disetor

4. Perseroan Terbatas / PT
Perseroan Terbatas / PT / Korporasi / Korporat adalah organisasi
usaha yang memiliki badan hukum resmi yang dimiliki oleh minimal
dua orang dengan tanggung jawab yang hanya berlaku pada perusahaan
tanpa melibatkan harta pribadi atau perseorangan yang ada di dalamnya.
Di dalam PT pemilik modal tidak harus memimpin perusahaan, karena
dapat menunjuk orang lain di luar pemilik modal untuk menjadi
pimpinan. Untuk mendirikan PT / persoroan terbatas dibutuhkan
sejumlah modal minimal dalam jumlah tertentu dan berbagai persyaratan
lainnya.
Akta pendirian perusahaan harus disahkan oleh Departemen
Kehakiman. Tanda keikutsertaan seseorang sebagai pemilik adalah
saham yang dimilikinya. Makin besar saham yang dimiliki, makin besar
peran dan kedudukan seseorang sebagai pemilik perusahaan tersebut.

Kelebihan
a. Kelangsungan hidup perusahaan terjamin
b. Tanggung jawab yang terbatas sehingga tidak menimbulkan resiko
bagi kekayaan pribadi atau keluarga pemilik
c. Saham dapat diperjual belikan dengan mudah
d. Kebutuhan modal melalui pinjaman mudah diperoleh sehingga
perluasan usaha lebih mudah dilakukan
e. Pengelolaan perusahaan dapat dilakukan lebih efisien
f. dapat dipimpin oleh orang yang tidak memiliki bagian saham
g. mudah mencari tenaga kerja untuk karyawan / pegawai
Kekurangan
a. Biaya pendirian relatif mahal
b. Rahasia tidak terjamin
c. Hubungan antara pemegang saham cenderung kurang efektif
d. kekuatan dewan direksi lebih besar daripada kekuatan pemegang
saham
e. sulit untuk membubarkan pt
f. keuntungan dibagikan kepada pemilik modal / saham dalam bentuk
dividen
g. pajak berganda pada pajak penghasilan / pph dan pajak deviden
Berakhirnya PT
a. Keputusan RUPS yang sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan UU dan ADRT (Anggaran Dasar Rumah Tangga)
b. Karena jangka waktu berdirinya perseroan sudah berakhir
c. Keputusan Pengadilan Negeri akibat PT melanggar kepentingan
umum, tidak mampu membayar utang setelah dinyatakan pailit,
atau adanya cacat hukum dalam akta pendirian.
Struktur Organisasi
PT memiliki struktur organisasi yang teratur yang terdiri dari:
a. Pemegang saham
Pemegang saham adalah pemegang kekuasaan tertinggi yang
memegang segala kewenangan yang tidak diserahkan kepada
direksi dan komisaris. Setiap tahun atau paling lambat 6 bulan
setelah tahun buku pemegang saham mengadakan Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS). RUPS juga dapat dilakukan sewaktu-
waktu berdasarkan kebutuhan perusahaan

b. Direksi
Direksi bertanggung jawab atas pengurusan atau pengelolaan
perusahaan untuk kepentingan perusahaan.

c. Komisaris
Komisaris bertugas melakukan pengawasan secara umum dan atau
khusus serta memberikan pengarahan kepada direksi dalam
menjalankan perusahaan.

Modal
Kekayaan sendiri perusahaan adalah modal yang disetor para
pemegang sahamnya dan terbagi dalam 3 kelompok:

a. Modal Dasar
Jumlah keseluruhan modal dalam bentk saham. UU No. 1 pasal 26
tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas menetapkan modal dasar
minimal Rp. 25 juta kecuali untuk usaha-usaha tertentu yang
mensyaratkan modal dasar di atas Rp. 25 juta.

b. Modal Ditempatkan
Sejumlah modal yang disanggupi pendiri PT untuk disetorkan ke
dalam PT, minimal 25% dari jumalh modal dasar.

c. Modal Disetor
Modal yang telah disetor oleh para pendiri PT, minimum 50% dari
modal yang ditempatkan atau 12.5% dari modal PT.

5. Koperasi
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau
badan hukum koperasi yang melandaskan kegiatannya pada prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan
atas asas kekeluargaan(UU no. 25 tahun 1992). Status badan hukum
koperasi diperoleh setelah memperoleh pengesahan dari pemerintah
(Menteri Koperasi).
Modal :
a. Modal sendiri(simpanan pokok, simpanan wajib, sumbangan suka
rela, hibah dan dana cadangan Sisa Hasil Usaha).
b. Modal Pinjaman(dari para anggota, koperasi lain, bank, penerbitan
obligasi dan sumber lain yang sah)
Tujuan:
a. Meningkatkan kesejahteraan anggota koperasi dan masyarakat
umum
b. Membangun perekonomian nasional

Prinsip:
a. Keanggotaan bersifat sukarela
b. Pengelolaan dilakukan secara demokratis
c. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil, sebanding dengan
besarnya jasa masing-masing anggota
d. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
e. Kemandirian Keanggotaan koperasi bersifat murni, pribadi dan
tidak dapat dialihkan
Karakteristik
a. Lebih mementingkan keanggotaan dan kebersamaan
b. Tiap anggota bebas keluar masuk
c. Usaha yang dijalankan untuk kepentingan dan kesejahteraan
anggota
d. Akte pendirian dari notaris
e. Tanggung jawab kelancaran usaha di tangan pengurus
f. Para anggota bertanggung jawab atas hutang koperasi kepada pihak
lain
g. Kekuasaan tertinggi di dalam rapat anggota
Jenis
a. Koperasi Produksi
b. Para anggotanya adalah produsen penghasil barang/jasa. Koperasi
ini mengusahakan kemudahan dalam hal penyediaan bahan baku,
perlengkapan produksi dan distribusi hasil produksi ke pasar.

c. Koperasi Konsumsi
d. Koperasi ini bergerak dalam penyediaan kebutuhan pokok bagi
para anggotanya.

e. Koperasi Simpan Pinjam


f. Koperasi ini menghimpun dana dari para anggotanya dan
menyalurkannya kepada anggota yang membutuhkannya.

g. Koperasi Serba Usaha


h. Mempunyai usaha rangkap/beraneka ragam sesuai dengan
kebutuhan anggotanya.
Cara Mendirikan
a. Rapat Pembentukan yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 20
orang pendiri.
b. Mengirimkan Surat Permohonan Pengesahan kepada Departemen
Koperasi.
c. Tanggal pengesahan adalah tanggal resmi berdirinya koperasi
sebagai badan hukum.
d. Pengiriman akta pendirian kepada pendiri dan pengumuman dalam
Berita Negara
Kelompok
a. Primer Koperasi
b. Satuan terkecil dengan wilayah yang kecil dan melibatkan secara
langsung orang-orang sebagai anggotanya.

c. Pusat Koperasi
d. Koperasi yang anggota-anggotanya adalah koperasi-koperasi
primer, sedikitnya 5.

e. Gabungan Koperasi
f. Koperasi yang dibentuk secara bersama-sama oleh pusat koperasi
paling sedikit 30 Pusat Koperasi.

g. Induk Koperasi
h. Koperasi yang dibentuk secara bersama-sama oleh minimal 3
Gabungan Koperasi.
Struktur Organisasi

a. Pengurus
Yaitu orang-orang yang secara aktif bertugas dalam pengelolaan
koperasi. Memiliki jabatan paling lama 5 tahun dan menerima
honorarium.

b. Pengawas/Dewan Komisaris
Yaitu orang-orangyang dipilih dari dan oleh anggota koperasi
dalam RAT. Tugasnya melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan kebijakan dan pengelolaan koperasi serta
melaporkannya secara tertulis dalam RAT.
Rapat Anggota Tahunan (RAT)
RAT merupakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi yang
diselenggarakan minima setahun sekali. RAT menetapkan:
c. Anggaran Dasar
d. Kebijakan Umum organisasi, manajemen dan usaha koperasi.
e. Pemilihan, pengangkatan dan pemberhentian pengurus dan
pengawas.
f. Rencana kerja, Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja
Koperasi (RAPBK) dan pengesahan Laporan Keuangan,
pengesahan pertanggung jawaban pengurus dalam pelaksanaan
tugasnya.
g. Penggabungan, peleburan, pembagian dan pembubaran koperasi.
Pembubaran

Pembubaran koperasi didasarkan pada:

a. Keputusan RAT
b. Keputusan Pemerintah
c. Terdapat bukti bahwa koperasi yang bersangkutan tidak memenuhi
ketentuan UU no.25 tahun 1992
d. Kegiatannya bertentangan dengan ketertiban umum dan atau
kesusilaan
e. Kelangasungan hidupnya tidak dapat diharapkan

F. Pengertian Bursa Dagang, Makelar, Ekspeditur dan


Komisioner

Bursa dagang adalah pertemuan pedagang dari orang-orang yang


berhubungan dengan perdagangan.

Makelar adalah pedagang perantara yag diangkat oleh presiden atau


pejabat negara yang menyelenggarakan perusahaann perantara untuk
melakukan transaksi perdagangan juak beli surat-surat berharga dan
penjaminan serta, perutangan uang, dan lainya atas nama orang lain dengan
menerima upah ( Pasal 62 KUHD jo. Pasal 64 KUHD)

Ekspeditur adalah orang-orang yang menjalankan perusahaan


pengangkutan dengan menyuruh orang lain untuk mengangkut barang-barang
lain, baik melalui daratan, udara, maupun lautan dan perairan.

Komisioner adalah orang yang melakukan perusahaan dengan membuat


perjanjian atas nama sendiri atau atas nama firmanya atas perintah dan
perhitungan orang lain dengan menerima upah.

G.Pengertian dan Macam-Macam Surat Berharga


Surat berharga adalah suatu hak yang melekat pada surat itu. Artinya hak
itu tidak ada kalau tidak diwujudkan dalam bentuk surat. Sedangkan surat yang
mempunyai harga mencakup semua surat surat berharga.

Ada beberapa surat berharga menurut KUHD yakni wesel (Pasal 100
KUHD), cek ( Pasal 178 KUHD), Aksep ( Pasal 174 KUHD ), Promes ( Pasal
229i KUHD ), serta kwitansi ( Pasal 229e KUHD ).