Anda di halaman 1dari 7

a.

Sanitasi adalah perilaku disenganja dalam pembudayaan hidup bersih


dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan
kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini
akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
b. Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang
mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih, dan
sebagainya (Notoadmojo, 2003).

a. Tujuan
Mewujudkan kualitas lingkungan yang bebas dari resiko yang
membahayakan kesehatan pada berbagai substansi dan komponen
lingkungan.
b. Manfaat
1) Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat hidup serasi
dengan lingkungannya
2) Untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan sarana kemasyarakatan
lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan, sehingga dapat
melindungi masyarakat dari penularan penyakit, keracunan,
kecelakaan, pencemaran lingkungan serta gangguan kesehatan
lainnya.

a. Faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, biologis maupun


lingkungan sosial
Maksudnya membangun suatu rumah harus memperhatikan tempat di
mana rumah itu didirikan. Di pegunungan ataukah di tepi pantai, di desa
ataukah di kota, di daerah dingin ataukah di daerah panas dan
sebagainya. Misalnya rumah di daerah pedesaan, sudah barang tentu
disesuaikan kondisi sosial budayanya dengan sosial budaya pedesaan,
misalnya bahannya, bentuknya, menghadapnya dan lain sebagainya.
b. Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat
Hal ini dimaksudkan rumah dibangun berdasarkan kemampuan keuangan
penghuninya, untuk itu maka bahan-bahan setempat yang murah seperti
bambu, kayu atap rumbia dan sebagainya adalah merupakan bahan-
bahan pokok pembuatan rumah. Perlu dicatat bahwa mendirikan rumah
adalah bukan sekadar berdiri pada saat itu saja, namun diperlukan
pemeliharaan seterusnya. Oleh karena itu, kemampuan pemeliharaan
oleh penghuninya perlu dipertimbangkan.
c. Teknologi yang dimiliki oleh masyarakat
Pada dewasa ini teknologi perumahan sudah begitu maju dan sudah
begitu modern. Akan tetapi teknologi modern itu sangat mahal dan
bahkan kadang-kadang tidak dimengerti oleh masyarakat. Rakyat
pedesaan bagaimanapun sederhananya, sudah mempunyai teknologi
perumahan sendiri yang dimiliki secara turun temurun. Dalam rangka
penerapan teknologi tepat guna, maka tenologi yang sudah dimiliki oleh
masyarakat tersebut dimodifikasi. Segi-segi yang merugikan kesehatan
dikurangi, dan mempertahankan segi-segi yang sudah positif.
d. Kebijaksanaan (peraturan-peraturan pemerintah)
Merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan tata guna tanah,
seperti adanya pajak bumi dan bangunan.

a. Bahan bangunan
1) Lantai : syarat penting disini adalah lantai tidak berdebu dan tidak
basah(becek). Misalnya pada rumah yang menggunakan lantai dari
tanah, untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu)
dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan
benda-benda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang
basah dab berdebu merupakan sarang penyakit.
2) Dinding : tembok adalah baik, namun disamping mahal, juga
membutuhkan waktu yang lama dalam proses pembuatannya. Lebih-
lebih bila ventilasinya tidak cukup. Dinding rumah di daerah tropis
khususnya di pedesaan, lebih baik dinding yang terbuat dari papan.
Sebab meskipun jendela tidak cukup, maka lubang-lubang pada
dinding papan tersebut dapat merupakan ventilasi dan dapat
menambah penerangan alamiah.
3) Atap : atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan,
maupun di pedesaan. Di samping atap genteng adalah cocok untuk
daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan
masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian, banyak
masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu, maka atap daun
rumbai atau daun kelapa pun dapat dipertahankan. Atap sebg ataupun
asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, di samping mahal juga
menimbulkan suhu panas di dalam ruangan.
4) Lain-lain (tiang rumah) : kayu untuk tiang atau bambu adalah umum
di pedesaan. Menurut pengalaman bahan-bahan ini tahan lama. Tapi
perlu diperhatikan bahwa lubang-lubang pada kayu atau bambu
merupakan sarang tikus yang baik. Untuk menghindari ini maka cara
memotongnya harus menurut ruas-ruas bambu dan kayu, sehingga
dapat mencegah terbentuknya sarang tikus
LANJUTAN......
b. Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai beberapa fungsi. Fungsi pertama adalah
untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar.
Fungsi kedua adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-
bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara
yang terus menerus. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan
rumah selalu tetap di dalam kelembaban yang optimum. Kurangnya
ventilasi akan menyebabkan kurangnya O 2 di dalam rumah yang berarti
kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Di
samping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban
udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan
dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang
baik untuk bakteri-bakteri patogen(bakteri-bakteri penyebab penyakit).
Ada 2 macam ventilasi, yakni:
1) Ventilasi alamiah, dimana aliran udara di dalam ruangan tersebut
terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubang-
lubang pada dinding dan sebagainya. Di pihak lain ventilasi alamiah ini
tidak menguntungkan, karena juga merupakan jalan masuknya
nyamuk dan serangga lainnya ke dalam rumah. Untuk itu harus ada
usaha-usaha lain untuk melindungi dari gigitan-gigitan nyamuk
tersebut.
2) Ventilasi buatan, yaitu dengan mempergunakan alat-ala khusus untuk
mengalirkan udara tersebut, misalnya kipas angin, dan mesin
pengisap udara (AC). Tetapi jelas alat ini tidak cocok dengan kondisi
rumah di pedesaan.

LANJUTAN......
c. Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan
tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan
rumah, terutama cahaya matahari di samping kurang nyaman, juga
merup[akan media atau tempat yang baik untuk hidup dan
berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya di
dalam rumah akan menyebabkan silau dan akhirnya dapat merusak
mata.

Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni:


1) Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya ini sangat penting, karena
dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah. Selain itu,
lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan
agar sinar matahari lama menyinari lantai(bukan menyinari dinding).
2) Jalan masuknya cahaya alamiah juga dapat diusahakan dengan
menggunakan genteng kaca. Geteng kaca pun dapat dibuat secara
sederhana, yakni dengan melubangi genteng biasa waktu
pembuatannya, kemudian menutupnya dengan pecahan kaca.
3) Cahaya buatan, yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan
alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya.
LANJUTAN......

d. Luas bangunan rumah


Luas bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya,
artinya luas bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah
penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah
penghuninya akan menyebabkan penjubelan(overcrowded). Hal ini tidak
sehat, sebab di samping menyebabkan kurangnya konsumsi O 2 juga bila
salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah
menular kepada anggota keluarga yang lain. Luas bangunan yang
optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5-3m 2 untuk tiap orang
(tiap anggota keluarga).
LANJUTAN......

e. Fasilitas-fasilitas penunjang
1) Penyediaan air bersih yang cukup
2) Sistem pembuangan tinja
3) Sistem pembuangan air limbah
4) Pembuangan sampah
5) Fasilitas dapur
6) Ruang berkumpul keluarga

Di samping fasilitas-fasilitas tersebut, ada fasilitas lain yang


perlu diadakan tersendiri, yakni:
1) Gudang, dapat merupakan bagian dari rumah tempat tinggal
tersebut, atau bangunan tersendiri.
2) Kandang ternak, oleh karena ternak adalah merupakan bagian
hidup, maka kadang-kadang ternak tersebut diletakkan di dalam
rumah. Hal ini tidak sehat, karena dapat merupakan sumber penyakit
pula. Maka sebaiknya demi kesehatan, ternak harus terpisah dari
rumah.