Anda di halaman 1dari 21

REFRAT

KELAINAN TUMBUH KEMBANG GIGI DAN


MULUT

DISUSUN OLEH
YOUVANKA ARSY WINMIRRAH
11/312014/KG/08827

DEPARTEMENT ORAL MEDICINE


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
KELAINAN TUMBUH KEMBANG GIGI DAN MULUT

A. Kelainan Tumbuh Kembang Gigi


Anomali gigi dapat diklasifikasi berdasarkan:
1. Diskolorisasi gigi
Diskolorasi secara umum diartikan sebagai perubahan warna pada gigi.
Diskolorasi pada enamel gigi dapat terjadi akibat endapan substansi pada permukaan
email gigi. Perubahan warna gigi disebabkan oleh faktor endogen dan eksogen.
a. Diskolorisasi akibat faktor endogen
Faktor endogen yaitu perubahan warna pada gigi berasal dari terdepositnya
substansi yang dapat menyebabkan perubahan warna gigi selama masa pertumbuhan
gigi.
1. Pemberian tetrasiklin secara sistemik
selama pertumbuhan gigi dapat
menyebabkan perubahan warna pada
gigi. Tetrasiklin dapat membentuk
kelasi dengan kalsium membentuk
ikatan ortofosfat-tetrasiklin. Sehingga
saat pertumbuhan gigi yaitu pada
tahap kalsifikasi, tidak hanya kalsium yang diendapkan oleh gigi melainkan juga
tetrasiklin. Sehingga menyebabkan perubahan warna pada gigi dari warna
kekuningan sampai abu-abu atau coklat.
Masa-masa kritis pemberian tetrasiklin 1) dalam kandungan dengan usia kandungan
lebih dari 4 bulan, molekul tetrasiklin dapat menembus plasenta sehingga mengenai
benih gigi decidui sehingga menyebabkan perubahan warna pada gigi decidui, 2)
masa bayi sesudah lahir sampai usia 5 tahin, pada periode ini terjadi pembentukan
mahkota gigi.
Perawatan dapat diberikan dengan membuat Jacket crown tujuannya untuk
menutupi seluruh mahkota gigi yang mengalami perubahan warna.
2. Eritroblastosis fetalis menyebabkan perubahan warna pada gigi decidui. Hal
tersebut disebabkan karena pewarnaan akibat hemolisis sel darah merah yang
dihasilkan dari destruksi antibody maternal akibat dari pertemuan dengan sel
darah merah bayi, sel darah terpecah menjadi bilirubin yang kemudian dapat
disimpan saat pertumbuhan gigi decidui. Sehigga gigi decidui tampak berwarna
hijau atau kecoklatan. Tidak diperlukan perawatan khusus karena terjadi pada gigi
decidui.
3. Kongenital porfiria merupakan salah satu kelainan kongenital dalam metabolisme
dan potensial menyebabkan pigmentasi secara endogen. Sifat bawaan autosomal
resesif tersebut berkaitan dengan photosenstifitas, vesiculobullous skin eruptions,
urin berwarna, and splenomegaly. Kemungkinan gigi dapat tampak berwarna merah
sampai coklat karena terdepositnya gigi selama masa pertumbuhan gigi.
b. Diskolorisasi gigi akibat faktor eksogen
Faktor eksogen yaitu keadaan dimana stain menempel pada permukaan gigi dan
dapay dihilangkan dengan bahan abrasive. Perubahan warna gigi dapat disebabkan oleh
penggunaan produk tembakau, teh, kopi dan obat kumur tertentu, dan pigmen di
dalam makanan menyebabkan terbentuknya stain yang akan menyebabkan permukaan
gigi menjadi kasar sehingga mudah ditempeli sisa makanan dan kuman yang
akhirnya membentuk plak. Apabila tidak dibersihkan, plak akan mengeras dan
membentuk karang gigi (calculus) kemudian sampai ke akar gigi, akibatnya gingiva
mudah berdarah, gampang goyah dan tanggal. Stain pada gigi dapat terjadi dengan tiga
cara 1) Perlekatan stain secara langsung pada permukaan gigi, 2) Stain terjebak di
dalam kalkulus dan deposit lunak, 3) Penggabungan stain dengan struktur gigi atau
material restoratif.
2. Anomali ukuran
a. Makrodonsia
Makrodonsia merupakan
keadaan yang menunjukkan ukuran
gigi lebih besar dari normal, hampir
80 % lebih besar (bisa mencapai 7,7-
9,2 mm). Anomali tersebut dapat
terjadi pada satu gigi saja, atau
beberapa gigi. Biasanya terjadi pada gigi Insicivus pertama dan Molar
pertama. Faktor penyebabnya yaitu adanya disfungsi endokrin pada
pembentukan gigi, serta faktor herediter. Untuk perawatannya dapat
dilakukan dengan pembuatan Jacket Crown, tujuannya yaitu agar
ukuran gigi sesuai dan serasi dengan gigi lainnya.

b. Mikrodonsia
Mikrodonsia merupakan keadaan
yang menunjukkan ukuran gigi lebih
kecil dari normal. Anomali ini bisa terjadi
pada satu gigi saja, atau seluruh gigi.
Kelainan ini lebih sering terjadi pada
gigi-gigi permanen dibandingkan gigi-
gigi decidui, lebih sering terjadi pada gigi insisivus dua rahang atas
dan gigi molar tiga rahang atas. Faktor penyebabnya yaitu adanya
disfungsi endokrin pada pembentukan gigi, serta faktor herediter.
Untuk perawatannya dapat dilakukan pemberian restorasi estetik
untuk memperbaiki bentuk dan ukuran gigi, misalnya dengan
pemasangan mahkota tiruan (crown) atau dengan penambalan. Juga
bisa dilakukan perawatan orthodonti (pemakaian kawat gigi) untuk
merapatkan ruangan antar gigi-geligi bila diperlukan.

3. Anomali jumlah
a. Anodonsia (tidak tumbuhnya gigi)
Anodontia merupakan kelainan genetik yang langka ditandai
dengan tidak munculnya gigi geligi tetap. Kondisi tersebut dibagi
menjadi tiga kelompok berdasarkan jumlah gigi yang hilang. Pada
anodontia kompleks, gigi geligi tidak muncul secara keseluruhan.
Anodontia parsial, disebut juga sebagai hipodontia, adalah kehilangan
kongenital untuk satu sampai enam gigi geligi tetap, sedangkan
oligodontia mengacu pada kehilangan lebih dari enam gigi. Hipodontia
dan oligodontia diketahui lebih umum terjadi daripada kehilangan gigi
secara keseluruhan yang ditemukan pada anodontia kompleks.
Perawatan anodontia yaitu implan gigi dan gigi tiruan untuk
anak-anak secepatnya pada usia dua tahun. Kekurangan satu gigi atau
lebih yang terjadi karena kongenital cenderung lebih sering terjadi
pada pria daripada wanita. Kehilangan gigi insisif lateral pada orang

dewasa dapat diatasi dengan perawan ortodonsia atau pembuatan


Jacket crown.

b. Gigi berlebih (supernumerari)


Supernumerary teeth yaitu adanya satu atau lebih elemen gigi
melebihi jumlah gigi yang normal, dapat terjadi pada gigi decidui
maupun gigi tetap. Gigi ini bisa erupsi dan bisa juga tidak erupsi. Gigi
berlebih umum ditemukan sebagai akibat perkembangan berlebih dari
dental lamina dengan penyebab yang tidak diketahui. Akibat yang
ditimbulkan supernumerary teeth tergantung pada posisi yang
berlebih, dapat berupa ; malposisi, crowded, tidak erupsinya gigi
tetangga, persistensi gigi sulung, terlambatnya erupsi gigi insisivus
sentralis tetap, rotasi, diastema, impaksi, resobsi akar dan hilangnya
vitalitas. Pembentukan kista dan masalah estetis juga dapat dijumpai.
Tanda-tanda klinis gigi berlebih yaitu terhambatnya erupsi gigi
decidui, terhambatnya erupsi gigi pengganti, perubahan hubungan
aksial dengan gigi tetangga dan rotasi gigi insisivus tetap. Berdasarkan
lokasinya gigi berlebih dibedakan atas :
1. Mesiodens, lokasinya di dekat garis median diantara kedua gigi
insisivus sentralis terutama pada gigi tetap rahang atas. Jika gigi ini
erupsi biasanya ditemukan di palatal atau diantara gigi-gigi insisivus
sentralis dan paling sering menyebabkan susunan yang tidak teratur
dari gigi-gigi insisivus sentralis. Gigi ini dapat juga tidak erupsi
sehingga menyebabkan erupsi gigi insisivus satu tetap terlambat,
malposisi atau resobsi akar gigi-gigi insisivus didekatnya.
2. Laterodens, berada di daerah interproksimal atau bukal dari gigi-gigi
selain insisivus sentralis.
3. Distomolar, lokasinya di sebelah distal gigi molar tiga.
Perawatan pilihan untuk masing-masing kasus harus dianalisa
secara individual, tergantung kepada jenis dan posisi gigi yang
berlebih. Secara garis besar perawatannya dilakukan dengan
pencabutan, pengambilan secara bedah (bila gigi tersebut tidak dapat
erupsi) atau pada kasus tertentu gigi dibiarkan berada dalam mulut
dengan observasi (misal distomolar di belakang molar tiga dan tidak
mengganggu).
Pada kasus diastema yang
disebabkan mesiodens, perawatan
dilakukan dengan pencabutan, kemudian
dilanjutkan dengan perawatan ortodonsi.
Waktu yang ideal untuk pengambilan gigi
berlebih pada regio depan adalah usia 6-
7 tahun, karena akar insisivus sentralis
sedang berkembang, namun belum
sepenuhnya terbentuk. Penting untuk memonitor ruangan yang ada
serta oklusinya selama periode ini.
4. Anomali bentuk
a. Geminasi (gigi terbelah)
Geminasi merupakan anomali yang
terjadi ketika satu tooth bud mencoba untuk
membelah. Tetapi hasilnya dapat berupa
invaginasi mahkota dengan pembelahan
sebagian atau, pada kasus yang jarang
terjadi, pembelahan sempurna dari mahkota sampai akar,
menghasilkan struktur yang identik. Geminasi merupakan
keabnormalan pada gigi yang terjadi pada cap stage, dan faktor
etiologinya adalah herediter.
b. Fusi
Fusi gigi merupakan hasil dari
penggabungan dua benih gigi yang sedang
berkembang. Fusi merupakan keabnormalan
pada gigi yang terjadi pada cap stage. Fusi
sulit dibedakan dengan geminasi. Selain dengan pembuatan
radiogram, menghitung jumlah gigi yang ada dapat menolong hal ini
karena pada fusi ada satu gigi yang hilang.
c. Dens invaginatus (dens in dente)
Dens invaginatus merupakan hasil dari
invaginasi permukaan enamel ke bagian dalam dari
gigi. Invaginasi dapat terjadi baik pada area cingulum
(dens invaginatus), atau pada tepi insisal (dens in
dente) mahkota atau pada akar selama
perkembangan gigi.
Dens in dente merupakan keabnormalan pada gigi yang terjadi
pada cap stage, dan faktor etiologinya adalah herediter.
d. Dens Evaginatus
Berbeda dari dens invaginatus atau dens in
dente, dens evaginatus merupakan hasil dari
pertumbuhan enamel organ ke bagian luar gigi.
Insisivus lateral merupakan gigi yang paling sering
terlibat, dimana caninus jarang terlibat.
e. Dilaserasi
Dilaserasi merupakan gangguan
pada pembentukan gigi yang
menghasilkan lengkungan atau belokan di
akar gigi dan biasanya berkembang
secara alami. Konsep lama, dilaserasi
adalah hasil dari trauma mekanis
terhadap bagian terkalsifikasi dari gigi
yang sudah terbentuk sebagian. Keadaan ini menimbulkan masalah
pada saat pencabutan gigi.
f. Concrescence
Concrescence terjadi ketika akar dari
dua atau lebih gigi baik gigi permanen
maupun gigi desidui berfusi pada sementum.
Jika kondisi ini terjadi selama perkembangan,
sering disebut sebagai true concrescence. Jika
kondisi ini terjadi kemudian, disebut acquired
concrescence. Concrescence merupakan
keabnormalan gigi yang terjadi pada tahap
aposisi dan maturasi, dan faktor etiologinya adalah injuri traumatic
atau gigi yang crowded.

g. Taurodonsia
Anomali dengan rongga pulpa yang sangat membesar.
Pemberian nama taurodonsia berdasarkan kemiripan sepintas dengan
gigi-gigi molar sapi (taurus=banteng). Gigi dengan ruang pulpa
sangat panjang, tidak ada pengecilan rongga pulpa pada daerah
cemento enamel junction.

5. Anomali dalam struktur gigi


a. Hipoplasia Enamel
Hipoplasia enamel atau
sering juga disebut enamel
hipoplasia adalah gangguan pada
enamel yang ditandai dengan tidak
lengkap atau tidak sempurnanya
pembentukan enamel. Dapat
terjadi pada gigi decidui maupun
tetap. Gambaran klinis yaitu 1) Terdapatnya groove, pit dan fisur yang
kecil pada permukaan enamel, 2) Pada keadaan yang lebih parah
dijumpai adanya guratan guratan pit yang dalam,tersusun secara
horizontal pada permukaan gigi. Etiologi dari hipoplasia enamel adalah
faktor lokal dan faktor umum. Faktor lokal seperti adanya trauma
(misal Turner Teeth), infeksi, radiasi dan idiopatik. Sedangakan faktor
umum biasanya disebabkan faktor lingkungan dan herediter.
b. Amelogenesis Imperfekta
Amelogenesis Imperfecta merupakan kelainan formasi dari
enamel atau permukaan luar gigi permanen yang diturunkan.
Karakteristik dari Amelogenesis imperfecta terjadi hipokalsifikasi,
hipoplasia, atau hipomaturasi yang menyeluruh.
Gejala klinis Amelogenesis Imperfekta terdiri
dari : 1) mempunyai gigi yang berwarna
abnormal antara putih opaque, kuning, coklat
sampai abu-abu., 2) dentin dan pulpa normal,
banyak kehilangan enamel mempunyai resiko tinggi terhadap karies.
3)sangat sensitif terhadap perubahan suhu.
Amelogenesis terbagi atas empat tipe utama yaitu sebagai berikut :
1. Tipe hipoplastik yaitu kurangnya email yang normal, menyebabkan
mahkota gigi-gigi nampak pucat, coklat kekuningan, berlubang-
lubang atau beralur. Secara radiografis seluruh gigi lengkap, tetapi
mahkota gigi-gigi terlihat sangat tipis atau tidak ada email. Gigi-gigi
mirip preparasi mahkota dengan tanda khas ruang interdental yang
lebar.
2. Tipe hipomatur, tipe ini mempunyai email yang normal banyaknya,
tetapi emailnya lunak dan kurang mineral, karenanya sonde gigi bila
ditekan akan melubangi permukaan email. Pada tipe ini, mahkota-
mahkota gigi berkontak di interproksimal, tetapi tampak berkapur,
kasar, beralur, dan ada perubahan warna. Email mudah patah.
3. Tipe kalsifikasi, tipe ini gigi mempunyai email yang lunak, tetapi
hilang jauh lebih cepat dan mengakibatkan terbukanya dentin segera
sesudah erupsi. Warna gigi biasanya mempunyai gigi-gigi berwarna
madu dengan corak permukaan kasar, gigi-gigi tidak erupsi multipel
dan gigitan terbuka interior.
4. Tipe hipoplasia-hopomaturasi dengan tipe taurodontisme, tipe ini
memperlihatkan gigi-gigi yang kekuning-kuningan dengan bercak-
bercak opak, berlubang-lubang di servikal, atrisi dan taurodontisme.
Penatalaksanaan pada penderita amelogenesis imperfekta adalah
sebagai berikut : 1) Dental Health Education (DHE), 2) Kontrol Plak, 3)
Perbaikan Oral Hygiene, 4) Aplikasi Fluoride, 5) Perbaikan Kebiasaan
Makan dan Kesehatan Rongga Mulut.
Perawatan untuk amelogenesis imperfekta biasanya adalah mahkota
penuh untuk alasan estetik.
c. Displasia Dentin
Displasia dentin merupakan
kelainan pada dentin yang melibatkan
sirkum pulpa dentin dan morfologi akar,
sehingga akar terlihat pendek yang
disebabkan herediter yang diturunkan secara autosomal dominan.
Ketidaknormalan tersebut diklasifikasikan dalam dua tipe yaitu :
1. Tipe 1 ( displasia dentin radikuler
Pada tipe ini gigi-gigi sulung dan tetap secara klinis tampak
normal tetapi radiograf menunjukan kelainan perkembangan akar
dengan hamper tidak ada pembentukan akar sama sekali dan ada
batu pulpa besar serta penyumbatan pulpa total dari gigi-gigi sulung
sebelum erupsi gigi, ditandai dengan gigi-gigi yang goyang dan
radiolusensi periapikal multipel yang tak diketahui sebabnya.
2. Tipe II ( displasia dentin coronal )
Pada tipe ini saluran pulpa gigi-gigi sulung sering kali
tersumbat karena mengalami dentinogenesia imperfekta. Sebaliknya
pada gigi tetap secara klinis tampak normal, kecuali saluran-saluran
pulpa yang lebih sempit dan berbentuk bunga widuri yang sering kali
ditempati oleh dentikel-dentikel. Akar gigi kemungkinan pendek,
tumpul, menguncup, dan dapat mempunyai garis radiolusens
horizontal.
d. Dentinogenesis Imperfekta
Dentinogenesis imperfecta merupakan kelainan genetik yang
mempengaruhi struktur gigi, akibat terjadi gangguan pada tahap
histodiferensiasi pertumbuhan dan perkembangan gigi. Pada waktu
histodiferensiasi, terjadi proses diferensiasi sel, proliferasi, pergeseran
dan pematangan sebagai dental organ melalui tahap lonceng dan aposisi.
Bagian perifer dari dental organ akan menjadi odontoblas, lapisan ini akan
membentuk dentin. Gangguan
diferensiasi selsel formatif benih
gigi akan menghasilkan struktur
email dan dentin yang abnormal.
Kegagalan odontoblas
berdiferensiasi pada tahap ini
akan menghasilkan struktur dentin abnormal, yang dikenal dengan
dentinogenesis imperfect.
Dentinogenesis imperfecta dapat terjadi pada gigi sulung maupun
gigi permanen. Secara klinis dapat terlihat, mukosa mulut terlihat normal,
gigi berwarna abu-abu agak transparan sampai agak kecoklatan.
Dentinogenesis imperfecta biasanya mempunyai ukuran normal, namun
pada permukaan servikal terlihat pengerutan, sehingga mahkota gigi
terlihat membulat. Pada pemeriksaan radiologis terlihat akar yang
ramping dan pendek, kavum pulpa terlihat kecil atau hampir tidak terlihat,
saluran akar kecil atau bahkan terlihat seperti garis tipis. Klasifikasi dari
dentinogenesis imperfecta adalah sebagai berikut:
1. Shields tipe I dentinogenesis imperfecta yang terjadi bersamaan
dengan osteogenesis
Imperfect
2. Shields tipe II dentinogenesis imperfecta yang terjadi tidak bersamaan
dengan osteogenesis imperfect
3. Shields tipe III dentinogenesis imperfecta yang terjadi pada populasi
Brandywine di Maryland Selatan, Amerika.
Akibat dari Dentinogenesis imperfecta dapat menimbulkan
pewarnaan gigi, dan gigi sensitive akibat atrisi, berkurangnya tinggi
gigitan, gangguan fungsi otot-otot pengunyahan, dan gangguan fungsi
bicara yang kan mengganggu penampilan seseorang. Adanya atrisi yang
ditimbulkan akibat rapuhnya struktur gigi, sehingga dentin akan mudah
terbuka, dengan demikian gigi akan menjadi lebih sesitif yang
mengganggu fungsi pengunyahan dan bicara. Berkurangnya tinggi gigitan
dapat menyebabkan oklusi abmormal, selanjutnya akan mengganggu
sendi temporomandibula.
Perawatan dentinogenesis imperfekta adalah untuk memperbaiki
penampilan, mengembalikan dimensi vertical pasien, mengembalikan
fungsi pengunyahan, mencegah terjadi abrasi, mempertahankan
kesehatan mulut, dan mengembalikan kepercayaan pada diri pasien.

6. Anomali erupsi (natal teeth)


a. Natal teeth
Gigi yang telah erupsi atau telah ada dalam
mulut pada waktu bayi dilahirkan. Gambaran
klinis dari natal teeth menunjukkan
perkembangan yang kurang, ukuran
kecil, bentuk konikal, warna kuning
(bahkan ada yang coklat) disertai hipoplasia
email dan dentin serta kurangnya atau tidak ada perkembangan akar.
Akibat tidak mempunyai akar atau kurangnya perkembangan akar, maka
gigi tersebut hanya melekat pada leher gingiva, tidak kuat sehingga
memungkinkan gigi tersebut dapat bergerak ke segala arah. Lokasi paling
sering adalah pada gigi insisivus bawah (85 %), pada rahang atas jarang
dijumpai. Penyebabnya yaitu posisi benih yang superfisial (dekat ke
permukaan), bertambahnya proses erupsi gigi selama atau setelah anak
mengalami demam, keturunan, akibat sifilis congenital, gangguan kelenjar
endokrin, defisiensi makanan.

Perawatan pada natal teeth tergantung pada komdisi tersebut :


a. Gigi yang tidak menimbulkan kesulitan dan keluhan pada bayi maupun
ibunya,dapat dipertahankan.
b. Bila gigi tersebut fraktur, sangat mobiliti (dikhawatirkan dapat
tertelan),mengganggu sewaktu menyusui (ASI) maka sebaiknya gigi
tersebut dicabut saja. Pencabutan dianjurkan setelah bayi berusia 10
hari, hal ini dihubungkan dengan produksi vitamin K dalam tubuhnya
dan sebaiknya dilakukan di rumah sakit.
c. Bila menimbulkan ulkus pada lidah bayi (disebut penyakit Riga Fede)
akibat posisilidah sewaktu menyusui atau ulkus pada puting susu ibu,
gigi dapat diasahdengan menggunakan stone bur.

B. Kelainan Tumbuh Kembang Rahang


1. Torus
Torus merupakan pembengkakan pada rahang yag menonjol dari
mukosa mulut yang tidak berbahaya dan disebabkan oleh pembentukan
tulang normal yang berlebihan, tampak radiopak, dan dapat terjadi di
beberapa tempat dari tulang rahang.
Torus palatinus letaknya selalu di garis tengah palatum keras,
tampak sebagai massa tonjolan sekeras tulang tunggal atau multipel di
daerah sutura palatal bagian tengah, licin, berbentuk konveks, dapat
pula gepeng, nodular, atau lobular. Mukosa yang menutupi adalah
merah muda pucat, tipis dan lembut; batas dari lesi dilukiskan oleh
kontur oval yang timbul dari atap palatum.
Torus mandibularis tampak umumnya merupakan massa putih
bilateral di bagian lingual akar gigi premolar. Bentuk bervariasi, dapat
satu lobus atau multipel, unilateral atau bilateral. Tumbuh langsung di
atas garis milohioid, meluas dari kaninus sampai molar pertama.
Umumnya kelainan ini tidak membutuhkan perawatan. Jika
mengganggu pemakaian gigi tiruan atau bicara, dapat dilakukan
pembedahan.
2. Agnasia
Agnasia merupakan kesalahan pembentukan lengkung mandibula
sering dihubungkan dengan anomali fusi telinga luar pada daerah garis
tengah ynag normalnya ditempati oleh mandibula sehingga telinga
bertemu di garis tengah.
Agenesis absolut mandibula masih diragukan apakah bisa terjadi.
Pada keadaan ini, lidah juga tidak terbentuk atau mengalami reduksi
ukuran. Meskipus astomia (tidak terbentuknya mulut) dapat terjadi,
mikrostomia (mulut yang kecil) lebih sering terjadi. Kadang-kadang
tidak ada hubungan dengan faring, yang tersisa hanya membran
bukofaringeal.
3. Mikrognasia
Istilah ini umumnya dipakai khusus
untuk mandibula meskipun dapat pula
dipakai untuk menunjukkan pengecilan
ukuran mandibula dan maksila. Dagu
dapat sangat retrusif atau absen sama
sekali. Kelainan bersifat kongenital
seperti yang ditemukan pada berbagai sindrom,
dapat pula terjadi sesudah lahir, misalnya akibat
trauma atau infeksi, seperti arthritis rheumatoid juvenilis. Mikrognasia
rahang atas ditemukan pada disostosis kraniofasial, sindrom
akrosefalosindaktilia yang karakteristik ditemukan pada oksisefalik,
sindaktilia tangan dan kaki, dan pada sindrom down. Keadaan ini dapat
dikoreksi dengan bedah.

4. Makrognasia
Makrognasia adalah rahang yang besar. Jika terjadi pada
mandibula, hal ini dapat menyebabkan protrusi (kelas III Angle) dengan
dagu menonjol. Keadaan ini dapat bersifat kongenital dapat pula
bersifat dapatan dan dapat dikoreksi dengan tindakan bedah.

C. Kelainan Tumbuh Kembang Jaringan Lunak Mulut


1. Kelainan Perkembangan Lidah
a. Makroglosia
Makroglosia merupakan suatu
keadaan lidah yang mempunyai
ukuran lebih besar dari normal.
Etiologi makroglosia dapat
diklasifikasikan ke dalam dua golongan
utama yaitu True makroglosia dan
Pseudo makroglosia. True makroglosia
didapat secara congenital dan acquired (didapat). Secara congenital
disebabkan oleh hemangioma, limfangioma, sindroma Down, dan
sindroma Beekwith Wiedemann, sedangkan makroglosia acquired
disebabkan karena hipertiroidisme (kretinisme), akromegali,dan
amiloidosis. Penyebab Pseudo makroglosia adalah kebiasaan
menjulurkan lidah, pembesaran tonsil, adenoid, hipotonia pada lidah
serta defisiensi mandibula.
Makroglosia dapat menyebabkan gangguan kesehatan umum
seperti kesulitan makan, menelan, berbicara, dan bernafas sehingga
menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Selain itu makroglosia juga dapat menimbulkan kelainan pada gigi dan
rahang.
Perawatan makroglosia tidak akan berhasil kecuali
menghilangkan penyebabnya. Perawatan makroglosia secara surgical
dapat dilakukan dengan glossektomi, sedangkan perawatan yang
ditimbulkan makroglosia terhadap gigi dapat dikoreksi dengan
perawatan orthodonsi.
b. Mikroglosia
Mikroglosia merupakan lidah yang kecil. Sangat jarang
ditemukan, dapat ditemukan pada sindrom Pierre Robin yang
merupakan kelainan herediter.
c. Ankiloglosia (Tongue Tie)
Tongue-tie atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan tali
lidah pendek merupakan kelainan bawaan pada
pita lidah atau tali jaringan ikat yang
menghubungkan dasar lidah dengan
ujung lidah bagian bawah. Tali ini dapat
tebal dan kurang elastis ataupun tipis
dan elastis. Keadaan ini lumayan sering
ditemukan. Anak laki-laki tiga kali lipat lebih
sering dibandingkan perempuan.
Pada sebagian besar anak, tongue-tie ini tidak menyebabkan
gangguan apapun, akan tetapi pada sebagian kecil lainnya dapat
menyebabkan kesulitan misalnya Menyusu dan Bicara.
Tongue-tie ini merupakan salah satu kelainan yang mudah
dikoreksi dengan tindakan bedah. Tindakan bedah yang dilakukan
tergolong sangat ringan. Yaitu dengan cara membebaskan tali jaringan
ikat tersebut. Terdapat dua macam tindakan bedah pada tongue-tie ini
yaitu frenotomy berupa pemotongan jaringan ikat dan frenuloplasty
berupa pembebasan tali jaringan ikat secara keseluruhan. Beberapa
penelitian menyatakan bahwa tindakan bedah pada tongue-tie ini
sangat bermanfaat.
Tindakan bedah untuk mengkoreksi tongue-tie dapat
dipertimbangkan pada bayi yang mengalami kesulitan dalam menyusui
dan anak dengan gangguan artikulasi kata-kata. Kesulitan dalam
menyusu ditandai dengan luka pada puting payudara ibu dan kenaikan
berat badan anak yang tidak normal.
2. Sumbing Bibir dan Palatum
Celah Bibir dan Celah Langit-langit adalah suatu kelainan bawaan yang terjadi
pada bibir bagian atas serta langit-langit lunak dan langit-langit keras mulut. Celah bibir
(Bibir sumbing) adalah suatu ketidaksempurnaan pada penyambungan bibir bagian atas,
yang biasanya berlokasi tepat dibawah hidung. Celah langit-langit adalah suatu saluran
abnormal yang melewati langit-langit mulut dan menuju ke saluran udara di hidung.
Terjadinya sumbing bibir dan palatum belum diketahui dengan pasti.
Kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa sumbing bibir dan palatum muncul sebagai
akibat dari kombinasi faktor genetic (mutasi gen, kelainan kromosom) dan faktor-faktor
lingkungan (usia, obat-obatan, nutrisi, infeksi, radiasi, trauma).
Klasifikasi Veau untuk sumbing bibir dan palatum digunakan
secara luas oleh klinisi, sumbing bibir dapat bervariasi, yaitu:
Kelas I : Takik unilateral pada tepi merah bibir dan meluas sampai
bibir.
Kelas II : Bila takik pada merah bibir sudah meluas ke bibir, tetapi
tidak mengenai dasar hidung.
Kelas III : Sumbing unilateral pada merah bibir yang meluas melalui
bibir ke dasar hidung.
Kelas IV : Setiap sumbing bilateral pada bibir yang menunjukkan
takik tak sempurna atau merupakan sumbing yang
sempurna.
Menurut sistem Veau, sumbing palatum dapat dibagi dalam 4
tipe klinis, yaitu:
Kelas I : Celah pada palatum lunak.
Kelas II : Celah palatum lunak dan keras dibelakang foramen
insisivum
Kelas III : Celah pada palatum lunak dank eras mengenai tulang
alveolar dan bibir pada satu sisi.
Kelas IV : Celah pada langit-langit lunak dank eras mengenai tulang
alveolar dan bibir pada dua sisi.
Penanganan masalah sumbing bibir dan palatum merupakan penanganan yang
multidisiplin, artinya meliputi beberapa ilmu dan tenaga ahli, diantaranya:
a. Ahli bedah plastik untuk memperbaiki bentuk bibir sehingga normal/ mendekati
normal.
b. Ahli THT, untuk memantau dan atau memperbaiki kelainan sekitar hidung dan
telinga.
c. Dokter gigi/Orthodontist untuk memantau dan atau memperbaiki kelainan
pertumbuhan gigi.
d. Speech therapist untuk membantu penderita agar dapat berbicara dengan normal.
e. Psikolog/Psikiater untuk menangani masalah psikologis yang timbul terutama rasa
rendah diri.
Sumber :
Langlais, R.P. dan Miller C.S., 2013, Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut
yang Sering Ditemukan, Jakarta, EGC.
Regezi, J., Sciubba. J.J., dan Jordan. R.C.K., 2003, Oral Pathology Clinical Pathologic
Correlations, ed 4th, Missour, Sauders.

Sudiono, J., 2014, Gangguan Tumbuh Kembang Dentokraniofasial, Jakarta,


EGC.