Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum KI 3141

Dinamika Kimia
Percobaan K-1
Viskositas Cairan Sebagai Fungsi Suhu
Nama : Ike Purwanti
NIM : 10513018
Kelompok : 2
Tanggal Percobaan : 22 Oktober 2015
Tanggal Pengumpulan : 29 Oktober 2015
Asisten : Gusti Ayu Citra WU

LABORATORIUM KIMIA FISIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015
PERCOBAAN K-1

VISKOSITAS CAIRAN SEBAGAI FUNGSI SUHU

I. Tujuan Percobaan
1. Menentukan viskositas toluena dan metanol dengan metode Oswald
2. Menentukan nilai E dan A pada toluena dan metanol
3. Menentukan tetapan Van der Waals toluena dan metanol

II. Prinsip Percobaan


Setiap fluida gas atau cairan memiliki suatu sifat yang dikenal sebagai
viskositas yang dapat didefinisikan sebagai tahanan yang dilakukan suatu lapisan
fluida terhadap lapisan lainnya. Fluida, baik cair maupun gas yang jenisnya berbeda
memiliki tingkat kekentalan yang berbeda. Viskositas alias kekentalan sebenarnya
merupakan gaya gesekan antar molekul-molekul yang menyusun suatu fluida. Jadi,
molekul-molekul yang membentuk suatu fluida saling gesek menggesek ketika fluida
tersebut mengalir. Pada zat cair viskositas disebabkan karena adanya gaya kohesi
(gaya tarik menarik antara molekul sejenis). Sedangkan dalam zat gas, viskositas
disebabkan oleh tumbukan antar molekul (Atkins, 2006)

Pada aliran laminar, fluida dalam pipa dianggap terdiri dari lapisan
molekul-molekul yang bergeser atau bergerak satu diatas yang lainya dengan
kecepatan yang berbeda-beda. Profil kecepatan yang berbeda-beda ini bentuk
parabola dengan kecepatan paling tinggi terdapat pada lapisan bagian tengah pipa.

Sifat sifat fluida viskositas memerlukan perhatian yang terbesar dalam


telaahan tentang aliran fluida. Viskositas adalah sifat fluida yang mendasari
diberikannya tahanan terhadap tekanan geser oleh fluida tersebut. Hokum viskositas
newton menyatakan bahwa untuk laju perubahan bentuk sudut fluida yang tertentu
maka tekanan geser berbanding lurus denag viskositas (Alberty, 1992)

Salah satu cara untuk menentukan viskositas cairan adalah dengan metoda
kapiler dari poiseulle. Pada metoda ini diukur waktu (t) yang diperlukan oleh volume
tertentu cairan (v) untuk mengalir melalui pipa kapiler dibawah pengaruh tekanan
penggerak (p) yang tetap. Dalam hal ini untuk cairan yang mengalir dengan aliran
laminar, persamaan poiseulle dinyatakan sebagai berikut:

= (R4 Pt)/(8 VL)

Dimana : R = jari-jari

L = Panjang pipa kapiler

Metode pengukuran viskositas dengan metode ostwald merupakan suatu


variasi dari metode poiseulle menggunakan alat viscometer Ostwald. Penetapannya
dilakukan dengan jalan menentukan waktu yang diperlukan untuk mengalirkan
cairan dalam pipa kalpiler dari a ke b. sejumlah cairan yang akan diukur
viskositasnya dimasukkan kedalam viscometer yang diletakkan pada thermostat.
Cairan kemudian dihisap dengan pompa ke bola c sampai diatas tanda a. cairan
dibiarkan mengalir kebawah dan waktu yang diperlukan dari a ke b dicatat
menggunakan stopwatch. (Daniel, 1980)

III. Data Pengamatan


T ruang = 27.8 oC
air = 0.9962938 g/mL
air = 0.8364 x 10-3 N s/m2 = 0.8364 mPa s
1. Piknometer
Massa pikno kosong +air +zat (T +zat +zat +zat
(gram) ruang) (30oC) (35oC) (40oC)
Pikno 1 19.53 45.26 41.37 41.23 41.14 41.01
(toluene)
Pikno 2 28.26 53.06 48.01 47.88 47.75 47.5
(metanol)

2. Toluene-air
t Air (s) t Toluena (s)
t1 t2 t3 t rata t1 t2 t3 t rata

27.8 5.9 6 6 5.966 5.2 5.2 5.2 5.2


7
30 5.8 5.8 5.8 5.8 5.3 5.2 5.3 5.266
7
35 5.5 5.6 5.5 5.533 5.1 5.2 5.0 5.1
3
40 5.4 5.4 5.3 5.366 5.0 4.9 4.9 4.933
7 3

3. Metanol-air
t Air (s) t Metanol (s)
t1 t2 t3 t rata t1 t2 t3 t rata

27.8 8.9 8.9 8.8 8.866 9 9 8.9 8.966


7 7
30 8.2 8.3 8.2 8.233 8.4 8.4 8.3 8.366
3 7
35 8.0 8.0 8.0 8.0 8.2 8.2 8.1 8.166
7
40 7.6 7.6 7.5 7.566 7.9 7.9 7.9 7.9
7

IV. Pengolahan Data


1. Penentuan Volume Pikno
a. Toluena
W W pikno kosong
V pikno = pikno+air
air pada T ruang
45.26 gram19.53 gram

0.9962938 g /mL

25.8257 mL

b. Metanol
W W pikno kosong
V pikno = pikno+air
air pada T ruang
53.06 gram28.26 gram

0.9962938 g/mL
= 24.8923 mL
2. Penentuan massa jenis zat pada berbagai suhu

W pikno+lar W pikno kosong


lar =
V pikno

Untuk Toluen pada suhu 27.8

41.37 gram19.53 gram gram


lar = =0.84567
25.8257 mL mL

Dengan cara yang sama maka diperoleh :

toluena
T (C) (gram/m
L)
0.845669
27.8
0.840248
30
0.836763
35
0.83173
40

3. Penentuan viskositas zat


t
lar = zat zat air
air t air

Untuk Toluen pada suhu 27.8 C

gram
0.845669 5.2 detik
mL 0.0008364 kg
lar = .s
gram m
0.9962938 5.9667 detik
mL
0.000619 Pa . s

Dengan cara yang sama diperoleh :

Suhu ( ) (Pa s)
Toluene Metanol
27.8 0.000619 0.000659
30 0.000611 0.000621
35 0.000558 0.000555
40 0.000503 0.000487
4. Penentuan nilai E dan A

zat
Larutan T (K) 1/T (1/K) ln
(Pa.s)
0.00061
0.003324 9 -7.38785
300.8
0.0033 0.00061 -7.39981
303 1
toluen
0.003247 0.00055 -7.49059
308 8
0.00050
0.003195 3 -7.59427
313
0.003324 0.00065 -7.32531
300.8 9
0.0033 0.00062 -7.38338
303 1
metanol
0.00055
0.003247 5 -7.49611
308
0.003195 0.00048 -7.62649
313 7

Toluena
-7.25
0 0 0 0 0 0 0 0 0
-7.3
-7.35
-7.4 f(x) = 1640.4x - 12.83
R = 0.98
ln -7.45
-7.5
-7.55
-7.6
-7.65

1/T
Dari grafik diatas diperoleh persamaan regresi :

y = 1640.4x - 12.827

E1
dimana ln = R T + ln A

sehingga diperoleh :

ln A = - 12.827

A = 2.68723 x 10-6

dan

E
=1640.4
R

E = 1640.4 x 8.314 J/molK = 13638.2856 J = 13.6382856 kJ

Metanol
-7.1
0 0 0 0 0 0 0 0 0
-7.2

-7.3
f(x) = 2298.21x - 14.97
ln -7.4 R = 1
-7.5

-7.6

-7.7

1/T

Dari grafik diatas diperoleh persamaan regresi :

y = 2298.2x - 14.965
E1
dimana ln = R T + ln A

sehingga diperoleh :

ln A = - 14.965

A = 3.16798 x 10-7

Dan

E
=2298.2
R

E = 2298.2 x 8.314 J/molK = 19107.2348 J = 19.1072348 kJ

5. Penentuan tetapan Van der Waals

zat
zat
Larutan T (K) (gram/mL 1/ 1/
(Pa.s)
)
0.000619 1.18249 1616.23
0.845669 5 2
300.8
1.19012 1635.66
0.840248 4 7
303 0.000611
toluen 1.19508
0.836763 1 1791.11
308 0.000558
0.000503 1.20231 1986.77
0.83173 4 9
313
metanol 1518.24
0.793418 1.26037 5
300.8 0.000659
1.26872 1609.01
0.788196 1 3
303 0.000621
0.000555 1.27718 1801.02
0.782973 3 9
308
313 0.000487 0.77293 1.29377 2051.83
9 5

Toluena
1.21
1.2 f(x) = 0x + 1.11
R = 0.88
1.2
1.19
1/ 1.19

1.18
1.18
1.17
1550 1600 1650 1700 1750 1800 1850 1900 1950 2000 2050

1/

Dari kurva diatas diperoleh persamaan :

1 1
y = 5.10-5 x + 1.1123 dan diketahui = x +b

dimana b = tetapan van der waals, maka

b = 1.1123

Metanol
1.3

1.29 f(x) = 0x + 1.17


R = 0.99
1.28

1/ 1.27
1.26

1.25

1.24
1400 1500 1600 1700 1800 1900 2000 2100

1/
Dari kurva diatas diperoleh persamaan :

1 1
y = 6. 10-5+ 1.1701 dan diketahui = x +b

dimana b = tetapan van der waals, maka

b = 1.1701

V. Pembahasan
Viskositas merupakan tahanan yang diberikan suatu lapisan fluida
terhadap suatu lapisan lainnya. Nilai viskositas ini bergantung pada
temperatur dimana apabila temperatur dinaikkan maka nilai viskositas
larutan akan menurun sebaliknya apabila temperatur diturunkan maka
nilai viskositas larutan akan meningkat.
Nilai viskositas cairan merupakan fungsi ukuran dan permukaan molekul
gaya tarik molekul dan struktur cairan. Akan tetapi apabila akan melewati
lapisan molekul lainnya, maka diperlukan suatu energi yang sesuai
dengan persamaan yang diberikan Maxwell Boltzman yaitu :
E E
ln ln A ln ln A
Ae E / RT
RT RT
atau

dengan A = Tetapan yang bergantung Mr dan volume molar

E = Energi ambang per mol yang diperlukan untuk proses awal

Temperatur akan meningkatkan energi tersebut diatas ( energi vibrasi )


dari partkel partikel yang ada di dalam larutan sehingga mengahsilkan
tumbukan yang sifat alirannya lurus.
Kecepatan masing masing partikel akan saling mempengaruhi satu
dengan yang lainnya dimana partikel yang memiliki kecepatan tumbukan
yang lebih besar akan mengalami penurunan kecepatan karena partikel
tersebut akan menumbuk partikel lain yang memiliki kecepatan yang
lebih rendah. Dengan demikian terjadi suatu penghomogenan kecepatan
dari partikel partikel dalam larutan.
Pengaruh lain dari kenaikan temperatur adalah meningkatnya volume dari
fluida. Hal ini dapat dijelaskan karena penambahan temperatur tersebut
akan meningkatkan jarak antara partikel yang satu dengan partikel yang
lainnya. Pengaruh densitas atau kerapatan juga akan terlihat apabila
temperatur dinaikkan. Sesuai dengan persamaan yang diberikan oleh
metode Oswald bahwa nilai viskositas akan meningkat apabila nilai
densitas meningkat.
Kebergantungan luas penampang dari media mengalirnya fluida juga
akan mempengaruhi kecepatan fluida tersebut mengalir. Apabila luas
penampang semakin besar maka kecepatan fluida akan meningkat. Hal
ini menandakan bahwa gaya yang diperlukan fluida untuk
mempertahankan kecepatannya dalam melewati suatu lapisan akan
semakin besar. Dengan demikian viskositas fluida akan menurun karena
kecepatan mengalirnya bertambah.
Dalam penentuan nilai viskositas fluida, diperlukan fluida lain sebagai
pembanding karena dengan metode Oswald yang hanya diketahui
hanyalah waktu yang diperlukan fluida dalam mengalir tanpa memberikan
secara langsung nilai viskositas yang sebenarnya. Oleh karena itu
digunakan air sebagai fluida pembanding, sebab dalam metode Oswald
dirumuskan perbandingan 2 fluida yang mengalir pada saat yang
berlainan pada temperatur tertentu.
Pada umumnya tidak semua fluida terdisosiasi secara sempurna. Hal ini
dapat dikaitkan dengan persamaan yang menghubungkan nilai koefisien
viskositas dengan volume jenis fluida. Dapat dirumuskan sebagai :
V = c + b dimana V = 1/ dan = 1/

Nilai b dan c bergantung pada jenis fluida yang mengalir v merupakan


volum jenis fluida dan merupakan ukuran dari kemudahan fluida untuk
mengalir.
Dari hasil percobaan, viskositas dan massa jenis setiap cairan menurun
seiring dengan bertambahnya suhu reaksi.
Penurunan massa jenis ini disebabkan karena energi panas akan
menyebabkan interaksi-interaksi yang terdapat dalam cairan seperti
interaksi hidrogen, kovalen, maupun interaksi Van der Waals menjadi
lebih lemah, hal ini menyebabkan pada massa yang sama, pada suhu
yang lebih tinggi, volume larutan menjadi lebih besar.
Penurunan viskositas terhadap kenaikan suhu dapat dijelaskan sebagai
berikut: dalam cairan, gaya kohesi antarmolekul mendominasi transfer
momentum molekular antarmolekul, terutama disebabkan karena
molekul-molekul dalam cairan sangat terjejal. Ketika suatu cairan
dipanaskan, gaya kohesi antarmolekul berkurang, dengan demikian, gaya
tarik menarik antarmolekul berkurang, yang artinya mengurangi
viskositas cairan.
Energi ambang per mol dari hasil percobaan adalah E etanol > kloroform.
Perbedaan nilai energi ambang untuk memulai suatu aliran ini
dipengaruhi oleh ukuran molekul dan ikatan kimia yang terbentuk pada
suatu cairan.
Dalam etanol, ikatan hidrogen mendominasi gaya kohesi antarmolekul
cairannya, ikatan yang terbentuk cukup kuat, hal ini akan menambah
hambatan dari tiap-tiap lapisan dari cairan etanol yang menyebabkan
nilai viskositasnya lebih tinggi dibandingkan cairan yang lain.
Dalam kloroform, hal yang mempengaruhi viskositas dari cairan kloroform
adalah ukuran molekul kloroform yang cukup besar atau ruah dan Mr.
Kloroform memiliki struktur tetrahedral dengan atom pusat C yang
mengikat 3 atom Cl dan 1 atom H. Karena ukuran dari atom Cl cukup
besar, hal ini akan mempersulit molekul-molekul kloroform untuk
bergerak melalui pipa kapiler pada viskometer.
Nilai tetapan Van der Waals dari hasil percobaan adalah b ethanol >
kloroform. Berdasarkan literatur, nilai b untuk kloroform adalah 0,1019
L/mol. Adanya perbedaan ini disebabkan ketidaktelitian saat pengukuran
massa cairan setelah pemanasan dan tidak adanya data kemurnian
(kadar) cairan tersebut, sehingga jumlah molekul yang terlarut tidak
diketahui dengan pasti. Selain itu disebabkan kesalahan dalam pemakaian
larutan yang pertama diukur waktu alir pada Oswald. Seharusnya yang
pertama kali diuji adalah yang memiliki viskositas kecil kemudian dilanjut
ke larutan yang memiliki viskositas besar. Namun pada percobaan
dilakukan sebaliknya, yang pertama kali diukur adalah etanol sehingga
ada kemungkinan etanol masih tertinggal di Oswald.
VI. Kesimpulan

1. Viskositas toluena pada suhu 27.8, 30, 35, dan 40 yang didapatkan dengan

metode Oswald adalah 0.000619; 0.000611; 0.000558; dan 0.000503 Pa.s


Viskositas metanol pada suhu 27.8, 30, 35, dan 40 yang didapatkan dengan

metode Oswald adalah 0.000659; 0.000621; 0.000555; dan 0.000487 Pa.s


2. Nilai E pada toluena dan metanol berturut-turut adalah 13.6382856 kJ dan
19.1072348 kJ
Nilai A pada toluena dan metanol berturut-turut adalah 2.68723 x 10-6 dan 3.16798
x 10-7
3. Tetapan Van der Waals pada toluena adalah 1.1123
Tetapan Van der Waals pada metanol adalah 1.1701

VII. Daftar Pustaka


[1] Alberty, Robert. A. 1992. Kimia Fisika I. Jakarta : Erlangga. Page 225

[2] Atkins, P.W. 2006. Physical Chemistry, 8th ed. W.h freeman and Company : New
York. page 682-684

[3] Daniels, Farrington. 1980. Physical Chemistry, 5th ed. John Wiley and Sons, inc :
New York. page 33-34

[4] Lide, David. 2005. CRC Handbook of Chemistry and Physics. New York. Page:
990
[5] http://www.springerlink.com/content/x77223r18557m770/fulltext.pdf

VIII. Lampiran
a. Data pengamatan
b. Viskositas air

Sumber: http://www.springerlink.com/content/x77223r18557m770/fulltext.pdf.