Anda di halaman 1dari 22

EMULSIFIKASI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil secara termodinamika

yang mengandung paling sedikit dua fase cair yang tidak bercampur, satu

diantaranya didispersikan sebagai globul dalam fase cair lain. Sistem ini

dibuat stabil dengan bantuan suatu zat pengemulsi atau emulgator. Bila

dua buah cairan yang saling tidak bercampur dimasukkan bersama dalam

suatu wadah, maka akan terbentuk dua lapisan yang terpisah. Hal ini

disebabkan karena gaya kohesi antara molekul-molekul dari tiap cairan

yang memisah lebih besar daripada gaya adhesi antara kedua

cairan.Proses pengadukan akan menyebabkan suatu fasa terdispersi

dalam fasa yang lain dan akan memperluas permukaan globul sehingga

energi bebasnya semakin besar fenomena inilah yang menyebabkan

sistem ini tidak stabil secara termodinamika. Stabilisasi sistem emulsi

dapat dicapai dengan suatu zat pengemulsi. Usaha stabilisasi globul-

globul kecil fasa terdispersi dalam emulsi dapat dilakukan dengan cara

mencegah kontak antara sesama globul dengan menggunakan zat

pengemulsi/emulgator. Ada beberapa mekanisme kerja zat pengemulsi

dalam pembentukan emulsi, yaitu menurunkan tegangan antara muka air

dan minyak, pembentukan film antar muka yang menjadi halangan

mekanik untuk mencegah koalesensi, pembentukan lapisan rangkap

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
elektrik yang menjadi halangan elektrikpada waktu partikel berdekatan

sehingga tidak akan bergabung, dan melapisi lapisan minyak dengan

partikel mineral.

Pada percobaan ini kita akan mempelajari cara pembuatan emulsi

dengan menggunakan emulgator dari golongan surfaktan yaitu Tween 80

dan Span 80. Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator

merupakan faktor yang penting untuk diperlihatkan karena mutu dan

kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang

digunakan.

Emulsi sangat bermanfaat dalam bidang farmasi karena memiliki

beberapa keuntungan, satu diantaranya yaitu dapat menutupi rasa dan

bau yang tidak enak dari minyak. Selain itu, dapat digunakan sebagai obat

luar misalnya untuk kulit atau bahan kosmetik maupun untuk penggunaan

oral.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tutjuan dari praktikum kali ini yaitu untuk menghitung jumlah

emulgator golongan surfaktan yang digunakan dalam pembuatan emulsi,

membuat emulsi dengan menggunakan emulgator golongan sufraktan,

mengevaluasi ketidakstabilansuatu emulsi dan untuk menentukan nilai

HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan emulsi.

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Emulsi merupakan sediaan berupa campuran yang terdiri dari dua

fase cairan yang satu terdispersi di dalam suatu larutan sangat halus dan

merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat

pengemulsi. Sifat fisika dari suatu emulsi dan kestabilannya tidak dapat

dipertimbangkan secara terpisah. Oleh karena itu, bagian ini berkenaan

dengan sifat-sifat fisika yang lebih penting dari emulsi, perubahan-

perubahannya terhadap pengaruh luar dan hubungannya dengan

kestabilan emulsi (Lachman 1994).

Suatu energi bebas antarmuka yang tinggi cenderung untuk

mengurangi daerah antarmuka, pertama dengan menyebabkan tetesan-

tetesan tersebut bergabung. Dispersi halus dari minyak dan air

memerlukan daerah kontrak antarmuka yang luas, dan untuk memperoleh

/ memperoduksi hal ini memerlukan sejumlah dan beberapa kerja yang

sama dengan hasil jali tegangan permukaan dan perubahan luas.

Berbicara secara termodinamik, kerja ini adalah energi bebas antarmuka

yang dimaksudkan ke system tersebut. Ini adalah suatu alasan untuk

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
memasukkan kata-kata tidak stabil secara termodinamik dalam definisi

klasik dari emulsi buram (Lachman 1994).

Yang lebih bermakna dalam bidang farmasi masa kini adalah

pengamatan tentang beberapa senyawa yang larut dalam lemak seperti

vitamin, diabsorbsi lebih sempurna jika diemulsikan dari pada jika

diberikan peroral dalam suatu larutan berminyak termodinamik dalam

definisi klasik dari emulsi buram (Lachman 1994).

Mekanisme kerja emulgator surfaktan, yaitu : (Parrot 1979).

1. Membentuk lapisan monomolekuler ; surfaktan yang dapat

menstabilkan emulsi bekerja dengan membentuk sebuah lapisan

tunggal yang diabsorbsi molekul atau ion pada permukaan antara

minyak/air. Menurut hukum Gibbs kehadiran kelebihan pertemuan

penting mengurangi tegangan permukaan. Ini menghasilkan emulsi

yang lebih stabil karena pengurangan sejumlah energi bebas

permukaan secara nyata adalah fakta bahwa tetesan dikelilingi oleh

sebuah lapisan tunggal koheren yang mencegah penggabungan

tetesan yang mendekat.

2. Membentuk lapisan multimolekuler ; koloid liofolik membentuk

lapisan multimolekuler disekitar tetesan dari dispersi minyak.

Sementara koloid hidrofilik diabsorbsi pada pertemuan, mereka tidak

menyebabkan penurunan tegangan permukaan. Keefektivitasnya

tergantung pada kemampuan membentuk lapisan kuat, lapisan

multimolekuler yang koheren.

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
3. Pembentukan kristal partikel-partikel padat ; mereka menunjukkan

pembiasan ganda yang kuat dan dapat dilihat secara mikroskopik

polarisasi. Sifat-sifat optis yang sesuai dengan kristal mengarahkan

kepada penandaan Kristal Cair. Jika lebih banyak dikenal melalui

struktur spesialnya mesifase yang khas, yang banyak dibentuk dalam

ketergantungannya dari struktur kimia tensid/air, suhu dan seni dan

cara penyiapan emulsi. Daerah strukturisasi kristal cair yang berbeda

dapat karena pengaruh terhadap distribusi fase emulsi.

4. Emulsi yang digunakan dalam farmasi adalah satu sediaan yang

terdiri dari dua cairan tidak bercampur, dimana yang satu terdispersi

seluruhnya sebagai globula-globula terhadap yang lain. Walaupun

umumnya kita berpikir bahwa emulsi merupakan bahan cair, emulsi

dapat dapat diguanakan untuk pemakaian dalam dan luar serta dapat

digunakan untuk sejumlah kepentingan yang berbeda (Parrot 1979).

HLB adalah nomor yang diberikan bagi tiap-tiap surfaktan. Daftar di

bawah ini menunjukkan hubungan nilai HLB dengan bermacam-macam

tipe system: (Anief 2005).

Nilai HLB Tipe system

36 A/M emulgator
79 Zat pembasah(wetting agent)
8 18 M/A emulgator
13 15 Zat pembersih (detergent)
15 18 Zat penambah

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
pelarut(solubilizer)

Makin rendah nilai HLB suatu surfaktan maka akan makin lipofil

surfaktan tersebut, sedang makin tinggi nilai HLB surfaktan akan makin

hidrofil. (Anief 2005).

Cara menentukan HLB ideal dan tipe kimi surfaktan dilakukan

dengan eksperimen yang prosedurnya sederhana, ini dilakukan jika

kebutuhan HLB bagi zat yang diemulsi tidak diketahui. Ada 3 fase: (Anief

2005).

1. Fase I

Dibuat 5 macam atau lebih emulsi suatu zat cair dengan

sembarang campuran surfaktam, dengan klas kimi yang sama,

misalnya campuran Span 20 dan Tween 20. Dari hasil emulsi

dibedakan salah satu yang terbaik diperoleh HLB kira-kira. Bila semua

emulsi baik atau jelek maka percobaan diulang dengan mengurangi

atau menambah emulgator.

2. Fase II

Membuat 5 macam emulsi lagi dengan nilai HLB di sekitar HLB

yang diperoleh dari fase I. dari kelima emulsi tersebut dipilih emulsi

yang terbaik maka diperoleh nilai HLB yang ideal.

3. Fase III

Membuat 5 macam emulsi lagi dengan nilai HLB yang ideal

dengan menggunakan bermacam-macam surfaktan atau campuran

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
surfaktan.dari emulsi yang paling baik, dapat diperoleh campuran

surfaktan mana yang paling baik (ideal).

B. Uraian Bahan

1. Air suling(Ditjen POM 1979 )

Nama resmi : AQUA DESTILLATA

Nama lain : Air suling

RM / BM / BJ : H2O / 18,02 / 1

Rumus bangun : H O H

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna; tidak berbau;tidak

berasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan : Sebagai surfaktan dan pembilas alat.

2. Parafin cair (Ditjen POM 1979)

Nama resmi : PARAFFINUM LIQUIDUM

Nama lain : paraffin cair

RM/BM/BJ : C3H8O3/ 92,09 / 0,840- 0,890.

Pemerian : cairan kental, transparan, tidak berfluorensasi; tidak

berwarna; hampir tidak berbau; hamper tidak

mempunyai rasa.

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)

p; larut dalam kloroform p; dan dalam Eter p

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindungi dari cahaya

Kegunaan : laksativum

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
3. Span 80 (Ditjen POM 1979)

Nama resmi : Sorbitan monooleat

Nama lain : Sorbitan atau span 80

RM : C3O6H27Cl17

Pemerian : Larutan berminyak, tidak berwarna, bau

karakteristik dari asam lemak.

Kelarutan :.Praktis tidak larutntetapi terdispersi dalam air dan

..dapat bercampurdengan alkoholsedikit larut dalam

,,minyak biji kapas.

Kegunaan : Sebagai emulgator dalam fase minyak

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

HLB Butuh : 4,3

4. Tween-80 (Ditjen POM 1979)

Nama resmi : Polysorbatum 80

Nama lain : Polisorbat 80, tween

Pemerian : Cairan kental, transparan, tidak berwarna,hampir

tidak mempunyai rasa.

Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P

dalam etil asetat P dan dalam methanol P, sukar

larut dalam parafin cair P dan dalam biji kapas P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
Kegunaan : Sebagai surfaktan

BAB III

METODE KERJA

A. Alat yang digunakan

Adapun alat yang digunakan adalah batang pengaduk, cawan

porselen, gegep kayu, gelas kimia, gelas ukur, mixer, pipet tetes,

thermometer, dan timbangan analitik.

B. Bahan yang digunakan

Adapun bahan yang digunkan adalah aquadest, paraffin cair, span

80 dan tween 80.

C. Cara Kerja

Dibuat satu seri emulsi dengan nilai HLB butuh masing-masing

5,6,7,8,9,10, 11 dan 12 kemudian Dihitung jumlah tween dan span yang

diperlukan untuk setiap nilai HLB butuh lalu Ditimbang masing-masing

bahan yang diperlukan, Dicampurkan minyak dengan span dan

dicampurkan air dengan tween, dipanaskan keduanya diatas tangas air

bersuhu 60C kemudian ditambahkan campuran minyak ke dalam

campuran air dan segera diaduk menggunakan pengaduk elektrik selama

lima menit dengan catatan pada menit ke 3 diberhentikan pengadukan

selama 20 detik lalu dilanjutkan pengadukan sampai 5 menit, kemudian

dimasukkan emulsi ke dalam tabung sedimentasi dan beri tanda sesuai

nilai HLB masing-masing, Tinggi emulsi dalam tabung diusahakan sama

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
dan catat waktu nilai memasukkan emulsi kedalam tabung, amati jenis

ketidakstabilan emulsi yang terjadi selama 6 hari. Bila terjadi kriming, ukur

tinggi emulsi membentuk cream, Tentukan pada nilai HLB berapa emulsi

tampak relative paling stabil.

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1 Tabel pengamatan

A. Jumlah Tween dan Span yang terdapat pada masing-masing

HLB

Tween 80 (gram) Span 80 (gram)


Nilai HLB

HLB 5 0,196 2,804


HLB 6 0,476 2,524
HLB 7 0,757 2,243
HLB 8 1,037 1,963
HLB 9 1,317 1,683
HLB 10 1,598 1,402
HLB 11 1,878 1,122
HLB 12 2,158 0,842

Perhitungan :

R/ minyak 2 %
Emulgator 3%

Air ad 100 %

20
Diketahui : Paraffin = 20% = 100 g=20 gr
100

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
3
Emulgator = 3% = 100 g=3 gr
100

Aquadest = 100%

1. Untuk HLB 5

( a 15 ) + ( (3a ) 4,3 ) =3 5

15 a+12,94,3 a=15

15 a4,3 a=1512,9

10,7 a=2,1

a=0,196(Tween 80)

jumlah span 80 yang dibutuhkan=30,196

span 80=2,804

2. Untuk HLB 6

( a 15 ) + ( (3a ) 4,3 ) =3 6

15 a+12,94,3 a=18

15 a4,3 a=1812,9

10,7 a=5,1

a=0,476(tween 80)

jumlah span 80 yang dibutuhkan=30,476

span 80=2,524

3. Untuk HLB 7

( a 15 ) + ( (3a ) 4,3 ) =(3 7)

15 a+12,94,3 a=21

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
15 a4,3 a=2112,9

10,7 a=8,1

a=0,757(tween 80)

jumlah span 80 yang dibutuhkan=30,757

span 80=2,243

4. Untuk HLB 8

( a 15 ) + ( (3a ) 4,3 ) =(3 8)

15 a+12,94,3 a=24

15 a4,3 a=2412,9

10,7 a=11,1

a=1,037(tween 80)

jumlah span 80 yang dibutuhkan=31,037

span 80=1,963

5. Untuk HLB 9

( a 15 ) + ( (3a ) 4,3 ) =(3 9)

15 a+12,94,3 a=27

15 a4,3 a=2712,9

10,7 a=14,1

a=1,317(tween 80)

jumlah span 80 yang dibutuhkan=31,31

span 80=1,683

6. Untuk HLB 10

( a 15 ) + ( (3a ) 4,3 ) =(3 10)


ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.
RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
15 a+12,94,3 a=30

15 a4,3 a=3012,9

10,7 a=17,1

a=1,598(tween 80)

jumlah span 80 yang dibutuhkan=31,598

span 80=1,402

7. Untuk HLB 11

( a 15 ) + ( (3a ) 4,3 ) =(3 11)

15 a+12,94,3 a=33

15 a4,3 a=3312,9

10,7 a=20,1

a=1,878(tween 80)

jumlah span 80 yang dibutuhkan=31,878

span 80=1,122

8. Untuk HLB 12

( a 15 ) + ( (3a ) 4,3 ) =(3 12)

15 a+12,94,3 a=36

15 a4,3 a=3612,9

10,7 a=23,1

a=2,158(tween 80)

jumlah span 80 yang dibutuhkan=32,158

span 80=0,842

B. Pembahasan
ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.
RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau

larutan obat, terdipersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat

pengemulsi atau surfaktan yang cocok.

Emulsi adalah suatu sistem disperse yang tidak stabil secara

termodinamika karena gaya kohesi lebih besar dari gaya adhesi sehingga

energy bebas akan meningkat. Untuk dapat membuat stabil maka harus

ditambah dengan emulgator. Emulsi yang dibuat dalam percobaan adalah

emulsi Oleum Olivarum dengan menggunakan emulgator golongan

surfaktan. Emulgator golongan surfaktan bekerja dengan menurunkan

tegangan permukaan sehingga menurunkan energy bebas dengan

membentuk lapisan monomolekuler. Pada emulsi percobaan ini

menggunakan emulgator golongan surfaktan terdapat 2 gugus yakni

gugus lipofil dan gugus hidrofil dan menggunakan dua campuran dari

Tween dan Span agar lapisan monomolekuler yang didapat lebih bagus

dan tidak mudah rusak. Tween 80 memiliki nilai HLB 15 sedangkan Span

20 memiliki nilai HLB 8,6 . HLB (Hidrofil Lipofil Balance) adalah nilai yang

menunjukan perbandingan antara gugus lipofil dan hidrofil semakin besar

nilai HLB maka gugus lipofil semakin banyak dan semakin larut dalam air.

Sehingga dalam proses pengerjaan Tween 80 akan dicampurkan dengan

air dan Span 80 dicampurkan dengan minyak.

Apabila menggunkan surfaktan sebagai emulgator dsapat pula

terjadi emulsi dengan sistem yang kompleks (multiple emulsion). Sistem

ini merupakan jenis emulsi air-minyak-air atau sebaliknya.


ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.
RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
Alasan kenapa digunakan tween dan span, karena tween

mempunyai gugus polar yang lebih besar dari pada gugus non polar

sehingga tween ini l;ebih mengarah ke air. Sedangkan span mempunyai

gugus non polar lebih besar dari pada gugs polarnya sehingga itu span

lebih cenderung ke minyak.

Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan suatu emulgator

merupakan faktor yang penting karena mutu dan kestabilan suatu emulsi

banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator

yang yang banyak digunakan adalah zat aktif permukaan atau lebih

dikenal dengan surfaktan. Mekanisme kerja emulgator ini adalah

menurunkan tegangan antar permukaan air dan minyak serta membentuk

lapisan film pada permukaan globul-globul fase terdisperisnya.Tipe emulsi

dapat ditentukan dari jenis surfaktan digunakan. Secara kimia, molekul

surfaktan terdiri atas gugus polar dan non polar. Apabila surfaktan

dimasukkan ke dalam sistem yang dari air dan minyak, maka guugus

polar akan terarah ke fasa air sedangkan gugus non polar terarah ke fasa

minyak. Surfaktan yang mempunyai gugus polar lebih kuat akan

cenderung membentuk emulsi minyak dalam air, sedangkan bila gugus

non polar yang lebih kuat maka akan cenderung membentuk emulsi air

dalam minyak.

Kestabilan suatu emulsi adalah kemampuan suatu emulsi untuk

mempertahankan distribusi yang teratur dari fase terdispersi dalam

jangka waktu yang lama. Penurunan stabilitas dapat dilihat jika terjadi

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
campuran (Bj fase terdispersi lebih kecil dari Bj fase pendispersi ). Hal ini

menyebabkan pemisahan dari kedua fase emulsi.

Pada percobaan ini mula-mula dilakukan adalah menentukan

jumlah span dan tween yang akan digunakan dan bahan yang lainnya.

Pencampuran bahan berdasarkan dari sifat bahan itu tujuannya bahanr4

yang berfase air dicampur dengan fase air itu sendiri dan untuk fase

minyak juga pada fase minyak itu sendiri.

Pada perhitungan HLB butuh dihasilkan data Untuk tween dan

span yang terdapat pada HLB masing-masing, yaitu untuk HLB 5 tween

80 = 0,196, span 80= 2,804, Untuk HLB 6 hasilnya yaitu tween 80 = 0,476,

span 80 = 2,524, Untuk HLB 7 hasilnya yaitu tween 80 = 0,757, span 80 =

2,243, Untuk HLB 8 hasilnya yaitu tween 80 = 1,037, span 80 = 1,693,

Untuk HLB 9 hasilnya yaitu tween 80 = 1,317, span 80 = 1,683, Untuk

HLB 10 hasilnya yaitu tween 80 = 1,598, span 80 = 1,402, Untuk HLB 11

hasilnya yaitu tween 80 = 1,878, span 80 = 1,122, Dan untuk HLB 12

hasilnya yaitu tween 80 = 2,158, span 80= 0,842.

Jadi pada percobaan ini untuk fase air yaitu tween 80 dan air,

sedangkan untuk fase minyak yaitu span 80 dan paraffin liquidum pada

cawan porselen. Kemudian pencampuran dilakukan pada suhu 60 oC.

Alasannya, kedua fase tersebut memiliki suhu lebur yang sama yaitu pada

suhu 60oC sehingga dapat diperoleh emulsi yang baik dan tidak pecah.

Lalu campuran dikocok, dengan cara pengocokan intermitten

menggunakan mikser selama 5 menit, dan diistirahatkan setiap 20 detik.

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
Pengocokan intermitten dilakukan untuk memberikan kesempatan pada

minyak untuk terdispersi ke dalam air dengan baik serta emulgator dapat

membentuk lapisan film pada permukaan fase terdispersi.

Pengamatan emulsi dilakukan selama 6 hari tujuannya untuk

melihat pemisahan antara fase air dan fase minyak, perubahan warna dari

kedua fase tersebut, dan volume dari emulsi setelah 6 hari kemudian.

Penyimpanan emulsi dilakukan pada suhu yang dipaksakan (stress

coindition) perlakuan ini dimaksudkan untuk mengetahui kestabilan emulsi

dimana terjadi penurunan suhu secara drastis, kondisi ini akan lebih

mempercepat pengamatan kita terhadap stabil atau tidaknya suatu emulsi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
A. Kesimpulan

Dari hasil praktikum yg dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil

emulsi pada HLB 6 mengalami creaming setinggi 3 cm, sedangkan pada

HLB 10 emulsi stabil atau tidak mengalami creaming.

B. Saran

Adanya komunikasi yang baik antara praktikan dan asisten

pendamping dalam praktikum sehingga segala sesuatunya lebih

terkoordinasi. Alat dan bahan baiknya lebih di lengkapi lagi agar ketika

praktikan melakukan praktukum tidak berebutan alat di laboratorium.

Saran untuk kak dinda agar selalu menuntun praktkannya sampai

praktikan selesai melakukan praktikum, pemaparan materinya terhadap

praktikan sangat baik semoga selalu sepeti itu kak, jelas dan tegas,

DAFTAR PUSTAKA

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
Anief, Moh 2005, Ilmu Meracik Obat, cetakan XII, Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.143, 147.

Anonim 2017. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika 1, hal. 20, Universitas


Muslim Indonesia, Makassar.

Ansel, H.C 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi IV,


Terjemahan Farida Ibrahim, UI Press, Jakarta.

Ditjen POM 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

Lachman, Leon 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III. UI
Press. Jakarta.

Martin, Alfred 2008, Farmasi Fisik Edisi II. Universitas Indonesia Press :
Jakarta.
Parrot, L.E 1970, Pharmaceutical technology, Burgess Publishing
Company. Mineneapolis, 335.

LAMPIRAN

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI
Lampiran I Skema kerja

Penentuan HLB butuh minyak dengaan jarak HLB lebar

Buatlah seri emulsi dengan nilai HLB butuh masing-masing 5,6,7,8,9,10,11

dan 12.

Hitung jumlah tween dan span yang diperlukan untuk setiap nilai HLB

butuh.

Timbang masing-masing bahan yang diperlukan

Campurkan parafin dengan span, campurkan air dengan tween, panaskan

keduanya diatas tangan air bersuhu 600 C.

Tambahkan campuran parafin ke dalam campuran air dan segera diaduk

menggunakan pengaduk elektrik selama lima menit.

Masukkan emulsi dalam gelas ukur dan beri tanda sesuai nilai HLB

masing-masing

Tinggi emulsi dalam gelas ukur diusahakan sama dan catat waktu mulai

memasukkan emulsi kedalam tabung

Amati jenis ketidakstabilan emulsi yang terjadi selama 6 hari. Bila

terjadi kriming, ukur tinggi emulsi yang membnetuk cream

Tentukan pada nilai HLB berapa emulsi tampak relatif paling stabil.

Lampiran II Gambar

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067
EMULSIFIKASI

HLB 6 HLB 6 HLB 6


15 April 2017 17 April 2017 18 April 2017

HLB 10 HLB 10 Pengukuran


17 April 2017 18 April 2017 creaming HLB 6
11,1 cm

ZIKRULLAH BAHARJA ADINDA DWI AYU D.


RASYID
15020160067