Anda di halaman 1dari 15

KONSERVASI BURUNG

Disusun oleh:
RAHARJA KUNCARA
4411414006

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Keanekaragaman hayati disebut juga Biodiversitas. Keanekaragaman hayati adalah
keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber, termasuk di antaranya daratan,
lautan, dan ekosistem akuatik lainnya, serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan
bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman dalam spesies, antar spesies,
dan ekosistem. (Sujatnika et al, 1995)

Diseluruh biosfer, aktivitas manusia mengubah struktur trofik, aliran energi, siklus
bahan kimia, dan gangguan alamiah. Jumlah permukan lahan yang diubah oleh manusia
mendekati 50%, dan kita menggunakan lebih dari separuh air tawar permukaan yang dapat
digunakan. Ancaman utama terhadap biodiversitas Hal-hal yang menjadi ancaman terhadap
biodiversitas, diantaranya kerusakan habitat, eksploitasi berlebihan dan kompetisi oleh
spesies eksotik. Perusakan habitat oleh manusia secara besar-besaran disebabkan oleh
pertanian, pengembangan perkotaan, kehutanan, pertambangan dan polusi lingkungan.

Keberadaan satwa burung di dunia semakin hari semakin menurun. Hal ini terjadi
karena adanya perburuan liar sehubungan dengan meningkatnya permintaan pasar. Selain itu,
penurunan kualitas habitat sebagai akibat dari aktivitas manusia, lemahnya pengamanan,
pengawasan, penerapan sanksi hukum, serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang
konservasi, juga turut mengakibatkan penurunan populasi burung di alam. Walaupun telah
berstatus dilindungi (termasuk oleh pemerintah daerah di mana habitat dan jenis burung
berada), namun perburuan liar masih tetap berjalan hingga saat ini.

Banyak jenis burung di Dunia yang memiliki nilai komersial yang cukup tinggi.
Sebagian di antaranya juga termasuk burung-burung endemik (hanya hidup di daerah
setempat), atau dapat pula burung daerah sebaran terbatas, sehingga gangguan kelestariannya
dapat menyebabkan kelangkaan. Potensi keindahan morfologis, keunikan tingkah laku dan
kemerduan suara, merupakan daya tarik burung yang menyebabkan perburuannya sering
ilakukan terutama untuk kesenangan (hobiis). Selain itu, di beberapa daerah, satwa burung
banyak pula yang diburu untuk dijadikan sebagai makanan (sumber protein hewani). Dengan
demikian, keberadaan satwa burung tersebut semakin hari semakin berkurang populasinya,
bahkan dikhawatirkan berkurang pula ragam jenisnya.
Oleh karena itu, guna menjaga eksistensi sekaligus memulihkan populasi burung di
Dunia, perlu dilakukan kegiatan konservasi. Konservasi burung dapat dilakukan secara in-situ
(di dalam habitat alaminya), seperti melalui perlindungan jenis, pembinaan habitat dan
populasi; dan secara ex-situ (di luar habitat alaminya), salah satu di antaranya melalui
penangkaran.

Kegiatan penangkaran burung tidak hanya sekedar untuk kegiatan konservasi jenis
dan peningkatan populasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian dan
pengembangan wisata. Hasil penangkaran dapat dilepas-liarkan ke habitat alam (sesuai
dengan syarat-syarat dan peraturan yang berlaku), serta sebagian dapat dimanfaatkan untuk
tujuan komersial, terutama mulai dari hasil keturunan ke dua (F2). Dalam rangka mendukung
upaya konservasi burung, khususnya melalui penangkaran, telah dilakukan serangkaian
kegiatan penelitian yang berkaitan dengan habitat, perilaku, pakan dan pengelolaan
penangkaran berbagai jenis burung di Dunia. Hasil-hasil penelitian dan kajian tersebut
selanjutnya dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan dan pengembangan penangkaran
burung oleh pihak-pihak yang berkompeten.

1.2.Rumusan masalah
Rumusan masalah dari makalah yang berjudul Konservasi burung di Indonesia ini
adalah sebagai berikut:
1. Apakah populasi burung di Indonesia semakin menurun?
2. Bagaimana cara dan strategi yang harus dilakukan konservasi burung?

1.3.Tujuan

Tujuan dari makalah yang berjudul Konservasi Burung di Indonesia ini adalah sebagai
berikut:

1. Mengetahui status populasi burung di Indonesia


2. Mengetahui cara-cara dan strategi yang dilakukan dalam konservasi burung.

BAB II

PEMBAHASAN
Keanekaragaman hayati ialah keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua
sumber, termasuk di antaranya daratan, lautan, dan ekosistem akuatik lainnya, serta
kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya; mencakup
keanekaragaman di dalam spesies, antara spesies, dan ekosistem. (Sujatnika et al, 1995)

Indonesia, dengan luas daratan yang hanya sekitar 1.3% dari keseluruhan permukaan
bumi, kaya akan berbagai spesies kehidupan liar dan beragam tipe ekosistem, yang sebagian
di antaranya tidak dijumpai di bagian bumi mana pun.

kekayaan burung Indonesia dapat menggambarkan pentingnya keanekaragaman


hayati Indonesia dalam lingkup global. Indonesia menduduki perangkat ke empat negara-
negara yang kaya akan spesies burung dan menduduki peringkat pertama di dunia
berdasarkan jumlah spesies burung endemik. Di Indonesia dijumpai 1.539 spesies burung
(17% dari jumlah seluruh spesies burung di dunia). Penelitian telah dilakukan selama ini
menunjukkan bahwa keanekaragaman burung dapat mencerminkan tingginya
keanekaragaman hayati hidupan liar lainnya.

A. Konservasi

Keanekaragaman hayati yang begitu kaya perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin


untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia, baik dalam jangka pendek maupun
di masa depan. Hal ini mengandung arti bahwa pemanfaatannya tidak didasarkan atas
pertimbangan-pertimbangan ekonomi semata, tetapi juga didasari pertimbangan ekologi
dan lingkungan, serta dilandasi prinsip-prinsip pemanfaatan secara lestari. (Sujatnika et al,
1995)

Perlunya sumber daya alam dimanfaatkan secara bijaksana dan berlekanjutan


dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah secara jelas diungkapkan
dalam UUD 1945 dan Garis-garis Besar Haluan Negara. Sebagai tindak lanjutnya, cukup
banyak peraturan perundangan yang telah diterbitkan berkaitan dengan pengelolaan dan
pelestarian keanekaragaman hayati, antara lain Undang-Undang No. 5/1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan, UU No. 4/1982 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pengolahan Lingkungan Hidup, UU No9/1985 tentang Perikanan, UU No.5/1990
tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 24/1992 tentang
Penataan Ruang, Peraturan Pemerintah No. 28/1985 tentang Perlindungan Hutan, PP No.
29/1986 dan PP No. 51/1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, dan
Keputusan Presiden No. 32/1990 tentang Pengolahan Kawasan Lindung. (Sujatnika et al,
1995)

Konservasi adalah suatu upaya atau tindakan yang bertujuan untuk menjaga
keberadaan sesuatu baik mutu maupun jumlah yang dilakukan secara berkelanjutan.
Konservasi juga dapat diartikan sebagai upaya untuk memanfaatkan sumber daya alam
yang bersangkutan tetap dapat diambil secara terus menerus. Penataan ruang secara teknis
dan konseptual merupakan salah satu sarana untuk melakukan konservasi sumber daya
alam (Wasis, 2002). Sedangkan menurut Rijksen (1978), konservasi merupakan suatu
bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat
sekarang.

Kegiatan konservasi selalu berhubungan dengan fungsi utama pelindungan dan


budidaya (UU No. 24 Tahun 1992).Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan
dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber
daya alam, sumber daya buatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan
pembangunan berkelanjutan.Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan
fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. (Sujatnika et al, 1995)

Dwidjoseputro (1994) menuturkan bahwa Secara hukum tujuan konservasi diatur


dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber
Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yaitu bertujuan mengusahakan tewujudnya
kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat
lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan
manusia. Selain tujuan yang telah disebutkan diatas, tujuan konservasi yaitu:

1. Preservasi yang berarti proteksi atau perlindungan sumber daya alam terhadap
eksploitasi komersial, untuk memperpanjang pemanfaatannya bagi keperluan studi,
rekreasi.
2. Pemulihan atau restorasi, yaitu koreksi kesalahan-kesalahan masa lalu yang telah
membahayakan produktivitas sumber daya alam.
3. Penggunaan yang seefisien mungkin.
4. Penggunaan kembali bahan limbah dari pabrik, rumah tangga, instalansi-instalansi
air minum dan lain-lainnya.
5. Mencari pengganti sumber daya alam yang sepadan bagi sumber yang telah
menipis atau habis sama sekali.
6. Penentuan lokasi yang paling tepat guna yaitu pemilihan sumber daya alam untuk
dapat dimanfaatkan secara optimal.
7. Integrasi yang berarti bahwa dalam pengelollaan sumber daya diperpadukan
berbagai kepentingan sehingga tidak terjadi pemborosan.

Di Indonesia, kebijakan konservasi diatur ketentuannya dalam UU 5/90 tentang


Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. UU ini memiliki beberpa
turunan Peraturan Pemerintah (PP), di antaranya. (sujatnika et al, 1995):

1. PP 68/1998 terkait pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan


Pelestarian Alam (KPA)
2. PP 7/1999 terkait pengawetan/perlindungan tumbuhan dan satwa
3. PP 8/1999 terkait pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar/TSL
4. PP 36/2010 terkait pengusahaan pariwisata alam di suaka margasatwa (SM), taman
nasional (TN), taman hutan raya (Tahura) dan taman wisata alam (TWA).

Strategi-Strategi Dalam Konservasi Strategi konservasi nasional telah dirumuskan


ke dalam tiga hal berikut cara pelaksanaannya, yaitu :

1 Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK)


a Penetapan wilayah PSPK.
b Penetapan pola dasar pembinaan program PSPK.
c Pengaturan cara pemanfaatan wilayah PSPK.
d Penertiban penggunaan dan pengelolaan tanah dalam wilayah PSPK.
e Penertiban maksimal pengusahaan di perairan dalam wilayah PSPK.
2 Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
a Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
b Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa (in-situ dan eks-situ konservasi).
3 Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.
a Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.
b Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (dalam bentuk : pengkajian,
penelitian dan pengembangan, penangkaran, perdagangan, perburuan, peragaan,
pertukaran, dan budidaya).

Kawasan pelestarian alam ataupun kawasan dilindungi ditetapkan oleh pemerintah


berdasarkan berbagai macam kriteria sesuai dengan kepentingannya. Hampir di setiap
negara mempunyai kriteria/kategori sendiri untuk penetapan kawasan dilindungi, dimana
masing-masing negara mempunyai tujuan yang berbeda dan perlakuan yang mungkin
berbeda pula. Sedikitnya, sebanyak 124 negara di dunia telah menetapkan setidaknya satu
kawasan konservasinya sebagai taman nasional (bentuk kawasan dilindungi yang populer
dan dikenal luas). Walaupun tentu saja di antara masing-masing negara, tingkat
perlindungan yang legal dan tujuan pengelolaannya beragam, demikian juga dasar
penetapannya. (sujatnika et al, 1995)
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) ataupun konservasi biologi pada
dasarnya merupakan bagian dari ilmu dasar dan ilmu terapan yang berasaskan pada
pelestarian kemampuan dan pemanfaatannya secara serasi dan seimbang. Adapun tujuan
dari konservasi biologi adalah untuk terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati
serta kesinambungan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Untuk mewujudkan tujuan
tersebut, perlu dilakukan strategi dan juga pelaksananya. Di Indonesia, kegiatan
konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat,
mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi,
serta pihak-pihak lainnya. (sujatnika et al, 1995)

Salah satu alasan yang membuat konservasi burung harus dilakukan karena banyak
species burung yang hampir punah baik karena berkurangnya habitat asli burung-burung
tersebut bahkan beberapa telah hilang maupun karena ekploitasi berlebih tentang burung-
burung untuk diperdagangkan.Habitat burung yang beragam membuat penanganan yang
berbeda pada setiap jenisnya. Dalam ekosistem burung merupakan bagian dari rantai
makanan, jika ada komponen yang hilang namun masih bisa tergantikan oleh komponen
yang lain, maka hanya akan terjadi perubahan rantai makanan. Namun tentu berbeda bila
burung yang hilang merupakan species kunci disuatu jaring makanan yang akan
menyebabkan terganggunya keseimbangan didalam suatu kawasan. Itulah alasan mengapa
burung perlu dikonservasi. (sujatnika et al, 1995)
Dalam melakukan konservasi tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja karena
unsur sosial, ekonomi dan lingkungan haruslah terdapat didalamnya. Luasnya bidang yang
masuk dalam kajian konservasi membuat sulitnya konservasi dilakukan. Di Indonesia
konservasi harus dilakukan dengan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah
maupun non pemerintah. Dalam hal ini pemerintah merupakan pihak yang mengeluarkan
peraturan-peraturan yang mendukung konservasi. Sementara itu lembaga-lembaga diluar
pemerintahan adalah pihak yang menyuarakan rekomendasi mengenai kajian yang mereka
lakukan dilapangan. Dan masyarakat sebagai warga negara yang baik haruslah mengikuti
aturan pemerintah dan tidak melanggarnya dan menyuarakan pendapat mereka baik
kepemerintah secara langsung maupun lewat lembaga non pemerintah. (sujatnika et al,
1995)
Dalam melakukan konservasi burung perlu suatu rencana monitoring yang
menyeluruh dan menampung semua bagian yang masuk dalam konservasi. Pemantauan
perlu dilakukan dikarenakan perlunya usaha dalam mengkaji keefektifan dari suatu
peraturan/ kebijakan yang telah dilakukan, terkait dengan regulasi dan untuk mendeteksi
perubahan secaara dini. Rancangan strategi monitoring ini perlu dilakukan, antara lain
dengan :
1 Melakukan seleksi Indikasi Kunci.
Langkah ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi sebanyak-
banyaknya mengenai status jenis burung yang jumlah populasinya semakin menurun.
Masukan informasi ini perlu sebagai acuan untuk membuat suatu keputusan dalam
pengelolaan yang akan dilakukan. Semakin lengkap data yang dimiliki maka
diharapkan semakin baik dalam teknis pengambilan kebijakan yang akan dilakukan.
Mencari tahu daerah jalajah maupun daerah endemik burung untuk di pantau dan di
analisis data perkembangbiakan tiap tahunnya, hasil dari kajian ini menentukkan
besarnya luas area yang perlu dikonservasi sehingga diketahui letak daerah yang bisa
dimanfaatkan dan letak daerah yang perlu dilindungi dan dilestarikan.
2 Pemilihan pendekatan yang efektif
Setelah data-data inididapatkan maka diperoleh beberapa desain konservasi
yang bisa dilakukan, yakni :
Melakukan pelestarian habitat asal tempat burung tersebut tinggal merupakan
salah satu hasil dari masukan data dan informasi mengenai burung yang telah
dilakukan di bagian sebelumnya. Pelestarian habitat merupakancara yang paling
mudah dalam melakukan konservasi burung dengankomponen-komponen
lainnya, karena yang dilakukan adalah cukup menjaga kawasan yang perlu
dikonservasi.
Melakukan penangkaran jenis burung yang sudah hampir punah. Penangkaran
dilakukan karena berbagai factor antara lain dikarenakan hilangnya habitat yang
mereka miliki, biasanya terjadi pada burung-burung yang endemik. Penangkaran
ini dimaksudkan untuk memperbaiki kesehatan, memperbanyak jumlah dan yang
diharapkan bisa dilepasliarkan kembali setelah habitat yang baik telah tersedia
kembali baginya.
3 Menyelesaikan Kesulitan dalam perancangan proyek
Dalam melakukan konservasi terhadap suatu jenis akan menemui suatu
kendala yang menghambat dalam teknisnya. Kendala ini diketahui dengan jelas
setelah kita melakukan suatu evaluasi. Salah satu cara penyelesaian kesulitan yang
dihadapi adalah dengan menjalin relasi antara lembaga konservasi manca negara guna
bertukar informasi dan pengetahuan mengenai perkembangan konservasi burung di
negara asalnya.
Cara mengkonservasi satwa langka contohnya seperti burung adalah dengan cara
antara lain :
Mengumpulkan data dan informasi sebanyak-banyak mengenai status jenis burung
yang jumlah populasinya semakin menurun.
Melakukan pelestarian habitat asal tempat burung tersebut tinggal.
Mencari tahu daerah jalajah maupun daerah endemik burung untuk di pantau dan di
analisis data perkembanganbiakan tiap tahunnya.
Melakukan penangkaran jenis burung yang sudah hampir punah.
Menjalin relasi antara lembaga konservasi mancanegara guna bertukar informasi dan
pengetahuan mengenai perkembangan konservasi burung di negara asalnya.

B. Konservasi Tingkat Populasi


Secara umum, suatu rencana konservasi yang baik untuk spesies yang hampir
punah akan bertujuan agar sebanyak mungkin indibidu spesies tersebut dapat dilestarikan
dalam habitat yang berkualitas. Namun dengan dana yang terbatas membutuhkan petunjuk
teknis yang terinci dalam mengupayakan konservasi spesies yang terancam punah. Jumlah
individu minimal untuk menjaga kelangsungan hidup suatu spesies atau Most viable
Population (MVP), merupakan jumlah ukuran terkecil dari suatu populasi yang terisolir
dalam suatu habitat tertentu, yang memiliki peluang 99% untuk bertahan hidup selama
1000 tahun, di tengah berbagai risiko bencana yang ditimbulkan oleh faktor-faktor
tertentu.
Pada umumnya untuk melindungi sebagian besar spesies diperlukan populasi yang
besar. Spesies dengan ukuran populasi kecil akan menghadapi risiko besar berupa
kepunahan. Terdapat tiga sebab populasi kecil dapat terancam oleh berkurangnya jumlah
individu dan kepunahan lokal, yaitu:
1. Hilangnya keragaman genetik dan timbulnya masalah dalam tekanan silang dalam
atau perkawinan sedarah (inbreeding depression) serta hanyutnya genetik.
2. Perubahan demografik,
3. Perubahan lingkungan.

Untuk melindungi dan mengelola suatu spesies langka atau terancam diperlukan
pemahaman tentang hubungan biologis antara spesies tersebut dan lingkungannya
(ekologi), ciri-ciri khasnya (atau natural story, atau sejarah alam), dan kondisi keberadaan
(status) populasinya. Diperlukan juga pemahaman mengenai berbagai proses yang
mempengaruhi ukuran dan sebaran populasi tersebut.

C. Konservasi Tingkat Komunitas


Melindungi habitat berupa komunitas hayati yang utuh merupakan cara paling
efektif untuk melestarikan seluruh keanekaragaman hayati. Kawasan yang dilindungi atau
kawasan konservasi merupakan wilayah darat maupun laut yang dicanangkan dan
diwujudkan untuk melindungi keanekaragaman hayati dan budaya terkait, serta dikelola
secara legal dan efektif.
IUCN telah membentuk sistem klasifikasi kawasan dilindungi yang mencakup
berbagai intensitas penggunaan habitat oleh manusia, dari skala kecil hingga besar.
Pembagian kawasan konservasi menurut IUCN terdiri atas 6 kelompok, yaitu:
1. Cagar alam murni (strict nature reserve)
2. Taman nasional
3. Monumen-monumen nasional dan bentukan-bentukan alam
4. Suaka alam dan cagar alam yang dikelola
5. Bentang alam darat dan laut yang dilindungi
6. Kawasan yang dilindungi dengan sumber daya alam yang dikelola

Di Indonesia jenis kawasan yang dilindungi dibagi dalam 6 kelompok, yaitu:


1. Cagar alam
2. Suaka margasatwa
3. Taman nasional
4. Taman wisata
5. Taman buru
6. Hutan lindung

D. EBA (Endemic Bird Area)


Endemic Bird Area (EBA) atau disebut juga Daerah Burung Endemik (DBE)
adalah tempat terkonsentrasinya spesies burung sebaran terbatas, yaitu tempat di mana
dijumpai dua atau lebih spesies BST yang tidak dijumpai ditempat lain. Daerah Burung
Endemik diindonesia tidak tersebar merata, 5 DBE berada di wilayah barat Indonesia ( dua
di sumatra, satu di Kalimantan, dan dua di bali). Sembilan belas DBE lainnya tersebar di
wilayah timur Indonesia. Di Indonesia terdapat dua bentuk DBE, yaitu DBE yang
menggunakan batas-batas ekologi dan DBE yang menggunakan batas-batas geografis.
EBA mengandung sekitar 93% spesies burung terbatas jarak di dunia, serta
dukungan mendukung banyak spesies lebih luas. Setengah spesies terbatas jarak terancam
atau dekat-terancam, dengan setengah lainnya sangat rentan terhadap kehilangan atau
kerusakan habitat mereka karena ukuran kecil rentang mereka. Kebanyakan EBA juga
penting untuk konservasi hewan lain dan tanaman. Meskipun mereka menutupi kurang
dari 5% dari permukaan daratan di dunia, kekayaan hayati mereka membuat mereka
prioritas tinggi untuk konservasi ekosistem. Habitat alami dari yang paling EBA adalah
hutan, hutan dataran rendah terutama tropis dan hutan dataran tinggi awan, sering terdiri
dari pulau-pulau atau pegunungan, dan bervariasi dalam ukuran dari beberapa kilometer
persegi untuk lebih dari 100.000 km2. Beberapa 77% dari EBA terletak pada daerah tropis
dan subtropis.

E. IBA (Important Bird Area)


Important Bird Area (IBA) adalah area penting yang telah diidentifikasi
menggunakan kriteria berdasarkan kesepakatan internasional yang penting untuk
konservasi populasi burung secara global. Program ini dikembangkan dan situs yang
diidentifikasi oleh BirdLife International. Saat ini ada lebih dari 12.000 DPB di seluruh
dunia. Situs-situs tersebut cukup kecil untuk sepenuhnya dilestarikan dan berbeda dalam
karakter mereka, habitat atau ornitologi penting dari habitat sekitarnya. Di Amerika
Serikat Program ini dikelola oleh National Audubon Society.
Biasanya DPB merupakan bagian dari jaringan kawasan lindung yang ada di suatu
negara, dan dilindungi oleh undang-undang nasional. pengakuan dan perlindungan hukum
dari DPB yang tidak berada dalam kawasan lindung yang ada bervariasi di negara-negara
yang berbeda. Beberapa negara memiliki Strategi Konservasi IBA Nasional, sedangkan
pada orang lain perlindungan benar-benar kurang. DPB ditentukan oleh serangkaian
kriteria disepakati secara internasional. ambang IBA tertentu ditetapkan oleh organisasi
pemerintahan daerah dan nasional.
Pada bulan Desember 2003, Indonesia Indonesia memiliki 486 kawasan lindung
atau kawasan konservasi seluas 262.450 km2, dimana 215.105 km2 (lebih dari 11% dari
luas daratan negara itu) adalah wilayah terestrial. Beberapa kawasan konservasi ini
dikelola oleh pemerintah yang bekerja sama dengan LSM, misalnya Taman Nasional
Komodo yang dikelola bersama-sama dengan The Nature Conservancy (TNC). Selain
daerah yang ditunjuk khusus untuk konservasi keanekaragaman hayati, daerah besar
Indonesia yang diklasifikasikan sebagai hutan lindung atau hutan produksi terbatas
yang juga memiliki nilai konservasi yang cukup. Menurut Kehutanan Bidang Hukum (No.
41/1999), fungsi utama dari hutan lindung adalah regulasi sistem air, pencegahan banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan pemeliharaan kesuburan tanah. Fungsi
utama dari hutan produksi adalah untuk menghasilkan produk hutan, tapi daerah dengan
topografi yang curam yang rentan terhadap erosi yang ditunjuk sebagai hutan produksi
terbatas di mana hanya tebang pilih (hanya pohon yang lebih besar dari 60 cm) dan kayu
yang terbatas panen diperbolehkan.
Dari 227 DPB di Indonesia, 195 dukungan terancam spesies, 184 memiliki spesies
dibatasi jarak, 81 memiliki spesies bioma-terbatas (dicatat bahwa spesies bioma-dibatasi
tidak digunakan dalam pemilihan DPB di Indonesia bagian timur) dan 23 memenuhi
syarat sebagai DPB karena mereka memegang jemaat besar burung air atau raptor migran.
of Indonesia yang 227 DPB, 40 berada di Sumatera, 23 di Kalimantan, 53 di Jawa dan
Bali, 43 di Nusa Tenggara, 32 di Sulawesi dan 36 di Maluku. The DPB di Indonesia
mencakup lebih dari 17% dari total lahan negara (tidak termasuk Irian Jaya), menunjukkan
bahwa masih ada peluang untuk melindungi daerah-daerah besar keanekaragaman hayati
habitat yang kaya di negeri ini. di pulau-pulau Sunda besar (Sumatera, Kalimantan, Jawa
dan Bali ), 52 DPB mengandung daerah yang signifikan dari hutan dataran rendah dan 43
mengandung daerah yang signifikan dari hutan pegunungan. Ini termasuk daerah terbesar
yang tersisa dari hutan dataran rendah Sunda, dan mencakup semua tiga hutan Endemic
Bird Area di Indonesia bagian barat. Posisi DPB untuk mengancam burung hutan Sunda
meliputi: Gunung Leuser (IBA 1), Batang Gadis (IBA 9), Bukit Tigapuluh (IBA 14), Tesso
Nilo (IBA 16), Berbak (IBA 28), Kerinci Seblat (IBA 29) and Bukit Barisan Selatan (IBA
39) in Sumatra; Danau Sentarum (IBA 43), Gunung Palung (IBA 47), Tanjung Putting
(IBA 49), Ulu Barito (IBA 51), Lahan Basah Mahakam Tengah (IBA 57) and Kayan
Mentarang (IBA 61) in Kalimantan; and Gunung Gede-Pangrango (IBA 74), Gunung
Halimun (IBA 76) and Gunung Raung (IBA 109) di jawa.
Di Wallacea, DPB ini dipilih untuk menutupi semua 10 kawasan burung endemik
dan Area dua Menengah di Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Setiap jenis burung
dibatasi jarak yang ditemukan di Wallacea diketahui terjadi dalam setidaknya satu IBA,
selain beberapa spesies yang tidak ada catatan baru-baru ini. Posisi DPB untuk burung
terancam di Wallacea meliputi: di Nusa Tenggara, Komodo (IBA 124), Mbeliling (Tanjung
Karita Mese) (IBA 127), Ruteng (IBA 130), Wolo Tado (IBA 134), Manupeu-Tanadaru
(IBA 146) , Laiwanggi-Wanggameti (IBA 147) dan Gunung Mutis (IBA 156); di Sulawesi,
Karakelang (IBA 160), Pegunungan Sahendaruman (IBA 164), Siau (IBA 165), Bogani
Nani Wartabone (IBA 171), Lore Lindu (IBA 172), Gunung Lompobattang (IBA 187),
Tanah Jampea (IBA 189) dan Taliabu Utara (IBA 203); dan di Maluku, Wayabula (IBA
192), Lalobata (IBA 198), Pulau Obi (IBA 202), Gunung Kapalat Mada (IBA 205), Pulau
Boano (IBA 208), Manusela (IBA 211), Wai Bula (IBA 212) , Pulau Damar (IBA 223) dan
Gunung Arnau (IBA 227).
Salah satu contoh wilayah IBA di Indonesia adalah Wonorejo yang merupakan
salah satu kawasan lahan basah yang berada di pantai timur Surabaya (pamurbaya) dengan
luas sekitar 50 hektar dan terdiri dari areal pertambakan dan kawasan mangrove sekunder
yang dipengaruhi oleh pasang surut sehingga menyediakan mudflat yang luas untuk
tempat mencari makan bagi burung. Sejak 15 Mei 2009 kawasan Wonorejo menjadi
kawasan Ekowisata hal ini diprakarsai oleh Camat Rungkut, Lurah Wonorejo beserta PM
(Forum Perkumpulan Petani Mangrove) Nirwana Eksekutif dengan no. surat :
556/157/436.11.15.5/2009 dan dikukuhkan oleh Walikota Surabaya.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah disampaikan pada makalah ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Terdapat beberapa spesies burung yang dalam kondisi terancam punah
2. Konservasi burung dapat dilakukan dengan cara ex situ dan in situ.
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro.1994. Ekologi Manusia dengan Lingkungannya.Erlangga. Jakarta.

Holmes, D. dan Rombang, W. M. (2001) Daerah Penting bagi Burung: Sumatera. Bogor,
Indonesia: PKA/BirdLife International Indonesia Programme. (in Indonesian)

Holmes, D., Rombang, W. M. dan Octaviani, D. (2001) Daerah Penting bagi Burung di
Kalimantan. Bogor, Indonesia: PKA/BirdLife International Indonesia Programme.
(in Indonesian)

Rombang, W. M. dan Rudyanto (1999) Daerah Penting bagi Burung di Jawa dan Bali. Bogor,
Indonesia: PKA/BirdLife International Indonesia Programme. (in Indonesian)

Rombang, W. M., Trainor, C. AND Lesmana, D. (2002) Daerah Penting bagi Burung: Nusa
Tenggara. Bogor, Indonesia: PKA/BirdLife Indonesia. (in Indonesian)

N. Lukman 2010. Studi Kelimpahan dan Keanekaragaman Burung Air dan Sumber
Pakannya di TambakWonorejo, Surabaya. Skripsi. Departemen Biologi, Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Surabaya

Rijksen, H.D. 1978. Field study on Sumatran orangutans (Pongo Pygmaeus abelii, Lesson
1827) Ecology, behaviour and conservation. H. Veenman and ZonenB.V.
Wageningen.

Wasis, B. 2002. Manajemen Lahan. Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Program Pascasarjana IPB