Anda di halaman 1dari 12

Kasus

Topik: Kejang Demam Simplek + Diare Akut dengan Dehidrasi Sedang


Tanggal (kasus): 5 Juli 2016 Persenter: dr. Devi Fitriani
Tanggal (presentasi): Pendamping: dr. Munawwar

Tempat Presentasi :
Obyektif Presentasi:
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja


Dewasa
Lansia Bumil

Deskripsi : Anak laki-laki, 4 tahun, kejang seluruh tubuh disertai demam, muntah dan mencret
Tujuan: Menegakkan diagnosis dan pengobatan awal pasien kejang demam simpleks dengan diare akut
Bahan bahasan: Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas: Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Nama: Nama : An. F, laki-laki, 4 tahun,
Data pasien: Nomor Registrasi: 02-01-66-28
BB: 25 kg
Nama klinik: RSUDTP Telp: - Terdaftar sejak: 5 Juli 2016

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/Gambaran Klinis :
Kejang Demam Simple + Diare Akut dengan Dehidrasi Sedang / kejang seluruh tubuh selama 5 menit yang dialami sejak jam SMRS disertai demam,
muntah dan mencret.
2. Riwayat Pengobatan:
Paracetamol sirup
3. Riwayat kesehatan/penyakit:
Pasien belum pernah mengalami kejang sebelumnya.
4. Riwayat keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami kejang
5. Riwayat pekerjaan:
-
6. Lain-lain:
-
7. Pemeriksaan Fisik
I. STATUS PRESENT
1. Keadaan Umum : Lemah, sakit sedang
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Nadi : 120 x/menit
4. Frekuensi Nafas : 26 x/menit
5. Temperatur : 38,6 o C

II. STATUS GENERAL


A. Kulit
Warna : Sawo matang
Turgor : Kembali lambat
Ikterus : (-)
Pucat : (-)
Sianosis : (-)
Oedema : (-)

B. Kepala
Bentuk : Normocephali
Rambut : dbn
Mata : Cekung (+/+), refleks cahaya (+/+), konj. Palp inf pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga : Sekret (-/-), perdarahan (-/-)
Hidung : Sekret (-/-), perdarahan (-/-), NCH (-/-)

C. Mulut
Bibir : Pucat (-), Sianosis (-)
Lidah : beslag (-)
Tonsil : dbn

D. Leher
Inspeksi : Kesan simetris
Palpasi : Pembesaran KGB (-), TVJ R - 2 cm H2O

E. Axilla : Pembesaran KGB (-)

F. Thorax
1. Thoraks depan
Inspeksi
Bentuk dan Gerak : Normochest, pergerakan simetris.
Tipe pernafasan : Thorako-abdominal
Retraksi : (-)
Palpasi
Stem premitus Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Normal Normal
Lap. Paru tengah Normal Normal
Lap.Paru bawah Normal Normal

Perkusi
Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Sonor Sonor
Lap. Paru tengah Sonor Sonor
Lap.Paru bawah Sonor Sonor

Auskultasi
Suara pokok Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Vesikuler Vesikuler
Lap.Paru tengah Vesikuler Vesikuler
Lap.Paru bawah Vesikuler Vesikuler
Suara tambahan Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Rh(-) , Wh(-) Rh(-) , Wh(-)
Lap. Paru tengah Rh(-) , Wh(-) Rh(-), Wh(-)
Lap. Paru bawah Rh(-) , Wh(-) Rh(-), Wh(-)

2. Thoraks Belakang
Inspeksi
Bentuk dan Gerak : normochest, pergerakan simetris.
Tipe pernafasan : thorako-abdominal
Retraksi : interkostal (-)

Palpasi
Stem premitus Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Normal Normal
Lap. Paru tengah Normal Normal
Lap.Paru bawah Normal Normal

Perkusi
Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Sonor Sonor
Lap. Parutengah Sonor Sonor
Lap.Paru bawah Sonor Sonor

Auskultasi
Suara pokok Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Vesikuler Vesikuler
Lap.Paru tengah Vesikuler Vesikuler
Lap.Paru bawah Vesikuler Vesikuler

Suara tambahan Paru kanan Paru kiri


Lap. Paru atas Rh(-) , Wh(-) Rh(-),Wh(-)
Lap. Paru tengah Rh(-) , Wh(-) Rh(-), Wh(-)
Lap. Paru bawah Rh(-) , Wh(-) Rh(-), Wh(-)
G. Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis di ICS V
- Palpasi : Ictus cordis teraba ICS V 2 cm lateral linea midclavicula sinistra
- Perkusi : Batas atas : ICS III sinistra
Batas kanan : Linea parasternalis kanan
Batas Kiri : ICS V 2 cm lateral lnea midclavicula sinistra
- Auskultasi : HR : x/menit, reguler, bising (-).

H. Abdomen
- Inspeksi : Kesan simetris, distensi (-)
- Palpasi : Nyeri tekan (-),
Lien tidak teraba,
- Perkusi : Tympani (+), Shifting Dullness (-)
- Auskultasi : peristaltik usus (+) kesan meningkat

I. Genetalia : Tidak dilakukan pemeriksaan

J. Anus : Tidak dilakukan pemeriksaan

K. Ekstremitas
Ekstremitas Superior Inferior
Kanan Kiri Kanan Kiri
Sianotik - - - -
Edema - - - -
Ikterik - - - -
Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif
Tonus otot Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus
Sensibilitas N N N N

III.PEMERIKSAAN PENUNJANG
-
IV. DIAGNOSA SEMENTARA
Kejang demam simpleks + diare akut dehidrasi sedang

V. PLANNING
1. Pemeriksaan darah rutin

VI. PENATALAKSANAAN
- Bebaskan jalan nafas
- O2 0,5-1 liter/menit
- IVFD RL 200cc guyur dilanjutkan 20 tetes/ menit (mikro)
- Inj. Cefotaxime 250mg/12 jam (skintest)
- Paracetamol sirup 3 x 1 cth
- Domperidon sirup 3 x 1 cth
- Zinc sirup 1 x 1 cth
- Lacto B 2 x 1 Sachet
- Diazepam 1 mg, 3 x 1 (Pulvis)
- Diazepam supp rectal 10 mg (apabila kembali kejang)
VII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Daftar Pustaka:
1. Pusponegoro HD, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, Ed 1. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2004
2. Hassan R, dkk. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2, ed 11. Jakarta : Percetakan Infomedika, 2005
3. Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson textbook of pediatrics, 18th ed. Philadelphia, 2007
4. Hay WW, Levin MJ, Sondheimer JM, Deterding RR. Current pediatric diagnosis and treatment, 18th ed. USA, 2007

Hasil pembelajaran:
1. Kejang demam
2. Kasus pasien dengan kejang demam
3. Menegakkan diagnosia kejang demam
4. Tatalaksana kejang demam

Rangkuman
1. Subjektif:
Pasien dibawa ke rumah sakit dengan keluhan kejang 1x yang dialami jam yang lalu. Kejang dialami 5 menit, kejang seluruh tubuh, pasien
kembali sadar setelah kejang. Pasien juga mengalami demam tinggi sejak 1 hari yang lalu. Demam hanya turun sementara saat di beri paracetamol.
Pasien juga mengalami mencret sebanyak 5 kali dengan konsistensi cair, tanpa disertai darah dan lendir. Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami
kejang.

2. Objektif:
Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik sangat mendukung diagnosa Kejang Demam Simplek + Diare Akut dengan Dehidrasi Sedang. Pada kasus ini
ditegakkan berdasarkan:
Gejala klinis : kejang seluruh tubuh selama 5 menit, frekuensi 1x, demam tinggi, mencret sebanyak 5x dalam sehari.
Pemeriksaan fisik : keadaan umum lemah, mata cekung, turgor kulit abdomen lambat, peristaltik meningkat.

3. Asesmen (penalaran klinis):


Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien (laki-laki, 4 tahun) mengeluh kejang 1x yang dialami jam yang lalu. Kejang dialami 5 menit,
kejang seluruh tubuh, pasien kembali sadar setelah kejang. Pasien juga mengalami demam tinggi sejak 1 hari yang lalu. Demam hanya turun sementara
saat di beri paracetamol. Pasien juga mengalami mencret sebanyak 5 kali dengan konsistensi cair, tanpa disertai darah dan lendir. Sebelumnya pasien
tidak pernah mengalami kejang.
Pasien melakukan aktivitas sehari-hari di rumah dan belum bersekolah. Pasien belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya. Tidak ada
anggota keluarga pasien yang pernah mengalami kejang.
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 0C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan-5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang
demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang
demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, beberapa kemungkinan penyebabnya adalah
infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.1
Kejang demam dibagi atas kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana merupakan kejang demam yang
berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal.
Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam. Kejang demam komplek
merupakan kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini: Kejang lama > 15 menit, kejang fokal atau parsial satu sisi atau kejang umum didahului
kejang parsial, berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.2
Diare atau gastroenteritis (GE) adalah suatu infeksi usus yang menyebabkan keadaan feses bayi encer dan/atau berair, dengan frekuensi lebih dari 3
kali perhari, dan kadang disertai muntah. Muntah dapat berlangsung singkat, namun diare bisa berlanjut sampai sepuluh hari . Diare dapat menyebabkan
kejang apabila sudah mengganggu elektrolit.3
Pada kasus ini, pasien dibawa ke IGD dengan kejang 1x bersifat umum 5 menit dan didahului oleh demam tinggi. Pasien ini juga mengalami BAB
cair 4x tanpa disertai lendir dan darah dan muntah 3x sedikit-sedikit.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik maka dapat ditegakkan diagnosa bahwa pasien mengalami kejang demam simplek disertai diare akut
dengan dehidrasi sedang-berat. Diagnosa banding untuk gejala kejang adalah epilepsi.

4. Plan:
Diagnosis:
Tidak ada pemeriksaan laboratorium khusus untuk menegakkan diagnosis kejang demam. Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan darah lengkap dapat menunjukkan keadaan leukositosis yang non spesifik. Hitung jenis leukosit yang sangat tinggi dapat
menunjukkan adanya infeksi bakteri untuk mengetahui penyebab utama gejala demam. Pemeriksaan feces dianjurkan untuk mengetahui mikroorganisme
penyebab diare.
Pengobatan:
Terapi yang diberikan pada pasien ini :
- Bebaskan jalan nafas
- O2 0,5-1 liter/menit
- IVFD RL 200cc guyur dilanjutkan 20 tetes/ menit (mikro)
- Inj. Cefotaxime 250mg/12 jam (skintest)
- Paracetamol sirup 3 x 1 cth
- Domperidon sirup 3 x 1 cth
- Interzinc sirup 1 x 1 cth
- Lacto B 2 x 1 Sachet
- Diazepam 1 mg, 3 x 1 (Pulvis)
- Diazepam supp rectal 10 mg (apabila kembali kejang)
Terapi yang telah diberikan sesuai menurut teori penanganan awal kejang demam. Prinsip penanganan anak yang mengalami kejang adalah
mempertahankan jalan nafas spontan. Pakaian dilonggarkan, dan posisi anak dimiringkan untuk mencegah aspirasi. Memenuhi kebutuhan cairan, kalori
dan elektrolit. Mempertahankan suhu tubuh normal dengan kompres air hangat dan pemberian antipiretik saat demam.
Pendidikan:
Sangat penting memberikan edukasi kepada orang tua pasien agar kedepannya waspada kejang demam dapat berulang apabila anak terserang demam.
Edukasi kepada orang tua meliputi cara mengukur suhu tubuh anak saat demam dan cara penggunaan obat antipiretik. Selain itu diajarkan pula cara
mengatasi kejang dengan menggunakan diazepam rectal sebelum anak dibawa ke rumah sakit. Setelah penanganan kejang dirumah, dipastikan anak
segera dibawa ke rumah sakit atau Puskesmas.
Konsultasi:
Terapi selanjutnya dan perawatan di ruangan dikonsultasikan kepada dokter spesialis anak.
LAPORAN KASUS
(PORTOFOLIO)
NAMA PESERTA : dr. Devi Fitriani
WAHANA : RSUD Teungku Peukan, Aceh Barat Daya
JENIS KASUS :
JUDUL : KEJANG DEMAM SIMPLEK

Mengetahui,
Pendamping

dr. Munawwar