Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

Absorbsi Obat Per Oral secara In Situ

Kelompok C-3 :
Istiqomah Taradhita 142210101064
Firdha Aprillia W. 142210101066
Zumatul Amilin 142210101068
Vinsensia Meykarlina 142210101086
Putri Rifanda 142210101088
Desy Wulandari 142210101092
Rizka Okta Ayu N. 142210101094

Dosen Jaga : Viddy Agustian R. S.Farm., M.Sc., Apt.

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2017
LEMBAR PERNYATAAN

Kami yang bertanda tangan dibawah ini :


Golongan Praktikum : C
Kelompok :3
Judul Praktikum : Absorbsi Obat Per Oral Secara in Situ

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan Laporan Praktikum ini


berdasarkan hasil percobaan, pemikiran dan pemaparan asli dari kelompok kami
sendiri. Jika terdapat karya orang lain, kami akan mencantumkan sumber yang
jelas. Apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam
pernyataan ini, maka kami bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan perundang-
undangan yang berlaku.
Demikian surat pernyataan ini kami buat untuk dipergunakan sebagaimana
mestinya.

Jember, 04 April 2017


Yang membuat pernyataan, Yang membuat pernyataan,

Istiqomah Taradhita Firdha Aprillia W.


NIM. 142210101064 NIM. 142210101066
Yang membuat pernyataan, Yang membuat pernyataan,

Zumatul Amilin Vinsensia Meykarlina


NIM. 142210101068 NIM. 142210101086
Yang membuat pernyataan, Yang membuat pernyataan,

Putri Rifanda Desy Wulandari


NIM. 142210101088 NIM. 142210101092
Yang membuat pernyataan,

Rizka Okta Ayu N.


NIM. 142210101094
Mengetahui,
Dosen Jaga Praktikum

Viddy Agustian R. S. Farm., M.Sc., Apt.


NIP. 198608302009121007
Absorbsi Obat Per Oral secara In Situ

1. Tujuan
Mempelajari pengaruh pH terhadap absorbs obat, yang diabsorbsi melalui
difusi pasif dan percobaan dilakukan secara in situ

2. Teori Dasar
Untuk dapat memberikan efek, suatu obat harus berada di tempat
aksinya dan darah adalah satu-satunya alat transpotasi yang dapat
menghantarkan obat ke tempat aksinya tersebut. Sedangkan untuk mencapai
peredaran darah, suatu obat harus mengalami serangkaian proses absorbsi.
Abrobsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam
darah. Absorbsi bergantung pada cara pemberiannya. Menurut Ansel (1989)
obat yang diberikan secara oral harus menembus membran lambung usus
(lambung-usus halus dan usus besar). Absorpsi obat melalui saluran cerna
pada umumnya terjadi secara difusi pasif. Absorpsi obat di usus halus selalu
lebih cepat dibandingkan di lambung karena permukaan epitel usus halus jauh
lebih luas dibandingkan epitel lambung.
Studi tentang absorbsi obat sangat penting untuk dapat memprediksi
profil intensitas efeknya. Banyak variasi metode yang digunakan untuk
meneliti absorpsi obat, diantaranya adalah metode in situ. Metode ini adalah
metode yang paling dekat dengan sistem in vivo.
Percobaan absorbsi obat secara in situ melalui usus halus didasarkan
atas penentuan kecepatan hilangnya obat dari lumen usus halus setelah
larutan obat dengan kadar tertentu dilewatkan melalui lumen usus halus
secara perfusi dengan kecepatan tertentu. Cara ini dikenal pula dengan nama
teknik perfusi, karena usus dilubangi untuk masuknya ujung kanul, satu kanul
di bagian ujung atas usus untuk masuknya sampel cairan percobaan dan satu
lagi bagian bawah untuk keluarnya cairan tersebut. Cara ini didasarkan atas
asumsi bahwa obat yang dicobakan stabil, tidak mengalami metabolisme
dalam lumen usus, sehingga hilangnya obat dari lumen usus tersebut adalah
karena proses absorbsi.
Bagi obat-obat yang berupa asam lemah atau basa lemah, pengaruh
pH terhadap kecepatan absorbsi sangat besar, karena pH akan menentukan
besarnya fraksi obat dalam bentuk tak terionkan. Bentuk ini yang dapat
terabsorbsi secara baik melalui mekanisme difusi pasif.
Metode ini dapat digunakan untuk mempelajari berbagai faktor yang
dapat berpengaruh pada permeabilitas dinding usus dari berbagai macam
obat. Pengembangan lebih lanjut dapat digunakan untuk merancang obat
dalam upaya mengoptimalkan kecepatan absorbsinya melalui pembentukan
prodrug, khususnya untuk obat-obat yang sangat sulit atau praktis tidak dapat
terabsorbsi. Melalui metode ini akan dapat diungkapkan pula besarnya
permeabilitas membran usus terhadap obat melalui lipoid pathway, pori, dan
aqueous boundary layer.
Metode Trough and Trough merupakan salah satu cara pengobatan in
situ. Cara ini dilakukan dengan menentukan fraksi obat yang terabsorbsi,
setelah larutan obat dialirkan melalui lumen intestine yang panjangnya
tertentu dan kecepatan alirnya tertentu pula. Dalam keadaan tunak proses
absorbsi dapat dinyatakan dengan persamaan :

C(1) Q
Papp = In C (0)
x 2 rl

Dimana,
C(0) = kadar larutan obat mula-mula
C(1) = kadar larutan obat setelah dialirkan melalui intestine sepanjang 1 cm
r = jari-jari usus
l = panjang usus dalam cm
Q = kecepatan alir larutan obat dalam mL/menit
Papp = tetapan permeabilitas semu
3. Metode
Melakukan percobaan absorbsi in situ parasetamol per oral. Percobaan
dilakukan dalam dua kondisi uji yaitu pada kondisi asam menggunakan CLB
tanpa enzim dengan pH 1,2 dan kondisi normal-basa menggunakan CUB tanpa
enzim pH 7,4. Kadar parasetamol diukur dengan metode spektrofotometri UV.
1) Membuat larutan CLB tanpa enzim dan CUB tanpa enzim masing-masing
sebanyak 1 liter (Farmakope Indonesia Edisi IV)
a. Pembuatan Cairan Lambung Buatan (CLB)

Melarutkan 2,0 gram NaCl p dalam 7,0 mL asam klorida p dan air
secukupnya hingga 1000 mL

Mengukur pH larutan (lebih kurang 1,2)


b. Pembuatan Cairan Usus Buatan (CUB)

Melarutkan 6,8 gram kalium fosfat monobasa p dalam 250 mL air

Mencampur dan menambahkan 190 mL Na Hidroksida 0,2 N dan 400


mL air

Mengatur pH hingga 7,50,1 dengan Na Hidroksida 0,2 N

Mengencerkan dengan air hingga 1000 mL

2) Membuat kurva baku parasetamol dalam CLB dan CUB tanpa enzim dengan
kadar 0,2 mg/mL; 0,4 mg/mL; 0,6 mg/mL; 0,8 mg/mL; dan 1 mg/mL
(sebelumnya dilakukan pencarian panjang gelombang maksimum
parasetamol dalam CLB dan CUB tanpa enzim)
3) Melarutkan 500 mg parasetamol masing-masing dalam larutan CLB dan CUB
tanpa enzim 500 mL
4) Menetapkan kadar parasetamol dalam CLB dan CUB sebagai konsentrasi
awal (C0)

Memipet masing-masing 2,0 mL larutan parasetamol dari larutan


parasetamol dalam CLB dan CUB tanpa enzim

Mengukur absorbansi masing-masing menggunakan panjang


gelombang maksimum yang sudah dicari
Menghitung kadar parasetamol menggunakan persamaan kurva
kalibrasi
5) Percobaan Absorbsi pada tikus teranestesi

Menggunakan dua ekor tikus putih jantan, tikus pertama digunakan


untuk uji menggunakan CLB dan tikus kedua digunakan untuk uji
menggunakan CUB
Memuasakan tikus selama 24 jam, hanya boleh diberi minum

Melakukan anestesi tikus menggunakan eter

Membedah perut tikus sepanjang linea medina sampai jelas terlihat


bagian ususnya

Mencari bagian lambung, mengukur 15 cm dari lambung kea rah anal


Pemasangan
menggunakan benang,kanul sedemikian
dengan hati-hati rupa
dibuatsehingga
lubang ujungnya mengarah
dan memasukkan ke
kanul
bagian anal
dan mengikatnya dengan benang
Menghubungkan kanul dengan selang infus menuju labu infus berisi
CLB dan CUB

Mengukur usus dari ujung kanul dengan pertolongan benang ke arah


anal sepanjang 20 cm dan membuat lubang kedua

Memasang kanul kedua dengan ujung kanul mengarah ke bagian oral


dari usus dengan benang dan menghubungkan kanul dengan selang infus
menuju gelas kimia

Membuka kran infus dan membiarkan CUB atau CLB mengalir


melalui usus dan keluar sampai ke gelas kimia, membiarkan hingga cairan
yang keluar jernih

Mengganti labu infus menggunakan CUB atau CLB yang mengandung


parasetamol
Mencatat volume CUB atau CLB yang tertampung dalam gelas kimia
dan menentukan kecepatan alirnya (Q) = volume terukur / 30 menit
Mengaliri usus selama 30 menit

Memotong usus tikus antara kedua ujung dan mengukur panjangnya


menggunakan penggaris (data yang terukur sebagai l)

Mengikat ujung usus dan memasukkan aquadest melalui ujung yang


lain sampai usus menggelembung

Mengukur diameter usus menggunakan jangka sorong dan


menentukan jari-jarinya (r)
6) Penetapan kadar parasetamol dalam CUB atau CLB yang tertampung sebagai
konsentrasi akhir (C1)

Memipet sebanyak 2,0 mL CUB atau CLB yang tertampung dalam

Mengukur absorbansi masing-masing menggunakan panjang


gelombang maksimum yang sudah dicari

Menghitung kadar parasetamol menggunakan persamaan kurva

7) Perhitungan Papp

Menghitung Papp (CUB) dan Papp (CLB) menggunakan data yang


telah diperoleh dengan memasukkan pada persamaan Papp

Membandingkan kedua Papp tersebut

Menganalisis data tersebut


4. Hasil dan Perhitungan
Berat tikus + holder = 265,3 gram
Berat holder kosong = 122 gram
Berat tikus = 143,3 gram

Perhitungan dosis:
100 mg/kgBB x 143,3 gram = 14,33 mg
1000 gram
14,33 mg = 0,28 mL
50 mg/mL

a. CUB
Keliling usus = 2r
1,8 cm = 2.3,14.r
r = 0,29 cm
Diameter usus = 0,58 cm
Panjang usus = 22 cm
Absorbansi C0 = 0,358 (hasil pengenceran 200 kali)
Absorbansi C1 = 0,231 (hasil pengenceran 200 kali)

y = 0,067x 0,012
C0 y = 0,067x 0,012
0,358 = 0,067x -0,012
0,370 = 0,067x
x = 5,52 ppm (pengenceran 200 kali)
x = 5,52 ppm x 200
x = 1104 ppm

C1 y = 0,067x 0,012
0,231 = 0,067x 0,012
0,243 = 0,067x
x = 3,627 ppm (pengenceran 200 kali)
x = 3,627 ppm x 200
x = 725,4 ppm

Q = volume terukur / 30 menit


= 50 mL / 30 memit
= 1,667 mL/menit

C1 2 r l
ln = x Papp
Co Q
725.4 ppm 2 x 0.29 x 22 cm
ln = x Papp
1104 ppm 1.667 ml/menit
-0.420 = -7.654 Papp
Papp = 0.0549 cm/menit

b. CLB
r = 1 cm
Diameter usus = 2 cm
Panjang usus = 22 cm
Absorbansi C0 = 0,309 (hasil pengenceran 200 kali)
Absorbansi C1 = 0,415 (hasil pengenceran 200 kali)

C0 y = 0,0613x 0,0665
0,309 = 0,0613x -0,0665
0,2425 = 0,0613x
x = 3,956 ppm (pengenceran 200 kali)
x = 3,956 ppm x 200
x = 791,2 ppm

C1 y = 0,0613x 0,0665
0,415 = 0,0613x 0,0665
0,3485 = 0,0613x
x = 5,685 ppm (pengenceran 200 kali)
x = 5,685 ppm x 200
x = 1137 ppm

Q = volume terukur / 30 menit


= 40 mL / 30 memit
= 1,33 mL/menit

C1 2 r l
ln = x Papp
Co Q
791.2 ppm 2 x 1 x 22 cm
ln = x Papp
1137 ppm 1.33 ml /menit
0.362 = -33.083 Papp
Papp = 0.0109 cm/menit

5. Pembahasan
5.1 Absorbsi Obat secara In Situ
Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan absorbsi paracetamol
peroral. Percobaan dilakukan dalam dua kondisi uji yaitu pada kondisi asam
menggunakan cairan lambung buatan (CLB) tanpa enzim pH 1,2 dan pada kondisi
basa menggunakan cairan usus buatan (CUB) tanpa enzim pH 7,4. Kadar
paracetamol diukur menggunakan metode spektrofotometri.
Percobaan ini dilakukan untuk mengamati pengaruh pH terhadap absorbsi
parasetamol melalui difusi pasif dan percobaan dilakukan secara in situ. Metode
in situ merupakan suatu metode uji yang dilakukan dalam organ target tertentu
yang masih berada dalam sistem organisme hidup. Bedanya dengan uji in vivo,
ialah karena pada uji in situ organ target diusahakan tidak dipengaruhi oleh organ
lain sehingga profil obat yang diamati hanya berdasarkan pada proses yang terjadi
pada organ tersebut tanpa dipengaruhi oleh proses yang terjadi pada organ lain.
Sedangkan bedanya dengan uji in vitro ialah organ pada uji in situ masih menyatu
dengan sistem organisme hidup, masih mendapat suplai darah dan suplai oksigen.
Metode in-situ memiliki kelebihan dibandingkan metode in-vitro.
Walaupun hewan percobaan sudah dianastesi dan dimanipulasi dengan
pembedahan, suplai darah mesentris, neural, endokrin, dan limpatik masih utuh
sehingga mekanisme transpor seperti yang terdapat pada mahluk hidup masih
fungsional. Sebagai hasilnya, laju dari metode ini lebih realistik dibandingkan
dengan hasil yang diperoleh dengan metode in-vitro).
Metode absorbsi in situ sering disebut teknik perfusi karena usus dilubangi
satu untuk memasukkan sampel dan dilubangi satu lagi untuk keluarnya sampel.
Cara ini didasarkan asumsi bahwa hilangnya obat dari lumen usus dikarenakan
proses absorbsi, obat dianggap stabil dan tidak mengalami metabolisme di usus.
Metode in situ digunakan untuk mempelajari faktor yang mempengaruhi
permeabilitas usus, untuk mengoptimalkan kecepatan absorbsi pada sediaan
prodrug dan pada obat yang sangat sulit atau praktis tidak dapat terabsorbsi. Pada
percobaan kali ini absorbsi obat melalui difusi pasif, artinya absorbsi tidak
menggunakan energi, terjadi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dan
tidak melawan gradien konsentrasi.

5.2 Prosedur Kerja Praktikum


Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui absorbsi obat per oral secara in
situ. Pada praktikum ini, setiap kelompok melakukan satu percobaan absorbsi
parasetamol menggunakan satu kondisi saja, yaitu pada kondisi asam
menggunakan CLB tanpa enzim dengan pH 1,2 atau kondisi normal-basa
menggunakan CUB tanpa enzim pH 7,4. Kelompok kami melakukan percobaan
absorbsi parasetamol meggunakan CUB. Pada kelompok kami dua anggota
bertugas untuk membuat CUB dan kurva baku, sedangkan anggota yang lain
melakukan percobaan absorbs parasetamol secara in situ pada tikus.
Proses yang dilakukan pada paktikum ini umumnya sama, yang
membedakan hanyalah kondisi uji yang digunakan dengan menyesuaikan
kondisi saluran cerna asli tempat dimana obat diabsorbsi. Kondisi uji
berupa cairan lambung buatan (CLB) tanpa enzim pH 1,2 dancairan usus
buatan (CUB) tanpa enzim pH 7,4. Cairan lambung buatan (CLB) tanpa enzim pH
1,2 dibuat dengan mencampurkan 2 gram natrium klorida dengan 7 ml
asam klorida pekat, kemudian ditambahkan aquadest ad 1 liter. Sedangkan
untuk cairan usus buatan (CUB) tanpa enzim pH 7,4 dibuat dengan cara
mencampurkan 6,8 ml Kalium Hidrogen Fosfat dengan 250 ml air suling
kemudian menambahkan 190 ml NaOH 0,2 N yang diencerkan hingga 400 ml.
Selanjutnya pH campuran diatur hingga mendekati 7,4 dengan penambahan
NaOH 0,2 N. Setelah itu menambahkan air suling hingga 1 liter. Pada praktikum
yang kami lakukan, pH CUB yang didapatkan adalah 7,41.
Selanjutnya membuat kurva baku parasetamol dalam CUB tanpa enzim
dengan kadar 2 mg/ml, 4 mg/ml, 6 mg/ml, 8 mg/ml, 10 mg/ml, 12 mg/ml.
Sebelumnya mencari panjang gelombang maksimum parasetamol dalam CUB
tanpa enzim, yaitu 242 nm. Kemudian dilakukan perhitungan dari kurva baku
sehingga didapatkan persamaan regresi sebagi berikut :
y = 0,067x 0,012
Sementara 2 anggota membuat CUB dan kurva kalibrasi, anggota yang
lain melakukan pembedahan pada tikus. Tikus yang digunakan adalah satu ekor
tikus jantan, dimana tikus dipuasakan dulu selama 24 jam dan hanya boleh
diberiminum. Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang berat tikus
untuk menentukan dosis pemberian anastesi. Berat tikus yang telah ditimbang
yaitu 143,3 g. Sedangkan anastesi yang digunakan memiliki dosis 100 mg/kgBB.
Kemudian dilakukan perhitungan dosis sehingga jumlah anastesi yang disuntikkan
adalah 0,28 ml. Kemudian menunggu hingga injeksi anastesi bekerja sehingga
tikus menjadi tidak sadar. Apabila efek anastesi terlalu lama, maka tikus diberi
anastesi menggunakan kapas yang sudah diberi eter. Setelah tikus teranastesi,
maka membedah perut tikus sepanjang linea medina perut sampai jelas terlihat
bagian ususnya. Mencari bagian lambung, mengukur 15 cm dari lambung ke arah
anal menggunakan benang, dengan hati-hati dibuat lubang dan selang dimasukkan
dan ditali dengan benang. Pemasangan selang sedemikian rupa sehingga ujungnya
mengarah ke bagian anal. Digunakan 15 cm dari lambung untuk menghindari
pengaruh dari lambung. Selang akan menuju labu infuse berisi CUB. Dari ujung
selang ini usus diukur lagi dengan menggunakan benang ke arah anal sepanjang
20 cm, dan disitu dibuat lubang kedua. Selanjutnya dipasang pula selang kedua
yang mengarah ke bagian oral dan mengikatnya dengan benang. Selang tersebut
menuju ke beaker glass.
Membuka kran infuse dan membiarkan CUB mengalir melalui usus dan
keluar menuju beaker glass sampai cairan yang keluar jernih. Menghentikan
pengaliran apabila larutan CUB yang keluar telah jernih. Melarutkan 500 mg
parasetamol dengan 50 ml CUB di dalam beaker glass. Setelah itu memasukkan
larutan tersebut ke dalam infus yang berisi CUB dan menambahkan CUB sampai
batas tanda 500 ml. Mengaliri usus selama 30 menit dengan kecepatan infuse satu
tetes per detik. Mencatat volume CUB yang tertampung pada beaker glass dan
mementukan kecepatan alirnya (Q) yaitu volume terukur / 30 menit. Kemudian
mengorbankan tikus dengan cara memotong bagian jantungnya. Setelah itu
memotong usus tikus antara ke dua ujung selang dan mengukur panjangnya
menggunakan penggaris. Data yang terukur sebagai l. Selanjutnya mengikat ujung
usus dan memasukkan aquades melalui ujung yang lain sampai usus
menggelembung maksimal dan mengukur keliling dari usus tersebut. Kemudian
melakukan perhitungan untuk mendapatkan jari-jari usus. Data yang didapatkan
oleh kelompok kami adalah sebagai berikut :
Q = volume terukur / 30 menit
= 50 ml / 30 menit
= 1,667 ml/menit
Panjang usus (l) = 22 cm
Keliling usus = 2 . . r
1,8 cm = 2 . 3,14 . r
r = 1,8 cm / 3,14
r = 029 cm
Melakukan penetapan kadar parasetamol dalam CUB sebagai konsentrasi
awal (C0) dengan memasukkan nilai absorbansi C0 pada persamaan regresi. Nilai
absorbansi C0 adalah 0,358. Kemudian melakukan penetapan kadar parasetamol
dalam CUB yang telah dialirkan melalui usus tikus dan tertampung di beaker
glass sebagai konsentrasi akhir (C1). Pengenceran yang dilakukan adalah 200 kali
dengan cara mengambil 0,5 ml larutan yang tertampung dan menambahkan 100
ml C0 sehingga didapatkan nilai absorbansi C1 0,231. Menghitung kadar
parasetamol pada C0 dan C1 menggunakan persamaan kurva kalibrasi yang telah
didapatkan, sebagai berikut :
y = 0,067x 0,012
C0 y = 0,067x 0,012
0,358 = 0,067x 0,012
0,370 = 0,067x
x = 5,52 ppm
x = 5,52 ppm x 200
= 1104 ppm
C1 y = 0,067x -0,012
0,231 = 0,067x 0,012
0,243 = 0,067x
x = 3,627 ppm
x = 3,627 ppm x 200
= 725,4 ppm
Yang terakhir adalah melakukan perhitungan Papp (CUB) menggunakan
data yang telah didapat dengan memasukkan pada persamaan Papp.

5.3 Absorbsi Parasetamol secara Teoritis


Secara umum, absorpsi atau penyerapan zat aktif adalah masuknya
molekul-molekul obat kedalam tubuh atau menuju ke peredaran darah tubuh
setelah melewati sawar biologik. Absorpsi obat adalah peran yang terpenting
untuk akhirnya menentukan efektivitas obat. Agar suatu obat dapat mencapai
tempat kerja di jaringan atau organ, obat tersebut harus melewati berbagai
membran sel. Pada umumnya, membran sel mempunyai struktur lipoprotein yang
bertindak sebagai membran lipid semipermeabel. Sebelum obat diabsorpsi,
terlebih dahulu obat itu larut dalam cairan biologis. Kelarutan (serta cepat-
lambatnya melarut) menentukan banyaknya obat terabsorpsi. Dalam hal
pemberian obat per oral, cairan biologis utama adalah cairan gastrointestinal; dari
sini melalui membran biologis obat masuk ke peredaran sistemik. Disolusi obat
didahului oleh pembebasan obat dari bentuk sediaannya.
Banyak faktor mempengaruhi kecepatan dan besarnya absorbsi, termasuk
bentuk dosis, jalur/rute masuk obat, aliran darah ke tempat pemberian, fungsi
saluran pencernaan (gastrointestinal), adanya makanan atau obat lain, dan
variable lainnya. Bentuk obat merupakan penentu utama bioavailability ( bagian
dosis obat yang mencapai sirkulasi sistemik dan mampu bekerja pada tubuh sel).
Dalam bentuk obat intravena hampir 100% bioavailable; obat oral hamper selalu
kurang dari 100% bioavailablenya karena beberapa tidak diserap dari saluran
cerna dan beberapa menuju hati dan sebagian di metabolism sebelum mencapai
sistem sirkulasi.
Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik
dan analgesik. Parasetamol utamanya digunakan untuk menurunkan panas badan
yang disebabkan olehkarena infeksi atau sebab yang lainnya. Disamping itu,
parasetamol juga dapat digunakan untuk meringankan gejala nyeri dengan
intensitas ringan sampai sedang. Secara teoritis parasetamol memiliki pH antara
5,5 6,5. Hal ini mengartikan bahwa parasetamol bersifat asam lemah dan hampir
mendekati netral/ basa. Absorbsi parasetamol tergantung pada pH lambung dan
usus. Absorbsi parasetamol lebih cepat dalam pH basa usus dibandingkan dengan
pH asam pada lambung. Adanya makanan di dalam lambung akan sedikit
memperlambat absorbsi dari parasetamol.
Pada praktikum yang kami lakukan pengukuran absorbsi parasetamol
dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Dari hasil percobaan
diperoleh absorbsi pada sempel C0 sebesar 0,358 dan sampel C1 sebesar 0,231
dengan pengenceran 200 kali. Serta juga didapat persamaan regresi sebagai
berikut : y = 0,067x 0,012. Dari persamaan regresi diatas dapat dihitung kadar
parasetamol sebesar 1104 ppm untuk sempel C0 dan 725,4 ppm untuk sampel C1.
Absorpsi obat tergantung dari sifat fisika dan kimia obat yang berbeda-
beda tiap senyawa, dan tempat absorpsi obat yang menentukan pH lingkungan
absorpsi seperti lambung memiliki pH rendah (asam), usus pH tinggi (basa).
Selain itu ada pengaruh bentuk obat, yang berbentuk partikel kecil sangat
mudah/cepat absorpsinya. Begitu juga dengan bentuk obat yang tersedia di lokasi
absorpsi, apakah bentuk ion atau molekul. Hanya obat dalam bentuk molekul
yang akan mengalami absorpsi karena bentuk molekul yang larut dalam lipid akan
mudah menembus membran tubuh tempat absorpsi obat (membran tubuh bersifat
lipid bilayer).
Oleh karena itu, tempat absorpsi obat dapat diperkirakan berdasarkan pH
obat. Obat bersifat asam seperti akan mengalami absorpsi di lambung. Karena
dalam lambung yang bersuasana asam obat-obat asam akan mengalami bentuk
molekul yang lebih banyak dibandingkan bentuk ionnya (bentuk ion larut air
mudah diekskresikan, bukan diabsorpsi). Selama proses absorpsi, obat mengalami
penurunan jumlah karena tak semua obat diabsorpsi. Selain itu selama proses
absorpsi, jika obat diberikan secara oral maka akan mengalami siklus
enterohepatik (perjalanan dari pembuluh darah di usus ke portal hepar di mana
terdapat enzim beta-glikosidase yang mengolah sebagian obat sebelum sampai di
reseptornya).
5.4 PaPP
Kecepatan absorbsi obat sangat dipengaruhi oleh keofisien partisi. Hal ini
disebabkan oleh komponen dinding usus yang sebagian besar terdiri dari lipida.
Dengan demikian obat-obat yang mudah larut dalam lipida akan dengan mudah
melaluinya. Sebaliknya obat-obat yang sukar larut dalam lipida akan sukar
diabsorpsi. Obat-obat yang larut dalam lipida tersebut dengan sendirinya memiliki
koefisien partisi lipida-air yang besar, sebaliknya obat-obat yang sukar larut dalam
lipid akan memiliki koefisien partisi yang sangat kecil.Pada umumnya obat-obat
bersifat asam lemah atau basah lemah. Jika obat tersebut dilarutkan dalam air,
sebagian akan terionisasi. Besarnya fraksi obat yang terionkan tergantung pH
larutannya. Obat-obat yang tidak terionkan (unionized) lebih mudah larut dalam
lipida, sebaliknya yang dalam bentuk ion kelarutannya kecil atau bahkan praktis
tidak larut, dengan demikian pengaruh pH terhadap kecepatan absorpsi obat yang
bersifat asam lemah atau basa lemah sangat besar.
Koefisien partisi minyak air adalah suatu petunjuk sifat lipofilik atau
hidrofobik dari molekul obat. Lewatnya obat melalui membran lemak dan
interaksi dengan makromolekul pada reseptor kadang-kadang berhubungan baik
dengan koefisien partisi oktanol / air dari obat (Martin, dkk, 1990).
Lipofilitas molekul diukur dari nolai log P dengan P dinyatakan sebagai
koefisien partisi kelarutan dalam lemak/ air yang mempunyai rentang nilai -0,4
sampai 5 dan optimal pada nilai log P 3 (Husniati, dkk, 2008).
Beberapa obat mengandung gugus gugus yang mudah mengalami
ionisasi. Oleh karena itu, koefisien partisi obat-obat ini pada pH tertentu sulit
diprediksi terlebih jika melibatkan lebih dari satu gugus yang mengalami ionisasi
daripada gugus yang lain pada pH tertentu.
Papp (app = apparent) merupakan tetapan permeabilitas yang nilainya
bervariasi terhadap pH. Jika suatu senyawa, asam atau basa mengalami ionisasi
sebesar 50% (pH=pKa) maka koefisisen partisinya setengah dari koefisien partisi
obat yang tidak mengalami ionisasi (Gandjar, dkk, 2007).
Persamaan tetapan permeabilitas :
c (1) 2. rl
ln c( 0)
= Q x Papp

dimana :
C(0) = Kadar larutan obat mula-mula
C(1) = Kadar larutan obat setelah dialirkan melalui intestine sepanjang l cm
r = jari-jari usus
l = panjang usus dalam cm
Q = Kecepatan alir larutan obat dalam mL menit-1

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa semakin besar nilai jari-jari dan
panjang usus maka nilai Papp yang diperoleh kecil (berbanding terbalik). Semakin
rendah nilai Papp maka permeabilitasnya rendah maka obat akan cepat keluar dan
efek yang diinginkan tidak dicapai sebaliknya jika nilai Papp semakin tinggi maka
waktu obat didalam membran untuk diabsorbsi semakin lama sehingga efek yang
diinginkan dicapai.

Berdasarkan hasil percobaan didapat nilai Papp untuk CUB sebesar 0,0549
cm/menit sedangkan untuk CLB sebesar 0,0109 cm/menit. Dari hasil tersebut
ketika usus tikus dialiri dengan CUB memiliki permeabilitas lebih tinggi
dibanding dengan CLB, hal tersebut menunjukkan bahwa absorbsi terbesar tejadi
pada usus yang dialiri oleh CUB. Usus yang memiliki pH basa lemah yang di aliri
dengan CUB yang bersifat basa pula menyebabkan obat masih dalam bentuk
molekul sehingga mudah untuk diabsorbsi, sedangan ketika usus yang memiliki
pH basa yang dialiri CLB yang cenderung asam obat kan mengalami ionisasi
sehingga tidak dapat di absorbsi oleh usus.

5.5 PaPP Hasil Praktikum


Yang terakhir adalah melakukan perhitungan Papp menggunakan data
yang telah didapat dengan memasukkan pada persamaan Papp. Pada perhitungan
Papp dalam CUB menggunakan rumus :
C1 2 r l
ln = x Papp
Co Q
Dimana :
- C1 merupakan konsentrasi paracetamol dalam CUB yang telah dialirkan
melalui usus hewan coba
- Co merupakan konsentrasi paracetamol dalam CUB sebelum dialirkan
melalui usus hewan coba
- l merupakan panjang usus hewan coba yang dialiri oleh CUB yang
mengandung paracetamol. Pengukuran l dilakukan dengan memotong
usus hewan coba pada kedua ujung kanul yang digunakan untuk
mengaliri, sehingga hanya bagian yang teraliri yang diukur panjangnya.
Pengukuran panjang dilakukan dengan bantuan benang, benang
digunakan karena usus hewan coba tidak lurus, sehingga sulit
menggunakan penggaris untuk pengukuran panjang usus. Setelah
panjang usus diukur dengan benang dengan panjang yang sesuai, panjang
benang diukur dengan penggaris untuk mendapatkan hasil pengukuran
yang akurat.
- r merupakan jari-jari usus, dimana pengukuran nilai r dilakukan dengan
mengikat ujung usus menggunakan benang, kemudian ujung lainnya diisi
dengan aquadest hingga penuh dan menggembung, lalu benang
dilingkarkan pada usus yang menggembung, selanjutnya panjang benang
diukur dengan penggaris untuk mendapat hasil perhitungan yang akurat.
Nilai panjang benang yang terukur adalah nilai keliling usus yang
merupakan keliling lingkaran. Dari perhitungan rumus keliling lingkaran
dapat didapatkan nilai jari-jari usus, dimana perhitungan telah
dicantumkan sebelumnya.

C1 2 r l
ln = x Papp
Co Q
725.4 ppm 2 x 0.29 x 22 cm
ln = x
1104 ppm 1.667 ml/menit
Papp
-0.420 = -7.654 Papp
Papp = 0.0549 cm/menit
Pada perhitungan Papp dalam CLB menggunakan rumus :
C1 2 r l
ln = x Papp
Co Q
Dimana :
- C1 merupakan konsentrasi paracetamol dalam CLB yang telah dialirkan
melalui usus hewan coba
- Co merupakan konsentrasi paracetamol dalam CLB sebelum dialirkan
melalui usus hewan coba
- l merupakan panjang usus hewan coba yang dialiri oleh CLB yang
mengandung paracetamol. Pengukuran l dilakukan dengan memotong
usus hewan coba pada kedua ujung kanul yang digunakan untuk
mengaliri, sehingga hanya bagian yang teraliri yang diukur panjangnya.
Pengukuran panjang dilakukan dengan bantuan benang, benang
digunakan karena usus hewan coba tidak lurus, sehingga sulit
menggunakan penggaris untuk pengukuran panjang usus. Setelah
panjang usus diukur dengan benang dengan panjang yang sesuai, panjang
benang diukur dengan penggaris untuk mendapatkan hasil pengukuran
yang akurat.
- r merupakan jari-jari usus, dimana pengukuran nilai r dilakukan dengan
mengikat ujung usus menggunakan benang, kemudian ujung lainnya diisi
dengan aquadest hingga penuh dan menggembung, lalu benang
dilingkarkan pada usus yang menggembung, selanjutnya panjang benang
diukur dengan penggaris untuk mendapat hasil perhitungan yang akurat.
Nilai panjang benang yang terukur adalah nilai keliling usus yang
merupakan keliling lingkaran. Dari perhitungan rumus keliling lingkaran
dapat didapatkan nilai jari-jari usus, dimana perhitungan telah
dicantumkan sebelumnya.

C1 2 r l
ln = x Papp
Co Q
791.2 ppm 2 x 1 x 22 c m
ln = x Papp
1137 ppm 1.33 ml/menit
0.362 = -33.083 Papp
Papp = 0.0109 cm/menit
5.6 Perbandingan Hasil PaPP Teoritis dan Percobaan
Bila dilihat dari hasil percobaan yang dilakukan, kadar awal obat pada
media CLB dan CUB berturut-turut ialah 791,2 ppm dengan absorbansi 0,309 dan
1104 ppm dengan absorbansi 0,358. Hasil tersebut diperoleh dengan mengkalikan
200 karena faktor pengenceran yaitu 200x. Absorbansi yang baik berada pada
rentang 0,2-0,8. Untuk hasil yang diperoleh setelah dilakukan penampungan
cairan selama 30 menit ialah 1137 ppm untuk CLB dan 725,4 ppm untuk CUB.
Yang dimaksud Papp adalah tetapan permeabilitas semu. Nilai papp yang
diperoleh menunjukkan suatu kemampuan obat untuk berada pada membran,
semakin tinggi nilai Papp yang diperoleh maka semakin baik obat untuk
terabsorbsi pada membran. Sedangkan bila nilai Papp yang diperoleh rendah
maka obat akan cepat terekskresikeluar sehingga jumlah obat yang terabsorbsi
rendah. Bila obat yang terabsorbsi melalui membran tersebut rendah maka
efektivitas obat tersebut juga rendah. Dilihat dari nilai Papp pada CLB
menunjukkan nilai -0,0109 cm/menit, sedangkanCUB 0,0549cm/menit. Perbedaan
nilai + dan tersebut dipengaruhi oleh perbedaan rumus perhitungan Papp yang
digunakan. Hasil Papp CLB dan CUB tersebut sesuai dengan teoritis karena
paracetamol dalam CUB berbentuk tak terion sehingga kemampuan obat untuk
bertahan pada permukaan membran untuk diabsorbsi juga besar dibandingkan
dalam CLB.

Titik kritis dalam percobaan absorbsi obat per oral secara in situ sehingga
mempengaruhi perhitungan Papp CLB dan Papp CUB adalah :
- Tepat atau tidaknya pembuatan larutan paracetamol
Pada pembuatan kurva baku paracetamol diperlukan penimbangan yang
tepat untuk masing-masing konsentrasinya sehingga didapatkan kurva kalibrasi
yang baik dan dapat digunakan dalam penetapan kadar paracetamol dalam CLB
dan CUB sebagai konsentrasi awal (C0) dan penetapan kadar paracetamol dalam
CLB dan CUB yang tertampung sebagai konetrasi akhir (C1). Apabila terjadi
kesalahan dalam penimbangan, pengenceran atau penentuan rentang konsentrasi
uji maka hasil yang didapatkan tidak valid.
- Ketepatan pengukuran komponen-komponen seperti (berat tikus, panjang
usus, diameter usus)
- Percobaan absorbansi pada tikus teranestesi
Dalam percobaan absorbansi pada tikus teranestesi perlu diperhatikan
beberapa langkah percobaan seperti :
a. Penentuan dosis anestesi tikus
b. Pembedahan tikus
Dalam pembedahan diperlukan keterampilan agar tidak ada usus yang
terpotong
c. Pemasangan infus dan penentuan laju infuse
Dalam pemasangan infus, kateter yang dipasang harus pas dan tidak
boleh bocor. Sedangkan penentuan laju infus akan menentukan jumlah
obat yang terabsorbsi.
- Ketepatan dalam perhitungan
- Kesesuaian dengan prosedur

6. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
- Metode in-situ memiliki kelebihan dibandingkan metode in-vitro yaitu
laju dari metode ini lebih realistik dibandingkan dengan hasil yang
diperoleh dengan metode in-vitro.
- Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan dalam dua kondisi uji yaitu
pada kondisi asam menggunakan cairan lambung buatan (CLB) tanpa
enzim pH 1,2 dan pada kondisi basa menggunakan cairan usus buatan
(CUB) tanpa enzim pH 7,4 untuk mengamati pengaruh pH terhadap
absorbsi parasetamol melalui difusi pasif
- Secara teoritis parasetamol memiliki pH antara 5,5 6,5 yang berarti
bahwa parasetamol bersifat asam lemah dan hampir mendekati netral/
basa sehingga absorbsi parasetamol lebih cepat dalam pH basa usus
dibandingkan dengan pH asam pada lambung.
- Papp (app = apparent) merupakan tetapan permeabilitas yang nilainya
menunjukkan suatu kemampuan obat untuk berada pada membran,
semakin tinggi nilai Papp yang diperoleh maka semakin baik obat untuk
terabsorbsi pada membran. Nilai Papp bervariasi terhadap pH
- Pada praktikum kali ini didapatkan nilai Papp pada CLB adalah -0,0109
cm/menit, sedangkan CUB adalah 0,0549cm/menit. Perbedaan nilai +
dan tersebut dipengaruhi oleh perbedaan rumus perhitungan Papp yang
digunakan
- Hasil Papp CLB dan CUB tersebut sesuai dengan teoritis karena
paracetamol dalam CUB berbentuk tak terion sehingga kemampuan obat
untuk bertahan pada permukaan membran untuk diabsorbsi juga besar
dibandingkan dalam CLB.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995. Farmakoterapi Indonesia Edisi III. Jakaarta : DepKes RI


Batubara, Lilian. 2008. Farmakologi Dasar. Jakarta: Lembaga Studi dan
Konsultasi Farmakologi (Leskonfi)
Gandjar, Ibnu Gholib, Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Anaisis, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta
Husniati, dkk, 2008, Studi Bioaktivitas Dari Pengaruh Lipofilitas Senyawa Anti
Kanker Analog UK-3A Secara In-Vitro dan In-Silico, Teknologi Indonesia,
Vol (I), No 31, Hal. 57.
Martin, Alfred, dkk, 1990, Farmasi Fisik. Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu
Farmasetik, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Shargel, Leon dan A.B.C. Yu. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan. Surabaya : Airlangga University Press
LAMPIRAN