Anda di halaman 1dari 32

PENGARUH PRESTASI BELAJAR AQIDAH AKHLAK TERHADAP

KEPRIBADIAN SISWA MTs. AL-IJTIHAD AEK NABARA TAHUN 2015

(ARTIKEL)

Artikel ini diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Naik Pangkat

Diterbitkan di Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

Tanggal 18 Juni 2015

OLEH:

RINDANG HAYATI, S.Ag.

NIP: 19720508 200501 2007

MTS AL-IJTIHAD AEK NABARA

2015
ABSTRAK

Rindang Hayati: Pengaruh Prestasi Belajar Aqidah Akhlak Terhadap

Kepribadian Siswa Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun 2015.Artikel untuk

Memenuhi Persyaratan Naik Pangkat.

Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui adakah pengaruh

prestasi belajar aqidah akhlak terhadap kepribadian siswa. Pertanyaan utama yang

ingin dijawab dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah prestasi belajar

aqidah akhlak di Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara?, (2) Bagaimanakah variasi

kepribadian di Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara? (3) Adakah pengaruh prestasi belajar

aqidah akhlak terhadap kepribadian siswa ?

Dengan menggunakan angka-angka statistik dalam menganalisa pokok

permasalahan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Prestasi belajar

aqidah akhlak siswa Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara termasuk pada kategori rendah

yaitu nilai rata-rata 75,5 dengan prosentase 85,7% (11 dari 35 siswa), (2)

Kepribadian siswa di Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara termasuk pada kategori tinggi

dengan prosentase 71,4% (24 dari 35 siswa) dan nilai intervalnya 50-54, (3) Ada

hubungan yang signifikan antara prestasi belajar dengan kepribadian siswa Mts.

Al-Ijtihad Aek Nabara.

Kata Kunci : Prestasi belajar, aqidah akhlak, dan kepribadian.


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Memiliki anak-anak yang shalih dan shalihah adalah harapan bagi setiap

orang tua, dan tentunya menjadi cita-cita terbesar bagi guru dalam melaksanakan

pembelajaran di sekolah. Harapan dan cita-cita tersebut berbenturan dengan arus

globalisasi, informasi yang tak terbendung, dan penurunan akhlak yang tidak

hanya tampak dikota-kota saja, tapi juga tampak disudut-sudut desa. Tanggung

jawab pendidikan akhlak tidak hanya menjadi milik orang tua dan guru, tapi juga

tanggung jawab negara atau pemerintah. Seperti disebutkan dalam Undang -

Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, bahwa tujuan pendidikan

nasional adalah : mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia

Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan

YME, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan

jasmani dan rokhani, berkepribadian mantap dan mandiri, serta rasa bertanggung

jawab dan rasa kemasyarakatan dan kebangsaan.

Untuk tujuan mulia tersebut, pemerintah mencantumkannya dalam UUD

1945 pasal 1 dan 2 : bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran,

dan pemerintah yang akan menyelenggarakannya. Adapun pendidikan yang

dimaksud adalah pendidikan yang dilaksanakan baik secara formal, informal

maupun non formal. Beberapa bidang pendidikan yang dilaksanakan telah

menampakan hasilnya. Terbukti dengan banyaknya anak negeri yang berprestasi


dibidang akademik, baik tingkat nasional maupun tingkat internasional.

Namun ada satu yang dirasa masih belum sesuai harapan, yaitu pendidikan

aqidah akhlak. Terbukti masih banyak praktek-praktek penyimpangan dalam

masyarakat, kurangnya pengamalan ibadah dengan ikhlas, dan terjadinya

kejahatan dalam kehidupan sehari-hari, yang pelakunya adalah anak-anak atau

remaja, yang dapat membahayakan dirinya maupun orang lain.

Prestasi belajar yang diharapkan tentunya yang bisa diterima dalam kehidupan

masyarakat (sosial), untuk itu pendidikan aqidah akhlak lebih baik sejak dini pula.

Sebagaimana pernyataan Al-Ghazali yang dikutip oleh Zaenuddin ( 1991 : 106 ),

bahwa alangkah baiknya pendidikan akhlak diberikan sejak dini karena pada masa

itulah masa yang paling tepat untuk menanamkan dasar-dasar pendidikan akhlak.

1.2.Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis mengajukan beberapa rumusan permasalahan

sehingga menarik untuk diteliti, adapun permasalahan yang dimaksud sebagai

berikut :

1. Bagaimana prestasi belajar aqidah akhlak siswa Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun

2015?

2. Bagaimana variasi kepribadian yang dihasilkan dari belajar aqidah akhlak siswa

Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun 2015?

3. Apakah prestasi belajar aqidah akhlak, mempuyai pengaruh yang signifikan

terhadap kepribadian siswa Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun 2015?


1.3.Tujuan Penelitian

Sejalan dengan permasalahan tersebut diatas, tujuan penulis mengadakan

penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana prestasi belajar aqidah akhlak siswa Mts. Al-Ijtihad

Aek Nabara Tahun 2015?

2. Untuk mengetahui variasi kepribadian siswa Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun

2015?

3. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar aqidah akhlak mempunyai pengaruh

yang signifikan terhadap kepribadian siswa Mts. Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun

2015?
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1.Prestasi Belajar

Prestasi adalah kata yang identik dengan hasil yang berarti sesuatu yang

telah dicapai atau sesuatu yang telah dilakukan. Prestasi adalah sesuatu yang

diadakan atau dibuat oleh usaha atau kegiatan yang mengerahkan tenaga, pikiran

atau badan untuk mencapai suatu maksud. (WJS. Poerwadarminta, 1976 : 348 ).

Belajar adalah proses transfer yang ditandai oleh adanya perubahan

pengetahuan, tingkah laku dan kemampuan seseorang yang relatif sebagai hasil

dari latihan dan pengalaman yang terjadi melalui aktivitas mental yang bersifat

aktif, konstruktif, komulatif dan berorientasi pada tujuan ( Fak.Tarbiyah IAIN

Walisongo Smg, 1998 : 94). Dari uraian tersebut dapat kita simpulkan prestasi

belajar adalah sesuatu yang diadakan, menggunakan tenaga pikiran untuk

memperoleh perubahan pengetahuan, tingkah laku dan kemampuan seseorang

untuk mencapai yang dimaksud/tujuan.

Jadi prestasi belajar aqidah akhlak adalah bukti keberhasilan usaha

kegiatan belajar yang dinyatakan dalam symbol, angka, huruf maupun kalimat

yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh anak dalam belajar

aqidah akhlak, yang menimbulkan perubahan pada diri individu dan bisa

direalisasikan dalam bentuk kegiatan dan amalan-amalan perbuatan dalam

kehidupan sehari-hari. Dari pengalaman tersebut kita dapat melihat prestasi dari

belajar aqidah akhlak yang telah diberikan/disampaikan.


2.2.Aqidah Akhlak

Aqidah akhlak adalah satu mata pelajaran yang masuk dalam pendidikan

agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah. Ibarat acara televisi, aqidah akhlak bukanlah

acara favorit yang banyak disukai penonton. Ibarat sinetron, aqidah akhlak

bukanlah sinetron kejar tayang yang senantiasa ditunggu kehadirannya setiap

malam oleh para penggemarnya. Aqidah akhlak juga bukan satu pelajaran

unggulan ( tiga pelajaran yang di UAN- kan ), namun sebagai muslim berbicara

tentang kebesaran Islam, tidak bisa lepas dari berbicara tentang akhlak.

Pendidikan akhlak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan agama

Islam.

1 Aqidah

Menurut bahasa aqidah berasal dari kata aqada-yaqidu aqdan atau

aqidatan yang berarti mengaitkan. Bentuk jama dari aqidah adalah aqaid yang

berarti simpulan atau ikatan iman (Abudin Nata, 1993 : 29). Dan ikatan yang

dimaksudkan adalah ikatan janji, jadi bila seseorang berjanji maka harus

menepati. Menepati janji adalah akhlak mahmudah yang harus dimiliki oleh orang

beriman.

2 Akhlak

Berasal dari kata ( alkhulq) berarti budi pekerti. Sinonimnya etika dan moral

(kebiasaan) (Rachmad Djatmiko, 1992 : 26). Dalam ensiklopedia Islam, akhlak

adalah : suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang dari padanya

lahirlah perkataan-perkataan yang mudah, tanpa melalui proses pemikiran,

pertimbangan atau penelitian (Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, 1994 : 102).


2.3.Pendidikan Aqidah Akhlak

Jadi pendidikan akhlak adalah usaha yang dilaksanakan untuk

menanamkan dasar-dasar moral, perangai, tabiat, tingkah laku yang baik pada

anak-anak, sejak usia kanak-kanak sampai usia dewasa. Dalam pendidikan ini

haruslah didasarkan nilai-nilai agama Islam yang disajikan secara konkrit, dengan

bahasa yang mudah difahami, serta ikut mempengaruhi pembinaan mental pribadi

anak, melalui bimbingan, keteladanan agar sesuai dengan apa yang diharapkan.

Adapun kegiatan atau amalan-amalan yang diharapkan dapat dilakukan oleh siswa

adalah :

a Mau Mempelajari Syariat Islam dan Melaksanakan dengan Ikhlas.

b Membiasakan Mengerjakan Shalat Tepat pada Waktunya.

c Mempunyai Sikap Selalu Ingat Kepada Allah dengan Berdoa (berdzikir)

Dan Rendah Hati.

d Berusaha Mengendalikan Diri dari Kehendak yang Tidak Baik.

e Berbakti Kepada Orang Tua dan Saudara

f Berbuat Sopan Santun Dan Sederhana

g Mau Bekerja Sama Dan Tolong Menolong Terhadap Sesama.

h Mempunyai Sikap Jujur, Hormat Menghormati Sesama Muslim dan

Menghargai Orang Lain.


2.4.Kepribadian

1. Pengertian Kepribadian Siswa

Kata kepribadian sama artinya personality yang dalam bahasa latin

mask (topeng) Gordon Alport memberikan definisi yang ditulis oleh Abdul Azis

Ahyadi sebagi berikut : Personality is the dinamic organization with in the

individual of those psychophysical system that determene his unique adjustment

to his environment. Artinya : Kepribadian adalah organisasi system jiwa raga

yang dinamis dalam diri individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang

unik terhadap lingkungan.

Dari pengertian tersebut mengandung maksud :

a. Kepribadian merupakan organisasi dinamis , yaitu suatu kebulatan,

keutuhan organisasi yang mengikat dan mengaitkan berbagai aspek atau

komponen kepribadian.

b. Kepribadian adalah Organisasi yang terdiri dari sistem-sistem

psychophysical atau jiwa raga.

c. Organisasi itu menentukan penyesuaian dirinya.

d. Penyesuaian itu bersifat unik, khas ( mempunyai ciri-ciri

tersendiri dan tidak ada yang menyamai ) ( Abdul Azis Ahyadi,

1991 : 75)
Pendidikan budi pekerti dan membiasakan perilaku yang baik sangat

penting di berikan pada periode kanak-kanak. Banyak dari para ahli berpendapat

bahwa pendidikan anak-anak sejak dari kecilnya harus mendapat perhatian penuh.

Latihan-latihan keagamaan akan menumbuhkan nilai-nilai dan rasa aman, nilai-

nilai tersebut sangat diperlukan dalam pertumbuhan kepribadian anak.

Adapun penelitian kepribadian yang dimaksudkan dalam penelitian ini

adalah anak usia 9 - 11 tahun yaitu usia antara masa kanak-kanak pertama ( usia 7

tahun ) dan masa adolesen ( usia 13-21 tahun). Pada masa kanak-kanak pertama

dan masa adolesen perasaan agama terdiri dari dinamika pribadi, sedang masa

antara keduanya (9-11tahun yaitu anak kelas IV,V,VI) adalah masa sibuknya anak

dalam hubungan social, yaitu masa tunduknya kekuatan-kekuatan spontan

terhadap pengaruh- pengaruh social dari luar ( Zakiah daradjat,1996:44 ). Latihan-

latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwa anak akan membentuk

sikap tertentu pada anak,yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat

serta tidak tergoyahkan lagi karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya.
Adapun kepribadian yang diharapkan dimiliki siswa adalah :

1) Optimis atau sifat optimisme

Optimisme sangat dipengaruhi oleh sugesti, lawan optimis adalah pesimis.

Sifat optimis didapat pada masa kecil, yaitu dari orang tua. Orang tua yang

optimis akan menjadikan anak juga cenderung optimis dan sebaliknya. Jadi

optimis bukan sifat bawaan. Menurut D.H. Gulo (1997 : 74) Optimis dan pesimis

adalah kecenderungan manusia yang utama.

2) Memiliki Rasa Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah berani memikul akibat pekerjaan yang telah

dimulai serta tidak berani mengecawakan kepentingan umum (Prof. Dr. Hamka,

1992 :130). Kaitannya dengan pendidikan, seorang guru hendaknya menanamkan

sifat yang menjiwai rasa tanggung jawab agar siswa bisa bertanggung jawab di

dalam tugas hidup yang harus dihadapinya dalam lingkungan masyarakat.

3) Mempunyai Timbang Rasa

Timbang rasa adalah sikap ikut merasakan terhadap permasalahan atau

perasaan orang lain seperti perasaan sedih dan gembira, akan tetapi kita harus

dapat mempergunakan rasa kita pada tempatnya. Timbang rasa dalam kehidupan

sehari-hari sangat diperlukan yaitu dalam semua lapisan masyarakat. Jadi kita

tidak akan memaksakan kehendak kita terhadap orang lain atau antar sesama.

4) Bijaksana

Bijaksana timbul karena Ilmu, ketetapan hati, meletakkan sesuatu pada

tempatnya dan memilih sesuatu menurut harganya. Orang bijaksana tepat

pendapatnya, jauh pandangannya dan jauh tafsirannya.


2. Proses Terbentuknya Kepribadian.

Terbentuknya kepribadian adalah melalui suatu proses dimana proses

tersebut berlangsung secara berangsur-angsur, bukanlah hal yang langsung jadi

melainkan suatu yang berkembang, akhir dari perkembangan itu kalau

berlangsung dengan baik akan menghasilkan suatu kepribadian yang harmonis.

Kepribadian itu disebut harmonis, kalau segala aspek-aspeknya seimbang, tenaga-

tenaga bekerja seimbang pula sesuai dengan kebutuhan, juga keseimbangan antara

peranan individu dengan pengaruh lingkungan sekitar. Agar kepribadian dapat

berkembang dengan baik, melalui taraf-taraf pembentukan kepribadian sebagai

berikut :

a. Pembiasaan

Tujuan pembiasaan ini terutama membentuk aspek kejasmanian dan

kepribadian, atau memberi kecakapan berbuat dan mengucapkan sesuatu, dengan

cara mengontrol dan mempergunakan tenaga-tenaga kejasmanian dan dengan

bantuan tenaga kejiwaan, kita membiasakan si terdidik dalam amalan yang

dikerjakan dan yang diucapkan. Jadi taraf ini baru merupakan pembentukan

kebiasaaan-kebiasaan (drill) dengan tujuan agar cara-caranya dilakukan dengan

tepat.

b. Pembentukan Pengertian, Sikap dan Minat

Pada taraf kedua ini dengan memberikan pengetahuan dan pengertian

terhadap amalan-amalan yang dikerjakan dan diucapkan. Pelaksanannya bersama-

sama dengan taraf pertama. Pada taraf ini perlu ditanamkan dasar-dasar

kesusilaaan yang erat hubungannya dengan kepercayaan.


c. Pembentukan Kerohanian Yang Luhur

Yaitu dengan budi dan kejiwaan yang akan menghasilkan adanya

kesadaran dan pengertian yang mendalam. Segala apa yang dipikirkannya adalah

berdasarkan keinsyafannya sendiri dengan penuh tanggung jawab. Pembentukan

kerohanian ini sebagian besar disebut pembentukan diri (pembentukan sendiri).

Jadi ketiga taraf pembentukan ini bantu membantu satu dengan yang

lainnya serta pengaruh mempengaruhi. Taraf yang rendah akan menjadi landasan

taraf berikutnya, dan akan menimbulkan keinsyafan dan kesadaran akan apa yang

akan diperoleh dalam taraf sebelumnya, serta faedah-faedah sehingga

menimbulkan pelaksanaan amalan yang lebih sadar dan khusuk.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1.Jenis penelitian dan Pendekatan Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara atau langkah-langkah yang tepat yang

harus ditempuh dalam suatu penelitian ilmiah, guna mencapai suatu sasaran yang

diinginkan. Metode penelitian ini sangat penting artinya, sebab dengan

melaksanakan kegiatan ini usaha untuk menemukan data guna menguji kebenaran

suatu pengetahuan akan berjalan baik dan menurut arah yang sistematis.

3.2.Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah di MTS AL-

IJTIHAd AEK NABARA.

3.3.Subjek dan Obyek Penelitian

1 Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX1 MTS Al-Ijtihad Aek

Nabara. Dengan total keseluruhan siswa adalah 35, dimana ada 11 orang

laki-lakidan 24 orang siswa perempuan.


3.4.Prosedur Kerja dalam Penelitian

Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian tindakan kelas dengan

menggunakan model pembelajaran Index Card Match, dimana dalam penelitian

ini melibatkan guru mata pelajaran Akidah akhlak di kelas yang digunakan

sebagai tempat penelitian, untuk bersama melaksanakan penelitian.

Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengamat atau observer

sekaligus sebagai guru yang bertindak sebagai pengajar. Proses dalam penelitian

tindakan kelas ini dilaksanakan dengan dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II.

Tiap-tipa siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan,

dan refleksi. Tiap siklus dilaksanakan dengan pembelajaran yang ingin dicapai

(Arikunto,2006:16).

3.5.Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan

informasi tentang karakteristik data secara obyektif. Instrumen yang digunakan

peneliti dalam penelitian ini adalah :

a Peneliti

b Lembar Observa
3.6.Teknik Pengumpulan Data

Dalam suatu penelitian ilmiah, metode pengumpulan data sangat

berpengaruh dalam menentukan keberhasilan suatu penelitian terutama

memperoleh kebenaran. Oleh karena itu, peneliti menggunakan metode

wawancara, observasi, dokumentasi dan tes. Pengumpulan data biasanya

menghasilkan catatan tertulis yang sangat banyak, transkrip wawancara yang

diketik, atau pita video atau audio tantang percakapan yang berisi penggalan data

yang jamak nantinya dipilah-pilah dan dianalisis.

Teknik atau metode penelitian adalah langkah-langkah yang ditempuhdalam riset

yang diatur secara baik. Adapun metode yang dipakai adalah :

a. Metode observasi dilakukan dengan mengadakan penelitian langsung pada objek

yang akan diteliti. Dengan melakukan observasi ini memungkinkan peneliti untuk

mampu memahami situasi-situasi yang rumit. Situasi yang rumit memungkinkan

terjadi jika peneliti ingin memperhatikan tingkah laku sekaligus (Moleong, 2002 :

175). Dalam penelitian tindakan Kelas ini (PTK), peneliti bertindak sebagai

observer yang mengamati proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran

Index Card Match (mencari pasangan). Observasi ini dilakukan untuk mengambil

data : nama sekolah serta alamat sekolah.

3.7.Uji Keabsahan Data


Untuk menjaga keabsahan data dalam penelitian ini peneliti berperan

sebagai pengamat sekaligus sebagai penyampai materi atau kolaborasi. Uji

keabsahan data menggunakan teknik triagulasi. Teknik Triagulasi adalah teknik

pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Adapun

teknik triagulasi yang digunakan adalah triagulasi sumber, berarti

membandingkan data dan mengecek balik derajat kepercayaan yang diperoleh

melalui waktu dan nilai berbeda dalam metode kualitatif.

3.8. Analisis data hasil observasi

Data observasi yang telah diperoleh kemudian dilakukan analisis secara

diskriftif, sehingga mampu memberi gambaran yang jelas tentang pembelajaran

yang dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung.

Perhitungan Presentase skor sebagai berikut

JUMLAH SKOR
Presentase aspek (x) = SKOR MAKSIMUM x 100%

Hasil dari perhitungan prosentase kemudian di kualifikasikan sebagai berikut :

Tabel I. Kreteria Partisipasi Siswa

NPersentase Kualifikasi
175% - 100% Sangat baik ( SB )
250% - 74,99% Baik ( B )
325% - 74,99% Kurang ( K )
40% - 24,99% Sangat Kurang ( SK )

Dengan demikian dapat diketahui sejauh mana peningkatan partisipasi

siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak .

BAB IV
LAPORAN DAN ANALISIS DATA

A. LAPORAN HASIL PENELITIAN

Tabel Daftar Nilai Aqidah Akhlak Siswa Mts Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun

2015

No
Nilai Aqidah Akhlak
Responden
1 75
2 75
3 75
4 75
5 75
6 75
7 75
8 75
9 75
10 75
11 75
12 83
13 75
14 75
15 86
16 75
17 75
18 75
19 75
20 75
21 75
22 75
23 75
24 75
25 87
26 79
27 77
28 76
29 76
30 77
31 80
32 85
33 86
34 79
35 76
B. Analisis Deskriptif

Setelah data terkumpul, maka langkah yang penulis ambil selanjutnya

adalah menganalisis data dengan analisis deskriptif. Hal ini dimaksudkan untuk

memperoleh jawaban-jawaban dari pokok permasalahan yang ditanyakan. Analisis

deskriptif ini merupakan analisis dari masing- masing viariabel. Untuk

mempermudah memahami maka pada langkah ini penulis melakukan langkah

analisis statistik deskriptif seperti distribusi frekwensi, interval masing- masing

viaribel dan berbagai tabel pendukung sehingga memudahkan pemahaman. Adapun

dalam tujuan penelitian ini, sebagaimana telah disebutkan dalam bab pendahuluan,

yaitu :

Untuk mencapai tujuan utama penelitian ini maka penulis melakukan

beberapa tahap analisis. Hal ini penulis lakukan untuk mempermudah penulis dalam

mencapai tujuan tersebut. Adapun langkah - langkah tersebut adalah sebagai

berikut :
1. Analisis Pertama

Yaitu mencari tingkat prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa MTs. Al-Ijtihad

Aek Nabara tahun pelajaran 2015. Data tentang prestasi belajar Aqidah Akhlak

siswa MTs. Al-Ijtihad Aek Nabara penulis peroleh dari nilai sumatif terakhir

responden pada semester genap tahun ajaran 2014/2015. Setelah data nilai Aqidah

Akhlak responden terkumpul, langkah penulis selanjutnya adalah :

a. Mencari nilai tertinggi dan nilai terendah untuk mencari interval.

Rumus untuk mencari interval adalah:

( xtxr )+ 1
i=
Ki

Keterangan:

i : Interval Ideal

xt : Nilai tertinggi ideal

xr : Nilai terendah ideal

Ki : Kelas Interval

Dari data nilai Aqidah Akhlak di atas dapat dicari

( xtxr )+ 1
i=
Ki
( 8575 ) +1
i=
3

(10 )+ 1
i=
3

11
i= =3,67 4
3

Kemudian dimasukkan ke dalam tabel nominasi untuk mengetahui prestasi

Aqidah Akhlak siswa MTs Al-Ijtihad Aek Nabara tahun pelajaran 2015.

Adapun nominasi prestasi Aqidah Akhlak MTs Al-Ijtihad Aek Nabara tahun

pelajaran 2015.

Sebagaimana dalam tabel berikut:

Tabel Prosentasi Aqidah Akhlak

MTs Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun 2015

Nilai Interval Jumlah Responden Nilai Nominasi

86-89 30 A
81-84 4 B

75-78 1 C
b. Mencari persentase masing-masing kategori.

Kategori A : 30/35x100 % = 85,7%


: 4/35x100 %
Kategori B = 11,5%

: 1/35x100 %
Kategori C = 2,8%

Tabel Prosentasi Belajar Aqidah Akhlak

MTs Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun 2015

Interval Nilai Frekuensi Prosentase


No Kategori
Aqidah akhlak (fi) (%)
= 85,7 %
1 Tinggi / A 86-90 30

2 Sedang / B 81-85 = 11,5%


4
3 Rendah/C 75-80 1 = 2,8%

35 100 %

Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa tingkat prestasi belajar

Aqidah Akhlak siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Cukilan 02 Suruh Kab

Semarang tahun pelajaran 2015, 85,7% (30 dari 35 siswa) masuk pada kategori

nilai tinggiA. Pada interval nilai 81-85, 11,5% (4 dari 35siswa) masuk pada kategori

sedang / B dan 2,8 % (1 dari 35 siswa) masuk pada kategori rendah / C. Hal ini

berarti bahwa sebagian besar siswa MTS. Al-Ijtihad Aek Nabara memperoleh nilai

aqidah akhlak dengan kategori tinggi.

2. Analisis Kedua

Yaitu tentang tingkat kepribadian siswa MTs Al-Ijtihad Aek Nabara tahun pelajaran

2015. Data tentang tingkat kepribadian siswa MTs Al-Ijtihad Aek Nabara tahun pelajaran

2015 diperoleh dari penyebaran angket yang terdiri 18 item pertanyaan. Masing-masing
pertanyaan disediakan tiga aternatif jawaban dengan bobot nilai sebagai berikut :

a. Alternatif jawaban A dengan nilai 3.

b. Alternatif jawaban B dengan nilai 2.

c. Alternatif jawaban C dengan nilai 1.

Adapun data jawaban yang telah penulis sajikan perlu diberikan nilai dengan bobot

tersebut. Setelah dilakukan penilaian pada jawaban angket dari responden, langkah

selanjutnya adalah :

a. Mencari Interval kepribadian siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Cukilan

02 Suruh. Nilai tertinggi adalah 18 dan nilai terendah adalah 14. Kemudian

diintervalkan dengan rumus:

( xtxr )+ 1
i=
Ki

Keterangan:

i : Interval Ideal

xt : Nilai tertinggi ideal

xr : Nilai terendah ideal

Ki : Kelas Interval
( xtxr )+ 1
i=
Ki

3

(1814 )+ 1
i=

( 4 )+1
i=
3

i=1,66 2

Kemudian dimasukkan ke dalam tabel nominasi untuk mengetahui tingkat

kepribadian siswa MTs AL-Ijtihad Aek Nabara tahun pelajaran 2015. Adapun

nominasi jawaban responden terhadap angket tentang kepribdian MTs AL-Ijtihad

Aek Nabara tahun pelajaran 2015, sebagaimana dalam tabel 4.3 berikut:

Tabel Prosentasi Kepribadian

MTs Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun 2015

Nilai Interval Jumlah Responden Nilai Nominasi


50-54 25 A
46-49 7 B

41-45 3 C
c. Mencari persentase masing-masing kategori.
Kategori A : 25/35x100 = 71,4 %

%
: 7/35x100 %
Kategori B = 20%

: 3/35x100 %
Kategori C = 8,6 %

Tabel Prosentasi Kepribadian

MTs Al-Ijtihad Aek Nabara Tahun 2015

Interval Nilai Frekuensi Prosentase


No Kategori
Aqidah50-54
akhlak (fi) = 71,4 %(%)
1 Tinggi / A 25

2 Sedang / B 46-49 = 20%


7
3 Rendah/C 41-45 3 = 8,6 %

35 100 %

Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kepribadian siswa

MTs. Al-Ijtihad Aek Nabara tahun 2015 , (25dari 35siswa) masuk pada kategori

tinggi / A,71,4% , (7dari 35 siswa) masuk pada kategori sedang / B dan 8,6% (3

dari 35siswa) masuk pada kategori rendah / C. Hal ini berarti bahwa sebagian besar

kepribadian siswa MTs. Al-Ijtihad Aek Nabara termasuk kategori tinggi atau bagus.

Untuk melakukan analisis tentang pengaruh antara nilai Aqidah Akhlak terhadap

kepribadian siswa MTs. Al-Ijtihad Aek Nabara tahun Pelajaran 2015 maka penulis

menggunakan teknik analisa statistik.


Dalam hal ini penulis menggunakan rumus product moment dengan nilai

simpangan, yaitu sebagai berikut :

x2


y2



xy
r=

428.55
919.46

71,97
r=

r=0,1147

B. Pembahasan

Dari analisis diatas menghasilkan indeks korelasi "r" antara prestasi belajar

Aqidah Akhlak dengan kepribadian siswa MTs. Al-Ijtihad Aek Nabara adalah 0.115.

Dengan demikian,Ada pengaruh yang signifikan antara prestasi belajar Aqidah

Akhlak terhadap kepribadian siswa MTs. Al-Ijtihad Aek Nabara.

Dari hasil temuan diatas maka dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh

yang sangat signifikan antara tingkat prestasi belajar Aqidah Akhlak denga
kepribadian siswa. Sesuai dengan berbagai teori yang telah penulis ajukan

sebelumnya dalam bab I, ada sebagian pakar yang menganggap bahwa pendidikan

akhlak yang diberikan pada masa kanak - kanak akan berpengaruh terhadap

perilaku / sikap pada masa dewasanya. Namun hal itu berlaku pada sebagian

individu bukan pada semua individu.

Idealnya pendidikan akhlak yang diberikan sejak dini atau masa kanak-

kanak (usia sekolah dasar) akan berpengaruh terhadap perilaku atau kepribadian

seseorang. Demikian juga prestasi atau nilai pelajaran Aqidah Akhlak tinggi akan

mempengaruhi kepribadian siswa, namun kenyataannya nilai Aqidah Akhlak tinggi

tidak menjamin seorang siswa berkepribadian atau berperilaku baik, karena nilai

pelajaran bisa diusahakan dengan belajar atau mepelajari mata pelajaran tersebut.

Tetapi kalau kepribadian atau perilaku adalah hasil dari akhlak yang tertanam dalam

jiwa.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian panjang diatas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan

sebagai berikut :

1. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa tingkat prestasi belajar

Aqidah Akhlak siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Cukilan 02 Suruh Kab

Semarang tahun pelajaran 2015, 85,7% (30 dari 35 siswa) masuk pada kategori nilai

tinggiA. Pada interval nilai 81-85, 11,5% (4 dari 35siswa) masuk pada kategori

sedang / B dan 2,8 % (1 dari 35 siswa) masuk pada kategori rendah / C. Hal ini

berarti bahwa sebagian besar siswa MTS. Al-Ijtihad Aek Nabara memperoleh nilai

aqidah akhlak dengan kategori tinggi.

2. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kepribadian siswa

MTs. Al-Ijtihad Aek Nabara tahun 2015 , (25dari 35siswa) masuk pada kategori

tinggi / A,71,4% , (7dari 35 siswa) masuk pada kategori sedang / B dan 8,6% (3

dari 35siswa) masuk pada kategori rendah / C. Hal ini berarti bahwa sebagian besar

kepribadian siswa MTs. Al-Ijtihad Aek Nabara termasuk kategori tinggi atau bagus.

3. Dari hasil temuan diatas maka dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh
yang sangat signifikan antara tingkat prestasi belajar Aqidah Akhlak denga

kepribadian siswa. Sesuai dengan berbagai teori yang telah penulis ajukan

sebelumnya dalam bab I, ada sebagian pakar yang menganggap bahwa pendidikan

akhlak yang diberikan pada masa kanak - kanak akan berpengaruh terhadap

perilaku / sikap pada masa dewasanya. Namun hal itu berlaku pada sebagian

individu bukan pada semua individu.


C. Saran-saran

Berdasarkan pada pembahasan dari bab I sampai bab V, maka penulis dapat

memberikan saran sebagai berikut :

1. Hendaknya sebagai guru, kita senantiasa meningkatkan kompetensi, sehingga kita

tidak hanya mampu menjadi uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), namun

juga dapat menjadi contoh nyata ketinggian dalam penguasaan ilmu pengetahuan

yang dapat memicu semangat belajar siswa.

2. Anak didik, yang merupakan generasi penerus bangsa, sudah sepantasnya

memperoleh yang terbaik dalam segala hal, termasuk juga dalam pendidikan akhlak

untuk terciptanya masa depan yang lebih baik.

3. Pihak sekolah hendaknya meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama dalam

pembelajaran aqidah akhlak, sehingga terwujud prestasi belajar aqidah akhlak yang

tinggi mempengaruhi siswa dalam berkepribadian, baik dilingkungan sekolah

maupun dilingkungan masyarakat dimana siswa tinggal.

4. Diharapkan dilakukan penelitian senada yang lebih mendalam dilain waktu, yang

kemungkinan akan mendapatkan hasil yang berbeda dan dapat menyempurnakan

kekurangan yang ada dalam penelitian ini.


DAFTAR PUSTAKA

Ahyadi, Abdul Azis. 1998. Psikologi Agama. Bandung : CV. Sinar Baru.

Al-Abrasi, Athiyah Mohd. 1970. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta :

PT. Bulan Bintang.

Al-Ghazali, Imam. 1993. Ihya Ulumiddin. Semarang : Asy-Syifa.

Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Daradjat, Zakiah. 1996. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : PT. Bulan Bintang

Halim Mahmud, Ali Abdul. 2004. AkhlakMulia. Jakarta : Gema Insani.

Hurloc. B, Elyzabeth. 1978. Child Development. Singapura : New York Edition

IAIN Walisongo Semarang, Fakultas Tarbiyah. 1998. PBM-PAI Di Sekolah.

Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Kartono, Kartini. 1990. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar

Maju

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional. 2004. Jakarta : PT. Armas Duta Jaya.

Vembriarto. 1990. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta : Andi Offset.

Zaenudin. 1991. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. Jakarta : Radar Jaya

Offset