Anda di halaman 1dari 7

Bintang Diujung Jalan

Created by : Cindy Anggraini

Hening itulah kata yang tepat untukku saat ini, sudah tiga hari aku

berada didesa ini tak satu pun hal yang menarik yang kudapatditempat

ini. Memang suasana yang berbeda saat aku berada dikota saat aku

bersama keluarga dan temanku. Tapi teman? Sudahlah mungkin hanya

ngan angan untuk mendapatkannya. Kututup buku yang dari tadi

kuoegang namun tak satu kata pun yang terbaca dari buku itu. Beranjak

aku dari aktivitas yang menurutku sangat membuang waktu dan

beralihmungkin kesuatu aktivitas yang mungkin akan sedikit

menghiburku.

hey, lagi ngapain ? suara yang mengagetkanku dan ternyata dia

adalah Ayu, orang yang selalu bersikap baik tapi menurutku itu sangat

berlebihan.

oh, kamu. Jawabku singkat

Besok kita kekebun yuk, keliling desa naik sepeda atau jalan kaki.

Apa kamu tidak bosan sudah tiga hari loh kamu disini masa Cuma

dirumah? Apa kamu tidak bosan? Sudah tiga hari loh, tiga hariii

celotehnya panjang

aku sibuk.
ah, mana mungkin kamu sibuk aku pikir kamu hanya melamun saja

memandangi entah apa yang kamu lihat. Lagian ya, sayang banget

tau nggak kalo kamu hanya dirumah banyak banget hal yang

bakal kamu lewatkan, aku yakin kamu juga pasti lupakan jalan

kerumah aku, kalo dipikir lagi waktu kecil dulu kita deket banget ya

ibarat surat sama prangkonya kemana-mana selalu sama-sama, jadi

kangen masa kecil dulu. Jawabnya panjang.

oke. aku hanya ingin dirumah dan jika kamu ingin pergi, silakan.

Ujarku padanya dan mungkin hal itu membuatnya tersinggung tapi ayu

tetaplah ayu. Ayu yang memiliki kepribadian yang ceria itu tidak mungkin

tersinggung dengan kata-kata yang terlontar dari mulutku.

baiklah, nanti aku jemput kamu jam tujuh pagi oke! ucap Ayu

tanpa menghiraukan ucapkan ku tadi.

Tanpa peduli aku melangkahkan kaki ku menuju kebun belakang

rumah. Terlihat wanita tua yang sedang menyiram tanaman. Keriput

diwajahnya mengisyaratkan banyaknya beban pikiran didalamnya. Namun

begitu ia tidak pernah menunjukan semua itu.

nenek teriakku

ada apa ini. Seperti tidak pernah bertemu saja . ucapnya lembut

sambil mengelus-elus rambutku.

Ya nenek benar aku sangat merindukan nenek.

ya, ya ya, nenek tau itu


sudah lama kita tidak seperti ini. Nenek aku ingin nenek

membuatkan Anita susu stroberi. Pinta ku

baiklah nona Anita. Ucap nenek dan hal itu membuat kami bedua

tertawa bersama seakan tidak ada beban pikiran yang menerpa kami.

Suasana inilah yang sebenarnya yang aku inginkan bersama dengan

orang yang kusayangi, bila mengingat kembali masa laluku, rasanya

takkan sanggup oranglain akan melanjutkan hidupnya. Tapi kini aku sadar

hidupku untuk masa depan ku bukan untuk masa lalu ku. Setidaknya

tuhan telah menyisakan sedikit kebahagian disisa kehidupanku ini.

Matahari mulai memancarkan cahayanya kebumi menembus paksa

masuk kesela-sela pentilasi jendela kamarku. Aroma teh mulai

menggangu dunia tiduru. Lekas aku bangun dan mencari asal aroma yang

sudah berani mengganggu tidurku.

Anita kamu sudah bangun ternyata, ini aku buatkan teh untukmu.

Ini pakai resep rahasia turun temurun loh! Ayo minumlah lalu mandi

dan kita jalan-jalan.jelasnya

kamu pulang lah aku tidak berminat. Jawabku.

Langsung ku pergi dari ruang iyu tapi aku merasa sedikit bersalah kepada

Ayu lalu kulihat wajahnya sejenak.

Tidak pernah aku melihatnya sekecewa ini apa aku terlalu kasar

kepadanya. Tapi, apa peduliku. Bukan kah itu salahnya? Salah sendiri aku

sudah menolaknya tapi tetap dia saja dtidak memperdulikan aku. Tapi jika

mengingat kembali apa yang sudah aku hadapi selama ini, sebenarnya
aku sangat berhutang budi bahkan nyawa kepadanya. Tanpanya, mungkin

aku sudah mati. jika dia tidak datang menyelamatkanku pada saat

kebakaran hutan dulu entahlah apa yang terjadi pada ku saat ini, oh

Tuhan.. dia adalah penyelamatku tapi mengapa aku sangat kasar

padanya, tidak seharusnya aku melibatkannya dengan masalah ku saat

ini. Begitu banyak pertanyaan yang seakan menghakimi atas semua

sikapku.

baiklah tunggulah, aku akan bersiap-siap dulu. Ucapku singkat.

Tapi sekilas aku melihat mimik wajahnya langsung berubah seakan

kekecewaan yang baru dialaminya sirna sudah dan seakan-akan tidak

pernah terjadi apa-apa.

aku akan menunggumu... teriaknya kegirangan

Setelah beberapa menit kemudian kami pergi mengelilingi desa yang

sangat indah ini. Sepanjang perjalanan ayu banyak sekali menceritakan

tempat-tempat yang kami lewati mulai dari revolusi para warga desa

sesudah kebakaran hutan itu. Sampai tempat- tempat yang dulunya

perkebuanan biasa sekarang sudah menjadi tempat wisata. Hari ini

sungguh sangat menyenangkan, senyum canda tawa tak henti terus

mengukir diwajah kami hingga kami singgah di suatu pondok. Dan tiba-

tiba terlihat seorang yang mungkin tidak asing lagi untuk kukenali, raut

wajahku yang sedari tadi memancarkan kebahagiaan kini hilang bak

ditelan bumi.
ta, ada yang ingin aku jelaskan padamu. Tanya mitha yang tidak

lain adalah kakak kandungku sendiri.

kurasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Jawabku ketus.

Berlari aku meningalkan dia. Namun, langkahku terhenti tak kala dia

berteriak.

kamu pengecut ta, kamu nggak berani terima kenyataan, kamu

nggak pernah mendengar penjelasan orang lain. Apa kamu sadar

dengan apa yang kamu lakukan? Kamu telah menyakiti perasaan tiga

orang sekaligus, yang pertama mama dan papa apa kamu sadar

mereka sangat khawatir dengan kamu.

khawatir, kamu bilang khawatir kamu salah kak, mereka hanya

memikirkan kerjaan mereka sendiri nggak pernah peduli dengan aku.

Dan yang paling penting mereka sealu ngebandingin aku dengan kamu

kak.

ya kamu benar ta, aku minta maaf tapi setidaknya pulang lah

demi kami dan sahabatmu, tiara. Ucapnya melembut.

Dunia mengira aku mengira aku mempunyai ayah dan ibu dan

mempunyai sahabat yang setia. Tapi apa? Itu hanya cerita fiksi

belaka kak, nggak mungkin terjadi. Mungkin kamu akan merasakan

pedihnya pengkhianatan yang orang lain mengatakan dia adalah

sahabatku sendiri. Mungkin dengan merebut dika dari aku itu bisa

membuat nya bahagia. Dan cukup lebih baik kamu pulang kak aku
nggak mau melihat kakak, tiara atau dika lagi. Sudah cukup aku

capek kak. Ayo yu kita pulang. Jelasku

Sepanjang perjalanan pulang air mata ku tak henti terus mengalir, kulihat

dari sudut mataku Ayu hanya berjalan diam dan hanya melihatku.

maaf ta, tidak seharusnya aku tau ini.

nggak yu,kamu nggak perlu minta maaf. Biarlah ini semua adalah

masa laluku yang mungkin agak sulit untuk aku lupain. Tapi aku mau

tanya deh sama kamu. Kuhapus airmata yang sedari tadi setia mengalir

dipipiku.

Ayu jujur aku bingung, kam taukan aku selama ini mungkin aku

sudah membuatmu tersinggung atau sakit hati dengan perkataanku,

apa kamu tidak marah padaku?

tentu tidak. Ucapnya sembari tersenyum

aku bahkan tidak marah, kamu tau kan teman adalah bintang.

bintang? pikirku seakan mencari maksud Ayu.

iya, terang dalam gelap dan selalu terang dalm keadaan terang,

kau tauh. Bintang cahayanya tidak akan pernah padam walau ia

memberi cahayanya kepada benda langit lain. Kamu sama

seperti bintang. Dan aku juga sama seperti bintang.

Terdiam aku seakan mencerba kembali kalimat yang barusan

diucapkannya.
apak kamu bingung?tanyanya

tidak, kau benar jika kau adalah bintang untukku maka kau akan

menentunku dan membebaskanku dari kesedihanku seperti yang kau

lakukan saat ini. Ucapku sembari tersenyum dan dia pun membalas

senyumanku.

Dari saat itulah aku dan Ayu berteman bahkan seperti saudra. Kini

aku tau bintang itu ada disini bersamaku dan selalu bersamaku.

**TAMAT**