Anda di halaman 1dari 16

Konsentrasi minimun penghambatan atau lebih dikenal dengan MIC (Minimum Inhibitory Concentration) adalah

konsentrasi terendah dari antibiotika atau antimikrobial yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba tertentu. Nilai
MIC adalah spesifik untuk tiap-tiap kombinasi dari antibiotika dan mikroba. MIC dari sebuah antibiotika terhadap
mikroba digunakan untuk mengetahui sensitivitas dari mikroba terhadap antibiotika. Nilai MIC berlawanan dengan
sensitivitas mikroba yang diuji. Semakin rendah nilai MIC dari sebuah antibiotika, sensitivitas dari bakteri akan semakin
besar. MIC dari sebuah antibiotika terhadap spesies mikroba adalah rata-rata MIC terhadap seluruh strain dari spesies
tersebut. Strain dari beberapa spesies mikroba adalah sangat berbeda dalam hal sensitivitasnya. Metode uji antimikrobial
yang sering digunakan adalah metode Difusi Lempeng Agar. Uji ini dilakukan pada permukaan medium padat. Mikroba
ditumbuhkan pada permukaan medium dan kertas saring yang berbentuk cakram yang telah mengandung mikroba.
Setelah inkubasi diameter zona penghambatan diukur. Diameter zona pengambatan merupakan pengukuran MIC secara
tidak langsung dari antibiotika terhadap mikroba. Sensitivitas klinik dari mikroba kemudian ditentukan dari tabel
klasifikasi (Jawetz et al.,1996).
Pertumbuhan mikroorganisme dapat dikendalikan melalui proses fisik dan kimia. Pengendalian dapat berupa
pembasmian dan penghambatan populasi mikroorganisme. Zat antimikrobial adalah zat yang dapat mengganggu
pertumbuhan dan metabolisme melalui mekanisme penghambatan pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikrobial terdiri
dari antijamur dan antibakterial. Zat antibakterial adalah zat yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui
penghambatan pertumbuhan bakteri. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih zat antimikrobial kimiawi
adalah :
1. Jenis zat dan mikroorganisme
Zat antimikrobial yang akan digunakan harus sesuai dengan jenis mikroorganismenya karena memiliki kerentanan yang
berbeda-beda.
2. Konsentrasi dan intensitas zat antimikrobial
Semakin tinggi konsentrasi zat antimikrobial yang digunakan, maka semakin tinggi pula daya kemampuannya dalam
mengendalikan mikroorganisme.
3. Jumlah organisme
Semakin banyak mikroorganisme yang dihambat atau dibunuh, maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk
mengendalikannya.

4. Suhu
Suhu yang optimal dapat menaikkan efektivitas zat antimikrobial
5. Bahan organik
Bahan organik asing dapat menurunkan efektivitas zat antimikrobial dengan cara menginaktifkan bahan tersebut atau
melindungi mikroorganisme. Hal tersebut karena penggabungan zat dan bahan organik asing membentuk zat
antimikrobial yang berupa endapan sehingga zat antimikrobial tidak lagi mengikat mikroorganisme. Akumulasi bahan
organik terjadi pada permukaan sel mikroorganisme sehingga menjadi pelindung yang mengganggu kontak antara zat
antimikrobial dengan mikroorganisme (Boyd, 1980).
Faktor lain yang mempengaruhi adalah dosis antibiotika yang diberikan. Beberapa masalah adalah konsentrasi
dari zat kemoterapi dalam jaringan, dimana menghasilkan konsentrasi obat lain lebih besar atau lebih rendah daripada
yang digunakan dalam laboratarium. Hal itu penting, sehingga level obat itu dapat dicapai dalam bermacam bagian tubuh
dapat diketahui seperti halnya sensitivitas relative dari bakteri pathogen. Sensitifitas relatif disebut dengan Minimum
Inhibitory Concentration atau MIC (Pelczar,1988).
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk
kapsul, berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur sebagaimana terlihat pada gambar 2.4. Ukuran Staphylococcus
berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcus memiliki
diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning. Dinding selnya mengandung asam teikoat, yaitu sekitar 40% dari
berat kering dinding selnya. Asam teikoat adalah beberapa kelompok antigen dari Staphylococcus. Asam teikoat
mengandung aglutinogen dan N-asetilglukosamin. Suhu optimum untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 35o
37o C dengan suhu minimum 6,7o C dan suhu maksimum 45,4o C. Bakteri ini dapat tumbuh pada pH 4,0 9,8 dengan
pH optimum 7,0 7,5. Pertumbuhan pada pH mendekati 9,8 hanya mungkin bila substratnya mempunyai komposisi yang
baik untuk pertumbuhannya. Bakteri ini tidak dapat tumbuh pada media sintetik yang tidak mengandung asam amino atau
protein (Ratu Balqis, 2008).
Tetrasiklin merupakan agen antimikrobial hasil biosintesis yang memiliki spektrum aktivitas luas. Mekanisme
kerjanya yaitu blokade terikatnya asam amino ke ribosom bakteri (sub unit 30S). Aksi yang ditimbulkannya adalah
bakteriostatik yang luas terhadap gram positif, gram negatif, chlamydia, mycoplasma, bahkan rickettsia. Generasi pertama
meliputi tetrasiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin. Generasi kedua merupakan penyempurnaan dari sebelumnya yaitu
terdiri dari doksisiklin, minosiklin. Generasi kedua memilki karakteristik farmakokinetik yang lebih baik yaitu antara lain
memiliki volume distribusi yartg lebih luas karena profil lipofiliknya. Selain itu bioavailabilitas lebih besar, demikian pula
waktu paruh eliminasi lebih panjang (> 15 jam). Doksisiklin dan minosiklin tetap aktif terhadapstafilokokus yang resisten
terhadap tetrasiklin, bahkan terhadap bakteri anaerob seperti Acinetobacter spp, En-terococcus yang resisten terhadap
Vankomisin sekalipun tetap efektif ( Boyd, 1980).
Antibiotik tetrasiklin merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan dalam mengobati penyakit yang
disebabkan oleh bakteri. Pada dasarnya, antibiotik tetrasiklin ini berfungsi untuk menekan pertumbuhan bakteri atau
bakterisidal. Kemampuan antibiotic tetrasiklin untuk mencegah dan menekan hidup bakteri agar tidak berkembang di
dalam tubuh secara sporadis. Antibiotic tetrasiklin ini di buat dari senyawa yang diambil dari inang bakteri yaitu dari
kelompol Stretomyces. Antibiotik tetrasiklin kini dijadikan obat modern untuk membantu dalam menekan pertumbuhan
dan penyebaran bakteri didalam tubuh. Cara kerja dari antibiotik tetrasiklin ini adalah dengan menghambat proses sintesis
protein dari bakteri yang menyerang dalam tubuh. Akibatnya bakteri tidak dapat tumbuh dan berkembang didalam tubuh.
Ini menyebabkan pola destruktif terhadap bakteri tersebut ( Anne Ahira, 2009).
Prinsip dasar metode ini adalah dengan cara memberikan bakteri / kuman uji dengan kepadatan tertentu kepada
bahan antibakteri yang akan diuji pada konsentrasi yang semakin kecil. Kepekaan bahan uji terhadap bahan anti-bakteri
ditentukan dengan pengamatan secara makroskopis setelah masa inkubasi berakhir yaitu dengan melihat ada tidaknya
pertumbuhan koloni kuman / bakteri uji dalam tabung ( medium cair ) yang ditandai keruhnya medium cair yang dipakai
(Pelczar, 1988).
Metode ini digunakan untuk menentukan kadar hambat minimal (KHM) suatu senyawa anti-bakteri. Pada metode
ini digunakan erlenmeyer yang diisi media cair dan sejumlah tertentu bakteri yang diuji, kemudian masing-masing
erlenmeyer diisi dengan senyawa yang diuji. Erlenmeyer-erlenmeyer tersebut diinkubasi pada suhu 37 0C selama 24 jam,
untuk selanjutnya diamati turbidansi atau kekeruhannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-VIS. Konsentrasi
terendah senyawa yang memberikan hasil biakan yang mulai tampak jernih merupakan Kadar Hambat Minimal senyawa
tersebut. Metode Tube Dilution Test mempunyai keuntungan karena dapat menguji daya bakteriostatik dan bakterisidal
sekaligus, namun metode ini hanya dapat menguji satu bahan antibakteri dalam satu kali kegiatan (Pelczar, 1988).
Antibiotika atau antimikroba ialah zat-zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama golongan fungi (jamur), yang
dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Suatu obat antibiotika yang ideal menunjukkan toksisitas yang
selektif. Istilah ini berarti bahwa obat tersebut haruslah bersifat sangat toksis untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksis
(dalam konsentrasi yang dapat ditoleransi) terhadap hospes (Setiabudi, 1995).

Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antibiotika yang menghambat pertumbuhan mikroba dikenal sebagai
aktivitas bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh mikroba dikenal sebagai aktivitas bakterisid. Kadar minimal
yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba atau membunuhnya masing-masing dikenal sebagai kadar
hambat minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM). Antibiotika tertentu aktivitasnya dapat meningkat dari
bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan melebihi KHM (Setiabudi, 1995).

Antibiotik dikelompokkan berdasarkan gugus aktifnya, misal antibiotik macrolide, antimikroba peptida. Adapun
penamaannya biasanya berdasarkan gugus kimiawinya ataupun mikroorganisma produsernya, misalnya:
Mekanisme kerja antibiotik antara lain :
Menghambat dsintesis dinding sel
Merusak permeabilitas membran sel.
Menghambat sintesis RNA (proses transkripsi)
Menghambat sintesis protein (proses translasi).
Menghambat replikasi DNA. [E.Indra Pradhika, 2010]

Namun begitu, terjadi juga kes-kes dimana bakteri dapat mampertahankan dirinya terhadap antibiotika dan dapat
menggagalkan terapi dengan antibiotika. Definisi bagi resistensi adalah ketahanan suatu mikroba terhadap antibiotika
tertentu yang dapat berupa resistensi alamiah, resistensi kromosomal, resistensi ekstra kromosomal, maupun resistensi
silang. Resistensi kromosomal terjadi akibatadanya mutasi spontan pada mikroba, resistensi ekstrakromosomal terutama
terjadi akibat adanya faktor R pada sitoplasma bakteri, sedangkan resistensi silang ialah resistensi akibat pemindahan gen
resisten atau faktor R atau plasmid dari bakteri lain yang telah resisten yang masuk ke dalam bakteri. Resistensi
kromosomal dapatdibagi menjadi dua golongan yaitu:
1.Resistensi kromosomal primer, dimana mutasi terjadi sebelum pengobatandengan antibiotika dan selama
pengobatan terjadi seleksi bibit yangresisten.
2.Resistensi kromosomal sekunder, dimana mutasi terjadi selama kontak dengan antibiotika kemudian terjadi
seleksi bibit yang resisten.
[ Dewi Rusmiati et. al, 2011]

Metode yang digunakan pada kali ini untuk menentukan kerentanan terhadap antibiotika adalah metode cakram
kertas. Metode ini didasarkan pada difusi antibiotik dari silinder yang dipasang tegak lurus pada lapisan agar padat dalam
cawan petri atau lempeng yang berisi biakan mikroba uji pada jumlah tertentu. Sediaan antibiotika menghambat
pertumbuhan mikroba yang ada pada lempeng agar (Singgih, 2007).

Prosedur difusi untuk kertas cakram-agar yang distandardisasikan (metode Kirby-Bauer) merupakan cara untuk
menentukan sensitivitas antibiotik untuk bakteri. Sensitivitas suatu bakteri terhadap antibiotik ditentukan oleh diameter
zona hambat yang terbentuk. Semakin besar diameternya maka semakin terhambat pertumbuhannya, sehingga diperlukan
standar acuan untuk menentukan apakah bakteri itu resisten atau peka terhadap suatu antibiotik.
Faktor yang mempengaruhi metode Kirby-Bauer :
- Konsentrasi mikroba uji
- Konsentrasi antibiotik yang terdapat dalam cakram
- Jenis antibiotik.
- pH medium [E.Indra Pradhika, 2010]

Bakteri yang digunakan pada kali ini untuk menentukan kerentanan suatu bakteri terhadap berbagai antibiotika
melalui metode cakram kertas adalah bakteri Staphylococcus aureus. Staphylococcus merupakan bakteri Gram positif
berbentuk bulat biasanya tersusun dalam bentuk menggerombol yang tidak teratur seperti anggur. Staphylococcus
bertambah dengan cepat pada beberapa tipe media dengan aktif melakukan metabolisme, melakukan fermentasi
karbohidrat dan menghasilkan bermacam-macam pigmen dari warna putih hingga kuning gelap. Staphylococcus cepat
menjadi resisten terhadap beberapa antimikroba (Jawetz, et al., 2001)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah seperti berikut:


Kingdom : Protozoa
Divisio : Schyzomycetes
Class : Schyzomycetes
Ordo : Eubacterialos
Family : Micrococcaceae
Genus : Staphylococcus
Species : Staphylococcus aureus

Staphylococcus tumbuh dengan baik pada berbagai media


bakteriologi di bawah suasana aerobik atau mikroaerofilik. Tumbuh
dengan cepat pada temperatur 20 - 35C. Koloni pada media padat
berbentuk bulat, lambat dan mengkilat (Jawetz, et al., 2001)

Antibiotika yang digunakan dalam percobaan ini adalah tetrasilkin.


Tetrasiklin mempunyai spektrum antibakteri yang luas, efektif
terhadap kuman Gram positif maupun Gram negatif, mencakup
spektrum penisilin, streptomisin dan kloramfenikol. Selain itu juga
dapat menghambat pertumbuhan riketsia, amuba, mikroplasma dan
klamidia. Tetrasiklin termasuk antibiotik yang terutama bersifat
bakteriostatik. Mekanisme penembusan tetrasiklin untuk
masuk kedalam sel bakteri, kemungkinan sama dengan cara
menghambat sintesis protein ditambah modifikasi struktur guna
penghambatan sintesis protein. (Jawetz, et al., 2001)
Praktikum metode MIC cair ini dilakukan untuk menentukan Minimum Inhibitory Concentration (MIC) satu
sediaan uji terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Sediaan antibiotik yang digunakan dalam percobaan ini adalah
Tetrasiklin. MIC adalah konsentrasi antibiotik terendah dimana pertumbuhan bakterin terhambat. MIC biasanya dapat
dilihat pada, tabung reaksi bening terakhir dan tabung reaksi sebelum keruh pertama.
Sebelum melakukan percobaan ini, semua peralatan percobaan harus disterilisasikan untuk memastikan peralatan
benar-benar bersih dan hasil percobaan tidak dipengaruhi oleh mikroba yang mungkin terdapat di atas permukaan
peralatan. Media yang digunakan adalah Nutrient Broth yang bertujuan untuk memberi tambahan nutrisi pada bakteri
yang digunakan yaitu Staphylococcus aureus.

Percobaan dimulakan dengan mengencerkan larutan antibiotika tetrasiklin yang sudah sedia ada di labrotorium.
1ml larutan tetrasiklin ditambahkan dengan 4ml aquadest steril di dalam satu tabung uji besar. Jadi kami memperoleh
larutan tetrasiklin yang berkonsentrasi 250 g /ml. diteruskan pula dengan pengenceran bertingkat. Ini dilakukan ke dalam
enam tabung reaksi kecil. Tabung reaksi kecil (1) diisikan dengan 1ml Nutrient Broth double strength dan yang lainnya
diisi dengan 1ml Nutrient Broth biasa. Ini adalah karena Nutrient Broth double strengthmengandungi kandungan nutrisi
dua kali ganda daripada Nutrient Broth biasa. Maka ini dapat membedakan efektivitas antibiotik terhadap bakteri yang
terdapat dalam dua Nutrient Broth tersebut. 1ml antibiotik yang berkonsentrasi 250g/ml dpipet ke dalam tabung reaksi
kecil (1) dan (2) masing-masing. Ini membuatkan tabung reaksi (1) dan (2) berkonsentrasi 250g/ml. kemudian dari
tabung reaksi kecil (2) dilakukan pengenceran bertingkat tetrasiklin ke semua tabung reaksi seterusnya.

Volum pada tabung reaksi kecil terakhir ini harus dibuang 1ml karena untuk membandingkan daya kerja satu
antibiotik, setiap tabung harus mendapatkan perlakuan yang sama, baik volume larutan antibiotik, banyak suspensi bakteri
dan juga konsentrasi dari suspensi bakteri tersebut.

Setelah tercampur sebelas tabung reaksi kecil dimasukkan 1 ose bakteri Staphylococcus aureus dengan kuantiti
yang sama banyak dan dikocok sampai homogen. Ose harus difiksasi terlebih dahulu sebelum pengambilan bakteri supaya
ose steril dan dipengaruhi oleh bakteri udara sekeliling. Setelah difiksasi, ose tidak boleh langsung dicelupkan pada media
tetapi harus tunggu sementara supaya bakteri tidak mati karena ose yang terlalu panas. Selain itu, sebelum diambil,
suspensi bakteri harus dihomogenkan terlebih dahulu karena kemungkinan suspense bakteri berkumpul pada bahagian
bawah tabung reaksi.

Setiap tabung reaksi kecil yang berisi Staphylococcus aureus diinkubasikan pada suhu 37C selama 18-24jam. Ini
penting untuk menunggu bakteri dan berkembang pada waktu yang diinginkan (Fasa log bakteri), dimana maksimal.
Tetapi sebaiknya hasil diamati setelah 20 jam karena tidak seperti pada NA, nutrisi ada pada NB jauh lebih sedikit.
Apabila lebih dari 20 jam dikhawatirkan bakteri tersebut mengalami fasa kematian. Segala perlakuan harus dilakukan
secara aseptis yaitu dekat dengan api agar bakteri lain yang berasal dari udara yang masuk ke dalam tabung reaksi akan
menyebabkan terganggunya hasil pengamatan.

Menurut hasil praktikum kami kesemua tabung reaksi yang pertama hingga yang kelima memberikan hasil positif,
ditunjukkan dengan larutan keruh karena pertumbuhan bakteri tidak dihambat atau sedikit sahaja dihambat oleh
tetrasiklin. Dari tabung uji yang keenam hingga yang ke sebelas menunjukkan hasil negative yaitu larutannya bening. Ini
menunjukkan yang pertumbuhan suspense bakteri kami terhambat pada konsentrasi 15.63g/ml.
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kerentanan suatu bakteriterhadap berbagai sediaan antibiotika, melalui tes
resistensi dengan metodecakram kertas (Paper Disk Plate).

Prosedur percobaan dengan Paper Disk Plate adalah pertama-tama disiapkan 20 mL NA kemudian dituangkan ke
dalam cawan petri. Kerjanya harus dilakukan secara aseptis agar dapar menghindarin kontaminasi dari mikroba lain yang
mampu merusak hasil percobaannya. Lalu ditunggu hingga NA mengering dan suhunya kira-kira suam-suam kuku karena
jika suhu terlalu panas Staphylococcus aureus akan mati. Setelah NA memadat, suspensi Staphylococcus
aureus digoreskan atas permukaan NA kemudian diratakan dengan spreader hingga terasa kesat. Rasa kesat menandakan
bahwa Staphylococcus aureus merata pada seluruh permukaan NA, ditunggu selama 30 menit agar bakteri mengering
sempurna. Setelah 30 menit, tempelkan lima antibiotik uji pada masing-masing zona (1 cawan petri dibagi 5zona, 1 zona
untuk 1 antibiotik uji).Setelah itu, inkubasikan cawan petri dalam inkubator selama 18-24 jam. Hal ini bertujuan agar zona
yang dibentuk oleh Staphylococcus aureus dapat teramati dengan jelas karena bakteri itu bisa tumbuh secara optimal.

Selepas itu, kesemua 5 zona itu diletakkan cakram-cakram antibiotika pada jarak yang munasabah agar tidak
terjadi penumpukan zona inhibisi. Kerjanya harus dilakukan secara aseptis. Namun pada saat memanaskan cawan petri
berise nutrient agar dan penyepit besi, haruslah didiamkan terlebih dahulu. Hal ini karena agar bahannya menjadi tidak
terlalu panas, tetapi harus dilakukan dekat pembakar spiritus agar bakteri dari udara tidak mengkontaminasi media agar
yang berisi bakteri. Suhu yang panas dapat meleburkan nutrien agar saat melubanginya, tetapi jika terlalu jauh dari api,
ditakutkan akan terkontaminasi oleh bakteri. Proses pembuatan lubang harus dilakukan dengan cepat, agar jangan biarkan
cawan petri terbuka terlalu lama untuk menghindari bakteri dari luar masuk ke dalam cawan. Setelah kelima daerah yang
dibagi tadi telah dimasukkan cakram-cakram antibiotika, maka harus ditutup cawan petri dan dipanaskan sekadar tidak
dikontaminasi oleh bakteri- bakteri udara.

Dari lima antibiotik yang diujikan terhadap Staphylococcus aureus, dua dari lima antibiotic tersebut memberikan
hasil positif, berupa adanya zona hambat bakteri(zona bening) disekitar cakram kertas. Namun dari dua-dua antibiotika
terdapat perbedaan besarnya diameter pembentukan zona hambat bakteri. Pada DO 30, dapat memberikan hambatan yang
tersebar yaitu sebanyak 17.0mm, dan K30 sebanyak 14.8mm manakala yang lain tidak dapat menghambat S.aureus.

Antimikroba yang lain gagal melakukan menghambatan karena kemungkinan udah diresistensi oleh antibiotika
yang lain. Hal yang lain yang bisa diambil kira adalah penggunaan dosis yang tidak tepat, atau pemakaiannya yang tidak
teratur. Waktu pengobatan yang tidak lama dan penggunaan antibiotika yang tidak tepat juga bisa menunjukkan resistensi
terhadap antibiotika tersebut.

VIII. KESIMPULAN
KEGIATAN 1

Dalam percobaan ini, perbedaan pengaruh konsentrasi antibiotik seharurnya memberikan hasil pertumbuhan
koloni bakteri yang berbeda. Tetapi disebabkan konsentrasi antibiotik yang digunakan terlalu kecil dan tidak sesuai maka
penentuan MIC dari suatu antibiotik itu tidak dapat diketahui.
IX. DAFTAR PUSTAKA
KEGIATAN 1
Anne Ahira. 2009. Antibiotika Tetrasiklin.http://www.anneahira.com/antibiotic tetrasiklin.htm [ diakses pada 26 Maret
2011]

Boyd, Robert F., 1988. General Microbiology. Second Edition. Times Mirror/Mosby College Publishing.

Jawetz et. al. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. EGC:Jakarta.

Pelczar, Michael, J., dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi I. UI Press, Jakarta.

Ratu Balqis. 2008. Staphylococcus aureus. http://queenofsheeba.wordpress.com /2008/07/22/bakteri-staphylococcus-


aureus/ [ diakses pada 26 Maret 2011]
I. KOMPETENSI UMUM
Praktikan dapat mengetahui bagaimana cara kerja dalam uji Minimal inhibitory concentration (MIC).
II. KOMPETENSI KHUSUS
Praktikan dapat mengamati dan menentukan tingkat konsentrasi terendah yang masih dapat
menghambat pertumbuhan mikroba atau bakteri uji.
III. PRINSIP
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat tingkat konsentrasi terendah yang masih
dapat menghambat pertumbuhan mikroba atau bakteri uji dengan dengan melihat nila MIC-nya.

IV. LANDASAN TEORI


Desinfektan merupakan proses yang mematikan semua mikroorganisme pathogen dengan cara kimiawi dan
fisik. Desinfeksi mempunyai daya kerja terhadap bentuk vegetative dari mikroorganisme, tetapi belum tentu
mematikan bentuk sporanya . (Suriawiria ,2008)
Disinfeksi berarti mematikan atau menyingkirkan organisme yang dapat menyebabkan infeksi.
Meskipun melakukan desinfeksi dapat tercapai dengan keadaan steril, namun tidak seharusnya
mengandung arti sterilisasi. (Irianto , 2006).
Desinfektansia adalah bahan atau zat yang digunakan untuk menghilangkan atau menghancurkan bakteri
petogen atau nonpatogen, terutama bakteri yang membahayakan (patogen). Istilah ini pada umumnya
digunakan dalam proses membebaskan benda-benda mati atau infeksi, dan aman untuk dipakai dalam
bidang industri atau pada rumah sakit- rumah sakit atau industri-industri makanan/minuman dan industri
farmasi lainnya. Untuk memeriksa baik tidaknya bahan-bahan yang akan digunakan untuk desinfeksi dalam
industri, laboratorium maupun rumah sakit, maka perlu dilakukan beberapa tes yaitu (Anonim, 2014)

1. Minimal inhibitori concentration ( MIC test )


2. Ridel-walker test
Pada kedua test ini dikaitkan capasity use dulution test stability test dan in-use test . Yang dimaksud
dengan MIC adalah konsentrasi terendah yang masih dapat menghambat pertumbuhan mikroba atau uji
bakteri ( Anonim,2014).

Koefisien fenol atau angka fenol adalah suatu angka yang menunjukkan aktivitas larutan disinfektan dalam
membunuh mikroorganisme jika dibandingkan dengan fenol sebagai standar. Bakteri uji yang digunakan
dalam penentuan angka fenol adalah staphylococcus aureus yang mewakili bakteri gram-positif dan
salmonella thypi yang mewakili bakteri gram-negatif. Kedua bakteri uji ini diinokulasikan dalam berbagai
pengenceran larutan fenol murni dan bahan disinfektan yang akan ditentukan koefisien fenolnya (Radji,
2011).
Kegunaan koefisien fenol sangat terbatas, misalnya suatu desinfektan yang dilarutkan dalam air dapat
mempunyai koefisien fenol sampai 50, tetapi desinfektan ini dapat dikatakan tidak berguna bila diterapkan
dalam lingkungan yang ada darahnya, atau bila digunakan dalam hubungan dengan bahan-bahan seperti
pus, saliva, feses atau susu, karena bahan-bahan ini dapat bergabung dengan disinfektan itu dan
memisahkannya dari kontak dengan bakteri. Selain itu, koefisien fenol dapat juga untuksalmonella
typhi tinggi, tetapi terhadap bakteri lain hanya mencapai 2 atau 3 saja, seperti misalnya
terhadap stapylococcus aureus. Oleh karena itu, bila suatu substansi dinyatakan mempunyai koefisien fenol
tertentu, hendaknya diingat bahwa cara ini terbatas dalam penerapannya (Irianto, 2006)

Koefisien fenol adalah perbandingan tingkat pengenceran setiap bahan yang diuji (fenol dan bahan
disinfektan uji) yang tidak mematikan bakteri uji dalam waktu 5 menit, tetapi mematikan bakteri uji dalam
waktu 10 menit (Radji, 2011).
Keefektifan suatu desinfektan yang dapat larut dalam air dan terdiri dari turunan (golongan) senyawaan
fenol dapat diuji dengan penentuan koefisien fenol. Pengujian ini dilakukan berdasarkan perbandingan
dengan fenol murni dalam keadaan yang sama (Irianto, 2006).
Koefisien fenol dinyatakan sebagai suatu bilangan, yang dihitung dengan cara membandingkan aktivitas
larutan bahan desinfektan dengan pengenceran tertentu dan aktivitas larutan fenol dengan pengenceran
baku (Radji, 2011).
Jika suatu disinfektan telah ditetapkan koefisien fenolnya, maka sudah menjadi kebiasaan untuk
menggunakan disinfektan itu dalam konsentrasi 20 kali koefisien fenol (jadi bila koefisien fenol 5, maka
larutan pakai disinfektan itu adalah 1:100 ). Cara penentuan ini yang dilakukan sekehendaknya, seringkali
tidak dapat diandalkan terhadap kerja pendisinfeksian. Oleh karena itu, sebagai pengecekan sering
dilakukan uji kapasitas larutan pakai disinfektan (Use-dilution test). (Radji, 2011).
Setelah pengeraman selama 48 jam pada suhu 370c dicatat pertumbuhan yang terjadi dalam tabung tabung
yang telah di tnam. Bila dalam semua tabung dengan desinfektan yang diuji mikroorgaisme ujinya mati,
maka tidak i mukan pertumbuhan. Dalam hal ini pemriksaan hrus diulang dengan pegenceran yang lebih
tinggi. (Radji, 2011).
Koefisien fenol dihitung sebagai ratio pengencern tertinggi dari disinfektan (x) yang diuji, yang tidak
mematikan mikroorganisme uji dalam 5 menit (dalam medium pembiakkan ada pertumbuhan) , tetapi
mematikan miroorganisme uji dalam waku 10 menit ( tidak ada pertumbuhan dalam medium pembiakan )
terhadap pengnceran fenol dalam keadaan dan waktu yang sama. ( Irianto, 2006 ).

Bila hasil koefisien diperoleh maka koefisien fenol ditentukan sebagai berikut:

Fenol : tumbuh pada 5 menit, tidak tumbuh pada 10 menit pada pengenceran 90 kali.

Desinfektan X : tumbuh pada 5 menit, tidak tumbuh pada 10 menit pada pengenceran 450 kali.

Koefisien fenol : 450/90 = 5

Yang dapat dipakai sebagai organism uji adalah salmonella typhi, staphylococcus
aureus , pseudomonas aeruginosa. Cara tresebut adalah cara penentuan koefisien fenolmenurut FDA. Cara-
cara lain yang dikenal ialah cara menurut Rideal Walker danChick Martin.
Disinfeksi berarti mematikan atau menyinkirkan organisme yang dapat menyebabkan infeksi. Meskipun
dengan melakukan disinfeksi dapat tercapai keadaan steril , namun tidak seharusnya terkandung arti
sterilisasi. Disinfeksi biasanya dilaksanakan dengan menggunakan zat zat kimia seperti fenol, formaldehide,
klor, iodium, atau sublimat.pada susu, disinfeksi (bukan sterilisasi) dilakukan dengan pasteurisasi. Pada
umumnya disinfeksi dimaksudkan untuk mematikan sel sel vegetatif yang lebih sensitif tetapi bukan spora
spora yang tahan panas ( Irianto 2006 ).
Kegunaan koefisien fenol sangat terbatas, misalnya suatu desinfektan yang dilarutkan dalam air dapat
mempunyai koefisien fenol sampai 50, tetapi desinfektan ini dapat dikatakan tidak berguna bila diterapkan
dalam lingkungan yang ada darahnya, atau bila digunakan dalam hubungan dengan bahan-bahan seperti
pus, saliva, feses atau susu, karena bahan-bahan ini dapat bergabung dengan disinfektan itu dan
memisahkannya dari kontak dengan bakteri. Selain itu, koefisien fenol dapat juga untuksalmonella
typhi tinggi, tetapi terhadap bakteri lain hanya mencapai 2 atau 3 saja, seperti misalnya
terhadap stapylococcus aureus. Oleh karena itu, bila suatu substansi dinyatakan mempunyai koefisien fenol
tertentu, hendaknya diingat bahwa cara ini terbatas dalam penerapannya (Irianto, 2006)
Untuk mengetahui kekuatan masing-masing desinfektan orang perlu mempunyai suatu ukuran pokok.
Adapun zat yang dipakai ialah fenol. ( Dwidjoseputro , 2003 ).
Mikroorganisme yang digunakan sebagai penguji khasiat desinfektan adalah salmonella typhosa,kadang-
kadang digunakan juga Microccus aureus. Desinfektan yang akan diuji itu akan diencerkan menurut
perbandingan tertentu. Misal, kita membuat 2 larutan fenol,yang satu ( 1:90 ) dan yang lain ( 1:100 ). Di
samping itu kita membuat beberapa larutan suatu desinfektan A yang akan kita banding khasiatnya dengan
khasiat fenol. Katakan,larutan disenfektan A itu ( 1:300 ),( 1:350 ),( 1:400 ),( 1:400 ),( 1:400 ),dari tiap-tiap
larutan kita ambil 5 ml untuk kita masukkan dalam tabung steril; banyaknya tabung sesuai dengan
banyaknya larutan fenol dan desinfektan A. kita memerlukan 3 perangkat dalam pengujian ini,yaitu 12
tabung untuk desinfektan 0,5 ml inokulum salmonella thyphosa yang masih muda.setelah 5 menit berada di
dalm larutan, maka diambillah satu kolong inokulum untuk digesekan pada agar-agar lempengan, dan
piaraan ini kemudian disimpan dalam temperatur 37 0C. setelah berselang 48 jam piaraan dapat diperiksa
tentang ada tidaknya koloni.-koloni salmonella. Jika tak ada pertumbuhan, hal ini berarti bahwa bakteri telah
mati ketika diambil dari tabung yang berisi larutan desinfektan. Hal semacam ini dikerjakan pula dengan
perangkat kedua. Dimana salmonelladibiarkan berada dala larutan selama 10 menit. Di dalam perangkat
yang ketiga bakteri dibiarkan selama 15 menit berada dalam desinfektan. Makin besar koefisien fenol suatu
desinfektan berarti makin manjurlah desinfektan itu ( Dwidjoseputro , 2003 ).

VII. PEMBAHASAN
Desinfektan merupakan proses yang mematikan semua mikroorganisme pathogen dengan cara kimiawi dan
fisik. Desinfeksi mempunyai daya kerja terhadap bentuk vegetative dari mikroorganisme, tetapi belum tentu
mematikan bentuk sporanya .
Koefisien fenol atau angka fenol adalah suatu angka yang menunjukkan aktivitas larutan disinfektan dalam
membunuh mikroorganisme jika dibandingkan dengan fenol sebagai standar. Bakteri uji yang digunakan
dalam penentuan angka fenol adalah staphylococcus aureus yang mewakili bakteri gram-positif dan
salmonella thypi yang mewakili bakteri gram-negatif. Kedua bakteri uji ini diinokulasikan dalam berbagai
pengenceran larutan fenol murni dan bahan disinfektan yang akan ditentukan koefisien fenolnya.
Pada uji MIC, Disediakan 10 buah tabung steril, dan isi 9,5 ml medium NB steril kedalam tabung pertama
dan 5 ml kedalam tabung lainnya. Ditambahkan ke dalam tabung pertama 0,5 ml anti mikroba yang akan di
uji , sehingga di peroleh pengenceran 1:20. Diambil dengan pipet steril 5 ml dari tabung pertama dan
masukkan ke dalam tabung ke dua, campurkan sampa homogen. Kemudian di ambil lagi 5 ml dari tabung
kedua ini dan di masukkan ke dalam tabung ketiga dan seterusnya sampai pada tabung kesepuluh , setelah
dihomogenkan, dipipet 5 ml dari tabung terakhir dan dibuang. Sebaiknya untuk pemindahan cairan dari
tabung ke tabung digunakan pipet tersendiri. Ditanam kedalam tiap-tiap tabung 0,02 ml suspensi biakan
yang telah berumur 24 jam. Diinkubasikan semua tabung pada suhu 370 C dan diperiksa pertumbuhan
bakteri setelah 24-72 jam. Untuk memastikan bahwa bakteri yang tu,buh adalah bakteri yang
diinokulokasikan, maka adanya pertumbuhan di periksa dengan penanam kembali dalam medium
pembenihan. Konsentrasi tertinggi yang masih memperlihatkan penghambatan pertumbuhan mikroba adalah
nilai MIC-nya.
Pada percobaan ini digunakan lima konsentrasi yang digunakan pada percobaan fenol yaitu 5 %. Karena
pada konsentrasi 2 5% fenol efektif mendenaturasi protein dan merusak membrane sel bakteri serta aktif
pada pH asam dan pada konsentrasi tersebuttidak toksis bagi manusia. Persyaratan koefesien fenol yaitu
jika nilai koefesien fenol antara 0,05-1 maka zat kimia uji adalah antiseptik/desinfektan yang kurang efektif
sedangkan jika nilai yang diperoleh lebih besar dari 1, maka zat kimia uji adalah antiseptik/desinfektan yang
efektif.
Mikroba-mikroba yang biasa digunakan pada koefisien fenol yaitu Shigella disentri yang dimaksudkan untuk
melihat sampel vial dan fenol baku 5% dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri tersebut
dan bakteri ini juga yang digunakan sebagai bakteri uji koefisien fenol di Indonesia.
Nilai MIC (Minimal Inhibitory Concentration) diletakkan pada tabung ke-2 deret 1 pada percobaan koefisien
fenol, dimaksudkan untuk melihat daya hambat konsentrasi desinfektan di atas Nilai MIC (Minimal Inhibitory
Concetration) dan menguji kembali apakah nilai MIC yang telah diperoleh sudah mutlak. Sedangkan pada
tabung 1 deret I yang berisi sampel, air steril dan suspensi biakan mikroba direndam dalam wadah berisi es,
bertujuan untuk menjaga pertumbuhan mikroba yang dipengaruhi oleh suhu. Digunakan air steril sebab
dengan lingkungan yang steril maka mikroba tidak akan mengalami pertumbuhan sehingga akan membantu
kerja dari desinfektan yang digunakan. Digunakan suspensi bakteri agar dapat diketahui apakah desinfektan
yang akan diuji mampu menghambat pertumbuhan dari bakteri uji atau tidak.
Pada percobaan ini digunakan lama kontak 5, 10 dan 15 menit untuk membandingkan pengenceran tertinggi
tes produk yang membunuh kuman dalam waktu 10 menit (tetapi tidak membunuh dalam 5 menit) dengan
pengenceran fenol yang memberikan hasil yang sama. Secara umum waktu yang diperlukan oleh bakteri
untuk dapat mengadakan kontak dengan desinfektan (lama kontak) adalah 5-10 menit, karena suatu
desinfektan yang memiliki koefisien fenol memiliki aktivitas kerja yang optimal pada lama kontak tersebut
sehingga pengukuran koefisien dilakuukan dengan melihat hasil positif pada setiap pengenceran dalam
waktu 5 menit. Pengenceran tertinggi dari desinfektan dan baku fenol dapat mematikan bakteri uji dalam
waktu kontak 10 menit, tetapi tidak mematikan bakteri uji dalam waktu kontak 5 menit. Dan digunakan lama
kontak 15 menit karena ditakutkan ada bakteri yang belum mati pada menit ke 10.
Pada praktikum ini medium yang digunakan adalah adalah medium NB ( dalam bentuk cair). Medium yang
cocok untuk bakteri adalah medium NA, tetapi Digunakan medium cair karena ingin melihat kekeruhan atau
kejernihan dari medium, yang menandakan ada tidaknya pertumbuhan bakteri yang terjadi.
Dari praktikum untuk sampel harpic pada pengenceran 1:10 sampai 1:50 untuk lama kontak 5 semuanya
menunjukkan hasil yang negatif. Pada lama kontak 10 hanya pada pengenceran 1:10 dan 1:30 yang
menunjukkan hasil yang negatif. Sedangkan untuk lama kontak 15 dan 20 didapatkan hasil pada
pengenceran 1:10 sampai 1:30 yang mana menunjukkan hasil yang negatif. Sedangkan pada pengenceran
1:40 dan 1:50 menunjukkan hasil positif.
Dari praktikum untuk fenol, didapatkan hasil bahwa pada larutan baku fenol dengan konsentrasi 5 %
diperoleh hasil untuk lama kontak pada 5 untuk semua pengenceran dari deret 1 sampai deret 3
menghasilkan hasil yang negative. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ditumbuhi oleh mikroorganisme.
Sedangkan untuk lama kontak 10, 15 dan 20 pada semua pengenceran dari deret 1 sampai ke deret 3
menunjukkan hasil yang positif yang berarti fenol tersebut telah ditumbuhi mikroorganisme.
Dari praktikum untuk uji MIC, untuk perbandingan 1:20 pada pengamatan menunjukkan hasil bahwa tidak
adanya perubahan yang ditunjukkan. Sedangkan untuk perbandingan 1:40, 1:80, 1:160, 1:320, 1: 640,
1:1280 menununjukkan adanya perubahan.
Faktor-faktor kesalahan yang mungkin terjadi pada praktikum yaitu :
1. Alat-alat yang digunakan belum steril.
2. Adanya kontaminasi dari luar.
3. Pengerjaannya yang kurang teliti dan serius.
4. Penghitungan waktu( stopwatch ) yang tidak tepat.

VII. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum kami dapal menyimpulkan bahwa untuk sampel yang berupa harpic juga termasuk
sebagai desinfektan yang baik dalam membunuh mikroorganisme. Dan untuk koefision fenol dengan
konsentrasi 5% dapat memberikan efek yang baik sebagai desinfektan. Pada uji MIC didapatkan hasil untuk
perbandingan 1:20 memberikan hasil yang baik sebagai penghambat mikroorganisme
IX. SARAN
Sebaiknya pada saat praktikum berlangsung praktikan harus meminta perhatian penuh kepada
asisten agar meminimalis faktor-faktor kesalahan yang akan terjadi pada saat praktikum.

X. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008, Penuntun Praktikum Mikrobiologi Farmasi Terapan, Universitas Muslim
Indonesia, Makassar.
Dwidjoseputro, D.2003, Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta .
Radji, M.,2011, Mikrobiologi, Buku kedokteran ECG, Jakarta.
Irianto, Koes. Mikrobiologi Medis. Penerbit Alfabeta : Bandung.\
Suriwiria,U.2008. Mikrobiologi Air, Bandung : PT. Alumni.

Resistensi bakteri terhadap antibiotik adalah kemampuan alamiah bakteri untuk mempertahankan diri terhadap efek
antibiotik. Antibiotik menjadi kurang efektif dalam mengontrol atau menghentikan pertumbuhan bakteri. Bakteri yang
menjadi target operasi antibiotik beradaptasi secara alami untuk menjadi resisten dan tetap melanjutkan pertumbuhan
demi kelangsungan hidup meski dengan kehadiran antibiotik.
Secara garis besar resistensi bakteri terhadap antibiotik melalui tiga mekanisme. Pertama, terjadi mutasi pada porin
(lubang-lubang kecil) yang terdapat pada dinding luar bakteri. Porin ini merupakan suatu jalur bagi antibiotik untuk
masuk dan secara efektif menghentikan pertumbuhan bakteri. Akibat mutasi yang terjadi pada porin, antibiotik tidak lagi
dapat mencapai tempat kerjanya di dalam sel bakteri. Kedua, adanya inaktivasi antibiotik. Mekanisme ini mengakibatkan
terjadinya resistensi terhadap antibiotik golongan aminoglikosida dan beta laktam karena bakteri mampu membuat enzim
yang merusak kedua golongan antibiotik tersebut. Ketiga, terjadi pengubahan tempat ikatan antibiotik oleh bakteri
sehingga antibiotik tidak mampu lagi untuk berikatan dengan bakteri sebagai upaya menghentikan pertumbuhan bakteri
tersebut.
Populasi bakteri dapat mengalami evolusi untuk resistensi terhadap antibiotik secara cepat.

Dinding Sel Bakteri Struktur Fungsi dan Jenis


Oleh: Fitria Sri | Diperbaharui: 19 March, 2016
Dinding sel bakteri harus kuat untuk mencegah sel pecah tetapi juga berpori untuk memungkinkan transportasi
melintasi membran sel. Dalam artikel ini, kita akan mempelajari struktur dinding sel bakteri dan bagaimana
mereka menyelesaikan tugas-tugas pentingnya.Advertisement
Tekanan osmotik

Sel bakteri tampil sederhana, tetapi membangun sel-sel ini cukup merupakan tantangan rekayasa. Untuk
memahami tantangan ini, pertama-tama kita harus memahami tekanan osmotik dan hubungannya dengan sel-
sel bakteri.

Osmosis didefinisikan sebagai perpindahan air melalui membran semipermeabel dari daerah konsentrasi zat
terlarut rendah ke daerah konsentrasi zat terlarut tinggi. Sebuah zat terlarut hanya zat terlarut dalam cairan
pelarut, yang biasanya air. Air mampu melewati membran, tetapi zat terlarut tidak bisa. Jika satu sisi memiliki
lebih zat terlarut (larutan hipertonik) dari sisi lain (larutan hipotonik), air akan bergerak ke sisi yang lebih
terkonsentrasi dalam upaya untuk menyeimbangkan konsentrasi zat terlarut. Jika larutan hipertonik dalam
bejana tertutup, masuknya air dapat menciptakan tekanan yang signifikan, mungkin cukup memecah
pembuluh.

Jadi, apakah yang harus dilakukan oleh bakteri? Bakteri ditutupi oleh membran sel, yang semipermeabel. Air
dapat bebas berdifusi ke dalam atau keluar dari sel melalui protein transport, tergantung pada konsentrasi zat
terlarut. Umumnya, di bagian dalam sel, ada cukup banyak zat terlarut. Bakteri memiliki DNA, protein, enzim,
garam, nutrisi, dan ion dalam larutan dalam sitoplasma yang diadakan oleh sifat semipermeabel membran. Hal
ini penting bagi kelangsungan hidup bakteri yang molekul-molekul ini tinggal pada sitoplasma. Di dalam sel,
larutan sitoplasma adalah hipertonik dibandingkan dengan lingkungan. Apa yang kita pelajari tentang air
adalah bahwa hal itu berusaha untuk keseimbangan dan harus berdifusi ke dalam sel. Sayangnya untuk sel,
tekanan osmotik yang dihasilkan bisa sampai 2 atmosfer, Jadi, akan kembali ke tantangan rekayasa, bakteri
perlu mengembangkan beberapa mekanisme yang akan mencegah sel dari pecah tapi masih cukup berpori
untuk bahan seperti nutrisi atau limbah untuk masuk ke dan keluar dari sel.

Selubung sel

Sel bakteri ditutupi oleh amplop sel yang terdiri dari membran sel dan dinding sel. Membran sel merupakan
fosfolipid bilayer yang mengatur pengangkutan molekul masuk dan keluar dari sel. Ini adalah struktur yang
lemah yang akan meledak dari tekanan osmotik tanpa penguatan. Dinding sel adalah komponen dari amplop
yang menyediakan penguatan itu.

Dinding sel

Hampir setiap genus bakteri memiliki dinding sel, yang merupakan bagian kaku, struktur yang mengandung
karbohidrat yang mengelilingi sel bakteri. Seperti yang selalu terjadi dalam biologi, ada beberapa orang aneh,
seperti genus Mycoplasma, yang telah kehilangan dinding sel mereka, tapi karena mereka adalah minoritas,
memiliki dinding sel harus menjadi keuntungan besar bagi bakteri.

Exoskeleton dinding sel bakteri ini dengan memberikan beberapa manfaat. Dinding sel melindungi bakteri dari
kerusakan dengan mengitarinya oleh struktur kaku dan tangguh. Struktur ini juga berpori. Molekul kecil dapat
bebas melewati dinding sel membran, tetapi molekul besar dikecualikan. Dengan cara ini, dinding sel bertindak
sebagai filter kasar. Fungsi utama dari dinding sel, adalah untuk mempertahankan bentuk sel dan mencegah
meledak dari tekanan osmotik (disebut lisis).

Tidak mengherankan, alam tampaknya telah memecahkan tantangan sempurna. Dinding sel mempertahankan
bentuk dan permeabilitas! Dengan menggali lebih rinci, kita dapat memahami bagaimana dinding sel
menyelesaikan ini.

Gram-positif

Bakteri Gram-positif memiliki beberapa lapisan peptidoglikan membentuk lapisan sangat tebal, dinding sel
yang kaku. Flat, lapisan crosshatched peptidoglikan yang ditumpuk di atas satu sama lain, menciptakan
dinding sel yang relatif tebal. Mencakup tumpukan peptidoglikan asam teikoik. Molekul yang panjang ini
memiliki muatan negatif dan membantu ion bergerak melalui dinding sel yang tebal. Penting untuk dicatat
bahwa asam teikoik hanya ditemukan pada bakteri Gram-positif.

Gram-negatif

Bakteri Gram-negatif berbeda dari Gram-positif dalam dua cara utama. Dinding sel Gram-negatif terdiri dari
hanya satu atau dua lapisan peptidoglikan yang ditutupi oleh membran luar.

Bakteri Gram-negatif memiliki membran sel khas yang mencakup seluruh sel. Hanya di luar membran ini
adalah periplasma, yang merupakan lapisan seperti jelly antara membran luar dan membran sel. Ruang
periplasmic meliputi lapisan peptidoglikan serta enzim dan protein transportasi tambahan. Dalam bakteri
Gram-negatif, hanya ada satu atau dua lapisan mesh peptidoglikan.

Bagian luar periplasma adalah membran luar. Permukaan bagian dalam dari membran luar terbuat dari
fosfolipid seperti membran sel. Permukaan luar dari membran luar memiliki komposisi yang berbeda. Alih-alih
menjadi fosfolipid, setengah membran ini terdiri dari lipopolisakarida (LPS) yang melekat pada molekul lipid.
Jika bakteri Gram-negatif meninggal, LPS dilepaskan dan dapat menjadi racun bagi organisme tuan rumah.

Sepanjang membran luar adalah porins. Protein ini membentuk pori-pori di membran luar yang memungkinkan
molekul kecil, hidrofilik seperti gula dan asam amino ke dalam ruang periplasma tapi tetap lebih besar, molekul
hidrofobik keluar. Pewarna, antimikroba, dan disinfektan sering dicegah masuk ke sel dengan porins ini.

Hal penting terakhir yang perlu diingat tentang bakteri Gram-negatif adalah bahwa mereka dianggap bakteri
bermenbran ganda, dengan membran luar selain membran sel biasa. Bakteri Gram-positif hanya memiliki
membran sel.

Ringkasan artikel

Kita telah belajar bahwa hampir semua bakteri memiliki dinding sel. Fungsi utama dari dinding sel adalah
untuk menjaga bentuk dan integritas sel dalam menghadapi tekanan osmotik yang tinggi. Hasil tekanan dari
konsentrasi tinggi molekul terlarut dalam sel relatif terhadap lingkungan.

Selain mencegah sel dari pecah, dinding sel juga berpori, sehingga transportasi nutrisi dan limbah dapat
masuk dan keluar dari sel.

Kekuatan dan porositas dinding sel adalah hasil dari peptidoglikan. molekul NAG dan NAM dihubungkan oleh
peptida membentuk pola crosshatch, menyerupai pagar kawat.

Jika bakteri memiliki dinding tebal memiliki banyak lapisan peptidoglikan, bakteri Gram-positif. Sepanjang
dinding sel adalah asam teikoik yang memfasilitasi perpindahan ion.

Jika bakteri memiliki dinding sel tipis hanya satu atau dua lapisan peptidoglikan dikelilingi oleh, membran luar
kedua, adalah Gram-negatif. Bakteri bermembran ganda memiliki porins dan lipopolisakarida pada membran
luar mereka.

Struktur bakteri secara umum terdidri dari dinding sel yang tersusun atas peptidoglikan yang mengandung
protein dan polisakarida. Struktur yang tersusun pada peptidoglikan mengidentifikasikan golongan bakteri
dalam reaksi terhadap pewarnaan gram. Reaksi yang menimbulkan warna violet menandakan bakteri garam
positif, sedangkan hasil akhir yang mengeluarkan warna merah pada dinding sel menandakan bakteri garm
negativf. Dinding sel berfungsi melindungi kerusakan sel dari lingkungan bertekanan osmotik rendah dan
memelihara bentuk sel. Hal ini dapat diperlihatkan melalui plasmolisis, dengan mengisolasi partikel selubung
sel setelah sel bakteri mengalami kerusakan secara mekanik, atau dengan penghancuran oleh lisozim. Lisozim
bekerja dengan memecah ikatan mukopetida dinding sel dalam lingkungan hipertonik. Lisozim bekerja setelah
seluhruh sel atau selubung sel diisolasi, kemudian partikel dinding sel bakteri dapat lisis dengan perlakuan
lisozim dan membentuk protoplast. Sesuai dengan pendapat (benians, 1920), dinding sel terlibat dalam
beberapa cara yang pemecahan sesuai dengan kemampuanya. Lisozim sebagai pemanas (webb, 1948) atau
pembentukan protoplasma (gerhart, vennes dan britt, 1996). Betuk protoplasma terdiri dari membrane
sitoplasma dan isinya (Dwijoseputro, 1986) Dinding sel bakteri mempunyai hubungan yang kuat dengan
keluarga karbohidrat yaitu techoic acid. Techoic acid tersusun atas glycerol, phospoat dan robitol (gula
alcohol). Teichoic acid adalah kelompok polifosfat, terdapat didalam dinding sel dan juga pada membrane
sitoplasma. Teichoic acid didalam dinding sel kurang lebih 2050% berat kering dinding sel. Dinding sel gram
positif yang dikelilingi oleh lapisan teichoic acid yang berikatan covalent dengan peptidoglikan masih dalam
penggalian lebih lanjut tentang perananya sebagai komponen dinding sel.

Teichoic acid dengan muramic acid terikat dalam rantai glycan peptidoglikan. Seiring dengan peptidoglikan,
teichoic acid membentuk gel polyanionic yang memiliki peran yang luas jangkauannya mulai dari
mempertahankan homeostasis kation logam berfungsi sebagai gatekeeper untuk aliran ion, nutrisi, dan protein
ke dan dari membran sitoplasma. Dengan demikian, molekul ini tampaknya penting untuk pembentukan zona
penyangga antara lingkungan eksternal dan membran sitoplasma. Sesuai dengan pendapat (Baddiley, ), salah
satu dari fungsi teichoic acid adalah sebagai penyeimabang kation. Teichoic acid pada dinding mengikat kation
dan ikatan ini penting dalam pemeliharaan keseimbangan kosentrasi kation pada daerah membrane.
Keseimbangan dijaga untuk menunjang aktivitas yang optimal. Teichoic acid, yang membentuk sekitar 50%
dari bahan dinding sel, untuk mengendalikan muatan permukaan secara keseluruhan, mempengaruhi aktivitas
peptidoglikan hidrolase, perlawanan untuk peptida antibakteri. Kedua molekul ini dipolimerisasi pada
permukaan membran sitoplasma, prekursor mereka berkumpul di sitoplasma.

Sebagai intrinsik molekul polyanionic, teichoic acid adalah target untuk kebanyakan antibiotik peptida
kationik yang dihasilkan oleh berbagai sel kekebalan beberapa spesies bakteri. Namun, fungsi utamanya
berada dalam kontrol intrinsik hidrolisis peptidoglikan dihasilkan selama metabolisme sel normal. sasaran
hidrolase peptidoglikan adalah mengikat serta regulator aktivitas teichoic acid

Membran rantai asam lipoteichoic Penambahan techoic acid dengan d-alanin telah terbukti penting dalam
menjalankan perananya. Pengaruh kandungan ester d-Ala juga diamati dalam berbagai spesies bakteri lainnya
termasuk S. aureus, Lactococcus lactis, dan Lactobacillus plantarum. Konsekuensi lainnya dari deplesi d-Ala
meliputi peningkatan kerentanan terhadap berbagai senyawa antimikroba yang berbeda, penurunan
kelangsungan hidup dalam neutrofil, penurunan virulensi , penurunan invasi sel epitel, dan penurunan
pembentukan biofilm. Semua efek ini mungkin menjadi akibat dari muatan permukaan yang lebih positif dari
bakteri sebagai konsekuensi dari alanylation d.

Modifikasi teichoic acid dalam dinding sel untuk tujuan pengendalian kegiatan hidrolase peptidoglikan bakteri
gram positif. Selain d-Ala dan modifikasi kolin, teichoic acid dari roseoflavus Streptomyces bias juga diganti
dengan l-lisin. Studi dengan Bacillus anthracis juga menunjukkan bahwa karbohidrat yang tidak ditentukan
(techoic acid) di dalam dinding sel ikut pada modifikasi piruvat, yang penting dalam mengikat protein S-layer.
Seperti hidrolisis peptidoglikan, protein ini mengandung S-lapisan (SLH) domain, yang diperlukan untuk
dinding sel. Menariknya, banyak dari protein lain yang ditemukan mengandung SLH domain dalam hidrolisis
peptidoglikan, menunjukkan bahwa mereka juga mengakui dan mengikat karbohidrat ini pyruvylated.

Gambar aktivitas peptidoglikan. Penurunan pH lokal di dalam dinding sel. PH asam ini menekan aktivitas
hidrolisis murein terkait dengan techoic acid (hijau) dan asam lipoteichoic (merah) dengan mempromosikan
protonasi hubungan ester d-Ala (+ tanda).

MUATAN DINDING SEL BAKTERI

Permukaan luar bakteri gram negatif berisi lipopolysakarida dan Baktria gram positif mengandung
polysaccharida asam. Lebih lanjut, fosfolipid dalam membran bakteri gram negatif dan membran tunggal
bakteri gram positif bermuatan negatif yang didominasi dari phosphatidylglycerol (PG) dan
phosphatidylethanolamine (PE). selain itu, bacteriahave gram negatif lebih tipis dinding sel lapisan
peptidoglikan dibandingkan dengan bakteri gram positif. Disamping itu distribusi fosfolipid juga mengandung
sejumlah besar asam sialic sangat bermuatan negatif.

Turbidimeter merupakan sifat optik akibat dispersi sinar dan dapat dinyatakan sebagai perbandingan cahaya
yang dipantulkan terhadap cahaya yang dating. Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi merupakan fungsi
konsentrasi jika kondisi-kondisi lainnya konstan. Turbidimeter merupakan salah satu alat yang berfungsi untuk
mengetahui atau mengukur tingkat kekeruhan air dalam sampel. Jenis jenis turbidimeter antara lain berbentuk bench
top, on-line instruments dan portable. Pada bagian alat turbidimeter yaitu terdiri dari tombol standar angka kekeruhan,
tempat sampel (untuk meletakkan botol sampel yang berisi sampel), tombol zero, tombol test, tombol Kal (untuk
mengakses kalibrasi modus dan tetap aktif selama kalibrasi), display, botol standar, dan botol sampel.

Prinsip umum dari alat turbidimeter adalah sinar yang datang mengenai suatu partikel ada yang diteruskan dan
ada yang dipantulkan, maka sinar yang diteruskan digunakan sebagai dasar pengukuran. Alat akan memancarkan cahaya
pada media atau sampel, dan cahaya tersebut akan diserap, dipantulkan atau menembus media tersebut. Cahaya yang
menembus media akan diukur dan ditransfer ke dalam bentuk angka. Berikut tahapan cara mengoperasionalkan alat
turbidimeter:
Botol sampel di lap dengan kain lembut untuk membersihkan.
Tekan tombol I/O. instrument akan terbuka kemudian tempatkan instrument pada suatu permukaan datar(kokoh)
dan jangan memegang instrument ketika sedang melakukan pengukuran.
Masukkan cell sampel dalam ruang cell dengan mengorientasikan tanda garis pada bagian depan ruang cell.
Pilih daerah/range secara manual atau otomatis dengan menekan tombol RANGE.
Memilih mode sinyal rata-rata dengan menekan tombol SIGNAL AVERAGE. Dan monitor akan menunjukkan
SIG AVG ketika instrument sedang menggunkan mode sinyal rata-rata.
Tekan READ. Monitor akan menunjukkan NTU, kemudian angka turbiditas akan muncul dalam NTU. Catat
angka turbiditas setelah symbol lampu padam.
Adapun prosedur kalibrasi alat, harus dilakukan pemanasan selama 30 menit dengan memperhatikan beberapa tahap, yaitu
Tidak boleh memegang tempat sampel secara langsung, agar tidak ada sidik jari yang menempel.
Gunakan alkohol dan kain halus untuk membersihkan bagian luar kuvet.
Diletakkan di tempat yang rata, jangan diletakkan di tempat yang miring.
Setiap hari kalau perlu, dibersihkan dari debu.
Sebelum turbidimeter digunakan untuk menentukan tingkat kekeruhan dari sampel, terlebih dahulu turbidimeter
dikalibrasi dengan menggunakan sampel standar dari turbiditans / kekeruhan 0,01 NTU sampai 7500 NTU. Hal ini
dilakukan untuk menstandarkan kembali alat tersebut.

turbidity meter hach,turbidity meter online,turbidity meter hanna,turbidity meter adalah,


turbidity meter lutron tu 2016,jual turbidity meter,harga turbidity meter,turbidity meter hach 2100n,
turbidity meter jakarta,jual turbidity meter lutron,jual turbidity meter hach,harga turbidity meter hach,
harga turbidity meter hanna,jual turbidity meter murah,harga portable turbidity meter,harga alat turbidity meter ,daftar
harga turbidity meter,turbidity meter merck,turbidity meter lutron,harga portable turbidity meter
NEPHELOMETRIC TURBIDITY UNIT (NTU)

Air dikatakan keruh apabila air tersebut mengandung begitu banyak partikel bahan yang
tersuspensi sehingga memberikan warna/rupa yang berlumpur dan kotor. Bahan-bahan yang menyebabkan
kekeruhan meliputi lumpur, bahan-bahan organik yang tersebut secara baik dan partikel-partikel yang
tersuspensi lainnya.

Nephelometer adalah suatu alat untuk mengukur kekeruhan yang memberikan hasil
dalam satuan Nephelometric Turbidity Unit (NTUs). NTUs adalah satuan standar untuk mengukur
kekeruhan. Pada nephelometri dan turbidimetri, sumber cahaya diproyeksikan melalui sampel
cairan yang disimpan dalam wadah sampel transparan. Umumnya, nephelometri menggunakan
sumber cahaya yang memiliki panjang gelombang relatif singkat (misalnya, 500 nm-800 nm) dan
efektif digunakan untuk mendeteksi partikel dengan ukuran sangat kecil. Sedangkan,
turbidimetri umumnya menggunakan sumber cahaya yang memiliki panjang gelombang lebih
panjang (misalnya, 800 nm-1100 nm) dan efektif digunakan untuk mendeteksi partikel dengan
ukuran yang lebih besar. Jika seberkas cahaya dilewatkan melalui sampel keruh, intensitasnya
dikurangi dengan hamburan, dan jumlah cahaya yang tersebar tergantung pada konsentrasi dan
distribusi ukuran partikel. Dalam nephelometri intensitas cahaya yang tersebar diukur,
sedangkan dalam turbidimetri, intensitas cahaya yang ditransmisikan melalui sampel diukur.

Sumber: http://utarisumadewi86.blogspot.com/2012/01/nephelometer.html

Turbidity atau kekeruhan air dapat disebabkan oleh clay pasir, zat organik dan anorganik yang
halus, plankton dan mikroorganisme lainnya. Standar kekeruhan air ditetapkan antara 5-25 NTU
(Nephelometric Turbidity Unit) dan bila melebihi batas yang telah ditetapkan akan menyebabkan :

1. Mengganggu estetika

2. Mengurangi efekifitas desinfeksi air

Ada beberapa metode pengukuran kekeruhan yaitu :

1. Nephelometric method, nephelometric turbidity unit prinsip kekeruhan air dengan cara ini adalah
didasarkan pada perbandingan intensitas cahaya yang disebabkan oleh suatu larutan standard dalam kondisi
sama, semakin tinggi intensitas yang terserap makin tinggi kekeruhan alat yang digunakan beberapa turbidi
meter sampel tube.

2. Visual method, Jakson Turbidity Unit. Yang dimaksud dengan visual method adalah pengukuran
kekeruhan air dengan menggunakan cadle turbidi meter. prinsip pengukuran adalah didasarkan pada
panjangnya cahaya melalui suatu susspensi yang dihitung tepat pada saat bayangan nyala lilin (candle) hilang.
Makin panjang jalan candle turbidimeter, botol untuk membandingkan kekeruhan secara visual.

3. Turbiditer holigne, digunakan untuk mengukur kekeruhan 0-15 unit. Prinsip kerjanya adalah penerangan
efek tundal dalam penyusunan sumber cahaya terhadap sampel air. Dalam hal ini tidak digunakan suspensi
standar.