Anda di halaman 1dari 11

PEMANFAATAN PERMAINAN CONGKLAK (DAKON) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KETR

Jumat, 16 Agustus 2013

PEMANFAATAN PERMAINAN CONGKLAK (DAKON) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN


MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN BERHITUNG PADA ANAK
TUNAGRAHITA

Tri Ayu Suryani

triayu449@rocketmail.com

Universitas Negeri Malang, JL. Semarang 5, Malang 65145

Abstrak: Anak tunagrahita mengalami kesulitan belajar menghitung bukan karena


kerusakan pada organ artikulasinya melainkan mengalami keterbelakangan mental.
Saat ini banyak permainan tradisional yang semakin lama semakin menghilang
berganti dengan mainan yang lebih modern namun tidak mendidik. Salah satu
permainan tradisional yang memiliki manfaat dan dapat di gunakan sebagai media
pembelajaran matematika adalah dakon atau congklak khususnya untuk
pembelajaran matematika pada tunagrahita. Melalui media permainan dakon
diyakini akan meningkatkan sedikit demi sedikit keterampilan berhitung anak
tunagrahita.

Kata Kunci: Tunagrahita, ketrampilan berhitung tunagrahita, pembelajaran


matematika, permainan dakon.

Abstract: Children who mentally disabled get some difficulties in mathematics not
because of the damage of their articulator organs but their mental disorder.
Nowadays, there are so many traditional games which no longer exist. Modern
games consisting of uneducated values will replace them sooner. One of the
traditional games that haveadvantages and can be used as a media for teaching
and learning mathematics is dakon or congklak, particularly for mental disability
children. Through this media, that it will raisetheir mathematic skill gradually.

Key Words: mental disability, mathematics skill of mental disability children,


mathematics teaching, congklak game.
Menurut Hallahan dan Kauffman dalam Wardani (2007), Tunagrahita adalah
kelainan atau hambatan yang mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara
nyata (signifikan) berada di bawah rata-rata (normal) bersamaan dengan
kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian dan berlangsung (termanifestasi) pada
masa perkembangannya.

Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami kelainan atau hambatan yang
mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara nyata (signifikan) berada di
bawah rata-rata (normal) bersamaan dengan kekurangan dalam tingkah laku
penyesuaian dan berlangsung (termanifestasi) pada masa perkembangannya.

Gangguan atau hambatan yang dialami oleh anak tunagrahita berbeda-beda


tingkatan kecerdasannya dan kelainan jasmani yang dialami atau disebut dengan
tipe klinis. Terdapat tiga tingkat kecerdasan atau tiga dalam tunagrahita yaitu (1)
mild mental retardation (tunagrahita ringan IQ 70-55), (2) moderate mental
retardation (tunagrahita sedang IQ 55-40), Severe mental retardation (tunagrahita
berat IQ 40-25), (3)profound mental retardation (IQ 25 kebawah). Sedangkan
pengelompokan berdasarkan kelainan jasmani ada lima jenis yaitu down syndrome
(mongoloid), kretin (cebol), hydrocepal, microcepal, dan macrocepal. Penyebab
mengalami tunagrahita sangatlah beragam.

Faktor genetik dan kromosom, penyebab pada pra kelahiran, penyebab pada saat
kelahiran, penyebab-penyebab selama masa perkembangan anak-anak dan remaja
juga menjadi beberapa faktor yang menjadi penyebab tunagrahita. Ketunagrahitaan
yang terjadi pada masa anak-anak dan remaja adalah adanya penyakit radang
selaput otak (meningitis) dan radang otak (encephalitis)yang tidak tertangani
dengan baik sehingga mengakibatkan kerusakan otak. Selain itu terjadi kecelakaan
yang menyebabkan cedera otak pada masa perkembangan dapat mengakibatkan
ketunagrahitaan. Faktor gizi yang jelek atau keracunan dapat juga merusak otak.
Hal-hal diatas merupakan penyebab seorang anak dapat mengalami hambatan
intelektual atau yang disebut tunagrahita.

Dalam pembelajaran seorang guru dapat melakukan bermacam tindakan yang


dapat mengembangkan fungsi fisik, sensomotorik, daya khayal, bina diri, sosialisasi,
dan pengembangan intelektual anak tersebut. Oleh sebab itu anak tunagrahita
harus mendapatkan pendidikan dan penanganan khusus agar dapat berkembang
dan mandiri.

Selain mengalami hambatan kecerdasan juga mengalami kesulitan dalam bahasa


dan bicara. Kesulitan ini disebabkan karena anak tunagrahita seringkali tidak dapat
mencerna stimulasi verbal maupun nonverbal dari lingkungan. Guru perlu
memperhatikan tahap-tahap perkembangan materi yang akan disampaikan pada
kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk anak tunagrahita. Tahap-tahap ini diperlukan
agar kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat berjalan dengan maksimal dan sesuai
dengan tujuan yang akan dicapai sebelum kegiatan dimulai. Salah satu cara yaitu
dengan melibatkan siswa tersebut aktif dalam proses pembelajaran, di samping itu
guru dituntut untuk kreatif dalam menyampaikan materi diantaranya melalui
penggunaan media sebagai alat penunjang keberhasilan dalam pembelajaran.

Faktor perkembangan kognitif mempunyai peranan sangat penting bagi


keberhasilan belajar anak, karena sebagian besar pembelajaran di sekolah selalu
berhubungan dengan mengingat dan berpikir yang termasuk kegiatan kognitif.
Kognitif meliputi proses dimana pengetahuan itu diperoleh, disimpan dan
dimanfaatkan. Anak tunagrahita mempunyai kognitif yang relatif rendah sehingga
mereka sangat sulit untuk mengigat pengetahuan yang didapat. Selain kognitif
mereka yang rendah mereka juga sulit dalam berbicara dengan orang lain atau pun
berbahasa secara baik.

Selain pembelajaran yang melibatkan bahasa, kemampuan yang perlu didapatkan


oleh anak tunagrahita adalah pembelajaran berhitung.

Teori kecerdasan berasumsi bahwa kecerdasan bukanlah suatu unsur yang beraspek
tunggal, melainkan terdiri dari berbagai unsuratau kemampuan yang bersifat
khusus (general ability dan special ability). Kemampuan umum dimaksud adalah
rangkuman dari berbagai kemampuan pada bidang tertentu, sedangkan
kemampuan khusus adalah kemampuan yang dimiliki pada bidang-bidang tertentu,
seperti kemampuan berhitung, bahasa, pengamatan ruang, dan lain-lain (Efendi,
2009: 96).

Kehidupan sehari-hari sangat membutuhkan kemampuan berhitung seseorang


untuk memecahkan sesuatu, sehingga anak tunagrahita juga membutuhkan
pembelajaran tersebut untuk menunjang kehidupan sehari-harinya. Di sekolah
pembelajaran tersebut masuk dalam mata pelajaran matematika atau ilmu
berhitung.

Kenyataan yang muncul di lapangan, seorang guru kurang memperhatikan tahapan-


tahapan belajar anak khususnya untuk anak tunagrahita. Seorang guru biasanya
langsung membawa anak dalam tahap belajar abstrak akibatnya anak mengalami
kesulitan karena ada tahap yang dilupakan. Dalam mengajarkan keterampilan
berhitung anak tunagrahita sebagaimana dikemukakan oleh Efendi, (2009: 100)
bahwa, Satu hal yang perlu dipahami bagi guru, langkah yang pertama sebelum
mengajarkan hal-hal yang lebih besar, sedapatnya diajarkan untuk menyebutkan
namanya. Pendapat tersebut membuktikan bahwa dalam mengajarkan anak
tunagrahita dalam keterampilan berhitung harus melalui tahapan-tahapan belajar
yang meliputi tiga tahapan yaitu, tahapan konkrit (tahap yang sederhana), semi
konkrit (tahap dimana seorang anak ditunjukan dengan benda-benda yang konkrit),
dan abstrak (tahap dimana seorang anak belajar dengan simbolis). Kedudukan dan
peran berhitung dalam akademik dan kehidupan sangat penting. Oleh karena itu
keterampilan berhitung harus dikuasai oleh setiap siswa sejak dini agar siswa
menjadi terampil dan dapat menggunakan ilmu hitung dalam kehidupan sehari-hari.

Pelajaran matematika atau berhitung untuk sebagian anak tunagrahita dianggap


pelajaran yang sulit dan menakutkan. Matematika menjadi sulit karena mungkin
siswa tersebut belum siap atau ada faktor lain yang berkaitan dengan cara guru
matematika mengajar atau ada masalah intrinsik dalam diri siswa, misalnya ada
gangguan konsentrasi, gangguan persepsi dan lain-lain. Selain itu, sudah menjadi
sifat ilmu matematika bahwa di dalam proses keterampilan matematika atau
berhitung itu membutuhkan kemampuan kognitif untuk berpikir logis dan analitis,
...sehingga bagi yang bermasalah dalam kemampaun kognitifnya maka akan
mengalami masalah ketika belajar matematika atau berhitung (Runtukahu, 1996:
86).

Sebuah proses pembelajaran guru bukanlah satu-satunya yang dapat dijadikan


narasumber. Sebab salah satu peran guru adalah dalam proses belajar adalah
sebagai fasilitator dan mediator. Konsekuensinya sebagai seorang mediator, guru
hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang media pendidikan
karena merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar
mengajar. Gagnedalam Rachmad (2009) mengartikan, Media adalah berbagai jenis
komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.
Fungsi utama dari media adalah untuk membantu terbentuknya persepsi secara
benar.

Pemanfaatan media permainan dakon sebagai salah satu media dalam pendidikan
telah menjadi hal yang jarang pada saat ini. Peranan dakon dalam kegiatan
pembelajaran matematika memberikan peranan yang cukup besar sebagai salah
satu faktor eksternal yang mampu mempengaruhi hasil belajar siswa. Pembelajaran
dengan media belajar dakon dapat diberikan kepada semua siswa dengan berbagai
macam perbedaan dan kebutuhan. Terutama pada anak tunagrahita.

PEMBAHASAN

Ketrampilan Berhitung Anak Tunagrahita

Bentuk hambatan belajar anak tunagrahita yang berkaitan dengan keterampilan


berhitung meliputi semua aspek keterampilan berhitung, mulai dari pengenalan
konsep bilangan dan lambang bilangan hingga operasi hitungan. Anak tunagrahita
sedang mengalami kesulitan pada semua aspek keterampilan berhitung disebabkan
kecerdasannya yang sangat terbatas sehingga mereka kesulitan untuk mempelajari
hal-hal yang bersifat akademik, diantaranya keterampilan berhitung.

Pelajaran matematika atau berhitung untuk sebagian anak tunagrahita dianggap


pelajaran yang sulit dan menakutkan. Matematika menjadi sulit karena mungkin
siswa tersebut belum siap atau ada faktor lain yang berkaitan dengan cara guru
matematika mengajar atau ada masalah intrinsik dalam diri siswa, misalnya ada
gangguan konsentrasi, gangguan persepsi dan lain-lain. Selain itu, sudah menjadi
sifat ilmu matematika bahwa di dalam proses keterampilan matematika atau
berhitung itu membutuhkan kemampuan kognitif untuk berpikir logis dan analitis,
...sehingga bagi yang bermasalah dalam kemampaun kognitifnya maka akan
mengalami masalah ketika belajar matematika atau berhitung (Runtukahu, 1996:
86)

Keterampilan matematika atau berhitung tetap harus dipelajari oleh setiap anak
agar menjadi bekal hidupnya di masa depan, sebab tidak bisa dipungkiri bahwa
hampir dalam setiap kehidupan manusia membutuhkan kemampuan berhitung.
Melalui keterampilan berhitung diharapkan anak mampu memecahkan persoalan-
persoalan dalam kehidupan nyata yang membutuhkan keterampilan matematika
atau berhitung.

Bagi anak-anak tunagrahita sedang, mereka juga perlu belajar berhitung. Namun
tentunya pelajaran berhitung yang disampaikan kepada anak tunagrahita sedang
berbeda dengan pelajaran matematika atau berhitung pada umumnya. Materi
pelajaran berhitung bagi anak tunagrahita sedang harus lebih kongkrit dan sesuai
dengan kebutuhannya. Jika sesuai dengan hal itu maka mereka pun dapat
mengikuti pelajaran berhitung dengan baik.

Akan tetapi, bukan berarti lemah dalam aspek akademik lalu mereka tidak bisa
berprestasi baik dalam kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Dengan latihan yang
rutin terutama dalam hal-hal yang sifatnya non akademik dan sederhana, mereka
masih dapat dilatih dan dapat melakukannya dengan baik. Rahardja (2006).

Meskipun mereka mengalami hambatan dalam keterampilan berhitung, anak


tunagrahita sedang masih dapat dikembangkan potensi/kemampuan berhitungnya
melalui media pembelajaran menggunakan permainan congklak. Menurut Abaz
(2012)

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya meskipun individu


mengalami hambatan dalam berhitung akan tetapi individu yang mengalami
hambatan tunagrahita sedang juga masih ada kemampuan/potensi yang masih bisa
dikembangkan dalam berhitungnya dengan menggunakan permainan congklak

Media pembelajaran congklak

Gagne menyatakan belajar terjadi apabila situasi stimulus bersama dengan isi
ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari
waktu sebelum ia mengalami situasi itu kewaktu sesudah ia mengalami situasi tadi.
Selanjutnya menurut Morgan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative
menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai sesuatu hasil dari latihan atau
pengalaman (M. NgalimPurwanto, 1997: 84).

Dari definisi yang dikemukakan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat
elemen yang sangat penting yang menjelaskan pengertian tentang belajar yaitu: (a)
Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu
dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan
mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. (b) Belajar merupakan suatu
perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-
perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap
sebagai hasil belajar, seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang
bayi.

Kata Pembelajaran dipakai sebagai padanan kata dari kata Bahasa Inggris yaitu
instruction. Kata instruction mempunyai pengertian yang lebih luas dari pada
pengajaran. Jika kata pengajaran di dalam konteks guru dan murid di ruang kelas
(formal), pembelajaran atau instruction mencakup pula kegiatan belajar mengajar
yang tidak dihadiri guru secara fisik. Oleh karena dalam instruction yang ditekankan
adalah proses belajar, maka usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi
sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa kita sebut
pembelajaran (Sadiman, 1989: 7)

Proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan


dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses pembelajaran banyak
berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh karena itu, perwujudan proses
dapat terjadi dalam berbagai model. Bruce Joicedan Marshal Weil mengelompokkan
kedalam empat hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran yaitu : (a) Proses
Informasi, (b) Perkembangan Pribadi, (c) Interaksi Sosial, (c) Modifikasi Tingkah Laku
(Moh. Uzer Usman, 1995: 1)

Dari Uraian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata media dan
proses pembelajaran adalah satu kesatuan yang dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa dalam proses pembelajaran. Untuk itu, dalam proses pembelajaran
sangat perlu disediakan media atau alat peraga yang efektif dan efisien untuk
dapat mengurangi verbalisme siswa dalam memahami materi pelajaran yang
diberikan oleh guru.

Untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar yang baik, guru dan siswa harus
bersama-sama aktif sehingga proses pembelajaran tidak membosankan. Keaktifan
siswa meliputi siswa tertarik akan materi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Dalam
hal keaktifan guru, maka guru harus dapat membangkitkan minat dan mendorong
semangat siswa untuk bertanya dan mencoba melakukan sesuatu yang ada
hubungannya dengan pelajaran yang dihadapi. Dengan demikian suasana kelas
akan lebih terasa hidup karena terjadi komunikasi multi arah antara guru dengan
siswa dan siswa dengan siswa.
Media pembelajaran sangat penting pada proses pembelajaran. Guru berperan
penting dalam memanfaatkan media dan sumber belajar tersebut, (Dimyati, 2009:
36). Yang penting adalah keterlibatan anak dalam melakukan kegiatan tersebut,
bukan prestasi (Mayke, 1995: 92). Karena ketika anak merasa senang maka
selanjutnya kegiatan pembelajaran dimungkinkan akan berjalan lancar dan sesuai
yang diharapkan.

Untuk anak tunagrahita media pembelajaran yang sesuai adalah yang berhubungan
dengan permainan. Freun berpendapat bahwa bermain merupakan cara seeorang
untuk membebaskan diri dari berbagai tekanan yang kompleks, merugikan, melalui
kegiatan bermain perasaan menjadi lega, bebas dan berarti. Mengingat urgensinya
bermain untuk anak tunagrahita, dewasa ini aktifitas bermain dikembangkan
menjadi play therapy. Terapi permainan yang diperuntukan bagi anak tunagrahita
bukan sembarang permainan tetapi harus sesuai kondisi fisik dan psikisnya.

Memilih format belajar pada anak, Dr. Coolie Verner membedakan tiga elemen
dalam proses pendidikan, yang mempunyai fungsi yang berbeda (1) Metode, yaitu
suatu pengorganisasian peserta untuk tujuan pendidikan. (2) Teknik, yaitu
bermacam cara dimana tugas-tugas belajar diatur untuk memfasilitasi belajar. (3)
Alat, yaitu segala sesuatu atau kondisi yang didayagunakan untuk meningkatkan
teknik dan membuat belajar lebih terarah (Zainudin arif, 1986: 43,44) .Yang mana
Teknik dalam permainan dakon ini sangat lah mudah untuk dilakukan atau bisa
dibilang tidak rumit sehingga mudah untuk meningkatkan ketrampilan berhitung.
Melihat anak tunagrahita adalah anak yang tidak suka dengan keribetan, kemudian
alat dakon ini sangat mudah untuk dipermainkan dan alat ini bisa mengambangkan
ketrampilan berhitung anak.

Permainan dalam pembelajaran matematika disekolah bukan untuk menerangkan


melainkan suatu cara atau tehnik untuk mempelajari atau membina ketrampilan
dari suatu materi tertentu. Secara umum cocok untuk membantu mempelajari fakta
dan ketrampilan. Beberapa pakar pendidikan mengatkan bahwa tujuan utama
digunakan permainan dalam pembelajaran matematika adalah untuk memberikan
motivasi kepada siswa agar menjadi senang. Apabila guru berniat merencanakan
kegiatan permainan matematika dalam pembelajaran, maka guru perlu mengkaji
topic yang tepat untuk kegiatan yang didukung oleh permainan. Dari hasil kajian
tersebut guru dapat memilih atau mengidentifikasi permainan yang bertujuan
meningkatkan ketrampilan matematika dan digunakan dalam waktu serta situasi
yang tepat (Sukayati, 2003: 14).

Alat peraga permainan dakon dapat digunakan siswa untuk memahami operasi
hitung terutama penjumlahan dan pengurangan. Selain itu, permainan dakon
memiliki manfaat lain yaitu, strategi: dakon menuntut pemain memikirkan pilihan
agar bisa memenangkan permainan. Kesabaran: pemain khususnya yang tidak
sedang bermain/melangkah harus bersabar menunggu lawannya melakukan
kesalahan sehingga tiba gilirannya, pemain yang sedang bermain juga harus
bersabar memasukkan satu per satu biji-bijian dalam lubang. Ketelitian: pemain
yang sedang bermain harus teliti dalam memasukkan biji dakon satu per satu
dalam lubang, sedangkan pemain yang sedang tidak bermain/melanghkah juga
harus teliti mengawasi/memastikan biji-bijian di masukkan satu per satu dalam
lubang jangan sampai lawan melakukan kecurangan. Dengan begitu congklak
melatih motoric sekaligus sensorik.

Congklak adalah permainan tradisional yang diambil dari bahasa jawa.


Dalam bahasa indoneia disebut permainan congkak atau congklak. Congklak adalah
lokan yang dipakai untuk permainan, ada bermacam-macam seperti baiduri; putih,
dsb. permainan dengan kulit lokan (biji-bijian, dsb.) dan kayu yang bentuknya
seperti perahu yang berlubang-lubang (dijawa disebut dakon); buah, biji-bijian (kulit
lokan, dsb.) yang dipakai dalam permainan congkak; papan, kayu bentuknya seperti
perahu berlubang-lubang untukk bermain congkak.

Permainan congkak merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang


yang biasanya perempuan. Alat yang digunakan terbuat dari kayu atau plastic
berbentuk miripperahu dengan panjang sekitar 75 cm dan lebar 15 cm. pada kedua
ujungnya terdapat lubang yang disebut induk. Diantara kedua nya terdapat lubang
yang lebih kecil dan induknya berdiameter kira-kira 5 cm. setiap deret berjumlah 7
lubang. Pada setiap lubang kecil tersebut di isi dengan kerang atau biji-bijian
sebanyak 7 buah.

Cara bermainnya adalah dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang


bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu-persatu kelubang
yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali
lubang induk milik lawan, jika biji terakhir jatuh dilubang yang terdapat biji-bijian
lain maka biji-bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang
selanjutnya. Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Jika
biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang
melakukan permainan. Permainan ini brakhir jika biji-bijian yang terdapat pada
lubang yang kecil telah habis dikumpulkan. Pemenangnya adalah anak yang paling
banyak mengumpulkan biji-bijian kelubang induk miliknya. Permainan ini
merupakan sarana untuk mengatur strategi dan kecermatan.

Dengan adanya permainan congklak, anak tunagrahita akan medapatkan lebih


manfaatnya. Selain sebagai alat peraga pembelajaran matematika, permainan
dakon secara tidak langsung menyumbang kegiatan jasmani adaptif mereka, yaitu
melatih motoric halus mereka. Ketika anak tunagrahita memindahkan biji congklak
dari satu lubang ke lubang lain, maka mereka melatih motoric halus mereka.

Apapun strategi pembelajaran matematika dalam bentuk permainan guru


perlu mengidentifikasi topik-topik yang memerlukan pembinaan ketrampilan
khusus, misalnya fakta dasar penjumlahan atau perkalian, menentukan tujuan
pembelajaran secara jelas, merencanakan kegiatan secara rinci seperti bentuk
permainan, sarana, dan evaluasi

PENUTUP

Kesimpulan

Media pembelajaran menggunakan permainan dakon merupakan salah satu


strategi kunci untuk meningkatkan kualitas berhitung anak-anak Indonesia,
khususnya untuk pada anak tunagrahita yang selama ini mengalami kesulitan
dalam berhitung. Akan tetapi hal ini juga harus di dukung dengan adanya seorang
guru yang harus kreatif dalam membuat dan menyediakan media yang sesuai
dengan pembelajaran di kelas.

Media pembelajaran menggunakan permainan dakon disamping sangat


membantu proses belajar anak tunagrahita dalam meningkatkan keterampilan
berhitung, juga secara ekonomi media pembelajaran ini sangatlah murah dan
terjangkau. Selain itu manfaatnya pun cukup besar dalam membantu belajar anak
tunagrahita dalam proses pembelajaran matematika khususnya dalam melatih
berhitung seorang anak.

Saran

Untuk guru: (1) Sebaiknya guru mengetahui terlebih dahulu anak tunagrahita yang
diajar termasuk dalam tahap belajar apa, sehingga dengan begitu akan mudah bagi
guru memberikan pembelajaran dan teknik yang sesuai dengan perkembangan
belajar anak. (2) Guru harus menggunakan media untuk mendukung pembelajaran,
karena perkembangan anak tunagrahita yang sulit untuk membayangkan dan
memikirkan hal-hal yang abstrak sehingga dengan adanya media akan membantu
mereka untuk berilustrasi. (3) Salah satu media yang dapat digunakan ketika
matapelajaran matematika adalah congklak (dakon), permainan tradisional ini juga
tidak hanya mampu digunakan untuk pelajaran berhitung saja namun sebagai
upaya untuk melestarikan permainan tradisional asli Indonesia yang sudah hampir
dilupakan.

DAFTAR RUJUKAN

Abaz, Jendral. 2012. Pembelajaran Pra Hitung Pada Anak. (Online),


(http://jendralabaz.blogspot.com/2012/04/pembelajaran-pra-berhitung-pada-
anak.html/.7.50.15032013.), diakses 15 maret 2013.

Arif, Zainudin. 1986. Andragogi. Bandung: Angkasa.

Dimyati & Mujiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Efendi, M. 2009. Pengantar Anak Berkelainan. Jakarta: Bumi Askara.

Mangunsong, Frieda, dkk. 1998. Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa. Jakarta:
LPSP3 UI.

Purwanto, M. Ngalim.1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sadiman, S, dkk. 2007. Media Pendidikan ( Pengertian, Pengembangan,


danPemanfaatan). Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada.

Sugianto T, Mayke.1995. Bermain, mainan dan permainan. Jakarta: Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan
Tenaga Akademik.

Usman, Moh. Uzer. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar Bahan
Kajian PKG, MGBS, MGMP. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wardani, I.G.A.K, dkk. 2007. Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Universitas
Terbuka.

Widodo, Rachmad. 2009. Media Pembelajaran. (Online),


(http://wyw1d.wordpress.com/2009/10/12/media-pembelajaran/.7.24.15032013.),
diakses 15 Maret 2013.

Anyuk tri di 00.02

Berbagi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Beranda

Lihat versi web

Mengenai Saya

Foto Saya

Anyuk tri

Lihat profil lengkapku

Diberdayakan oleh Blogger.