Anda di halaman 1dari 9

TABLE PERBEDAAN SOUTH SUMATERA DENGAN CENTRAL SUMATERA

BASIN

Cekungan Sumatera Selatan Cekungan Sumatera Tengah

TEKTONIK

Menurut Pullunggono et al.(1992) Sejarah perkembangan tektonik cekungan


Perkembangan tektonik di cekungan sumatera tengah dibagi menjadi 3 even
sumatera selatan dibagi menjadi 4 fase yaitu: tectonic yaitu masa cretaceus akhir sampai
Zaman Jura Cretaceus Akhir terjadi Tesier (eosenoligosen), earlymiddle
pergerakan lempeng samudra hindia miocene (intra miosen) dan Pliocene-
dengan arah barat laut secara Pleistocene (Mertasono and Nayoan ,1974)
mekanisme akan mengalami Diawali pada Late Cretaceous atau
kompresi dan seiring dengan kontrol Early Tertiary adalah even pertama
tektonik, yang berpusat miring proses pembentukan cekungan ini.
terhadap garis tepi arah WNW-ESE Terjadi pertumbukan antara lempeng
sundaland yang menginduksi Eurasia(SW Asia) dengan indian
vulkaniknya dan menyertai arah sesar oceanic plate. Proses subduksi ini
gesernya (zona sesar) yang saat ini menghasilkan konveksi panas dan
dilihat sebagai kelurusan musi dan diaspirm.
kelurusan lematang (dengan N 30 W Konveksi dari aliran panas
diarahkan pusat lempeng samudra mengakibatkan terjadinya peregangan
hindia ke sebuah garis tepi searah atau tension regime. Terdapat dua set
WNW-ESE sundaland, sudut miring trend sesar yang ada di cekungan
konvergensi adala ca 30). Akibatnya sumatera tengah yaitu N-S dan NW-
terjadi vulkanisme menghasilkan SE . Selanjutnya aktif pada tersier
intrusi granitoid. Disertai arah sesar yang berpengaruh pada :
geser dekstral (Sesar lematang) - Depositional
- Lipatan sepanjang set N-S
memotong sesar NS (Lenggaran fault
memperlihatkan angle pertama
dan Kikim fault). Aktivitas sesar
menuju dexstral wrenching.
Lematang yang aktif bergeser dan
- Sesar -sesar mengalami
sesar NS diam membentuk sudut 60.
reactivated atau rejuvenated
Pada zaman Upper Crestaceous
- N-S dan NW -SE dari sesar
Lower Tersier merupakan fase kedua tersebut bersilangan dan
yang berkembang ektensional. Gaya bergabung membentuk pola
ini berorientasi N-S dan WNW-ESE "dogleg"(Eubank et al,1981).
mengalami pemekaran membentuk Kala earlymiddle miocene (intra
graben atau depresi. Hal ini miosen) kontrol struktur yang
mengakibatkan sesar Lematang berkembang adalah pengangkatan
berada pada timur kikim fault dengan gentle dan mild folding dan
bermula strike slip fault berarah SW- terjadi pensesaran. Tahap ini
NE (N30E). Menjadi Normal Fault berlangsung siklus trangresi regresi ,
berarah N 300 E . dimana fase awal merupakaan
Perkembangan selanjutnya menjadi endapan fluvial-deltaic-near-shore
Limau menghasilkan block horst dan sampai shalow marine.Contohnya
grabben. Blok tersebut adalah Kelompok Sihapas (Formasi
pembentuk basement cekungan Menggala, Bangko, Bekasap dan
sumatera selatan. Jalur subduksi yang Duri) dan Telisa(Mertasono and
mengalamipemekaran mengakibatkan Nayoan ,1974).
Intrusi vulkanik bergeser Pada tahap akhir yang terjadi pada
menghasilkan Garba. Pliocene-Pleistocene. Struktur yang
Pada fase itu juga dimulainya berkembang adalah uplift atau
pengisian sedimen-sedimen ke blok pengangkatan yang disertai dengan
grabben diatas batuan dasar sesar yang berarah NNW-SSE disebut
bersamaan dengan aktivitas vulkanik. sebagai Plio-Pleistocene Orogeny.
Pada fase ketiga adalah fase adanya Formasi yang direpresentasikan oleh
tektonik miosen yang menyebabkan bagian Upper Petani dan Minas Fm.
uplift pada tepi-tepi cekungan dan (Mertasono and Nayoan ,1974)
diikuti dengan pengendapan material
klastik. Ketika kala ini terjadi
pembentukan Bukit barisan
berorientasi N 320 E. Hal itu juga
membuat pada fase ketiga disebut
Bukit barisan Orogeny. Akibatnya
berkembanglah struktur-struktur
berupa strike slip fault pada masa
mid-miocen disertai dengan
peningkatan laju aktivitas vulkanisme
Pada kala Plio-Pleistosen yaitu fase
keempat mengalami compressional
lagi. Zona subduksi berubah dari
pulau sumatera membentuk
konvergensi oblique dan arahnya N 6
E. Hal tersebut membuat terbentuk
blok sesar geser Semangko .
Akibatnya menghasilkan wrenching,
rejuvenation dan inversi tectonic .
Pegunungan Bukit Barisan ini
membentang luas dari utara-selatan
berbentuk miring dan berarah NW-
SE. Pegunungan ini yang membatasi
cekungan sumatera selatan pada
bagian barat daya.

STRATIGRAFI
Basement Basement
Merupakan komplek batuan yang berumur Basemet pra-tersier menjadi 3 (tiga) satuan
Pra-Tersier (Paleozoikum dan Mesozoikum), litologi, yaitu Quatzite Terrane, Mutus
basement dari cekungan Sumatera Selatan. Assemblage, dan Greywacke Terrane.
Terdiri dari batuan beku seperti andesit, (Eubank,et al,1981)
metamorf , metasedimen , sedimen (seperti
karbonat),vulkanik dan permo carboniferous.
Litologi tersebut kemudian ditindih oleh
batuan yang berumur tersier. Batuan tersebut
mengalami deformasi berupa perlipatan,
pensesaran dan intrusi batuan beku
(Adiwidjaya and De Coster , 1973)

Adiwidjaya and De Coster(1973) Basement Basement Pra-Tersier ini ditindih oleh


Pra-Tersier ini ditindih oleh batuan tersier batuan tersier yaitu:
(dibagi menjadi 2 yaitu Paleogen dan Neogen Formasi Pematang
sedimen) Eosen sampai Oligosen,Periode ini
1. Paleogen( Eosen akhir-Middle Miocen) berlangsung ketika low stands sea
Formasi Lemat/Lahat level, dikelompokan menjadi 2 yaitu
Eosen akhir dan Oligosen awal, lower red bends, brown shale ,coal
terbagi atas 2 kelompok Formasi zone dan fanglomerat fm. Lower red
Lemat/lahat dan benakat member, bends terdiri dari mudstone,
Formasi Lemat sendiri memiliki siltstone,shale stone yang dikontrol
lingkungan Pengendapan darat oleh shalow lacustrine dan delta.
Continent. sedimen ini berasal dari Brown shale tersusun dari litologi
kipas Alluvial, Braided steam dan yang kaya organik berwarna coklat -
piedmont deposits. Ukuran butir hitam dan laminasi shale dengan
dominan kasar dan pasiran dari siltstone. Coal zone yakni zona
ukuran konglomerat dan fragmen ditemukan batubara dengan
vulkanik serta lapisan tipis batubara interbedded shalow lacustrine shale
dalam jumlah yang sedikit. dan sedikit batupasir.Kelompok
Benakat member terakhir mengendapkan sandstone,
berada di Formasi Lemat Tepatnya konglomerat dan red-green
berada pada pusat/Tengah Cekungan. mudstones. Facies sedimentasi terdiri
Stratigrafi terdiri dari Shale abu-abu dari 7 yaitu alluvial, fluvial,
sampai coklat dan abu-abu gelap distributary plain, delta front,
berselingan dengan abu-abu hijau lacustrine, marsh dan carbonat
terang sampai serpih kebiruan- platform(Williams et al,2006)
biruan,tuffaceous shale dan siltstones.
Beserta batupasir tufaan sesekali
batubara. Lapisan tipis batu gamping,
dolomite dan terkadang glaukonit
berada pada lingkungan pengendapan
prodelta

Masa Transgresi Masa Transgresi


Menurut Adiwidjaya and De Coster (1973) Berdasarkan Mertosono et al(1974) Early
terjadi pada kala Upper Oligocene-Middle Middle Miocene (Intra Miosen) diendapkan
Miocene, tidak adanya kontrol struktur pada kelompok Sihapas dan Telisa.
cekungan Ini sehingga cekungan ini Kelompok Sihapas adalah kelompok yang
pengendapan Selaras dengan Lingkungan mengalami masa transgresi pada cekungan
Pengendapan Fluvial-Delta sampai shelfal ini hingga transgresi puncak pada cekungan
(paparan), yang kaya akan terumbuh karang. Sumatera Tengah, Formasi yang masuk ke
Formasi yang terendapkan pada masa dalam kelompok ini adalah:
ini adalah: Formasi Menggala
Formasi Talangakar Miosen Awal pada lingkungan Fluvial
Lingkungan pengendapan dari fluvial, Channel . Merupakan bagian
delta dan pantai-laut dangkal terdiri terbawah dari Kelompok Sihapas
dari marine sand, prodeltashale, pasir yang berhubungan secara tidak
tufaan berasal dari sumber material selaras dengan Formasi Pematang
Vulkanik yang berada disekitarnya. yang dicirikan oleh kontak berupa
hiatus. Karakteristik batuannya terdri
Basal Telisa Limestone Member dari sandstone ukuran butir halus-
Formasi yang kaya akan fosil, kasar , dan konglomerat.
terdapat dua tahap perkembangan Formasi Bangko
lingkungan pengendapan. Tahap awal Formasi ini di dominasi oleh gray,
dimulai dari platform atau bank calcareous shales dengan sisipan
limestone deposits yang terbentuk batupasir yang ukuran pasir dari yang
pada lingkungan shelfal (paparan) halus sampai pasir sedang,
berumur Aquitanian. Kemudian di diendapkan pada open marine,
tahap akhir berubah menjadi banyak fosil yang terendapkan pada
lingkungan detrital,reefal dan bank Formasi ini dalah fosil Forminifera
deposits yang terjadi ketika kondisi Formasi Bekasap
restritricted (sedikit air) Hal ini dapat Formasi Bekasap, diendapkan secara
diasumsikan bahwa pada waktu itu selalaras dengan Formasi Bangko,
terjadi pengangkatan platform Formasi ini mengandung banyak
batugamping. terendapkan batupasir dengan ukuran
Formasi Telisa sedang-kasar, intercalations dengan
Formasi termuda selama siklus shale, sedikit terdapat seam-seam
transgresi yang terendapakan selama batubara, terkadang terdapanya
early-midlle miosen. Karakteristik bongkahan batugamping, lingkungan
batuannya yaitu fossilferous (banyak pengendapannya mulai dari muara
mengandung foram plankton). sampai shallow marine adanya fosil
Formasi ini diendapkan dalam masa karang pada unit ini
transgresi secara maksimum. Formasi Duri
Sehingga mempunyai kekuatan besar Formasi Duri di endapakan selaras
dalam mengendapkan sedimen dan dengan Formasi Berkasap, yeng
adanya percampuran antara endapan membedakan dengan Formasi
darat dan endapan laut. Akibatnya Berkasap adalah keterdapatanya
menghasilkan pola coarsening sisipan batuan shale dan batupasir
upward dan merendam bagian dataran dengan ukuran halus sampai
rendah ketika kala itu.Hanya sedang(Wongsosantiko,1976).
meninggalkan spot-spot dataran Formasi Telisa
tinggi Formasi Telisa merupakan akhir dari
masa transgresi pada Cekungan
Sumatera Tengah, penanda bahwa
Cekungan Sumatera Tengah telah
memasuki masa Regesi, Formasi ini
di endapkan selalaras dengan
kelompok Sihapas, litologi yang
dominan pada Formasi ini adalah
marine shale dan batulanau, dengan
sedikit batugamping.
Masa Regresi Masa Regresi
Cekungan Sumatera Selatan yang tidak Mertasono and Nayoan (1974),Cekungan
mengalami Tektonik yang kuat pada masa Sumatera tengah mengalami pengangkatan
transgresi sehingga cekungan ini masih bisa pada masa transgresi tidak dapat menampung
mengalami yang besar, terhentinya suplay sedimen lagi, sehingga pada masa ini
pengendapan pada cekungan ini karena cekungan ini mendekati masa akhir
pengangkatan pada masa Plio-pliostocene pengendapan, dengan terendapkanya Formasi
yang mengakhiri pengendapan pada Petani dan Minas.
cekungan Sumatera Selatan. Pada masa ini Formasi Petani
terendapkanya kelompok Palembang yang Berumur Pliocene sampai plio-
mana di bagi atas : Lower Palembang Fm., pleistocene, Formasi di dominasi oleh
middle Palembang Fm., and upper greenish sampai gray, noncalcareous
Palembang Fm.( Adiwidjaya and De Coster , shales dengan beberapa sisipan
1973) batulanau dan batupasir, lingkungan
Lower Palembang Formation pengendapan bagaian dasarnya adalah
Lingkungan pengendapan berubah open marine, sampai endapan
dari neritic ke shallow marine. paralic.
Kemudian ke marginal marine dan
paludal- deltaic. Komposisi dari Formasi Minas dan Endapan
formasi ini terdiri dari batupasir Alluvium
glaukonitan, batulempung, batulanau, Formasi Minas dan Endapan
dan batupasir yang mengandung Alluvium diendapkan secara tidak
unsur karbonatan. Kontak secara selaras dengan Formasi Petani,
tidak selaras dengan Formasi Telisa. Formasi Minas dan Endapan alluvium
Dengan umur mulai dari Middle di dominasi oleh bongkah, pasir, dan
Miocene ke Pliocene mengendapkan lempung.
Formasi Lower dan Middle
Palembang. Semua formasi diatas
mengalami uplift, fold dan fault
selama Plio-pleistocene orogeny.
Middle Palembang Formation
Berumur miosen akhir sampai pliosen
awal , Formasi ini diendapkan secara
tidak selaras dengan formasi yang
berada di bawahnya. Formasi ini
mepunyai litologi sebagai berikut:
batupasir, batulanau dan batu
lempung serta ditemukan dengan
lapisan batubara yang menerus.
Formasi ini diendapkan pada
lingkungan laut dangkal sampai
brackist (pada bagian dasar), delta
plain dan lingkungan non marine
Upper Palembang Formation
Formasi ini merupakan paling muda
di cekungan Sumatra Selatan.
Formasi ini diendapkan selama Plio-
Pleistosen orogeny.Akibatnya sumber
dan arah transportasi sedimentasi
berubah, dimana sebelumnya berasal
dari sediment tersier. Deposisinya
yaitu tinggian lampung, sunda shield
dan juga dibawa oleh arah barat daya,
barat dan barat laut. Tetapi dengan
adanya orogeny itu menyebabkan
sumber utama bergerak kearah timur
laut. Mengendapkan tuffaceous,
batuan klastik dari kasar-halus .
Terdiri dari batupasir tuffan, lempung,
dan kerakal dan lapisan tipis batubara.
Dibatasi dengan kontak tidak selaras
dengan formasi yang berada
dibawahnya. Upper Palembang
ditutupi oleh alluvium atau material
lepas-lepas. lingkungan nya
terendapkan pada fluvial dan alluvial
fan(Pullunggono et al.1992) .
DAFTAR PUSTAKA

Adiwidjaja and De Coster,1973. Pre-Tertiary Paleotopography And Related Sedimentation In


South Sumatra. Proceedings 2th Annual Convention, IPA, 89-102.

Eubank ,R.T. and Makki,A.C.,1981.Structural Geology of The Central Sumatera Back Arc
Basins. Proceedings 10th Annual Convention, IPA,169-196.

Mertasono ,S. and Nayoan,G.A.S.,1974.The Tertiary Basinal Area of Central Sumatera.


Proceedings 3rd Annual Convention, IPA,63-76.

Pulunggono, A et al., 1992, Pre-Tertiary And Tertiary Fault Systems As A Framework Of The
South Sumatra Basin; A Study Of Sar-Maps. Proceedings 21 th Annual
Convention, IPA,339-360.

Williams ,H.H., Kelley,P.A.,Janks,J.S. and Christensen ,R.M.,1985.The Paleogene Rift Basin


Source Rocks of Central Sumatra. Proceedings 14th Annual Convention,
IPA,57-90.

Wongsosantiko ,A.,1976.Lower Miocene Duri Formation Sands, Central Sumatra Basin.


Proceedings 5th Annual Convention, IPA,133-150
TUGAS ANALISIS CEKUNGAN BATUBARA DAN GAS METANA BATUBARA

PERBEDAAN SOUTH SUMATERA DENGAN CENTRAL SUMATERA BASIN

DISUSUN OLEH:

Wahidin Zuhri 03071181320014


Aditya Nugrahaputra Harahap 03071181320009
Oke Aflatun 03071181320010
Ridho Rizki Amanda 03071181320024
Januardi 03071381320027

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS INDRALAYA

2016