Anda di halaman 1dari 22

RUAS GARIS BERARAH

Tugas Kelompok
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Geometri Transformasi
Dosen pengampu: Dr. Iwan Junaedi, M.Pd.

Oleh :

1. Umi Fadhlilah 4101407033


2. Hisma Kusumawati 4101407036
3. Lulu Arifatun Munasiroh 4101407037
4. Nafiatun 4101407039
5. Walida Ahies Noor 4101407040

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2010

RUAS GARIS BERARAH


9.1 Definisi dan Sifat-sifat yang Sederhana
Untuk melajutkan penyelidikan tentang isometri diperlukan pengertian
tentang ruas garis berarah sebagai berikut:
Definisi: Suatu ruas garis berarah adalah sebuah ruas garis yang salah satu
ujungnya dinamakan titik pangkal dan ujung yang lain dinamakan
titik akhir.

AB
Apabila A dan B dua titik, lambang kita gunakan sebagai ruas garis


AB
berarah dengan pangkal A dan titik akhir B. Perhatikan dan AB


AB
melukiskan dua hal yang berbeda. Seperti diketahui bahwa

menggambarkan sinar atau setengah garis yang berpangkal di A dan melalui


B.

AB
CD
Dua ruas garis dan disebut kongruen apabila AB = CD.


AB
CD
AB
Walaupun AB = CD, dan tidak perlu sama; adalah


AB
sebuah himpunan sedangkan AB adalah bilangan real. Jika dan


CD CD
AB
kongruen ditulis .

AB
CD
Andaikan sekarang ada 2 ruas garis berarah dan . Dalam


AB
CD
membandingkan dua ruas garis berarah dan tidaklah sukup,

jika AB = CD; kedua ruas garis berarah itu searah. Jika demikian, dikatakan

AB
CD
bahwa ruas garis berarah ekivalen dengan ruas garis berarah

CD
AB=
yang ditulis sebagai .
=CD
AB
Definisi: apabila Sp(A) = D dengan P titik tengah BC .

B
D
P

A
C
Gambar 9.1

Teorema 9.1:

AB
CD
Andaikan dan dua ruas garis berarah yang tidak segaris, maka

CD
AB=
segi-4 ABCD sebuah jajargenjang jika dan hanya jika .

Bukti:

AB
CD
Akan ditunjukkan jika dan adalah dua ruas garis berarah yang


tidak segaris maka ABCD jajargenjang AB=CD .

()
AB
Akan ditunjukkan jika ABCD sebuah jajar genjang dengan


CD
dan adalah 2 ruas garis berarah yang tidak segaris maka

CD
AB=
.

Dipunyai ABCD sebuah jajar genjang.



AD
BC
Diagonal-diagonal dan berpotongan di tengah-tengah,

misalkan titik P.

AD
Dengan demikian Sp(A) = D, dengan P adalah titik tengah


maupun B C .
CD
AB=
Berdasarkan definisi keekivalenan diperoleh .

() =CD
AB
Akan ditunjukkan jika maka ABCD jajargenjang


AB
CD
dengan dan adalah 2 ruas garis berarah yang tidak

segaris.
CD
AB=
Dipunyai .

BC
Misalkan titik P adalah titik tengah .

Menurut definisi keekivalenan maka Sp(A) = D.


Berarti AP = PD, jadi P juga titik tengah AD.
Hubungkan titik A ke C dan titik B ke D sehingga terbentuklah
segiempat ABCD.

AD
BC
dan adalah diagonal-diagonal segiempat ABCD yang

terbagi sama panjang di P (definisi jajar genjang).


Akibatnya segiempat ABCD sebuah jajar genjang.

AB
CD
Jadi terbukti jika dan adalah dua ruas garis berarah yang tidak


segaris maka ABCD jajargenjang AB =CD .

Akibat Teorema 9.1:


CD
AB=
AB
Jika maka AB = CD dan dan CD sejajar atau segaris.

Bukti:
=CD
AB AB =CD
AB
CD
Akan dibuktikan dan dan sejajar

atau segaris.
CD
AB=
Dipunyai


p AB
Kasus :
=CD
AB ,
Karena maka menurut definisi keekivalenan, Sp(A) = D


dengan P adalah titik tengah BC sehingga BP = PC.

AB
Pilih titik P pada perpanjangan .

Karena Sp(A) = D, maka AP = PD.

Diperoleh AP = PD AB + BP = PC + CD.
Karena BP = PC, maka AB + PC = PC + CD AB = CD.

Buat garis yang melalui titik A dan D.


AB
AB CD
CD
AB
Diperoleh dan sehingga dan

AD
CD
.

AB
Karena segaris dengan CD maka AB segaris dengan CD .
:
p AB
Kasus
CD
AB=
AB
Karena , maka tidak segaris.

Berdasarkan teorema 9.1, diperoleh segiempat ABCD jajar genjang.


Menurut karakteristik jajar genjang bahwa sisi-sisi yang berhadapan sama
panjang dan sejajar, akibatnya AB = CD.

AB
CD AB
AB CD
CD
AB
Karena // , dan maka //


CD .

Teorema 9.2:
, CD
AB ,
EF
Diketahui ruas-ruas garis berarah dan maka
AB
AB=
1. (sifat reflexi);
CD
AB=
2. jika maka CD= AB (sifat simetrik);
CD
AB=
3. jika dan CD= EF maka AB= EF (sifat transitif).

Bukti:
AB
AB=
1. Akan dibuktikan (sifat reflexi)

Misalkan P adalah titik tengah AB , maka Sp(A) = B

Menurut definisi keekivalenan diperoleh AB = AB .

2. Akan dibuktikan jika AB=CD maka CD= AB (sifat simetrik)
CD
AB=
Menurut teorema 9.1 jika maka segiempat ABCD


BC
AD
jajargenjang, diagonal-diagonal dan membagi sama

panjang di P,

AD
maka P dalah titik tengah
akibatnya Sp(C) = B
menurut definisi kekeivalenan apabila Sp(C) = B dengan P titik tengah

AD
maka CD= AB .
EF
EF

3. Akan dibuktikan jika A B=CD dan CD= maka AB=

(sifat transitif):

Diperoleh AB=CD maka Sp(A) = D dengan P titik tengah BC

Diperoleh CD= EF maka Sq(C) = F dengan Q titik tengah DE
CD
AB=
Menurut teorema 9.1 jika maka segiempat ABCD


AB
jajargenjang sehingga // CD dan CD // EF akibatnya


AB
// EF .
CD
AB=
Menurut akibat dari teorema 9.1 bahwa jika maka AB = CD,

jika CD= EF maka CD = EF
Akibatnya AB = EF.

AB
Karena AB = EF dan // EF maka ABFE jajargenjang.

Menurut teorema 9.1 jika ABCD jajargenjang maka AB // EF .
Teorema 9.3:

AB
Diketahui sebuah titik P dan suatu ruas garis berarah maka ada

AB
PQ=
titik tunggal Q sehingga
B .

R
A Q

Gambar 9.2
Bukti: P
PQ
AB=
Akan dibuktikan keberadaan Q sehingga
Andaikan ada titik Q
PQ

misal R adalah titik tengah BP dengan Sp(A) = Q maka AB=
AB
PQ=
Menurut teorema 9.2 (2) maka
Akan dibuktikan Q tunggal,

Andaikan ada titik T sehingga AB= PT

Karena R titik tengah BP maka SR(A) = T
AR
RQ=
Setengah putaran A terhadap R atau SR(A) tunggal sehingga
Akibat 1:
Jika
P 1 ( x 1 , y 1 ) , P 2 ( x 2 , y 2) P3 ( x 3 , y 3 )
Jika , dan titik-titik yang diketahui

P ( x3 + x 2x 1 , y 3 + y 2 y1 )
maka titik adalah titik tunggal sehingga

P3 P= P1P2 .

Andaikan P bukan titik tungga maka P3 P P1P2 artinya

P3 P P1P2 0

diperoleh P3 P P1P2 = ( PP3 ) ( P2P1 )

[ ( x 3+ x2 x1 , y 3+ y 2 y 1 )( x 3 , y 3 ) ][ ( x2 , y 2 )( x 1 , y 1 ) ]

[ ( x 3+ x2 x1 x3 , y 3+ y 2 y 1 y 3 ) ][ ( x 2x 1 , y 2 y1 ) ]

( x 2x 1 , y 2 y 1 ) ( x 2x1 , y 2 y 1 )

( 0,0 )
0.

Akibat 2:
Jika
Pn=( x n , y n ) ,n=1,2,3,4,
maka P1P2 = P3P 4

x2 x1 =x 4x 3 , y 2 y 1= y 4 y 3

( ) Akan dibuktikan jika Jika Pn=( x n , y n ) ,n=1,2,3,4 maka

P1P2 = P3P 4 x 2x 1=x 4 x 3 , y 2 y 1 = y 4 y3


Karena P1P2 = P3P 4 maka
P1 P2
=
P3 P 4
sehingga

P2P1=P 4P3

[ ( x 2 , y 2 ) ( x1 , y 1 ) ]=[ ( x 4 , y 4 )( x 3 , y 3) ]

( x 2x 1 , y 2 y 1 )= ( x 4x 3 , y 4 y 3 )

menurut definisi sebuah titik pada aljabar, dua titik A(a,b) = B(c,d)

jika dan hanya jika a=b dan c=d

x 2x 1=x 4x 3 y 2 y 1 = y 4 y 3
diperoleh dan

( ) Akan ditunjukkan jika x 2x 1=x 4x 3 , y2 y 1= y 4 y 3


maka

Jika
Pn=( x n , y n ) ,n=1,2,3,4
maka P1P2 = P3P 4

x 2x 1=x 4x 3 , y2 y 1= y 4 y 3
Dipunyai maka dapat dibuat

R=( x 2x 1 , y 2 y 1 )
titik yang sama misalkan R dan S, dengan

S=( x 4 x 3 , y 4 y 3 )
dan
( x 2x 1 , y 2 y 1 )= ( x 4x 3 , y 4 y 3 )
misalkan R = S
[ ( x 2 , y 2 ) ( x1 , y 1 ) ]=[ ( x 4 , y 4 )( x 3 , y 3) ]

P2P1=P4 P3

P1 P2
=
P3 P 4 P1P2 = P3P 4

x 2x 1=x 4x 3 , y2 y 1= y 4 y 3
Jadi jika maka Jika

Pn=( x n , y n ) ,n=1,2,3,4
maka P1P2 = P3P 4

Mengalikan Ruas Garis Berarah dengan Sebuah Skalar


Definisi:

AB
Andaikan sebuah ruas garis berarah dan k suatu bilangan real,


maka k AB adalah ruas garis berarah AP sehingga P AB dan

AP = k (AB) jika k>0.



Apabila k<0 maka k AB adalah ruas garis berarah AP dengan P


AB
anggota sinar yang berlawanan arah dengan sedangkan AP =


|k| AB . Dikatakan bahwa AP
adalah kelipatan AB .
SOAL-SOAL LATIHAN DAN PEMBAHASAN

1. Diketahui titik-titik A, B, C, dan D, tiap tiga titik tidak segaris.


Ditanya:

a. Lukis titik D sehingga CE= AB
BA
DE=
b. Lukis titik F sehingga

S A ( AB)
c.
Jawab:

a. Misalkan titik D adalah titik tengah EA sehingga S D ( C )=B

E
B
D

CC A

EB S F ( D )=A
b. Misalkan titik F merupakan titik tengah sehingga

E
A
F


c. DS A ( AB) B
B

B
2. Diketahui titik-titik A, B, C yang tidak segaris.
Lukislah:

a. Titik D sehingga AD =3 AB
4 AB
AE=
b. Titik F sehingga 3

c. Titik F sehingga CF= 2 AB

Jawab:
=3 AB
AD
a. Titik D sehingga

A B D
F

A B

4 AB
AE=
b. Titik F sehingga 3

E B A B

c. Titik F sehingga CF= 2 AB

3. Diantara ungkapan-ungkapan di bawah ini manakah yang benar?


=BA
AB
a.

b. S A ( AB )= BA
)=S B ( AB
S A ( AB )
c.

d. Jika A ' =S B ( A ) maka ' =2 AB


AA

A B = AB
'
e. Jika B =S A S B ( B ) dan A ' =S A S B ( A ) , maka ' '

Jawab:

AB=
BA
a.

AB
A B

BA
A B

BA
A B
(Benar)

b. S A ( AB )= BA

)
S A ( AB
B A B


BA
A B
(Benar)
)=S B ( AB
S A ( AB )
c.

)
S A ( AB
B A B
)
S B ( AB
A B A
(Benar)
' '=2 AB

d. Jika A =S B ( A ) maka AA

A B A
(Benar)
A B = AB
' ' ' '
e. Jika B =S A S B ( B ) dan A =S A S B ( A ) , maka

A B A B

(Benar)
4. Diketahui A (0,0), B (5,3), dan C (-2,4). Tentukan:

a. R sehingga AR = BC

b. S sehingga CS= AB

c. T sehingga TB= AC

Jawab:
BC
AR=
a. R sehingga
= BC
AR
Berdasarkan teorema akibat jika maka AR = BC sehingga
xR x x x x x x x
( )( )( )( ) ( )( )( )( )
yR
A = C B R = C B + A
yA yC yB yR yC yB yA

( )( ) ()() ( )
xR
yR
= 2 5 + 0 = 7
4 3 0 1

Jadi R = (-7,1).

b. S sehingga CS= AB

Berdasarkan teorema akibat jika CS= AB maka CS = AB sehingga
( )( )( )( ) ( )( )( )( )
xS
yS
x x x x x x x
C = B A S = B A + C
yC yB yA yS yB yA yC

( ) () ()( ) ()
xS
yS
= 5 0 + 2 = 3
3 0 4 7

Jadi R = (3,7).

c. T sehingga TB= AC

Berdasarkan teorema akibat jika TB= AC maka TB = AC sehingga

( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )( )
xB
yB
x x x x x x x
T = C A T = B C + A
yT yC yA yT yB yC yA

( ) () ( )() ( )
xT
yT
= 5 2 + 0 = 7
3 4 0 1

Jadi R = (7,-1).
5. Diketahui: A (2,1), B (3,-4), dan C (-1,5). Tentukan:
a. D sehingga CD = AB
b. E sehingga AE = BC
1
AC
c. F sehingga AF = 2

Jawab:
a. D sehingga CD = AB
2 2
( x D xC ) + ( y D y C ) = ( x x
B A
2 2
) + ( yB y A )

2
( x D +1 ) + ( y D5 )
2
= ( 32 ) + (41 )
2 2

( x
2 2
D +1 ) + ( y D5 ) = (1 ) +(5 )
2 2

( x
2 2
D +1 ) + ( y D5 ) = 26
2 2
( x D +1 ) + ( y D 5 ) = 26
x D2 +2 x D +1+ y D210 y D +25=26

x D2 + y D 2+2 x D 10 y D + 26=26

x D2 + y D 2+2 x D 10 y D =0

Jadi D adalah semua titik pada lingkaran x D2 + y D 2+2 x D 10 y D =0

b. E sehingga AE = BC
( x x ) +( y y )
E A
2
E A
2
= ( x x ) +( y
C B
2
C yB )
2

( x 2 ) + ( y 1 )
2 2
E E = (13 ) + ( 5+4 )
2 2

( x 2 ) + ( y 1 )
2 2
E E = (4 ) +( 9 )
2 2

( x 2 ) + ( y 1 )
2 2
E E = 16+81
( x 2 ) + ( y 1 )
2 2
E E = 97
( x E 2 )2 + ( y E1 )2= 97
2 2
x E 4 x E + 4+ y E 2 y D +1=97

x E2 + y E2 4 x E2 y D + 5=97
2 2
x E + y E 4 x E2 y D 92=0

Jai E adalah semua titik pada lingaran x E2 + y E 24 x E2 y D92=0

1
AC
c. F sehingga AF = 2
1
) + ( y F y A ) = 2 ( x C x A ) + ( y C y A )
2 2
( x x
F A
2 2

1
2
( x F 2 ) + ( y F 1 )
2
= 2
(12 )2 + ( 51 )2

1
2
( x F 2 ) + ( y F 1 )
2
= 2
(3 )2 +( 4 )2
1
2
( x F 2 ) + ( y F 1 )
2
= 2
9+16

1
2
( x F 2 ) + ( y F 1 )
2
= 2
25

1
( x F 2 )2 + ( y F1 ) 2= .25
4
1
x F2 4 x F +4 + y F 22 y F + 1= . 25
4
1
x F2 + y F 24 x F 2 y F +5= .25
4
2 2
4 x F + 4 y F 16 x F 8 y F +20=25
2 2
4 x F + 4 y F 16 x F 8 y F5=0

Jadi F adalah semua titik pada lingkaran


2 2
4 x F + 4 y F 16 x F8 y F 5=0

6. Jika A = (1,3), B = (2,7), dan C = (-1,4) adalah titik-titik parallelogram


ABCD. Tentukan koordinat-koordinat titik D.
Jawab:
Menurut teorema 9.1 jika ABCD jajargenjang maka AB=CD dengan K adalah
titik tengah BC dan AD.
Karena K titik tengah BC maka

K= ( x +2 x , y +2 y )=( 212 , 7 +42 )=( 12 , 112 )


B C B C

x +x y +y
Karena K titik tengah AD maka K=( 2 , 2 )
A D A D

1+ x 3+ y
( , )=(
2 )
1 11 D D
,
2 2 2

1+ x D 1
= 1+ x D=1 x D =0
2 2
3+ y D 11
= 3+ y D =11 y D =8
2 2
Jadi koordinat D adalah (0,8).
7. Jika A(-2,4), B(h,3), C(3,0), dan D(5,k) adalah titik sudut jajargenjang
ABCD, tentukan h dan k.
Jawab:

Karena ABCD jajargenjang maka AB=CD dan AD =BC

Dari AB=CD menurut akibat teorema 9.1 diperoleh AB=CD maka

( )( )( )( )
xB
yB
x x x
A = D C
yA yD yC

3 () ( )()() ( ) ( )
h 2 = 3 5 h+2 = 2
4 0 k 1 k

Sehingga diperoleh h+2=2 h=4 dan k=1 k=1 .


8. Jika A(-h,-k), B(5,-2 3 , C(k,8 3 dan D(-9,h) adalah titik-titik

=CD ,
AB
sehingga tentukan h dan k.
Jawab:
CD
AB=
Karena maka menurut akibat teorema 9.1 diperoleh AB=CD

sehingga

( )( )( )( ) (
xB
yB
x x x
A = D C
yA yD yC
5+h
2 3+k
=
9k
h8 3 )( )
5+h=9k h+ k=14 ... (1)
2 3+k =h8 3 hk =6 3 ...(2)

Dari (1) dan (2) diperoleh k = - 7 - 3 3 dan h = - 7 - 3 3 .


9. Diantara relasi-relasi di bawah ini manakah yang termasuk relasi ekivalensi?
a. Kesejajaran pada himpunan semua garis.
b. Kekongruenan pada himpunan semua sudut.
c. Kesebangunan pada himpunan semua segitiga.
d. Kekongruenan antara bilangan-bilangan bulat modulo 3.
Jawab:
a.
Relasi ekivalensi
b.
Relasi ekivalensi
c.
Relasi ekivalensi
d.
Bukan relasi ekivalensi
e.
Bukan relasi ekivalensi
EF
EF

10. Buktikan jika AB=CD dan CD= maka AB= dengan jalan

A=( a1 , a2 ) , B=( b1 , b2 ) ,C= ( 0,0 ) dan E=( e1 , e2 )


memisalkan .
Bukti:
b1 a d c
Dari
CD
AB=
diperoleh AB = CD maka ()()()()
b2
1= 1 1
a2 d2 c2

d1 b a +0 b a

()(
d2
= 1 1
b2 a2 +0 )( )
= 1 1
b 2a2


Dari CD= EF diperoleh CD = EF maka ( )()()()
d1
d2
c
c2
f
f2
e
1= 1 1
e2

( ) () ( ) ( )
b1a 1
b2a 2 0
f
f2
e
0= 1 1
e2

f1 b a + e

()(
f2
= 1 1 1
b2a2+ e2 )
Sehingga

EF=
(
b 1a1 + e1
b 2a 2+ e2
e b a
)()( )
1= 1 1 .
e2 b 2a2

11. Jika A=(0,0), B=(1,-3), dan C=(5,7), tentukan:


a. D sehingga AD = 3 AB
1
BC
b. E sehingga AE = 2

c. F sehingga AF = -2 AB
Jawab:
a. D sehingga AD = 3 AB
2 2 2

( x D x A ) + ( y D y A ) = 3 ( x Bx A ) +( y B y A )
2

2
( x D +0 ) + ( y D 0 )
2
= 3 ( 10 ) + (30 )
2 2

x D2 + y D 2 = 3 ( 1 ) + (3 )
2 2

x D2 + y D 2 = 3 10
x D 2 + y D2 = 90
2 2
Jadi D adalah semua titik pada lingkaran xD + y D = 90

1
BC
b. E sehingga AE = 2
1
) + ( y E y A ) = 2 ( x C x B ) + ( y C y B )
2 2
( x x
E A
2 2

1
2
( x E0 ) + ( y E0 )
2
= 2
( 51 )2+ ( 7(3)) 2

1
x E2 + y E 2 = 2
( 4 )2 + ( 10 )2

1
x E2 + y E 2 = 16+ 100
2
1
x E2 + y E 2 = 116
2

2 2 1
x E + y E = .116
4

x E2 + y E2=29

Jadi E adalah semua titik pada lingkaran x E2 + y E2=29

c. F sehingga AF = -2 AB
2 2
( x F x A ) + ( y F y A ) = -2 ( x x
B A
2
) + ( yB y A)
2

2
( x F 0 ) + ( y D0 )
2
=-2 (10 ) +(30 )
2 2

x F2 + y F 2 = 2 ( 1 ) + (3 )
2 2

x F2 + y F 2 =4 10
x F2 + y F2 = 40
2 2
Jadi D adalah semua titik pada lingkaran xF + y F = 40

P0=( 0,0 ) , P1=( x 1 , y 1 ) , P2=( x 2 , y 2 ) P3=( x 3 , y3 )


12. Jika dan sedangkan

k>0, tentukan:
a. P sehingga P0 P=k P0P 1

b. P sehingga P1 P=k P1P2

P3 P=k P1P2 P=[ x 3 +k ( x 2x 1 ) , y3 + k ( y 2 y 1 ) ]


c. Jika maka
d. Apakah rumus tetap berlaku apabila k < 0?
Jawab:

a. P sehingga P0 P=k P0P 1

Karena P0 P=k P0P 1 maka menurut akibat teorema 9.1 diperoleh P P


0

= kP0P1 sehingga ( x Px P0

y P y P
=k P
0
) (
x x P
yP yP
x 0
p 1

y p0
1
x 0
=k 1 0

y 10 0
) ( ) ( )

( )( )
xp
yp
kx
= 1
ky 1

b. P sehingga P1 P=k P1P2

Karena P1 P=k P1P2 maka menurut akibat teorema 9.1 diperoleh

P1P=kP1P2 sehingga
P2 x P 1

x P x P
( 1

y p y P
1
) x x
( x x
=k ( x y P y P ) P 1 =k 2 1
2 1
y P y 1 ) (
y 2 y 1 )
x Px 1=k x2kx 1 x P =k x 2( k1) x 1

1
ky

y P y 1=ky 2k y 1 y P =ky 2

1
k y
Jadi k x ( k1) x , ky ( 1)
2 1 2
P=

P3 P=k P1P2 P=[ x 3 +k ( x 2x 1 ) , y3 + k ( y 2 y 1 ) ]


c. Jika maka

Karena P3 P=E P 1P2 maka menurut akibat teorema 9.1 diperoleh

P3P=kP1P2 sehingga
P 2 x P 1

x Px P
( 3

y P y P
3
) x x
( x x
=k ( x y P y P ) P 3 =k 2 1
2 1
yP y3 ) (
y 2 y 1 )
x
( 2x1 )+ x3
x Px 3 =k x2 kx 1 x P =k

y
k ( 2 y1 )+ y 3
y P y 3=ky 2 k y 1 y P=
x
y
k ( 2 y 1)+ y 3
Jadi ( 2x 1 )+ x 3 ,
k
P=
d. Apakah rumus tetap berlaku apabila k < 0?
rumus tetap berlaku tetapi arahnya berlawanan.
13. Jika A = (0,0), B = (1,3), C = (-2,5), dan D = (4,-2) titik-titik diketahui,
gunakan hasil pada soal nomor 12, untuk menentukan koordinat-koordinat
titik-titik berikut:

a. P sehingga AP=4 AC
1 BC
BR=
b. R sehingga 2

DS=3
BC
c. S sehingga

d. T sehingga CT=2 DB

Jawab:

a. P sehingga AP=4 AC
AP=4 AC P A=4 (C A)
Karena AP=4 AC maka sehingga

Diperoleh ( ) (
x Px A
y P y A
x x
) ( ) (
x
=4 C A P =4 20 + 0
y C y A yP 50 0 )()
xP

( )( )
yP
= 8
20

Jadi koordinat P = (-8,20).


1 BC
BR=
b. R sehingga 2

1 BC
BR= 1 1
(CB)
Karena 2 maka BR= 2 BC sehingga R B = 2

x Rx B 1 x C x B x 1 1 21
Diperoleh ( ) (
y R y B
=
2 ) ( ) (
y C y B
R =
y R 3 2 53 )
3 1
x R1= x R=
2 2
y R 3=1 y R =4
1
, 4
Jadi koordinat R = ( 2 .

c. S sehingga DS=3 BC

Karena DS=3 BC maka S D = 3 (C B)

Diperoleh ( ) (
x S x D
yS y D
x x
=3 C B
) (
yC yB
x S4
y S (2) ) (
=3 21
53 )
x S4=9 x S =5

y S +2=6 y S=4

Jadi koordinat S = ( 5,4 .



d. T sehingga CT=2 DB

Karena CT=2 DB maka T C = -2 ( B D )

Diperoleh ( x T x C
) (
yT yC
x x
) (
=2 B D T
yB yD
x (2)
y T 5
=2
) (
14
3(2) )
xT +2=6 x T =4

y T 5=10 y T =5

Jadi koordinat R = ( 4,5 .

14. Diketahui garis-garis g dan h yang sejajar. Titik P g sedangkan titik

Q tidak pada g maupun h.

a. Lukislah P=MhMg(P) dan Q=MhMg(Q)



b. Buktikan bahwa PP' =QQ '

Jawab:
a. Gambar P=MhMg(P) dan Q=MhMg(Q)
Q
P

h
Q
g
P
Mg(Q)
=QQ
PP' '
b. Bukti bahwa

15. Diketahui garis-garis u dan v yang sejajar; ada titik-titik Z dan W tidak pada
garis-garis itu.
a. Lukislah Z=MvMu(Z) dan W=MvMu(W)

b. Buktikan bahwa ZZ '= WW '

Jawab:
a. Gambar Z=MvMu(Z) dan W=MvMu(W)

Mu(Z)
Mu(W)
u
W
v

W bahwa Z ZZ
b. Bukti Z '= WW
'

16. Diketahui garis g dan lingkaran-lingkaran L1 dan L2; garis itu tidak memotong
lingkaran-lingkaran. Dengan memperhatikan Mg(L1), tentukan semua titik X

PXA QXB A L1 , B L2
pada g sehingga dengan sedangkan


XA
XB
dan adalah garis-garis singgung.
Jawab:

17. Diketahui garis g dan lingkaran-lingkaran L1 dan L2. Garis tidak memotong
L1 maupun L2. Gunakna sebuah transformasi untuk melukis sebuah bujur
sangkar yang dua titik sudutnya terletak pada g, satu titik sudut ada pada L 1
dan titik sudut yang keempat ada pada L2.
Jawab: