Anda di halaman 1dari 10

Kata-kata sulit

1. Refraksi : penyimpangan cahaya yang berjalan secara miring dari satu


medium ke medium yang lain dengan densitas yang berbeda. (kamus
Dorland, edisi 28)
2. Mata merah : Mata merah umumnya terjadi karena pembuluh darah di mata
Anda membengkak atau iritasi. Mata yang merah mengindikasikan adanya
masalah pada mata, bisa masalah ringan, bisa juga masalah serius yang
memerlukan penanganan medis. (kamus Dorland, edisi 28)
3. Trauma mata : Tindakan sengaja maupun tidak sengaja yang menimbulkan
perlukaaan, dalam hal ini perlukaan pada mata. (kamus Dorland, edisi 28)

Pertanyaan penting

1. Definisi penurunan tajam penglihatan : penurunan tajam penglihatan


didefinisikan sebagai ketidak mampuan seseorang untuk membaca tes pola
standar pada jarak tertentu.(Sidarta I. Anatomi dan Fisiologi Mata. Dalam :
Ilmu Penyakit Mata Edisi kedua. Jakarta : BP-FKUI. 2007)
2. Factor-faktor yang mempengaruhi penurunan ketajaman penglihatan :
Penurunan ketajaman penglihatan dapat disebabkan oleh berbagai faktor
seperti usia, kesehatan mata dan tubuh dan latar belakang pasien.
Ketajaman penglihatan cenderung menurun sesuai dengan meningkatnya
usia seseorang. Jenis kelamin bukan merupakan suatu faktor yang
mempengaruhi ketajaman penglihatan seseorang (Xu, 2005). Dari penelitian
yang dilakukan di Sumatra, Indonesia, didapat bahwa penyebab tertinggi
terjadinya low vision atau visual impairment adalah katarak, kelainan refraksi
yang tidak dikoreksi, amblyopia, Age-related Macular Degeneration, Macular
Hole, Optic Atrophy, dan trauma (Saw, 2003).( Ilyas S. Amaurosis Fugaks.
Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2002. Hal 205-206.)
3. Patomekanisme penurunan ketajaman penglihatan :
Katarak Venil
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan,
berbentuk seperti kancing baju; mempunyai kekuatan refraksi yang besar.
Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat
nukleus, diperifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah
kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus
mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan.di sekitar
opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus.
Opasitas pada kapsul merupakan bentuk katarak yang paling bermakna-
nampak seperti kristal salju pada jendela. Perubahan fisik dan kimia
dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi . perubahan pada
serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke
sekitar daerah di luar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan
mengalami distorsi . perubahan kimia dalam protein lensa dapat
menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutakan pandangan dengan
menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan
terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam
lensa . proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan
menganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim
mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi . jumlah enzim
akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada
kebanyakan pasien yang menderita katarak. Katarak biasnya terjadi
bilateral , namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan
oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes, namun
sebenarnya merupakan konsekwensi dari proses penuaan yang normal.
Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika
orang memasuki dekade ketujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan
harus didentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat
menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor
yang paling sering yang berperan dalam terjadinya katarak meliputi
radiasi sinar ultraviolet B, obatobatan , alkohol , merokok, diabetes , dan
asupan vitamin antioksidan dalam jangka waktu lama.
Glaukoma
Tingginya tekanan intraocular bergantung pada besarnya produksi humor
aqueus melalui sudut bilik mata depan juga bergantung pada keadaan
kanal schlemm dan keadaan tekanan episklera. Tekanan intraocular
dianggap normal bila kurang dari 20 mm Hg pada pemeriksaan dengan
tonometer Schiotz ( Aplasti ). Jika terjadi peningkatan tekanan intraokuli
lebih dari 23 mm Hg, diperlukan evaluasi lebih lanjut. Secara fisiologis,
tekanan intraokuli yang tinggi akan menyebabkan terhambatnya aliran
darah menuju serabut saraf optik dan ke retina. Iskemia ini akan
menimbulkan kerusakan fungsi secara bertahap. Apabila terjadi
peningkatan tekanan intraocular, akan timbul penggaungan dan
degenerasi saraf optikus yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Gangguan perdarahan pada papil yang menyebabkan degenerasi
berkas serabut saraf pada papil saraf optik.
2. Tekanan intraokular yang tinggi secara mekanik menekan papil saraf
optik yang merupakan tempat dengan daya tahan paling lemah pada bola
mata. Bagian tepi papil saraf otak relatif lebih kuat daripada bagian
tengah sehingga terjadi penggaungan pada papil saraf optik.
3. Sampai saat ini, patofisiologi sesungguhnya dari kelainan ini masih
belum jelas.
4. Kelainan lapang pandang pada glaukoma disebabkan oleh kerusakan
serabut saraf optik.
Retinopathy Diabetikum
Retinopati diabetic non proliferatif, merupakan bentuk yang paling umum
dijumpai. Merupakan cerminan klinis dari hiperpermeabilitas dan
inkompetensi pembuluh yang terkena. Disebabkan oleh penyumbatan
dan kebocoran kapiler, mekanisme perubahannya tidak diketahui tapi
telah diteliti adanya perubahan endotel vaskuler (penebalan membrane
basalis dan hilangnya pericyte) dengan ganguan hemodinamik (pada sel
darah merah dan agregasi platelet). Disini perubahan microvaskular
pada retina terbatas pada lapisan retina (intraretinal), terikat kekutub
posterior dan tidak melebihi membran internal. Karakteristik
pada jenis ini adalah dijumpainya mikroaneurisma multiple yang dibentuk
oleh kapiler kapiler yang membentuk kantung-kantung kecil menonjol
seperti titik-titik, vena retina mengalami dilatasi dan berkelok-kelok,
bercak perdarahan intra retinal. Perdarahan dapat
terjadi pada semua lapisan retina dan berbentuk nyala api karena
lokasinya di dalam lapisan serat saraf yang berorientasi horizontal.
Sedangkan perdarahan bentuk titik-titik atau bercak terletak di lapisan
retina yang lebih dalam tempat sel-sel akson berorientasi vertical.
Retinopati diabetic proliferatif, merupakan penyulit mata yang paling
parah pada diabetes mellitus. Pada jenis ini iskemia retina yang progresif
akhirnya merangsang pembentukan pembuluh-pembuluh halus
(neovaskularisasi) yang sering terletak pada permukaan diskus dan di
tepi posterior zona perifer disamping itu neovaskularisasi iris atau
rubeosisiridis juga dapat terjadi. Pembuluh-pembuluh baru yang rapuh
berproliferasi dan menjadi meninggi apabila korpus vitreum mulai
berkontraksi menjauhi retina dan darah keluar dari pembuluh tersebut
maka akan terjadi perdarahan massif dan dapat timbul penurunan
penglihatan mendadak. Disamping itu jaringan neovaskularisasi yang
meninggi ini dapat mengalami fibrosis dan membentuk pita-pita
fibrovaskular rapat yang menarik retina dan menimbulkan kontraksi
terus-menerus pada korpus vitreum. Ini dapat menyebabkan pelepasan
retina akibat traksi progresif atau apabila terjadi robekan retina. Terjadi
ablasio retina regmatogenosa. Pelepasan retina dapat didahului atau
ditutupi oleh perdarahan korpus vitreum. Apabila kontraksi korpus
vitreum telah sempurna di mata tersebut, maka retinopati proliferative
cenderung masuk ke stadium involusional atau burnet out.

Ablasio Retina
Terdapat tiga jenis utama : ablasio regmatogenosa, ablasio traksi dan
ablasio serosa atau hemoragik.
Ablasio Retina Regmatogenosa
Merupakan bentuk tersering dari ablasio retina. Pada ablasio retina
regmatogenosa dimana ablasi terjadi akibat adanya robekan di retina
sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel dengan
retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreous)
yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina
sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen
koroid.
Mata yang berisiko untuk terjadinya ablasi retina adalah mata dengan
myopia tinggi, pascaretinitis, dan retina yang memperlihatkan degenerasi
di bagian perifer, 50% ablasi yang timbul pada afakia.
Ablasio retina akan memberikan gejala terdapatnya gangguan
penglihatan yang kadang-kadang terlihat sebagai tirai yang menutup,
terdapatnya ada riwayat pijaran api (fotopsia) pada lapangan
penglihatan.
Letak pemutusan retina bervariasi sesuai dengan jenis : Robekan tapal
kuda sering terjadi pada kuadran superotemporal, lubang atrofi di
kuadran temporal,dan dialysis retina di kuadran inferotemporal. Apabila
terdapat robekan retina multipel maka defek biasanya terletak 90 satu
sama lain.
Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang terangkat
berwarna pucat dengan pembuluh darah diatasnya dan terlihat adanya
robekan retina berwarna merah.
Ablasio Retina Traksi
Merupakan jenis tersering kedua, dan terutama disebabkan oleh
retinopati diabetes proliferatif, vitreoretinopati proliferatif, retinopati pada
prematuritas, atau trauma mata. Ablasio retina karena traksi khas
memiliki permukaan yang lebih konkaf dan cenderung lebih lokal,
biasanya tidak meluas ke ora seratta. Pada ablasi ini lepasnya jaringan
retina akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca yang akan
mengakibatkan ablasi retina, dan penglihatan turun tanpa rasa sakit.
Ablasio Retina Serosa Atau Hemoragik
Ablasio ini adalah hasil dari penimbunan cairan dibawah retina sensorik,
dan terutama disebabkan oleh penyakit epitel pigmen retina dan koroid.
Penyakit degenerative, inflamasi, dan infeksi yang terbatas pada macula
termasuk neovaskularisasi subretina yang disebabkan oleh berbagai
macam hal, mungkin berkaitan dengan ablasio retina jenis ini.( Tamsuri,
A. S. (2010). Klien Gangguan Mata & Penglihatan. Jakarta: EGC.)
4. Pemeriksaan penunjang pada kasus : Pemeriksaan visus atau tajam
penglihatan diukur menggunakan optotip snellen. Seseorang yang masih
memiliki visus yang normal bisa melihat pada jarak 6 meter tanpa alat
bantuan. Berarti kondisi visus pasien tersebut adalah 6/6 (orang normal bisa
melihat optotip snellen pada jarak 6 meter, pasien juga bisa melihat optotip
snellen pada jarak 6 meter) atau emetrop (istilah medis). Seseorang yang
mengalami penurunan tajam penglihatan bisa dicurigai karena kelainan
refraksi seperti miopi (rabun jauh), hipermetropi (rabun dekat) atau kelainan
pada organ mata (kelainan media refraksi) seperti katarak dsb.( Lang GK. A
short textbook : Opthalmology. New York : Thieme.2000.)
5. Komplikasi pada kasus :
Penglihatan menurun
Kebutaan
Keterbatasan aktivitas
Resiko cedera
(Bacigalupi, M , Internet Jurnal Sekutu Ilmu Kesehatan dan Praktek,
Review Amaurosis fugax-Sebuah Tinjauan Klinis 2006 Available
from :http://ijahsp.nova.edu http://ijahsp.nova.edu)
6. Pencegahan yang dilakukan pada kasus :
Latihan fokus mata
Penyakit mata plus dan minus biasanya terjadi karena seseorang terlalu
sering melihat atau benda dari jarak terlalu dekat atau jauh dalam rentang
waktu yang cukup lama. Jadi untuk mengurangi potensi terjadinya gangguan
tajam penglihatan mata lakukan latihan fokus mata.
Cukup cahaya
Seringkali kita mengabaikan adanya pencahayaan yang memadai baik saat
membaca buku menonton TV. Mata kita bisa melihat karena benda atau objek
terpapar oleh sinar apabila tidak tentu saja tidak akan terlihat alias gelap.
Apabila situasi itu terjadi terlalu lama maka akan meningkatkan beban kerja
dari otot lensa mata yang disebut dengan otot siliaris. Lambat laun otot ini
bisa mengalami penurunan fungsi sehingga lensa tidak bisa mengembang
dengan baik maka potensi yang bisa terjadi adalah penurunan ketajaman
penglihatan mata bisa mata plus atau minus.
Posisi membaca
Membaca buku koran maupun tulisan ataupun gambar sebaiknya Jangan
dilakukan dalam posisi tidur. Karena hal tersebut bisa membebani mata lebih
berat khususnya area lensa dan otot siliaris sehingga jika terjadi dalam
rentang waktu lama bisa mengurangi kemampuan lensa mata dalam
mengatur sinar dari objek atau benda agar tepat jatuh di retina. Apabila
China tersebut tidak tepat jatuh pada retina maka yang terjadi adalah
penyakit mata plus dan minus.
Gizi dan nutrisi
Organ mata merupakan salah satu organ yang cukup unik dimana separuh
dari bagian belakang mata membutuhkan asupan atau suplai oksigen melalui
pembuluh darah sedangkan sebagian kecil di bagian depan tidak memiliki
pembuluh darah salah satunya adalah kornea. Jadi penting sekali untuk
menjaga nutrisi bagi mata pertama melalui makanan dengan mengkonsumsi
lebih banyak vitamin A yang secara ilmiah mampu membantu meningkatkan
kinerja retina mata.
Rutin cek kesehatan
Seperti halnya dengan organ pencernaan khususnya gigi dan mulut yang
dianjurkan untuk rutin dicek 6 bulan sekali begitu juga dengan kesehatan
mata. Meskipun tidak ada gangguan penglihatan Hal ini penting dilakukan
sebagai pencegahan.( Sidarta I. Anatomi dan Fisiologi Mata. Dalam : Ilmu
Penyakit Mata Edisi kedua. Jakarta : BP-FKUI. 2007)
7. Penyakit yang menyebabkan penurunan tajam penglihatan :
Katarak Venil
Katarak adalah proses terjadinya opasitas secara progresif pada lensa
atau kapsul lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi
pada semua orang lebih dari 65 tahun (Marilynn Doengoes, dkk. 2000).
Glaukoma
Glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan di dalam bola mata
meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikus dan
menyebabkan penurunan fungsi penglihatan. Nilai normal dari tekanan
bola mata adalah 11 21 mmhg.
Retinopathy Diabetikum
Diabetic retinopathy adalah suatu mikroorganisme progresif yang
ditandai oleh kerusakan dan sumbatan pembuluh-pembuluh halus
meliputi arteriol prekapiler retina, kapiler-kapiler dan vena.
Ablasio Retina
Ablasio retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan
batang retina dari sel epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel
pigmen masih melekat erat dengan membrane Bruch.( Ming ALS,
Constable IJ. Color Atlas of Opthalmology. 3rd edition. World Science.
2000.)
8. Tanda dan gejala penuruanan tajam penglihatan :
Katarak Venil

Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.


Peka terhadap sinar atau cahaya.
Dapat melihat dobel pada satu mata.
Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.

Glaukoma

penyempitan lapang pandang tepi


sakit kepala ringan
gangguan penglihatan yang tidak jelas (misalnya melihat lingkaran di
sekeliling cahaya lampu atau sulit beradaptasi pada kegelapan).

penurunan fungsi penglihatan yang ringan


terbentuknya lingkaran berwarna di sekeliling cahaya
nyeri pada mata dan kepala.
Retinopathy Diabetikum

Kesulitan membaca
Penglihatan kabur
Penglihatan tiba-tiba menurun pada satu mata
Melihat lingkaran-lingkaran cahaya
Kesulitan membaca
Penglihatan kabur
Penglihatan tiba-tiba menurun pada satu mata
Melihat lingkaran-lingkaran cahaya
Melihat bintik gelap dan cahaya kelap-kelip
Melihat bintik gelap dan cahaya kelap-kelip

Ablasio Retina
terlihat retina yang terangkat berwarna pucat dengan pembuluh darah
diatasnya dan terlihat adanya robekan retina berwarna merah.
ablasi retina, dan penglihatan turun tanpa rasa sakit. (Siregar, NH ,
2003 , Papilitis Available from : www. usu.ac.id/usu/
digitallibrary/papilitis)

9. Diagnose keperawatan pada kasus :


1. Pengkajian
Anamnesa :
Laki-laki 56 tahun
Pasien mengeluh penurunan tajam penglihatan
Pasien tidak ada kelainan refraksi
Pasien tidak ada riwayat mata merah
Pasien tidak ada riwayat trauma pada mata
Pemeriksaan fisik : -
Pemeriksaan diagnostic : -
2. Analisa data

Data Etiologi Masalah


Ds : Pertambahan usia Gangguan presepsi
Pasien mengeluh sensori
penurunan tajam Degradasi lensa
penglihatan
Pasien tidak ada Koagulasi serat protein
kelainan refraksi Noda pada lensa (lensa
Pasien tidak ada
keruh)
riwayat mata merah
Pasien tidak ada Mengaburkan
riwayat trauma pandangan
pada mata
Do : - Jalan cahaya keretina
terhambat

Penglihatan buram,
kontur bayang kurang
jelas

Kehilangan penglihatan
Data Etiologi Masalah
Ds : Pertambahan usia Resiko injuri
Pasien mengeluh
penurunan tajam Degradasi lensa
penglihatan
Pasien tidak ada Koagulasi serat protein
kelainan refraksi
Pasien tidak ada Noda pada lensa (lensa
riwayat mata merah keruh)
Pasien tidak ada
Mengaburkan
riwayat trauma
pandangan
pada mata
Do : -
Jalan cahaya keretina
terhambat

Lensa mata tidak dapat


memfokuskan cahaya
ke mata

Sensitivitas dan
ketajaman mata
menurun

Mata tidak tahan


dengan silau cahaya

3. Diagnose keperawatan
Penurunan persepsi sensorik : penglihatan yang berhubungan dengan
penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan.
Resiko cedera berhubungan dengan penurunan visus, umur, atau
berada pada lingkungan yang tidak dikenal.
4. Intervensi
Penurunan persepsi sensorik : penglihatan yang berhubungan dengan
penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan.

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi

Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil

Penurunan persepsi NOC : NIC :


sensorik : penglihatan Sensori function : 1. Kaji dan dokumentasikan
yang berhubungan vision ketajaman penglihatan visus dasar
klien
dengan penurunan
Setelah dilakukan 2. Indentifikasi alternative untuk
tajam penglihatan dan optimalisasi sumber rangsangan.
tindakan keperawatan
kejelasan penglihatan. 3. Orientasikan klien tehadap
selama. Klien tidak
mengalami injury lingkungan.
dengan kriterian hasil: 4. Kaji juml ah dan tipe
a. Klien rangsangan yang disukai klien
mengendintifikasi 5. Sesuaikan lingkungan untuk
factor factor yang optimalisasi penglihatan :
memengaruhi fungsi - Orienrtasikan klien terhadap
penglihatan ruang gawat. - Lettakan alat yang
b. Klien sering digunakan di dekat klien
mengindentivikasi dan atau pada sisi mata yang lebih
menunjukkan pola sehat.
pola alternative untuk - Berikan pencahayaan cukup.
meningkatkan - Letakkan alat di tempat yang
penerimaan rangsang tepat
penglihatan - Hindari cahaya yang menyilaukan
6. Anjurkan penggunaan altematif
rangsang lingkungan yang dapat
diterima : auditorik, taktil
7. Perhatikan tentang suram atau
penglihatan kabur dan iritasi mata,
dimana dapat terjadi bila
menggunakan tetes mata.
9. Letakkan barang yang
dibutuhkan/posisi bel pemanggil
dalam jangkauan.

Resiko cedera berhubungan dengan penurunan visus, umur, atau


berada pada lingkungan yang tidak dikenal.

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi

Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil

Resiko cedera NOC : NIC : Environment Management


berhubungan dengan Risk Kontrol (Manajemen lingkungan)
penurunan visus, umur, Safety Behavior Sediakan lingkungan yang
atau berada pada Setelah dilakukan aman untuk pasien
lingkungan yang tidak tindakan keperawatan Identifikasi kebutuhan
dikenal. selama. Klien tidak keamanan pasien, sesuai dengan
mengalami injury kondisi fisik dan fungsi kognitif
dengan kriterian hasil: pasien dan riwayat penyakit
terdahulu pasien
Kli Menghindarkan lingkungan
en terbebas dari yang berbahaya (misalnya
cedera memindahkan perabotan)
Menempatkan saklar lampu
Kli ditempat yang mudah dijangkau
en mampu pasien.
menjelaskan Membatasi pengunjung
cara/metode Memberikan penerangan
untukmencegah yang cukup
injury/cedera Menganjurkan keluarga untuk
menemani pasien.
Kli Mengontrol lingkungan dari
en mampu kebisingan
menjelaskan factor Memindahkan barang-barang
risiko dari yang dapat membahayakan
lingkungan/perilaku Berikan penjelasan pada
personal pasien dan keluarga atau
pengunjung adanya perubahan
Ma status kesehatan dan penyebab
mpumemodifikasi penyakit.
gaya hidup
untukmencegah
injury

Me
nggunakan fasilitas
kesehatan yang ada

Ma
mpu mengenali
perubahan status
kesehatan