Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami
pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan
menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra.
(Smeltzer dan Bare, 2002)
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau dalam bahasa umumnya
dinyatakan sebagai pembesaran prostat jinak (PPJ), merupakan
suatu penyakit yang biasa terjadi. Ini di lihat dari frekuensi
terjadinya BPH di dunia, di Amerik secara umum dan di Indonesia
secara khususnya. Di dunia, diperkirakan bilangan penderita BPH
adalah seramai 30 juta, bilangan ini hanya pada kaum pria kerana
wanita tidak mempunyai kalenjar prostat, maka oleh sebab itu, BPH
terjadi hanya pada kaum pria (emedicine,2009).
Di indonesia, penyakit pembesaran prostat jinak menjadi urutan
kedua setelah penyakit batu saluran kemih, dan jika dilihat secara
umumnya, diperkirakan hampir 50 persen pria Indonesia yang
berusia di atas 50 tahun, dengan kini usia harapan hidup mencapai
65 tahun ditemukan menderita penyakit PPJ atau BPH ini.
Selanjutnya, 5 persen pria Indonesia sudah masuk ke dalam
lingkungan usia di atas 60 tahun. Oleh itu, jika dilihat, dari 200 juta
lebih bilangan rakyat indonesia, maka dapat diperkirakan 100 juta
adalah pria, dan yang berusia 60 tahun dan ke atas adalah kira-kira
seramai 5 juta, maka dapat secara umumnya dinyatakan bahwa
kira-kira 2.5 juta pria Indonesia menderita penyakit BPH atau PPJ ini.
Indonesia kini semakin hari semakin maju dan dengan
berkembangnya sesebuah negara, maka usia harapan hidup pasti
bertambah dengan sarana yang makin maju dan selesa, maka kadar
penderita BPH secara pastinya turut meningkat. (Furqan, 2003).
Setelah secara umum melihat dan mengetahui akan epidemiologi
dari BPH, penulis tertarik untuk mengetahui dengan lebih dalam lagi
mengenai gambaran penyakit ini.

1
I.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian BPH ?
2. Apa etiologi BPH ?
3. Bagaimana klasifikasi BPH ?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari BPH
5. Bagaimana patofisiologi BPH ?
6. Apa pemeriksaan diagnostik untuk penderita BPH ?
7. Bagaimana penatalaksanaan penderita BPH ?
8. Apa komplikasi dari BPH ?
9. Bagaimana asuhan keperawatan pada BPH ?

I.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian BPH
2. Untuk mengetahui etiologi BPH
3. Untuk mengetahui klasifikasi BPH
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis BPH
5. Untuk mengetahui patofisiologi BPH
6. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik pada penderita BPH
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan penderita BPH
8. Untuk mengetahui komplikasi dari BPH
9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada penderita BPH

2
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Definisi
Hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang jinak
bervariasi berupa hiperplasia kelenjar atau hiperplasia
fibromuskular. Namun orang sering menyebutnya dengan
hipertropi prostat namun secara histologi yang dominan adalah
hyperplasia (Sabiston, David C,1994)
BPH adalah pembesaran adenomatous dari kelenjar prostat,
lebih dari setengahnya dan orang yang usianya diatas 50 tahun
dan 75 % pria yang usianya 70 tahun menderita pembesaran
prostat (C. Long, 1996 :331).
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan
oleh penuaan. Price&Wilson (2005)
Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat ( secara umum pada pria > 50 tahun) yang menyebabkan
berbagai derajat obstruksi uretra dan pembiasan aliran urinarius.
(Doenges, 1999)
BPH adalah suatu keadaan dimana kelenjar prostat mengalami
pembesaran, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan
menyumbat aliran urine dengan menutupi orifisium uretra (Brunner
and Suddart, 2001)
BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami
pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan
menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra.
(Smeltzer dan Bare, 2002)

II.2 Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang
belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat
tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat
kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan.

3
Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan
beberapa hipotesa yang diduga timbulnya hiperplasi prostat
antara lain :
1. Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen
menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat
mengalami hiperplasi.
2. Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron
Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon
estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan
hiperplasi stroma.
3. Interaksi stroma - epitel
Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast
growth factor dan penurunan transforming growth factor
beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel.
4. Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama
hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.
5. Teori sel stem
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel
transit ( Roger Kirby, 1994 : 38 ).

II.3 Klasifikasi
Menurut Rumahorbo (2000:71) terdapat 4 derajat pembesaran
kelenjar prostat yaitu sebagai berikut :
a. Derajat Rektal
Derajat rektal dipergunakan sebagai ukuran dari pembesaran
kelenjar prostat ke arah rektum. Rektal toucher dikatakan normal
jika batas atas teraba konsistensi elastis, dapat di gerakkan, tidak
ada nyeri bila ditekan dan permukaanya rata. Tetapi rektal toucher
pada hipertrofi prostat didapatkan batas atas teraba menonjol lebih
dari 1 cm dan berat prostat di atas 35gram.
Ukuran dari pembesaran prostat dapat menentukan derajat
rektal, yaitu sebagai berikut :
1. Derajat 0 : ukuran pembesaran prostat 0-1 cm

4
2. Derajat 1 : ukuran pembesaran prostat 1-2 cm
3. Derajat 2 : ukuran pembesaran prostat 2-3 cm
4. Derajat 3 : ukuran pembesaran prostat 3-4 cm
5. Derajat 4 : ukuran pembesaran prostat lebih dari 4 cm
Gejala BPH tidak selalu sesuai dengan derajat rektal, kadang-
kadang dengan rektal toucher tidak teraba menonjol tetapi telah
ada gejala, hal ini dapat terjadi bila bagian yang membesar adalah
lobus medialis dan lobus lateralis. Pada derajat ini klien mengeluh
jika BAK tidak sampai tuntas dan puas, pancaran urine lemah,
harus mengedan saat BAK, nokturia tetapi belum ada sisa urine.

b. Derajat Klinik
Derajat klinik berdasarkan pada residual urine yang terjadi. Klien
disuruh BAK sampai selesai dan puas, kemudian dilakukan
kateterisasi. Urine yang keluar dari kateter disebut sisa urine atau
residual urine. Residual urine dibagi beberapa derajat, yaitu
sebagai berikut :
1) Normal sisa urine adalah nol
2) Derajat 1 : sisa urine 0-50 ml
3) Derajat 2 : sisa urine 50-100 ml
4) Derajat 3 : sisa urine 100-150 ml
5) Derajat 4 : telah terjadi retensi total atau klien tidak dapat BAK
sama sekali.
Bila kandung kemih telah penuh dan klien merasa kesakitan
maka urine akan keluar secara menetes dan periodik, hal ini
disebut Over Flow Inkontinensia. Pada derajat ini telah terdapat
sisa urine sehingga dapat terjadi infeksi atau cystitis, nokturia
semakin bertambah dan kadang-kadang terjadi hematuri.

c. Derajat Intravesikal
Derajat ini dapat ditentukan dengan menggunakan foto rontgen
atau cystogram, panendoskopi. Bila lobus medialis melewati muara
uretra, berarti telah sampai stadium 3 derajat intravesikal. Gejala
yang timbul pada stadium ini adalah sisa urine sudah mencapai 50-
150 ml, kemungkinan terjadi infeksi semakin hebat ditandai
dengan peningkatan suhu tubuh, menggigil dan nyeri di daerah

5
pinggang serta kemungkinan telah terjadi pyelitis dan trabekulasi
bertambah.

d. Derajat Intrauretal
Derajat ini dapat ditentukan dengan menggunakan
panendoskopi untuk melihat sampai seberapa jauh lobus lateralis
menonjol keluar lumen uretra. Pada stadium ini telah terjadi
retensio urine total.

II.4 Manifestasi Klinis


Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran
kemih maupun keluhan diluar saluran kemih. Menurut Purnomo
(2011) dan tanda dan gejala dari BPH yaitu : keluhan pada saluran
kemih bagian bawah, gejala pada saluran kemih bagian atas, dan
gejala di luar saluran kemih.
1) Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
a. Gejala obstruksi meliputi : Retensi urin (urin tertahan dikandung
kemih sehingga urin tidak bisa keluar), hesitansi (sulit
memulai miksi), pancaran, miksi lemah. Intermiten (kencing
terputus-putus), dan miksi tidak puas (menetes setelah miksi)
b. Gejala iritasi meliputi : nokturia, urgensi (perasaan ingin miksi
yang sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat miksi).
2) Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat hiperplasia prostat pada saluran kemih bagian
atas berupa adanya gejala obstruksi, seperti nyeri pinggang,
benjolan dipinggang (merupakan tanda dari hidronefrosis), atau
demam yang merupakan tanda infeksi atau urosepsis.
3) Gejala diluar saluran kemih
Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia inguinalis
atau hemoroid. Timbulnya penyakit ini dikarenakan sering
mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan tekanan
intra abdominal. Adapun gejala dan tanda lain yang tampak
pada pasien BPH, pada pemeriksaan prostat didapati membesar,
kemerahan, dan tidak nyeri tekan, keletihan, anoreksia, mual
dan muntah, rasa tidak nyaman pada epigastrik, dan gagal ginjal

6
dapat terjadi dengan retensi kronis dan volume residual yang
besar.
Tahapan Perkembangan Penyakit BPH
Berdasarkan perkembangan penyakitnya menurut Sjamsuhidajat
dan De jong (2005) secara klinis penyakit BPH dibagi menjadi 4
gradiasi :
a. Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada
colok dubur ditemukan penonjolan prostat, batas atas
mudah teraba dan sisa urin kurang dari 50 ml
b. Derajat 2 : Ditemukan penonjolan prostat lebih jelas pada
colok dubur dan batas atas dapat dicapai, sedangkan sisa
volum urin 50-100 ml.
c. Derajat 3 : Pada saat dilakukan pemeriksaan colok dubur
batas atas prostat tidak dapat diraba dan sisa volum urin
lebih dari
100ml.
d. Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi urine total

II.5 Patofisiologi
Menurut syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 adalah
Umumnya gangguan ini terjadi setelah usia pertengahan akibat
perubahan hormonal. Bagian paling dalam prostat membesar
dengan terbentuknya adenoma yang tersebar. Pembesaran
adenoma progresif menekan atau mendesak jaringan prostat yang
normal ke kapsula sejati yang menghasilkan kapsula bedah.
Kapsula bedah ini menahan perluasannya dan adenoma cenderung
tumbuh ke dalam menuju lumennya, yang membatasi pengeluaran
urin. Akhirnya diperlukan peningkatan penekanan untuk
mengosongkan kandung kemih. Serat-serat muskulus destrusor
berespon hipertropi, yang menghasilkan trabekulasi di dalam
kandung kemih.Pada beberapa kasus jika obsruksi keluar terlalu
hebat, terjadi dekompensasi kandung kemih menjadi struktur yang
flasid, berdilatasi dan sanggup berkontraksi secara efektif. Karena
terdapat sisi urin, maka terdapat peningkatan infeksi dan batu
kandung kemih. Peningkatan tekanan balik dapat menyebabkan

7
hidronefrosis.Retensi progresif bagi air, natrium, dan urea dapat
menimbulkan edema hebat. Edema ini berespon cepat dengan
drainage kateter. Diuresis paska operasi dapat terjadi pada pasien
dengan edema hebat dan hidronefrosis setelah dihilangkan
obstruksinya. Pada awalnya air, elekrolit, urin dan beban
solutlainya meningkatkan diuresis ini, akhirnya kehilangan cairan
yang progresif bisa merusakkan kemampuan ginjal untuk
mengkonsentrasikan serta menahan air dan natrium akibat
kehilangan cairan dan elekrolit yang berlebihan bisa menyebabkan
hipovelemia.
Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi
secara perlahan-lahan pada traktus urinarius, terjadi perlahan-
lahan. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi
perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah
prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan
kontraksi lebih kuat. Sebagai akibatnya serat detrusor akan
menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam
mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai
(trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi,
mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor
sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan
sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor
adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan
menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan
tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin
total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih
atas.

8
9
II.6 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Penunjang Menurut Purnomo (2011) dan Baradero
dkk (2007) pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
penderita BPH meliputi :
1) Laboratorium
a. Analisi urin dan pemeriksaan mikroskopik urin penting
dilakukan untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri dan
infeksi. Pemeriksaan kultur urin berguna untuk menegtahui
kuman penyebab infeksi dan sensitivitas kuman terhadap
beberapa antimikroba.
b. Pemeriksaan faal ginjal, untuk mengetahui kemungkinan
adanya penyulit yang menegenai saluran kemih bagian atas.
Elektrolit kadar ureum dan kreatinin darah merupakan
informasi dasar dari fungsin ginjal dan status metabolic.
c. Pemeriksaan prostate specific antigen (PSA) dilakukan
sebagai dasar penentuan perlunya biopsy atau sebagai
deteksi dini keganasan. Bila nilai PSA <4ng/ml tidak perlu
dilakukan biopsy. Sedangkan bila nilai PSA 4-10 ng/ml,
hitunglah prostate specific antigen density (PSAD) lebih
besar sama dengan 0,15 maka sebaiknya dilakukan biopsy
prostat, demikian pula bila nila PSA > 10 ng/ml.
2) Radiologis/pencitraan
a. Foto polos abdomen, untuk mengetahui kemungkinan
adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa
prostat, dan adanya bayangan buli-buli yang penuh dengan
urin sebagai tanda adanya retensi urin. Dapat juga dilihat
lesi osteoblastik sebagai tanda metastasis dari keganasan
prostat, serta osteoporosis akbibat kegagalan ginjal.
b. Pemeriksaan Pielografi intravena ( IVP ), untuk mengetahui
kemungkinan adanya kelainan pada ginjal maupun ureter
yang berupa hidroureter atau hidronefrosis. Dan
memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan
dengan adanya indentasi prostat (pendesakan buli-buli oleh
kelenjar prostat) atau ureter dibagian distal yang berbentuk
seperti mata kail (hooked fish)/gambaran ureter berbelok-
belok di vesika, penyulit yang terjadi pada buli-buli yaitu
adanya trabekulasi, divertikel atau sakulasi buli-buli.

10
c. Pemeriksaan USG transektal, untuk mengetahui besar
kelenjar prostat, memeriksa masa ginjal, menentukan jumlah
residual urine, menentukan volum buli-buli, mengukur sisa
urin dan batu ginjal, divertikulum atau tumor buli-buli, dan
mencari kelainan yang mungkin ada dalam buli-buli.

II.7 Penatalaksanaan
Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien
dengan BPH tergantung pada stadium-stadium dari gambaran
klinis :
a. Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah,
diberikan pengobatan konservatif, misalnya menghambat
adrenoresptor alfa seperti alfazosin dan terazosin. Keuntungan
obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak
mempengaruhi proses hiperplasia prostat. Sedikitpun
kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk
pemakaian lama.
b. Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan
pembedahan biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui
uretra (trans uretra).
c. Stadium III
Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila
diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak
akan selesai dalam 1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan
terbuka. Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui trans
vesika, retropubik dan perineal.
d. Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan
penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau
sistotomi. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk
melengkapi diagnosis, kemudian terapi definitive dengan TUR
atau pembedahan terbuka.

11
Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan
dilakukan pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif
dengan memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa.
Pengobatan konservatif adalah dengan memberikan obat anti
androgen yang menekan produksi LH.
1. Terapi medikamentosa
Menurut Baradero dkk (2007) tujuan dari obat-obat yang
diberikan pada penderita BPH adalah :
a. Mengurangi pembesaran prostat dan membuat otot-otot
berelaksasi untuk mengurangi tekanan pada uretra
b. Mengurangi resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan
golongan alfa blocker (penghambat alfa adrenergenik)
c. Mengurangi volum prostat dengan menentuan kadar hormone
testosterone/ dehidrotestosteron (DHT).
Adapun obat-obatan yang sering digunakan pada pasien BPH,
menurut Purnomo (2011) diantaranya : penghambat
adrenergenik alfa, penghambat enzin 5 alfa reduktase,
fitofarmaka
a. Penghambat adrenergenik alfa
Obat-obat yang sering dipakai adalah prazosin,
doxazosin,terazosin,afluzosin atau yang lebih selektif alfa
(Tamsulosin). Dosis dimulai 1mg/hari sedangkan dosis
tamsulosin adalah 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaaan antagonis
alfa 1 adrenergenik karena secara selektif dapat mengurangi
obstruksi pada buli-buli tanpa merusak kontraktilitas detrusor.
Obat ini menghambat reseptor-reseptor yang banyak
ditemukan pada otot polos di trigonum, leher vesika, prostat,
dan kapsul prostat sehingga terjadi relakasi didaerah prostat.
Obat-obat golongan ini dapat memperbaiki keluhan miksi dan
laju pancaran urin. Hal ini akan menurunkan tekanan pada
uretra pars prostatika sehingga gangguan aliran air seni dan
gejala-gejala berkurang. Biasanya pasien mulai merasakan
berkurangnya keluhan dalam 1-2 minggu setelah ia mulai
memakai obat. Efek samping yang mungkin timbul adalah
pusing, sumbatan di hidung dan lemah. Ada obat-obat yang

12
menyebabkan ekasaserbasi retensi urin maka perlu dihindari
seperti antikolinergenik, antidepresan, transquilizer,
dekongestan, obatobat ini mempunyai efek pada otot
kandung kemih dan sfingter uretra.
b. Pengahambat enzim 5 alfa reduktase
Obat yang dipakai adalah finasteride (proscar) dengan dosis
1X5 mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat
pembentukan DHT sehingga prostat yang membesar akan
mengecil. Namun obat ini bekerja lebih lambat dari golongan
alfa bloker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang
besar. Efektifitasnya masih diperdebatkan karena obat ini baru
menunjukkan perbaikan sedikit 28 % dari keluhan pasien
setelah 6-12 bulan pengobatan bila dilakukan terus menerus,
hal ini dapat memperbaiki keluhan miksi dan pancaran miksi.
Efek samping dari obat ini diantaranya adalah libido, impoten
dan gangguan ejakulasi.
c. Fitofarmaka/fitoterapi
Penggunaan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain
eviprostat. Substansinya misalnya pygeum africanum, saw
palmetto, serenoa repeus. Efeknya diharapkan terjadi setelah
pemberian selama 1- 2 bulan dapat memperkecil volum
prostat.

II.8 Komplikasi
Menurut Sjamsuhidajat dan De Jong (2005) komplikasi BPH adalah :
1. Retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi
2. Infeksi saluran kemih
3. Involusi kontraksi kandung kemih
4. Refluk kandung kemih.
5. Hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi karena produksi urin
terus berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi
menampung urin yang akan mengakibatkan tekanan intravesika
meningkat.
6. Gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi
7. Hematuri, terjadi karena selalu terdapat sisa urin, sehingga
dapat terbentuk batu endapan dalam buli-buli, batu ini akan
menambah keluhan iritasi. Batu tersebut dapat pula menibulkan

13
sistitis, dan bila terjadi refluks dapat mengakibatkan
pielonefritis.
8. Hernia atau hemoroid lama-kelamaan dapat terjadi dikarenakan
pada waktu miksi pasien harus mengedan.

14
Konsep Asuhan Keperawatan
BPH (Benign Prostatic Hyperplasia)

A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama / kepercayaan, status
perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku/ Bangsa, alamat, no.
rigester dan diagnosa medis.
2. Riwayat penyakit sekarang
Pada klien BPH keluhan yang ada adalah frekuensi , nokturia,
urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak lampias/ puas
sehabis miksi, hesistensi, intermitency, dan waktu miksi
memenjang dan akirnya menjadi retensio urine.
3. Riwayat penyakit dahulu .
Adanya penyakit yang berhubungan dengan saluran perkemihan,
misalnya ISK (Infeksi Saluran Kencing ) yang berulang. Penyakit
kronis yang pernah di derita. Operasi yang pernah di jalani
kecelakaan yang pernah dialami adanya riwayat penyakit DM
dan hipertensi .
4. Riwayat penyakit keluarga .
Adanya riwayat keturunan dari salah satu anggota keluarga yang
menderita penyakit BPH Anggota keluargayang menderita DM,
asma, atau hipertensi.
5. Pola Fungsi Kesehatan
Menurut Maryllin Doengoes (1999: 671), pengkajian yang perlu
dilakukan pada penderita Benigna Prostat Hipertrofi, yaitu:
a. Sirkulasi
Tanda : Peninggian TD (efek pembesaran ginjal).
b. Eliminasi
Gejala : Penurunan kekuatan/dorongan aliran urine, tetesan,
keragu-raguan pada berkemih awal, ketidakrnampuan untuk
mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan
frekuensi berkemih, nokturia, disuria, hematuria, duduk untuk
berkemih, ISK berulang, riwayat batu (stasis urinaria),
konstipasi (protrusi prostat kedalam rektum).
Tanda : Massa padat di bawah abdomen bawah (distensi
kandung kemih), nyeri tekan kandung kemih. Hernia inguinalis,
hemoroid (mengakibatkan peningkatan tekanan abdominal

15
yang memerlukan pengosongan kandung kemih mengatasi
tahanan).
c. Makanan/Cairan
Gejala : Anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan.
d. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri suprapubis, panggul, atau punggung, tajam, kuat
(pada prostatitis akut). Nyeri punggung bawah.
e. Keamanan
Gejala : Demam.
f. Seksualitas
Gejala : Masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan
seksual.
Tanda : Takut inkontinensia/menetes selama hubungin intim.
Penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi. Pembesaran, nyeri
tekan prostat
g. Penyuluhan/Pembelajaran
Tanda : Riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal.
Penggunaan antihipertensif atau antidepresan, antibiotik
urinaria atau agen antibiotik. obat yang dijual bebas untuk
flu/alergi obat mengandung simpatomimetik.

B. Analisa Data

No Data Etiologi Problem


1. DS : mengungkapkan Peningkatan Nyeri Akut
secara verbal atau Kontraksi Otot
melaporkan nyeri Detrusor
dengan isyarat
DO : - Ekspresi wajah
tampak menahan
nyeri
- Gelisah
2. DS : - Disuria Obstruksi Mekanis Ganguan
- Urgensi
Eliminasi
DO : - sering berkemih
- Mengalami Urin
kesulitan diawal
berkemih
- Retensi
- Nokturia
3. DS : - pasien melaporkan Ketidaknyamanan Insomnia
kesulitan untuk fisik (nokturi)

16
tidur
DO : Tampak terlihat kantung
mata, TD meningkat.
4. DS : Bendungan Vesika Risiko
DO :
Urinaria media Infeksi
berkembangnya
patogen

C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan Peningkatan Kontraksi Otot,
Detrusor
2. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan Obstruksi Mekanis
3. Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (nyeri)
4. Risiko infeksi berhubungan dengan Berkembangnya patogen

D. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan dengan Peningkatan
Kontraksi Otot destrusor
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
diharapkan nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
mempertahankan tingkat nyeri pada batas nyaman atau
berkurang (skala 0-10)
Memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang
efektif untuk mencapai kenyamanan
Pasien tampak tenang

Intervensi Rasionalitas
Kaji karakteristik nyeri pasien
Memberi informasi untuk membantu
dalam menentukan pilihan
Intervensi

Berikan informasi tentang nyeri Memberikan pengetahuan


seperti penyebab nyeri, pasien dan mengurangi
berapa lama akan tingkat kecemasan
berakhir dan antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur.

Ajarkan teknik non farmakologi Membantu mengurangi


(misalnya: relaksasi, tingkat nyeri secara individu

17
guide, imagery,terapi
musik,distraksi)

Observasi tanda-tanda non Mengetahui perkembangan


verbal nyeri (gelisah, lebih lanjut
kening mengkerut,
peningkatan tekanan
darah dan denyut nadi)

Kolaborasi dengan tim medis


Untuk menghilangkan nyeri hebat /
pemberian analgesic berat, memberikan relaksasi
dengan tepat mental dan fisik.

2. Diagnosa 2 : Gangguan Eliminasi Urine berhubungan dengan


Obstruksi Mekanis
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
diharapkan pengeluaran urin lancar
Kriteria hasil :
pengeluaran urin tanpa nyeri
tanpa kesulitan diawal berkemih
Bebas dari kebocoran urine diantara berkemih.
Kandung kemih kosong sempurna

Intervensi Rasionalitas
Pantau eleminasi urine, meliputi Mengetahui apakah terdapat
frekuensi, konsistensi, bau, infeksi/gangguan pada
volume eliminasi urin
instruksikan pasien dan keluarga untuk Mengetahui keseimbangan
mencatat haluaran urine, jika antara input dan output
diperlukan

Ajarkan pasien untuk minum


Peningkatan aliran cairan,
200ml cairan pada saat makan, mempertahankan perfusi
di antara waktu makan, dan ginjal dan membersihkan
diawal petang ginjal dan kandung kemih
dari pertumbuhan bakteri

Kolaborasi dengan dokter untuk Mengurangi obstruksi pada

18
pemberian obat: antagonis buli-buli, relaksasi didaerah
Alfa - adrenergik (prazosin) prostat sehingga gangguan
aliran air seni dan gejala-
gejala berkurang.

3. Diagnosa 3 : insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan


fisik (nokturi)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
diharapkan kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi
Kriteria hasil :
Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.
Klien mengungkapan sudah bisa tidur.
Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.

Intervensi Rasionalitas
Pantau pola tidur pasien dan Sebagai data penyebab
catat hubungan factor-faktor insomnia dan menentukan
fisik (mis. cara mengatasi yang tepat
Nyeri/ketidaknyamanan) yang
dapat mengganggu pola tidur
pasien
Jelaskan pada klien dan Klien dan keluarga klien
keluarga penyebab gangguan dapat mengetahui apa
tidur dan kemungkinan cara penyebab gangguan tidur
untuk menghindari. dan dapat menghindarinya.

Ciptakan suasana yang Agar klien bisa meningkatkan


mendukung, suasana istirahat dan tidur.
tenang dengan
mengurangi kebisingan.

Beri kesempatan klien untuk Sebagai respon individu dan


mengungkapkan penyebab mengetahui dari penyebab
gangguan tidur. gangguan tidur

Kolaborasi dengan dokter untuk Mengurangi nyeri dan


pemberian obat yang dapat membantu klien memenuhi
mengurangi nyeri (analgesik) kebutuhan tidur
dan pemberian obat tidur yang

19
tidak mengandung supresor
fase tidur REM

4. Diagnosa 4 : Risiko Infeksi berhubungan dengan


Berkembangnya patogen
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
diharapkan factor risiko dapat hilang
Kriteria hasil :
Terbebas dari tanda dan gejala infeksi
Mengindikasikan status genitourinaria dalam batas normal

Intervensi Rasionalitas
Pantau tanda dan gejala infeksi Mengetahui adanya infeksi
(mis, suhu tubuh, denyut dan mengetahui
jantung, penampilan urine, perkembangan lebih lanjut
keletihan, malaise)
Jelaskan kepada pasien dan Memberi pengetahuan dan
keluarga mengapa sakit atau mengurangi tingkat
terapi dapat meningkatkan kecemasan
risiko terhadap infeksi
Kolaborasi dengan tim medis Pemberian antibiotic untuk
pemberian antibiotic menekan,menghentikan
perkembangan
bakteri/mikroorganisme yang
berbahaya yang dapat
menyebabkan infeksi.

20
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
BPH adalah suatu keadaan dimana kelenjar prostat mengalami
pembesaran, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan
menyumbat aliran urine dengan menutupi orifisium uretra (Brunner
and Suddart, 2001).
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang
belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat
tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat
kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan. Karena etiologi
yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang
diduga timbulnya hiperplasi prostat antara lain :
Dihidrotestosteron, interaksi stroma dan epitel, teori sel stem, dan
ketidakseimbangan hormon testosteron dan esterogen.
Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi
secara perlahan-lahan pada traktus urinarius, terjadi perlahan-
lahan. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi
perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah
prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan
kontraksi lebih kuat. Sebagai akibatnya serat detrusor akan
menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam
mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai
(trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi,
mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor
sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan
sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor
adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan
menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan
tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin
total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih
atas.

21
III.2 Saran
Pembaca
Pembaca dapat memahami dari isi makalah BPH dan dapat
mengerti betapa pentingnya seorang perawat dalam kehidupan
klien.
Perawat
Perawat bisa menerapkan konsep dari BPH baik dilapangan
maupun tidak di lapangan ataupun dirumah sakit agar bisa
menghasilkan keperawatan yang maksimal.
Instansi
Instansi dapat memfasilitasi dengan fasilitas yang memadai
sehingga dapat mendukung tercapainya tindakan keperawatan
yang maksimal.

22
DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2012 . Asuhan Keperawatan Gangguan


Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Wilkinson, Judith M. & Ahern, Nancy R. 2013. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil
NOC. Ed.9. Jakarta: EGC.

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi


8. Jakarta: EGC.
Sjamsuhidayat, R ( et al ). 1997. Buku Ajar Bedah. Jakarta: Penerbit
buku kedokteran, EGC.
Long, Barbara C. 1996. Pendekatan Medikal Bedah 3, Suatu
pendekatan proses keperawatan. Bandung: Yayasan Ikatan
Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran.

23