Anda di halaman 1dari 23

IMPLEMENTASI ASEAN CORPORATE SCORECARD PADA

PEMERINTAH DAERAH

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Seminar Akuntansi Sektor


publik yang diampu oleh Aristanti Widyaningsih, S.Pd,M.Si

Di susun oleh :

Dini Mulyani 1301123

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa


melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada penulis, sehingga dapat
menyelesaikan makalah dengan judul Implementasi Asean Corporate
Scorecard. Shalawat serta salam penulis sampaikan kepada Nabi besar
Muhammad SAW, serta sahabat-sahabatNya, pengikut-pengikutNya yang
setia menyampaikan risalahNya hingga akhir zaman.
Dalam penyusunan makalah ini tentu tidak akan selesai dengan
begitu saja. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada Ibu Aristanti Widyaningsih, S.Pd,M.Si selaku dosen yang telah
membimbing penulis selama ini serta teman-teman yang ikut
memberikan masukan positif demi terselesaikannya makalah ini.
Tidak dapat dipungkiri, tak ada gading yang tak retak, penulis
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran atas kesalahan sekecil
apapun sangat diharapkan untuk penyempurnaan lebih lanjut. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada
umumnya.

Bandung, Januari
2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................... 2
DAFTAR ISI........................................................................................................... 3
BAB I..................................................................................................................... 4
LATAR BELAKANG............................................................................................... 4
1.1. Rumusan Masalah.................................................................................. 5
1.2. Tujuan Penulisan Makalah....................................................................5
1.3. Manfaat Penulisan Makalah.................................................................5
BAB II.................................................................................................................... 6
KAJIAN PUSTAKA................................................................................................. 6
BAB III.................................................................................................................. 7
PEMBAHASAN...................................................................................................... 7
3.1. Pengertian Asean Corporate Scorecard..............................................7
3.2. Sejarah Asean Corporate Scirecard.....................................................7
3.3. Implemen tasi Asean Corporate Scorecard Pada Pemerintah
Daerah.............................................................................................................. 9
3.4. Asean Corporate Scorecard.................................................................10
BAB IV................................................................................................................ 14
SIMPULAN.......................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 16
BAB I

LATAR BELAKANG

Krisis keuangan tahun 1997-1998 yang melanda banyak negara di


Asia, termasuk Indonesia, telah mendorong terjadinya reformasi dan
timbulnya berbagai inisiatif untuk memperkuat ekonomi nasional dan
kerjasama regional. Beberapa usulan dan perjanjian pun kemudian
dilakukan untuk membangun kerjasama yang lebih luas dan menyeluruh,
termasuk kerjasama dalam rangka membangun komunitas ASEAN tahun
2015. Kerjasama tersebut diantaranya meliputi kerjasama di bidang tata
kelola perusahaan atau yang populer dikenal dengan istilah corporate
governance (CG).

Masalah-masalah tersebut juga telah menghambat proses


pemulihan ekonomi Indonesia, sehingga jumlah pengangguran semakin
meningkat, jumlah penduduk miskin bertambah, tingkat kesehatan
menurun, dan bahkan telah menyebabkan munculnya konflik-konflik di
berbagai daerah yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan negara
Republik Indonesia.

Bahkan kondisi saat inipun menunjukkan masih berlangsungnya


praktek dan perilaku yang bertentangan dengan kaidah tata
pemerintahan yang baik, yang bisa menghambat terlaksananya agenda-
agenda reformasi.
Penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah landasan bagi
pembuatan dan penerapan kebijakan negara yang demokratis dalam era
globalisasi. Fenomena demokrasi ditandai dengan menguatnya kontrol
masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan, sementara
fenomena globalisasi ditandai dengan saling ketergantungan
antarbangsa, terutama dalam pengelolaan sumber-sumber ekonomi dan
aktivitas dunia usaha (bisnis).
Kedua perkembangan diatas, baik demokratisasi maupun
globalisasi, menuntut redefinisi peran pelaku-pelaku penyelenggaraan
pemerintahan. Pemerintah, yang sebelumnya memegang kuat kendali
pemerintahan, cepat atau lambat harus mengalami pergeseran peran dari
posisi yang serba mengatur dan mendikte ke posisi sebagai fasilitator.
Dunia usaha dan pemilik modal, yang sebelumnya berupaya mengurangi
otoritas negara yang dinilai cenderung menghambat perluasan aktivitas
bisnis, harus mulai menyadari pentingnya regulasi yang melindungi
kepentingan publik. Sebaliknya, masyarakat yang sebelumnya
ditempatkan sebagai penerima manfaat (beneficiaries), harus mulai
menyadari kedudukannya sebagai pemilik kepentingan yang juga harus
berfungsi sebagai pelaku.
Oleh karena itu, tata pemerintahan yang baik perlu segera
dilakukan agar segala permasalahan yang timbul dapat segera
dipecahkan dan juga proses pemulihan ekonomi dapat dilaksanakan
dengan baik dan lancar. Disadari, mewujudkan tata pemerintahan yang
baik membutuhkan waktu yang tidak singkat dan juga upaya yang terus
menerus. Disamping itu, perlu juga dibangun kesepakatan serta rasa
optimis yang tinggi dari seluruh komponen bangsa yang melibatkan tiga
pilar berbangsa dan bernegara, yaitu para aparatur negara, pihak swasta
dan masyarakat madani untuk menumbuhkembangkan rasa kebersamaan
dalam rangka mencapai tata pemerintahan yang baik.

1.1. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Apa Pengertian Asean Corporate Scorecard ?
2. Bagaimana Sejarah Asean Corporate Scorecard ?
3. Bagaimana penerapan Asean Corporate Scorecard Jika di
Implementasikan pada Pemerintahan Daerah?
1.2. Tujuan Penulisan Makalah
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui Pengertian Asean Corporate Scorecard


2. Mengetahui Sejarah Munculnya Scorecard
3. Mengetahui Implementasi Scorecard Pada Pemerintah Daerah

1.3. Manfaat Penulisan Makalah


Manfaat dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Bagi Penulis yaitu menemukan wawasan pengetahuan dari materi
yang diangkat.
2. Bagi Pembaca yaitu memberikan pengetahuan serta pemahaman
terhadap pembaca mengenai Implementasi Scorecard Pada
Pemerintah Daerah.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Asean Corporate Scorecard merupakan suatu alat untuk


memeringkat kinerja tata kelola perusahaan publik dan terbuka di
ASEAN.
ASEAN Corporate Governance Scorecard, bertujuan untuk mengukur
dan meningkatkan efektivitas dari implementasi prinsip-prinsip tata
kelola perusahaan.
Pemerintah Daerah diberikan kewenangan penuh untuk
menyelenggarakan urusan pemerintahan. Otonomi daerah yang luas
yang telah diberikan kepada daerah diharapkan dapat meningkatkan
efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas pemerintah daerah yang pada
akhirnya tercapainya good government governance (Jones dan
Maurice, 1996; Mardiasmo, 2000, 2002a; Ferlie dan Steane, 2002;
Haryanto, dkk., 2007).
Tuntutan pembaharuan sistem keuangan tersebut adalah agar
pengelolaan uang publik public money) dilakukan secara transparan
dengan mendasarkan konsep value for money sehingga tercipta
akuntabilitas publik (public accountability) (Mardiasmo, 2002a; Ferlie
dan Steane, 2002; Haryanto, dkk., 2007).
Pemerintah daerah harus mempertanggungjawabkan mandat
yang telah mereka gunakan dengan mempertanggungjawabkan kinerja
mereka. Kinerja ini ditekankan menuju peningkatan kesadaran dari
peran pelaporan tahunan dalam kewajiban pelaksanaan akuntabilitas
(Jones dan Maurice, 1996; Mardiasmo, 2002a; Mahmudi, 2007).
Tuntutan yang kemudian muncul adalah perlunya dibuat laporan
keuangan eksternal yang dapat menggambarkan kinerja lembaga
sektor publik (Jones dan Maurice, 1996; Mardiasmo, 2000; Mahmudi,
2007; Haryanto dkk., 2007).
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu (1)
akuntabilitas vertikal (vertical accountability) dan akuntabilitas
horisontal (horizontal accountability) (Jones dan Maurice, 1996;
Haryanto, dkk., 2007).
Salah satu komponen vital dalam pencapaian good goverment
governance adalah akuntabilitas publik. Akuntabilitas (accountability)
secara harfiah dapat diartikan Sebagai pertanggungjawaban (Ulum,
2004). Pemerintah daerah harus mempertanggungjawabkan mandat
yang telah yang telah mereka gunakan dengan
mempertanggungjawabkan kinerja mereka. Kinerja ini ditekankan
menuju peningkatan kesadaran dari peran pelaporan tahunan dalam
kewajiban pelaksanaan akuntabilitas (Jones dan Murice, 1996:
Mardiasmo, 2002a; Mahmudi, 2007).
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Pengertian Asean Corporate Scorecard


Asean Scorecard merupakan alat untuk memeringkat kinerja
tata kelola perusahaan publik dan terbuka di ASEAN.

3.2. Sejarah Asean Corporate Scirecard

Ketika terjadi krisis ekonomi secara global, banyak perusahaan


yang membuat membuat penelitian dan kajian, terutama di Eropa
dan Amerika. Di Eropa ada istilah Cadbury Report. Cadbury Report
ini diketuai oleh Sir Adrian cadbury, Agen Cadbury. Ketika itu,
pemerintah Inggris meminta cadbury melakukan penelitian, apa yang
menjadi penyebab krisis. Lalu Cadbury pun membentuk Cadbury
Committe. Hasil penelitian itu diberi nama Cadbury Report pada
1992.

Cadbury Report itulah yang kemudian disarankan kepada


seluruh perusahaan di Eropa. Bila mereka tidak ingin krisis ekonomi
terulang, maka disarankan untuk melaksanakan prinsip-prinsip yang
terdapat dalam cadbury report tersebut yang kemudian diistilahkan
dengan corporate governance. Dari sana munculah banyak
organisasi yang menjadi pendorong penerapan GCG, misalnya OECD
(Organization for Economic Cooperation and Development), atau
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi yang
berkedudukan di Paris.

OECD mengeluarkan prisnsip-prinsip GCG secara uumum,


kemudian disebarkan ke semua regional, termasuk ASEAN. Di ASEAN
berkumpul negara-negara yang kemudian membentuk forum
bernama Asean Capital Market Forum (ACMF). Negara-negara ASEAN
menciptakan atau sepakat untuk menerapkan Asean Corporate
Governcance Scourecard (Asean CG Scorecard) untuk level ASEAN.
Asean CG Scorecard ini kemudian menjadi standar bagi perusahaan-
perusahaan di ASEAN, terutama untuk menghadapi era Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) 2015. Jadi, semua negara di ASEAN memiliki
standard yang sama, yakni ASEAN CG Scorecard.

ASEAN CG Scorecard ini seperti layaknya standar ISO bagi


perusahaan manufaktur untuk melakukan ekspor dan impor. Begitu
pula dengan standar GCG di ASEAN untuk MEA, namanya ASEAN CG
Scorecard. Implementasi GCG di Indonesia sendiri melalui beberapa
tahap. Pertama, setelah krisis terjadi, yaitu sekitar tahun 1999.
Ketua Dewan Komisioner Indonesia Muliaman D Hadad meresmikan
roadmap tata kelola perusahaan Indonesia. Roadmap ini dikeluarkan
pada 14 Februari 2014.

Dalam roadmap itu ada 33 rekomendasi perbaikan yang harus


dibenahi oleh perusahaan-perusahaan diIndonesia, terutama
perusahaan yang sudah terdaftar atau terbuka, atau yang sudah
melantai di bursa saham. Dari 33 rekomendasi ini OJK membuat
POJK baru agar 33 rekomendasi tersebut bisa diterapkan di
Indonesia. Semua perusahaan terbuka wajib menerapkan 33
rekomendasi tersebut, walaupun masa berlakunya tidak langsung,
atau secara bertahap. Hingga kini, ke-33 rekomendasi tersebut
belum semua diturunkan.

Rekomomendasi-rekomendasi tersebut mengatur tentang


keberadaan direksi, komisaris, RUPS, mengatur saham, pembagian
deviden, etika bisnis, komunikasi, dan sebagainya.Jadi sejak 2014
itu Indonesia sudah mewajibkan perusahaan terbuka untuk
menerapkan governance berdasarkan standard internasional.
Dalam ASEAN CG Scorecad tersebut ada 5 parameter, dan 190 sub
parameter. Kelima parameter itu adalah, pertama, hak pemegang
saham, kedua, perlakuan setara antar pemegang saham, ketiga,
peran pemegang saham, keempat, keterbukaan informasi dan
transparansi, kelima, tanggung jawab dewan direksi dan komisaris.

Pakar sekaligus praktisi GCG Wilson Arafat mengatakan, bila


sebuah perusahaan menerapkan parameter-parameter tersebut
secara komprehensif, sistematis, efektif, dan efisien, bisa dijamin
perusahaan tersebut akan tumbuh kuat dan berkelanjutan. Bisa
menjadi sebuah perusahaan tumbuh kuat dan berkelanjutan
kalau beyond-nya juga dilakukan, bukan sekadar di atas kertas,
kata Wilson.

Bukti empiris sudah banyak yang bisa kita ketahui bersama


baik itu di Asia, Eropa, dan sebagainya, bahwa sebuah perusahaan
bisa hancur karena tidak menerapkan prinsip-prinsip GCG dalam
menjalankan perusahannya. Seperti yang terjadi pada Enron Corp.,
Worldcom, dan Xerox.
3.3. Implemen tasi Asean Corporate Scorecard Pada
Pemerintah Daerah

Jika dalam suatu Corporate Asean Scorecard merupakan salah


satu alat ukur untuk memeringkat kinerja tata kelola perusahaan
publik dan terbuka di ASEAN, dan salah satu tujuannya adalah
untuk mengukur dan meningkatkan efektivitas dari implementasi
prinsip-prinsip tata kelola perusahaan maka hal inipun akan
memungkinkan jika di terapkan dalam Pemerintahan Daerah.

Sebelum Asean Corporate Scorecard di Implementasikan dalam


Pemerintahan maka terlebih dahulu suatu pemerintahan harus
memahami seperti apa tata keola pemerintahan yang baik (Good
Governance Goverment).

Salah satu komponen vital dalam pencapaian good


goverment governance adalah akuntabilitas publik. Akuntabilitas
(accountability) secara harfiah dapat diartikan Sebagai
pertanggungjawaban (Ulum, 2004). Pemerintah daerah harus
mempertanggungjawabkan mandat yang telah yang telah mereka
gunakan dengan mempertanggungjawabkan kinerja mereka.
Kinerja ini ditekankan menuju peningkatan kesadaran dari peran
pelaporan tahunan dalam kewajiban pelaksanaan akuntabilitas
(Jones dan Murice, 1996: Mardiasmo, 2002a; Mahmudi, 2007).
Terwujudnya good goverment governance dan akuntabilitas
publik merupakan tujuan utama dari reformasi otonomi pemerintah
daerah. Tuntutan akuntabilitas publik mengharuskan pemerintah
daerah untuk lebih menekankan pada pertanggungjawaban
horizontal (masyarakat) bukan hanya pertanggungjawaban vertikal
(pemerintah pusat). Selama ini responsi dan partisipasi masyarakat
dalam pengelolaan keuangan daerah termasuk didalamnya laporan
keuangan, relatif rendah. Salah satu upaya untuk mengatasi
hambatan atas rendahnya responsi dan partisipasi masyarakat
adalah dengan memberikan advokasi dan pengembangan indikator
laporan keuangan beresponsif masyarakat.
Advokasi beresponsif masyarakat dapat dilakukan dengan 5 (lima)
langkah yaitu:
1. Perbaikan Substansi Laporan Keuangan
2. Perbaikan Proses Penyusunan dan pengesahan anggaran
3. Perbaikan pelaksanaan dan pertanggungjawaban berupa
laporan keuangan
4. Perubahan persepsi dan sikap masyarakat atas laporan
keuangan
5. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pemerintahan

Pemahaman atas advokasi dan pengembangan indikator


laporan keuangan beresponsif masyarakat diharapkan menjadi
titik tolak untuk mendorong terwujudnya good goverment
governance dan akuntabilitas pemerintah daerah yang
berespondensi dengan partisipasi masyarakat.

3.4. Asean Corporate Scorecard


Penilaian ASEAN CG Scorecard didasarkan pada dokumentasi
yang dapat diakses oleh publik, dan bertujuan agar dapat disusun
suatu kumpulan perusahaan publik di kawasan ASEAN dengan tata
kelola yang baik, dan dapat dipromosikan kepada investor manca
negara.
Jika bercermin pada Asean Corporate Governance kenapa
tidak pemerintah daerah melakukan hal serupa, dan pada hasil
akhirnya akan tersusun suatu kumpulan pemerintahan dari setiap
daerah di kawasan ASEAN dengan tata kelola yang baik. Ketika
tujuan Asean Corporate Governance adalah untuk memeringkat
kinerja tata kelola perusahaan publik terbuka di ASEAN, dapat di
implementasikan pada pemerintahan suatu daerah, dimana ketika
Corporate di ukur melalui Asean Corporate governance maka
dapat pula Alat ukur ini menjadi Asean Goverment governance.
Alat ukur ini dapat digunakan dengan menggunakan laporan
keuangan maupun non keuangan, dimana suatu pemerintahan
dapat melihat suatu kinerja tata kelola pemerintahan di ASEAN, jika
dilihat melalui sudut pandang non keuangannya tata kelola
pemerintahan yang baik pengukurannya dapat di ukur melalui :
1. Partisipasi (Participation)
Setiap Warga Negara mempunyai suara dalam formulasi
keputusan, baik secara langsung maupun melalui intermediasi
institusi legitimasi yang mewakili kepentingannya. Partisipasi
seperti ini dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan
berbicara serta berpartisipasi secara kongkrit.
2. Penerapan Hukum (Fairness)
Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang
bulu, terutama hukum untuk hak azasi manusia.
3. Transparansi (Transparency)
Transparansi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi
secara langsung dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan.
Informasi harus dapat dipahami dan dapat dimonitor.
4. Responsivitas (Responsiveness)
Lembaga-lembaga dan proses-proses kelembagaan harus
mencoba untuk melayani stake holders.
5. Orientasi (Concensus Orientation)
Good Governance menjadi perantara kepentingan yang berada
untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih
luas baik dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosdur-
prosedur.
6. Keadilan (Equity)
Semua warga negara, baik laki-laki maupun perempuan
mempunyai kesempatan untuk meningkatkan atau menjaga
kesejahteraan mereka.
7. Efektivitas (Effectivness)
Proses-proses dan lembaga-lembaga menghasilkan sesuai dengan
apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumber-sumber
yang tersedia sebaik mungkin.
8. Akuntabilitas (Accountability)
Para Pembuat keputusan dalam pemerintahan, sector Swasta dan
masyarakat (civil society) bertanggung jawab kepada public dan
lembaga-lembaga stakeholder. Akuntabilitas ini tergantung pada
organisasi dan sifat keputusan yang dibuat, apakah keputusan
tersebut untuk kepentingan internal organisasi atau eksternal
organisasi.
9. Strategi Visi (Strategic Vision)

Para pemimpin dan public harus mempunyai persfektif good


governance dan pengembangan manusia yang luas dan jauh ke
depan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan
semacam ini.

Prinsip-Prinsip diatas adalah suatu karakteristik yang harus


dipenuhi dalam pelaksanaan good governance yang berkaitan
dengan control dan pengendalian, yaitu pengendalian suatu
pemerintahan yang baik agar cara dan penggunaan cara
sungguh-sungguh mencapai hasil yang dikehendaki stakeholder.

Ada dua hal non keuangan untuk mengukur kinerja tata


kelola pemerintahan yang baik

1. Responsibilitas

Responsibilitas menjelaskan sejauh mana pelaksanaan


kegiatan organisasi publik itu dilakukan sesuai dengan yang
implisit atau eksplisit. Semakin kegiatan organisasi public itu
dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi dan
peraturan serta kebijaksanaan oraganisasi, maka kinerjanya akan
dinilai semakin baik. Sedangkan akuntabilitas mengacu pada
seberapa besar pejabat poltik dan kegiatan organisasi publik
tunduk pada pejabat poltik yang dipilih oleh rakyat. Asumsinya
adalah bahwa para pejabat politik tersebut karena dipilih oleh
rakyat, dengan sendirinya akan selalu mempresentasikan
kepentingan rakyat. Dalam konteks ini kinerja organisasi publik
dinilai baik apabila seluruhnya atau setidakanya sebagian besar
kegiatannya didasarkan pada upaya-upaya untuk memenuhi
harapan dan keinginan para wakil rakyat. Semakin banyak tindak
lanjut organisasi atas harapan dan aspirasi pejabat politik maka
kinerja organisasi tersebut dinilai semakin baik.

2. Akuntabilitas

Konsep akuntabilitas publik dapat digunakan untuk


melihat seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi public
atau pemerintah seperti pencapaian target. Kinerja sebaiknya
harus dinilai dari ukuran eksternal juga seperti nilai-nilai dan
norma yang berlaku dalam masyarakat. Suatu kegiatan
organisasi public memiliki akuntabilitas yang tinggi kalau
kegiatan itu dianggap benar dan sesuai dengan nilai dan norma
yang berekembang dalam masyarakat.

Dengan adanya hal tersebut jika suatu pemerintahan


dapat menjalankannya dengan baik maka akan terciptalah good
foverment governance, sehingga dengan alat ukur Asean
Scorecard pemerintahan pun dapat memperingkat setiap
pemerintah daerah se ASEAN, dan Asean Scorecard ini tidak
hanya mampu diterapkan dalam sector Corporate saja tetapi
dalam pemerintah daerah juga dapat di implementasikan karen
suatu pemerintahanpun punya prinsip-prinsip tata kelola
pemerintahan yang mana apabila di implementasikan dengan
baik akan terciptalah good goverment governance.
BAB IV

SIMPULAN

Dari Pemaparan di atas dapat disimpulkan


1. Dapat disimpulkan bahwa Asean Scorecard merupakan alat untuk
memeringkat kinerja tata kelola perusahaan publik dan terbuka di
ASEAN.
2. Negara-negara ASEAN menciptakan atau sepakat untuk
menerapkan Asean Corporate Governcance Scourecard (Asean CG
Scorecard) untuk level ASEAN. Asean CG Scorecard ini kemudian
menjadi standar bagi perusahaan-perusahaan di ASEAN, terutama
untuk menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.
Jadi, semua negara di ASEAN memiliki standard yang sama, yakni
ASEAN CG Scorecard.

ASEAN CG Scorecard ini seperti layaknya standar ISO bagi


perusahaan manufaktur untuk melakukan ekspor dan impor.
Begitu pula dengan standar GCG di ASEAN untuk MEA, namanya
ASEAN CG Scorecard. Implementasi GCG di Indonesia sendiri
melalui beberapa tahap. Pertama, setelah krisis terjadi, yaitu
sekitar tahun 1999. Ketua Dewan Komisioner Indonesia Muliaman
D Hadad meresmikan roadmap tata kelola perusahaan Indonesia.
Roadmap ini dikeluarkan pada 14 Februari 2014.

3. Penilaian ASEAN CG Scorecard didasarkan pada dokumentasi yang


dapat diakses oleh publik, dan bertujuan agar dapat disusun suatu
kumpulan perusahaan publik di kawasan ASEAN dengan tata kelola
yang baik, dan dapat dipromosikan kepada investor manca
negara.

Jika bercermin pada Asean Corporate Governance kenapa


tidak pemerintah daerah melakukan hal serupa, dan pada hasil
akhirnya akan tersusun suatu kumpulan pemerintahan dari setiap
daerah di kawasan ASEAN dengan tata kelola yang baik. Ketika
tujuan Asean Corporate Governance adalah untuk memeringkat
kinerja tata kelola perusahaan publik terbuka di ASEAN, dapat di
implementasikan pada pemerintahan suatu daerah, dimana ketika
Corporate di ukur melalui Asean Corporate governance maka
dapat pula Alat ukur ini menjadi Asean Goverment governance.
Alat ukur ini dapat digunakan dengan menggunakan
laporan keuangan maupun non keuangan, dimana suatu
pemerintahan dapat melihat suatu kinerja tata kelola
pemerintahan di ASEAN, jika dilihat melalui sudut pandang non
keuangannya tata kelola pemerintahan yang baik
pengukurannya dapat di ukur melalui :
1. Partisipasi (Participation)
2. Penerapan Hukum (Fairness)
3. Transparansi (Transparency)
4. Responsivitas (Responsiveness)
5. Orientasi (Concensus Orientation)
6. Keadilan (Equity)
7. Efektivitas (Effectivness)
8. Akuntabilitas (Accountability)
9. Strategi Visi (Strategic Vision)

Ada dua hal non keuangan untuk mengukur kinerja tata kelola
pemerintahan yang baik

1. Responsibilitas
2. Akuntabilitas
DAFTAR PUSTAKA

Ferlie, E., dan Steane, P. (2002). Changing Development in


NPM. International Journal of Public Administrational [Online],
(http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1081/PAD120014256?
src=recsys&journalCode=lpad20 diakses tanggal 29 Desember
2016

Haryanto, Sahmuddin, dan Arifuddin,(2007). Akuntansi Sektor


Publik, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. [Online],
http://eprints.undip.ac.id/39373/1/0001_-
_Buku_Akuntansi_Sektor_Publik_-_2007_-_BP_Undip_Semarang_-
_Haryanto.pdf diakses tanggal 5 Januari 2017

Jones, Rowan and Pendlebury, Maurice (1996). Public Sector


Accounting, 4th
Ed., London: Pitman Publishing [Online],
http://ebooks.narotama.ac.id/files/Public%20Sector%20Accounting
%20(6th%20Edition)/ diakses tanggal 5 Januari 2017

Mahmudi, (2007), Analisis Laporan Keuangan Pemerintah


Daerah, Yogyakarta: UPP STIMYKPN [Online]
https://openlibrary.org/books/OL17004513M/Analisis_laporan_keuan
gan_pemerintah_daerah diakses tanggal 5 Januari 2017

Mardiasmo, (2000), Reformasi Pengelolaan Keuangan


Daerah: Implementasi Value
for Money Audit sebagai Antisipasi Terhadap Tuntutan
Akuntanbilitas Publik, Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia
(JAAI) Vol. 4 No.1 [Online]

.https://www.document/213247962/0001-Buku-Akuntansi-Sektor-
Publik-2007-BP-Undip-Semarang-Haryanto diakses tanggal 5 Januari
2017