Anda di halaman 1dari 6

MATERI TAMBAHAN

Macam-macam Hak
Secara garis besar ,Hak dibagi dalam 2 (dua) macam golongan yaitu:
1. Hak Absolut (absolute rechten, onpersoonlijke rechten).Hak absolut adalah hubungan
hukum antara subyek hukum dengan obyek hukum yang menimbulkan kewajiban pada setiap
orang lain untuk menghormati hubungan hukum itu. Hak absolut memberi wewenang bagi
pemegangnya untuk berbuat atau tidak berbuat, yang pada dasarnya dapat dilaksanakan terhadap
siapa saja dan melibatkan setiap orang. Isi hak absolut ini ditentukan oleh kewenangan
pemegang hak. Kalau ada hak absolut pada seseorang maka ada kewajiban bagi setiap orang lain
untuk menghormati dan menanggungnya. Pada hak absolut pihak ketiga berkepentingan untuk
mengetahui eksistensinya sehingga memerlukan publisitas. Hak absolut terdiri dari hak absolut
yang bersifat kebendaan dan hak absolut yang tidak bersifat kebendaan. Hak absolut yang
bersifat kebendaan meliputi hak kenikmatan (hak milik, hak guna bangunan dan sebagainya) dan
hak jaminan.
2. Hak Relatif (nisbi, relative rechten, persoonlijke rechten).Hak relatif adalah hubungan
subyek hukum dengan subyek hukum tertentu lain dengan perantaraan benda yang menimbulkan
kewajiban pada subyek hukum lain tersebut. Hak relatif adalah hak yang berisi wewenang untuk
menuntut hak yang hanya dimiliki seseorang terhadap orang-orang tertentu. Jadi hanya berlaku
bagi orang-orang tertentu; (kreditur dan debitur tertentu). Pada dasarnya tidak ada pihak ketiga
terlibat. Hak relatif ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak terlibat dalam perikatan tertentu,
jadi hanya berlaku bagi mereka yang mengadakan perjanjian. Hak relatif ini berhadapan dengan
kewajiban seseorang tertentu. Orang lain, pihak ketiga tidak mempunyai kewajiban. Antara
kedua pihak terjadi hubungan hukum yang menyebabkan pihak yang satu berhak atas suatu
prestasi dan yang lain wajib memenuhi prestasi.

Kasus yang terkait dengan permasalahan hak:


Apakah sebelum lahir, janin yang ada di dalam perut tidak memiliki hak asasi? Pemahaman
yang kurang tepat seperti itu bisa memunculkan fenomena seperti di Belanda terkait dengan kode
etik dokter kandungan. Manakala ada pasien yang secara medis dinyatakan hamil, maka dokter
harus memastikan dengan bertanya sampai tigakali apakah ibu yang mengandung
tersebut bahagia dengan kehamilan itu. Kalau memang ibu tidak bahagia atau tidak menghendaki
kehamilan tersebut, dokter dapat melakukan aborsi terhadap janin tersebut. Aborsi
adalah tindakan yang dilegalkan oleh pemerintah Belanda.
Alasan diperbolehkan aborsi adalah bahwa setiap ibu punya hak untuk hamil atau tidak
hamil.Tidak dipikirkan tentang hak janin untuk hidup. Inilah problem mendasar ketika hak asasi
manusia dipandang hanya melekat pada manusia sejak lahir. Akan lebih tepat dikatakanbahwa
hak asasi melekat pada diri manusia sejak proses terjadinya manusia. Janin punya hak hidup
meskipun belum dapat berbicara apalagi menuntut hak. Aborsi tidak dapat dibenarkan hanya
karena orang tua tidak menginginkan kehamilan, namun tentu bisa dibenarkan manakalaada
alasan-alasan khusus misal secara medis kehamilan tersebut membahayakan sang ibu.Oleh
karena itu tepat kiranya mengacu pada pengertian hak asasi manusia sebagaimana tercantum
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 1 yang
menyebutkan: Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat
pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Ny ayang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan
Pemerintahan,dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia.
Kasus lainnya:
Pada masyarakat Barat hak asasi lebih menjadi wacana yang dominan daripada kewajiban asasi.
Hal ini bisa dipahami dari pandanga nhidup masyarakat Barat yang individualis. Pada
masyarakat individualis segala sesuatu dimulai dari diriku (aku). Meskipun mereka tidak
melupakan hak orang lain, karena pada masyarakat yang individualismenya sudah matang justru
kesadaran akan hakku didasari pula oleh pemahaman bahwa setiap orang juga ingin dihargai
haknya. Sehingga yang terjadi masing-masing individu saling menghargai individu yang lain.
Berangkat dari hakku inilah kemudianlahir kewajiban-kewajiban agar hak-hak individu tersebut
dapat terpenuhi. Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat Timur.
Karakter masyarakat Timur lebih menekankan hak orang lain daripada hak dirinya sendiri. Hak
diri seringkali dileburkan dalam hak kolektif/sosial. Seseorang jarang ingin menonjol secara
pribadi namun cenderunglebih menonjolkan sisi kolektifnya.

Contoh penerapan kewajiban:


seperti banyak lagu-lagu daerah yang tidak dikenal siapa penciptnya. Sang pencipta seringkali
menyembunyikan diri dalam kolektifitas sehingga karya tersebut dikenal sebagai karya bersama.
Misal lagu Gundul-gundulPacul dari Jawa, lagu O Ina Ni Keke dari Sulawesi Utara, tanpa kita
mengetahui siapa pengarang sesungguhnya. Dalam kondisi masyarakat demikian kewajiban
lebih menonjol dari pada hak, karena orang lebih cenderung berbuat untuk orang lain daripada
diri sendiri.Ketika seseorang berbuat untuk orang lain yang itu dipahami sebagai kewajibannya,
maka otomatis orang lain akan mendapatkan haknya, demikian pula ketika orang lain
menjalankan kewajibannya maka kita juga mendapatkan hak kita.
Pasal-pasal dalam UU 1945 yang mengatur tentang Hak dan Kewajiban Warganegara.
Pasal 27 ayat 1-3
Mengatur tentang Kedudukan warga negara , Penghidupan dan pembelaan terhadap negara.
Pasal 28 ayat A J
Mengatur tentang segala bentuk Hak Asasi Manusia.
Pasal 29 ayat 2
Mengatur tentang kebebasan atau hak untuk memeluk agama (kepercayaan )
Pasal 30 ayat 1-5
Mengatur tentang Kewajiban membela negara , Usaha pertahanan dan keamanan rakyat,
Keanggotaan TNI dan Tugasnya , Kepolisian Indonesia dan tugasnya , Susunan dan kedudukan
TNI & kepolisian Indonesia.
Pasal 31 ayat 1-5
Mengatur tentang Hak untuk mendapat pendidikan yang layak , kewajiban belajar ,Sistem
pendidikan Nasional ,dan Peran pemerintah dalam bidang Pendidikan dan kebudayaan
Pasal 33 ayat 1-5
Mengatur tentang pengertian perekonomian ,Pemanfaatan SDA , dan Prinsip Perekonomian
Nasional.
Pasal 34 ayat 1-4
Mengatur tentang Perlindungan terhadap fakir miskin dan anak terlantar sebagai tanggung jawab
negara.

Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (disingkat P4) atau Eka Prasetya
Pancakarsa adalah sebuah panduan tentang pengamalan Pancasila dalam kehidupan bernegara
semasa Orde Baru. Panduan P4 dibentuk dengan Ketetapan MPR no. II/MPR/1978. Ketetapan
MPR no. II/MPR/1978tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila
menjadi 36 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Saat ini
produk hukum ini tidak berlaku lagi karena Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 telah dicabut
dengan Ketetapan MPR no XVIII/MPR/1998 dan termasuk dalam kelompok Ketetapan MPR
yang sudah bersifat final atau selesai dilaksanakan menurut Ketetapan MPR no. I/MPR/2003
Dalam perjalanannya 36 butir pancasila dikembangkan lagi menjadi 45 butir oleh BP7. Tidak
pernah dipublikasikan kajian mengenai apakah butir-butir ini benar-benar diamalkan dalam
keseharian warga Indonesia.
Sila pertama
1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan
agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama
dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada
orang lain.

Sila kedua

1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa
membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan
sosial, warna kulit dan sebagainya.
3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Sila ketiga
1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa
dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial.
6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila keempat

1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai
kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil
musyawarah.
6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil
keputusan musyawarah.
7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan
Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran
dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan
pemusyawaratan.

Sila kelima

1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana


kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4. Menghormati hak orang lain.
5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap
orang lain.
7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup
mewah.
8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan
umum.
9. Suka bekerja keras.
10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.
11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan
berkeadilan sosial.