Anda di halaman 1dari 32

1

Jabaran Skenario
Seorang nenek berusia 64 tahun, diajak untuk kegiatan sosial, namun merasa tidak percaya
diri, merasa lebih tua dari teman-teman sebayanya karena penampilan gigi geliginya. Beliau
datang memeriksakan gigi disertai kedua cucunya. Cucu pertama, perempuan 12 tahun,
dengan keluhan gigi depan maju, sehingga sulit menutup mulut dan sering diejek temannya.
Sedangkan cucu kedua, 3 tahun belum mau membuka mulutnya untuk diperiksa giginya
karena takut. Dokter gigi berusaha mencari cara pendekatan bagi masing-masing pasien
tersebut.

2
Sasaran Belajar

1. Tumbuh kembang psikososial anak, remaja dan lansia


a) Pengertian psikososial anak, remaja, dewasa dan lansia
b) Klasifikasi tingkah laku anak menurut Frankle dan Wright
c) Tahap perkembangan emosional dan kognitif remaja, dewasa (menurut Erickson) dan
lansia
d) Pola tingkah laku anak sesuai usia dalam tumbuh kembang psikososial

2. Masalah tumbuh kembang psikosial anak, remaja, dewasa dan lansia


a) Takut dan cemas dalam bidang psikologi (definisi, etiologi, faktor risiko)
b) Masalah psikososial akibat persepsi yang timbul karena kelainan tumbuh kembang
orokraniofasial

3. Pengelolaan psikososial farmakoterapi dan non farmakoterapi


a) KIE (segitiga perawatan anak dan komunikasi efektif remaja, dewasa, serta lansia)
b) Macam-macam teknik pendekatan anak dalam perawatan gigi
c) Berbagai teknik pendekatan tingkah laku anak dalam perawatan gigi mulut
(farmakologi, sedasi dan hipnosis)
d) Proses pembelajaran yang dapat mengubah perilaku manusia dalam menunjang
perawatan ortodontik

3
1. TUMBUH KEMBANG PSIKOSOSIAL ANAK, REMAJA DAN
LANSIA

A. PENGERTIAN PSIKOSOSIAL ANAK, REMAJA, DEWASA DAN


LANSIA
Dibuat oleh Qurrotul Aini

Referensi:
Erik Erikson by Saul McLeod published 2008, updated 2017 accessed from
https://www.simplypsychology.org/Erik-Erikson.html

Menurut Erickson (1902-1994), Psikososial terdiri dari kata psikologi dan sosial.
Psikologi : ilmu yang mempelajari perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah.
Sosial : ilmu tentang hubungan manusia.
Jadi, psikososial adalah hubungan antara kondisi sosial sesorang dengan kesehatan mental
atau emosionalnya.

Pembagian umur menurut Erikson :

0-1 tahun : bayi (infant)

1-3 tahun : early childhood

3-5 tahun : prasekolah

5-12 tahun : masa sekolah

12-18 tahun : remaja

18-40 tahun : dewasa muda

40-65 tahun : dewasa tengah (40-60 tahun untuk di Indonesia)

> 65 tahun : usia lanjut (>60 tahun untuk di Indonesia)

Lansia : Kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap
dalam jangka waktu beberapa dekade (Notoadmojo, 2010)

Geriatri : Pasien berusia lanjut (untuk Indonesia saat ini adalah mereka yang berusia 60 tahun
ke atas) dengan beberapa masalah kesehatan (multipatologi) akibat gangguan fungsi
jasmani dan rohani, dan atau kondisi sosial yang bermasalah (www.rscm.co.id)

4
B. KLASIFIKASI TINGKAH LAKU ANAK MENURUT FRANKLE DAN
WRIGHT
Dibuat oleh Qurrotul Aini

Referensi:
Gerald Z Wright. Behavioural Management in Dentistry for Children. Philadelphia-London-
Toronto: WB Saunders Co; 1975.

Faktor yang mempengaruhi tingkah laku anak :


- Sistemik (penyakit/sindroma)
- Lokal (lingkungan)

Rating Scale Behavioral (Frankle)

Definitely negative (Rating 1) Negative (Rating 2)

Menolak perawatan Enggan dirawat

Menangis terus Takut (cemberut, malu-malu, merengek)

Menarik atau mengisolasi diri Tidak kooperatif

Menunjukan bahwa ia sangat ketakutan

Positive (Rating 3) Definitely positive (Rating 4)

Menerima perawatan dengan keraguan Menerima perawatan


dan kewaspadaan
Tidak takut
Segan bertanya
Tertarik dengan prosedur
Mengikuti instruksi namun dengan syarat
tertentu Banyak bertanya

Mengerti pentingnya tindakan preventif

Klasifikasi Frank dapat berubah seiring dengan pendekatan yang dilakukan oleh dokter gigi.
Bila pendekatan yang dilakukan tepat sasaran, maka perilaku anak dapat berubah dari
sangat negatif menjadi sangat positif. Pendekatan yang dilakukan harus menggunakan teknik
T-S-D yaitu teknik Tell-Show-Do. Teknik ini memberikan anak informasi apa yang akan
dilakukan dokter gigi pada rongga mulutnya. Dengan membiarkan anak tahu apa yang akan
dilakukan pada rongga mulutnya, maka anak akan menerima dengan baik.

5
Behavioral (Wright)

Kooperatif Kurang Kooperatif Berpotensi Kooperatif

Anak terlihat santai dan Pasien umumnya berusia Memiliki kemampuan/


rileks < 3 tahun/pasien dengan berpotensi untuk jadi
disabilitas kooperatif
Antusias menerima
perawatan Tidak dapat memahami Tingkah laku dapat
komunikasi dengan baik diubah menjadi
Tidak mengalami kooperatif dengan
kesulitan pendekatan Masih dapat dilakukan penanganan yang tepat
tingkah laku perawatan

Dapat ditangani secara Diperlukan teknik


langsung pengelolaan tingkah laku
secara khusus.

Tipe perilaku yang berpotensi kooperatif


Uncontrolled Behavior : pada anak usia 3-6 tahun saat pertama berkunjung ke dokter gigi.
Reaksi berupa kemarahan dengan ciri menangis keras; memukul badan, tangan, kaki.

Challenging Behavior : pada anak segala usia, spesifiknya usia sekolah dengan ciri keras
kepala, self-esteem sangat kuat, mengekspresikan ketidaksetujuan.

Timid Behavior : bersifat cemas, sulit diberi perawatan jadi harus perlahan dan meningkatkan
kepercayaan diri anak, introvert, tidak selalu mendengar petunjuk sehingga petunjuk oleh
dokter gigi harus sering diulang supaya dapat dimengerti.

Tense-Cooperate Behavior (Tegang) : ambang batas antara perilaku positif-negatif dengan


ciri mau menerima perawatan, tidak menunjukan perilaku yang mengarah pada kekerasan,
kelompok cemas-tertutup, bukan pemalu tapi sangat tegang.

Crying & Whining Behavior : pasien menangis sebagai manifestasi stress di lingkungan klinik
gigi dengan ciri menangis sepanjang perawatan, memperbolehkan dilakukan perawatan
namun sambil merengek.

Passive Resistance Behavior : pada remaja dengan ciri kepasifan pasien ketika dokter gigi
mencoba melibatkannya dalam prosedur perawatan yang mengarah pada kegagalan
komunikasi, pasien menggertakan gigi sebagai tanda penolakan saat dilakukan pemeriksaan
intraoral, menghindari kontak mata dengan dokter gigi.

6
C. TAHAP PERKEMBANGAN EMOSIONAL DAN KOGNITIF REMAJA,
DEWASA (MENURUT ERICKSON) DAN LANSIA
Dibuat oleh Ratu Nabila Larasati

Referensi :
Papas A., Niessen L.C. , Chauncey H.H. , Geriatric Dentistry, Aging and Oral Health.
Mosby Year Book. 1991
https://www.simplypsychology.org/Erik-Erikson.html

Perkembangan Emosional

Stage Psychosocial Crisis Basic Virtue Tingkatan Age


(hal yang
secara alamiah
diinginkan oleh
individu)
I Basic Trust vs mistrust Harapan Bayi baru lahir 0 - 1,5 tahun
(Perkembangan rasa
percaya yang mendasar)

Seorang anak
mengembangkan rasa
percaya ketika interaksi
penuh dengan afeksi dan
kepedulian. Kurangnya hal
ini akan menimbulkan rasa
tidak percaya.

II Autonomy vs shame and Keinginan Balita 1,5 3 tahun


doubt

Seorang anak
mengembangkan perasaan
kontrol personal atas
kemampuan fisik dan
perasaan independen. Fase
ini adalah fase krusial di
mana orang tua harus bisa
mengizinkan anak
mengeksplorasi limitasi
kemampuan mereka pada
lingkungan yang toleran
terhadap kegagalan.
Keberhasilan pengarahan

7
ini akan menimbulkan
autonomy, begitu juga
sebaliknya kegagalan akan
menimbulkan malu dan
keraguan.

Stage Psychosocial Crisis Basic Virtue Tingkatan Age


III Initiative vs guilt Tujuan Balita 3 - 6 tahun

Anak mulai merasa adanya


kontrol atas lingkungan
mereka dari merencanakan
kegiatan, menyelesaikan
tugas dan menghadapi
tantangan. Kesuksesan akan
membawa pada perasaan
adanya tujuan.

IV Industry vs inferiority Kompetensi Anak sekolah 7 - 11 tahun


(kemampuan akademik dan
sosial)

Pada tahap ini, lingkungan


pergaulan anak akan lebih
berperan besar dan
menjadi sumber terbesar
dari harga diri anak. Anak
akan mempelajari ilmu baru
dan norma sosial.

V Ego Identity vs role diffusion Kebenaran Remaja 12 - 17 tahun


(identitas pribadi pada
masa remaja)

Remaja mengeksplorasi
perannya sebagai seorang
individu, dan mencari jati
diri, serta memulai
eksperimen dengan banyak
peran, aktivitas, dan
tingkah laku. Tahap ini
adalah proses yang penting
untuk membentuk identitas
yang kuat dan
mengembangkan arah/
tujuan hidup.

8
Stage Psychosocial Crisis Basic Virtue Tingkatan Age
VI Intimacy vs isolation Cinta Dewasa muda 18 40 tahun

Pada tahap ini, konflik


berfokus pada intimasi,
mencintai, serta
menjalankan hubungan
dengan orang lain.
Kesuksesan akan membawa
pada hubungan yang kuat
dan kegagalan akan
membawa pada rasa
kesepian dan isolasi diri.

VII Generativity vs stagnation Kepedulian Dewasa akhir 40 65 tahun

Generativity berarti individu


berusaha untuk
memaksimalkan fungsi
sosialnya dengan membuat
perubahan positif atau
kreatif yang akan
menguntungkan orang lain.
Kesuksesan akan
menumbuhkan perasaan
berguna, dan kegagalan
akan membawa pada
peran minimal di dunia.

VIII Ego Integrity vs despair Bijak lansia 65 tahun ke


atas
Seseorang merefleksikan
arti kehidupan dia, apakah
seseorang merasa bahagia
atau merasakan
penyesalan yang
mendalam. Kesuksesan
akan membawa pada
perasaan bijak, dimana
kegagalan akan membawa
pada rasa penyesalan,
kepahitan hidup, dan
kesedihan.

9
Perkembangan Kognitif Menurut Piagetd Formula

Fase sensorimotor (Lahir - 2 tahun)


Anak sudah mengetahui objek atau benda (permanensi objek).

Fase preoperational thought (2-7 tahun)


Anak mulai mengerti output atau keluaran sebagai akibat dari suatu perbuatan. Bahasa
menjadi suatu instrumen penting dalam memulai komunikasi dan menjalin hubungan sosial
awal pada anak. Pola pikir belum berkembang dengan baik sehingga anak cenderung
menjadi egosentris.

Fase concrete operational (7-11 tahun)


Usia sekolah. Pola pikir anak sudah berkembang. Mulai mengerti akan sudut pandang orang
lain (menghargai pendapat) namun belum bisa melakukan pemikiran abstrak secara luas.

Fase concrete operational terdiri dari 6 tahapan, antara lain:


1. Pengurutan: kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri
lainnya.
2. Klasifikasi: kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda
menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain.
3. Decentering: mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa
memecahkannya.
4. Reversibility: memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian
kembali ke keadaan awal.
5. Konservasi: memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah
tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda
tersebut.
6. Penghilangan sifat egosentrisme: kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang
orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).

Fase formal operational (11 tahun-Dewasa)


Transisi menuju berpikir dewasa. Biasanya pemikiran sudah sangat luas dan sudah
menggunakan pemikiran abstrak logis dengan melihat banyak probabilitas.

10
D. POLA TINGKAH LAKU ANAK SESUAI USIA DALAM TUMBUH
KEMBANG PSIKOSOSIAL
Dibuat oleh Ratu Nabila Larasati

Referensi :
Gerald Z Wright. Behavioural Management in Dentistry for Children. Philadelphia-London-
Toronto: WB Saunders Co; 1975.

Physical Development
Terjadi perubahan ukuran tubuh, kekuatan, koordinasi motorik, stamina dan kemampuan
atletis anak.
Terjadi pertumbuhan dan perubahan fungsi seluruh sistem tubuh (sirkulasi, syaraf,
pencernaan, reproduksi)
Hubungan antara umur dentalis dan maturasi fisik tinggi, berat badan dan ukuran
thoraks berkorelasi dengan jumlah gigi permanen yang sudah erupsi (Zannini, 1964)
Hubungan antara umur dentalis dan umur skeletal/tulang berhubungan dengan
perkembangan fisik dan umur.

11
Social Development
Anak-anak berkembang menjadi lebih mampu peduli terhadap diri sendiri dan
lingkungan.
Terjadi perubahan dari functional dependency menjadi functional autonomy.
Anak menjadi lebih mandiri, dapat bertahan hidup (survival)
Terjadi peningkatan kemampuan anak baik dalam kemampuan relasi interpersonal
maupun kemampuan independen fungsional.

12
Intellectual Development
Untuk mengukur perkembangan intelektual seseorang, digunakan konsep IQ (Intellegence
Quotient).
Subjek akan diberikan serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan kemampuan
memori, abstrak, dan numerik.

2. MASALAH TUMBUH KEMBANG PSIKOSOSIAL ANAK,


REMAJA, DEWASA, DAN LANSIA
Dibuat oleh Rigita Ayu Dyah Prawestiningrum

A. TAKUT DAN CEMAS DALAM BIDANG PSIKOLOGI (DEFINISI,


ETIOLOGI, FAKTOR RISIKO)
Sumber:
1. Steimer T. The Biology of Fear and Anxiety Related Behaviors. Dialogues Clin
Neurosci. 2002 Sep; 4(3):231-49.
(https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3181681/)
2. G K, Polsen S. Pediatric Dentistry A clinical Approach. 2009. 378 p.

13
Takut dan cemas merupakan suatu aksi nyata manusia dalam menghadapi suatu ancaman,
bahaya, konflik motivasional; untuk memicu suatu respon adaptif.1

Cemas merupakan suatu respon umum terhadap ancaman yang tidak diketahui atau konflik
internal yang hanya dapat dipahami dengan memperhatikan beberapa aspek kognitif di
mana stimulus dari rasa cemas biasanya tidak diketahui, tidak nyata dan bersifat subjektif.
Kecemasan sering disebabkan oleh sesuatu yang sebenarnya belum atau tidak terjadi.1
Cemas sendiri menurut Weiner dan Sheehan (1990) dalam kaitannya dengan dentally anxious
individual dikelompokkan menjadi:
Eksogen, adalah kecemasan yang timbul akibat pengalaman traumatik dental atau
pengalaman orang lain
Endogen, adalah kecemasan yang berasal dari suatu kelainan dan ditandai dengan
keadaan cemas pada umumnya, beberapa ketakutan berlebih, dan kelainan emosi.
Takut merupakan suatu respon terhadap bahaya eksternal yang diketahui, di mana
stimulusnya berupa objek yang diketahui, nyata, dan bersifat objektif. Pada praktiknya nanti,
seorang dokter gigi mungkin akan menghadapi pasien dengan rasa takut, yang digolongkan
menjadi1:
Dental fears with experience
Dental fears with unrelated experience
Perbedaan
Dental Fear Dental Anxiety Odontophobia
Berhubungan dengan Tidak terikat pada Tipe severe dari dental anxiety
objek spesifik suatu objek
Mempresentasikan Stimulus tidak spesifik
Dikarakteristikan dengan rasa
reaksi terhadap
takut yang bertahan akan objek
stimulus mengancam
atau situasi yang jelas dapat
eksternal yang spesifik
terlihat
Reaksi emosi normal Menunjukkan stase
Berakibat pada orang sehingga
terhadap stimulus dimana seseorang
menghindari perawatan dental
mengancam pada mempersiapkan
yang diperlukan atau menjalani
situasi perawatan sesuatu yang akan
perawatan dengan rasa takut
dental terjadi
Secara signifikan mengganggu
Diasosiasikan dengan
rutinitas sehari-hari dan kehidupan
kondisi abnormal
sosial
G K, Polsen S. Pediatric Dentistry A clinical Approach. 2009. 378 p.

14
Dental Behavior Management Problems Didefinisikan sebagai perilaku tidak kooperatif dan
mengganggu yang berakibat pada penundaan perawatan.2

Terdapat beberapa faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya rasa cemas dan takut pada
seorang individu, di antaranya2:

Faktor Pribadi
Usia. Berdasarkan pengetahuan dan kemampuan memahami, anak usia muda lebih
berpotensi takut daripada anak usia yang lebih tua.
Tempramen. Merupakan kualitas emosional personal yang sifatnya bawaan dan
cenderung stabil.
Gangguan psikiatri. Perilaku yang tidak kooperatif pada situasi perawatan dental
dapat terjadi karena adanya psychiatric disorder seperti Attention Deficit Hyperactivity
Disorder (ADHD), autism atau intellectual disability. Menurut penelitian, 5% anak yang takut
mengalami ADHD.

Faktor Eksternal
Kecemasan orangtua. Orang tua dengan kecemasan terhadap perawatan dental
cenderung memiliki anak yang cemas pula.
Pengalaman orang lain yang diceritakan

Faktor Perawatan Gigi


Pengalaman perawatan gigi yang buruk
Kemampuan komunikasi tim dental

15
B. MASALAH PSIKOSOSIAL AKIBAT PERSEPSI YANG TIMBUL
KARENA KELAINAN TUMBUH KEMBANG OROKRANIOFASIAL
(OKF)
Sumber: Proffit WR. Contemporary Orthodontics. 5th ed. 2013, 11-14 p.

Masalah dalam kedokteran gigi dapat dibagi menjadi dua, yaitu masalah patologis dan
masalah perkembangan OKF (orthodontic). Kelainan tumbuh kembang OKF dapat
berpengaruh pada:
Penampilan wajah
Penampilan gigi

Seseorang dengan kelainan tumbuh kembang OKF biasanya cenderung memiliki karakteristik:
Merasa cemas dan tidak percaya diri karena penampilannya yang kurang menarik
Kemampuan adaptif atau bersosialisasi yang kurang karena self-esteem yang rendah
Emosi yang mudah meledak karena terus menerus berpikiran negatif mengenai dirinya
Mempengaruhi kesehatan mental yang mengarah pada gangguan mental, apabila sudah
tidak bisa menerima semuanya
Kelainan tumbuh kembang OKF sangat mempengaruhi psikososial seseorang. Hal ini karena
seseorang dengan kelainan tersebut terkadang diperlakukan dan dipandang berbeda oleh
masyarakat di sekitarnya, di mana ini akan berpengaruh pula dengan bagaimana seseorang
tersebut dapat beradaptasi dalam suatu lingkungan masyarakat.

3. PENGELOLAAN PSIKOSOSIAL FARMAKOTERAPI DAN NON


FARMAKOTERAPI

A. KIE (SEGITIGA PERAWATAN ANAK DAN KOMUNIKASI EFEKTIF


REMAJA, DEWASA, SERTA LANSIA)
Dibuat oleh Sabila Madeina

Referensi:
McDonald, RE, et al. Dentistry for the Child and Adolescent. Ed. ke-8. St. Louis: Mosby,
2000
AAPD. Guideline on Behavior Guidance for the Pediatric Dental Patient. Pediatr Dent
2011;34(6):170-82

Perawatan pada dewasa membutuhkan one-to-one


relationship, yaitu dokter gigi-pasien. Sedangkan perawatan
pada anak membutuhkan one-to-two relationship antara
dokter gigi, pasien anak, dan orang tua atau walinya.
Terdapat ilustrasi pediatric dentistry treatment triangle, dimana
anak merupakan fokus utama dari segitiga sekaligus fokus
dari keluarga dan tim dokter gigi yang merawatnya.

16
Komunikasi dengan Anak
Poin-poin dibawah ini bukanlah suatu aturan baku, melainkan panduan untuk menghadapi
pasien anak-anak. Dokter gigi harus selalu bersiap untuk improvisasi apabila terdapat situasi
berbeda terjadi.

Establishment of Communication

Melibatkan anak dalam percakapan tidak hanya membuat dokter gigi untuk memahami
pasien namun juga dapat membuat pasien dalam suasana rileks.

Establishment of the Communicator

Asisten dokter gigi dapat berbincang dengan pasien anak selama perpindahan dari
ruang tunggu ke ruang operator (dokter gigi) dan selama persiapan pasien anak di
dental unit. Ketika dokter gigi hadir, asisten dokter gigi mengambil peran pasif, karena
anak hanya dapat mendengar dari satu sumber saja pada satu waktu.

Message clarity

Pesan yang hendak disampaikan harus dapat dimengerti oleh kedua belah pihak
(transmitter dan receiver). Sering kali dokter gigi menggunakan euphemisms (kata
pengganti).

Voice control

Greenbaum et al menyatakan bahwa penggunaan kalimat komando dengan nada yang


tinggi dan tegas sebagai teknik hukuman terbukti secara ilmiah dapat menurunkan
perilaku anak yang mengganggu.

Multisensory communication

Selain berkomunikasi secara verbal, komunikasi juga dapat dilakukan secara non verbal,
contohnya adalah kontak tubuh.

17
Problem ownership

You messages dapat mengurangi hubungan antara dokter gigi dan anak, seperti
kalimat Kamu seharusnya tetap duduk dan diam!. You messages dapat diganti dengan
I messages, yaitu Saya tidak dapat memperbaiki gigimu apabila kamu tidak membuka
mulut lebar-lebar.

Active listening

Teknik ini efektif digunakan pada pasien anak yang usianya lebih dewasa. Pasien dapat
mengutarakan perasaannya dan begitu juga dengan dokter gigi.

Appropriate responses

Ketepatan respon bergantung pada seberapa dekat hubungan dengan anak, usia anak,
dan evaluasi motivasi dari perilaku anak.

Komunikasi dengan Pasien Lanjut Usia


Prinsip yang digunakan pada pasien lansia adalah:
Jangan terburu-buru dan tidak sabar

Berbicara dengan pelan dan lafalkan dengan jelas

Lakukan kontak mata dengan pasien

Gunakan kalimat yang singkat, jelas, dan tidak berbelit-belit

Hindari argumentasi negatif

Berikan kesempatan pasien untuk beristirahat

Komunikasi dengan Geriatri

Pasien dengan penurunan pendengaran :

Lakukan kontak mata dengan pasien, lafalkan pekataan dengan jelas, berbicara dengan
perlahan, pastikan kembali pasien mengerti apa yang kita ucapkan

18
Pasien dengan masalah proses mengingat :

Menyusun perkataan secara terstruktur, jangan memberikan informasi yang teralu banyak
dalam satu waktu, mengulang instruksi jika diperlukan, menuliskan instruksi, memberitahu
pendamping tentang instruksi.

Pasien dengan gangguan pengelihatan :

Tuliskan instruksi dan informasi dengan huruf yang besar, jelas dan warna yang menarik,
dituliskan dengan informasi yang singkat, padat, dan jelas.

B. MACAM-MACAM TEKNIK PENDEKATAN ANAK DALAM


PERAWATAN GIGI
Dibuat oleh Sabila Madeina

Komunikasi
Tanda keberhasilan dokter gigi mengelola pasien anak adalah kesanggupannya
berkomunikasi dengan anak dan memperoleh rasa percaya dari anak, sehingga anak
berperilaku kooperatif. Berbicara pada anak harus disesuaikan dengan tingkat
pemahamannya. Komunikasi juga dapat dilakukan secara nonverbal, contohnya dengan
melakukan kontak mata dengan anak, menjabat tangan anak, tersenyum dengan penuh
kehangatan, serta menggandeng tangan anak sebelum mendudukkannya ke kursi perawatan
gigi.

Modeling
Modeling merupakan prinsip psikologis yaitu belajar dari pengamatan model. Anak diajak
mengamati anak lain sebayanya yang sedang dirawat giginya yang berperilaku kooperatif,
baik secara langsung atau melalui film dan video demonstrasi tentang perawatan gigi. Teknik
ini sangat memberikan efek pada anak-anak yang berumur 3-5 tahun dan sangat baik
digunakan pada saat kunjungan pertama anak ke dokter gigi.

Tell-Show-Do
Tell berarti dokter gigi menjelaskan apa yang akan dilakukannya kepada anak dengan
bahasa yang bisa dimengerti oleh anak tersebut. Dapat dilakukan pengulangan agar anak
memahami dengan baik. Show berarti mendemonstrasikan kepada anak apa yang akan ia
lakukan sesuai dengan yang diterangkan sebelumnya. Do merupakan tahap akhir yang
dilakukan jika tahap show telah dapat diterima oleh anak. Pada tahap do, anak diberikan
perlakuan sesuai dengan apa yang telah diceritakan maupun ditunjukkan.

Hand Over Mouth Exercise (HOME)


Suatu teknik manajemen perilaku digunakan pada kasus yang selektif misalnya pada anak
yang agresif dan histeris yang tidak dapat ditangani secara langsung. Teknik ini juga sering
digunakan bersama teknik sedasi inhalasi. Tujuannya ialah untuk mendapatkan perhatian dari
anak sehingga komunikasi dapat dijalin dan diperoleh kerjasama dalam melakukan

19
perawatan yang aman. HOME diindikasikan untuk anak usia 3-6 tahun, dalam keadaan
sehat, dan telah dikendalikan menggunakan alternatif lain namun tetap tidak berhasil.

Distraksi
Teknik distraksi adalah suatu proses pengalihan dari fokus atau perhatian pada nyeri ke
stimulus yang lain. Distraksi digunakan untuk memusatkan perhatian anak agar menghiraukan
rasa nyeri.

Desensitasi
Desensitasi adalah metode pemberian rangsangan dan perkenalan anak pada hal yang
membuatnya takut, hingga anak tidak merasa takut atau cemas lagi. Metode ini dapat
digunakan untuk anak yang gelisah, takut, ataupun fobia pada perawatan gigi. Prinsip ini
dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh dokter gigi anak dengan semua pasien, untuk
meminimalkan kemungkinan bahwa pasien mungkin menimbulkan kecemasan.

Pengaturan Suara (Voice Control)


Nada suara dapat juga digunakan untuk mengubah perilaku anak. Perubahan nada dan
volume suara dapat digunakan untuk mengkomunikasikan perasaan kepada anak. Tujuannya
adalah untuk mengontrol perilaku mengganggu dan untuk mendapatkan perhatian anak.

Behaviour shaping melalui reinforcement


Behaviour shaping merupakan pembentukan perilaku melalui langkah-langkah tertentu secara
bertahap hingga tercapai perilaku yang diinginkan. Behaviour shaping dapat di capai
dengan cara reinforcement. Reinforcement dapat diberikan secara positif, dengan apresiasi
ketika anak telah menunjukan perilaku yang baik selama perawatan gigi dilakukan.
Reinforcement negatif juga dapat diberikan dengan cara penghilangan stimulus yang tidak
disenangi anak.

Restraint
Restraint merupakan tindakan melimitasi gerakan tubuh anak secara fisik untuk memfasilitasi
prosedur perawatan gigi dan mengurangi kemungkinan terjadinya cedera pada anak dan
dokter gigi. Berbagai macam teknik telah digunakan dahulu, dengan memegang kepala anak
hingga melakukan wrapping pada anak. Sekarang, banyak orang tua yang melihatnya
sebagai salah satu metode manajemen pasien yang tidak menguntungkan.

20
C. BERBAGAI TEKNIK PENDEKATAN TINGKAH LAKU ANAK DALAM
PERAWATAN GIGI MULUT (FARMAKOLOGI, SEDASI, DAN
HIPNOSIS)
Dibuat oleh Sarah Putri Abellysa

Sedasi

Definisi
Sedasi merupakan penanganan tingkah laku secara farmakologi dengan cara
pemberian agen atau kombinasi agen yang menyebabkan perubahan tingkat
kesadaran, kognitif, koordinasi motorik, kecemasan, dan parameter-parameter fisiologis.
Pasien yang diberikan sedasi masih dalam kondisi sadar.

Tujuan pemeberian sedasi pada anak-anak


Memfasilitasi perawatan yang berkualitas
Meminimaliasasi perilaku buruk yang ekstrem
Meningkatkan respon fisiologis positif terhadap perawatan
Meningkatkan kenyamanan dan keamanan pasien
Mengembalikan pasien ke kondisi fisiologis yang aman

Syarat penggunaan sedasi


Operator harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai agen yang akan
digunakan dan telah terlatih secara formal untuk mengadministrasikan agen
tersebut.
Penggunaan sedatif harus direncanakan dengan matang dan didokumentasikan
jenis agen, dosis, tanda vital pasien, efek samping.
Pasien harus dievaluasi dengan hati-hati dari waktu onset agen sampai pulih kembali
untuk memastikan bahwa tidak ada kondisi yang dapat mengubah respon yang
diharapkan terhadap agen sedatif yang dapat membahayakan pasien
Harus ada informed consent yang ditandatangani oleh orang tua/wali
Fasilitas klinik harus cukup nyaman dan lengkap untuk menangani kondisi gawat
darurat yang mungkin muncul

21
Level/tingkatan sedasi
Berdasarkan American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) terdapat tiga level
sedasi, yaitu:

Mild Sedation
Pasien dapat merespon secara normal pada perintah verbal, fungsi kognitif dan
koordinasi lemah, namun fungsi pernafasan dan kardiovaskular tidak terpengaruh.

Moderate sedation
Pasien tetap mampu menjaga pernapasannya sendiri dan merespon normal
terhadap rangsang fisik dan perintah verbal.

Deep sedation
Pasien tidak mudah dibangunkan, tetapi dapat merespon stimulasi verbal atau rasa
sakit yang berulang. Terdapat kemungkinan pasien kehilangan kemampuan untuk
bernafas sebagian atau seluruhnya.

Macam-macam golongan obat yang diberikan pada anak


Hydroxine
Dosis : Oral (1-2mg/kg) dan IM (1.1 mg/kg)
Efek samping : Mulut kering, mengantuk ekstrem, hipersensitivitas

Diazepam
Dosis : oral/rectal/parenteral/IV 0.2-0.5 mg/kg dengan dosis
maksimal tunggal 10 mg
Efek samping : iritasi vena, thrombophlebitis, apnea, ataxia, efek CNS
berkepanjangan

Promerazine
Dosis : Oral/IM: 1.1 mg/kg dengan maksimal dosis tunggal 25 mg
Efek samping : Mulut kering, pandangan kabur, penebalan bronkus, efek
piramidal

22
Meperidine
Dosis : Oral, SC, IM 1-2.2 mg/kg
Efek samping : Serangan jantung tiba-tiba pada dosis tinggi

Teknik Sedasi
Terdapat teknik-teknik sedasi yang terdiri atas :

Nitrous oxide and oxygen sedation


- Farmakokinetik : waktu onset dan pemulihannya sangat cepat dan diekskresikan
lewat paru-paru. Dapat terjadi diffusion hypoxia, yaitu nitrous oxide keluar ke alveoli
dengan cepat, sehingga O2 menjadi terlarut dalam air. Diffusion hypoxia dicegah
dengan oksigenasi pasien selama 3-5 menit setelah prosedur sedasi.
- Farmakodinamik : pada konsentrasi 30-50%, pasien rileks dan menurut pada instruksi.
Pada konsentrasi > 60%, pasien bisa mengalami diskoordinasi, ataksia (kurangnya
koordinasi pergerakan otot), pusing, dan mengantuk. Kontraindikasi untuk pasien dengan
penyakit jantung.
- Efek samping : mual, muntah dan menginduksi nyeri pada pasien otitis media akut.

Sedasi oral
Teknik ini memiliki waktu pemulihan yang lama karena proses metabolismenya lambat.

Sedasi intramuskular (IM)


Indikasi untuk pasien yang tidak dapat melakukan pengobatan melalui oral.

Sedasi submukosa
Dilakukan dengan mengendapkan obat dibawah mukosa. Obat diinjeksikan di vestibulum
bukal, di gigi M1 dan C rahang atas dan tidak disuntikkan di otot wajah dan rahang. Dipilih
obat yang tidak mengiritasi jaringan.

Sedasi intravena (IV)


Sedasi ini diindikasikan untuk praremaja dan remaja. Memiliki onset kerja obat 20-15
detik sehingga paling cepat onsetnya diantara semua teknik.

23
Agen - Agen Sedasi

- Gas : hanya 2 gas yang digunakan pada teknik sedasi sadar (conscious sedation): Nitrous
Oxide dan Oxygen
- Antihistamin
Nama Obat Dosis Efek Samping Keterangan
Hidroxyzine Oral = 1-2 mg/kg. kantuk, mulut o Sangat cepat diserap
(Atarax, IM = 1.1 mg/kg kering, dan gastrointestinal. (secara
Cistaril) hipersensitif klinis: 15-30 menit, peak
level 2 jam, durasi half-life 3
jam)

o Tidak disarankan injeksi


subkutan / IV karena
berpotensi nekrosis jaringan
dan hemolysis

Prometazine Oral 0.5-1.1 mulut kering, o Mudah diserap oral ingesti


mg/kg maks 25 mg penglihatan (onset 15-60 menit, peak 1-2
buram, hipotensi jam, durasi 4-6 jam)
ringan
o Kontraindikasi dengan anak
asma

Diphehidramine Oral, IM, IV 1.0- Koordinasi o Sangat cepat diserap


(Benadryl) 1.5 mg/kg maks 50 terganggu, gastrointestinal (efek
mg epigastrium maksimum 1 jam, durasi 4-6
distress, dan jam)
penebalan sekresi
o Metabolisme di liver dan
bronkial
ekskresi dalam 24 jam

24
- Benzodiazepine
Nama Obat Dosis Efek Samping Keterangan
Diazepam Oral=0,2-0,5 Iritasi vena, o Sangat cepat diserap
(Valium) mg/kg. thromophlebitis, gastrointestinal (peak level 2
IV= 0,25 mg/kg ataksia jam, biotransformasi obat
lambat half-life 20-50
jam)

o Memiliki 3 metabolik aktif


(salah satunya sangat
lipophilic sehingga half-life
96 jam)

o Mengandung aktivitas
anticonvulsant kuat, juga
sebagai profilaksis reaksi
bahaya obat lain, sifat
anxiolitc yang kuat

Midazolam Oral=0,25-1,0 Penekanan o Keuntungan dibanding


mg/kg, pernafasan, diazepam : lebih mudah larut
apnea, dan dalam air
IM= 0,1-0,15
hipotensi
mg/kg. o Onset 3-5 menit, pemulihan
+- 2 jam variatif, total
Dosis maksimum 10
pemulihan 6 jam
mg

25
- Benzodiazepine Antagonist
Nama Obat Dosis Efek Samping Keterangan
Flumazenil IV maksimal 1 mg Penekanan o Merupakan reseptor
pernafasan antagonist inhibit
pengikatan benzodiazepine

o Sangat efektif untuk


mengembalikan (reverse)
efek sedatif

- Sedative Hypnotics

Nama Obat Dosis Efek Samping Keterangan


Chloral Hydrate 25-50 mg/kg. Bersifat iritatif o Sering digunakan pada
Dosis maks = 1 g terhadap mukosa pasien pediatric sedation
lambung
o Onset 30-60 menit, durasi 4-
dapat
8 jam dan half-life 8-11
menyebabkan
jam, Dosis besar
mual dan pusing,
menyebabkan general
Arrhythmias (dosis
anestesi
tinggi)
o Akibat toksisitas yang tinggi,
tidak dianjurkan untuk
pasien pediatric (pediatric
disarankan total dosis 1g)

26
- Narkotik

Nama Obat Dosis Efek Samping Keterangan


Meperidine Oral=1-2,2 mg/kg Serangan jantung o Mudah larut dalam air
tetapi tidak cocok bila
digabungkan dengan obat
lain

o Melalui oral: peak effect 1


jam, durasi 4 jam, (lebih
cepat bila dengan cara
parenteral)

o Kontradiksi: pasien dengan


gangguan metabolik (pasien
gangguan hati, ginjal)

Fetanyl IM,IV,SM = 0,002- kerentanan otot o Reaksi cepat, onset 7-15


(sublimaze) 0,004 mg/kg skeletal, apnea, menit, durasi 1-2 jam
bradycardia
o Merupakan analgesik
narkotik keras

o Kontraindikasi : pasien
dibawah 2 tahun

27
- Narkotik Antagonis
Nama Obat Dosis Efek Samping Keterangan
Naloxone IV, SC, IM = Dosis Mual, muntah, o Digunakan untuk
awal 0,01 mg/kg, berkeringat, mengembalikan efek
selanjutnya diikuti hipotensi, narkotik
0,1 mg/kg tiap 2-3 hipertensi,
o Pasien butuh dipantau
menit ventricular
secara terus-menerus karena
tachycardia (fast
efek sedasi opiat lebih lama
heart rate), edem
dibandingkan dengan durasi
pulmonary
kerja narkotik antagonis

D. PROSES PEMBELAJARAN YANG DAPAT MENGUBAH PERILAKU


MANUSIA DALAM MENUNJANG PERAWATAN ORTODONTIK
Dibuat oleh Sarah Putri Abellysa

3 mekanisme berbeda yang dapat dipelajari


untuk menghasilkan respon perilaku

Classical conditioning

Operant conditioning

Observational learning/modeling

28
1. Classical Conditioning

Classical Conditioning, dilakukan dengan proses dari asosiasi satu stimulus dengan lainnya.
Untuk alasan tersebut, metode ini terkadang merujuk pada pembelajaran dengan
asosiasi/learning by association.

Contohnya adalah, dokter dan perawat


menggunakan baju seragam serba
putih/jubah putih panjang. Jika stimulus tak
terkondisi dari perawatan yang
menimbulkan rasa sakit terasosiasikan
dengan jubah putih, seorang anak mungkin
menangis dan mencoba untuk pergi saat
melihat seorang dokter/perawat
menggunakan jubah putih.

2. Operant Conditioning

Peraturan utamanya adalah jika konsekuensi dari respon yang terjadi menyenangkan
atau diinginkan, respon tersebut akan lebih sering digunakan nantinya; tetapi jika
konsekuensinya tidak menyenangkan, makan kemungkinan respon digunakan dimasa
depan akan menghilang.

29
Terdapat 4 tipe dasar dari Operant Conditioning, di samping adanya konsekuensi alami:

1. Positive Reinforcement. Jika terjadi konsekuensi yang menyenangkan setelah respon,


respon akan semakin kuat, dan perilaku yang membuat hal ini terjadi akan lebih sering
muncul kedepannya.
2. Negative Reinforcement. Melibatkan adanya konsekuensi yang tidak menyenangkan
setelah respon. Ini juga mempengaruhi respon di kedepannya. Kata negatif sebenarnya
agak kurang tepat, karena cenderung mengacu pada penghilangan stimulus yang tidak
diinginkan.
3. Omission/ Time-out. Melibatkan penghilangan stimulus menyenangkan setelah respon
tertentu.
4. Punishment. Terjadi ketika respon tidak menyenangkan muncul setelah stimulus. Ini
mengurangi kemungkinan bahwa perilaku yang mendorong hukuman akan terjadi di masa
mendatang. Hukuman, merupakan bentuk lain dari Operant Conditioning, efektif di semua
usia, tidak hanya anak- anak.

3. Observational Learning/Modeling

Ada 2 tahap dalam Observational Learning:

1. Akuisisi (mengambil alih) perilaku dengan cara mengobservasinya


2. Menampilkan/melakukan perilaku tersebut

Observational learning penting dalam manajemen perilaku dalam perawatan dental. Jika
anak kecil mengobservasi saudara yang lebih tua saat di dokter gigi (memiliki sikap baik dan
kooperatif), anak kecil tersebut akan mengimitasi hal tersebut. Jika saudara yang lebih tua
yang diobservasi mendapatkan hadiah, anak yang kecil akan mengharapkan hadiah karena
berperilaku baik. Karena orang tua merupakan role model penting bagi anak kecil, sikap ibu
saat perawatan dental biasanya mempengaruhi pendekatan terhadap anak.

Peneliti telah menunjukkan bahwa kehawatiran anak ketika perawatan dental berpengaruh
juga dari kekhawatiran ibu. Ibu yang tenang dan rileks pada waktu di dokter gigi
mengajarkan anak untuk bersikap tenang saat dilakukan perawatan dental.

30
TAMBAHAN

PENATALAKSANAAN PERAWATAN GIGI DAN MULUT PASIEN


LANSIA

4 domain kebutuhan perawatan gigi dan mulut lansia :

1. Keluhan/gejala

2. Fungsi pengunyahan dan bicara

3. Fungsi estetika

4. Psikologi, rujukan ke dokter spesialis/gigi spesialis

Hal yang perlu dipertimbangkan :

- Hubungan inter personal/empati

- Komunikasi dengan pasien dan keluarga pasien

- Sosial/tingkat pendidikan/lingkungan

- Ekonomi

- Transportasi

- Penyakit sistemik dan penggunaan obat-obatan

- Perilaku pasien

- Dukungan keluarga

31
Tahapan pelaksanaan :

1. Kegawatdaruratan

2. Perawatan dan rehabilitasi

3. Pemeliharaan dan pengawasan

32