Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berbagai jenis penyakit baik penyakit menular maupun penyakit tidak
menular sekarang banyak bermunculan. Banyak pula penyakit yang
disebabkan oleh gaya hidup sehingga timbul penyakit baru. Beberapa
penyakit bersifat kronis sehingga dapat membahayakan kesehatan dan
mempunyai beberapa kaitan dengan mental emosionalnya.
Hasil penelitian menunjukkan sebasar 11,58% penduduk usia 15 tahun
di Indonesia tahun 2007 mengalami gangguan mental emosional. Selain itu,
sebasar 3,5% penduduk Indonesia mengalami paling tidak satu dari enam
penyakit kronis berikut yaitu TBC, DM, tumor atau keganasan, stroke,
hepatitis atau lever, dan jantung. Penyakit jantung, stroke, kanker dan
penyakit kronis lainnya sering dianggap menjadi masalah kesehatan
masyarakat hanya untuk Negara-negara berpenghasilan tinggi, padahal
sebetulnya tidak. Pada kenyataannya, hanya 20% dari kematian penyakit
kronis terjadi di Negara berpenghasilan tinggi, sementara 80% terjadi di
Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menjadi sebagian
besar keberadaan penduduk dunia (Widakdo dan Besral, 2013).
Dengan adanya kegiatan skrining, masyarakat dapat mengetahui
terlebih dahulu apakah ia terkena suatu penyakit atau tidak melalui beberapa
proses. Sehingga masyarakat dengan mudah melakukan tindakan pencegahan
terhadap penyakit tersebut.
B. Rumusan Maasalah
1. Apa itu skrining?
2. Apa tujuan skrining?
3. Bagaimana cara melakukan skrining?
4. Bagaimana pemecahan masalah kasus dalam skrining?
5. Apa pengertian dari Pencatatan dan Pelaporan?

1
6. Bagaimana isi pembuatan laporan?
C. Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui apa itu skrining
2. Mahasiswa mengetahui tujuan skrining
3. Mahasiswa mengetahui bagaimana cara melakukan skrining
4. Mahasiswa mengatahui kasus dari skrining dan pemecahan masalah
kasus
5. Mahasiswa mengetahui pengertian dari pencatatan dan pelaporan
6. Mahasiswa mengetahui bentuk dan isi pembuatan laporan

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Penemuan Penyakit Secara Skrining


1. Pengertian Skrining
Skrining (screening) adalah deteksi dini dari suatu penyakit atau usaha
untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan secara klinis belum jelas
dengan menggunakan test, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat
digunakan secara cepat untuk membedakan orang-orang yang
kelihatannya sehat tetapi sesunguhnya menderita suatu kelainan.
Menurut Harlan (2006), skrining untuk pengendalian penyakit adalah
pemeriksaan orang-orang asimptomatik untuk mengklasifikasikan mereka
ke dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau tidak mengidap
penyakit (as likely or unlikely to have disease).
Secara garis besar, skrining adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit
yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain
yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin
menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita
(Amiruddin dkk, 2011).
2. Tujuan Screening
Tujuan dilakukannya screening yaitu deteksi dini penyakit tanpa gejala
atau dengan gejala tidak khas terhadap orang- orang yang tampak sehat,
tetapi mungkin menderita penyakit, yaitu orang yang mempunyai resiko
tinggi terkena penyakit (Population at risk).
Dapat menemukan penderita tanpa gejala kemudian dapat melakukan
pengobatan secara tuntas sehingga tidak membahayakan dirinya atau
lingkungan dan tidak menjadi sumber penularan penyakit.
Tujuan umum dari screening adalah untuk mendeteksi penderita sedini
mungkin sebelum timbul gejala klinik yang jelas. Dengan diagnose dini
tersebut dapat dengan segera diberikan pengobatan kepada penderita.

3
Tujuan khusus untuk penyakit menular, dengan penyaringan dapat
dilakukan diagnose dini sehingga dapat diberikan pengobatan scara cepat,
dan dapat pula mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat sehingga
dapat mencegah terjadinya wabah (Noor, 2002).
Selain itu, melalui tes penyaringan kita dapat memperoleh keterangan
epidemiologis yang berguna bagi petugas kesehatan terutama bagi
dokter/klinisi dan bagi peneliti. Hasil tes penyaringan dapat pula
digunakan untuk memberikan gambaran kepada petugas kesehatan tentang
sifat-sifat penyakit tertentu, sehingga mereka selalu waspada dan secara
terus menerus melakukan pengamatan terhadap setiap gejala dini yang
mencurigakan. Sehinga kita dapat merincikan tujuanya sebagai berikut :
a. Mengetahui diagnosis sedini mungkin agar cepat terapi nya
b. Mencegah meluasnya penyakit
c. Mendidik masyarakat melakukan general check up
d. Memberi gambaran kepada tenaga kesehatan tentang suatu penyakit
(waspada mulai dini)
e. Memperoleh data epidemiologis, untuk peneliti dan klinisi
3. Cara Melakukan Skrining

Bagan proses pelaksanaan skrining (Noor, 2008).

4
Pada sekelompok individu yang tampak sehat dilakukan
pemeriksaan (tes) dan hasil tes dapat positif dan negatif. Individu
dengan hasil negatif pada suatu saat dapat dilakukan tes ulang,
sedangkan pada individu dengan hasil tes positif dilakukan
pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik dan bila hasilnya positif
dilakukan pengobatan secara intensif, sedangkan individu dengan hasil
tes negatif dapat dilakukan tes ulang dan seterusnya sampai penderita
semua penderita terjaring.
Tes skrining pada umumnya dilakukan secara masal pada suatu
kelompok populasi tertentu yang menjadi sasaran skrining. Namun
demikian bila suatu penyakit diperkirakan mempunyai sifat risiko
tinggi pada kelompok populasi tertentu, maka tes ini dapat pula
dilakukan secara selektif (misalnya khusus pada wanita dewasa)
maupun secara random yang sarannya ditujukan terutama kepada
mereka dengan risiko tinggi. Tes ini dapat dilakukan khusus untuk
satu jenis penyakit tertentu, tetapi dapat pula dilakukan secara serentak
untuk lebih dari satu penyakit (Noor, 2008).
Uji skrining terdiri dari dua tahap, tahap pertama melakukan
pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai
resiko tinggi menderita penyakit dan bila hasil tes negatif maka
dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit. Bila hasil tes positif
maka dilakukan pemeriksaan tahap kedua yaitu pemeriksaan
diagnostik yang bila hasilnya positif maka dianggap sakit dan
mendapatkan pengobatan, tetapi bila hasilnya negatif maka dianggap
tidak sakit dan tidak memerlukan pengobatan. Bagi hasil pemeriksaan
yang negatif dilakukan pemeriksaan ulang secara periodik. Ini berarti
bahwa proses skrining adalah pemeriksaan pada tahap pertama
(Budiarto dan Anggraeni, 2003).
Pemeriksaan yang biasa digunakan untuk uji tapis dapat berupa
pemeriksaan laboratorium atau radiologis, misalnya :

5
a. Pemeriksaan gula darah.
b. Pemeriksaan radiologis untuk uji skrining penyakit TBC.

Pemeriksaan diatas harus dapat dilakukan :

a. Dengan cepat tanpa memilah sasaran untuk pemeriksaan lebih


lanjut (pemeriksaan diagnostik).
b. Tidak mahal.
c. Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan
d. Tidak membahayakan yang diperiksa maupun yang memeriksa
(Budiarto dan Anggraeni, 2003).

Contoh pemanfaatan skrining :

a. Mammografi untuk mendeteksi ca mammae


b. Pap smear untuk mendeteksi ca cervix
c. Pemeriksaan Tekanan darah untuk mendeteksi hipertensi
d. Pemeriksaan reduksi untuk mendeteksi deabetes mellitus
e. Pemeriksaan urine untuk mendeteksi kehamilan
f. Pemeriksaan EKG untuk mendeteksi Penyakit Jantung Koroner
(Bustan, 2000).
B. Pencatatan dan Pelaporan
1. Pengertian
Pencatatan adalah kegiatan atau proses pendokumentasian suatu
aktifitas dalam bentuk tulisan. Pencatatan dilakukan di atas kertas, disket,
pita nam, pita film. Bentuk catatan dapat berupa tulisan, grafik, gambar
dan suara. Selanjutnya untuk melengkapi pencatatan setiap kegiatan yang
dilakukan diakhiri dengan pembuatan laporan.
Pelaporan adalah catatan yang memberikan informasi tentang kegiatan
tertentu dan hasilnya disampaikan ke pihak yang berwenang atau
berkaitan dengan kegiatan tertentu.

6
Pencatatan (recording) dan pelaporan(reporting) berpedoman kepada
sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP).
Beberapa pengertian dasar dari SP2T4P menurut DepKes. Ri (1992)
adalah sebagai berikut:
a. Sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas adalah kegiatan
pencatatan dan pelaporan data umum, sarana, tenaga dan upaya
pelayanan kesehatn di puskesmas termasuk puskesmas pembantu,
yang ditetapkan melalui surat keputusan Menteri Kesehatan RI
no.63/Menkes/SK/II/1981
b. Sistem adalah satu kesatuan yang terdiri atas beberapa komponen yang
saling berkaitan, berintegrasi dan mempunyai tujuan tertentu
c. Terpadu merupakan gabungan dari berbagai macam kegiatan
pelayanan kesehatan puskesmas, untuk menghindari adanya
pencatatan dan pelaporan lain yang dapat memperberat beban kerja
petugas puskesmas.
d. Pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan tiap kegiatan bagi tenaga
kesehatan adalah melakukan pencatatan data penyelenggaraan tiap
kegiatan bagi tenaga kesehatan dan melaporkan data tersebut kepada
instansi yang berwenang berupa laporan lengkap pelaksanaan kegiatan
dengan menggunakan format yang di tetapkan.
e. Pencatatan dan pelaporan rekapitulasi kegiatan tiap triwulan adalah
melakukan pencatatan data pada semua kegiatan dalam satu triwulan
berjalan dan melaporkan data tersebut dalam bentuk rekapitulasi
kegiatan triwulanan kepada instansi yang berwenang dengan
menggunakan format yang di tetapkan
f. Pencatatn dan pelapopran rekapitulasi kegiatan yang di selenggarakan
setiap triwulan dan tiap tahun adalah pencatatan data untuk semua
kegiatan dalam satu triwulan dan satu tahun berjalan, serta melaporkan
data tersebut dalam bentuk rekapitulasi kegiatan triwulanan dan

7
tahunan kepada instansi yang berwenang dengan menggunakan format
yang telah di tetapkan.

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)


didalam pelaksanaannya masih terbatas pada data yang merupakan hasil
dari interaksi antara masyarakat dengan fasilitas kesehatan.
SP2TP/SIMPUS dapat juga membantu dalam perencanaan program-
program kesehatan di puskesmas. Namun dalam kenyataannya belum
berjalan seperti yang harapkan, bahkan kehadiran sistem pencatatan dan
pelaporan di puskesmas dilihat sebagai suatu hal yang cukup membebani
petugas puskesmas. Evaluasi dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan
sistem pencatatan dan pelaporan di Puskesmas, menemukan masalah-
masalah yang dihadapi baik dari aspek teknis dan non teknis.

2. Bentuk dan isi pembentukan pelaporan


a. Bentuk pencatatan
1) Bentuk pencatatan berdasarkan isi, yaitu:
a) Catatan tradisional, yaitu berisi hal-hal yang didengar dan
dilakukan oleh pencatat secara tidak sistematis, tidak lengkap,
dan biasanya berupa catatan harian
b) Catatan sistematis, yaitu menggambarkan pola keadaan,
masalah, dan langkah pemecahan masalah
2) Bentuk pencatatan berdasarkan pada sasaran, yaitu:
a) Catatan individu (catatan ibu, bayi, dan balita)
b) Catatan keluarga (kesehatan keluarga tertentu)
c) Catatan masyarakat (pada kegiatan survey komunitas, apabila
ditemukan masalah komunitas yang lebih diarahkan pada ibu
dan anak balita)
3) Bentuk catatan berdasarkan kegiatan, yaitu:
a) Catatan pelayanan kesehatan anak
b) Catatan pelayanan kesehatan KB

8
c) Catatan pelayanan kesehatan ibu
d) Catatan imunisasi
e) Catatan kunjungan rumah
f) Catatan persalinan
g) Catatan kelainan
h) Catatan kematian ibu dan bayi
i) Catatan rujukan
4) Bentuk pencatatan berdasarkan proses pelayanan, yaitu:
a) Catatan awal/masuk
b) Catatan pengembangan berisi kemajuan/perkembangan
pelayanan
c) Catatan pindah
d) Catatan keluar
b. Bentuk laporan
1) Laporan lisan
a) Kelemahan: Kemungkinan yang dilaporkan hanyalah hal-hal
yang baik-baik saja dan bersifat subyektif.
b) Keuntungan: Hasil dari kegiatan/intervensi yang telah
dilakukan dan data yang telah terkumpul dapat segera
ditindaklanjuti dalam waktu yang lebih cepat.
2) Laporan tulisan
a) Kelemahan: memakan waktu dan biaya yang lebih.
b) Keuntungan: bisa lebih bersifat Objektif dan lebih terperinci
sertapelaporan dapat bersifat positif maupun negative.
c. Isi pembentukan laporan
Bagian isi laporan yang sesuai dengan sistematika penulisan laporan
berisi tentang:
1) Latar belakang masalah pada bagian ini berisi latar belakang atau
alasan Anda sehingga mencoba untuk melakukan kegiatan tersebut.
Gunakan kalimat yang seefisien dan sejelas mungkin agar pembaca

9
mengerti. Sampaikan dengan jelas hal-hal yang mendasari Anda
dalam pembuatan laporan kegiatan yang telah Anda buat.
2) Rumusan masalah merupakan perumusan atas permasalahan yang
tengah Anda tawarkan sebagai dasar dari kegiatan. Pada bagian ini
Anda dapat mencantumkan pokok-pokok mendasar dari hasil
kegiatan yang telah Anda jalani.
3) Tujuan kegiatan merupakan tujuan yang diharapkan dari kegiatan
tersebut. Jabarkan seluruh tujuan yang memang telah Anda
harapkan akan terwujud dengan adanya kegiatan tersebut.
4) Manfaat kegiatan merupakan manfaat-manfaat apa saja yang
mungkin dihasilkan dengan adanya kegiatan ini. Carilah sebanyak
mungkin manfaat yang dapat dimunculkan dari laporan kegiatan
Anda. Semakin banyak manfaat dari laporan kegiatan Anda, tentu
Anda akan semakin bertambah puas karena laporan kegiatan Anda
dapat berguna bagi orang lain.

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Screening atau penyaringan kasus adalah cara untuk mengidentifikasi


penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur
lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin
menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita. Salah satu
tujuan dari screening adalah untuk Deteksi dini penyakit tanpa gejala atau
dengan gejala tidak khas terhadap orang- orang yang tampak sehat, tetapi
mungkin menderita penyakit, yaitu orang yang mempunyai resiko tinggi
terkena penyakit (Population at risk).

Selanjutnya kita membahas tentag pencatatan dan pelaporan sebagai


tindak lanjut dari perlakuan screening. Pencatatan dan pelaporan adalah
indikator keberhasilan suatu kegiatan. Tanpa ada pencatatan dan pelaporan,
kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak akan terlihat
wujudnya. Output dari pencatatan dan pelaporan ini adalah sebuah data dan
informasi yang berharga dan bernilai bila menggunakan metode yang tepat
dan benar.

B. Saran

Kami berharap agar semua mahasiswa mampu menyerap informasi dan


isi makalah ini. Baik itu sebagai referensi maupun sebagai bahan acuan untuk
mengerjakan tugas selanjutnya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


EGC.

Bustan MN ( 2002 ). Pengantar Epidemiologi.Jakarta:Rineka Cipta.

Iqbal Wahid ,Mubarak.2012.Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsep Dan Aplikasi


Dalam Kebidanan.Jakarta:Salemba Medika.

Soekidjo, Notoatmodjo.2008.Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip


Dasar.Jakarta :Salemba Medika.

Syaffrudin,dkk.2009.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:Buku Kesehatan.

Syafrudin , dkk: 2009.Ilmu Kesehatan Masyarakat Untuk Mahasiswa Kebidanan.


Jakarta:Trans Info Media.

Wahyuningsih,puji heni dkk.2009.Dasar-Dasar Ilmu Kesehata Masyarakat dalam


Kebidanan.Yogyakarta:Fitramaya.

12
LAMPIRAN

KASUS

1. Screening Pada Ca Cervix di desa NN tahun 2016


Langkah dalam melakukan screening, yaitu:
a. Tahap 1
Melakukan pemeriksaan pada kelompok penduduk
Dilakukan pemeriksaan Pap Smear di desa NN, pada wanita yang sudah
menikah dan usia maksimal 35 tahun. Hal ini dilakukan karena menurut
data puskesmas desa NN bahwa banyak warga yang datang ke puskesmas
untuk melakukan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan ini sebanyak 200
wanita melakukan pemeriksaan.
b. Tahap 2
Pemeriksaan Diagnostik
Alat yang digunakan:
1) Meja periksa, kursi
2) Lampu penerangan
3) Sarung tangan, apron
4) Spekulum Graves/cocor bebek/sekulum cusco
5) Cervico brush, spatula ayre
6) Kaca objek berlabel
7) Larutan alkohol/etanol 95%
8) Cytofix/hairspray
c. Tahap 3
1) Anamnese
Banyak ibu mengatakan bahwa nyeri pada bagian vagina, keluar cairan
berwarna kehijauan, berbau dan gatal.
2) Tanda (sign)
Pemeriksaan genetalia : terdapat cairan berwarna kehijauan, berbau,
dan bila ditekan terasa sakit

13
d. Tahap 4
Penatalaksanaan
1) Menjelaskan kepada pasien, mungkin selama tindakan akan dirasakan
sedikit sakit. Bila hal itu terjadi agar memberitahukan kepada
pemeriksa
2) Memakai apron, cuci tangan dan menggunakan sarung tangan (sebagai
prosedur tindakan pencegahan infeksi)
3) Pemeriksa duduk pada tempat yang sesuai untuk melakukan
pemeriksaan. Periksa daerah genital, inspeksi pada daerah pulpa
perineum, meatus uretra
4) Ambil speculum Graves dengan tangan kanan, tangan kiri membantu
membuka labia, kemudian memasukkan ujung speculum pada introitus
pararel dengan labia. Yakinkan tidak ada jaringan yang terjepit di
antara lidah speculum, kemudian dorong speculum perlahan-lahan.
5) Sesudah speculum cukup masuk daerah vagina, putar speculum 90o
searah jarum jam, lidah speculum dibuka perlahan dan dorong
perlahan-lahan sampai ujung lidah speculum mencapai fornix.
6) Lidah speculum berada pada dinding vagina depan dan belakang,
kemudian lidah speculum dibuka lebih lebar sehingga lubang vagina
dan portio mudah diamati. Pertahankan speculum dengan mengunci
speculum pada knobnya.
7) Lakukan pemeriksaan pada portio, dinding vagina. Apakah terdapat
discharge, pendarahan, erosi, massa yang rapuh atau keadaan
abnormal lainnya
8) Ambil cervico-brush. Masukkan cervico-brush yang cukup pada
kanalis servikalis, dan putar 360o untuk mengusap seluruh permukaan
portio
9) Angkat cervico-brush perlahan-lahan, tanpa menyentung jaringan
sekitarnya

14
10) Oleskan cervico-brush pada objek glass yang telah disediakan.
Yakinkan seluruh bagian yang terambil pada cervico-brush sudah
kontak dengan objek glass.
11) Lakukan fiksasi slide tersebut dengan larutan fiksasi yang disediakan
(larutan ethanol 95%, cytofix/hair spray ) dan keringkan.
12) Buka kunci speculum pada posisi semula, putar 90o berlawanan
dengan arah jarum jam sehingga lidah speculum pararel dengan labia
dan angkat keluar secara perlahan.
13) Beritahukan pada pasien, bahwa tindakan telah selesai.
e. Tahap 5
Pasca Tindakan
1) Kumpulkan peralatan dan masukkan pada larutan dekontaminasi.
Bahan habis pakai masukkan pada tempat yang telah disediakan.
2) Bersihkan darah/secret yang melekat pada sarung tangan, kemudian
lepaskan dan rendam pada larutan dekontaminasi (larutan klorin 0,5%)
3) Cuci tangan dan lengan pada air mengalir
4) Keringkan dengan handuk bersih.
f. Tahap 6
Hasil Tes (uji/pemeriksaan)
Pap Smear : tes pap smear +

HASIL KEADAAN PENDERITA


SCREENING SAKIT TIDAK SAKIT
POSITIF 100 50
NEGATIF 20 30

PERHITUNGAN VALIDITAS SUATU UJI SCREENING


STATUS PENYAKIT
Ada Tidak Ada Total
UJI Positif 100 50 150

15
SKREENING Negatif 20 30 50
JUMLAH 120 80 200

Sensitifitas : a / (a + c) = 100 / (100+20)


Spesifitas : d / (b +d) = 30 / (50+30)
g. Tahap 7
Intervensi teraupetik
1) Beritahu pasien bahwa ia menderita ca cervix
2) Beritahu pasien sebaiknya untuk dating ke pasilitas kesehatan untuk
mendapatkan penanganan lebih lanjut.
3) Kolaborasi dengan dokter untuk melakukan tindakan medis seperti :
a) Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks
paling luar), seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan
bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP. Dengan pengobatan
tersebut, penderita masih bisa memiliki anak.
Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani
pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun
pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak
memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani
histerektomi. Pada kanker invasif, dilakukan histerektomi dan
pengangkatan struktur di sekitarnya (prosedur ini
disebut histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada
wanita muda, ovarium (indung telur) yang normal dan masih
berfungsi tidak diangkat.
b) Terapi penyinaran
c) Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker
invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi
digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan
menghentikan pertumbuhannya. Ada 2 macam radioterapi:

16
 Radiasi eksternal : sinar berasar dari sebuah mesin besar
Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran
biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6
minggu.
 Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah
kapsul dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini
dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat
di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali
selama 1-2 minggu.
d) Kemoterapi
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan
untuk menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-
obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat anti-kanker bisa
diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut.
Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode
pengobatan diselingi dengan periode pemulihan, lalu dilakukan
pengobatan, diselingi denga pemulihan, begitu seterusnya.
e) Terapi biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem
kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Terapi biologis
dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh
lainnya. Yang paling sering digunakan adalah interferon, yang
bisa dikombinasikan dengan kemoterapi.
2. Penyebaran penyakit kaki gajah atau filariasis
Bahaya penyakit kaki gajah atau filariasis, karena penyakit ini dapat
menyerang siapa saja termasuk anggota keluarga kita. Filariasis merupakan
golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan
melalui berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini sifatnya menahun (kronis) dan
bila tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap

17
berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun
laki-laki.
Pada 2012, kasus tertinggi ditemukannya filariasis ada di 6
Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Temuan terbesar filariasis ada di Labuhan
Batu Selatan dengan 23 kasus, Kabupaten Asahan 18 kasus, Nias Selatan
dengan temuan 4 kasus, Gunungsitoli 3 kasus, Nias Utara 2 kasus, Nias Barat
dengan temuan 2 kasus dan Binjai ada 1 kasus filariasis, ujar Kepala Seksi
Penanggulangan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Sumatera Utara,
Sukarni.
Menurutnya, pengobatan filariasis ini, dapat dilakukan selama 5 tahun
berturut-turut. Ini merupakan tugas untuk mewujudkan sumatera utara bebas
filariasis 2020, ungkapnya. Setelah dilakukan pengobatan petugas harus
stand-by selama 5 hari untuk mengantisipasi hal-hal lainnya. Pengendalian
filariasis ini dibutuhkan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat seperti
pemberantasan sarang nyamuk, perilaku hidup bersih dan sehat, kemudian
kerja sama lintas sektoral menggerakkan PSN, PHBS, dan pengobatan masal.
Pencatatan Dan Pelaporan Surveilans Penyakit Filariasis
1. Pencatatan
Pencatatan kasus adalah kegiatan mencatatan dari seluruh kasus
kejadian filariasis oleh petugas kesehatan sesuai dengan formulir yang
berlaku
2. Pelaporan kasus
Pelaporan kasus adalah kegiatan penemuan kasus yang dilaporkan
diduga merupakan suatu kasus kejadian filariasis yang dilaporkan
masyarakat / petugas kesehatan. Laporan kasus ditanggapi serius dengan
segera. Filariasis perlu dilakukan kegiatan surveilens untuk dapat
ditentukan penyebab terjadinya kejadian filariasis dan ditindaklanjuti serta
dievaluasi guna keberhasilan program eliminasi filariasis
Dalam kejadian filariasis kegiatan survailens membutuhkan kerja sama
yang baik dari masyarakat/ petugas kesehatan di lapangan yang akan

18
melaporkan kasus ditindaklanjuti. Pada pelaksanaannya menentukan
penyebab kejadian filariasis tidak lah mudah diperlukan laporan dengan
keterangan rinci.
a) Data yang dilaporkan

Data yang diperoleh dipergunakan untuk menganalisa kasus


dan mengambil kesimpulan. Hal- hal yang perlu diperhatikan adalah
pelaporan terdapat dalam lampiran formulir kejadian filariasis.

b) Kurun Waktu pelaporan

Laporan harus dibuat secepatnya sehingga keputusan dapat


dibuat secepat mungkin untuk dilakukan tindakan selanjutnya.

Tujuan :
Survailens kejadian filariasis bertujuan untuk mengamati,
mendektesi dini, mencatat, melaporkan, serta merespon kasus yang
terjadi dengan cepat dan tepat serta mengurangi dampak negative
kasus tersebut terhadap kesehatan individu dan terhadap program
filariasis.

19
Alur Pelaporan Penyakit Filariasis

Rujukan kasus dapat dilakukan dari tempat pertolongan pertama


(rumah) hingga tempat pelayanan kesehatan terdekat (PUSKESMAS atau
dokter peraktek). Dari tempat pelayanan kesehatan terdekuat, bila diperlukan
kasus dapat dirujuk ke rumah sakit terdekat dan bila kasus memerlukan
rujukan terhadap pelayanan tertentu (baik pelayanan spesialistik atau
memerlukan sarana penunjang tertentu), kasus dapat dirujuk ke rumah sakit
rujukan terakhir (Top Refferal Hospital) yang terdekat diwilyah terseut. Kasus
tersebut dapat dievaluasi oleh Komite Ahli Pengobatan Filariasis (KAPFI).
Pelaporan dilaksanakan secara bertahap dan bertingkat. Pada keadaan
tertentu bila kasus yang dilaporkan menimbulkan perhatian yang berlebihan
dari masyarakat, pelaporan dapat dilakukan langsung kepada Departement
Kesehatan Sub Direktorat Filariasis dan Schistosomiasis/ Komite Ahli
Pengobatan Filariasis ( KAPFI). Dibawah ini adalah alur kegiatan pelaaporan
kasus kejadian filariasis.

20
Agar petugas mau melaporkan kasus kejadian filariasis dengan ketentuan
laporan maka perlu dilakukan :

a) Peningkatan kepedulian terhadap pentingnya pelaporan melalui system


pelaporan yang sudah ada
b) Membekali petugas kesehatan dengan pengetahuan tentng kejadian filariasis
c) Memberikan umpan balik yang positif terhadap pelaporan

Kasus kejadian yang dilaporkan harus ditulis didalam formulir pelaporan


secara tepat.Petugas kesehatan atau kepala Puskesmas bertanggung jawab
melengkapi formulir pelaporan tersebut yang selanjutnya dikirim ke Dinas
Kesehatan Kabupaten/ Kota. Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menentukan
apakah kasus kejadian tersebut dalam daftara kasus kejadian filariasis yang harus
dilaporkan. Selanjutnya laporan tersebut dilaporkan ke Provinsi sampai ke Pusat.

21
I. FORMULIR PELAPORAN PENYAKIT FILARIASIS
FORMULIR PELAPORAN KEJADIAN FILARIASIS

Identitas kasus
Nama :
Tanggal lahir / umur :
Jenis kelamin : LK/PR
Berat badan :
Alamat Kasus :
RT/RW : …/… , Kel/Desa…
Kecamatan :
Kabupaten/Kota :
Provinsi :
Tlp :
Kode Pos :

Manifestasi Kejadian Filariasis


Keluhan dan Waktu pertama gejala Lama Gejala
gejala klinis timbul
tanggal Jam menit jam Hari
Diare
Eritema dan
urtikaria
Abses
Asma
bronchial
Angioedema
Ikterus
Kolestasis

22
Serangan
epilepsi
Syok
anafilaksis
Spasma
larings
Lain-lain

Obat lain yang sedang diberikan saat pemberian obat filariasis:


…………………………………………………………………………….

Riwayat Perjalanan Penyakit :


…………………………………………………………………………….

Tanggal……/……/…..
TTD PELAPOR

(………………)
Formulir Investigasi Kejadian Filariasis

23
Wawancara dilakukan oleh Responden

Nama : Nama :
Instansi : Alamat :
Hubungan dengan kasus kejadian filariasis :

Identifikasi kasus kejadian penyakit Filariasis


Nama :
Tanggal lahir :
Jenis Kelamin : LK/PR
Usia :
Untuk pasien anak
Nama Ayah :
Nama Ibu :
Alamat
Jalan : Desa/Kelurahan :
Nomor Rumah : Kecamatan :
RT/RW : Kabupaten :
Dusun/Kampung : Provinsi :

Obat Filariasis yang diminum saat ini


Obat Filariasis yang Tanggal minum obat Nomor BATCH obat Jumlah tablet obat
diminum diminum

Tempat minum obat filariasis


 Pos Pengobatan Masal
 Posyandu
 Rumah
 Sekolah

24
 Kantor
 Puskesmas

Pemberi Obat Filariasis

 Dokter
 Perawat
 TPE
 Petugas Kesehatan

25