Anda di halaman 1dari 18

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kopi bukanlah tanaman asli Indonesia, akan tetapi tanaman kopi merupakan
salah satu komoditas andalan perkebunan dengan kontribusi nyata dalam penghasilan
devisa, pendapatan petani, penghasil bahan baku industri, pembuka lapangan kerja
maupun pengembangan wilayah di Indonesia (Mahfud, 2012). Kopi termasuk
kedalam ordo Rubiales, famili Rubiaceae, genus Coffea, berspesies Coffea sp.
Kopi merupakan tanaman tahunan yang bisa mencapai umur produktif selama
20 tahun. Secara umum tanaman kopi yang sering di budidayakan di dunia dikenal 4
jenis kopi yaitu Kopi Arabika (Coffee Arabica), Kopi Liberika (Coffee Liberica),
Kopi Robusta (Coffee Cannephora), Kopi Excelsa (Coffee Dewevrei). Diantara
keempat ini yang merupakan kopi terbaik adalah kopi Liberika. Kopi Arabika
merupakan kopi tradisional yang rasanya dianggap paling enak oleh para penikmat
kopi (Morganelli.2006). Pada usaha budidaya kopi terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi keberhasilan budidaya kopi salah satunya adalah teknik budaya.
Pengetahuan dalam teknik budidaya kopi tak lepas dari pengetahuan tentang
morfologi kopi, organisme pengganggu tanaman kopi dan perawatan tanaman kopi
yang meliputi pemangkasan dan pemupukan.

Keberadaan dan pengembangan tanaman kopi saat ini dan masa mendatang
akan dihadapkan kepada berbagai kendala, diantaranya masalah serangan organisme
pengganggu tanaman hingga biofisik terutama ancaman perubahan iklim yang
disebabkan oleh pemanasan global akibat peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK).
Upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap tanaman kopi perlu
dikembangkan sistem budidaya tanaman kopi yang toleran (resilience) terhadap
variabilitas dan perubahan iklim saat ini dan di masa yang akan datang. Teknologi
inovatif dan adaptif tersebut salah satunya adalah dengan pemangkasan (Supriadi,
2014). Pemangkasan merupakan salah satu kegiatan penting dalam budidaya
tanaman kopi. Pemangkasan dapat meningkatkan produksi kopi per tanaman jika
dilakukan secara teratur dan terarah dengan pedoman yang telah ditetapkan. Tujuan
dari pemangkasan adalah untuk menghasilkan cabang tanaman baru yang lebih
banyak dan mempermudah tanaman dalam mendapatkan sinar matahari sebagai unsur
pembentuk bunga. Selain itu, pemangkasan tanaman kopi juga berguna untuk
menghilangkan cabang-cabang tua atau berpenyakit serta memperbaiki sirkulasi
udara di dalam kebun (Fontena et al., 2014).

Pemangkasan bukan hanya satu-satunya cara dalam pemeliharan pohon kopi


akan tetapi pemeliharaan juga dapat dilakukan dengan cara pemupukan. Tanaman
kopi memerlukan pupuk sebagai salah satu sumber hara. Pemupukan dalam budidaya
kopi menjadi salah satu proses yang penting karena akan menentukan tingkat
kesuburan dan produktifitas kopi yang dipelihara. Efektifitas pemupukan pada
tanaman kopi ditentukan oleh dua faktor yaitu pengambilan hara oleh tanaman, dan
persediaan kandungan hara di dalam tanah. Pengambilan hara dari dalam tanah
dilakukan oleh kopi untuk mendukung pertumbuhannya. Termasuk di dalamnya
adalah pembentukan buah oleh cabang lateral (Panggabean, 2011).

Menurut Saragih (2013), pupuk organik tidak dapat menunjukkan hasil


produksi kopi yang signifikan tanpa penambahan pupuk anorganik. Pemilihan pupuk
harus disesuaikan dengan kebutuhan dari tanaman. Karena jika salah dalam pemilihan
pupuk tidak hanya memboroskan anggaran, tetapi juga dapat menurunkan
produktifitas tanaman. Tanaman kopi merupakan tanaman yang sangat sensitif
terhadap keseimbangan pupuk yang diberikan. Di sisi lain, tanaman kopi sangat
rentan terhadap kekurangan air, terutama pada fase pertumbuhan pembungaan dan
pengisian buah. Persaingan ini akan berlanjut terns sehubungan dengan makin
berkurangnya kadar bahan organik tanah (Ferry dan Rusli, 2014).

1.2 Tujuan
1. Mampu mengenali dan menggambarkan karakteristik morfologi (akar, batang,
daun, bunga, buah dan biji) tanaman kopi.
2. Mampu mengenali hama dan penyakit tanaman kopi.
3. Mampu mengatur pertumbuhan vegetatif tanaman kopi kearah pertumbuhan
generatif yang lebih produktif.
4. Memahami cara pemangkasan dan pemupukan tanaman kopi.
BAB 2. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Pelaksanaan praktikum Budidaya Tanaman Perkebunan pada acara Komoditas
Kopi di laksanakan pada hari Rabu tanggal 5 Oktober 2016 pada pukul 15.00 WIB
hingga selesai bertempat di Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
1. Morfologi : kamera, pensil warna dan alat tulis.
2. Organisme : whorksheet, alat tulis dan kamera.
3. Pemeliharaan : gunting pangkas, gergaji, cangkul, sabit dan meteran.
3.2.2 Bahan
1. Morfologi : daun, batang, bunga dan buah tanaman kopi.
2. Organisme : tanaman kopi yang terserang penyakit.
3. Pemeliharaan : tanaman kopi dan pupuk

3.3 Cara kerja


1. Morfologi :
a. Mengamati pohon kopi yang sedang berbunga dan berbuah.
b. Mengambil gambar dengan kamera, bagian akar, batang, daun, bunga,
buah, dan biji.
c. Menggambar bagian akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji dengan baik
dan benar.
2. Organisme :
a. Mengamati OPT pada tanaman kopi sesuai dengan worksheet yang
disediakan.
b. Mengambil gambar OPT maupun gejala serang yang ada di lapangan
dengan menggunakkan kamera.
c. Mendeskripsikan gambar yang telah diperoleh secara singkat dan
bandingkan dengan gambar yang ada di literature
d. Membuat laporan dari hasil pengamatan OPT tanaman kopi yang telah
dilakukan.
3. Pemeliharaan :
3.1 Pemangkasan
1. Menentukan tanaman yang akan diperlakukan
2. Melakukan pemangkasan bentuk dengan :
a. Batang TBM/TMI dengan ketinggian 1 m dipotong dan 3 cabang primer
dipotong pada ketketinggian 80 100 cm sebagai unit tangan etape 1.
Pemotongan dilakukan pada ruas ke- 2 3 dan pasangan batang primer
yang dipotong dihilangkan
b. Tunas yang tumbuh pada cabang primer yang telah dipotong diseleksi
dengan menyisakan tunas yang kokoh.
c. Semua wiwilan yang tumbuh dihilangkan agar percabangan menjadi kuat.
d. Setelah batang dan etape 1 tumbuh kuat, wiwilan yang tumbuh keatas
dipelihara sebagai sebagai bayonet dan 2-3 cabang plagiotrop terbawah
dihilangkan.
e. Membentuk calon tangan etape 2 pada ketinggian 120-140 cm dengan
cara yang sama dengan membuat etape 1 namun berbeda arahnya.
f. Setelah etape 2 berbentuk, buat etape 3 dengan ketingggian 160-180 cm.
perlakuannya sama dengan pembentukan etape 1 dan 2 sehingga
membentuk pangkasan mersi.
3.2 Pemupukan
1. Menimbang berat pupuk.
2. Membersihkan lahan disekitartanaman kopi dengan menggunakan
cangkul/sabit dengan jarak proyek tajuk sedalam kurang lebih 10 cm.
3. Membuat parit melingkari pohon sedalam kurang 10cm.
4. Menaburkan pupuk pada alur yang melingkar.
5. Menutup alur pupuk.
6. Melakukan pemupukan lanjutan sesuai dengan anjuran.
BAB 3. PEMBAHASAN

Kopi pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1696 dari jenis kopi Arabika. Kopi
ini masuk melalui Batavia (sekarang Jakarta) yang dibawa oleh Komandan Pasukan
Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar - India, yang kemudian ditanam dan
dikembangkan di tempat yang sekarang dikenal dengan Pondok Kopi Jakarta Timur,
dengan menggunakan tanah partikelir Kedaung. Sayangnya tanaman ini kemudian
mati semua oleh banjir, maka tahun 1699 didatangkan lagi bibit-bibit baru, yang
kemudian berkembang di sekitar Jakarta dan Jawa Barat antara lain di Priangan, dan
akhirnya menyebar ke berbagai bagian dikepulauan Indonesia seperti Sumatera, Bali,
Sulawesi dan Timor. Kopi pun kemudian menjadi komoditas dagang yang sangat
diandalkan oleh VOC. Tahun 1706 Kopi Jawa diteliti oleh Belanda di Amsterdam,
yang kemudian tahun 1714 hasil penelitian tersebut oleh Belanda diperkenalkan dan
ditanam di Jardin des Plantes oleh Raja Louis XIV.
Produksi kopi di Jawa mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Selama
Satu tiga perempat abad kopi Arabika merupakan satu-satunya jenis kopi komersial
yang ditanam di Indonesia. Tapi kemudian perkembangan budidaya kopi Arabika di
Indonesia mengalami kemunduran hebat, dikarenakan serangan penyakit karat daun
(Hemileia vastatrix) yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1876. Akibatnya kopi
Arabika yang dapat bertahan hidup hanya yang berada pada ketinggian 1000m ke atas
dari permukaan laut, dimana serangan penyakit ini tidak begitu hebat. Sisa-sisa
tanaman kopi Arabika ini masih dijumpai di dataran tinggi ijen (Jawa Timur), Tanah
Tinggi Toraja (Sulawesi Selatan), lereng bagian atas Bukit Barisan ( Sumatera)
seperti Mandhailing, Lintong dan Sidikalang di Sumatera Utara dan dataran tinggi
Gayo di Nangroe Aceh Darussalam (AAK, 1988).
Saat ini kopi indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat dan bahkan
menjadi penghasil kopi nomer 3 di dunia setelah Brazil dan Kolombia. Untuk
mengetahui peningkatan produksi kopi idonesia dapat dilihat pada tabel berikut ini
data luas lahan dan produksi tanaman kopi Indonesia rentan tahun 2006-2010 dikuti
dari Risandewi (2013).

Kopi merupakan komoditas penting perkebunan di Indonesia. Indonesia


merupakan negara penghasil kopi keempat terbesar di dunia. Saat ini, produksi kopi
Indonesia telah mencapai 600 ribu ton pertahun dan lebih dari 80% berasal dari
perkebunan rakyat. Kopi sebagai salah satu aset produk Indonesia yang terkenal di
dunia, sekarang ini banyak diusahakan atau diproduksi secara organic dengan istilah
kopi organik. Pengelolaan tanaman kopi organik belum dilakukan secara intensif. Hal
ini dapat dilihat dari pengelolannya yang tidak menggunakan pupuk organik secara
keseluruhan (Winarni dkk., 2013). Salah satu contoh produk yang menjadi andalan
Indonesia adalah biji kopi organik mulai dari biji kopi tanpa olah hingga kopi yang
sudah siap di dajikan atau berupa bubuk kopi. Kopi Indonesia dewasa ini naik daun
ketika sering memenangkan festival kopi kelas dunia. Sehingga beberapa jenis kopi
arabika asal Indonesia menjadi primadona kopi kelas tinggi.

4.1 Morfologi
Morfologi tanaman kopi yang diamati pada praktikum kali ini meliputi buah,
batang, daun dan bunga. Sehingga dapat diketahui :
Morfologi Akar Kopi
Kopi termasuk keluarga Rubiacceae, bijinya berkeping dua (dikotil), sehingga
memiliki akar tunggang. Morfologi akar tanaman kopi ini cukup unik yaitu akar
tunggangnya tumbuh dari akar lembaga yang tumbuh terus menerus menjadi akar
pokok yang bercabang-cabang dan kemudian menjadi akar yang lebih kecil lagi. Akar
tunggang pada tanaman kopi membuat tanaman kopi bisa berdiri kokoh serta tidak
mudah rebah, akan tetapi akar tunggang hanya dimiliki oleh tanaman kopi yang
berasal dari bibit semaian.
Morfologi Batang Kopi
Morfologi batang tanaman kopi tegak lurus ke atas serta beruas-ruas dan
terdapat banyak kuncup pada batang maupun cabang. Pada susunan batang-batang
tersebut sering tumbuh orthotrop dan batang tersebut apabila dibiarkan dapat tumbuh
mencapai 12 m. Tanaman kopi memiliki berbagai macam percabangan, diantaranya:
cabang produksi (orthotrop), cabang utama (plagiotrop), cabang sekunder, cabang
kipas, cabang pecut, cabang balik dan cabang air.
Morfologi Daun Kopi
Daun pada tanaman kopi tersusun dari tangkai daun dan helaian, daun kopi
berwarna hijau yang berbentuk jorong dengan ujung meruncing, tumbuh pada batang,
cabang, serta ranting-ranting yang tersusun berdampingan pada ketiak. Tulang daun
kopi menyirip dengan pangkal daun memiliki tepi yang tidak pernah bertemu yang
terpisah oleh pangkal ujung tangkai daun yang bertentuk tumpul.
Morfologi Bunga Kopi
Tanaman kopi termasuk ke jenis planta multiflora karena tanaman kopi mampu
menghasilkan sekelompok bunga (bunga banyak). Bunga kopi terdapat pada ketiak
daun dengan bunga yang membentuk suatu rangkaian yang bergerombol (bunga
majemuk). Bunga kopi memiliki alat kelamin lengkap (putik dan benang sari),
tanaman kopi juga termasuk dalam golongan monoceus (berumah satu), artinya bunga
jantan dan bunga betina pada satu batang tumbuh.
Morfologi Buah Kopi
Buah kopi muda berwarna hijau muda, berubah menjadi hijau tua lalu kuning
dan apabila sudah matang akan berwarna merah hingga merah tua dengan ukuran biji
sekitar 12 18 mm untuk varietas arabika dan 8 16 mm untuk varietas robusta.
Terdapat tiga lapisan kulit yang menyelimuti biji, yaitu kulit luar (epicarp), kulit
tengah (mesocarp) dan kulit dalam (endocarp).
Secara umum ada beberapa perbedaan sayarat tumbuh dari beberapa jenis
tanaman kopi antara lain adalah :
1. Tanaman kopi arabika tumbuh rimbun dan mendesak pohon perdu kecil.
Adapun tanaman kopi ekselsa memiliki pertumbuhan pohon besar dan kuat.
2. Kopi arabika memiliki percabangan yang lentur serta berdaun tipis. Adapun
spesies kopi robusta memiliki percabangan lebih kaku serta berdaun lebih tebal
dan lebar.
3. Perakaran tanaman kopi arabika lebih dalam dari pada kapi robusta. Oleh
karena itu, kapi arabika lebih tahan kering dibandingkan dengan kopi robusta
(DaMatta, 2011).

4.2 OPT Tanaman Kopi


Hama utama yang sering menyerang tanaman kopi adalah Hypotemenus
hampei atau sering di sebut penggrek buah kopi dan Himeliea Vastatrix atau jamur
penyebab karat daun kopi. Hama H. Hampei menyerang tanaman kopi setelah
tanaman kopi mulai menanpakkan buah. Serangan dapat mengakibatkan buah kopi
menjadi rusak dan kosong. Pengendalian hama ini biasanya dilakukan dengan
penyemprotan agens hayati seperti beuvaria bassian. Selain itu pengaturan naungan
juga sangat penting untuk menjaga kelembaban lingkungan sekitar tanaman tidak
terlalu lembab yang bisa menjadi tempat berkembangnya larva hama ini.
Pemangkasan tanaman secara teratur juga sangan penting dilakukan agar kondisi
tanaman tetap sehat.
Masalah penyakit yang biasa menyerang tanaman kopi adalah karat daun.
Penyakit ini diakibatkan oleh serangan jamur Himeliea Vastatrix yang akan
mengakinatkan tanaman kopi pada bagian daun menjadi karat. Daun kopi yang
tererang jamur ini akan menampakkan daun yang berwarna coklat di beberapa bagian
daun. Gejala ini menampakkan adanya karat pada beberpa bagian di daun, yang apat
mengakibatkan gangguan fotosintesis pada tanaman kopi yang tentunya akan
berimbas pada produksi kopi setelah di panen.
Menurut Mahfud (2012) menyatakan bahwa perkembangan penyakita tanaman
dipengaruhi oleh 3 faktor antara lain adalah pategen, inang dan tanaman. Secara
spesifik perkembangan penyakit karat daun kopi dipengaruhi oleh patogen H.
Vastatrix , kondisi tanaman kopi, dan lingkungan kebun. Di daerah tropis , H.
Vastatrix bertahan sebagai uredospora (spora jamur karat), uredium (badan buah
penghasil uredospora, dan meselium (kumpulan hifa jamur karat) pada daun sakit
untuk melanjutkan infeksi pada tanaman kopi.
Selain permasalahan hama dan penyakit yang umum tersebut, juga pernah
terjadi permasalah pada tanaman kopi yang sempat menjadi permaslahan nasional.
Sehingga membuat beberapa kebun di Indonesia gagal panen. Permasalah tersebut
adalah serangan kutu daun pada tanaman penaung pada perkebunan. Hama kutu
loncat pada pertanaman tanaman lamtoro yang pada saat ini merupakan tanaman
penaung tanaman kopi terseng hingga kemampuan menjadi tanaman penaung
menjadi rusak, yang berimbas pada produksi tanaman kopi yang juga ikut menurun.
Sehingga langkah-langkah untuk menyelasaikan permasalah pada tanaman penaung
ini juga mulai bermunculan. Mulai dari mengganti tanaman penaung tanaman lamtoro
dengan tanaman lain, hingga introduksi musuh alami yang di datangkan dari luar
negeri. Beberapa permasalah ini lah yang menjadi acuan evaluasi budidaya tanaman
kopi Indonesia sehingga tetap mampu menghasilkan produksi dengan kualitas baik
dan tentunya terus di gemblebg agar dalam skala kuantitas juga nantinya lebih baik
lagi.

4.3 Pemeliharaan
Pada budidaya tanaman kopi juga dilakukan perawatan berupa pemangkasan
dan pemupukan. Pemangkasan merupakan salah satu seni dalam memaksimalkan
fotosintat menjadi buah-buah kopi secara maksimal. Tahapan pemangkasan di
antaranya pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, pemangkasan produksi,
dan terakhir pemangkasan peremajaan. Pemangkasan bentuk bertujuan membentuk
tanaman kopi muda menjadi batang tanaman yang kokoh sesuai yang kita inginkan.
Selanjutnya pemangkasan pemeliharaan dan produksi bertujuan untuk membuang
cabang yang tidak perlu sehingga memaksimalkan pembentukan buah kopi yang
berkualitas. Selain itu sesuai pernyataan Machfud (2012) bahwa pemangkasan kopi
akan menurunkan intensitas penyakit penting seperti karat daun dan menghasilkan
cabang/ranting produktif. Tanpa pemangkasan efisiensi fotosintat menjadi rendah
karena tanaman menghasilkan cabang/ranting yang tidak produktif.
Dalam upaya peremajaan tanaman kopi, perlu di perhatikan cara-cara
pemangkasan rejuvenasi yang tepat. Rejuvenasi dapat di lakukan dengan cara
bertahap. Hal ini di lakukan apabila petani masih ingin memanen sambil menunggu
tunas tumbuh. Pemangkasan samping di lakukan pada masa-masa menjelang panen
dengan menghabiskan salah satu sisi cabang-cabang samping. Cabang-cabang sisi
lainnya akan di biarkan berproduksi hingga tunas air muncul. Sementara cara lainnya
adalah dengan memotong seluruh batang tanaman setinggi 50cm dan menghabiskan
percabangannya. Nantinya akan muncul tunas air dan pilih tunas yang paling kekar
untuk di pelihara. Tunas air dapat di lakukan sambung serta perawatan pengurangan
tunas guna memaksimalkan pertumbuhan batang baru hasil rejuvenasi yang lebih
produktif.
Terdapat 2 jenis pemangkasan bentuk yaitu pemangkasan batang ganda dan
pemangkasan batang tunggal. Pemangkasan batang ganda di tujukan membentuk 2
batang utama yang di pelihara. Pemangkasan ini kurang begitu menghasilkan buah
dengan baik dan cenderung menyebabkan kekeringan atau kematian kopi.
Pemangkasan batang ganda hanya di lakukan oleh perkebunan rakyat serta sebagai
bagian dalam rejuvenasi bertahap. Sementara pemangkasan batang tungga akan
menghasilkan perawatan yang lebih intensif. Pemangkasan cabang tunggal akan
menghasilkan produksi yang lebih baik serta batang yang lebih pendek untuk
perawatannya. Pemangkasan cabang tunggal akan menghasilkan bentuk yang lebih
kokoh serta model etape yang memaksimalkan produksi cabang lateral.
Peremajaan dan pemeliharaan harus di imbangi dengan pemupukan yang tepat.
Jenis pupuk yang di berikan harus mengandung unsur NPK serta hara mikro esensial
bagi kopi. Unsur NPK terdiri atas hara N yang berperan dalam pertumbuhan
vegetatif, P dalam pertumbuhan generatif, serta K dalam ketahanan tanaman. Selain
itu dapat di berikan pupuk mikro maupun pupuk organik guna menjaga kondisi fisik
kimia tanah yang seimbang bagi perakaran. Pupuk di aplikasikan dengan cara
membuat alur pada piringan di bawa tajuk kopi. Pupuk di tebar di bawah tajuk pada
alur tanah dan di tutup kembali agar terhindar dari pencucian dan di lakukan pada
awal dan akhir penghujan.
Sebelum melakukan pemupukan perlu di ketahui umur tanaman, jenis kopi,
serta kondisi lahan. Hal ini berkaitan dengan dosis pupuk yang di berikan serta
potensi kehilangannya. Sesuai pernyataan Adnyana (2011) bahwa terdapat
penggunaan variasi pupuk kandang dan urea yang di sesuaikan dengan kondisi suatu
tanah perkebunan. Sehingga variasi dosis yang di berikan menghasilkan kopi yang
lebih besar. Pemupukan tanaman muda tentunya membutuhkan lebih sedikit hara di
banding pohon tua. Jika kondisi lahan kurang subur serta pupuk sedikit maka
pemupukan di lakukan dengan membuat lubang-lubang tugal sekitar larikan. Tahapan
lainnya adalah melakukan pemangkasan sehingga hara yang di berikan dapat di
manfaatkan secara maksimal.
BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Dalam usaha budidaya kopi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
keberhasilan teknik budidaya kopi yaitu tentang pengetahuan dalam budidayanya
yang tak lepas dari pengetahuan morfologi kopi, organisme pengganggu tanaman
kopi dan perawatan tanaman kopi yang meliputi pemangkasan dan pemupukan.
2. Morfologi tanaman kopi memiliki akar tunggang (hanya dimiliki oleh bibit
semaian) dengan sistem perakaran yang dangkal, memiliki batang yang tegak
lurus beruas-ruas dengan sistem percabangan yang berbeda dari tanaman lainnya,
memiliki daun yang berwarna hijau berbentuk jorong dengan ujung meruncing,
memiliki bunga majemuk berjenis monoceus serta memiliki buah kopi yang
berbeda ukuran dalam bermacam varietas.
3. Kendala dalam budidaya kopi salah satunya disebabkan oleh hama penyakit
tanaman kopi seperti Hypotemenus hampei atau sering di sebut penggrek buah
kopi dan Himeliea Vastatrix atau jamur penyebab karat daun kopi. Hama kutu
yang menyerang tanaman penaung juga mempengaruhi hasil produksi tanaman
kopi.
4. Perawatan pada tanaman kopi meliputi pemangkasan dan pemupukan.
Pemangkasan dilakukan guna membuang batang yang terserang penyakit hingga
meningkatkan fotosintat, sedangkan pemupukan diberikan guna menambah
nutrisi yang kurang atau belum tersedia dalam tanah.

5.2 Saran
Pada dasarnya praktikum kali ini berjalan dengan lancar, untuk kedepannya
lebih di kondusifkan lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1988. Budidaya Tanaman Kopi. Kanisius: Jakarta.

Adnyana, I. M. 2011. Aplikasi Anjuran Pemupukan Tanaman Kopi Berbasis Uji


Tanah di Desa Bongancina Kabupaten Buleleng. Udyana Mengabdi, 10 (2): 64-
66.

DaMatta F. M. 2011. Exploring Drought Tolerance In Coffee: A Physiological


Approach With Some Insights For Plant Breeding. Plant Physiol. 16(1):1-6.

Ferry, Y. dan Rusli. 2014. Pengaruh Dosis Mikoriza dan Pemupukan NPK terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Kopi Robusta Di Bawah Tegakan Kelapa Produktif.
Littri, 20 (1) : 27-35.

Fontena, E. J., M. Alberdi and N. Franck. 2014. Pruning Severity Affects Yield, Fruit
Load and Fruit and Leaf Traits of Brigitta Blueberry. Soil Science and Plant
Nutrition, 14 (4) : 855-868.

Mahfud M. C., 2012. Teknologi dan Strategi Pengendalian Penyakit Karat Daun
Untuk Meningkatkan Produksi Kopi Nasional. Pengembangan Inovasi
Pertanian, 5(1):44-57.

Mahfud, M. Cholil. 2012. Teknologi dan Strategi Pengendalian Penyakit Karat Daun
untuk Meningkatkan Produksi Kopi Nasional. Pengembangan Inovasi
Pertanian, 5(1) : 44-57.

Morganelli A. 2006. The Biography of Coffee. Crabtree publishing company: St


Catharines.

Nur, A. Mukti dkk.. 1998. Pedoman Teknis Budidaya Tanaman Kopi (Coffea sp).
Jember : Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.

Panggabean, E. 2011. Buku Pintar Kopi. Jakarta : AgroMedia Pustaka.

Risandewi T. 2013. Analisis Efisiensi Produksi Kopi Robusta di Kabupaten


Temanggung (Studi Kasus di Kecamatan Candiroto). Litbang Provinsi Jawa
Tengah, 11(1):87-102.
Saragih, J. R. 2013. Socioeconomic and Ecological Dimension of Certified and
Conventional Arabica Coffee Production in North Sumatra, Indonesia.
Agriculture and Rural Development, 3 (3) : 93-107.

Supriadi, H. 2014. Budidaya Tanaman Kopi untuk Adaptasi dan Mitigasi Perubahan
Iklim. Prespektif, 13 (1) : 35-52.