Anda di halaman 1dari 11

KROMATOGRAFI CAIR VAKUM

(KCV)
Diajukan sebagai tugas kelompok mata kuliah Fitokimia 1

Dosen

Yessi Febriani, M.Si.,Apt

Disusun Oleh :
Yulia Andina A 141 058
Yuli Yanti Souraya.M A 141 056
Shauli Nur Savitri A 141 054
Marwatul Zamil A 141 077

PROGRAM STUDI FARMASI


SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
BANDUNG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ada beberapa metode sederhana yang dapat dilakukan untuk


mengambil komponen berkhasiat ini, di antaranya dengan melakukan Isolasi
Komponen Kimia pada suatu sampel tanaman. Isolasi adalah pemisahan
komponen kimia yang terdapat dalam suatu ekstrak. Pemisahan ini didasarkan
pada sifat adsorbsi dan partisi dari senyawa yang dipisahkan terhadap adsorben
dan cairan pengelusi yang digunakanProses isolasi biasanya dilakukan dengan
cara kromatografi. Kromatografi adalah sebuah teknik analisis yang dilakukan
untuk memisahkan sebuah campuran atau persenyawaan kimia. Setiap
komponen senyawa mempunyai harga konstanta kesetimbangan distribusi yang
unik pada sebuah sistem fase diam dan fase gerak. Optimasi kolom diperlukan
untuk membuat masing-masing komponen terpisahkan satu sama lain.
Jenis kromatografi yang akan dibahas pada makalah ini adalah
kromatografi cair vakum suatu metode kromatografi kolom yang digunakan
untuk memisahkan senyawa dalam jumlah yang lebih banyak. Prinsipnya yaitu
adsorpsi dan partisi yang dipercepat bantuan pompa vakum. Keuntungan dari
kromatografi kolom cair vakum adalah prosesnya cepat dan senyawa tertarik
secara sempurna. Kerugiannya adalah pemisahanya tidak sempurna karena
senyawa yang ditampung bercampur dalam suatu penampungan tidak seperti
pada kolom konvensional yang dipisahkan berdasarkan warna, sehingga
pemisahannya lebih maksimal.Kromatografi cair vacum (KCV) adalah bntuk
kromatografi kolom yang khususnya berguna untuk fraksinasi kasar yang cepat
terhadap suatu ekstrak. Konsdisi vakum adalah alternatif untu mempercepat
aliran fase gerak dari atas ke bawah.

1.2 Rumusan masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini antara lain :

1) Apa pengertian kromatografi cair vakum


2) Bagaimana prinsip kerja kromatografi cair vakum
3) Bagaimana prosedur kerja pada pemisahan sampel menggunakan
kromatografi cair vakum
4) Apa saja fase diam dan fase gerak kromatografi cair vakum
5) Apa saja kelebihan dari kromatografi cair vakum
6) Bagaimana aplikasi kromatografi cair vakum dalam dunia farmasi

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mendapatkan


senyawa-senyawa metabolit sekunder melalui metode isolasi menggunakan
KVC

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kromatografi Cair Vakum :

Kromatografi Cair Vakum (KCV) merupakan salah satu metode


fraksinasi yaitu dengan memisahkan crude extract menjadi fraksi-fraksinya
yang lebih sederhana. Pemisahan tersebut memanfaatkan kolom yang berisi
fasa diam dan aliran fasa geraknya dibantu dengan pompa vakum.Fasa diam
yang digunakan dapat berupa silika gel atau alumunium oksida.
Kromatografi kolom vakum (KKV) adalah kromatografi yang
dilakukan untuk memisahkan senyawa dengan menggunakan silika gel
sebagai adsorben dan berbagai perbandingan pelarut (elusi gradien) dan
menggunakan pompa vakum untuk memudahkan penarikan eluen.
Kromatografi kolom vakum sama dengan kromatografi cair vakum.
Karena kromatografi cair vakum merupakan salah satu jenis dari kromatografi
kolom. Kromatografi kolom merupakan suatu metode pemisahan campuran
larutan dengan perbandingan pelarut dan kerapatan dengan menggunakan
bahan kolom. Kromatografi kolom lazim digunakan untuk pemisahan dan
pemurnian senyawa.

Kromatografi kolom vakum/kromatografi cair vakum merupakan


kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja pada kondisi vakum,fase
gerak digerakkan dengan kondisi vakum sehingga prosesnya berlangsung
cepat. Kolom kromatografi dikemas kering dalam keadaan vakum agar
diperoleh kerapatan maksimum. Alat yang digunakan terdiri dari corong G-3,
sumbat karet, pengisap yang dihubungkan dengan pompa vakum serta wadah
penampung fraksi. Walaupun KKV/KCV memerlukan jumlah sampel yang
lebih banyak dari pada kromatografi lapis tipis (KLT), KKV/KCV tetap
ekonomis dalam sisi biaya.
Kromatografi cair vakum (KCV) pertama kali diperkenalkan oleh para
ilmuwan dari Australia untuk mengatasi lamanya waktu yang dibutuhkan
untuk separasi menggunakan kolom kromatografi klasik.Pada dasarnya
metode ini adalah kromatografi lapis tipis preparatif yang berbentuk kolom.
Aliran fase gerak dalam metode ini diaktifkan dengan bantuan kondisi vakum.
Kromatografi cair vakum pada awalnya digunakan untuk separasi senyawaan
steroid dan produk-produk natural dari laut.
Kromatografi cair vakum terdiri dari suatu corong Buchner yang
memiliki kaca masir. Corong Buchner ini diiisi dengan fase diam yang tingkat
kehalusannya seperti yang umumnya dipakai dalam kromatografi lapis tipis
(70-230 mesh). Corong Buchner yang berisi fase diam ini digunakan dalam
kondisi vakum/bertekanan, yang berakibat pada kemampuan yang dihasilkan
olehkromatografi cair vakum akan sama dengan kromatografi gravitasi
namundiperlukan waktu yang lebih singkat. Cara asli yang diperkenalkan oleh
Coll menggunakan corong Buchner kaca masir atau kolom pendek, sedangkan
Targett menggunakan kolom yang lebih panjang untukmeningkatkan daya
pisah.
Kromatografi
Kolom Vakum
(KKV) /KCV

2.2 Prinsip Kromatografi Kolom Vakum

Prinsip kerja dari kromatografi kolom vakum adalah adsorpsi atau


serapan, sedangkan pemisahannya didasarkan pada senyawa-senyawa yang
akan dipisahkan terdistribusi di antara fasa diam dan fasa gerak dalam
perbandingan yang berbeda-beda. Dimana mekanisme adsorpsinya yaitu
mengadsorbsi ion-ion dan molekul-molekul senyawa pada fase diam dan
pemisahannnya berdasarkan kelarutan senyawa dengan eluen yang digunakan.

2.3 Kelebihan dan Kerugian Kromatografi Kolom Vakum :

Kromatografi kolom vakum mempunyai kelebihan :


1. Mempunyai biaya ekonomis
2. Adanya aliran fase gerak lebih cepat
3. Pengerjaannnya sederhana
4. Cuplikan yang dipisahkan lebih banyak
5. Proses terjadi lebih cepat karena adanya bantuan vacum
6. Konsumsi fase gerak KCV hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan
kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak
lebih lambat (10-100 mikro liter/ menit)
Kerugian kromatografi kolom vakum :
1. Membutuhkan waktu yang cukup lama
2. Sampel yang digunakan banyak jika dibandingkan dengan KLT dan
terbatas jika dibandingkan dengan kromatografi konvensional.
3. Proses pemisahan senyawa terjadi tidak begitu baik atau sempurna karena
prosesnya yang cepat
2.4 Perbedaan Kromatografi Kolom Vakum dengan Kromatografi
Kolom Konvensional
Adapun perbedaan kromatografi kolom vakum dengan kromatografi
kolom konvensional yaitu :
1. Konsumsi fase gerak KCV hanya 80% atau lebih kecil disbanding dengan
kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak
lebih lambat (10-100l/menit).
2. Adanya aliran fase gerak lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal
jika digabung dengan spectrometer massa.
3. Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solute lebih pekat
karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas
missal sampel klinis.
2.5 Pelarut Untuk KCV :

Pelarut yang digunakan dalam kromatografi cair vakum adalah pelarut


yang kepolarannya paling rendah sampai pelarut yang kepolarannya tinggi.
Dimana Elusi diawali dengan pelarut yang kepolarannya rendah lalu
kepolaran ditingkatkan perlahan-lahan (polaritas meningkat) dengan harapan
bahwa komponen kimianya terelusi secara berurutan berdasarkan tingkat
kepolarannya. Oleh karena itu, Kromatografi Cair Vakum menggunakan
tekanan yang rendah untuk meningkatkan lajua aliran fase gerak. Kolom
dihisap perlahan-lahan ke dalam wadah penampung fraksi sampai kering
dengan cara memvakumkannya.
2.6 Aplikasi atau contoh senyawa yang di pisahkan :
Kromatografi vakum cair dilakukan untuk memisahkan golongan
senyawa metabolit sekunder secara kasar dengan menggunakan silika gel
sebagai absorben dan berbagai perbandingan pelarut n-heksana : etil asetat :
metanol (elusi gradien) dan menggunakan pompa vakum untuk memudahkan
penarikan eluen (Helfman, 1983).

2.7 Prosedur kerja pemisahan dengan KCV :


Prosedur kerja KVC menggunakan alat bantu yang berupa pompa
vakum untuk mempercepat laju alir fasa gerak selama proses pemindahan zat
terlarut. Kolom kromatografi dikemas kering (biasanya dengan penjerap mutu
KLT 10-40 m) dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan kemasan
maksimum. Pompa vakum dihentikan dan pelarut yang kepolarannya rendah
dituangkan ke permukaan penjerap lalu divakumkan kembali. Kolom dihisap
sampai kering dan telah siap dipakai. Cuplikan dilarutkan dalam pelarut yang
cocok, dimulai dengan pelarut yang kepolarannya rendah lalu kepolarannya
ditingkatkan perlahan-lahan. Kolom dihisap sampai kering pada setiap
pengumpulan fraksi. Oleh karena itu, kromatografi vakum cair menggunakan
tekanan rendah untuk meningkatkan laju aliran fase gerak.
Disiapkan alat dan bahan; Kolom yang telah dipasang dimasukkan
kaca wasir pada ujung kolom (dasar kolom); Dimasukkan silika yang
telahdisiapkan secara perlahan-lahan; Kemudian dimampatkan; Dimasukkan
kertas saring; Dimasukkan sampel perlahan-lahan; Dimasukkan perbandingan
eluen satu-satu mulaidari non-polar hingga polar, perbandingannya yaitu
heksan-etil asetat (50:0) ditambahkan melalui dinding kolom dan pompa
vakum dijalankan sehingga eluen turun dan mengelusi komponen kimia.
Kemudian dilanjutkan dengan cairan penyari yang kepolarannya lebih tinggi,
berturut-turut yaitu heksan etil asetat (15:1), (10:1), (5:1), (1:1), (0:50),
(1:1), (1:5), dan (50:0).Cairan yang keluar ditampung sebagai fraksi dan
dipisahkan berdasarkan konsentrasi eluen dan diuapkan serta di profil KLT.
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah batang pengaduk, botol
cokelat, cawan porselen, gelas kimia, kertas saring, klem, pipet tetes, pompa
vacum, statif.
Gambar 2. Alat kromatografi cair vacum:

2.8 Fase diam dan fase gerak kromatografi cair vakum :


Fase diam yang digunakan dikemas dalam kolom yang digunakan
dalam KCV. Proses penyiapan fasa diam dalam kolom terbagi menjadi dua
macam, yaitu:
a. Cara Basah:
Preparasi fasa diam dengan cara basah dilakukan dengan melarutkan
fasa diam dalam fase gerak yang akan digunakan. Campuran kemudian
dimasukkan ke dalam kolom dan dibuat merata. Fase gerak dibiarkan
mengalir hingga terbentuk lapisan fase diam yang tetap dan rata, kemudian
aliran dihentikan.

b. Cara kering:
Preparasi fasa diam dengan cara kering dilakukan dengan cara
memasukkan fase diam yang digunakan ke dalam kolom kromatografi. Fase
diam tersebut selanjutnya dibasahi dengan pelarut yang akan digunakan.
Preparasi sampel saat akan dielusi dengan KCV juga memiliki
berbagai metode seperti preparasi fasa diam. Metode tersebut yaitu cara basah
dan cara kering (Canell, 1998). Preparasi sampel cara basah dilakukan dengan
melarutkan sampel dalam pelarut yang akan digunakan sebagai fasa gerak
dalam KCV. Larutan dimasukkan dalam kolom kromatografi yang telah terisi
fasa diam. Bagian atas dari sampel ditutupi kembali dengan fasa diam yang
sama. Sedangkan cara kering dilakukan dengan mencampurkan sampel
dengan sebagian kecil fase diam yang akan digunakan hingga terbentuk
serbuk. Campuran tersebut diletakkan dalam kolom yang telah terisi dengan
fasa diam dan ditutup kembali dengan fase diam yang sama.

DAFTAR PUSTAKA
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. ITB : Bandung.
Harris, et.al. 1982. AN INTRODUCTION TO CHEMICAL ANALYSIS, Savders
College Publishing Philadelpia : Holt-Savders Japan.
Heftmann, E. 1983. STEROIDS DALAM KROMATOGRAFI, Fundamentals and
Aplication, Amsterdam.
Hendayana, Sumar, dkk. 1994. KIMIA ANALITIK INSTRUMENTASI IKIP
Semarang Press:Semarang.
Hostettmenn, K, dkk. 1986. CARA KROMATOGRAFI
PREPARATIF. ITB: Bandung.
Kennedy, John. 1990. ANALYTICAL CHEMISTRY PRINCIPLES.Sounders
College Publishing: New York.
Sarker,SD., Latif,Z and Gray .Al.2006. Natural Product Isolation. Humana Press inc .
Totowa New jersey.
Sudjadi. 1994. Metode Pemisahan.Kanisius: Yogyakarta.
Sastrohamidjojo, Dr.H. 1985. Kromatografi. Penerbit Liberty: Yogyakarta.
Schill, Goran. 1978. SEPARATION METHODS, Swedish Phasma Centrical
Press, Stockholm.