Anda di halaman 1dari 94

3

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Studi kelayakan bisnis merupakan analisa suatu usaha/bisnis apakah
layak atau tidak untuk dijalankan. Agar usaha yang ingin dijalankan tersebut
sesuai dengan yang direncanakan dan layak untuk dijalankan
maka diperlukanlah studi kelayakan bisnis ini. Untuk memulai studi
kelayakan bisnis biasanya dimulai dari berbagai macam aspek yang telah
ditentukan serta menjadi landasan dalam pelaksanaan bisnisnya.
Perkembangan bisnis atau usaha pada saat ini telah menjadi suatu
perkembangan yang sangat signifikan bagi Indonesia. Dari yang berwujud
UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) sampai dengan perusahaan-
perusahaan besar. Itu menandakan bahwasanya kesadaran akan berwirausaha
pada saat ini telah meningkat dari sebelumnya.
Upaya memenuhi kebutuhan hidup manusia merupakan tahap paling
menentukan bagi perkembangan ekonomi suatau masyarakat. Dengan
perkataan lain dapat diterangkan perkembangan ekonomi masyarakat
senantiasa berawal dari adanya target pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
Agar tidak tergantung lagi pada lingkungannya, maka manusia berusaha
untuk menguasai alam lingkungannya, yaiut dengan mempergunakan secara
maksimal macam dan jumlah kualitas sumber-sumber alam yang digunakan
untuk hidup.
Dillihat dari posisi sosio ekonomi dari sektor industri kecil di
Indonesia, menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatannya berlokasi di
daerah pedesaan dengan sifat dan metode pengusahaan yang tradisional.
Selain itu, sektor industri kecil umumnya masih tergantung pada pasar lokal
dan dalam proses produksinya menggunakan bahan maupun peralatan yang
masih tradisional.
Kegiatan ekonomi pedesaan dapat dikembangkan dengan
memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh desa itu sendiri, baik potensial
maupun fisik maupun potensi non fiskinya. Perekonomian di desa tidak
4

hanya terfokus pada sektor pertanian saja, tetapi ada juga yang
memanfaatkan sektor jasa dan pembuatan produk. Salah satu bukti bahwa
wilayah pedesaan tidak hanya memanfaatkan sektor pertanian ialah dengan
adanya pandai besi.
Pandai besi merupakan satu industri kecil yang berkembang Desa
Kampung Pandai, Kecamatan Tanah Pasir - Aceh Utara. salah satu daerah
pengrajin pandai besi Desa Kampung Pandai, yang dimana pengrajin pandai
besi ini mennggeluti pekerjaannya sudah cukup lama dan bersifat turun
menurun dari nenek moyang mereka dan bahkan pemasarannya hingga
keluar dari Desa Kampung Pandai, Kecamatan Tanah Pasir - Aceh Utara.
Hal ini meunjukkan bahwa banyaknya peminat hasil kerajinan tersebut.
Kemudian, karya pengrajin besi Desa Kampung Pandai, mengandalkan
bentuk atau modelnya seperti pengarajin pandai besi di daerah lain.
Walaupun pekerjaan ini sudah lama ditekuni dan memiliki peminat
yang cukup banyak, namun masih ada beberapa kendala yang sering
dihadapi oleh para perangjin besi seiring dengan berkembangnya globalisasi
yang menggeser produk hasil kerajinan masyarakat di sekitar Aceh.
Untuk itu, maka penulis akan menelaah lebih lanjut tentang studi
kelayakan bisnis pada Desa Kampung Pandai, Kecamatan Tanah Pasir -
Aceh Utara yang mengandalkan pandai besi sebagai penopang kehidupan
ekonomi masyarakat Desa Kampung Pandai. Tentunya juga akan
merangkum dalam berbagai macam aspek yang telah menjadi acuan dalam
studi kelayakan bisnis.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam studi kelayakan bisnis adalah :
1. Untuk mengetahui latar belakang berdirinya industri kecil Desa
Kampung Pandai, Kecamatan Tanah Pasir - Aceh Utara
2. Bagaimana perkembangan industri keci Desa Kampung Pandai,
Kecamatan Tanah Pasir - Aceh Utara
3. Apa saja faktor-faktor pendukung dan penghambat berkembangnya
produksi (pasar, teknik, manajemen, sumber daya manusia lingkungan
industri, yuridis, lingkungan hidup, financial, dan antisipasi resiko)
5

industri kecil pandai besi Desa Kampung Pandai, Kecamatan Tanah


Pasir - Aceh Utara?
4. Bagaimana pengaruh industri kecil pandai besi Desa Kampung Pandai,
Kecamatan Tanah Pasir - Aceh Utaraterhadap ekonomi masyarakat?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui latar belakang berdirinya industri kecil pandai besi
di Desa Kampung Pandai, Kecamatan Tanah Pasir - Aceh Utara
2. Untuk mengetahu perkembangan industri kecil pandai besi di Desa
Kampung Pandai, Kecamatan Tanah Pasir - Aceh Utara
3. Untuk mengetahui factor-faktror pendukung berkembangnya produksi
(pasar, teknik, manajemen, sumber daya manusia lingkungan industri,
yuridis, lingkungan hidup, financial, dan antisipasi resiko) industri
kecil pandai besi Desa Kampung Pandai, Kecamatan Tanah Pasir -
Aceh Utara
4. Untuk mengetahui pengaruh industri kecil panadi besi di Desa
Kampung Pandai, Kecamatan Tanah Pasir - Aceh Utaraterhadap
ekonomi masyarakat.

1.4 Batasan dan Asumsi


1.4.1 Batasan
Adapun batasan dalam studi kelayakan bisnis ialah :
1. Aspek Pemasaran
2. Teknik dan Teknologi
3. Manajemen
4. Sumber Daya Manusia
5. Lingkungan Industri
6. Aspek Yuridis
7. Aspek Lingkungan Hidup
8. Aspek Finansial
9. Antisipasi Resiko
1.4.2 Asumsi
Adapun asumsi studi kelayakan bisnis ialah :
Pada study ini asumsi yang ada yaitu usaha pandai besi apakah
sudah memenuhi semua aspek dalam batasan yang ditentukan dan tidak
hanya layak tapi juga menjadi bisnis yang tepat untuk di lakukan juga
dapat memaksimalkan profit.
6

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Aspek Pasar dan Pemasaran


2.1.1 Aspek Pasar
A. Pengertian Pasar
7

Pasar menurut para ahli, merupakan tempat pertemuan antara penjual dan
pembeli, atau saling bertemunya antara kekuatan permintaan dan penawaran
untuk membentuk suatu harga.
Pendapat ahli yang lain mengatakan bahwa pasar merupakan suatu
sekelompok orang yang diorganisasikan untuk melakukan tawar-menawar,
sehingga dengan demikian terbentuk harga. Salah seorang ahli pemasaran,
Stanton, mengemukakan pengertian lain tentang pasar yakni, merupakan
kumpulan orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk
belanja, dan kemauan untuk membelanjakannya. Jadi ada tiga faktor utama yang
menunjang terjadinya pasar, yaitu orang dengan segala keinginan-keinginan, daya
belinya, serta tingkahlaku dalam pembeliannya.
B. Pengertian Permintaan dan Penawaran
Analsis permintaan yang menghasilkan prakiraan permintaan terhadap suatu
produk merupakan salah satu alat penting bagi manajemen perusahaan. Dari
prakiraan penjualan, perusahaan dapat memprakirakan anggaran perusahaan, dan
dari anggaran perusahaan dapat ditentukan misalnya, jumlah dan macam tenaga
kerja yang dibutuhkan, kecukupan alat-alat produksi, ketersediaan bahan mentah
dan daya tampung gudang.
Permintaan dapat diartikan sebagai jumlah barang yang dibutuhkan
konsumen yang mempunyai kemampuan untuk membeli pada berbagai tingkat
harga. Permintaan yang didukung oleh kekuatan tenaga beli disebut permintaan
efektif, sedangkan permintaan yang didasarkan pada kebutuhan saja disebut
sebagai permintaan poteensial. Hukum permintaan mengatakn bahwa bila harga
suatu barang meningkat, maka kuantitas barang yang diminta akan berkurang.
Begitu pula sebaliknya, bila harga barang yang diminta menurun, maka kuantitas
barang yang diminta menaik (asumsi ceteris paribus).
Disisi lain, penawaran diartikan sebagai berbagai kuantitas barang yang
ditawarkan di pasar pada berbagai tingkat harga. Dalam fungsi ini, bila harga
suatu barang meningkat, maka produsen akan berusaha meningkatkan jumlah
barang yang dijualnya. Sampai diaman penjual ingin menawarkan barangnya pada
berbagai tingkat harga ditentukan oleh berbagai faktor, di antaranya ialah harga
8

barang itu sendiri, harga abrang lain, ongkos produksi, tingkat teknologi, dan
tujuan-tujuan perusahaan.
Telah disebutkan diatas mengenai bebrapa faktor yang mempengaruhi
penawaran, pada bagian ini beberapa faktor dijelaskan sebagai berikut:
Harga barang-barang lain. Pada permintaan barang, barang-barang ada yang
saling bersaing (jika merupakan barang-barang pengganti) dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat. Barang-barang seperti ini dapat menimbulkan pengaruh
yang penting kepada penawaran suatu barang.
Biaya faktor produksi. Pengeluaran untuk sektor ini merupaka hal penting dalam
proses produksi. Jika pengeluaran-pengeluarannya tidak seefesien, tindakan ini
dapat mengurangi penawaran didalam sesuatu kegiatan ekonomi tertentu.
Tujuan perusahaan. jika tujuan perusahaan adalah memaksimumkan
keuntungan, dapat saja ia tidak berusha menggunakan kapasitas produksinya
secara maksimal, tetapi pada tingkat kapasitas yang memaksimumkan
keuntungannya. Tujuan perusahaan dapat bermacam-macam dan dapat
menimbulakan pengaruh yang berbeda pula terhadap penentuan tingkat
produksinya.
Tingkat teknologi. Tingkat teknologi mempunyai peran yang penting dalam
menentukan jumlah barang yang ditawarkan. Kemajuan teknologi dapat
mengurangi ongkos produksi, mempertinggi produktivitas dan mutu, yang
cenderung mengakibatkan terjadi kenaikan penawaran.
C. Bentuk Pasar
Bentuk pasar dapat dilihat dari sisi produsen/penjual dan sisi konsumen.
Dari sisi produsen/penjual, pasar dapat dibedakan atas pasar persaingan sempurna,
persaingan monopolistis, oligopoli, dan monopoli.
Berikut ini dijelaskan secara singkat bentuk-bentuk pasar produsen.
Pasar persaingan sempurna. Pada jenis pasar persaingan sempurna, aktivitas
persaingannya tidaklah nampak karena tidak terbatasnya jumlah produsen
(sehingga pangsa pasar mereka menjadi terkotak-kotak atau kecil-kecil) dan
konsumen mendapat menjual atau membeli beberapa saja tanpa ada batas asal
bersedia membeli atau menjual pada ahrga pasar. Ajdi, pada pasar ini justru tidaka
da guannya mengadakan persaingan.
9

Pasar monopoli. Pasar monopoli adalah sebuah bentuk pasar yang dikuasai oleh
seorang penjual saja. Dalam hal ini tidak ada barang subsitusi terhadap barang
yang dijual oleh penjual tunggal tersebut, serta terdapat hambatan untuk
masuknya pesaing dari luar. Penyebab terjadinya monopoli bisa macam-macam,
misalnya karena menguasai bahan mentah, penguasaan teknik produksi tertentu
dimiliki, tindakan yuridis dalam perolehan hak paten dan secara alamiah karena
luas pasar yang tak cukup besar untuk dilayani oleh lebih dari satu produsen
dengan menggunakan skala pabrik yang optimal.
Pasar oligopoli. Sebenarnya pasar oligopoli merupakan perluasan dari pasar
monopoli. Dalm menentukan tingkat harga dan kuantitas produksi, karena
pengaruh pesaing sangat terasa, tindakan atau aktivitas pesaing perlu dimasukkan
dalam perhitungan.
Pasar persaingan monopolistik. Pasar ini merupakan bentuk campuran antara
persaingan sempurna dengan monopoli. Dikatakan mirip persaingan sempurna
karena ada kebebasan bagi perusahaan untuk masuk-keluar pasar, selain itu,
barang yang dijual pun tidak homogen. Oleh karena barang-barang yang
heterogen itu memiliki oleh beberapa perusahaan besar saja, pasar ini mirip
dengan monopoli.
Setelah dilihat dari sisi produsen/penjual, selanjutnya pasar akan dlihat
dari sisi konsumen. Dari sisi konsumen, pasar dapat dibedakan atas empat bentuk,
yaitu pasar konsumen, pasar industri, pasar penjual kembali (reseller), dana pasar
pemerintah. Penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut:
Pasar konsumen. Pasar ini merupakan pasar untuk barang dan jasa yag dibeli
atau disewa oleh perorangan atau keluarga dalam rangka penggunaan pribadi
(tidak untuk dibisniskan).
Pasar industri. Pasar ini adalah pasar untuk berang dan jasa yang dibeli atau
disewa oleh perorangan atau organisasi untuk digunakan pada produksi barang
atau jasa lain. Baik untuk dijual maupun untuk disewakan (dipakai untuk diproses
lebih lanjut)
Pasar penjual kembali (reseller). Adalah suatu pasar yang terdiri dari
perorangan dan/atau organisasi yang biasa disebut para pedagang menengah yang
10

terdiri dari delaer, distributor, grosiier, agent, dan retailer. Kesemua reseller ini
melakukan penjualan kembali dalam rangka mendapatkan keuntungan.
Pasar pemerintah. Merupakan pasar yang terdiri dari unit-unit pemerintah yang
membeli atau menyewa barang atau jasa untuk menjalankan tugas-tugas
pemerintah, misalnya di sektor pendidikan, perhubungan, kesehatan, dan lain-lain.
D. Mengukur dan Meramal Permintaan
Apabila perusahaan menemukan suatu pasar yang menarik , maka ia perlu
mengestimasi besarnya pasar pada masa sekarang dan masa yang datang dengan
cermat. Perusahaan akan kehilangan sejumlah laba karena terlalu besar arau
terlalu kecil mengestimasi besarnya pasar.
1. Mengukur Permintaan pasar Saat Ini
Manajemen perlu mengestimasi tiga aspek dari permintaan pasar sekarang. Ada
tiga metode praktis untuk mengestimasi permintaan ini, yaitu total permintaan
pasar, wilayah permintaan pasar, penjualan aktual san pangsa pasar (market-
share).
Mengestimasi Total Permintaan Pasar. Total permintaan suatu produk adalah
total volume yang dibeli oleh sekelompok konsumen tertentu dalam suatu wilayah
georafis tertentu selama jangka waktu tertentu dalam suatu lingkungan pemasaran
tertentu. Salah satu metode praktis untuk mengestimasi total permintaan pasar
adalah dengan menggunakan persamaan:
Q = n.p.q
Dimana:
Q = total permintaan pasar
n = jumlah pembeli di pasar
p = harga rata-rata satuan
q = jumlah yang dibeli oleh rata-rata pembeli per tahun
2. Meramal Permintaan Mendatang
Setelah membahas cara-cara mengestimasi permintaan sekarang,
selanjutnya manajemen perlu menelaah permintaan mendatang. Ada banyak cara
untuk meramal penjualan masa mendatang, di antaranya dipaparkan berikut ini.
Survei niat pembeli, yaitu dengan menanyakan kepada mereka secara langsung
dengan harapan mereka akan menjawab secara obyektif.
11

Pendapat para tenaga penjual (wiraniaga), yaitu perusahaan meminta agar para
tenaga penjualnya untuk mengestimasi penjualan tiap produk untuk daerah
mereka masing-masing, Kemudian semua estimasi individu dijumlahkan untuk
mendapat ramalan penjualan secara keseluruhan. Dlam mengestimasi, dibutuhkan
bermacam data.
Pendapat pada ahli, yaitu pendapat yang dihasilkan berdasarkan data dan
analisis yang lengkap dan ilmiah baik dan para akademisi maupun dari para
praktisi. Untuk mengetahui pendapat para ahli, dapat digunakan teknik Delphi.
Analsis regrasi, yaitu seperangkat prosedur statistik untuk menemukan faktor-
faktor nyata yang paling penting yang mempengaruhi penjualan.
Analisa Rantai Markov, yaitu alat analisis yang dapat digunakan, misalnya
untuk meramalakan pangsa pasar saat ini dan masa datang.

2.2 Aspek Pemasaran


A. Segmentasi, Target, dan Posisi Pasar
Perusahaan hendaknya mengetahui pasar dimana produk/jasa yang
diproduksi akan ditawarkan. Tindak lanjut dari penentuan pasar adalah melakukan
segmentasi pasar karena sifat pasar yang heterogen.
1. Segmentasi Pasar
Beberapa aspek utama untuk mensegmentasi pasar, yaitu:
a. Aspek Geografis
Komponen-komponennya seperti negara, propinsi, dan kotamadya.
b. Aspek Demografis
Komponen-komponennya seperti usia, jenis kelamin, dan pendapatan.
c. Aspek Psikografis
Komponen-komponennya seperti kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian.
d. Aspek Perilaku
Komponen-komponennya seperti tingkat penggunaan, status kesetiaan,
tahap kesiapan pembelian dan sikap.
Terdapat karakteristik yang harus diperhatikan agar segmentasi pasar dapat
berguna, yaitu:
a. Dapat diukur, maksudnya besar pasar dan daya beli di segmen ini dapat
diukur.
b. Dapat terjangkau, maksudnya sejauh mana segmen ini dapat secara efektif
dicapai dan dilayani oleh produsen.
c. Besar segmen, maksudnya berapa besar segmen yang harus dijangkau agar
penjualan produk dapat menguntungkan secara signifikan.
12

d. Dapat dilaksanakan, maksud sejauh mana program efektif tersebut dapat


dilaksanakan untuk mengelola segmen ini.
2. Menetapkan Pasar Sasaran
Menetapkan pasar sasaran dapat dilakukan dengan menelaah tiga faktor
berikut:
a. Ukuran dan Pertumbuhan Segmen
Perusahaan harus mengumpulkan dan menganalisis data tentang penjualan
terakhir, proyeksi laju pertumbuhan penjualan dan margin laba yang
diharapkan.
b. Kemenarikan Struktural Segmen
Perusahaan harus mempelajari faktor-faktor struktural yang utama dan
mempengaruhi daya tarik segmen dalam jangka panjang.
c. Sasaran dan Sumber Daya
Perusahaan harus mempertimbangkan sasaran dan sumber daya dalam
kaitan dengan segmen pasar. Walau ada segmen yang bagus, akan tetapi
dapat ditolak jika tidak prospektif dalam jangka panjang serta harus
memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menyediakan sumber
dayanya.
3. Menentukan Posisi Pasar
Menentukan posisi pasar terdapat tiga langkah, yaitu:
a. Mengidentifikasi Keunggulan Kompetitif
Dimana jika perusahaan menawarkan suatu produk yang bermutu, maka ia
harus menyerahkan produk yang bermutu pula.
b. Memilih Keunggulan Kompetitif
Jika perusahaan menemukan keunggulan kompetitifnya, maka perusahaan
harus menetapkan satu dari keunggulan kompetitif yang didapat dari
beberapa perbedaan yang akan di promosikan.
c. Mewujudkan dan Mengkomunikasikan Posisi
Perusahaan mengambil langkah-langkah untuk mewujudkan dan
mengkomunikasikan posisi yang diinginkan itu kepada konsumen sasaran.
Posisi tersebut harus dikembangkan secara terus-menerus dengan
menyesuaikan lingkungan pemasaran yang selalu berubah.

B. Sikap, Perilaku, Dan Kepuasan Konsumen


1. Sikap Konsumen
Sikap merupakan evaluasi menyeluruh yang memungkinkan orang
merespons secara konsisten berkenaan dengan objek yang diberikan. Dengan
13

mempelajari sikap, seseorang dapat menentukan apa yang akan dilakukan. Sikap
dapat berupa:
a. Karakteristik Sikap
Sikap memiliki beberapa karakteristik seperti:
a) Memiliki objek atau tujuan
Sikap berhubungan dengan orang atau suatu objek tertentu.
b) Memiliki petunjuk, derajat dan intensitas
Memiliki petunjuk yaitu menunjukkan apa yang dirasakan seseorang atas
objek. Derajat yaitu menunjukkan seberapa besar orang tersebut suka
atau tidak suka akan suatu objek. Sedangkan, intensitas untuk
menunjukkan suatu tingkat keyakinan atau kepercayaan terhadap suatu
objek
c) Memiliki struktur
Struktur sikap memiliki tiga komponen yang menunjang yaitu
pengetahuan, emosi, dan kecenderungan perilaku.
d) Dapat dipelajari
Hasil dari proses belajar yang dapat dimengerti oleh seseorang.
b. Sumber Sikap
Sikap memiliki dua sumber, yaitu:
a) Pengalaman pribadi
Pengalaman langsung konsumen dengan produk dan jasa yang dapat
membantu menciptakan dan mempertajam sikap konsumen terhadap
suatu objek.
b) Kelompok
Sikap dipengaruhi oleh anggota kelompok tertentu, seperti keluarga,
rekan kerja, dan kelompok masyarkat.
c. Fungsi Sikap
Beberapa fungsi sikap, yaitu:
1. Fungsi Penyesuaian
Mengarahkan pada objek yang menyenangkan, menghindari objek yang
tidak menyenangkan dan presepsi konsumen terhadap suatu objek.
2. Fungsi Pertahanan Ego
Melindungi diri dari hal-hal yang merusak citra diri dan membantu citra
diri yang tanpa disadari sering terancam.
3. Fungsi Pengekspresian Diri
Sikap untuk mengekspresikan diri terhadap suatu objek yang nyata.
4. Fungsi Pengetahuan
Sikap akan keyakinan perlu atau tidaknya memahami sesuatu.
d. Komponen Sikap
Sikap memiliki tiga komponen, yaitu:
a. Komponen Kognitif
14

Komponen ini terdiri atas kepercayaan konsumen dan pengetahuannya


tentang objek.
b. Komponen Afektif
Perasaan dan reaksi emosional kepada suatu objek.
c. Komponen Perilaku
Respons seseorang terhadap suatu objek.

2. Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen merupakan tindakan langsung dalam mendapatkan,
mengkonsumsi, serta menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan
yang mengikuti tindakan tersebut. Perilaku konsumen terbagi menjadi dua
golongan yaitu:
a. Perilaku yang Tampak
Variable-variabel yang termasuk didalamnya adalah jumlah pembelian,
waktu, dan bagaimana konsumen melakukan pembelian.
b. Perilaku yang Tidak Tampak
Variabel-variabel yang termasuk didalamnya adalah persepsi, ingatan
terhadap informasi, dan perasaan kepemilikan oleh konsumen.
Terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu:
1. Faktor sosial budaya, meliputi kebudayaan, budaya khusus, kelas sosial,
kelompok sosial, dan keluarga.
2. Faktor lainnya, meliputi faktor psikologis yang dapat berupa motivasi,
persepsi, proses pembelajaran, kepercayaan, dan sikap
3. Kepuasan Konsumen
Kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan konsumen setelah
membandingkan antara apa yang konsumen terima dengan apa yang
diharapkannya. Seorang pelanggan, jika merasa puas dengan nilai yang diberikan
oleh produk/jasa, sangat besar kemungkinannya menjadi pelanggan dalam waktu
lama.Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah sebagai
berikut:
a. Mutu produk dan pelayanannya
b. Kegiatan penjualan
Terdiri atas variabel-variabel pesan (produk dan tingkat kepuasan
konsumen), sikap (penilaian pelanggan atas pelayanan perusahaan),
perantara (penilaian atas perantara perusahaan).
c. Pelayanan setelah penjualan
15

Berkaitan dengan garansi dan umpan balik seperti penanganan keluhan dan
pengembalian uang.
d. Nilai-nilai perusahaan
Kepuasan dibagi dua macam, yaitu:
1. Kepuasan fungsional, yang merupakan kepuasan yang diperoleh dari fungsi
suatu produk yang dimanfaatkan.
2. Kepuasan psikologis, merupakan kepuasan yang diperoleh dari atribut yang
bersifat tidak berwujud dari produk.
Pelanggan dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Pelanggan internal, yaitu orang yang melakukan proses selanjutnya dari
pekerjaan orang sebelumnya.
2. Pelanggan eksternal, yaitu mudah untuk diindentifikasi karena berada diluar
perusahaan
Berbagai cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk membentuk harapan
pelanggan yaitu:
a. Melalui promosi yang tidak mengecewakan konsumen agar terjadi
komunikasi terkendali antara perusahaan dengan konsumen.
b. Melalui sikap yang baik dari petugas penjualan
c. Melalui unjuk kerja penjualan yang lebih professional.
Untuk mengendalikan tingkat kehilangan pelanggan agar tetap pada posisi
yang aman, perusahaan perlu mengambil empat langkah yaitu:
a. Menentukan tingkat bertahannya pelanggan
b. Membedakan berbagai penyebab kehilangan pelanggan dan menentukan
penyebab utama yang dapat dikelola dengan baik
c. Memperkirakan kehilangan keuntungan dari pelanggan yang hilang
d. Menghitung biaya untuk mengurangi tingkat kehilangan pelanggan.
Beberapa cara mempertahankan pelanggan, yaitu:
a. Menyulitkan pelanggan untuk mengganti pemasok
b. Memberikan kepuasan yang tinggi.
Lima tingkat hubungan dengan pelanggan, yaitu:
a. Biasa, wiraniaga menjual produk tanpa menghubungi pelanggan lagi.
b. Reaktif, wiraniaga menjual produk dan meminta pelanggan
menghubunginya.
c. Bertanggung jawab, wiraniaga menghubungi pelanggan segera setelah
penjualan.
16

d. Proaktif, wiraniaga menghubungi pelanggan dari waktu ke waktu dengan


saran untuk peningkatan produk.
e. Kemitraan, perusahaan terus bekerja sama dengan pelanggan.

C. Manajemen Pemasaran
Beberapa ahli memberikan bermacam macam definisi tentang pemasaran,
di antaranya adalah Stanton (1995). Ia mengatakan bahwa pemasaran meliputi
keseluruhan sistem yang berhubungan dengan kegiatan kegiatan usaha, yang
bertujuan merencanakan, menetukan harga, hingga mempromosikan dan
mendistribusikan barang barang atau jasa yang akan memuaskan kebutuhan
pembeli, baik yang akrual maupun potensial.
1. Analisis Persaingan
Berikut ini disajikan langkah langkah dalam menganalisis pesaing yang
dikemukakan oleh Kotler
a. Mengidentifikasi Pesaing
Pesaing dapat mendefinisikan para pesaingnya sebagai suatu perusahaan
lain yang mempunyai salah satu atau lebih ciri-ciri sebagai berikut:
Perusahaan yang menawarkan produk dan harga yang sama di pasar
Perusahaan yang membuat produk atau kelas produk yang sama
Perusahaan lain yang membuat produk dan memasok yang sama
Perusahaan yang bersaing merebut uang dari konsumen yang sama
b. Menentukan Sasaran Pesaing
Memang pada dasarnya semua pesaing akan berusaha memaksimalkan laba
mereka, tetapi kenyataannya pesaing berbeda dalam penekanan pada laba,
baik untuk laba jangka pendek maupun jangka panjang, apalagi orientasi
pesaing yang bukan untuk memaksimalkan laba melainkan memuaskan
pelanggan yang sudah tentu kesemuanya itu memiliki sasaran yang relative
berbeda seperti dalam hal komponen pangsa pasar, arus kas, pemakaian
teknologi, dan pelayanan.
c. Mengidentifikasi Strategi Pesaing
Semakin mirip strategi suatu perusahaan dengan perusahaan lain maka
semakin ketat persaingan di antara mereka.
d. Menilai Kekuatan dan Kelemahan Pesaing
Perusahaan harus mengidentifikasi secara tepat kekuatan kekuatan dan
kelemahan kelemahan mereka. Biasanya perusahaan mengetahui
kekuatan dan kelemahan pesaing melalui data sekunder, pengalaman
17

pribadi, dan desas desus. Tetapi sebaiknya perusahaan melakukan riset


pemasaran terhadap pelanggan, pemasok maupun dealer, selanjutnya data
itu dianalisis untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan untuk menilai
pesaing.
e. Mengestimasi Pola Reaksi Pesaing
Perusahaan perlu tahu tentang mentalitas pesaing tertentu kalau ingin
mengantisipasi bagaimana pesaing akan bertindak atau bereaksi terhadap
tindakan pesaing lainnya. Strategi, sasaran, program, kekuatan dan
kelemahan pesaing dapat dijadikan sebagai indicator mentalitas itu.
f. Memilih Pesaing
Setelah perusahaan dapat menentukan pesaing utamanya melalui keputusan
sebelumnya mengenai sasaran pelanggan, saluran distribusi, dan bauran
pemasaran, selanjutnya harus diputuskan pesaing mana yang harus
diserang.
2. Bauran Pemasaran Produk Barang
Bagi pemasaran produk barang, manajemen pemasaran akan dipecah atas 4
kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran atau 4P dalam
pemasaran yang terdiri dari 4 komponen, yaitu:
a. Kebijakan Produk
Produk dapat dibedakan menjadi barang konsumsi, yaitu barang yang dibeli
konsumen akhir untuk dikonsumsi dan barang industry, yaitu barang yang
dibeli untuk diolah kembali. Produk barang tidak hanya memperhatikan
penampilan, tetapi juga hendaknya berupa produk yang simple, aman, tidak
mahal, sederhana, dan ekonomis dalam proses produksi dan distribusinya.
b. Kebijakan Harga
Harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan komsumen dengan manfaat
memiliki atau menggunakan produk yang nilainya ditetapkan oleh pembeli
dan penjual melalui tawar menawar, atau ditetapkan oleh penjual untuk
satu harga yang sama terhadap semua pembeli. Keputusan keputusan
mengenai harga dipengaruhi oleh berbagai factor, yaitu factor internal
perusahaan dan factor lingkungan eksternal. Dalam hal factor internal,
keputusan harga disesuaikan dengan sasaran pemasaran, misalnya:
sasarannya adalah untuk bertahan hidup, memaksimalkan laba jangka
pendek, memaksimalkan pangsa pasar atau kepemimpinan mutu produk.
18

Dalam hal factor eksternal, dapat dijelaskan sebagai berikut: pasar dan
permintaan konsumen merupakan plafon harga (harga tertinggi).
c. Kebijakan Distribusi
Hal-hal yang perlu diidentifikasi sebelum melakukan distribusi yaitu jenis
perantara, jumlah perantara, dan tanggung jawab anggota saluran. Setelah
mengidentifikasi beberapa alternative saluran dan akan memilih salah
satunya, perusahaan harus mengevaluasi masing-masing alternative
berdasarkan criteria ekonomi, pengendalian, dan adaptif.
d. Kebijakan Promosi
Untuk mempromosikan produk diperlukan 4 komponen utama, yaitu:
- Periklanan: merupakan tiap-tiap bentuk penyajian dan promosi bukan
pribadi yang dibayar, mengenai gagasan atau barang oleh sponsor yang
teridentifikasi.
- Hubungan masyarakat: bertujuan membangun hubungan baik dengan
public perusahaan
- Humas atau PR: merupakan sebuah konsep yang menggunakan banyak
sarana seperti pers, publisitas produk, komunikasi perusahaan, dll.
- Penjualan perorangan: manajemen armada-penjual (para wiraniaga)
adalah suatu analisi, perencanaan, implementasi dan pengendalian atas
kegiatan para wiraniaga.
3. Bauran Pemasaran Produk Jasa
Untuk jasa, baurannya dapat diperluas lagi dengan menambah tiga elemen
lagi, yaitu:
Orang
Yang dimaksud dengan orang disini adalah semua partisipan yang
memainkan sebagian penyajian jasa, yaitu peran selama proses dan
konsumsi jasa berlangsung dalam waktu ril jasa, oleh karenanya dapat
mempengaruhi persepsi pembeli. Yang dimaksud dengan partisipan ini
antara lain adalah staf perusahaan, konsumen, dan konsumen lain dalam
lingkungan jasa tersebut.
Bukti Fisik
Maksudnya adalah suatu lingkungan fisik dimana jasa disampaikan dan
dimana perusahaan dan konsumennya berinteraksi, dan setiap komponen
tangible memfasilitasi penampilan atau komunikasi jasa tersebut.
Proses Jasa itu Sendiri
19

Proses ini mencerminkan bagaimana semua elemen bauran pemasaran jasa


dikoordinasikan untuk menjamin kualitas dan konsistensi jasa yang
diberikan kepada konsumen.

2.2 ASPEK TEKNIK DAN TEKNOLOGI


2.2.1 Masalah Manajemen Operasional
Manajemen operasional adalah suatu fungsi atau kegiatan manajemen
yang meliputi perencanaan,organisasi, staffing, koordinasi,pengarahan dan
pengawasan terhadap operasi perusahaan. Operasi ini merupakan suatu kegiatan
(di dalam perusahaan ) untuk mengubah masukan menjadi keluaran, sehingga
keluaran akan lebih bermanfaat dari masukannya. Keluaran tersebut dapat berupa
barang dan/atau jasa. Tugas manajemen operasional diperusahaan adalah untuk
mendukung manajemen dalam rangka pengambilan keputusan masalah-maslah
produksi/operasi.
Ada tiga masalah pokok yang dihadapi perusahaan yaitu: masalah
penentuan posisi perusahaan, masalah desain dan masalh operasional. Paparannya
berikut ini:
1. Masalah penentuan posisi perusahaan. penentuan posisi perusahaan
AMDAL dalam masyarakat bertujuan agar keberadaan perusahaan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat, dan dapat dijalankan secara ekonomis,
efektif dan efisien. Olek karena itu, perlu diputuskan bagaimana
hendaknya posisi perusahaan ditentukan. Keputusan itu meliputi, antara
lain mengenai pemilihan strategi berproduksi, penentuan pokok yang akan
ditawarkan kepasar, termasuk menentukan kualitasnya.
2. Masalah desain. Maslah desain akan mencankup perancangan fasilitas
operasi yang akan digunakan. Untuk mengatasi masalah ini, hendaknya
dilakukan pengambilan keputusan di bidang rancang bangun (desain).
Untuk proses manufaktur yang menghasilkan barang, keputusan ini antara
lain meliputi: perencanaan letak pabrik, proses operasi, teknologi yang
digunakan, rencana kapasitas mesin yang akan dipakai, perencanaan
bangunan, tata letak (layout) ruangan, dan lingkungan kerja.
3. Masalah operasional. Masalah operasional timbul biasnya pada saat
proses produksi sudah berjalan. Untuk proses manufaktur yang
20

menghasilkanbarang, keputusan trhadap masalah operasional ini antara


lain: rencan produksi, rencana persediaan bahan baku, penjawalan kerja
karyawan, pengawasan kualitas, dan pengawsan biaya produksi.

2.2.2 Masalah Proses Produksi dan Operasi


Persoalan-persoalan dalam proses produksi/operasi ternyata cukup banyak
dan kompleks. Namun, persoalan-persoalan itu akan dipilah-pilah, dan
disesuaikan dalam rangka studi kelayakan bisnis. Untuk proses manufaktur,
persoalan-persoalan dalam proses tersebut dikelompokkan sesuai dengan masalah
manajemen operasional diatas, sebagai berikut:
1. Kelompok Masalah Posisi Perusahaan, persoalan-persoalan utamanya
adalah:
a. Pemilihan strategi produksi.
b. Pemilihan dan perencanaa produk.
c. Perencanaa kualitas
2. Kelompok Masalah Desain, persoalan-persoalan utamanya adalah:
a. Pemilihan teknologi.
b. Perencanaan kapasitas pabrik.
c. Perencanaan letak pabrik.
d. Perncanaan tata letak (layout) pabrik.
3. Kelompok Masalah Operasional, persoalan-persoalan utamanya adalah:
a. Perencanaan jumlah produksi.
b. Manajemen persediaan.
c. Materials requirement planning.
d. Pengawasan kualitas produk.
Berkaitan dengan studi kelayakan bisnis untuk aspek teknik dan teknologi,
hendaknya permasalahan-prmasalahan proses operasional untuk barang maupun
jasa dapat dianalisis dengan cermat agar dapat dipakai untuk menyatakan layak
atau tidak layak rencana bisnis dilihat dari aspek ini. Papran secukupnya tentang
aspek diatas, menjadi pokok bahasan bab ini.
1. Pemilihan Strategi Produksi
Agar barang dan/atau jasa yang akan diproduksi dapat memenuhi
kebutuhan konsumen, biasanya didahului dengan suatu kegiatan penelitian, seprti
penelitian pasar dan pemasaran. Contoh studi mengenai aspek pasar dan pemasran
telah dipaparkan pada bab terdahulu. Dari masukan penelitian pasar dan pemasran
ini, berikutnya akan ditetapkan macam-macam produk yang menjadi alternative
untuk dibuat. Mengacu pada alternative produk-produk ini, selanjutnya, akan di
21

kaji pula kaitannya dengan aspek-aspek yang lain, seperti aspek keuangan dan
selanjutnya.
2. Pemilihan dan Perencanaan produk
Setelah beberapa alternative ide pokok tersaring, selanjutnya akan dikaji
produk (beberapa produk) apa yang menjadi prioritas untuk di produksi. Biasanya,
untuk menetapkan produk (produk-produk) tersebut akan dilakukan malalui
tahapan-tahapan pekerjaan. Pada umumnya, tahapan ini meliputi:
a. Penentuaan Ide Pokok dan Seleksi
Seperti telah diketahui, bahwa ide produk dapat dicitakan atas masukan
berbagai aspek, seperti ada aspek pasar dan pemasran. Akan tetapi, ternyata masih
banyak aspek lain yang dapat mendorongterciptanya ide pokok, misalnya: atas
dasar perkembngan teknologi, dan kebijakan-kebijakan internal perusahaan.
Selanjutnya, seleksi ide produk juga dilakukan berbagai criteria, misalnya: atas
masukan dari penelitian pasar dan pemasaran, teknis dan keuangan/\. Pada intinya,
aspek pasar dan pemasran untuk mengetahui apakah ide-ide produk diperkirakan
akan diterima pasar, aspek teknik berguna untuk mengetahui apakah perusahaan
mampu membuat produk tersebut dengan segala sumber daya yang dimilikinya.
Sedangkan untuk aspek keuangan, adalah menilai apakah produk tresebut jika
dihasilkan akan mendatangkan keuntungan yang sesuai dengan harapan. Untuk
aspek pasar dan pemasaran telah dipaparkan pada bab ini, sedangkan untuk aspek
keuangan akan dipaparkan pada bab lainnya.
b. Pembuatan Desain Produk Awal
Dalam produksi barang, gambaran desain awal akan lebih jelas bila
dibandingkan dengan produk jasa. Dalam membuat desain produk awal ini,
hendaknya dipertimbangkan hal-hal manfaat-manfaatnya, desain, seni, dan
estitika barang yang akan diproduksi. Desain produk awal ini akan ditindak lanjuti
menjadi produk yang lebih mendekati sebenarnya.
c. Pembuatan Prototip dan Pengujian
Khususnya pada produk barang yang akan di produksi secara missal,
pembuatan prototip menjadi begitu penting.prototip adalah produk yang dibuat
sebagai produk percobaan sebelum produk dibuat secara besar-besaran. Ia berguna
untuk menilai kemampuan produk agarsesuai dengan standar yang telah
22

ditetapkan. Untuk produk jasa pada umumnya, dapat jugadi buat


prototipnya,misalnya system computer untuk amplikasi general ledger
(akuntansi). Sebelum dijual, system computer ini dibuat dulu contohnya.
Sementara itu, pengujian dilakukan untukmengetahui apakah prototip ini sudah
dapat diimplementasikan atau belum. Jika belum, masih dapat diperbaiki lagi, lalu
diuji lagi dan seterusnya sehingga prototip ini sesuai dengan harapan. Akhirnya,
terciptalah desain produk akhir yang siap untuk diimplementasikan.
d. Implementasi
tahap ini mencoba untuk menilai apakah produk yang sudah mulai
diproduksi dan ditawarkan dipasar memiliki masa depan yang baik. Cara
melakukan penilainnya bermacam-macam, salah satunya dengan menggunakan
preference matrix. Caranya, produk dinilai melalui beberapa criteria yang
dianggap penting. Lalu criteria-kriteria ini diberi bobot kepentingannya.
Selanjutnya, nilailah kondisi produk berdasarkan criteria-kriteria tersebut,
misalnya dengan member bobot dengan skala minimal ordinal. Selanjutnya,
carilah rata-rata skornya. Terakhir, bandingka rata-rata skor itu dengan standar
minimal yang telah ditentukan perusahaan. Jika nilainya diatas standar, maka
dianggap bahwa produk berada pada kondisi sukses, minimal pada saat itu.
Jadi, proses desain merupakan proses berulang. Informasi baru yang
diberikan oleh pemakai dapat dimanfaatkan guna menemukan cara-cara
meningkatkan desain, misalnya dalam rangka penghematan biaya produksi
ataupun untuk mencapai sasaran kualitas. Selanjutnya, berdasarkan desain yang
ditetapkan tersebut, perencanaan proses manufaktur dilakukan dengan
menetapkan rincian spesifikasi proses yang dibutuhkan serta urutannya secara
cermat.
Perencana proses dapat bekerja dalam keterbatasa-keterbatasan peralatan
yang tersedia, tetapi bila volume cukup besar dan desainnya stabil, perencana
proses dapat mempertimbangkan pemakaian peralatan khusus termasuk proses-
proses otomatis serta tataletak yang khusus pula.
3.Rencana Kualitas
Kualitas produk merupakan hal yang penting bagi konsumen. Kualitas
produk, baik yang berupa barang maupun jasa perlu ditentukan melalui dimensi-
23

dimensinya. Perusahaan hendaknya menentukan suatu tolak ukur rencana kualitas


produk dari tiap dimensi kualitasnya. Dimensi kualitas produk dapat dipaparkan
berikut ini;
a. Produk Berupa Barang
Menurut David Garvin, yang dikutip Vincent Gaspersz, menentukan
dimensi kualitas barang dapat dilakukan melalui delapan dimensi seprti berikut
ini;
a. Performance, hal ini berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan
merupakan karakteristik utama yang di pertimbangkan pelanggan dalam
membeli barang tersebut.
b. Features, yaitu aspek performansi yang berguna untuk menambah fungsi
dasar, berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya.
c. Reability, hal yang berkaitan denga probabilitas atau kemungkinan suatu
barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam
periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu pula.
d. Conformance, hal ini berkaitan dengan tingkat kesesuaian terhadap
spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan pada keinginan
pelanggan. Konfirmasi merefleksikan derajat ketepatan antara karakteristik
desain produk dengan karakteristik kualitas standar yang telah ditetapkan.
e. Durability, yaitu suatu refleksi umur ekonomis berupa ukuran daya tahan
atau masa pakai barang.
f. Serviceability, yaitu karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan,
kompetensi, kemudahan, dan akursi dalam memberikan layanan untuk
perbaikan barang.
g. Aesthetics, merupakan karakteristik yang bersifat subyektif mengnai nilai-
niali estetika yang berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari
preferensi individual.
h. Fit and finish, suatu sifat subyektif, berkaitan dengan perasaan pelanggan
mengenai keberadaan produk tersebut sebagai produk yang berkualitas.
b. Produk Jasa/Servis
Zeithaml et.al. mengemukakan lima dimensi dalam menetukan kualitas
jasa, yaitu;
a. Reliability, yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sesuai
dengan janji yang ditawarkan.
24

b. Responsiveness, yaitu respon atau kesigapan karyawan dalam membantu


pelanggan dan memberikan pelayanan yang cepat dan tanggap, yang
meliputi; kesigapan karyawan dalam melayani pelanggan, kecepatan
karyawan dalam melayani transaksi, dan penanganan keluhan pelanggan.
c. Assurance, meliputi kemampuan karyawan atas; pengetahuan terhadap
produk secara tepat, kualitas keramah-tamahan, perhatian dan kesopanan
dalam member pelayanan, keterampilan dalam memberikan informasi,
kemam puan dalam memberikan keamanan didalam memanfaatkan jasa
yang ditawarkan,dan kemampuan dalam menanamkan kepercayaan
pelanggan terhadap perusahaan.
Dimensi ini merupakan gabungan dari dimensi;
- Kompetensi (competence) , artinya keterampilan dan kemampuan
yang dimiliki oleh para karyawan untuk melakukan pelayanan.
- Kesopanan (courtesy) , yang meliputi keramahan, perhatian dan sikap
para karyawan.
- Kredibilitas (credibility), meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
keprcayaan kepada perusahaan, seperti reputasi, prestasi dan
sebagainya.
d. Emphaty, yaituperhatian secara individual yang diberikan perusahaan
kepada pelanggan seperti kemudahan untuk menghubungi perusahaan,
kemampuan karyawan untuk berkomunikasi dengan pelanggan, dan
usahaperusahaan untuk memahami keinginan dan kebutuhan pelanggannya.
Dimensi emphaty ini merupakan penggabungan dari dimensi;
- Akses (access), meliputi kemudahan untuk memanfaatkan jasa yang
ditawarkan perusahaan.
- Komunikasi (communication), merupakan kemampuan melakukan
komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada pelanggan untuk
memperoleh masukan dari pelanggan.
- Pemahaman pada pelanggan (understanding the costumer), meliputi
usaha perusahaan untuk mengtahui dan memahami kebutuhan dan
keinginan pelanggan.
e. Tangibles, meliputi penampilan fasilitas fisik seprti gedung dan ruangan
front office, tersedianya tempat parker, kebersihan, kerapian dan
kenyamanan ruangan, kelengkapan peralatan komunikasi dan penampilan
karyawan.
4. Pemilihan Teknologi
25

Pilihan teknologi untuk berproduksi pada dekade millennium baru saat


ini, baik untuk produk barang maupun jasa, telah dan berkembang terus sesuai
dengan kemajuan zaman. Hendaknya, kemajuan teknologi membawa efisiensi
yang tinggi pada proses produksi sekaligus menghasilkan produktivitas yang
tinggi pula. Akan tetapi ,selain keuntungan-keuntungan, juga terdapat kelemahan-
kelemahan atas perkembangan teknologi ini, misalnya;teknologi tersebut belum
tentu cocok dengan lingkungan internal perusahaan maupun lingkungan
eksternalnya. perusahaan Kodak. Dengan mencadangkan anggaran riset dan
pengembangan yang lebih dari rata-rata perusahaan sejenis dalam rangka
menghasilkan produk baru, dan inovasi proses yang dilakukannya, telah
menempatkan ia pada posisi sebagai leader dalam industry kamera.
Berkaitan dengan pemilihan teknologi, biasanya suatu produk tertentu
dapat di prosae dengan lebih satu cara, sehingga teknologi yang dipilih pun perlu
ditentukan secara jelas. Patokan umum yang dapat dipakai misalnya adalah
dengan mengetahui seberapa jauh derajat mekanisasi yang diinginkan dan manfaat
ekonomi yang diharapkan. Beberpa criteria lainnya adlah kesesuian dengan bahan
mentah yang dipakai, kemampuan tenaga kerja dalam mengoperasian teknologi,
dan kemampuan antisipasi terhadap teknologi lanjutan.
5. Rencana Kapasitas Produksi
Kapasitas didefinisika sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit
produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. Kapasitas dapat dilihat dari sisi
masukan (input) atau keluaran (output).
Rencana kapasitas produksi dalam studi kelayakn aspek teknis dan
teknologi ini tegantung beberapa pilihan system, antara lain;
a.Skala ekonomi
Dengan factor ini, kapasitas yang dipilih adalah yang memiliki biaya
perunit yang paling rendah. Akan tetapi, cara ini memiliki kelemahan-kelemahan,
seperti; waktu pengembalian modelnya berjangka panjang, akibatnya produk
menjadi kurang fleksibel untuk disesuaikan dengan selera konsumen.
b. Focused facilities
Dengan kelemahan-kelemahan yang ada pada system skal ekonomi diatas,
maka muncullah system focused facilities, dimana cara mempertahankan volume
26

produksi yang tinggi diganti dengan penyediaan produk yang lebih disesuaikan
dengan kebutuhan.
Selain itu, dalam perencanaan kapasitas produksi, terdapat dua ekstrim
strategi. Pertama, strategi ekspansi strategi ini lebih bersifat proaktif. Contoh cara
kerjanya adalah dengan melakukan penelitian pasar untuk mengetahui apakah
untuk waktu yang akan datang permintaan pasar atas produk akan meningkat atau
sebaliknya, sehingga kapasitas produksi harus ditambah atau dikurangi.
Sedangkan cara kedua, dilakukan strategi wait and see, dimana cara ini
dilakukan, jika permintaan produk sudah yakin benar meningkat atau tidak
meningkat.
6. Perencanaa Letak Pabrik
a. Bagi Perusahaan Manufaktur
Letak pabrik sebagai tempat proses produksi perlu dianalis secara seksama
karena sangat berpengaruh terhadap banyak aspek, seperti biaya. Mahal atau
murahnya harga produk tergantung pula pada tata letak pabrik karena jarak
berpengaruh terhadap harga di pasar. Rentetan akibat lainnya adalah masalah
kemampuan bersaing dipasar yang ujung-ujungnya akan mempengaruhi laba yang
akan dihasilkan.
Dalam suatu studi kelayakan bisnis, pilihan letak pabrik hendaknya dapat
dikaji dari beberapa factor. Hasil kapan, kelak akan menganalisis lagi untuk
mencapai keputusan akhir dimana pabrik akan didirikan. Factor-faktor utama
yang perlu diperhatikan antara lain;
a. Letak konsumen potensial atau pasar sasaran untuk dijadikan tempat
produk dijual. Mendirikan pabrik didekat pasar sasarannya. Dalam hal ini
tertentu, akan sangat menguntungkan ataupun dari sisi lain dapat
merugikan.
b. Letak bahan baku utama. Mendirikan pabrik dengan pusat bahan baku
akan menguntungkan,walaupun sudah tentu memiliki kekurangan-
kekurangan.
c. Sumber tenaga kerja. Jika sumber tenaga kerja dekat dan mudah didapat
disekitar pabrik, akses SBG sangat terbantu.
27

d. Sumber daya seperti air, kondisi udara, tenaga listrik disekitar pabrik
adalah penting bagi proses produksi agar tidak terganngu sihingga fakto-
faktor ini perlu dipertimbangkan secara seksama.
e. Fasilitas trnsportasi yang memadai untuk memindahkan bahan baku ke
pabrik, dan memindahkan hasil produksi dari pabrik ke pasar.
f. Fasilitas untuk pabrik,seperti pengdaan onderdil untuk kendaraan
g. Lingkungan masyarakat sekitar yang akan mempengaruhi aktifitas pabrik
baik secara positif maupun negatif. Olek karena itu, sebelum pabrik
didirikan perlu dikaji dampak positif maupun negatif keberadaan pabrik
bagi lingkungan masyarakat disekitar pabrik.
b. Bagi Perusahaan Jasa
Letak lokasi fasilitas jasa dapat dibagi dua macam. Pertama, pelanggan
dating kelokasi fasilitas jasa, seprti pasien mendatangi tempat praktek dokter.
Kedua, penyediaan jasa mendatangi konsumen, seperti mobilpemadam kebakaran
mendatangi lokasi pembakaran. Penentuan lokasi fasilitas jasa perlu
mempertimbangkan banyak hal, antara lain; mudah dan dapat diakses oleh
konsumen, tempat parker yang memadai, dapat diekspansi, lingkungan yang
mendukung usaha, kesesuaian dengan lokasi pesaing, izin lokasi dari pihak
berwenang
7. Perencanaan Tataletak (Layout)
a. Bagi Industri manufaktur
Bagi perusahaan manufaktur, paling tidak ada tiga jenis tempat yang perlu
diatur layout-nya,yaitu pabrik, kantor, dan gudang. Paparannya adalah sebagai
berikut;
Tata letak pabrik. Tataletak (layout) untuk industry manufaktur antara lain yaitu
pabrik. Tataletak disebut juga tataruang, artinya penempatan fasilitas-fasilitas
yang dipakai didalam pabrik, seperti letak mesin-mesin, letak alat-alat produksi,
lajur pengangkutan barang, dan seterusnya. Letak dari fasilitas-fasilitas tersebut
harus dikaji agar proses produksi dapat dijalankan secara efektif dan efisien.

Factor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun layout untuk


pabrik,yaitu;
a. Sifat produk yang di buat. Jelas, bahwa produk yang dibuat berupa benda
padat akan berbeda dengan benda cair dalam hal layout-nya.
28

b. Jeis prose produksi. Produksi yang dilakukan dengan proses conyinous


berbeda dengan yang intermittent.
c. Jenis barang serta volume produksi yang dihasilkan.
d. Jumlah modal yang tersedia untuk proses produksinya.
e. Keluwesan atau fleksibilitas letak fasilitas-fasilitas untuk mengantisifasi
perubahan-perubahan proses dikemudian hari.
f. Aliran barang dalam proses produksi hendaknya sedemikian rupa sehingga
tidak saling menghambat atau mengganggu
g. Penggunaan ruangan hendaknya selain efektif untuk bekerja, hendaknya
juga memperhatiakan kesehatan dan keselamatan kerja.
h. Letak mesin dan fasilitas alin hendaknya juga memperhatikan
ken=mudahan-kemudahan dalam hal pemeliharaan dan pengawasan.
Tata letak Kantor. Selain pabrik,perusahaan manufaktur juga memiliki kantor.
Tata letak kantor hendaknya disesuaikan dengan besar/kecilnya investasi.
Selainitu, tataletak harus dirancang dengan memperhatikan kemudahan dalam
berkomunikasi, fleksibellitas pemakian ruangan, struktur organisasi yang
diterapkan, serta bentuk layanan yang dilaksanakan secra rutin.
Tata letak Gudang. Gudang sebagai tempat penyimpanan bahan baku maupun
barang jadi, hendaknya juga diatur layout-nya. Hal-hal utama yang perlu
dicermati dalam peyusunan tataletak gudang antara lain besar atau kecilnya niali
investasi, bhwa tataletak gudang hendaknya dapat memudahkan pengaturan
kembali jika jumlah barang yang disimpan berkurang atau bertambah. Juga,
layout gudang perlu memperhatikan masalah keselamatan barang digudang serta
lingkungan dan keselamatan kerja didalam gudang.
b. Bagi Industry Jasa
Tata letak (layout). Tataletak fasilitas jasa yang tersedia akan berpengaruh pada
persepsi pelanggan atas kualitas suatu jasa.jadi,persepsi pelanggan terhadap suatu
jenis jasa dapat dipengaruhi oleh suasana yang dibentuk oleh eksterior dan interior
fasilitas jasa tersebut, sehingga tatletak dan lingkungan tempat penyampaian jasa
menjadi penting untuk diperhatikan.
Unsur-unsur yang perlu diperhatikan tata letak fasilitas jasa meliputi;
1. Pertimbangan spasial
2. Perencanaan ruangan.
3. Perlengkapan/perabotan.
4. Tata cahaya
5. Warna.
29

Desain Fasilitas Jasa


Dalam indutri jasa, desai dan tatat letak fasilitas jasa erat hubungannya
dengan pembentukan persepsi pelanggan, yang pada gilirannya akan berpengaruh
terhadap kualitas jasa tersebut dimata pelanggan. Ada beberapa factor utama yang
berpengaruh dalam desain fasilitas jasa, seperti;
1. Sifat dan tujuan perusahaan itu sendiri
2. Ketersediaan tanah dan kebutuhan akan ruang/tempat dimana jasa akan
ditawarkan.
3. Fleksibelitas desain apabila volume permintaan yang berubah-ubah dan
spesifikasi jasa yang cepat berkembang.
4. Factor estetis, penataan yang rapid an menarik pada fasilitas jasa.
5. Masyarakat dan lingkungn sekitar fasilitas jasa berpengaruh terhadap
perusahaan.
6. Biaya kontruksi dan operasi serta sumberdaya lain.
8. Perencanaan Jumlah produksi
Aktifitas produksi hendaknya derencanakan dengan baik agar jumlah
produksi yang dihasilkan tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Dalam industry
manufaktur,ada beberapa factor utama yang akan mempengaruhi perencanaan
jumlah produksi perusahaan, yang biasanya dijadikan sebagai pembatas bagi
jumlah produksi yang akan dihasilakan. Factor-faktor tersebut adalah;
1. Permintaan.
2. Kapasitas pabrik.
3. Suplai bahan baku.
4. Modal kerja.
5. Peraturan pemerintah dan ketentuan teknis lainnya juga berperan dalam
perencanaan jumlah produksi.
Didalam perencanaan jumlah produksi diperlukan metode-
metode.beberapa metode untuk perencanaan jumlah produksi antara lain adalah;
1. Metode Break-Even Point
2. Metode Marginal Cost dan Marginal Revenue
3. Metode Linier Programming

9. Manajemen Persediaan
30

Persediaan barang biasanya digunakan untuk mengasntisipasi permuntaan


konsumen yang meningkat secara tajam, atau untuk mensuplai kekurangan bahan
baku. Persediaan barang yang tidak lancer akan mengurangi jumlah barang jadi
yang dapat dihasilkan. Jumlah peersediaan barang hendaknya sesuai dengan
kebutuhan, yakni jangan terlalu banyak atau telalu sedikit.
Hal-hal pokok yang perlu dikaji dalam rangka studi kelayakan antara lain
yaitu sebagai berikut;
1 Penentuan jumlah order. Secara sederhana, menentukan jumlah order
setiap kali melakukan pesanan dapat menggunakan bermacam-macam
model.
2 Safety stock. Penentuan jumlah barang sebagai persediaan untuk
pengamanan perlu dianalisis agar ia tidak berlebihan atau kekurangan.
3 Inventory system. Suatu cara untuk menentukan bagaimana dan kapan
suatu pembelian dilakukan untuk mengisi persediaan barang.
4 Materials requirement planning. System perencanaan material, berbeda
dengan system EOQ yang bersifat reaktif, ia lebih bersifat proaktif,
sehingga perencanaan kedepan merupakan intinya.
10. Pengawasan Kualitas Produk
Kualitas produk baik barang amupun jasa merupakan suatu kesatuan
karakteristik produk dan jasa dari pemasaran, rekayasa, manufaktur, dan
pemeliharaan yang membuat produk dan jasa dapat memenuhi harapan-harapan
para konsumen. Untuk memahami kualitas, dapat digunaka trilogy manajerial
yang meliputi perencanaan, perbaikan, dan pengendalian, trilogy yang sama dapat
juga diterapkan pada bidang kualitas.paparannya;
Perencanaan kualitas.aktivitas ini merupakan penembangan dari produk dan
proses untuk memenuhi keinginan konsumen, yang terdiri-dari langkah-langkah
sebagai berikut;
a. Menentukan siapa konsumennya.
b. Menentukan apa kebutuhan atau keinginan konsumen.
c. Mengembangkan produk dan kualitas yang sesuai.
d. Mengembangkan proses sebagai pedoman bagi operasi/produksi.
Pengendalian Kualitas. Aktivitas ini dilakukan pada tahap operasi, langkag-
langkah yang dilakukan yaitu;
a. Evaluasi performansi actual.
b. Membandingkan performansi actual dengan sasaran yang direncanakan.
31

c. Mengambil tindakan terhadap penyimpangan.


Perbaikan Kualitas. Aktivitas ketiga dari triologi ini bertujuan untuk mencapai
tingkat yang lebih baik daripada sebelumnya.

2.3 Aspek Manajemen


A. Perencanaan
Manajemen dalam pembangunan proyek bisnis maupun manajemen dalam
implementasi rutin bisnis adalah sama saja dengan manajemen lainnya. Ia
berfungsi untuk aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan
dan pengendalian. Dalam menyusun suatuperencaan, hendaknya ia dapat dikaji
dari beberapa sisi, seperti: sisi pendekatan pembuatan perencanaa, sisi fungsi
perencanaan itu sendiri, sisi jangka waktu pelaksanaan yang akan di-cover oleh
perencanaan dan sisi tingkatan perencanaan. Setelah itu, buatlah suatu
rekomendasi, berupa hasil studi yang menyatakan ide bisnis dapat direncanakan
atau tidak. Paparan pendekatan diatas disajikan seperti berikut ini.
1. Pendekatan dalam Membuat Perencanaan
Proses pembuatan suatu rencana dapat dilakukan dengan berbagai
alternatif pendekatan. Berikut adalah empat pendekatan utama dalam pembuatan
suatu perencanaan.
Pendekatan Atas-Bawah (Top-Down). Perencanaan dengan pendekatan
ini dilakukan oleh pimpinan organisasi. Unit organisasi dibawahnya hanya
melaksanakan hal-hal yang telah direncanakan. Untuk perusahaan yang menganut
sistem disentralisasi (penyebaran kewenangan), pimpinan puncak memberikan
pengarahan dan petunjuk kepada pemimpin cabang atau sejenisnya untuk
menyusun rencana yang pada tahapannya akan ditinjau dan dikoreksi oleh
pimpinan puncak sebelum direstui untuk direalisasikan.
Pendekatan Bawah-Atas (Buttom-Up). Perencanaan dengan pendekatan
ini dilakukan dengan cara pimpinan puncak memberikan gambaran situasi dan
kondisi yang dihadapi oleh organisasi termasuk mengenai misi, tujuan, sasaran,
dan sumber daya yang dimiliki. Langkah selanjutnya memberikan kewenangan
kepada manajemen ditingkat bawahnya untuk menyusun perencanaan.
Pendekatan Campuran. Dalam kenyataa, relatif sulit menemukan
perencanaan yang murni Atas-Bawah atau Bawah-Atas. Yang sering ditemukan
32

adalah kombinasi (campuran) diantara keduanya walaupun dengan persentase


yang relatif. Dengan pendekatan ini pemimpin memberikan petunjuk
perencanaan organisasi secara garis besar sedangkan perencanaan detailnya
disrahkan kepada kreativitas unit perusahaan dibawahnya dengan tetap mematuhi
aturan yang ada.
Pendekatan kelompok.Dengan pendekatan ini, perencanaan sekelompok
dibuat oleh sekelompok tenaga ahli dalam perusahaan. Oleh karena itu dalam
perusahaan dibentuk semacam Biro Perencanaan.
2. Fungsi Perencanaan dan Rencana
Telah dijelakan di bagian atas bahwa hasil dari suatu perencanaan adalah
suatu rencana atau rencana-rencana. Rencana-rencana sangat bermanfaat bagi
proses manajemen. Pada bagian ini akan dipaparkan enam fungsi utama rencana
atau perencanaan manajemen suatu organisasi.
Penerjemah Kebijakan Umum.Kebijakan umum perusahaan ditetapkan
oleh manajemen puncak yang bersifat umum di mana untuk melaksanakannnya
diperlukan suatu tahapan untuk menterjemahkan secara lebih konkret, jelas,
komprehensif dan bertahap melalui proses perencanaan.
Berupa Perkiraan yang Bersifat Ramalan.Perencanaan berhubungan
dengan perkiraan-perkiraan dimasa depan bukan kemasa lalu. Apa yang terjadi
dimasa depan harus diramalkan dengan analisa ilmiah dan berdasarkan fakta dan
data masa lalu dan masa sekarang.
Berfungsi Ekonomi.Oleh karena sumber daya manusia yang sangat
terbatas, maka penggunaan sumber daya itu hendaklah direncanakan melalui
perhitungan yang matang agar dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan.
Memastikan suatu Kegiatan. Agar pencapaian tujuan dapat dilaksanakan
dengan baik oleh setiap orang dalam organisasi maka perlu disusun suatu rencana
yang mengatur hak dan kewajiban, tugas dan tanggung jawab, serta wewenang
mereka. Dengan adanya rencana yang jelas, merekapun bekerja dengan penuh
kepastian.
Alat koordinasi. Koordinasi merupakan kegiatan penting dalam
pelaksanaan fungsi manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan.
33

Alat/Sarana Pengawasan. Manajer perlu melakukan pengawasan untuk


mengetahui apakah suatu kegiatan yang telah dilakukan hasilnya memuaskan.
Untuk mengukur apakah suatu realisasi kerja telah sesuai atau belum, maka
rencana dapat dipakai sebagai tolak-ukur dalam melakukan pengawasan dan
pengendalian.
3. Macam-macam Perencanaan
Proses perencanaan untuk menghasilkan suatu rencana dapat silikat dari
berbagai sisi penting, antara lain yaitu dari sisi jangka waktu manfaat rencana
serta dari sisi tingkatan manajemen, yaitu dari sisi strategis dan operasional.
Penjelasannya disajikan berikut ini.
Sisi Jangka Waktu
Jika di lihat dari waktu yang digunakan untuk pengaplikasian suatu
rencana, dikenal tiga bentuk perencanaan, yaitu:
Perencanaan jangka panjang. Perencanaan semacam ini menjangkau
waktu sekitar 20-30 tahun ke depan. Rencana-rencananya masih berbentuk garis
besar yang bersifat sangat strategis dan umum. Perencanaan ini tidak dapat
langsung dipakai sebagai pedoman kerja, sehingga masih perlu dijabarkan dalam
bentuk perencanaan jangka menengah. Negara kita menggunakan waktu 25 tahun
untuk setiap tahap perencanaan jangka panjangnya.
Perencanaan Jangka Menengah. Biasanya akan menjangkau waktu
sekitar 3-5 tahun ke depan. Perencanaan jangka panjang akan dipecah-pecah
menjadi beberapa kali perencanaan pelaksanaan jangka menengah, sehingga
setiap saat hendaknya disesuaikan dengan prioritas. Sifat perencanaan ini akan
lebih konkret dengan kejelasan sasaran yang harus dicapai.
Perencanaan Jangka Pendek. Perencanaan jenis ini akan menjangkau
waktu paling lama satu tahun. Bahkan perencanaan ini dalam jangka waktu
bulanan, kwartalan atau tengah tahunan. Perencanaan ini lebih ini lebih konkret
dan lebih rinci, lebih jelas sasaran yang harus dicapai termasuk dalam penggunaan
sumber daya, metode pelaksanaan serta waktu mulai dan selesai tiap-tiap kegiatan
yang masuk dalam rencana tersebut. Negara kita menggunakan APBN dalam
rencana belanja negara merealisasikan program-program tahunnya.
Sikap Tingkatan Managemen
34

Pada umumnya perencanaan bila digolongkan ke dalam tingkatan


Management akan dibagi dua, yaitu perencanaan strategis dan perencanaan
fungsional. Penjelasannnya adalah sebagai berikut.
Perencanaan Strategis. Perencanaan ini merupakan bagian dari
perencanaan strategis. Jadi perencanaan strategis lebih terfokus pada bagaimana
manajemen puncak menentukan visi, misi, falsafah dan strategi perusahaan untuk
mencapai tujuan perusahaan dalam jangka panjang.
Perencanaan Operasional. Merupakan bagian dari strategi operasional
yang lebih mengarah pada bidang fungsional perusahaan.
4. Program Kerja
Penyusunan suatu perencanaan suatu perencanaan jangka pendek dan
penerapannya dalam bentuk program kerja perlu memperhatikan anggarannya.
Untuk membuat program kerja yang baik dapat digunakan beberapa teknik.
Teknik teknik yang sudah umum digunakan terutama dalam rangka
mengoptimalisasi sumber daya organisasi yang akan digunakan antara lain
adalah :
Gantt Chart dan Gantt Milestone Chart
PERT (Program evaluation And ReviewTechnique) dan NWP (Net
WorkPlanning)
PKT(program kerja terpadu) yaitu teknik perencanaan yang komprehensif untuk
digunakan dalam kegiatan agar terarah dan terpadu.
PIP (PerformanceImprovmentPlanning) yaitu teknik perencanaan yang
menguntamakan daya analisis atas kekuatan-kekuatan dorong dan penghambat
kinerja.
APP (Analisi Persoalan Potensial) yaitu teknik perencanaan yang berguna
terutama dalam rangka mengamankan suatu program kerja agar dapat
mengantisipasi setiap persoalan yang muncul pada waktu pelaksanaannya.
a. Teknik GanttChart dan GanttMilestoneChart
Teknik Ganttchart pertama kali diperkenalkan oleh Henry L Gantt. Pada
dasarnya pembuatan jadwal dilakukan dengan dua sumbu, yaitu sumbu horizontal
untuk menggambarkan kurun waktu dan sumbu vertikal untuk menggambarkan
35

jenis kegiatan dan jenis pelaksanaannya. Langkah-langkah penyusunan


GanttChart secara garis besar adalah sebagai berikut.
a. Menentukan tingkat kerincian kegiatan yang akan dimasukan pada
bagan.
b. Mengidentifikasi urutan logis (dapat juga secara kronologis) dari
kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan.
c. Memperkirakan waktu yang akan dibutuhkan untuk menyelesaikan
masing-masing kegiatan.
d. Membuat konsep penjadwalan pada bagan.
e. Mendiskusikan konsep tersebut dengan orang-orang yang akan terlibat
dalam pelaksanaan masing-masing kegiatan.
f. Membuat bagan akhir yang lebih realistis dan telah disepakati oleh
semua orang yang terlibat.
g. Merevisi atau mengoreksi bila perlu.
Pembuatan rencana kerja ini memiliki keuntungan-keuntungan dan
kerugian. Keuntungan-keuntungan antara lain adalah, bahwa
pembuatannya sederhana, perhitungan waktu dan pencantumannya dalam
bagan mudah, mudah dibaca, dan dapat langsung dipakai untuk pemakaian
kegiatan. Sedangkan kerugiannya adalah, bahwa cara ini terlalu sederhana
untuk proyek yang dianggap besar, perkiraan pencapaian sulit dilihat,
kegiatan-kegiatannya sulit digambarkan, indikator pada kegiatan-
kegiatannya sulit diketahui, dan sulit diubah jika terjadi perkembangan-
perkembangan baru.
b. Teknik PERT dan NwP
Teknik PERT (Program EvaluationandReviewTechnique) adalah teknik
perencanaan yang dikembangkan oleh kesultanan Booz Allen dan Homilton pada
tahun 1958. Dalam teknik PERT pembuatannya memiliki tiga dasar yang penting,
yaitu: perencanaan, yang meliputi penjadwalan kerja, pengorganisasian dan
pengendaliannya. Langkah-langkah yang diperhatikan dalam pembuatan PERT
adalah pembuatan daftar kegiatan-kegiatan, dan penentuan urutan perencanaan,
pengorganisasian dan pengendalian program kerja dapat lebih mudah. Demikian
pula halnya dalam beberapa PERT dapat dipilih PERT yang paling optimal dalam
penggunaan sumber daya dan waktu, biaya dan tenaga kerja sehingga efisiensi
dapat ditingkatkan.
36

Perihal teknik NwP (NetworkPlanning) dilain pihak merupakan


pengembangan dari PERT. Kelebihan dari NwP ialah bahwa ia memasukan unsur
keterangan kapan kapan adu kegiatan dimulai atau berakhir.
c. Teknik PKT, PIP dan APP
Teknik PKT (Pola Kerja Terpadu) merupakan teknik pemecahan masalah
yang dilanjutkan dengan perencanaan kerja yang kompherensif yang akan
memerikan kepastian kegiatan dan tanggung jawab, baik secara individual
maupun kelompok dalam pelaksanaan satu kegiatan. Dengan teknik ini,
pelaksanaan akan terkendali secara terpadu mulai dari penetapan siaran,
persiapan, pelaksanaan serta pengendalian, termasuk pelaporannya, sehingga
dengan demikian tujuan yang diharapkan, akan mudah lebih tercapai. Teknik ini
merupakan teknik suatu proses pemecahan masalah yang menggunakan hubungan
sebab-akibat Diana proses analisisnya terdiri dari empat tahap, yaitu: Tahap
menentukan masalah, tahap pengembangan dan penetapan sasaran, tahap
pengembangan dan memilih alternatif, serta tahap menyusun kerja terinci serta
paket kerjanya.
Teknik PIP ( PerformanceimprovmentPlanning) adalah suatu teknik
perencanaan guna menentukan strategi serta langkah-langkah kegiatan yang
terkoordinasi dalam rangka mencapai tujuan perusahaan melalui analisis serta
kegiatan-kegiatan pendororong dan penghambat kinerja perusahaan.
Teknik APP (Analisis Persoalan Potensial) adalah suatu teknik yang membantu
dalam mengamankan suatu rencana atau program yang telah disusun sedemikian
rupa. Sebagaimana diketahui suatu rencana kerja dapat berubah karena berbagai
sebab. Misalnya adalah apakah perubahan yang mungkin terjadi tersebut sudah
terantisipasi. Antisipasi yang dimaksud dapat saja dibuat melalui perkiraan
terhadap persoalan-persoalan yang diperkirakan akan terjadi serta akan
mengganggu kegiatan proyek. Untuk itu perlu di identifikasi berbagai
kemungkinan adanya penyimpangan, serta dipersiapkan berbagai tindakan baik
bersifat pencegahan (preventif) maupun penanggulangannya (proaktif).
5. Anggaran
37

Anggaran adalah rencana yang disusun secara sistematis dalam bentuk


angka dan dinyatakan dalam unit moneter yang meliputi seluruh kegiatan
perusahaan untuk periode tertentu dimasa yang akan datang.
Dalam perencanaan anggaran dikenal ada 4 macam sistem, yaitu :
- Sistem anggaran Tradisonal
- Sistem anggaran Hasil Karya
- Sistem Anggaran PPBS (Planning, programming, Butgeting, Systems)
- Sistem Anggaran ZBB (Zero BaseBudgeting)
Sistem Anggaran Tradisional. Sistem anggaran ini disusun berdasarkan jenis
pengeluarannya. Misalnya dalam suatu interval waktu tertentu perusahaan telah
menentukan anggaran untuk pembayaran sewa gudang, gaji dan pembelian bahan
baku. Sistem anggaran seperti ini sederhana dan cocok bagi perusahaan kecil,
sedangkan untuk perusahaan besar, sistem ini akan merepotkan karena jenis-jenis
pengeluarannya sangat banyak. Macam-macam anggaran yang umum dengan
menggunakan sistem anggaran tradisional dalam suatu perusahaan kecil dalam
bidang manufaktur, diberikan berikut ini.
Anggaran Produksi. Merupakan suatu perencanaan secara rinci
mengenai jumlah unit yang akan diproduksi selama periode yang akan
datang yang di dalamnya meliputi rencana mengenai jenis (kualitas),
jumlah (kuantitas), waktu (kapan) produksi akan dilaksanakan.
Anggaran Bahan Baku. Merupakan suatu perencanaan yang rinci
mengenai kebutuhan dan penggunaan bahan baku langsung. Bahan
baku tidak langsungkan dimasukkan pada anggaran biaya overhead
pabrik.
Anggaran Tenaga Kerja. Tenaga kerja dibagi dua macam.
Pertama: tenaga kerja langsung, yaitu tenaga kerja secara langsung
berperan dalam proses produksi dan kedua: Tenaga kerja tidak
langsung berperan dalam proses produksi di mana biayanya dikaitkan
dengan biaya overhead pabrik.
Biaya Overhead Pabrik (BOP). Biaya overheda pabrik merupakan
biaya-biaya dalam pabrik yang dikeluarkan sehubungan dengan proses
produksi kecuali biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
Anggaran biaya overhead pabrik merupakan perencanaan yang rinci
mengenai biaya-biaya tak langsung yang dikeluarkan sehubungan
38

dengan proses produksi selama periode yang akan datang, meliputi


jenis biaya, waktu serta tempat di mana biaya tersebut terjadi.
Anggaran Variabel. Pembahasan perusahaan dikelompokkan atas biaya
tetap, biaya variabel dan biaya semi variabel. Dengan menyusun
anggaran Variabel dapat di identifikasikan sejauh mana masing-masing
biaya akan dipengaruhi oleh aktivitas atau kegiatan perusahaan.
Anggaran variabel diutamakan untuk merencanakan biaya-biaya tak
langsung karena biaya ini tidak berhubungan secara langsung dengan
aktivitas perusahaan, sehingga apabila terjadi aktivitas perusahaan
tidak secara langsung mempengaruhi besar kecilnya biaya tersebut.
Anggaran Modal. Anggaran Modal atau anggaran aktiva tetap
berhubungan atau keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan
keputusan mengenai pengambilan dana yang jangka waktu
pengambaliannya lebih dari satu tahun. Contohnya pengeluaran
investasi untuk tahan, mesin dan bangunan.
Anggaran Piutang. Piutang perusahaan piutang dapat timbul karena
transaksi penjualan produk yang dihasilkan perusahaan atau penjualan
aktiva-aktiva secara kredit. Anggaran piutang adalah anggaran yang
merencanakan yang merencanakan jumlah piutang perusahaan beserta
perubahan-perubahannya dari tahun-ketahun dalam suatu periode yang
akan datang.
Anggaran Kas. Anggaran kas menunjukkan rencana sumber dan
pengeluara kas selama tahun anggaran yang terdiri dari rencana
penerimaan dan pengeluaran kas.
Sistem Anggaran Hasil Karya. Sistem anggaran ini disusun berdasarkan
susunan yang akan dicapai. Misalnya untuk satu tahun ditahun yang akan datang,
perusahaan menetapkan suatuproduksi suatu barang X sebanyak 100 unit dengan
anggaran biaya sebesar seratus juta rupiah. Di dalam komponen biaya ini telah
diperhitungkan biaya seperti gaji, sewa gedung dan pembelian bahan baku
lainnya.
B. PENGORGANISASIAN (ORGANIZING)
Sama saja dengan aspek perencanaan, pengorganisasian, untuk kedua
kegiatan pokok, yaitu membangun proyek atau mengimplementasikan bisnis
39

secara rutin, hendaknya di kaji dari beberapa sisi, seperti bagaimana langkah-
langkah dalam pengorganisasian, bagaimana asas organisasian yang hendaknya
dipilih, bagaimana struktur organisasi yang dirancang, dan bagaimana prestasi
organisasi yang di inginkan.
1. Langkah Pengorganisasian
Secara garis besar, langkah-langkah dalam melakukan proses
pengorganisasian, mulai dari merencanakan, melaksanakan dan memantau kerja
organisasi, secara garis besar dipaparkan berikut ini.
Merinci seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan organisasi agar
sesuai dengan misi dan visinya.
Membagi beban kerja ke dalam aktivitas-aktivitas secara logis dan
memadai dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang
Mengkombinasikan pekerjaan anggota organisasi dengan cara yang
logis dan efisien.
Menetapkan mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan
anggota organisasi dalam satu kesatuan yang harmonis.
Memantau efektivitas organisasi dan mengambil langkah-langkah
penyesuaian untuk mempertahankan atau meningkatkan
efektivitas.
2. Asas Organisasi
Asas asas organisasi merupakan berbagai pedoman yang secara
maksimal hendaknya dilaksanakan agar diperoleh suatu struktur organisasi yang
baik dan aktivitas organisasi dapat berjalan dengan lancar. Rincian asas-asas
organisasi akan dipaparkan dalam sembilan faktor. Ada sembilan faktor yang
menjadi asas-asas organisasi sebagai berikut.
1. Perumusan tujuan organisasi
2. Departemenisasi
3. Pembagian kerja
4. Koordinasi
5. Pelimpahan wewenang
6. Rentang kendali
7. Jenjang organisasi
8. Kesatuan perintah
9. Flesibilitas
3. Struktur organisasi
Struktur organisasi dapat diartikan sebagai susunan dan hubungan antara
bagian dan posisi dalam perusahaan. Susunan organisasi menjelakan
40

pembagian aktivitas kerja, serta memperhatikan hubungan fungsi dan aktivitas


tersebut sampai batas-batas tertentu. Ada empat elemen dalam struktur
organisasi yaitu :
- Spesialisasi aktivitas, mengacu pada spesifikasi tugas-tugas
perorangan dan kelompokkerja diseluruh organisasi (pembagian
kerja) dan penyatuan tugas-tugas tersebut kedalam unit kerja.
- Standarisasi aktivitas, merupakan prosedur yang digunakan
organisasi untuk menuju kelayakgunaan (predictability) aktivitas-
aktivitasnya.
- Koordanasi aktivitas, adalah prosedur yang memadukan fungsi-
fungsi sub-unit dalam organisasi.
- Besar unit kerja, berhubungan dengan jumlah pegawaiyang berada
dalam suatu kelompok kerja.
4. Faktor Penentu Struktur Organisasi
Ada beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menentukan
struktur organisasi, yaitu:
a. Strategi dan struktur organisasi.
b. Teknologi sebagai penentu struktur
c. Manusia sebagai penentu struktur
d. Ukuran dan Struktur
5. Bentuk Organisasi
Ada beberapa bentuk struktur organisasi adalah sebagai berikut.
a. Organisasi garis
b. Organisasi fungsional
c. Organisasi garis dan Staf
d. Organisasi gabungan
e. Organisasi Matriks
6. Prestasi Organisasi
Sejauh mana organisasi berhasil mencapai tujuan dan memenuhi
kebutuhan masyarakat tergantung pada keberhasilan para manajernya
melaksanakan tugas. Kalau para manajernya tidak melaksanakan tugas dengan
baik, organisasi akan gagal mencapai tujuannya.
Tanggung jawab manajer membutuhkan prestasi yang efisien dan efektif,
tetapi walaupun efisiensi itu penting, efektivitas juga tidak kalah pentingnya. Bagi
drucker, efektivitas adalah kunci keberhasilan organsisasi.

C. PENGGERAKAN (AKTUATING)
41

Aspek penggerakan (aktuating) yang juga merupakan bagian dari manajemen


hendaknya diperkirakan juga apakah dalam manajemen implementasi bisnis,
kelak dapat berjalan baik, sehingga ia dapat dinyatakan layak. Menyusun agar
pergerakan ini dapat berjalan dengan baik hendaknya dikaji dari berbagai sisi,
seperti: fungsi penggerakan yang harus terpenuhi, serta sikap dan perilaku
seseorang pemimpin hendaknya memenuhi kriteria agar dapat menyegerakan
bawahannya. Jika syarat-sayarat untuk memenuhi kriteria agar ia dapat
menyegerakan bawahannya. Jika syarat-syarat untuk menyegerakan ini dipandang
akan terpenuhi maka dapat direkomendasikan bahwa dari sisi penggerakan dapat
dinyatakan layak.
1. Fungsi Penggerakan
Fungsi penggerakan dalam manajemen yang pokok adalah :
Mempengaruhi seseorang (orang-orang) supaya bersedia menjadi
pengikut.
Melakukan daya tolak pada seseorang (orang-orang)
Membuat seseorang (orang-orang) suka mengerjakan tugas dengan baik.
Mendapatkan, memelihara dan memupuk kesetian pada pimpinan, tugas
dan organisasi tempat mereka bekerja.
Menanamkan, memelihara dan memupuk rasa tanggung jawab seseorang
atau orang-orang terhadap Tuhannya, negara dan masyarakat.
2. Kepemimpinan
Untuk menggerakkan karyawan, hendakalah seorang penggerak (dalam
hal ini seorang pemimpin) memiliki jiwa kepemimpinan. Kepemimpinan
diartikan oleh Stoner sebagai suatu proses mengenai pengarahan dan usaha
untuk mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan anggota kelompok.
Dari pengertian diatas dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut :
a. Kepemimpinan harus melibatkan orang lain.
b. Kepemimpinan melibatkan distribusi yang tidak merata atas kekuasaan
antara pemimpin dan yang dipimpin.
c. Kepemimpinan secara sah dapat memberikan hak kepada pemimpin tidak
saja berupa pengarahan akan tetapi juga pengaruh.

D. PENGENDALIAN (CONTROLLING)
Pengendalian, sebagai salah satu faktor manajemen, hendaknya juga
dianalisis untuk mendapatkan jawaban apakah dari sisi ini rencana manajemen
42

ntuk pembangunan maupun pengimplementasian bisnis dinyatakan layak atau


sebaliknya. Seperti diketahui, bahwa pengendalian/pengawasan didalam
manajemen memiliki berbagai fungsi pokok. Fungsi pokok pengendalian tsb
adalah :
a. Mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan atau kesalahan
dengan melakukan pengendalian secara rutin disertai adanya
ketegasan-ketegasan dalam pengawasan, yakni dengan pemberian
sangsi, yang semestinya terhadap penyimpangangan yang terjadi.
b. Memperbaiki berbagai penyimpanagn yang terjadi. Jika penyimpanagn
terjadi hendaknya pengawasan atau pengendalian dapat mengusahakan
perbaikan.
c. Mendinamisasikan organisasi. Dengan adanya pengawasan diharapkan
sedini mungkin dapat dicegah terjadinya penyimpanagn-
penyimpanagn, sehingga setiap unit organisasi selalu dalam keadaan
bekerja secara efektif dan efisien.
d. Mempertebal rasa tanggung jawab. Dengan adanya
pengendalian/pengawasan yang rutin, setiap unit organisasi berikut
karyawannya dapat selalu mengerjakan semua tugas yang diberikan
dengan benar sehingga, kesalahan dalam pelaksanaan tugas akan kecil
kemungkinannya untuk muncul. Jika tindakan yang salah tidak dapat
dihindari, laporan tertulis mengenai penyimpanagn itu wajib diberikan.
Dengan cara-cara seperti ini, diharapkan tanggung jawab terhadap
pekerjaan makin lama makin tebal.

2.4 ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA


2.4.1 Perencanaaan SDM
Dalam membangun proyek bisnis, ketersediaan SDM-nya, yaitu manajer
proyek dan staff proyek hendaknya dikaji secara cermat. Kesusksesan suatu
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sebuah proyek bisnis sangat
tergantung pada SDM yang solid, yaitu manajer dan timnya. Membangun sebuah
tim yang efektif merupakan suatu kombinasi antara seni dan ilmu pengetahuan.
Dalam membangun sebuah tim yang efektif, pertimbangan harus diadakan bukan
hanya pada keahlian teknis para manajer atau anggota tim semata, tetapi juga pada
peranan penting mereka dan keselarasan mereka dalam bekerja.
43

A. Memilih Manajer Proyek


Manajer proyek merupakan salah satu anggota terpenting dari suatu
proyek. Orang ini memegang peranan penting dalam perencanaan dan
pelaksanaan proyek. Manajer proyek bertugas menjelaskan kepada organisasi dan
kepada [ihak luar perihal proyek yang akan dibangun. Beberapa hal pokok dalam
memilih manajer proyek adalah perihl pemilihan waktu dan kritesia seleksi.
- Pemilihan Waktu.
Waktu yang tepat dalam memilih seorang manajer proyek tidak ada
patokannya yang dianggap paling benar karena memang beragam sifatnya. Akan
tetapi, syarat yang harus diingat adalah, Manajer proyek dan tim proyek harus
secepatnya terlibat dalam perencanaan proyek sehingga mereka akan lebih terikat
untuk segera merealisasikan proyek bisnis tersebut.
- Kriteria Seleksi
Tujuan utama pemilihan seorang manajer proyek adalah untuk
menugaskan seseorang yang berpengalaman, mampu, dan kompeten untuk
menghasilkan produk akhir secara tepat waktu, sesuai dengan biaya yang tersedia
dan juga sesuai dengan syarat yang diberikan. Untuk itu, seorang pemimpin
proyek perlu memiliki karakteristik yang dominan yang dapat digolongkan dalam
lima kategori, yaitu: Latar belakang dan Pengalaman; Kepemimpinan dan
Keahlian Strategis; Keahlian Teknis; Kemampuan Kehumasan; dan Kemampuan
Manajerial. Paparannya adalah sebagai berikut:
a. Latar Belakang dan Pengalaman. Latar belakang dan keahlian seorang
manajer proyek yang prospektif haruslah konsisten dengan keberadaan
kebutuhan dari persyaratan proyek. Tujuannya adalah untuk menugaskan
seseorang yang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan syarat yang
ditentukan. Seseorang manajer proyek harus dapat memiliki latar belakang
kemampuan pendidikan, dan sebagai tambahan adalah pengalaman di area
pekerjaan yang ditugaskan. Anda harus memilih kandidat yang menunjukkan
pengalaman analisis konseptual, operasional, dan praktek yang dapat
diterima.
b. Kepemimpinan dan Keahlian Strategis. Manajer proyek adalah sorang
pemimpin yang turut serta mendesain, mengkoordinasikan, mengatur, dan
mengimplementasikan rencana proyek. Pemimpin proyek juga menetapkan
44

kebijakan-kebijakan hingga proyek selesai dibangun. Dalam hal


kepemimpinan dan keahlian strategis berarti manajer proyek memiliki visi
mengenai proyek yang tengah dibangun, dimana ia juga mendesain tahapan
kerja dan rinciannya agar dapat diimplementasikan. Seorang manajer proyek
harus dapat memisahkan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya strategis dan
taktis operasional.
c. Kemampuan Teknis. Tidak ada manajer proyek yang memiliki kemampuan
teknis untuk menyelesaikan sebuah proyek seorang diri. Tetapi, jika anda
mencari seorang yang dapat mengarahkan, menilai, dan memberikan
keputusan akan pilihan teknis alternative yang berhubungan dnegan proyek,
dialah orangnya. Seorang manajer proyek harus memiliki keahlian teknis
berdasarkan pengetahuan dan pelatihan yang mendukung kinerja dari senuah
proyek. Apapun proyek yang dikerjakan hendaknya seorang manajer proyek
telah memiliki pengalaman bekerja, termasuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih
spesifik, selain ia harus mengerti perihal pasa, perilaku konsumen, serta
teknologi yang digunakan.
d. Kemampuan Kehumasan. Seorang manajer proyek hendaknya mampu
bertindak dengan sebagai pengayom, pemberi informasi bagi pekerja, sebagai
negosiator, mengatasi masalah konflik, dan mampu memecahkan masalah
serta mencari jalan keluarnya. Peran penting lainnya adalah politikus,
pramuniaga, fasilitator, dan sebagai pembimbing.
e. Kemampuan Manajerial. Kemampuan manajerial sangat diperlukan dalam
pelaksanaan suatu pekerjaan untuk menghasilkan produk atau jasa akhir yang
sesuai dengan biaya, waktu, dan pengadaan sumber daya. Untuk melakukan
ini, manajer proyek harus memiliki pengetahuan perihal organisasi:
bagaimana mengorgabisasikan, menentukan kebutuhan para staf, kebutuhan
proyek, menangani permasalahan manajemen, menghubungkan tujuan proyek
dengan misi perusahaan, serta mengendalikan karyawan.
B. Memilih Tim Proyek
Setelah manajer proyek dipilih, selanjutanya dipilih pula tim proyek.
Memilih tim proyek tergantung pada beberapa factor: tujuan dan hasil dari proyek
yang diharapkan; Pekerjaan teknis yang harus dilakukan; dan kemampuan yang
dibutuhkan untuk menarik, menugaskan, mendelegasikan, mengawasi,
45

mengkomunikasikan, dan melakukan pekerjaan yang dibutuhkan di setiap tahap


dari proyek.
Kriteria Seleksi. Kriteria umum yang digunakan untuk memilih anggota tim
proyek adalah sebagai berikut:
- Memiliki komitmen pada tujuan proyek dan mampu menyelesaikannya.
- Kemampuan untuk berkomunikasi dan membagi tanggung jawab
- Fleksibelitas, dapat berpindah dari satu kegiatan pekerjaan ke kegiatan
pekerjaaan lainnya, sesuai dari skedul dan kebutuhan proyek
- Kemampuan teknis
- Kemauan untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya
- Konsentrasi pada pekerjaan
- Kemapuan untuk mengerti dan bekerja berdasarkan jadwal dan pengadaan
sumber daya. Misalnya, mau kerja lembur jika dibutuhkan.
- Kemampuan untuk saling mempercayai, bukan seperti seorang pahlawan
yang mampu bekerja sendiri.
- Seorang wiraswasta, tetapi terbuka pada usulan dan gagasan.
- Kemampuan bekerja pada lebih dari satu atasan.
- Kemampuan bekerja tanpa dan diluar struktur formal.
- Memiliki pengetahuan dan pengalaman dengan peralatan manajemen
proyek.
Jadi, jelas bahwa perencanaan tenaga kerja merupakan suatu cara untuk
menetapkan keperluan mengenai tenaga kerja suatu periode tertentu. Perencanaan
ini dimaksudkan agar perusahaan dapat terhindar dari kelangkaan sumber daya
manusia pada saat dibutuhkan maupun kelebihan sumber daya manusia pada saat
kurang dibutuhkan.
Selanjutnya, dalam hal permasalahan tenaga kerja pada fase
pengimplementasian bisnis secara rutin, pertama tentukan dulu tenaga-tenaga
untuk top manajemen. Lalu untuk keperluan tenaga kerja dibawahnya, termasuk
untuk tenaga kerja pelaksana, hendaklah mereka mampu merencanakannya
melalui suatu proses perencanaan. Orang-orang yang kelak akan menduduki
posisi top manajemen ini, hendaknya mampu merealisasikan manajemen SDM,
dimana perencanaan SDM merupakan salah satu kegiatan intinya.
Proses perencanaan tersebut memiliki tiga macam model, yaitu:
1. Perencanaan dari Atas ke Bawah
Maksud dari model ini adalah bahwa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan
telah disesuaikan dengan rencana yang menyeluruh dari perusahaan baik untuk
46

jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Peningkatan biaya untuk tenaga
kerja dapat disimulasikan untuk melihat pengaruhnya terhadap laba perusahaan.
Misalkan bahwa biaya tenaga kerja tidak noleh lebih dari 40 persen dari
keuntungan, maka jumlah rata-rata pegawai yang dapat dipekerjakan
diperhitungkan berdasarkan proyeksi keuntungan.
Rumus sederhananya adalah:
2. Perencanaan dari Bawah ke Atas
Proses dengan menggunakan model ini, bermula dari kelompok kerja yang
terkecil yang menghasilkan taksiran kebutuhan pegawai untuk tahun berikutnya
dalam rangka mencapai target kerja yang telah ditetapkan. Jumlah tenaga yang
dibutuhkan akan dapat diketahui setelah tenaga kerja yang ada dihitung kapasitas
kerja maksimalnya.
Persetujuan akhir tentang jumlah pegwai yang diperlukan dilakukan antara
perusahaan dengan divisi yang membutuhkan pegawai. Selanjutnya kesepakatan
ini dipegang teguh agar tidak mengalami hambatan-hambatan baru pada saat
realisasi pekerjaan ditahun depan.
3. Ramalan
Cara yang jelas untuk mengetahui kebutuhan tenaga kerja adalah dengan
meningkatkan pendayagunaan orang-orang yang ada sekarang. Masalahnya
adalah bahwa persediaan tenaga kerja itu tidak pernah statis, sehingga tetap akan
dipengaruhi oleh arus masuk (seperti: rekrutmen dan transfer masuk) dan arus
keluar (seperti: penyusutan dan transfer keluar) serta penumpukan pegawai
dengan kualitas kerja yang juga tidak statis. Untuk mengetahui catatan akurat
tentang tenaga kerja yang ada maka perlu diketahui status pegawai yang akan
pensiun, atau yang akan mengundurkan diri, yang akan dipromosikan, pegawai
perempuan yang akan melahirkan, yang akan cuti panjang, dan sebagainya.
2.4.2 Analisis Pekerjaan
Pekerjaan merupakan komponen dasr bagi struktur organisasi dan
merupakan alat untuk mencapai tujuan organisasi. Analisis pekerjaan merupakan
suatu proses untuk mementukan isi suatu pekerjaan, sehingga pekerjaan dapat
dijelaskan kepada orang lain. Isi suatu pekerjaan merupakan hasil dari analisis
pekerjaan dalam bentuk tertulis sehingga disebut deskripsi pekerjaan.
47

Selanjutanya, agar suatu pekerjaan dapat dikerjakan oleh orang yang tepat, maka
diperlukan syarat yang harus dipenuhi oleh orang tersebut, yang sering disebut
dengan kualifikasi/spesifikasi personalia..
2.4.3 Rekrutmen, Seleksi dan Orientasi
Rekrutmen merupakan suatu kegiatan untuk mencari sebanyak-banyaknya
calon tenaga kerja yang sesuai dengan lowongan yang tersedia. Sumber-sumber
dimana terdapat calon karyawan dapat diketahui melalui antara lain lembaga
pendidikan, Departemen Tenaga Kerja, biro-biro konsultan, melalui iklan di media
masa dan tenaga kerja dari organisasi sendiri.
Seleksi pada dasarnnya merupakan usaha yang sistematis yang dilakukan
guna lebih menjamin bahwa mereka yang diterima adalah mereka yang dianggap
paling tepat dengan criteria nyang telah ditetapkan serta sejumlah yang
dibutuhkan. Usaha-usaha yang sistematis tadi misalnya dengan melakukan
tahapan berikut: seleksi dokumen, psikotes, tes intelegensi, tes kepribadian, tes
bakat dan kemapuan, tes kesehatan, dan wawancara.
Orientasi dilakukan pada pegawai yang telah diterima, setelah melalui
tahapan seleksi. Proses orientasi ini dimaksudkan untuk memperkenalkan pegawai
baru kepada situasi kerja dan kelompok kerjanya yang baru. Jadi kegiatan ini
merupakan bagian dari sosialiisasi, yaitu proses pemahaman sikap, standar, nilai
dan pola perilaku yang baru.
2.4.4 Produktivitas
Secara umum yang banyak didapat dalam buku-buku teks, produktivitas
mengandung arti sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan
keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Dengan kata lain bahwa
produktivitas memiliki dua dimensi, pertama: suatu efektivitas yang mengarah
kepada pencapaian unjuk kerja yang maksimal, yaitu pencapaian target yang
berkaitan dengan upaya membandingkan masukan dengan realisasi
penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Berkaitan dengan SDM, cirri-ciri pegawai yang produktif menurut Dale
Timpe (1989) adalah:
- Cerdas dan dapat belajar dengan relative cepat.
- Kompeten secara professional.
- Kreatif dan inovatif
48

- Memahami pekerjaan.
- Belajar dnegan cerdik, menggunakan logika, efisiensi, tidak mudah macet
dalam pekerjaan.
- Selalu mencari perbaikan-perbaikan, tetapi tahu kapan harus berhenti
- Dianggap bernilai oleh atasannya
- Memiliki catatan prestasi yang baik.
- Selalu meningkatkan diri.
2.4.5 Pelatihan dan Pengembangan
Program pelatihan (training) bertujuan untuk memperbaiki penguasaan
berbagai keterampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu untuk kebutuhan
sekarang, sedangkan pengembangan bertujuan untuk menyiapkan pegawainya
siap memangku jabatan tertentu dimasa yang akan dating. Pengembangan bersifat
lebih luas karena menyangkut banyak aspek, seperti peningkatan dalam keilmuan,
pengetahuan, kemampuan, sikap dan kepribadian. Program pelatihan dan
pengembangan bertujuan antara lain untuk menutupi gap antara kecakapan
karyawan dan permintaan jabatan, selain untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas kerja karyawan dalam mencapai sasaran kerja.
Untuk melaksanakan program pelatihan dan pengembangan, manajemen
hendaknya melakukan analisis tentang kebutuhan, tujuan, sasaran, serta isi dan
prinsip belajar terlebih dahulu agar hasil dari pelaksanaan program pelatihan
tidaklah sia-sia. Prinsip belajar hendaknya menajadi pedoman cara belajar,
misalnya bahwa program bersifat partisipatif, relevan, terjadi pemindahan
keahlian serta memberikan feedback mengenai kemajuan peserta pelatihan. Di
lain pihak, pengembangan sumber daya manusia jangka panjang memiliki
manfaat, misalnya dalam rangka mengurangi ketergantungan pada penarikan
karyawan baru, memberikan kesempatan kepada karyawan lama, mengantisipasi
keusangan karyawan, dan perputaran tenaga kerja (turnover).
2.4.6 Prestasi Kerja
Manajemen maupun karyawan perlu umpan balik antas kerja mereka.
Hasil penilaian prestasi kerja (performance appraisal) karyawan dapat
memperbaiki keputusan-keputusan personalia dan memberikan umpan balik
kepada karyawan tentang pelaksanaan kerja mereka. Agar pelaksanaan penilaian
prestasi kerja dapat dilaksanakan dengan baik, aktivitas ini perlu dipersiapkan.
49

System-sistem penilaian harus mempunyai hubungan dengan pekerjaan praktis,


memiliki standar-standar, dan menggunakan ukuran yang dapat diAMDALkan.
Selanjutnya, penilai pun perlu dipersiapkan. Penilai sering tidak berhasil
untuk tidak melibatkan emosinya dalam menilai karyawan, hal ini dapat terjadi
karena berbagai macam factor. Yaitu: hallo effect, enggan menilai hal-hal yang
ekstrem walau seharusnya secara objektif bernilai ekstrem, menilai terlalu lunak
atau terlalu keras, prasangka pribadi serta menilai berdasarkan data atau fakta dari
waktu yang paling akhir saja.
2.4.7 Kompensasi
Cara manajemen untuk meningkatkan prestasi kerja, motivasi, dan
kepuasan kerja para karyawan adalah memalui kompensasi. Kompensasi dapat
didefenisikan sebagai suatu yang diterima karyawan sebagai balas jasa untuk kerja
mereka. Sebelum kompensasi diberikan, terlebih dahulu dilakukan proses
kompensasi, yaitu suatu jaringan berbagai subproses untuk memberikan balas jasa
kepada karyawan bagi pelaksanaan pekerjaan dan untuk memotivasi mereka agar
mencapai tingkat prestasi yang diinginkan. Imbalan atau balas jasa yang diterima
karyawan dibagi atas dua macam, yaitu imbalan yang bersifat financial (sering
disebut kompensasi langsung), satu lagi nonfinansial (sering disebut kompensasi
pelengkap atau kompensasi tidak langsung) yang tidak secara langsung berkaitan
dengan prestasi kerja.

2.4.8 Perencanaan Karier


Karier merupakan semua pekerjaan atau jabatan seseorang yang telah
maupun sedang dilakoninya. Pekerjaan-pekerjaan ini dapat saja berubah realisasi
dari rencana-rencana hidup seseorang, atau mungkin merupakan sekedar nasib.
Dapat dilihat bahwa konsep dasar perencanaan karie seseorang adalah:
- Karier sebagai suatu urutan promosi atau transfer ke jabatan-jabatan yang
lebih besar tanggung jawabnya atau kelokasi-lokasi yang lebih baik
selama kehidupan kerja seseorang.
- Karier sebagai petunjuk pekerjaan yang membentuk suatu pola kemajuan
yang sistematik dan jelas (membentuk satu jalur karier).
- Karier sebagai sejarah pekerjaan seseorang atau serangkaian posisi yang
dipegangnya nselama kehidupan kerja.
50

2.4.9 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Keselamatan dan kesehatan kerja perlu terus dibina agar dapat
meningkatkan kualitas keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Agar
pembinaan dapat berjalan dengan baik, antara lain dapat dilakukan cara-cara
sebagai berikut:
- Tanamkan dalam diri karyawan keyakinan bahwa mereka adalah pihak
yang paling menentukan dalam pencegahan kecelakaan
- Tunjukkan pada karyawan bagaimana mengembangkan perilaku kerja
yang aman.
- Berikan teknik pencegahan kecelakaan secara spesifik.
- Buatlah contoh yang baik.
- Tegakkan standar keselamatan kerja secara tegas.
Kesehatan kerja termasuk didalamnya adalah keselamatan fisik dan
mental. Kesehatan karyawan bisa saja terganggu karena adanya penyakit, stress,
maupun kecelakaan kerja. Dengan adanya program kesehatan kerja diharapkan
pekerja menjadi lebih produktif karena jarang tidak masuk kerja karena sakit.
Oleh karena itu, gangguan-gangguan penglihatan, pendengaran, kelelahan,
lingkungan kerja (misalnya suhu dan kelembaban) dan lainnya perlu dihilangkan
atau diperkecil semaksimal mungkin.
2.4.10 Pemberhentian
Pemberhentian sinonim dengan separation, pemisahan atau pemutusan
Hubungan Kerja (PHK) dari suatu organisasi terhadap karyawannya.
Pemberhentian karyawan ini dapat terjadi oleh berbagai sebab, misalnya:
- Peraturan perundang-undangan yang berlaku;
- Keingingan perusahaan;
- Keinginan karyawan;
- Pension;
- Kontrak kerja telah berakhir;
- Kesehatan karyawan;
- Meninggal dunia, dan
- Perusahaan dilikuidasi.
Pemberhentian dari pekerjaan dapat menimbulkan kerugian-kerugian baik
bagi perusahaan maupun bagi karyawan. Dari sisi perusahaan, kerugian dapat
timbul karena biaya-biaya penarikan, seleksi, dan pengembangan. Dari sisi
karyawan, kerugian dapat timbul karena hilangnya pekerjaan. Agar tidak timbul
masalah karena pemberhentian ini, proses pemberhentian karyawan hendaknya
51

didasarkan pada undang-undang atau peraturan yang berlaku. Namun demikian,


dalam kenyataannya pemecatan sering terjadi. Jika pemecatan terpaksa dilakukan,
hendaklah menurut prosedur yang berlaku.

2.5 ASPEK EKONOMI, SOSIAL, DAN POLITIK


a. Aspek Ekonomi
Cukup banyak data makro ekonomi yang tersebar di berbagai media yang
secara langsung maupun tidak langsung dapat di manfaatkan perusahaan. Data
makroekonomi tersebut banyak yang dapat di jadikan sebagai indicator ekonomi
yang dapat diolah menjadi informasi penting dalam rangka studi kelayakan
bisnis ,misal nya: PDB (Produk Domestiik Bruto) , investasi, inflasi, kurs valuta
asing, kredit perbankan, anggaran pemerintah, penganggaran pembangunan,
perdagangan luar negeri, dan neraca pembayaran.

1. Sisi Rencana Pembangunan Nasional


Analisis manfaat proyek di tinjau di sisi ini,di maksudkan agar proyek
dapat:
a. Memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat
Kegiatan usaha yang dapat di kerjakan oleh tenaga kerja local tidak
perlu di gantikan oleh tenaga kerja asing.
b. Menggunakan sumber daya local
Sumber daya lokalmisal nya bahan baku.komponen bahan baku produk
local jika di manfatkan(dengan catatan kualiatascukup layak sesuai
standart)untuk proses produksi .
c. Menghasilkan dan menghemat devisa
Penggunaan bahan baku yang di ambil dari produk local berarti
mengurangi penggunaan bahan impor.
d. Menumbuhkan industry lain
Dengan adanya proses bisnis yang baru ,di harapkan tumbuh industry
lain baik yang sejenis atau industry pendukung lain nya .seperti industry
bahan baku maupun industry sebagai dampak positif adanya kegiatan
ekonomi di daerah tersebut.
e. Turut menyediakan kebutuhan konsumen dalam negri sesuai
dengan kemampuan
Sebagian sudah di jelaskan pada bagian c,di atas bawah produk yang di
hasilkan atas usaha tersebut dapat memnuhi kebutuhan dalam negri
52

sehingga jika mencukupi tidaklah perlu mengadakan impor yang sudah


tentu akan menguras devisa.
f. Menambah pendapatan nasional
Sudah jelas bahwa dengan bertumbuh nya bisnis di dalam negeri
misalnya:dengan diproduksi nya produk yang di konsumsi secara baik
di dalam negri,maka impor atas produk Dan komponen imputnya
berkurang atau bahkan di tiadakan sama sekali.
2. Sisi Distribusi Nilai Tambah
Maksudnya adalah agar proyek yang akan di bangun memiliki nilai
tambah,nilai tambah hendak nya dapat di hitung secara kuantitatif .dalam
perhitungan tersebut,agar lebih mudah,dapat di asumsikan bahwa proyek dapat
berproduksi dengan kapasitas normal.
3. Sisi Nilai investasi pertenaga kerja.
Penilaian berikutnya adalah bahwa proyek mampu meningkatkan
kesempatan kerja. Salah satu cara mengukur proyek padat modal atau padat karya
adalah dengan berbagai investasi (modal tetap + modal kerja) dengan jumlah
tenaga kerja yang terlibat sehingga di dapat nilai investasi per tenaga kerja.
4. Hambatan di Bidang Ekonomi
Pelaksanaan pembangunan ekonomi terus di laksanakan dalam rangka
menaikkan atau paling tidak mempertahankan pendapatan yang telah di capai.
Bagi Indonesia ,masih banyak tantangan dan hambatan yang di hadapi ,sehingga
tidaklah mudah untuk melaksanakanpembangunan ekonomi ,yang juga
berdampak padaaspek sosialdan politik,ada beberapa penghambat ,diantaranya:
Iklim tropis; menyebabkan terjadinya lingkungan kerja yang panas dan
lembab sehingga menurunkan usaha atau gairah kerja manusia ,banyak
muncul penyakit ,serta membuat pertanian kurang menguntungkan.
Produktivitas rendah; ini di sebabkan oleh kualitas manusia dan sumber
alam yang relative kurang menguntungkan.
Kapital sedikit; ini di sebabkan oleh rendah nya produktivitas tenaga kerja
yang berakibat pada rendah nya pendapatan Negara ,sehingga tabungan
sebagai sumber capital juga rendah .
Nilai perdagangan luar negeri yang rendah; ini di sebabkan Negara miskin
mengAMDALkan ekspor bahan mentah yang mempunyai elastisitas
53

penawaran permintaan atas perubahan harga yang inelastis ,dalam jangka


panjang mengakibatkan kerugian.
Besarnya pengangguran; hal ini di sebabkan karena banyak nya tenaga kerja
yang pindah dari desa ke kota ,dan kota tak mampu menampung tenaga
mereka karena kurang nya factor produksi lain untuk mengimbangi nya
sehingga terjadi nya pengangguran itu.
Besar nya ketimpangan distribusi pendapatan; misalnya keuntungan lebih
banyak di miliki oleh sebagian kecilgolongan tertentu saja.
Tekanan penduduk yang berat; hal ini di sebabkan antara naik nya rata-rata
umur manusia di barengi dengan masih besar nya persentase kenaikan jumlah
penduduk yang makin lama makin membebani sumber daya lain untuk
memenuhi kebutuhan hidup.
Penggunaan tanah yang produktivitasnya rendah; hal ini di sebabkan
karena sector pertanian menjadi mata pencarian utama,di samping itu kualitas
alat-alat produksi ,pupuk,teknik pengolahan juga masih relative rendah.
5. Dukungan Pemerintah
Pemerintah mempunyai kepentingan agar perdagangan yang di lakukan oleh
perusahaan-perusahaan di dalam negri akan menghasilkan devisa bagi Negara.
Salah satu dukungan itu adalah proteksi perdagangan. Instrumen terjadinya
kebijakan proteksi perdagangan banyak ragamnya,tetapi tujuannya satu yaitu
menimbulkan distorsi pasar dalam artian mencegah adanya pasar persaingan
bebas. Instrumen kebijakan proteksi perdagangan dapat di golongkan sebagai
berikut:
a. Kebijakan perdagangan luar negri terbagi 2 instrumen yaitu:
Instrumen tarif,terdiri atas:pajak impor,pajak ekspor,dan subsidi ekspor
Instrumen non-tarif ,terdiri atas dua batasan yaitu: pembatasan kualitatif
dan pembatasan kuantitatif
b. Kebijakan perdagangan dalam negeri,terbagi atas:
Pajak penjualan,retribusi,dan kewajiban pembayaran lain nya.
Pengaturan distribusi barang
Pengaturan (stabilisasi)harga
c. Kebijakan produksi,terdiri atas:
Subsidi/pajak langsung bagi produsen
Perlindungan harga produksi dan saran produksi
54

Pengaturan penggunaan sarana produksi

b. Aspek Sosial
Tujuan utama perusahaan adalah mencari keuntungan yang sebesar-
besarnya. Namun demikian,perusahaan tidak dapat hidup sendirian ,perusahaan
hidup bersama-sama dengan komponen lain, salah satu komponen lain yang di
maksud adalah lembaga sosial sehingga dalam rangka keseimbangan tadi,
hendaknya perusahaan memiliki tanggung jawab sosial.
1. Perusahaan sebagai lembaga social.
Sebuah perusahaan memiliki tugas melaksanakan bermacam-macam
kegiatan dalam waktu bersamaan. Misalnya: manufaktur,bahan baku,
mendistribusikan kepasar, dan lain-lain. Untuk merealisasikan kegiatan
perusahaan tidaklah mudah ,di sana sering timbul ancaman-ancaman sekaligus
peluang-peluang yang datang dari lingkungan,baik eksternal maupun internal.
2. Perubahan kondisi social yang kompleks
Pemecatan karyawan karena berbagai alasan, seperti misalnya karena
karyawan mabuk-mabukan atau perusahaan mengalami kemerosotan keuntungan,
hal yang biasa pada masa lalu. Tindakan seperti ini akan mengakibatkan
terganggunya keseimbangan dalam bidang sosial yang kompleks dalam
perusahaan. Disebabkan karena semakin membaik peraturan perundang-undangan
pemerintah, meningkatnya kualitas SDM, dan lain-lain.
3. Perubahan dalam masyarakat yang pluralistik
Masyarakat pluralistik adalah sebuah kehidupan berbagai kelompok yang
mempengaruhi lingkungan perusahaan dalam mendapatkan harapan-harapan
sosial, ekonomi dan politik. Masing-masing kelompok berusaha mengembangkan
diri supaya fungsi sistem itu efektif. Berkaitan dengan yang di atas, hendaknya
bisnis memiliki manfaat-manfaat sosial yang hendaknya diterima oleh
masyarakat, seperti:
Membuka lapangan kerja baru
Maksudnya di bukakan proyek bisnis akan menggairahkan masyarakat
sekitar untuk turut serta membuka lapangan kerja baru
Melaksanakan alih teknologi
Maksud nya dengan dilakukan nya alih tekhnologi ini kapada pekerja
dengan berbagai cara pelatihan yang terprogram dengan baik maka di
55

harapkan tidak meningkatkan skilpekerja tetapi juga sikap mental


sebagai tenaga kerja yang AMDAL semakin kokoh.
Meningkatkan mutu hidup
Sudah tentu,adanya proyek bisnis turut serta mengurangi angka
pengangguran.
Pengaruh positif
Proyek bisnis hendak nya dapat berpengaruh positif pada masyarakat
sekitar,tidak hanya berdampak pada meningkatnya atau semakin baik
nya kondisi lingkungan fisisk,seperti jalan,jembatan,dan telepon tetapi
juga kondisi lingkungan fisikis mereka.

c. Aspek Politik
Adanya isu, rumor, spekulasi yang timbul akibat kondisi politik yang
diciptakan pemerintah akan mempengaruhi permintaan dan penawaran suatu
produk, baik itu barang maupun jasa. Dalam menganalisis kelayakan bisnis
hendaknya aspek politik perlu pula dikaji untuk untuk memperkirakan bahwa
situasi politk saat bisnis di bangun dan di implementasikan tidak akan sangat
mengganggu sehingga kajian menjadi layak, situasi politik dapat di ketahui
melalui berita-berita dan media massa. Berita tersebut terbagi dua: good news dan
bad news.
Di dalam bisnis good news di maknai dengan berita-berita yang dapat di
terima pelaku pasar tentang berbagai factor atau kondisi suatu Negara yang
berhubungan dengan dunia investasi,yang di nilai mendukung dan memiliki
potensi mendatangkan keuntungan bagi dunia investasi.
Bad news, di sisi lain di maknai sebagai berita yang di terima pelaku pasar
tentang berbagai factor atau kondisi suatu Negara yang berhubungan dengan
dunia investasi yang di nilai tidak mendukung dan memiliki potensi
mendatangkan kerugian bagi dunia investasi. Bad news di hindari pasar karena
dampaknya merugikan dan mengancam dunia investasi. Prakteknya
menyelewengkan dan menyalahgunakan kekuasaan yang di lakukan oleh oknum
pemerintah dalam menjalankan tugas mereka dinilai pasar sebagai bad news
karena mengancam keamanan modal dan usaha mereka, kekacauan politik juga
dapat mendorong lahirnya kondisi politik juga dapat mendorong lahirnya kondisi
social yang tidak aman.
56

Jadi, jelas bahwa aspek politik pemerintah secara langsung ataupun tidak
langsung berpengaruh pada dunia bisnis.makin kacau politik suatu daerah atau
Negara berdampak makin kacau pula dunia bisnis di daerah atau Negara tersebut,
dan begitu pula sebaliknya.

Pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap Nilai Tukar Rupiah


Terhadap Dollar US
Periode Juli 1997-Desember 1999
Nilai tukar Rp/USD
Tanggal Peristiwa-peristiwa Politik Arti
Hari H Hari H+1
Pemerintah bersedia kembali
14-1-98 8.000 7.400 Apresiasi 7,5 %
bekerja sama dengan IMF

26-1-98 Pemerintah membentuk BPPN 13.100 11.000 Apresiasi 16,03%

Habibie berjanji akan menyelidiki


1-6-98 kasus-kasus KKN selama 11.550 11.450 Apresiasi 0,86%
Pemerintahan Soeharto
TNI siap mengurangi peran social
9-11-98 8.450 8.250 Apresiasi 2,36
politiknya
Pemberian opsi merdeka pada
27-1-99 9.175 9.225 Depresiasi 0,54%
propinsi Timtim oleh pemerintah
Pembebasan tokoh Timtim
7-7-99 Xanana Gusmao dari tahanan 8.290 8.735 Depresiasi 5,37%
Kejaksaan
Susunan kabinet Persatuan
26-10-99 Nasional diumumkan (Depsos dan 6.805 6.885 Depresiasi 1,17%
Deppen Dibubarkan)
Beberapa tokoh dijadikan saksi
6-12-99 7.883 7.660 Apresiasi 2,83%
kasus Baligte

Pengaruh skAMDAL Politik Pemerintah terhadap Nilai Tukar


Rupiah terhadap Dollar Us
Periode Juli 1997-Desember 1999
Nilai tukar Rp/USD
Tanggal Peristiwa-peristiwa Politik Arti
Hari H Hari H+1
Soeharto tidak menghadiri KTT Depresiasi
12-12-97 5.120 5.700
Asean, diisukan ia wafat 11,33%
Pemerintah akan menerapkan
currency Board System. IMF Worl
11-2-98 7.200 7.600 Depresiasi 5,55%
Bank mengancam akan
menghentikan bantuannya
57

Jendral Wiranto diangkat menjadi


12-2-98 7.600 8.300 Depresiasi 9,21%
Panglima ABRI
Presiden Soeharto lengser,
21-5-98 10.800 11.000 Depresiasi 1,85%
digantikan oleh Habibie
Pernyataan Menkeu bahwa inner
6-8-99 cyrcle Habibie diduga berperan 7.030 7.045 Depresiasi 0,18%
dalam skAMDAL bank Bali

2.6 ASPEK LINGKUNGAN INDUSTRI


A. Ancaman Masuk Pendatang Baru
Masuknya perusahaan sebagai pendatang baru akan menimbulkan sejumlah
implikasi bagi perusahaan yang sudah ada, misalnya kapasitas menjadi bertambah,
terjadinya perebutan pangsa pasar serta perebutan sumber daya produksi yang
terbatas. Kondisi seperti ini menimbulkan ancaman bagi perusahaan yang telah
ada. Ada beberapa faktor penghambat pendatang baru masuk ke dalam suatu
industri, yang sering disebut Hambatan Masuk.
Faktor-faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Skala Ekonomi. Apabila pendatang baru berproduksi pada skala produksi yang
terus diperbesar dan produksi yang terus menerus diefisienkan sehingga harga per
unit barang menjadi lebih murah.
Diferensiasi Produk. Diferensiasi yang menciptakan hambatan masuk memaksa
pendatang baru untuk mengeluarkan biaya dan usaha yang besar untuk merebut
para pelanggan yang loyal kepada perusahaan utama. Usaha besar misalnya
adalah dengan iklan yang gencar dan pelayanan yang baik. Pada tahap awal,
usaha-usaha ini membutuhkan biaya yang besar dan bahkan mendatangkan
kerugian. Seringkali kondisi ini berjalan cukup lama.
Kecukupan Modal. Jenis industri yang memerlukan modal besar merupakan
hambatan yang besar bagi pemain baru, terutama pada jenis industri yang
memerlukan biaya besar untuk riset dan pengembangan serta eksplorasi.
Biaya Peralihan. Hambatan masuk akan tercipta dengan adanya biaya peralihan
pemasok, yaitu biaya yang harus dikeluarkan pembeli bilamana berpindah dari
produk pemasok tertentu ke produk pemasok lainnya. Biaya peralihan (switching
cost) ini dapat berupa biaya pelatihan kembali karyawan, biaya peralatan
perlengkapan yang baru, dan desain ulang produk. Pada akhirnya, biaya peralihan
yang diperlukan cukup besar, pesaing baru harus memberikan penawaran yang
jauh lebih menarik, terutama soal harga.
58

Akses ke Saluran Distribusi. Jalur distribusi sangat menentukan penyebaran


produk. Perusahaan yang mempunyai jalur distribusi yang luas dan bekerja secara
baik akan sangat menghambat masuknya produk baru ke dalam pasar. Pendatang
baru mungkin sulit memasuki saluran yang ada dan harus mengeluarkan biaya
yang besar untuk membangun saluran sendiri.
Beberapa kondisi yang mungkin dihadapi perusahaan antara lain adalah:
Pembeli membeli dalam jumlah yang besar
Pembeli mampu memproduksi produk yang diperlukan
Sifat produk tidak terdiferensiasi dan banyak pemasok
Switching Cost pemasok adalah kecil
Produk yang dibeli perusahaan mempunyai andil persentase yang besar bagi
biaya produksi pembeli, sehingga pembeli akan menawarkan insentif kepada
pegawainya yang mampu menyediakan produk yang sama dengan harga yang
lebih murah.
Pembeli mempunyai tingkat profitabilitas yang rendah sehingga sensitif
terhadap harga dan diferensiasi servis
Produk perusahaan tidak terlalu penting bagi pembeli, sehingga pembeli
dengan mudah mencari substitusinya.

B. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok (Suppliers)


Pemasok dapat mempengaruhi industri lewat kemampuan mereka
menaikkan harga atau mengurangi kualitas produk atau servis. Pemasok akan kuat
apabila beberapa kondisi berikut terpenuhi:
Jumlah pemasok sedikit
Produk/ pelayanan yang ada adalah unik dan mampu menciptakan switching
cost yang besar
Tidak tersedia produk substitusi
Pemasok mampu melakukan integrasi ke depan dan mengolah produk yang
dihasilkan menjadi produk yang sama yang dihasilkan perusahaan
Perusahaan hanya membeli dalam jumlah yang kecil dari pemasok
C. Pengaruh Kekuatan Stakeholder Lainnya
Kekuatan keenam yang ditambahkan oleh Freeman yang dikutip Wheelen
adalah berupa kekuatan di luar perusahaan yang mempunyai pengaruh dan
kepentingan secara langsung kepada perusahaan. Stakeholder yang dimaksud
antara lain adalah pemerintah, serikat pekerj, lingkungan masyarakat, kreditor,
pemasok, asosiasi dagang, kelompok yang mempunyai kepentingan lain, dan
59

pemegang saham. Pengaruh dari masing-masing stakeholder adalah bervariasi di


antara industri yang satu dengan yang lain

2.7 Aspek Yuridis


Studi ini di maksud untuk meyakini apakah secara yuridis rencana bisnis
dapat dinyatakan layak atau tidak.Jika suatu rencana bisnis yang tidak layak tetap
dihentikan oleh pihak yang berwajib atau oleh protes masyarakat.
A. Siapa Pelaksana Bisnia
Untuk .menganalisis siapa pelaksana bisnis, pembahasanannya di bagi
menjadi dua macam. Yang pertama adalah badan usahanya dan yang kedua
adalah orang-orang atau individu-individu yang terlibat sebagai decision
makers.Hal ini penting agar bisnis berjalan dalam koridor peraturan-
peraturan yang berlaku.
1. Bentuk Badan Usaha
Beberapa bentuk perusahaan di Indonesia, dari segi yuridisnya adalah
seperti di bawah ini.
Perusahaan perseorangan.Jenis perusahaan ini merupakan perusahaan
yang diawasi dan dikelumpulan uola oleh seseorang.Di satu pihak juga
mrmaenanggubentuk perkng semua risikoyang timbul dalam kegiataan
perusahaan.
Firma adalah bentuk perkumpulan usaha yang didirikan oleh beberapa
orang dengan menggunakan nama nama bersama. Di dalam firma semua
anggota mempunyai tanggung jawab sepuhnya baik sendiri maupun
bersama terhadap utang-utang perusahaan terhadap pihak lain. Bila
terjadi kerugian maka kerugian akan di tanggung bersama, bila perlu
dengan kekayaan pribadi. Jika salah satu anggota keluar dari firma, firma
otomatis bubar.
Perseroan komanditer ( CV ) merupakan persekutuan yang didirkan
oleh beberapa orang yang masing-masing sejumlah uang dalam yang
tidak sama. Sekutu perseroan komanditer ini adadua macam, ada yang
disebut komplementer yaitu orang-orang yang bersedia untuk mengatur
perusahaan dan sekutu komanditer yang mempercaya uangnya dan
bertanggung jawab terbatas kepada kekayaan yang diikut sertakan dalam
perusahaan
60

Perseroan Terbatas (PT).Badan jenis ini adalah suatu badan yang mempunyai
kekayaan, hak dan kewajiban yang terpisah dari yang mendirikan dan yang
memiliki.Tanda keikutsertakan seseorang memiliki perusahaan adalah dengan
memiliki saham perusahaan, makin banyak saham yang dimiliki makin besar pula
andil dan kedududkannya dalam perusahaan tersebut.Jika terjadi utang, maka
harta milik pribadi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas utang perusahaan
tersebut, tetapi terbats pada sahamnya saja.
Perusahaan Negara (PN).Perusahaan Negara adalah perusahaan yang begerak
dalam bidang usaha yang modalnya secara keseluruhan dimiliki oleh Negara,
kecuali jika ada hal-hal khusus berdasarkan undang-undang.Tujuan dari pendirian
perusahaan Negara ini adalah untuk mebangun ekonomi nasional menuju
masyarakat yang adil dan makmur.
Perusahaan Pemerintah yang lain. Bentuk perusahaan pemerintah yang lain di
Indonesia adalh Persero, Perusahaan daerah. Persero dan perusahaan daerah
merupakan perusahaan yang mencari keuntungan bagi Negara,sedangkan untuk
Perum dan Perjam bukanlah semata-matamencari keuntungan finansial.
Koperasi merupakan bentuk badan usaha yang bergerak di bidang ekonomi yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya yang bersifat murni,
pribadi dan tidak dapat diahlikan. Jadi ia merupakan suatu wadah yang penting
untuk suatu kesejahteraan anggota berdasarkan kebersamaan. Menurut bidang
usaha, koperasi dikelompokkan menjadi koperasi produksi, koperasi komsumsi,
koperasi simpan pinjam dan koperasi serba usaha. Sedangkan menurut ruas
usahanya, koperasi dibagi atas primer koperasi, ialah koperasi sebagai satuan
terkecil yang melibatkan secara langsung anggotanya. Pusat koperasi yang
merupakan gabungan paling sedikit lima primer koperasi, sedangkan gabungan
koperasi merupakan gabungan paling sedikit tiga pusat koperasi serta induk
koperasi merupakan gabungan paling sedikit tiga gabungan koperasi.
Berkaitan dengan aspek yuridis dalam studi kalayakan bisnis ini, jenis
perusahaan yang akan mengolola dan bertanggung jawab terhadap proyek yang
akan di bangun perlu ditentukan karena masing-masing perusahaan memiliki
karakternya sendiri-sendiri.
2. Identitas Pelaksana Bisnis
61

Adabeberpa peraturan pemerintah yang perlu diketahui berjkaitan dengan


identitas pelaksanaaan bisnis, disesuaikan dengan jenis perusahaan yang
dipilih.Beberapa sisi identitas pelaksana bisnis perlu di teliti, seperti berikut ini.
Kewarganegaraan.Kewarganegaraan sponsor proyek perlu diketahui , hal itu
perlu ada hubungannya denganperaturan berbeda antara warga Negara dengan
warga Negara asing dalam kaitannya dengan pendiriian suatu perusahaan.
Informasi Bank. Ketahui apakah sponsor proyek adalah debitur pada bank lain.
Jika ia, perlu diketahui apakah ada keterlibatan lain misalnya terdapat kemacetan
pembayaran kredit, cek kosong, mauapun jaminan.
Keterlibatan Pidana atau Perdata.Perlu juga diketahui apakah pelaksana
proyek telah terlibat dalam suatu tindakan yang dapat menimbulakan gugatan
ataupun tuntutan.
Hubungan Keluarga. Jika terdapat hubungan suami istri atau orang tua dengan
anak sebagai individu-ndividu yang terlibat dalam rencana proyek bisnis, perlu
diselidiki bagaimana mereka mengatur kebijakan hartanya.Untuk suami istri
apakah mereka nikah dengan harta campuran atau terpisah, untuk orang tua anak
bagaimana kebijakan harta warisan yang di buat.
B. Bisnis Apa yang akan Dilaksanakan.
Selanjutnya perlu dikaji bisnis apa yang akan dilaksanakan, apakah bisnis
itu dilarang atau tidak. Beberapa sisi perlu di analisis sebagai berikut.
Bidang Usaha. Paling tidak bidang usahan dari proyek yang akan di banging
harus sesuai dengan anggaran dasar perusahaan atau telah sesuai corporate
philosophy nya.
Fasilitas.Apabila proyek akan mendapatkan fasilitas-fasilitas tertentu, selidiki
apalah pengurusnya telah diselesaikan secara sah.
Gangguan Lingkungan. Proyek yang akan dilakukan perlu memperhatikan
lingkungan sekitar proyek yang ada. Pencemaran lingkungan yang di timbulkan
oleh proyek akan betampak negative pada proyek itu sendri, seperti pencemaran
udara, air, suaradan moral masyarakat.
Pengupahan .proyek yang membutuhkan tenaga kerja dengan skill yang rendah
biasanya tidal kesulitan memperolehnya dan mereka pun mau di bayar dengan
rendah. System pengupahan perlu memperhatikan standar upah minimum yang
62

ditetapkan pemerintah setempat karena jika dilanggar, keresahan buruh akan


berdampak negative pada proyek.
C. Dimana Bisnis akan Dilaksanakan
lokasi bisnis akan di bangun tidak lepas dari pengaruh-pengaruh yang mungkin
saja dapat merugikan perusahaan. Oleh karena itu, hendaknya lokasi bsnis di
persiapkan dengan baik.Perhatikan misalnya masalah perencanaan dan status
tanah.
Perencanaan wilayah.Lokasi proyek harus direncanakan dengan rencana wilayah
yang telah di tetapkan oleh pemerintah agar mudah mendapatkan ijin-ijin yang
diperlukan. Disamping itu, juga perlu di perhatikan prakiraan situasi dan kondisi
lokais proyek dalam waktu yang akan datang. Peneliti dapat mencari informasi
tentang perencanaan wilayah ini, misalnya dengan menghubungi kantor prmda
setempat yang mengurusi perencanaan wilayah dimana proyek bisnis akan berada.
Status Tanah.Status kepemilikan tanah proyrk harus jelas, jangan sampai ada
masalah dikemudian hari. Peneliti dapat mencari informasi tentang status tanah
ini, misalnya dengan menghubungi kantor badan perthananan nasional ( BPN )
setempat.
D. Waktu Pelaksaan Bisnis
Dalam kaitannya dengan waktu pelaksaan bisnis, tinjauan aspek yuridis terhadap
izin pelaksanaan proyek bisnis menjadi penting diteliti.Semua izin harus mesti
berlaku dan ijin-ijin yang belum dimiliki haruslah dilengkapi dahulu.( minimal
izin prinsip).
E. Bagaimana Cara Pelaksanaan Bisnis
Misalnya perusahaan kekurangan modal untuk menyelesaikan proyek, meminjam
uang dari perorangan atau lembaga keuangan adalah beberapa alternative untuk
mengatasi kesulitan itu.Lembaga keuangan sebagai peminjam telah menentukan
syarat-syarat dalam rangka pengamanan secara yuridis, baik yang bersifat
pencegahan maupun penanggulangan.Syarat-syarat ang ditetapkannyaharus
dipenuhi oleh pelaksana proyek.
F. Peraturan Dan Perundangan
Setiap uasaha yang legal tentu harus mengikuti aturan yang berlaku baik
dalam bentuk undang-undang maupun peraturan lain sebagai penjabatan dari UU
63

tersebut, seperti keputusan menteri, surat keputusan Dirjen dan peraturan daerah.
Dengan mengikuti aturan-aturan yang ada, maka seacara yuridis formal
bisnis/usaha yang akan dijalankan menjadi layak.
Berikut ini di sajikan intisari dari beberapa UU yang berkaitan erat dengan
sector bisnis yaitu UU tentang Perseroan Terbatas (PT), dan tentang perlindungan
konsumen. Dengan demikian, diharapkan pembaca paham bahwa berbisnis tidak
bias lepas dari aturan-aturan. Juga , disampaikan tentang hal-hal umum yang
dimuat dalam akta pemdirian atau amggaran suatau PT . Dengan demikian,
hendaknya pembaca meninjaklanjuti isi atura ini, disesuaikan dengan rencana
bisnisyang akan dilaksanakan.
1. UU No.1 Tahun !((% tentang Dasar Hukum Perseroan Terbatas
UU ini terdiri atas 12 bab dan 129 pasa. Paparannya ringkasannya seperti berikut.
Bab 1 : Ketentuan umum
Secara umum bab ini menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan perseroan
terbatas, organ perseroan , RUPS, Direksi, Komisari, Perseroan Terbuka dan
menteri. Menteri dalam hal ini adalah Menteri Kehakiman Republik Indonesia.
(pasal-16).
Bab 2 : pendirian, anggaran dasar, pendaftaran dan pengumuman.
Bab ini menjelaskan tentang perseroan yang anatara lain mengatakan bahwa
perseroan memperoleh status badan hokum setelah akta pemdirian disahkan
menteri. Akta pendirian memuat anggaran dasar dan keterangan lain. Perubahan
anggaran dasar ditetapkan oleh RUPS dan sebagainya.Selanjutnya direksi
perseroan wajib mndaftarkan dalam daftar perusahaanapaling lambat 30 hari
setelah pengesahan atau persujuan diberikan atau setelah tanggal penerimaan
pelaporan.Selanjutnya direksi bertanggung jawab atas segala perbuatan hokum
yang dilakukan perseroan.( pasal 7-23).
Bab 3 : Modal dan Sahan
Bab ini menjelaskan tentang modal, anatara lain bahwa modal dasar perseroan
terdiri atas seluruh njilai normal saham atas nama atau atas unjuk, minimal
sebesar 200 juta rupiah tetapi dapat saja ditentukan lain tergantung dari PP-nya.
Selanjutnya diatur pula tentang perlindungan terhadap modal dan kekayaan
perseroan, penambahan modal dan pengurangan modal. (pasal 42-45).
64

Bab 4 : Laporan Tahunan dan Penggunaan Laba


Bab ini menjelaskan dua hal, untuk laporan tahunan, setelah 5 bulan setalah tahun
buku perseroan ditutup, direksi menyusun laporan tahunan untuk diajukan ke pada
RUPS yang ditandatangani oleh semua anggota direksi dan komisaris. Jugak
dujelaskan tentang aturan mekanisme penilaian dan setelah penilaian laporan
tahunan oleh RUPS. Untuk penggunaan laba, antara lain diatur mengenai
kewajiban menyisihkan jumlah tertentu dari laba yang diputuskan oleh RUPS
serta aturan mengenai pembagian dividen.
Bab 5 : Rapat Umum Pemegang Saham.
Bab ini menjelaskan tentang tatacara pelaksanaan RUPS. Pejenjelasan RUPS
anatara lain mengeni siapa dan kapan dilaksanakan RUPS, siapa pemberi Izin
RUPS, pemanggil/undangan kepada pemegang saham, hak suara, syarat minimal
anggota yang hadir dalam RUPS. ( pasal 63-78).
Bab 6 : Direksi dan Komisaris
Bab ini menjelaskan tentang direksi sebagai pengurus perusahaan dan jumlah
minimal direksi.Juga menjelaskan tenta ng syarat menjadi anggota, tugas,
wewenang, tanggung jawab serta penghasilan.Juga menjelaskan tentang hak-hal
kepailitan perusahaan serta pemberhentian direksi baik secara permanen maupun
smentara.
Mengenai perihal komisaris, dijelaskan kewajiban perusahaan memiliki
komisaris, bagaimana pengangkatannya, jangka waktu menjabat, tugas,
kewajiban, pengangkatan dan pemberhentiannya.
Bab 7 : Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan.
Bab ini menjelaskan tentang seluk beluk penggabungansatu atau lebih perseroan
dengan perseroan lain yang telah ada atau yang telah meleburkkan diridengan
perseroan lain dan menbentuk perseron baru. Mengenai pengambilalihan juga
menjelaskan mengenai apa, bagaimna, kapan, oleh siapa pengambilalihan
dilakukan. ( pasal 102-209).
2. Hal-hal Umum yang Dimuat dalam Akta Pendirian Sebuah PT.
Nama perusahaan. Pada bagian ini dijelaskan secara rinci mengenai
tatacara memberi nama suatu Pt. misalnya nama perusahaan tidak boleh sama
dengan PT yang sudah ada baik yang sudah dipakai maupun yang masih dalam
65

proses. Juga bukan nama dari salah satu pendiri, pahlawan atau nama yang
disucikan atau dikeramatkan dan bukan nama perusahaan asing.
Tempat Kedudukan PT .Harus dijelaskan sekurang-kurangnya daerah tingkat II
tempat PT itu berdomisili.
Maksud dan Tujuan Berusaha. Yang penting tujuan berusaha tidsk bertentangan
dengan ketentuan yang ada, ketertiban umum dan kesusilaan ( pasal 37 KUHD).
Serta ketentuan dari instansi yan berwenang.
Modal .bagian ini menjelaskan tentang modal usaha. Misalnya modal usaha harus
dinyatakan rupiah, kecuali jika dengan tegas diadakan ketentua lain dengan
berlandaskn pada UU yang berlaku. Modal dasar PT, modal yan diambil
bagian/di tempatkan serta modal yang disetor/ dibayar memiliki ketentuannya
sendiri-sendiri.
Surat Saham.Bagian ini menjelaskan perihal saham perusahaan. Misalnya
bentuknya bentuk saham yang berlaku hanya dikenal saham atas dan atas nama
pemiliknya dan atau surat saham kolektuf untuk dua tau lebih saham. Juga
mengenai tatacara duplikasi saham dan pengelihan saham.
Rapat Direksi.Bagian ini menjelaskan tacara pelaksaan rapat direksi.Misalnya
rapat direksi dapat di panggil oeh direktur utama atau salah satu anggota direksi.
Rapat di pimpin oleh direktur utama, jika ia berhalangn hadir rapat digantikan
oleh satu anggota direksi yang hadir. Juga dibicarakan perihal keputuan rapat,
suara blanko, berita acara dan lain-lain.
Tugas dab Wewenang Komisaris.Pada bagian ini dijelaskan mengenai hak dan
kewajiabn komisaris.Misalnya DK mempunyai tugas untuk mengawasi tindakan
pengurusan dan pengololaan oleh PT direksi, melaksanakan RUPS dan lai-lain.
Dewan Rapat Komisaris.Bagian ini menjelaskan mengenai rapat
komisaris.Misalnya mengenai pimpinan rapat, jumlah pelaksanaan rapat pertahun,
tempat, syarat sah hasil keputusan rapat maupun hasil berita DK.
Rapat Umum Pemegang Saham.Bagian ini menjelaskan rapat umum pemegang
saham yang terdiri atas dua macam rapat, yaitu rapat umum tahunan pemegang
saham dan rapat umum pemegang saham.
66

Pengungutan Suara Dalam RUPS.Bagian ini menjelaskan aturan pemungutan


suara, misalnya hanya memegang saham yang berhak mengeluarkan suara dalam
pemungutan suara.
Perubahan Anggaran Perusahaan. Bagian ini menjelaskan tentang perubahan
anggaran dasar, termasuk misalnya mengubah nama, tempat, kedudukan,
mengubah modal dasar perusahaan. Pengurangan modal dasar wajib diumumkan
dalam berita acara RI.
Langkah dalam Likuidasi. Bagian ini menjelaskan secara lengkap mekanisme
dalam likuidasi perusahaan, misalnya likuidasi dilakukan oleh direksi di bawah
pengawasan dewan komisaris, cara mengumumkan hasil keputusan likuidasi dan
cara pencatatan likuidasi di departemen kehakiman.
3. UU No.8 Tahun 1999 : Tentang Perlindungan Konsumen
UU terdiri dari atas 16 bab dan 65 pasal. Ringkasan isinya adalah sebagai berikut.
Bab 1 : ketentuan umum ( pasal 1)
Bab 2 : asas dan tujuan ( pasal 2-3)
Bab 3 : hak dan kewajiaban. ( pasal 4-7)
Bab 4 : perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha ( pasal 8-17)
Bab 5 : ketentuan pencatuman klausula baku ( pasal 18)
Bab 6 : tanggung jawab pelaku uasaha (pasal 19-28)
Bab 7 : pembinaan dan pewasan (pasal 29-30)
Bab 8 : badan perlindungan konsumen nasional ( pasal 31-45)
Bab 9 : lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.
(pasal 44)
Bab 10 : penyelesaian sanketa ( pasal 45-48)
Bab 11 : badan penyelesaian sengeketa konsumen ( pasal 49-58)
Bab 12 : peyidikan ( pasal 59)
Bab 13 : sanksi (pasal 60-63)
Bab 14 : ketentuan peralihan (pasal 64)
Bab 15 : ketentuan hidup ( pasal 65).

Hak Konsumen
a. Hak atas kenyamanan. Keamanan dan keselamatan dalam mengkomsumni
barang atau jasa.
b. Hak untuk memilih barang atau jasa, serta mendapatkan barang atau jasa
tersebut sesuai dengan alat tukar dan kondisi, serta jaminan yang
dijanjikan.
c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang atau jasa.
67

d. Hak untuk di dengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang
digunakannya.
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, pelindungan dan upaya penyelesaian
sengketa pelindungan konsumen secara patut.
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.
g. Hak untuk di perlakukan dan dilayani secara benar, jujur serta tidak
diskriminatif.
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan penggantian, apabila
barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana semestinya.
i. Hak-hak yang di atur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.

Kewajiban Konsumen
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang atau ajasa demi keamanan dan keselamatan.
b. Beritikad baik dan melakukan transaksi dengan pembelian barang atau
jasa.
c. Membayar dengan benar sesuai alat tukar yang telah disepakati.
d. Mengikuti upaya penyelesaian hokum sengketa perlindungan konsumen
secara teratur.

Hak Pelaku Usaha


a. Menerima pembayaran sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan
alat tukar barang atau jasa yang diperdagangkan.
b. Mendapatkan perlindungan dari konsumen yang beritikad tidak baik.
c. Melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hokum
secara sengketa konsumen.
d. Rehabilitasi nama baik apabila tidak terbukti secara hokum bahwa
kerugian konsumen tidak di akibatkan oleg barang atau jasa yang
diperdagangka.
e. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.

Kewajiban Pelaku Usaha


a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatannya.
b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang atau jasa serta memberikan penjelasan penggunaan barang
68

atau jasa serta memberikan penjelasan penggunaan, perbaikan dam


pemeliharaan.
c. Memperlakukan atau melayanii konsumen secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif.
d. Mennjamin mutu barabg atau jasa yang diproduksi atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang atau jasa yang berlaku.
e. Memberi kepada konsumen untuk menguji atau mencoba barang atau jasa
serta memberi jaminan atau garansi atas barang yang di buat atau
diperdagangkan.
f. Memberi kompensasi, ganti rugi dan penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang atau jasa yang
diperdagangkan.
g. Memberi konpensasi, ganti rui dan penggantian apabila barang atau jasa
yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Sanksi Hukum bagi Pelaku Usaha


Di dalm UU mengenai perlindungan konsumen ini, juga ditentukan
mengenai larangan-larangan dan sanksi hokum bagi pelaku usaha, yakni dalam
bab IV yang terdiri dari 10 pasal dimulai dari pasal 8 -17.
Larangan
Pada dasarnya UU ini tidak melakukan perlakuan yang berbeda masing-masing
pelaku usaha yang menyelenggarakan kegiatan usaha, sepanjang para pelaku
usaha tersebut menjalankan secara benar dan bertanggung jawab.Pasal 8
meruapakan satu-satunya ketentuan umum, yang berlaku seacara umum bagi
kegiatan usaha.Sedangkan pasal 9-16 berisi aturan mengenai promosi dan
penawaran barang atau jasa yang dilarang. Larangan tersebuat secara garis besar
dapat di bagi dalam dua larangan pokok, yaitu:
a. Larangan mengenai produk itu sendri untuk dimanfaatkan konsumen.
b. Larangan mengenai ketersediaan informasi yang tidak benar, dan tidak
akurat, sehingga dapat menyesatkan konsumen.

Sanksi hukum
Sanksi-sanksi yang dikenakan kepada pelaku usaha yang melanggar UU ini
terdapat pada pasal 60 sampai dengan pasal 63.Sanksi-sanksi yang dapat
dikenakan meliputi sanksi pasal 63.Sanksi-sanksi yang dapat dikenakan meliputi
sanksi admintrasi, sanksi pidana pokok dan sanksi pidana tambahan.
69

a. Sanksi admintrasi adalah penyelesaian sengketa konsumen di luar


pengadilan yang dikelola oleh Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.
b. Sanksi pidana pokok, merupakan sanksi yang dapat dikenakan dan
dijatuhkan oleh pengadilan atas tuntutan jaksa penuntut umum
terhadap pelanggaran yang dikenakan oleh pelaku usaha. UU tentang
perilaku konsumen memungkinkan dilakukannya penuntutan pidana
terhadap pelaku usaha.
c. Sanksi pidana tambahan. Bahwa UU ini memungkinkan diberikannya
sanksi pidana tambahan di luar sanksi pidana pokok yang dapat
dijatuhkan. Sanksi-sanksi pidana tambahan yang dapat di jatuhkan
berupa:
1. Perampasan barang tertentu.
2. Pengumuman keputusan hakim.
3. Pembayaran ganti rugi.
4. Perintah penggantian kegiatan tertentu yang menyebabkan
timbulnya kerugian konsumen.
5. Kewajiban penarikan barang dari peredaran.
6. Pencabutan izin surat.

4. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999: tentang Pemerintah Daerah.


Bab 1 : ketentuan umum ( pasal 1)
Bab 2 : pemerintah daerah ( pasal 2-3)
Bab 3 : pembentukan dan susuna daerah ( pasal 4-6)
Bab 4 : kewanagan daerah ( pasal 7-13)
Bab5 : bentuk dan susuan pemerintah (pasal 14-68)
Bab 6 : peratutan daerah dan kepala daerah ( pasal 69-74)
Bab 7 : kepgawaian daerah ( pasal 75-77)
Bab 8 : keuangan daerah ( pasal 78-86)
Bab 9 : kerjasama dan penyelesaian perselisihan ( pasal 87-89)
Bab 10 : kawasan perkotaan ( pasal 90-92)
Bab 11 : desa (pasal 93-111)
Bab 12 : pembinaan dan pengawasan ( pasal 112-114)
Bab 13 :dewan pertimbangan otonomi daerah (pasal 115-116)
Bab 14 : ketentuan lain-lain ( pasal 117-123)
Bab 15 : ketentuan peralihan( pasal 124-130)
Bab 16 : ketentuan penutup ( pasal 131-134)

2.8. ASPEK LINGKUNGAN HIDUP


2.8.1 Mengapa AMDAL ?
Analisis Dampak Lingkungan sudah dikembangkan oleh beberapa negara
maju sejak tahun 1970 dengan nama Environmental Impact Analysis atau
70

Environmental Impact Assesment yang keduanya disingkat EIA. AMDAL


diperlukan untuk melakukan suatu studi kelayakan dengan dua alasan pokok,
yaitu :
1. Karena undang-undang dan peraturan pemerintah menghendaki demikian.
Jawaban ini cukup efektif untuk memaksa para pemilik proyek yang kurang
memperhatikan kualitas lingkungan dan hanya memikirkan keuntungan
proyeknya sebesar mungkin tanpa menghiraukan dampak samping yang
timbul.
2. AMDAL harus dilakukan agar kualitas lingkungan tidak rusak dengan
beroperasinya proyek-proek industri. Manusia dalam usahanya untuk
memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan melakukan aktivitas
yang makin lama makin mengubah lingkungannya. Pada awalnya perubahan
lingkungan itu belum menjadi masalah, tapi setelah perubahan itu menjadi di
luar ambang batas, maka manusia tidak dapat mentolerir lagi perubahan yang
merugikan itu
Pemrakarsa proyek harus membuat AMDAL dengan konsukuensi ia harus
mengeluarkan biaya. Tanggung jawab penyelenggaraan Amdal ini bukan berarti
harus diemban pemrakarsa proyek itu sendiri. Ia dapat menyerahkan
penyelenggaraan ini kepada konsultan swasta atau pihak lain atas dasar saran dari
Pemerintah. Namun, pemrakarsa proyek tetap sebagai pihak yang bertanggung
jawab, bukan pihak konsultan swasta pembuat AMDAL tersebut.

2.8.2 KEGUNAAN AMDAL


AMDAL bukanlah suatu proses yang berdiri sendiri melainkan bagian dari
proses AMDAL yang lebih besar dan lebih penting, menyeluruh dan utuh dari
perusahaan dan lingkungannya, sehingga AMDAL dapat dipakai untuk mengelola
dan memantau proyek dan lingkungannya dengan menggunakab dokumen yang
benar.
Selanjutnya, beberapa peran amdal dijelaskan sebagai berikut :
Peran AMDAL dalam pengelolaan lingkungan. Aktivitas pengelolaan lingkungan
baru dapat dilakukan apabila rencana pengelolaan telah disusun berdasarkan
perkiraan dampak lingkungan yang akan timbul akibat dari proyek yang akan
dibangun. Dalam kenyataannya nanti, apabila dampak lingkungan yang telah
71

diperkirakan jauh berbeda dengan kenyataannya, ini dapat saja terjadi karena
kesalahan-kesalahan dalam menyusun AMDAL atau pemilik proyek tidak
menjalankan proyeknya sesuai AMDAL. Agar dapat dihindari kegagalan
pengelolaan ini maka pemantauan haruslah dilakukan sedini mungkin, sejak awal
pembangunan, secara terus menerus dan teratur.
Peran AMDAL dalam pengelolaan proyek. AMDAL merupakan salah satu
studi kelayakan lingkungan yang disyaratkan untuk mendapatkan perizinan selain
aspek-aspek studi kelayakan yang lain seperti aspek teknis dan ekonomis.
Seharusnya AMDAL dilakukan bersama-sama, dimana masing-masing aspek
dapat memberikan masukan untuk aspek-aspek lainnya sehingga penilaian yang
optimal terhadap proyek dapat diperoleh. Kenyataan yang biasa terjadi adalah
bahwa hasil studi kelayakan untuk aspek lingkungan tidak dapat menghasilkan
kesesuaian di dalam studi kelayakan untuk aspek lainnya. Bagian dari Amdal yang
diharapkan oleh aspek teknis dan ekonomis biasanya adalah sejauh mana
keadaaan lingkungan dapat menunjang perwujudan proyek, terutama sumber daya
yang diperlukan proyek tersebut seperti air, energi, manusia dan ancaman alam
sekitar.
AMDAL sebagau dokumen penting. Laporan AMDAL merupakan
dokumen penting sumber informasi yanng detail mengenai keadaan lingkungan
pada waktu penelitian proyek dan gambaran keadaan lingkungan di masa setelah
proyek dibangun. Dokumen ini juga penting untuk evaluasi, untuk membangun
proyek yang lokasinya berdekatan dan dapat digunakan sebagai alat legalitas.

2.8.2 PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN


Langkah awal tim AMDAL dalam melakukan studi adalah memahami
peraturan dan perundangan yang berlaku mengenai lingkungan hidup di lokasi
tempat studi AMDAL dilakukan. Sumber peraturan dan perundangan tersebut ada
yang berlaku untuk suatu negara saja. Dalam satu negara, dapat saja peraturan dan
perundangannya berlaku menurut propinsi dan sektoralnya.
Berlaku secara internasional. Peraturan-peraturan yang bersifat
internasional penting diperhatikan terutama oleh mereka yang melakukan studi
AMDAL yang dampak proyeknya akan melampaui daerah yang digunakan secara
72

internasional, seperti misalnya proyek yang limbahnya akan dibuang kelaut atau
limbah yang hujan asam. Peraturan-peraturan yang berlaku secara internasional
mengenai AMDAL dapat berupa deklarasi, perjanjian-perjanjian bilateral maupun
multilateral. Sebagai contoh adalah deklarasi Stockholm yang disebut Declaration
of the United Nations Conference on the Human Environment yang oleh semua
negara anggota PBB tahun 1972.
Berlaku di Dalam Negeri. Di Indonesia, peraturan dan perundang-
undangan dapat dijumpai pada tingkat nasional, sektoral maupun regional/daerah.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 51 tahun 1993 tentang Analisis mengenai
Dampak Lingkungan merupakan perturan baru pengganti dari Peraturan
Pemerintah RI nomor 26 tahun 1986. Peraturan Pemerintah ini ditindaklanjuti
oleh SK Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 10-15 tahun 1994. Isi dari
peraturan pemerintah ini penulis sajikan ulang untuk hal-hal yang dianggap paling
penting dari sisi bisnis.
3. KOMPONEN HAMDAL
Yang dimaksudkan dengan AMDAL adalah suatu hasil studi mengenai
dampak suatu kegiatan yang direncanakan dan diperkirakan mempunyai dampak
penting terhadap lingkungan hidup. Analisis ini meliputi keseluruhan kegiatan
pembuatan 5 (lima) dokumen yang terdiri dari PIL (Penyajian Informasi
Lingkungan), RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan), dan RKL (Rencana
pengelolaan lingkungan). AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) adalah
telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu kegiatan
yang direncanakan. Arti dampak penting disini adalah perubahan lingkungan yang
amat mendalam yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. Yang perlu digarisbawahi
dari pengertian di atas adalah tidak semua rencana kegiatan ini dilengkapi dengan
AMDAL karena ia hanya diterapkan pada kegiatan yang diperkirakan akan
mempunyai dampak pernting terhadap lingkungan hidup.
4. SISTEMATIKA PENGELOLAAN LINGKUNGAN
AMDAL merupakan suatu proses panjang dengan sistematika urutan
langkah tertentu menurut PP 29 tahun 1964 secara garis besar langkah-langkah
tersebut dapat dilihat pada penjelesan secukupnya.
73

1. Usulan Proyek. Usulan Proyek datang dari pemrakarsa, yaitu orang atau badan
yang mengajukan dan bertanggung jawab atas suatu rencana kegiatan yang
akan dilaksanakan.
2. Penyajian Informasi Lingkungan. Usulan proyek kemudian mengalami
penyaringan yang bertujuan untuk menentukan perlu atau tidak perlu
dilengkapi dengan AMDAL. Penyaringan dilakukan dengan Penyajian
Informasi Lingkungan atau disebut PIL. PIL ini disusun oleh pemrakarsa sesuai
dengan pedoman yang ditetapkan. Penilaian terhadap PIL dikerjakan oleh
sebuah komisi yang dibentuk oleh instansi yang bertanggung jawab dan
menentukan usulan proyek kedalam 3 kemungkinan, yaitu :
Perlu dibuatkan AMDAL, karena dinilai proyek akan menimbulksn
dampak penting terhadap lingkungan. Langkah selanjutnya adalah
membuat TOR untuk menyusun AMDAL.
Tidak perlu dibuatkan AMDAL, karena diperkirakan tidak akan
menimbulkan dampak penting. Pemrakarsa kemudian menyiapkan RPL
dabn RKL.
PIL kurang lengkap dan dikembalikan ke pemrakarsa proyek untuk
perbaikan sebelum diajukan kembali.

Dalam pada itu, pemrakarsa sejak awal berpendapat bahwa usulan


proyeknya akan memiliki dampak penting, maka pemrakarsa bersama instansi
yang bertanggung jawab dapat membuat langsung AMDAL dengan terlabih
dahulu menyiapkan kerangka acuan. Jadi, dalam hal ini tidak diperlukan PIL.
Pada PP Nomor 51 ketentuan mengenai PIL tersebut ditiadakan.
3. Menyusun Kerangka Acuan
Bila instansi yang bersangkutan memutuskan perlu membuat AMDAL,
pemrakarsa bersama instansi tersebut menyusun kerangka acuan TOR sesuai
dengan pedoman yang telah ditetapkan bagi analisis dampak lingkungan.
4. Membuat AMDAL
Pemrakarsa membuat AMDAL sesuai dengan pedoman yang ditetapkan,
kemudian mengajukannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dikaji
lebih dahulu sebelum mendapatkan keputusan. Kemungkinan hasil penilaian ada
tiga, yaitu:
74

AMDAL disetujui, kemudian pemrakarsa melanjutkan pembuatan RKL dan


RPL
AMDAL ditolak karena dianggap kurang lengkap atau kurang sempurna.
Untuk itu perlu perbaikan dan diajukan kembali.
AMDAL ditolak karena dampak negatifnya, karena tidak dapat ditanggulangi
oleh ilmu dan teknologi yang telah ada, diperkirakan lebih besar dari dampak
positifnya. Dalam kondisi seperti ini pemrakarsa diberi kesempatan untuk
mengajukan keberatan kepada instansi yang berwenang.
5. Membuat RKL dan RPL
Bila AMDAL telah disetujui maka pemrakarsa dapat melanjutkannya dengan
membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL) dan Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL) untuk diajukan kepada instansi yang berwenang. Demikian
pula halnya dengan usulan atau rencana proyek yang tidak memerlukan
AMDAL karena tidak adanya dampak penting.
6. Implementasi Pembangunan Proyek dan Aktivitas Pengelolaan
Lingkungan
Bila RKL dan RPL telah disetujui, maka implementasi proyek dapat dimulai,
lalu dilanjutkan dengan pelaksanan aktivitas pengelolaan lingkungan.
F. ISI LAPORAN AMDAL
Pada bagian ini akan diberikan kerangka tertulis tiga macam dokumen
AMDAL, yaitu dokumen AMDAL, RPL, dan RKL. Disesuaikan dengan tujuan
isi buku, pada baba ini akan diperlihatkan secara garis besar isi laporan RKL,
sedangkan dua macam laporan yang lain, jika dibutuhkan dapat dilihat pada
buku AMDAL yang lain.

DOKUMEN
RENCANA KELOLA LINGKUNGAN (RKL)
Beberapan penjelasan mengenai dokumen RKL disajikan berikut ini :
Lingkup Rencana Pengelolaan Lingkungan
Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang
memuat upaya-upaya mencegah, mengendalikan, dan menannggulangi dampak
penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif
sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan.
Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat
kelompok aktivitas :
75

a. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah


dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif, tata letak (tata
ruang mikro) lokasi, dan rancang bangun proyek.
b. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan menanggulangi, meminimalisasi, atau
mengendalikan dampak negatif baik yang timbul disaat usaha atau kegiatan
beroperasi, maupun hingga saat usaha atau kegiatan berakhir (misalnya :
rehabilitasi lokasi proyek).
c. Pengelolaan lingkungan yang bersifat mengingkatkan dampak positif sehingga
dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada
pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati
dampak positif tersebut.
d. Pengelolaan lingkungan yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi
lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya
tidak pulih, hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau
ekologis) sebagai akibat usaha atau kegiatan.

Kedalaman Rencana Pengelolaan Lingkungan


Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan, maka
dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan, prinsip-
prinsip, atau persyaratan untuk pencegahan/penanggulangan/pengendalian
dampak. Bila dipandang perlu, dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang
rancang bangun untuk pencegahan / penanggulangan / pengendalian dampak. Hal
ini tidak lain disebabkan karena :
a. Pada taraf studi kelayakan, informasi rencana usaha atau kegiatan (proyek)
masih relatif umum, belum memiliki spesifikasi teknis yang rinci, dan masih
memiliki beberapa alternatif. Ini tak lain karena tahap ini memang
dimaksudkan untuk mengkaji sejauh mana proyek dipandang patut atau layak
untuk dilaksanakan ditinjau dari segi teknis dan ekonomis; sebelum investasi,
tenaga dan waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak,. Keterbatasan data dan
informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu
berpengaruh pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan dalam
dokumen RKL.
b. Pokok-pokok arahan, prinsip-prinsip, dan persyaratan pengelolaan lingkungan
yang tertuang dalam dokumen RKL selanjuntya akan diintegrasikan atau
76

menjadi dasar pertimbangan bagi konsultan rekayasa dalam menyusun


rancangan rinci rekayasa.

Rencana Pengelolaan Lingkungan


Renacana Pengelolaan Lingkungan dapat berupa pencegahan dan penanggulangan
dampak negative, serta peningkatan dampak positif yang bersifat strategis.
Rencana Pengelolaan Lingkungan harus diuraikan secara jelas, sistematis, serta
mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut :
a. Rencana pengelolaan lingkungan memuat pokok-pokok arahan, prinsip-prinsip,
pedoman, atau persyaratan untuk mencegah, menanggulangi, mengendalikan
atau meningkatkan dampak penting baik negatif maupun positif yang bersifat
strategis, dan bila dipandang perlu, dilengkapi pula dengan acuan literatur
tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud.
b. Rencana pengelolaan lingkungan dimaksud perlu dirumuskan sedemikian rupa
sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan rancangan
rinci rekayasa, dan dasar pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan.
c. Rencana pengelolaan lingkungan mencakup pula upaya peningkatan
pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa kegiatan dalam
pengelolaan lingkungan hidup melalui kursus-kursus dan pelatihan. Cantumkan
jenis pelatihan atau kursus yang diperlukan pemrakarsa berikut dengan jumlah
serta kualifikasi karyawan yang akan dilatih.
d. Rencana pengelolaan lingkungan juga mencakup pembentukan unti organisasi
yang bertanggung jawab dibidang lingkungan untuk melaksanakan RKL.
Aspek-aspek yang perlu diutarakan sehubungan dengan hal ini antara lain
adalah struktur organisasi, lingkup tugas, dan wewenang unit, serta jumlah dan
kualifikasi personalnya.
Format Dokumen RKL
I. Latar Belakang Pengelolaan Lingkungan
1. Pernyataan tentang latar belakang perlu dilaksanakan rencana pengelolaan
lingkungan baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa, pihak-pihak yang
berkepentingan, maupun untuk kepentingan yang lebih luas dalam rangka
menunjang program pembangunan
2. Uraian secara sistematis, singkat, dan jelas tentang tujuan pengelolaan
lingkungan yang akan dilaksanakan pemrakarsa sehubungan dengan rencana
usaha atau kegiatan.
77

3. Uraian tentang manfaat pelaksanaan pengelolaan lingkungan baik bagi


pemrakarsa usaha atau kegiatan, pihak-pihak yang berkepentingan, maupun
bagi masyarakat luas.
4. Uraikan secara singkat wilayah , kelompok masyarakat, atau ekosistem di
sekitar rencana usaha atau kegiatan yang sensitive terhadap perubahan akibat
adanya rencana usaha atau kegiatan tersebut.
5. kemukakan secara jelas dalam peta denga skala yang memadai (peta
administrative, peta lokasi, peta topografi, dll) yang mencakup informasi
tentang :
(1) Letak geografis rencana usaha dan kegiatan;
(2) Aliran sungai, rawa, danau.
(3) Jaringan jalan dan pemukiman penduduk;
(4) Batas administrastif pemerintah daerah;
(5) Wilayah, kelompok masyarakat, atau ekosistem di sekitar rencana usaha
atau kegiatan yang sensitif terhadap perubahan.

II. Rencana Pengelolaan Lingkungan


Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing damapak yang ditimbulkan
baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut :
1. Dampak Penting dan Sumber Dampak Penting
a. Uraikan secara singkat dan jelas komponen atau parameter lingkungan
yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar. Perlu ditegaskan
bahwa yang diungkapkan hanyalah komponen atau parameter lingkungan
yang terkena dampak penting saja. Uraikan pula sejauh mana taraf
perkembangan rencana usaha atau kegiatan di saat RKL sedang disusun
(studi kelayakan, rancangan rinci rekayasa, atau taraf konstruksi). Selain
itu utarakan pula dampak penting turunannya yang akan turut terpengaruh
akibat dikelolanya dampak penting strategis tersebut.
b. Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak penting :
Apabila dampak penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana
usaha atau kegiatan, maka uraikan secara singkat jenis usaha atau
kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak penting.
Apabila dampak penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen
lingkungan yang lain, maka utarakan secara singkat komponen
78

lingkungan yang merupakan penyebab timbulnya dampak penting


tersebut.
2. Tolok Ukur Dampak
Jelaskan tolok ukur dampak yang akan digunakan untuk mengukur komponen
lingkungan yang akan terkena dampak akibat rencana usaha atau kegiatan
berdasarkan baku mutu standar (ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan);
keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah, lazim digunakan, dan atau
lebih ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan.
3. Tujuan Rencana Pengelolaan Lingkungan
Uraikan secara spesifik tujuan dikelolanya damapk penting yang bersifat strategis
berikut dengan dampak turunannya yang otomatis akan turut
tercegah/tertanggulangi/terkendali.
Sebagai missal, dampak yang secara strategis harus dikelola unutuk suatu rencana
indistri pilp (bubur kertas) dan kertas adalah kualitas air limbah, maka tujuan
upaya pengelolaan lingkungan secara spesifik adalah : Mengendalikan mutu
limbah cair yang dibuang ke sungai XYZ, khususnya parameter BOD5, CDO,
Padatan Tersuspensi Total, dan PH; agar tidak melampui baku mutu limbah cair
sebagaimana yang ditetapkan pemerintah, tentang Baku Limbah Cair Bagi
Kegiatan yang Sudah Beroperasi.
4. Pengelolaan Lingkungan
Jelaskan secara rinci upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat dilakukan
melalui pendekatan teknologi, dan/atau sosial ekonomi, dan/atau institusi. Upaya
pengelolaan lingkunganyang diutarakan juga mencakup upaya pengoperasian unit
atau sarana pengendalian dampak (missal unit pengelolaan limbah), bila unit atau
sarana dimaksud dinyatakan sebagai aktivitas dari rencana usaha atau kegiatan.
5. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Utarakan rencana lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan
sifat persebaran dampak penting yang dikelola. Sdapat mungkin lengkap pula
dengan peta/sketsa/gambar.
6. Periode Pengelolaan Lingkungan
Uraikan secara singkat rencana kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan
lingkungan dilaksanakan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang
79

dikelola (lama berlangsung, sifat kumulatif, dan berbalik tidaknya dampak), serta
kemampuan pemrakarsa (tenaga, dana).
7. Pembiayaan Pengelolaan Lingkungan
Pembiayaan untuk melaksanakan RKL merupakan tugas dan tanggung jawab dari
pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan.
Pembiayaan tersebut antara lain mencakup :
a. Biaya investasi misalnya pembelian peralatan pengelolaan lingkunan serta
biaya untuk kegiatan teknis lainnya.
b. Biaya personal dan biaya operasional
c. Biaya pendidikan serta latihan keterampilan operasional.
8. Institusi Pengelolaan Lingkungan
Pada setiap rencana pengelolaan lingkungan cantumlan institusi atau kelembagaan
yang akan berurusan, berkepentingan, dan berkaitan dengan kegiatan pengolaan
lingkungan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik
ditingkat nasional maupun daerah. Peraturan perndang-undangan yang mengatur
tentang pengelolaan lingkungan sebagaimana diatur dalam pasal 18 UU Nomor 4
Tahun 1982 meliputi :
(1) Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara
Lingkungan Hidup.
(2) Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan.
(3) Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait.
(4) Keputusan Gubernur, Bupati/Walikotamadya.
(5) Peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi
pengelolaan lingkungan

2.9 ASPEK FINANSIAL


A. Kebutuhan Dana dan Sumbernya
Untuk merealisasikan proyek bisnis dibutuhkan dana untuk investasi.
Dana tersebut diklasifikasikan atas dasar aktiva tetap berwujud seperti tanah,
bangunan, pabrik, dan mesin-mesin serta aktiva tetap tak berwujud seperti paten,
lisensi, biaya-biaya pendahuluan dan biaya-biaya sebelum operasi. Disamping
untuk aktiva tetap, dana juga dibutuhkan untuk modal kerja bruto (menunjukkan
investasi semua yang dibutuhkan untuk aktiva lancar). Menghitung modal kerja
80

dapat menggunakan metode yang didasarkan pada waktu yang diperlukan dana
sejak keluar dari kas sampai kembali kas.
Setelah jumlah dana yang dibutuhkan diketahui, selanjutnya yang perlu
ditentukan adalah dalam bentuk apa dana tersebut didapat, yang jelas, yang akan
dipilih adalah sumber dana yang mempunyai biaya paling rendah dan tidak
menimbulkan maslah bagi perusahaan yang mensponsorinya. Beberapa sumber
dana yang penting antara lain adalah:
1. Modal pemilik perusahaan yang distorkan.
2. Saham yang diperoleh dari penerbitan saham dipasar modal.
3. Obligsi yang diterbitkan oleh perusahaan dan dijual dipasar modal.
4. Kredit yang diterima dari bank.
5. Sewa guna (leasing) dari lembaga non-bank.

B. Aliran Kas (Cash Flow)


Laporan perubahan kas (cash flow statement) disusun untuk menunjukkan
perubahan kas selama satu periode tertentu serta memberikan alasan mengenai
perubahan kas tersebut dengan menujukkan darimana sumber-sumber kas dan
penggunanaan-penggunaannya. Kas merupakan aktiva yang paling likuid atau
merupakan salah satu unsur modal kerja paling tinggi likuiditasnya. Prinsip
kehati-hatian perlu ditetapkan dalam menentukan tingkat liquiditas ini, karena jika
tingkat likuiditsnya tinggi dapat saja disebabkan oleh tingkat perputaran kas yang
rendah, keuntungan perusahaan pun rendah. Begitu pula sebaliknya, jika tingkat
likuiditasnya rendah atau jumlah kas sedikit disebabkan misalnya oleh perputaran
kas yang tinggi, memang akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, tetapi
menjadi tidak likuid jika terjadi kebutuhan dana secara mendadak.
Penerimaan dan pengeluaran kas ada yang bersifat rutin dan ada pula yang
bersifat insidentil. Sumber-sumber penerimaan kas dapat berasal dari:
1. Hasil penjualan investasi jangka panjang, aktiva tetap, atau adanya
penurunan aktiva tidak lancar yang diimbangi penambahan kas.
2. Adanya emisi saham maupun penambahan modal oleh pemilik dalam
bentuk kas.
3. Pengeluaran surat tanda bukti utang serta bertambahnya modal oleh
pemilik utang yang diimbangi dengan penerimaan kas.
4. Berkurangnya aktiva lancar selain kas yang diiimbangi dengan adanya
penerimaan kas, misalnya berkurangnya persediaan barang dagangan
karena adanya penjualan secara tunai.
5. Adanya penerimaan ks misalnya karena sewa, bunga, atau dividen.
81

Sedangkan pengeluaran kas dapat disebabkan oleh transaksi-transaksi


sebagai berikut:
1. Pembelian saham atau obligasi dan aktiva tetap lainnya
2. Penarika kembali saham yang beredar dan pengembalian kas perusahaan
oleh pemilik perusahaan.
3. Pembayaran angsuran oleh pemilik perusahaan.
4. Pembelian barang dagangan secara tunai.
5. Pengeluaran kas untuk membayar dividen, pajak, denda, dan lain
sebagainya.
Ada juga transaksi-transaksi yang tidak mempengaruhi uang kas antara
lain adalah:
1. Adanya pengakuan atau pembebanan depresiasi, amortisasi, dan deplesi
terhadap aktiva tetap, intangible assets dan wasting assets.
2. Adanya pemngakuan kerugian piutang baik dengan membentuk cadangan
piutang maupun tidak dan adanya penghapusan piutang tak tertagih.
3. Adanya penghapusan atau pengurangan nilai buku dari aktiva ynag
dimiliki serta penghentian penggunaan aktiva tetap karena telah habis
disusut atau sudah tidak dapat dipakai lagi.
4. Adanya pembayaran dividen dalam bentuk saham (stock dividend), adanya
pembatasan penggunaan laba serta adanya penilaian kembali aktiva tetap
yang ada.
Berkaitan dengan studi kelayakan bisnis, perhitungan terhadap aliran kas
penting dilakukan karena laba dalam pengertian akuntansi tidak sama dengan kas
masuk bersihnya yang bagi investasi justru lebih penting untuk diketahui. Hal ini
mudah dimengerti mengingat hanya dengan kas bersih ini perusahaan dapat
melaksanakan pembayaran kewajiban finansial. Kas mempunyai tiga komponen
utama, yaitu Initial Cash Flow yang berhuungan dengan pengeluaran untuk
investasi dan Opersional Cash Flow yang iasanya mempunyai selisih neto yang
positif yang dapat dipakai untuk mencicil pengembalian investasinya. Yang
ketiga, yaitu Terminal Cash Flow yang merupaka cash flow dari niklai sisa aktiva
tetap yang sudah tidak mempunyai nilai ekonomis lagi dan pengembalian modal
kerja awal. Aliran kas niali sisa ini dikenai pajak jika nilai jual lebih besar dari
pada nilai buku. Kelebihan nilai jual ini (yang merupakan capital gains) dikenai
pajak.
C. Biaya Modal (Cost Of Capital)
82

Konsep cost of capital (biaya-biaya untuk menggunakan modal)


dimaksudkan untuk menentukan berapa besar biaya riil dari masing-masing
sumber dana yang dipakai dalam berinvestasi. Kita perlu menentukan biaya
penggunaan modal rata-rata dari keseluruhan dana yang akan dipakai, sehingga
berdasarkan hal ini patokan tingkat keuntungan yang layak (cut off rate) dari
proyek bisnis ini dapat diketahui. Untuk menghitungnya, karena garis besar
sumber-sumber pembelanjaan terbagi atas utang dan modal sendiri, biaya modal
dari masing-masing sumber harus dihitung, misalnya penilaian investasi dari
biaya utang, aliran kas yang dihitung, misalnya penilaian investasi dari biaya
utang, aliran kas yang dihitung setelah pajak, demikian pula terhadap biaya modal
sendiri.

1. Biaya Utang
Biaya utang untuk jangka panjang maupun jangka pendek dapat dihitung,
misalnya dengan menggunakan konsep present value.
2. Biaya Modal Sendiri
Kelompok biaya modal sendiri dapat dibagi atas biaya saham preferen,
biaya saham biasa, dan biaya laba ditahan. Paparannya disajikan berikut ini.
a. Biaya saham preferen
Saham preferen memberikan penghasilan berupa dividen yang tetap
kepada pemiliknya yang diambilkan dari laba bersih setelah pajak. Untuk
menghitung besar biaya moal saham preferen, dapat digunakan cara yang sama
dengan penghitungan biaya modal utang.
b. Biaya saham biasa
Biaya saham biasa merupakan suatu tingkat keuntungan minimal yang
harus diperoleh suatu investasi yang dibelanjai oleh saham biasa.
c. Biaya laba yang ditahan
Biaya laba yang ditahan pada prinsipnya sama dengan biaya dari saham
biasa. Bedanya, untuk biaya saham biasa memiliki floatation cost, yaitu biaya
yang dikeluarkan untuk dilaksanakan dalam proses saham, sedangkan
menggunakan dana dari laba yang ditahan tidak memerlukan biaya.
D. Initial dan Operational Cash Flow
Operational cash flow merupakan rencana keluar-masuk dana jika proyek
sudah dioperasionalkan. Agar lebih jelas, berikut ini dipaparkan sebuah contoh
83

rancangan initial cash flow dan operational cash flow suatu proyek pembangunan
sistem informasi ankutansi disuatu perusahaan.
E. Analisis Kepekaan (Sensitivity Analysis)
Pada saat kita menganalisis perkiraan arus kas dimasa mendatang, kita
berhadapan dengan ketidakpastian. Akibatnya, hasil perhitungan diatas kertas itu
dapat menyimpang jauh dari kenyataannya. Ketidakpastian itu dapat
menyebabkan berkurangnya kemampuan suatu proyek bisnis dalam beroperasi
untuk menghasilkan laba bagi perusahaan.

Kelemahan Analisis Kepekaan


Diatas sudah dijelaskan manfaat analisis kepekaan , yaitu berupa
pemaksaan kepada manajer proyek untuk mengidentifikasikan sebanyak mungkin
variabel-variabel yang belum diketahui dan mengungkapkan taksiran-taksiran
yang menyesatkan atau yang tidak tepat.selain itu kekurangan dari analisis ini pun
ada, salah satunya adalah sangat relatifnya niali-nilai dari optimistis dan pesimistis
itu sendiri. Masalah kedua adalah mengenai variabel-variabel yang mendasarinya
bisa jadi saling berhubungan (dalam ilmu statistika sering disebut dengan istilah
multikolonieritas)

F. Penilaian dan Pemilihan Investasi


Jika dalam periode yang sama terdapat beberapa usulan proyek yang
ternyata layak untuk direalisasikan, sementara itu, dana atau anggaran yang
tersedia tidak mencukupi, maka perlu dicari jalan keluar, salah satunya adalah
dengan melakukan urutan prioritas terhadap proyek-proyek itu. Bagaimana
melakukan penilaian investasi serta melakukan analisis urutan prioritas
dipaparkan pada bagian ini.
1. Metode penilaian investasi
Studi kelayakan terhadap aspek keuangan perlu menganalisis bagaimana
prakiraan aliran kas akan terjadi.
2. Pemilihan leasing atau beli
Apabila dijumpai suatu kondisi untuk menjawab apakah untuk pengadaan
sesuatu, misalnya mesin produksi akan dilakukan melalui leasing atau beli, dan
dapat ditentukan oleh perusahaan yang digunakan.
3. Urutan prioritas
Apabila dijumpaibeberapa ususlan proyek yang layak untuk dilaksanaka,
padahal hanya akan melaksanakan satu atau sebagian saja dari usulan itu karena
84

keterbatasan sumber daya, sperti dana, maka dapat dilakukan pengurutan prioritas
atau capital rationing untuk menetukan usulan proyek yang paling layak. Proses
pengurutan prioritas ini memiliki beberapa skenario. Lima diantaranya dipaparkan
beriku ini.
a. Skenario mutually exclusive (saling meniadakan). Skenario ini dipakai jika
suatu proyek A dipilih, maka proyek lain harus tidak dipilih.
b. Skenario contigency (saling terkait). Skenario ini dipakai jika suatu
proyek A yang dipilih, maka proyek B (atau mungkin ada proyek lain)
harus diikutsertakan pula, jadi manajemen harus melakukan investasi
terhadap proyek-proyek tersebut. Kriteria-kriteria investasi, seperti PI,
NPV, IRR, dan sebagainya dapat digunakan, setelah semua data tentang
arus kas keluar dan masuk dari kedua proyek ini digabungkan.
c. Skenario independence (saling bebas). Skenario ini, walaupun jarang
dijumpai, digunakan jika suatu proyek A dianggap paling layak
direalisasikan, tidak ada hubungan dengan proyek B (atau proyek lainnya)
yang juga layak direalisasikan. Apakah proyek B akan ditunda , dihapus,
atau diikutsertakan akibat pembangunan proyek A akan dipelajari
kemudian karena dianggap tidak berkaitan.
d. Skenario capital budget constrain (keterbatasan finansial) jika ada
beberapa proyek yang layak untuk dibangun tetapi dana tidak mencukupi
untuk membangun seluruh proyek, tentulah yang akan direalisasikan
hanya satu atau beberapa rpoyek yang memenuhi syarat saja, sperti: ketiga
persyaratan diatas, ketersediaan dana, rencana sisa dana yang terkecil dan
nilai NPV proyek yang paling baik.
Dengan menggunakan persyaratan tersebut, akan terdapat ada dua akibat
yaitu:
Mendahulukan proyek atau proyek-proyek yang paling layak, tetapi
menghapus proyek lainnya karena peluang untuk penundaan tidak ada.
Mendahulukan proyek-proyek yang paling layak, dan menunda proyek
lain untuk tahun-tahun mendatang.
e. Skenario cost effectiveness (biaya efectif). Pengurutan proyek-proyek
dengan cara ini didasarkan pada sumber daya yang mendeak untuk segera
dimanfaatkan, seperti misalnya tenaga kerja yang menganggur. Melihat
kondis pengangguran dinegara kita, apalagi setelah mengalami keadaan
krisis multidemensi sejak lahir tahun 1997, tidak hanya pemerintah, tetapi
85

juga banyak perusahaan yang membantu masyarakat agar mendapatkan


pekerjaan.

2.10 ASPEK ANTISIPASI RESIKO


A. Resiko Pada Aspek SDM
Sengaja penulis mendahulukan pemaparan mengenai risiko SDM, karena
SDM, yang menggerakkan roda perekonomian dan bisnis termasuk dalam
pemanfaatan sumber daya yang ada, memiliki banyak permasalahan yang sudah
tentu memiliki risiko. Lima hal utama yang akan dipaparkan berkaitan dengan
risiko-risiko dalam aspek SDM dalam hubungannya dengan perencanaan strategi
perusahaan, yaitu:

Risiko pada para top eksekutif dan pekerja inti


Risiko pada karyawan
Risko dalam hubungan industri dan perselisihan
Risiko stres dan kesehatan yang buruk
Risiko bila tidak beretika
Sering kali hal-hal diatas bukanlah merupakan risiko bisnis yang dapat
menyebabkan perusahaan jatuh, tetapi jika manajemen gagal dalam
mengendalikan perusahaan, maka perusahaan berada pada kondisi yang berat
untuk dapat bertahan, apalagi berkembang

1. Risiko pada Para Eksekutif dan Pekerja Inti


Ada beberapa risiko yang hendaknya diperhatikan pada kelompok orang
dengan jabatan sebagai eksekutif tingkat atas. Risiko-risiko tersebut antara
lain:
Memiliki eksekutif kepala yang kurang memiliki sense of leadership,
pengetahuan yang luas, tidak tajam dalam berfikir, serta bertindak
tidak fokus.
Memiliki eksekutif kepala yang sulit dikendalikan oleh dewan
komisaris.
Memiliki direktur keuangan yang lemah
Ketidakmampuan manajemen untuk menjawab perubahan lingkungan
usaha dengan cepat dan tepat
86

Struktur organisasi yang tidak efektif sehingga tenaga tingkat


manajerial sering mengerjakan hal-hal yang sifatnya teknis yang
seharusnya dikerjakan oleh staf

Masalah mengenai lemahnya dewan direksi merupakan hal yang


serius karena dapat membuat perusahaan terlena sehingga kehilangan
kesempatan-kesempatan emas, memperbesar kelemahan-kelemahan yang
ada, menghambat inisiatif karyawan yang sudah tentu akan berakibat pada
hengkang-nya karyawan yang baik karena pindah ke perusahaan lain.
Hendaknya chairman dan anggotanya mampu memilih orang-orang yang
tepat untuk duduk sebagai anggota dewan direksi. Mereka yang ternyata
tidak mampu bekerja hendaknya digantikan oleh yang mampu.
Berikutnya adalah yang berkaitan dengan beberapa pekerja inti.
Beberapa perusahaan bergantung pada para pekerja inti atau pekerja senior
dan anggota direksi yang bertanggungjawab untuk melakukan perubahan,
mengendalikan bisnis dan menjaga pelanggan. Jika para pekerja inti/
senior ini pindah ke perusahaan pesaing jelas perusahaan akan berisiko di
kuasai oleh pesaing. Pesaing kini dapat membujuk pekerja utama yang lain
untuk bergabung, mencuri rencana-rencana strategis sampai kepada
membujuk konsumen untuk pindah kepada perusahaan pesaing.

2. Risiko Menangani Karyawan


Perusahaan perlu menciptakan kondisi kerja yang baik bagi para
karyawannya, termasuk gaya manajemen yang lebih terbuka dan layak,
serta kejelasan mengenai reward bagi seluruh pekerja. Selain itu, juga
perlu diperhatikan mengenai kultur yang dapat menilai kerja sama dan
keunggulan, serta kondisi seperti flexitime fasilitas perawatan anak, dan
kerja paruh waktu yang membantu pekerja wanita. Pelatihan dan pelatihan
ulang perlu dilakukan jika perusahaan harus mengembangkan tenaga kerja
yang sanggup untuk memproduksi barang-barang dan pelayanan-
pelayanan yang dapat berubah dengan cepat. Perusahaan yang peduli pada
para pekerjanya digambarkan dengan keinginannya untuk mendengarkan
dan mempelajari, serta melaksanakan perubahan-perubahan yang dapat
meningkatkan kondisi tenaga kerja. Saling berbagi informasi mengenai
87

perusahaan dengan tenaga kerja, termasuk penjualan dan biaya,


merupakan suatu yang diperlukan jika menjadi perusahaan yang berkelas
dunia. Melibat tenaga kerja dalam pembuatan keputusan adalah tanda dari
perusahaan sukses. Hal ini akan mencakup keputusan-keputusan mengenai
strategi perusahaan jangka panjang dan penempatan karyawan sesuai
tingkatannya.
Masalah-masalah kesejahteraan sering kali menyebabkan masalah-
masalah tersebut mencakup seperti amarah karyawan karena pemutusan
hubungan kerja yang tidak adil, penghasilan tambahan yang tidak
transparan, perjanjian tentang wanita hamil, pengurangan fasilitas seperti
tempat ibadah dan kantin, serta situasi kerja yang tidak aman. Beberapa
dari contoh ini mungkin kelihatan seperti tidak penting bagi manajemen,
tetapi hal ini sebenarnya dapat menimbulkan masalah besar.
Pada rekrutmen tenaga kerja dengan kualifikasi tidak memadai akan
menambah risiko bagi kinerja perusahaan kelak. Sampai sekarang ini,
pencarian tenaga kerja di banyak perusahaan masih dikelola dengan
kurang baik. Hal ini sebagian disebabkan oleh adanya pertimbangan-
pertimbangan pribadi serta sulitnya penilaian secara efektif. Pengukuran
IQ sama sekali tidak mengidentifikasikan apakah calon pekerja itu akan
bekerja dengan baik atau tidak. Perusahaan dapat meminimalkan risiko
mereka dengan bekerja secara sistematis.

3. Risiko dalam Hubungan Industri dan Perselisihan


Perusahaan harus melakukan penilaian-penilaian mengenai kemungkinan
adanya pemogokan, memikirkan kerusakan apa yang dapat terjadi, dan
menganalisis bagaimana hal ini dapat di antisipasi, termasuk di dalamnya
perihal membangun buffer stocks dan memindahkan produksi pada pabrik-
pabrik yang lainnya.
Kebanyakan perselisihan dapat diramalkan. Hal ini dapat terlihat dari
hubungan antara manajemen dan serikat kerja yang secara perlahan-lahan
memburuk. Keluhan-keluhan dapat menumpuk selama bertahun-tahun,
dan tenaga kerja yang loyal pernah merasa diperlakukan secara tidak adil.
Perusahan hendaknya memiliki mekanisme untuk memastikan bahwa
keluhan-keluhan karyawan didengar dan ditanggapi secara serius.
88

Manajemen harus berusaha menyampaikan alasan-alasan untuk


disampaikan dan memperoleh persetujuan dari serikat tenaga kerja dan
perubahan-perubahan dilaksanakan.

4. Stres dan Pelayanan Kesehatan yang Buruk


Bersamaan dengan kebiasaan makan yang buruk, merokok, dapat
menyebabkan penyakit jantung koroner. Kebiasaan bolos kerja menjadi
suatu indikator seorang tenaga kerja yang merasa kecewa. Tingkat
kekecewaan dikatakan disebabkan oleh komunikasi yang buruk dan
kegagalan untuk memotivasi para karyawan.
Menurut survey yang dikutip sadgrove diinformasikan bahwa
ketegangan pikiran karena pekerjaan akan membuat seseorang mengambil
waktu istirahar. Menurut survey yang dilakukan oleh Haris Research, ada
sebanyak 28% pekerja Hong Kong yang mengaku biasa bolos kerja,
seperti yang terjadi pada 27% orang-orang Amerika, dan sebanyak 20%
penduduk Britania Raya. Di Spanyol, Negara yang paling sedikit
berhubungan dengan ketegangan pekerjaan, hanya 5% yang mengatakan
mengambil waktu istirahat. Ketidakpuasan dengan pekerjaan menyebar
melintas seluruh tingkatan manajemen, dengan 26% pada tingkat direktur
dan 21% managing director di mana mereka tidak akan memilih pekerjaan
yang sama setelah mereka mulai bekerja lagi. Stress paling berat berada
pada tingkatan manajer. Perusahaan mungkin lupa bahwa karyawan yang
menggunakan waktu istirahat justru akan meningkatkan beban kerja bagi
mereka yang tetap tinggal.

5. Etika
Pelanggaran etika makin lama makin dirasakan sebagai suatu risiko bisnis
yang utama. Berita banyak melansir perihal pelanggaran etika selain kasus
pelanggaran pidana dan perdata lainnya yang memiliki konsekuensi serius
bagi reputasi perusahaan serta keuntungan-keuntungan masa depan. Di
bawah ini dapat dilihat bagaimana perusahaan dapat meningkatkan dan
menangani etika-etika perusahaannya.
a. Konflik di Dalam Bisnis
89

Banyak isu mengenai konflik di dalam bisnis. Seperti diketahui bahwa


tujuan bisnis adalah memperbesar keuntungan dan memperkecil biaya.
Bila dijabarkan secara dangkal hal ini berarti perusahaan memberikan
kualitas produk/layanan termurah bagi bagi harga tertinggi. Berikut
adalah 2 contoh faktor-faktor yang mendukung perusahaan untuk
melalaikan etika. Kebutuhan akan memenangkan kontrak dapat
menggoda perusahaan untuk melanggarnya. Perasaan dari us againt
the world juga dapat mengarah kepada penghalalan segala cara.
Menurut survei yang dilakukan Le Monde, 64% pemimpin perusahaan
di Prancis percaya bahwa korupsi selalu terjadi di perusahaan.

b. Perubahan Kultur Perusahaan


Beberapa perusahaan menyatakan untuk berusaha secara benar, baik
menurut aturan legal maupun moral, tetapi kenyataannya tidak
demikian. Mengapa demikian? Karena sudah terbiasa dengan budaya
perusahaan yang hanya mementingkan maksimalisasi keuntungan
finansial, seorang manajer yang menyatakan bahwa penegakan etika
adalah seuatu yang penting hanya akan dianggap sepele, negatif,
merintangi, dan tidak setia yang mengakibatkan sang manajer sulit
dipromosikan. Pada saat perekonomian sedang mengalami resesi atau
perusahaan tidak mengalami keuntungan yang diharapkan, ancaman
PHK bagi sang manajer sudah berada di depan matanya.
Sulit untuk mengharapkan etika dapat diimplementasikan jika
perusahaan belum mempunyai kultur sendiri. Jika manajemen puncak
menganggap dirinya sendiri sebagai contoh bagaimana beretika di
perusahaan, maka perusahaan berada pada risiko perilaku perusahaan
yang tidak layak. Jika manajemen senior melihat etika-etika hanya
bermanfaat bagi mereka yang berkecimpung di bidang politik , dan
perguruan tinggi saja dari pada sebagai suatu yang fundamental di
dalam perusahaan, maka bahaya-bahaya di dalam perusahaan akan
menjadi kenyataan karena terjadinya pelanggaran hukum.

B. Resiko Pada Aspek Keuangan


90

Di dalam perusahaan, risiko dalam aspek keuangan cukup tinggi. Pada bagian ini
risiko keuangan yang akan dipaparkan adalah mengenai:
Biaya produksi yang berlebihan
Biaya perusahaan
Utang
Pinjaman yang berlebihan

Penjelasan risiko-risiko diatas dipaparkan berikut ini.

1. Biaya Produksi yang Berlebihan

Biaya produksi yang tinggi akan mengakibatkan harga jual produk yang tinggi
pula, sehingga akan sulit bersaing dipasar. Cara pengurangan biaya dapat
dilakukan dengan beberapa cara, misalnya melalui efisiensi dan otomatisasi.
Efisiensi yang ditingkatkan dapat mengurangi biaya-biaya, tetapi hal ini
memerlukan perencanaan yang baik. Contohnya adalah produk selalu tersedia
pada saat diperlukan; tenaga kerja meningkatkan kualitas kerja mereka
sehingga memperkecil waste. Otomastisasi merupakan salah satu jalan keluar
mengurangi biaya produksi, yaitu dengan menggantikan yaitu, dengan
mengganti peran manusia dengan mesin. Sebelum penggantian itu, sudah tentu
perusahaan harus menghitung untung-rugi dengan cara membandingkan biaya
mesin terhadap penghematan pada buruh dan bahan baku.

2. Biaya Overheads yang Tinggi


Bagi perusahaan bersekala besar, biasanya biaya perunit produk yang
dihasilkan lebih rendah dari perusahaan yang lebih kecil, hal ini karena
misalnya pangsa pasar yang dimiliki lebih besar perusahaan yang
berkembang cukup pesat pun membutuhkan biaya-biaya tambahan (seperti
pegawai, aset, dan lain-lain) untuk membantu mendapatkan pasar yang
lebih besar pula. Naiknya keuntungan yang diperoleh perusahaan pada
gilirannya akan menaikkan biaya, misalnya biaya untuk kenaikan gaji
karyawan. Malah juga untuk mendukung kegiatan yang sifatnya sosial.
Tetapi apabila penjualan mulai menurun dan terus menurun. biaya-biaya
perusahaann itu dapat menjadi beban. Oleh karenanya pemotongan biaya
perlu dilakukan, tetapi hendaknya diperioritaskan pada biaya-biaya
91

kegiatan-kegiatan yang tidak siqnifikan untuk menghasilkan penjualan


walaupun tidak mudah melakukannya
3. Utang
Salah satu penyebab terjadinya krisis yang berkepanjangan di Negara
Indonesia sejak pertengahan 1997 lalu adalah utang swasta kepada kreditor
asing yang pada saat jatuh tempo ternyata tidak terbayar. Selain utang
swasta tersebut, ada lagi, kelompok utang yang juga mengakibatkan krisis
menjadi terus berkepanjangan yaitu utang pemerintah pada pihak asing.
Dengan kedua contoh diatas, kiranya perusahaan perlu mengendalikan
utang-utang mereka agar terhindar dari kebangkrutan usaha.

Pencegahan utang. Pada masa perekonomian sedang tumbuh banyak


ingin mengembangkan usahanya secepat-cepatnya karena takut akan
tertinggal oleh para pesaing mereka. Kebijakan-kebijakan perusahaan yang
telah ada kadangkala dilanggar oleh semangat spekulasi yang
mempengaruhi sistem kerja yang ada. Kondisi seperti ini sangat berisiko
bagi kebijakan keuangan perusahaan. Bagi perusahaan yang memiliki
kebijakan keuangan yang ketat cenderung dapat bertahan dari pada yang
lemah. Lebih baik membatalkan usaha-usaha yang berisiko daripada
menanggung utang nantinya.

Penagihan Utang. Penagihan utang yang tidak sensitif dapat


menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Itulah sebabnya mengapa
menyerahkan penagihan utang kepada agen Debt collector bukanlah
suatu solusi yang sederhana. Lebih baik mengerahkan beberapa tenaga
penjualan untuk mengunjungi pembayar yang telat, mendiskusikan
keadaannya dan dengan kabijakan mengusahakan bagaimana cara
pembayarannya. Cara lain untuk mencegah terjadinya utang misalnya
adalah dengan kredit asuransi.

4. Pinjaman yang Berlebihan


Peminjaman yang berlebihan dapat disebabkan oleh 3 faktor utama yaitu:
a. Ketergesaan manajemen, seperti:
Investasi yang berlebihan pada pabrik baru
Diversifikasi yang lemah
Investasi pada saat yang tidak tepat
92

b. Ketidakaktifan manajemen, seperti:


Kegagalan dalam merespons periode jatuhnya penjualan
Kegagalan mencegah jatuhnya penjualan pada lokasi pasar yang
ditentukan
Harga barang terlalu tinggi atau harga di bawah harga pokok
produksi

c. Kenaikan nilai bunga


Nilai utang yang harus dibayarkan ternyata lebih tinggi
Kebutuhan akan modal kerja yang juga lebih besar

Utang mempunya tiga efek yang membahayakan yaitu:


a. Menambah beban perusahaan, sehingga pendapatan terpaksa
digunakan untuk membayar pinjaman-pinjaman dari pada
diinvestasikan
b. Bank atau para pemegang saham mungkin hilang kepercayaan pada
perusahaan dalam hal kemampuannya untuk membayar kembali
pinjamannya. Akhirnya, para pemegang saham mungkin akan menjual
saham-saham mereka, sedangkan bank mungkin menuntut
pembayaran.
c. Jika perusahaan sudah tidak dapat lagi mendapatkan pinjaman dri bank
oleh karena nilai pijamannya sudah maksimal, dan jika perusahaan
tidak mampu lagi membayar utang-utangnya, perusahaan dapat
dilikuidasi.

Untuk ketiga alasan di atas, hendaknya perusahaan yang mempunyai


utang berlebihan harus mencoba menguranginya. Hal ini dapat
dilakukan misalnya melalui penjualan aset.

C. Resiko Pada Aspek Pemasaran


Bagian ini memaparkan bagaimana masalah-masalah dibidang pemasaran
dapat mengakibatkan turunnya penjualan serta rusaknya citra perusahaan.
Sales yang menurun, market share yang mengecil, kurangnya distribusi
barang merupakan sebagian dari tanda-tanda kegagalan pemasaran. Kegagalan
pemasaran tidak lepas dari banyak permasalahan yang ada. Bagian ini akan
memaparkan 10 macam permasalahan pokok, seperti tertera berikut ini:
Kebijakan pemerintah
Perubahan permintaan di pasar
93

Perang harga
Pemalsuan
Performance produk yang rendah
Promosi yang kurang baik
Kesalahan dalam merek
Kegagalan dalam mengembangkan produk baru
Masalah disrtibusi

D. Resiko Pada Aspek Produksi/Operasi

Didalam proses produksi /operasi produk barang dari jasa cukup banyak resiko
yang perlu diantisipasi.Resiko tersebut antara lain adalah mengenai.

Masalah pemasok , resiko terjadi apabila perusahaan menggunakan


pemasok yang ternyata tidak memenuhi komitmen yang sudah mereka
buat. Misalnya komponen-komponen yang dibutuhkan ternyata terlambat
dikirim ataupun rusak .
Kerusakan Kualitas, Resiko karena penerikan kembali barang-barang yang
ditawarkan di pasar yang di sebabkan oleh dua hal.pertama karena kualitas
dan kuantitas barang yang tidak sesuai,misalnya ada barang yang hilang
dan mutu produk yang rendah . krdua karena barang yang ditawar dipasar
adalah produk-produk yang tidak aman di konsumsi
Kekurangan daya saing, Resiko karena berkurang nya daya saing produk
dengan produk sejenis di pasar , misal karena desain yang dibuat dengan
teknologi yang sudah tertinggal.
Penjelasan dari ketiga masalah diatas di paparkan berikut ini.
1. Masalah Pemasok
Kita sering mendengar para pemasok ingkar janji untuk mengirimkan barang
pada waktu yang telah ditentukan dengan berbagai macam alasan. Salah satu
alasannya adalah pemasok ingin melakukan efisiensi biaya pengiriman barang
dengan cara mencoba mengirimkan barang secara serentak kepada
perusahaan-perusahaan yang memesan produk mereka sesuai dengan area
dimana perusahaan-perusahaan tersebut berada. Masalah lain adalah tentang
harga-harga bahan baku yang membumbung tinggi karena terjadinya musibah
kebakaran atau terjadinya masalah dalam proses produksi oleh pemasok
sehingga barang-barang yang dipesan tidak lancar, misalnya terjadi
ketidaksesuaian antara jumlah barang dan waktu pengiriman yang disepakati
94

dengan realisasinya. Akibatnya persediaan barang di gudang perusahaan


menjadi terganggu. Masalah perusahaan akan lebih kompleks jika pemasok
yang menjadi partner usaha cukup banyak. Untuk memperkecil persoalan ini,
mencari pemasok yang berkualifikasi tinggi sudah tentu banyak manfaatnya.
Di masa sekarang ini, pola partnership antara perusahaan dan pemasok lebih
banyak dipakai. Dengan terciptanya hubungan yang lebih dekat dengan
pemasok, berarti kualitas barang yang dipasok dapat meningkat serta masalah-
masalah pengiriman barang yang dipasok dapat meningkat serta masalah-
masalah pengiriman barang pun dapat dikurangi.

Efisiensi persediaan barang digudang dapat dilakukan dengan menggunakan


prinsip Just In Time (JIT). Prinsip ini bertujuan untuk mengurangi bertambahnya
gudang-gudang karena bertambahnya stock barang sehingga dapat memperkecil
risiko terhadap barang maupun biaya yang diakibatkannya. Akan tetapi,
bagaimanapun bagusnya suatu ide, ternyata ada kelemahan-kelemahannya, antara
lain:

Kemacetan lalulintas akan berakibat pada kegagalannya pasokan barang


sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sehingga proses produksi menjadi
rawan dan berisiko tinggi untuk gagal
Meningkatnya frekuensi transportasi dari pemasok ke perusahaan sudah tentu
meningkatkan polusi
Jika pesanan dikurangi maka akan timbul masalah pada sisi pemasok yaitu
biaya persediaan barang pemasok

Selain JIT, ada yang disebut Electronic Data Interchange (EDI). EDI adalah
suatu metode yang berguna untuk memberikan pesan-pesan kepada para pemasok
melalui jaringan komputer. Sistem EDI yang canggih dapat menilai proses
produksi di pabrik pemasok tanpa banyak melibatkan unsur manusia. Dengan
menghindari risiko hilangnya kertas-kertas kerja, maka konsumen dapat
mengurangi risiko-risikonya. EDI juga dapat digunakan secara proaktif sebagai
alat pemasaran agar produknya dapat lebih diterima oleh pelanggan

2. Kerusakan Kualitas Produk


95

Produsen harus sadar bahwa akan muncul risiko yang disebabkan oleh barang-
barangnya. Jadi ia sanggup mengindentifikasikan produk-produk yang rusak atau
yang tidak aman dan juga sanggup untuk menarik kembali barang-barang tersebut
dari pasar jika diperlukan. Agar risiko ini dapat ditekan secaramaksimal maka ia
harus senantiasa melakukan hal-hal berikut ini:

Mengevaluasi para pemasok


Memeriksa proses produksi
Menindaklanjuti keluhan-keluhan pelanggan
Jika perlu membuat batch number terhadap barang-barang agar dapat
diidentifikasi, dan
Tetap menginformasikan hal-hal penting untuk distributor mereka

Untuk melakukan hal-hal di atas diperlukan pengukuran-pengukuran yang


jelas. Namun, tidak ada alat ukur yang sedemikian lengkap. Dengan demikian,
informasi dan komunikasi antara produsen, distributor, dan konsumen hendaknya
dapat terjalin dengan baik. Produsen hendaknya mau memberikan informasi
kepada konsumennya sehingga mereka dapat mengevaluasi risiko dari barang
tersebut. Ada kalanya produsen melakukan pelanggaran hukum dalam hal
memproduksi dan mejual produknya di pasar. Pihak yang berwenang dalam
mengusut masalah ini dapat mengeluarkan suatu peringatan agar perusahaan tidak
memproduksi dan menjual produk yang dimaksud dan memberi hukuman denda
atau penahanan berdasarkan aturan yang berlaku.

3. Berkurangnya Daya Saing


Hendaknya perusahaan memproduksi barang atau jasa yang aman agar terhindar
dari risiko ditinggalkan oleh pasar potensialnya. Barang atau jasa yang aman pun
jika tidak diminati konsumen sulit didapat dipasar, kualitas barang dianggap
rendah, desain produk tidak sesuai selera akan melemahnya daya saing dipasar.
Oleh karenanya, manajemen harus selalu meneliti kinerja perusahaan baik dari
aspek SDM, produksi, pemasaran, dan keuangan. Salah satu sistem yang dapat
digunakan dalam rangka pengendalian kualitas produk adalah Sistem Manajemen
Kualitas.
96

Usaha-usaha meminimalkan risiko produk hendaknya perlu dilandasi dengan


pengertian atau pemahaman bagian utama sistem produksi. Pada intinya,
keberhasilan barang dipasar sampai dikonsumsi oleh konsumennya tergantung
pada berapa besar permintaan pasar akan produk tersebut yang dapat diukur dari
kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen adalah hasil dari kualitas produk
melalui fungsi dan bentuknya. Kualitas ditentukan oleh cara pemrosesan yang
terkontrol. Proses tersebut melibatkan banyak variabel. Proses disusun kedalam
fungsi pemasaran, rancangan, dan pembelian di mana fungsi-fungsi ini hendaknya
dapat bekerja sama dengan baik.

E. Resiko Pada Aspek Sistem Informasi


Walaupun aspek sistem informasi tidak dibahas khusus dalam studi kelayakan
bisnis, hendaknya perlu dipahami bahwa sistem informasi akan tetap berada
dalam aspek-aspek yang lain. Oleh karena itu kiranya perlu pembahasan
mengenai risiko yang mungkin muncul. Kini, sistem informasi sulit dilepaskan
dari komputerisasi. Pada bagian ini dipaparkan risiko yang berkaitan dengan
penggunaan komputer. Hal-hal yang akan dipaparkan adalah:
Berapa nilai data di dalam komputer
Risiko komputerisasi
Minimalisasi risiko komputerisasi
Menetapkan kebijakan komputerisasi