Anda di halaman 1dari 10

Kasus

Topik: Demam Berdarah Dengue + Demam Tifoid


Tanggal (kasus): 28 Agustus 2016 Persenter: dr. Devi Fitriani
Tanggal (presentasi): Pendamping: dr. Munawwar

Tempat Presentasi :
Obyektif Presentasi:
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja Lansia Bumil


Dewasa
Deskripsi : Laki-laki 14 tahun mengeluh demam yang naik turun, sendi terasa pegal-pegal, dan timbul bintik-bintik merah dilengan
Tujuan: Menegakkan diagnosis dan pengobatan awal kasus pasien dengan demam tifoid dan demam dengue
Bahan bahasan: Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas: Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Data pasien: Nama: An. M, laki-laki, 14 tahun Nomor Registrasi: 02-01-64-46
Nama klinik: RSUDTP Telp: (-) Terdaftar sejak: 28 Agustus 2016

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/Gambaran Klinis :
Pasien datang dibawa keluarganya dengan keluhan demam sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam naik turun, biasanya naik pada malam hari.
Setelah demamnya turun, pasien berkeringat banyak. Demam tidak disertai menggigil. Pasien merasa mual dan muntah. Muntah isi apa yang dimakan
dan tidak ada nafsu makan. Selama sakit badan terasa lemas dan pegal-pegal pada otot. Pasien juga mengeluh kepala sering pusing dan kadang-k adang
batuk. Batuk berdahak.
Pasien juga mengeluh juga mengeluhkan ada gusi berdarah, tidak telalu banyak, hanya 2x kali pasien merasakan keluhan seperi itu. Pasien juga
mengeluhkan keluar bintik-bintik merah lengan. BAB dalam batas normal dan BAK dalam batas normal.
2. Riwayat Pengobatan:
Pasien mengkonsumsi obat dari apotik, tapi tidak berkurang. Keluarga pasien tidak ingat nama obat yang dikonsumsi.
3. Riwayat kesehatan/penyakit:
Pasien belum pernah merasakan keluhan seperti ini sebelumnya.
4. Riwayat keluarga:
Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan yang sama.
5. Riwayat pekerjaan:
Pelajar.
6. Lain-lain:
Riwayat kebiasaan sosial: pasien suka minuman dingin.
Riwayat kehamilan dan persalinan : Ibu pasien dalam keadaan sehat selama hamil. Persalinan ditolong bidan. Pasien lahir secara spontan dengan
kehamilan cukup bulan, segera menangis. Berat badan lahir 3300 gr dengan panjang badan 48 cm.
Riwayat Imunisasi : Pasien mendapat imunisasi dasar dengan lengkap.
7. Pemeriksaan Fisik
I. STATUS PRESENT
1. Keadaan Umum : Lemah
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Nadi : 88 x/menit, reguler
4. Frekuensi Nafas : 24 x/menit
5. Temperatur : 37,8o C
6. Berat Badan : 39 kg
II. STATUS GENERAL
A. Kulit
Warna : Sawo matang
Turgor : Kembali cepat
Ikterus : (-)
Pucat : (-)
Sianosis : (-)
Ptechie : di lengan(+/+)
B. Kepala
Bentuk : Kesan Normocephali
Rambut : Berwarna hitam, sukar dicabut
Mata : konj. Palp inf pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga : Sekret (-/-), perdarahan (-/-)
Hidung : Sekret (-/-), perdarahan (-/-), NCH (-/-)
C. Mulut
Bibir : Pucat (-), Sianosis (-)
Lidah : Beslag (+), Tremor (-)
Tonsil : Hiperemis (-)
Faring : Hiperemis (-)

D. Leher
Inspeksi : Kesan simetris
Palpasi : Pembesaran KGB (-), tekanan vena jugularis normal R-2 cmH2O
E. Paru
Inspeksi : Pergerakan dada simetris kanan dan kiri, retraksi intercostal (-)
Palpasi : Stem fremitus(+/+)
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler(+/+) , ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
F. Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
- Palpasi : Ictus cordis teraba ICS V lnea midclavicula sinistra
- Perkusi : Batas atas : ICS III sinistra
Batas kanan : Linea parasternalis kanan
Batas Kiri : ICS V lnea midclavicula sinistra
- Auskultasi : BJ I > BJ II, Reguler, bising (-)

G. Abdomen
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Distensi abdomen (-), Nyeri tekan(-), lien dan hepar tidak teraba.
Perkusi : Tympani usus (+), shifting dullnes (-)
Auskultasi : Peristaltik usus normal

H. Ekstremitas
sianosis (-), oedema (-) ptechie (+/+)

III.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil laboratorium
- Hemoglobin : 12,4 gr/dl
- Eritrosit : 4,5 x 106/mm3
- Leukosit : 3,3 x 103/mm3
- Hematokrit : 37,2 %
- Trombosit : 98 x 103/mm3
Widal Test : O H
S. Typhi : 1/320 neg (-)
S. Paratyphi A : 1/160 neg (-)
S. Paratyphi B : 1/80 1/80
S. Paratyphi C : 1/320 neg (-)

IV. DIAGNOSA
Diagnosa Sementara : Demam Berdarah Dengue + Demam Tipoid
Diagnosa Banding : Demam Dengue dan ISPA
Diagnosa Kerja : Demam Berdarah Dengue + Demam Tipoid

V. PLANNING
1. Darah rutin
2. Widal test

VI. PENATALAKSANAAN
IVFD 2:1 30 gtt/i
Inj. Norages 200 mg/12 jam
Inj. Ampicilin 500 mg/12 jam
Paracetamol tablet 3x250 mg
Ambroxol syr 3xCTH 2
Kompres basah

VII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia bonam
Quo ad sanactionam : dubia bonam
Quo ad functionam : dubia bonam
Daftar Pustaka:
1. www.chp.gov.hk/files/pdf/ol_dengue_fever_indonesian_version.pdf
2. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28625/4/Chapter%20II.pdf
3. http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%20364%20ttg%20Pedoman%20Pengendalian%20Demam%20Tifoid.pdf
4. http://www.jevuska.com/2012/12/05/demam-berdarah-dengue

Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis Demam Berdarah Dengue + Demam Tipoid
2. Pemeriksaan penunjang yang mendukung Demam Berdarah Dengue + Demam Tipoid
3. Langkah penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue + Demam Tipoid

Rangkuman
1. Subjektif:
Pasien datang dibawa keluarganya dengan keluhan demam sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit.. Demam naik turun, biasanya naik pada malam
hari. Setelah demamnya turun, pasien berkeringat banyak. Demam tidak disertai menggigil. Pasien merasa mual dan muntah. Muntah isi apa yang
dimakan dan tidak ada nafsu makan. Selama sakit badan terasa lemas dan pegal-pegal pada otot. Pasien juga mengeluh kepala sering pusing dan
kadang-kdang batuk. Batuk berdahak.
Pasien juga mengeluh juga mengeluhkan ada gusi berdarah, tidak telalu banyak, hanya 2x kali pasien merasakan keluhan seperi itu.pasien juga
mengeluhkan keluar bintik-bintik merah lengan. BAB dalam batas normal dan BAK dalam batas normal.

2. Objektif:
Hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang sangat mendukung diagnosis demam dengue dan demam tifoid. Pada kasus ini
diagnosis ditegakkan berdasarkan:
Gejala klinis (berupa demam naik turun, mual, muntah, lemas,pegal-pegal sendi, kepala pusing, penurunan nafsu makan, timbul bintik-bintik
merah dilengan, gusi berdarah)
Pada pemeriksaan fisik dijumpai adanya ptechie di lengan dan pemeriksaan fisik lain dalam batas normal
Pada pemeriksaan penunjang yaitu hematokrit yang mulai menunjukkan peningkatan, trombositopenia, widal test

3. Asesmen (penalaran klinis):


Nyamuk Aedes spp yang sudah terinfesi virus dengue, akan tetap infektif sepanjang hidupnya dan terus menularkan kepada individu yang rentan
pada saat menggigit dan menghisap darah. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, virus de-ngue akan menuju organ sasaran yaitu sel kuffer hepar,
endotel pembuluh darah, nodus limpaticus, sumsum tulang serta paru-paru. Beberapa penelitian menunjukkan, sel monosit dan makrofag
mempunyai peran pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan masuknya genom virus ke dalam sel dengan bantuan organel sel dan membentuk
komponen perantara dan komponen struktur virus. Setelah komponen struktur dirakit, virus dilepaskan dari dalam sel. Infeksi ini menimbulkan
reaksi immunitas protektif terhadap serotipe virus tersebut tetapi tidak ada cross protective terhadap serotipe virus lainnya. Secara invitro, antobodi
terhadap virus dengue mempunyai 4 fungsi biologis yaitu netralisasi virus, sitolisis komplemen, antibody dependent cell-mediated cytotoxity
(ADCC) dan ADE. Berdasarkan perannya, terdiri dari antobodi netralisasi atau neutralizing antibody yang memiliki serotipe spesifik yang dapat
mencegah infeksi virus, dan antibody non netralising serotype yang mempunyai peran reaktif silang dan dapat meningkatkan infeksi yang berperan
dalam pathogenesis DBD dan DSS.

Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman
dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa IgA usus
kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel terutama sel M dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak
dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke
plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam
makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ
retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel
atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-
tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik, seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala dan sakit perut.

4. Plan:
Diagnosis:
Berdasarkan hasil dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien dapat didiagnosis demam berdarah dengue + demam tifoid.
Pengobatan:
Pengobatan pada demam berdarah dengue + demam tifoid
1. Terapi suportif/simptomatis.
IVFD 2:1 30 gtt/i
Inj. Norages 200 mg/12 jam
Inj. Ampicilin 500 mg/12 jam
Paracetamol tablet 3x250 mg
Ambroxol syr 3xCTH 2
Kompres basah
Pendidikan:
Keluarga juga perlu diberikan penjelasan mengenai perjalanan penyakit dan prognosis pada pasien ini serta kepentingan rujukan ke spesialis ahli.
Perlu diberi pengarahan kepada keluarga bahwa pengobatan DBD dan demam tifoid memerlukan waktu mimimal 5-7 hari dan harus istirahat total
dan penderita harus minum obat. Kepatuhan pasien memang diharapkan dalam pengobatan DBD dan demam tifoid.
Konsultasi:
Dijelaskan perlunya konsultasi dengan spesialis anak untuk penanganan selanjutnya. Penjelasan mengenai faktor-faktor yang berperan dalam
terjadinya DBD dan demam tifoid beserta prognosis pada pasien ini.

LAPORAN KASUS
(PORTOFOLIO)
NAMA PESERTA : dr. Devi Fitriani
WAHANA : RSUD Teungku Peukan, Aceh Barat Daya
JENIS KASUS :
JUDUL : DEMAM BERDARAH DENGUE
Mengetahui,
Pendamping

dr. Munawwar