Anda di halaman 1dari 2

Agar Kerja Anda Bernilai Ibadah

http://www.babinrohis-nakertrans.org/akhlaq-islami/agar-kerja-anda-bernilai-ibadah

Selama hidup di dunia, mau tak mau kita harus berusaha terlebih dahulu untuk memperoleh
kebutuhan hidup. kita tidak boleh berpangku tangan saja sembari mengharap belas kasihan orang lain.
Dalam islam, orang yang memberi lebih terhormat daripada orang yang menerima. Seorang mukmin
yang tegar dan mampu mandiri lebih utama daripada seorang mukmin yang lemah dan selalu
menggantungkan nasibnya kepada orang lain. Anggapan bahwa Islam adalah ajaran yang
cenderung mengajak orang bermalas-malasan adalah anggapan yang salah. Justru Islam
melalui al-Quran dan hadis-hadis memotivasi umatnya agar menjadi manusia pekerja keras dan
pantang menerima belas kasih orang lain. Sejarah menyebutkan bahwa para nabi dan rasul aktif
bekerja. Ada yang menjadi petani, pengembala, tukang kayu dan beragam profesi lainnya. Tokoh-tokoh
penyebar agama islam di Indonesia pun adalah ulama-ulama yang ulet berniaga di samping kegigihan
mereka berdakwah.

Bekerja bisa bernilai ibadah dan bahkan pahalanya melebihi ibadah-ibadah sunnah apabila didasari
dengan niat baik serta dilakukan sesuai syariat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui
pola kerja sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Dengan bekerja secara benar, niscaya kita mendapatkan
keuntungan ganda, materi dunia dan pahala di akhirat. Ibarat sekali merengkuh dayung, dua tiga
pulau terlampaui. Mari kita simak penuturan al-Imam Habib Abdullah bin Husein bin Thahir al-Alawi
tentang cara bekerja yang baik dan berkah berikut ini :

Ketika kalian hendak memasuki dunia kerja, persiapkanlah niat-niat yang baik terlebih dahulu.
Mencari rejeki yang halal adalah wajib bagi setiap insan muslim. Untuk itu, niatkanlah di dalam hati
bahwa tujuan kalian bekerja adalah untuk mendapatkan rejeki halal yang dapat menunjang kehidupan
agama kalian, menjaga martabat kalian serta keluarga kalian agar tidak meminta-minta kepada orang
lain juga untuk menghindarkan diri kalian dari sikap ingin memiliki hak-hak orang lain.

Akan tetapi, di tengah-tengah kesibukan kerja, janganlah kalian melalaikan urusan akhirat. Luangkan
waktu untuk mempelajari ilmu syariat yang diwajibkan kepada kalian, laksanakan salat lima waktu
dengan berjamaah, jagalah keistiqamaan kalian dalam membaca wirid-wirid. Allah Swt
berfirman :Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli
dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.
mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi
goncang. Selanjutnya Allah Swt juga mengingatkan: Hai orang-orang beriman, janganlah
hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang
berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.

Pelajarilah ilmu yang berkaitan dengan bidang kerja kalian, agar kalian dapat mengambil sikap yang
benar dan tidak merugikan orang lain. Sehingga kalian selamat dari perbuatan dosa dan maksiat.
Hindarilah cara kerja yang tidak benar dan menyalahi aturan syariat. Sebab harta yang dihasilkan
dengan cara tersebut adalah haram. Harta haram hakikatnya menjijikkan dan akan lenyap dari tangan
pemiliknya dengan cepat. Hal itu telah terbukti dan pasti akan dirasakan oleh mereka yang
melakukannya. Sesungguhnya ibadah yang dilaksanakan oleh orang yang memakan barang haram
atau memakai baju yang haram takkan diterima oleh Allah Swt. Penyusun Zubad
menggambarkan:Dan ketaatan dari seseorang yang memakan barang haram, adalah
semisal bangunan yang didirikan diatas ombak lautan.
Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang memakan barang haram, maka sekujur tubuhnya akan
mengerjakan kemaksiatan, baik ia menghendakinya ataupun tidak. Sebuah kata bijak berbunyi,
Makanlah semua yang kalian inginkan, niscaya seperti jenis makanan kalian itulah bentuk
amal perbuatan kalian. Kemudian manakala kalian dikarunia harta yang halal, pergunakanlah
dengan tata cara dan niat yang baik. Makanlah secukupnya dan jangan sampai terlalu kenyang. Sebab
perut yang dipenuhi dengan makanan sekalipun halal akan menjadi pemicu perbuatan-perbuatan
nista.

Bisa dibayangkan, bagaimana jika dipenuhi dengan makanan yang haram. Rasulullah Saw
mewartakan, Tiada wadah yang penuh yang lebih jelek daripada perut. Sebenarnya cukup
bagi manusia beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika memang
menghendaki lebih, maka yang layak adalah sepertiga perutnya untuk makanan,
sepertiganya lagi untuk minum, dan sepertiga yang terakhir untuk nafasnya. Disebutkan
pula bahwa kebanyakan penyakit penyebabnya adalah kekenyangan perut. Ketahuilah, sesungguhnya
harta yang sedikit namun halal lebih baik dan lebih mendatangkan berkah daripada harta melimpah
namun haram atau syubhat.

Apabila kalian telah mendapatkan rejeki yang sekiranya mencukupi kebutuhan kalian di waktu itu ,
maka qanaah (merasa cukup)-lah dengannya lalu bersyukurlah kepada Allah serta jangan
mengharapkan yang berlebihan untuk masa yang akan datang. Janganlah kalian bersikap tamak dan
selalu mengharap lebih, sehingga tubuh dan hatimu akan kecapaian karenanya. Asal tahu saja,
sesungguhnya takkan sampai kepada kalian kecuali rejeki yang telah ditakdirkan untuk kalian.
Ketahuilah, sesungguhnya nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kalian yang bukan berupa
harta benda jauh lebih besar daripada kenikmatan yang berupa harta benda.

Hati-hatilah, jangan pernah menipu, berkhianat ataupun berbohong dalam setiap pekerjaan kalian.
Karena semua tindakan itu memancing amarah Allah Swt dan menghapus keberkahan dari jerih payah
kalian. Dasarilah segala urusan pekerjaan kalian dengan sikap jujur dan nasihah. Keluarkan semua
hak yang diwajibkan dalam harta kalian seperti zakat, pelunasan utang, serta nafkah-
nafkah yang wajib dengan senang hati dan lapang dada.