Anda di halaman 1dari 9

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Discharge Planning


Discharge planning (perencanaan pulang) adalah serangkaian keputusan
dan aktivitas-aktivitasnya yang terlibat dalam pemberian asuhan keperawatan
yang kontinu dan terkoordinasi ketika pasien dipulangkan dari lembaga pelayanan
kesehatan (Potter & Perry, 2005:1106).
Menurut Kozier (2004), discharge planning didefenisikan sebagai proses
mempersiapkan pasien untuk meninggalkan satu unit pelayanan kepada unit yang
lain di dalam atau di luar suatu agen pelayanan kesehatan umum.
National Council of Social Service (2006) dalam Wulandari (2011:9),
mendefinisikan bahwa discharge planning is aprocess used to decide what client
needs to maintain his present level of well-being or move to the next level of
care.
The Royal Marsden Hospital (2004) dalam Siahaan (2009:10) menyatakan
bahwa discharge planning merupakan proses mengidentifikasi kebutuhan pasien
dan perencanaannya dituliskan untuk memfasilitasi keberlanjutan suatu pelayanan
kesehatan dari suatu lingkungan ke lingkungan lain.

Perencanaan pulang merupakan proses perencanaan sistematis yang dipersiapkan


bagi pasien untuk menilai, menyiapkan, dan melakukan koordinasi dengan
fasilitas kesehatan yang ada atau yang telah ditentukan serta bekerjasama dengan
pelayanan sosial yang ada di komunitas, sebelum dan sesudah pasien
pindah/pulang (Carpenito, 2002 dalam Hariyati dkk, 2008:54).
Discharge planning dilakukan sejak pasien diterima di suatu pelayanan
kesehatan di rumah sakit dimana rentang waktu pasien untuk menginap semakin
diperpendek (Sommerfeld, 2001 dalam Rahmi, 2011:10). Discharge planning
yang efektif seharusnya mencakup pengkajian berkelanjutan untuk mendapatkan
informasi yang komprehensif tentang kebutuhan pasien yang berubah-ubah,
pernyataan diagnosa keperawatan, perencanaan untuk memastikan kebutuhan
pasien sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pemberi layanan kesehatan (Kozier,
2004).
Program discharge planning (perencanaan pulang) pada dasarnya
merupakan program pemberian informasi atau pemberian pendidikan kesehatan
kepada pasien yang meliputi nutrisi, aktifitas/latihan, obat-obatan dan instruksi
khusus yaitu tanda dan gejala penyakit pasien (Potter & Perry, 2005 dalam
Herniyatun dkk, 2009:128). Informasi diberikan kepada pasien agar mampu
mengenali tanda bahaya untuk dilaporkan kepada tenaga medis. Sebelum
pemulangan, pasien dan keluarganya harus mengetahui bagaimana cara
manajemen pemberian perawatan di rumah dan apa yang diharapkan di dalam
memperhatikan masalah fisik yang berkelanjutan karena kegagalan untuk
mengerti pembatasan atau implikasi masalah kesehatan (tidak siap menghadapi
pemulangan) dapat menyebabkan meningkatknya komplikasi yang terjadi pada
pasien (Potter & Perry, 2006). Program yang dilakukan oleh perawat ini, tidak

selalu sama antara satu rumah sakit dengan rumah sakit lainnya. Hal ini bisa
terjadi ketika sistem perawatan yang digunakan adalah berbeda, misalnya
menggunakan sistem keperawatan utama (primer). Sistem ini mewajibkan seorang
perawat bertanggung jawab melakukan koordinasi perawatan untuk kelompok
klien tertentu, mulai dari mereka masuk sampai pulang (Potter & Perry, 2005:96).
National Council of Social Service, (2006) dalam Wulandari (2011:9)
menyatakan bahwa discharge planning merupakan tujuan akhir dari rencana
perawatan, dengan tujuan untuk memberdayakan klien untuk membuat keputusan,
untuk memaksimalkan potensi klien untuk hidup secara mandiri, atau agar klien
dapat memanfaatkan dukungan dan sumber daya dalam keluarga maupun
masyarakatnya

2.2 Tujuan Discharge Planning

Discharge planning bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik


untuk mempertahankan atau mencapai fungsi maksimal setelah pulang
(Carpenito, 1999 dalam Rahmi, 2011:10). Tindakan ini juga
bertujuan memberikan pelayanan terbaik untuk menjamin keberlanjutan asuhan
berkualitas antara rumah sakit dan komunitas dengan memfasilitasi komunikasi
yang efektif (Discharge Planning Association, 2008 dalam Siahaan, 2009:12).
Taylor et al (1989) dalam Yosafianti & Alfiyanti (2010:115) juga
menyatakan bahwa discharge planning adalah proses sistematis yang bertujuan
menyiapkan pasien meninggalkan rumah sakit untuk melanjutkan program
perawatan yang berkelanjutan dirumah atau diunit perawatan komunitas.
Secara lebih terperinci The Royal Marsden Hospital (2004) dalam Siahaan
(2009:12-13) menyatakan bahwa tujuan dilakukannya discharge planning adalah:
a. Untuk mempersiapkan pasien dan keluarga secara fisik dan psikologis untuk
di transfer ke rumah atau ke suatu lingkungan yang dapat disetujui.
b. Menyediakan informasi tertulis dan verbal kepada pasien dan pelayanan
kesehatan untuk mempertemukan kebutuhan mereka dalam proses
pemulangan.
c. Memfasilitasi proses perpindahan yang nyaman dengan memastikan semua
fasilitas pelayanan kesehatan yang diperlukan telah dipersiapkan untuk
menerima pasien.
d. Mempromosikan tahap kemandirian yang tertinggi kepada pasien dan
keluarga dengan menyediakan serta memandirikan aktivitas perawatan diri.

2.3 Manfaat Discharge PlanninG


Discharge Planning mempunyai manfaat antara lain sebagai berikut
(Nursalam,2011) :

a. Dapat memberikan kesempatan untuk memperkuat pengajaran kepada pasien


yang dimulai dari rumah sakit
b. Dapat memberikan tindak lanjut secara sistematis yang digunakan untuk
menjamin kontinuitas perawatan pasien
c. Mengevaluasi pengaruh dari intervensi yang terencana pada penyembuhan
pasien dan mengidentifikasi kekambuhan atau kebutuhan perawatan baru
d. Membantu kemandirian dan kesiapan pasien dalam melakukan perawatan di
rumah
Wulandari (2011:11) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa manfaat
dari pelaksanaan discharge planning adalah sebagai berikut:
a. Mengurangi pelayanan yang tidak terencana (unplanned admission)
b. Mengantispasi terjadinya kegawatdaruratan seletah kembali ke rumah
c. Mengurangi LOS (Length Of Stay) pasien di rumah sakit
d. Meningkatkan kepuasan individu dan pemberi layanan
e. Menghemat biaya selama proses perawatan
f. Menghemat biaya ketika pelaksanaan perawatan di luar rumah sakit atau di
masyarakat karena perencanaan yang matang.
g. Hasil kesehatan yang dicapai menjadi optimal.
2.4 Jenis Discharge Planning
Chesca (1982) dalam Nursalam (2011) mengklasifikasikan jenis pemulangan pasien
sebagai berikut:

a. Pulang sementara atau cuti (conditioning discharge). Keadaaan pulang ini


dilakukan apabila kondisi klien baik dan tidak terdapat komplikasi. Klien
untuk sementara dirawat di rumah namun harus ada pengawasan dari pihak
rumah sakit atau Puskesmas terdekat.
b. Pulang mutlak atau selamanya (absolute discharge). Cara ini merupakan akhir
dari hubungan klien dengan rumah sakit. Namun apabila klien perlu dirawat
kembali, maka prosedur perawatan dapat dilakukan kembali.
c. Pulang paksa (judicial discharge). Kondisi ini klien diperbolehkan pulang
walaupun kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk pulang, tetapi klien
harus dipantau dengan melakukan kerjasama dengan perawat puskesmas
terdekat.

2.5 Prinsip Prinsip Discharge Planning

Ketika melakukan discharge planning dari suatu lingkungan


ke lingkungan yang lain, ada beberapa prinsip yang harus
diikuti/diperhatikan Menurut Nursalam & Efendi (2008:229), prinsip-prinsip yang
diterapkan dalam perencanaan pulang adalah sebagai berikut:
e. Pasien merupakan fokus dalam perencanaan pulang. Nilai keinginan dan
kebutuhan dari pasien perlu dikaji dan dievaluasi.
f. Kebutuhan dari pasien diidentifikasi, kebutuhan ini dikaitkan dengan masalah
yang mungkin muncul pada saat pasien pulang nanti, sehingga kemungkinan
masalah yang muncul di rumah dapat segera di antisipasi.
g. Perencanaan pulang dilakukan secara kolaboratif. Perencanaan pulang
merupakan pelayanan multidisiplin dan setiap tim harus saling bekerja sama.
h. Perencanaan pulang disesuaikan dengan sumber daya dan fasilitas yang ada.
Tindakan atau rencana yang akan dilakukan setelah pulang disesuaikan dengan
pengetahuan dari tenaga yang tersedia maupun fasilitas yang tersedia di
masyarakat.Perencanaan pulang dilakukan pada setiap sistem pelayanan kesehatan.
Setiap pasien masuk tatanan pelayanan maka perencanaaan pulang harus dilakukan.
2.6 Mekanisme Discharge Planning
Discharge planning mencakup kebutuhan seluruh pasien, mulai darifisik,
psikologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Proses ini tiga fase,yaitu akut, transisional,
dan pelayanan berkelanjutan. Pada fase akut,diutamakan upaya medis untuk segera
melaksanakan dischargeplanning. Pada fase transisional, ditahap ini semua
cangkupan padafase akut dilaksankan tetapi urgensinya berkurang. Dan pada fase
pelayanan berkelanjutan, pasien mampu untuk berpartisipasi dalamperencanaan dan
pelaksanaan aktivitas perawatan berkelanjutan yang dibutuhkan setelah pemulangan.
(Perry & Potter, 2005).
Perry dan Potter (2005), menyusun format discharge planning sebagai berikut:
a. Pengkajian
1.Kaji pasien dan keluarga terhadap pendidikan kesehatann berhubunga dengan
kondisi yang akan diciptakan di rumah tempat tinggal pasien setelah keluar dari
rumah sakit sehingga terhindar dari komplikasi
2.Kaji cara pembelajaran yang disukai oleh pasien agar pendidikan kesehatan
yang diberikan bermanfaat dan dapat ditangkap oleh pasien maupun keluarga.
Tipe materi pendidikan yang berbeda- beda dapat mengefektifkan
carapembelajaran yang berbeda pada pasien.
3.Kaji bersama-sama dengan pasien dan keluarga terhadap setiap faktor
lingkungan di dalam rumah yang mungkinmenghalangi dalam perawatan diri
seperti ukuran ruangan,kebersihan jalan menuju pintu, lebar jalan, fasilitas kamar
mandi, ketersediaan alat-alat yang berguna (seorang perawat perawatan di rumah
dapat dirujuk untuk membantu dalam pengkajian).
4.Melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam mengkaji kebutuhan
untuk rujukan pelayanan kesehatan rumah maupun fasilitas lain.
5. Kaji persepsi pasien dan keluarga terhadap keberlanjutan perawatan kesehatan
di luar rumah sakit. Mencakup pengkajian terhadap kemampuan keluarga untuk
mengamati care giver dalam memberikan perawatan kepada pasien. Dalam hal ini
sebelum mengambil keputusan, mungkin perlu berbicara secara terpisah dengan
pasien dan keluarga untuk mengetahui kekhawatiran yang sebenarnya atau
keraguraguan diantara keduanya.
6.Kaji penerimaan pasien terhadap penyakit yang sedang diderita berhubungan
dengan pembatasan.
7. Konsultasikan tim pemberi layanan kesehatan yang lain tentang kebutuhan
setelah pemulangan (seperti ahli gizi, pekerja sosial, perawat klinik spesialis,
perawat pemberi perawatan kesehatan di rumah). Tentukan kebutuhan rujukan
padawaktuyangberbeda
b. Diagnosa Keperawatan
Perry dan Potter (2005) adapun diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan
antara lain:
1. Kecemasan, hal ini dapat menginterupsi proses keluarga. Tekanan terhadap care
giver, hal yang menyebabkannya adalah ketakutan.
2.Kurang pengetahuan terhadap pembatasan perawatan di rumah, pasien
mengalami defisit perawatan diri
3.Stres sindrom akibat perpindahan, hal ini berhubungan dengan upaya
meningkatkan pertahanan/pemeliharaan di rumah.
4. Stres sindrom akibat perpindahan, hal ini berhubungan dengan upaya
meningkatkan pertahanan/pemeliharaan di rumah.

c. Perencanaan
Perry dan Potter (2005) hasil yang diharapkan jika seluruh prosedur telah
dilaksanakan adalah sebagai berikut: Pasien atau keluarga sebagai caregiver
mengerti akan keberlangsungan pelayanan kesehatan di rumah (atau fasilitas lain),
penatalaksanaan atau pengobatan apa yang dibutuhkan.
1.Pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan aktivitas perawatan diri.
2. Rintangan kepada pergerakan pasien dan ambulasi telah diubah dalam setting
rumah.
3. Rintangan kepada pergerakan pasien dan ambulasi telah diubah dalam setting
rumah

d. Penatalaksanaan
Perry dan Potter (2005) penatalaksanaan dapat dibedakan dalam\ dua
bagian, yaitu penatalaksanaan yang dilakukan sebelum hari pemulangan, dan
penatalaksanaan yang dilakukan pada hari pemulangan.
a. Persiapan Sebelum Hari Pemulangan Pasien Menganjurkan cara untuk merubah
keadaan rumah demi memenuhi kebutuhan pasien.
1.Mempersiapkan pasien dan keluarga dengan memberikan informasi tentang
sumber-sumber pelayanan kesehatan komunitas. Rujukan dapat dilakukan
sekalipun pasien masih di rumah.
2.Setelah menentukan segala hambatan untuk belajar serta kemauan untuk belajar,
mengadakan sesi pengajaran dengan pasien dan keluarga secepat mungkin selama
dirawat di rumah sakit. Pamflet, buku-buku, atau rekaman video dapat diberikan
kepadapasien muapun sumber yang yang dapat diakses diinternet.
3.Komunikasikan respon pasien dan keluarga terhadap penyuluhan dan usulan
perencanaan pulang kepada anggota tim kesehatan lain yang terlibat dalam
perawatan pasien.
4. Komunikasikan respon pasien dan keluarga terhadap penyuluhan dan usulan
perencanaan pulang kepada anggota tim kesehatan lain yang terlibat dalam
perawatanpasien
b. Penatalaksanaan pada Hari Pemulangan
Perry dan Potter (2005) berpendapat apabila beberapa aktivitas berikut ini dapat
dilakukan sebelum hari pemulangan, maka perencanaan yang dilakukan akan
lebih efektif. Adapun aktivitas yang dilakukan yaitu: Biarkan pasien dan keluarga
bertanya dan diskusikan isu-isu yang berhubungan dengan perawatan di rumah.
Kesempatan terakhir untuk mendemonstrasikan kemampuan juga bermanfaat.
1.Periksa instruksi pemulangan dokter, masukkan dalam terapi, atau kebutuhan
akan alat-alat medis yang khusus. (Instruksi harus dituliskan sedini mungkin).
Persiapkan kebutuhan yang mungkin diperlukan pasien
2. selama perjalanan pulang (seperti tempat tidur rumah sakit, oksigen, feeding
pump). Pastikan pasien dan keluarga telah dipersiapkan dalam kebutuhan
transportasi menuju ke rumah.
3. Tawarkan bantuan untuk memakaikan baju pasien dan semua barang milik
pasien. Jaga privasi pasien sesuai kebutuhan.
4. Periksa seluruh ruangan dan laci untuk memastikan barang-barang pasien.
Dapatkan daftar pertinggal barang-barang berharga yang telah ditandatangani oleh
pasien, dan instruksikan penjaga atau administrator yang tersedia untuk
menyampaikan barang-barang berharga kepada pasien.
5.Persiapkan pasien dengan prescription atau resep pengobatan pasien sesuai
dengan yang diinstruksikan oleh dokter. Lakukan pemeriksaan terakhir untuk
kebutuhan informasi atau fasilitas pengobatan yang aman untuk administrasi diri.
6. Berikan informasi tentang petunjuk untuk janji follow up ke kantor dokter.
7. Hubungi kantor agen bisnis untuk menentukan apakah pasien membutuhkan
daftar pengeluaran untuk kebutuhan pembayaran. Anjurkan pasien dan keluarga
mengunjungi kantornya.
8. Dapatkan kotak untuk memindahkan barang-barang pasien. Kursi roda untuk
pasien yang tidak mampu ke mobil ambulans. Pasien yang pulang dengan
menggunakan ambulans diantarkan oleh usungan ambulans.
9. Bantu pasien menuju kursi roda atau usungan dan gunakan sikap tubuh dan
teknik pemindahan yang sopan. Dampingi pasien memasuki unit dimana
transportasi yang dibutuhkan sedang menunggu. Kunci roda dari kursi roda.
Bantu pasien pindah ke mobil pribadi atau kendaraan untuk transportasi.
Bantukeluarga menempatkan barang-barang pribadi pasien ke dalam kendaraan.
10. Kembali ke bagian, dan laporkan waktu pemulangan kepada departemen
pendaftaran/penerimaan. Ingatkan bagian kebersihan untuk membersihkan
ruanganpasien
e. Evaluasi
Minta pasien dan anggota keluarga menjelaskan tentang penyakit, pengobatan
yang dibutuhkan, tanda-tanda fisik atau gejala yang harus dilaporkan kepada
dokter
1.Minta pasien atau anggota keluarga mendemonstrasikan setiap pengobatan yang
akan dilanjutkan di rumah.
2.Perawat yang melakukan perawatan rumah memperhatikan keadaan rumah,
mengidentifikasi rintangan yang dapat membahayakan bagi pasien, dan
menganjurkan perbaikan.

2.7 Alur Discharge Planning

Keterangan :
Tugas
1. Keperawatan Primer
a. Membuat rencana discharge planning.
b. Membuat leaflet.
c. Memberikan konseling.
d. Memberikan pendidikan kesehatan.
e. Menyediakan format discharge planning.
f. Mendokumentasikan discharge planning.
2. Tugas Keperawatan Associate
Melaksanakan agenda discharge planning (pada saat keperawatan dan diakhiri ners).
4