Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

TRANSPIRASI DAN DISTRIBUSI STOMATA

Untuk memenuhi tugas matakuliah

Fisiologi Tumbuhan

yang dibina oleh Ibu Prof. Dra. Herawati Susilo M.Sc. Ph.D

Disusun Oleh :

Abiyyu Rahmawan (150342606962)


Agustin Dwi Erlandi (130342603495)
Aisyatir Rodliyah B (150342607659)
Farhana Halimah R (150342607533)
Feby Diah Ayu R (150342605541)
Tita Putri Milasari (150342601163)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

September 2016

A. Topik
Transpirasi Dan Distribusi Stomata
B. Tujuan
Mahasiswa diharapkan terampil dalam :
1. Mengukur kecepatan transpirasi dengan metode penimbangan langsung tiap luas
daun.
2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan transpirasi.
3. Menghitung jumlah stomata pada satuan luas tertentu.
4. Membandingkan jumlah stomata pada tumbuhan sesuai dengan adaptasi hidup
tumbuhan tersebut

C. Dasar Teori
Daun merupakan organ vital pada tumbuhan yang berinteraksi secara
langsung dengan udara. Daun memiliki peran besar dalam kehidupan
tumbuhan seperti tempat terjadinya fotosintesis. Zat-zat yang dibutuhkan
untuk fotosintesis masuk melalui permukaan daun. Epidermis daun
mengandung pori yang berfungsi sebagai pertukaran gas antara lingkunan
luar dengan lingkuan dalam. Pori tersebut dinamakan Stoma. Stoma
dikelilingi oleh sel pelindung dan sel pelindung ini juga dikelilingi oleh sel
subsidiary yang berasal dari diferensiasi sel epidermis. Stoma, sel pelindung
dan sel subsidiary/sel aksesori secara bersamaan disebut komplek stomata
atau apparatus stomata. Sel stomata memiliki fungsi homeostatis,
khususnya air dan juga sebagai pintu masuk untuk CO2 . Stoma akan
membuka agar CO2 bisa masuk untuk foto sintesis atau untuk membuang
kelebihan air pada daun. Stoma akan menutup jika tidak membutuhkan CO2
untuk fotosintesis dan juga untuk mencegah kehilangan air melalui stoma.
Lebih dari 90% dari pertukaran CO2 dan uap air antara tumbuhan dengan
lingkungan luar terjadi melalui stomata. Stomata terlibat dalam pengaturan 2
hal yang paling penting bagi tumbuhan, yaitu pengambilan CO2 untuk
fotosintesis dan transpirasi pembuangan air. Bahkan ozon (O3), sulfur
dioksida (SO2) dan zat-zat lainnya juga masuk ke daun melalui stomata
(Dwijoseputro, 1978).
Stomata dapat ditemukan pada daun di seluruh tumbuhan tingkat tinggi
(angiosperma dan gymnosperma) dan beberapa tumbuhan tingkat rendah
(lumut dan paku) dengan pengecualian tumbuhan yang tumbuh didasar air
dan lumut hati. Stomata pada angiosperma dan gymnosperma dapat
ditemukan hamper diseluruh organ yang berhubungan langsung dengan
udara termasuk bagian yang bukan termasuk daun seperti bagian-bagian
bunga dan stem, meskipun tidak semua stomatanya berfungsi. Frekuensi dan
distribusi stomata dipengaruhi oleh beberapa factor seperti spesies
tumbuhan, posisidaun, jumlah ploid (jumlah pasangan kromosom) dan
kondisi pertumbuhannya. Secara representatif, frekuensi stomata berkisar
antara 20-400 stomata/mm^2 pada permukaan daunnya, meskipun begitu,
frekuensi sebesar 1000 stomata/mm^2 atau lebih pun nyatanya ada. Namun
ada beberapa pengecualian pada seluruh aturan tersebut, daun herba
monokotil seperti rumput yang memiliki stomata hampir sama banyaknya di
kedua sisi daun (abaxial dan adaxial). Stomata pada tumbuhan herba dikotil
juga terdapat pada kedua sisi daunnya, namun jumlah stomata pada bagian
adaxial tidak sebanyak abaxial. Beberapa tumbuhan dikotil berkayu hanya
memiliki stomata pada bagian abaxialnya saja. Sedangkan pada tanaman
akuatik yang mengapung (contoh teratai) hanya memiliki stomata pada
bagian adaxialnya saja. Beberapa daun tumbuhan monokotil dengan berkas
pengangkut yang sejajar, stomatanya segaris diantara berkas
pengangkutnya dan ada juga beberapa jenistumbuhan yang stomatanya
tersebar tidak merata di permukaan daun (Sasmitamihardja,1990).
Tumbuhan yang hidup pada tempat yang kering memiliki kandungan
stomata yang berbeda dengan tumbuhan yang hidup di tempat yang basah.
Jumlah stomata yang hidup pada lingkungan yang kering cenderung lebih
sedikit dibandingkan tumbuhan yang hidup di tempat basah. Tumbuhan yang
hidup di tempat basah memungkinkan lebih banyak membuang uap air agar
menjaga kondisi homeostatisnya dan tumbuhan yang hidup di tempat kering
berusaha meminimalisir kehilangan air melalui stomatanya dengan cara
menutup stomatanya ataupun pada beberapa spesies yang hidup di tempat
kering memang memiliki stomata yang cenderung sedikit frekuensinya
(Leveless, 1987).

D. Hipotesis
Tanaman yang hidup dilingkungan yang berair mempunyai jumlah stomata yang
lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang habitatnya di daerah yang lembab
maupun didaerah yang kering.

E. Alat dan Bahan

F. Cara Kerja
G. Data Pengamatan
Adaksial Abaksial Stomata
No Nama Tanaman
1 2 3 1 2 3 ad ab
1 Daun mangga 0 0 0 11 13 9 0 11
2 Daun Rhoeo discolor 0 0 0 14 18 18 0 17
3 Daun talas 0 0 0 39 45 41 0 42
4 Daun A. (yang dikantin) 20 27 35 53 47 55 27 52

Luas laman pandang :


1d LP = 1 mm
R LP = 0, 5 mm
Perbesaran 10 x 10 = 100x
L = . r2
= 3,14 x 0, 52
= 3,14 x 0,25
= 0,785

H. Analisis Data
Dalam 1 cm terdapat 10 mm
Sehingga dapat dihitung = 10/0,785 = 12,755102
(dalam cm2) = (dalam mm2) x 12,755102
Adaksial (Stomata Atas) Abaksial (Stomata Bawah)
No. Nama Daun
(dalam mm2) (dalam cm2) (dalam mm2) (dalam cm2)
1 Daun mangga 0 0 11 141
2 Daun Rhoeo discolor 0 0 17 217
3 Daun talas 0 0 42 536
4 Daun A. (dikantin) 27 345 52 664

Rata rata luas daun tiap tanaman


Stomata pada seluruh luas daun dapat diketahui dengan persamaan
Stomata = (dalam cm2) x L Daun

Luas Adaksial (Stomata Atas) Abaksial (Stomata Bawah)


Nama Daun (dalam cm2) Stomata (dalam cm2) Stomata
rata-rata
Daun mangga 37 Cm2 - - 141 5217
Daun Rhoeo discolor 18 Cm2 - - 217 3906
Daun talas 48 Cm2 - - 536 25728
Daun A. (dikantin) 5 Cm2 345 1725 664 3320
Berdasarkan data dan perhitungan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa :
Pada bagian adaksial daun mangga tidak ditemukan adanya stomata, sementara
pada bagian abaksial daun mangga jumlah stomatanya kurang lebih adalah 11
stomata (dalam luas 12,755102 mm2 dan perbesaran 10 x) sehingga dapat diketahui
jumlah per cm2 adalah 141 stomata.
Daun Rhoeo discolor pada bagian adaksialnya tidak ditemukan adanya stomata
sedangkan pada bagian abaksialnya jumlah stomata kurang lebih sekitar 17 stomata
per mm2, sehingga pada luas 1 cm2 adalah 217 stomata.
Daun Talas pada bagian adaksialnya tidak ditemukan adanya stomata, sedangkan
pada bagian abaksial jumlah stomatanya kurang lebih sekitar 42 stomata per mm 2,
sehingga pada luas 1 cm2 adalah 536 stomata.
Daun A jumlah stomata pada bagian adaksialnya kurang lebih adalah 27 stomata
per mm2, sehingga pada luas 1 cm2 adalah 345 stomata, sedangkan pada bagian
abaksial jumlah stomatanya kurang lebih sekitar 52 per mm 2, sehingga pada luas 1
cm2 adalah 664 stomata.
Sementara itu, setelah dilakukan perhitungan berdasarkan rata rata luas daun, dapat
diketahui bahwa :
Daun mangga mempunyai jumlah stomata kurang lebih sekitar 5217 stomata per
daun pada bagian abaksialnya, sedangkan pada bagian adaksialnya tidak ditemukan
adanya stomata.
Daun Rhoeo discolor mempunyai jumlah stomata kurang lebih sekitar 3906
stomata per daun pada bagian abaksialnya, dan pada bagian adaksialnya tidak
ditemukan adanya stomata.
Daun Talas mempunyai jumlah stomata kurang lebih sekitar 25728 stomata per
daun pada bagian abaksialnya, sedangkan pada bagian adaksialnya tidak ditemukan
adanya stomata.
Sedangkan Daun A mempunyai jumlah stomata kurang lebih sekitar 1725 stomata
per daun pada bagian adaksialnya, sedangkan pada bagian abaksialnya sekitar 3320
stomata per daun.

I. Pembahasan
Pengukuran Kecepatan Transpirasi pada Tumbuhan
Transpirasi merupakan proses pengeluaran air dalam bentuk uap oleh tumbuhan.
Secara internal, transpirasi dikontrol oleh banyak faktor salah satunya adalah daya hisap
daun (Suyitno, 2012). Secara eksternal, transpirasi juga dikontrol oleh banyak hal,
meliputi angin, suhu, kelembapan tanah, keadaan air tanah, dan radiasi cahaya
(Sasmitamihardja,1990).
Pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah di lakukan. Pengukuran laju
transpirasi dengan penimbangan adalah salah satu pengukuran yang tidak terlalu sulit di
lakukan, cara pengukuran laju transpirasi dengan penimbangan adalah dengan
menempatkan 2 buah jenis tanaman yang sama pada temperatur berbeda , dan kemudin
di ukur berat awal dan berat akhirnya, kemudian hitung (Tjitrosomo, S.S. 2004).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Transpirasi
Pengukuran transpirasi diluar kelas / di tempat terang mengalami penyusutan
massa yang cukup tinggi. Banyak faktor yang mempengaruhi peristiwa ini seperti
cahaya, angin suhu dan kelembaban tanah.
Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara yaitu sebagai berikut :
Pertama, sehelai daun yang dikenai cahaya matahari lansung akan mengabsorbsi
energi radiasi. Hanya sebagian kecil energi tersebut yang digunakan dalam fotosintesis,
selebihnya diubah menjadi energi panas. Sebagian dari energi panas tersebut dilepaskan
ke lingkungan, dan selebihnya meningkatkan suhu daun lebih tinggi daripada suhu udara
disekitarnya. Pemanasan tersebut meningkatkan transpirasi, karena suhu daun biasanya
merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi laju proses tersebut. Fakta yang
menunjukkan bahwa daun yang kena cahaya matahari mempunyai suhu yang lebih tinggi
daripada suhu udara memungkinkan laju transpirasi yang cepat, bahkan dalam udara
yang jenuh.
Kedua, cahaya dalam bentuk yang tidak lansung dapat pula mempengaruhi
transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka tutupnya stomata. Pada siang hari, Ketika
ada cahaya matahari, stomata membuka karena meningkatnya pencahayaan, dan cahaya
meningkatkan suhu daun sehungga air menguap lebih cepat. Naiknya suhu membuat
udara mampu membawa lebih banyak kelembaban, maka transpirasi meningkat dan
barangkali bukaan stomata pun terpengaruh. Angin membawa lebih banyak CO 2 dan
mengusir uap air. Hal ini menyebabkan penguapan dan penyerapan CO 2 meningkat, tapi
agak kurang dari yang diduga, karena meningkatnya CO2 menyebabkan stomata menutup
sebagian. Bila daun dipanaskan oleh sinar matahari dengan panas yang melabihi suhu
udara, angin akan menurunkan suhunya. Akibatnya, transpirasi menurun. Cahaya
mempunyai hubungan langsung dengan proses fotosintesis dalam menghasilkan
karbohidrat, untuk digunakan dalam proses respirasi sampai dihasilkan energi dalam
bentuk ATP. Jadi semakin tinggi intensitas cahaya, semakin tinggi pula laju
transpirasinya.
Selain itu, pengukuran transpirasi di luar kelas memiliki laju transpirasi lebih tinggi
dikarenakan kecepatan angin yang berada diluar kelas lebih kencang dibandingkan
dengan kecepatan angin di dalam kelas. Dalam perpindahan masa udara, angin akan
membawa massa uap air yang berada disekitar tumbuhan, sehingga dapat menurunkan
tekanan uap air disekitar daun dan dapat meningkatkan laju transpirasi
(Sasmitamihardja,1990).
Kerapatan jumlah stomata pada satuan luas tertentu
Menurut Agustina dalam Rofiah (2010) bahwa kerapatan stomata diklasifikasikan
menjadi kerapatan rendah (500/mm2 ) Kerapatan stomata dapat dihitung dengan
menggunakan rumus menurut Lestari (2006):
jumlah stomata
Kerapatan stomata = Luas Bidang Pandang

Berdasarkan analisis data, dapat diketahui bahwa jumlah stomata tanaman


dipengaruhi oleh habitat tanaman tersebut. Dapat dilihat bahwa tanaman yang habitatnya
di air (Tanaman A) mempunyai jumlah stomata yang lebih banyak dibandingkan dengan
tanaman yang hidup di daerah kering (Tanaman Mangga) ataupun didaerah lembab
(Rhoeo discolor dan Talas). Hal tersebut dilakukan tanaman untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, tanaman yang hidup didaerah basah akan lebih banyak
melakukan transpirasi dibandingkan dengan tanaman yang hidupnya didaerah lembab
ataupun kering, hal inilah yang menyebabkan tanaman didaerah basah mempunyai
jumlah stomata lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang hidup didaerah lembab
ataupun kering (Loveless, 1987).
Distribusi stomata pada berbagai macam tanaman
Stomata adalah tampilan pokok epidermis daun, hal itu berhubungan dengan
fungsi daun sebagai organ transpirasi dan fotosintesis. Daun yang mempunyai stomata di
kedua permukaan disebut daun amfistomatik, sedangkan apabila memiliki stomata yang
hanya terdapat di permukaan atas saja disebut daun epistomatik, dan sebaliknya apabila
mempunyai stomata yang hanya terdapat pada permukaan bawah saja disebut daun
hipostomatik (Setjo, 2004).
Distribusi stomata tanaman darat umumnya terdapat pada permukaan daun bagian
bawah rata-rata berbentuk oval diameter 6-18 mikron dan luas 90 mikron persegi
(Dwijoseputro, 1978). Letak stomata pada daun dikotil umumnya tersebar, sedangkan
pada monokotil terletak berderet-deret sejajar sesuai dengan susunan epidermisnya. Hal
ini diduga ada kaitannya dengan sifat genetis dan morfologis pada tanaman dikotil dan
monokotil (Loveless, 1987).
Gembong (1978) menyatakan bahwa pada umumnya daun-daun tanaman dikotil
mempunyai helaian menjari atau menyirip, sedangkan monokotil umumnya sejajar atau
melengkung. Hal ini menyebabkan perkembangan distribusi stomatanya juga mengikuti
kaidah tersebut. Hasil pengamatan terhadap jumlah stomata menunjukkan bahwa daun-
daun tanaman yang termasuk sedikit 24%, cukup banyak 20%, banyak 19%, sangat
banyak 14% dan tak terhingga 23%. Sebenarnya jika dilihat ukurannya , stomata
mempunyai ukuran diameter yang berbedabeda ada yang kecil ada yang besar, Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa pada daundaun tanaman monokotil ukuran stomatanya
relatif lebih kecil , sehingga terlihat sangat padat daripada stomata daun dikotil.

J. Kesimpulan
Tanaman selalu melakukan transpirasi yang merupakan proses penguapan air yang
terjadi sehingga menyebabkan air semakin berkurang. Transpirasi yang dilakukan sangat
bergantung dari faktor lingkungan yaitu suhu, kelembaban dan intensitas cahaya yang
ada di sekitar tanaman.
Faktor dalam atau faktor struktur
1. Jumlah stomata tiap satuan luas permukaan daun.
2. Struktur anatomi daun.
3. Sel daun mempunyai potensial osmotik tinggi sehingga air tidak mudah
menguap.
Faktor luar atau lingkungan
1. Kelembaban udara.
2. Temperatur.
3. Kecepatan angin.
4. Cahaya.
5. Penyediaan air.
6. Aktivitas Vital.
Jumlah stomata tiap satuan luas permukaan daun. Besarnya tergantung kepada
jenis dan faktor lingkungan pada saat daun itu berkembang. Jumlah stomata, sering
dinyatakan dengan indek stoma, yaitu perbandingan antara jumlah stoma dengan jumlah
stomata dan sel epidermis pada luas tertentu.
Tumbuhan air memiliki banyak stomata pada bagian adaksialnya dibandingkan
dengan tumbuhan kering.

DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro, D. 1978. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT Gramedia
Gembong T. 1978. Morfologi Tumbuhan. Jakarta : PT Gramedia
Loveless. A.R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk daerah Tropik. Jakarta : PT
Gramedia
Rofiah, Al. 2010. Kajian Aspek Anatomi Daun Beberapa Varietas Kedelai (glycine max L)
Pada Kondisi Cekaman Kekeringan. Universitas Islam NegeriMalang: Malang.
Sasmitamihardja, Dardjat., Siregar, Arbayah. 1990. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan.
Bandung: ITB Suyitno. 2012. Materi Transpirasi Tumbuhan. (Online)
(http://staff.uny.ac.id/) diakses 10 September 2016
Setjo, Susetyoadi.dkk. 2004. Anatomi Tumbuhan. Malang : JICA UM.
Tjitrosomo, S.S. 2004. Botani Umum 2. Penerbit Angkasa : Bandung
LAMPIRAN

Alat yang digunakan

Bahan yang digunakan

Stomata daun
Daun mangga Daun Talas Daun A

Daun Mangga

Stomata pada daun mangga Stomata pada daun Rhoeo discolor


Stomata pada daun talas Stomata pada daun A